113
4.1 Kondisi Investasi Pertanian Indonesia
Salah satu indikator keberhasilan dapat dilihat dari perkembangan realisasi penanaman modal, baik dari dalam negeri (PMDN) maupun luar negeri (PMA).
Berikut ini (tabel 4.1 dan tabel 4.2) akan ditampilkan perkembangan realisasi investasi sektor pertanian PMDN dan PMA pada tahun 2006 sampai 2010.
Bisa dilihat bahwa investasi untuk PMDN mengalami fluktuasi, baik dari jumlah proyek maupun nilai investasinya, sedangkan untuk PMA cenderung mengalami penurunan sampai pada tahun 2010, dimana terjadi peningkatan.
Kondisi ini terjadi dikarenakan ada beberapa permasalahan dalam pengembangan investasi pertanian, baik PMDN maupun PMA, dilihat dari aspek teknis, ekonomis dan sosial/kelembagaan. Beberapa permasalahan itu antara lain:
1. Terbatasnya informasi potensi dan peluang investasi pertanian.
2. Terbatasnya informasi pedoman dan prosedur investasi pertanian.
3. Kurangnya promosi investasi pertanian di dalam maupun luar negeri.
4. Terbatas informasi status dan pemilikan lahan.
5. Suku bunga cukup tinggi.
6. Terbatasnya fasilitas infrastruktur seperti, listrik, jalan, pelabuhan, air bersih dan sebagainya.
7. Diskriminasi pasar terhadap produk Indonesia.
8. Kurangnya kepastian hukum berusaha.
9. Pelayanan birokrasi belum memadai.
10. Banyaknya pungutan (pajak/restrubusi) baik legal maupun illegal.
Tabel 4.1. Perkembangan Realisasi PMDN Investasi Tahun 2006-2010
Sub Sektor 2006 2007 2008 2009 2010 Total Rata-rata
P I P I P I P I P I P I P I
Tanaman pangan + perkebunan 20 3.443 18 3.528,8 4 1.184,1 16 2.309,2 193 8.727,3 251 19.192 50,2 3.838,5
Peternakan 7 115,6 1 145,2 2 50,4 7 288 48 156,5 65 756 13 151,1
Jumlah Pertanian 27 3.558,6 19 3.674 6 1.234,5 23 2.597,2 241 8.884 316 19.948 63,2 3.989,6
% Pertumbuhan tanaman
pangan + perkebunan -10% 2% -78% -66% 300% 95% 1.106% 278% 1.318% 309% 61,8%
% Pertumbuhan peternakan -86% 26% 100% -65% 250% 471% 586% -46% 850% 386% 77,2%
% Pertumbuhan pertanian -30% 3% -68% -66% 283% 110% 948% 242% 1.133% 289% 57,9%
Sumber : Kementerian Pertanian
Tabel 4.2. Perkembangan Realisasi PMA Investasi Tahun 2006-2010
Sub Sektor 2006 2007 2008 2009 2010 Total Rata-rata P I P I P I P I P I P I P I Tanaman pangan + perkebunan 13 351,9 16 219,1 10 147,4 6 122,3 161 750,9 206 1.592 41,2 318,32
Peternakan 7 18,8 7 45,7 1 4,5 4 2,5 7 4,7 26 76 5,2 15,24
Jumlah Pertanian 20 370,7 23 264,8 11 151,9 10 124,8 168 755,6 232 1.668 46,4 333,56
% Pertumbuhan tanaman pangan + perkebunan 23% -38% -38% -33% -40% -17% 2.583% 5,1% 426% 106,6%
% Pertumbuhan peternakan 0% 143% -86% -90% 300% -44% 75% 0,9% 96% 24,1%
% Pertumbuhan pertanian 15% -29% -52% -43% -9% -18% 1.580% 5,1% 416% 104,1%
Sumber : Kementerian Pertanian Keterangan :
P : Proyek
I : Investasi (dalam milyar rupiah)
Untuk proyeksi sasaran investasi pertanian, baik PMDN maupun PMA, yang ingin dicapai oleh Kementerian Pertanian pada tahun 2011-2014, dapat dilihat pada tabel berikut :
Tabel 4.3. Proyeksi Sasaran Investasi Tahun 2011-2014 TAHUN
PMDN PMA
Rp (dalam milyar)
Pertumbuhan (%)
Rp (dalam milyar)
Pertumbuhan (%)
2011 81.118 76,4 33.683 70,0
2012 144.424 78,0 56.281 71,5
2013 259.460 79,7 94.901 73,1
2014 464.905 79,2 159.594 72,6
Sumber : Kementerian Pertanian
Untuk mewujudkan sasaran investasi diatas, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi dalam pengembangan investasi pertanian baik PMDN maupun PMA. Beberapa tantangan tersebut antara lain:
1. Permintaan akan produk pertanian yang terus meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk
2. Undang-undang Otonomi Daerah
3. Munculnya negara-negara pesaing untuk menjadikan negaranya sebagai negara favorit tujuan investasi melalui kondusifnya iklim investasi dan berbagai insentif yang ditawarkan.
4. Diseminasi informasi melalui elektornik masih sangat terbatas.
4.2 Analisis Lingkungan Internal dan Eksternal Bisnis
Pada sub bab ini, akan dibahas analisis lingkungan bisnis, baik secara internal maupun secara eksternal. Beberapa alat yang digunakan adalah analisis SWOT, analisis CSF dan analisis proses investasi yang berjalan.
4.2.1 Analisis SWOT
Analisis SWOT akan dilakukan dengan cara membandingkan faktor-faktor internal (strength dan weakness) dan eksternal (opportunity dan threat) Direktorat PUI (khususnya investasi) yang pada akhirnya dapat digunakan untuk menyusun strategi bisnis di masa mendatang.
4.2.1.1 Analisis Faktor Internal Bisnis
Analisis ini digunakan untuk mengetahui kekuatan yang harus ditingkatkan dan kelemahan yang harus diatasi dalam rangka meningkatkan investasi sektor pertanian.
Tabel 4.4. Analisis Faktor Internal
Kode Strengths
S1 Masih banyak potensi lahan untuk investasi dan bahan baku untuk industri hilir
S2 Jumlah tenaga kerja pertanian yang tinggi S3 Adanya undang-undang otonomi daerah
S4 Sudah adanya program penyuluhan/promosi potensi daerah baik di dalam maupun di luar negeri
Kode Weakness
W1
Terbatasnya informasi yang diperlukan seperti potensi dan peluang investasi pertanian, pedoman dan prosedur investasi pertanian, dan status
kepemilikan lahan
W2 Kurangnya promosi/penyuluhan investasi pertanian di dalam maupun di luar negeri
W3 Kebijakan fiskal dan moneter belum mendukung berkembangnya usaha pertanian
W4 Terbatasnya fasilitas infrastruktur
W5 Pelayanan dan kinerja birokrasi yang tidak optimal
W6 Banyaknya pungutan legal/ilegal
Berikut ini adalah penjelasan poin-poin pada tabel diatas:
• S1 : Masih banyak potensi lahan untuk investasi dan dan bahan baku untuk industri hilir
Indonesia memiliki potensi ketersediaan lahan yang cukup besar dan belum dimanfaatkan secara optimal. Dengan didukung oleh penerapan inovasi teknologi budidaya dan infrastruktur yang memadai, lahan-lahan tersebut dapat menjadi lahan-lahan yang produktif. Dari luas daratan Indonesia, sekitar 94,1 juta hektar (ha) lahan sesuai untuk pertanian, sedangkan yang sudah dijadikan lahan pertanian sekitar 63,7 juta ha. Dengan demikian masih terbuka peluang untuk perluasan areal pertanian sekitar 30,4 juta ha dengan 24 juta ha sesuai untuk lahan persawahan, perkebunan dan pengembangan komoditas lain, dan 6,4 juta ha sesuai untuk lahan sawah pasang surut, lebak dan gambut yang masih memerlukan inovasi khusus. Disamping itu, terdapat sekitar 12,4 juta ha lahan pertanian yang masih terlantar.
Indonesia juga mempunyai berbagai jenis bahan baku yang melimpah untuk industri hilir. Dengan tersedianya bahan baku ini, industri hilir akan mendapatkan pasokan yang cukup untuk berproduksi sepanjang tahun dengan harga yang kompetitif.
• S2 : Jumlah tenaga kerja pertanian yang tinggi
Indonesia memiliki potensi tenaga kerja pertanian yang tinggi untuk mendukung pengembangan sektor pertanian, dikarenakan sebagian besar jumlah penduduk Indonesia berada di lokasi pedesaan. Saat ini, sekitar 43 juta tenaga kerja Indonesia masih menggantungkan hidupnya di sektor pertanian.
Para tenaga kerja ini dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan kapasitas
produksi aneka komoditas bagi pemenuhan kebutuhan pasar nasional dan pasar dunia, terutama jika dilakukan penempatan yang tepat di daerah yang masih kurang penduduknya dan didukung oleh berbagai fasilitas, bimbingan dan jaminan pasar yang baik.
Untuk kedepannya, diproyeksikan penyerapan tenaga kerja pertanian bertumbuh dalam kisaran 0,92%-0,94% setiap tahunnya. Untuk lebih jelasnya, dapat dilihat pada tabel dibawah ini:
Tabel 4.5. Tabel Proyeksi Penyerapan Tenaga Kerja Pertanian Tahun 2011-2014
TAHUN TENAGA KERJA (RIBUAN) PERTUMBUHAN (%)
2011 43.713 0,92
2012 44.114 0,92
2013 44.519 0,94
2014 44.938 0,94
Sumber : Kementerian Pertanian
• S3 : Sudah adanya program penyuluhan/promosi potensi daerah baik di dalam maupun di luar negeri
Program ini bertujuan dapat membantu menarik minat bebagai investor untuk melakukan investasinya di sektor pertanian, dengan memperkenalkan potensi- potensi yang dimiliki setiap daerah. Selain itu, program ini juga mempermudah dan mempercepat investor untuk memperoleh informasi investasi pertanian yang diperlukan.
Dilain sisi, program ini juga membantu para petugas dan pelaku usaha untuk berkembang menjadi lebih kompeten, berkualitas dan berdaya saing tinggi.
Dimana para pelaku usaha ini adalah modal utama dalam pengembangan suatu daerah. Semakin baik kualitas dan kesejahteraan para pelaku usaha, semakin berkembangnya suatu daerah yang akan mendorong semakin banyak calon investor yang ingin berinvestasi kedalam usaha tersebut
• W1 : Terbatasnya informasi yang diperlukan, seperti potensi dan peluang investasi pertanian, pedoman dan prosedur investasi pertanian, dan status dan pemilikan lahan
Terbatasnya informasi mengenai potensi dan peluang investasi pertanian akan berdampak terhadap kurang dikenalnya potensi dan peluang yang ada di daerah serta komoditas-komoditas unggulan di kalangan investor, baik di dalam maupun di luar negeri.
Terbatasnya informasi mengenai pedoman dan prosedur investasi pertanian akan berdampak kepada ketidaktahunan para investor mengenai bagaimana caranya melakukan investasi, peraturan apa saja yang harus ditaati, persyaratan apa saja yang harus dipenuhi dan sebagainya.
Terbatasanya informasi mengenai status dan pemilikan lahan dapat berdampak kepada kepemilikan lahan yang tumpang tindih yang menyebabkan adanya sengketa antara berbagai pihak yang bersangkutan.
Pada akhirnya, membuat para investor enggan melakukan investasi dalam jumlah yang banyak.
Jadi dengan kata lain, terbatasnya informasi-informasi yang diperlukan dapat menyebabkan para investor cenderung mengurungkan niatnya untuk melakukan investasi karena ketidaktahuan mereka.
• W2 : Kurangnya promosi/penyuluhan investasi pertanian di dalam maupun di luar negeri
Kegiatan promosi mengenai potensi dan peluang investasi sektor pertanian yang dilakukan masih dirasakan belum maksimal, secara kuantitas maupun kualitasnya. Sampai saat ini, promosi yang dilakukan belum mempunyai
agenda yang jelas dan hanya ditampilkan dalam bentuk pameran yang
”menumpang” pada suatu acara tertentu. Hal ini menyebabkan para peserta dan pengunjung acara tidak spesifik untuk melakukan investasi di sektor pertanian, sasaran yang ingin dituju dari kegiatan promosi juga tidak jelas, jadwal acara yang tidak rutin dan sebagainya.
Kurangnya promosi disini juga dimaksudkan dengan kurangnya penyuluhan kepada para petani atau pelaku usaha agribisnis, dalam rangka menghasilkan sumber daya manusia (SDM) yang kompeten sehingga mampu mengembangkan usaha pertanian yang tangguh, yang lebih baik dan lebih menguntungkan, kehidupan yang lebih sejahtera dan lingkungan yang lebih sehat, dan sebagainya.
• W3 : Kebijakan fiskal dan moneter belum mendukung berkembangnya usaha pertanian
Kebijakan fiskal dan moneter yang ada tidak mendukung pertumbuhan industri pengolahan pertanian di dalam negeri sehingga menurunkan/menghilangkan kesempatan untuk menambahkan pendapatan dan memperluas lapangan kerja di sektor pertanian. Pembangunan pertanian Indonesia hanya mendapatkan anggaran sebesar 3% dari APBN, dimana APBN sendiri sangat dibutuhkan dalam mengatasi faktor-faktor kritis, seperti penyediaan sarana-prasarana yang tidak diminati swasta/tidak mampu disediakan oleh petani, pengembangan kapasitas SDM dan kelembagaan pelayanan pemerintahan di bidang pertanian, serta membantu mengatasi kegagalan pasar produk yang dihasilkan oleh petani. Selain itu, Harga Pembelian Pemerintah hanya sedikit di atas biaya produksi (lebih rendah dari
harga pasar), dan pengendalian harga penjualan untuk mencegah inflasi belum maksimal, pemberlakuan tarif bea masuk impor tidak sepenuhnya melindungi produk petani domestik sehingga komoditas impor sering membajiri pasar dalam negeri dengan harga yang lebih murah, serta pencegahan penyeludupan masuknya produk luar negeri belum dilaksanakan secara maksimal. Kondisi-kondisi inilah yang menyebabkan petani tidak menerima insentif secara optimal sehingga mengurangi minat dan gairah para petani dalam meningkatkan produktivitas dan mengembangkan usaha taninya.
Selain itu, suku bunga di Indonesia yang cukup tinggi jika dibandingkan negara pesaing (lebih besar sekitar 20% dibandingkan negara-negara tetangga), dimana perbankan swasta masih takut terlibat dikarenakan resiko sektor pertanian yang cukup tinggi. Hal ini menyebabkan Indonesia menjadi tidak kompetitif untuk investasi. Dimana semua usaha yang dilakukan oleh semua pemain di sektor pertanian sangat bergantung kepada kebutuhan modal, terutama para petani kecil dengan luas lahan dan modal usaha yang terbatas. Jika suku bunga cukup tinggi maka akan menyebabkan para petani yang bermodal kecil kesulitan untuk melakukan pembayaran yang menyebabkan semakin kecilnya jumlah peminjaman yang dilakukan oleh para petani. Dengan menurunnya jumlah peminjaman modal yang dilakukan oleh para petani akan mengurangi jumlah investasi yang dilakukan oleh para investor.
• W4 : Terbatasnya fasilitas infrastruktur
Infrastruktur pendukung investasi yang sangat esensial adalah infrastruktur transportasi (jalan, jembatan, pelabuhan laut/udara/terminal peti kemas, dll.), listrik, telekomunikasi, air bersih, pasar, jaringan irigasi. Infrastruktur tersebut dirasakan masih kurang memadai dan yang sudah ada pun banyak yang rusak.
Terbatasnya fasilitas infrastruktur akan menghambat sisi produksi pertanian yang menyebabkan pembangunan di bidang pertanian juga melambat, dimana pada akhirnya akan menyebabkan lambatnya arus investasi pertanian. Sebagai contoh, masih banyak daerah yang fasilitas listriknya masih kurang. Padahal listrik merupakan salah satu sumber daya yang paling vital dalam industri tersebut. Hal ini lah yang menyebabkan perkembangan industri terhambat.
• W5 : Pelayanan dan kinerja birokrasi yang tidak optimal
Selain kurangnya SDM yang berkualitas, penempatan aparat pemerintah, baik di Propinsi maupun Kabupaten, masih belum sesuai dengan kompetensinya.
Selain itu, dikarenakan terlalu banyaknya Satuan Kerja, terutama di Daerah, maka sulit dilakukan pemonitoran dan evaluasi terhadap pelaksanaan kegiatan. Pemerintah Kabupaten/Kota sendiri juga cenderung kurang memberikan perhatian pada peningkatan kemampuan, fasilitas dan sarana kerja. Dilain sisi, pembangunan pertanian sendiri juga melibatkan banyak sektor, dimana walaupun koordinasi antara sektor sering dilakukan, pengintegrasian secara fisik sulit untuk dilaksanakan.
Menurut survei yang dilakukan sebuah LSM, menyebutkan bahwa faktor utama menurunnya arus investasi dan hengkangnya para investor dari Indonesia adalah sikap dan moral, serta kualitas para aparat birokrasi yang
berkaitan dengan investasi, seperti tamak, tidak simpatik dalam melayani, tidak profesional dan sebagainya. Aparat di lapangan juga kurang profesional dan kurang disiplin, terutama dalam pengurusan perijinan, pembayaran pajak dan sebagainya.
• W6 : Banyaknya pungutan legal/ilegal
Sejak otonomi daerah diberlakukan di Indonesia tahun 2001, daerah Kabupaten/Kota berlomba-lomba menerbitkan berbagai Peraturan Daerah (PERDA) tentang pungutan/retribusi dengan argumen untuk mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun dalam kenyataannya, banyak PERDA yang tidak pro-bisnis dan hal itu sangat memberatkan investor, baik PMA maupun PMDN, karena mengalami pungutan yang berlipat dan banyak yang tidak rasional, bahkan saat ini sudah menyentuh proses perijinan yang kian bertambah panjang. Hal ini juga menyebabkan banyak investor merelokasikan usahanya yang menyebabkan hilangnya salah satu sumber PAD dan meningkatnya jumlah pengangguran.
Di sisi lain, juga masih banyak pungutan-pungutan liar yang dilakukan oleh oknum-oknum tidak bertanggungjawab, bahkan ketika usaha itu belum berproduksi sama sekali. Hal inilah yang menjadi salah satu beban yang merugikan para pelaku usaha yang pada akhirnya memilih negara lain yang mempunya iklim usaha yang lebih kondusif.
4.2.1.2 Analisis Faktor Eksternal Bisnis
Analisis ini digunakan untuk mengetahui kesempatan dan ancaman yang dihadapi dalam rangka meningkatkan perkembangan investasi sektor pertanian.
Berikut ini adalah hasil analisis faktor eksternal bisnis:
Tabel 4.6. Analisis Faktor Eksternal
Kode Opportunities
O1 Adanya kecenderungan peningkatan permintaan produk pertanian seiring dengan peningkatan pertumbuhan dan daya beli penduduk
O2 Praktek perdagangan bebas
O3 Adanya pengembangan industri olahan hasil produk pertanian yang terbuka luas
O3 Adanya Undang-Undang Otonomi Daerah
Kode Threats
T1
Munculnya negara-negara pesaing yang menjadi negara favorit untuk investasi melalui iklim inventasi yang kondusif dan berbagai insentif yang
ditawarkan
T2 Minat penduduk muda terhadap pertanian semakin menurun T3 Diskriminasi pasar terhadap produk Indonesia
T4 Kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh perbuatan manusia Berikut ini adalah penjelasan poin-poin pada tabel diatas:
• O1 : Adanya kecenderungan peningkatan permintaan produk pertanian seiring dengan peningkatan pertumbuhan dan daya beli penduduk
Saat ini, tingkat konsumsi aneka produk hasil pertanian Indonesia, kecuali beras, gula dan minyak goreng, masih relatif rendah. Hal ini diakibatkan rendahnya tingkat pendapatan per kapita penduduk Indonesia yang pada akhirnya mempengaruhi daya beli mereka. Seiring dengan adanya peningkatan dalam pembangunan ekonomi, maka pendapatan per kapita penduduk Indonesia juga akan mengalami peningkatan.
Selain itu, jumlah penduduk Indonesia juga cenderung terus mengalami peningkatan, dimana pada tahun 2010, laju pertumbuhan penduduk Indonesia mencapai 1,49 % per tahun, yaitu sekitar 3,5 juta orang per tahun. Seiring
dengan peningkatan jumlah penduduk, akan mengakibatkan meningkatnya jumlah konsumsi penduduk. Dengan adanya peningkatan pendapatan dan konsumsi penduduk, maka ada kecenderungan permintaan terhadap produk pertanian juga ikut meningkat.
• O2 : Praktek perdagangan bebas
Sejalan dengan era globalisasi dan pembelakuan pasar bebas, produk pertanian Indonesia, baik produk segar maupun olahan, juga mempunyai peluang untuk dapat dipasarkan ke pasar internasional. Jika peluang pasar, baik di dalam maupun di luar negeri, dapat dimanfaat sebaik-baiknya oleh Indonesia dengan basis keunggulan kompetitif yang dimiliki, maka pasar Internasional menjadi pangsa pasar yang sangat besar bagi produk pertanian Indonesia.
• O3 : Adanya pengembangan industri olahan hasil produk pertanian yang terbuka luas
Indonesia mempunyai bahan baku untuk industri olahan yang sangat banyak.
Saat ini masih banyak bahan baku yang diekspor dalam keadaan mentah, padahal jika bahan baku itu diolah lebih dahulu dapat menghasilkan nilai tambah dengan harga yang lebih mahal.
Dengan meningkatnya kesadaran masyarakat Indonesia atau pun dunia akan potensi itu, ada kecenderungan untuk para pelaku usaha (atau investor) mulai
”bermain” dalam industri olahan hasil produk pertanian yang saat ini masih mempunyai peluang yang sangat luas.
• O4 : Adanya undang-undang (UU) otonomi daerah
Pelaksanaan UU otonomi daerah dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui pengembangan potensi daerah, dimana setiap daerah dapat mengedepankan potensi, kreativitas dan keanekaragaman yang dimilikinya dalam mencapai kesejahteraan masyarakat setempat. Jadi, dengan adanya UU otonomi daerah, daerah seharusnya dapat meningkatkan kesejahteraan dan pelayanan penduduk daerah tersebut, serta menarik sebanyak mungkin investor yang bersedia menanamkan modalnya. Selain itu, UU otonomi daerah juga mendorong peningkatan laju pertumbuhan permintaan/pemanfaatan lahan pertanian multi sektoral.
Hal ini dapat terwujud, ketika daerah menjadikan wilayahnya sebagai tujuan investasi yang menarik, dengan memberikan pelayanan yang prima, penyediaan informasi dan data yang lengkap dan akurat, memberikan jaminan dan perlindungan keamanan bagi pelaku usaha di daerahnya, dan sebagainya
• T1 : Munculnya negara-negara pesaing yang menjadi negara favorit untuk investasi melalui iklim inventasi yang kondusif dan berbagai insentif yang ditawarkan
Dengan adanya iklim investasi yang kondusif dan berbagai insentif yang ditawarkan oleh negara-negara pesaing, hal ini akan menyebabkan level persaingan yang semakin meningkat. Apabila, tidak mengambil langkah dengan cepat untuk memperbaiki iklim investasi dan lingkungan bisnis di Indonesia, maka banyak calon investor ataupun investor yang sudah ada, baik dari dalam maupun luar negeri, yang cenderung lebih berminat melakukan investasi pada negara tersebut dibandingkan di Indonesia.
• T2 : Minat penduduk muda terhadap pertanian semakin menurun
Dikarenakan melihat tingkat kemiskinan di pedesaan, banyak penduduk, terutama yang sudah mengeyam pendidikan formal, tidak tertarik untuk bekerja dan berusaha di sektor pertanian yang menyebabkan tingginya tingkat urbanisasi ke kota. Jika hal ini berlangsung terus, maka pembangunan pertanian di Indonesia tidak dapat berkembang.
• T3 : Diskriminasi pasar terhadap produk Indonesia
Petani Indonesia mengalami ketidakadilan perdagangan daripada petani di negara-negara lain yang lebih mudah mendapatkan perlindungan tarif dan subsidi langsung/tidak langsung. Ditambah dengan adanya pembentukan ekonomi oleh beberapa negara seperti North American Free Trade Area (NAFTA), European Union (Eu) dan sebagainya, adanya kecenderungan timbulnya ketimpangan ekonomi baru, baik dalam hubungan antara negara maupun antara kawasan/regional. Ketimpangan ini akan menyulitkan Indonesia dalam mengekspor produk-produk pertanian, dikarenakan adanya perbedaan perlakuan.
• T4 : Kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh perbuatan manusia
Kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh perbuatan manusia, seperti penebangan atau pembakaran hutan untuk dijadikan lahan pertanian dan sebagainya, akan menyebabkan hasil komoditas pertanian berkurang. Selain itu, kerusakan lingkungan juga akan mempengaruhi potensi-potensi lahan yang ada menjadi kurang produktif/rusak.
4.2.1.3 Matrik EFAS dan IFAS
Berikut ini merupakan matrik EFAS dan IFAS dari hasil evaluasi faktor internal dan eksternal, dimana bobot yang digunakan merupakan hasil perhitungan menggunakan pairwise comparation :
Tabel 4.7. Matrik IFAS
Kekuatan Bobot Peringkat Nilai
S1 Masih banyak potensi lahan untuk investasi dan bahan
baku untuk industri hilir 0,169 4 0,676 S2 Jumlah tenaga kerja pertanian yang tinggi 0,033 3 0,099 S3 Sudah adanya program penyuluhan/promosi potensi
daerah baik di dalam maupun di luar negeri 0,059 4 0,236
Sub total 1,011
Kelemahan W1
Terbatasnya informasi yang diperlukan seperti potensi dan peluang investasi pertanian, pedoman dan prosedur
investasi pertanian, dan status kepemilikan lahan 0,042 1 0,042 W2 Kurangnya promosi/penyuluhan investasi pertanian di
dalam maupun di luar negeri 0,033 1 0,033 W3 Kebijakan fiskal dan moneter belum mendukung
berkembangnya usaha pertanian 0,187 1 0,187 W4 Terbatasnya fasilitas infrastruktur 0,273 1 0,273 W5 Pelayanan dan kinerja birokrasi yang tidak optimal 0,072 1 0,072 W6 Banyaknya pungutan legal/ilegal 0,131 1 0,131
Sub total (0,738)
TOTAL (S-W) 1,00 0,273
Tabel 4.8. Matrik EFAS
Kesempatan Bobot Peringkat Nilai
O1
Adanya kecenderungan peningkatan permintaan produk pertanian seiring dengan peningkatan pertumbuhan dan daya
beli penduduk 0,171 4 0,684
O2 Praktek perdagangan bebas 0,091 4 0,364
O3 Adanya pengembangan industri olahan hasil produk
pertanian yang terbuka luas 0,135 3 0,405 O4 Adanya Undang-Undang Otonomi Daerah 0,024 2 0,048
Sub total 1,501
Ancaman T1
Munculnya negara-negara pesaing yang menjadi negara favorit untuk investasi melalui iklim inventasi yang kondusif
dan berbagai insentif yang ditawarkan 0,245 1 0,245 T2 Minat penduduk muda terhadap pertanian semakin menurun 0,067 1 0,067 T3 Diskriminasi pasar terhadap produk Indonesia 0,236 1 0,236 T4 Kerusakan lingkungan yang diakibatkan oleh perbuatan
manusia 0,030 3 0,090
Sub total (0,638)
TOTAL (O-T) 1,00 0,863
Posisi instansi akan ditentukan menggunakan diagram SWOT dengan menentukan titik kordinatnya (X,Y), dimana hasil dari matrik IFAS merupakan kordinat X dan hasil matrik EFAS merupakan kordinat Y.
Gambar 4.1. Diagram SWOT
Berdasarkan diagram SWOT diatas, diketahui bahwa instansi berada di kuadran 1, yang berarti instansi berada dalam kondisi prima dan mantap untuk mengembangkan dirinya dengan menggunakan semua kekuatan yang dimiliki untuk memperoleh semua kesempatan yang ada.
4.2.1.4 Matrik SWOT
Dikarenakan instansi berada dalam kuadran 1, hal ini berarti strategi yang harus digunakan adalah strategi agresif yang artinya instansi harus memanfaatkan semua kekuatan yang dimilikinya untuk merebut dan memanfaatkan semua kesempatan yang ada. Berikut ini merupakan matrik SWOT yang menggabungkan antara faktor-faktor yang berada dalam matrik EFAS dengan faktor-faktor yang berada dalam matrik IFAS :
Tabel 4.9. Matrik SWOT
Strengths (Kode : S1, S2, S3, S4) Weakness (Kode : W1, W2, W3, W4, W5, W6)
Opportunities (Kode : O1, O2, O3)
Strategi S-O Strategi W-O
• Meningkatkan tingkat produksi hasil pertanian di setiap daerah dengan memanfaat sumber daya yang ada (S1,S2,S3 – O1, O2)
• Memperbesar pangsa pasar dengan meningkatkan berbagai kebijakan dan program promosi/penyuluhan terutama untuk pasar internasional (S3, S4 – O1, O2, O3)
• Meningkatkan penyuluhan pentingnya valued added untuk produk olahan hasil pertanian (S3, S4 – O2, O3)
• Meningkatkan berbagai insentif, sistem keamanan, pelayanan dan infrastruktur penunjang untuk menciptakan iklim usaha yang kondusif (W3, W4, W5, W6 – O1, O2, O3)
• Meningkatkan program promosi/penyuluhan terutama untuk industri hilir untuk memperbesar pangsa pasar (W2 - O1, O2, O3)
• Meningkatkan kesadaran akan pentingnya data dan informasi yang dibutuhkan dalam mengembangkan usaha sektor pertanian (W1 - O2)
Threats (Kode : T1, T2, T3, T4)
Strategi S-T Strategi W-T
• Mempertahankan dan memperbesar pangsa pasar dengan
meningkatkan berbagai program promosi/penyuluhan dan insentif yang menggiurkan (S3, S4 – T1, T3)
• Meningkatkan kesadaran akan pentingnya lingkungan dan potensi sektor pertanian melalui berbagai program penyuluhan terutama untuk kalangan penduduk muda yang sudah mengecap pendidikan (S3, S4 – T2, T4)
• Membina kerjasama dengan berbagai negara untuk memperbesar pangsa pasar dengan memanfaatkan potensi lahan, bahan baku dan tenaga kerja yang ada (S1, S2 – T3)
• Memberikan penyuluhan secara intensif terutama untuk Daerah-Daerah tertinggal (W1, W2 – T2, T4)
• Mempertahankan pangsa pasar dengan meningkatkan program promosi/penyuluhan serta kekondusifan kebijakan fiskal dan moneter (W2, W3 – T1,
• Memperbaiki dan merawat T3) fasilitas dan sarana yang tersedia (W4 – T4)
• Membina kerjasama dengan berbagai negara dengan menawarkan berbagai kebijakan yang menguntungkan kedua belah
pihak (W3 – T3)
• Memperbaiki sistem dan budaya yang berlangsung pada instansi terkait (W5, W6 – T1)
Berdasarkan matriks SWOT pada tabel diatas, ada tiga strategi yang harus didukung oleh SI/TI dalam perealisasiannya. Berikut ini merupakan pemetaan strategi bisnis Direktorat PUI dan dukungan SI/TI yang diperlukan :
Tabel 4.10. Pemetaan Strategi SO Dan Dukungan SI/TI
Strategi SO Kebutuhan SI/TI Dukungan SI/TI
Meningkatkan tingkat produksi hasil pertanian di setiap Daerah dengan memanfaat sumber daya
yang ada
Adanya infrastruktur yang menunjang pengintegrasian keseluruhan proses, sistem dan data yang diperlukan
Adanya sistem yang mendukung proses pembelajaran secara online
untuk setiap para pelaku bisnis dan petugas terutama di Daerah
CLOUD COMPUTING
KNOWLEDGE MANAGEMENT
(KM)
Memperbesar pangsa pasar dengan meningkatkan berbagai
kebijakan dan program promosi/penyuluhan terutama
untuk pasar internasional
Adanya infrastruktur yang menunjang pengintegrasian keseluruhan proses, sistem dan data yang diperlukan Adanya sistem yang dapat mendukung Direktorat PUI melayani kebutuhan calon investor/investor yang sudah ada dengan lebih baik.
Adanya sistem yang dapat menunjang Direktorat PUI meningkatkan kegiatan promosinya
CLOUD COMPUTING
DECISION SUPPORT SYSTEM (DSS)
Meningkatkan penyuluhan pentingnya valued added untuk
produk olahan hasil pertanian
Adanya infrastruktur yang
dapat menunjang pengintegrasian keseluruhan
proses, sistem dan data yang diperlukan
Adanya sistem yang mendukung proses pembelajaran secara online
untuk setiap para pelaku bisnis dan petugas terutama di Daerah
CLOUD COMPUTING
KNOWLEDGE MANAGEMENT
(KM)
4.2.2 Analisis CSF
Analisis ini bertujuan untuk mengidentifikasikan faktor-faktor penentu keberhasilan Direktorat PUI untuk menjadi instansi pemerintah yang dapat memberikan pelayanan dan kinerja terbaik untuk bidang investasi sektor pertanian. Untuk itu, diperlukan suatu indikator yang dapat digunakan untuk mengevaluasi sejauh mana kinerja Direktorat PUI dalam mencapai faktor-faktor penentu keberhasilan tersebut. Berdasarkan observasi dan wawancara yang dilakukan, maka CSF Direktorat PUI (khususnya investasi) adalah sebagai berikut:
Tabel 4.11. CSF
CSF Ukuran CSF Target CSF
Iklim investasi (usaha) yang
kondusif
Peningkatan peringkat negara
yang menarik untuk investasi Mencapai ”Investment Grade”
Data dan informasi investasi pertanian
Peningkatan jumlah bahan kebijakan investasi pertanian
10x dalam lima tahun atau 2x setiap tahun Peningkatan jumlah bahan
informasi investasi pertanian
30 bahan dalam 5 tahun atau 6 bahan informasi/kegiatan setiap
tahun Sosialisasi
informasi investasi
Peningkatan sosialisasi informasi investasi pertanian
(kebijakan, regulasi, potensi dan peluang investasi)
48x atau peningkatan 9x setiap tahun
Perkembangan kinerja investasi
pertanian
Peningkatan pemonitoran dan evaluasi investasi pertanian
4x dalam lima tahun atau 1x setahun Peningkatan tingkat investasi
PMDN maupun PMA
Peningkatkan investasi PMDN sebesar Rp. 464,9
trilyun
Peningkatan investasi PMA sebsar RP. 159,6 trilyun
4.2.3 Analisis Proses Yang Berjalan 4.2.3.1 Kegiatan Utama
Kegiatan utama yang berjalan dalam proses investasi di lingkup Subdit Investasi Kementarian Pertanian adalah sebagai berikut:
Tabel 4.12. Kegiatan Utama Proses Investasi
Kegiatan Penjelasan
Penyusunan Bahan- Bahan Kebijakan Investasi Pertanian
Menyusun kebijakan dan regulasi sesuai dengan arah dan strategi kebijakan investasi pertanian yang ingin dicapai periode 2010-2014 dalam rangka menciptakan
iklim yang kondusif bagi investasi
Penyusunan Bahan Promosi Potensi dan
Peluang Investasi Pertanian
Menyusun beberapa bahan informasi seperti Bahan Promosi Investasi, Road Map Pengembangan Investasi,
Informasi Potensi dan Peluang Investasi, Informasi Pedoman Investasi Pertanian, Data Investasi PMDN dan
PMA, serta Profil Investasi. Informasi-informasi ini diharapkan dapat menarik sebanyak mungkin investor dalam menanamkan modalnya untuk pengembangan di
masing-masing daerah
Sosialisasi Informasi Kebijakan, Regulasi
serta Potensi dan Peluang Investasi
Pertanian
Mensosialisasikan informasi mengenai kebijakan, regulasi serta potensi dan peluang investasi pertanian melalui Promosi, baik dalam negeri maupun luar negeri,
Workshop Pengembangan Investasi Pertanian, Gelar Potensi Investasi, serta Sosialisasi Sistem Informasi
Investasi Agribisnis Elektronik (SIIATRON) Hal ini dilakukan agar informasi investasi pertanian
dapat tersedia dan tersebar secara cepat untuk para investor
Melaksanakan program pembinaan SDM pertanian, program pendidikan dan latihan (Diklat) untuk meningkatkan kompetensi para tenaga penyuluh pertanian bagi kebutuhan para pelaku usaha agribisnis,
terutama para petani Memonitor dan
Mengevaluasi Investasi Pertanian
Melaksanakan pengumpulan informasi dan program pemantauan mengenai kegiatan investasi di semua
sektor pertanian.
Memberikan layanan evaluasi dan bimbingan teknis kepada masyarakat terutama untuk para pelaku usaha
agribisnis
4.2.3.2 Proses Utama
Proses investasi yang berjalan di lingkup Subdit Investasi, Direktorat PUI Kementarian Pertanian adalah sebagai berikut :
Gambar 4.2. Proses Yang Berjalan Di Subdit Investasi Keterangan proses yang berjalan:
1.a. Subdit Investasi meminta data peluang dan potensi investasi, kondisi daerah, klimatologi, wilayah dan SDM secara langsung ke tiap Daerah (Propinsi dan Kabupaten).
1.b. Subdit Investasi meminta data yang dibutuhkan kepada BKPM berupa data ijin usaha, kebijakan investasi, regulasi investasi, perkembangan investasi dan prosedur pengajuan ijin usaha (investasi)
1.b.1.BKPM meminta data yang dibutuhkan ke tiap Daerah (Propinsi dan Kabupaten).
1.c. Subdit Investasi meminta data yang berkaitan dengan komoditas kepada PUSDATIN
1.c.1.PUSDATIN meminta data yang dibutuhkan ke tiap Daerah (Propinsi dan Kabupaten)
1.d. Subdit Investasi meminta data mengenai suku bunga, tingkat inflasi dan kurs mata uang ke Bank Indonesia
2.a. Daerah (Propinsi dan Kabupaten) akan memberikan data yang dibutuhkan kepada Subdit Investasi secara manual (laporan).
2.b. Daerah (Propinsi dan Kabupaten) akan memberikan data yang dibutuhkan ke BKPM secara manual atau melalui sistem BKPM (laporan).
2.b.1.BKPM akan memberikan data yang dibutuhkan ke Subdit Investasi.
2.c. Daerah (Propinsi dan Kabupaten) akan memberikan data yang dibutuhkan ke PUSDATIN secara manual atau melalui sistem (laporan)
2.c.1.PUSDATIN akan memberikan data yang dibutuhkan ke Subdit Investasi 2.d.1.Bank Indonesia memberikan data mengenai tingkat suku bunga, tingkat
inflasi dan kurs mata uang ke Subdit Investasi
3.a. Setelah data sudah dikumpulkan, Subdit Investasi bersama setiap Eselon 1 Kementerian Pertanian (3.a.1) akan melakukan penyusunan bahan-bahan kebijakan dan regulasi untuk meningkatkan kekondusifan iklim investasi sektor pertanian. Kebijakan dan regulasi ini nantinya akan diserahkan kepada Menteri Perekonomian
3.b. Setelah data sudah dikumpulkan, Subdit Investasi juga akan melakukan penyusunan bahan-bahan promosi (biasanya berupa buku atau buklet)
3.c. Subdit Investasi akan melakukan pemonitoran dan pengevaluasian perkembangan investasi di sektor pertanian berdasarkan data yang sudah dikumpulkan sebelumnya
4.a. Subdit Investasi akan melakukan kegiatan-kegiatan seperti gelar potensi investasi (mengundang pihak swasta/calon investor) dan workshop (membahas masalah dan kendala-kendala yang ada di tiap Daerah, baik Propinsi maupun Kabupaten).
4.a.1.Perwakilan dari tiap Daerah (Propinsi dan Kabupaten) akan mendatangi acara-acara yang diadakan oleh Subdit Investasi, baik gelar potensi investasi dan workshop
4.b. Subdit Investasi juga akan mengadakan penyuluhan, baik di dalam dan di luar negeri
5.a. dan 5.b. Calon investor dapat mendatangi setiap kegiatan yang diadakan oleh Subdit Investasi, baik penyuluhan (4.a), gelar potensi wilayah ataupun workshop (4.b).
6. Disana calon investor yang berminat dapat meminta informasi lebih lanjut dan melakukan konsultasi dengan Subdit Investasi. Calon investor juga dapat mengujungi kantor Subdit Investasi yang terletak di JL. R.M. Harsono no 3, gedung D, lantai 3, Ragunan Jakarta-Selatan untuk berkonsultasi lebih lanjut. Konsultasi ini bertujuan memberikan informasi-informasi umum mengenai potensi dan peluang investasi (bisa ditinjau dari komoditas/wilayah yang diinginkan oleh calon investor).
7. Setelah memberikan informasi dan konsultasi, dan jika calon investor akan menindaklanjuti investasinya, Subdit Investasi akan memberikan informasi mengenai contact person di Daerah yang dapat dihubungi calon investor, dimana calon investor dapat meninjau langsung daerah tersebut untuk melakukan penelitian lebih lanjut (biasanya menggunakan konsultan luar).
Apabila calon investor sudah yakin akan melakukan investasi, maka akan dilanjutkan dengan proses untuk permohonan ijin usaha kepada BKPM. Untuk prosesnya dapat dilihat pada gambar berikut ini:
Gambar 4.3. Proses Pengajuan Ijin Investasi (Kementerian Pertanian)
Proses dimulai dengan adanya surat permohonan penanaman modal, baik dari dalam negeri maupun dari asing, yang akan diajukan kepada Kepala BKPM/Ketua BKPMD. Khusus untuk penanaman modal yang berlokasi di dua/lebih Propinsi, harus diajukan kepada kepala BKPM.
Dalam mengajukan permohonan, Penanam Modal Dalam Negeri (PMDN) harus mengajukan dua rangkap formulir model I/PMDN yang dilengkapi dengan lampiran-lampiran sebagai berikut:
1. Bukti diri pemohon, terdiri dari:
a. Salinan Akta Pendirian Perusahaan dan Perubahan untuk perusahaan berbentuk PT, BUMN/BUMD, Curriculum Vitae, atau
b. Salinan anggaran dasar untuk perusahaan berbentuk Koperasi, atau c. Salinan Kartu Tanda Penduduk (KTP) untuk perorangan
2. Surat Kuasa jika yang menandatangani surat permohonan bukanlah pemohon itu sendiri.
3. Salinan Nomor Pokok Wajib Pajak (NPWP) pemohon 4. Uraian kegiatan penanaman modal, yang terdiri dari:
a. Untuk perusahaan yang bergerak dibidang produksi, harus dilengkapi bagan aliran proses dan jenis bahan baku/bahan penolong
b. Untuk perusahaan yang bergerak dibidang jasa, harus dilengkapi uraian kegiatan usaha
5. Persyaratan dan/atau ketentuan sektoral tertentu yang dikeluarkan Pemerintah 6. Untuk perusahaan kemitraan, harus melampirkan:
a. kesepakatan/perjanjian kerjasama tertulis mengenai kesepakatan bermitra dengan usaha kecil yang memuat nama dan alamat masing-masing pihak, pola kemitraan yang akan digunakan, hak dan kewajiban masing-masing pihak, dan bentuk pembinaan yang di berikan kepada usaha kecil.
b. Akta Pendirian dan Perubahaan, dan untuk kemitraan dalam bentuk penyertaan saham harus melampirkan risalah Rapat Umum Pemegang
Saham (RUPS) mengenai penyertaan usaha kecil sebagai pemegang saham.
c. Surat pernyataan diatas materai dari usaha kecil yang menerangkan bahwa yang bersangkutan memenuhi kriteria usaha kecil sesuai dengan Undang- Undang No. 9 Tahun 1995.
Untuk surat permohonan yang disetujui, maka Kepala BKPM/Ketua BKPMD Propinsi akan menerbitkan Surat Persetujuan Penanaman Modal Dalam Negeri (SP-PMDN).
Yang termasuk Penanam Modal Asing adalah:
• Warga Negara Asing dan/atau
• Badan Hukum Asing dan/atau
• Perusahaan PMA dan/atau
• Warga Negara Asing dan/atau Badan Hukum Asing dan/atau perusahaan PMA bersama dengan Warga Negara Indonesia dan/atau Badan Hukum Indonesia (dalam bentuk Joint Venture).
Permohonan PMA yang diajukan kepada Kepala BKPM harus dilampirkan bukti diri berupa paspor, dan bagi permohonan yang memenuhi per- syaratan maka kepala BKPM selambat-lambatnya dalam sepuluh hari kerja sejak permohonan diterima dengan lengkap dan benar akan menerbitkan Surat Persetujuan Penanaman Modal Asing (SP-PMA).
Ijin Pelaksanaan dapat diperoleh oleh pemohon baik dari Pusat BKPM atas nama Menteri Teknis maupun dari Daerah (Propinsi, Kabupaten/Kota), dimana ijin-ijin ini harus dilampirkan sebagai persyaratan permohonan Izin Usaha Tetap (IUT). Untuk PMDN, ijin-ijin yang diperoleh dari Pusat adalah:
1. Angka Pengenal Importer Terbatas (APIT) 2. Rencana Penempatan Tenaga Kerja (RPTK) 3. TA.01
4. Izin Mempekerjakan Tenaga Asing (IMTA) 5. SP Pabean barang modal/Bahan Baku
Sedangkan Ijin Pelaksanaan yang diperoleh dari Daerah adalah:
1. Ijin Lokasi 2. IMB
3. UUG/HO (Undang-Undang Gangguan) 4. Hak Atas Tanah
5. Analisa Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) 6. Ijin usaha sektor pertanian yang terdiri dari:
- Ijin Usaha Perkebunan (IUP, IUP-B, IUP-P) - Ijin Usaha Tanaman Pangan
- Ijin Usaha Hortikultura - Ijin Usaha Peternakan.
Untuk memperoleh izin usaha pertanian tersebut diperlukan ”rekomendasi teknis” dari Departemen Pertanian melalui Direktur Jenderal yang bersangkutan.
Begitu juga dengan Ijin Pelaksaaan untuk PMA, ada yang harus diurus di Pusat dan ada yang harus diurus di Daerah, dimana harus dilampirkan sebagai persyaratan permohonan Izin Usaha Tetap (IUT).
Ijin-ijin yang diperoleh di Pusat BKPM atas nama Menteri Teknis adalah:
1. Angka Pengenal Importir Terbatas (APIT)
2. Rencana Penempatan Tenaga Kerja (RPTK) 3. TA.01
4. Izin Mempekerjakan Tenaga Asing (IMTA)
5. Surat Persetujuan Pabean Barang Modal/ Bahan Baku
Sedangkan ijin yang dipeoleh di Pusat (Instansi Lain) adalah:
1. Akte Pendirian Perusahaan (Depkumham) 2. NPWP (Departemen Keuangan)
3. KITAS (Depkumham)
Sedangkan untuk Perijinan PMA yangdiperoleh di Daerah (Propinsi, kabupaten/Kota) adalah :
1. Izin Lokasi
2. Ijin Mendirikan Bangunan (IMB) 3. UUG/HO
4. Hak Atas Tanah 5. AMDAL
6. Izin usaha Pertanian (Perkebunan, Tanaman Pangan, Hortikultura atau Peternakan).
4.2.3.3 Analisis Area, Fungsi dan Proses Investasi
Pada tabel dibawah ini akan dijabarkan mengenai area fungsi, fungsi dan proses investasi yang berjalan di lingkup Subdit Investasi, serta aplikasi pendukung yang digunakan oleh setiap instansi terkait.
Tabel 4.13. Analisis Area, Fungsi, Proses Bisnis dan Aplikasi Area
Fungsional Fungsi Bisnis Proses Bisnis Internal Aplikasi
Petugas Informasi
A: Penyediaan data keadaan wilayah
Daerah
Mengumpulkan, mengelola dan menyediakan data dan informasi mengenai:
• Keadaan topografi
• Keadaan tanah
• Keadaan hidrologi
SI Pertanian Aplikasi
Kantor Aplikasi Database
SIIATRON Portal BKPM B: Penyediaan data
potensi dan peluang Daerah
Mengumpulkan, mengelola dan menyediakan data dan informasi mengenai :
• Potensi komoditas
• Peluang investasi untuk komoditas tertentu
• Komoditas unggulan
C: Penyediaan data kondisi Daerah
Mengumpulkan, mengelola dan menyediakan data dan informasi mengenai :
• Ketersediaan infrastruktur
• Sarana dan prasarana
D: Mensosialisasikan Daerah
• Memberikan penyuluhan bagi para pelaku usaha di Daerah
• Mempromosikan potensi yang ada di Daerahnya
E: Penyediaan data klimatologi Daerah
Mengumpulkan, mengelola dan menyediakan data mengenai :
• Curah hujan
• Iklim
F: Penyediaan data SDM Daerah
Mengumpulkan, mengelola dan menyediakan data dan informasi mengenai :
• Tenaga kerja
• Jumlah penduduk
Data Non Komoditas
G: Menyediakan data makro pertanian yang berhubungan dengan
investasi
Mengumpulkan, mengelola dan menyediakan data dan informasi mengenai :
• Tenaga kerja
• Keadaan tanah
• Iklim
• Pasar
• Tingkat ekspor import komoditas pertanian
SI Pertanian Aplikasi
Kantor Aplikasi Multimedia
Aplikasi Database
Website Kementerian
Pertanian Bank H: Membuat kebijakan • Menerapkan suku bunga Aplikasi
Indonesia (BI)
moneter yang tepat Kantor
Aplikasi Database I: Menjaga kestabilan
ekonomi • Menjaga tingkat inflasi
• Menjaga kurs mata uang
BKPM
J: Melayani penanaman modal dan rekomendasi
teknis
• Melayani pengajuan ijin usaha, rekomendasi teknis
• Menganalisis permohonan perijinan dan rekomendasi teknis
• Menerbitkan ijin usaha dan rekomendasi teknis
• Menolak pemberian ijin dan rekomendasi teknis
Aplikasi Kantor Aplikasi Database Portal BKPM K: Fasilitasi penanaman
modal
• Menyiapkan dan melaksanakan perumusan
kebijakan investasi
• Menyiapkan dan melaksanakan regulasi investasi
• Menyiapkan dan melaksanakan prosedur pengajuan ijin
• Memantau dan mengevaluasi perijinan
dan investasi di Indonesia
Subdit Investasi
L: Menyusun bahan kebijakan investasi
pertanian bersama Eselon 1 terkait
• Menyusun Kebijakan Investasi
• Menyusun Regulasi Investasi
SI Pertanian Aplikasi
Kantor Aplikasi Multimedia
Aplikasi Database
Website Kementerian
SIIATRON M: Menyusun bahan
promosi
• Menyusun Bahan Promosi Investasi
• Menyusun Road Map Pengembangan Investasi
• Menyusun Informasi Potensi dan Peluang Investasi
• Menyusun Informasi Pedoman Investasi Pertanian
• Menyusun Data Investasi PMDN dan PMA,
• Menyusun Profil Investasi
N: Mensosialisasikan informasi
• Mensosialisasikan kebijakan investasi
• Mensosialisasikan regulasi investasi
• Mensosialisasikan potensi dan peluang investasi
• Melaksanakan program pembinaan SDM pertanian, program
pendidikan dan latihan
• Memberikan penyuluhan yang diperlukan terutama di Daerah
O: Memonitor dan mengevaluasi investasi
pertanian
• Memantau kegiatan investasi di semua sektor pertania
• Melakukan evaluasi dan bimbingan teknis kepada masyarakat terutama untuk para pelaku usaha agribisnis.
Data Komoditas
P: Penyediaan data tanaman pangan
Mengumpulkan, mengelola dan menyediakan data dan informasi mengenai :
• Luas panen tanaman pangan
• Tingkat produksi tanaman pangan
• Tingkat produktivitas
tanaman pangan SI Pertanian Aplikasi
Kantor Aplikasi Multimedia
Aplikasi Database
Website Kementerian
Pertanian Q: Penyediaan data
peternakan
Mengumpulkan, mengelola dan menyediakan data dan informasi mengenai :
• Populasi ternak
• Produksi ternak
• Pemotongan ternak
• Pemasukan dan pengeluaran ternak
R: Penyediaan data hortikultura
Mengumpulkan, mengelola dan menyediakan data dan informasi mengenai :
• Luas panen hortikultura
• Produksi hortikultura
• Produktivitas hortikultura
S: Penyediaan data perkebunan
Mengumpulkan, mengelola dan menyediakan data dan informasi mengenai :
• Luas panen perkebunan
• Produksi perkebunan
• Produktivitas perkebunan
4.2.3.4 Pengelompokan Matrik
Untuk memetakan fungsi bisnis yang berhubungan dengan proses investasi yang berjalan di Subdit Investasi, maka akan dilakukan analisis matrik aktivitas- entitas sebagai berikut:
Tabel 4.14. Pengelompokan Matrik Entitas Tahap 1 Subyek
Data
Fungsi
Keadaan Topografi Keadaan Tanah Keadaan Hidrologi Potensi Komoditas Peluang Investasi Komoditas Unggulan Ketersediaan Infrastruktur Sarana dan Prasarana Curah Hujan Iklim Jumlah Penduduk Tenaga Kerja Ekspor Impor Pasar Suku Bunga Tingkat Inflasi Kurs Mata Uang Ijin Usaha Pertanian Prosedur Investasi Regulasi Investasi Kebijakan Investasi Pajak Penghasilan Dh Bahan Promosi Investasi Perkembangan Investasi Luas Panen T. Pangan Produksi T.Pangan Produktivitas T. Pangan Populasi Ternak Produksi Ternak Pemotongan Ternak Pemasukan dan P engeluaran Ternak Luas Panen Hortikultura Produksi Hortikultura Produktivitas Hortikultura Luas Panen Perkebunan Produksi Perkebunan Produktivitas Perkebunan
Petugas Informasi A C C C
B C C C
C C C
D R R R R R R R R R R R R
E C C
F C C
D. Non Komoditas
G R R R C C
BI H C
I C C
BK PM J C R R R C
K C C C
Subdit Investasi L C
M R R R R R R R R R R R R R C R R R R R R R R R R R R R R
N R R R R R R R R R R
O R R
D. Kom oditas P C C C
Q C C C C
R C C C
S C C C
Tabel 4.15. Pengelompokan Matrik Entitas Tahap 2 Subyek
Data
Fungsi Keadaan Topografi Keadaan Tanah Keadaan Hidrologi Potensi Komoditas Peluang Investasi Komoditas Unggulan Ketersediaan Infrastruktur Sarana dan Prasarana Curah Hujan Iklim Jumlah Penduduk Tenaga Kerja Ekspor Impor Pasar Suku Bunga Tingkat Inflasi Kurs Mata Uang Ijin Usaha Pertanian Perkembangan Investasi Prosedur Investasi Regulasi Investasi Kebijakan Investasi Pajak Penghasilan DhBahan Promosi Investasi Luas Panen T. Pangan Produksi T.Pangan Produktivitas T. Pangan Populasi Ternak Produksi Ternak Pemotongan Ternak Pemasukan dan P engeluaran Ternak Luas Panen Hortikultura Produksi Hortikultura Produktivitas Hortikultura Luas Panen Perkebunan Produksi Perkebunan Produktivitas Perkebunan
Petugas Informasi A C C C
B C C C
C C C
D R R R R R R R R R R R R
E C C
F C C
D. Non Komoditas
G R R R C C
BI H C
I C C
BK PM
J C C R R R
K C C C
Subdit Investasi L C
M R R R R R R R R R R R R R R C R R R R R R R R R R R R R
N R R R R R R R R R R
O R R
D. Kom oditas P C C C
Q C C C C
R C C C
S C C C
Tabel 4.16. Pengelompokan Matrik Entitas Tahap 3 Subyek
Data
Fungsi Keadaan Topografi Keadaan Tanah Keadaan Hidrologi Potensi Komoditas Peluang Investasi Komoditas Unggulan Ketersediaan Infrastruktur Sarana dan Prasarana Curah Hujan Iklim Jumlah Penduduk Tenaga Kerja Ekspor Impor Pasar Suku Bunga Tingkat Inflasi Kurs Mata Uang Ijin Usaha Pertanian Perkembangan Investasi Prosedur Investasi Regulasi Investasi Kebijakan Investasi Pajak Penghasilan DhBahan Promosi Investasi Luas Panen T. Pangan Produksi T.Pangan Produktivitas T. Pangan Populasi Ternak Produksi Ternak Pemotongan Ternak Pemasukan dan P engeluaran Ternak Luas Panen Hortikultura Produksi Hortikultura Produktivitas Hortikultura Luas Panen Perkebunan Produksi Perkebunan Produktivitas Perkebunan
Petugas Informasi A
POTENSI WILAYAH
B C D E F
D. Non Komoditas
G R R R
STATISTIK NON KOMODIT
AS
BI H MODAL
USAHA
I
BK PM
J
PERIJINAN
K
Subdit Investasi L
PROMOS I
M R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R R
N R R R R R R R R
O R R
D. Kom oditas P
STATISTIK KOMODITAS
Q R S
Tabel 4.17. Pengelompokan Matrik Entitas Tahap 4