• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori"

Copied!
38
0
0

Teks penuh

(1)

12 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA A. Landasan Teori

1. Tinjauan Umum Hukum Waris di Indonesia

Tinjauan tentang hukum waris di Indonesia penting dilakukan karena memiliki relevansi terhadap judul penelitian yaitu Analisis Keberlakuan Pasal 111 Ayat 1 Huruf (c) Peraturan Menteri Negara Agraria Nomor 3 Tahun 1997 Terkait Akta Keterangan Hak Mewaris Bagi WNI Keturunan Tionghoa Pasca Berlakunya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Terdapatnya tinjauan tentang hukum waris bertujuan guna menguraikan sejarah terjadinya penggolongan warga negara di Indonesia yang juga berdampak pada sistem hukum waris di Indonesia dan mengetahui pengertian serta sistem hukum waris itu sendiri yang selama ini ada dan berkembang di Indonesia.

a. Sejarah Penggolongan Penduduk dalam Hukum Waris di Indonesia

Sejarah penggolongannpenduduk telah terjadi sejak masa penjajahan Belanda serta masih memiliki dampaknya sampai saat ini. Hal ini karena berkaitan dengan ketentuan dalam hukum perdata yang mengikat masing- masing golongan tersebut. Indonesia yang terkenal akan negara kesatuan yang memiliki corak multi etnik, multikultural, agama, golongan & ras, sehingga perbedaan corak bangsa menyebabkan pemerintahhkolonial Belanda saat itu melaksanaan penggolongan penduduk dalam politik hukum.1

Ketentuan penggolongan penduduk tersebut juga berpengaruh terhadap sistem hukum waris di Indonesia. Di wilayah NKRI diberlakukan beberapa sistem hukum waris, yaitu hukum waris islam, barat, serta adat.

Keragaman hukum ini makin nampak secara jelas, sebab hukum waris adat yang diberlakukan sebenarnya tidak sendiri, dan akan berbeda-beda sesuai dengan bentuk sosial dan sistem kekerabatan masyarakat Indonesia.2

1 Putu Angga Pratama Sukma, “Dinamika Pluralisme Penggolongan Penduduk Dalam Capaian Keadilan Mengenai Surat Keterangan Waris”, Jurnal Kertha Semaya, Vol. 8 No. 9 Tahun 2020, hlm. 1344-1354.

2 Mohammad Yasir Fauzi, Legislasi Hukum Kewarisan Di Indonesia. “Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam”, Vol. 9, No. 2, Agustus 2016, hlm 54.

commit to user

(2)

Penggolongan demografi Indonesia tidak terlepas dari sejarah bangsa Indonesia sebelum kemerdekaan, khususnya sejarah yang berkaitan dengan politik hukum dan politik, yang terakhir menjadi dasar utama bagi perumusan undang-undang aktif yang sedang dan / atau masih beroperasi.

Seperti halnya pengertian politik hukum menurut para ahli, hukum politik sangat kuat hubungannya dengan pembentukan hukum, penegakan serta penerapan hukum, yaitu: Definisi Padmo Wahjono:“Politik Hukum adalah kebijakan dasar yang menetapkan tujuan, isi, dan bentuk hukum yang hendak dibentuk; politik hukum merupakan kebijakan penyelenggaraan negara terkait suatu hal yang menjadi standar guna memberi hukuman pada hal-hal tertentu.” Menurut Jazim Hamidi, Politik Hukum ialah kebijakan yang diadopsi ataupun "dilaksanakan" lembaga atau pejabat negara yang diserahkan wewenang oleh negara guna menentukan undang-undang manakah yang harus diubah, undang-undang mana yang wajib diganti, undang-undang mana yang harus ditegakkan.

Undang-undang mana yang harus diundangkan ataupun diatur supaya melalui kebijakan ini pelaksanaan pemerintahan negara serta pemerintah bisa tertata secara tertib, kemudian tujuan negara dengan pelan-pelan bisa direncanakan serta direalisasikan. 3

Peralihan pemerintahan Belanda dari monarki absolut ke monarki konstitusional sangat mempengaruhi hukum dan politik, yang keputusannya adalah "Algemene Verordening" / "Koninklijk Besluit"

diberlakukan pula di Nederlands India. Dengan berubahnya sistem pemerintahan Belanda awalnya sistem pemerintahan menjadi monarki dalam konstitusi sebenarnya ada perubahan kebijakan hukum yang pula berlaku bagi pemerintah, aturan undang-undang yang berlaku di wilayah jajahan Belanda. Perubahan ini disesuaikan kepada ayat I, II, IV Grondwet, yang selanjutnya dimuatkan dalam Pasal 59 RR.4 Belakangan setelah Pasal 75 Grondwet diketahui bahwa kebijakan pertambahan penduduk sejalan memiliki ketetapan Pasal 11 AB, yang disebut RR, namun perpindahan

3 Abdul Latif, Hasbi Ali, “Politik Hukum”, Sinar Grafika, Jakarta, 2010, hlm. 25.

4 Ibid, hlm. 20-21

commit to user

(3)

mayarakat menjadi agama tidak berbasis. Itu disesuaikan kepada "siapakah yang menjajah" serta "yang menjajah" seperti termuat pada Pasal 109 RR.5

Tahun 1920, Grondwet melakukan peralihan yang selanjutnya dinamakan RR (baru), dan revisi kebijakan hukum. Menurut Pasal 75 RR (baru), distribusi populasi bergantung pada apa yang disebut "orang asing"

dan yang disebut "pengunjung" daripada "yang dijajah" dan "yang dijajah".

Secara spesifik, kelompok masyarakat sipil dibagi menjadi tiga kelompok:

Eropa, Timur Asing dan Bumiputera.6

Akibat terbentuknya Volksraad, RR diganti dengan IS menjadi grondwet yang mulai berfungsi sejak 1 Januari 1926 menjadi S. 1925: 415.

IS telah menentukan kebijakan hukum berdasarkan Pasal 131, yang memiliki isi seperti yang dijelaskan pada Pasal 75 RR (Baru). 7

Pasal 131, IS juga digunakan sebagai hukum politik sebagai hukum dasar, dan menurutnya berperan sebagai pelindung bagi penerapan hukum yang diberlakukan sekarang ini dan akan diterapkan di masa yang akan datang. Dari perspektif hukum dan kebijakan berdasarkan Pasal 131 IS, setiap kelompok masyarakat memiliki cara yang berbeda dalam penegakan hukum.8

Pasal 163 IS, kemudian mengatur lebih lanjut ketentuan tersebut, yang dengan utuh disalin dari ketetapan s Pasal 109 RR (baru). Mencakup enam ayat, tetapi yang mengenai penggolongan masyarakat hanyalah meliputi empat ayat.9 Berdasarkan Pasal 163 IS, terbagi atas 3 penggolongan penduduk Hindia Belanda:

1) Kelompok Eropa, yang menerapkan semua hukum Eropa, mulai diberlakukan di tanggal 1 Mei 1948 (tercantum dalam Stbl. 1848 dan Stbl. 1917).

2) Kelompok Timur Asing memiliki dua perbedaan. Untuk kelompok Timur Asing Tionghoa, semua hukum Eropa (Wvk dan BW) berlaku, tetapi prosedur pernikahan dan mencegah pernikahan

5 Ibid., hlm 20

6 Ibid.

7 Ibid., hlm 23-24

8 Ibid. hlm 30-44

9 Ibid. hlm 25-29

commit to user

(4)

berlaku, dan kemudian untuk Grup Timur non-China, undang- undang Eropa tertentu berlaku hukum ( harta kekayaan dan waris atas testament) berlaku untuk hukum lain, dan hukum adat masing- masing berlaku.

3) Kelompok Bumiputera menerapkan hukum adat yang diatur dalam hukum Islam.10

Penggolongan penduduk yang dilakukan dari zaman kolonial Belanda juga berlaku terhadap hukum waris-mewaris di Indonesia. Khususnya dalam penyusunan urat keterangan waris. Pemerintah Indonesia masih menggunakan hukum perdataawarisan dari kolonial Belanda, hal ini tercermin di Pasal 111 Ayat 1 huruf c Peraturan Menteri Negara Agraria Nomor 3 Tahun 1997 mengenai Ketetapan Penyelenggaraan PP Nomor 24 Tahun 1997 mengenai Pendaftaran Tanah, yaitu “surat tanda bukti menjadi ahli waris seperti putusan pengadilan, penentuan Ketua Pengadilan atau Hakim, wasiat dari pewaris, untuk penduduk asli WNI. Ahli waris menyusun surat keteraga ahli waris dilihat 2 saksi serta diyakinkan Kepala Desa atau Kelurahan serta Camat tempat pewaris itu tinggal, untuk WNI Indonesia keturunan Tionghoa; akta keterangan hak mewaris melalui Notaris, untuk WNI keturunan Timur Asing yang lain: SK waris melalui BHP.

b. Definisi Hukum Waris

Sebagaimana telah di jelaskan sebelumnya, hukum waris Indonesia memiliki beberapa karakteristik, di mana setiap kelompok penduduk harus tunduk pada hukumnyaamasing-masing. Hal ini menyebabkan perbedaan makna dan arti hukum waris. Hukum waris mempunyai tiga faktor utama yaitu warisan (kekayaan/harta peninggalan), yang mempunyai ataupun menguasai harta untuk mengalihkan serta mewarisi ataupun mewarisinya (pewaris), seseorang yang menerima hak waris / membagi warisan tersebut.11

10 Titik Triwulan Tutik, “Hukum Perdata dalam Sistem Hukum Nasional”, Loc. Cit.

11 Mohammad Yasir Fauzi, “Legislasi Hukum Kewarisan di Indonesia.” Op. Cit. Hlm 55.

commit to user

(5)

Hukum waris adalah bagian hukum paling kecil serta perdata melalui hukum keluarga. Hukum waris hubungannya sangatlah kuat dengan ruang lingkup kelangsungan hidup manusia, karenaasetiap individu pasti bisa mendapati kematian. Dengan meninggalnya seseorang maka akibat hukum yang mengikutinya antara lain bagaimana mengatur dan melanjutkan hak serta kewajiban individu yang telah meninggal itu12

Hukum waris merupakan sekumpulan yang mengatur sebab-sebab dari hukum harta kekayaan pada suatu kematian, dimana akibat-akibat yang dimaksud sendiri antara lain yakni akibat-akibat hukum yang ditimbulkan atas pergantian harta aset yang ditinggal individu yang meninggal untuk para penerima baik pada perimbangan ataupun hubungan antar individu ataupun dengan pihak ketiga, dan juga hukum waris mengatur tentang bagaimana melakukan peralihan harta kekayaan itu.13

Sesuai pemaparan pakar hukum Indonesia Prof. Dr. Wirjono Prodjodikoro, “hukum waris merupakan soal apakah dan bagaimana berbagai hak dan kewajiban terkait harta individu ketika dia meninggal akan berganti ke individu lain yang belum meningggal.”14

Mr. B. Ter Haar, menjelaskan “hukum waris merupakan peraturan hukum terkait bagaimana cara antar waktu peralihan serta penerusan dari harta kekayaan yang ada serta tidak ada antar turunan.”15

Mr. A. Pitlo, menyatakan "Hukum waris merupakan seperangkat aturan yang mengatur hukum tentang kekayaan yang timbul dari kematian seseorang, yaitu peralihan kekayaan yang ditinggal olehs eseorang yang meninggal serta konsekuensi dari peralihan pada mereka yang telah mendapatkannya, baik hubungan dengan pihak ketiga, ataupun antar mereka.”16

12 Mohd.Idris Ramulyo, “Suatu Perbandingan antara Ajaran Sjafi’i dan Wasiat Wajib di Mesir, tentang Pembagian Harta Warisan untuk Cucu Menurut Islam”, Majalah Hukum dan Pembangunan No.2 Tahun XII Maret 1982, Jakarta: FHUI, 1982, hlm.154

13 Gregor Van Der Burght, 1995, “Hukum Waris”, Buku Kesatu, Bandung : Citra Aditya Bakti, hlm. 1.

14 Wirjono Prodjodikoro, “Hukum Warisan di Indonesia”, Jakarta: Sumur Bandung, 1976 , hlm. 8

15 B. Ter Haar, “Asas-Asas dan Susunan HUkum Adat”, terj. K. Ng Soebakti Poesponoto, Jakarta : Pradnya Paramita, 1994, hlm. 202.

16 Pitlo, “Hukum Waris menurut Kitab Undang-undang Hukum Perdata Belanda”, terj. M. Isa Arief, Jakarta:

Intermasa,1994, hlm.1

commit to user

(6)

Prof. Dr. R. Soepomo, S.H., menguraikan “Hukum waris ialah sekumpulan ketentuan yang memuat proses mengoperkan atau meneruskan segala barang yang tidak memiliki wujud benda dan harta benda melalui suatu angkatan manusia (generatie) untuk keturunan dia”17

Prof. Soedirnan Kartohadiprodjo, S.H., menjelaskan “Hukum waris ialah segala aturan hukum yang melakukan pengaturan nasib harta peninggalan seseorang setelah kematian dan nasib siapa yang berhak untuk menikmati kekayaan itu.”18

Menurut Surini Ahlan Sjarif, “hukum waris ialah hukum harta kekayaan pada lingkungan keluarga, sebab meninggalnya seseoran maka akan terdapat pemindahan harta kekayaan yang ditinggalkan orang yang wafat serta akibat dari pemindahan untuk seseorang yang mendapatkannya, baik pada keterkaitan antar mereka ataupun mereka dengan pihak ketiga.

Sebab itu, huku waris adalah kelanjutan hukum keluarga, namun pula memiliki sisi hukum harta benda.”19

H.M. Idris Ramulyo, menyebitkan “Hukum waris merupakan seperangkat peraturan hukum yang mengatur siapakah ahli waris ataupun hukum manakah yang memiliki hak mewarisi hak waris. Bagaimanakah posisi setiap ahli waris, dan berapakah jumlah pendapatan untuk setiap ahli waris secara adil dan adil.”20

R. Subekti, menyatakan “hukum waris mengatur hal ihwal terkait kekayaan ataupun benda individu bila dia meninggal. Bisa pula dinyatakan, hukum waris tersebut mengatur akibat hubungan kekeluargaan pada harta peninggalan orang.”21

Dari definisi tersebut bisa ditarik kesimpulan yakni hukum waris pada dasarnya mengatur tata cara pengalihan harta warisan dalam bentuk harta yang dapat dinilai dalam mata uang atau hutang, serta bagi ahli berdasarkan surat wasiat ataupun undang-undang selaras bagian yang ditetapkan pada

17 Soepomo, “Bab-Bab Tentang Hukum Adat”, Jakarta: Pradya Paramitha, 1993, hlm. 79

18 Soedirman Kartohadibroto, “Masalah Hukum Sehari-hari”, Yogyakarta: Hien Hoo Sing, 1964, hlm. 8

19 Surini Ahlan Sjarif, “Intisari Hukum Waris Menurut Burgerlijk Wetboek”, cet. II, Jakarta : Ghalia Indonesia 1992, hlm.13

20Mohd. Idris Ramulyo. (1996). “Beberapa Masalah Pelaksanaan Hukum Kewarisan Perdata Barat”

(Burgerlijk Wetboek), Jakarta: Sinar Grafika, hlm. 13-14.

21 R. suna, “Pokok Pokok Hukum Perdata”, cet. XXVI, Jakarta, lntermasa 1985, hlm. 17

commit to user

(7)

KUH Perdata. Meskipun pengertian hukum waris tidak tercantum dalam KUH Perdata, tetapi prasyarat pengaturan tentang hukum waris diatur oleh KUH Perdata.

Tedapat 3 unsur penting dalam pewarisan menurut Anisitus Amanat, yaitu: 22

1) Pewaris;

Menunjuk kepada Pasal 830 KUHPerdata yang menyatakan pewaris merupakan semua individu yang meninggal. Namun, terdapat kekurangan dari Pasal 830 KUHPerdata ialah bagaimana bila indiviu wafat itu dengan meninggalkan harta kekayaan, apakah masih dinamakan pewaris. Demikian, pewaris tidak hanya individu yang meninggal saja, tapi individu yang meninggal memiliki bukti akta kematian dan memiliki harta peninggalan.

Pokok masalah pada hukum waris itu terdapat di hak warisnya tidak di kewajiban waris, maka faktor yang utama pada hukum waris ialah harta wasiat peninggalan pewaris untuk ahli waris. Jika faktor aset peninggalannya tidak punya, dengan kata lain, keturunan yang meninggal tidak mengabaikan harta wasiat, pewarisan jadi tidak sesuai, sedangkan jika ahli warisnya yang tidak ada, pewarisan yang selaras, sebab harta wasiat pewaris akan menjadi hak negara.

H.M Idris Ramulyo menyebutkan pewaris merupakan semua individu yang wafat serta meninggalkan harta benda.23 Hal itu artinya syarat dapat dikatakan pewaris yakni ada hak serta beberapa kewajiban.

Emeliana Krisnawati menyatakan pewaris merupakan seseorang yang meninggal dan meninggalkan harta benda.24

Erman Suparman menjelaskan, pewaris ialah orang yang meninggal, perempuan ataupun pria yang meninggalkan harta

22Anisitus Amanat, “Membagi Warisan Berdasarkan Pasal-Pasal Hukum Perdata BW”, cet. III, Jakarta Raja Grafindo Persada 2003, hlm. 6-l3.

23 Eman Suparman, “Hukum Waris Indonesia Dalam Perspektif Islam”, Adat dan BW, Bandung: Refika Aditama, 2007, hlm.28-29

24 Emeliana Krisnawati, “Hukum Waris Menurut Burgerlijk Wetboek [BW]”, Bandung CV Utomo 2006, hlm.1.

commit to user

(8)

benda baik menjadi hak atau kewajiban yang wajib dilakukan ketika hidup, baik menggunakan keterangan wasi’at ataupun tidak menggunakan keterangan wasi’at. 25

Berdasar penjelasan ahli di atas dilihat jika tidak seluruhnya yang meninggal dinamakan ahli waris, sebab syarat guna dinamakan ahli waris adalah bahwa yang wafat haruslah meninggalkan berbagai hak serta kewajiban yang akan terpenuhi oleh pihak ketiga yang bisa dilakukan penilaian dengan uang yang dinamakan sebagai harta peninggalan.

2) Ahli waris;

Berdasar konsepsi KUHPerdata, secara garis besar terdapat 2 kelompok yang memenuhi syarat serta memiliki hak dinamakan ahli waris. Kategori pertama yakni keluarga yang berhubungan darah, termasuk pernikahan sah dan pernikahan luar pernikahan, serta pasangan menikah yang hidup paling lama bersama pewaris berdasarkan Pasal 832 KUHPerdata. Kategori ke-2 yakni seseorang yang dipilih pewaris pada wasiat pada saar pewaris masih hiduo, dapat orang yang memiliki ikatan keluarga atau perkawinan yang sah dengan pewaris, atau pasangan yang sudah menikah, atauubisa individu lainnya pula yang wajib melunasi hutang ahli waris, hak dan kewajiban tersebut timbul saat meninggalnya pewaris, sebagaimana yang ditegaskan dalam Pasal 954 KUHPerdata.

Ahli waris ialah orang yang mewarisi semua atau sebagian dari harta peninggalan pewarisPenggantian hak oleh mereka terhadap harta peninggalan pewaris kepada semuanya ataupun bagi bagian yang seimbang, membentuk mereka sebagai keturunan yang mendapatkan hak memiliki sebutan umum.

25 Mohd. Idris Ramulyo, Op Cit, hlm. 21.

commit to user

(9)

Ahli waris menurut Emeliana Krisnawati ialah keturunan yang mengganti posisi pewaris ataupun keturunan yang memperoleh harta yang ditinggalkan dari pewaris.26

Maman Suparman, menyatakan ahli waris yakni sekalian keturunan yang sebagai ahli waris, bermakna keturunan-keturunan yang mempunyai hak untuk mendapat dari harta yang ditinggalkan pewaris. 27

H.M. Idris Ramulyo, menyatakan ahli waris merupakan orang yang sudah ditentukan dengan limiatif tertuang pada KUHPerdata.28 Berikutnya, H.M. Idris Ramulyo juga menyatakan ahli waris itu muncul menjadi ahli waris sebab:

a) Ahli waris yang munculpada kedudukan sendiri ataupun dengan langsung mewaris, seperti bila bapak meninggal, jadi anaknya menjadi ahli waris;

b) Ahli waris berdasar dari pengalihan yang dalam hal demikian dinamakan ahli waris tak langsung, penggantian pada garis samping (zijlinie) ataupun pengalihan pada garis lurus kebawah. Pengalihan pada garis samping menyangkut pula pengalihan anggota keluarga yang lebih jauh.

c) Pihak ketiga dapat menikmati harta meskipun bukan ahli waris.

Pergantian harta seseorang yang meninggal untuk orang yang belum meinggal, sebagai sistem kewarisan islam harus memiliki diantaranya memiliki hubungan kekeluargaan. Hubungan kekeluargaan dapat berdasarkan adanya hubungan darah (nazab) atau hubungan pernikahan laki laki dengan perempuan yang sah dan masih terikat perkawinan antara suami istri ketika salah satu pihak meninggal.29

3) Harta peninggalan

26 Ibid.

27 Maman Suparman, “Hukum Waris Perdata”, cet. 1, Jakarta Sinar Grafika 2015, hlm. 19.

28 Mohd. Idris Ramulyo, Loc. Cit.

29Syahkroni, “Konflik Harta Warisan Akar Permasalahan dan Methode Penyelesaian Dalam Perspektif Hukum Islam”, cet. 1, Yogyakarta Pustaka Pelajar 2007, hlm. 37.

commit to user

(10)

Dalam hukum perdata barat harta peninggalan berasal pada ketetapan KUH Perdata (BW) mencakup semua aset benda dan hak serta kewajiban pewaris yang bisa dievaluasi dengan uang.30 Menurut KUHPerdata/BW, tidak melihat darimana berasal harta tersebut, baik harta yang dibawaasuami atau isteri karena tetap menjadi satu kesatuan yang akhirnya akan beralih kepada ahli warisnya, kecuali dibuatnya perjanjian kawin.31

Naun tidak seluruh harta yang pewaris tinggalkan dengan sendirinya mampu dibagikan pada seseorang yang memiliki hak mewarisi, sebelumnya wajib diketahui dahuku apakah harta yang pewaris tinggalkan itu harta pribadi ataukah campur. Apabila harta yang pewaris tinggalkan itu merupakan harta campur seperti yang tercantum di Pasal 119 KUHPerdata; “Mulai saat dilangsungkannya perkawinan, sesuai aturan diberlakukan bulat diantara kekayaan isteri dengan suami hanya tentang itu menggunakan perjanjian pernikahan tidak diberlakukan ketetapan lainnya. Persatuan bulat harta kekayaan suami istri itu asalkan pernikahan tidak boleh diubah ataupun ditiadakan menggunakan suatu perjanjian diantara isteri dengan suami.”, maka menurut Pasal 128 KUHPerdata; “Setelah selesainya persatuan, harta kekayaan dibagi menjadi 2 diantara suami isteri, ataupun antar pakar waris nya masing-masing secara tidak memperdulikan sosial menurut pihak yang mana barang tersebut didapatkannya.”, harta campur pernikahan itu wajib dibagi 2 bagian dahulu yang nir dipisahkan, setengah bagian yang tidak dipisahkan merupakan buat pasangan pernikahan pewaris 1/2 bagian lagi merupakan harta peninggalan pewaris buat dibagikan pada seseorang yang memiliki hak mewaris. Bila tidak ada harta campur, yang mana sebelum pernikahan, pewaris menggunakan pasangan nikah

30 Zainuddin Ali, 2010, “Pelaksanaan Hukum Waris di Indonesia”, Cetakan ke-II, Jakarta, Sinar Grafika, hlm 81.

31 Benyamin Asri dan Thabrani Asri, “Dasar Dasar Hukum Waris Barat [Suatu Pembahasan Teoritis dan Praktek”, Bandung Tarsito 1988, hlm. 5.

commit to user

(11)

pewaris tidak dibentuk perjanjian nikah seperti tertuang pada Pasal 139 KUHPerdata, “Secara melaksanakan perjanjian kawin, keduan calon suami isteri memiliki hak mempersiapkan sejumlah penyimoangan aturan undang-indang kurang lebih persatuan harta kekayaan, dari perjanjian tersebut nir menyalahi rapikan susila yang bagik ataupun tatatertib umum serta berasal diindahkan juga ketentuan berikut.”, maka harta tidak dibagi dua, permanen dibawah dominasi masing masing pihak.

Unsur-unsur kewarisan menurut Abdul Kadir Muhammad yaitu :32

a) Ada subyek hukum, yakni ada anggota keluarga yang wafat, anggota keluarga yang ditinggal serta seseorang yang diberikan wasiat;

b) Obyek hukum, yakni aktiva serta pasiva pewaris seperti harta peninggalan serta hutang pewaris.

c) Peristiwa hukum, yakni ada anggota keluarga yang meninggal dinamakan pewaris;

d) Status hukum, yakni anggota keluarga yang ditinggal pewaris menjadi ahli waris yang meliputi anak serta suami isteri serta individu yang menjadi penerima wasiat melalui pewaris;

e) Hubungan hukum, yakni munculnya kewajiban serta hak ahli waris pada pewaris terkait harta peninggalan pewaris serta perampungan seluruh hutang pewaris ;

Di Indonesia sistem hukum waris yang dijadikan pedoman yaitu: Hukum Waris Islam, KUHP, serta Adat. Berikut penjelasan mengenai pengaturan ketiga hukum waris tersebut, yakni :

a) Hukum Waris Adat

Persekutuan hukum adat yang menentukan pandangannya terhadap hukum waris. Beberapa dari persekutuan ini mula- mula mencakup garis keturunan (persekutuan genealogis) dan

32 Abdul Kadir Muhammad, “Pokok Pokok Hukum Perdata Indonesia”, cet. Revisi, Bandung PT. Citra Adytia 2010, hlm. 195.

commit to user

(12)

berdasarkan kependudukan (persekutuan teritorial). Dalam persekutuan genealogis, anggotanya saling bergantung sebab bersumber dari nenek moyang yang serupa, jadi terjalin hubungan kekeluargaan diantara mereka. Dalam persekutuan ini ada tiga jenis tatanan yaitu patrilineal matrilineal (garis ibu), (garis bapak) dan parental (bapak-ibu).33 Sementara itu, persatuan hukum teritorial para anggotanya satu sama lain merasa terikat karena mereka tinggal di wilayah yang sama.34

Kata waris pada hukum adat berasal melalui bahasa Arab yang sudah menjadi bahasa Indonesia.35 Seperti dimengerti jika pewarisan terjadi ketika pewaris meninggal dunia tetapi dalam hukum adat terdapat langkah pengalihan atau penerusan harta kekayaan pewaris yang terjadi sebelum pewaris meninggal dunia, dimana hal ini terjadi dengan cara menyerahkan kekuasaan, penunjukkan pemilikan atau benda oleh pewaris pada ahli waris.36

b) Hukum waris berdasarkan hukum Islam

Berdasarkan aturan Islam mawaris jamak dari mirats, merupakan “harta peninggalan seseorang yang meninggal yang diwariskan pada warisnya”. Seseorang yang meninggalkan harta diklaim muwarits, sedangkan yang memiliki hak mendapatkan pusaka dianggap waris. Hukum waris islam ialah anggaran yang memuat pergantian aset menurut seorang yang meninggal pada ahli waris. Hal itu artinya memilih siapa saja yang dijadikan ahli waris, pembagian setiap ahli waris, memilih harta yang ditinggalkan serta warisan untuk seseorang yang dimaksud. 37

33 Fransisca Utami M, Irena Hapsari, Syaukah Az-Zahro, “The Existence Of Customary Inheritance Law In Indonesia”, Tadulako Law Review, Vol. 5 Issue I, June 2020, page 93.

34 Mohammad Yasir Fauzi. Op. Cit. Hlm. 57.

35 Hilman Hadikusuma, “Hukum Waris Adat”, Bandung: Citra Aditya Bakti, 2013, hlm 8.

36 Ibid.

37 Zainuddin Ali, Op. Cit, hlm. 33.

commit to user

(13)

Dalam bahasa Arab kata Al-Mirats adalah bentuk infinitive menurut kata waritsa-yaritsu-irtsan-miraatsan. artinya berdasarkan bahasa merupakan ‘pindahnya suatu hal dari suatu kaum pada kamun lainnya ataupun antar orang’. Makna al- mirats dari kata yang diketahui para ulama artinya pindahnya hak kepemilikan menurut individu yang tewas pada ahli waris yang masih hidup, dengan harta peninggalannya seperti uang, tanah. Ataupun apapun yang seperti hal milik resmi dengan cara syar’i.38

Istilah mirats pada pengertian lain mempunyai 2 definisi.

Ke-1, berarti abada, misalnya nama yang diciptakan Allah SWT. Inilah mengapa seseorang yang memiliki hak mendapatkan peralihan harta orang meninggal tersebut dinamakan al-waris, terkhusus dipengaruhi lantaran pemindahan harta keabadian hak milik berdasarkan si orang yang meninggal pada ahli waris. Ke-2, al-mirats yakni menggunakan peralihan suatu hal dari individu pada individu lainnya, apakah suatu hal yang dialihkan tersebut berbentuk material juga memiliki bentuk non material misalnya perpindahan harta kekayaan dari seorang yang sudah wafat ke ahli waris, ataupun memiliki bentuk maknawi misalnya peralihan akhlak, kemuliaan, ilmu pengetahuan, serta yang lain.39

Menurut Kompilasi Hukum Islam dalam Bab I Ketetapan Umum Pasal 171a diutarakan bahwa jika pewarisan artinya

“hukum yang memuat terkait pemindahan hak pemilikan harta peninggalan pewaris, menetapkan siapakah memiliki hak menjadi ahli waris serta berapakah bagian setiapnya.” Pada hukum waris islam juga disebut pewaris yaitu seseorang yang ketika meninggal sesuai dengan keputusan pengadilan agama

38 Muhammad Ali Ash-Shabuni, “Hukum Waris Dalam Islam” (Depok : Fathan Prima Media, 2013), hlm. 32.

39 Muhammad Amin Suma, “Menakar Keadilan Hukum Waris Islam Melalui Pendekatan Teks dan Konteks Al-Nushush”, Ahkam : Vol. XII, No. 2, Juli 2012. Hlm 12

commit to user

(14)

islam, meninggalkan harta peninggalan serta juga ahli waris.40 Dimana ahli waris disini merupakan seseorang yang ketika meninggal dunia memiliki ikatan pernikahan dengan pewaris, memiliki agama islam serta tidak lupa kalah tidak terhalangi sebab hukum guna menjadi ahli waris.41 Selanjutnya, dijelaskan lebih lanjut pada Kompilasi Hukum Islam di Bab I Ketetapan Umum Pasal 171 e merupakan “harta bawaan ditambah bagian menurut harta bersama selesainya dipakai buat kebutuhan pewaris ketika sakit hingga meninggal, porto pengurusan jenazah, membayar utang serta hadiah buat kerabat.”

Jadi kesimpulannya, waris Islam adalah peralihan harta dari pewaris pada ahli waris yang ditinggalkan, dengan langsung selaras pada asas kewarisan Islam.

c) Hukum Waris Berdasar KUHperdata

Pengaturan hukum waris dalam KUHP dapat dilihat di Buku II (Hukum Benda) dari BAB XII-XVII. Selanjutnya, sebagaimana diatur di Pasal 830 KUUHperdata yakni “Sebab kematian perwarisan terjadi” sehingga dimengerti bahwa suatu pewarisan hanya bisa dilaksanakan ketika pewaris sudah meninggal serta ahli waris belum meninggal. Atas ketentuan Pasal 830 KUHP tersebut ada beberapa catatan bahwa dalam hal ada dua orang yang saling mewaris satu sama lain, dan kedua orang tersebut meninggal pada saat yang sama dan tidak dapat dibuktikan siapakah yang meninggal lebih dulu, jadi antara mereka tidak dapat saling mewaris seperti hal ini dijelaskan di Pasal 831 KUHP dan catatan selanjutnya bahwa dalam hal seseorang tidak ditempat untuk spesifik waktu yang ditentukan maka dapat dimintakan persangkaan barang kali meninggal dunia.42

40 Kompilasi Hukum Islam Pasal 171 b.

41 Ibid. Pasal 171 c.

42 “Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Pasal 467”

commit to user

(15)

Selanjutnya, menurut KUH Perdata pasal 832 ahli waris adalah keluarga kandung, baik secara sah berdasar undang- undang ataupun diluar pernikahan, dan suami istri yang hidup dengan panjang umurnya, berdasar aturan dibawah. Atas status seseorang sebagai ahli waris terdapat beberapa hak pokok yang tertuang pada KUUHperdata, diantaranya:

(1) Berdasar KUHPerdata Pasal 833 dan Pasal 955 yakni ahli waris secara otomatis pada saat Pewaris meninggal akan memperoleh harta warisan / hak milik atas harta peninggalan dari pewaris.

(2) Menurut KUHPerdata Pasal 834 yakni seorang ahli waris mempunyai hak guna mengajukan gugatan guna mendapatkan warisan pada seluruh individu yang menguasai harta warisan tersebut sehingga dapat dimasukkan kembali dalam boedel warisannya.

(3) Menurut KUHPerdata Pasal 1066 yakni seorang ahli waris berhak untuk menuntut pembagian warisan dilakukan.

Walaupun dikatakan bahwa ahli waris dapat menerima warisan dari pewaris tetapi ada beberapa individu yang tidak dapat menerima warisan, dimana berdasar KUHPerdata Pasal 838 orang-orang itu meliputi:

(1) Orang tersebut yang melalui keputusan Hakim pernah disalahkan sebab adanya fitnah sudah melakukan pengajuan dakwaan pada pewaris, jika pewaris pernah melaksanakan tindakan melawan hukum dan dihukum penjara 5 tahun ataupun sanksi lebih berat lagi;

(2) Orang yang sudah diberi hukuman sebab mencoba membunuh ataupun membunuh seseorang yang meninggal tersebut;

commit to user

(16)

(3) Orang yang telah sudah melakukan pemalsuan, penggelapan, atau pemusnahan wasiat seseorang yang meninggal tersebut;

(4) Orang yang sudah menghalangi individu yang sudah meninggal tersebut dengan perbuatan nyata guna menarik lagi warisan.

Kemudian, dalam aturan waris barat terdapat 2 unsur krusial yakni:43 a) Unsur individual, dalam prinsipnya seorang pemilik terhadap sebuah benda memiliki kebebasam yg sebesar-besarnnya menjadi orang buat melakukan apapun terhadap benda yang dipunyainya salah satunya harta kekayaan berdasar kehendak; b) Unsur sosial, tindakan yang dilaksanakan pemilik harta kekayaan seperti dipaparkan pada unsur individual bisa menyebabkan kerugian kepada pakar waris kemudian undang-undang memberi pembatasan-restriksi pada kebebasan pewaris untuk kepentingan ahli waris.

2. Tinjauan Umum Peralihan Hak Karena Pewarisan

Tinjauan tentang peralihan hak karena pewarisan penting dilakukan karena memiliki relevansi terhadap judul penelitian yaitu Analisis Keberlakuan Pasal 111 Ayat 1 Huruf C Peraturan Menteri Negara Agraria Nomor 3 Tahun 1997 Terkait Akta Keterangan Hak Mewaris Bagi WNI Keturunan Tionghoa Pasca Berlakunya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis. Pengalihan hak sebab pewarisan yang dimaksud disini ialah termasuk dalam salah satu proses peregistrasian tanah yang dilakukan di Kantor Pertanahan, sehingga jika ingin melakukan peralihan hak karena pewarisan atas tanah maupun hak atas satuan rumah susun haruslah berdasarkan peraturan yang berlaku di Kantor Pertanahan.

43Ahlan Sjarif, Surini dan Nurul Elmiyah. “Hukum Kewarisan BW Pewarisan Menurut Undang- Undang”.Depok : Badan Penerbit Fakultas Hukum Universitas Indonesia. 2005, hal 13.

commit to user

(17)

Kata “peralihan” berasal dari kata “alih” yang artinya pindah; ganti;

tukar; ubah. Peralihan berarti pergantian; perlintasan (dari keadaan satu ke keadaan yang lain); pertukaran; perubahan bentuk atau raut luar.44 Sedangkan, kata “hak” adalah segala hal yang harus didapatkan oleh setiap orang sejak lahir bahkan sebelum orang tersebut lahir. Pada KBBI, “hak” merupakan suatu hal yg benar, kepunyaan, milik, kekuasaan, kewenangan, buat melakukan suatu hal, kekuasaan yg sahih terhadap suatu hal ataupun buat menuntut sutau hal, martabat/derajat.45

Maka, peralihan hak ialah sebuah tindakan hukum yang memiliki tujuan memndahkan hak antar pihak. Dialihkannya sebuah hak maka memperlihatkan ada sebuah tindakan hukum yang secara sengaja dilaksanakan salah satu pihak memiliki tujuan memindahkan hak milik pada pihak lainnya, maka pemindahan hak milik itu disadari, diketahui atau dikehendaki pihak yang melaksanakan kontrak pengalihan hak atas tanah.46

Berdasar hal peralihan hak sebab pewarisan, yang mana permohonan peregistrasian hak atas tanah serta hak kepemilikan satuan rumah susun timbul sebab ada suatu peristiwa hukum, yang menjadi salah satu penyebab berakhirnya kepemilikan seseorang yaitu kematian. Dengan adanya peristiwa kematian akibatnya ada peralihan harta kekayaan baik immaterial dan material pada ahli waris. Ketentuan peralihan hak lantaran pewarisan terdapat di Pasal 42 PP Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 1997 terkait Pendaftaran Tanah, yaitu mendaftarkan pengalihan hak lantaran pewarisan bidang tanah hak yang telah diregistrasikan serta hak kepemilikan atas satuan rumah susun harus diberikan kepada yang menerima hak tersebut yang terkait menjadi warisak pada Kantor Pertanahan, sertifikat hak yg terkait, surat kematian seseorang dengan nama harus tercatat menjadi pemilik hak, serta surat pertanda bukti menjadi pakar waris.

Peralihan hak pewarisan diatur juga di Pasal 111 Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala BPN Nomor 3 Tahun 1997 mengenai Ketetapan

44 Kamus Bahasa Indonesia

45 Ibid.

46 Christy Masengie, “Analisis Yuridis Tentang Akta Jual Beli Sebagai Syarat Peralihan Hak Atas Tanah Berdasarkan PP No. 24 Tahun 1997”, Lex Administratum, Vol. C, No.9, November 2017, hlm 76.

commit to user

(18)

Penyelenggaraan PP No. 24 Tahun 1997 mengenai Peregistrasian Tanah, berbunyi :

a. Permohonan peregistrasian peralihan Hak Kepemilikan Atas Satuan Rumah Susun ataupun hak atas tanah diajukan kuasanya atau ahli waris secara memberi lampiran :

1) sertipikat hak atas tanah atupun sertipikat Hak Kepemilikan Atas Satuan Rumah Susun atas nama pewaris, ataupun jika terkait tanah yang belum teregistrasi, pembuktian kepemilikan seperti termuat pada Pasal 24 PP No. 24 Tahun 1997;

2) surat kematian atas nama pemilik hak yang termuat pada sertipikat yang terkait melalui Kepala Desa lokasi tinggal pewaris itu berada, petugas medis, RS, ataupun badan hukum lainnya yang memiliki wewenang;

3) surat tanda pembuktian menjadi ahli waris yang seperti:

a) keputusan pengadilan b) wasiat pewaris c) penetapan hakim

d) – untuk WNI penduduk asli: SK ahli waris yang disusun ahli waris dilihat dua saksi serta diperkuat Kepala Desa serta Camat lokasi tinggal pewaris itu berada saat wafat;

- Bagi WNI keturunan Tionghoa: akta keterangan hak mewaris melalui Pejabat umum,

- untuk WNI keturunan Timur Asing yang lain: SK waris melalui BHP.

4) surat kuasa tertulis melalui ahli waris jika yang melakukan pengajuan permohonan peregistrasian peralihan hak tidak ahli waris yang berkaitan;

5) bukti identitas ahli waris;

b. Jika diwaktu pengajuan peregistrasian pengaliahn telah terdapat keputusan penetapan ataupun pengadilan hakim / akta terkait pembagian warisan seperti termuat di Pasal 42 ayat (4) PP No. 24 Tahun 1997,

commit to user

(19)

penetapan ataupun keputusan / akta itu dilampirkan pula di mohonkan seperti termuat di ayat (1).

c. Akta terkait pembagian waris seperti termuat dalam ayat 2 bisa disusun pada bentuk akta dibawah tangan oleh seluruh ahli waris dilihat 2 saksi ataupun dengan akta notaris.

d. Jika ahli waris melebihi 1 individu serta belum terdapat pembagian warisan, pencatatan peralihan hak dilaksanakan pada ahli waris menjadi pemilik bersama, serta pembagian hak berikutnya bisa dilaksanakan selaras pada ketetapan Pasal 51 PP Nomor 24 Tahun 1997.

e. Jika ahli waris melebihi 1 individu serta di waktu peregistrasian peralihan hak didiringi dengan adanya akta bagian warisan yang berisis penjelasan jika hak atas tanah / Hak Kepemilikan Atas Satuan Rumah Susun jatuh pada 1 individu penerima warisan, catatan pengalihan hak dilaksanakan pada penerima warisan yang terkait berdasar akta bagian warisan itu.

f. Pendaftaran pengalihan hak seperti termuat pada Pasal ini pada daftar pencatatan tanah dilaksanakan seperti termuat pada Pasal 105.

Pemindahan hak tanah / hak kepemilikan satuan rumah susun bisa dilaksanakan lewat penukaran, hibah, jual belipemasukan pada perusahaan serta tindakan hukum peralihan hak yang lain, selain peralihan hak lewat lelang hanya bisa diregistrasikan bila ditunjukkan dengan akta yang disusun PPAT yang memiliki wewenang berdasar aturan undang-undang yang ada.47 Berdasarkan Pasal 20 Ayat 2 UUPA, disebutkan hak kepemilikan bisa dialihkan serta beralih pada pihak lainnya.48

3. Tinjauan Umum Tentang Notaris

Tinjauan tentang notaris penting dilakukan karena memiliki relevansi terhadap judul penelitian yaitu Analisis Keberlakuan Pasal 111 Ayat 1 Huruf C Peraturan Menteri Negara Agraria Nomor 3 Tahun 1997 Terkait Akta Keterangan Hak Mewaris Bagi WNI Keturunan Tionghoa Pasca Berlakunya

47 “Pasal 37 Ayat 1 Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah.”

48 “Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria.”

commit to user

(20)

Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis Adanya tinjauan tentang notaris untuk menguraikan wewenang notaris terhadap keterangan waris bagi warga negara Indonesia keturunan tionghoa.

a. Definisi Notaris

Pengertian tentang Notaris dapat ditemukan di dalam UU No. 2 tahun 2014 tentang Perubahan atas UU No. 30 tahun 2004 (UUJNP) tentang jabatan Notaris Pasal 1 (1) yakni “pejabat umum yang berwenang untuk membuat akta autentik dan memiliki kewenangan lainnya sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang ini atau berdasarkan undang-undang lainnya.” Berdasar tugasnya, seorang Notaris harus memiliki protokol Notaris dimana menurut UUJNP Pasal 1 (13) protokol Notaris yaitu sekumpulan dokumen yang termasuk arsip negara yang wajib dipelihara dan disimpan Notaris seusia dengan ketetapan peraturan perundangan.49 Dimana protokol Notaris itu terbagi menjadi:50

1) minut Akta;

2) Repertorium atau buku daftar akta;

3) buku daftar akta di bawah tangan yang tanda tangannya dilakukan dihadapan Notaris atau akta di bawah tangan yang didaftar;

4) buku daftar nama penghadap atau klapper;

5) buku daftar protes;

6) buku daftar wasiat; dan

7) buku daftar lain yang harus di simpan Notaris berdasarkan ketentuan peraturan perundang-undangan.

b. Kewenangan Notaris

Notaris merupakan salah satu pihak yang berwenang untuk membuat keterangan waris bagi wni keturunan Tionghoa berdasarkan Pasal 42 ayat (1) Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah jo Pasal 111 ayat (1) huruf c angka 4 Perkaban No. 3 Tahun 1997, diantaranya:

49“Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 2 tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 30 Tahun 2004 Tentang Jabatan Notaris.”

50 “Penjelasan Pasal 62 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 30 tahun 2004 tentang Jabatan Notaris.”

commit to user

(21)

1) Berdasar Pasal 42 ayat (1) PP No. 24 Tahun 1997 terkait Pendaftaran Tanah memuat terkait pendaftaran pemindahan hak sebab pewarisan, menjelaskan terkait keperluan kualifikasi seperti dokumen yang termasuk sebagai surat tanda pembuktian menjadi ahli waris,

2) Berdasar Pasal 111 ayat (1) huruf c angka 4 PMNA/Kepala BPN No. 3 Tahun 1997 yang menyatakan kewenangan notaris menyusun keterangan waris untuk WNI Keturunan Tionghoa melalui akta keterangan hak waris melalui Notaris.

Notaris menjadi pejabat umum yang mempunyai kewenangan menyusun akta otentik dan mempunyai wewenang lainnya seperti termuat pada Undang-Undang Jabatan Notaris.51 Akta autentik yang disusun oleh notaris adalah alat bukti secara tertulis yang terpenuh serta paling kuat.

Sesuai yang tertulis pada Pasal 15 UU No. 2 Tahun 2014 terkait Peralihan Undang-Undang No. 30 Tahun 2004 terkait Jabatan Notaris :

1) Notaris memiliki wewenang menyusun akta otentik terkait keseluruhan perikatan, keputusan, perbuatan yang diharuskan aturan undang-undang serta yang diinginkan oleh yang memiliki kepentingan guna dimuatkan pada Akta autentik, memberi jaminan kepastian tanggal penyusunan Akta, memberi grosse, menyimpan Akta, kutipan serta salinan Akta, seluruhnya tersebut asalkan penyusunan akta tersbeut tidak ditugaskan/dikecualikan pula pada pejabat lainnya ataupun individu lainnya yang ditentukan UU.

2) Kecuali wewenang seperti tertuang dalam ayat (1), Notaris berkewenangan:

a) Melakukan pengesahan tanda tangan serta menentukan kepastian tanggal surat di bawah tangan secara mencatatkan pada buku khusus;

b) melakukan pembukuan pada surat bawah tangan secara mendaftar pada buku khusus;

51 Ibid. Pasal 1 ayat (1).

commit to user

(22)

c) membuat salinan dari surat asli dibawah tangan seperti salian yang berisi penjelasan seperti digambarkan serta ditulis pada surat yang terkait;

d) melaksanakan pengesahan kecocokan fotokopi dan surat asli;

e) memberi penyuluhan hukum berkaitan dengan membuat Akta;

f) menyusun Akta yang berhubungan dengan pertanahan;

g) menyusun Akta risalah lelang.

3) Kecuali wewenang seperti yang termuat dalam ayat (1) serta (2), Notaris memiliki wewenang lainnya yang termuat pada aturan undang-undang.

4. Tinjauan Umum Tentang Akta

Tinjauan tentang akta penting dilakukan karena memiliki relevansi terhadap judul penelitian yaitu Analisis Keberlakuan Pasal 111 Ayat 1 Huruf C Peraturan Menteri Negara Agraria Nomor 3 Tahun 1997 Terkait Akta Keterangan Hak Mewaris Bagi WNI Keturunan Tionghoa Pasca Berlakunya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2008 Tentang Penghapusan Diskriminasi Ras dan Etnis.

Terdapat tinjauan terkait akta untuk menguraikan beberapa jenis akta yang disusun oleh notaris, khususnya akta keterangan hak mewaris untuk WNI berketurunan tionghoa.

a. Pengertian Akta

Kata akta memiliki asal dari bahasa latin “acta” yang berarti“geschrift”

/ surat. Sesuai pemaparan R. Subekti serta Tjitrosudibio kata “acta” adalah bentuk jamak dari “actum” yang memiliki asal dari bahasa latin serta artinya perbuatan. Sesuai pemaparan A. Pilto, menyebutkan akta ialah surat yang ditandatangani, diciptakan guna dipergunakan menjadi bukti, serta dipakai oleh seseorang, guna keperluan siapakah surat tersebut diciptakan.

Sementara sesuai pemaparan Sudikno mertokusumo akta merupakan surat yang diberikan tandatangan, yang berisis kejadian hukum, yang dijadikan dasar dari sebuah perikatan/hak, yang disusun sejak mulai dengan sengaja bagi tujuan pembuktian.52

52 Daeng Naja, “Teknik Pembuatan Akta”, Yogyakarta : Pustaka Yustisia, 2012, hlm 1.

commit to user

(23)

Akta merupakan suatu surat yang ditandatangani dan dibuat dengan tujuan utama menjadi alat bukti, lebih lanjut dipakai seseorang guna kebutuhan siapakah surat itu disusun.53 Akta termasuk pula salah satu barang bukti yang bisa digunakan di dalam persidangan dimana diketahui alat pembuktian dalam Kitab Undang Undang Hukum Perdata yaitu antara lain bukti tertulis, bukti tertulis, saksi, sumpah, pengakuan, persangkaan.54 Berdasar Pasal 184 UU Nomor 8 Tahun 1981 dilihat jika barang bukti yang valid meliputi keterangan ahli, saksi, petunjuk, surat, penjelasan terdakwa, sehinga dalam pidana akta ataupun surat dapat giunakan sebagai alat bukti. Pembuktian menggunakan tulisan bisa dilaksanakan secara tulisan yang autentik ataupun dibawah tangan, sesuai dengan Pasal 1867 KUHPerdata, ada 2 macam akta, yakni akta otentik serta dibawah tangan.

Dalam pasal 1868 KUH Perdata menjelaskan yakni sebuah akta otentik adalah “akta yang diciptakan pada bentuk yang ditetapkan undang-undang oleh ataupun di depan pejabat umum yang memiliki wewenang serta pada lokasi akta tersebut diciptakan.”. Selanjutnya pengertian akta otentik juga diatur dalam Pasal 285 Reglement Tot Regeling Van Het Rechtswezen In De Gewesten Buiten Java En Madura (RBg.) yakni “Suatu akta autentik, yakni yang diciptakan memiliki bentuk yang selaras pada undang-undang oleh ataupun di depan pejabat umum yang memiliki wewenang pada lokasi akta tersebut diciptakan, adalah bukti lengkap antar para pihak dan keturunan serta mereka memperoleh hak terkait suatu hal yang ada di dalam serta terkait hanya sebuah pernyataan, hal paling akhir ini asalkan pernyataan tersebut terdapat keterkaitan dengan suatu hal yang menjadi inti akta tersebut.”

Sebagaimana diketahui bahwa akta otentik merupakan produk utama dari Notaris dan ada dua macam bentuk akta otentik yang dapat dibuat yaitu:55

53 M. Isa Arif, 1978, “Pembuktian dan Daluwarsa”, Intermasa, Jakarta, hlm. 52.

54 “Kitab Undang-Undang Hukum Perdata”, Pasal 1866

55 Sjaifurrachman dan Habib Adjie, 2011, “Aspek Pertanggungjawaban Notaris Dalam Pembuatan Akta”, Bandung: Mandar Maju, hlm. 109.

commit to user

(24)

1) Partij akta yakni akta yang diciptakan di depan Notaris atau diciptakan di depan pejabat yang diberikan kewenangan untuk tersebut serta akta tersebut diciptakan atas permintaan pihak yang memiliki kepentingan, dalam bentuk akta ini ciri khas yang dapat ditemui adalah keberadaan komparisi yang menerangkan kewenangan pihak penghadap yang menyusun akta.

Ambtelijke akta atau akta relass atau dikenal juga dengan akta pejabat yaitu akta yang disusun pejabat yang diberikan wewenang guna melakukan hal itu, berdasar hal ini pejabat yang diberi kewenangan itu menjelaskan suatu hal yang diamati dan suatu hal yang dilaksanakannya, sehingga inisiatif tidak bersumber dari pihak yang namanya dijelaskan dalam akta itu. Pada bentuk akta ini tidak terdapat komparisi.

Akta otentik yang pembuatannya dilakukan notaris ialah alat bukti tertulis yang paling penuh serta kuat. Kekuatan pembuktian akta autentik:56

1) Materil (Materiele bewijskracht); kepastian materi sebuah akta, apa yang tercantum pada akta akan berlaku secara sah serta dibuktikan kebenarannya.

2) Lahiriah (uitwendige bewijskracht); bila ditinjau dari luar sebagai akta otentik karena selaras dari aturan hukum yang telah diberlakukan terkait kriteria akta otentik, sehingga akta itu diberlakukan sebagai pembuktian yang kuat. Berarti bila ada penyangkalan dari bukti otentik tersebut maka harus dilakukan pembuktian lebih dulu secara lahiriah apakah tersebut benar akta otentik atau tidaknya.

3) Formal (Formale bewijskracht); secara formal akta otentik terjamin kebenarannya serta terdapat secara pasti ada tanggal, hari, bulan, pukul, para pihak yang bersangkutan dan dibumbui adanya tanda tangan dengan adanya perbuatan hukum didalamnya.

Sedangkan, akta dibawah tangan ialah perjanjian yang tersusun dan dengan tanda tangannya dilakukan pihak tanda terdapatnya campur tangan

56 Habib Adjie, 2013, “Kebatalan dan Pembatalan Akta Notaris”, Bandung, PT Refika Aditama, hlm 18-20

commit to user

(25)

pejabat umum serta mengenai formatnya disusun tidak secara spesifik pada peraturan perundangan. Menurut Sudikno Mertokusumo pada buku Hukum Acara Perdata di Indonesia, akta dibawah tangan ialah pembuatan akta dengan sengaja disusun para pihak guna sebagai bukti tanpaabantuan dari pejabat umum yang ditunjuk oleh hukum.57

Kekuatan pembuktian dari akta dibawah tangan bisa jadi sempurna apabila pihak yang bertanda tangan, keturunannya serta individu yang memperoleh hak darinya, kontrak tersebut diakui oleh orang pada siapa tulisan tersebut ingin dituju. Karenanya, akta dibawah tangan juga termasuk pembuktian secara tertulis (begin van schriftelijk bewijs).58 Mengacu pada Pasal 1874 KUH Perdata, “yang sebagai tulisan dibawah tangan ialah akta dengan tanda tangannya dibawah tangan dengan surat, daftar, surat pengurusan rumah tangga serta sejumlah tulisan yang tertuang lainnya dengan tidak berhadapan langsung oleh notaris .”.

b. Akta Keterangan Hak Mewaris

Penjelasan tentang Surat Keterangan Waris seperti dijelaskan dalam Peraturan Menteri Negara Agraria/Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 Pasal 111 ayat (1) butir c poin 4 :

1) Untuk WNI penduduk asli: SK ahli waris dalam pembuatan akta harus mendatangkan saksi paling tidak 2 orang sebagai saksi dengan dihadapkan langsung oleh Kepala Desa serta Camat yang bersalah dari orang yang membuat akta tersebut;

2) Bagi WNI keturunan Tionghoa: akta keterangan hak mewaris melalui Notaris,

3) Bagi WNI keturunan Timur Asing yang lain: SK ahli waris melalui Balai Harta Peninggalan.

Notaris sendiri sebagai pejabat yang berwenang berdasar Pasal 16 Undang-Undang Nomor 2 tahun 2014 terkait bergantinya dari Undang- Undang Nomor 30 tahun 2004 terkait Jabatan Notaris Pasal 16 (i)

57 Sudikno Mertokusumo, 1998, “Hukum Acara Perdata di Indonesia”, Liberty, Yogyakarta, hlm. 125.

58 Sita Arini Umbas, “Kedudukan Akta Di Bawah Tangan Yang Telah Dilegalisasi Notaris Dalam Pembuktian Di Pengadilan.” Lex Crimen Vol. VI/No.1/Jan-Feb/2017, hlm 80.

commit to user

(26)

menjelaskan bahwa saat melaksanakan kewenangannya, Pejabat umum bertugas dalam pembuatan akta dengan dibuatnya harus disesuaikan keadaan waktu akta pertama kali hendak dibuat.

Akta Keterangan Hak Mewaris ataupun dikenal dengan surat keterangan hak waris diartikan sebagai surat pembuktian waris yang dimana surat ini bisa dibuktikan kebenarannya bahwa isi yang tercantum dalam surat tersebut yaitu keturunannya serta juga pewaris tertentu.59

5. Kajian Teori Hukum

a. Teori Hierarki Peraturan Perundang-Undangan

Kata ‘hierarki’ didalam KBBI, berarti urutan jenjang jabatan ( pangkat kedudukan); urutan organisasi dari pangkat tertinggi hingga terkecil.60 Kemudian, kata “perundang-undangan” seringnya didefinisikan sebagai wetgeving, yakni definisi menetapkan UU secara menyeluruh dibanding UU negara.61 Banyak kalangan, yang menurut Bagir Manan, menganggap hukum, peraturan perundangan serta UU adalah suatu hal yang sama.62 UU termasuk elemen dari peraturan perundangan. Peraturan perundangan terbagi atas UU serta dari peraturan perundangan lainnya, sementara hukum tidak hanya UU saja, sebaliknya terdapat sejumlah kaidah hukum lain misal adanya Hukum Yurisprudensi, Hukum Adat, serta Kebiasaan.63

Istilah perundang-undangan (legislation, wetgeving, atau gesetzgebung), menurut Maria Farida Indrati, memiliki 2 definisi yang beda, yakni:64

1) Perundang-undangan yaitu keseluruhan peraturan negara, yang termasuk hasil dalam membentuk peraturan, baik pada tingkat Pusat ataupun Daerah.

59 Effendi Perangin, 2010, “Hukum Waris”, Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, hlm. 5

60 Kamus Besar Bahasa Indonesia.

61 S. Wojowasito, “Kamus Umum Belanda-Indonesia”, Jakarta: PT. Ichtiar Baru Van Hoeve, 1985, hlm 802

62 Bagir Manan, “Dasar-dasar Perundang-Undangan Indonesia”, Cetakan Pertama, Jakarta: Ind. Hill. Co, 1992, hlm. 2-3

63 Ibid.

64 Maria Farida Indrati Soeprapto, “Ilmu Perundang-Undangan, Dasar-Dasar dan Pembentukannya”, Yogyakarta: Kanisius, 1998, hlm. 3.

commit to user

(27)

2) Perundang-undangan ialah mekanisme pembentukan berbagai peraturan negara, baik pada tingkat Pusat ataupun Daerah.

Peraturan perundangan diatur pada Pasal 1 Angka 2 Undang-Undang No. 12 Tahun 2011 terkait Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan ialah aturan secara tertulis yang berisi norma hukum yang mengikatnya serta dibentuk oleh lembaga negara yang mempunyai kewenangan dengan adanya tahapan yang sudah diberlakukan pada peraturan perundangan.65 Hans Kelsen, salah satu tokoh dalam positivisme hukum yang membahas mengenai teori hukum murni yaitu guna membebaskan ilmu hukum melalui unsur ideologis66, mengemukakan Teori Hukum Berjenjang (Stufenbau des Recht). Artinya, sebuah norma tinggi berdasar, bersumber, serta berlaku masih adanya norma yang lebih tinggi dari sebelumnya, serta hingga di norma yang sulit untuk dicari kembali serta dengan sifatnya yang fiftif serta hipotesis, yakni grundorm (norma dasar).67 Maka dari itu, hukum selalu di bentuk dan di hapus oleh Lembaga otoritasnya yang memiliki kewenangan pembentukannya dengan berdasar norma yanglebih tinggi, maka norma yang terendah bisa terbentuk dengan berdasar norma yang lebih tinggi, sehingga hukum akan membentuk hierarki yang berjenjang serta berlapis.68

Istilah ‘norma’ dengan asal kata melalui bahasa latin yakni ‘nomos’

yang artinya nilai serta dipersempit makanya menjadi norma hukum.69 Pada KBI, ‘norma' didefinisikan sebagai pengikatan keseluruhan aturan atau sebagai ukuran guna menetapkan suatu hal, untuk warga masyarakat, melalui adanya aturan yang baku.70 Menurut Hans Kelsen, norma yaitu suatu hal yang harus dibentuk, terkhusus untuk manusia yang harus berperilaku

65https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/lt5094bd4fc0c40/perbedaan-undang-undang-dengan- peraturan-perundang-undangan/

66Putera Astomo, “Perbandingan Pemikiran Hans Kelsen Tentang Hukum Dengan Gagasan Satjipto Rahardjo Tentang Hukum Progresif Berbasis Teori Hukum”, Yustisia Edisi 90, September-Desember 2014, hlm 7

67 Eka N.A.M Sihombing, “Menyoal Ketentuan Usul Pindah Pegawai Negeri Sipil Di Lingkungan Pemerintah Daerah Kabupaten Nias Barat”, Jurnal Penelitian Hukum DE JURE, ISSN 1410-5632 Vol. 16 No. 1, Maret 2016, hlm. 99

68 Aziz Syamsuddi, “Proses Dan Teknik Penyusunan Undang-Undang”, Cetakan Pertama, Jakarta : Sinar Grafika, 2011, hlm 14-15

69 Jimmly Asshiddiqie, “Perihal Undang-Undang”, Rajawali Pers, Jakarta 2011, hlm. 1

70 “Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional”, Kamus Bahasa Indonesia, 2008, hlm. 1007.

commit to user

(28)

dengan cara tertentu (…”that something ought to be or ought to happen, especially that a human being ought to behave in a specific way”).71

Teori yang di kemukakan oleh Hans Kelsen kemudian di kembangkan oleh muridnya sendiri yakni Hans Nawiasky. Teori Hans Nawiasky yaitu Theorie von Stufenufbau der Rechtsordnung, mengelompokkan hukum menjadi 4, susunan norma berdasarkan teori itu ialah :72

1) Staatsfunfamentalnorm;

2) Staatgrundgesetz;

3) Formell gesetz, dan

4) Verordnung en autonome satzung

Pengertian Staatsfundamentalnorm dalam karya Hans Nawiasky dengan judul “Allgemeine Rechtslehre als System der rechtlichen Grundbegriffe”, yang telah di artikan oleh A. Hamid A. Attamimi, adalah norma dasar untuk membentuk konstitusi UUD (staatsverfassung) dari suatu negara, maka dibentuk lebih dulu sebelum konstitusi suatu negara.73

Sebenarnya, teori dari Hans Kelsen serta dari Hans Nawiasky mempunyai hal yang sama, yaitu norma tersebut berjenajng serta berlapis dan berasalo dari norma yang lebih tinggi, hingga sampai norma yang sulit untuk dicari lagi asal sumbernya (pre-supposed). Perbedaannya, Hans Nawiasky mengelompokkan norma, dan menghubungkan langsung sebuah negara sebaliknya Hans Kelsen perspektif norma secara umum. Berdasarkan kedua teori itu, A.Hamid S. Attamimi membandingkan diantara Hans Kelsen serta Hans Nawiasky itu pada bentuk urutannya.74 Mengacu pada teori itu, susunan tata hukum Indonesia yaitu:75

1) Pancasila (Pembukaan UUD 1945) : Staatsfundamentalnorm

71 Hans Kelsen, “General Theory of Law and State”. Translate by: Anders Wedberg, New York: Russel &

Russel, 1961, page 110-112

72 Jimly Asshiddiqie, dan M. Ali Safa’at, “Teori Hans Kelsen Tentang Hukum”, Sekretariat Jendreal &

Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi RI, Jakarta, 2006, hlm. 170.

73A. Hamid A. Attamimi, “Peranan Keputusan Presiden Republik Indonesia Dalam Penyelenggaraan Pemerintahan Negara”; Suatu Studi Analisis Mengenai Keputusan Presiden yang Berfungsi Pengaturan dalam Kurun Waktu Pelita I – Pelita IV, Disertasi Ilmu Hukum Fakultas Pascasarjana Universitas Indonesia, Jakarta, 1990, hlm. 287.

74 Attamimi, Ibid, hlm. 291.

75 Ibid.

commit to user

(29)

2) Batang Tubuh UUD 1945, Tap MPR, serta Konvensi Ketatanegaraan : Staatsgrundgesetz

3) Undang-Undang : Formellgesetz

4) Secara hirarkis mulai dari Peraturan Pemerintah sampai Putusan Bupati: Verordnung en Autonome Satzung

Beberapa prinsip yang terkandung dalam teori terkait tata peraturan perundangan, diantaranya:76

1) Peraturan perundangan yang kedudukannya lebih tinggi bisa menjadi dasar hukum bagi peraturan UU yang lebih rendah.

2) Peraturan perundangan dengan jenjang yang lebih rendah harus ada sumber asalnya ataupun mempunyai dasar hukum dari peraturan UU yang jenjangnya lebih tinggi.

3) Isi dari aturan perundangan yang lebih rendah tak diperbolehkan berlawanan dengan aturan UU yang jenjangnya lebih tinggi.

4) Sebuah peraturan perundangan hanyalah bisa dilakukan pencabutan, pergantian, ataupun pengubahan dengan aturan undang-undang yang lebih tinggi tingkatannya

5) Peraturan perundangan yang sejenis bila mengatur terkait materi yang serupa, peraturan terbaru harus tetap berlaku, walaupun tanpa secara jelas diutarakan peraturan lama tidak diberlakukan. Aturan yang memuat materi yang lebih khusus haruslah diprioritaskan melalui aturan perundangan yang lebih umum.

Secara normatif, tata peraturan perundangan di Indonesia tercantum pada Pasal 7 ayat 1 serta ayat 2 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 terkait Pembentukan aturan undang-undang yaitu :

1) Jenis serta tata Peraturan Perundangan terbagi dari:

a) Peraturan Daerah Kabupaten;

b) Peraturan Daerah Provinsi;

c) Perpres;

d) PP;

76 Bega Ragawino, “Hukum Administrasi Negara”, FISIP Universitas Padjajaran, 2006, hlm 15-17

commit to user

(30)

e) UUD NRI Tahun 1945;

f) UU/Peraturan Pemerintah Pengganti UU;

g) Ketentuan MPR.

2) Kekuatan hukum peraturan perundangan disesuaikan dengan hierarki seperti halnya termuat pada ayat (1).

Adanya hierarki aturan UU, maka diharapkan suatu peraturan perundang-undangan satu dan lainnya memiliki sinkronisasi. Sinkronisasi yaitu penyesuaian dari segala peraturan perundangan mengenai peraturan perundangan yang sudah lama serta yang sedang disusun berdasarkan bisang tertentu. Tujuan dari sinkronisasi adalah guna mengetahui keserasian antar peraturan. Sinkronisasi dapat dilaksanakan dengan vertikal bersama peraturan diatasnya ataupun dengan horizontal bersama peraturan yang sederajat.77 Sinkronisasi ini mempunyai arti supaya substansi yang tercantum pada peraturan UU tak saling bertindihan, saling sebagai pelengkap, memiliki keterkaitan satu sama lain, dan semakin rendah jenis pengaturan itu sehingga makin terperinci serta operasional materi muatannya.78 Ada 2 (dua) cara dalam melakukan sinkronisasi peraturan perundang-undangan, yakni:79

1) Sinkronisasi Vertikal

Hal ini dapat dilaksanakan melalui mengetahui apakah sebuah peraturan perundangan yang diberlakukan di bidang tertentu salaing bersimpangan antara lainnya. selain memerhatikan tata peraturan UU , sinkronisasi vertikal juga harus memperhatikan urutan kejadian tahun serta nomor dari keputusan peraturan UU terkait.

2) Sinkronisasi Horizontal

Hal ini dapat dilaksanakan melalui mengetahui segala bentuk peraturan perundangan yang setara untuk pengaturan bidang yang

77Novianto M. Hantoro, S.H.,MH. “Sinkronisasi Dan Harmonisasi Pengaturan Mengenai Peraturan Daerah, Serta Uji Materi Peraturan Daerah Provinsi Bali Nomor 16 Tahun 2009 Tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Provinsi Bali Tahun 2009-2029.” Bagian Pertama Hukum Tata Negara/Hukum Konstitusi. Buku Kesatu. Hlm. 8.

78 Ibid.

79Novianto M Hantoro, Loc.Cit.

commit to user

(31)

serupa. Sinkronisasi juga harus dilaksanakan dengan berurutan sesuai dengan waktu ditentukannya peraturan UU yang terkait. Biasanya proses sinkronisasi dimulai dari inventarisasi, yakni aktivitas mencari serta mendapatkan data serta informasi terkait peraturan perundangan, dilanjut dengan substansinya dianalisis.80

Pada sinkronisasi peraturan perundangan, satu konsep utama yang harus dilakukan perhatian, yakni jika sinkronisasi peraturan perundangan dilakukan telah dengan vertikal artinya bisa terlihat tatanya. Bila menelaah dengan horizontal, akan nampak berapa jauh peraturan perundangan yang dibentuk memiliki hubungan fungsional. Melalui sinkronisasi hukum, jawaban komprehensif atas masalah hukum dan regulasi tertentu akan diperoleh, dan kelemahan peraturan perundangan yang diatur melalui bidang tertentu akan terungkap.81

Apabila ada 2 ataupun lebih peraturan perundangan yang diatur terdapat hal yang serupa tapi ada keselarasan pengaturan di materi muatan, sehingga bisa mengimplementasikan asas hukum, yaitu:82

1) Asas lex superior derogat legi inferiori

Aturan perundangan yang tingkatnya lebih tinggi dapat mengabaikan aturan perundangan yang tingkatnya lebih rendah, terkecuali bila substansi aturan undang-undang lebih tinggi membentuk suatu hak yang oleh UU ditentukan sebagai kewenangan peraturan perundangan yang tingkatannya lebih rendah.

2) Lex specialis derogat legi generalis

“Lex specialis is a Latin phrase which means” “law governing a specific subject matter”. “It comes from the legal maxim” “lex specialis derogat legi generali”. “This doctrine relates to the interpretation of laws.” “It can apply in both domestic and international law contexts. The doctrine states that a law governing a specific subject matter overrides a law that only governs general

80 Ibid.

81 Roni Hanitjo Soemitro dalam Yudho taruno dan Djuwityastuti, “Model Pengelolaan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) Dalam Rangka Mewujudkan Good Corporate Governance.” 2014, hlm 129.

82 https://definitions.uslegal.com/i/lex-specialis/diakses di tanggal 01 September 2020

commit to user

(32)

matters”. Asas ini memuat kandungan arti, bahwa secara khusus, aturan hukum akan kesampingkan aturan secara umum. Prinsip- prinsip yang harus di perhatikan:

a) Ketentuan-ketentuan lex specialis haruslah terletak di lingkungan hukum yang serupa berdasar lex generalis.

KUHD serta KUH Perdata sama-sama salah satu lingkungan hukum keperdataan.

b) Ketentuan yang diperoleh dari peraturan hukum tetap diberlakukan, terkecuali diatur secara khusus oleh hukum itu.

c) Ketentuan lex specialis harus sama jenjangnya berdasar ketentuan lex generalis (UU dengan UU).

3) Asas lex posterior derogat legi priori

Asas ini berarti peraturan hukum yang lebih baru mengabaikan peraturan hukum lama. Asas lex posterior derogat legi priori mengharuskan mempergunakan hukum baru. Prinsip-prinsipnya :

a) Aturan hukum baru serta lama memuat aspek yang serupa;

b) Aturan hukum baru haruslah sama derajatnya ataupun lebih tinggi berdasar peraturan lama.

Tujuan asas ini adalah pencegahan timbulnya dualisme yang bisa mengakibatkan tidak pastinya hukum. Melalui terdapatnya asas ini maka ketetapan yang mengatur dicabutnya sebuah peraturan perundangan sesungguhnya tak begitu krusial. Berdasar hukum, ketetapan lama yang sama tak akan diberlakukan lagi ketika hukum baru mulai diberlakukan.

4) Asas Legalitas

Asas legalitas maknanya sangat luas. Tiap negara yang menyebutnya sebagai negara hukum sangat menjujung tinggi asas legalitas ini. Karena legalitas sebagai asas utama dalam negara hukum. Asas legalitas di Indonesia tercermin pada Pasal 1 Ayat 3 UUD 1945, yakni Indonesia ialah negara hukum.83

83Diakses di: https://www.hukumonline.com/klinik/detail/ulasan/cl6986/makna-asas-legalitas-dalam-hukum- administrasi-

negara/#:~:text=Asas%20legalitas%20mengandung%20makna%20umum,peraturan%20perundang%2Dunda

commit to user

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Kotler dan Keller (2009) menyatakan bahwa nilai pelanggan merupakan kombinasi kualitas, pelayanan, harga dari suatu produk. Nilai terhantar pada pelanggan adalah

Hasil dari perilaku ini adalah penurunan kualitas audit yang dapat. dilihat sebagai hal yang perlu dikorbankan oleh individu untuk

Sementara rasa puas sendiri mempunyai nilai yang relatif tergantung dari masing-masing individu (Wijono, 2003). Dalam memberikan asuhan keperawatan berbagai macam faktor

Salah satu kekurangan peralatan wireless yang bekerja pada frekuensi ini adalah kemungkinan terjadinya interferensi dengan cordless phone, microwave oven, atau peralatan

Asas ini juga ditemukan pada Pasal 18 Undang-Undang Pokok Agraria yang menyatakan bahwa untuk kepentingan umum, termasuk kepentingan bangsa dan negara serta

“proses”, cara, pembuatan menjadikan orang atau makhluk hidup belajar”. Selanjutnya menurut Undang-undang RI Nomor 20 Tahun 2003 pasal 1 ayat 20 pembelajaran adalah

Menurut Ryff (1989), psychological well-being merupakan realisasi dan pencapaian penuh dari potensi individu dimana individu dapat menerima segala kekurangan dan

Anemia gizi adalah kekurangan kadar hemoglobin dalam darah yang disebabkan karena defisiensi zat gizi yang diperlukan untuk pembentukan hemoglobin tersebut Tujuan penelitian ini adalah