1 BAB IV
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Deskripsi Hasil Penelitian
Dalam bagian “Deskripsi Hasil Penelitian” peneliti akan menjelaskan atau mendeskripsikan hasil penelitian yang telah didapat selama kegiatan penelitian dilakukan. Dari deskripsi hasil penelitian ini, peneliti berharap pembaca dapat melihat secara sederhana temauan penelitian yang telah dilakukan oleh penenulis sehingga dapat memudahkan pembaca dalam memahami isi penelitian ini.
Penelitian ini dilakukan di Jakarta dalam kegiatan demonstrasi Internasional Womens Day 2020 yang diikuti oleh para aktivis perempuan.
Para aktivis tersebut tergabung dalam aliansi Gerak Perempuan Melawan (GPM). Waktu penelitian ini diambil pada tanggal 09 Maret 2020. Peneliti menggunakan sumber data yang berbentuk dokumen, berupa tuturan dalam poster demonstrasi Internasional Womens Day 2020 yang termasuk kedalam maksim kesantunan dan pelanggaran maksim kesantunan. Poster tersebut digunakan para demonstran untuk menyampaikan berbagai macam isu dalam acara demonstrasi Internasional Womens Day 2020 di Jakarta. Hasil penelitian ini harapannya dapat mengetahui sejauh mana para demonstran mengimpelemtasikan ksantunan berbahasa dalam kehidupannya.
Didalam kegiatan demonstrasi terdapat tuturan. Tuturan tersebut digunakan untuk menyampaikan segala aspirasi yang demosntran miliki. Hasil penelitian tmenunjukkan bahwa data yang terhimpun dalam penelitian ini berjumlah 43 data. Data tersebut peneliti kelasifikasikan sesuai dengan rumusan masalah yang ada. Dibahwah ini kan peneliti paparkan hasil penelitian yang telah peneliti lakukan.
1. Deksripsi Hasil Penelitian Tindak Tutur Kesantunan pada Poster Demonstrasi Internasional Womens Day 2020
Hasil penelitian tindak tutur kesantunan pabda poster Internasional Womens Day 2020 di Jakarta diitemukan 33 data. Penggunaan maksim kesantunan oleh demonstrasi Internasional Womens Day 2020 lebih mendominasi dibandingkan pelanggaran maksim kesantunan. Hal itu menunjukkan bahwa demonstrasi masih mematuhi etika dan norma yang berlaku dalam masyarakat. Para demonstrasi memahami bahwa kita sebagai manuisa harus tetap santun dalam berprilaku. Menyampaikan segala bentuk permasalahan dengan sopan adalah peraktik yang baik untuk menjaga lawan bicara kita agar saling menghormati dan menghargai satu samalain.
Penggunaan maksim kesopanan dalam poster demonstrasi Internasional Womens Day 2020 di Jakarta terdapat 33 data. Maksim kesopanan itu muncul dengan berbagai bentuk, seperti maksim kerendahan hati sebanyak 7 data, maksim kesepakatan 4 data, maksim simpati 14 data, maksim kedermawanan 6 data, dan maksim pujian 2 data. Di bahwa ini peneliti cantumbakn tabel mengenai rekapitulasi penggunaan maksim kesantunan dalam poster demonstrasi Internasional Womens Day 2020 di Jakarta.
Tabel4. 1Rekapitulasi Penggunaan Maksim Kesopanan
No Maksim
Kesopanan
Fungsi Tindak
Tutur
Bentuk Tindak Tutur
Kode
Data Jumlah 1 Maksim
Kerendahan Hati
Asertif Mengeluh D1
3 D5
D6
Direktif Memohon D3
Meminta D4 3
Menolak D7
Ekspresif Kesal D2 1
Deklaratif - - -
2 Maksim Kesepakatan
Asertif - - -
Direktif Memerintah D8
2 D9
Ekspresif - - -
Deklaratif Mendukung D10 1
Melawan D11 1
3 Maksim Simpati Asertif Menjelaskan D18
2 D19
Menyalahkan D20 1
Direktif Meminta D12
3 D14
D15
Menasehati D13 1
Memerintah D16
2 D21
Menolak D22 1
Menyuruh D23 1
Ekspresif - - -
Deklaratif Menegaskan D17
2 D25
Melarang D24 1
4 Maksim
Kedermawanan
Asertif Menyatakan D27
2 D28
Direktif Menasehati D29 1
Ekspresif Kekesalan D26 1
Deklaratif Melarang D30
2 D31
5 Maksim Pujian Asertif Menjelaskan D33 1
Direktif Menasehati D32 1
Ekspresif - - -
Deklaratif - - -
Total 33
Pada Tabel 4.1 sudah digambarkar secara jelas mengenai rekapitulasi penggunaan maksim kesopanan yang digunakan oleh peserta demonstrasi Internasional Womens Day 2020 di Jakarta. Selain itu, peneliti akan memaparkan data penelitian yang dikategorikan sebagai pelanggaran maksim kesopanan.
2. Deksripsi Hasil Penelitian Pelanggaran Tindak Tutur Kesantunan pada Poster Demonstrasi Internasional Womes Day (IWD) 2020
Pelanggaran kesopanan ini diukur dari teori maksim kesopnan yang digagas oleh Leech (2015). Jika teori yang dijelaskan oleh Leech dilanggar maka data atau tuturan tersebut tergolong ke dalam pelanggaran kesantunan berbahasa. Pada hasil penelitian ini, pelanggaran maksim kesopanan terdapat 10 data. Kemudian peneliti kelasifikasikan sesuai bentuk data penelitian.
Kelasifikasi tersebut meliputi, maksim kerendahan hati terdapat 2 data, maksim simpati 5 data, maksim kearifan 2 data, dan maksim kedermawanan 1 data.
Dibawah ini peneliti cantumkan bagan sederhana untuk melihat hasil penelitian mengenai pelanggaran tindak tutur kesantunan berbahasa dalam poster Internasional Womens Day 2020 di Jakarta.
Tabel 4. 2Rekapitulasi Pelanggaran Maksim Kesopanan
Tuturan yang digunakan oleh peserta aksi mengandung maksim kesopanan dan pelanggaran maksim kesopanan. Hal tersebut dapat terjadi karena penutur menyesuaikan dengan keadaan emosionalnya sehingga hasil tuturan akan berbeda-beda bergantung dengan keadaan sikokolgi si penutur terhadap peristiwa yang dihadapinya. Penutur (demonstran) merasa marah dan kesal No
Maksim Pelanggaran
Kesantunan Berbahasa
Fungsi Tindak
Tutur
Bentuk Fungsi Tindak
Tutur
Kode
Data Jumlah 1 Maksim
Kerendahan Hati
Asertif Menjelaskan D34 1
Direktif - - -
Ekspresif Kekesalan D35 1
Deklaratif - - -
2 Maksim Simpati Asertif - - -
Direktif Meminta D40 1
Ekspresif Kekesalan D36
3 D38
D39
Deklaratif Menegaskan D37 1
3 Maksim kearifan Asertif Menjelaskan D41
2 D42
Direktif - - -
Ekspresif - - -
Deklaratif - - -
4 Maksim
Kedermawanan
Asertif - - -
Direktif - - -
Ekspresif - - -
Deklaratif Menegaskan D43 1
Total 10
sehingga tidak ada kontrol yang baik untuk menggunakan tuturan pada saat menyampaikan segala aspirasinya. Peritiwa itu yang akhirnya dapat mempengaruhi emosial penutur sehingga membuat penutur melakukan pelanggaran maksim kesantunan. Tetapi secara umum, penggunaan kesantunan telah mendominasi tuturan yang telah digunakan oleh para demonstran. Dari hasil itulah tindak tutur yang diguanakn oleh peserta aski dalam demonstrasi Internasonal Womens Day 2020 di Jakarta secara umum dianggap santun.
3. Deksripsi Hasil Penelitian Pemanfaatan Tindak Tutur Kesantunan pada Poster Demonstrasi Internasional Womes Day (IWD) 2020 dalam Pelajaran Pragmatik di Perguruan Tinggi
Hasil penelitian mengenai pemanfaatan tindak tutur kesantunan pada poster Internasional Womens Day 2020 di Jakarta dalam pelajaran pragmatik di perguruan tinggi didapatkan dengan melakukan kegiatan wawancara pada mahasiswa dan dosen di Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Kegiruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Berdasalkan hasil proses wawancara yang dilakukan dengan informan ditemukan berbagai pendapat yang akan peneliti sampaikan pada hasil penelitian ini. Hasil wawancara tersebut mendapatkan 7 poin, pertama ilmu pragmatik merupakan bagian dari ilmu lingustik. Ada dua bagian dalam ilmu lingstik, ada lingustik mikro dan linguistik makro. Lingusitik mikro akan mengkaji bahasa dari sudut pandang bahasa secara internal sedangkan linguistik makro, iya akan melibatkan kajiannya dari luar bahasa, seperti aspek sosial, ekonomi, agama dan sebagainya.
Kedua, eksistenti ilmu pragmatik pada saat ini banyak diminati. Tak sedikit mahasiswa yang menggunakan ilmu pragmatik untuk memecahkan persoalan dalam penelitiannya. Penelitian ini menjadi sebuah bentuk nyata dari ilmu pragmatik yang diguanakan dalam sebuah penelitian.
Ketiga, ilmu pragmatik merupakan pendekatan yang tepat untuk mengkaji tuturan dalam poster Internasional Womens Day 2020. Ketepatan tersebut
karena tuturan dalam poster secara umum memiliki fungsi yang digunakan untuk menjelaskan berbagai macam persoalan yang dihadapi oleh peserta aski.
Maka dari itu, dengan melibatkan konteks sosial, ilmu pragmatik dirasa dapat memecahkan persoalan dalam penelitian ini.
Keempat, media pembelajaran dalam pembelajaran pragmatik sangat perlu digunakan. Hal itu merupakan upaya untuk memudahkan pendidik dalam memberikan pemahaman kepada peserta didik (mahasiswa).
Kelima, poster dapat dijadikan media pembelajaran dalam mata pelajaran pragmatik. Dalam poster, tak hanya teks saja yang dicantumkan, poster biasanya berisikan gambar dengan disain yang menarik. Keunikan poster pada akhirnya dapat merangsang pikiran peserta didik (mahasiswa), sehingga ia dapat mengkorelasikan isi teks dengan desain yang ada di dalam poster tersebut.
Keenam, penggunaan media pembelajaran diharapkan dapat disesuaikan dengan dunia peserta didik sehingga peserta didik mudah memahami media apa yang digunakan ketika pembelajaran dilakukan.
Ketujuh, adanya manfaat dari pembelajaran pragmatik yang dapat peserta didik dapatkan untuk kehidupan mereka sehari-hari. Hasil penelitian tersebut lebih jelasnya dapat dilihat pada ringkasan hasil wawancara dengan mahasiswa dan dosen pengajar mata kuliah pragmatik di Jurusan Pendidikan Bahasa Indonesia, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Sultan Ageng Tirtayasa, pada tabel 4.3 tentang pemanfaatan hasil kajian tindak tutur kesantunan pada poster Internasional Womens Day 2020 di Jakarta dalam pelajaran pragmatik di perguruan tinggi.
Tabel 4. 3 Pemanfaatan Hasil Kajian Tindak Tutur Kesantunan pada Poster Internasional Womens Day 2020 di Jakarta dalam Pelajaran
Pragmatik di Perguruan Tinggi
No Hasil Penelitian Kode Data
1 Penggunaan ilmu pragmatik dalam kegiatan penelitian akhir-akhir ini banyak diminati oleh kalangan umum, artinya bukan hanya mahasiswa saya saja, banyak juga diluar kampus Untirta menggunakan ilmu pragmatik untuk menjadi pilihan penelitian mereka, entah itu dosen atau mahasiswa. Dijurusan PBI Untirta sendiri, mahasiswa lebih banyak menggunakan bidang lingustik makro dibandingkan lingustik mikro untuk dijadikan sebagai pendekatan keilmuan mereka dalam penelitian. Nah sedangkan pragmatik ada pada linguistik makro.
W1-P8-DEJ
2 Judul yang kamu jelaskan diawal sudah sangat sesuai dengan kajian pragmatik. Judul tesis ini juga ternyata memiliki banyak tujuan, seperti mengukur kesantunan, mengukur ketidak santunan, dan mengukur atau mencari tahu penggunaan fungsi dan bentuk tidak tutur yang ada di dalam poster Internasional Womens Day 2020.
W1-P11- DEJ
3 Cukup banyak, kak. Bahkan Zahra berminat untuk mengambil fokus penelitian skripsi dengan menggunakan pendekatan Pragmatik.
W2-P9-FAZ
Susah sih kak, jika dalam pelajaran pragmatik tidak menggunakan media pembelajaran. Karena kan pragmatik ini tidak dapat jauh dari konteks dalam sebuah tuturan yah.
Nah, jika tidak tersedia media, kita tentu kesulitan dalam menemukan maksud dibalik teks atau tuturan itu. Karena makna dan konteks akan muncul bila tersedia media
W2-P11- FAZ
pembelajaran sehingga kita dapat mengaitkan bahasa yang digunakan dengan melihat konteks yang ada.
4 Media pembelajaran dalam pembelajaran pragmatik sangat perlu digunakan. Hal itu merupakan upaya untuk memudahkan pendidik dalam memberikan pemahaman kepada peserta didik (mahasiswa). Artinya, media pembelajaran adalah jalan untuk memudahkan pendidik dan peserta didik dalam memahami materi yang sedang disampaikan ketika pembelajaran berlangsung. Dengan adanya bahan ajar, peserta didik akan lebih terarah pemikirannya sehingga pemahaman yang didapatkan akan lebih sempurna. Itulah mengapa bahan ajar sangat penting dilibatkan dalam proses pembelajaran.
W1-P12- DEJ
5 Tentu saja bisa. Dalam poster, tak hanya teks saja yang dicantumkan, poster biasanya berisikan gambar dengan disain yang menarik. Keunikan poster pada akhirnya dapat merangsang pikiran peserta didik (mahasiswa), sehingga ia dapat mengkorelasikan isi teks dan desain yang ada didalam poster itu. Dari situlah media poster dapat dianggap sebagai salah satu media yang unik untuk pembelajaran pragmatik.
W1-P13- DEJ
6 Ada hal yang harus saya sampaikan mengenai media pembelajaran. Carilah atau gunakanlah media pembelajaran yang dekat dengan kehidupan sosial mereka (peserta didik) agar mereka lebih mudah memahami penjelasan mengenai pembelajaran tersebut. Jika saya amati, media poster demonstrasi adalah sebuah media yang cocok digunakan dalam pembelajaran pragmatik.
Melihat sasaran pembelajaran yang ditunjukkan kepada mahasiswa sarjana yang sedang asyik-asyiknya beradaptasi
W1-P14- DEJ
dengan dunia perjuangan, memanfaatkan media pembelajaran poster demonstrasi Internasional Womens Day 2020 di Jakarta dalam pembelajaran pragmatik sangat cocok untuk digunakan. Hal tersebut karena media pembelajaran yang akan digunakan sangat dekat dengan dunia mereka sehingga peserta didik akan lebih mudah dalam memahami pembelajaran yang akan disampaikan.
7 Manfaatnya kita lebih bisa memahami makna dari sebuah konteks sih kak. Pragmatik menuntut kita agar lebih peka terhadap sebuah tuturan dari seseorang atau mitra tutur. Hal ini tentu saja bisa menjadi bekal untuk kita dalam menjalankan komunikasi sehari-hari sehingga akan lebih mudah mencari maksud dari apa yang dikatakan orang lain (mitra tutur).
W2-P17- FAZ
B. Temuan Penelitian
Pada bagian ini peneliti akan memaparkan hasil analisis data penelitian yang telah peneliti temukan dari berbagai sumber yang ada. Analisis ini diharapkan dapat menjawab pertanyaan penelitian yang telah ditentukan pada penelitian ini sehingga pertanyaan penelitian dapat terjawab dengan baik dalam bagian ini.
1. Bentuk Maksim Kesopanan dalam Poster Internasional Womens Day 2020 di Jakarta
Penggunaan kesantunan oleh demonstrasi Internasional Womens Day 2020 ditemukan berbagai prinsip kesopanan. Hal itu menunjukkan bahwa demonstrasi masih memathui etika dan norma yang berlaku. Para demonstrasi memahami bahwa kita sebagai manuisa harus tetap santun dalam berprilaku.
Menyampaikan segala bentuk permasalahan dengan sopan adalah peraktik yang baik untuk menjaga lawan bicara kita agar saling menghormati dan menghargai satu samalain. Indriyani, Widodo, Rohmadi (2019: 4) menjelaskan
bahwa bahasa sebagai sarana komunikasi yang vital seharusnya dapat memberikan kontribusi fungsi yang signifikan dalam interaksi sehari-hari, terutama dalam menyampaikan ekspresi santun untuk menciptakan kenyamanan serta menghindari miskomunikasi saat kegiatan tuturan itu dilakukan. Agar komunikasi dapat berjalan dengan baik, maka sangat penting rasanya jika kita memperhatikan dan mempelajari ilmu tindak tutur. Adanya sebuah pengetahuan yamg dimiliki penutur dan lawan tutur mengenai ilmu tersebut akan membentuk sebuah pemahaman yang utuh mengenai tindak tutur sehingga komunikasi dapat berjalan dengan lancar (Budiasih, Andayani, &
Muhammad Rohmadi, 2017: 5).
Pada penelitian ini, penggunaan maksim kesopanan dalam poster demonstrasi IWD 2020 terdapat 33 data. Maksim kesopanan itu muncul dengan berbagai bentuk, seperti maksim kerendahan hati sebanyak 7 data, maksim kesepakatan 4 data, maksim simpati 14 data, maksim kedermawanan 6 data, dan maksim pujian 2 data. Pada bagian di bawah ini peneliti akan memaparkan analisis mengenai maksim kesopanan tersebut.
a. Penggunaan Maksim Kerendahan Hati
Maksim kerendahan hati merupakan sebuah prilaku penutur yang menunjukkan ketidak sombongan penutur terdahap mitra tutur. Dalam persoalan ini, penutur menghargai dan menghormati mitra tutur sehingga apa yang dilakukan penutur pada saat berkomunikasi mampu menghasilkan kesantun berbahasa. Sejalan dengan hal tersebut, Leech (2015:206-207) menjelaskan bahwa maksim kerendahan hati memiliki tujuan untuk; (a) membuat kerugian orang lain sekecil mungkin, dan (b) membuat keuntungan orang lain sebesar mungkin. Berikut ini adalah contoh penggunaan bentuk maksim kerendahan hati dalam poster demonstrasi IWD 2020.
Data 1
Gambar 4. 1
Tuturan: Aku diperkosa dan dibuat lebam. Tapi kalian malah menyuruhku diam.
Analisis: Tuturan yang disampaikan pada data (1) tergolong kedalam maksim kerendahan hati. Hal tersebut dapat terjadi karena penutur mampu menjelaskan persoalan itu dengan tidak memojokkan lawan tuturnya sehingga tidak membuatnya tersinggung. Kalimat yang disampaikan dalam poster pada data (1) menjelaskan bahwa wanita tersebut pernah dilecehkan (diperkosan) dan dibuat lebam tetapi perempuan itu diminta untuk diam seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Dalam keadaan itu, perempuan tersebut masih dapat menggunakan tuturannya dengan baik untuk menyampaikan aspirasinya di depan umum. Proses komunikasi itu tercipta karena kerendahan hati seorang demonstran dalam menjelaskan persoalan yang dialaminya. Menurut Leech (2015:206) maksim kerendahan hati memiliki tujuan untuk; (a) membuat kerugian orang lain sekecil mungkin, dan (b) membuat keuntungan orang lain sebesar mungkin. Dari pendapat inilah kita dapat memahami bahwa penutur telah membuat kerugian orang lain sekecil mungkin sehingga tidak memojokkan lawan bicaranya dengan menggunakan kata-kata atau tuturan yang senonoh.
Selain itu, poster ini juga termasuk kedalam tindak tutur asertif dengan fungsi mengeluh. Menurut Searle (1969: 36) fungsi aserif adalah fungsi tuturan yang menghubungkan penuturnya pada kebenaran proposisi yang diungkapkan dalam tuturannya. Kebenaran proposisi yang dimaksud adalah bahwa penutur memiliki pandangan mengenai suatu peritiwa, sehingga penutur mampu memberikan suatu pernyataan, menyarankan, menbual, mengeluh, mengklaim, membenarkan, dan menyalahkan. Dalam kejadian pada data (1) penutur menjelaskan peristiwa yang pernah dialaminya.
Fungsi mengeluh digunakan untuk memberitahu kepada mitra tutur agar mereka mengerti bahwa kejadian tersebut pernah dialami oleh perempuan dan kejadian itu juga secara tidak langsung melemahkan hargadiri perempuan. Sebuah praktik pembungkaman atas suatu masalah merupakan perilaku yang tidak seharunya terjadi. Hal tersebut dapat merugikan korban dan peraktik tersebut dapat berpotensi membiarkan kejaharan tetap bertahan.
Data 2
Gambar 4. 2
Tuturan: Beli pembalut kamu malu. Temenmu PK gak malu !
Analisi: Kalimat yang tercantum dalam poster dalam data (2) menujukkan kerandahan hati seorang demonstran dalam menyikapi persoalan yang dialaminya. Tak sedikit laki-laki beranggapan bahwa membeli pembalut merupakan suatu kegiatan yang memalukan. Pandang itu muncul karena sebagain lak-laki menganggap pembalut merupakan alat yang sensitif untuk dibahas. Gambar yang terdapat dalam poster itu merupakan gambar pembalut yang biasa digunakan oleh perempuan untuk membalut alat kemaluannya ketika sedang haid atau untuk keperluan yang lain.
Sering kali laki-laki merasa malu ketika diminta untuk membelikan pembalut oleh wanita. Padahal pembalut menjadi suatu kebutuhan yang sudah biasa digunakan oleh perempuan untuk keperluannya. Dengan kondisi tersebut seharusnya laki-laki dapat bersikap dengan baik ketika perempuan meminta tolong untuk membelikan alat tersebut. Banyaknya laki-laki yang merasa malu untuk membeli pembalut membuat perempuan tersinggung atas perilaku yang telah ditunjukkan oleh laki-laki tersebut.
Seakan pembalut merupakan suatu barang yang tidak lazim untuk perbincangkan atau digunakan.
Atas persoalan itulah, perempuan berpikir bahwa banyak perilaku laki-laki yang menurutnya lebih menjijikan dari pada persoalan pembalut.
Penggalan tuturan di atas “Temenmu PK gak malu” merupakan suatu tuturan yang ditunjukkan kepada laki-laki. Tuturan itu sebagai penggambaran bahwa ada suatu prilaku yang lebih menjijikan dibandingkan persoalan pembalut. Singkatan PK yang ada dalam tuturan itu memiliki kepanjangan “Penjahat Kelamin”.
PK merupakan istilah yang digunakan oleh laki-laki yang sering berganti-ganti wanita untuk menyalurkan kepuasan nafsunya. Salah satu demonstran tersebut menjelaskan bahwa PK (Penjahat Kelamin) adalah suatu perilaku yang lebih menjijikan dan memalukan. Seharusnya para laki- laki lebih malu ketika mempunyai teman yang seperti itu. Dalam kejadian ini, walaupun perempuan merasa terpojokkan dengan perilaku laki-laki tersebut, tetapi perempuan tidak memberikan cacian dan makkian kepada
laki-laki, perempuan hanya menyadarkan bahwa laki-kali seharusnya lebih malu melihat temannya yang bersetatus PK. Ini menunjukkan bahwa tuturan pada data (2) di atas tergolong dalam maksim kerendahan hati. Sejalan dengan hal tersebut, Leech (2015:206) menjelaskan bahwa maksim kerendahan hati memiliki tujuan untuk; (a) membuat kerugian orang lain sekecil mungkin, dan (b) membuat keuntungan orang lain sebesar mungkin.
Selain itu, tuturan pada data (2) di atas juga tergolong kedalam tindak tutur ekspresif dengan tujuan untuk menyatakan kekesalannya.
Fungsi tersebut ditunjukkan oleh perempuan untuk mengekspresikan kekesalannya kepada laki-laki. Perempuan menjelaskan bahwa pembalut bukan merupakan suatu barang yang sensitif untuk dibicarakan. Tuturan dalam data (2) juga menjelaskan bahwa laki-laki harus mengerti dan sadar mengenai perilaku yang tidak seharusnya laki-laki lakukan kepada perempuan. PK dianggap perempuan lebih menjijikan dari persoalan pembalut yang sering kali dianggap sebagai hal yang privat bagi kaum laki- laki. Searle (1969: 36) menjelaskan bahwa tindak tutur ekspresif ialah suatu tuturan yeng berfungsi untuk menyatakan sikap psikologis penutur terhadap apa yang telah iya alami. Fungsi tuturan ini untuk mengungkapkan perasaan sikologi si penutur, seperti berterima kasih, mengucapkan selamat, memuji, berbelasungkawa, atau perasaan sikologi lainnya berupa keadaan senang, bahagia, sedih, marah, galau, pundung dan sebagainya.
Data 3
Gambar 4. 3
Tuturan: Semoga anak gue gak perlu demo lagi !
Analisis: Tuturan yang dituliskan pada data (3) di atas tergolong kedalam maksim kerendahan hati. Jika dilihat dari kontkesnya, peritiwa ini terjadi ketika siang hari pada saat kegiatan demonstrasi berjalan. Poster tersebut dipegang oleh seorang ibu-ibu ditengah kerumunan masa aksi. Dilihat dari tuturan yang terdapat dalam poster tersebut, ia berharap bahwa kelak kedepannya tidak ada lagi permaslahan mengenai perempuan yang terjadi.
Ia juga berharap anaknya nanti tidak akan mengurusi persoalan semacam ini, biarkan permasalahan seperti ini dirasakan oleh ibunya, asalkan nanti anaknya tidak merasakan persoalan yang dirasakan olehnya.
Biarkan apa yang dilakukan oleh penutur sekarang menjadi perjuangan yang harus dilakukan, asalkan permasalahan-permasalahan tersebut dapat mendapatkan solusi dan menemui titik terang. Kalimat dalam poster tersebut termasuk ke dalam maksim kerendahan hati karena penutur mengungkapkan kejadian tersebut dengan santun. Padahal disaming itu, penutur mengalami permasalahan yang beragam, tetapi tuturan yang disampaikan tetap menggunakan bahasa yang sopan dan santun, sehingga tidak berpotensi melukai hati mitra tuturnya. Leech (2015:206) menjelaskan bahwa maksim kerendahan hati memiliki tujuan untuk; (a) membuat
kerugian orang lain sekecil mungkin, dan (b) membuat keuntungan orang lain sebesar mungkin.
Tuturan pada data (3) di atas memiliki pesan yang diungkapkan secara implisit. Seorang wanita tersebut sangat berharap bahwa perjuangan ini tidak boleh sia-sia, apa yang diusahakan dalam demonstrasi ini harus memiliki solusi dan hasil yang jelas sehingga kelak anak dari seorang wanita tersebut tidak lagi menemukan persoalan yang dialaminya. Tuturan yang disampaikan secara tidak langsung pada data (3) dapat membuat kerugian mitra tuturnya sekecil mungkin. Hal itu dilakukan karena penutur menjaga tuturannya agar tidak diungkpankan dengan frontal ketika kegiatan demonstrasi berlangsung. Jika tuturan atau kritikan dalam poster tersebut diungkapkan dengan tuturan atau kata-kata yang kasar tanpa mempertimbangkan lawan bicaranya, pristiwa itu memungkinkan dapat melukai hati mitra tuturnya dan dapat merugikan lawan bicaranya.
Selain itu, tuturan dalam data (3) tergolong kedalam tindak tutur direktif dengan fungsi memohon. Menurut Searle (1969: 36) direktif merupakan bentuk tuturan yang memiliki maksud untuk membuat pengaruh yang dilakukan oleh penutur kepada mitra tutur. Pengaruh tersebut digunakan agar mitra tutur mampu melakukan tindakan yang diinginkan penutur. Bentuk tindak tutur direktif adalah bentuk memesan, memerintah, memohon, menasehati, dan memaksa atau bentuk pengaruh lainnya yang dapat dilakukan oleh mitra tutur. Pendapat tersebut sesuai dengan poster dalam data (3), penutur menjelaskan sebuah permohon dalam tuturannya, tujuannya agar mitra tutur (pemerintah) dapat menyeselsaikan persoalan ini dengan cepet.
Data 4
Gambar 4. 4
Tuturan: Dibutuhkan UU yang melindungi penyintas kekerasan seksual !
Analisis: Persolan kekerasa seksual bisa terjadi kepada siapa saja dan dimana saja. Bisa terjadi kepada wanita ataupun peria. Tetapi secara umum kekerasan seksual banyak terjadi kapada wanita. Sebuah perilaku kekerasan seksual tentu akan merugikan si korban, karena korban akan merasa dilecehkan atas apa yang telah pelaku lakukan. Bentuk-bentuk kekerasan seksual sangat beragam, seperti pemerkosaan, perjodohan, perbudakan seksual, pemaksaan aborsi atau kehamilan dan perilaku-perilaku lainnya yang dapat merugikan korban. Kekerasan seksual termasuk kedalam pelecehan seksual, hal tersebut karena kekerasan seksual berdampak kepada sikologi korban sehingga korban kerap kali tidak berani untuk bercerita atau mengadukan tindakan yang tidak senonoh itu. Krena banyaknya perilaku tersebut, Koalisi Ruang Publik Aman (KRPA) melakukan survei mengenai kekerasan seksual pada 25 November sampai 10 Desember 2018 dengan melibatkan 26.224 responden yang dipilih secara acak anatara laki-laki dan perempuan di seluruh daerah di Indonesia. Hasil survei tersebut menjelaskan bahwa kekerasan seksual 28,22 persen banyakan terjadi di
jalanan dan 12,77 persen banyak terjadi di transportasi umum (Kompas.com, 27/11/2019).
Perempuan dianggap lebih sering menjadi korban dalam hal ini.
Maka sangat wajar jika perempuan mendesak pemerintah untuk mencipakan undang-undang yang dapat melindungi korban atau penyintas kekerasan seksual. Tuturan Dibutuhkan UU yang melindungi penyintas kekerasan seksual !!! merupakan tuturan yang diungkapan secara santun dan tidak terlalu menghakimi lawan tuturnya sehingga tuturan yang disampaikan dapat dipahami dan diterima dengan baik. Perilaku tersebut merupakan sebuah bentuk kerendahan hati yang dilakukan oleh seorang demonstran terkait isu yang dia angkat. Jika kita amati, terlalu banyak permasalahan yang dialami oleh perempuan, tetapi perempuan masih tetap menjaga tuturannya sehingga tidak berpotensi melukai lawan tuturnya.
Sejalan dengan pendapat itu, Leech (2015:206) menjelaskan bahwa maksim kerendahan hati memiliki tujuan untuk; (a) membuat kerugian orang lain sekecil mungkin, dan (b) membuat keuntungan orang lain sebesar mungkin.
Selian itu, tuturan pada data (4) juga tergopong kedalam fungsi tindak tutur direktif dengan bentuk meminta. Menurut Searle (1969: 36) drektif merupakan bentuk tuturan yang memiliki maksud untuk membuat pengaruh yang dilakukan oleh penutur kepada mitra tutur. Pengaruh tersebut agar mitra tutur mampu melakukan tindakan yang diinginkan penutur. Contoh bentuk tindak tutur direktif seperti, meminta, memesan, memerintah, memohon, menasehati, memaksa dan perilku lain yang serupa.
Bentuk atau fungsi meminta ini digunakan oleh penutur untuk meminta kepada lawan tuturnya (pemerintah) agar dibuatkan undang-undang yang dapat melindungi korban atau penyintas kekerasan seksual sehingga korban dapat memiliki bantuan hukum dalam menyelesaikan persoalan tersebut.
Data 5
Gambar 4. 5
Tuturan: Masa harus jadi Wonder Women biar ga disakitin?
Analisis: Dewasa ini kekerasan atau pelecehan yang dialami oleh perempuan semakin marak. Berbagai macam persoalan dengan motif yang berbeda-beda telah dilakukan oleh pelaku kekerasan seksual yang ditunjukkan kepada perempuan. Disamping itu, kebijakkan pemerintah seolah tidak mengenakan hati perempuan. Padahal permasalahan mengenai perempuan sudah banyak terjadi, tapi pemerintah seolah tidak memperhatikan nasip para perempuan yang menjadi korban atas maraknya pelecehan seksual. Undang-undang mengenai kekerasan seksual yang seharusnya menjadi payung hukum untuk mereda persoalan ini tak kunjung diselesaikan oleh pemerintah. Ini membuat para perempuan merasa kecewa, seolah perempuan dapat membela dan menyelesaikan persoalannya sendiri.
Tuturan “Masa harus jadi Wonder Women biar ga disakitin?” merupakan bentuk tindak tutur asertif dengan bentuk mengeluh. Menurut Searle (1969:
36) fungsi aserif adalah fungsi tuturan yang menghubungkan penuturnya pada kebenaran proposisi yang diungkapkan dalam tuturannya. Kebenaran proposisi yang dimaksud adalah bahwa penutur memiliki pandangan mengenai suatu peritiwa, sehingga penutur mampu memberikan suatu
pernyataan, menyarankan, menbual, mengeluh, mengklaim, membenarkan, dan menyalahkan.
Tuturan tersebut bermaksud menanyakan kepada mitra tutur, apakah seorang perempuan harus menjadi “Wonder Women” agar dapat menjadi seseorang yang kuat. Tuturan pada data (5) di atas menggunakan sebutan
“Wonder Women” untuk menggambarkan istilah seorang tokoh perempuan yang begitu kuat. Wonder Woman adalah karakter perempuan superhero fiktif yang muncul di buku komik Amerika Serikat.
Selain itu, ia juga memiliki berbagai kekuatan manusia super dan kemampuan berlaga dan bertarung yang hebat.
Jadi maksud dari tuturan pada data (5) ingin menyadarkan kepada mitra tutur bahwa perempuan hanyalah seorang manusia biasa yang tidak memiliki kekuatan yang begitu gagah seperti Wonder Women. Perempuan juga membutuhkan bantuan dan perlindungan hukum dari pemerintah atas permasalahan yang sering sekali muncul dalam kehidupannya. Cara penyampian isu yang dilakukan oleh salah satu peserta demonstran pada data (5) tergolong kedalam maksim kerendahan hati. Leech (2015:206) menjelaskan bahwa maksim kerendahan hati memiliki tujuan untuk; (a) membuat kerugian orang lain sekecil mungkin, dan (b) membuat keuntungan orang lain sebesar mungkin. Tuturan yang telah diungkapankan dalam data (5) dianggap telah mengurangi kerugian orang lain sekecil mungkin. Hal itu terlihat dalam tuturan “Masa harus jadi Wonder Women biar ga disakitin?”. Dalam kondisi yang tidak baik-baik saja, penutur tidak memberikan cacian dan tidak memojokkan lawan tuturnya sehingga tidak berpotensi melukai hati mitra tuturnya. Hal tersebut merupakan sebuah bentuk kerendahan hati penutur dalam menyikapi persoalan yang ada.
Data 6
Gambar 4. 6
Tuturan: Jangan sia-siakan Skin Care ku
Analisis: Tuturan dalam poster pada data (6) di atas menunjukkan bentuk tuturan dengan fungsi mengeluh. Seorang demonstra mengeluh jika aksi yang mereka lakukan akan berujung sia-sia. Ketika tuntutan mereka tidak terpenuhi maka apa yang mereka lakukan dianggap tidak memiliki hasil yang maksimal. Sedangkan untuk mempersiapkan itu semua, seluruh peserta aksi telah menyiapkan berbagai kebutuhan. Salah satu kebutuhan pada perempuan untuk menjalankan aktivitasnya adalah menggunakan skincare. Kebayakan perempuan menggunakan skincare untuk mempercantik penampilan agar terlihat lebih menarik. Hal itu dilakukan oleh perempuan sebagai usaha untuk merawat diri.
Seorang peserta demonstran mengeluh lewat tuturan yang dituliskan dalam poster pada data (6). Ia berharap bahwa pengorbanannya tidak berujung sia-sia. Walaupun skincere yang digunakan pada saat demonstrasi sia-sia karena terkena sinar matahari dan debu, ia berharap bahwa tuntutannya dapat terealisasikan, sehingga apa yang ia lakukan tidak berujung sia-sia. Tuturan dalam data (6) ini termasuk kedalam tindak tutur asertif dengan fungsi mengeluh. Tindak tutur aserif adalah sebuah tuturan yang menghubungkan penuturnya pada kebenaran proposisi yang diungkapkan dalam tuturannya. Kebenaran proposisi yang dimaksud adalah
bahwa penutur memiliki pandangan mengenai suatu peritiwa, sehingga penutur mampu memberikan suatu pernyataan seperti menyarankan, menbual, mengeluh, mengklaim, membenarkan, dan menyalahkan (Searle, 1969: 36).
Tuturan tersebut memiliki pesan yang digambarkan secara implisit.
Harapan yang besar telah ditanamkan pada hati perempuan. Mereka berharap segala tuntutan yang mereka ajukan dan rasakan dapat didengar oleh mitra tutur (pemerintah). Skincere dianggap tidak terlalu penting bagi perempuan, mereka sangat menginginkan sebuah produk hukum atau kebijakkan yang dapat memberikan perlindungan bagi kaum perempuan.
Pada persoalan ini, penulis menyimpulkan tuturan yang telah diungkapkan pada data (6) tergolong kedalam maksim kerendahan hati. Leech (2015:206) menjelaskan bahwa maksim kerendahan hati memiliki tujuan untuk; (a) membuat kerugian orang lain sekecil mungkin, dan (b) membuat keuntungan orang lain sebesar mungkin.
Hal itu sesuai dengan tuturan “Jangan sia-siakan Skin Care ku”.
Dalam situasi yang sangat bergejolak, penutur tidak melontarkan kata-kata cacian untuk orang yang mereka maksud. Perilaku tersebut merupakan sebuah bentuk kerendahan hati penutur untuk menjaga lawan tuturnya sehingga ia hanya menjelaskan kepada lawan tuturnya agar tidak menyia- nyiakan usahanya. Hal itu diuangkapkan dengan tujuan agar lawan tuturnya mampu melihat usaha yang telah mereka lakukan dalam kegiatan demonstrasi ini.
Data 7
Gambar 4. 7
Tuturan: Jangan nikahkan kami please
Analisis: Isi tuturan yang terkandung dalam poster demonstrasi IWD 2020 pada data (7) menceritakan tentang seorang anak kecil yang memberikan larangan kepada mitra tutur untuk tidak melakukan pernikahan di bawah umur. Tuturan “Jangan nikahkan kami” merupakan sebuah tuturan yang memiliki fungsi larangan. Hal tersebut ditegaskan dengan menggunakan kata “jangan”. Dilihat dari UU No. 1 tahun 1974 mengenai perkawinan.
Bahwa suatu perkawinan atau pernikahan diperbolehkan jika laki-laki sudah berusia 19 tahun dan perempuan berusia 16 tahun. Menelisik pada bunyi undang-undang di atas, jika suatu perkawinan yang dilakukan dibawah umur yang telah ditentukan dalam undang-undang, maka dapat diyatakan bahwa orang itu melakukan pernikahan di bawah umur (pernikahan dini).
Kalimat yang tercantum dalam data (7) jika kita amati, kalimat tersebut memiliki makna yang sangat luas. Hal yang melatar belakangi terjadinya pernikahan dini adalah suatu kemauan orang tua terhadap anaknya untuk menikah dengan cepet sehingga berpotensi dilakukannya perjodohan.
Selain itu, ada juga faktor pemicu terjadinya pernikahan dini, seperti pergaulan yang menyimpang, kekhawatiran orang tua jika anaknya mengenal seks bebas sehingga menyebabkan hamil sebelum menikah, dan faktor ekonomi juga dapat menjadi alasan mengapa orang tua ingin anaknya segara menikah. Untuk menghindari persoalan tersebut, seharusnya orang tua dapat memberikan edukasi yang baik walaupun itu adalah persoalan
yang tabu. Sejalan dengan hal tersebut, Awaru (2020: 189) menjelaskan bahwa pendidikan seks adalah sebuah proses transmisi nilai serta pengarahan perilaku seksual anak dengan berbagai macam materi pendukung. Dalam pendidikan seksual, seseorang mendaptakan pengetahuan menganai nilai agama, sosial, norma, adat, dan hukum.
Kalimat “Jangan nikahkan kami, please” merupakan bentuk penolakan yang dilakukan penutur. Kalimat atau tuturan tersebut disampaikan oleh penutur karena ingin menunjukkan ketidak berterimaanya atas perintah yang ditunjukkan kepadanya. Pernikahan merupakan suatu kegiatan yang dilakukan atas dasar saling mencintai sehingga laki-laki dan perempuan itu memiliki keinginan untuk melakukan hal itu. Tidak elok rasanya jika sebuah pernikahan dilakukan dengan paksaan. Hal itu akan berporensi kepada beberapa hal yang negatif, seperti perselisihan, ketidak harmoniasan, bahkan bisa berujung perceraian. Biarkan seseorang menikah atas dasar kesiapan mental serta keyakinannya.
Meskipun demikian, seorang anak juga harus mendapatakan restu oleh orang tuanya sehingga ada proses timbal balik yang baik antara orang tua dan anak. Dengan begitu anak dan orang tua dapat menjalin hubungan yang harmonis. Pada persoalan lain, pernikahan dini memiliki dampak yang membahayakan untuk kesehatan ibu dan bayi. Hal itu dapat terjadi karena peraktik pernikahan dini yang dipaksalan oleh anak atau remaja beresiko mengalami beberapa gangguan pada dirinya, seperti hubungan seksual yang dipaksakan, terjadinya kehamilan yang tidak siap (masih dini), kanker leher rahim, dan dapat juga mengalami penyakit seksual (Fadlyana & Larasaty, 2016: 136).
Bentuk tuturan dengan fungsi menolak yang diungkapkan oleh seorang anak di dalam data (7) itu masih tergolong kedalam kalimat yang santun. Tuturan tersebut tergolong santun karena seorang gadis itu mampu menempatkan diri dengan baik, ia mampu mengukur kepada siapa tuturan itu ditunjukkan. Kata “Please” diambil dari bahasa Inggris yang memiliki fungsi untuk “Memohon”. Dari kata itulah seorang gadis tersebut
menunjukkan kerendahan hatinya untuk mengungkapkan apa yang ia rasakan. Menurut Searle (1969: 36) direktif merupakan bentuk tuturan yang dapat memberikan pengaruh kepada lawan tuturnr. Tujuannya agar lawan tutur dapat melakukan tindakan yang dimaksud oleh penutur. Tuturan direktif memiliki bentuk, seperti memesan, memerintah, memohon, menasehati, dan memaksa. Selain itu, tuturan ini juga tergolong kedalam maksim kerandahan hati, karena penutur mampu menunjukkan kerendahan hatinya kepada lawan tuturnya. Leech (2015:206) menjelaskan bahwa maksim kerendahan hati memiliki tujuan untuk; (a) membuat kerugian orang lain sekecil mungkin, dan (b) membuat keuntungan orang lain sebesar mungkin.
b. Penggunaan Maksim Kesepakatan
Maksim kesepakatan adalah maksim yang digunakan oleh penutur untuk menyepakati pesan yang disampaikan oleh mitra tuturnya. Penutur menggunakan maksim ini untuk menjaga perasaan mitra tutur sehingga penutur dapat memenuhi apa yang diharapkan oleh mitra tuturnya. Menurut Leech (2015:206-207) maksim kesepakatan mempunyai maksud untuk; (a) membuat keuntungan diri sendiri kecil, dan (b) membuat kerugian diri sendiri sebesar mungkin. Analisis mengenai contoh penggunaan maksim kesepakatan akan peneliti jelaskan di bawah ini.
Data 8
Gambar 4. 8
Tuturan: Bebaskan tahanan politik perempuan Papua
Analisis: Tuturan yang terdapat dalam tulisan pada poster demonstrasi Internasional Women’s Day 2020 di Jakarta dalam data (8) menjelaskan tentang kejadian pada tahanan politik perempuan Papua (aktivis perempuan). Banyak keganjilan yang dirasakan oleh tahanan politik Papua.
Kurangnya rasa kemanusiaan dalam tahanan membuat perempuan Papua merasa direndahkan harga dirinya. Peristiwa yang terjadi di dalam tahanan dengan berbagai macam perilaku seperti perbudakan, kekerasan seksual serta rasisme pernah dialami oleh tahanan Papua. Senada dengan pandangan tersebut Febrianti, dkk (2019: 101) berpendapat bahwa ada beberapa isu yang berkembang di Papua atau pada orang Papua itu sendiri sehingga memberikan reaksi bagi mencuatnya ketidakpuasan publik Papua, diantaranya yaitu masalah optimalisasi pelayanan publik, isu pembangunan manusia, pembangunan infrastruktur, keadilan politik, isu rasisme, dan sebagainya yang hal-hal tersebut masih dalam koridor wacana kebangsaan.
Hal ini seharusnya dapat diperhatikan dengan serius oleh pemerintah Indonesia sehingga persoalan ini dapat segera diselesaikan. Rahman (2014:
16) menyatakan bahwa peristiwa seperti ini merupakan bentuk disiplin pemerintah yang rendah dan penegakan hukum yang lemah. Akibatnya penyimpangan terhadap tata nilai mudah terjadi, mudah kehilangan arah dan kontrol diri.
Kalimat dalam poster demonstran yang tercatat pada data (8) di atas menunjukkan bahwa peserta aksi ingin memerintahkan kepada pemerintah untuk membebaskan tahanan politik perempuan Papua yang diperlakukan tidak sesuai. Tuturan dengan fungsi memerintah termasuk kedalam bentuk tindak tutur direkatif. Menurut Searle (1969: 36) direktif merupakan bentuk tuturan yang memiliki maksud untuk membuat pengaruh yang dilakukan oleh penutur kepada mitra tutur. Pengaruh tersebut agar mitra tutur mampu melakukan tindakan yang diinginkan penutur. Bentuk tindak tutur direktif adalah memesan, memerintah, memohon, menasehati, dan memaksa.
Kalimat yang disampaikan oleh massa aski tersebut ditunjukkan kepada pemerintah, agar dapat membebaskan tahanan politik Papua, khususnya tahanan aktivis perempuan.
Selain itu, tuturan yang diungkapkan oleh peserta demonstran IWD 2020 juga masih tergolong kedalam tindak tutur yang santun. Hal tersebut dapat dikatakan karena dalam tuturan pada data (8) tidak mengandung kata atau kalimat yang menyinggung lawan tuturnya sehingga apa yang ia katakan tidak melukai hati mitra tutunya. Jika dikaitkan dengan konteksnya, tuturan ini dianggap sebagai bentuk tindak tutur kesepakatan. Terlihat ada gambar yang tertera pada foto tersebut, bahwa ada seorang demonstran perempuan dan laki-laki memegang secara bersama poster yang bertuliskan
“Bebaskan tahanan politik perempuan Papua”. Poster tersebut menggambarkan isi hati perempuan Papua, ia ingin dimerdekakan secara hak dan mendapatkan perlindungan dari negara. Selayaknya manusia merdeka, bahwa dirinya juga ingin dimerdekakan agar mendapat jaminan hidup. Atas peristiwa tersebut, seorang laki-laki menunjukkan kesepakatannya mengenai isu yang telah perempuan itu tuliskan di dalam posternya. Senada dengan hal tersebut, Leech (2015:206-207) menjelaskan bahwa maksim kesepakatan mempunyai maksud untuk; (a) membuat keuntungan diri sendiri kecil, dan (b) membuat kerugian diri sendiri sebesar mungkin.
Data 9
Gambar 4. 9
Tuturan: Tarik militer dari Nduga Papua. Stop kekerasan, muliakan hati perempuan.
Analisis: Peristiwa tewasnya warga sipil ditengah konfilik bersenjata yang terjadi di Kabupaten Nduga, Papua telah terjadi kesekian kalinya. Persoalan ini memanas setalah TNI di Nduga menembak dua warga sipil. pasca itu, gelombang aksi terjadi di daerah tersebut untuk menuntut keadilan atas peristiwa penembakan itu. Kedua korban tersebut adalah Elias Karunggu, 40 tahum dan putranya yang bernama Selu Karunggu, 20 tahun. Mereka ditembak di distrik Kenyam, ibukota Nduga pada 18 Juli 2018. TNI menyebut bahwa mereka sebagai kelompok pro-kemerdekaan. Namun, klaim itu dibantah oleh berbagai pihak, termasuk Tentara Pembebasan Papua Barat- Organisasi Papua Merdeka (TPNPB-OPM) yang menganggap bahwa mereka adalah warga sipil. Tuturan “Tarik militer dari Nduga Papua” merupakan sebuah pesan yang diungkapkan oleh masa aksi untuk menarik TNI-Polri dari Nduga Papua. Psalnya peristiwa ini telah cukup banyak menelan korban jiwa. Ia berharap, dengan ditariknya militer dari tanah Nduga dapat memberikan keadaan yang lebih baik.
Selanjutnya, tuturan “Stop kekerasan, muliakan hati perempuan”
merupakan bentuk tuturan direktif dengan fungsi memerintahkan lawan tuturnya agar menghentikan segala bentuk kekerasan, khususnya pada
perempuan. Searle (1969: 36) menjelaskan bahwa direktif merupakan bentuk tuturan yang memiliki maksud untuk membuat pengaruh yang dilakukan oleh penutur kepada mitra tutur. Pengaruh tersebut agar mitra tutur mampu melakukan tindakan yang diinginkan penutur. Bentuk tindak tutur direktif adalah memesan, memerintah, memohon, menasehati, dan memaksa.
Selian itu, tuturan dalam poster pada data (9) ini juga termasuk kedalam maksim kesepakatan. Maksim kesepakatan ini dapat terjadi karena penutur merupakan seorang laki-laki yang sama-sama memperhatikan isu perempuan. Hal ini dilakukan oleh penutur dalam aksi Internasional Womens Day 2020 di Jakarta. Kesepakan itu ditunjukkan oleh penutur sebagai sebuah bentuk solidaritas kaum peria terhadap kaum wanita dalam menyekipai berbagai persoalan yang berkembang. Leech (2015:206) mengatakan bahwa maksim kesepakatan mempunyai maksud untuk; (a) membuat keuntungan diri sendiri kecil, dan (b) membuat kerugian diri sendiri sebesar mungkin.
Data 10
Gambar 4. 10
Tuturan: Saya laki-laki pendukung kesetaraan. Melawan kekerasan pada perempuan sama dengan membela kemanusiaan kita.
Analisis: Dalam kejadian ini, poster demonstran pada data (10) memperlihatkan seorang laki-laki yang sedang memegang poster. Laki-laki tersebut ikut serta dalam perjuangan kaum perempuan yang dilakukan saat perinagatan Hari Perempuan Internasional. Perilaku yang dilakukan oleh leki-laki tersebut menunjukkan bahwa ia mendukung isu yang sedang perempuan perjuangkan, yaitu isu mengenai kesetaraan gender.
Menurutnya, dengan melakukan hal tersebut, penutur sama saja memperjuangkan kepentingan manusia secara umum. Jadi bukan hanya kepentingan laki-laki saja yang harus diperhatikan dan di prioritaskan, tetapi perempuan juga harus diperhatikan peran dan fungsinya sehingga laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki ruang yang sama untuk mengembangkan kemampuannya.
Kalimat yang diungkapkan dalam data (10) termasuk kedalam tuturan deklaratif. Hal tersebut dapat dilihat dari maksud dibalik kalimat tersebut, penutur meminta agar kita sebagai manusia harus sama-sama mendukung kepentingan bersama antara laki-laki dan perempuan. Kalimat
“Saya laki-laki pendukung kesetaraan. Melawan kekerasan pada perempuan sama dengan membela kemanusiaan kita” merupakan sebuah
bentuk penegasan yang ditunjukkan oleh penutur kepada lawan tuturnya.
Sejalan dengan hal tersebut, Searle (1969: 36) menjelaskan bahwa bentuk deklarasi berfungsi untuk menegaskan sesuatu yang telah iya sepakati mengenai suatu kejadian yang telah ia lihat. Deklarasi bertujuan untuk menyatakan suatu sikap penutur dengan ringkas dan jelas.
Dalam kejadian ini, penutur telah menekankan bahwa dirinya akan mendukung kesetaraan (gender) antara laki-laki dan perempuan. Data (10) ini juga termasuk kedalam maksim kesepakatan karena terjadinya suatu kesepakatan yang dibuat antara laki-laki dan perempuan untuk saling mendukung satu sama lain. Leech (2015:206) mengatakan bahwa maksim kesepakatan mempunyai maksud untuk; (a) membuat keuntungan diri sendiri kecil, dan (b) membuat kerugian diri sendiri sebesar mungkin. Pada konsteks ini, menjaga perempuan sama saja kita menghormati manusia satu dengan yang lainnya, tanpa perbedaan gender. Tuturan tersebut memberikan semangat kepada kaum perempuan. Dengan begitu, mereka tidak merasa sendiri untuk menyelesaikan beragai persoalan yang dialaminya.
Data 11
Gambar 4. 11
Tuturan: Laki-laki lawan budaya patriarki #IWD2020
Analisis: Tuturan yang terdapat pada poster dalam data (11) di atas merupakan pembahasan yang tidak tabu lagi untuk diperbincangkan oleh sebagaian besar kaum perempuan. Patriarki meruakan sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pengendali kekuasaan dengan tujuan mendominasi peranan tersebut. Budaya patriarki ini berpotensi melemahkan perempuan karena akses perempuan untuk mengisi ruang-ruang pekerjaan akan tertutup oleh laki-laki. Persoalan tersebut juga biasanya terjadi dalam persoalan keluarga, terkadang suami lebih mengandalkan istrinya untuk mengurusi masalah domestik, padahal persoalan tersebut dapat dikerjakan oleh suami dan istri. Laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling melengkapi, bukan untuk mendominasi atau mediskriminasi satu sama lain.
Tuturan pada data (11) tersebut tergolong ke dalam maksim kesepakatan.
Leech (2015:206) mengatakan bahwa maksim kesepakatan mempunyai maksud untuk; (a) membuat keuntungan diri sendiri kecil, dan (b) membuat kerugian diri sendiri sebesar mungkin. Hal itu dapat terjadi karena seorang demonstran laki-laki memberikan dukungan kepada kaum perempuan untuk melawan budaya patriarki dengan tujuan kesetaraan gender.
Tuturan “Laki-laki lawan budaya patriarki” yang diungkapkan dalam poster pada aksi Internasional Womens Day 2020 memberikan sebuah pesan secara singkat dan jelas. Dalam hal ini, laki-laki diminta untuk sama-sama melwan budaya patriarki yang tentu akan melemahkan marwah kaum perempuan. Kebiasaan atau budaya ini tidak seharusnya mengakar dalam diri kaum laki-laki, lah tersebut harus kita hilangkan agar dapat menciptakan situasi yang kooperatif dan harmonis amtara laki-laki dan perempuan. Tuturan pada data (11) di atas termasuk kedalam bentuk tuturan direktif dengan fungsi untuk melawan segala bentuk tindakan patriarki yang tumbuh dalam kehidupan masyarakat. Sejalan dengan pendapat tersebut, Searle (1969: 36) menjelaskan bahwa bentuk deklarasi berfungsi untuk menegaskan sesuatu yang telah iya sepakati mengenai suatu kejadian yang telah ia lihat. Deklarasi bertujuan untuk menyatakan suatu sikap penutur dengan ringkas dan jelas.
c. Penggunaan Maksim Simpati
Dalam kegitan demonstrasi IWD 2020, maksim simpati digunakan oleh para demonstran untuk menggambarkan kesimpatiannya terhadap permasalahan yang dialami oleh para demonstran. Maksim simpati merupakan sebuah usaha yang dilakukan penutur untuk memperhatikan mitra tuturnya. Usaha tersebut dilakukan oleh penutur untuk memberikan rasa kasih kepada mitra tutur. Leech (2015:206-207) menjelaskan bahwa maksim simpati bertujuan untuk; (a) mengecam orang lain sedikit mungkin, dan (b) pujilah orang lain sebanyak mungkin. Di bawah ini peneliti berikan contoh analisis maksim simpati yang digunakan oleh pesetra aksi IWD 2020.
Data 12
Gambar 4. 12
Tuturan: Merdekakan perempuan Papua!
Analisis: Membicarakan persoalan Papua seolah tidak ada habisnya.
Permintaan perempuan Papua untuk di merdekakan bukan tanpa alasan.
Padahal, Indonesia sudah merdeka sejak tahun 1945, tetapi budaya serta perilaku penjajah masih dirasakan oleh perempuan Papua. Tindakan seperti disiksa dan dilecehkan, serta tindak-tindakan yang lain yang dapat berpotensi melukai orang Papua masih terjadi, khususnya pada perempuan Papua. Kekerasan verbal dan nonverbal pada orang Papua juga pernah dibahas dalam buku yang berjudul “Stop Sudah”. Buku tersebut diterbitkan
oleh Majlis Rakyat Papua (MRP) periode pertama. Dalam buku itu ditulisan dan dijelaskan secara mendetail bagaimana pelanggaran HAM yang terjadi terhadap perempuan Papua. Atas peristiwa itu, perempuan Papua meminta dirinya untuk dimerdekakan. Situasi itu yang membuat perempuan Papua meresa tidak aman dan merasa terpojokkan.
Tuturan yang terdapat dalam data (12) merupakan sebuah rasa simpati yang diungkapkan oleh penutur dalam poster demonstrasi IWD 2020. Penutur merasa simpati karena perilaku yang ditunjukkan kepada perempuan Papua membuatnya merasa kasihan sehingga penutur berharap agar perempuan Papua dapat dimerdekakan. Dengan begitu tidak ada lagi perilaku deskriminasi yang akan terjadi. Kejadian ini membuat penutur merasa miris dan menginginkan agar perlakuan seperti itu tidak terulang kembali. Penutur menginginkan mitra tuturnya agar dapat menjaga dan berprilaku baik kepada perempuan Papuan. Kata “Merdekakan Perempuan Papua” merupakan sebuah istilah yang mempunyai maksud untuk menghentikan tindakan pelanggran HAM yang dialami perempuan Papua.
Tuturan itu termasuk kedalam maksim simpat, menurut Leech (2015:206-207) maksim simpati bertujuan untuk; (a) mengecam orang lain sedikit mungkin, dan (b) pujilah orang lain sebanyak mungkin. Dalam hal ini, penutur tindak memberikan kecaman kepada lawan tuturnya, penutur hanya memberikan rasa simpati kepada perempuan Papua, dan meminta kepada mitra tuturnya agar dapat memberikan perilaku yang baik untuk dapat menjaga perempuan Papua. Selain itu, tuturan ini juga memiliki fungsi direktif dengan bentuk meminta. Menurut Searle (1969: 36) direktif merupakan bentuk tuturan yang memiliki maksud untuk membuat pengaruh yang dilakukan oleh penutur kepada mitra tutur. Pengaruh tersebut agar mitra tutur mampu melakukan tindakan yang diinginkan penutur. Contoh bentuk tindak tutur direktif adalah memesan, memerintah, memohon, menasehati, dan memaksa.
Data 13
Gambar 4. 13
Tuturan: Kalau mau suit-suitin kami. Ingat ibumu !
Analisis: Menyiul atau menyuit merupakan kegiatan yang dilakukan dengan meniru bunyi menggunakan mulut. Kegiatan seperi ini banyak dilakukan seseorang karena dirasa menarik. Tetapi kegiatan seperti ini juga kerap kali dapat menyinggung perasaan orang lain karena merasa dilecehkan. Melakukan kegiatan seperti itu seharusnya dapat dipertimbangkan dengan baik, tempat dan kondisi yang sesuai harus menjadi pertimbangkan untuk melakukan kegiatan tersebut. Dikalangan perempuan, melakukan kegiatan seperti itu dianggap sebagai suatu aktivitas yang dapat menyinggungnya. Karena perempuan merasa dilecehkan, digoda, dan seolah dipermainkan sehingga dianggap sebagai kegiatan yang negatif.
Tuturan dalam data (13) merupakan sebuah tuturan yang disampaikan oleh perempuan untuk menggamabarkan kondisinya. Tuturan tersebut termasuk kedalam bentuk diraktif dengan fungsi menasehati.
Perempuan tidak menyukai kegitan menyiul yang digunakan dengan tujuan untuk menggoda perempuan, perilaku seperti itu membuat perempuan merasa tidak nyaman dan aman. Searle (1969: 36) menjelaskan bahwa tuturan direktif merupakan bentuk tuturan yang dapat memberikan pengaruh kepada lawan tuturnr. Tujuannya agar lawan tutur dapat melakukan tindakan yang dimaksud oleh penutur. Tuturan direktif memiliki bentuk, seperti memesan, memerintah, memohon, menasehati, dan
memaksa. Tuturan “Kalau mau suit-suitin kami. Ingat ibumu !”
merupakan sebuah bentuk direktf yang berfungsi untuk menasehati. Fungsi tersebut digunakan oleh penutur untuk menyadarkan lawan tuturnya agar tidak melakukan kegiatan seperti itu.
Bentuk nasihat tersebut memiliki tujuan untuk menyadarkan laki- laki bahwa perilaku menyiut atau menyuit tidak bisa digunakan dalam sembarang aktivitas. Laki-laki perlu mempertimbangkan perilaku itu dengan menyesuaikan situasi dan kondisinya. Tuturan ini juga dianggap sebagai tuturan yang termasuk dalam maksim simpati. Perilaku simpati dapat terjadi karena penutur merasa miris melihat tingkalhlaku lelaki yang bersiul dengan tujuan untuk menggoda wanita. Penutur juga berpesan kepada laki-laki, ketika kalian menggoda wanitia, ingetlah bahwa ibumu juga seorang wanita. Seharusnya laki-laki dapat memikirkan apa yang dilakukan itu dapat terjadi juga kepada ibunya. Menurut Leech (2015:206- 207) maksim simpati bertujuan untuk; (a) mengecam orang lain sedikit mungkin, dan (b) pujilah orang lain sebanyak mungkin. Tuturan tersebut memberikan pujian kepada wanitia karena dalam tuturan itulah wanita mendaptkan pembelaan dari perilaku lelaki yang menggodanya dengan sembarangan.
Data 14
Gambar 4. 14
Tuturan: Stop kekerasan berbasis gender
Analisis: Tuturan yang terdapat pada poster dalam data (14) di atas merupakan isu yang tidak tabu lagi untuk dibahas oleh sebagaian besar kaum perempuan. Patriarki meruakan sebuah sistem sosial yang menempatkan laki-laki sebagai pengendali kekuasaan dengan tujuan mendominasi peranan tersebut. Budaya patriarki ini berpotensi melemahkan perempuan karena akses perempuan untuk mengisi ruang-ruang pekerjaan akan tertutup oleh laki-laki. Persoalan tersebut juga biasanya terjadi dalam persoalan keluarga, terkadang suami lebih mengandalkan istrinya untuk mengurusi masalah domestik, padahal persoalan tersebut dapat dikerjakan oleh suami dan istri. Laki-laki dan perempuan diciptakan untuk saling melengkapi, bukan untuk mendominasi atau mediskriminasi satu sama lain.
Tuturan “Stop kekerasan berbasis gender” termasuk kedalam fungsi tindak tutur direktif. Hal tersebut dikarenakan tuturan yang dilontarkan penutur memberikan perintah bahwa kita harus menghentikan segala bentuk kekerasan berbasis gender. Direktif merupakan bentuk tuturan yang memiliki maksud untuk membuat pengaruh yang dilakukan oleh penutur kepada mitra tutur. Pengaruh tersebut agar mitra tutur mampu melakukan tindakan yang diinginkan penutur Searle (1969: 36). Jika dilihat dari sekala kesantunannya juga, tuturan ini termasuk kedalam tuturan yang santun karena mampu mengungkapkan tuturan dengan kalimat yang tidak menyinggung lawan tuturnya. Tak ada potensi yang pada akhinya akan menyingngung dan melukai hati lawan tuturnya. Tuturan yang santun ini
ditunjukkan dengan memberikan rasa simpati terhadap isu kekerasan gender. Dari peristiwa itu banyak orang yang menjadi korban sehingga penutur meminta untuk memberhentikan kekerasan berbasis gender. Leech (2015:206-207) menjelaskan bahwa maksim simpati bertujuan untuk; (a) mengecam orang lain sedikit mungkin, dan (b) pujilah orang lain sebanyak mungkin.
Data 15
Gambar 4. 15
Tuturan: Dengar dan mengerti suara kami.
Analisis: Seorang demonstra mengeluh apabila aksi yang mereka lakukan akan berujung sia-sia. Jika tuntutan mereka tidak dapat terpenuhi maka apa yang mereka lakukan tidak memiliki hasil. Sedangkan untuk mempersiapkan itu semua, seluruh peserta aksi telah menyiapkan berbagai kebutuhan. Salah satu kebutuhan perempuan untuk menjalankan aktivitasnya adalah menggunakan skincare. Menurut Oxford dictionary, skincare adalah penggunaan krim dan produk khusus untuk merawat kulit (Oxford University, 2019). Selain itu, skincare juga dapat memberikan nutrisi bagi kulit hingga menghindari dampak negatif dari paparan sinar matahari yang berlebihan (Purwitasari & Putsanra, 2019).
Kebayakan perempuan menggunakan skincare untuk mempercantik penampilan agar terlihat lebih menarik. Sejalan dengan pandangan itu,
Irwanto & Hariatiningsih (2020) menjelaskan bahwa pada umumnya wanita ingin tampil maksimal dalam penampilannya. Selama ini masih banyak masyarakat yang memprioritaskan serta menganggap tampilan fisik jadi kunci dalam berinteraksi sosial. Hal tersebut dilakukan oleh perempuan sebagai usaha untuk merawat diri.
Tuturan yang terdapat dalam data (15) menjelaskan kondisi masa aksi yang ingin aspirasinya didengerkan dan diperhatikan secara serius.
Karena sering kali, isu yang sudah disampaikan oleh masa aski, tidak didengarkan dengan baik oleh pemerintah (mitra tutur), seakan menjadi angin yang berlalu. Banyak harapan yang mereka inginkan melalui demonstrasi yang dilakukan ini, isu mengenai berbagai persoalan sudah mereka sampaikan pada kegiatan demonstrasi ini. Kalimat “Dengar dan Mengerti Suara Kami” memiliki maksud untuk meminta lawan tuturnya agar dapat memahami apa yang telah mereka sampaikan. Tuturan dengan fungsi meminta tergolong kedalam tindak tutur direktif, Searle (1969: 36) menjelaskan bahwa tuturan diirektif merupakan bentuk tuturan yang memiliki maksud untuk membuat pengaruh yang dilakukan oleh penutur kepada mitra tutur. Pengaruh tersebut agar mitra tutur mampu melakukan tindakan yang diinginkan penutur. Walaupun disatu sisi tindakan ini memiliki daya untuk memerintah mitra tuturnya untuk mendengarkan, tetapi tuturan ini diungkapkan dengan baik sehingga tindak menyinggung penutur.
Kalimat tersebut menitipkan pesan dan memberikan himbauan kepada pemerintah agar mampu mengakomodir segala aspirasi yang telah disampaikan. Kalimat dan konteks yang terdapat dalam tuturan pada poster tersebut tergolong kedalam maksim simpati. Penutur merasa misris jika isu- isu yang mereka sampaikan tidak didengar dengan serius karena dalam kegiatan ini banyak sekali para peserta aski yang secara bergantian menyampaikan segala permasalahan yang dirasakannya. Penutur sangat berharap agar mitra tutur (pemerintah) dapat menyimak apa yang telah disampaikan oleh peserta aksi. Menurut Leech (2015:206-207) maksim
simpati bertujuan untuk; (a) mengecam orang lain sedikit mungkin, dan (b) pujilah orang lain sebanyak mungkin.
Data 16
Gambar 4. 16
Tuturan: Perkosaan adalah perkosaan, termasuk yang terjadi dalam rumah tangga. Wjudukan UU untuk menghapus kekerasan seksual dan berprespektif korban.
Analisis: Perilaku pemerkosaan adalah sebuah praktik pemaksaan yang dilakukan dengan kekerasan oleh pelaku kepada korban. Biasanya, pada peristiwa tersebut, perempuanlah yang sering menjadi korban dari perbuatan keji itu. Tetapi tidak menutup kemungkinan bahwa laki-laki juga bisa manjadi korban dari perilaku permerkosaan. Tuturan pada Data (16) di atas menjelaskan bahwa peraktik pemerkosaan tetap saja pemerkosaan, entah itu dilakukan kepada orang yang belum menikah atau orang sudah menikah. Kekerasan dapat terjadi dimana saja dan kepada siapa saja.
Kalimat “Wjudukan UU untuk menghapus kekerasan seksual dan berprespektif korban” merupakan sebuah bentuk keperihatinan penutur dalam menyikapi persoalan itu. Tuturan tersebut termasuk kedalam tindak tutur direktif dengan fungsi memerintahkan. Perintah tersebut ditunjukkan
kepada lawan tuturnya, dalam hal ini pemerintah untuk dapat meraslisasikan Undang-Undang yang dimaksud oleh salah satu peserta demonstran.
Tuturan direktif merupakan bentuk tuturan yang memiliki maksud untuk membuat pengaruh yang dilakukan oleh penutur kepada mitra tutur.
Pengaruh tersebut agar mitra tutur mampu melakukan tindakan yang diinginkan penutur. Bentuk tindak tutur direktif adalah memesan, memerintah, memohon, menasehati, dan memaksa Searle (1969: 36).
Selain itu, tuturan yang diungkapkan oleh salah satu peserta demonstran ini juga tergolong dalam maksim simpati. Hal tersebut karena peserta demonstran mampu menggambarkan kesimpatiannya terhadap kasus pemerkosaan. Menurut Leech (2015:206-207) maksim simpati bertujuan untuk; (a) mengecam orang lain sedikit mungkin, dan (b) pujilah orang lain sebanyak mungkin. Tuturan yang tuliskan oleh peserta demonstran pada data (16) tidak memberikan ancaman kepala mitra tuturnya bahkan tuturan tersebut secara tidak langsung dapat memberikan penghormatan kepada laki-laki dan perempuan karena mereka akan merasa terlindungi ketika Undang-Undang yang dimaksud dalam isu tersebut dapat direalisasikan.
Data 17
Gambar 4. 17
Tuturan: Stop perdagangan perempuan.
Analisis: Dalam data (17), tuturan yang diungkapkan oleh peserta demonstran memberikan fungsi untuk melarang. Peserta demonstran mendeklarasikan sebuah permasalahan yang masih dialami oleh perempuan, yaitu perdagangan perempuan. Kalimat “Stop perdagangan perempuan” merupakan penegasan yang diungkapkan oleh salah satu massa aksi. Ia sangat menolak perdagangan perempuan karena peraktik tersebut dapat melecehkan harga diri perempuan. Menurut Searle (1969: 36) deklarasi berfungsi untuk menegaskan sesuatu yang telah iya sepakati mengenai suatu kejadian yang telah ia lihat. Deklarasi bertujuan untuk menyatakan suatu sikap penutur dengan ringkas dan jelas. Contoh tuturan ini adalah memecat, membaptis, memberikan nama, mengangkat, mengesahkan, menghukum, melarang, dan mengizinkan.
Secara umum, sasaran perdagangan manusia atau yang biasa disebut trafficking dapat terjadi kepada peria dan wanita, mulai dari orang dewasa sampai bayi. Menurut Alami (16/01/2013) dalam persoalan ini, perempuan masih menempati jumlah dengan porsi terbanyak sebagai korban perdagangan manusia. Kegiatan trafficking dilakukan untuk menyediakan tenaga kerja yang dapat diupah dengan murah. Tak heran jika peserta demonstran menolak kegiatan ini. Tuturan tersebut menggambarkan
kesimpatian penutur terhadap permasalahan trafficking. Penutur dengan tegas mendeklarasikan penolakan terhadap kegiatan trafficking. Kalimat pada data (17) termasuk kedalam maksim simpati. Menurut Leech (2015:206-207) maksim simpati bertujuan untuk; (a) mengecam orang lain sedikit mungkin, dan (b) pujilah orang lain sebanyak mungkin. Tuturan pada data (17) tidak memberikan ancaman kepada lawan tuturnya, tuturan tersebut hanya menginformasikan bahwa kita harus menghentikan kegitan perdagangan manusia.
Data 18
Gambar 4. 18
Tuturan: Gue disini karena perempuan gak selalu tentang sumur, dapur, dan kasur.
Analisis: Kalimat dalam poster yang terdapat dalam data (18) menunjukkan sebuah tuturan yang memiliki fungsi untuk memberikan penjelasan kepada lawan tuturnya. Searle (1969: 36) menjelaskan bahwa tuturan asertif merupakan tuturan yang menghubungkan penuturnya pada kebenaran proposisi yang diungkapkan dalam tuturannya. Kebenaran proposisi yang dimaksud adalah bahwa penutur memiliki pandangan mengenai suatu peritiwa, sehingga penutur mampu memberikan suatu pernyataan,