Analisis Penilaian Risiko Kebakaran Pada Unit Kilang
Atika Sari Khairunnisa’
1, Moch. Luqman Ashari
2, dan Mades Darul Khairansyah
31,2,3 Program Studi Teknik Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Jurusan Teknik Permesinan Kapal, Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, Jalan Teknik Kimia Kampus ITS, Sukolilo, Surabaya
60111
E-mail: [email protected]
Abstrak
Perusahaan penyimpanan dan pengolahan minyak bumi merupakan perusahaan yang memiliki tingkat risiko kebakaran tinggi, karena minyak bumi merupakan cairan yang bersifat flammable, khususnya pada area kilang yang merupakan tempat berlangsungnya kegiatan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat bahaya kebakaran pada area kilang serta mengetahui akar penyebab kemungkinan kebakaran. Metode yang digunakan pada penelitian ini adalah fire risk assessment (FRA) berdasarkan NFPA 551 Tahun 2019 metode kualitatif checklist menggunakan HIRADC, dari hasil tersebut menunjukkan bahwa area kilang memiliki tingkat risiko bahaya kebakaran tinggi. Metode fault tree analysis (FTA) digunakan untuk mengetahui basic event kemungkinan penyebab kebakaran yang ada pada area kilang khususnya tangki timbun. Dari analisis FTA tersebut terdapat 15 basic event yang dapat menyebabkan kebakaran.
Kata Kunci: FRA, FTA, Kebakaran, Kilang
Abstract
Petroleum storage and processing companies are companies that have a high level of fire risk, because petroleum is a flammable liquid, especially in the refinery area where these activities take place. This study aims to determine the level of fire hazard in the refinery area and determine the root cause of possible fires.
The method used in this study is a fire risk assessment (FRA) based on NFPA 551 of 2019 a qualitative checklist method using HIRADC, from these results it shows that the refinery area has a high level of fire hazard risk. The fault tree analysis (FTA) method is used to determine the basic event of possible causes of fires in the refinery area, especially the storage tank. From the FTA analysis, there are 15 basic events that can cause fires.
Keywords: FRA, FTA, Fire, Refinery
1. PENDAHULUAN
Unit kilang yang merupakan tempat pengolahan dan penyimpanan minyak mentah. Dalam sehari unit kilang memiliki kapasitas produksi 3.800 bbl/day atau 600m3/hari. Produk yang dihasilkan dari pengolahan minyak mentah tersebut antara lain Pertasol CA, Pertasol CB, Pertasol CC, Solar dan Residu. Proses produksi di unit kilang ini dilakukan 24 jam dan memiliki potensi bahaya kebakaran yang tinggi karena mengolah bahan yang mudah terbakar (flammable). Berdasarkan MSDS crude oil memiliki flash point pada suhu 21 ℃ dan titik didih pada suhu 40 ℃. Sedangkan berdasarkan NFPA 30 Flammable and Combustible Liquid Code, crude oil termasuk cairan mudah terbakar kelas 1B, yaitu memiliki flash point dibawah 22,8 oC dan memiliki titik didih di atas suhu 37,8 oC (National Fire Protection Association 2018). Menurut National Fire Protection Assosiation Kebakaran adalah sebuah peristiwa oksidasi dari 3 unsur yaitu bahan bakar, oksigen dan panas yang dapat menimbulkan kerugian material bahkan kematian manusia (Kelvin, Pram Eliyah Yuliana 2015).
Berdasarkan Kepmen No.186/MEN/1999 disebutkan bahwa “Pengurus atau perusahaan wajib mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran, latihan penanggulangan kebakaran ditempat kerja” (Menteri Tenaga Kerja 1999). Sepanjang tahun 2020 telah terjadi beberapa kebakaran pada industri minyak dan gas di Indonesia. Dari kejadian-kejadian kebakaran tersebut perusahaan minyak dan gas memiliki risiko kebakaran tinggi serta apabila terjadi kebakaran akan menyebabkan kerugian yang sangat besar, sehingga dapat menghambat proses produksi dan merusak citra perusahaan. Oleh karena itu, penulis ingin melakukan penelitian FRA dengan metode kualitatif checklist, penilaian resiko kebakaran menggunakan HIRADC. Lalu dilanjutkan dengan melakukan identifikasi penyebab kemungkinan terjadinya kebakaran dengan metode FTA
Sumber: Dokumen Perusahaan, 2021
(Fault Tree Analysys) pada kegiatan yang masih memiliki resiko kebakaran tinggi untuk mengetahui penyebabnya (basic event).
2. METODOLOGI
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah:
a. Fire Risk Assesment (FRA)
Fire Risk Assessment merupakan suatu proses untuk mengelompokkan risiko yang terkait dengan api atau kebakaran yang ditujukan kepada skenario kebakaran. Terdapat dokumen lain yang mungkin diperlukan seperti analisis risiko kebakaran, bahaya kebakaran, analisis bahaya, maupun penilaian analisis bahaya kebakaran, untuk mengelompokkan penilaian risiko kebakaran (National Fire Protection Association 2019). Analisis FRA ini menggunakan metode kualitatif checklist. IBPR perusahaan diolah menjadi HIRADC menggunakan risk matriks yang dimiliki oleh perusahaan. Berikut Tabel risk matriks perusahaan
Tabel 1. Risk Matriks Probability
Severity
1 2 3 4 5
1 1 2 3 4 5
2 2 4 6 8 10
3 3 6 9 12 15
4 4 8 12 16 20
5 5 10 15 20 25
Sumber: Dokumen Perusahaan, 2021
Keterangan nilai risk matriks dapat dilihat pada tabel risk level dibawah ini Tabel 2. Risk Level
b. Fault Tree Analysis (FTA)
Setelah dilakukan analisis FRA menggunakan HIRADC maka dipilih kegiatan yang masih memiliki risiko kebakaran yang tinggi, lalu dilakukan analisis FTA untuk mengetahui penyebab dasar yang dapat menyebabkan kebakaran tersebut.
3. HASIL DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan hasil checklist ISO 45001 tahun 2018 tentang occupational health and safety management systemdidapatkan bahwa perusahaan telah melakukan penilaian risiko kebakaran yang terdapat pada IBPR perusahaan tetapi perlu dilakukan pengelompokan untuk kegiatan yang memiliki risiko kebakaran. Serta pada IBPR perusahaan belum mencantumkan pengendalian sistem proteksi kebakaran aktif sehingga perlu dilakukan perbaikan pada IBPR perusahaan menjadi HIRADC. HIRADC unit kilang oleh penulis dapat dilihat pada Tabel 3.
Risk Level Tindakan Pengendalian
1-3: Tolerable Risiko K3 / Dampak Lingkungan minimal dapat ditolerir oleh PPSDM Migas
4-6: Moderate Risiko K3 / Dampak Lingkungan memerlukan pengendalian lebih lanjut dan aktivitas perbaikan, dapat dilanjutkan tetapi memerlukan monitoring risiko K3 / dampak lingkungan secara periodik
8-12: Intolerable Risiko K3 / Dampak Lingkungan tidak dapat diterima dalam tenggang waktu tertentu tetapi aktivitas masih dibolehkan untuk dilakukan dibawah pengendalian khusus
12-20: Extreme Risiko K3 / Dampak Lingkungan tidak dapat diterima oleh PPSDM Migas, aktivitas harus dihentikan yang mengancam kelangsungan hidup.
Tabel 3. HIRADC Unit Kilang
Sumber: Penulis, 2021
No Bahaya Resiko Pengendalian saat ini Peluang
Terjadi Tingkat Bahaya
Tingkat Resiko
Level Resiko
Rekomendasi pengendalian lanjutan
Peluang Terjadi
Tingkat Bahaya
Tingkat Resiko
Level Resiko
1 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14
1 Listrik,
autoignition
Kebakaran/ledakan Engg: Pemasangan grounding APD: menggunakan safety shoes, hand
gloves, safety helmet, wearpack 2 4 8
Intolerable Engg: pemasangan sprinkler, foam chamber , dan detektor
kebakaran 1 4 4
Moderate
2 Konsleting listrik Kebakaran,
meninggal
Engg: Pemasangan grounding APD: menggunakan safety shoes, hand gloves, safety helmet, wearpack
2 5 10
Intolerable Engg: Instalasi Hidran Adm: pengawasan pelaksanaan kerja
1 3 3
Tolerable
3 Flashback ,
ledakan
Kebakaran, luka bakar, meninggal
Engg: Pembakaran sempurna dengan Burner Management System APD: menggunakan safety shoes, hand gloves, safety helmet, wearpack
2 5 10
Intolerable Engg: APAR, Intalasi Hidran Adm: Peningkatan pengawasan
operasional 1 3 3
Tolerable
4 Potensi
kebakaran
Kebakaran, Luka bakar
Adm: Operasional kilang sesuai dengan standar operating prosedur APD: menggunakan safety shoes, hand gloves, safety helmet, wearpack
2 4 8
Intolerable Engg: APAR, Instalasi Hidran Adm: Pengawasan pelaksanaan
kerja 1 3 3
Tolerable
5 Pipa bocor, listrik
statis
Kebakaran Engg: grounding Adm: Inspeksi pipa
APD: menggunakan safety shoes, hand gloves, safety helmet, wearpack
2 4 8
Intolerable Engg: APAR, Instalasi Hidran Adm: Pengawasan pelaksanaan
kerja 1 3 3
Tolerable
6 Tersengat listrik,
konsleting
Kebakaran, Luka bakar/meninggal
Engg: Panel dan motor listrik semua explotion proof, grounding APD: menggunakan safety shoes, hand gloves, safety helmet, wearpack
2 5 10
Intolerable Engg: APAR, Instalasi Hidran Adm: Pemberian tanda
peringatan 1 3 3
Tolerable
7 Tersengat listrik,
konsleting
Kebakaran, Meninggal, luka bakar
Engg: grounding
APD: menggunakan safety shoes, hand
gloves, safety helmet, wearpack 2 5 10
Intolerable Engg: APAR, Instalasi Hidran Adm: Pengawasan pelaksanaan
kerja 1 3 3
Tolerable
8 Pipa bocor, listrik
statis
Kebakaran Engg: grounding Adm: Inspeksi pipa
APD: menggunakan safety shoes, hand gloves, safety helmet, wearpack
2 4 8
Intolerable Engg: APAR, Instalasi Hidran Adm: Pengawasan pelaksanaan
kerja 1 3 3
Tolerable
9 Potensi
kebakaran
Kebakaran, Luka bakar
APD: menggunakan safety shoes, hand
gloves, safety helmet, wearpack 3 2 6
Moderate Engg: Instalasi Hidran, APAR Adm: Pengawasan pelaksanaan
kerja 1 2 2
Tolerable Pengisian produk ke tangki
mobil
Pemakaian Tenaga Listrik
Pengoperasian pompa sentrifugal
Pemompaan minyak
Sirkulasi panas
Proses Distilasi / pengolahan minyak mentah
Aktifitas
2 Pengisian dan pengurangan pada tangki timbun di kilang
Pembersihan dan pemeliharaan tangki timbun
Pengoperasian Furnace
Setelah dilakukan analisis dengan menggunakan HIRADC berdasarkan IBPR perusahaan didapatkan hasil bahwa semua aktivitas/kegiatan yang dapat menyebabkan kebakaran di area kilang memiliki risiko bahaya tinggi (Intolerable), lalu dilakukan penilaian dengan menambahkan rekomendasi berupa sistem proteksi kebakaran aktif dan diperoleh hasil semua pekerjaan memiliki risk matriks tolerable yang bearti dapat diterima kecuali 1 aktivitas yaitu penyimpanan cairan mudah terbakar/ produk pada tangki timbun yang memiliki risk matriks moderate, hal ini disebabkan karena pada area tangki timbun masih belum memiliki detektor serta sprinkler yang memadai, dari masalah tersebut dapat disimpulkan bahwa tangki timbun masih memiliki risiko kebakaran yang cukup tinggi. Oleh karena itu perlu dilakukan penilaian risiko dengan menggunakan fault tree analysis untuk mengetahui penyebab kemungkinan risiko kebakaran yang terjadi sehingga dapat dilakukan pencegahan. Top event yang digunakan adalah kebakaran pada tangki timbun. Berikut gambar bagan FTA kebakaran pada tangki timbun.
Gambar 1. Bagan FTA Kebakaran pada Tangki Timbun Sumber: Penulis, 2021
Dari hasil FTA pada Gambar 1, didapatkan 15 penyebab utama (basic event) kemungkinan yang dapat menyebabkan kebakaran pada tangki timbun. Hasil tersebut dapat dijadikan rekomendasi serta evaluasi untuk perbaikan sehingga dapat mencegah terjadinya kebakaran. Berikut merupakan 15 basic event tersebut:
- Kurangnya pengetahuan fungsi detektor - Tidak ada anggaran biaya untuk detektor - Kurangnya pengetahuan tentang sprinkler - Tidak ada anggaran biaya umtuk sprinkler - Sprinkler tidak diinspeksi secara berkala - Kerusakan pada instalasi sprinkler
- Foam chamber tidak diinspeksi secara berkala - Kerusakan pada sistem foam chamber
- Sistem penangkal petir rusak - Gesekan benda
- Usia kabel lama
- Tidak dilakukan pengecekan kabel
Kebakaran Pada Tangki Timbun
Terdapat masalah pada sistem proteksi
kebakaran
Api
Tidak terdapat detektor pada tangki timbun
Instalasi sprinkler tidak sesuai standart
Foam chamber tidak
berfungsi
Kurangnya pengetahuan manfaat detektor
Tidak ada
anggaran biaya Tidak
diinspeksi secara berkala
Kerusakan pada sistem
Terdapat sumber penyalaan
Autoignition cairan mudah terbakar
Sambaran petir Listrik
Sistem penangkal petir rusak
Listrik statis Konsleting
listrik
Gesekan benda
Udara panas Uap cairan mudah terbakar Pancaran tidak
menggunakan kepala sprinkler
Sprinkler tidak berfungsi
Kurangnya pengetahuan
Tidak ada anggaran biaya
Tidak diinspeksi secara berkala
Kerusakan pada sistem
Pengaman listrik tidak berfungsi Kabel
terkelupas
Kerusakan pada pengaman Usia kabel
lama Tidak terdapat pengecekan
kabel
- Kerusakan pada pengaman listrik - Udara panas
- Uap cairan mudah terbakar 4. KESIMPULAN
Kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini yaitu:
1. Penilaian risiko kebakaran Fire Risk Assesment (FRA) berdasarkan NFPA 551 tahun 2019 dengan metode kualitatif checklist diperoleh hasil bahwa pada area kilang memiliki tingkat risiko kebakaran tinggi (high risk) berdasarkan penilaian HIRADC.
2. Berdasarkan analisis menggunakan FTA diperoleh 15 basic event yang dapat menjadi penyebab dari top event kebakaran pada tangki timbun.
5. DAFTAR PUSTAKA
Kelvin, Pram Eliyah Yuliana, dan Sri Rahayu. 2015. “PEMETAAN LOKASI KEBAKARAN BERDASARKAN PRINSIP SEGITIGA API PADA INDUSTRI TEXTILE.” 5:36–43.
Menteri Tenaga Kerja. 1999. “Keputusan Menteri Tenaga Kerja No.KEP.186/MEN/1999 Tentang Unit Penanggulangan Kebakaran Di Tempat Kerja.” (28).
National Fire Protection Association. 2018. NFPA 30 Flammable and Combustible Liquids Code.
National Fire Protection Association. 2019. NFPA 551 Guide for the Evaluation of Fire Risk Assessments.