Nomor : 267/S/PPB/2015
EFEKTIVITAS TEKNIK ASSERTIVE TRAINING UNTUK MEREDUKSI
KONFORMITAS TEMAN SEBAYA YANG TINGGI
(Studi Eksperimen-Kuasi terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 26 Bandung
Tahun Ajaran 2014-2015)
SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi sebagian Syarat Memperoleh Gelar Sarjana
Pendidikan Departemen Psikologi Pendidikan dan Bimbingan
oleh
oleh
Frisky Ayu Prima Wandani
NIM 1000458
DEPARTEMEN PSIKOLOGI PENDIDIKAN DAN BIMBINGAN
FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA
BANDUNG
Nomor : 267/S/PPB/2015
EFEKTIVITAS TEKNIK ASSERTIVE TRAINING UNTUK MEREDUKSI
KONFORMITAS TEMAN SEBAYA YANG TINGGI
(Studi Eksperimen-Kuasi terhadap Siswa Kelas VIII
SMP Negeri 26 Bandung Tahun Ajaran 2014-2015)
Oleh
Frisky Ayu Prima Wandani
Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar
Sarjana Pendidikan Departemen Psikologi Pendidikan dan Bimbingan
Fakultas Ilmu Pendidikan
© Frisky Ayu Prima Wandani. 2015
Universitas Pendidikan Indonesia
Juni 2015
Hak Cipta dilindungi oleh Undang-undang
Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhnya atau sebagian
Nomor : 267/S/PPB/2015
HALAMAN PENGESAHAN SKRIPSI
FRISKY AYU PRIMA WANDANI
EFEKTIVITAS TEKNIK ASSERTIVE TRAINING UNTUK MEREDUKSI
KONFORMITAS TEMAN SEBAYA YANG TINGGI
(Studi Eksperimen-Kuasi terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 26 Bandung
Tahun Ajaran 2014-2015)
disetujui dan disahkan oleh pembimbing :
Pembimbing I
Dr. Hj. Anne Hafina, M.Pd NIP: 19600704 198601 2001
Pembimbing II
Dra. Chandra Affiandary, A.M.Pd, Psi NIP: 19570611 198609 2001
Mengetahui / Mengesahkan
Ketua Departemen Psikologi Pendidikan dan Bimbingan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia
ABSTRAK
Frisky Ayu Prima Wandani, 1000458 (2015). Efektivitas Teknik Assertive Training
Untuk Mereduksi Konformitas Teman Sebaya Yang Tinggi (Studi Eksperimen-Kuasi
terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 26 Bandung Tahun Ajaran 2014-2015).
Departemen Psikologi Pendidikan dan Bimbingan, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas
Pendidikan Indonesia.
Penelitian bertujuan menguji efektivitas teknik assertive training dalam mereduksi
konformitas teman sebaya yang tinggi pada siswa kelas VIII SMP Negeri 26 Bandung.
Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode eksperimen-kuasi dan
desain penelitian non-equivalent control group design (pretest-postest dua kelompok).
Sampel penelitian adalah 40 orang siswa kelas VIII di SMP Negeri 26 Bandung tahun
ajaran 2014-2015 dengan tingkat perilaku konformitas tinggi yang ditentukan melalui
teknik non-probability sample secara purposive. Penelitian menggunakan instrumen
perilaku konformitas berupa angket yang di adaptasi dari (Trivia, 2010). Analisis data
menggunakan statistika non parametrik melalui Uji Mann-Whitney. Secara statistik,
perilaku asertif menunjukkan skor sebesar 0,151 dalam mereduksi perilaku konformitas.
Artinya penggunaan teknik assertive training pada penelitian ini belum efektif dalam
mereduksi perilaku konformitas teman sebaya yang tinggi pada siswa Kelas VIII SMP
Negeri 26 Bandung Tahun Ajaran 2014-2015.
ABSTRACT
Frisky Ayu Prima Wandani, 1000458 (2015). Effectiveness of Assertive Training
Techniques to Reduce High Peer Conformity (Quasi-Experimental Study on Class VIII students of SMP Negeri 26 Bandung School Year 2014-2015). Department of Educational Psychology and Guidance, Faculty of Education, University of Indonesia.
This study was to test the effectiveness of assertive training techniques to reduce high peer conformity eight grade students of SMP Negeri 26 Bandung. The research uses a quantitative approach with quasi-experimental research methods and research design non-equivalent control group design (pretest-posttest two groups). The samples were 40 eighth grade students in Junior High School 26 Bandung 2014-2015 school year with a high degree of conformity behavior determined through non-probability technique purposive sample. The research instrument used was adapted from an instrument conformity behavior (Trivia, 2010). Data analysis using non-parametric statistics through the Mann-Whitney test. Statistically, assertive behavior showed a score of 0.151 in reducing behavioral conformity. This means that the use of assertive training techniques in this study have not been effective in reducing high peer conformity eight grade students of SMP Negeri 26 Bandung School Year 2014-2015.
DAFTAR ISI
ABSTRAK ... i
KATA PENGANTAR ... ii
UCAPAN TERIMA KASIH ... iii
DAFTAR ISI ... vi
DAFTAR TABEL ... viii
DAFTAR GRAFIK ... x
DAFTAR GAMBAR ... xi
DAFTAR LAMPIRAN ... xii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1.1Latar Belakang Penelitian ... 1
1.2Rumusan Masalah Penelitian ... 7
1.3Tujuan Penelitian ... 9
1.4Manfaat Penelitian ... 10
1.5Struktur Organisasi ... 10
BAB II KONSEP TEORI KONFORMITAS DAN TEKNIK ASSERTIVE TRAINING ... 12
2.1Konsep Konformitas Teman Sebaya ... 12
2.2Konsep Teknik Assertive Training... 20
2.3Teknik Assertive Training untuk Mereduksi Konformitas Teman Sebaya yang Tinggi ... 26
2.4Penelitian yang Relevan ... 27
2.5Kerangka Berpikir ... 30
2.6Hipotesis Penelitian ... 31
BAB III METODOLOGI PENELITIAN... 32
3.1Desain Penelitian ... 32
3.2Partisipan ... 33
3.3Populasi dan Sampel ... 33
3.4Definisi Operasional Variabel (DOV) Penelitian ... 35
vii
3.6Prosedur Penelitian ... 45
3.7Analisis Data ... 46
BAB IV TEMUAN DAN PEMBAHASAN ... 52
4.1Deskripsi Temuan Penelitian ... 52
4.2Pembahasan Hasil Penelitian ... 97
4.3Keterbatasan Penelitian ... 104
BAB V SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI ... 105
5.1Simpulan ... 105
5.2Implikasi ... 106
5.3Rekomendasi ... 106
DAFTAR PUSTAKA ... xiii
viii
DAFTAR GRAFIK
Grafik Halaman
4.1 Gambaran Umum Perilaku Konformitas Teman Sebaya……….. 52
ix
DAFTAR TABEL
Tabel Halaman
3.1 Jumlah Populasi SMP Negeri 26 Bandung ………. 35
3.2 Kisi-kisi Instrumen Perilaku Konformitas (Sebelum Uji Coba) ……… 38
3.3 Kisi-kisi Instrumen Perilaku Asertif (Sebelum Uji Coba)……….. 39
3.4 Kategori Pemberian Skor Alternatif Jawaban ……… 40
3.5 Hasil Uji Validitas Item Perilaku Konformitas ……….. 41
3.6 Hasil Uji Validitas Item Perilaku Asertif ……… 41
3.7 Kriteria Keterandalan (Reliabilitas) Instrumen ……….. 42
3.8 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Perilaku Konformitas ………. 43
3.9 Hasil Uji Reliabilitas Instrumen Perilaku Asertif ………... 43
3.10 Kisi-kisi Instrumen Perilaku Konformitas (Setelah Uji Coba) ……….. 43
3.11 Kisi-kisi Instrumen Perilaku Asertif (Setelah Uji Coba) ……… 44
3.12 Pola Skor Alternatif Jawaban ……….. 47
3.13 Rumusan Kategorisasi Skala (Perilaku Konformitas) ……… 48
3.14 Rumusan Kategorisasi Aspek Perilaku Konformitas ………. 49
3.15 Rumusan Kategorisasi Skala (Perilaku Asertif) ………. 49
3.16 Rumusan Kategorisasi Aspek Perilaku Asertif ……….. 50
3.17 Pengkategorian dan Interpretasi Skor Perilaku Konformitas Siswa ….. 50
3.18 Pengkategorian dan Interpretasi Skor Perilaku Asertif Siswa ………… 51
4.1 Pengkategorian Aspek Perilaku Konformitas Teman Sebaya ………… 53
4.2 Gambaran Perilaku Konformitas Teman Sebaya Berdasarkan Perolehan Skor Rata-rata Setiap Aspek ……….. 54
4.3 Pengkategorian Aspek Perilaku Asertif ………... 56
4.4 Gambaran Perilaku Asertif Berdasarkan Perolehan Skor Rata-rata Setiap Aspek ………... 56
4.5 Deskripsi Perilaku Konformitas dan Kebutuhan Layanan ………. 61
4.6 Sesi Intervensi Teknik Assertive Training ………. 65
4.7 Statistik Deskripsi Pre-Test Perilaku Konformitas ……… 77
4.8 Hasil Uji Normalitas Data Pre-Test Perilaku Konformitas …………... 78
x
4.10 Statistik Deskripsi Pre-Test Perilaku Asertif ……….. 80
4.11 Hasil Uji Normalitas Data Pre-Test Perilaku Asertif ………. 80
4.12 Hasil Uji Homogenitas Data Pre-Test Perilaku Asertif ………. 82
4.13 Hasil Uji Mann-Whitney Data Pre-Test Perilaku Konformitas ……….. 83
4.14 Hasil Uji Mann-Whitney Data Pre-Test Perilaku Asertif ………... 83
4.15 Batas-batas Korelasi (Pre-Test) ……….. 84
4.16 Uji Korelasi Pre-Test (Kelas Eksperimen) ………. 84
4.17 Kriteria Koefisien Determinasi ………... 85
4.18 Statistik Deskripsi Post-Test Perilaku Konformitas ………... 86
4.19 Hasil Uji Normalitas Data Post-Test Perilaku Konformitas …………... 86
4.20 Hasil Uji Homogenitas Data Post-Test Perilaku Konformitas ………... 88
4.21 Statistik Deskripsi Post-Test Perilaku Asertif ……… 88
4.22 Hasil Uji Normalitas Data Post-Test Perilaku Asertif ……… 89
4.23 Hasil Uji Homogenitas Data Post-Test Perilaku Asertif ………. 90
4.24 Hasil Uji Mann-Whitney Data Post-Test Perilaku Konformitas ………. 91
4.25 Hasil Uji Mann-Whitney Data Post-Test Perilaku Asertif ……….. 92
4.26 Batas-batas Korelasi (Post-Test) ………. 92
4.27 Uji Korelasi Post-Test (Kelas Eksperimen) ……… 93
4.28 Kriteria Koefisien Determinasi ………... 94
4.29 Interpretasi Nilai Gain ……… 95
4.30 Gain Ternormalisasi Kelompok Eksperimen ………. 95
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penelitian
Masa remaja merupakan masa transisi dari masa kanak-kanak menuju
masa dewasa, masa ini juga merupakan masa klimaks dari perkembangan
sebelumnya karena perkembangan fisik sangat pesat menuju kematangan yang
ditandai dengan kepribadian yang menuju idealis, emosi yang meluap-luap,
menarik perhatian lingkungan, terikat dengan kelompok teman sebaya, dan
pemantapan identitas diri (Gunawan, 2008).
Masa remaja awal (early adolescence) yaitu remaja yang berada pada
tingkat SMP dan pada umumnya berusia antara 12 sampai 15 tahun. Usia ini juga
merupakan usia yang menandai seseorang berintegrasi dengan masyarakat. Masa
remaja merupakan masa yang penuh gejolak dan menghadapi persoalan,
tantangan, konflik serta kebingungan dalam proses menemukan jati dirinya.
Beberapa faktor psikologis yang dianggap sebagai timbulnya masalah remaja
adalah gangguan berfikir (kognitif), gejolak emosional, proses belajar yang keliru
dan relasi yang bermasalah (Santrock, 2012, hlm. 403).
Selama rentang kehidupannya seseorang dihadapkan pada proses
perkembangan berupa tahapan perkembangan yang harus dilalui secara bertahap.
Salah satu dari tahap perkembangan seseorang adalah masa remaja. Pada masa
remaja seseorang mengalami perubahan baik dari segi perkembangan fisik
maupun perkembangan psikologis yang berbeda dari masa sebelumnya yaitu masa
kanak-kanak. Oleh karena itu masa remaja disebut juga sebagai masa transisi dari
masa kanak-kanak, karena pada masa remaja seseorang akan mengalami dan
menemukan berbagai kebingungan, kesulitan, bahkan timbulnya masalah yang
menyebabkan gangguan pada diri seseorang.
Masa remaja juga merupakan periode penting dalam hidup seseorang,
karena pada masa remaja adalah masa sebagai peralihan dan perubahan. Tugas
perkembangan pada masa remaja menuntut perubahan besar dalam sikap dan pola
perilaku seseorang. Salah satu perubahan yang terjadi yaitu perubahan secara
2
diantaranya: mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya,
mencapai peran sosial sebagai pria atau wanita, menerima keadaan fisik dan
menggunakannya secara efektif, mencapai kemandirian emosional dari orang tua
dan orang dewasa lainnya, dan mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab
secara sosial.
Perubahan sosial pada masa remaja merupakan perubahan yang sulit
dilakukan. Menurut Hurlock (1997, hlm. 213) untuk mencapai tujuan dari pola
sosialisasi dewasa, remaja harus membuat banyak penyesuaian baru, yang
terpenting dan tersulit adalah penyesuaian diri dengan peningkatan pengaruh
kelompok sebaya, perubahan dalam perilaku sosial, kelompok sosial yang baru,
nilai-nilai baru dalam seleksi persahabatan, nilai-nilai baru dalam dukungan dan
penolakan sosial serta nilai-nilai baru dalam seleksi pemimpin.
Masa remaja adalah masa peralihan yang ditempuh oleh seseorang dari
kanak-kanak menuju dewasa. Hurlock (Istiwidayanti dan Soedjarwo, 1992, hlm.
207) mengemukakan bahwa:
Dalam setiap masa peralihan, status individu tidaklah jelas dan terdapat keraguan akan peran yang harus dilakukan. Pada masa ini remaja bukan seorang anak juga bukan seorang dewasa. Jika remaja berperilaku seperti anak-anak ia akan diajari untuk bertindak sesuai usianya. Jika remaja berperilaku seperti orang dewasa, ia seringkali dituduh terlalu besar celananya.
Kondisi ambivalensi seperti itu sering menimbulkan keguncangan pada
remaja. Di satu sisi, remaja menginginkan untuk diperlakukan seperti orang
dewasa, tetapi di sisi lain belum mandiri dan masih memerlukan bimbingan dan
arahan dari orang dewasa.
Erikson (Yusuf, 2000, hlm.188) mengemukakan bahwa masa remaja
berkaitan erat dengan perkembangan sense of identity vs role confusion yaitu
perasaan atau kesadaran akan jati dirinya. Remaja mulai mencari identitas dirinya,
ia mulai mencari jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang dilontarkan pada
dirinya sendiri. Yusuf (2000, hlm. 188) mengemukakan bahwa:
3
situasi-situasi sosial yang tentu saja mengharuskan remaja untuk mengikuti perkembangan lingkungan sosialnya.
Dalam lingkungan sosial remaja dituntut untuk dapat mengikuti setiap
perkembangannya. Dalam hal ini kebanyakan remaja bersedia untuk mengikuti
tuntutan teman sebaya tersebut dalam sebuah kelompok agar dapat diterima dan
bergabung dalam kelompok tersebut.
Kuatnya pengaruh kelompok sebaya pada masa remaja dikarenakan
aktivitas remaja yang lebih banyak di luar rumah dibandingkan di dalam rumah.
Kelompok sebaya akan membentuk sikap, perilaku, minat hingga penampilan
remaja. Menurut Hurlock (1997, hlm. 213) sebagian besar remaja mengetahui
apabila memakai model pakaian yang sama dengan anggota kelompok yang
popular, maka kesempatan untuk diterima oleh kelompok menjadi lebih besar.
Fenomena yang menyebabkan bahwa remaja lebih banyak menghabiskan
waktu di luar bersama teman-teman sebaya sebagai kelompok mengakibatkan
pengaruh teman sebaya pada minat, penampilan dan perilaku lebih besar dari
pengaruh keluarga (Hurlock, 2004, hlm. 213). Hasilnya remaja mulai mengubah
perilakunya agar sesuai dengan kelompok teman sebaya.
Anggota-anggota yang berada dalam satu kelompok biasanya mengikuti
tekanan-tekanan dari kelompok. Sikap patuh tetapi lebih kepada mengalah dikenal
dengan istilah konformitas, yaitu perubahan perilaku seseorang dengan mengikuti
tekanan-tekanan dari kelompok untuk dapat menerima norma-norma kelompok
(Sarwono, 1989, hlm. 178).
Konformitas teman sebaya pada masa remaja sangat bervariasi tergantung
pada sejumlah faktor yaitu: umur, kemampuan untuk berpikir, jenis konformitas
yang diharapkan (untuk menangkal perilaku positif atau negatif), kualitas
hubungan keluarga, harga diri yang dihasilkan dari remaja, dan jenis kelamin.
Konformitas remaja pada teman sebaya pada masa remaja dapat bersifat
positif/negatif. Bentuk konformitas yang negatif diantaranya adalah menggunakan
bahasa jorok, mencuri, merusak dan mengolok-olok orang lain (Santrock, 2003).
Literatur tentang konformitas diisi dengan penemuan bahwa remaja awal
yang paling mungkin dipengaruhi oleh penilaian orang lain. Remaja yang dapat
4
manfaat dari yang diharapkan dan untuk menambah percaya diri yang
memungkinkan remaja untuk melawan tekanan kelompok (Fuhrmann, 1990, hlm.
116).
Beberapa penelitian terdahulu terkait dengan konformitas pada remaja
telah dibuktikan oleh peneliti sebelumnya. Hasil dari penelitian yang telah
dilakukan sebagai berikut.
Penelitian Permana (2009) menyatakan bahwa aspek konformitas tinggi
ditunjukkan oleh siswa SMAN 4 Bandung tahun ajaran 2007/2008 pada aspek
pengetahuan yang dimiliki individu tentang anggota kelompok, aktivitas
kelompok, tujuan kelompok, serta pemahaman terhadap aturan atau norma
kelompok. Sementara aspek terendah ditunjukkan pada aspek kecenderungan
untuk berinteraksi antara anggota kelompok dengan menghabiskan waktu untuk
berinteraksi dengan kelompok, kecenderungan untuk menyesuaikan perilaku
individu dengan kelompok, serta kecenderungan untuk bekerjasama antara
anggota kelompok.
Penelitian Sianturi (2003) yang berjudul “Hubungan Antara Konformitas
terhadap Kelompok Sebaya dengan Sikap terhadap NAPZA pada Remaja”
terdapat hubungan yang signifikan antara konformitas teman sebaya dengan sikap
terhadap NAPZA. Korelasi positif menunjukkan hubungan kedua variabel
penelitian, diartikan semakin tinggi konformitas teman sebaya maka akan semakin
tinggi sikap terhadap NAPZA, atau semakin rendah konformitas teman sebaya
maka semakin rendah pula sikap terhadap NAPZA.
Penelitian Fidiyanti (2008) yang berjudul “Penggunaan Teknik Assertive Training untuk Mereduksi Kebiasaan Merokok pada Remaja” menunjukkan
faktor penyebab remaja merokok dilihat dari faktor lingkungan, teman sebaya
memiliki presentase paling besar yaitu 91,6%. Penggunaan assertive training
memberikan umpan balik yang positif, ditandai dengan adanya perubahan
perilaku yang cukup signifikan.
Berdasarkan hasil penelitian terdahulu yang dipaparkan diatas
membuktikan bahwa masa remaja merupakan masa yang rentan terhadap
pengaruh yang ditimbulkan dari luar diri remaja. Sehingga memicu adanya
5
perilaku yang dapat mereduksi dan mengontrol remaja dari konformitas teman
sebaya yang tinggi.
Sedangkan hasil studi pendahuluan yang dilakukan melalui observasi dan
wawancara dengan guru BK di SMP Negeri 26 Bandung, menunjukkan bahwa
remaja khususnya siswa kelas VIII mengalami tingkat konformitas terhadap
teman sebaya yang cukup tinggi. Hal ini dibuktikan bahwa mereka merasa diakui
oleh teman kelompoknya jika mereka mampu melakukan hal yang sama seperti
yang dilakukan oleh teman kelompoknya, memiliki benda atau barang-barang
yang sama dengan teman kelompoknya, serta perilaku yang ditampilkan
sehari-hari memiliki kesamaan dengan teman kelompoknya.
Hal diatas tidak akan menjadi masalah jika terjadi pada siswa yang mampu
menyesuaikan diri dengan segala tuntutan teman kelompoknya sehingga perilaku
yang ditampilkan tidak mengganggu baik bagi diri siswa yang bersangkutan
maupun orang lain di sekitarnya. Akan tetapi pada kenyataannya di lapangan tidak
semua siswa mampu menyesuaikan diri dengan segala tuntutan teman
kelompoknya sehingga siswa yang tidak mampu menyesuaikan diri ini
menampilkan perilaku yang tidak baik dan mengganggu yang dapat merugikan
diri sendiri maupun orang lain di sekitarnya. Perilaku tidak baik yang dianggap
mengganggu ditampilkan siswa semata-mata hanya sebagai upaya yang dapat
dilakukan untuk memperoleh pengakuan dan penerimaan dari teman
kelompoknya.
Adapun fenomena yang terjadi di lapangan bahwa awal mula terbentuknya
kelompok sebaya (peer group) adalah karena teman sepermainan. Di dalam
kelompok sebaya (peer group) anggota satu sama lain terlihat saling membela jika
diketahui ada anggota lain sedang terkena masalah. Contohnya ketika salah satu
anggota dari kelompok sebaya (peer group) mempunyai masalah dengan kakak
kelas atau adik kelas, maka kelompok akan membela anggota kelompok yang
mempunyai masalah tersebut. Kelompok-kelompok yang terbentuk tidak jarang
terlibat perselisihan diantara kelompok lain, baik kelompok di dalam kelas
ataupun di luar kelas (kakak kelas atau adik kelas).
Selain itu, salah satu wujud nyata yang banyak terjadi di kalangan remaja
6
kalangan remaja adalah intensitas membeli handphone terbaru. Memiliki
handphone dengan merk dan fasilitas canggih yang sama dengan kelompok maka
kehadiran siswa tersebut dalam kelompok akan lebih diterima. Terlebih pada
jaman sekarang handphone sudah barang tentu bukan menjadi hal yang tabu
karena dapat dipakai oleh semua kalangan, termasuk remaja sebagai salah satu
konsumen terbesar. Model yang sangat menarik dan berbagai fasilitas yang
ditawarkan oleh setiap merk handphone menjadi salah satu sorotan bagi remaja
yang selalu mengikuti mode sesuai dengan perkembangan jaman yang ada.
Dengan memakai produk-produk terbaru maka siswa akan merasa tidak
ketinggalan jaman. Apalagi memiliki handphone yang sama dengan yang
digunakan oleh teman kelompok baik dari segi merk maupun fasilitas canggihnya.
Dengan begitu siswa memiliki kepuasan psikologis tersendiri dan ia merasa
bahwa kehadirannya di dalam kelompok tersebut diakui.
Akan tetapi fenomena yang ditemukan di lapangan menunjukkan bahwa
tidak semua siswa mampu membeli handphone seperti yang dimiliki oleh teman
kelompoknya dengan alasan latar belakang ekonomi yang berbeda antar anggota
kelompok. Bahkan ditemukan kasus adanya perilaku tidak terpuji yang telah
dilakukan oleh siswa yaitu mencuri hanya karena siswa tersebut ingin diakui oleh
kelompoknya. Sehingga hal tersebut menunjukkan bahwa terdapat konformitas
yang tinggi di kalangan remaja dan perilaku yang ditunjukkan sangat mengganggu
yang akan memberikan efek tidak baik dan dapat merugikan bagi siswa itu sendiri
maupun orang lain di sekitarnya.
Myers (1992) menjelaskan perilaku asertif dapat meningkatkan self-esteem
individu yang akan membantu dalam meningkatkan kepercayaan diri individu
tersebut. Mencegah diri menjadi korban yang dimanfaatkan oleh orang lain dan
mendapatkan hak-hak pribadi. Dengan bersikap asertif akan membantu
melindungi harga diri, akan berusaha melawan jika ada ancaman, tidak mudah
menyerah serta memberi perasaan nyaman pada diri sendiri.
Salah satu teknik layanan bimbingan pribadi-sosial adalah penggunaan
teknik assertive training. Teknik assertive training dapat diterapkan pada situasi
interpersonal pada individu yang mengalami kesulitan untuk menerima kenyataan,
7
merupakan teknik yang digunakan dengan melatih, mendorong, dan membiasakan
individu untuk secara terus-menerus menyesuaikan dirinya dengan perilaku
tertentu yang diinginkan (Rusmana, 2009, hlm. 56).
Bimbingan dan konseling di sekolah menengah pertama diharapkan dapat
memberikan intervensi dalam masalah konformitas yang tinggi yang terjadi pada
siswa di sekolah menengah pertama. Berdasarkan berbagai penelitian dan hasil
wawancara yang telah dipaparkan sebelumnya, mengindikasikan bahwa siswa
membutuhkan suatu keterampilan dalam menolak pengaruh yang ditimbulkan
oleh teman sebaya dan diharapkan pula bahwa bimbingan dan konseling dapat
berperan dalam memfasilitasi siswa untuk memperoleh keterampilan dalam
menolak pengaruh yang ditimbulkan oleh teman sebaya dalam perilaku
konformitas yang tinggi. Maka guna membantu remaja dalam berinteraksi sosial
dengan lingkungan diperlukan berbagai upaya bimbingan secara lebih khusus oleh
guru bimbingan dan konseling di sekolah. Atas dasar pemikiran tersebut maka
diperlukan penelitian untuk menguji sebuah teknik yang dapat diberikan oleh guru
bimbingan dan konseling di sekolah tentang “Efektivitas Teknik Assertive
Training untuk Mereduksi Konformitas Teman Sebaya yang Tinggi”.
1.2 Rumusan Masalah Penelitian
Sebagai makhluk sosial, siswa remaja senantiasa berinteraksi dengan
lingkungan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan hidup. Dalam aspek
perkembangan sosial, siswa membutuhkan kondisi-kondisi yang dapat membuat
dirinya mampu menyalurkan kebutuhan sosialnya. Hal ini dapat dilakukan melalui
sosialisasi, yaitu dengan menjalin hubungan dengan orang lain terutama dengan
teman sebaya. Akan tetapi pada kenyataan tidak semua siswa mampu berinteraksi
dengan baik antara teman sebaya dengan tuntutan lingkungan sosialnya. Hurlock
(1999, hlm. 213) menyatakan bahwa pada sebagian remaja mengalami
ketidakstabilan dari waktu ke waktu sebagai konsekuensi dari usaha penyesuaian
diri pada pola perilaku baru dan kemampuan sosial baru. Hal ini sering
menimbulkan ketidakjelasan peran atau posisi remaja.
Ketidakjelasan peran atau posisi diri membuat remaja masih mencari-cari
8
pencarian tersebut akan mengakibatkan banyaknya informasi ataupun akses
eksternal yang masuk ke dalam diri remaja. Kondisi tersebut ditambah dengan
kestabilan emosi yang masih terbatas serta pola pikir yang cenderung dipengaruhi
oleh lingkungan menyebabkan pengaruh tersebut lebih besar dalam
mempengaruhi pertimbangan yang diambil oleh remaja. Evert Monk, Knoers, dan
Haditano, 1994 (Permana, 2009) mengatakan besarnya pengaruh lingkungan atau
kelompok tersebut sampai pada pemberian norma tingkah laku oleh kelompok.
Bagi remaja yang memiliki kecenderungan kuat untuk memasuki suatu kelompok
maka pengaruh pemberian norma oleh kelompok tersebut akan berdampak pada
timbulnya konformitas yang tinggi. Kondisi ini cenderung menyesuaikan diri
dengan norma kelompok agar mendapatkan penerimaan daripada memperoleh
penolakan dari kelompoknya.
Konformitas muncul ketika individu meniru sikap atau tingkah laku orang
lain dikarenakan tekanan yang nyata maupun dibayangkan oleh mereka. Tekanan
yang sangat kuat terjadi pada masa remaja karena kepekaan terhadap tekanan
teman sebaya meningkat pada awal masa remaja.
Terkait dengan hal tersebut, peneliti memilih SMP Negeri 26 Bandung
sebagai tempat dilakukannya penelitian. Hal ini mengingat bahwa siswa SMP
adalah siswa yang berada pada masa awal pubertas, siswa masih dalam masa
pencarian diri dan senang membandingkan diri dengan orang lain. Sehingga hal
tersebut dapat menimbulkan adanya konformitas terhadap teman sebaya yang
tinggi.
Peran teman sebaya dalam lingkungan sosial sebagai sebuah kelompok
menuntun pada peran strategi bimbingan kelompok. Sehingga terdapat sebuah
penelitian terdahulu yang telah mengkaji dan meneliti mengenai penggunaan
sebuah teknik yang dapat diberikan oleh bimbingan dan konseling di sekolah
untuk mengurangi konformitas yang berlebihan. Teknik tersebut adalah teknik
sosiodrama. Melalui teknik sosiodrama ini siswa diajak untuk belajar
memecahkan dilema-dilema pribadi yang mendukungnya dengan bantuan
kelompok sosial yang anggota-anggotanya adalah teman-teman sendiri. Dengan
kata lain dilihat dari dimensi pribadi, penggunaan teknik sosiodrama ini berupaya
9
Dalam menyikapi masalah remaja terkait dengan konformitas teman
sebaya selain penggunaan teknik sosiodrama, terdapat pula teknik lain yang dapat
digunakan sebagai upaya yang dapat dilakukan bimbingan dan konseling
khususnya di sekolah. Yaitu teknik assertive training merupakan teknik yang
cocok untuk diterapkan dalam mereduksi konformitas teman sebaya yang tinggi
pada siswa. Teknik tersebut dianggap relevan karena dengan pengekspresian
perasaan, pikiran dan meyakinkan kepada orang lain secara langsung, jujur,
terbuka dan tepat dapat mengajarkan siswa tentang ketegasan dan disiplin dalam
mengambil keputusan berdasarkan hasil pemikiran sendiri, tanpa sikap emosional
dan tanpa bermaksud menyakiti hati orang lain. Sehingga teknik assertive training
ini cukup positif untuk melatih atau membiasakan siswa dalam mengelola dirinya
menghadapi permasalahan yang terkait dengan konformitas teman sebaya yang
tinggi.
Berdasarkan pemaparan diatas maka rumusan masalah dalam penelitian
dibentuk dalam sebuah pertanyaan “Apakah penggunaan teknik assertive training
efektif untuk mereduksi perilaku konformitas teman sebaya yang tinggi?”
Untuk menjawab pertanyaan pada rumusan masalah dilakukan tahap-tahap
pengumpulan data dengan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut.
1. Bagaimana gambaran umum perilaku konformitas teman sebaya dan
perilaku asertif siswa Kelas VIII SMP Negeri 26 Bandung Tahun Ajaran
2014-2015?
2. Bagaimana rancangan penggunaan teknik assertive training untuk
mereduksi perilaku konformitas teman sebaya yang tinggi?
3. Bagaimana efektivitas teknik assertive training untuk mereduksi perilaku
konformitas teman sebaya yang tinggi?
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan umum dilaksanakannya penelitian ini adalah menguji efektivitas
teknik assertive training untuk mereduksi perilaku konformitas teman sebaya
yang tinggi pada siswa kelas VIII di SMP Negeri 26 Bandung. Sedangkan tujuan
10
1. Gambaran umum perilaku konformitas teman sebaya dan perilaku asertif
siswa Kelas VIII SMP Negeri 26 Bandung Tahun Ajaran 2014-2015.
2. Rancangan teknik assertive training untuk mereduksi perilaku konformitas
teman sebaya yang tinggi.
3. Efektivitas teknik assertive training untuk mereduksi perilaku konformitas
teman sebaya yang tinggi.
1.4 Manfaat Penelitian
a. Bagi Guru Bimbingan dan Konseling
Menjadi bahan yang dapat dijadikan sebagai acuan bagi guru bimbingan
dan konseling di sekolah dalam memberikan layanan bantuan, terutama layanan
dengan menggunakan teknik assertive training untuk dapat mereduksi perilaku
konformitas teman sebaya yang tinggi.
b. Bagi Siswa
Sebagai upaya positif yang dapat dimanfaatkan serta diterapkan dalam
kehidupan sehari-hari untuk mereduksi konformitas teman sebaya yang tinggi
baik di sekolah maupun di luar sekolah.
c. Bagi Sekolah
Memberikan kontribusi dalam pembuatan program layanan bimbingan dan
konseling, sehingga dapat menciptakan lingkungan dan suasana yang kondusif
bagi siswa untuk berprestasi.
d. Bagi Pengembang Bimbingan dan Konseling
Sebagai model intervensi bimbingan untuk mereduksi perilaku
konformitas teman sebaya yang tinggi.
1.5 Struktur Organisasi
Sistematika penulisan skripsi disusun menjadi lima bab, sebagai berikut.
Bab I Pendahuluan, meliputi latar belakang penelitian, rumusan masalah
penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian dan struktur organisasi skripsi.
Bab II Kajian pustaka, meliputi konsep konformitas teman sebaya, konsep
11
teman sebaya yang tinggi, penelitian yang relevan, kerangka berpikir dan
hipotesis penelitian.
Bab III Metodologi penelitian, meliputi desain penelitian, partisipan,
populasi dan sampel, instrument penelitian, prosedur penelitian dan analisis data.
Bab IV Temuan dan pembahasan, meliputi temuan penelitian berdasarkan
hasil pengolahan dan analisis data, pembahasan hasil temuan penelitian serta
keterbatasan penelitian.
Bab V Simpulan, implikasi dan rekomendasi menyajikan penafsiran dan
pemaknaan terhadap hasil analisis temuan penelitian (simpulan), implikasi
BAB V
SIMPULAN, IMPLIKASI DAN REKOMENDASI
Berdasarkan hasil temuan penelitian di lapangan dan pembahasan, maka
diperoleh simpulan, implikasi dan rekomendasi yang diharapkan dapat menjadi
masukan dalam pelaksanaan bimbingan dan konseling serta mengaplikasikan
salah satu teori bimbingan dan konseling yaitu penggunaan teknik assertive
training untuk mereduksi perilaku konformitas teman sebaya yang tinggi.
5.1 Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian tentang efektivitas teknik assertive training
untuk mereduksi konformitas teman sebaya yang tinggi di Kelas VIII SMP Negeri
26 Bandung Tahun Ajaran 2014-2015, diperoleh beberapa kesimpulan sebagai
berikut.
1. Secara umum siswa di Kelas VIII SMP Negeri 26 Bandung menunjukkan
perilaku konformitas dan perilaku asertif yang tinggi. Berdasarkan hasil
perhitungan korelasi antara perilaku konformitas teman sebaya dengan
perilaku asertif menunjukkan angka 0.351, yang menunjukkan adanya
korelasi atau hubungan yang rendah. Maka hasil penelitian menunjukkan
bahwa perilaku konformitas tidak ditentukan apakah siswa tersebut sudah
mampu berperilaku asertif atau tidak. Karena perilaku konformitas
terbentuk bukan semata-mata oleh rendahnya perilaku asertif, akan tetapi
dikarenakan adanya dorongan-dorongan lain dan pengaruh lain yang
membentuk perilaku konformitas itu sendiri.
2. Pelaksanaan layanan intervensi untuk mereduksi perilaku konformitas
teman sebaya yang tinggi siswa Kelas VIII SMP Negeri 26 Bandung
Tahun Ajaran 2014-2015 didasarkan pada indikator paling tinggi dalam
setiap aspek perilaku konformitas. Layanan dilaksanakan dalam 6
pertemuan. Program intervensi dilaksanakan dengan menggunakan jenis
106
3. Teknik assertive training tidak efektif dalam mereduksi perilaku
konformitas teman sebaya yang tinggi pada siswa di Kelas VIII SMP
Negeri 26 Bandung Tahun Ajaran 2014-2015.
5.2 Impilkasi
Implikasi dari penelitian ini adalah pentingnya guru BK untuk mereduksi
perilaku konformitas teman sebaya siswa yang tinggi di sekolah dan menemukan
faktor-faktor apa saja yang dapat menimbulkan konformitas tinggi, agar siswa
memiliki pengetahuan, pendapat, keyakinan, perasaan dan kecenderungan untuk
berinteraksi terhadap perubahan keyakinan atau tingkah laku yang datang dari luar
diri siswa sebagai hasil dari adanya tekanan atau pengaruh negatif teman
kelompok. Selain itu guru BK juga perlu menggunakan latihan asertif (assertive
training) untuk meningkatkan perilaku asertif siswa, agar siswa dapat berperilaku
asertif khususnya terhadap pengaruh negatif yang di timbulkan akibat perilaku
konformitas teman sebaya. Penelitian ini juga memiliki implikasi bagi sekolah
agar dapat menyelenggarakan pendidikan yang memandirikan bagi siswa,
sehingga siswa tidak terlalu bergantung pada teman kelompoknya. Implikasi dari
penelitian ini juga sangat penting bagi peneliti selanjutnya yang memiliki
ketertarikan pada dunia psikologi sosial guna mengembangkan isu-isu fokus
intervensi kepada siswa dengan menggunakan perspektif perilaku inddividu dalam
psikologi sosial.
5.3 Rekomendasi
Rekomendasi penelitian diberikan kepada guru BK, siswa, sekolah dan
peneliti selanjutnya sebagai berikut.
5.3.1 Guru BK
1. Berdasarkan hasil penelitian, pada semua aspek perilaku konformitas
mengalami penurunan dan perilaku asertif mengalami peningkatan.
Namun perubahannya belum terlihat secara signifikan. Dengan demikian,
Guru BK dapat melakukan layanan bimbingan lanjutan agar dapat lebih
107
2. Berdasarkan hasil penelitian, tidak adanya jam BK yang mengharuskan
peneliti untuk menyesuaikan dengan jadwal siswa di sekolah menjadikan
kurang optimalnya layanan yang diberikan. Oleh karena itu, Guru BK
dapat mengajukan kepada pihak sekolah untuk di adakannya jam BK agar
dapat memberikan layanan bimbingan secara optimal.
5.3.2 Peneliti Selanjutnya
1. Menggunakan jenis layanan konseling kelompok atau konseling individual
agar lebih mengefektifkan dalam pemberian intervensi dengan
menggunakan teknik assertive training pada siswa.
2. Fokuskan penelitian pada siswa yang benar-benar memiliki tingkat
perilaku konformitas pada kategori tinggi dan tingkat perilaku asertif pada
kategori rendah.
3. Pengambilan sampel dapat di lakukan dengan cara memisahkan antara
siswa laki-laki dan perempuan atau di lihat dari latar belakang ekonomi
keluarga.
4. Berdasarkan hasil penelitian yang menunjukkan bahwa perilaku asertif
belum dapat mereduksi perilaku konformitas teman sebaya secara
signifikan pada siswa yang sudah mampu berperilaku asertif, maka
disarankan kepada peneliti selanjutnya untuk benar-benar memilih siswa
yang memiliki perilaku konformitas pada kategori tinggi dan belum
mampu berperilaku asertif (perilaku asertif pada kategori rendah) jika
ingin menggunakan teknik assertive training untuk mereduksi perilaku
konformitas teman sebaya.
5. Penggunaan metode penelitian untuk peneliti selanjutnya disarankan
memilih true-eksperimen guna memperoleh hasil data penelitian yang
lebih akurat.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto, Suharsimi. (2010). Prosedur Penelitian (Suatu Pendekatan Praktik). Jakarta: PT. RINEKA CIPTA.
Azwar, Saifuddin. (2003). Penyusunan Skala Psikologi. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Baron, Robert A. & Byrne, Donn. (2005). Psikologi Sosial Edisi ke Sepuluh/Jilid
2. Jakarta: PT. Gelora Aksara Pratama.
Corey, Gerald. (2009). Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Alih bahasa (2009) E. Koswara. Bandung: Refika Aditama.
Corey, Gerald. (2010). Teori dan Praktek Konseling & Psikoterapi. Alih bahasa (2010) E. Koswara. Bandung: Refika Aditama.
Fauziah, Rahmawati. (2010). Penggunaan Teknik Assertive Training Dalam
Mereduksi Perilaku Konsumtif Remaja. Skripsi Jurusan Psikologi
Pendidikan dan Bimbingan UPI Bandung: Tidak diterbitkan.
Fidiyanti, R. (2009). Penggunaan Teknik Assertive Training Untuk Mereduksi
Kebiasaan Merokok Pada Remaja. Skripsi Jurusan Psikologi Pendidikan
dan Bimbingan UPI Bandung: Tidak diterbitkan.
Fuhrmann, Barbara S. (1990). Adolescence, adolest. Second edition. Scott, Foresman and company, Illionis.
Gozali, Trivia Safitri. (2011). Efektivitas Assertive Training Dalam Mereduksi
Perilaku Konformitas Teman Sebaya Yang Berlebihan. Skripsi Jurusan
Psikologi Pendidikan dan Bimbingan UPI Bandung: Tidak diterbitkan.
Gunawan, N. E. (2008). Perkembangan Psikologis Remaja. [Online]. Tersedia: http://staff.uny.ac.id/sites/default/files/pengabdian/nanang-erma-gunawan- spd/pekembangan-psikologis-remaja-talk-show-untuk-anak-smpread-only-compatibility-mode.pdf.
Hadijah, Ai Siti. (2010). Kontribusi Konformitas Terhadap Pencapaian Identitas
Diri Remaja. Skripsi Jurusan Psikologi Pendidikan dan Bimbingan UPI
xiv
Hake, R.R. (1998). Interactive engagement methods in introductory mechanics
courses. [Online]. Diakses dari:
http://www.physics.indiana.edu/~sdi/IEM-2b.pdf.
Haniah, Pani Siti. (2011). Assertive Training Untuk Mencegah Perilaku
Penyalahgunaan NAPZA Pada Remaja. Skripsi Jurusan Psikologi
Pendidikan dan Bimbingan UPI Bandung: Tidak diterbitkan.
Herdiyanti, Yussi. (2013). Assertive Training Untuk Mereduksi Peserta Didik
Yang Mengalami Gejala Adiksi Handphone. Skripsi Jurusan Psikologi
Pendidikan dan Bimbingan UPI Bandung: Tidak diterbitkan.
Hurlock, Elizabeth. (1997). Psikologi Perkembangan. Jakarta: Erlangga.
Hurlock, Elizabeth. (1999). Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan
Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta: Erlangga.
Lange, A. dan Jakubowski, P. (1978). Responsible Assertive Behavior: Cognitive
Behavior Procedures for Trainners. USA: Research Press.
Mardiani, Amelia. (2007). Hubungan Antara Konformitas Terhadap Teman
Sebaya Dengan Kecenderungan Gaya Hidup Experiencers Pada Siswa Kelas XI SMA Labschool Jakarta. Skripsi Program Studi Psikologi
Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro Semarang: Tidak diterbitkan.
Mousa, Amal A. (2011). The Effect on Assertiveness Training Program on
Assertiveness Skill and Social Interaction Anxiety of Individuals with Scizophreniai. Journal of American Science.
Myers, David G. (2002). Social Psychology (7th edition). Sanfransisco: Mc. Grow
Hill. Inc.
Myers, David G. (2010). Psiikologi Sosial Edisi 10/Buku 1. Alih bahasa (2012). Tusyani, A. dkk. Jakarta: Salemba Humanika.
Myers, Gail E. dan Michele, T. M. (1992). The Dynamics of Human
Communication: A Labory Approach. Singapura: McGraw-Hill inc.
Nurhayati, Rika. (2011). Teknik Sosiodrama Untuk Mengurangi Konformitas
Yang Berlebihan Pada Siswa. Skripsi Jurusan Psikologi Pendidikan dan
xv
Nurihsan, A.J. & Agustin, M. (2011). Dinamika Perkembangan Anak dan
Remaja. Bandung: PT. Refika Aditama.
Oktariana, Yohana. (2012). Program Bimbingan Pribadi Sosial Menggunakan
Assertive Training Untuk Meningkatkan Disiplin Diri Siswa. TESIS.
Publikasi SPS BK UPI, Bandung: Tidak diterbitkan.
Permana, M. Zein. (2009). Hubungan Pengungkapan Diri (self-disclousure)
dengan Konformitas (conformity) Remaja. Skripsi Jurusan Psikologi FIP
UPI Bandung: Tidak diterbitkan.
Prastiwi, Any. (2014). Penerapan Strategi Assertive Training Untuk Mereduksi
Perilaku Konformitas Pada Teman Sebaya Kelas XI IPS 4 SMAN 3 Lamongan. Jurnal Online Universitas Negeri Surabya.
Rathus, S.A., dan Nevid, J.S. (1980). Behavioral Therapy Strategies of Problem
Solving in Living. New York: A Signet Book.
Rosita, Herni. (2012). Hubungan Antara Perilaku Asertif Dengan Kepercayaan
Diri Pada Mahasiswa. E-Journal Psikologi. [Online]. Tersedia:
http://publication.gunadarma.ac.id/handle/123456789/1837.
Rusmana, Nandang. (2009). Bimbingan dan Konseling Kelompok di Sekolah
(Metode, Teknik dan Aplikasi). Bandung: Rizqi Press.
Santrock, John W. (2003). Adolescence Perkembangan Remaja (6th edition).
Jakarta: Erlangga.
Santrock, John W. (2007). Adolescence Perkembangan Remaja (alih bahasa
Shinto B. Adelar dan Sherly Saragih). Jakarta: Erlangga.
Santrock, John W. (2012). Life-Span Development Perkembangan Remaja
Masa-Hidup Edisi Ketigabelas Jilid 1 (alih bahasa Benedictine Widyasinta).
Jakarta: Erlangga.
Sarwono, Sarlito W. (1989). Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali.
Sears, David O dkk. (1985). Psikologi Sosial Edisi Kelima (Jilid 2) (alih bahasa
xvi
Setiawati. (2001). Perkembangan Remaja. [Online]. Tersedia: http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PSIKOLOGI_PEND_DAN_BIMBI
NGAN/196211121986102-SETIAWATI/TUGAS_Perkembangan_Remaja_%5BCompatibility_Mode %5D.pdf.
Sianturi, Endang I. (2003). Hubungan Antara Konformitas Terhadap Kelompok
Sebaya Dengan Sikap Terhadap NAPZA Pada Remaja. Skripsi Fakultas
Psikologi UNPAD Jatinangor: Tidak diterbitkan.
Sugiyono. (2014). Metode Penelitian Pendidikan (Pendekatan Kuantitatif,
Kualitatif, dan R&D). Bandung: ALFABETA.