BAB II
TINJAUAN LITERATUR
Kajian tentang Nahdlatul Ulama telah banyak dilakukan oleh para peneliti baik dari dalam maupun luar negeri. Kajian tersebut meliputi sejarah, tokoh- tokoh serta dinamika sosial politik yang mewarnai perjalanan NU sejak didirikan pada tanggal 31 Januari 1926. Akan tetapi, kajian tentang kiprah perempuan Nahdlatul Ulama masih terasa minim.
Di samping itu, Nahdlatul Ulama selain merupakan organisasi kemasyarakatan, juga merupakan organisasi keagamaan yang melandaskan gerak dan pengambilan keputusannya kepada rujukan sumber hukum Islam, yaitu al- Quran dan al-Hadits. Persoalan muncul ketika ada masalah-masalah yang tidak diatur jelas di dalam kedua sumber tersebut. Sehingga lahirlah keputusan- keputusan yang diambil sebagai ijtihad para pengambil keputusan.
2.1 Pengambilan Keputusan di NU
2.1.1. Pedoman Pengambilan Keputusan di NU
Penetapan hukum dalam Islam mengacu pada sumber hukum Islam utama yaitu al-Qur’an dan al-Hadits. Dalam pandangan ulama di NU, terdapat dua sistem yang bisa dipergunakan dalam menetapkan hukum Islam. Pertama, sistem ijtihad, yaitu pengambilan dan penetapan hukum (istinbath) yang langsung bersumber dari al-Qur’an dan al-Hadits. Menurut A. Hanafi, (1975: 151-152) ijtihad dari segi bahasa adalah mengerjakan sesuatu dengan segala kesungguhan. Ijtihad tidak digunakan kecuali untuk perbuatan yang harus dikerjakan dengan susah payah dan sungguh-sungguh.
Sedangkan menurut istilah, ijtihad berarti menggunakan seluruh kesanggupan untuk menetapkan hukum-hukum syari’at. Adapun syarat- syarat berijtihad adalah: (1) Mengetahui nash-nash al-Qur’an dan al-Hadits;
sebagian ulama berpendapat bahwa seorang mujtahid paling tidak mengetahui 3000 hadits; (2) Mengetahui masalah-masalah yang sudah disepakati oleh para ulama (ijma’); (3) Mengetahui bahasa Arab dengan
baik; (4) Memahami ilmu Ushul Fiqh dan mengetahui nasikh dan mansukh sehingga tidak menetapkan hukum yang sudah di-mansukh (dihapus).
Kedua, sistem bermadzhab, yaitu mengikuti ajaran atau pendapat para imam (mujtahid) yang diyakini memiliki kompetensi dan kemampuan untuk menetapkan hukum. Sistem bermadzhab ini sering disebut taqlid. Makna taqlid adalah mengikuti pendapat para mujtahid yang disertai pengetahuan dan alasan serta sumber hukum yang digunakannya. Dalam hal ini, kedudukan taqlid adalah sama dengan ittiba’.
Ali Maschan Moesa (2007: 138-139) menyatakan bahwa para kiai NU mengajukan tiga alasan yang menjadi acuan dalam kehidupan keagamaan:
1. Firman Allah dalam QS. An-Nahl [16]: 43: ”Maka bertanyalah kepada orang-orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahuinya”.
2. Bukti kesejarahan, bahwa para sahabat nabi juga memiliki tingkat keilmuan yang berbeda dan bahwa tidak semua sahabat nabi mempunyai keahlian untuk menetapkan fatwa.
3. Alasan rasional. Bagi orang awam yang sedang menghadapi persoalan baru yang belum diketahui status hukumnya, tersedia dua pilihan:
pertama, ia tidak melakukan apa-apa karena ia memang belum tahu, namun hal ini tidak diperkenankan menurut agama. Kedua, mengikuti saja (taqlid) kepada pendapat orang lain yang memiliki kemampuan berijtihad.
Terkait dengan madzhab yang boleh diikuti, para kiai (ulama) NU membatasi pada empat madzhab, yaitu madzhab Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali. Hal itu dilakukan dengan beberapa alasan:
a. Manhaj atau metode dan pendapat-pendapat yang dihasilkan dari metode tersebut telah terformulasikan secara tertib dan lengkap.
b. Keempat madzhab tersebut sudah diterima dan diikuti oleh mayoritas umat Islam di seluruh dunia selama berabad-abad.
c. Keempat madzhab tersebut sudah teruji dalam menghadapi kritik dan koreksi secara terbuka sepanjang sejarahnya.
d. Keempat madzhab tersebut cukup fleksibel dalam menghadapi tantangan perkembangan zaman yang selalu berubah.
e. Adanya keyakinan dalam diri kiai bahwa metode yang digunakan dalam keempat madzhab tersebut bersumber pada Al-Qur’an dan al-Hadits.
Adapun kitab-kitab yang menjadi rujukan para kiai NU dalam menetapkan hukum adalah kitab-kitab standar di lingkungan pesantren dan madrasah, yang sering disebut sebagai kutub al-mu’tabarah, antara lain:
I’anah ath-Thalibin, Raudhah ath-Thalibin, Anwar at-Tanzil, Bughyat al- Mustarsyidin, Hasyiyah asy-Syarwani ‘ala at-Tuhfah, Hasyiyah al-Bujairimi
‘ala Fath al-Wahhab, Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib, Hasyiyah al- Iwadh ‘ala al-Iqna’, Hasyiyah al-Kurdi ‘ala Bafadhal, Radd al-Mukhtar ‘ala ad-Dar al-Mukhtar, Fath al-Mu’in, Asna al-Mathalib dan Tanwir al-Qulub (A. Aziz Masyhuri, 1997: 301).
2.1.2. Mekanisme Sistem Pengambilan Keputusan 2.1.2.1 Prosedur Penjawaban Masalah
Dalam Keputusan Munas Alim Ulama di Bandar Lampung tahun 1992 tentang Sistem Pengambilan Keputusan Hukum dalam Bahtsul Masa’il di Lingkungan NU, ditegaskan bahwa keputusan Bahtsul Masa’il di lingkungan NU, dibuat dalam rangka bermadzhab dengan salah satu madzhab empat yang disepakati dan mengutamakan bermadzhab secara qauli. Yang dimaksud bermadzhab secara qauli adalah dengan mengikuti pendapat-pendapat yang sudah ”jadi” dalam lingkup madzhab tertentu (Imam Ghazali Said, dan A. Ma’ruf Asrari, 2005: 469-471). Oleh karena itu dalam memberikan jawaban ittifaq hukum digunakan susunan metodologis sebagai berikut:
a. Dalam kasus ketika jawabannya bisa dicukupi oleh ibarat kitab dan di sana hanya ada satu qaul/wajah (pendapat), maka qaul/wajah itulah yang dipakai. Kitab yang dimaksud di sini adalah al-kutub al-mu’tabarah (kitab-kitab yang dipandang otoritatif), yaitu kitab-kitab tentang ajaran Islam yang sesuai dengan akidah Ahlussunnah Wal Jamaah (rumusan Muktamar NU
ke-27). Yang dimaksud dengan qaul di sini adalah pendapat imam madzhab. Sedangkan yang dimaksud wajah adalah pendapat ulama madzhab.
b. Dalam kasus ketika jawaban bisa dicukupi oleh ibarat kitab dan di sana terdapat lebih dari satu pendapat maka dilakukan taqrir jama’i untuk memilih salah satunya. Taqrir jama’i adalah upaya secara kolektif untuk menetapkan pilihan terhadap satu di antara beberapa qaul/wajah.
c. Bila jawaban tidak diketemukan dalam ibarat kitab sama sekali, dipakai prosedur ilhaq al-masa’il bi nadha’riha secara jama’i oleh para ahlinya. Yang dimaksud dengan ilhaq (ilhaq al-masa’il bi nadha’riha) adalah menyamakan hukum suatu kasus/masalah yang belum dijawab oleh kitab dengan kasus/masalah serupa yang telah dijawab oleh kitab (menyamakan dengan pendapat yang sudah ”jadi”)
d. Masalah yang tidak dikemukakan jawabannya dalam ibarat kitab sama sekali dan tidak bisa dilakukan ilhaq, maka dilakukan istinbath jama’i dengan prosedur madzhab secara manhaji oleh para ahlinya. (M. Djamaluddin Miri, 2005: 470-471). Yang dimaksud istinbath adalah mengeluarkan hukum syara’ dari dalilnya dengan qawa’id ushuliyyah dan qawa’id fiqhiyyah.
Sedangkan yang dimaksud bermadzhab secara manhaji tersebut adalah bermadzhab dengan mengikuti jalan pikiran dan kaidah penetapan hukum yang telah disusun oleh imam madzhab.
Berangkat dari sistem pengambilan keputusan hukum Bahtsul Masail yang dirumuskan pada Munas Bandar Lampung tahun 1992 ini, sebenarnya telah terjadi dinamika pemikiran hukum di lingkungan NU baik dari aspek substansi pembahasan maupun aspek metodologis.
Substansi pembahasan meliputi bahasan masa’il waqi’iyyah (masalah- masalah faktual/aktual), dan masa’il maudlu’iyyah (masalah-masalah tematik). Sedangkan aspek metodologis meliputi sistem bermadzhab secara qauli (madzhab qauli) dan bermadzhab secara manhaji
(madzhab manhaji). Bermadzhab manhaji artinya mengikuti metode yang digunakan oleh suatu madzhab empat dalam memecahkan masalah hukum (istinbath). Bagi NU perumusan sistem ini sangat signifikan, karena bermanfaat bukan saja bagi para kyai yang terlibat langsung dalam arena Bahtsul Masail, tetapi juga bagi pengembangan wawasan berpikir masyarakat NU pada umumnya.
Sependapat dengan pandangan Imam Yahya (2009), bahwa terjadinya dinamika pemikiran hukum NU tersebut tidak lepas dari dua faktor. Pertama, faktor internal yakni munculnya banyak kyai muda kritis yang mempunyai wawasan keagamaan inklusif dan menyadari munculnya pluralitas agama dan pemahaman keagamaan.
Kedua, faktor eksternal yang tidak bisa dihindari. Pergumulan sosial warga nahdliyyin dengan berbagai wacana modern membentuk sikap kritis pada doktrin-doktrin ajaran yang baku.
Untuk itu kontekstualisasi, reaktualisai atau revitalisasi ajaran agama menjadi urgen bagi organisasi sosial keagamaan semacam NU.
Konsepsi tentang reaktualisasi/revitalisasi penafsiran ajaran Islam mengimplikasikan bahwa penafsiran-penafsiran ajaran Islam yang masih dominan yang ada sekarang berasal dari upaya mengadaptasikan ajaran tersebut ke dalam situasi masa lampau.
Karena itu, penafsiran tersebut telah terlalu dipengaruhi oleh proses perkembangan historis dan kultural. Jadi, reaktualisasi/revitalisasi berarti melepas beban-beban sejarah dan budaya itu guna diberi alternatif-alternatif baru yang diharapkan lebih responsif, kontekstual, dan selaras dengan kebutuhan manusia. Dengan kata lain, warisan keagamaan Islam tradisional banyak yang dipandang tidak lagi mampu memenuhi kebutuhan zaman (Yusdani, 2000: 2).
Reaktualisasi penafsiran ajaran Islam, dalam hal ini hukum Islam, bisa dilakukan dengan cara merumuskan teori yang relevan dengan tujuan-tujuan Islam (maqashid al-Syari`ah). Oleh karena itu, berbagai teori untuk ijtihad alternatif, yang diusulkan para pemikir kontemporer dari berbagai disiplin ilmu, perlu diapresiasi secara baik,
dan dikembangkan lebih lanjut. Beberapa teori para pemikir tersebut, di antaranya ada yang diambil atau digunakan untuk membantu reformulasi al-mashlahah.
Dalam teori reaktualisasi, ada beberapa pasangan pilihan yang dapat dipertimbangkan, yaitu pilihan wahyu dan akal; pilihan kesatuan dan keragaman; pilihan idealisme dan realisme; dan pilihan stabilitas dan perubahan.
Untuk menjadikan hukum Islam itu dapat selalu aktual, maka langkah reaktualisasi yang digunakan adalah dengan menggunakan pertimbangan akal, pertimbangan keragaman, realisme, dan perubahan.
Dalam konteks inilah, menurut Ahmad Ali (2008: 21-22) dengan melakukan reformasi konsep al-mashlahah konvensional, hukum yang ditarik dari metode yang disebutnya dengan al-Mashlahah al- Maqshudah, sangat ditentukan oleh pertimbangan akal, sehingga memunculkan keragaman hukum, dalam arti hukum tidak harus sama dalam setiap tempat, hukum tersebut mencerminkan realitas kehidupan masyarakat, dan pada akhirnya hukum itu dapat selaras dengan tuntutan perubahan, tidak kaku, namun fleksibel.
2.1.2.2 Hierarki dan Sifat Keputusan Bahtsul Masa’il
Seluruh keputusan Bahtsul Masail di lingkungan NU diambil dengan prosedur yang telah disepakati dalam Munas tentang keputusan sistem pengambilan keputusan hukum dalam Bahtsul Masail di lingkungan NU yang diadakan pada tahun 1992, baik yang diselenggarakan dalam struktur organisasi maupun di luarnya mempunyai kedudukan yang sederajat dan tidak saling membatalkan.
Suatu hasil keputusan Bahtsul Masail dianggap mempunyai kekuatan daya ikat lebih tinggi setelah disahkan oleh Pengurus Besar Syuriah NU tanpa harus menunggu Munas Alim Ulama maupun Muktamar. Dengan demikian yang berhak mengesahkan keputusan Bahtsul Masail adalah PB Syuriah NU, Munas Alim Ulama dan/atau Muktamar.
Sifat keputusan dalam Bahtsul Masa’il tingkat Munas dan Muktamar adalah:
a. mengesahkan rancangan keputusan yang telah dipersiapkan sebelumnya dan/atau;
b. diperuntukkan bagi keputusan yang dinilai akan mempunyai dampak yang luas dalam segala bidang.
2.1.2.3 Kerangka Analisis Masalah
Kerangka analisis masalah yang digunakan dalam Bahtsul Masail terutama dalam memecahkan masalah sosial, adalah dengan mempergunakan kerangka pembahasan masalah (yang sekaligus tercermin dalam hasil keputusan) antara lain sebagai berikut:
a. Analisa Masalah (sebab mengapa terjadi kasus ditinjau dari berbagai faktor): ekonomi; budaya; politik; faktor sosial; dan lainnya;
b. Analisa Dampak (dampak positif dan negatif yang ditimbulkan oleh suatu kasus yang hendak dicari hukumnya ditinjau dari berbagai aspek) antara lain: secara sosial ekonomi; sosial budaya;
sosial politik dan lain-lain;
c. Analisa Hukum (fatwa tentang suatu kasus setelah mempertimbangkan latar belakang dan dampaknya di segala bidang). Di samping putusan fiqh/yuridis formal, keputusan ini juga mempertimbangkan Islam dan hukum positif. Dengan demikian analisas hukum yang dipertimbangkan meliputi status hukum (al-ahkam al-khamsah/sah-batal); dasar dari ajaran Ahlussunnah wal Jamaah; dan hukum positif.
d. Analisa Tindakan, peran dan pengawasan (apa yang harus dilakukan sebagai konsekuensi dari suatu fatwa yang dikeluarkan).
Kemudian siapa saja yang akan melakukan, bagaimana, kapan, dan di mana hal itu hendak dilakukan, serta bagaimana pula mekanisme pemantauan agar semua berjalan sesuai rencana. Oleh karena itu ada beberapa jalur yang ditempuh:
- jalur politik: berusaha pada jalur kewenangan negara dengan sasaran mempengaruhi kebijakan pemerintah;
- jalur budaya: berusaha membangkitkan pengertian dan kesadaran masyarakat melalui berbagai media massa dan forum seperti pengajian dan lain-lain;
- jalur ekonomi: meningkatkan kesejahteraan masyarakat;
- jalur sosial lainnya: upaya meningkatkan kesehatan masyarakat, lingkungan dan seterusnya.
2.1.2.4 Petunjuk Pelaksanaan
Adapun petunjuk pelaksaan tentang pengambilan keputusan meliputi prosedur pemilihan qaul/wajah; prosedur ilhaq; dan prosedur istinbath.
Prosedur pemilihan qaul/wajah sbb:
a. ketika dijumpai beberapa qaul/wajah dalam satu masalah yang sama, maka dilakukan usaha memilih salah satu pendapat (takhyir/tarjih).
b. Pemilihan salah satu pendapat tersebut dilakukan dengan ketentuan:
- mengambil pendapat yang lebih maslahat dan/atau yang lebih kuat;
- sedapat mungkin dengan melaksanakan ketentuan Muktamar NU ke-1, bahwa perbedaan pendapat diselesaikan dengan memilih :
1) pendapat yang disepakati oleh asy-Syaikhani (an-Nawawi dan ar-Rafi’i);
2) pendapat yang dipegangi oleh an-Nawawi saja;
3) pendapat yang dipegangi oleh ar-Rafi’i saja;
4) pendapat yang didukung oleh mayoritas ulama;
5) pendapat ulama yang terpandai;
6) dan pendapat ulama yang paling wara’.
Sedangkan prosedur ilhaq dilakukan bila mana dalam hal ketika suatu masalah/kasus belum dipecahkan dalam kitab, maka masalah/kasus tersebut diselesaikan dengan prosedur ilhaqul masa’il bi nazha’iriha secara jama’i. Ilhaq dilakukan dengan memperhatikan mulhaq bih, mulhaq ilaih, dan wajhul ilhaq oleh para mulhiq yang ahli.
Prosedur istimbath dilakukan dalam hal ketika tidak mungkin dilakukan ilhaq tersebut karena tidak adanya mulhaq bih dan wajhul ilhaq sama sekali di dalam kitab, maka dilakukan istinbath secara jama’i, yaitu dengan mempraktekkan qawa’id ushuliyyah dan qawa’id fiqhiyyah.
2.2 Kepemimpinan Perempuan 2.2.1 Kepemimpinan
2.2.1.1 Definisi Kepemimpinan
John Maxwell (1993) mendefinisikan kepemimpinan dalam sebuah kata, yaitu pengaruh (influence). Maxwell menulis bahwa topik kepemimpinan banyak dibicarakan, dan ada lebih dari 50 definisi tentang hal itu. Namun dari empat dekade pengalamannya mempelajari kepemimpinan, dia sampai pada kesimpulan bahwa pada dasarnya kepemimpinan adalah mempengaruhi, tak lebih dan tak kurang. Pepatah favoritnya tentang kepemimpinan adalah orang yang mengira bahwa dia adalah pemimpin dan tak ada yang mengikutinya maka dia sebenarnya hanyalah berjalan saja.
Pandangan Maxwell di atas sejalan dengan James C. Georges (Maxwell 1993: 1) yang memantapkan definisinya bahwa kepemimpinan adalah kemampuan untuk memperoleh pengikut. Dia menyebutkan nama-nama seperti Hitler, Churchill, Kennedey, dan sebagainya. Mereka semua adalah pemimpin. Terlepas dari perbedaan sistem nilai yang mereka anut, mereka semua memiliki pengikut.
Karenanya mereka bisa disebut pemimpin. Persoalannya adalah banyak orang berpikir bahwa kepemimpinan identik dengan
kemampuan mencapai posisi, bukan memperoleh pengikut. Karena itu ketika mereka sudah mencapai tingkatan atau posisi tersebut mereka mengira sudah menjadi pemimpin. Pandangan seperti ini mengakibatkan dua masalah: mereka yang sudah mencapai posisi tertentu ini dan mengira sudah menjadi pemimpin akan mengalami frustasi karena sedikit pengikutnya. Sebaliknya, mereka yang tidak memiliki posisi atau status tidak merasa menjadi pemimpin dan karenanya tidak mengembangkan potensi kepemimpinan mereka.
2.2.1.2 Model-Model Kepemimpinan
a. Maxwell dengan 5 tingkat kepemimpinan
Model kepemimpinan ini menteorikan adanya lima tingkatan pengaruh yang mampu membuat orang menjadi pengikut. Dimulai yang paling rendah hingga paling tinggi adalah:
Posisi (position) – orang menjadi pengikut karena mereka harus;
Permisi (permission) – orang menjadi pengikut karena mereka ingin;
Produksi (production) – orang menjadi pengikut karena apa yang sudah anda lakukan terhadap organisasi;
Pengembangan manusia (People development) – orang menjadi pengikut karena apa yang sudah anda lakukan kepada mereka;
Diri sang pemimpin (personhood) – orang menjadi pengikut karena diri anda, siapa anda dan apa yang anda tampilkan.
Kelima tingkatan tersebut menunjukkan seberapa besar pengaruh anda sebagai pemimpin. Penulis memberikan kerangka bagaimana meningkatkan pengaruh anda sebagai pemimpin. Dua hal singkat yang dianjurkannya adalah: a) ketahuilah di mana tingkat pengaruh anda saat ini, dan b) ketahui dan terapkan kualitas dan persyaratan yang diperlukan agar sukses di tiap tingkatan.
b. Model Kepemimpinan AIM
Model kepemimpinan yang dikaitkan dengan kemampuan mempengaruhi juga dikemukakan oleh Peter Capezio dan Debra Morehouse dalam buku mereka Secrets of Breakthrough Leadership (National Press Publications: 1997). Mereka mendefinisikan kepemimpinan sebagai kemampuan untuk mempengaruhi individu atau kelompok agar berpikir, merasa dan mengambil tindakan positif untuk mencapai tujuan (hal. 1). Capezio dan Morehouse menyatakan bahwa kepemimpinan merupakan komponen pemberi energy dalam manajemen. Di masa lalu, kepemimpinan dipandang sebagai “arahan dari atas” dimana visi masa depan dirumuskan dan diumumkan.
Tetapi, menurut penulis, pekerjaan tidak dilakukan di “atas”.
Karena itu mereka mengembangkan gaya kepemimpinan baru yang dapat memaksimalkan talenta dan komitmen pengikut. Mereka sebut ini gaya kepemimpinan yang mengarahkan diri sendiri (self- directed leadership) dan didasarkan pada tiga komponen AIM: Aksi (Action), Pengaruh (Influence), dan Motivasi (Motivation). Marilah kita lihat masing-masing komponen ini.
1. Bertindak (Action) – kemampuan untuk memulai strategi dan perubahan yang akan menjadi katalisator sehingga mereka yang ada di sekitar dapat menyatukan upaya untuk mencapai hasil yang memenuhi atau melebihi tujuan organisasi, individu atau tim.
2. Mempengaruhi (Influence) – kemampuan untuk membuat orang lain secara sukarela mengambil tindakan dan menerima tanggung jawab untuk mencapai hasil yang anda inginkan. Kekuatan untuk mempengaruhi orang lain akan maksimal bila anda mendengar dan merespons kebutuhan individu dan kelompok, dan ini akan menghasilkan aksi guna mencapai tujuan.
3. Memotivasi (Motivation) – kemampuan untuk meningkatkan dorongan diri sendiri dan berhasil memenuhi kebutuhan individu dalam mencapai tujuan organisasi dan kelompok. Motivasi datang dari sumber-sumber dari dalam diri maupun dari luar, ketika orang
memberikan pemikiran yang inspiratif dan memberikan rangsangan terhadap lingkungan kerja.
Dua komponen utama model kepemimpinan AIM adalah strategi dan pemberdayaan organisasi. Peran pemimpin berkaitan dengan strategi adalah menambahkan nilai-nilai (values) yang dapat menjadikan organisasi sebagai organisasi yang memimpin (leading organization), dengan cara mempromosikan visi dan misi organisasi dan arahan untuk mencapainya. Berkaitan dengan pemberdayaan organisasi, peran pemimpin adalah menciptakan lingkungan kerja di mana anggota dapat berprestasi di atas rata-rata kemampuan mereka.
Norma yang dikembangkan adalah partisipasi, komitmen, dan kepemimpinan yang mengarahkandiri sendiri. Secara spesifik, para pemimpin berbagi peran dalam menciptakan dan mengembangkan budaya organisasi, membentuk dan menerapkan nilai-nilai dasar organisasi, dan mengembangkan potensi anggota agar dapat mengatasi perubahan dan transisi.
c. Model Kecerdasan Emosional
Teori lain tentang efektifitas kepemimpinan dikemukakan oleh pakar Emotional Intelligence, Daniel Goleman (2002). Goleman menekankan bahwa apapun yang dilakukan seorang pemimpin, apakah menyusun strategi atau memobilisasi tim, keberhasilannya tergantung pada kemampuannya untuk mendorong emosi agar berada dalam arah yang benar. Pemimpin besar bekerja melalui emosi, demikian Goleman berargumen. Ini didasarkan pada analisa ilmiah tentang limbic system dalam otak yang menjadi pusat emosi kita.
Open loop dalam limbic system sangat tergantung pada sumber eksternal untuk dapat mengelola diri sendiri. Dengan kata lain, stabilitas emosi kita bergantung pada hubungan kita dengan orang lain. Sistem limbic open loop ini memungkinkan adanya pertolongan emosional, seperti ibu terhadap bayinya atau sepasang kekasih yang merasa nyaman ketika saling berdekatan.
Tugas utama pemimpin adalah menumbuhkembangkan rasa nyaman di antara mereka yang dipimpinnya. Ini akan tercapai bila sang pemimpin mampu menciptakan resonansi, yaitu sebuah simpanan hal-hal positif yang dapat melejitkan apa-apa yang terbaik dalam diri seseorang. Kompetensi yang dihasilkan oleh Kecerdasan Emosional ada dua tingkatan: personal dan sosial. Kompetensi personal menentukan bagaimana kita mengelola diri sendiri. Ini mencakup penyadaran diri (self-awareness) dan manajemen diri sendiri (self-management). Sementara itu, kompetensi sosial meliputi penyadaran sosial (social awareness) dan manajemen hubungan dengan manusia lain (relationship management).
d. Model Kepemimpinan Nasional Indonesia
Adi Sujatno (2007) mengelaborasi gaya kepemimpinan nasional Indonesia yang berlandaskan etika kepemimpinan Pancasila dan paradigm nasional. Ada 5 gaya yang terpadu secara sistemik (hal.
62-65):
a) Gaya kepemimpinan kolektif – konsultatif;
Gaya ini mengarahkan pandangan kepemimpinan ke arah bawah, samping dan atas, sejalan dengan tatanan hirarkial, vertikal dan horisontal. Ke bawah untuk memperoleh masukan, kejelasan fenomena faktual, serta melapangkan partisipasi aktif dalam implementasi kegiatan. Pandangan ke samping untuk mengharmoniskan hubungan fungsional kelembagaan sehingga terbangun dinamika kepemimpinan nasional. Pandangan ke atas untuk membangun suasana konsultatif guna mempertemukan kepentingan masyarakat dengan kepentingan nasional.
b) Gaya kepemimpinan dedikatif – fasilitatif
Gaya ini berakar dari aktualisasi diri dan komitmen untuk memberikan yang terbaik sebatas kemampuan yang dimiliki pemimpin. Ini ditandai oleh pola pikir pencapaian (achievement), pola sikap pengabdian, dan pola tindakan memfasilitasi
lingkungan yang kondusif untuk berlangsungnya kinerja kepemimpinan. Kepemimpinan ini berarti pengabdian dan kesejahteraan bersama.
c) Gaya kepemimpinan responsif – akomodatif
Gaya ini mengagregasikan kepentingan yang mungkin beraneka ragam menjadi satu kesepakatan atau keputusan yang memiliki keabsahan. Pelaksanaan keputusan atau kebijakan dapat menggerakkan partisipasi aktif para pelaksana karena mereka terlibat dalam proses pengambilan keputusan. Transparansi dan kebersamaan merupakan nuansa dari gaya kepemimpinan ini.
d) Gaya kepemimpinan proaktif – ekstraktif
Kepemimpinan ini merupakan sikap dan perilaku yang senantiasa mampu menangkap dan memanfaatkan peluang dan kesempatan dan sekaligus melihat tantangan sebagai sesuatu yang berdampak positif terhadap organisasi. Kepemimpinan ini mampu mengekstrasi atau mengubah intangible power (kekuatan yang tak nampak) menjadi tangible power.
e) Gaya kepemimpinan adaptif – antisipatif
Gaya kepemimpinan ini memiliki visi jauh ke depan dan sadar akan perlunya langkah-langkah penyesuaian dengan perkembangan lingkungan strategis internal dan eksternal.
Pemimpin tipe ini menyadari perlunya reformasi sejalan dengan proses demokratisasi, aktualisasi HAM, pelestarian lingkungan hidup dan partisipasi dalam perdagangan internasional bebas.
Gaya ini membawa nuansa penyesuaian dan standarisasi produktivitas karya dan jasa dalam semua aspek kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
2.2.2 Kepemimpinan Perempuan dalam Perspektif Politik 2.2.2.1 Redefinisi Jender dan Politik
Gerakan perempuan telah mengubah cara pandang kita tentang jender dan politik. Dalam teori feminisme, jender didefinisikan sebagai sebuah peran yang dikonstruksi secara sosial, yang berarti
bahwa ia merupakan hasil sebuah pengaturan politik dan terbuka untuk analisis sosial dan politik. Untuk memahami hal ini, kita mesti melihat apa yang dilakukan para ilmuwan sosial, bukan apa yang ditakdirkan Tuhan, dalam mendistribusi peran, tanggung jawab dan tugas antara perempuan dan laki-laki.
Pemikiran radikal ini diperkenalkan oleh Margaret Mead (Sheila Tobias 1997: 1-3) yang melakukan penelitian tentang peran dan tanggung jawab jender di masyarakat primitif. Mead menemukan bahwa tidak ada peran jender yang universal, peran itu berbeda dari satu masyarakat ke masyarakat lainnya. Namun Mead menemukan adanya satu hal yang sama, yaitu bahwa apapun yang dilakukan lelaki selalu dihargai lebih tinggi oleh masyarakat desa daripada apa yang dilakukan perempuan. Dalam istilah modern, lelaki melakukan tugas yang dengan sendirinya memberikan mereka status yang lebih tinggi.
Jadi terlepas dari adanya masyarakat matriarkal, hampir di semua tempat di dunia lelaki menikmati superioritas dibanding perempuan, dan ini merupakan konstruksi sosial. .
Teori ini dikemukakan pertama kali oleh Kate Millet, yang mengamati bahwa perempuan dan lelaki secara tradisional dibedakan dalam tiga hal: temparamen, peran, dan status. Dari sini berkembang berbagai stereotype yang mendiskriminasi perempuan, seperti perempuan lebih pasif dan lelaki lebih aktif; perempuan tergantung dan lelaki mandiri; perempuan emosional dan lelaki rasional. Akibat dari pembedaan temperamen ini, perempuan kurang nyaman mencari kebenaran untuk dirinya sendiri dan lebih suka mengandalkan perasaan untuk mencari kebenaran; sementara itu lelaki berkonsentrasi pada apa yang memang dianggap sebagai kebenaran. Tentu saja, perbedaan seks ini, yang benar maupun tidak, akan memberikan dampak signifikan terhadap perempuan yang mencoba meraih kesuksesan di dalam dunia dengan nilai-nilai yang ditentukan oleh lelaki (Millet 1990: 23-58).
Mengapa terjadi konstruksi sosial seperti itu? Namun apapun juga alasan dan penyebabnya, rendahnya status perempuan harus diakhiri. Jika penyebabnya bukan faktor biologis yang merupakan takdir, maka hal itu terletak pada faktor sosial budaya yang diciptakan manusia. Inilah perlunya redefinisi konstruksi jender.
Selain jender, menurut aktivis pembela perempuan, definisi politik harus juga diperluas. Politik tidak hanya dipahami secara sempit berkaitan dengan partisipasi dalam pemerintahan, partai politik serta pemilihan umum saja. Politik didefinisikan secara luas mencakup kekuasaan (power): bagaimana membuat orang mau melakukan apa yang kita ingin mereka lakukan. Politik termasuk hubungan di tempat kerja dan juga hubungan perempuan dan lelaki dalam keluarga, karena ini semua menyangkut kekuasaan atau power.
Karena itu, politik seksual harus mencakup pula politik ke-ibu-an, berkaitan dengan masalah seksualitas, aborsi, dan kontrasepsi. Inilah pandangan pembela perempuan, yang menginginkan redefnisi jender dan politik.
2.2.2.2 Faktor Penunjang Kepemimpinan Perempuan
Sebuah buku berjudul Women in Power: the Secrets of Leadership (Dorothy W. Cantor dan Toni Bernay, 1992) menganalisa 25 perempuan yang sedang menjabat kepemimpinan publik di berbagai lembaga di Amerika Serikat baik di tingkat federal maupun negara bagian. Buku tersebut mengkaji kualitas kepemimpinan yang telah membuat mereka berhasil di dunia politik; aspek-aspek apa dalam latar belakang hidup mereka yang dapat mengembangkan kualitas kepemimpinan perempuan serta bagaimana hal-hal yang menonjol ini dapat membantu memberdayakan hidup mereka dan perempuan lain.
Kesimpulannya adalah bahwa keberhasilan perempuan sebagai pemimpin ditentukan oleh tiga faktor: kompetensi diri, sikap agresif yang kreatif, dan kekuatan perempuan. Tiga hal ini adalah elemen
penting yang dijumpai di hampir semua pemimpin perempuan yang berhasil menapaki dunia publik. Marilah kita kaji ketiga aspek ini satu persatu.
1) Kompetensi diri (self-competent)
Seorang perempuan yang memiliki kompetensi diri yang tinggi mengetahui siapa dirinya yang sebenarnya. Dia tidak merasa ditentukan oleh situasi, peristiwa atau orang lain. Dia tidak mengubah cara dia bersikap untuk menyenangkan orang-orang sekitarnya. Rasa percaya diri yang kuat membuat perempuan mampu mempromosikan prinsip-prinsip yang diyakininya meskipun dia tahu bahwa orang akan tidak sepakat dengannya.
Pribadi dengan kompetensi diri yang tinggi tidak segan-segan dan tidak merasa terancam untuk mengambil resiko. Kompetensi diri melindungi mereka dari rasa terancam dalam persaingan. Seandainya dia kalah dalam kampanye pertama, misalnya, dia tidak merasa kehilangan dirinya. Dia hanya merasa kalah dalam pencalonan, dan tidak merasa hancur sebagai seorang pribadi.
Orang yang tidak memiliki kompetensi diri yang memadai segan mengambil resiko publik. Mereka bisa merasa terancam oleh pergantian pekerjaan, pernikahan, ataupun bepergian sendiri. Ini disebabkan oleh tekanan terhadap identitasnya yang terlalu besar yang mungkin tidak bisa mereka tahan, jika mereka tidak berhasil. Mereka merasa kehilangan dirinya karena ketidak berhasilan itu.
Kompetensi diri membuat perempuan mampu melihat kemungkinan dan bukan hambatan. Bahkan seandainya kemungkinan itu tidak muncul, dan sebaliknya berubah menjadi hambatan, perempuan yang politis dan memiliki kompetensi diri dapat memperoleh kekuatan dari pengalaman ini untuk melanjutkan visinya.
2) Agresif kreatif (creative aggression)
Ini meliputi hal-hal seperti mengambil inisiatif, memimpin orang lain, dan berbicara di depan umum, yang merupakan hal positif untuk meningkatkan kepemimpinan perempuan. Banyak pemimpin
perempuan merasa nyaman dengan sifat agresif dan kompetitif, meskipun sikap ini masih sering dianggap menakutkan dan destruktif.
Sikap yang mengandung banyak elemen positif ini sering disebut juga sebagai asertif, dan meliputi hal berikut:
Kemampuan untuk bekerja, mengambil inisiatif, melakukan usaha, melaksanakan tugas hingga selesai, mencapai keberhasilan, mepertahankan hak, membela diri ketika diserang, membentuk dan menyatakan pandangan yang mandiri, mengenali tujuan hidup dan dapat merencanakan hidupnya sesuai yang diinginkan (hal, 27).
Sikap ini sering harus ditekan oleh kaum perempuan karena masih ada stigma bagi mereka bila pandangan atau keinginannya dibuka kepada publik. Ada anggapan di masyarakat seolah-olah dunia publik adalah dunia lelaki, dan karenanya tidak ada masalah bagi lelaki untuk membuka diri secara agresif dan asertif. Di sini terdapat standar ganda karena bagi perempuan hal ini tidak berlaku.
Perempuan sering harus menyimpan impian dan keinginan-nya dalam hati saja karena merasa malu atau bersalah jika membukanya di depan publik..
Sikap agresif tidak selalu harus destruktif atau negatif. Jika digunakan secara kreatif dan bijaksana, sikap agresif dapat mempercepat pengembangan diri kaum perempuan sebagai pemimpin di dunia publik.
3) Kekuatan perempuan (woman power)
Seperti agresif kreatif yang digunakan untuk melayani kehidupan dan pertumbuhan, begitu pula power (kekuatan) bagi perempuan. Power digunakan untuk membuat masyarakat menjadi tempat kehidupan yang lebih baik. Power bagi perempuan bukanlah berarti power itu sendiri atau power yang dipakai untuk memanipulasi orang lain; tetapi adalah power yang digunakan untuk memajukan agenda tertentu. Untuk memahami perilaku politik kaum perempuan, penting bagi kita mengerti makna konsep power di mata kaum perempuan.
2.2.3 Kepemimpinan Perempuan dalam Perspektif Budaya 2.2.3.1 Dikotomi Peran Publik versus Domestik
Patriarki melalui konsep femininitas dan maskulinitas memilah secara tegas peran sosial laki-laki dan perempuan ke dalam wilayah publik dan domestik. Lingkup domestik diidentikkan dengan perempuan dalam tanggung jawabnya dalam pengasuhan anak.
Sementara lingkup publik diidentikkan dengan laki-laki, maskulinitas yang berkaitan dengan hirarki dan kekuasaan. Wilayah ini dibentuk dari hubungan ibu anak sehingga laki-laki dengan bebas dapat membentuk organisasi yang hirarkis karena tidak terikat dengan pengasuhan anak (Lily Zakiyah Munir, 2004: 53).
Sebaliknya bagi perempuan, dikotomi ini tidak menguntungkan. Pada saat perempuan berada di wilayah domestik kerumahtanggaan, wilayah publik didominasi laki-laki dan tidak mewakili perempuan, tidak sensitif terhadap kepentingan perempuan dan membuat kesempatan perempuan untuk terlibat dalam lingkup publik menjadi terbatas.
Lahirnya konsep negara dan kewarganegaraan di zaman Yunani Kuno mencatat realitas yang sama, yaitu diskriminasi terhadap perempuan secara sistemik. Filsuf Plato penggagas negara polis (kota) menyatakan bahwa kepentingan politis mengatasi kepentingan individu. Polis membuat warga negara sederajat. Tiap warga negara bisa ikut serta dalam urusan negara kecuali kelompok minoritas, yaitu pendatang, budak dan kaum perempuan. Tiga golongan dianggap tidak berhak untuk ikut serta dalam negara.
2.2.3.2 Budaya Patriarki
Dalam bukunya yang monumental, The Creation of Patriarchy (1986), Gerda Lerner menguraikan secara komprehensif tentang sejarah terkonstruksinya relasi sosial antara lelaki dan perempuan, yang dikenal dengan istilah relasi jender, dan terjadinya subordinasi terhadap perempuan.
Gerda Lerner (1986, 238-9) mendefinisikan patriarki secara luas sebagai suatu manifestasi dan institusionalisasi dominasi lelaki terhadap perempuan dan anak-anak dalam keluarga dan diperluas dengan dominasi lelaki atas perempuan di masyarakat secara umum.
Ini berarti bahwa lelaki memiliki kekuasaan di semua institusi masyarakat yang penting dan bahwa perempuan tidak memiliki kekuasaan seperti itu.
Allan G. Johnson (1997, 5-10) menguraikan lebih jauh definisi di atas dengan tiga ciri patriarki. Suatu masyarakat patriarki ditandai hal berikut: dominasi lelaki, identifikasi dengan lelaki dan terpusat pada lelaki. Selain itu patriarki juga menyangkut aspek penting adanya penindasan terhadap perempuan. Patriarki adalah dominasi lelaki karena posisi kekuasaan—politik, ekonomi, hukum, agama, pendidikan, militer, rumah tangga—umumnya disediakan untuk kaum lelaki. Posisi kepala negara, pemimpin agama, direktur perusahaan atau anggota komisaris, anggota legislatif di semua tingkatan, pengacara, profesor, panglima dan jendral, bahkan kepala keluarga dipegang oleh lelaki. Kalau ada perempuan bisa mencapai posisi ini orang cenderung beranggapan bahwa hal ini merupakan perkecualian dan sering mempertanyakan bagaimana mereka dapat menyejajarkan diri dengan lelaki.
Dominasi lelaki ini menciptakan perbedaan kekuasaan (power) antara lelaki dan perempuan. Lelaki dapat mengklaim pendapatan dan kekayaan yang lebih besar. Lelaki dapat membentuk budaya dan melestarikan kekuasaannya dengan cara, misalnya, mengontrol isi tayangan film, isi perundangan, dan sebagainya. Dominasi lelaki juga berarti berkembangnya anggapan bahwa lelaki lebih unggul dibandingkan perempuan. Karena berbagai posisi unggul dipegang oleh lelaki, maka lelaki secara kolektif dapat diidentifikasi sebagai makhluk unggul meskipun secara individual banyak lelaki tidak memiliki keunggulan. Jadi di masyarakat patriarkis posisi lelaki selalu lebih tinggi dan diuntungkan daripada perempuan.
Masyarakat patriarki membentuk identifikasi lelaki karena apa yang dianggap baik, diinginkan, atau normal dikaitkan dengan pandangan tentang kelelakian atau maskulinitas. Misalnya sifat-sifat ideal seperti kuat, mandiri, rasional, logis, dapat membuat keputusan dengan tepat dan cepat, tenang dan mampu mengontrol emosi menjadi atribut lelaki dan lebih dihargai. Sifat-sifat yang diidentifikasi sebagai maskulin ini dikaitkan dengan pekerjaan yang dianggap lebih berharga seperti bisnis, politik, militer, hukum, kedokteran.
Sebaliknya sifat-sifat seperti tidak efisien, bekerjasama, berbagi, mengasihi, merawat, mudah terpengaruh, siap bernegosiasi dan berkompromi, intuitif, ekspresif secara emosional serta cara berpikir yang tidak linier dianggap lebih rendah secara kultural diasosiasikan dengan femininitas atau sifat perempuan.
Femininitas tidak selalu dianggap rendah di masyarakat patriarki. Perempuan dihargai karena kecantikannya, misalnya sebagai obyek pemenuhan kebutuhan seks lelaki. Tetapi ini justru sering merendahkan posisi perempuan karena mereka seringkali dimiliki dan dikontrol oleh lelaki.
Karena patriarki identik dengan lelaki, perempuan akan mencari pekerjaan yang sesuai dengan identitas kulturalnya yaitu sebagai seorang yang “memberi” dan “memelihara” seperti guru, perawat, atau pengasuh anak. Untuk posisi kepemimpinan, politik atau bisnis, misalnya, perempuan harus keluar dari lingkup identitas kultural yang feminin dan mengadopsi identitas yang maskulin: tegas, agresif, berwibawa, mengontrol emosi, dan penuh kalkulasi.
Selain dominasi dan identifikasi lelaki, patriarki menjadikan lelaki sebagai sentral perhatian. Fokus perhatian utamanya pada lelaki dan apa yang mereka kerjakan. Kisah-kisah tentang kepahlawanan, keberanian atau perjuangan spiritual yang memiliki arti besar dalam hidup ini, misalnya, hampir selalu menggambarkan lelaki dan maskulinitasnya. Dalam masyarakat patriarki, pengalaman dan
perspektif lelaki merupakan representasi kehidupan meskipun pengalaman itu berkaitan dengan perempuan.
Jika digambarkan seperti pohon (Johnson, 1997: 15) ketiga ciri patriarki ini tertanam dalam-dalam di benak manusia seperti akar pohon yang menunjang dalam. Ciri-ciri ini terbentuk karena sosialisasi nilai dasar, kepercayaan atau mitos serta prinsip-prinsip tentang relasi perempuan dan lelaki yang patriarkis. Akibat yang tampak di permukaan adalah sikap, perilaku dan pola pikir patriarkis yang muncul pada individu, institusi (keluarga, negara, bisnis, dsb) serta pada kelompok di masyarakat lainnya.
2.2.4 Kepemimpinan Perempuan dalam Perspektif Agama 2.2.4.1 Kesetaraan Jender dalam Islam
Menurut Nasaruddin Umar (1999: 247-264) ada beberapa variabel yang dapat digunakan sebagai standar dalam menganalisis prinsip-prinsip kesetaraan jender, antara lain: pertama, laki-laki dan perempuan sebagai hamba. Hal ini sebagaimana diajarkan dalam Qur’an surat al-Dzariyat/51 ayat 56, yang berisi bahwa manusia, sebagaimana Jin, secara mutlak, laki-laki maupun perempuan, sebagai seorang hamba Tuhan bertugas menyembah atau beribadah kepadaNya; dan Q.S. al-Hujurat/49:13, yang berisi tentang tidak ada perbedaan pada ciptaaan Tuhan, baik laki-laki maupun perempuan dalam berbagai coraknya, kecuali kualitas ketakwaan kepada Tuhan;
dan Q.S al-Nahl/16:97, yang berisi tentang balasan yang dianugerahkan kepada siapapun baik laki-laki maupun perempuan, tanpa dibeda-bedakan terhadap amal saleh yang mereka lakukan.
Kedua, laki-laki dan perempuan sebagai khalifah di bumi. Hal ini telah dituangkan dalam Q.S. al-An’am/6:165, yang berisi ajaran bahwa di antara manusia dijadikan penguasa di muka bumi, dan sebagian di antaranya ditinggikan derajatanya oleh Allah untuk menjadikan ujian siapakah di antara mereka yang dapat mengemban
amanat secara baik. Juga QS. al-Baqarah/2:30, yang menegaskan tentang diciptakannya khalifah di muka bumi.
Ketiga, laki-laki dan perempuan menerima perjanjian primordial. Hal ini segabaimana diingatkan Allah kepada manusia, bahwa mereka telah mengadakan perjanjian berupa kesaksian terhadap keesaan Allah (Q.S. al-A’raf/7:172, Q.S. al-Isra’/17:70, Q.S.
al-Ma’idah/5:89, Q.S. al-Mumtahanah/60:12).
Keempat, Adam dan Hawa, terlibat secara aktif dalam drama kosmis. Demikian sebagaimana dikisahkan dalam Q.S al- Baqarah/2:35, dan 187; al-A’raf/7: 20, 22, dan 23, bahwa Adam ditempatkan di surga bersama isterinya, dan diberi ketentuan agar menikmati segala makanan yang ada di dalamnya kecuali sebuah pohon ini yang dapat menyebabkannya termasuk orang-orang yang dhalim.
Kelima, laki-laki dan perempuan berpotensi meraih prestasi.
Demikian ajaran prinsip Islam sebagaimana ditegaskan dalam Q.S Ali Imran/3:195, al-Nahl/16: 97, dan Ghafir/40: 40, yang mengajarkan bahwa laki-laki maupun perempuan yang mengerjakan amal saleh dalam keadaan beriman, mereka berhak mendapatkan balasan berupa masuk ke dalam surga tanpa dianiaya sedikitpun, bahkan balasan yang lebih baik dari yang telah mereka kerjakan.
2.2.4.2 Prinsip Berpolitik dalam Islam
Islam tidak mengabaikan politik karena agama ini dimaksudkan sebagai petunjuk dalam semua aspek kehidupan. Islam tidak memberikan petunjuk komprehensif dan kaku perihal politik, namun memberikan panduan yang bersifat umum berupa prinsip- prinsip berpolitik yang mesti dipegang. Penerapan yang paling sempurna dari prinsip-prinsip ini terjadi pada zaman Nabi Muhammad SAW, dan oleh para khalifah dijadikan petunjuk yang disesuaikan dengan kondisi masanya. Empat prinsip berpolitik dalam Islam adalah sebagai berikut (Lily Zakiyah Munir 2008: 73-75).
a. Prinsip Syura (musyawarah), yang berarti pertimbangan dari berbagai kelompok yang terlibat dalam mencapai konsesnsus.
Prinsip ini hendak menyatakan bahwa kebebasan individu dalam menyampaikan persoalan dan kemampuan mereka merumuskan pendapatnya adalah sesuatu yang alamiah saja. Prinsip ini secara setara bisa diterapkan dalam urusan politik dan ekonomi masyarakat maupun dalam urusan rumah tangga.
b. Prinsip Musawah (persamaan), yang merupakan soko guru dalam sistem sosial. Prinsip persamaan (kesederajatan) ini didasarkan pada firman Allah, yang menegaskan bahwa kedudukan manusia adalah sama di hadapanNya, yang membedakan mereka hanyalah kualitas ketaqwaan kepadaNya (QS. Al-Hujurat/49: 13). Karena prinsip ini, Islam selalu menekankan kedudukan pribadi manusia, biasanya bertentangan dengan masyarakat atau lembaga yang ada, jika manusia itu tidak memenuhi perintah Ilahi.
c. Prinsip ‘Adalah (keadilan), yang merupakan tujuan utama risalah ketuhanan dan justifikasi bagi kekuasaan politik. Secara bahasa, adl atau adalah berarti menempatkan segala sesuatu sesuai dengan tempat di mana ia seharusnya berada. Adl juga berarti perlakuan yang sama terhadap sesame atau tidak pandang bulu dalam berhubungan dengan mereka. ‘Adl kemudian berarti sebuah peneguhan moral dan memperlakukan segala sesuatu dengan sewajarnya. Prinsip ini sebagaimana diajarkan dalam Quran surat an-Nisa ayat 58, yang berisi perintah Allah agar kita menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan agar kita menetapkan/memutuskan hukum dengan adil.
d. Prinsip al-Hurriyah (kebebasan), yang dipandang dalam Islam sebagai sesuatu yang alamiah dan inheren di dalam diri manusia, sebagaimana sabda Nabi SAW: “Setiap orang dilahirkan dalam keadaan bebas (fitrah)”. Islam memandang tiap manusia sama sebagai hamba Allah. Tidak ada keistimewaan antara yang satu dengan yang lain selain ketakwaan mereka kepada Allah. Prinsip
ini juga menggambarkan secara jernih sikap Islam tentang kebebasan beragama
2.2.4.3 Perdebatan tentang Kepemimpinan Perempuan
Terjadinya perbedaan antara pihak yang berpendapat bahwa Islam melarang perempuan menjadi pemimpin publik formal dengan pihak yang membolehkan, terletak pada perbedaan penafsiran beberapa dalil yang terdapat dalam al-Qur’an dan al-Hadits. Dalil- dalil tersebut adalah :
a. QS. al-Nisa’ [4]: 34: ”Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan”. Secara harfiah, ayat tersebut menyebutkan bahwa laki-laki adalah pemimpin bagi kaum perempuan. Namun demikian, pihak yang membolehkan berpendapat bahwa sebab turunnya (asbabun nuzul) ayat tersebut adalah dalam konteks keluarga. Diriwayatkan bahwa Habibah binti Zaid, istri Sa’ad bin Rabi’ melakukan nusyuz (durhaka, menentang keinginan Sa’ad untuk bersetubuh). Dia kemudian ditampar oleh Sa’ad. Kasus keluarga ini dilaporkan kepada Nabi SAW dan beliau memutuskan untuk menghukum qishash (balasan setimpal) kepada Sa’ad.
Kemudian turunlah QS. al-Nisa’ [4]: 34 tersebut dan sekaligus meralat perintah qishash.
b. Hadits Nabi SAW: “Tidak akan sukses suatu kaum yang menyerahkan urusan negara kepada perempuan” (HR. al- Bukhari). Pihak yang membolehkan pemimpin publik formal perempuan berpendapat bahwa hadits tersebut bersifat kasuistik.
Dalam kitab Fath al-Bari (XIII: 55-58), Imam al-‘Asqalani menerangkan bahwa hadits ini disampaikan sebagai respon Nabi SAW terhadap pengangkatan Ratu Buran, putri raja Persia yang terkenal sangat bodoh. Raja Persia, Anusyirwan sendiri telah merobek surat ajakan Nabi SAW untuk memeluk agama Islam yang dibawa kurir nabi yang bernama Abdullah ibn Khudzaifah.
c. Mayoritas ulama Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali, semuanya berpendapat haramnya khalifah atau al-imam al-A’zham dijabat oleh seorang perempuan. Pihak yang membolehkan berpendapat bahwa yang mereka haramkan adalah jabatan khalifah atau al- imam al-‘A’zham yang meliputi kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudikatif. Sedangkan dalam sistem ketatanegaraan Indonesia, menganut pemisahan tiga kekuasaan tersebut.
2.2.5 Kepemimpinan Perempuan dalam Perspektif HAM 2.2.5.1 Makna HAM Universal
HAM yang dalam bahasa Inggris adalah human rights, adalah hak yang dimiliki seseorang karena dia adalah manusia. HAM dimiliki semua orang secara sama, universal, dan selamanya.
(Preambule UDHR). HAM juga didefinisikan dalam Pasal 1 angka 1 UU No. 39 Tahun 1999 tentang HAM dan UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM.
Menurut kedua UU ini, HAM adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Kuasa dan merupakan anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum, Pemerintah dan setiap orang, demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat manusia. Konsekuensinya adalah HAM tidak tercabutkan, tidak dapat dikurangi (non-derogable), tidak terbagikan atau terceraikan (indivisible), dan saling bergantung. Maksudnya seseorang tidak dapat kehilangan hak-hak ini kecuali jika ia berhenti sebagai manusia. Demikian juga seseorang itu tidak dapat ditolak memiliki suatu hak karena ”tidak dianggap penting” atau ”tidak esensial”. Selajutnya, HAM itu merupakan bagian yang saling melengkapi dari suatu kerangka kerja. Misalnya, hak seseorang untuk berpartisipasi dalam pemerintahan secara langsung dipengaruhi oleh haknya untuk menyatakan pendapat, memperoleh pendidikan, dan mendapat kehidupan yang layak (Lily Zakiyah Munir, 2007: 2-3).
Oleh karena itu, (2007: 1-2), sebagai hak yang melekat dengan kodrat manusia, HAM dapat menjadi tolok ukur bersama untuk menilai prestasi kemanusiaan yang perlu dicapai oleh seluruh masyarakat di dunia (2007: 1-2).
Rumusan HAM yang menjadi standar hingga kini adalah HAM yang dideklarasikan oleh PBB pada 10 Desember 1948 dan dikenal sebagai Universal Declaration of Human Rights atau UDHR (DUHAM). Deklarasi ini terdiri dari 30 pasal yang pokok-pokoknya sebagai berikut: Pasal 1 dan 2 berisi penegasan tentang kesetaraan semua umat manusia. Pasal 3 hingga 21 menetapkan Hak-hak Sipil Politik (Hak Sipol) sebagai berikut: 1) hak untuk hidup, kemerdekaan, dan keamanan (the right to life, liberty, and security of person, pasal 3); 2) hak kebebasan: bebas dari perbudakan dan kerja paksa (freedom from slavery and servitude, pasal 4); 3) bebas dari penganiayaan, tindakan/perlakuan atau penghukuman yang kejam, tidak berperikemanusiaan atau bersifat merendahkan/menghina (freedom from torture and cruel, inhuman or degrading treatment or punishment, pasal 5); 4) bebas bergerak (pasal 13), bebas untuk menikah dan membentuk keluarga, tanpa adanya diskriminasi (pasal 16); 5) bebas berpikir, berkeyakinan, dan beragama, (freedom of thought, conscience, and religion, pasal 18); 6) bebas mengeluarkan pendapat (freedom of opinion and expression, pasal 19); 7) bebas berkumpul dan berserikat (pasal 20); dan hak turut andil dalam pemerintahan (pasal 21).
Selanjutnya pasal 22 hingga 27 menentukan Hak-hak ekonomi, sosial, dan budaya (Hak Ekosob) yang meliputi antara lain:
hak atas jaminan sosial (pasal 22), hak untuk bekerja, dan hak atas upah yang sama (pasal 23), hak atas istirahat dan waktu senggang (pasal 24), hak standar hidup yang pantas di bidang kesehatan dan kesejahteraan (pasal 25), hak atas pendidikan (pasal 26), hak atas budaya (pasal 27).
2.2.5.2 HAM Terkait Perempuan
DUHAM menunjukkan komitmen bangsa-bangsa di dunia untuk menjunjung tinggi dan melindungi hak kemanusiaan setiap orang tanpa perkecualian apapun, seperti ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, politik atau pandangan lain.
Setelah DUHAM, lahir berbagai instrumen HAM internasional mengenai aspek-aspek khusus berkaitan dengan perempuan dalam kehidupan berkeluarga dan bermasyarakat. Ini antara lain adalah Konvensi tentang Hak Politik Perempuan tahun 1953 yang diratifikasi Indonesia dengan UU No. 68 tahun 1956. Konvensi ini menyatakan antara lain bahwa perempuan berhak memberikan suara dalam semua pemilihan atas syarat-syarat yang sama dengan pria, tanpa diskriminasi apapun (Pasal 1). Dalam Pasal 2 dinyatakan bahwa perempuan dapat dipilih untuk pemilihan pada semua badan yang dipilih secara umum…atas syarat-syarat yang sama dengan lelaki, tanpa diskriminasi apapun. Dalam Pasal 3 dinyatakan bahwa perempuan berhak memegang jabatan pemerintahan dan melaksanakan semua fungsi pemerintah, yang dibentuk oleh hukum nasional, atas syarat-syarat yang sama dengan pria, tanpa diskriminasi apapun (Peter Baehr dkk., 2001: 1049-1050).
Pada tanggal 18 Desember 1979, Majelis Umum PBB mengadopsi Convention on the Elimination of All Forms of Discrimination Against Women (CEDAW) atau Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan. Di antara perjanjian HAM internasional, CEDAW merupakan konvensi tentang perlindungan dan penegakan hak-hak perempuan yang paling komprehensif dan sangat penting karena menjadikan segi kemanusiaan perempuan sebagai sebagai fokus dari keprihatinan HAM. CEDAW memberikan rincian mengenai arti persamaan hak perempuan dan laki-laki, dan langkah tindakan yang diperlukan untuk mencapainya. Indonesia meratifikasi CEDAW dengan UU No. 7 tahun 1984. Ratifikasi oleh Pemerintah dengan persetujuan DPR ini
menjadikan prinsip-prinsip dan ketentuan CEDAW sebagai hukum formal dan bagian dari hukum nasional. Dengan demikianIndonesia memberikan komitmen, mengikatkan diri untuk menjamin melalui peraturan perundangan, kebijakan, program, dan tindakan khusus sementara, mewujudkan kesetaraan dan keadilaan antara laki-laki dan perempuan, dan terhapusnya segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan (Achie Sudiarti Luhulima 2006: 83-85).
Dengan demikian, jelas bahwa dalam perspektif HAM terdapat kesempatan yang sama antara laki-laki dan perempuan dalam segala bidang. Konvensi tentang Hak Politik Perempuan tahun 1953 yang diratifikasi Indonesia dengan UU No. 68 tahun 1956, setahun setelah pemilu I tahun 1955, semakin menegaskan peluang yang sama bagi kepemimpinan perempuan di bidang politik.