HUBUNGAN ANTARA FAKTOR LINGKUNGAN SOSIAL DENGAN PERILAKU REPRODUKSI REMAJA SMA N I JATISRONO KABUPATEN WONOGIRI TAHUN 2009.

Teks penuh

(1)

i SKRIPSI

HUBUNGAN ANTARA FAKTOR LINGKUNGAN SOSIAL DENGAN PERILAKU REPRODUKSI REMAJA SMA N I JATISRONO

KABUPATEN WONOGIRI TAHUN 2009

Skripsi ini Disusun untuk Memenuhi Salah Satu Syarat Memperoleh Ijazah S1 Kesehatan Masyarakat

Disusun oleh :

WAHYU TRI WIDODO J 410 050 030

PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT FAKULTAS ILMU KESEHATAN

(2)

ii ABSTRAK

WAHYU TRI WIDODO. J 410 050 030

HUBUNGAN ANTARA FAKTOR LINGKUNGAN SOSIAL DENGAN PERILAKU REPRODUKSI REMAJA SMA N I JATISRONO KABUPATEN WONOGIRI TAHUN 2009

xvi + 57 + 6

Perilaku seks bebas cenderung dilakukan oleh remaja. Setiap tahun ada 2,3 juta kasus aborsi, dan 20% nya dilakukan oleh remaja. Selain itu 80% penularan HIV/AIDS dialami oleh usia remaja. Dampak perilaku seks bebas tersebut antara lain Penyakit Menular Seksual (PMS), Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), kanker, bahkan HIV/AIDS. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara faktor lingkungan sosial yang meliputi pendidikan orang tua, status pengasuh, sumber informasi, asal sekolah pacar, dan teman akrab dengan perilaku reproduksi sehat khususnya perilaku seks bebas pada remaja Sekolah Menengah Atas (SMA) N I Jatisrono, Kabupaten Wonogiri. Jenis penelitian ini merupakan penelitian observasional denga n pendekatan cross sectional. Sampel diambil dengan menggunakan metode pencuplikan sistematis random sampling, dan didapatkan 65 responden. Data dianalisis menggunakan program SPSS versi 16 dengan menggunakan uji hubungan chi square dengan tingkat kemaknaan 95%.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara pendidikan orang tua (p=0,002), sumber informasi (p=0,028), dengan perilaku seks bebas pada remaja, dan tidak ada hubungan antara status pengasuh (p=0,767), asal sekolah pacar (p=0,213), dan teman akrab (p=0,353), dengan perilaku seks bebas pada remaja.

Kata kunci : Faktor Lingkungan Sosial, Perilaku Reproduksi, Remaja Kepustakaan : 40, 1997 - 2009

Surakarta, 27 Oktober 2009

Pembimbing I Pembimbing II

Yuli Kusumawati, SKM, M.Kes (Epid) Ambarwati, S.Pd, M.Si NIK.863 NIK.757

Mengetahui,

Ketua Program Studi Kesehatan Masyarakat

Yuli Kusumawati, SKM, M.Kes (Epid)

(3)

iii

WAHYU TRI WIDODO. J 410 050 030

The Relationship between Social Environment Factors with Reproduction Behavior Adolescent at State Senior High School 1 Jatisrono Wonogiri Regency at 2009

ABSTRACT

Free sex behavior disposed was done by adolescent. Every year, there were 2,3 million cases of abortion, and 20% was done by adolescent. Beside that 80% HIV/AIDS invection undergone by adolescent. The impact of free sex behavior were: Sexually Transmitted Disease (STD), unwanted pregnancy, cancer, and HIV/AIDS. The aim of this research was to know the relationship between social environment factors include: parents education, caring status, information source, boy (girl) friend school come from, and intimate friend with health reproduction behavior especially free sex behavior in adolescent at State Senior High School 1 Jatisrono, Wonogiri Regency. The research was observasional with cross sectional approaches. The sampel was taken with use simple example method for sistematis random sampling, and got 65 respondens. Data was analyzed with SPSS 16 version by using chi square test with significant level 95%. The result of this research showed that there was relationship between parents education (p=0,002), and information source (p=0,028), with free sex behavior in adolescent. There was not relationship between caring status (p=0,767), boy (girl) friend school come from (p=0,213) and intimate friend (p=0,353) with free sex behavior in adolescent.

(4)

iv

@ 2009

(5)

v

HALAMAN PERSETUJUAN

Skripsi dengan judul :

HUBUNGAN ANTARA FAKTOR LINGKUNGAN SOSIAL DENGAN

PERILAKU REPRODUKSI REMAJA SMA N I JATISRONO

KABUPATEN WONOGIRI TAHUN 2009

Disusun Oleh : Wahyu Tri Widodo

NIM : J 410 050 030

Telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta.

Surakarta, 27 Oktober 2009

Pembimbing I Pembimbing II

(6)

vi

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi Dengan Judul :

HUBUNGAN ANTARA FAKTOR LINGKUNGAN SOSIAL DENGAN PERILAKU REPRODUKSI SEHAT REMAJA SMA N I JATISRONO KABUPATEN WONOGIRI TAHUN 2009

Disusun Oleh : Wahyu Tri Widodo

NIM : J 410 050 030

Telah dipertahankan di hadapan Tim Penguji Skripsi Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta pada tanggal 31 Oktober 2009 dan telah diperbaiki sesuai dengan masukan Tim Penguji.

Surakarta, 7 November 2009

Ketua Penguji : Yuli Kusumawati, SKM, M. Kes (Epid) ( )

Anggota Penguji I : Ambarwati, S.Pd, M.Si ( )

Anggota Penguji II : Azizah Gama Trisnawati, SKM, M.Pd ( )

Mengesahkan,

Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta

(7)

vii

HALAMAN PERSEMBAHAN

Sebuah karya yang sederhana ini saya persembahkan kepada mereka yang merasa

memiliki diriku dan yang menjadi bagian dari hidupku, mereka yang

menyayangiku dan yang kusayangi, yang tidak henti- hentinya, tiada

bosan-bosannya dengan tulus ikhlas memberikan, doa, bimbingan, nasehat, serta kasih

sayang yang tulus dan suci.

Berkat rahmat Allah SWT, dan sebagai wujud rasa syukur, rasa hormat, rasa

terima kasih serta kasih sayang yang tiada terkira, skripsi ini ku persembahkan

kepada:

“ Bunda, Bunda, Bunda, dan Ayahanda tercinta “

Yang dalam setiap detak jantungnya dan hela nafasnya selalu mengalir doa restu,

kasih sayang, serta pengorbanan yang merindukan keberhasilanku.

“ Kakak-kakakku tersayang”

Yang senantiasa memberikan semangat dalam setiap nasehatnya.

Dari sebuah harapan, dari sebuah penantian dan dari sebuah perjuangan, semoga

dari sanalah keberhasilanku tercapai.

(8)

viii

RIWAYAT HIDUP

Nama : Wahyu Tri Widodo

Tempat/Tanggal Lahir : Wonogiri, 9 Juni 1987

Jenis Kelamin : Laki- laki

Agama : Islam

Alamat : Pelem, RT 03/02 Pelem, Kecamatan Jatisrono, Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah

Riwayat Pendidikan : 1. Lulus SDN Pelem I tahun 1993

2. Lulus SLTP N 3 Jatisrono tahun 1999

3. Lulus SMK Pancasila I Wonogiri tahun 2002

4. Menempuh pendidikan di Program Studi

Kesehatan Masyarakat FIK UMS mulai tahun

(9)

ix

KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum Wr.wb

Segala puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah

memberikan rahmat dan hidayah sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi

dengan judul “ HUBUNGAN ANTARA FAKTOR LINGKUNGAN SOSIAL

DENGAN PERILAKU REPRODUKSI REMAJA SMA N I JATISRONO

KABUPATEN WONOGIRI TAHUN 2009 “.

Penulis menyadari bahwa terselesaikannya penyusunan skripsi ini tidak

luput dari dukungan, bimbingan dan bantuan dari berbagai pihak. Untuk itu

dengan segala kerendahan hati, tidak lupa penulis sampaikan ucapan terima kasih

yang sebesar-besarnya kepada:

1. Bapak Prof. Dr. Bambang Setiadji, selaku Rektor Universitas Muhammadiyah

Surakarta.

2. Bapak Arif Widodo, A.Kep. M.Kes, selaku Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan

Universitas Muhammadiyah Surakarta.

3. Ibu Yuli Kusumawati, SKM, M.Kes (Epid), selaku Ketua Program Studi

Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah

Surakarta, dan selaku pembimbing I.

4. Ibu Ambarwati, SPd, M.Si, selaku pembimbing II yang telah memberikan

bimbingan, pengarahan dan saran dalam menyelesaiakn skripsi ini.

5. Bapak dan Ibu dosen pengajar Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas

(10)

x

6. Bapak Drs. Suprapto, M.Pd, selaku Kepala Sekolah SMA N I Jatisrono

Kabupaten Wonogiri beserta staf dan pengajar yang telah memberikan

kesempatan dan kerja sama bagi penulis dalam proses penyusunan skripsi ini.

7. Bapak dan ibu serta kakak-kakakku tersayang yang telah memberikan

dukungan, doa, motivasi, dan kasih sayang yang tiada henti untuk penulis.

8. Teman-teman tercinta mahasiswa Program Studi Kesehatan Masyarakat

Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Surakarta khususnya

mahasiswa angkatan 2005.

9. Sahabat-sahabatku yang senantiasa memberikan dorongan dan semangat

hingga terselesaikannya skripsi ini.

10.Serta semua pihak yang telah membantu penulis dalam penyusunan skripsi ini,

dan tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.

Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita

semua dan penulis mohon maaf bila dalam penyusunan skripsi ini terdapat banyak

kesalahan dan kekurangan.

Wassalamu’alaikum Wr.wb

Surakarta, 23 Oktober 2009

(11)

xi

HALAMAN PENGESAHAN ...vi

KATA PENGANTAR ...ix

A. Latar Belakang ...1

B. Perumusan Masalah...4

C. Tujuan...5

D. Manfaat Penelitian...6

E. Ruang Lingkup ...6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ...7

A. Pengertian Kesehatan Reproduksi Remaja ...7

B. Perilaku...8

1. Pengertian Perilaku ...8

2. Perilaku Reproduksi ...11

3. Dampak Perilaku Seks Bebas ...13

C. Faktor Lingkungan Sosial...14

1. Keluarga ...15

2. Sekolah ...16

3. Pergaulan ...17

4. Sumber Informasi...19

5. Perubahan Tata Nilai...20

D. Remaja ...21

E. Kerangka Teori Penelitian ...23

F. Kerangka Konsep Penelitian ...24

G. Hipotesis ...24

BAB III METODE PENELITIAN ...26

A. Jenis dan Rancangan Penelitian ...26

B. Subjek Penelitian...26

C. Lokasi dan Waktu Penelitian ...27

D. Populasi dan Sampel ...27

(12)

xii

F. Definisi Operasional ...30

G. Pengumpulan Data ...32

H. Jalannya Penelitian...35

I. Pengolahan Data ...35

J. Analisis Data ...36

BAB IV HASIL PENELITIAN...37

A.Gambaran Umum ...37

B.Hasil Penelitian ...38

C.Hasil Analisis Data...39

1. Analisis Univariat ...39

2. Analisis Bivariat...41

BAB V PEMBAHASAN ...46

A. Hubungan Faktor Lingkungan Sosial dengan Perilaku Seks Bebas ...46

B. Keterbatasan Penelitian...55

BAB VI KESIMPULAN DAN SARAN ...56

A. Kesimpulan ...56

B. Saran...56

DAFTAR PUSTAKA

(13)

xiii

DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

1. Tingkat keeratan hubungan variabel X dan variabel Y...34

2. Distribusi responden per kelas ...37

3. Distribusi frekuensi jenis kelamin dan kelas responden ...38

4. Distribusi frekuensi variabel bebas responden ...40

5. Distribusi perilaku reproduksi responden ...41

6. Hubungan pendidikan orang tua dengan perilaku seks bebas ...42

7. Hubungan status pengasuh dengan perilaku seks bebas ...43

8. Hubungan sumber informa si dengan perilaku seks bebas ...44

9. Hubungan asal sekolah pacar dengan perilaku seks bebas ...44

(14)

xiv

DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman

1. Kerangka Teori Penelitian ...23

(15)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

1. Pernyataan Kesediaan Menjadi Responden 2. Kuesioner Pengumpulan Data

3. Surat Ijin Penelitian

4. Surat Keterangan Penelitian

5. Hasil Analisis Data

(16)

xvi

DAFTAR SINGKATAN

BK : Bimbingan Konseling

HIV/AIDS : Human Immuno Deficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome

KRR : Kesehatan Reproduksi Remaja

KTD : Kehamilan Tidak Diinginkan

PKBI : Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia

SMA N : Sekolah Menengah Atas Negeri

(17)

1 BAB I

PENDAHULUAN

A.Latar Belakang

Remaja merupakan populasi terbesar, satu di antara enam orang di

bumi ini adalah remaja, dan 85% di antaranya hidup di negara berkembang.

Masa remaja diwarnai oleh berbagai masalah seperti masalah pertumbuhan,

perubaha n, dan seringkali menghadapi risiko-risiko kesehatan reproduksi.

Kebutuhan akan peningkatan pelayanan kesehatan dan sosial terhadap remaja

semakin menjadi perhatian di seluruh dunia. Berdasarkan hasil survei

International Conference on Population and Development (ICPD) atau Konferensi Internasional mengenai kependudukan dan pembangunan tahun

1994, banyak organisasi di berbagai negara telah menciptakan berbagai

program agar dapat lebih memenuhi kebutuhan para remaja di bidang

kesehatan reproduksi (Permata, 2003).

Peningkatan kasus-kasus kesehatan reproduksi itu antara lain berupa

kasus Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD), aborsi yang tidak aman, serta

penyebaran virus HIV/AIDS (Human Immuno Deficiency Virus/Acquired Immune Deficiency Syndrome) di kalangan remaja dan dewasa. Jumlah kasus

pengguguran kandungan (aborsi) di Indonesia, setiap tahun mencapai 2,3 juta,

dan 30% di antaranya dilakukan oleh remaja (Kisara, 2009). Kehamilan Tidak

Diinginkan (KTD) pada remaja menunjukkan kecenderungan meningkat

antara 150.000 hingga 200.000 kasus setiap tahun (Kisara, 2009).Jumlah HIV

(18)

2

Tengah kasus meningkat 121 kasus dari tahun sebelumnya (Yayasan Aids

Indonesia, 2008).

Hasil survei Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) pada

tahun 2008, menunjukkan bahwa jumlah remaja di Indonesia yang berusia

10-24 tahun mencapai 65 juta orang atau 30? dari total penduduk Indonesia.

Sekitar 15-20? di antara remaja usia sekolah di Indonesia sudah melakukan

hubunga n seksual di luar nikah. Sekitar 15 juta remaja perempuan usia 15-19

tahun melahirkan setiap tahunnya. Hampir 80? dari kasus-kasus baru infeksi

HIV yang terlaporkan berasal dari usia 15-29 tahun, dan setiap tahun ada

sekitar 2,3 juta kasus aborsi di Indonesia di mana 20? diantaranya adalah

aborsi yang dilakukan oleh remaja (Kisara, 2008). Kasus aborsi di Semarang

mencapai dua juta kasus per tahunnya (Hartono, 2006), dan berdasarkan

pencatatan PKBI Semarang pada tahun 2004, hingga bulan Juni tercatat 101

kasus KTD yang dilakukan oleh kelompok umur 10 sampai 24 tahun (Nik,

2004).

Hasil pencatatan PKBI hingga Juli tahun 2005, menunjukkan bahwa

keterlibatan mereka dalam hubungan seksual pranikah disebabkan karena

coba-coba dan tanpa direncanakan, terbawa suasana dan adanya dorongan

seksual yang muncul karena ada pengaruh dari beberapa media pornografi

yang pernah mereka akses. Dalam sebuah konseling tatap muka juga sempat

terekam ada seorang remaja yang sudah terpengaruh kebiasaan bermasturbasi

yang berlebihan, awalnya kebiasaan ini hanya karena coba-coba akibat ajakan

(19)

3

faktor lingkungan seperti keretakan rumah tangga orang tua atau status

pengasuh remaja, juga dapat mempengaruhi remaja untuk berhubungan seks

pranikah. Selain itu masih banyak lagi masalah remaja seperti kasus-kasus

kekerasan seksual, KTD pada remaja, aborsi remaja, pernikahan usia muda

dan sejenisnya (Admin, 2008a).

Kebutuhan reproduksi dan jenis risiko mengenai kesehatan reproduksi

remaja me mpunyai ciri yang berbeda antara anak dan orang dewasa. Beberapa

penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan remaja mengenai kesehatan

reproduksi masih relatif rendah. Sekolah merupakan salah satu sumber untuk

mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi bagi remaja terutama

siswa Sekolah Menengah Atas (SMA). Akan tetapi materi Kesehatan

Reproduksi Remaja (KRR) belum terintegrasi dengan baik dalam mata

pelajaran (intrakurikuler) maupun kegiatan ekstrakurikuler di sekolah.

Christina (2008), mengungkapkan bahwa siswa jurusan IPA lebih banyak

mengetahui materi KRR dari pada siswa jurusan IPS dan sekolah merupakan

sumber informasi KRR yang paling berperan.

Minimnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi siswa SMA

menjadi salah satu persoalan yang membuat mereka salah dalam mengambil

keputusan. Penelitian Prihyugiarto (2008), mengungkapkan bahwa ada

hubungan yang bermakna antara umur, pendidikan orang tua, dan jenis

kela min dengan perilaku seks bebas pada remaja. Berdasarkan data ya ng

tercatat di Bimbingan Konseling (BK) SMA N I Jatisrono, Kabupaten

(20)

4

SMA tersebut tercatat lima siswa yang ke luar sekolah karena kasus kehamilan

(hamil atau menghamili), dan diduga masih terdapat beberapa kasus yang

belum tercatat atau terungkap. Hal ini merupakan dampak dari perilaku yang

berisiko terhadap kesehatan reproduksi. Berdasarkan uraian di atas maka

peneliti ingin melakukan penelitian tentang hubungan faktor lingkungan sosial

dengan perilaku seks bebas.

B. Perumusan Masalah

1. Masalah

Apakah ada hubungan antara faktor lingkungan sosial dengan

perilaku seks bebas pada siswa SMA N I Jatisrono, Kabupaten Wonogiri?

2. Sub Masalah

a. Apakah ada hubungan antara pendidikan orang tua (pengasuh) siswa

dengan perilaku seks bebas pada siswa SMA N I Jatisrono, Kabupaten

Wonogiri?

b. Apakah ada hub ungan antara status pengasuh siswa dengan perilaku

seks bebas pada siswa SMA N I Jatisrono, Kabupaten Wonogiri?

c. Apakah ada hubungan antara sumber informasi siswa tentang kesehatan

reproduksi dengan perilaku seks bebas pada siswa SMA N I Jatisrono,

Kabupaten Wonogiri?

d. Apakah ada hubungan antara asal sekolah pacar siswa dengan perilaku

seks bebas pada siswa SMA N I Jatisrono, Kabupaten Wonogiri?

e. Apakah ada hubungan antara teman akrab siswa dengan perilaku seks

(21)

5 C. Tujuan

1. Tujuan Umum

Mengetahui hubungan antara faktor lingkungan sosial dengan

perilaku seks bebas pada siswa SMA N I Jatisrono, Kabupaten Wonogiri.

2. Tujuan Khusus

a. Menganalisis hubungan antara pendidikan orang tua (pengasuh)

dengan perilaku seks bebas pada siswa SMA N I Jatisrono, Kabupaten

Wonogiri.

b. Menganalisis hubungan antara status pengasuh dengan perilaku seks

bebas siswa SMA N I Jatisrono, Kabupaten Wonogiri.

c. Menganalisis hubungan antara sumber informasi yang diperoleh siswa

mengenai kesehatan reproduksi dengan perilaku seks bebas pada siswa

SMA N I Jatisrono, Kabupaten Wonogiri.

d. Menganalisis hubungan antara asal sekolah pacar dengan perilaku seks

bebas pada siswa SMA N I Jatisrono, Kabupaten Wonogiri.

e. Menganalisis hubungan antara teman akrab dengan perilaku seks bebas

pada siswa SMA N I Jatisrono, Kabupaten Wonogiri.

D. Manfaat Penelitian

1. Bagi siswa

Hasil penelitian ini dapat memberikan informasi mengenai

hubungan faktor lingkungan sosial dengan perilaku reproduksi sehat,

(22)

6

2. Bagi instansi terkait khususnya SMA N I Jatisrono

Hasil penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk pembelajaran

selanjutnya, sebagai dasar kebijakan dalam memasukkan materi kesehatan

reproduksi ke dalam kurikulum sekolah.

3. Bagi peneliti lain

Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai referensi untuk

penelitian selanjutnya terkait dengan kesehatan reproduksi.

E. Ruang Lingkup

Ruang lingkup materi pada penelitian ini dibatasi pada pembahasan

mengenai hubungan faktor lingkungan sosial dengan perilaku reproduksi

khususnya seks bebas pada remaja SMA N I Jatisrono, Kabupaten Wonogiri.

(23)

7 BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Kesehatan Reproduksi Remaja

Menurut Admin (2008b), kesehatan reproduksi remaja adalah suatu

kondisi sehat yang menyangkut sistem, fungsi dan proses reproduksi yang

dimiliki oleh remaja. Pengertian sehat di sini tidak semata- mata berarti bebas

penyakit atau bebas dari kecacatan namun juga sehat secara mental serta sosial

kultural. Remaja perlu mengetahui kesehatan reproduksi agar memiliki

informasi yang benar mengenai proses reproduksi serta berbagai faktor yang

ada di sekitarnya. Informasi yang benar diharapkan dapat menjadikan remaja

memiliki sikap dan tingkah laku yang bertanggung jawab mengenai proses

reproduksi. Menurut Admin (2008b), pengetahuan dasar yang perlu diberikan

kepada remaja agar mereka mempunyai kesehatan reproduksi yang baik

antara lain adalah :

1. Mengenal tentang sistem, proses, dan fungsi alat reproduksi (aspek

tumbuh kembang remaja).

2. Mendewasakan usia kawin bagi remaja serta merencanakan kehamilan

agar sesuai dengan keinginnannya dan pasanga nnya.

3. Mengenal penyakit menular seksual dan HIV/AIDS serta dampaknya

terhadap kondisi kesehatan reproduksi.

4. Mengetahui bahaya narkoba dan miras terhadap kesehatan reproduksi.

5. Mengetahui pengaruh sosial dan media terhadap perilaku seksual.

(24)

8

7. Menge mbangkan kemampuan berkomunikasi termasuk memperkuat

kepercayaan.

B. Perilaku

1. Pengertian perilaku

Perilaku adalah aktivitas yang timbul karena adanya stimulus dan

respon, serta dapat diamati secara langsung maupun tidak langsung

(Sunaryo, 2004). Perilaku baru terjadi apabila ada sesuatu yang diperlukan

untuk menimbulkan reaksi atau disebut rangsangan. Rangsangan tertentu

akan menghasilkan reaksi atau perilaku tertentu. Menurut Notoatmodjo

(2007), perilaku kesehatan dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok,

yaitu :

1. Perilaku pemeliharaan kesehatan (Health maintanance)

Perilaku pemeliharaan kesehatan adalah perilaku atau

usaha-usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak

sakit dan usaha-usaha penyembuhan jika sakit.

2. Perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan

kesehatan (Health seeking behaviour)

Perilaku ini menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat

menderita penyakit dan atau kecelakaan. Tindakan atau perilaku ini

(25)

9

3. Perilaku kesehatan lingkungan

Bagaimana seseorang merespon lingkungan, baik lingkungan

fisik maupun sosial budaya, dan sebagainya, sehingga lingkungan

tersebut tidak mempengaruhi kesehatannya. Dengan perkataan lain,

bagaimana seseorang mengelola lingkungannya sehingga tidak

mengganggu kesehatannya sendiri, keluarga, atau masyarakatnya.

Pengetahuan merupakan hasil tahu, dan terjadi setelah orang

melakukan penginderaan terhadap suatu obyek tertentu (Notoatmodjo,

2003). Penginderaan terjadi melalui pancaindra manusia, yaitu indera

penglihatan, pendengaran, penciuman, rasa, dan raba. Sebagian besar

pengetahuan manusia diperoleh melalui mata dan telinga. Kemudian

dengan pengetahuan tersebut akan menimbulkan kesadaran mereka dan

akhirnya akan menyebabkan orang akan berperilaku sesuai dengan

pengetahuan yang dimilikinya.

Sikap adalah reaksi atau respons seseorang yang masih tertutup

terhadap suatu stimulus atau obyek (Notoatmodjo, 2003). Perbuatan yang

akan dilakukan manusia tergantung pada permasalahan dan berdasarkan

pada keyakinan atau kepercayaan masing- masing. Manifestasi sikap tidak

dapat langsung dilihat, tetapi hanya dapat ditafsirkan terlebih dahulu dari

perilaku yang tertutup. Sikap merupakan suatu kesiapan atau kesediaan

untuk bertindak dan bukan merupakan pelaksanaan motif tertentu.

(26)

10

1. Menerima (Receiving)

Menerima, diartikan bahwa orang (subjek) mau dan

memperhatikan stimulus yang diberikan (objek).

2. Merespon (Responding)

Merespon adalah memberikan jawaban apabila ditanya, dan

mengerjakan atau menyelesaikan tugas yang diberikan.

3. Menghargai (Valuing)

Indikasi menghargai adalah mengajak orang lain untuk

mengerjakan atau mendiskusikan dengan orang lain terhadap suatu

masalah.

4. Bertanggung jawab (Responsible)

Bertanggung jawab atas segala sesuatu yang telah dipilihnya

dengan segala risiko.

Suatu sikap belum tentu secara otomatis terwujud dalam suatu

tindakan (Overt behaviour). Untuk mewujudkan sikap menjadi suatu

perbuatan nyata diperlukan faktor pendukung atau suatu kondisi yang

memungkinkan, antara lain adalah fasilitas. Di samping faktor fasilitas

juga diperlukan faktor pendukung dari pihak lain. Menurut Notoatmodjo

(2007) tindakan mempunyai beberapa tingkatan antara lain :

a. Persepsi (Perception)

Mengenal dan memilih berbagai objek sehubungan dengan

tindakan yang akan diambil merupakan praktik atau tindakan tingkat

(27)

11

b. Respons terpimpin (Guided response)

Dapat melakukan sesuatu sesuai dengan urutan yang benar dan

sesuai dengan contoh merupakan indikator praktik tingkat dua.

c. Mekanisme (Mecanism)

Apabila seseorang telah dapat melakukan sesuatu dengan benar

secara otomatis, atau sesuatu itu sudah merupakan kebiasaan, maka hal

ini sudah menunjukkan praktik tingkat tiga.

d. Adopsi (Adoption)

Adaptasi adalah suatu praktik atau tindakan yang sudah

berkembang dengan baik. Artinya tindakan itu sudah dimodifikasi

tanpa mengurangi kebenaran tindakan tersebut.

2. Perilaku Reproduksi

Perilaku reproduksi dapat diartikan sebagai aktivitas atau kebiasaan

yang dilakukan untuk mendapatkan keturunan. Perilaku reproduksi dalam

hal ini adalah mengacu pada perilaku seks pranikah di kalangan remaja.

Perilaku reproduksi atau perilaku seks remaja dalam suatu masyarakat

ditentukan oleh berbagai faktor lingkungan sosial, antara lain keluarga,

informasi, dan teman sebaya (Laksmiwati, 2001). Masuknya kebudayaan

asing dapat merubah tata nilai dan perilaku remaja yang disebabkan oleh

komunikasi global dan perubahan/inovasi teknologi. Sebaliknya faktor

kreativitas internal yang berbentuk perubahan intelektual merupakan

faktor penting dalam menentukan perkembangan perilaku reproduksi.

(28)

12

kebutuhan tertentu. Remaja dapat memiliki variasi perilaku yang ditujukan

untuk tujuan hidup yang beragam.

Perilaku reproduksi terwujud dalam hubungan sosial antara pria

dan wanita. Hubungan antara pria dan wanita tersebut dalam waktu yang

lama menyebabkan munculnya norma- norma dan nilai- nilai yang akan

menentukan bagaimana perilaku reproduksi disosialisasikan. Berbagai

bentuk perilaku yang diwujudkan lazimnya sejalan dengan norma- norma

yang berlaku. Ada perilaku yang diharapkan dan sebaliknya ada perilaku

yang tidak diharapkan dalam hubungan sosial masyarakat, begitu pula

hubungan antara pria dan wanita dalam perilaku reproduksi. Perilaku

reproduksi dalam hal ini adalah mengacu kepada perilaku seks pranikah di

kalangan remaja.

Seks bebas atau disebut juga extra-marital intercouse merupakan

bentuk pembebasan seks yang dipandang tidak wajar, bukan saja oleh

agama dan negara, tetapi juga oleh filsafat. Perilaku tersebut ternyata

cenderung disukai oleh anak muda, terutama kalangan remaja yang secara

biopsikologis sedang tumbuh menuju proses pematangan. Pada tahap ini

remaja biasanya lemah, yaitu lemah dalam pemahaman nilai- nilai, norma

dan kepercayaan, atau superego, maka mereka lebih cenderung suka

bertindak ceroboh, coba-coba dan salah. Hanya sekedar memenuhi

keinginan yang berlebihan, mereka rela mengorbankan moralitasnya untuk

memenuhi kehendak mendapatkan pujian dari kelompok referensinya. Di

(29)

13

jawab, untuk menghindari munculnya bentuk pembebasan seks liberal di

luar kendali superego (Amirculin, 1997).

3. Dampak perilaku seks bebas

Remaja dalam perkembangannya memerlukan lingkungan yang

dapat menciptakan kondisi yang nyaman untuk bertanya dan membentuk

karakter yang bertanggung jawab terhadap dirinya. Ada kesan pada

remaja, seks itu menyenangkan, puncak rasa kecintaan, yang serba

membahagiakan sehingga tidak perlu ditakutkan. Berkembang pula opini

seks yaitu sesuatu yang menarik dan perlu dicoba (sexpectation). Terlebih

lagi ketika remaja tumbuh dalam lingkungan yang kurang tepat untuk

perkembangan remaja, hal ini akan mendorong terciptanya perilaku amoral

yang merusak masa depan remaja. Pergaulan bebas akan berdampak pada

perilaku yang menyimpang seperti seks bebas, tindak kriminal termasuk

aborsi, narkoba, serta berkembangnya penyakit menular seksual.

Seks bebas memiliki banyak konsekuensi misalnya, penyakit

menular seksual (PMS), infeksi, infertilitas dan kanker. Banyak kasus

kehamilan pranikah, pengguguran kandungan, dan penyakit kelamin

maupun penyakit menular seksual di kalangan remaja (termasuk

HIV/AIDS). Menurut WHO, di seluruh dunia, setiap tahun diperkirakan

sekitar 40-60 juta ibu ya ng tidak menginginkan kehamilan melakukan

aborsi. Setiap tahun diperkirakan 500.000 ibu mengalami kematian oleh

kehamilan dan persalinan. Sekitar 30 sampai 50% di antaranya meninggal

(30)

14

berkembang termasuk Indonesia, selain itu setiap tahun ada sekitar 2,3

juta kasus aborsi di Indonesia yang 30% nya dilakukan oleh remaja

(Muzayyanah, 2008).

C. Faktor Lingkungan Sosial

Perkembangan perilaku reproduksi atau perilaku seks remaja dalam

suatu masyarakat dapat dipengaruhi oleh berbagai faktor sosial. Secara garis

besar faktor- faktor yang berpengaruh terhadap perilaku reproduksi remaja

terdiri dari faktor dari luar individu dan faktor dari dalam individu. Faktor dari

luar individu adalah faktor lingkungan di mana remaja tersebut berada, seperti

lingkungan keluarga, kelompok sebaya atau teman akrab, sumber informasi

dan lain sebagainya. Sedang faktor dari dalam individu adalah sikap dari

individu yang bersangkutan. Sikap ini sangat dipengaruhi oleh lingkungan.

(Laksmiwati, 2001).

Hasil penelitian Suryoputro, dkk (2006) juga menunjukkan bahwa

lebih dari setengah dari responden remaja menyatakan telah melakukan

hubungan seks pra nikah. Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa

dukungan faktor lingkungan sosial seperti informasi dapat mempengaruhi

perilaku seks pranikah. Hasil penelitian Muzayyanah (2008), menunjukkan

bahwa remaja usia 12-18 tahun mendapatkan informasi seputar seks dari

berbagai sumber, 16% nya mendapatkan informasi dari teman, 35% dari film

porno, dan hanya 5% dari orang tua. Selain itu, dalam penelitian tersebut

Menunjukkan bahwa dari pelajar SMP, 10,53% pernah melakukan ciuman

(31)

15

seksual. Remaja dalam penelitian tersebut, sebagian besar (lebih dari 50%

responden) bertempat tinggal terpisah dari orang tua untuk melanjutkan

belajar atau bekerja. Temuan ini memperkuat pandangan bahwa kurangnya

pengawasan dari orang tua memperbesar kemungkinan terjadinya hubungan

seksual pranikah. Hal tersebut menunjukkan betapa pentingnya peranan dari

lingkungan terhadap perilaku seks remaja.

1. Peran keluarga

Remaja yang melakukan hubungan seksual sebelum menikah

banyak di antaranya berasal dari keluarga yang bercerai atau pernah cerai,

keluarga dengan banyak konflik dan perpecahan. Selain itu bisa juga dari

seseorang remaja yang sering ditinggal orang tuanya dan kurang perhatian

dari orang tua, atau remaja yang tinggal atau diasuh oleh selain orang tua

kandung, misalnya nenek, paman, kakak, dan sebagainya. Kecenderungan

seperti ini banyak ditemukan. Keadaan tersebut merupakan salah satu

faktor yang mungkin menyebabkan remaja mempunyai kesempatan untuk

melakukan hubungan seks pranikah di rumah mereka sendiri (Laksmiwati,

2001). Faktor- faktor yang menyebabkan perilaku pacaran remaja

mengarah pada perilaku seksual yaitu faktor intern dan faktor ekstern,

faktor intern meliputi adanya kebutuhan badaniah dan rasa penasaran,

sedangkan faktor ekstern seperti adanya tekanan dari teman pergaulan,

tekanan dari pacar dan lingkungan keluarga (Suyatmi, 2008).

Penelitian Rachmawati (2003), menyimpulkan bahwa ada

(32)

16

seks remaja. Peran orang tua terhadap perilaku seks remaja sebesar 37,7%,

sedangkan sebesar 62,3% merupakan faktor pengaruh lainnya seperti,

faktor biologis, pendidikan, budaya, sosialisasi, dan media ma ssa. Hasil

penelitian Ginting (2004), menunjukkan bahwa keluarga sangat berperan

terhadap pengetahuan remaja tentang kehamilan, dan tempat tinggal

berpengaruh terhadap kejadian KTD. Penelitian tersebut mengungkapkan

bahwa kejadian KTD pada rema ja lebih dipengaruhi oleh peran keluarga

yang rendah, dan pengetahuan yang rendah tentang kehamilan.

2. Sekolah

Sekolah adalah institusi yang ikut berperan dalam membentuk

kepribadian dan perilaku anak. Institusi sekolah merupakan tempat

terjadinya transformasi ilmu pengetahuan maupun nilai- nilai yang berlaku

di dalam masyarakat. Di sekolah akan terjadi proses pewarisan budaya dan

penyebaran budaya secara sistematis dan terprogram (Reomazi, 2008).

Oleh karena fungsi keluarga sebagai tempat terjadinya transformasi

pengetahuan, teknologi dan nilai, maka keberadaannya menjadi penting di

tengah masyarakat. Dengan demikian agar pemahaman anak tentang

seksualitas maupun reproduksi yang seha t itu benar, maka peran sekolah

penting dan strategis. Karena pengetahuan yang akan diperoleh oleh anak

sudah seragam, dan sistematis. Namun muncul masalah tentang bagaimana

teknis yang tepat agar pemahaman tentang seksua litas dan reproduksi

sehat itu justru tidak memprovokasi sis wa untuk melakukan tindakan

(33)

17

Pendidikan seks dan juga reproduksi sehat perlu dipahami oleh

semua siswa. Karena melalui sekolah pemahaman tentang seksualitas dan

reproduksi yang sehat akan lebih jelas, sistematis dan terprogram. Karena

perlu juga dipahami bahwa pendidikan seks tidak hanya terkait dengan

masala h alat kelamin dan hubungan seksual semata, namun juga

menya ngkut pola hubungan antar lain jenis, kehamilan, norma, maupun

penyakit yang mungkin timbul akibat hubungan sexual yang tidak benar.

Pendidikan seks maupun reproduksi sehat pada dasarnya perlu untuk anak

remaja, dan penyampaiannya itu menjadi tanggung jawab keluarga,

masyarakat dan sekolah. Karena kelebihan yang dimiliki oleh sekolah

maka sekolah mempunyai peran yang strategis dalam menyampaikan

pendidikan seks dan reproduksi sehat kepada anak, namun dalam

implementasinya perlu dipersiapkan secara matang tentang kesiapan

kurikulum, guru, siswa, masyarakat maupun sarana pendukung yang

lainnya.

3. Pergaulan

Salah satu faktor lain yang mempengaruhi remaja SMA melakukan

hubungan seks pranikah adalah pengaruh dari pergaulan teman sebaya.

Usia remaja merupakan masa pencarian identitas diri dan perasaan

ketidaktergantungan dengan orang tua sudah mulai terlihat dan mereka

lebih suka mengadakan pergaulan dengan kelompok sebayanya dan ikatan

dalam kelompok sebaya biasanya lebih kuat, selain itu cenderung lebih

(34)

18

hasil survei yang telah dilakukan Pusat Studi Seksualitas pada tahun 2008

terhadap remaja di Yogyakarta, nilai dan perilaku seksual yang dianut

remaja selama proses pacaran dipengaruhi beberapa faktor yaitu karakter

individu itu sendiri, kelompok, pacar, keluarga, sekolah, media massa dan

komunitas mayarakat di mana remaja itu tumbuh dan berkembang. Tetapi

salah satu yang memiliki andil besar dalam me mpengaruhi dan

menentukan sikap serta perilaku adalah kelompok teman sebaya

(Nurhayati, 2009).

Hasil penelitian Faturochman (1992), menyimpulkan bahwa pacar

juga mempengaruhi sikap remaja terhadap perilaku seks sebelum nikah,

karena perilaku pacaran yang tidak terkontrol akan mendorong ke arah

perilaku seks. Apabila pasangan dalam pacaran itu sama-sama memiliki

dorongan ke arah perilaku seks, maka kemungkinan terjadinya hubungan

seks sebelum nikah akan mudah terjadi. Remaja yang memiliki pacar satu

sekolah dengannya akan memiliki frekuensi bertemu lebih sering dari pada

pacar yang beda sekolah dengannya, hal ini menimbulkan dugaan bahwa

semakin sering mereka bertemu maka akan semakin tinggi dorongan dan

kesempatan untuk melakukan aktivitas berpacaran bahkan sampai

melakukan hubungan seksual. Orang tua harus mengontrol atau memantau

pergaulan remaja dengan tidak mencampurinya karena remaja tidak suka

apabila urusannya dicampuri oleh orang tuanya. Untuk kebutuhan seksual

(35)

19

tua harus cukup tanggap dan waspada serta secara dini menjelaskan dan

memberikan arti dan fungsi seksual dalam kehidupan.

4. Sumber informasi

Sumber informasi remaja tentang kesehatan reproduksi pada

umumnya juga sangat berpengaruh terhadap perilaku remaja, baik sumber

informasi dari teman akrab atau media massa (cetak dan elektronik). Tidak

jarang informasi yang diperoleh hanya berupa alternatif pemecahan

masalah bagi mereka yang pernah mempunyai masalah kesehatan

reproduksi, seperti konsultasi seksologi di beberapa majalah atau koran.

Pengetahuan yang kurang, dapat menjadi faktor penting yang

menyebabkan mereka semakin terdorong untuk melakukan hubungan seks

pranikah. Berbagai penelitian juga mengungkapkan bahwa belum semua

remaja mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi yang benar

dan lengkap (Siswono, 2004). Mereka justru mendapat informasi dari

teman-temannya yang tidak paham masalah kesehatan reproduksi atau dari

sumber yang tidak bisa dipertanggungjawabkan.

Penelitian Resminawaty dan Triratnawati (2006), mengungkapkan

bahwa sumber informasi baik media elektronik maupun media cetak

seperti internet, majalah, televisi, surat kabar, radio, buku, dan film akan

mempengaruhi remaja dalam melakukan hubungan seksual pranikah.

Selain itu Setiawan (2004), mengungkapkan bahwa dari 124 responden

(36)

20

informasi yang benar. Hal tersebut memberikan gambaran bahwa sumber

informasi sangat penting dalam mempengaruhi perilaku seksual remaja.

5. Perubahan tata nilai

Perkembangan dan perubahan tata nilai atau yang sering disebut

perubahan budaya secara langsung akan mempengaruhi persepsi seseorang

terhadap suatu objek dan hal ini membawa perubahan pada kehidupan

masyarakat, misalnya terjadi penyimpangan-penyimpangan sosial, yang

mengarah kepada disfungsi struktur sosial masyarakat. Pornografi

merebak, baik lewat media cetak maupun media elektronik. Para remaja

mudah terjerumus melakukan seks bebas, dengan berbagai dampaknya

seperti Kehamilan Tidak Diinginkan (KTD) dan penyakit menular seksual

(PMS). Munculnya perilaku seks bebas, dan sebagainya tidak lepas dari

ekses negatif pariwisata. Penelitian-penelitian tentang persepsi, sikap, dan

perilaku seksual sudah banyak dilakukan baik di tingkat nasional, propinsi,

maupun kabupaten. Hasil penelitian Adikusuma, dkk (2006),

menunjukkan bahwa perilaku seks bebas di kalangan remaja di Bali

cenderung meningkat dari tahun ke tahun karena terpengaruh oleh budaya

dari luar yang dibawa oleh wisatawan manca yang datang.

Berdasarkan hasil penelitian Butt (2001) dalam Dewanto (2008),

terungkap bahwa perspektif budaya dan modernisasi memiliki dampak

yang besar dalam mempengaruhi kegiatan seksualitas sehari- hari, nafsu,

dan perilaku berpacaran remaja di Papua. Dampak modernisasi lingkungan

(37)

21

baru, perubahan struktur perkawinan dan tanggung jawab keluarga.

Dampak modernisasi menyebabkan seks komersial lebih tersebar luas

mela lui mobilitas ke kota.

D. Remaja

Remaja adalah masa peralihan dari kanak-kanak ke dewasa (Uttamo,

2005). Para ahli pendidikan sependapat bahwa remaja adalah mereka yang

berusia antara 13 tahun sampai dengan 18 tahun. Seorang remaja sudah tidak

lagi dapat dikatakan sebagai kanak-kanak, namun masih belum cukup matang

untuk dapat dikatakan dewasa. Mereka sedang mencari pola hidup yang

paling sesuai baginya dan hal ini sering dilakukan melalui metode coba-coba

walaupun melalui banyak kesalahan. Kesalahan yang dilakukan sering

menimbulkan perasaan yang tidak menyenangkan bagi lingkungan dan

orangtuanya. Kesalahan yang diperbuat para remaja hanya akan

menyenangkan teman sebayanya. Hal ini dikarenakan mereka sama-sama

masih dalam masa mencari identitas diri. Kesalaha n-kesalahan yang

menimbulkan kekesalan lingkungan inilah yang sering disebut sebagai

kenakalan remaja (Uttamo, 2005).

Masa remaja mempunyai ciri tertentu yang membedakan dengan

periode sebelumnya. Ciri-ciri remaja sebagai periode yang penting yaitu

perubahan-perubahan yang dialami masa remaja yang akan memberikan

dampak langsung pada individu yang bersangkutan dan akan mempengaruhi

perkembangan selanjutnya. Terdapat ciri yang pasti dari perumbuhan somatik

(38)

22

badan, perubahan biokimia, yang terjadi pada kedua jenis kelamin baik

laki-laki maupun perempuan meskipun polanya berbeda (Soetjiningsih, 2007).

Status remaja tidak jelas, keadaan ini memberi waktu padanya untuk

mencoba gaya hidup yang berbeda dan menentukan pola perilaku, nilai dan

sifat yang paling sesuai dengan dirinya.

Masa remaja juga merupakan periode perubahan, yaitu perubahan pada

emosi, perubahan tubuh, minat dan peran (menjadi dewasa yang mandiri),

perubahan pada nilai- nilai yang dianut, serta keinginan akan kebebasan. Masa

remaja sebagai masa mencari identitas diri, yang dicari remaja berupa usaha

untuk menjelaskan siapa dirinya dan apa peranannya dalam masyarakat.

Masa remaja sebagai masa yang menimbulkan ketakutan. Dikatakan

demikian karena sulit diatur, dan cenderung berperilaku yang kurang baik.

Masa remaja adalah masa yang tidak realistik. Remaja melihat dirinya sendiri

dan orang lain sebagaimana yang diinginkan dan bukan sebagaimana adanya,

terlebih dalam hal cita-cita. Masa remaja sebagai masa dewasa, remaja

mengalami kebingungan atau kesulitan dalam usaha meninggalkan kebiasaan

pada usia sebelumnya dan dalam memberikan kesan bahwa mereka hampir

atau sudah dewasa, yaitu dengan merokok, minum- minuman keras,

menggunakan obat-obatan dan terlibat dalam perilaku seks (Soetjiningsih,

2007).

Sebagian kelompok remaja mengalami kebingungan untuk memahami

tentang apa yang boleh dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan

(39)

23

nonton bersama atau ciuman. Kebingungan ini akan menimbulkan perilaku

seksual yang kurang di kalangan remaja (Soetjiningsih, 2007).

E. Kerangka Teori Penelitian

Bagan kerangka teori penelitian disajikan pada Gambar 1 berikut ini:

Keterangan:

: Diteliti

: Tidak diteliti

Gambar 1. Kerangka Teori Penelitian

Pengetahuan kurang dari : 1. Remaja

2. Pencarian identitas diri

(40)

24 F. Kerangka Konsep Penalitian

Bagan kerangka konsep penelitian disajikan pada Gambar 2 berikut

ini:

Gambar : 2 Kerangka Konsep Penelitian

G. Hipotesis

1. Ada hubungan antara pendidikan orang tua atau pengasuh siswa dengan

perilaku seks bebas pada siswa SMA N I Jatisrono, Kabupaten Wonogiri.

2. Ada hub ungan antara status pengasuh siswa dengan perilaku seks bebas

pada siswa SMA N I Jatisrono, Kabupaten Wonogiri.

3. Ada hubungan antara sumber informasi siswa tentang kesehatan

reproduksi dengan perilaku seks bebas pada siswa SMA N I Jatisrono,

(41)

25

4. Ada hubungan antara asal sekolah pacar siswa dengan perilaku seks bebas

pada siswa SMA N I Jatisrono, Kabupaten Wonogiri.

5. Ada hubungan antara teman akrab siswa dengan perilaku seks bebas pada

(42)

26 BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Jenis penelitian ini penelitian observasional, untuk mengetahui

hubungan faktor lingkungan sosial dengan perilaku reproduksi sehat dengan

pendekatan cross sectional yaitu pengukuran variabel bebas dan variabel

terikat dilakukan dalam waktu bersamaan (Murti, 1997).

B. Subjek Penelitian

Subjek penelitian ini adalah siswa-siswi kelas X, XI, dan XII SMA N I

Jatisrono, Kabupaten Wonogiri.

1. Kriteria inklusi

Kriteria inklusi adalah karakteristik umum dari subjek penelitian

yang layak untuk dilakukan penelitian atau dijadikan responden. Kriteria

inklusi pada penelitian ini adalah:

a. Remaja yang tercatat sebagai siswa-siswi SMA N I Jatisrono,

Kabupaten Wonogiri pada tahun 2009.

b. Siswa-siswi SMA N I Jatisrono, Kabupaten Wonogiri yang tidak

sedang menjalani hukuman.

c. Siswa-siswi SMA N I Jatisrono, Kabupaten Wonogiri yang tidak

sedang sakit atau tidak berhalangan untuk menjadi responden.

d. Siswa-siswi SMA N I Jatisrono, Kabupaten Wonogiri yang bersedia

(43)

27

2. Kriteria eksklusi

Kriteria ekslusi merupakan subjek penelitian yang tidak dapat

mewakili sampel karena tidak memenuhi syarat sebagai sampel penelitian.

Kriteria ekslusi pada penelitian ini adalah:

a. Remaja yang tidak tercatat sebagai siswa-siswi SMA N I Jatisrono,

Kabupaten Wonogiri.

b. Siswa-siswi yang SMA N I Jatisrono, Kabupaten Wonogiri yang tidak

dapat ditemui pada saat penelitian.

C. Lokasi dan Waktu Penelitian

Penelitian ini dilakukan di SMA N I Jatisrono, Kabupaten Wonogiri

pada Bulan September 2009.

D. Populasi dan Sampel

1. Populasi

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa-siswi SMA N I

Jatisrono, Kabupaten Wonogiri dengan jumlah 615 siswa.

2. Sampel

Sampel dalam penelitian ini adalah sebagian siswa siswi SMA N I

Jatisrono, Kabupaten Wonogiri yang diambil dari kelas X, XI, dan XII

(44)

28

Keterangan :

N : Populasi

n : Jumlah sampel

p : Perkiraan proporsi (prevalensi) variabel dependen pada populasi

(5% atau 0,05)

q : 1 - p

Z1-a/2 : Statistik Z (Z=1,96 untuk a=0,05)

d : Delta, presisi absolute atau margin of error yang diinginkan di

kedua sisi proporsi (+/-5% atau 0,05)

Dengan rumus tersebut maka :

.

Kemudian untuk mendapatkan 65 sampel dilakukan pencuplikan dengan

tehnik pencuplikan sistematis random sampling dengan ketentuan:

(45)

29

Keterangan :

k : Interval penjumlah nomor responden

N : Populasi

n : Jumlah sampel

Dengan rumus tersebut maka :

Di antara bilangan satu sampai sembilan dipilih secara acak dan didapatkan

angka dua sebagai untuk menjadi bilangan penjumlah dengan nomor

responden. Nomor responden= 2+k, 2+2k, 2+3k, dan seterusnya sampai

didapatkan 65 responden. Dengan cara tersebut maka didapatkan responden

dengan nomor 11, 20, 29, dan seterusnya sampai 65 responden (Murti,

2006).

E. Variabel Penelitian

1. Variabel bebas

Variabel bebas dalam penelitian ini meliputi pendidikan orang tua

atau pengasuh, status pengasuh, sumber informasi, asal sekolah pacar, dan

teman akrab.

2. Variabel terikat

Variabel terikat dalam penelitian ini meliputi perilaku seks bebas

(46)

30 F. Definisi Operasional

1. Pendidikan orang tua atau pengasuh

a. Definisi: pendidikan formal terakhir tertinggi yang ditamatkan oleh

orang tua (bapak/ibu) atau pengasuh (kakek/nenek,

paman/bibi) responden.

b. Alat ukur: kuesioner

c. Skala pengukuran: ordinal diubah menjadi nominal

1) Pendidikan rendah:

a) Tidak sekolah atau tidak tamat SD

b) SD

c) SMP

2) Pendidikan tinggi

a) SMA

b) Perguruan Tinggi atau Akademi

2. Status pengasuh

a. Definisi: orang yang memelihara atau mengasuh responden saat ini.

b. Alat ukur: kuesioner

c. Skala pengukuran: nominal

1) Orang tua kandung

2) Bukan orang tua kandung

3. Sumber informasi

a. Definisi: asal sumber yang dijadikan responden untuk mendapatkan

(47)

31

b. Alat ukur: kuesioner

c. Skala pengukuran: nominal

1) Terseleksi:

a) Orang tua

b) Guru

c) Petugas kesehatan

2) Tidak terseleksi

a) Televisi

b) Radio

c) Internet

d) Pacar

e) Majalah atau koran

f) Teman akrab

4. Asal sekolah pacar

a. Definisi: tempat di mana pacar responden bersekolah.

b. Alat ukur: kuesione r

c. Skala data: nominal

1) Satu sekolah

2) Beda sekolah

5. Teman akrab

a. Definisi: teman yang sering atau terbiasa bergaul dengan responden.

b. Alat ukur: kuesioner

(48)

32

1) Teman sekolah

2) Bukan teman sekolah : a). Teman nongkrong

b). Teman yang sudah bekerja

c). Teman olah raga atau bermain

6. Perilaku reproduksi remaja

a. Definisi: perilaku reproduksi yang dilakukan oleh responden yang

berkaitan dengan perilaku seks bebas yang diukur

berdasarkan skor perilaku.

b. Alat ukur: kuesioner

c. Skala data: nominal

1) Tidak berperilaku seks bebas (>50%)

2) Berperilaku seks bebas (=50%)

G. Pengumpulan Data

1. Jenis data

Jenis data dalam penelitian ini berupa data kualitatif dan

kuantitatif. Data kualitatif meliputi pendidikan orang tua atau pengasuh,

status pengasuh, sumber informasi, asal sekolah pacar, dan teman akrab.

Sedangkan data kuantitatif meliputi, jumlah populasi dan jumlah kasus

KTD.

2. Sumber data

a. Data primer

(49)

33

b. Data sekunder

Data diperoleh dari sekolah yang berupa jumlah kasus dan

karakteristik responden.

3. Cara pengumpulan data

Pengumpulan data primer dilakukan dengan pengisian kuesioner

oleh responden. Sedangkan data sekunder diperoleh dari guru Bimbingan

Konseling (BK).

4. Instrumen penelitian

a. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuesioner

terstruktur dengan jumlah pertanyaan 28 item yang berupa kuesioner

tertutup. Skor kuesioner untuk pertanyaan perilaku dengan jawaban

favorable, yaitu jawaban benar skor 1, dan jawaban sala h skor 0. b. Uji validitas dan reliabilitas

Sifat valid memberikan pengertian bahwa alat ukur yang digunakan

mampu memberikan nilai yang sesungguhnya dari nilai yang

diinginkan. Uji reliabilitas dilakukan dengan rumus alfa cronbath

(Somantri dan Muhidin, 2006).

Rumus korelasi product moment person.

Keterangan :

rxy : Korelasi antara variabel x dan y

X dan Y : Skor masing- masing skala

(50)

34 Tabel 1. Tingkat Keeratan Hubungan Variabel X dan Variabel Y

Besar rxy Keterangan

0,00 - < 0,20 Hubungan sangat lemah (diabaikan,

dianggap tidak ada) > 0,20 - < 0,40 Hubungan rendah > 0,40 - < 0,70 Hubungan sedang > 0,70 - < 0,90 Hubungan kuat > 0,90 - < 1,00 Hubungan sangat kuat

Rumus Alfa Cronbath :

Keterangan :

r11 : Reliabilitas instrumen

k : Banyaknya butir soal

: Jumlah varians bulir

: Varians total

Standar reliabilitas adalah jika nilai hitung r lebih besar (>) dari nilai

tabel r (0,444), maka instrumen dinyatakan reliabel (Somantri dan

(51)

35 H. Jalannya Penelitian

Penelitian dilakukan dengan mendatangi tempat penelitian yaitu di SMA

N I Jatisrono, Kabupaten Wonogiri. Sebelum penelitian dilaksanakan, maka

peneliti melakukan tahapan sebagai berikut :

1. Studi pendahuluan atau survei awal.

2. Meminta ijin penelitian ke SMA N I Jatisrono, Kabupaten Wonogiri.

3. Penentuan responden.

4. Penyebaran kuesioner.

5. Analisis data.

I. Pengolahan data

Data yang telah dikumpulkan kemudian diolah dengan langkah- langkah

sebagai berikut :

1. Editing

Data yang terkumpul langsung dikoreksi di lapangan sehingga jika

ada kekurangan dapat langsung dilengkapi dan disempurnakan. Editing

dilakukan setelah didapatkan kelengkapan pengisian kuesioner, kejelasan

jawaban, konsistensi antar jawaban, releva nsi antar jawaban dan

keseragaman satuan pengukuran.

2. Skoring

Memberikan skor pada setiap jawaban yang diberikan oleh

(52)

36

3. Entry

Memasukkan data yang diperoleh dengan mempergunakan fasilitas

komputer dengan program SPSS versi 16.

4. Tabulating

Menata data yang telah dimasukkan ke dalam bentuk tabel-tabel

yang sesuai dengan jenis variabel.

F. Analisis Data

Data yang telah terkumpul dianalisis dengan menggunakan program

SPSS 16. Analisis data meliputi :

1. Analisis univariat

Analisis univariat dilakukan dengan membuat diskripsi tentang

masing- masing variabel. Skor perilaku digambarkan dengan nilai- nilai

statistik, standar deviasi, nilai minimal dan maksimal.

2. Analisis bivariat

Analisis bivariat dilakukan untuk menguji hipotesis hubungan antara

variabel bebas dengan variabel terikat dengan uji hubungan Chi Square

dengan tingkat kemaknaan 95%. Uji dilakukan dengan menggunakan

program komputer SPSS versi 16. Dasar pengambilan keputusan

berdasarkan tingkat signifikan (nilai p), yaitu :

a. Jika p > 0,05, maka hipotesis penelitian ditolak.

(53)

37

BAB IV

HASIL PENELITIAN

A. Gambaran Umum

Sekolah Menengah Atas Negeri I Jatisrono terletak di Desa Pandeyan,

Kecamatan Jatisrono dengan jumlah siswa keseluruhan pada tahun ajaran

2009/2010 sebanyak 615 siswa. Distribusi responden berdasarkan jenis

kelamin per kelas disajikan pada tabel 2 berikut:

Tabel 2. Distribusi Responden per Kelas

Kelas Jenis

SMA N I Jatisrono mempunyai dua jurusan yaitu jurusan Ilmu

Pengetahuan Alam (IPA) dan Ilmu pengetahuan Sosial (IPS). Namun jurusan

tersebut diberlakukan untuk siswa-siswi kelas XI dan XII, sedangkan untuk

kelas X masih dijadikan satu jurusan umum. SMA tersebut belum ada

kurikulum mengenai kesehatan reproduksi untuk siswa. Materi kesehatan

reproduksi masih dimasukkan pada mata pelajaran biologi, Pendidikan

(54)

38 tidak sering disampaikan bahkan yang mendapat mata pelajaran biologi hanya

siswa-siswi kelas X, XI IPA, dan XII IPA.

B. Hasil Penelitian

Hasil penelitian menunjukkan bahwa jumlah responden dengan jenis

kelamin perempuan ternyata lebih banyak yaitu sebesar 35 siswa (53,84%),

sedangkan laki- laki sebesar 30 siswa (46,15%). Responden berdasarkan kelas

diketahui kelas X sebesar 21 siswa (32,30%), kelas XI sebesar 20 siswa

(30,76%), dan kelas XII sebesar 24 siswa (36,92%). Lebih ringkasnya dapat

dilihat pada tabel 3 sebagai berik ut:

Tabel 3. Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin dan Kelas Responden

Jenis Kelamin Frekuensi (siswa) Persentase (%)

Laki- laki 30 46,15

Perempuan 35 53,84

Jumlah 65 100

Kelas

X 21 32,30

XI 20 30,76

XII 24 36,92

(55)

39

C. Hasil Analisis Data

1. Analisis univariat

Tingkat pendidikan orang tua responden dalam penelitian ini,

sebagian besar berpendidikan tinggi yaitu sebesar 41 siswa (63,07%),

sedangkan orang tua responden yang berpendidikan rendah sebanyak 24

siswa (36,92%). Status pengasuh responden diketahui bahwa responden

lebih banyak diasuh oleh orang tua kandung yaitu sebesar 53 siswa

(81,53%), sedangkan responden yang diasuh oleh bukan orang tua

kandung sebesar 12 siswa (18,46%). Sebanyak 36 siswa (55,38%)

mendapatkan informasi tentang kesehatan reproduksi dari sumber yang

terseleksi, sedangkan 29 siswa (44,61%) mendapatkan informasi dari

sumber yang tidak terseleksi.

Sebagian besar responden yaitu 52 siswa (80%) mempunyai pacar

yang berasal dari lain sekolah, sedangkan sebesar 13 siswa (20%)

mempunyai pacar yang berasal dari sekolah yang sama dengan responden.

Teman akrab responden paling banyak adalah teman sekolah yaitu sebesar

39 siswa (60%), sedangkan kemudian teman yang bukan teman sekolah

sebesar 26 siswa (40%). Hasil selengkapnya disajikan dalam tabel 4

(56)

40

Tabel 4. Distribusi Frekuensi Variable Bebas Responden

Variabel Frekuensi

(n)

Persentase (%)

Pendidikan orang tua

Rendah : 1. Tidak sekolah/tidak tamat SD

Bukan orang tua kandung : 1. Kakek/nenek

Terseleksi : 1. Guru 2. Orang tua

3. Petugas kesehatan Tidak terseleksi : 1. Pacar

2. Internet

Hasil penelitian ini menggambarkan bahwa responden yang pernah

melakukan berciuman sebanyak 33 siswa (50,76%), onani/masturbasi

(57)

41 sebanyak 32 siswa (49,23%), dan berhubungan seks sebanyak 3 siswa

(4,61%). Ketiga siswa yang pernah melakukan hubungan seks tersebut,

mengaku bahwa mereka semua melakukannya lebih dari dua kali atau

sering. Dua diantaranya mengaku melakukan hal tersebut karena alasan

coba-coba, dan satu siswa mengaku karena takut kehilangan pacarnya.

Mereka juga mengaku bahwa mereka melakukan hubungan seks tersebut

di rumah pacarnya. Selain itu, mereka semua mengaku bahwa mereka

tidak mengetahui bahwa perilaku seks pranikah dapat menularkan

HIV/AIDS. Lebih rincinya dapat dilihat pada tabel 5 berikut ini:

Tabel 5. Distribusi Perilaku Reproduksi Responden

Perilaku Reproduksi Frekuensi (siswa) Persentase (%)

Ciuman 33 50,76

Masturbasi/onani 17 26,15

Petting 32 49,23

Necking 32 49,23

Berhubungan seks 3 4,61

2. Analisis bivariat

a. Hubungan antara pendidikan orang tua dengan perilaku seks bebas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, responden yang

pendidikan orang tuanya rendah ternyata lebih banyak yang

berperilaku seks bebas dari pada responden yang pendidikan orang

tuanya tinggi dan berperilaku seks bebas, yaitu sebanyak 19 siswa

(58)

42 berperilaku seks bebas sebanyak 16 siswa (24,61%). Lebih rincinya

dapat dilihat pada tabel 6 sebagai berikut:

Tabel 6. Hubungan antara Pendidikan Orang Tua dengan Perilaku Seks Bebas

Hasil uji Chi Square diperoleh nilai p = 0,002 yang berarti bahwa ada

hubungan antara pendidikan orang tua dengan perilaku seks bebas.

b. Hubungan antara status pengasuh dengan perilaku seks bebas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa, responden yang diasuh

oleh orang tua kandung dan berperilaku seks bebas ternyata lebih

banyak dari pada responden yang diasuh oleh bukan orang tua kandung

dan berperilaku seks bebas, yaitu sebanyak 29 siswa (44,61%),

sedangkan responden yang diasuh oleh bukan orang tua kandung dan

berperilaku seks bebas yaitu sebanyak 6 siswa (9,23%). Lebih jelasnya

(59)

43

Tabel 7. Hubungan antara Status Pengasuh dengan Perilaku Seks Bebas

Hasil uji chi square dapat diketahui bahwa nilai p = 0,767 yang berarti

tidak ada hubungan antara status pengasuh dengan perilaku seks bebas.

c. Hubungan sumber informasi dengan perilaku seks bebas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa responden yang mendapat

sumber informasi secara tidak terseleksi dan berperilaku seks bebas

sebesar 20 siswa (30,76%), hal ini lebih banyak dari pada responden

yang mendapat sumber informasi secara terseleksi dan berperilaku

seks bebas sebesar 15 siswa (23,07%). Responden yang mendapat

sumber informasi secara tidak terseleksi lebih banyak yang berperilaku

seks bebas yaitu sebanyak 20 siswa (30,76%) dari pada yang tidak

berperilaku seks bebas yaitu 9 siswa (13,84%). Untuk lebih jelasnya

(60)

44

Tabel 8. Hubungan antara Sumber Informasi dengan Perilaku Seks Bebas

Hasil uji Chi Square diperoleh nilai p = 0,028 yang berarti ada

hubungan antara sumber informasi dengan perilaku seks bebas.

d. Hubungan antara asal sekolah pacar dengan perilaku seks bebas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa asal sekolah pacar

responden yang satu sekolah dengan responden dan berperilaku seks

bebas sebanyak 5 siswa (7,69%), sedangkan asal sekolah pacar yang

beda sekolah dengan responden ternyata lebih banyak yang berperilaku

seks bebas yaitu sebanyak 30 siswa (46,15%). Lebih rincinya dapat

dilihat pada tabel 9 sebagai berikut:

Tabel 9. Hubungan antara Asal Sekolah Pacar dengan Perilaku Seks Bebas

(61)

45 e. Hubungan antara teman akrab dengan perilaku seks bebas

Hasil penelitian menunjukkan bahwa teman akrab responden

yang berasal dari teman sekolah dan berperilaku seks bebas ternyata

lebih banyak, yaitu sebanyak 19 siswa (29,23%), sedangkan responden

yang teman akrabnya bukan dari teman sekolah dan berperilaku seks

bebas sebanyak 16 siswa (24,61%). Namun, responden yang teman

akrabnya berasal dari bukan teman sekolah ternyata lebih banyak yang

berperilaku seks bebas yaitu sebanyak 16 siswa (24,61%) dari pada

yang tidak berperilaku seks bebas yaitu sebanyak 10 siswa (15,38%).

Lebih rincinya dapat dilihat pada tabel 10 sebagai berikut:

Tabel 10. Hubungan antara Teman Akrab dengan Perilaku Seks Bebas

Hasil uji Chi Square diperoleh nilai p = 0,353 yang berarti tidak ada

(62)

46

BAB V

PEMBAHASAN

A. Hubungan Faktor Lingkungan Sosial dengan Perilaku Repeoduksi

Penelitian ini membahas tentang hubungan faktor lingkungan sosial dengan

perilaku seks bebas. Faktor lingkungan sosial yang diteliti meliputi pendidikan

orang tua responden, status pengasuh responden, sumber informasi yang

diperoleh responden tentang kesehatan reproduksi, asal sekolah pacar responden,

dan teman akrab responden. sedangkan perilaku seks bebas yaitu perilaku

responden yang tidak sesuai dengan batasan-batasan perilak u pacaran dan

mengarah pada hubungan seks sebelum nikah seperti berciuman, petting, necking,

onani, masturbasi, bahkan sampai hubungan seks. Uraian mengenai hubungan

antara faktor lingkungan sosial dengan perilaku reproduksi khususnya perilaku

seks bebas dapat dilihat pada uraian berikut ini:

1. Pendidikan orang tua

Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara pendidikan

orang tua responden dengan perilaku seks bebas pada remaja (p=0,002).

Orang tua responden paling banyak berpendidikan SMA (tinggi). Responden

yang pendidikan orang tua nya rendah ternyata lebih banyak berperilaku seks

bebas dari pada responden yang pendidikan orang tua nya tinggi. Hasil ini

sejalan dengan hasil penelitian yang telah dilakukan oleh Suyatmi (2008)

(63)

47

perilaku seks bebas dipengaruhi oleh faktor pengetahuan dan peranan

keluarga khususnya orang tua dalam memberikan pengetahuan tentang

kesehatan reproduksi.

Hasil penelitian Ginting (2004), mengungkapkan bahwa pendidikan

orang tua akan mempengaruhi pengetahuan remaja tentang kesehatan

reproduksi khususnya perilaku seks bebas termasuk KTD. Kesulitan yang

timbul kemudian adalah apabila pengetahuan orang tua kurang memadai

menyebabkan sikap kurang terbuka dan cenderung tidak memberikan

pemahaman tentang masalah- masalah seks pada anak. Akibatnya anak

mendapatkan informasi seks yang tidak benar.

Selain itu, penelitian Rachmawati (2003), mengungkapkan bahwa ada

pengaruh yang sangat signifikan antara peran orang tua terhadap perilaku seks

remaja. Tingkat pengetahuan pada saat remaja yang kurang perlu mendapat

pembekalan mengenai kesehatan reproduksi dari orang tua, dan biasanya

tingkat pendidikan orang tua akan menunjang pengetahuan dan peran dalam

memberikan informasi tentang kesehatan reproduksi kepada remaja. Hal

tersebut dapat menjadi penunjang remaja dalam berperilaku seks bebas karena

kurang mendapat pengetahuan seputar kesehatan reproduksi dari orang tua.

Karena orang tua merupakan lingkungan keluarga yang sangat bertanggung

jawab terhadap perkembangan remaja khususnya yang mengarah pada

(64)

48

Faktor lain yang dapat mempengaruhi seorang remaja berperilaku seks

bebas karena terdorong oleh rasa ingin tahu yang besar untuk mencoba segala

hal yang belum diketahui. Hal tersebut merupakan ciri-ciri remaja pada

umumnya, mereka ingin mengetahui banyak hal yang hanya dapat dipuaskan

serta diwujudkannya melalui pengalaman mereka sendiri. Perilaku yang tidak

sesuai dengan perkembangan remaja pada umumnya dapat dipengaruhi oleh

orang tua. Bilamana orang tua mampu memberikan pemahaman mengenai

perilaku seks kepada anak-anaknya, maka anak-anaknya cenderung

mengontrol perilaku seksnya tersebut sesuai dengan pemahaman yang

diberikan orang tuanya. Hal ini terjadi karena pada dasarnya pendidikan seks

yang terbaik adalah yang diberikan oleh orang tua sendiri (Resminawaty dan

Triratnawati, 2006).

2. Status pengasuh

Hasil analisis statistik menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara

status pengasuh responden dengan perilaku seks bebas (p=0,767). Remaja

yang diasuh oleh orang tua kandung ternyata lebih banyak yang berperilaku

seks bebas dari pada remaja yang diasuh oleh bukan orang tua kandung. Hal

ini bertentangan dengan hasil penelitian Laksmiwati (2001), yang

mengungkapkan bahwa remaja yang diasuh oleh bukan orang tua kandung

menjadi salah satu faktor remaja berperilaku seks bebas. Karena hal tersebut

Figur

Gambar 1. Kerangka Teori Penelitian

Gambar 1.

Kerangka Teori Penelitian p.39
Gambar : 2 Kerangka Konsep Penelitian

Gambar :

2 Kerangka Konsep Penelitian p.40
Tabel 1. Tingkat Keeratan Hubungan Variabel X dan Variabel Y

Tabel 1.

Tingkat Keeratan Hubungan Variabel X dan Variabel Y p.50
tabel r (0,444), maka instrumen dinyatakan reliabel (Somantri dan

tabel r

(0,444), maka instrumen dinyatakan reliabel (Somantri dan p.50
Tabel 2. Distribusi Responden per Kelas

Tabel 2.

Distribusi Responden per Kelas p.53
Tabel 3. Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin dan Kelas Responden

Tabel 3.

Distribusi Frekuensi Jenis Kelamin dan Kelas Responden p.54
Tabel 4. Distribusi Frekuensi Variable Bebas Responden

Tabel 4.

Distribusi Frekuensi Variable Bebas Responden p.56
Tabel 5. Distribusi Perilaku Reproduksi Responden

Tabel 5.

Distribusi Perilaku Reproduksi Responden p.57
Tabel 6. Hubungan antara Pendidikan Orang Tua dengan Perilaku Seks Bebas

Tabel 6.

Hubungan antara Pendidikan Orang Tua dengan Perilaku Seks Bebas p.58
Tabel 7. Hubungan antara Status Pengasuh dengan Perilaku Seks Bebas

Tabel 7.

Hubungan antara Status Pengasuh dengan Perilaku Seks Bebas p.59
Tabel 8. Hubungan antara Sumber Informasi dengan Perilaku Seks Bebas

Tabel 8.

Hubungan antara Sumber Informasi dengan Perilaku Seks Bebas p.60
Tabel 9. Hubungan antara Asal Sekolah Pacar dengan Perilaku

Tabel 9.

Hubungan antara Asal Sekolah Pacar dengan Perilaku p.60
Tabel 10. Hubungan antara Teman Akrab dengan Perilaku Seks Bebas

Tabel 10.

Hubungan antara Teman Akrab dengan Perilaku Seks Bebas p.61

Referensi

Memperbarui...