• Tidak ada hasil yang ditemukan

Reformasi di tengah ketidakpastian

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "Reformasi di tengah ketidakpastian"

Copied!
60
0
0

Teks penuh

(1)

Reformasi di tengah ketidakpastian

Supported by funding from the Australian Government (Department of Foreign Affairs and Trade, DFAT), under the Support for Enhanced Macroeconomic and Fiscal Policy Analysis (SEMEFPA) program.

(2)

PERKEMBANGAN TRIWULANAN PEREKONOMIAN INDONESIA Reformasi di tengah ketidakpastian

Desember 2015

(3)
(4)

tujuan. Pertama, untuk menyajikan perkembangan utama perekonomian Indonesia dalam tiga bulan terakhir, dan menempatkan dalam konteks jangka panjang dan global. Berdasarkan perkembangan ini, serta perubahan kebijakan dalam periode tersebut, laporan ini menyediakan perkembangan terkini secara rutin tentang prospek perekonomian dan kesejahteraan sosial Indonesia. Kedua, laporan IEQ ini memberikan penilaian mendalam terhadap isu-isu ekonomi dan kebijakan tertentu, dan analisis terhadap tantangan pembangunan jangka menengah Indonesia. Laporan ini ditujukan untuk khalayak luas termasuk pembuat kebijakan, pemimpin bisnis, pelaku pasar keuangan, serta komunitas analis dan profesional yang terlibat dan mengikuti perkembangan ekonomi Indonesia.

IEQ merupakan laporan Bank Dunia di Jakarta dan mendapatkan bimbingan editorial dan strategis oleh dewan editorial yang dipimpin oleh Rodrigo Chaves, Country Director untuk Indonesia. Laporan ini disusun oleh tim Macroeconomic and Fiscal Management Global Practice, dibawah bimbingan Shubham Chaudhuri, Practice Manager, Ndiame Diop, Lead Economist, dan Hans Anand Beck, Senior Economist. Tim utama penyusun laporan ini dipimpin oleh Elitza Mileva, Country Economist dan bertanggung jawab di bagian A, pengeditan dan produksi, tim inti terdiri dari Arsianti, Magda Adriani, Masyita Crystallin, Fitria Fitrani, Ahya Ihsan, Yue Man Lee, dan Violeta Vulovic dengan tambahan pengeditan oleh Edgar Janz, Matt Wai-Poi dan Sinead Maguire. Dukungan administrasi diberikan oleh Titi Ananto. Diseminasi dilakukan oleh Indra Irnawan, Jerry Kurniawan, GB Surya Ningnagara dan Nugroho Sunjoyo dibawah bimbingan Dini Sari Djalal.

Edisi ini juga mencakup kontribusi dari Mattia Makovec (Part A.7, Ketenagakerjaan), Magda Adriani, Mubariq Ahmad, Ann Jeannette Glauber, Iwan Gunawan, Elitza Mileva, Sarah Moyer (Bagian B.1, Kebakaran hutan), Samuel Clark, Ihsan Haerudin, Jennifer Noveck, Kevin A. Tomlinson, Kathleen A.

Whim (Bagian B.2, Undang-Undang Desa), Agnesia Adhissa, Evarist Baimu, Massimiliano Cali, Brasukra Sudjana (Bagian C.1, Trans Pacific Partnership). Data dan masukan utama juga diterima dari Massimiliano Cali, Letizia Ferlito, Pandu Harimurti, Muhammad Farman Izhar, Anita Ellen Kendrick, Ruby Mangunsong, Rosfita Roesli, George Henry Stirrett Wood, Rinsan Tobing. Special thanks to Fauziah Alhasanah, Augustan, Nugraheni Setyaningrum (BPPT) dan Ridho Benardo Becken, Paulina Laurentia Diana, Gita Febriyanti, Rina Octavia, Owen Podger, Dian Puspita (Yayasan Pengurangan Resiko Bencana, PRB). Laporan ini juga mendapat tambahan masukan yang penting dari Ernest Berthe and Triyanto Fitriyardi (IFC), Sudhir Shetty, Nikola L. Spatafora, Maria Monica Wihardja and John Burch (Australian Treasury, Australia-Indonesia Government Partnership Fund).

Laporan ini disusun oleh para staf International Bank for Reconstruction and Development Bank Dunia, dengan dukungan pendanaan dari Pemerintah Australia (Departemen Luar Negeri dan Perdagangan atau Department of Foreign Affairs and Trade, DFAT) melalui program Support for Enhanced Macroeconomic and Fiscal Policy Analysis (SEMEFPA).

Temuan-temuan, interpretasi dan kesimpulan-kesimpulan yang dinyatakan di dalam laporan ini tidak mencerminkan pandangan AusAID dan Pemerintah Australia, para Direktur Pelaksana Bank Dunia atau pemerintah yang diwakilinya. Bank Dunia tidak menjamin ketepatan data-data yang termuat dalam laporan ini. Batas-batas, warna, denominasi dan informasi-informasi lain yang digambarkan pada setiap peta di dalam laporan ini tidak mencerminkan pendapat Bank Dunia mengenai status hukum dari wilayah atau dukungan atau penerimaan dari batas-batas tersebut.

Foto di sampul depan dan Ringkasan Eksekutif diambil oleh dan merupakan hak cipta Pusdatinmas, BNPB 2015 dan foto di bagian lain diambil oleh Arsianti, Curt Carnemark and Josh Estey dan merupakan Hak Cipta Bank Dunia. Semua Hak Cipta dilindungi.

Untuk mendapatkan lebih banyak analisis Bank Dunia tentang ekonomi Indonesia:

Untuk informasi mengenai Bank Dunia serta kegiatannya di Indonesia, silakan berkunjung ke website ini www.worldbank.org/id

Untuk mendapatkan publikasi ini melalui e-mail, silakan hubungi [email protected]. Untuk pertanyaan dan saran berkaitan dengan publikasi ini, silakan hubungi [email protected].

(5)

RINGKASAN EKSEKUTIF: REFORMASI DI TENGAH KETIDAKPASTIAN ... I 

A. PERKEMBANGAN EKONOMI DAN FISKAL TERKINI ... 1 

1.  Meskipun terdapat perbaikan sentimen pasar, kondisi ekonomi luar negeri masih kurang mendukung. ... 1 

2.  Belanja pemerintah mendukung pertumbuhan PDB yang moderat pada kuartal ketiga ... 2 

3.  Inflasi mengalami moderasi akibat pengaruh dasar (base effect), namun risiko-risiko terkait El Niño tetap bertahan ... 5 

4.  Aliran modal semakin menurun, sesuai dengan tren negara-negara berkembang ... 6 

5.  Kondisi keuangan masih tetap ketat, sebagian karena lebih rendahnya aliran masuk modal asing ... 8 

6.  Kenaikan tingkat pelaksanaan anggaran mendukung pertumbuhan di kuartal ketiga ... 11 

7.  Penciptaan lapangan kerja melemah dan semakin bergantung pada sektor dengan produktivitas rendah ... 14 

8.  Peningkatan investasi swasta bergantung pada upaya reformasi pemerintah ... 16 

B. BEBERAPA PERKEMBANGAN TERKINI PEREKONOMIAN INDONESIA ... 19 

1.  Krisis kebakaran di Indonesia: Siapa yang diuntungkan dan siapa yang menanggung? ... 19 

a.  Produksi minyak kelapa sawit bernilai miliaran: siapa yang diuntungkan? ... 22 

b.  Kebakaran di Indonesia tahun 2015 diperkirakan membawa kerugian sebesar Rp 221 triliun: siapa yang menanggung? ... 23 

c.  Kasus moratorium dan pemulihan lahan gambut ... 27 

2.  Mewujudkan potensi UU Desa ... 29 

a.  Memastikan Undang-Undang Desa menargetkan masyarakat miskin dan hampir miskin ... 30 

b.  Memperlancar penyaluran dana desa ... 32 

C. INDONESIA 2016 DAN SELANJUTNYA: TINJAUAN PILIHAN ... 35 

1.  Kesepakatan Trans-Pacific Partnership: Peluang atau Ancaman bagi Indonesia? ... 35 

a.  TPP akan mempengaruhi perekonomian Indonesia ... 36 

b.  Bergabung dengan TPP akan mempengaruhi kebijakan ekonomi Indonesia ... 38 

LAMPIRAN: INDIKATOR GAMBARAN EKONOMI INDONESIA ... 41 

(6)

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1: Prospek harga komoditas semakin melemah ... 2 

Gambar 2: Kondisi keuangan dunia masih ketat bagi negara berkembang ... 2 

Gambar 3: Pertumbuhan PDB menjadi stabil pada 4,7 persen yoy pada kuartal ketiga 2015… ... 3 

Gambar 4: …didorong oleh kenaikan yang signifikan dalam belanja modal sektor publik secara riil ... 3 

Gambar 5: Indikator kegiatan investasi bulanan dapat mengisyaratkan kenaikan… ... 4 

Gambar 6: …walau sentimen dunia usaha dan konsumen tetap lemah ... 4 

Gambar 7: Inflasi IHK turun akibat pengaruh dasar ... 5 

Gambar 8: Neraca keuangan terus menurun ... 6 

Gambar 9: Aliran masuk modal ke negara berkembang diperkirakan akan mencapai titik terendah pada kuartal keempat ... 7 

Gambar 10: Investor asing menjual aset-aset portofolio dalam denominasi Rupiah pada kuartal ketiga 2015 ... 7 

Gambar 11:Ekuitas negaraberkembang mencatat peningkatan sejak bulan September ... 9 

Gambar 12: Utang swasta luar negeri terus melambat pada kuartal ketiga 2015, dengan naiknya beban pinjaman ... 9 

Gambar 13: Kenaikan pertumbuhan kredit sejak Juli didorong oleh pinjaman investasi ... 10 

Gambar 14: Penerimaan terkait migas terus menjadi pendorong utama perlambatan penerimaan ... 12 

Gambar 15: Kecuali untuk subsidi energi, laju pencairan lebih tinggi dibanding tahun-tahun yang lalu ... 12 

Gambar 16: Rencana kenaikan belanja untuk kesehatan, infrastruktur dan bantuan sosial untuk 2016 ... 13 

Gambar 17: Perlambatan pertumbuhan mengakibatkan kenaikan pengangguran… ... 15 

Gambar 18: …dengan hanya sektor konstruksi dan perdagangan yang mendorong penciptaan lapangan kerja ... 15 

Gambar 19: Provinsi terdampak telah mengalami kerusakan dan kerugian akibat kebakaran dan kabut asap… ... 24 

Gambar 20: … yang telah mengurangi pertumbuhan PDB tahun 2015 ... 24 

Gambar 21: Kesenjangan infrastruktur sangat bervariasi di seluruh Indonesia ... 30 

Gambar 22: Rumus Dana Desa 90/10 memperlakukan warga desa secara kurang merata .... 31 

Gambar 23:Penyaluran DD dari kabupaten ke desa melambat di tahun 2015 ... 32 

Gambar 24: Pangsa negara-negara TPP dalam ekspor barang Indonesia tinggi, meskipun sedikit menurun ... 37 

Gambar 25: Negara-negara TPP menjadi pasar yang lebih penting untuk ekspor manufaktur Indonesia ... 37 

Gambar 26: AS menerapkan tarif yang pada umumnya sangat rendah; hanya beberapa produk yang dikenai tarif di atas 20 persen ... 38 

Gambar 27: Potensi pengalihan perdagangan dari ekspor Indonesia terkonsentrasi pada produk pakaian ... 38 

Gambar 28: Indonesia adalah pengguna aktif hambatan perdagangan dan investasi ... 40 

DAFTAR LAMPIRAN GAMBAR Lampiran Gambar 1: Pertumbuhan PDB ... 41 

Lampiran Gambar 2: Kontribusi terhadap PDB pengeluaran ... 41 

Lampiran Gambar 3: Kontribusi terhadap PDB produksi ... 41 

Lampiran Gambar 4: Penjualan mobil dan sepeda motor ... 41 

Lampiran Gambar 5: Indikator konsumen ... 41 

Lampiran Gambar 6: Indikator produksi industri ... 41 

(7)

Lampiran Gambar 7: Neraca pembayaran ... 42 

Lampiran Gambar 8: Komponen neraca berjalan ... 42 

Lampiran Gambar 9: Ekspor barang ... 42 

Lampiran Gambar 10: Impor barang ... 42 

Lampiran Gambar 11: Cadangan devisa dan arus modal ... 42 

Lampiran Gambar 12: Inflasi dan kebijakan moneter ... 42 

Lampiran Gambar 13: Rincian bulanan IHK ... 43 

Lampiran Gambar 14: Perbandingan inflasi beberapa negara ... 43 

Lampiran Gambar 15: Harga beras domestik dan internasional ... 43 

Lampiran Gambar 16: Tingkat kemiskinan dan pengangguran ... 43 

Lampiran Gambar 17: Indeks saham regional ... 43 

Lampiran Gambar 18: Nilai tukar dollar AS ... 43 

Lampiran Gambar 19: Imbal hasil obligasi pemerintah 5-tahunan dalam mata uang lokal .. 44 

Lampiran Gambar 20: Spread obligasi dolar AS pemerintah EMBI ... 44 

Lampiran Gambar 21: Pertumbuhan kredit komersial, pedesaan dan deposito ... 44 

Lampiran Gambar 22: Indikator sektor perbankan ... 44 

Lampiran Gambar 23: Utang pemerintah ... 44 

Lampiran Gambar 24: Utang luar negeri ... 44 

DAFTAR TABEL Tabel 1: Pada proyeksi dasar (base case), pertumbuhan PDB diproyeksikan pada 4,7 persen untuk tahun 2015 ... iii 

Tabel 2: Pada keadaan dasar, pertumbuhan PDB diproyeksikan meningkat ke 5,3 persen pada tahun 2016 ... 6 

Tabel 3: Proyeksi defisit neraca berjalan adalah sebesar 2,0 persen dari PDB untuk 2015 ... 8 

Tabel 4: Kementerian Keuangan memproyeksikan defisit fiskal sebesar 2,2 persen dari PDB untuk 2016 ... 14 

Tabel 5: Agenda reformasi pemerintah memiliki cakupan luas* ... 17 

Tabel 6: Total hektar yang terbakar menurut provinsi, Juni-Oktober 2015 ... 20 

Tabel 7: Perkiraan kerugian dan kerusakan akibat kebakaran hutan dan kabut asap pada bulan Juni-Oktober 2015 mencapai Rp 221 triliun ... 25 

Tabel 8: Perkiraan pendapatan masyarakat yang hilang selama lebih dari satu tahun sebagai akibat dari moratorium pengembangan lahan gambut cukup besar jumlahnya .... 27 

Tabel 9: Perkiraan biaya pembangunan pemulihan lahan gambut ... 28 

Tabel 10: Dampak transfer fiskal ke desa-desa berdasarkan UU Desa diharapkan meningkat dalam jangka menengah ... 29 

Tabel 11: Status Kerangka Peraturan tingkat Daerah ... 33 

DAFTAR LAMPIRAN TABEL Lampiran Tabel 1: Realisasi dan anggaran belanja Pemerintah ... 45 

Lampiran Tabel 2: Neraca pembayaran ... 45 

Lampiran Tabel 3: Indikator utama makro-ekonomi ... 46 

Lampiran Tabel 4: Sekilas indikator pembangunan Indonesia ... 47 

DAFTAR KOTAK Kotak 1: Pemerintah telah memprakarsai proses reformasi yang penting dan bersifat luas pada bulan September ... 17 

Kotak 2: Standar sertifikasi dapat mendorong praktik-praktik produksi ramah lingkungan .. 21 

Kotak 3: Kebakaran, lahan gambut, dan perubahan iklim ... 23 

(8)

Kotak 4: Biaya lainnya – dampak kumulatif yang tidak diketahui dari kebakaran dan kabut asap terhadap flora dan fauna ... 26  Kotak 5: Menilai kesetaraan alokasi Dana Desa dengan membandingkan dua desa ... 32 

(9)

Ringkasan eksekutif: Reformasi di tengah ketidakpastian

Dengan kondisi lingkungan dalam dan luar negeri yang menantang, dan diperburuk oleh bencana asap dan kebakaran, pemerintah tetap berkomitmen untuk meningkatkan pertumbuhan

Walau pasar keuangan dunia telah kembali stabil sejak bulan Oktober, kondisi global masih tetap kurang mendukung. Bagi Indonesia, pertumbuhan PDB yang telah melambat, mendapat tambahan pengaruh negatif dari kondisi ekonomi dan lingkungan yang berasal dari kebakaran dan asap akibat perilaku manusia. Kerugian akibat kebakaran dan asap ini diperkirakan berjumlah sekitar 221 triliun rupiah (1,9 persen dari PDB) dalam waktu lima bulan. Dalam kondisi yang tidak mudah ini, pemerintah memperlihatkan niat yang tegas untuk melaksanakan reformasi dengan fokus pada peningkatan laju investasi, revitalisasi industri dalam negeri dan

peningkatan perdagangan. Salah satu indikasi akan hal tersebut adalah kenaikan belanja modal pemerintah yang signifikan, sebesar kira-kira 49,8 persen tahun-ke- tahun (year on year, yoy) secara riil pada kuartal ketiga, membalikkan tren negatif yang tercatat pada tahun 2014 dan awal tahun 2015. Selain itu, APBN 2016 juga

memperlihatkan perbaikan lebih lanjut dalam komposisi belanja negara, dengan pengalihan sumber daya dari subsidi energi ke infrastruktur, kesehatan, dan bantuan sosial bersasaran. Sinyal kedua adalah agenda reformasi yang diprakarsai pada bulan September melalui pengumuman tujuh paket kebijakan untuk pengaturan dan reformasi struktural dan stimulus fiskal.

Akan tetapi, resiko rendahnya

penerimaan, dapat membatasi

kemampuan kebijakan fiskal untuk mendorong investasi dan pertumbuhan

Komitmen pemerintah untuk mempercepat belanja publik pada tahun 2015, meskipun dengan penerimaan yang lebih rendah dibanding proyeksi, telah memperlebar defisit fiskal menjadi 2,5 persen dari PDB pada bulan Oktober dan, dapat semakin meningkat pada bulan November, jika melihat tren terakhir. Namun, meningkatkan batas defisit menjadi 3 persen untuk pemerintahan (pusat dan daerah) tampaknya tidak akan memberikan ruang yang cukup untuk mencapai sasaran belanja sesuai revisi prospek fiskal bulan Juli. Selain itu, pencapaian sasaran

penerimaan untuk tahun 2016 secara keseluruhan merupakan hal yang tidak mudah, seiring dengan lemahnya pencapaian sasaran penerimaan tahun 2015 dan tetap lemahnya kondisi ekonomi makro dan rendahnya harga-harga komoditas. Jika

(10)

penerimaan pemerintah tetap lemah pada tahun 2016, momentum belanja infrastruktur publik yang diharapkan menjadi dorongan pertumbuhan akan ikut terancam.

Penghindaran risiko (risk aversion) investor mulai menunjukkan penurunan, namun kegiatan ekonomi dunia masih lemah

Aset negara-negara berkembang kembali meningkat pada bulan Oktober setelah mencatat penurunan yang tajam pada bulan Agustus dan September, ketika ketidakpastian perlambatan ekonomi Tiongkok dan prospek suku bunga AS mengalami peningkatan. Meskipun sentimen pasar lebih positif, aliran masuk modal ke negara-negara berkembang masih tetap lemah dan biaya pinjaman tetap relatif tinggi. Selain kondisi pembiayaan yang ketat, Indonesia masih menghadapi lemahnya permintaan luar negeri untuk ekspor dalam jangka pendek dan tetap rendahnya harga-harga komoditas dalam jangka menengah. Data terakhir menunjukkan kecenderungan perlemahan pertumbuhan PDB di seluruh dunia untuk empat kuartal secara berturut-turut.

Belanja publik telah mendorong

pertumbuhan pada kuartal ketiga, sementara investasi swasta tetap lemah

Pada kuartal ketiga, PDB riil tumbuh sebesar 4,7 persen yoy, laju yang sama pada kuartal pertama dan kedua tahun 2015. Pertumbuhan didukung oleh kenaikan belanja sektor publik, baik untuk konsumsi maupun modal. Pada saat yang bersamaan, investasi sektor swasta diperkirakan akan tetap lemah. Beberapa data berfrekuensi tinggi mengindikasikan peningkatan pada kuartal empat, sementara data yang lain, terutama indikator sentimen usaha, justru mengindikasikan berlanjutnya lemahnya pertumbuhan. Angka pengangguran agregat meningkat menjadi 6,2 persen, dari 5,9 persen pada bulan Agustus 2014, mengubah arah tren penurunan pengangguran yang tercatat selama dekade lalu. Selain itu, sektor-sektor yang masih menciptakan lapangan kerja seperti konstruksi dan perdagangan adalah sektor-sektor dengan produktivitas yang rendah.

Kebakaran dan asap yang disebabkan manusia dan

menghabiskan dana 221 triliun rupiah bagi Indonesia dalam waktu lima bulan, turut berkontribusi terhadap perlambatan pertumbuhan

Faktor lain yang merintangi pertumbuhan PDB pada kuartal ketiga adalah kerugian yang terkait dengan kebakaran dan asap di sejumlah provinsi. Antara bulan Juni dan Oktober 2015, lebih dari 100.000 kebakaran akibat perilaku manusia ini

menghanguskan 2,6 juta hektar lahan, seluas empat setengah kali Pulau Bali. Bank Dunia memperkirakan bahwa kebakaran tersebut menyebabkan kerugian setidaknya 221 triliun rupiah (16,1 miliar dolar AS) bagi Indonesia, setara dengan 1,9 persen dari PDB tahun 2015 dan lebih dari dua kali lipat biaya pembangunan kembali pasca bencana tsunami di Aceh. Akibat kekeringan yang terkait dengan El Niño dan kebakaran hutan, produksi pertanian riil menurun sebesar 4,9 persen pada kuartal ketiga tahun 2015 (quarter-on-quarter seasonally adjusted annualized rate, qoq-saar), penurunan signifikan yang pertama selama empat tahun terakhir. Kalimantan, tempat di mana sebagian besar lahan gambut yang rawan di Indonesia berada, mendapatkan dampak terbesar, dengan penurunan PDB sebesar 1,2 persen qoq-saar pada kuartal ketiga (-5,1 persen qoq-saar di Kalimantan Timur). Pemerintah telah menetapkan moratorium pada konsesi lahan gambut yang baru, pembatalan konsesi yang telah diberikan pada lahan yang tidak dikembangkan, dan restorasi lahan gambut. Upaya tambahan harus difokuskan pada konservasi hutan-hutan gambut yang tersisa dan menghentikan pengeringan lahan gambut maupun daerah-daerah yang memiliki tingkat keanekaragaman hayati yang tinggi.

Walau defisit neraca berjalan relatif rendah, tekanan dari perekonomian global terus berlanjut

Beralih ke sektor luar negeri, perdagangan semakin melemah pada kuartal ketiga, dengan ekspor dan impor yang mencatat nilai terendahnya sejak tahun 2010. Seperti pada kuartal-kuartal lalu, impor mencatat penurunan yang lebih besar dibanding ekspor, sehingga mendorong penurunan defisit neraca berjalan. Walau penurunan defisit neraca berjalan telah meringankan sebagian tekanan luar negeri kepada

(11)

dengan semakin melemahnya aliran modal masuk …

Indonesia, penurunan aliran modal masuk menghasilkan defisit neraca pembayaran.

Meskipun aliran modal bertahan stabil pada paruh pertama tahun 2015, berkat aliran masuk ke obligasi negara, aliran masuk modal bersih kumulatif selama tiga kuartal pertama tahun 2015, yang mencapai 9,6 miliar dolar AS, sesungguhnya mengalami penurunan hampir sebesar 70 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

Dibandingkan dengan posisi pada bulan Oktober tahun lalu, pembelian bersih investor asing atas surat utang negara (SUN) berdenominasi Rupiah mengalami penurunan sebesar 54,4 persen, sementara utang pemerintah berdenominasi valuta asing mengalami peningkatan sebesar 80 persen. Bagi investor asing, sebagian daya tarik SUN telah berkurang seiring meningkatnya gejolak Rupiah selama tahun 2015.

…membatasi kebijakan moneter dalam jangka pendek, walau dengan inflasi yang cukup terkontrol

Kredit dalam negeri tetap ketat, walau terdapat sejumlah tanda-tanda kenaikan pada pertumbuhan pinjaman investasi. Inflasi Indeks Harga Konsumen (IHK) turun hingga di bawah 5 persen yoy pada bulan November, sebagian besar karena

pengaruh kenaikan harga eceran BBM yang tajam pada tahun lalu (base effect). Namun kebijakan moneter masih terbatas dalam jangka pendek akibat lemahnya aliran modal ke negara-negara berkembang dan berlanjutnya tekanan pada nilai tukar.

Untuk menanggapi kenaikan gejolak Rupiah sejak bulan Agustus, Bank Indonesia (BI) telah mengambil sejumlah langkah dalam rangka menstabilkan Rupiah.

Langkah-langkah tersebut termasuk intervensi terhadap valuta asing pada pasar forward hingga penerbitan Sertifikat Bank Indonesia (SBI) berdenominasi valuta asing. Selain itu, BI juga memperbaharui perjanjian swap bilateral dengan Tiongkok.

Pertumbuhan PDB tahun 2015

diproyeksi sebesar 4,7 persen dan 5,3 persen untuk 2016, tidak berubah dari edisi sebelumnya…

Ke depannya, proyeksi Bank Dunia untuk pertumbuhan PDB tetap pada 4,7 persen untuk 2015 dan 5,3 persen untuk 2016 (Tabel 1).

Walau proyeksi IHK tetap sama seperti pada edisi

bulan Oktober 2015, investasi dan konsumsi publik kini diperkirakan akan memberikan kontribusi yang sedikit lebih tinggi terhadap pertumbuhan tahun ini dan tahun depan, sementara proyeksi pertumbuhan ekspor kembali direvisi turun.

Proyeksi dasar (baseline) telah memperhitungkan komitmen pemerintah untuk meningkatkan alokasi modal pada APBN tahun 2016, yang diharapkan dapat mendorong investasi swasta dan mendukung pertumbuhan secara keseluruhan.

Kenaikan pertumbuhan pada proyeksi dasar (baseline) juga berdasarkan pada asumsi bahwa kondisi luar negeri akan membaik secara perlahan.

Tabel 1: Pada proyeksi dasar (base case), pertumbuhan PDB diproyeksikan pada 4,7 persen untuk tahun 2015

2014 2015p 2016p PDB riil (Persen perubahan

tahunan) 5,0 4,7 5,3

Indeks harga konsumen

(Persen perubahan

tahunan) 6,4 6,3 4,6

Saldo neraca

berjalan (Persen dari PDB) -3,1 -2,0 -2,4

Saldo anggaran* (Persen dari PDB) -2,2 -2,5 -2,2 Catatan: * Laporan realisasi bulan Oktober 2015; proyeksi 2016 dari Kementerian Keuangan.

Catatan: BI; BPS; Kementerian Keuangan; perhitungan staf Bank Dunia

…dengan risiko- risiko terhadap proyeksi yang mengarah pada penurunan

Risiko-risiko global yang utama masih sama seperti yang diuraikan pada edisi bulan Oktober 2015, termasuk penurunan ekonomi negara berkembang yang lebih tajam dibanding proyeksi, termasuk Tiongkok, pemulihan perdagangan dunia yang lebih lambat dari perkiraan, harga-harga komoditas yang lebih rendah dari proyeksi, dan juga kemungkinan kembalinya gejolak pasar keuangan. Di dalam negeri, dengan berubahnya pendorong pertumbuhan dalam jangka pendek ke sektor publik, maka risiko utama dari proyeksi tersebut berasal dari kemungkinan penerimaan fiskal yang lebih rendah dari perkiraan. Penerapan penuh dari rencana belanja pemerintah

(12)

berjalan untuk tahun 2016 akan terancam apabila penerimaan pemerintah masih tetap lemah. Untuk keseluruhan tahun 2015, penerbitan sekuritas pemerintah yang lebih besar pada awal tahun dan tersedianya pembiayaan multilateral telah

membantu memitigasi risiko-risiko keuangan. Per tanggal 2 Desember, pemerintah telah menerima 510,4 triliun rupiah dari penerbitan sekuritas dan 3,89 miliar dolar AS (sekitar 53 triliun rupiah) dari pinjaman resmi luar negeri.

Transfer Dana Desa meningkat tajam, meskipun harus menghadapi tantangan dalam pelaksanaan di awal, kini berpotensi mengatasi masalah ketimpangan pedesaan

Sebagian dari rencana peningkatan belanja infrastruktur publik pada APBN 2016 adalah berupa kenaikan transfer ke pemerintah daerah, termasuk Dana Desa (DD), yang jumlahnya akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2016. Desa-desa dapat berperan lebih penting dalam menjamin pelayanan dasar terhadap kebutuhan penduduk desa. Namun keterbatasan kapasitas desa tampaknya akan terus

membatasi penggunaan dana tersebut, terutama di daerah-daerah terpencil dan terbelakang. Terdapat sejumlah penundaan pencairan dana yang signifikan pada tahun ini, yang menunjukkan buruknya persiapan pada tingkat daerah dan desa.

Selain itu, revisi rumus untuk distribusi DD mengalokasikan 90 persen dari dana itu secara merata antar desa (10 persen sisanya bergantung pada faktor demografis dan geografis). Sebagai akibatnya, desa-desa yang berukuran besar, tempat hidup sebagian besar kaum miskin dan mendekati miskin, menerima alokasi yang jauh lebih rendah per orang. Hal ini justru dapat berkontribusi kepada peningkatan ketimpangan.

Pengaruh TPP terhadap perdagangan mungkin terbatas namun diversifikasi investasi dapat menjadi hal yang lebih penting

Langkah potensial lain dalam proses reformasi Indonesia adalah kemungkinan bergabungnya Indonesia dalam perjanjian ekonomi strategis Trans-Pasifik (Trans- Pacific Partnership, TPP) dalam waktu dekat. Terlepas dari apakah rencana tersebut menjadi kenyataan atau tidak, perjanjian itu tampaknya akan membawa dampak yang tidak terlalu besar terhadap perdagangan, karena tarif impor negara-negara anggota memang sudah rendah dan Indonesia sudah memiliki perjanjian perdagangan dengan sebagian besar negara-negara tersebut. Akan tetapi, bergabungnya Indonesia dalam TPP dapat mempengaruhi investasi, karena pakta itu meningkatkan akses ke ekonomi global dan memberikan perlindungan hukum yang lebih tinggi bagi investor-investor asing dibandingkan dengan jika menggunakan peraturan

perundangan dalam negeri. Hal tersebut dapat mendorong realokasi investor asing keluar dari negara-negara dunia ketiga, termasuk Indonesia, ke negara-negara anggota TPP. Di sisi lain, menjadi anggota suatu pakta tidak hanya akan

mempengaruhi pengambilan kebijakan perdagangan barang saja, misalnya TPP akan mensyaratkan peraturan yang menerapkan perlakuan yang setara kepada perusahaan dalam dan luar negeri. Meskipun TPP memberikan keleluasaan dalam pelaksanaan yang berkaitan dengan peraturan perundangan yang berlaku, TPP dapat pula membatasi pengambilan keputusan di masa depan. Sebagai contoh, para anggota TPP memiliki ruang yang lebih terbatas dalam peraturan perundangan yang

membatasi negara-negara anggota TPP lain. Hal tersebut sangat penting bagi negara seperti Indonesia, yang dibandingkan negara di Asia Tenggara lainnya, masih cukup aktif dalam mempergunakan peraturan yang membatasi perdagangan dan investasi.

(13)

A. Perkembangan ekonomi dan fiskal terkini

1. Meskipun terdapat perbaikan sentimen pasar, kondisi ekonomi luar negeri masih kurang mendukung.

Pertumbuhan dunia kembali

mengecewakan…

Data kuartal ketiga menunjukkan adanya lemahnya perekonomian dunia penuruan selama empat kuartal berturut-turut. Pertumbuhan ekonomi di AS dan kawasan Euro , sementara Jepang memasuki resesi teknis. Di antara negara-negara

berkembang, ekonomi Tiongkok terus mengalami perlambatan, Brazil menghadapi tantangan yang meningkat, sementara ekonomi Rusia mengalami kontraksi. Hanya pertumbuhan PDB India, pada 7,4 persen yoy, yang masih bertahan kuat pada kuartal ketiga.

…menyebabkan penurunan proyeksi harga komoditas

Pertumbuhan dunia yang tetap lemah telah membebani perdagangan dunia dan menurunkan permintaan akan komoditas. Bank Dunia kembali melakukan revisi turun terhadap proyeksi harga komoditasnya pada bulan Oktober (Gambar 1).1 Selain proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia yang lebih lemah dari perkiraan, tingginya persediaan minyak negara-negara OECD, kuatnya produksi minyak negara-negara bukan OPEC, dan proyeksi produksi minyak dari Iran yang lebih tinggi dari perkiraan, menyebabkan proyeksi harga-harga minyak semakin menurun.

Sebagai net-importir minyak, rendahnya harga minyak cenderung menguntungkan Indonesia, namun sekaligus memberi tekanan kepada anggaran pemerintah yang bergantung pada sektor migas, sekitar 20 persen dari penerimaannya.

Penghindaran risiko global (risk aversion) telah menurun namun biaya

Beralih ke perkembangan finansial, aset-aset pasar berkembang kembali meningkat pada bulan Oktober setelah menurun tajam pada bulan Agustus dan September, ketika ketidakpastian tentang perlambatan ekonomi Tiongkok dan prospek suku bunga AS tengah memuncak. Namun sejumlah negara, seperti Brasil, Turki, dan Afrika Selatan, mengalami gejolak baru pada bulan Desember. Walau dengan

1 Bank Dunia, Commodity Markets Outlook, Oktober 2015: http://www.worldbank.org/en/research/commodity- markets.

(14)

pinjaman masih

tetap tinggi kondisi sentimen pasar yang lebih positif, aliran masuk modal ke negara-negara berkembang masih tetap lemah dan biaya pinjaman relatif tinggi. (Gambar 2).

Pemerintah Indonesia ikut diuntungkan dengan stabilnya pasar keuangan dunia akhir-akhir ini

Di Indonesia, pinjaman luar negeri yang dilakukan oleh pemerintah menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, meskipun demikian pasar saham terus mencatat keluarnya aliran modal asing (lihat Bagian 5). Untuk pertama kali sejak bulan Juni, pembelian bersih dari obligasi negara dalam Rupiah oleh investor asing kembali mencatat angka positif pada bulan Oktober (391 juta dolar AS). Seperti halnya sejumlah negara- negara berkembang pada beberapa minggu terakhir, Indonesia telah mengumpulkan 3,5 miliar dolar AS dalam penjualan obligasi internasional (untuk pendanaan dini anggaran tahun 2016) pada tanggal 1 Desember, sebelum kemungkinan terjadinya kenaikan suku bunga di AS.

Gambar 1: Prospek harga komoditas semakin melemah

(indeks harga enam komoditas ekspor utama Indonesia)

Gambar 2: Kondisi keuangan dunia masih ketat bagi negara berkembang

(spread EMBIG, basis poin)

Catatan: Indeks termasuk harga batubara, tembaga, migas, minyak sawit dan karet.

Sumber: Bank Dunia; proyeksi staf Bank Dunia

Sumber: JP Morgan; perhitungan staf Bank Dunia

2. Belanja pemerintah mendukung pertumbuhan PDB yang moderat pada kuartal ketiga

Pertumbuhan yang moderat pada kuartal ketiga

menunjukkan bahwa dibutuhkan upaya kebijakan yang lebih kuat untuk dapat mendorong

pertumbuhan jangka pendek

Pada kuartal ketiga, PDB riil tumbuh sebesar 4,7 persen yoy, laju yang sama pada kuartal pertama dan kedua tahun 2015. Pertumbuhan didukung oleh kenaikan dalam belanja sektor publik, baik konsumsi maupun modal. Pada saat yang bersamaan, investasi sektor swasta diperkirakan akan tetap lemah, dengan sejumlah data (utama) berfrekuensi tinggi mengindikasikan adanya kenaikan pada kuartal keempat,

sementara data yang lain, terutama indikator sentimen usaha, terus melemah.

Kekeringan sebagai dampak dari El Niño dan kerugian akibat asap dan kebakaran hutan di sejumlah provinsi diperkirakan akan berdampak negatif secara material terhadap PDB (lihat Bagian B.1). Hasil pertanian riil turun sebesar 4,9 persen secara penyesuaian musiman kuartal-ke-kuartal yang disetahunkan (quarter-on-quarter seasonally adjusted annualized rate, qoq-saar) pada kuartal ketiga 2015, penurunan signifikan pertama dalam kurun empat tahun terakhir. Kalimantan mengalami dampak terparah, dengan penurunan PDB sebesar 1,2 persen qoq-saar pada kuartal ketiga (-5,1 persen qoq-saar di Kalimantan Timur). Di tengah-tengah meningkatnya ketidakpastian, dan risiko-risiko penurunan yang signifikan terhadap prospek tersebut, Bank Dunia tetap mempertahankan perkiraan pertumbuhan dasarnya

40 60 80 100 120 140 160 180

2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Proyeksi

Oktober 2015 Juli 2015

0 100 200 300 400 500 600

Jan-14 Jul-14 Jan-15 Jul-15

Indonesia Negara berkembang

(15)

(baseline) pada 4,7 persen untuk tahun 2015 dan 5,3 persen untuk 2016. Proyeksi itu mencerminkan kenaikan permintaan luar negeri secara bertahap dan peningkatan belanja modal pemerintah.

Peningkatan belanja pemerintah telah mendorong pertumbuhan konsumsi…

Konsumsi swasta meningkat sebesar 5,0 persen yoy, naik dari 4,7 persen pada kuartal kedua. Namun kenaikan ini sepenuhnya disebabkan oleh meningkatnya belanja oleh lembaga-lembaga nirlaba, sebagai dampak dari menurunnya pembiayaan terkait pemilu pada paruh pertama 2014, yang cukup tinggi dari perbandingan tahunan. Pertumbuhan pengeluaran rumah tangga bertahan pada 5,0 persen yoy untuk empat kuartal berturut-turut. Kontribusi sektor publik terhadap pertumbuhan PDB juga meningkat seiring dengan percepatan pada pencairan belanja, termasuk untuk pembangunan infrastruktur. Konsumsi pemerintah meningkat sebesar 6,6 persen yoy (naik dari 2,1 persen pada kuartal kedua), yang memberikan kontribusi sebesar 0,5 poin persentase yoy terhadap pertumbuhan (Gambar 3).

… dan pertumbuhan

investasi Pertumbuhan investasi meningkat menjadi 4,6 persen yoy, dari 3,7 persen pada kuartal kedua, yang berkontribusi sebesar 1,5 poin persentase terhadap

pertumbuhan yoy. Kenaikan dalam investasi didorong oleh peningkatan belanja konstruksi, permesinan dan peralatan, serta kendaraan. Walau Badan Pusat Statistik (BPS) tidak menerbitkan perincian investasi pemerintah dan swasta, perkiraan belanja modal riil pemerintah (yang dideflasikan dengan deflator jumlah investasi implisit2) menunjukkan percepatan pertumbuhan yang signifikan menjadi 49,8 persen yoy pada kuartal ketiga tahun 2015, memutar tren negatif pada tahun 2014 dan awal 2015 (Gambar 4).

Gambar 3: Pertumbuhan PDB menjadi stabil pada 4,7 persen yoy pada kuartal ketiga 2015…

(kontribusi ke pertumbuhan PDB yoy, poin persentase)

Gambar 4: …didorong oleh kenaikan yang signifikan dalam belanja modal sektor publik secara riil

(pertumbuhan yoy, persen)

Catatan: * Perbedaan statistik termasuk perubahan persediaan.

Sumber: BPS; perhitungan staf Bank Dunia Catatan: Belanja modal riil pemerintah dideflasikan dengan deflator jumlah investasi tetap dari neraca nasional.

Sumber: BPS; Kementerian Keuangan; perhitungan staf Bank Dunia

Namun, volume ekspor maupun impor tetap lemah

Ekspor bersih terus berkontribusi positif terhadap pertumbuhan (1,2 poin persentase yoy), walau tidak sebesar kuartal kedua (1,6 poin persentase). Volume impor turun sebesar 6,1 persen yoy, dibanding dengan -7,0 persen pada kuartal

2 Deflator investasi total implisit dihitung sebagai rasio dari total formasi modal tetap kotor nominal terhadap total formasi modal tetap riil, keduanya diambil dari neraca nasional.

-4 -2 0 2 4 6 8 10

Sep-12 Mar-13 Sep-13 Mar-14 Sep-14 Mar-15 Sep-15 Stat. discrepancy*

Net exports Investment

Government consumption Private consumption GDP

-60 -40 -20 0 20 40 60

Mar-13 Sep-13 Mar-14 Sep-14 Mar-15 Sep-15

(16)

kedua. Ekspor menurun sebesar 0,7 persen yoy secara riil, setelah turun sebesar 0,1 persen pada kuartal kedua. Menurut data dari Biro Analisis Kebijakan Ekonomi Belanda, volume ekspor terus menurun di Asia, dengan rata-rata sebesar 4,3 persen yoy pada kuartal ketiga, dibanding -2,5 persen pada kuartal kedua, karena

permintaan impor pasar berkembang terus membebani perdagangan dunia.

Indikator kegiatan investasi bulanan menunjukkan peningkatan, namun sentimen usaha tetap lemah

Pertumbuhan investasi meningkat dari 1,8 persen qoq-saar pada kuartal kedua ke 7,4 persen pada kuartal ketiga. Terdapat sejumlah bukti akan terjadinya kenaikan lebih lanjut pada kuartal keempat. Percepatan belanja investasi pembangunan berlanjut pada bulan Oktober, dengan belanja modal (nominal) bulanan mencapai 22 triliun rupiah, naik sebesar 11,8 persen dibanding bulan September dan hampir dua kali lipat dibanding jumlahnya pada bulan Oktober 2014. Selain itu, momentum penjualan semen mengalami peningkatan dan impor barang modal – salah indikator perkembangan investasi yang penting – mungkin telah mencapai titik terendahnya pada kuartal ketiga (Gambar 5). Namun, indeks sentimen usaha masih menunjukkan tren yang menurun. Indikator-indikator kegiatan usaha berjalan maupun

perkiraannya yang dihimpun oleh BI terus menurun. Indeks manajer pembelian (purchasing managers index, PMI) Nikkei/Markit untuk manufaktur, sebesar 46,9 pada bulan November, terus mengisyaratkan melemahnya kegiatan ekonomi (Gambar 6).

Gambar 5: Indikator kegiatan investasi bulanan dapat mengisyaratkan kenaikan…

(rata-rata bergerak empat kuartalan untuk pertumbuhan qoq-saar, persen)

Gambar 6: …walau sentimen dunia usaha dan konsumen tetap lemah

(indeks dengan penyesuaian musiman)

Catatan: * Observasi terakhir pada bulan Oktober 2015.

Sumber: BPS; perhitungan staf Bank Dunia Sumber: BI; Nikkei/Markit; perhitungan staf Bank Dunia

PDB diproyeksikan meningkat sebesar 4,7 persen untuk tahun 2015 dan 5,3 persen untuk tahun 2016, pada skenario dasar (base case)

Ke depannya, proyeksi Bank Dunia untuk pertumbuhan PDB tetap pada 4,7 persen untuk 2015 dan 5,3 persen untuk 2016 (Tabel 2). Walau proyeksi IHK tetap sama seperti pada edisi bulan Oktober 2015, investasi dan konsumsi publik kini diperkirakan akan memberikan kontribusi yang sedikit lebih besar terhadap pertumbuhan untuk tahun ini dan tahun depan, sedangkan kontribusi ekspor terhadap pertumbuhan menurun. Revisi ini mencerminkan komitmen pemerintah terhadap alokasi modal yang lebih tinggi dalam APBN tahun 2016 (lihat Bagian 6), yang dapat mendorong investasi swasta dan mendukung pertumbuhan secara keseluruhan. Kenaikan pertumbuhan pada skenario dasar (baseline) tersebut juga berdasarkan pada semakin membaiknya kondisi luar negeri. Bank Dunia

memperkirakan pertumbuhan global akan meningkat menjadi 3 persen pada tahun

-8 -6 -4 -2 0 2 4 6 8 10

0.0 0.5 1.0 1.5 2.0 2.5 3.0

Mar-12 Mar-13 Mar-14 Mar-15

Fixed investment, LHS Capital imports*, RHS

Commercial cement sales*, RHS

0 10 20 30 40 50 60

Jan-14 Jul-14 Jan-15 Jul-15

PMI

Kegiatan usaha berjalan BI Kegiatan usaha - perkiraan BI

(17)

2016, dari perkiraan 2,5 persen untuk tahun ini.3 Namun, kondisi dalam dan luar negeri saat ini, mungkin dapat mempengaruhi skenario dasar (baseline) ke arah penurunan (lihat Bagian 8).

3. Inflasi mengalami moderasi akibat pengaruh dasar (

base effect

), namun risiko-risiko terkait El Niño tetap bertahan

Inflasi IHK turun di bawah 5 persen yoy, terutama karena perbandingan dengan inflasi tahun lalu yang tinggi

Inflasi IHK turun menjadi 4,9 persen yoy pada bulan November, dari 6,2 persen pada bulan Oktober, sebagian besar karena pengaruh dasar (base effect) dari inflasi tinggi akibat kenaikan harga eceran BBM satu tahun lalu (Gambar 7).

Inflasi inti, yang tidak menyertakan harga bahan pangan dan energi yang lebih bergejolak, juga turun menjadi 4,8 persen yoy pada bulan November, dari 5,0 persen pada bulan sebelumnya. Setelah sedikit melambat pada bulan September dan Oktober,

inflasi bahan pangan kembali meningkat pada bulan November secara bulan-ke- bulan. Walau harga eceran beras mengalami peningkatan yang lebih lambat selama dua bulan terakhir, tampaknya karena tingginya persediaan, harga-harga komoditas lain, seperti daging dan sayuran, mengalami peningkatan. Kondisi El Niño yang berkisar dari moderat ke parah telah berpengaruh buruk terhadap produksi pertanian di seluruh Indonesia pada tahun ini, sehingga meningkatkan volatilitas harga bahan pangan.4

Gambar 7: Inflasi IHK turun akibat pengaruh dasar (perubahan yoy, persen; pengamatan terakhir September 2015)

Catatan: Harga bahan pangan adalah rata-rata tertimbang dari komponen harga bahan pangan mentah dan olahan dari IHK.

Sumber: BPS; perhitungan staf Bank Dunia

Inflasi diproyeksikan akan menurun, walau tekanan kenaikan harga yang terkait El Niño diperkirakan akan terjadi pada awal tahun 2016

Bank Dunia memperkirakan laju inflasi IHK rata-rata tahunan sebesar 6,3 persen untuk tahun 2015, dan turun ke rata-rata sebesar 4,6 persen pada tahun 2016. Pada keadaan dasar (base case), perkiraan ini menyertakan pengaruh moderat dari El Niño terhadap harga bahan pangan pada awal tahun 2016.5 Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (Food and Agriculture Organization, FAO), penanaman padi untuk musim utama tahun 2016, yang menghasilkan sebagian besar produksi padi tahunan, mengalami penundaan akibat rendahnya curah hujan pada sebagian besar daerah di Indonesia.6 Selain itu, musim kering diperkirakan akan menyebabkan hasil panen yang lebih rendah dari tanaman yang ditanam terlalu dini, terutama di daerah-daerah yang mengandalkan hujan untuk pengairan. Karena El Niño tetap menjadi risiko utama terhadap prospek inflasi, tanggapan pemerintah terhadap keterbatasan pasokan (yaitu membuka impor beras untuk mengisi persediaan) merupakan penentu harga bahan pangan jangka pendek yang cukup penting.

3 Lihat East Asia Pacific Economic Update, October 2015: Staying the Course.

4 Lihat Bagian B.1 dari laporan ini untuk perkiraan dampak negatif asap dan kebakaran terhadap pertanian (dan sektor-sektor lain) pada bulan Juni-Oktober 2015.

5 Lihat Bagian B.1 dari Triwulanan edisi bulan Oktober 2015 untuk perincian lebih lanjut dari perkiraan ini.

6 Global Information and Early Warning System (GIEWS) untuk pangan dan pertanian, 13 November 2015, Indonesia Country Brief: http://www.fao.org/giews/countrybrief/country.jsp?code=IDN.

0 2 4 6 8 10 12

Apr-13 Oct-13 Apr-14 Oct-14 Apr-15 Oct-15 IHK

Inti Pangan

(18)

Tabel 2: Pada keadaan dasar, pertumbuhan PDB diproyeksikan meningkat ke 5,3 persen pada tahun 2016 (persentase perubahan, kecuali dinyatakan lain)

Tahunan YoY pada kuartal

keempat Revisi tahunan

2014 2015 2016 2014 2015 2016 2015 2016

1. Indikator ekonomi utama

Jumlah pengeluaran konsumsi 4,8 4,8 4,9 4,3 5,3 3,9 0,4 0,0

Pengeluaran konsumsi swasta 5,3 4,9 5,2 4,7 5,4 4,1 0,2 0,0

Konsumsi pemerintah 2,0 3,6 3,2 2,1 4,1 2,4 1,5 0,0

Pembentukan modal tetap bruto 4,1 4,5 5,2 3,7 5,6 4,0 0,8 0,2

Ekspor barang dan jasa 1,0 -0,7 2,3 -0,1 1,7 4,0 -0,5 -2,4

Impor barang dan jasa 2,2 -5,7 1,8 -7,0 1,5 3,7 -2,5 -1,8

Produk Domestik Bruto 5,0 4,7 5,3 4,7 5,2 4,1 0,0 0,0

2. Indikator luar negeri

Neraca pembayaran (Miliar AS$) 15,3 6,3 16,5 - - - 1,3 -0,8

Saldo neraca transaksi berjalan

(Miliar AS$) -27,5 -16,9 -22,2 - - - 0,9 2,7

Sebagai bagian dari PDB (persen) -3,1 -2,0 -2,4 - - - 0,0 0,2

Neraca perdagangan (Miliar AS$) -3,0 6,7 1,9 - - - 0,8 0,7

Saldo neraca keuangan dan modal

(Miliar AS$) 45,4 23,2 38,7 - - - 0,4 -3,5

3. Pengukuran ekonomi lainnya

Indeks harga konsumen 6,4 6,3 4,6 6,5 4,7 5,0 -0,2 -0,6

Deflator PDB 5,4 4,2 4,5 4,8 4,3 3,8 -0,7 -0,8

PDB nominal 10,7 9,2 10,1 9,6 9,5 8,1 -0,5 -0,8

4. Asumsi ekonomi

Kurs tukar (Rp/AS$) 11800 13400 13800 - - - 0 -200

Harga minyak mentah Indonesia

(AS$/barel) 98 51 50 - - - -7 -11

Catatan: Angka ekspor dan impor merujuk kepada volume dari neraca nasional. Semua angka-angka berdasarkan PDB yang direvisi dan diubah dasarnya. Asumsi kurs tukar dan harga minyak mentah adalah berdasar rata-rata terbaru. Revisi-revisi adalah relatif dibanding proyeksi pada Triwulanan edisi bulan Oktober 2015.

Sumber: BPS; BI; CEIC; proyeksi staf Bank Dunia

4. Aliran modal semakin menurun, sesuai dengan tren negara-negara berkembang

Walau surplus perdagangan cukup besar, tekanan luar negeri tetap bertahan dengan semakin melemahnya aliran modal bersih

Walau lebih rendahnya defisit neraca berjalan meringankan sebagian tekanan eksternal terhadap Indonesia, penurunan aliran modal bersih

menyebabkan defisit dalam neraca pembayaran pada kuartal ketiga (Gambar 8).

Meskipun aliran modal tetap kuat pada paruh pertama tahun 2015, disebabkan aliran masuk modal terkait surat utang negara (SUN), jumlah aliran modal bersih pada tiga kuartal pertama pada 2015 mencatat penurunan

hampir sebesar 70 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Walau aliran modal ke negara berkembang diperkirakan akan mulai pulih pada paruh Gambar 8: Neraca keuangan terus menurun

(miliar AS$)

Catatan: Neraca dasar = investasi langsung + saldo neraca berjalan.

Sumber: BI; perhitungan staf Bank Dunia -15

-10 -5 0 5 10 15 20

Sep-12 Sep-13 Sep-14 Sep-15

Current account Direct investment Portfolio investment Other investment Overall balance Basic balance

(19)

pertama tahun 2016, risiko-risiko pembiayaan luar negeri masih tetap tinggi akibat belum pastinya penetapan waktu untuk normalisasi kebijakan moneter AS.

Perdagangan terus melamabatpada kuartal ketiga

Kuartal ketiga tahun 2015 mencatat surplus perdagangan sebesar 4,1 miliar dolar AS.

Ekspor maupun impor mengalami penurunan, sebesar masing-masing 17,4 persen yoy dan 24,6 persen yoy, yang merupakan nilai terendahnya sejak tahun 2010.

Perlambatan perdagangan memiliki cakupan yang luas, dengan penurunan pada ekspor komoditas dan manufaktur, serta impor energi dan non-energi. Peningkatan hanya tercatat pada ekspor tembaga, yang naik sebesar 47,5 persen yoy berkat izin ekspor sementara yang diberikan kepada PT Newmont Nusa Tenggara dan PT Freeport Indonesia, yang berakhir pada akhir bulan September lalu.

Gambar 9: Aliran masuk modal ke negara berkembang diperkirakan akan mencapai titik terendah pada kuartal keempat

(rata-rata bergerak empat kuartalan, miliar AS$)

Gambar 10: Investor asing menjual aset-aset portofolio dalam denominasi Rupiah pada kuartal ketiga 2015 (pembelian asing bersih, miliar AS$; spread EMBIG Indonesia, basis poin)

Sumber: Institute of International Finance; perhitungan staf Bank Dunia

Catatan: SUN – Surat Utang Negara dalam Rupiah; SBI – Sertifikat Bank Indonesia.

Sumber: BI; JP Morgan; perhitungan staf Bank Dunia

Aliran modal turun secara signifikan pada kuartal ketiga, setelah dua kuartal dengan aliran modal masuk yang

memadai…

Aliran masuk modal bersih pada tahun ini lebih rendah dibanding tahun lalu, meskipun terdapat penerbitan obligasi negara yang kuat pada dua kuartal pertama.

Jumlah aliran modal bersih pada tiga kuartal pertama tahun ini mencapai 9,6 miliar dolar AS, yang hanya setara dengan 27 persen dari jumlah tahun lalu atau 72,5 persen dibanding tahun 2013, dimana bank sentral AS (the fed) mengumumkan akan mengurangi stimulus monetarnya. Pada kuartal ketiga, aliran modal bersih mencapai 1,2 miliar dolar AS, dibanding dengan 14,7 miliar dolar AS pada kuartal ketiga tahun 2014 dan 4,6 miliar dolar AS pada kuartal ketiga tahun 2013. Hal ini sejalan dengan tren global perlemahan aliran modal ke pasar-pasar berkembang (Gambar 9). Lembaga Keuangan Internasional (Institute of International Finance) memproyeksikan bahwa perlambatan aliran modal ke tiga puluh ekonomi-ekonomi berkembang utama akan mencapai titik terendahnya pada akhir tahun ini,7 konsisten dengan proyeksi peningkatan pertumbuhan untuk negara-negara tersebut.

…dengan aliran

portofolio dan FDI Pada tiga kuartal pertama tahun 2015, penanaman modal asing secara langsung (foreign direct investment, FDI) mengalami penurunan sebesar 34,2 persen dibanding periode yang sama pada tahun 2014. Terdapat aliran keluar ekuitas bersih dalam

7 Basis data aliran modal Institute of International Finance.

0 5 10 15 20 25 30

0 50 100 150 200 250 300 350 400

Mar-12 Mar-13 Mar-14 Mar-15 Mar-16 Forecast

30 Emerging markets Indonesia, RHS

0 100 200 300 400 500

-4 -2 0 2 4 6 8

Oct-13 Oct-14 Oct-15

Equities SBI SUN

Gov. global bonds EMBIG spread

(20)

yang lebih rendah

dibanding tahun lalu sebagian besar bulan, dengan jumlah aliran keluar bersih sebesar 1,3 miliar dolar AS selama tahun berjalan (Gambar 10). Cukup rendah jika dibandingkan dengan 3,9 miliar aliran masuk bersih selama bulan Januari-Oktober 2014. Pada kuartal ketiga, terdapat penjualan bersih Surat Utang Negara (SUN) dalam Rupiah kepada investor asing sebesar 1 miliar dolar AS – dengan demikian, investor asing secara keseluruhan telah membeli SUN sebesar 5,3 miliar dolar AS selama tahun berjalan. Namun, dibanding tingkatnya hingga bulan Oktober tahun lalu, pembelian bersih SUN oleh investor asing mengalami penurunan sebesar 54,4 persen. Pada saat yang bersamaan, utang-utang pemerintah dalam valuta asing meningkat sebesar 80 persen dibanding periode yang sama tahun lalu. Obligasi internasional masih tetap menarik bagi investor asing dibanding obligasi dalam rupiah karena kenaikan volatilitas Rupiah sepanjang tahun ini.

Proyeksi Bank Dunia untuk defisit neraca berjalan masih tetap pada 2 persen dari PDB untuk tahun 2015 dan 2,4 untuk tahun 2016

Proyeksi defisit neraca berjalan untuk tahun 2015 masih tetap sebesar 2 persen dari PDB (Tabel 3). Walau impor belum meningkat seperti perkiraan, dengan impor bahan baku (di luar BBM) dan barang modal turun – masing-masing sebesar 9,1 persen dan 3,4 persen yoy, pada kuartal ketiga tahun 2015, diperkirakan akan terjadi sedikit penurunan dalam impor pada kuartal terakhir sejalan dengan kenaikan belanja modal pemerintah (lihat Bagian 2).

Sejak Triwulanan edisi bulan Oktober 2015, Bank Dunia telah kembali merevisi turun proyeksi harga komoditasnya.8 Rendahnya harga komoditas diperkirakan akan membatasi penerimaan ekspor Indonesia selama jangka menengah. Pada

saat yang bersamaan, ekspor manufaktur terus mencatat penurunan walau depresiasi kurs tukar valuta cukup terkendali (sebesar 3,8 persen antara bulan Januari dan Oktober) untuk tahun ini. Defisit neraca berjalan pada tahun 2016 telah direvisi turun menjadi 2,4 persen dari PDB, karena proyeksi kenaikan impor yang terkait dengan infrastruktur publik ternyata lebih kecil dari yang diperkirakan sebelumnya.

Tabel 3: Proyeksi defisit neraca berjalan adalah sebesar 2,0 persen dari PDB untuk 2015 (miliar AS$ kecuali dinyatakan lain)

2014 2015 2016

Keseluruhan neraca

pembayaran 15,3 6,3 16,5

Sebagai % dari PDB 1,7 0,7 1,8 Neraca berjalan -27,5 -16,9 -22,2 Sebagai % dari PDB -3,1 -2,0 -2,4 Neraca perdagangan

barang 7,0 15,8 12,1

Neraca perdagangan jasa -10,0 -9,1 -10,2 Penerimaan -29,7 -29,0 -29,4

Transfer 5,2 5,4 5,3

Neraca keuangan dan

modal 45,4 23,2 38,7

Sebagai % dari PDB 5,1 2,7 4,2 Investasi langsung 15,9 11,4 13,1 Investasi portofolio 26,1 10,9 22,9 Derivatif keuangan -0,2 0,1 -0,1 Investasi lain 7,8 0,8 2,7 Catatan:

Neraca dasar -11,6 -5,5 -9,1 Sebagai % dari PDB -1,3 -0,6 -1,0 Catatan: Neraca dasar = saldo neraca berjalan + investasi langsung bersih

Sumber: BI; perhitungan staf Bank Dunia

5. Kondisi keuangan masih tetap ketat, sebagian karena lebih rendahnya aliran masuk modal asing

Walau volatilitas keuangan dunia telah menurun sejak bulan September,

Harga aset-aset Indonesia telah kembali naik setelah gejolak keuangan dunia yang terakhir. Rupiah mencatat apresiasi sebesar 6,3 persen antara tanggal 30 September dan 20 November. Namun aliran keluar modal bersih jangka pendek pada kuartal ketiga membatasi ketersediaan pembiayaan luar negeri (lihat Bagian 4). Kenaikan

8 Bank Dunia, October 2015 Commodity markets outlook: Understanding El Niño, tersedia pada

http://pubdocs.worldbank.org/pubdocs/publicdoc/2015/10/22401445260948491/CMO-October-2015-Full- Report.pdf

(21)

kondisi pembiayaan

masih tetap ketat biaya pinjaman juga menurunkan permintaan untuk dana luar negeri, terutama dari sektor swasta. Pada saat yang bersamaan, terdapat tanda-tanda peningkatan pertumbuhan kredit dalam negeri, terutama pinjaman investasi, sejak bulan Juni.

Ekuitas Indonesia dan Rupiah telah menutup sebagian besar kerugian yang tercatat pada bulan Agustus -

September…

IHSG meningkat sebesar 7,0 persen antara tanggal 30 September dan 7 Desember setelah turun sebesar 11,1 persen antara tanggal 10 Agustus dan 30 September (Gambar 11). Harga-harga ekuitas pada sebagian besar ekonomi berkembang telah pulih dari nilai-nilai rendahnya selama masa gejolak pasar ekuitas yang dipicu oleh depresiasi Renminbi pada tanggal 11 Agustus.9 Namun beberapa negara, seperti Brasil, Turki dan Afrika Selatan, mengalami gejolak baru pada bulan Desember.

Setelah apresiasi yang signifikan sebesar 8,1 persen antara tanggal 2 dan 9 Oktober, Rupiah kembali stabil pada tingkatan awal bulan Agustus, mengikuti tren pasar berkembang secara umum.

…dan biaya

pinjaman pun turun dari nilai

tertingginya akhir- akhir ini

Selisih (spread) dari Emerging Market Bond Index - Global (EMBIG) dari JP Morgan untuk Indonesia mengalami penurunan sebesar 49 basis poin antara tanggal 30 September dan 20 November, setelah meningkat sebesar 125 basis poin antara tanggal 30 Juni dan 30 September. Sementara perubahan dalam selisih EMBIG global, yang mengukur rata-rata biaya pinjaman negara berkembang dalam dolar AS, menunjukkan penurunan sebesar 67 basis poin dan peningkatan sebesar 83 basis poin. Sejalan dengan itu, imbal hasil (yield) obligasi dalam negeri pemerintah

Indonesia untuk 10 tahun turun sebesar 105 basis poin antara tanggal 30 September dan 20 November, setelah naik sebesar 145 basis poin pada kuartal lalu.

Gambar 11:Ekuitas negaraberkembang mencatat peningkatan sejak bulan September

(perubahan periode, persen)

Gambar 12: Utang swasta luar negeri terus melambat pada kuartal ketiga 2015, dengan naiknya beban pinjaman

(pertumbuhan yoy, persen, kiri; rasio terhadap ekspor, persen, kanan)

Sumber: BI; JP Morgan; perhitungan staf Bank Dunia Sumber: BI; perhitungan staf Bank Dunia

Pertumbuhan utang luar negeri

mengalami penurunan, sementara beban

Kenaikan biaya pinjaman luar negeri secara keseluruhan pada tahun ini (termasuk dampak depresiasi Rupiah) – bersamaan dengan lemahnya keuntungan dan naiknya biaya lindung nilai (hedging) valuta asing10 – telah menyebabkan perlambatan

pertumbuhan utang luar negeri. Pinjaman asing tumbuh sebesar 2,7 persen yoy pada bulan September, turun dari 6,3 persen pada bulan Juni dan rata-rata sebesar 11,4

9 Lihat juga Bagian A.5 pada Triwulanan edisi bulan Oktober 2015.

10 Tingkat swap Rupiah-dolar AS satu tahun mencapai rata-rata 12,3 persen pada kuartal ketiga 2015, naik dari 8,5 persen pada kuartal yang lalusebelumnya.

-12 -10 -8 -6 -4 -2 0 2 4 6 8

Aug 10-Sep 30 Sep 30- Dec 7 Brazil Indonesia Malaysia Turkey South Africa

-40 -10 20 50 80 110 140 170 200

-10 0 10 20 30 40 50

Mar-13 Mar-14 Mar-15

External debt / export (RHS) Government and BI Private

(22)

pembayaran utang

meningkat persen pada tahun 2011-2013 (Gambar 12). Pertumbuhan utang swasta luar negeri melambat menjadi 4,1 persen yoy pada bulan September, dari 9,6 persen pada bulan Juni. Pinjaman asing untuk sektor perdagangan, jasa perhubungan dan komunikasi, serta manufaktur mengalami penurunan masing-masing sebesar 22,0, 18,6, 16,6 dan 4,7 persen yoy pada kuartal ketiga. Walau rasio utang terhadap PDB masih tetap moderat, yaitu pada 34,9 persen pada bulan September, kemampuan Indonesia untuk membayar kembali utangnya dari penerimaan ekspor melemah akibat kontraksi ekspor yang signifikan pada tahun ini (sebesar 13 persen yoy pada bulan Januari-September 2015).

BI mengumumkan sejumlah langkah untuk menurunkan volatilitas di pasar valuta asing

Menanggapi kenaikan volatilitas Rupiah pada bulan Agustus dan September, pada tanggal 30 September Bank Indonesia (BI) meluncurkan sejumlah langkah untuk menstabilkan rupiah. Langkah-langkah itu termasuk: intervensi penukaran valuta asing pada pasar forward; perpanjangan masa jatuh tempo fasilitas penyimpanan BI menjadi tiga bulan; pelonggaran persyaratan pelaporan untuk transaksi penukaran valuta asing; penerbitan SBI dalam valuta asing; dan peringanan syarat penyimpanan SBI dari satu bulan ke satu minggu. Walaupun demikian, BI tetap melakukan intervensi terhadap pasar spot valuta asing pada periode-periode yang bervolatilitas tinggi. Selain itu, pada tanggal 16 November, BI memperbarui perjanjian penukaran mata uang bilateralnya dengan Tiongkok dan meningkatkan jumlah maksimumnya menjadi 130 miliar RMB (20 miliar dolar AS) dari 100 miliar RMB. BI juga memiliki perjanjian swap bilateral dengan Jepang sebesar 23 miliar dolar AS dan dengan Korea Selatan sebesar 10,7 triliun KRW.

Pertumbuhan kredit investasi meningkat pada bulan Juni

Pertumbuhan kredit mencatat sedikit peningkatan dari 9,6 persen yoy pada bulan Juli menjadi 10,1 persen pada bulan Oktober, terutama karena kenaikan dalam pertumbuhan kredit investasi (Gambar 13).

Pertumbuhan kredit investasi naik dari 10,1 persen pada bulan Juni ke 12,7 persen pada bulan Oktober. Sejalan dengan penurunan dalam tingkat simpanan sejak bulan Agustus 2014, pertumbuhan simpanan menurun ke 9,0 persen yoy pada bulan

Oktober, dari 13,8 persen pada bulan Juli. Kinerja perbankan relatif stabil, dengan tingkat kredit macet (non-performing loans, NPL) pada 2,7 persen pada bulan

September dan marjin bunga bersih (net interest margin) pada 5,3 persen antara bulan Juli dan September.

Gambar 13: Kenaikan pertumbuhan kredit sejak Juli didorong oleh pinjaman investasi

(pertumbuhan yoy, persen)

Sumber: BI; perhitungan staf Bank Dunia 0

2 4 6 8 10 12 14 16 18 20

Jan-15 Apr-15 Jul-15 Oct-15

Credit investment loan

Working capital Deposit

Referensi

Dokumen terkait

 $er$agai ma7am ma7am manifestasi manifestasi perdarahan perdarahan salah salah sat'n,a sat'n,a adalah adalah perdarahan perdarahan intra7ranial intra7ranial

Berdasarkan PP no.32 tahun 2011, Analisis dampak lalu lintas adalah Berdasarkan PP no.32 tahun 2011, Analisis dampak lalu lintas adalah serangkaian kegiatan kajian

Namun masih terdapat responden yang merasa bahwa promosi iklan produk Sosis Vida yang ditampilkan di modern market berupa poster selembaran dan display produk

Hal ini bisa dilihat dari uji analisis yaitu 0,846 yang apabila dikonsultasikan dengan nilai interpretasi diatas 0,800 – 1,000 Sehingga bisa diambil kesimpulan

Kajian kinerja dan dampak program Sekolah Lapang Pengelolaan Tanaman dan Sumberdaya Terpadu (SL-PTT) padi sawah dilaksanakan di Kecamatan Kramatwatu, Kabupaten Serang yang telah

Dari kegiatan ini diharapkan akan bermafaat bagi masyarakat baik untuk meningkatkan pengetahuan akan pentingnya pola hidup sehat dalam mencegah penyakit diabetes

(5) Dalam hal Pengaduan yang diajukan secara lisan tidak dapat diselesaikan oleh Bank dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Bank wajib meminta

Ketika obat dilibatkan dalam interaksi dengan bahan pembantu untuk membentuk kompleks yang sedikit larut dalam air, kemudian pelepasan obat dapat menjadi lebih lambat dengan