• Tidak ada hasil yang ditemukan

Potensi Peran Indonesia Dalam Konflik Me

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Potensi Peran Indonesia Dalam Konflik Me"

Copied!
12
0
0

Teks penuh

(1)

Potensi Peran Indonesia Dalam Konflik yang Terjadi di Mesir

Wahyu Tri Setiawan/1111113000037

[email protected]

Pendahuluan

Sebagai negara dengan populasi islam terbesar di dunia, Indonesia dianggap mempunyai potensi untuk mengambil peran dalam konflik yang terjadi di Mesir. Selain itu Indonesia mempunyai hubungan sejarah yang panjang dengan Mesir. Mulai dari Mesir sebagai negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia hingga kerja sama – kerja sama yang telah dibangun mulai dari bidang politik, ekonomi, investasi, perdagangan, sosial dan pendidikan yang mengikat kedua negara ini mempunyai hubungan yang erat. Dengan peristiwa penggulingan pemerintahan yang terjadi di Mesir yang mengakibatkan ketidakstabilan pemerintahan di Mesir kemudian menjadikan Indonesia dianggap mempunyai potensi yang besar dalam menyelesaikan masalah yang terjadi di Mesir. Indonesia dianggap mempunyai potensi sebagai mediator di dalam masalah yang sedang terjadi di Mesir. Ini juga diamini oleh Presidium Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia Prof Nanat Fatah Natsir yang menyerukan Indonesia segera mengambil peran dalam peristiwa yang terjadi di Mesir. Menurut beliau Indonesia yang sebagai negara dengan mayoritas muslim dengan politik bebas aktif dianggap bisa diterima di manapun karena dengan itu Indonesia dinilai menjadi negara yang netral.1 Dengan begitu Indonesia dapat turut serta dalam menyelesaikan konflik

di Mesir dan menghentikan segala bentuk kekerasan yang terjadi di Mesir yang akan merugikan masyarakat Mesir itu sendiri. Indonesia seharusnya dapat membantu Mesir keluar dari gejolak politik yang terjadi di negara tersebut, mulai dari membawa kasus ini ke organisasi Kerjasama Islam (OKI) hingga ke Perserikatan Bangsa – Bangsa (PBB). Dalam

essay ini penulis akan menganalisis bagaimana Indonesia mengambil peran dalam gejolak politik yang dialami Mesir dan apakah Indonesia dengan keterikatannya dengan Mesir ini mempunyai potensi dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi di Mesir. Selain itu penulis juga akan menjelaskan terlebih dahulu sejarah hubungan diplomatik antara Indonesia dengan Mesir sebagai informasi sebagai acuan dalam menjelaskan Indonesia dalam mengambil tindakan dan upaya – upaya untuk membantu Mesir mencari jalan keluar dari masalah – maslah yang dialami oleh Mesir.

1http://www.antaranews.com/berita/388175/indonesia-harus-ambil-peran-penting-dalam-krisis-mesir diakses

(2)

Dalam menjelaskan peran Indonesia di Mesir, penulis akan menjelaskan peran Indonesia sebagai mediator yang akan memediasi kedua pihak yang berseteru di Mesir. Lalu kemudian penulis akan menganalisis sejauh mana Indonesia mengambil peran dalam konflik yang terjadi di Mesir. Apakah Indonesia menjadikan dirinya sebagai Peacekeeping, Peacemaking atau sebagai Peacebuilding? Dalam pengertiannya ketiga posisi tersebut mempunyai peran atau fungsi yang berbeda – beda dan apakah Indonesia memberikan perannya sebagai negara sahabat di dunia internasional? Tentu akan banyak pertanyaan yang akan muncul mengingat kedua negara ini mempunyai sejarah hubungan baik itu diplomatik, ekonomi, budaya dan pendidikan yang cukup erat.

Metode Penyelesaian Konflik

Dalam mengkaji isu ini penulis menggunakan metode – metode yang dikembangkan di dalam menghadapi konflik – konflik internasional. Dalam essay ini penulis menggunakan

peacemaking, peacebuilding dan peacekeeping. Dalam pandangan penulis ketiga metode ini tidak ada yang mana yang harus dilakukan pertama, kedua dan seterusnya. Ketiga metode ini memosisikan dirinya sesuai dengan posisi dari negara mediator tersebut. sebelum lebih jauh penulis akan menjelaskan pengertian dan fungsi dari metode – metode tersebut.

Peacekeeping secara harfiah diartikan sebagai sebuah metode menjaga agar konflik tidak terjadi kembali. Umumnya Peacekeeping ini ada dan muncul setelah terjadinya penyelesaian konflik atau sebagai tahap akhir dari sebuah penyelesaian konflik, namun tidak menutup kemungkinan Peacekeeping ini muncul sebagai awal dibangunnya perdamaian atau

Peacebuilding. Peacebuilding ini adalah satu upaya untuk membangun sebuah situasi atau kondisi damai dan aman di satu negara dari situasi yang dapat memunculkan konflik.

Peacebilding ini umumnya dilakukan oleh negara Host atau negara yang sedang berada di dalam kondisi konflik atau menuju konflik dengan negara yang tidak mengambil peran di dalam konflik yang berfungsi sebagai fasilitator dalam membangun perdamaian di negara tersebut. Ketiga adalah Peacemaking,ini secara samar hampir serupa fungsinya dengan

Peacebuilding, namun ada perbedaan seperti peacemaking merupakan sebuah tindakan yang bertujuan untuk membawa dua atau lebih pihak yang berseteru pada sebuah persetujuan atau perjanjian melalui negosiasi diplomatik dan dengan persetujuan mereka.2 Ini diartikan bahwa

pihak – pihak yang berseteru ini hanya bisa dibawa ke dalam penyelesaian – penyelesaian

(3)

konflik ini jika pihak – pihak ini bersedia untuk melakukan perdamaian atau penyelesaian konflik.

Ada juga metode mediasi yang diartikan sebagai sebuah tindakan dari aktor yang tidak terlibat langsung atau berada di luar dari permasalahan dan konflik atau tidak mengambil bagian dalam krisis yang dibentuk untuk mengurangi atau menghilangkan satu atau lebih masalah – masalah dan memberikan fasilitas untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.3 Mediasi mempunyai karakteristik seperti: mediasi adalah sebuah perpanjangan dan

kelanjutan dari manajemen konflik secara damai; mediasi melibatkan intervensi dari pihak luar ke dalam sebuah konflik di antara dua atau lebih pihak yang berseteru; mediasi adalah bentuk dari intervensi yang nonkoersif, tanpa kekerasan, dan tidak mengikat; mediator yang masuk ke dalam sebuah konflik (baik itu dalam wilayah nasional maupun internasional) difungsikan untuk mempengaruhi, menyelesaikan, memodifikasi konflik tersebut; pada umumnya mediator hanya menggunakan ad hoc sebagai dasar dalam memediasi konflik.4

Dalam mediasi ada beberapa aktor yang bisa dijadikan sebagai mediator. Pertama ada individu yang bisa dijadikan sebagai mediator. Individu yang dijadikan sebagai mediator tidak boleh membawa kepentingan – kepentingan baik itu pemerintah maupun kepentingan politiknya dalam memediasi dua atau lebih pihak yang berkonflik.5 Individu ini harus benar –

Benar menjadi mediator yang netral, tanpa kepentingan di dalamnya dan menginginkan konflik ini selesai. Mediator yang diperankan oleh individu ini terdiri dari dua jenis yaitu

informal mediation dan formal mediation. Informal mediation merujuk pada kapasitas dari individu tersebut yang diharuskan mempunyai pengalaman yang cukup untuk menyelesaikan konflik atau sengketa yang terjadi dan informal mediation ini biasanya dimulai atas adanya inisiatif dari individu tersebut untuk menyelesaikan konflik ini. Kedua ada formal mediation

yang merupakan individu yang mewakili pemerintah atau seorang High – level decision masker bertindak di dalam kapasitas individualnya untuk memediasi konflik.6

Selain itu ada organisasi internasional dan negara. organisasi internasional ini umumnya menjadi mediator ketika negara – negara lain tidak dapat membantu memfasilitasi perdamaian di dalam konflik tersebut. Lalu kemudian negara biasanya dalam membantu menyelesaikan konflik menggunakan representasi dari negara tersebut, misalnya presiden

3 Zartman, William I., Peacemaking In International Conflict: methods and techniques, United States Institute

of Peace, Washington D. C., revised edition, 2007. Hlm. 165.

(4)

atau menteri – menterinya. Ini hampir mirip dengan individu namun ada perbedaan antara keduanya, jika individu digerakkan melalui dirinya sendiri yang ingin menyelesaikan konflik tersebut, sedangkan negara akan mengirimkan delegasinya untuk menyelesaikan konflik sebagai representasi dari negara tersebut untuk menyelesaikan konflik itu.7

Mediasi juga terkadang bukan merupakan sebuah metode yang dapat berhasil menyelesaikan suatu konflik. Metode ini ada yang berhasil dan efektif ada juga yang gagal dan justru membawa permasalahan atau konflik ini berlanjut menjadi semakin dingin di antara kedua atau lebih pihak yang berseteru. Kebanyakan kegagalan mediasi karena hanya ada satu pihak yang ingin melakukan mediasi sedangkan pihak lainnya tidak menginginkannya. Mediasi ini membutuhkan kesepakatan bersama antara pihak yang berkonflik atau bersengketa untuk menyelesaikan konflik atau sengketa tersebut. keefektifan mediasi juga didukung atas kondisi dan keadaan yang terjadi pada saat itu atau di mana pihak yang berkonflik atau bersengketa tersebut siap untuk melakukan mediasi.8

Hubungan Diplomatik Indonesia – Mesir

Dalam sejarah Indonesia, Mesir mempunyai jasa yang besar terhadap Indonesia. Mesir adalah negara pertama yang mengakui kedaulatan negara Republik Indonesia pada tanggal 18 November 1946 yang setahun kemudian lewat Treaty of Friendship and Cordiality meresmikan hubungan diplomatik antara Indonesia dan Mesir.9 ini adalah bentuk

kerja sama pertama Indonesia dengan Mesir di bidang politik. Selain itu dalam mempererat hubungan diplomatiknya , Kedua negara saling mengunjungi baik para presiden dan pejabat Indonesia yang mengunjungi Mesir maupun sebaliknya.

Indonesia dan Mesir juga membentuk forum konsultasi bilateral setingkat menteri yang dimulai pada tahun 2001 dengan ditandatanganinya MoU on Consultation forum ini sudah mengadakan pertemuan empat kali, di Indonesia dua kali ( Bali, 19-20 Juli 2004 dan Jakarta, 14 Agustus 2006 ) dan di Mesir juga dua kali ( Kairo, 9-10 Mei 2005 dan 29 Oktober 2008).10 Sayangnya pertemuan ini belum dilakukan kembali setelah pertemuan terakhir kali

di Kairo tersebut. pembentukan forum ini ditujukan agar hubungan diplomatik dan persahabatan antara Indonesia dan Mesir tetap terjaga. Selain itu dalam permasalahan konflik

7 Ibid, 181. 8Ibid, 183.

(5)

antara Palestina dan Israel, Indonesia dan Mesir juga memiliki potensi untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang terjadi antara kedua negara tersebut.

Kedua negara ini juga membangun kerja sama – kerja sama dalam meningkatkan pengetahuan dan saling bertukar informasi dalam seminar – seminar yang dilakukan oleh kedua negara tersebut. hal ini dipicu oleh demokratisasi yang terjadi di Indonesia pada tahun 1998. Mesir tertarik dengan apa yang terjadi pada masa itu di Indonesia dan meminta Indonesia untuk membagi pengalaman tersebut ke Mesir.11 selain itu menurut duta besar

Mesir untuk Indonesia proses revolusi yang terjadi, Mesir dianggap belajar dari apa yang terjadi di Indonesia tahun 1998.12

Selain dibangunnya kerja sama politik, Indonesia dan Mesir juga membangun kerja sama di bidang ekonomi dan perdagangan. Indonesia dan Mesir mempunyai laporan kerja sama perdagangan yang baik. Selain itu sudah terhitung sebanyak delapan perjanjian mulai dari tahun 1964 hingga tahun 2005 yang memuat perjanjian di sektor investasi, ekonomi, maupun di sektor perdagangan.

Kedua negara juga membentuk Joint Commission setingkat menteri yang memuat sebuah Umbrella Agreement yaitu perjanjian yang berisi tentang kerja sama teknis dan ekonomi antara Indonesia dan Mesir.13 Indonesia tercatat telah berinvestasi di Mesir sebesar

270 juta dolar yang diinvestasikan ke dua sektor yaitu sektor industri dan sektor jasa.14

Meski Mesir sedang dilanda permasalahan yang pelik, rakyat Mesir beranggapan bahwa Revolusi merupakan titik dari kebangkitan Mesir menuju kehidupan yang lebih baik. Bagi para pengusaha, walaupun dalam masa revolusi ini mereka mengalami kerugian karena revolusi yang terjadi, mereka yakin setelah terjadinya revolusi akan memberikan dampak yang baik terhadap ekonomi di Mesir dalam waktu jangka panjang. Seperti apa yang diberitakan oleh media massa, di bawah rezim Hosni Mubarak, banyak terjadi baik itu korupsi, kolusi dan nepotisme dalam bentuk pemberian keistimewaan bagi keluarga dan/atau kalangan yang dekat dengan keluarga penguasa sehingga menutup peluang pelaku bisnis lain yang berminat untuk berpartisipasi dalam kegiatan ekonomi Karena yang mungkin untuk melakukan kegiatan ekonomi hanya orang – orang terdekat itu saja.

11 Ibid.

12http://international.okezone.com/read/2013/09/02/411/859618/terkait-demokrasi-mesir-belajar-dari-ri diakses

pada 1 Desember 2013, pukul 19.41.

(6)

Perubahan situasi politik, sosial dan ekonomi yang dialami Mesir pasca Revolusi adalah peluang yang cukup potensial bagi para pengusaha Indonesia yang berminat menjalin hubungan dagang dengan para pengusaha Mesir. Kebijakan Pemerintah Mesir untuk mengamankan kebutuhan pokok rakyatnya selama krisis dapat menjadi peluang bagi eksportir komoditas primer seperti bahan pangan.15

Pada sektor perdagangan antara Indonesia dan Mesir mencatatkan persentase sebesar 49,51% pada tahun 2011dan meningkat pada tahun 2012 sebesar 54,7%.16 Dengan persentase

sebesar itu Mesir merupakan pasar yang potensial bagi Indonesia dalam mengembangkan sektor ekonomi dan perdagangan Indonesia. Selain itu peristiwa dan ketidakstabilan yang terjadi di Mesir juga tidak menghalangi Indonesia dan Mesir dalam meningkatkan hubungan perdagangan kedua negara.

Selain itu mesir yang saat ini dalam sistem impornya menggunakan Certificate of Inspection Quality yang menyebabkan barang – barang dari China sulit untuk masuk ke Mesir menjadikan produk – produk dari Indonesia mempunyai kesempatan yang besar untuk membuka pasar di Mesir mengingat China sebagai saingan terberat Indonesia sulit memasukkan barang hasil produksinya dengan adanya sistem tersebut.

Barang dari Indonesia pun diterima dengan baik oleh Mesir karena dinilai mempunyai kualitas dan detail pengerjaan yang baik yang kemudian ini membangun rasa percaya terhadap Indonesia yang dilakukan oleh Mesir. Dengan adanya rasa percaya ini hubungan baik State – to – State maupun people – to – people terjalin dan terbangun dengan baik. Berbagai kerja sama ekonomi, perdagangan dan investasi ini sangat menguntungkan baik di pihak Indonesia maupun di pihak Mesir karena bisa dilihat dengan dana kerja sama dan meningkatnya perdagangan walaupun Mesir sedang mengalami gejolak di pemerintahannya dan hubungan antara Indonesia dan Mesir tetap berjalan dengan baik walaupun di tengah keadaan Mesir yang seperti itu.

Pada bidang sosial budaya dan pendidikan sudah terjalin antara Indonesia dan Mesir sejak abad ke-19. Ini disebabkan karena para mahasiswa – mahasiswa Indonesia yang sedang memperdalam islam banyak yang pergi untuk belajar di universitas Al Azhar. Pada era kontemporer ini kerja sama sosial budaya dan pendidikan dipayungi oleh perjanjian –

15 Ibid.

16

(7)

perjanjian yang sudah sebanyak 13 perjanjian yang mengikat kedua negara tersebut. selain itu juga dibangun Pusat Kebudayaan dan Informasi (PUSKIN) yang bertujuan agar meningkatkan people to people contact antar dua negara bersahabat tersebut.17

Dalam bidang pendidikan, Indonesia dan Mesir terus meningkatkan hubungan yang intensif antara universitas-universitas di Indonesia dan Mesir. Sebagai perwujudan dari kerja sama itu, Universitas Al-Azhar Mesir memberikan beasiswa untuk pelajar asal Indonesia sebanyak 115 setiap tahun dengan perincian: 90 beasiswa program SI, 20 beasiswa program pasca sarjana dan 5 beasiswa pra perguruan tinggi. Pemerintah Mesir juga memberikan 5 beasiswa program S1 di Universitas Non-Al-Azhar untuk bidang Studi Ekonomi, Hukum dan Bahasa Arab. Selain itu, Universitas Minia, memberikan beasiswa bagi 10 mahasiswa UNJ untuk mengikuti pendidikan bahasa Arab selama 1 tahun.18

Majelis tertinggi Urusan Agama Islam, di Kementrian Wakaf Mesir memberikan beasiswa bagi mahasiswa Indonesia yang belajar di Universitas Al Azhar, pada saat ini mencapai 100 orang. Selain itu, Al Azhar mengirimkan tenaga pengajar untuk madrasah dan pesantren di Indonesia sebanyak 50 orang yang ditempatkan di berbagai lembaga pendidikan Islam di seluruh pelosok Indonesia. Al Azhar juga memberikan kesempatan pelatihan Da'i bagi muballigh Indonesia selama 3 bulan bersama imam dan muballigh dari berbagai negara.19

Pada tahun 2007-2008 empat orang mahasiswa asal Mesir mendapatkan beasiswa Darmasiswa dari pemerintah Indonesia. Mereka mendapatkan kesempatan untuk belajar mengenai bahasa Indonesia, kesenian, musik maupun kerajinan tradisional Indonesia di salah satu universitas di Indonesia.

Pada September 2011, 20 mahasiswa Mesir dikirim oleh KBRI Cairo untuk mendapatkan kesempatan Dharmasiswa dan beasiswa S2.20 Selain beasiswa, kegiatan kerja

sama pendidikan antara Indonesia dan Mesir juga dilaksanakan dalam bentuk Arabic in Country Programme, pertukaran dosen, mahasiswa, Joint Research, Sandwich programme hingga rintisan kerja sama dalam program Double-degree antara beberapa Univeritas di Indonesia dan Mesir. dengan banyaknya beasiswa dan program – program

17 Loc. Cit. http://www.deplu.go.id/cairo/Pages/AboutUs.aspx?IDP=4&l=id 18 Ibid.

(8)

pendidikan yang diselenggarakan oleh kedua negara tersebut menunjukkan kedua negara ini mempunyai keseriusan dalam kerja sama di bidang pendidikan ini.

Potensi Peran Indonesia di Mesir

Dengan apa yang telah dijelaskan ini menunjukkan bahwa Indonesia dan Mesir mempunyai kedekatan dan keeratan hubungan dalam berbagai bidang. Selain itu Indonesia dan Mesir terus berusaha meningkatkan hubungan dengan menambah kerja sama – kerja sama di bidang lainnya selain yang sudah dilakukan oleh kedua negara ini. Maka seharusnya tidak ada alasan bagi Indonesia untuk membantu Mesir dalam menghadapi gejolak perubahan politik yang membuat Mesir berada di dalam kondisi yang tidak stabil di dalam sektor politik, ekonomi dan sosialnya.

Indonesia sejatinya dapat mengambil peran sebagai mediator di dalam konflik yang dialami oleh Mesir. namun hingga saat ini Indonesia tidak memberikan kontribusi terhadap perdamaian yang diimpikan oleh warga Mesir. Indonesia sejauh ini hanya membawa isu Mesir ini untuk dibahas di Dewan Keamanan PBB dan OKI. Namun kedua organisasi internasional ini pun sama, belum atau bahkan tidak memberikan kontribusi apapun dalam menyelesaikan konflik yang terjadi di Mesir.

Indonesia dalam apa yang terjadi di Mesir mempunyai potensi dan kesempatan dalam membantu menyelesaikan konflik ini. Indonesia dapat menjadi mediator, peacemaking, peacebuilding, maupun peacekeeping. Indonesia di Lebanon dapat menempatkan diri sebagai

peacekeeping, lalu mengapa Indonesia tidak bertindak apapun dalam konflik di mesir? muncul berbagai macam alasan dan pemerintah Indonesia dianggap bermain aman dalam isu ini. Indonesia berusaha untuk tidak mengambil peran di dalam isu yang terjadi di Mesir. pemerintah Indonesia hanya memberikan pernyataan – pernyataan yang tidak akan memberikan pengaruh terhadap konflik yang terjadi di Mesir. Indonesia dari sisi historis mempunyai hutang budi kepada Mesir yang merupakan negara pertama yang mengakui kemerdekaan Indonesia. Indonesia seharusnya dap berperan aktif dalam konflik tersebut dengan mengambil peran – peran yang dapat Indonesia lakukan di konflik tersebut.

(9)

merupakan sesama negara bermayoritas islam seharusnya memiliki sense of similiarity atau rasa kesamaan yang tinggi. Karena seharusnya sesama muslim harus saling melindungi dan tolong menolong. Walaupun Indonesia bukan merupakan negara islam namun islam mempunyai peran yang besar di di Indonesia, maka seharusnya Indonesia dengan potensi – potensi yang ada dapat membantu Mesir keluar dari gejolak politik yang terjadi.

Indonesia selama ini baru mengambil peran sebagai “pengantar pesan” karena Indonesia tidak dapat membantu atau tidak mau mengambil peran di dalam konflik yang terjadi di Mesir dan hanya membawa pesan mengenai isu ini kepada dewan keamanan PBB dan OKI untuk dibahas di sidang yang hingga saat ini kedua institusi Indonesia belum atau tidak mampu atau mungkin tidak ingin memberikan bantuan kepada Mesir yang dilihat melalui peran Indonesia yang minim tindakan dan hanya memberikan pernyataan – pernyataan terhadap isu ini. Sehingga muncul desakan – desakan kepada pemerintah untuk mengambil peran dan menghentikan konflik yang terjadi di Mesir. Pemerintah Indonesia justru melemparkan peran dalam konflik ini kepada PBB dan OKI di dalam pernyataannya.21

Indonesia tidak berani mengambil peran sebagai mediator dan bersembunyi di balik PBB dalam menangani konflik tersebut. sikap pemerintah ini dianggap membuat para muslim maupun masyarakat di Indonesia yang menginginkan perdamaian di Mesir dan yang menginginkan Indonesia mengambil peran di Mesir kecewa. Bagi masyarakat Indonesia, pemerintah mempunyai peran aktif dan alasan – alasan yang mendukung untuk Indonesia turun tangan dalam konflik tersebut. pernyataan ini juga didukung oleh pernyataan Ali Munhanif bahwa Indonesia harus menawarkan solusi – solusi untuk secara langsung terlibat dalam penyelesaian masalah di Mesir.22

Sikap Indonesia yang cenderung hati – hati dalam mengambil peran dan menyikapi konflik yang terjadi di Mesir juga atas dasar Indonesia ingin melindungi warganya yang ada di Mesir agar jauh dari ancaman dan dalam kondisi aman. Mungkin saja dapat terjadi serangan dan ancaman keamanan kepada warga Indonesia jika Indonesia mengambil peran dalam konflik yang terjadi di Mesir. Namun Indonesia juga harus bisa mengambil sikap yang tegas atas konflik ini walaupun sikap Indonesia yang hati – hati ini bertujuan untuk melindungi warganya.

21http://setkab.go.id/berita-9827-presiden-sby-dukung-peran-pbb-dalam-penyelesaian-masalah-mesir.html

diakses pada 3 Desember 2013, pukul 21.04.

22http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2013/08/130816_mesir_sby_.shtml diakses pada 3

(10)

Selain Indonesia langsung turun dalam menangani konflik ini, ada opsi lain Indonesia dalam membantu menangani konflik ini yaitu dengan mendorong PBB untuk turun menengahi dan menyelesaikan konflik yang terjadi ini. Selain itu PBB juga dapat melakukan investigasi atas kejahatan kejahatan hak asasi manusia yang terjadi di Mesir. Opsi ini didukung oleh banyak pihak yang tidak ingin konflik di Mesir seperti konflik yang terjadi di Suriah.

Opsi ini adalah opsi yang diambil oleh Indonesia, seperti membawa isu ini ke DK PBB dan OKI. Opsi ini dianggap jauh lebih aman ketimbang Indonesia harus turun langsung ke lapangan untuk menyelesaikan konflik yang terjadi. Karena jika turun langsung kelapangan dianggap oleh pemerintah Indonesia akan membahayakan Indonesia itu sendiri terutama warga Indonesia di Mesir. maka dalam posisi ini Indonesia mengalami dilema antara melindungi warganya yang sedang berada di Mesir atau membantu negara sahabatnya keluar dari konflik di dalam pemerintahan ini.

Selain atas alasan tersebut, Indonesia jika ingin menjalankan perannya sebagai mediator harus didasari atas keinginan kedua pihak baik itu militer maupun pendukung Mursi untuk bersama. Tanpa adanya keinginan tersebut Indonesia tidak dapat berbuat apa – apa mengingat ini adalah konflik dalam negeri yang tidak bisa dilakukan intervensi oleh siapa pun bahkan oleh PBB tanpa adanya persetujuan dari pihak yang berkonflik untuk melakukan intervensi. Jika ada aktor yang melakukan intervensi tanpa adanya persetujuan maka itu dianggap melanggar kedaulatan dari negara yang sedang berkonflik tersebut karena itu bukan kapasitas dari aktor tersebut.

Tindakan untuk tidak melakukan intervensi tanpa adanya persetujuan dari pihak yang berkonflik adalah sebuah norma antar negara yang dipahami bersama agar tidak terjadi kesalahpahaman antara negara yang berkonflik dengan negara yang berusaha untuk membantu menyelesaikan konflik. Negara yang ingin mengintervensi harus berkoordinasi dengan negara konflik agar penyelesaian konflik yang dilakukan berada di dalam satu harmoni dan tidak menggunakan cara – cara yang berbeda sehingga justru akan memperkeruh konflik tersebut.

(11)

bersengketa di Mesir. dalam mediasi seperti telah disebutkan bahwa mediasi hanya akan berhasil jika kedua pihak bersedia untuk di mediasi dan bukan hanya satu pihak saja karena jika hanya satu pihak kemungkinan untuk mediasi berhasil dicapai kecil.

Dengan kemungkinan – kemungkinan tersebut yang mungkin menjadi latar belakang mengapa Indonesia sangat berhati – hati dalam menghadapi isu yang sedang dihadapi oleh negara sahabat lamanya itu. Alasan – alasan itu bisa menjadi dorongan mengapa Indonesia dianggap tidak responsif dalam menanggapi permasalahan yang terjadi di Mesir. Walaupun tindakan Indonesia banyak ditentang dan di kritisi, namun ini adalah pilihan paling realistis bagi pemerintah Indonesia yang di samping pemerintah Indonesia melindungi warganya, pemerintah Indonesia juga berusaha mematuhi norma non – intervensi tersebut ataupun menghargai kedaulatan dari Mesir. Tanpa adanya permintaan dari Mesir, Indonesia akan sulit untuk terjun langsung ke lapangan memediasikan kedua pihak tersebut. Indonesia hanya menjadi penonton di dalam konflik ini dengan hanya memberikan pesan – pesannya pada institusi internasional (PBB, OKI, dll.) dalam menyelesaikan konflik tersebut walaupun hingga kini institusi – institusi tersebut belum mengambil sikap atas konflik di Mesir.

Kesimpulan

Dengan potensi Indonesia di dalam konflik ini sebagai mediator dianggap cukup besar melihat dari hubungan sejarah dan kerja sama – kerja sama seharusnya Indonesia dapat mengambil peran tersebut. Indonesia juga sangat berpotensi untuk menjadi peacemaking di dalam konflik di Mesir. Ini karena Indonesia pun pernah merasakan peristiwa yang sama dengan Mesir pada tahun 1998 dalam proses reformasi pemerintahan dan Indonesia dianggap cukup berhasil keluar dari krisis tersebut. Namun dengan penjelasan dan analisa tersebut Indonesia berada di dalam posisi yang sulit untuk menentukan sikap mereka terhadap apa yang terjadi di Mesir. Indonesia didesak untuk membantu Mesir, namun di sisi lain Indonesia tidak mau mengambil resik terhadap warga Indonesia yang saat ini berada di Mesir.

(12)

dapat menyelesaikan konflik ini sehingga tidak menimbulkan korban lagi. Setidaknya ini adalah cara yang cukup aman bagi Indonesia dalam membantu menyelesaikan konflik yang terjadi di Mesir.

Dengan cara – cara tersebut Indonesia tidak harus menyampingkan keselamatan warganya dan Indonesia dapat tetap berperan aktif dan berperan dalam menangani atau menyelesaikan konflik yang terjadi di Mesir tersebut. selain itu Indonesia dapat tetap menjaga hubungan baik dengan Mesir dengan tidak mengintervensi konflik yang terjadi tanpa persetujuan dari Mesir itu sendiri dan memberikan respons yang cepat, tepat dan tanggap terhadap konflik tersebut. Bagi Indonesia, konflik yang terjadi di Mesir merupakan konflik yang melukai hak asasi manusia dan hati nurani karena menimbulkan banyak korban yang tidak berdosa di dalam konflik tersebut.

Referensi

Buku

Zartman, William I., Peacemaking In International Conflict: methods and techniques,

United States Institute of Peace, Washington D. C., revised edition, 2007. Hlm. 165.

Internet

http://www.antaranews.com/berita/388175/indonesia-harus-ambil-peran-penting-dalam-krisis-mesir

http://www.bbc.co.uk/indonesia/berita_indonesia/2013/08/130816_mesir_sby_.shtml

http://www.deplu.go.id/cairo/Pages/AboutUs.aspx?IDP=4&l=id

http://www.republika.co.id/berita/internasional/global/12/08/30/m9jo66-ekonomi-rimesir-meningkat-tajam-pascarevolusi

http://rfkcenter.org/peace-making-peace-keeping-peace-building

Referensi

Dokumen terkait

1) Pengendalian ekspor bahan mentah minerba, dimana tembaga dan nikel termasuk di dalamnya, memiliki semangat yang membangun bagi perekonomian domestik. Tujuan utama dari

HASIL PENILAIAN PORTOFOLIO KUOTA TAHUN 2008 RAYON 13 UNS SOLO... SUKATI SDN MERTAN

Pada awalnya, kelemahan ini ditanggapi oleh para gamedeveloper dengan membuat sebuah sistem kerja yang meringankan beban prosesor seperti menggunakan teknik tiling untuk

Puji syukur peneliti panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas karunia dari-Nya jualah skripsi yang berjudul “Hubungan Antara Dukungan Sosial Keluarga Besar (Extended family)

Bapak dan Ibu Dosen serta seluruh staff Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi Indonesia (STIESIA) Surabaya yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis

PANITIA PENGADAAN/BARANG JASA UNTUK SELURUH BIDANG PADA DINAS PENATAAN RUANG DAN PERMUKIMAN PROVINSI SUMATERA UTARA.. SUMBER DANA APBD PROVINSI TAHUN

Ameliorasi keracunan Fe yakni tambahkan kapur untuk mencegah keracunan Fe pada lahan kering yang digenangi (dosis kapur berkisar antara 500 – 2.000 kg/ha,

0ujuan yang akan dicapai oleh bangsa Indonesia, yakni suatu masyarakat adil dan makmur yang merata material dan spiritual berdasarkan Pancasila di dan makmur yang merata