• Tidak ada hasil yang ditemukan

EFEKTIVITAS TEKNIK ASSERTIVE TRAINING UNTUK MEREDUKSI KONFORMITAS TEMAN SEBAYA YANG TINGGI : Studi Eksperimen-Kuasi terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 26 Bandung Tahun Ajaran 2014-2015.

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2017

Membagikan "EFEKTIVITAS TEKNIK ASSERTIVE TRAINING UNTUK MEREDUKSI KONFORMITAS TEMAN SEBAYA YANG TINGGI : Studi Eksperimen-Kuasi terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 26 Bandung Tahun Ajaran 2014-2015."

Copied!
28
0
0

Teks penuh

(1)

Nomor : 267/S/PPB/2015

EFEKTIVITAS TEKNIK ASSERTIVE TRAINING UNTUK MEREDUKSI

KONFORMITAS TEMAN SEBAYA YANG TINGGI

(Studi Eksperimen-Kuasi terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 26 Bandung

Tahun Ajaran 2014-2015)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana

Pendidikan Departemen Psikologi Pendidikan dan Bimbingan

oleh

oleh

Frisky Ayu Prima Wandani

NIM 1000458

DEPARTEMEN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

BANDUNG

(2)

Nomor : 267/S/PPB/2015

EFEKTIVITAS TEKNIK ASSERTIVE TRAINING UNTUK MEREDUKSI

KONFORMITAS TEMAN SEBAYA YANG TINGGI

(Studi Eksperimen-Kuasi terhadap Siswa Kelas VIII

SMP Negeri 26 Bandung Tahun Ajaran 2014-2015)

Oleh

Frisky Ayu Prima Wandani

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar

Sarjana Pendidikan Departemen Psikologi Pendidikan dan Bimbingan

Fakultas Ilmu Pendidikan

© Frisky Ayu Prima Wandani. 2015

Universitas Pendidikan Indonesia

Juni 2015

Hak Cipta dilindungi oleh Undang-undang

Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhnya atau sebagian

(3)

Nomor : 267/S/PPB/2015

HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI

FRISKY AYU PRIMA WANDANI

EFEKTIVITAS TEKNIK ASSERTIVE TRAINING UNTUK MEREDUKSI

KONFORMITAS TEMAN SEBAYA YANG TINGGI

(Studi Eksperimen-Kuasi terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 26 Bandung

Tahun Ajaran 2014-2015)

disetujui dan disahkan oleh pembimbing :

Pembimbing I

Dr. Hj. Anne Hafina, M.Pd NIP: 19600704 198601 2001

Pembimbing II

Dra. Chandra Affiandary, A.M.Pd, Psi NIP: 19570611 198609 2001

Mengetahui / Mengesahkan

Ketua Departemen Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia

(4)

ABSTRAK

Frisky Ayu Prima Wandani, 1000458 (2015). Efektivitas Teknik Assertive Training

Untuk Mereduksi Konformitas Teman Sebaya Yang Tinggi (Studi Eksperimen-Kuasi

terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 26 Bandung Tahun Ajaran 2014-2015).

Departemen Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas

Pendidikan Indonesia.

Penelitian bertujuan menguji efektivitas teknik assertive training dalam mereduksi

konformitas teman sebaya yang tinggi pada siswa kelas VIII SMP Negeri 26 Bandung.

Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen-kuasi dan

desain penelitian non-equivalent control group design (pretest-postest dua kelompok).

Sampel penelitian adalah 40 orang siswa kelas VIII di SMP Negeri 26 Bandung tahun

ajaran 2014-2015 dengan tingkat perilaku konformitas tinggi yang ditentukan melalui

teknik non-probability sample secara purposive. Penelitian menggunakan instrumen

perilaku konformitas berupa angket yang di adaptasi dari (Trivia, 2010). Analisis data

menggunakan statistika non parametrik melalui Uji Mann-Whitney. Secara statistik,

perilaku asertif menunjukkan skor sebesar 0,151 dalam mereduksi perilaku konformitas.

Artinya penggunaan teknik assertive training pada penelitian ini belum efektif dalam

mereduksi perilaku konformitas teman sebaya yang tinggi pada siswa Kelas VIII SMP

Negeri 26 Bandung Tahun Ajaran 2014-2015.

(5)

ABSTRACT

Frisky Ayu Prima Wandani, 1000458 (2015). Effectiveness of Assertive Training

Techniques to Reduce High Peer Conformity (Quasi-Experimental Study on Class VIII students of SMP Negeri 26 Bandung School Year 2014-2015). Department of Educational Psychology and Guidance, Faculty of Education, University of Indonesia.

This study was to test the effectiveness of assertive training techniques to reduce high peer conformity eight grade students of SMP Negeri 26 Bandung. The research uses a quantitative approach with quasi-experimental research methods and research design non-equivalent control group design (pretest-posttest two groups). The samples were 40 eighth grade students in Junior High School 26 Bandung 2014-2015 school year with a high degree of conformity behavior determined through non-probability technique purposive sample. The research instrument used was adapted from an instrument conformity behavior (Trivia, 2010). Data analysis using non-parametric statistics through the Mann-Whitney test. Statistically, assertive behavior showed a score of 0.151 in reducing behavioral conformity. This means that the use of assertive training techniques in this study have not been effective in reducing high peer conformity eight grade students of SMP Negeri 26 Bandung School Year 2014-2015.

(6)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

UCAPAN TERIMA KASIH ... iii

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR GRAFIK ... x

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR LAMPIRAN ... xii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1Latar Belakang Penelitian ... 1

1.2Rumusan Masalah Penelitian ... 7

1.3Tujuan Penelitian ... 9

1.4Manfaat Penelitian ... 10

1.5Struktur Organisasi ... 10

BAB II KONSEP TEORI KONFORMITAS DAN TEKNIK ASSERTIVE TRAINING ... 12

2.1Konsep Konformitas Teman Sebaya ... 12

2.2Konsep Teknik Assertive Training... 20

2.3Teknik Assertive Training untuk Mereduksi Konformitas Teman Sebaya yang Tinggi ... 26

2.4Penelitian yang Relevan ... 27

2.5Kerangka Berpikir ... 30

2.6Hipotesis Penelitian ... 31

BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 32

3.1Desain Penelitian ... 32

3.2Partisipan ... 33

3.3Populasi dan Sampel ... 33

3.4Definisi Operasional Variabel (DOV) Penelitian ... 35

(7)

vii

3.6Prosedur Penelitian ... 45

3.7Analisis Data ... 46

BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN ... 52

4.1Deskripsi Temuan Penelitian ... 52

4.2Pembahasan Hasil Penelitian ... 97

4.3Keterbatasan Penelitian ... 104

BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI ... 105

5.1Simpulan ... 105

5.2Implikasi ... 106

5.3Rekomendasi ... 106

DAFTAR PUSTAKA ... xiii

(8)

viii

DAFTAR GRAFIK

Grafik Halaman

4.1 Gambaran Umum Perilaku Konformitas Teman Sebaya……….. 52

(9)

ix

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

3.1 Jumlah Populasi SMP Negeri 26 Bandung ………. 35

3.2 Kisi-kisi Instrumen Perilaku Konformitas (Sebelum Uji Coba) ……… 38

3.3 Kisi-kisi Instrumen Perilaku Asertif (Sebelum Uji Coba)……….. 39

3.4 Kategori Pemberian Skor Alternatif Jawaban ……… 40

3.5 Hasil Uji Validitas Item Perilaku Konformitas ……….. 41

3.6 Hasil Uji Validitas Item Perilaku Asertif ……… 41

3.7 Kriteria Keterandalan (Reliabilitas) Instrumen ……….. 42

3.8 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Perilaku Konformitas ………. 43

3.9 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Perilaku Asertif ………... 43

3.10 Kisi-kisi Instrumen Perilaku Konformitas (Setelah Uji Coba) ……….. 43

3.11 Kisi-kisi Instrumen Perilaku Asertif (Setelah Uji Coba) ……… 44

3.12 Pola Skor Alternatif Jawaban ……….. 47

3.13 Rumusan Kategorisasi Skala (Perilaku Konformitas) ……… 48

3.14 Rumusan Kategorisasi Aspek Perilaku Konformitas ………. 49

3.15 Rumusan Kategorisasi Skala (Perilaku Asertif) ………. 49

3.16 Rumusan Kategorisasi Aspek Perilaku Asertif ……….. 50

3.17 Pengkategorian dan Interpretasi Skor Perilaku Konformitas Siswa ….. 50

3.18 Pengkategorian dan Interpretasi Skor Perilaku Asertif Siswa ………… 51

4.1 Pengkategorian Aspek Perilaku Konformitas Teman Sebaya ………… 53

4.2 Gambaran Perilaku Konformitas Teman Sebaya Berdasarkan Perolehan Skor Rata-rata Setiap Aspek ……….. 54

4.3 Pengkategorian Aspek Perilaku Asertif ………... 56

4.4 Gambaran Perilaku Asertif Berdasarkan Perolehan Skor Rata-rata Setiap Aspek ………... 56

4.5 Deskripsi Perilaku Konformitas dan Kebutuhan Layanan ………. 61

4.6 Sesi Intervensi Teknik Assertive Training ………. 65

4.7 Statistik Deskripsi Pre-Test Perilaku Konformitas ……… 77

4.8 Hasil Uji Normalitas Data Pre-Test Perilaku Konformitas …………... 78

(10)

x

4.10 Statistik Deskripsi Pre-Test Perilaku Asertif ……….. 80

4.11 Hasil Uji Normalitas Data Pre-Test Perilaku Asertif ………. 80

4.12 Hasil Uji Homogenitas Data Pre-Test Perilaku Asertif ………. 82

4.13 Hasil Uji Mann-Whitney Data Pre-Test Perilaku Konformitas ……….. 83

4.14 Hasil Uji Mann-Whitney Data Pre-Test Perilaku Asertif ………... 83

4.15 Batas-batas Korelasi (Pre-Test) ……….. 84

4.16 Uji Korelasi Pre-Test (Kelas Eksperimen) ………. 84

4.17 Kriteria Koefisien Determinasi ………... 85

4.18 Statistik Deskripsi Post-Test Perilaku Konformitas ………... 86

4.19 Hasil Uji Normalitas Data Post-Test Perilaku Konformitas …………... 86

4.20 Hasil Uji Homogenitas Data Post-Test Perilaku Konformitas ………... 88

4.21 Statistik Deskripsi Post-Test Perilaku Asertif ……… 88

4.22 Hasil Uji Normalitas Data Post-Test Perilaku Asertif ……… 89

4.23 Hasil Uji Homogenitas Data Post-Test Perilaku Asertif ………. 90

4.24 Hasil Uji Mann-Whitney Data Post-Test Perilaku Konformitas ………. 91

4.25 Hasil Uji Mann-Whitney Data Post-Test Perilaku Asertif ……….. 92

4.26 Batas-batas Korelasi (Post-Test) ………. 92

4.27 Uji Korelasi Post-Test (Kelas Eksperimen) ……… 93

4.28 Kriteria Koefisien Determinasi ………... 94

4.29 Interpretasi Nilai Gain ……… 95

4.30 Gain Ternormalisasi Kelompok Eksperimen ………. 95

(11)

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Penelitian

Masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju

masa dewasa, masa ini juga merupakan masa klimaks dari perkembangan

sebelumnya karena perkembangan fisik sangat pesat menuju kematangan yang

ditandai dengan kepribadian yang menuju idealis, emosi yang meluap-luap,

menarik perhatian lingkungan, terikat dengan kelompok teman sebaya, dan

pemantapan identitas diri (Gunawan, 2008).

Masa remaja awal (early adolescence) yaitu remaja yang berada pada

tingkat SMP dan pada umumnya berusia antara 12 sampai 15 tahun. Usia ini juga

merupakan usia yang menandai seseorang berintegrasi dengan masyarakat. Masa

remaja merupakan masa yang penuh gejolak dan menghadapi persoalan,

tantangan, konflik serta kebingungan dalam proses menemukan jati dirinya.

Beberapa faktor psikologis yang dianggap sebagai timbulnya masalah remaja

adalah gangguan berfikir (kognitif), gejolak emosional, proses belajar yang keliru

dan relasi yang bermasalah (Santrock, 2012, hlm. 403).

Selama rentang kehidupannya seseorang dihadapkan pada proses

perkembangan berupa tahapan perkembangan yang harus dilalui secara bertahap.

Salah satu dari tahap perkembangan seseorang adalah masa remaja. Pada masa

remaja seseorang mengalami perubahan baik dari segi perkembangan fisik

maupun perkembangan psikologis yang berbeda dari masa sebelumnya yaitu masa

kanak-kanak. Oleh karena itu masa remaja disebut juga sebagai masa transisi dari

masa kanak-kanak, karena pada masa remaja seseorang akan mengalami dan

menemukan berbagai kebingungan, kesulitan, bahkan timbulnya masalah yang

menyebabkan gangguan pada diri seseorang.

Masa remaja juga merupakan periode penting dalam hidup seseorang,

karena pada masa remaja adalah masa sebagai peralihan dan perubahan. Tugas

perkembangan pada masa remaja menuntut perubahan besar dalam sikap dan pola

perilaku seseorang. Salah satu perubahan yang terjadi yaitu perubahan secara

(12)

2

diantaranya: mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya,

mencapai peran sosial sebagai pria atau wanita, menerima keadaan fisik dan

menggunakannya secara efektif, mencapai kemandirian emosional dari orang tua

dan orang dewasa lainnya, dan mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab

secara sosial.

Perubahan sosial pada masa remaja merupakan perubahan yang sulit

dilakukan. Menurut Hurlock (1997, hlm. 213) untuk mencapai tujuan dari pola

sosialisasi dewasa, remaja harus membuat banyak penyesuaian baru, yang

terpenting dan tersulit adalah penyesuaian diri dengan peningkatan pengaruh

kelompok sebaya, perubahan dalam perilaku sosial, kelompok sosial yang baru,

nilai-nilai baru dalam seleksi persahabatan, nilai-nilai baru dalam dukungan dan

penolakan sosial serta nilai-nilai baru dalam seleksi pemimpin.

Masa remaja adalah masa peralihan yang ditempuh oleh seseorang dari

kanak-kanak menuju dewasa. Hurlock (Istiwidayanti dan Soedjarwo, 1992, hlm.

207) mengemukakan bahwa:

Dalam setiap masa peralihan, status individu tidaklah jelas dan terdapat keraguan akan peran yang harus dilakukan. Pada masa ini remaja bukan seorang anak juga bukan seorang dewasa. Jika remaja berperilaku seperti anak-anak ia akan diajari untuk bertindak sesuai usianya. Jika remaja berperilaku seperti orang dewasa, ia seringkali dituduh terlalu besar celananya.

Kondisi ambivalensi seperti itu sering menimbulkan keguncangan pada

remaja. Di satu sisi, remaja menginginkan untuk diperlakukan seperti orang

dewasa, tetapi di sisi lain belum mandiri dan masih memerlukan bimbingan dan

arahan dari orang dewasa.

Erikson (Yusuf, 2000, hlm.188) mengemukakan bahwa masa remaja

berkaitan erat dengan perkembangan sense of identity vs role confusion yaitu

perasaan atau kesadaran akan jati dirinya. Remaja mulai mencari identitas dirinya,

ia mulai mencari jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pada

dirinya sendiri. Yusuf (2000, hlm. 188) mengemukakan bahwa:

(13)

3

situasi-situasi sosial yang tentu saja mengharuskan remaja untuk mengikuti perkembangan lingkungan sosialnya.

Dalam lingkungan sosial remaja dituntut untuk dapat mengikuti setiap

perkembangannya. Dalam hal ini kebanyakan remaja bersedia untuk mengikuti

tuntutan teman sebaya tersebut dalam sebuah kelompok agar dapat diterima dan

bergabung dalam kelompok tersebut.

Kuatnya pengaruh kelompok sebaya pada masa remaja dikarenakan

aktivitas remaja yang lebih banyak di luar rumah dibandingkan di dalam rumah.

Kelompok sebaya akan membentuk sikap, perilaku, minat hingga penampilan

remaja. Menurut Hurlock (1997, hlm. 213) sebagian besar remaja mengetahui

apabila memakai model pakaian yang sama dengan anggota kelompok yang

popular, maka kesempatan untuk diterima oleh kelompok menjadi lebih besar.

Fenomena yang menyebabkan bahwa remaja lebih banyak menghabiskan

waktu di luar bersama teman-teman sebaya sebagai kelompok mengakibatkan

pengaruh teman sebaya pada minat, penampilan dan perilaku lebih besar dari

pengaruh keluarga (Hurlock, 2004, hlm. 213). Hasilnya remaja mulai mengubah

perilakunya agar sesuai dengan kelompok teman sebaya.

Anggota-anggota yang berada dalam satu kelompok biasanya mengikuti

tekanan-tekanan dari kelompok. Sikap patuh tetapi lebih kepada mengalah dikenal

dengan istilah konformitas, yaitu perubahan perilaku seseorang dengan mengikuti

tekanan-tekanan dari kelompok untuk dapat menerima norma-norma kelompok

(Sarwono, 1989, hlm. 178).

Konformitas teman sebaya pada masa remaja sangat bervariasi tergantung

pada sejumlah faktor yaitu: umur, kemampuan untuk berpikir, jenis konformitas

yang diharapkan (untuk menangkal perilaku positif atau negatif), kualitas

hubungan keluarga, harga diri yang dihasilkan dari remaja, dan jenis kelamin.

Konformitas remaja pada teman sebaya pada masa remaja dapat bersifat

positif/negatif. Bentuk konformitas yang negatif diantaranya adalah menggunakan

bahasa jorok, mencuri, merusak dan mengolok-olok orang lain (Santrock, 2003).

Literatur tentang konformitas diisi dengan penemuan bahwa remaja awal

yang paling mungkin dipengaruhi oleh penilaian orang lain. Remaja yang dapat

(14)

4

manfaat dari yang diharapkan dan untuk menambah percaya diri yang

memungkinkan remaja untuk melawan tekanan kelompok (Fuhrmann, 1990, hlm.

116).

Beberapa penelitian terdahulu terkait dengan konformitas pada remaja

telah dibuktikan oleh peneliti sebelumnya. Hasil dari penelitian yang telah

dilakukan sebagai berikut.

Penelitian Permana (2009) menyatakan bahwa aspek konformitas tinggi

ditunjukkan oleh siswa SMAN 4 Bandung tahun ajaran 2007/2008 pada aspek

pengetahuan yang dimiliki individu tentang anggota kelompok, aktivitas

kelompok, tujuan kelompok, serta pemahaman terhadap aturan atau norma

kelompok. Sementara aspek terendah ditunjukkan pada aspek kecenderungan

untuk berinteraksi antara anggota kelompok dengan menghabiskan waktu untuk

berinteraksi dengan kelompok, kecenderungan untuk menyesuaikan perilaku

individu dengan kelompok, serta kecenderungan untuk bekerjasama antara

anggota kelompok.

Penelitian Sianturi (2003) yang berjudul “Hubungan Antara Konformitas

terhadap Kelompok Sebaya dengan Sikap terhadap NAPZA pada Remaja

terdapat hubungan yang signifikan antara konformitas teman sebaya dengan sikap

terhadap NAPZA. Korelasi positif menunjukkan hubungan kedua variabel

penelitian, diartikan semakin tinggi konformitas teman sebaya maka akan semakin

tinggi sikap terhadap NAPZA, atau semakin rendah konformitas teman sebaya

maka semakin rendah pula sikap terhadap NAPZA.

Penelitian Fidiyanti (2008) yang berjudul “Penggunaan Teknik Assertive Training untuk Mereduksi Kebiasaan Merokok pada Remaja” menunjukkan

faktor penyebab remaja merokok dilihat dari faktor lingkungan, teman sebaya

memiliki presentase paling besar yaitu 91,6%. Penggunaan assertive training

memberikan umpan balik yang positif, ditandai dengan adanya perubahan

perilaku yang cukup signifikan.

Berdasarkan hasil penelitian terdahulu yang dipaparkan diatas

membuktikan bahwa masa remaja merupakan masa yang rentan terhadap

pengaruh yang ditimbulkan dari luar diri remaja. Sehingga memicu adanya

(15)

5

perilaku yang dapat mereduksi dan mengontrol remaja dari konformitas teman

sebaya yang tinggi.

Sedangkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan melalui observasi dan

wawancara dengan guru BK di SMP Negeri 26 Bandung, menunjukkan bahwa

remaja khususnya siswa kelas VIII mengalami tingkat konformitas terhadap

teman sebaya yang cukup tinggi. Hal ini dibuktikan bahwa mereka merasa diakui

oleh teman kelompoknya jika mereka mampu melakukan hal yang sama seperti

yang dilakukan oleh teman kelompoknya, memiliki benda atau barang-barang

yang sama dengan teman kelompoknya, serta perilaku yang ditampilkan

sehari-hari memiliki kesamaan dengan teman kelompoknya.

Hal diatas tidak akan menjadi masalah jika terjadi pada siswa yang mampu

menyesuaikan diri dengan segala tuntutan teman kelompoknya sehingga perilaku

yang ditampilkan tidak mengganggu baik bagi diri siswa yang bersangkutan

maupun orang lain di sekitarnya. Akan tetapi pada kenyataannya di lapangan tidak

semua siswa mampu menyesuaikan diri dengan segala tuntutan teman

kelompoknya sehingga siswa yang tidak mampu menyesuaikan diri ini

menampilkan perilaku yang tidak baik dan mengganggu yang dapat merugikan

diri sendiri maupun orang lain di sekitarnya. Perilaku tidak baik yang dianggap

mengganggu ditampilkan siswa semata-mata hanya sebagai upaya yang dapat

dilakukan untuk memperoleh pengakuan dan penerimaan dari teman

kelompoknya.

Adapun fenomena yang terjadi di lapangan bahwa awal mula terbentuknya

kelompok sebaya (peer group) adalah karena teman sepermainan. Di dalam

kelompok sebaya (peer group) anggota satu sama lain terlihat saling membela jika

diketahui ada anggota lain sedang terkena masalah. Contohnya ketika salah satu

anggota dari kelompok sebaya (peer group) mempunyai masalah dengan kakak

kelas atau adik kelas, maka kelompok akan membela anggota kelompok yang

mempunyai masalah tersebut. Kelompok-kelompok yang terbentuk tidak jarang

terlibat perselisihan diantara kelompok lain, baik kelompok di dalam kelas

ataupun di luar kelas (kakak kelas atau adik kelas).

Selain itu, salah satu wujud nyata yang banyak terjadi di kalangan remaja

(16)

6

kalangan remaja adalah intensitas membeli handphone terbaru. Memiliki

handphone dengan merk dan fasilitas canggih yang sama dengan kelompok maka

kehadiran siswa tersebut dalam kelompok akan lebih diterima. Terlebih pada

jaman sekarang handphone sudah barang tentu bukan menjadi hal yang tabu

karena dapat dipakai oleh semua kalangan, termasuk remaja sebagai salah satu

konsumen terbesar. Model yang sangat menarik dan berbagai fasilitas yang

ditawarkan oleh setiap merk handphone menjadi salah satu sorotan bagi remaja

yang selalu mengikuti mode sesuai dengan perkembangan jaman yang ada.

Dengan memakai produk-produk terbaru maka siswa akan merasa tidak

ketinggalan jaman. Apalagi memiliki handphone yang sama dengan yang

digunakan oleh teman kelompok baik dari segi merk maupun fasilitas canggihnya.

Dengan begitu siswa memiliki kepuasan psikologis tersendiri dan ia merasa

bahwa kehadirannya di dalam kelompok tersebut diakui.

Akan tetapi fenomena yang ditemukan di lapangan menunjukkan bahwa

tidak semua siswa mampu membeli handphone seperti yang dimiliki oleh teman

kelompoknya dengan alasan latar belakang ekonomi yang berbeda antar anggota

kelompok. Bahkan ditemukan kasus adanya perilaku tidak terpuji yang telah

dilakukan oleh siswa yaitu mencuri hanya karena siswa tersebut ingin diakui oleh

kelompoknya. Sehingga hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat konformitas

yang tinggi di kalangan remaja dan perilaku yang ditunjukkan sangat mengganggu

yang akan memberikan efek tidak baik dan dapat merugikan bagi siswa itu sendiri

maupun orang lain di sekitarnya.

Myers (1992) menjelaskan perilaku asertif dapat meningkatkan self-esteem

individu yang akan membantu dalam meningkatkan kepercayaan diri individu

tersebut. Mencegah diri menjadi korban yang dimanfaatkan oleh orang lain dan

mendapatkan hak-hak pribadi. Dengan bersikap asertif akan membantu

melindungi harga diri, akan berusaha melawan jika ada ancaman, tidak mudah

menyerah serta memberi perasaan nyaman pada diri sendiri.

Salah satu teknik layanan bimbingan pribadi-sosial adalah penggunaan

teknik assertive training. Teknik assertive training dapat diterapkan pada situasi

interpersonal pada individu yang mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan,

(17)

7

merupakan teknik yang digunakan dengan melatih, mendorong, dan membiasakan

individu untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku

tertentu yang diinginkan (Rusmana, 2009, hlm. 56).

Bimbingan dan konseling di sekolah menengah pertama diharapkan dapat

memberikan intervensi dalam masalah konformitas yang tinggi yang terjadi pada

siswa di sekolah menengah pertama. Berdasarkan berbagai penelitian dan hasil

wawancara yang telah dipaparkan sebelumnya, mengindikasikan bahwa siswa

membutuhkan suatu keterampilan dalam menolak pengaruh yang ditimbulkan

oleh teman sebaya dan diharapkan pula bahwa bimbingan dan konseling dapat

berperan dalam memfasilitasi siswa untuk memperoleh keterampilan dalam

menolak pengaruh yang ditimbulkan oleh teman sebaya dalam perilaku

konformitas yang tinggi. Maka guna membantu remaja dalam berinteraksi sosial

dengan lingkungan diperlukan berbagai upaya bimbingan secara lebih khusus oleh

guru bimbingan dan konseling di sekolah. Atas dasar pemikiran tersebut maka

diperlukan penelitian untuk menguji sebuah teknik yang dapat diberikan oleh guru

bimbingan dan konseling di sekolah tentang “Efektivitas Teknik Assertive

Training untuk Mereduksi Konformitas Teman Sebaya yang Tinggi”.

1.2 Rumusan Masalah Penelitian

Sebagai makhluk sosial, siswa remaja senantiasa berinteraksi dengan

lingkungan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan hidup. Dalam aspek

perkembangan sosial, siswa membutuhkan kondisi-kondisi yang dapat membuat

dirinya mampu menyalurkan kebutuhan sosialnya. Hal ini dapat dilakukan melalui

sosialisasi, yaitu dengan menjalin hubungan dengan orang lain terutama dengan

teman sebaya. Akan tetapi pada kenyataan tidak semua siswa mampu berinteraksi

dengan baik antara teman sebaya dengan tuntutan lingkungan sosialnya. Hurlock

(1999, hlm. 213) menyatakan bahwa pada sebagian remaja mengalami

ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian

diri pada pola perilaku baru dan kemampuan sosial baru. Hal ini sering

menimbulkan ketidakjelasan peran atau posisi remaja.

Ketidakjelasan peran atau posisi diri membuat remaja masih mencari-cari

(18)

8

pencarian tersebut akan mengakibatkan banyaknya informasi ataupun akses

eksternal yang masuk ke dalam diri remaja. Kondisi tersebut ditambah dengan

kestabilan emosi yang masih terbatas serta pola pikir yang cenderung dipengaruhi

oleh lingkungan menyebabkan pengaruh tersebut lebih besar dalam

mempengaruhi pertimbangan yang diambil oleh remaja. Evert Monk, Knoers, dan

Haditano, 1994 (Permana, 2009) mengatakan besarnya pengaruh lingkungan atau

kelompok tersebut sampai pada pemberian norma tingkah laku oleh kelompok.

Bagi remaja yang memiliki kecenderungan kuat untuk memasuki suatu kelompok

maka pengaruh pemberian norma oleh kelompok tersebut akan berdampak pada

timbulnya konformitas yang tinggi. Kondisi ini cenderung menyesuaikan diri

dengan norma kelompok agar mendapatkan penerimaan daripada memperoleh

penolakan dari kelompoknya.

Konformitas muncul ketika individu meniru sikap atau tingkah laku orang

lain dikarenakan tekanan yang nyata maupun dibayangkan oleh mereka. Tekanan

yang sangat kuat terjadi pada masa remaja karena kepekaan terhadap tekanan

teman sebaya meningkat pada awal masa remaja.

Terkait dengan hal tersebut, peneliti memilih SMP Negeri 26 Bandung

sebagai tempat dilakukannya penelitian. Hal ini mengingat bahwa siswa SMP

adalah siswa yang berada pada masa awal pubertas, siswa masih dalam masa

pencarian diri dan senang membandingkan diri dengan orang lain. Sehingga hal

tersebut dapat menimbulkan adanya konformitas terhadap teman sebaya yang

tinggi.

Peran teman sebaya dalam lingkungan sosial sebagai sebuah kelompok

menuntun pada peran strategi bimbingan kelompok. Sehingga terdapat sebuah

penelitian terdahulu yang telah mengkaji dan meneliti mengenai penggunaan

sebuah teknik yang dapat diberikan oleh bimbingan dan konseling di sekolah

untuk mengurangi konformitas yang berlebihan. Teknik tersebut adalah teknik

sosiodrama. Melalui teknik sosiodrama ini siswa diajak untuk belajar

memecahkan dilema-dilema pribadi yang mendukungnya dengan bantuan

kelompok sosial yang anggota-anggotanya adalah teman-teman sendiri. Dengan

kata lain dilihat dari dimensi pribadi, penggunaan teknik sosiodrama ini berupaya

(19)

9

Dalam menyikapi masalah remaja terkait dengan konformitas teman

sebaya selain penggunaan teknik sosiodrama, terdapat pula teknik lain yang dapat

digunakan sebagai upaya yang dapat dilakukan bimbingan dan konseling

khususnya di sekolah. Yaitu teknik assertive training merupakan teknik yang

cocok untuk diterapkan dalam mereduksi konformitas teman sebaya yang tinggi

pada siswa. Teknik tersebut dianggap relevan karena dengan pengekspresian

perasaan, pikiran dan meyakinkan kepada orang lain secara langsung, jujur,

terbuka dan tepat dapat mengajarkan siswa tentang ketegasan dan disiplin dalam

mengambil keputusan berdasarkan hasil pemikiran sendiri, tanpa sikap emosional

dan tanpa bermaksud menyakiti hati orang lain. Sehingga teknik assertive training

ini cukup positif untuk melatih atau membiasakan siswa dalam mengelola dirinya

menghadapi permasalahan yang terkait dengan konformitas teman sebaya yang

tinggi.

Berdasarkan pemaparan diatas maka rumusan masalah dalam penelitian

dibentuk dalam sebuah pertanyaan “Apakah penggunaan teknik assertive training

efektif untuk mereduksi perilaku konformitas teman sebaya yang tinggi?”

Untuk menjawab pertanyaan pada rumusan masalah dilakukan tahap-tahap

pengumpulan data dengan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.

1. Bagaimana gambaran umum perilaku konformitas teman sebaya dan

perilaku asertif siswa Kelas VIII SMP Negeri 26 Bandung Tahun Ajaran

2014-2015?

2. Bagaimana rancangan penggunaan teknik assertive training untuk

mereduksi perilaku konformitas teman sebaya yang tinggi?

3. Bagaimana efektivitas teknik assertive training untuk mereduksi perilaku

konformitas teman sebaya yang tinggi?

1.3 Tujuan Penelitian

Tujuan umum dilaksanakannya penelitian ini adalah menguji efektivitas

teknik assertive training untuk mereduksi perilaku konformitas teman sebaya

yang tinggi pada siswa kelas VIII di SMP Negeri 26 Bandung. Sedangkan tujuan

(20)

10

1. Gambaran umum perilaku konformitas teman sebaya dan perilaku asertif

siswa Kelas VIII SMP Negeri 26 Bandung Tahun Ajaran 2014-2015.

2. Rancangan teknik assertive training untuk mereduksi perilaku konformitas

teman sebaya yang tinggi.

3. Efektivitas teknik assertive training untuk mereduksi perilaku konformitas

teman sebaya yang tinggi.

1.4 Manfaat Penelitian

a. Bagi Guru Bimbingan dan Konseling

Menjadi bahan yang dapat dijadikan sebagai acuan bagi guru bimbingan

dan konseling di sekolah dalam memberikan layanan bantuan, terutama layanan

dengan menggunakan teknik assertive training untuk dapat mereduksi perilaku

konformitas teman sebaya yang tinggi.

b. Bagi Siswa

Sebagai upaya positif yang dapat dimanfaatkan serta diterapkan dalam

kehidupan sehari-hari untuk mereduksi konformitas teman sebaya yang tinggi

baik di sekolah maupun di luar sekolah.

c. Bagi Sekolah

Memberikan kontribusi dalam pembuatan program layanan bimbingan dan

konseling, sehingga dapat menciptakan lingkungan dan suasana yang kondusif

bagi siswa untuk berprestasi.

d. Bagi Pengembang Bimbingan dan Konseling

Sebagai model intervensi bimbingan untuk mereduksi perilaku

konformitas teman sebaya yang tinggi.

1.5 Struktur Organisasi

Sistematika penulisan skripsi disusun menjadi lima bab, sebagai berikut.

Bab I Pendahuluan, meliputi latar belakang penelitian, rumusan masalah

penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan struktur organisasi skripsi.

Bab II Kajian pustaka, meliputi konsep konformitas teman sebaya, konsep

(21)

11

teman sebaya yang tinggi, penelitian yang relevan, kerangka berpikir dan

hipotesis penelitian.

Bab III Metodologi penelitian, meliputi desain penelitian, partisipan,

populasi dan sampel, instrument penelitian, prosedur penelitian dan analisis data.

Bab IV Temuan dan pembahasan, meliputi temuan penelitian berdasarkan

hasil pengolahan dan analisis data, pembahasan hasil temuan penelitian serta

keterbatasan penelitian.

Bab V Simpulan, implikasi dan rekomendasi menyajikan penafsiran dan

pemaknaan terhadap hasil analisis temuan penelitian (simpulan), implikasi

(22)

BAB V

SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI

Berdasarkan hasil temuan penelitian di lapangan dan pembahasan, maka

diperoleh simpulan, implikasi dan rekomendasi yang diharapkan dapat menjadi

masukan dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling serta mengaplikasikan

salah satu teori bimbingan dan konseling yaitu penggunaan teknik assertive

training untuk mereduksi perilaku konformitas teman sebaya yang tinggi.

5.1 Simpulan

Berdasarkan hasil penelitian tentang efektivitas teknik assertive training

untuk mereduksi konformitas teman sebaya yang tinggi di Kelas VIII SMP Negeri

26 Bandung Tahun Ajaran 2014-2015, diperoleh beberapa kesimpulan sebagai

berikut.

1. Secara umum siswa di Kelas VIII SMP Negeri 26 Bandung menunjukkan

perilaku konformitas dan perilaku asertif yang tinggi. Berdasarkan hasil

perhitungan korelasi antara perilaku konformitas teman sebaya dengan

perilaku asertif menunjukkan angka 0.351, yang menunjukkan adanya

korelasi atau hubungan yang rendah. Maka hasil penelitian menunjukkan

bahwa perilaku konformitas tidak ditentukan apakah siswa tersebut sudah

mampu berperilaku asertif atau tidak. Karena perilaku konformitas

terbentuk bukan semata-mata oleh rendahnya perilaku asertif, akan tetapi

dikarenakan adanya dorongan-dorongan lain dan pengaruh lain yang

membentuk perilaku konformitas itu sendiri.

2. Pelaksanaan layanan intervensi untuk mereduksi perilaku konformitas

teman sebaya yang tinggi siswa Kelas VIII SMP Negeri 26 Bandung

Tahun Ajaran 2014-2015 didasarkan pada indikator paling tinggi dalam

setiap aspek perilaku konformitas. Layanan dilaksanakan dalam 6

pertemuan. Program intervensi dilaksanakan dengan menggunakan jenis

(23)

106

3. Teknik assertive training tidak efektif dalam mereduksi perilaku

konformitas teman sebaya yang tinggi pada siswa di Kelas VIII SMP

Negeri 26 Bandung Tahun Ajaran 2014-2015.

5.2 Impilkasi

Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya guru BK untuk mereduksi

perilaku konformitas teman sebaya siswa yang tinggi di sekolah dan menemukan

faktor-faktor apa saja yang dapat menimbulkan konformitas tinggi, agar siswa

memiliki pengetahuan, pendapat, keyakinan, perasaan dan kecenderungan untuk

berinteraksi terhadap perubahan keyakinan atau tingkah laku yang datang dari luar

diri siswa sebagai hasil dari adanya tekanan atau pengaruh negatif teman

kelompok. Selain itu guru BK juga perlu menggunakan latihan asertif (assertive

training) untuk meningkatkan perilaku asertif siswa, agar siswa dapat berperilaku

asertif khususnya terhadap pengaruh negatif yang di timbulkan akibat perilaku

konformitas teman sebaya. Penelitian ini juga memiliki implikasi bagi sekolah

agar dapat menyelenggarakan pendidikan yang memandirikan bagi siswa,

sehingga siswa tidak terlalu bergantung pada teman kelompoknya. Implikasi dari

penelitian ini juga sangat penting bagi peneliti selanjutnya yang memiliki

ketertarikan pada dunia psikologi sosial guna mengembangkan isu-isu fokus

intervensi kepada siswa dengan menggunakan perspektif perilaku inddividu dalam

psikologi sosial.

5.3 Rekomendasi

Rekomendasi penelitian diberikan kepada guru BK, siswa, sekolah dan

peneliti selanjutnya sebagai berikut.

5.3.1 Guru BK

1. Berdasarkan hasil penelitian, pada semua aspek perilaku konformitas

mengalami penurunan dan perilaku asertif mengalami peningkatan.

Namun perubahannya belum terlihat secara signifikan. Dengan demikian,

Guru BK dapat melakukan layanan bimbingan lanjutan agar dapat lebih

(24)

107

2. Berdasarkan hasil penelitian, tidak adanya jam BK yang mengharuskan

peneliti untuk menyesuaikan dengan jadwal siswa di sekolah menjadikan

kurang optimalnya layanan yang diberikan. Oleh karena itu, Guru BK

dapat mengajukan kepada pihak sekolah untuk di adakannya jam BK agar

dapat memberikan layanan bimbingan secara optimal.

5.3.2 Peneliti Selanjutnya

1. Menggunakan jenis layanan konseling kelompok atau konseling individual

agar lebih mengefektifkan dalam pemberian intervensi dengan

menggunakan teknik assertive training pada siswa.

2. Fokuskan penelitian pada siswa yang benar-benar memiliki tingkat

perilaku konformitas pada kategori tinggi dan tingkat perilaku asertif pada

kategori rendah.

3. Pengambilan sampel dapat di lakukan dengan cara memisahkan antara

siswa laki-laki dan perempuan atau di lihat dari latar belakang ekonomi

keluarga.

4. Berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa perilaku asertif

belum dapat mereduksi perilaku konformitas teman sebaya secara

signifikan pada siswa yang sudah mampu berperilaku asertif, maka

disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk benar-benar memilih siswa

yang memiliki perilaku konformitas pada kategori tinggi dan belum

mampu berperilaku asertif (perilaku asertif pada kategori rendah) jika

ingin menggunakan teknik assertive training untuk mereduksi perilaku

konformitas teman sebaya.

5. Penggunaan metode penelitian untuk peneliti selanjutnya disarankan

memilih true-eksperimen guna memperoleh hasil data penelitian yang

lebih akurat.

(25)

DAFTAR PUSTAKA

Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktik). Jakarta: PT. RINEKA CIPTA.

Azwar, Saifuddin. (2003). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.

Baron, Robert A. & Byrne, Donn. (2005). Psikologi Sosial Edisi ke Sepuluh/Jilid

2. Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama.

Corey, Gerald. (2009). Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Alih bahasa (2009) E. Koswara. Bandung: Refika Aditama.

Corey, Gerald. (2010). Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Alih bahasa (2010) E. Koswara. Bandung: Refika Aditama.

Fauziah, Rahmawati. (2010). Penggunaan Teknik Assertive Training Dalam

Mereduksi Perilaku Konsumtif Remaja. Skripsi Jurusan Psikologi

Pendidikan dan Bimbingan UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Fidiyanti, R. (2009). Penggunaan Teknik Assertive Training Untuk Mereduksi

Kebiasaan Merokok Pada Remaja. Skripsi Jurusan Psikologi Pendidikan

dan Bimbingan UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Fuhrmann, Barbara S. (1990). Adolescence, adolest. Second edition. Scott, Foresman and company, Illionis.

Gozali, Trivia Safitri. (2011). Efektivitas Assertive Training Dalam Mereduksi

Perilaku Konformitas Teman Sebaya Yang Berlebihan. Skripsi Jurusan

Psikologi Pendidikan dan Bimbingan UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Gunawan, N. E. (2008). Perkembangan Psikologis Remaja. [Online]. Tersedia: http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/nanang-erma-gunawan- spd/pekembangan-psikologis-remaja-talk-show-untuk-anak-smpread-only-compatibility-mode.pdf.

Hadijah, Ai Siti. (2010). Kontribusi Konformitas Terhadap Pencapaian Identitas

Diri Remaja. Skripsi Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan UPI

(26)

xiv

Hake, R.R. (1998). Interactive engagement methods in introductory mechanics

courses. [Online]. Diakses dari:

http://www.physics.indiana.edu/~sdi/IEM-2b.pdf.

Haniah, Pani Siti. (2011). Assertive Training Untuk Mencegah Perilaku

Penyalahgunaan NAPZA Pada Remaja. Skripsi Jurusan Psikologi

Pendidikan dan Bimbingan UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Herdiyanti, Yussi. (2013). Assertive Training Untuk Mereduksi Peserta Didik

Yang Mengalami Gejala Adiksi Handphone. Skripsi Jurusan Psikologi

Pendidikan dan Bimbingan UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Hurlock, Elizabeth. (1997). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.

Hurlock, Elizabeth. (1999). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan

Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.

Lange, A. dan Jakubowski, P. (1978). Responsible Assertive Behavior: Cognitive

Behavior Procedures for Trainners. USA: Research Press.

Mardiani, Amelia. (2007). Hubungan Antara Konformitas Terhadap Teman

Sebaya Dengan Kecenderungan Gaya Hidup Experiencers Pada Siswa Kelas XI SMA Labschool Jakarta. Skripsi Program Studi Psikologi

Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang: Tidak diterbitkan.

Mousa, Amal A. (2011). The Effect on Assertiveness Training Program on

Assertiveness Skill and Social Interaction Anxiety of Individuals with Scizophreniai. Journal of American Science.

Myers, David G. (2002). Social Psychology (7th edition). Sanfransisco: Mc. Grow

Hill. Inc.

Myers, David G. (2010). Psiikologi Sosial Edisi 10/Buku 1. Alih bahasa (2012). Tusyani, A. dkk. Jakarta: Salemba Humanika.

Myers, Gail E. dan Michele, T. M. (1992). The Dynamics of Human

Communication: A Labory Approach. Singapura: McGraw-Hill inc.

Nurhayati, Rika. (2011). Teknik Sosiodrama Untuk Mengurangi Konformitas

Yang Berlebihan Pada Siswa. Skripsi Jurusan Psikologi Pendidikan dan

(27)

xv

Nurihsan, A.J. & Agustin, M. (2011). Dinamika Perkembangan Anak dan

Remaja. Bandung: PT. Refika Aditama.

Oktariana, Yohana. (2012). Program Bimbingan Pribadi Sosial Menggunakan

Assertive Training Untuk Meningkatkan Disiplin Diri Siswa. TESIS.

Publikasi SPS BK UPI, Bandung: Tidak diterbitkan.

Permana, M. Zein. (2009). Hubungan Pengungkapan Diri (self-disclousure)

dengan Konformitas (conformity) Remaja. Skripsi Jurusan Psikologi FIP

UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

Prastiwi, Any. (2014). Penerapan Strategi Assertive Training Untuk Mereduksi

Perilaku Konformitas Pada Teman Sebaya Kelas XI IPS 4 SMAN 3 Lamongan. Jurnal Online Universitas Negeri Surabya.

Rathus, S.A., dan Nevid, J.S. (1980). Behavioral Therapy Strategies of Problem

Solving in Living. New York: A Signet Book.

Rosita, Herni. (2012). Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Kepercayaan

Diri Pada Mahasiswa. E-Journal Psikologi. [Online]. Tersedia:

http://publication.gunadarma.ac.id/handle/123456789/1837.

Rusmana, Nandang. (2009). Bimbingan dan Konseling Kelompok di Sekolah

(Metode, Teknik dan Aplikasi). Bandung: Rizqi Press.

Santrock, John W. (2003). Adolescence Perkembangan Remaja (6th edition).

Jakarta: Erlangga.

Santrock, John W. (2007). Adolescence Perkembangan Remaja (alih bahasa

Shinto B. Adelar dan Sherly Saragih). Jakarta: Erlangga.

Santrock, John W. (2012). Life-Span Development Perkembangan Remaja

Masa-Hidup Edisi Ketigabelas Jilid 1 (alih bahasa Benedictine Widyasinta).

Jakarta: Erlangga.

Sarwono, Sarlito W. (1989). Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali.

Sears, David O dkk. (1985). Psikologi Sosial Edisi Kelima (Jilid 2) (alih bahasa

(28)

xvi

Setiawati. (2001). Perkembangan Remaja. [Online]. Tersedia: http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI_PEND_DAN_BIMBI

NGAN/196211121986102-SETIAWATI/TUGAS_Perkembangan_Remaja_%5BCompatibility_Mode %5D.pdf.

Sianturi, Endang I. (2003). Hubungan Antara Konformitas Terhadap Kelompok

Sebaya Dengan Sikap Terhadap NAPZA Pada Remaja. Skripsi Fakultas

Psikologi UNPAD Jatinangor: Tidak diterbitkan.

Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif,

Kualitatif, dan R&D). Bandung: ALFABETA.

Referensi

Dokumen terkait

Hal tersebut menunjukkan bahwa ada hubungan yang negatif antara harga diri dan konformitas teman sebaya pada siswa kelas VIII SMP Negeri 17 Surakarta dan hubungan tersebut

Penelitian ini dapat memberikan pengetahuan kepada keluarga tentang hubungan antara penerimaan teman sebaya dengan penyesuaian sosial pada remaja wanita yang mengalami

Efektivitas Bimbingan Teman Sebaya Untuk Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa (Penelitian Eksperimen Kuasi Terhadap Siswa Kelas VII SMP Negeri 1 Lembang Tahun

Hubungan Pola Komunikasi Keluarga dengan Penerimaan Sosial Teman Sebaya Remaja Tunarungu di Sekolah Luar Biasa Kabupaten Jember ( The Correlation of Family

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas penggunaan media sosial dan konformitas teman sebaya dengan gaya hidup hedonis, hubungan

Eksistensi teman sebaya sangat urgen dalam menentukan sikap dan perilaku, karena remaja berusaha untuk bebas dari keluarga dan tidak tergantung kepada orang tua,

Sedangkan regulasi emosi merupakan kemampuan individu dalam memelihara dan mengelola emosi sehingga individu mampu membangun interaksi sosial yang baik dengan teman sebaya..

Adanya hubungan positif antara konformitas terhadap kelompok teman sebaya dengan pembelian impulsif pada remaja dalam penelitian ini tidak lepas dari trend fashion dikalangan