• Tidak ada hasil yang ditemukan

LAPORAN PENELITIAN POLTEKKES KEMENKES PADANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "LAPORAN PENELITIAN POLTEKKES KEMENKES PADANG"

Copied!
31
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN PENELITIAN POLTEKKES KEMENKES PADANG

ANALISIS HAMBATAN KONSELOR DALAM PELAKSANAAN DETEKSI DINI HIV/AIDS PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS RASIMAH AHMAD

KOTA BUKITTINGGI TAHUN 2015

OLEH:

DARMAYANTI.Y.SKM.M.Kes.

NIP: 19600228 198107 2001

PRODI KEBIDANAN BUKITTINGGI POLTEKKES KEMENKES PADANG

2015

KEBIDANAN

(2)

ANALISIS HAMBATAN KONSELOR DALAM PELAKSANAAN DETEKSI DINI HIV/AIDS PADA IBU HAMIL DI PUSKESMAS RASIMAH AHMAD

KOTA BUKITTINGGI TAHUN 2015 Darmayanti.Y.

Program Studi Kebidanan Bukittinggi Poltekkes Kemenkes Padang tahun 2015 ABSTRAK

Generalized HIV epidemis dapat terjadi di Indonesia dengan indikator prevalensi HIV >1% menetap pada kelompok ibu hamil. Setiap tahun di Indonesia 9000 ibu hamil melahirkan positif HIV, Resiko penularan ke janin 30-35 %. Diperkirakan 3000 bayi lahir positif HIV/AIDS.

Penularan terjadi dalam kehamilan, persalinan dan menyusui. Diperlukan deteksi dini untuk perawatan, pengobatan dan pencegahan serta mencegah penularan dari ibu ke janin.Peranan konselor besar sekali dalam pelaksanaan kegiatan ini.Tujuan penelitian untuk mengetahui hambatan konselor dalam pelaksanaan deteksi dini HIV/AIDS pada ibu hamil di Puskesmas Rasimah Ahmad Kota Bukittinggi,

Disain penelitian mixed metode, kuantitatif tentang status deteksi dini HIV/AIDS,sebelum dan sesudah dilakukan konseling, kualitatif tentang hambatan dalam proses konseling. Populasi seluruh ibu hamil diwilayah .kerja Puskesmas Rasimah Ahmad 320 orang, sampel diambil secara accidental sebanyak 49 orang. Informan adalah konselor sebanyak 2 orang. Instrument penelitian kuesioner dan pedoman wawancara. Analisa data kuntitatif dengan tabel distribusi frekuensi, kualitatif dengan deskriptif kualitatif yaitu analisa isi.

Hasil penelitian terjadi peningkatan deteksi dini HIV/AIDS setelah dilakukan konseling yaitu dari 18,2 % menjadi 90 %. Hambatan dalam pelaksanaan konseling adalah stigma masyarakat, takut dilakukan pemeriksaan dan hasilnya, serta ketersediaan waktu konselor.

Disarankan kepada pimpinan puskesmas agar memberdayakan seluruh konselor yang ada, diadakan klinik konselor HIV/AIDS dengan dibuat jadwal konselor secara bergantian, tidak tumpang tindih dengan tugas rutin,ehingga konselor dalam melaksanakan kegiatan lebih baik , sehingga cakupan deteksi dini tes HIV meningkat.

Kata kunci:

HIV/AIDS, Tes HIV, Ibu hamil, konselor

(3)

KATA PENGANTAR

Puji dan syhukur diucapkan kepada Allah Subhanahuwataala yang telah melimpahkan rahmat dan karunia – Nya, sehingga penulis telah dapat menyelesaikan penelitian yang berjudul

“Analisis Hambatan Konselor dalam Pelaksanaan Deteksi dini HIV/AIDS pada Ibu Hamil di Puskesmas Rasimah Ahmad Kota Bukittinggi Tahun 2015 “

Penelitian ini dibuat dalam rangka memenuhi kewajiban dosen dalam mengaplikasikan Tridharma Perguruan Tinggi di Politekknik Kesehatan Kemenkes Padang. Penyusunan penelitian ini tidak terlepas dari dukungan, arahan, serta masukan dari berbagai pihak ,untuk itu penulis mengucapkan terimakasih kepada yang terhormat:

1. Bpk. H. Sunardi,SKM.M.Kes selaku Direktur Poltekkes Kemenkes Padang.

2. Ibu Siti Khadijah, SSiT. M. Biomed selaku Kaprodi Kebidanan Bukittinggi 3. Teman-teman sejawat di Prodi Kebidanan Bukittinggi.

Penulis menyadari bahwa penulisan laporan penelitian ini masih terdapat kekurangannya baik bahasa maupun materinya, namun penulis telah berupaya seoptimalnya .Oleh sebab itu penulis mohon kritik dan saran demi kesempurnannya. Semoga Allah senatiasa melimpahkan rahmat dan karunia-Nya pada kita semua.

Bukittinggi, Desember 2015 Peneliti,

Darmayanti.Y.

NIP :19600228 198107 2001

(4)

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN………...………i

ABSTRAK ………...ii

KATA PENGANTAR ……… iii

DAFTAR ISI……… iv

DAFTAR TABEL ………. vii

DAFTAR GAMBAR ……… …..viii

BAB I PENDAHULUAN1 1.1. Latar Belakang ... 1

1.2. Rumusan Masalah ... 2

1.3. Tujuan Penelitian... 2

1.4. Manfaat Penelitian... 3

1.5. Ruang lingkup………...3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. KONSEP DASAR HIV/AIDS ... 4

2.1.1 Pengertian ... 4

2.1.2 Perjalanan Penyakit HIV/AIDS Tampa Obat ARV ... 4

2.1.3 Penularan HIV/AIDS ... 6

2.1.4 Orang-Orang Yang Beresiko Tinggi Tertular HIV ... 6

2.1.5 Pencegahan HIV... 6

2.2. HIV/AIDS pada Ibu Hamil ... 7

2.2.1Penularaan HIV dari Ibu ke Janin ... 7

2.2.2 Infeksi HIV pada Janin... 7

(5)

2.2.3 Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Janin ... 8

2.2.4 Pengobatan ibu Hamil dan Menyusui ... 8

2.3 Deteksi Dini HIV/AIDS Pada Ibu Hamil ... 8

2.3.1 Tujuan testing HIV ... 9

2.3.2 Metode Tes HIV ... 9

2.3.3 Hal-hal yang harus diperhatikan oleh teknisi laboratorium ... 9

2.4 Kerangka Teori ……… . 10

2.5 Kerangka Konsep ……… ... 11

2.6 Definisi Operasional ……….. … ..11

BAB III METODE PENELITIAN 3.1 Desain Penelitian ... 12

3.2 Waktu dan Tempat Penelitian ... 12

3.3 Populasi dan Sampel ... 12

3.4 Instrumen Pengumpulan Data ... 13

3.5 Teknik Pengumpulan Data………...13

3.6 Pengelohan dan Analisa Data ……….13

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Penelitian dan Pembahasan………..15

4.1.1 Gambaran Umum Pelaksanaan deteksi dini/tes HIV di Puskesmas Rasimah Ahmad Bukittinggi……… 15

4.1.2 Gambaran Karakteristik Responden (input) ………15

4.1.3 Deteksi Dini Tes HIV/AIDS (Input)……….16

4.1.4 Hambatan Dalam Pelaksanaan Deteksi Dini HIV/AIDS (Proses)………16

4.1.5 Hasil Konseling Deteksi Dini IV/AIDS (Output)………...17

(6)

4.2 Pembahasan ………. ...18

4.2.1 Deteksi Dini Tes HIV/AIDS (Output) ……… ………. … 18

4.2.2. Hambatan Dalam Pelaksanaan Deteksi Dini HIV/AIDS (Proses)………19

4.2.3 Hasil Konseling Deteksi Dini IV/AIDS (Output)……….20

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan……….. ….21

2.2 Saran ……….. …. 21 DAFTAR PUSTAKA

(7)

DAFTAR TABEL

Nomor Tabel

Tabel. 4.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden di Puskesmas Rasimah Ahmad Kota Bukittinggi Tahun 2015.……… ………..15

(8)

DAFTAR GAMBAR

Gambar.1 Bagan Perjalanan Penyakit HIV/AIDS tampa obat ARV………4 Gambar.2 Bagan Kerangka Teori HIV /AIDS dalam Kehamilan dan Deteksi Dini

HIV/AIDS……… ...10 Gambar.3 Bagan Kerangka Hambatan Pelaksanaan Deteksi Dini HIV/AIDS ………..11

(9)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah

Perkembangan epidemi HIV/AIDS di Indonesia tergolong yang tercepat di Asia dan berada pada level epidemik terkonsentrasi ( consentrated epidemic ), kecuali Papua termasuk epidemik meluas. Bila hal ini tidak dikendalikan dengan baik, maka akan menjadi generalized HIV epidemis, dengan indikator prevalensi HIV lebih dari 1% menetap pada kelompok ibu hamil.

Sebahagian besar infeksi baru diperkirakan terjadi pada beberapa sub populasi beresiko tinggi yaitu pengguna napza suntik (Penasun), Pekerja seks komersil ( PSK) , Laki-laki suka lelaki ( LSL), Waria, dan ibu hamil ( BPSDM Kes,2014). Pada tahun 2013, Provinsi Sumatra Barat menduduki rangking ke 13 dari 33 propinsi di Indonesia. Di Sumatra Barat Kota Bukittinggi menduduki rangking kedua terbanyak kasus HIV/AIDS setelah kota Padang. Kasus HIV/AIDS didominasi usia 20- 29 tahun. Pada tahun 2014 tercatat 188 kasus. Jumlah HIV/AIDS yang meninggal di Sumbar 156 orang yang berasal dari Padang 73 orang, Bukittinggi 15 orang, Kabupaten Agam 11 orang (Kadinkes Sumbar,2014)

Strategi dan sasaran kebijakan Menkes RI pada tahun 2010-2014 untuk penangulangan HIV/AIDS antara lain :1 ) Menurunkan HIV pada penduduk usia 15-49 tahun menjadi < 0,5 %, 2) Meningkatkan presentasi penduduk usia 15-24 tahun yang memiliki pengetahuan yang komprehensif tentang HIV/AIDS dari 65%. menjadi 95 %,

3) Meningkatkan jumlah penduduk usia >15 tahun yang menerima konseling dan tes HIV dari 300.000 menjadi 700.000. 4) meningkatkan deteksi dini pada ibu hamil. Salah satu tujuan MDGs adalah menurunkan angka kematian ibu oleh HIV/AIDS separuhnya pada tahun 2015.

Penelitian di Sub- Sahara Afrika menemukan 24 % kematian ibu disebabkan oleh infeksi HIV ( Zaba dkk, 2013 ) Untuk itu diperlukan peningkatan jangkauan pada kelompok ibu hamil untuk melakukan deteksi dini agar penularan dari ibu kejanin dapat dicegah.

Bukittinggi merupakan kota wisata dan kota pendidikan, dimana banyak terdapat kelompok masyarakat beresiko tinggi terinfeksi virus HIV yang dengan cepat dapat menularkan pada orang lain. Salah satu kelompok yang beresiko adalah ibu hamil, dimana dapat terjadi penularan virus HIV dari ibu ke janin.

(10)

Setiap tahun di Indonesia terdapat 9000 ibu hamil yang melahirkan positif HIV, Resiko penularan ke janin 30-35 %. Jika tidak ada tindakan pencegahan akan ada 3000 bayi lahir dikhawatirkan positif HIV/AIDS. Penularan dapat terjadi selama dalam kandungan, pada waktu persalinan dan pemberian ASI. Untuk memutus rantai penularan dari ibu ke janin sangat diperlukan deteksi dini yang merupakan pintu masuk untuk melaksanakan perawatan, pengobatan dan pencegahan .

Puskesmas Rasimah Ahmad, salah satu Puskesmas di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi telah melakukan kegiatan konseling dan testing HIV atas prakarsa Petugas Kesehatan (KTPK) sejak tahun 2014, namun pelaksanan tes HIV masih rendah, yaitu 0,85 %.

Target deteksi dini pemeriksan HIV AIDS 20% tahun 2014 (Dinkes Kota Bukittinggi,2014).

Rendahnya ibu hamil yang melaksanakan tes HIV disebabkan oleh beberapa faktor antara lain faktor internal seperti pengetahuan, pendidikan dan sikap disamping itu faktor dukungan keluarga, dukungan petugas, biaya, pelayanan konseling dan tes serta stigma masyarakat.

Penelitian di Mexsiko menemukan hanya 26,9 % ibu hamil yang mengetahui HIV dapat ditularkan ke Janin selama kehamilan ( Chandra.M,dkk, 2013 ) Penelitian lain di Semarang menemukan 15,6 % ibu hamil yang mengetahui HIV dapat ditularkan ke Janin ( Nuraeni dkk, 2011 ) Untuk itu perlu dianalisa hambatan konselor dalam pelaksanaan deteksi dini HIV/AIDS pada ibu hamil di Kota Bukittinggi.

Sebenarnya, semakin cepat seseorang mengetahui status HIV nya, semakin banyak hal positif yang bias dilakukan dalam hidup ini. Banyak orang yang selama ini tidak menyadari resiko perilakunya terhadap kemungkinan tertular ataupun menularkan HIV, dan karena tidak segera menjalani tes HIV perilakunya tetap saja berisiko tinggi. Hal ini tentunya berkaitan erat dengan kesadaran untuk menjaga kesehatan diri sendiri, pasangan maupun (calon)anak-anak

1.2. RumusanMasalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas, maka rumusan masalah penelitian adalah ” Apa sajakah hambatan dalam pelaksanan deteksi dini HIV/AIDS pada ibu hamil di Puskesmas Rasimah Ahmad Kota Bukittinggi tahun 2015?”

1.3 TujuanPenelitian 1.3.1 TujuanUmum

(11)

Untuk mengetahui hambatan dalam pelaksanan deteksi dini HIV/AIDS pada ibu hamil di Puskesmas Rasimah Ahmad Kota Bukittinggi tahun 2015.

1.3.2 Tujuan Khusus

1. Diketahui distribusi frekuensi pelaksanaan deteksi dini tes HIV/AIDS pada ibu hamil di Puskesmas Rasimah Ahmad Kota Bukittinggi tahun 2015.

2. Diketahui hambatan dalam pelaksanaan deteksi dini tes HIV/AIDS pada ibu hamil di Puskesmas Rasimah Ahmad Kota Bukittinggi tahun 2015.

1.4 Manfaat Penelitian

1.4.1 Manfaat Teoritis

Hasil penelitian ini diharapkan sebagai bahan masukan tentang hambatan dalam pelaksanan deteksi dini HIV/AIDS serta bagaimana solusinya, sehingga deteksi dini HIV/AIDS pada ibu hamil lebih meningkat dan penularan HIV/AIDS dari ibu ke janin dapat dicegah.

1.4.2. Manfaat Praktis

Manfaat penelitian untuk memberikan masukan kepada Puskesmas Rasimah Ahmad Kota Bukittiggi tentang hambatan dalam pelaksanaan deteksi dini tes HIV/AIDS pada ibu hamil, sehingga dapat menjadi pedoman untuk perencanan yang akan datang khususnya untuk meningkatkan promosi deteksi dini HIV/AIDS pada ibu hamil. Hasil penelitian ini juga dapat sebagai bahan acuan untuk penelitian lebih lanjut.

1.4.3.Ruang lingkup

Ruang lingkup penelitian ini adalah menggambarkan apa saja hambatan yang ditemui oleh konselor dalam pelaksanaan deteksi dini HIV/AIDS pada ibu hamil, serta bagaimana solusi yang dilakukan, serta saran untuk perbaikan kegiatan kedepannya. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Rasimah Ahmad dari bulan Maret sampai dengan Desember tahun 2015.

(12)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Konsep Dasar HIV/AIDS 2.1.1 Pengertian

HIV kesingkatan dari ( human immunodeficiency virus) yaitu retro virus dari keluarga lenti virus yaitu virus perusak system kekebalan tubuh. Saat ini virus telah menyebar pada jutan orang di dunia .Virus retro ini tidak mungkin berkembang biak di lur sel hidup karena hanya mengandung RNA, tidak mengandung DNA. AIDS kesingkatan dari ( Aquired immunodeficiency syndrome ) yaitu kumpulan gejala dan tanda penyakit akibat ketidak mampuan system tubuh terhadap infeksi virus HIV ( Pusdilat Kes, 2014 )

2.1.2 Perjalanan Penyakit HIV/AIDS Tanpa Obat ARV

Bagan.1 Perjalanan Penyakit HIV/AIDS Tanpa Obat ARV

(13)

Stadium HIV

Seperti bagan di atas perjalan penyakit HIV terdidi dari 5 stadium sebagai berikut:

Stadium I: (Window Period)

1) Rentang waktu pembentukan antibodi HIV 1-6 bulan (antara masuknya HIV kedalam tubuh dan munculnya antibodi terhadap virus tersebut )

2) Tdk terdapat tanda2 khusus tetapi virus tetap berkembang 3) Tidak ada gejala serius / normal

4) Dengan test HIV belum terdeteksi keberadan virus

StadiumII: (HIV+ tanpa gejala) Penderita HIV menunjukkan gejala-gejala terkait HIV tetapi masih dapat beraktifitas normal

1) Terjadi sekitar 2-10 th sejak terinfeksi 2) Terjadi penurunan BB tahun terakhir

3) Muncul ruam kecil di kulit, infeksi jamur kuku, ulcus mulut berulang 4) Herpes zoster

5) ISPA berulang, tonsilitas, OTM, faringitis

Stadium III: (HIV + muncul gejala)

1) Munculnya penyakit terkait HIV dg ditandai dg pembesaran kelenjar limfe 2) Keringat berlebihan dan demam berkepanjangan

3) Diare kronis, flu dan penurunan BB 4) Sariawan

5) Penderita <50% hanya bisa berbaring

Stadium IV : (HIV + muncul gejala)

1) Kondisi kekebalan tubuh sangat lemah ditandai dengan bermacam-macam penyakit 2) Mulai muncul AIDS

3) Muncul Infeksi opurtunistik seperti : kanker kulit ,Candidiasis, Herpes simplex, Nefrofat,kardiomiopati, dll ( PPSDM Kesehatan, 2014)

(14)

2.1.3 Penularan HIV/AIDS

Penularan HIV dapat terjadi bila ada kontak pertukaran cairan tubuh yang mengandung virus sbb:

1) Melalui hubungan seksual yang tidak terlindung dengan seseorang yang mengidap HIV melalui homoseksual dan hetero seksual

2) Melalui trasfusi darah dan trasplantasi organ yang tercemar HIV, secara langsung akan menular ke dalam system peredaran darah si penerima

3) Melalui jarum suntik atau alat tusuk lainnya (Akupuntur, tindik, tato ) yang tercemar oleh HIV, oleh sebab itu pemakaian jarum suntik secara bersama-sama oleh pencandu narkotika akan mudah menularkan diantara mereka bila salah satu ada yang mengidap HIV.

4) Penularan ibu hamil yang terinfeksi ke janin dalam kandungan, penularan dapat terjadi sewaktu hamil, bersalin dan menyusui.

2.1.4 Orang-Orang Yang Beresiko Tinggi Tertular HIV

1) Individu yang sering bergangi – ganti pasangan dalam melakukan hubungan seksual 2) Pejaja seksual dan pelannggannya

3) Pengguna jarum suntik bersama-sama secara bergantian ( Penasun ) 4) Bayi yang dikandung ibu terinfeksi

5) Orangyang memerlukan trasfusi darah secara teratur ( Penderita thalassemia, haemopilia, dll ) bila donor tidak dikakukan skrining

2.1.5 Pencegahan HIV

Pencegahan HIV dilakukan dengan 5 cara ABCDE sbb:

1) Abstinence yaitu tidak melakukan hubungan seks

2) Befaithful yaitu setia pada pasangan (hub monogami dan pasangan juga setia

3) Condom yaitu menggunakan kondom sat hubungan seks dan kondom juga digunakan bagi pasangan yg keduanya HIV+

4) Don’t inject yaitu jangan menggunakan narkoba dg cara suntik karena kebiasan buruk pencandu narkoba sering berganti jarum

5) Education dengan pemberian informasi dari sumber yg kompeten melalui penyuluhan, seminar, pelatihan dll ( PPSDM Kesehatan, 2014

(15)

2.2 HIV/AIDS pada ibu hamil

HIV/AIDS pada ibu hamil adalah bila seorang ibu hamil terinfeksi virus HIV dan diperlukan waktu yang cukup lama untuk berkembang menjadi AIDS. Virus ini dapat menular kepada Janin, infeksi dapat terjadi kapan saja dalam kehamilan, namun sering terjadi beberapa saat sebelum atau selama persalinan, dan menyusui.

2.2.1 Penularan HIV/AIDS dari ibu ke janin

Infeksi pada bayi dan anak 90 % terjadi dari ibu yang mengidap HIV. Sekitar 30-35 % bayi yang dilahirkan dari ibu yang terinfeksi HIV akan tertular virus tersebut . Penularan dapat terjadi selama dalam kandungan melalui plasenta, dalam proses persalinan dan menyusui.

Sebenarnya, semakin cepat seseorang mengetahui status HIV nya, semakin banyak hal positif yang bisa dilakukan dalam hidup ini. Banyak orang yang selama ini tidak menyadari resiko perilakunya terhadap kemungkinan tertular atau pun menularkan HIV, dan karena tidak segera menjalani tes HIV perilakunya tetap saja berisiko tinggi. Hal ini tentunya berkaitan erat dengan kesadaran untuk menjaga kesehatan diri sendiri, pasangan maupun (calon)anak-anak. . Waktu penularan HIV dari ibu ke anak memiliki implikasi yang besar ketika merencanakan strategi pencegahan. Sejumlah studi menunjukkan bahwa sebagian besar (50- 80%) penularan vertikal HIV terjadi pada sekitar waktu lahir, Pemberian ART pada akhir kehamilan atau peri-partum dan operasi caesar elektif.

2.2.2 Infeksi pada Janin

Jika dilakukan tes HIV sebahagian besar bayi yang di lahirkan dari ibu yang positif HIV menunjukkan hasil yang positif. Ini berarti menunjukkan sudah ada anti body HIV dalam darahnya, namun bayi menerima antibody dari ibunya agar terlindung sehingga system antibodynya terbentuk penuh. Jadi hasil tes positif pada awal kehidupan bukan berarti bayi terinfeksi. Resiko bayi terinfeksi HIV tergantung terdeteksinya HIV pada ibu sering ibu datang pada saat akan bersalin saja sehingga resiko tertular lebih tinggi oleh sebab itu diperlukan deteksi dini HIV dalam kehamilan.

Jika bayi ternyata terinfeksi , system kekebalan tubuhnya akan membentk anti body terhadap HIV, dan tes HIV akan terus menerus menunjukkan hasil yang positif. Jika bayi tidak terinfeksi antibody yang didapat dari ibu akan hilang, sehingga hasil tes akan berubah menjadi

(16)

negatif setelah 6-12 bulan. Metode lain untuk mengetahui bayi ter infeksi adalah tes Viral load dilakukn beberapa minggu setelah lahir. Tes ini untuk mencari virus bukan anti body. Tes ini belum tersedia di semua tempat pemeriksan karena harganya mahal.

2.2.3 Pencegahan Penularan dari Ibu ke Janin

Resiko penularan pada bayi dapat dikuragi 8 % dengan meminum obat antiretroviral pada trimester terakhir .

1) Mengkonsumsi obat antiretroviral (ARV) 2) Menjaga proses persalinan tetap singkat

Semakin panjang proses persalinan semakin tinggi proses penularan, bila ibu memakai AZT dan viral load < 1000 resiko hampir nol. Ibu dengan virall load tinggi dapat memakai bedah caesar.

3) Menghindari menyusui

Lebih kurang 14 % bayi terinfeksi HIV melalui ASI yang terinfeksi. Resiko ini dapat dihindari dengan tidak memberikan ASI pada bayi. ASI dapat diganti dengan memberi susu formula.Bia bayi tidak diberi PASI dengan benar resiko lain pada bayi semakin tinggi.

Dalam hal ini ibu harus berhati-hati dan mendapatkan konseling ASI.

2.2.4 Pengobatan Ibu hamil dan menyusui

Penelitian menunjukkan bahwa perempuan hamil positif HIV tidak lebih sakit dibandingkan dengan perempuan yang tidak hamil, berarti kehamilan tidak mempengaruhi perempuan positif HIV, Namun ibu harus mendapatkan pengobatan. Ibu hamil tidak boleh diberikan obat kuinolon dan tetracyklin, Obat yang direkomendasikan adalah golongan sefalosforin . Jika ibu alergi dengan penicillin dan sefalosforin dapat diberikan spetinomicyn 2 gm IM dosis tunggal.

2.3. Deteksi dini HIV/AIDS pada ibu hamil

Deteksi dini HIV/AIDS pada ibu hamil dengan jalan pemeriksan /Testing darah Tes ini dilakukan untuk menegakkan dignosa. Prinsip testing sukarela dan terjaga kerahasiannya.

Testing yang digunnakan adalah testing serologis untuk mendeteksi antibodi dalam serum atau

(17)

plasma. Spesimen adalah darah klien yang diambil secara intervena, plasma atau serumnya.

Pada saat ini belum digunakana spesimen lain seperti saliva dan spot darah kering.

2.3.1 Tujuan testing HIV ada 4 sbb:

1) Untukmembantu menegakkan diagnose 2) Pengamanan darah donor ( skrining ) 3) Untuk surveilans dan penelitian.

Hasil testing yang disampaikan pada klien adalah milik klien, petugas laboratorium harus menjaga mutu dan konfidensialitas . Hindari terjadi kesalahan baik technical error maupun human error dan administrative error. Petugas laboratorium mengambil darah setelah klien menandatangani informed concent( Aditama,tjandra, 2013 )

2.3.2 Metode Tes HIV

Tes HIV dilakukan di labor yang tersedia di Puskesmas. Metode tes yang digunakan sesuai dengan pedoman pemeriksan lab HIV Kemenkes RI.Sebaiknya digunakan tes cepat yang sudah di evaluasi kemenkes. Tes cepat akan mendapatkan hasil yang cepat , serta meningkatkan jumlah orang yang mengambilhasil tes, meningkatkan kepercayan akan hasil , serta terhindar dari kesalahan pencatatan, atau hasil tertuk arantar pasien. Tes cepat tidak memerlukan perawatan khusus dapat dilakukandi sarana pelayanan primer.

Alur tes pada pedoman nasional dianjurkan tes serial sbb:

Serial pertama Apabila tes 1 memberikan hasil negatif / non reaktif maka tes antibody dilaporkan negatif. Bila hasilnya positif diperlukan tes kedua pada sampel yang sama dan reagen yang berbeda. Bila hasil kedua menunjukan reaktif kembali maka didaerah prevalensi 10% atau lebih dianggap sebagai hasil yang positif. Di daerah prevalensi rendah kurang dari 10

% cendrung menunjukan hasil positif palsu maka dilanjutkan dengan tes III.

WHO, UNAIDS dan pedoman Nasional menganjurkan menggunan tes serial karena murah. Tes harus diikuti dengan jaminan mutu untuk meminimalkan positif palsu dan nekatif palsu, jika tidak pasien akan mendapatkn hasil yag salah dan dengan akibat yang serius dan panjang. Tes Virologi yang lebih canggih digunakn untuk ibu positif HIV yang

(18)

merencanakan kehamilannya serta bayi yang berusia dibawah 18 bulan ( Aditama,tjandra, 2013 )

2.3.3 Hal-Hal yang harus diperhatikan oleh teknisi laboratorium

1) Sebelum testing harus didahului dengan konseling dan penandatagani informed concent 2) Hasil tes HIV harus diverifikasi oleh dokter fatologis klinis ( dokter terlatih atau dokter

penangung jawab laboratorium)

3) Hasil diberikan pada klien dalam amplop tertutup

4) Dalam laporan pemeriksan hanya ditulis nomor ( kode pengenal )

5) Jangan memberikan tanda berbeda yang menyolok terhadap hasil positif dan negative.

Meskipun spesimen berasal dari sarana kesehatn yang berbeda tetap harus dipsstikan bahwa klien telah menerima konseling dan menanda tangani informed concent ( Pusdiklat kes, 2014 )

2.7 Kerangka Teori

Kerangka teori penelitian hambatan dalam pelaksanaan deteksi dini HIV/AIDS pada ibu hamil di Puskesmas Rasimah Ahmad Kota Bukittinggi tahun 2015.dapat dilihat pada bagan berikut.

- HAMBATAN

Bagan.2. Kerangka Teori HIV /AIDS dalam Kehamilan dan Deteksi Dini HIV/AIDS HIV DALAM

KEHAMILAN

PENULARAN KE JANIN

DETEKSI DINI ( TES HIV/AIDS)

(19)

2.8 Kerangka Konsep

Kerangka konsep hambatan dalam pelaksanaan deteksi dini HIV/AIDS pada ibu hamil di

Puskesmas Rasimah Ahmad Kota Bukittinggi tahun 2015.dapat dilihat pada bagan berikut

Ibu hamil: -Konseling HIV/AIDS -Ikut tes HIV/AIDS -Tidak Ikut Test

- Pendidikan - Usia

- Sudah/belum deteksi

Bagan.3 Kerangka Konsep Hambatan Pelaksanaan Deteksi Dini HIV/AIDS 2.9 Definisi Operasional

2.9.1. Deteksi dini /Tes HIV/AIDS adalah tes darah untuk memastikan apakah seseorang sudah positif terinfeksi HIV atau tidak, yaitu dengan cara mendeteksi adanya anti body HIV didalam sampel darahnya. Cara ukur dengan wawancara mempergunakan kuesioner.

Hasil ukur:

-Ya : bila ibu hamil sudah melakukan tes HIV/AIDS -Tidak : bila ibu hamil belum melakukan tes HIV/AIDS

2.9.2. Hambatan dalam pelaksanaan deteksi dini HIV/AIDS pada ibu hamil, adalah kendala yang dirasakan oleh konselor dalam melaksanakan konseling kepada ibu hamil untuk dilakukan deteksi dini dengan cara pengambilan sampel darah untuk dilakukan pemeriksaan.

Cara pengumpulan data dengan cara wawancara (indepht interview).

INPUT PROSES OUT PUT

(20)

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan metode penelitian mixed method, yaitu gabungan metode kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif adalah metode penelitian yang berlandaskan pada filsafat post positivism, digunakan untuk meneliti pada kondisi obyek yang alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrument kunci (Sugiyono, 2011). Metode kuantitatif, untuk melihat karekteristik responden dan pencapaian pemeriksaan HIV/AIDS.

3.2. Waktu dan Tempat Penelitian

Penelitian direncanakan dari bulan Maret sampai dengan Desemember 2016. Tempat penelitian dilakukan di Puskesmas Rasimah Achmad Kota Bukittinggi. Alasan pemilihan tempat adalah, Puskesmas ini telah melakukan program konseling dantes sukarela sejak tahun 2014, namun pencapain deteksi dini HIV/AIDS pada ibu hamil masih rendah, yaitu 0,85 %.

3.3 Populasi dan sampel.

Untuk penelitian kuantitatif, populasi dalam penelitian ini adalah ibu hamil diwilayah kerja Puskesmas Rasimah Ahmad Kota Bukittinggi sebanyak 320 orang. Sampel diambil se cara insidentil, yaitu ibu hamil yang berkunjung ke Puskesmas Rasimah Achmad.

Untuk penelitian kualitatif, pemilihan informan memperhatikan prinsip kesesuaian (Apppropiatenees) yaitu berdasarkan pengalaman tentang pelaksanaan deteksi dini HIV/AIDS pada ibu hamil, , dan kecukupan (Adequacy) yaitu dapat menggambarkan seluruh fenomena tentang faktor penyebab terjadinya perilaku tersebut.

Kriteria informan yang dipilih sesuai dengan tujuan penelitian yaitu konselor HIV/AIDS yang bertugas di Puskesmas Perkotaan Kota Bukittinggi dengan latar belakang pendidikan bidan.

Untuk Informan adalah tenaga konselor dengan latar belakang pendidikan bidan yang bertugas di puskesmas, sebanyak 2 orang.

(21)

Kriteria Sampel/Informan Kriteria Inklusi

1. Bersedia menjadi responden penelitian

2. Berada dilokasi penelitian pada saat pengumpulan data.

Kriteria Eksklusi

Tidak bersedia menjadi responden penelitian 3.4 Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan untuk mengetahui karekteristik responden dan deteksi dini HIV/AID dengan menggunakan kuesioner. Untuk mengetahui hambatan pelaksanaan dengan menggunakan pedoman wawancara.

3.5. Tekhnik Pengumpulan Data

Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan tekhnik pengumpulan data wawancara mendalam (Indepth Interview). Wawancara mendalam dilakukan kepada 2 orang informan sebagai konselor dengan menggunakan pedoman wawancara dan alat perekam.

Untuk mendapatkan data yang valid, maka dilakukan uji validitas yang disebut triangulasi meliputi triangulasi sumber dan data. Triangulasi sumber, dilakukan dengan cara menggunakan kelompok informan yang berbeda. Triangulasi data/analisis dilakukan dengan cara analisa dilakukan oleh lebih dari 1 orang, yautu peneliti dan orang lain yang ahli dalam analisa data kualitatif.

3.6. Pengolahan dan Analisa Data

Miles dan Hubermas (2009) dalam bukunya yang berjudul Analisis data kualitatif, mengemukakan bahwa aktifitas dalam analisis data kualitatif dilakukan secara interaktif dan berlangsung secara terus menerus sampai tuntas. Proses analisis ini melalui 4 tahap, yaitu tahap pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.

Analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan dengan jalan bekerja dengan data , mengorganisasikan data, memilah-milahnya menjadi satuan yang dapat dikelola,

(22)

mensintesiskannya, mencari dan menemukan apa yang penting dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa yang dapat diceritakan kepada orang lain (Moleong, 2002)

Langkah-langkah untuk mengolah dan menganalisis data adalah sebagai berikut:

1) Membuat transkrip data

Yaitu memindahkan/menyalin informasi dari bentuk pembicaraan lisan yang direkam dalam kaset kosong dan berbagai informasi yang ada dalam catatan lapangan menjadi bentuk tulisan. Setiap informasi yang ditulis diberi kode sumber data agar tetap dapat ditelusuri, apabila informasi yang didapat dirasa kurang lengkap.

2) Data reduction

Yaitu mengumpulkan, memilah-milah dan mengklasifikasikan data sesuai dengan tema yang sudah ditentukan.

3) Display data

Yaitu peringkasan data yang ditampilkan dalam bentuk matr data kualitatif

4) Conclution drawing and verification

Membuat kesimpulan dan menafsirkan data, menemukan pola dan hubungan serta membuat temuan- temuan umum.

(23)

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1.Hasil Penelitian

4.1.1 Gambaran Umum Pelaksanaan Deteksi Dini Tes HIV/AIDS di Puskesmas Rasimah Ahmad Bukittinggi

Puskesmas Rasimah Ahmad adalah puskesmas perkotan yang terletak di Kelurahan Tengah Sawah, berada di wilayah kerja Dinas Kesehatan Kota Bukittinggi. Puskesmas ini diresmikan pemakaiannya pada tanggal 28 Februari 2008. Kegiatan VCT yaitu konseling sukarela untuk tes HIV/AIDS mulai dilakukan sejak Nonember 2012 . Pelayanan ini dilakukan oleh satu orang dokter dan satu orang perawat yang telah dilatih menjadi konselor.

namun kegiatan ini belum berjalan lancar. Pada bulan Mei pihak Puskesmas kembali mengaktifkan kegiatan layananVCT dan membuat labor untuk tes HIV serta menambah tenaga konselor 1 orang lagi dari perawat. Kegiatan VCT belum mencakup untuk ibu hamil.

Pada tahun 2015 pihak puskesmas melatih satu orang konselor yang berasal dari tenaga bidan, diharapkan dapat merangkul ibu hamil untuk melakukan deteksi dini HIV/AIDS.

4.1.2 Gambaran karakteristik responden (Input)

Gambaran karakteristik responden meliputi umur dan pendidikan dapat dilihat pada tabel berikut ini.

Tabel 4.1 Distribusi Frekuensi Karakteristik Responden di Puskesmas Rasimah Ahmad Kota Bukittinggi Tahun 2015

No Variabel Frekuensi Presentase ( % ) 1 Umur

• <20 tahun

• 20- 35 tahun

• >35 tahun

0 46 3

0 93,9 6,1 2 Pendidikan

• SD

• SMP

• SMA

5 5 23

10,2 10,2 46,9

(24)

• PT 16 32,7

Dari tabel 4.1 terlihat bahwa usia responden terbanyak adalah kisaran umur 20 sampai 35 tahun yaitu 46 orang (93,3%) dan (6,1%) usia diatas 35 tahun, tidak terdapat responden dengan usia < 20 tahun. Hamper separuh (46,9%) pendidikan responden tamatan sekolah menengah atas ( SMA), (32,7%) tamatan perguruan tinggi (PT), sebahagian kecil (10,2%) tamatan sekolah menengah pertama (SMP), dan (10,5%) tamatan sekolah dasar (SD).

4.1.3. Deteksi Dini Tes HIV/AIDS (Input)

Data awal responden tentang melakukan tes HIV/AIDS, didapatkan distribusi frekuensi tes HIV sebahagian besar ( 81,63%) responden belum melakukan tes HIV/AIDS, sebahagian kecil (18, 4 %) sudah melakukan deteksi dini tes HIV/AIDS.

4.1.4. Hambatan dalam pelaksanaan deteksi dini HIV/AIDS (Proses)

Program deteksi dini HIV/AIDS pada ibu hamil disebut PMTCT ( Prevention of mother to child transmission) yaitu upaya pencegahan penularan HIV dari ibu ke bayi.Kegiatannya disebut PITC (Provider initiated testing and counseling) yang direkomendasikan oleh WHO.Di Indonesia didasarkan kepada Permenkes , dimana dianjurkan kepada setiap ibu hamil untuk dilakukan pemeriksaan tes darah HIV/AIDS. Konselor /petugas KIA wajib menawari pasien untuk dilakukan tes darah untuk pemeriksaan HIV/AIDS.target untuk menawari pasien adalah 100%. Dasar pelaksanaan program ini adalah karena terjadinya peningkatan pesat kasus HIV/AIDS pada ibu hamil dan ibu rumah tangga, maka dilakukan upaya pencegahan penyakit menular HIV/AIDS.

Dari hasil wawancara dengan informan, tentang hambatan dalam pelaksanaan deteksi dini HIV /AIDS pada ibu hamil didapatkan beberapa faktor yang menghambat keberhasilan pelaksanaan deteksi dini yaitu:

1) Stigma di masyarakat, seperti yang disampaikan informan dalam wawancara mendalam sebagai berikut;

(25)

Ketika konselor menawarkan untuk dilakukan pemeriksaan / tes darah, respon pasien seolah-olah menuduh mereka termasuk kelompok beresiko Kenapa harus dilakukan,……

2) Ketersediaan waktu konselor.

Waktu konselor tidak mencukupi untuk memberikan konseling, karena mempunyai tugas rutin yaitu di bagian Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) seperti kegiatan pemerikaan kehamilan, pelayanan anak sakit, sehingga belum maksimal melaksanakan konseling.hal ini diungkapkan dalam wawancara mendalam berikut ini:

Waktu yang diperlukan untuk melakukan konseling pra pemeriksaan, dibutuhkan lebih kurang 15 sampai 30 menit setiap pasien. Konselor juga mempunyai tugas rutin yaitu kegiatan KIA, seperti pemeriksaan kehamilan dan anak, sehingga untuk benar-benar memberikan konseling seperti keuntungan, kegunaan tes HIV , belum terlaksana.

Dengan pelaksanaan konseling yang benar yang sesuai dengan tata tertib pemberian konseling, yaitu apa itu HIV/AIDS, bagaimana cara penularannya, siapa saja yang bisa terkena, cara pencegahannya, jika terkena, bagaimana sikapnya, dilakukan runtun, responden akan bersedia.

3) Alasan responden yang tidak bersedia dilakukan tes HIV/AIDS antara lain takut disuntik/takut jarum, takut melihat/menerima hasil pemeriksaan , seperti yang disampaikan oleh respoden berikut ini:

Tidak siap mental untuk melakukan pemeriksaan dan menerima hasilnya, kalau tau hasilnya, shock saya, biarlah nanti saja………

Solusi kegiatan yang dilakukan sekarang adalah dengan integrasi pada setiap kegiatan kelas ibu hamil (KIA). Sehari sebelumnya dilakukan konseling awal. Petugas labor ikut kelapangan, responden yang akan diperiksa, langsung diambil sampel darahnya. Dengan integrasi kegiatan dan lintas program petugas labor, dapat meningkatkan cakupan deteksi dini HIV/AIDS pada ibu hamil.

(26)

4.1.5. Hasil konseling deteksi dini HIV/AIDS ( Out put)

Dari 40 responden yang belum melakukan deteksi dini, setelah dilakukan konseling sesuai dengan tahap-tahap pelaksanaannya, didapatkan hasil 36 responden (90%), bersedia diambil sampel darahnya untuk dilakukan pemeriksaan . 4 responden (10%), belum bersedia melakukan tes darah.

4.2 Pembahasan

4.2.1 Deteksi Dini Tes HIV (Input)

Hasil penelitian ini menemukan, sebelum dilakukan konseling (input) sebahagian kecil responden (18,4%) yang melakukan deteksi dini tes HIV . Hasil ini masih dibawah target Puskesmas Rasimah Ahmad yaitu 20 % pada tahun 2014. Hasil peneitian ini jauh lebih rendah dari penelitian Legiati (2012) yang menemukan ibu hamil telah melakukan deteksi dini 51,1 %.

Deteksi dini tes HIV pada ibu hamil sangat penting untuk mencegah penularan HIV dari ibu ke janin karena ababila status HIV seseorang diketahui merupakan pintu masuk untuk mencegah penularan dengan melakukan perawatan dan pengobatan ( Adytia, 2013

Menurut asumsi peneliti rendahnya deteksi dini tes HIV pada ibu hamil di Puskesmas Rasimah Ahmad adalah karena upaya ini baru dilaksanakan sejak tahun 2012, namun belum dilaksanakan secara intensif, disamping itu konselor yang berasal dari tenaga bidan baru ada 1 orang sejak tahun 2015. Upaya yang dilakukan belum maksimal karena adanya keterbatasan, baik dari kegiatan sosialisasi maupun tenaga. Sesuai dengan anjuran Depkes pemeriksan kehamilan harus memenuhi standar salah satunya adalah tes penyakit menular seksual tetapi hal ini belum sepenuhnya tercapai.

Petugas kesehatan merupakan komponen penting dalam pelayanan kesehatan dan sangat berpengaruh untuk mengambil keputusan dalam melakukan deteksi dini tes HIV.

Kemampuan petugas sebagai konselor pada Puskesmas Rasimah Ahmad sudah melalui pelatihan khusus. menurut asumsi peneliti masih banyak ibu hamil yang belum melakukan tes HIV karena untuk melakukan tes HIV tidak hanya ditentukan oleh keterampilan petugas saja, banyak faktor lain yang berperan seperti ketersediaan waktu untuk melakukan konseling karena bidan yang bertindak sebagai konselor juga melakukan tugas rutinitas yang begitu padat,

(27)

tantangan lain bagi petugas untuk menawarkan tes ke ibu hamil adalah pasien merasa terstigma hal ini dapat menggannggu hubungan antara petugas dengan kliennya, tetapi jika tes ini dilakukan kepada setiap ibu hamil maka ini dianggap suatu hal yang biasa ( Depkes, 2006 ).

Ibu hamil termasuk kelompok khusus yang harus mendapatkan konseling yang terfokus sebelum melakukan tes HIV meliputi : resiko penularan HIV dari ibu ke janin, upaya minimalisasi penularan HIV dari ibu ke janin dengan Antiretroviral, persalinan yang aman dan tidak menyusui bayi (Y.Aditama, 2013 ). Untuk ini konselor diminta dengan sabar menjelaskan sampai klien yakin dan paham serta mau melakukan deteksi dini tampa paksaan.

4.2.2. Hambatan dalam pelaksanaan deteksi dini HIV/AIDS (Proses)

Dari hasil wawancara dengan informan, tentang hambatan dalam pelaksanaan deteksi dini HIV /AIDS pada ibu hamil didapatkan beberapa faktor yang menghambat keberhasilan pelaksanaan deteksi dini yaitu:

1) Stigma di masyarakat.

Responden menganggap ketika ditawari untuk dilakukan deteksi dini HIV/AIDS, mereka beranggapan seakan-akan sudah beresiko /terpapar, bahkan mencurigai HIV/AIDS dan merasa untuk apa/menolak melakukannya. Dalam hal ini konselor harus bisa menyiapkan pasien agar tidak merasa teriintimidasi. Mampu menjelaskan dan meyakinkan kembali maksud dan tujuan deteksi dini, sehingga tidak merasa dicurigai menderita HIV/AIDS, dan merasa perlu untuk melakukan tes HIV.

2) Ketersediaan waktu konselor.

Waktu konselor tidak mencukupi untuk memberikan konseling, karena mempunyai tugas rutin yaitu di bagian Kesehatan Ibu dan Anak (KIA) seperti kegiatan pemerikaan kehamilan, pelayanan anak sakit, sehingga belum maksimal melaksanakan konseling.

Konselor sebaiknya tidak melakukan tugas ganda antara pelaksana pelayanan dan konselor.

Sebaiknya dibuat jadwal layanan konseling, konseloryang melakukan konseling, tidak melakukan kegiatan pelayanan. Tenaga konselor yang ada di Puskesmas Perkotaan Rasimah Ahmad, sebanyak 4 orang, yang terdiri dari 1 (satu) orang dari latar belakang pendidikan DIII Kebidanan, 2(dua) orang dokter dan 2(dua) orang perawat. Semua konselor bisa diberdayakan, dengan cara menyusun jadwal konseling, semua dapat memberikan konseling tapa melihat

(28)

sasarannya. Dengan ini diharapkan kegiatan lebih fokus dan terkosentrasi, lebih baik dan meningkat hasilnya.

3) Responden yang tidak bersedia dilakukan tes HIV/AIDS antara lain takut disuntik/takut jarum, takut melihat/menerima hasil pemeriksaan. Dalam hal ini konselor harus sabar dan tidak mudah menyerah, dilakukan kembali konseling.

Dengan pelaksanaan konseling yang benar yang sesuai dengan tata tertib pemberian konseling, yaitu apa itu HIV/AIDS, bagaimana cara penularannya, siapa saja yang bisa terkena, cara pencegahannya, jika terkena, bagaimana sikapnya, dilakukan runtun, responden akan bersedia

4.2.3. Hasil konseling deteksi dini HIV/AIDS ( Out put)

Setelah dilakukan konseling kepada 40 orang responden, didapatkan 36 orang (90%) bersedia dilakukan tes HIV. Peningkatan cakupan ini dapat disebabkan pelaksanaan konseling yang lebih intensif, sesuai dengan tahap-tahapnya. Ruangan dan suasana yang kondusif, pemakaian alat peraga, sehingga responden memahami pentingnya dilakukan tes HIV, dan bersedia melakukannya.

(29)

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN 5.1 Kesimpulan

Berdasarkan peneltian yang telah dilakukan dapat disimpulkan sbb:

5.1.1. Data awal responden (input) yang telah melakukan tes HIV/AIDS, didapatkan distribusi frekuensi tes HIV/AIDS sebahagian besar ( 81,63%) responden belum melakukan tes HIV, sebahagian kecil (18, 4 %) sudah melakukan deteksi dini tes HIV/AIDS

5.1.2. Hambatan dalam pelaksanaan deteksi dini HIV/AIDS adalah Stigma di masyarakat, Ketersediaan waktu konselor, Responden yang tidak bersedia dilakukan tes HIV/AIDS karena takut disuntik/takut jarum,

5.1.3. Hasil konseling deteksi dini HIV/AIDS ( Out put).

Dari 40 responden yang belum melakukan deteksi dini, setelah dilakukan konseling sesuai dengan tahap-tahap pelaksanaannya, didapatkan hasil 36 responden (90%), bersedia diambil sampel darahnya untuk dilakukan pemeriksaan . 4 responden (10%), belum bersedia melakukan tes darah.

5.2. Saran

5.2.1 Saran Untuk Pihak Puskesmas Rasimah Ahmad

1) Tempat pelaksanaan konseling, sebaiknya disiapkan tempat khusus, yang terpisah dari tempat pelayanan di puskesmas, sehingga pelaksanaan konseling berjalan dengan baik.

2) Konselor sebaiknya tidak melakukan tugas ganda antara pelaksana pelayanan dan konselor. Sebaiknya dibuat jadwal layanan konseling, konseloryang melakukan konseling, tidak melakukan kegiatan pelayanan.Tenaga konselor yang ada di Puskesmas Perkotaan Rasimah Ahmad, sebanyak 4 orang, yang terdiri dari 1 (satu) orang dari latar belakang pendidikan DIII Kebidanan, 2(dua) orang dokter dan 2(dua) orang perawat. Semua konselor bisa diberdayakan, dengan cara menyusun jadwal

(30)

konseling, semua dapat memberikan konseling tapa melihat sasarannya. Dengan ini diharapkan kegiatan lebih fokus dan terkosentrasi, lebih baik dan meningkat hasilnya.

3) Diadakan kegiatan klinik konselor. Seluruh konselor di puskesmas diberdayakan sesuai jadwal.

4) Meningkatkan kegiatan promosi kesehatan yang telah ada, dimana sudah ada iklan dari pusat. Dapat ditingkatkan kegiatan promosi melalui penyebaran leaflet, siaran radio/televisi.

5.2.2 Saran Untuk Peminat Penelitian Selanjut

1) Direkomendasikan untuk meneliti pelaksanan VCT dengan action reaset dan meneliti deteksi dini tes HIV pada kelomok-kelompok beresiko lainnya.

(31)

DAFTAR PUSTAKA

Azwar Sophian,2013. Determinan Penggunaan Pelayanan VCT oleh Ibu Rumah Tangga Beresiko Tinggi HIV Positif, di Kabupaten Biak Nunfor Papua: Tesis Pasca Sarjana Universitas Hasanuddin Makasar

Asmauryanah,Resty dkk, 2014. Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke janin di Puskesmas Jumpandang Baru Makasar: Bahgian Epidemiologi Fakultas Ilmu Kesehataan masyarakat Universitas Hasanuddin

Badan Pemperdayan SDM Kesehatan , 2014.Modul Pelatihan Manajemen HIV-AIDS bagi Tenaga Pendidik.Jakarta

Basia Zabaat all. 2013. Article .Effect of HIV infection on pregnancy-related mortality in sub-Sahara Africa: secondary analyses of pooled communitybased. WHO

Candra.M.Beclea at all, 2015.Jurnal. Lock of knowledge about mother- to child HIV transmission prevention in pregnant woment at Tijuana General hospital, baja California, Mexico

Ditjen PP&PL Kemenkes RI.2014 . Statistik kasus HIV di Indonesia.http// spiritia.or.id Indonesia AIDS community, 2006.Memutus rantai penularan HIV/AIDS dari ibu ke Janin.Jakarta : http:/www. Aids_ina.org

Kadinkes Sumbar .2014. Penderita HIV/AIDS di Sumbar. http //www. Coversia.com Kadinkes Kota Bukittinggi,2014 . Penderita HIV/AIDS di Bukittinggi.http//Klik positif.com/News reads.

Legiati PS, Titi dkk. 2012. Perilaku ibu hamil untuk tes HIV di Kelurahan Bandarharjo dan Tanjung Mas kota Semarang.

Notoatmodjo, Soekidjo, 2003, Ilmu Kesehatan Masyarakat, Jakarta : Rieneka Cipta

Suparyanto, M.Kes. 2013. Konsep Dukungan Keluarga. http//dr-Suparyanto.blokspot.

com.2012

Titik Nuraeni: Jurnal Hubunganpen getahuan ibu hamil tentang HIV/AIDS dan VCT dengan sikap terhadap konseling dan tes HIV/AIDS secara sukarela di Puskesmas Karang Goro Semarang: Fakultas ilmu Keperawatan Universitas semarang.

Syahrir Wahyunita.dkk. 2013 Faktor yang Berhubungan dengan Pemanfaatan Klinik Volountry Counceling and testing (VCT). Di Puskesmas kota Makasar.

Referensi

Dokumen terkait

Dengan mengucap Alhamdulillah segala puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah Subhanahu Wa ta’ala karena berkat rahmat dan hidayah-Nya penulis dapat menyelesaikan

Dalam bukunya berjudul Cognitive Capitalism, Boutang (2011) memberikan sebuah eksplikasi yang komprehensif tentang transisi dari kapitalisme industri (sistem ekonomi

Rumah Sakit Umum Daerah Kota Banjar adalah rumah sakit pemerintah yang hadir dan memberikan pelayanan kesehatan sejak tahun 1930, dahulu dikenal dengan nama Balai

Terakhir, ada hal yang menarik dari kasus ini yaitu mengenai keputusan Coach K untuk mengakhiri masa indah di Duke University sebagai Pelatih program bola basket, juga sebagai

Gel yang digunakan dalam sistem ini terdiri atas gel penumpuk (Stacking gel) yang berpori besar dan Gel pemisah (separating gel/ resolving gel) yang berpori lebih kecil.. Molekul

Jika kupon-kupon tersebut disusun berdasarkan kodenya mulai dari yang terkecil sampai dengan yang terbesar, maka kupon dengan kode 64248 berada pada urutan

a) Papan tanda hendaklah dilekatkan di Bangunan di tempat awam dengan perkataan “KONTRAKTOR MAJLIS PERBANDARAN KLANG – PEMBERSIHAN TANDAS DAN KAWASAN”, sertakan

Staf pengurus perpustakaan Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Maranatha yang telah memperkenankan penulis menggunakan fasilitas dan meminjamkan buku-buku yang diperlukan