• Tidak ada hasil yang ditemukan

GENDER DALAM HUKUM DAN INDONESIA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "GENDER DALAM HUKUM DAN INDONESIA"

Copied!
29
0
0

Teks penuh

(1)

MAKALAH GENDER DALAM HUKUM

JUDUL:

“PELANGGARAN HAM TERHADAP PEREMPUAN DI

INDONESIA”

NAMA: AJENG PARAMESWARI .S

NIM: 1604552039

KELAS: B

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami limpahkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa, karena atas rahmat dan hidayah-Nya, saya dapat menyelesaikan makalah ini tepat pada waktu yang telah direncanakan sebelumnya.

Saya berterimakasih kepada pihak-pihak yang telah berpartisipasi dalam memberikan pendapat, kritikan, dan saran dalam pembuatan makalah ini.

Makalah ini disusun sebagai syarat untuk memenuhi tugas UAS Gender Dalam Hukum,dengan judul makalah yaitu :

“PELANGGARAN HAM TERHADAP PEREMPUAN DI INDONESIA”

Harapan saya semoga makalah ini dapat memberikan manfaat maupun inspirasi kepada pembaca. Karena keterbatasan pengetahuan dan pengalaman saya, saya yakin masih banyak kekurangan dalam makalah ini, oleh karena itu saya sangat mengharapkan saran dan kritik yang

membangun dari pembaca demi kesempurnaan makalah ini. Atas perhatiannya saya mengucapkan terima kasih.

Denpasar, 6 Juni 2017

(3)

DAFTAR ISI

Kata Pengantar ……….. i

Daftar Isi ………..………. ii

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang ……….. 1

1.2 Rumusan Masalah ………. 2

1.3 Tujuan ……….………..…. 2

BAB II ISI 2.1 Pengertian HAM ……… 3

2.2 Faktor Penyebab terjadinya Pelanggaran HAM ……… 6

2.3 Bentuk Pelanggaran HAM pada Perempuan………. 8

2.4 Dampak Pelanggaran HAM………. . 14

2.5 Cara Mengatasi Kasus Pelanggaran HAM di Indonesia……… 16

2.6 Tindakan Pidana dalam Kasus Pelanggaran HAM………….... 19

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan dan Saran……….…….………. 25

(4)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 LATAR BELAKANG

Pada dasarnya seorang manusia dari lahir telah membawa atau memiliki

hak atau serig disebut degan HAM (Hak Asasi Manusia). Hak Asasi Manusia

atau HAM adalah prinsip- prinsip moral atau norma- norma, yang

menggambarkan standar tertentu dari perilaku manusia, dan dilindungi secara

teratur sebagai hak- hak hukum dalam hukum kota dan internasional.1

HAM sendiri telah diatur dalam Pasal 28 A-J Undang –Undang Dasar

Negara Republik Indonesia tahun 1945. Jika kita lihat pada zaman sekarang,

banyak sekali kasus pelanggaran HAM terutama terhadap perempuan dan

anak. Salah satu kasus pelanggaran HAM terhadap perempuan dan anak yang

sering terjadi adalah kasus kekerasan dalam rumah tangga atau disingkat

KDRT.

Selain kasus kekerasan, terkadang perempuan juga tidak di dengar haknya

atau dilihat haknya dalam mendapatkan suatu kedudukan atau kesetaraan

seperti kaum laki-laki. Banyak tindak diskriminasi terhadap kaum perempuan

yang menimbulkan kasus HAM terjadi.

Kadang perempuan masih dianggap sebelah mata dalam berbagai bidang.

Perempuan masih dianggap kaum yang lemah atau hanya dapat menguasai

bagian rumah tangga saja. Padahal jika kita lihat sekarang,kualitas perempuan

sudah dapat menyeimbangi kualitas pihak laki- laki. Berikut penjelasan apa

saja pelanggaran HAM terhadap perempuan di Indonesia.

1Wikipedia Indonesia “ Hak Asasi Manusia” diakses dari : https://id.wikipedia.org/wiki/Hak_asasi_manusia ,

(5)

1.2 RUMUSAN MASALAH

1. Apa itu HAM?

2. Faktor apa saja yang dapat menyebabkan pelanggaran HAM terhadap

perempuan?

3. Apa saja bentuk pelanggaran HAM terhadap perempuan?

4. Apa saja dampak dari pelanggaran HAM terhadap perempuan?

5. Bagaimana cara mengatasi kasus pelanggaran HAM di Indonesia?

6. Bagaimana tindak pidana dari kasus pelanggaran HAM?

1.3 TUJUAN

1. Menyelesaikan tugas UAS

2. Memberikan informasi mengenai pelanggaran HAM terhadap perempuan

(6)

BAB II ISI

2.1 PENGERTIAN HAM

Perlindungan Hak Asasi Manusia memiliki sejarah yang panjang. Sejak

abad ke -13 perjuangan untuk mengukuhkan jaminan perlindungan hak asasi

manusia telah dimulai. Namun usaha ini mengalami kemajuan pesat pada abad ke

-20. Kemajuan dalam usaha perlindungan hak asasi manusia pada abad ke-20

boleh jadi diilhami oleh pecahnya dua kali perang dunia yang ditandai dengan

penistaan terhadap sejumlah hak dasar manusia, termasuk hak hidup. Tidak lama

kemudian, usaha ini telah menjelma menjadi gerakan global bahkan belakangan,

isu-isu hak asasi manusia seringkali menjadi kata kunci yang menentukan

keberhasilan diplomasi suatu negara dalam pergaulan internasional.2

HAM atau sering kita sebut dengan Hak Asasi Manusia. Merupakan hak

yang telah dibawa sejak lahir yang diberikan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Hak

yang ada tanpa memandang kewarganegaraan, kebangsaan, ras, etnis, jenis

kelamin, seksualitas maupun kemampuannya. Hak Asasi Manusia dapat

diberlakukan karena hak tersebut menjadi terkodifikasi.3

2Diakses dari http://www.berbagaireviews.com/2015/03/sejarah-dan-perkembangan-hak-asasi.html. 3 KOMNAS Perempuan.2006. “Kekerasan Terhadap Perempuan Sebagai Pelanggaran HAM”.

(7)

Menurut Pasal 1 UU No. 39 Tahun 1999, Hak Asasi Manusia (HAM)

adalah seperangkat hak yang melekat pada hakikat dan keberadaan manusia

sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa dan merupakan anugerah-Nya yang

wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh negara, hukum dan

Pemerintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan

martabat manusia.

Sebagaimana tercantum di dalam Pembukaan Hakl Asasi Manusia

menurut Ketetapan MPR No. XVII/MPR/1998 yang menegaskan bahwa hak asasi

manusia adalah hak-hak dasar yang melekat pada diri manusia secara kodrat,

universal dan abadi sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Secara definitif

“hak” merupakan unsur normatif yang berfungsi sebagai pedoman berperilaku,

melindungi kebebasan, kekebalan serta menjamin adanya peluang bagi manusia

dalam menjaga harkat dan martabatnya

Hak sendiri mempunyai unsur-unsur sebagai berikut:

a. Pemilik hak

b. Ruang lingkup penerapan hak

c. Pihak yang bersedia dalam penerapan hak.4

John Locke menyatakan bahwa hak asasi manusia adalah hak-hak yang

diberikan langsung oleh Tuhan Yang Maha Pencipta sebagai hak yang kodrati.

Oleh karenanya, tidak ada kekuasaan apapun di dunia yang dapat mencabutnya.

(8)

Hak ini sifatnya sangat mendasar (fundamental) bagi hidup dan kehidupan

manusia dan merupakan hak kodrat yang tidak bisa terlepas dari dan dalam

kehidupan manusia.5

HAM di Indonesia telah diatur dalam UUD 1945 Pasal 28 A- J yang

mengatur hak sebagai berikut:

1. 28 A : hak mempertahankan hidup

2. 28 B : hak meneruskan keturunan

3. 28 C : hak mengembangkan diri dan mendapat pendidikan

4. 28 D : hak atas pengakuan,jaminan perlindungan diri dan kepastian

hukum

5. 28 E : hak atas kebebasan memeluk agama dan beribadah sesuai

agamanya

6. 28 F : hak dapat berkomunikasi dan mendapat informasi

7. 28 G : ha katas perlindungan diri

pribadi,keluarga,kehormatan,martabat dan harta benda

8. 28 H : hak atas kehidupan yang sejahtera baik lahir maupun batin

9. 28 I : hak untuk hidup,tidak disiksa,kemerdekaan pikiran dan hati

nurani

10. 28 J : setiap orang wajib menghargai HAM orang lain6

2.2 FAKTOR PENYEBAB PELANGGARAN HAM TERHADAP

PEREMPUAN

5 Masyhur Effendi. 1994.“Dimensi dan Dinamika Hak Asasi Manusia dalam Hukum Nasional dan

Internasional”. Jakarta. Ghalia Indonesia. hal. 3.

(9)

Pelanggaran di Indonesia terus saja meningkat,terutama terhadap anak

dan perempuan. Karena banyak beranggapan wanita lemah atau masih banyak

pemikiran diskriminasi terhadap perempuan dan anak. Berikut beberapa faktor

mengapa wanita dan anak sering sekali mengalami kasus pelanggaran HAM.

Tetapi,sebelum masuk ke faktor- faktor tersebut,disini terdapat beberapa

akar permasalahan mengapa perempuan sering menjadi korban pelanggaran

HAM. Berikut akar permasalahanya:

1. Patriarki

Menurut Kate Millet ideologi patriarki hanya membesar-besarkan

perbedaan biologis laki- laki dengan perempuan,dan memastikan laki- laki

selalu lebih dominan dibandingkan dengan perempuan.7

2. Jender

Jender mengacu pada pemahaman,keyakinan,harapan,nilai dan norma

masyarakat tentang peran,perilaku, watak dan posisi sosial perempuan dan

laki – laki yang telah terkonstruksi secara sosial.

3. Peran Jender

Merupakan sebuah peran hasil bentukan masyarakat yang terwujud dalam

perbedaan perilaku,kegiatan dan tanggung jawab berdasarkan nilai- nilai

sosial budaya yang berlaku.

4. Stereotype

Dibagi menjadi dua,yaitu maskulin dan feminim. Maskulin merupakan

ciri- ciri khusus strereotype yang mengambarkan sikap positif

7Rosemarie Putnam Tong. 1998. “Feminist Thought : Pengantar Paling Komprehensif kepada Aliran Utama

(10)

seperti,tegas,berani, dan bisa memimpin. Sedangkan feminim,adalah

gambaran sikap positif pada perempuan yang seperti, penurut,

pasrah,selalu mendahulukan kepentingan orang lain.8

Berikut beberapa faktor mengapa masih banyak kasus pelanggran

HAM di dunia maupun di Indonesia,yaitu:

1. Masih belum adanya kesepahaman pada tataran konsep hak asasi

manusia antara paham yangmemandang HAM bersifat universal

(universalisme) dan paham yang memandang setiap bangsa memiliki

paham HAM tersendiri berbeda dengan bangsa yang lain terutama dalam

pelaksanaannya(partikularisme)

2. Adanya pandangan HAM bersifat individulistik yang akan

mengancam kepentingan umum(dikhotomi antara individualisme dan

kolektivisme)

3. Kurang berfungsinya lembaga lembaga penegak hukum (polisi,

jaksa dan pengadilan)

4. Pemahaman belum merata tentang HAM baik dikalangan sipil

maupun militer

Dikarenakan, banyak sekali kasus pelanggaran HAM kepada

perempuan itu dalam bentuk kekerasan atau penganiayaan,berikut faktor

perempuan sering mengalami kasus kekerasan:

 Laki-laki dan perempuan tidak dalam posisi yang setara

8KOMNAS Perempuan.2006. “Kekerasan Terhadap Perempuan Sebagai Pelanggaran HAM”.

(11)

 Masyarakat menganggap laki-laki dengan menanamkan anggapan bahwa

laki-laki harus kuat, berani serta tanpa ampun

 KDRT dianggap bukan sebagai permasalahan sosial, tetapi persoalan

pribadi terhadap relasi suami istri

 Pemahaman keliru terhadap ajaran agama, sehingga timbul anggapan bahwa laki-laki boleh menguasai perempuan 9

2.3 BENTUK PELANGGARAN HAM TERHADAP PEREMPUAN

Pelanggaran terhadap perempuan semakin hari setiap tahunnya terus

meningkat,dikarenakan masih kurangnya pemahaman mengenai HAM baik cara

menanggulanginya maupun menegakkanya. Pelanggaran HAM terhadap

perempuan juga memiliki beberapa bentuk, berikut bentuk atau definisi tindak

pelanggaran HAM:

1. Diskriminasi

Diskriminasi adalah pelecehan,pembatasan atau

pengucilan seseorang berdasarkan suku,ras,agama,budaya

kelompok,bahasa,golongan.

2. Penyiksaan

Setiap perbuatan dengan sengaja,sehingga menimbulkan

rasa sakit baik jasmani maupun rohani dengan tujuan

(12)

tertentu,seperti untuk mendapat pengakuan atau

informasi.

3. Pembunuhan

Tindakan yang dapat menghilangkan nyawa seseorang.

4. Kekerasan Seksual

Segala serangan yang mengarah pada tindakan

seksualitas seseorang baik laki- laki maupun perempuan

yang dilakukan dibawah tekanan.

5. Pemotongan Alat Kelamin Perempuan

Tindakan pembuangan sebagia atau seluruh alat kelamin

perempuan yang dapat menimbulkan kompilasi penyakit

atau pikologis perempuan tersebut.

6. Penghamilan Paksa

Penghamilan paksa atau sering disebut pemerkosaan

adalah tindakan penahanan terhadap perempuan yang

secara paksa dibuat hamil.

7. Perbudakan

Penguasaan terhadap hak kepemilikan atas seseorang dan

dilaksanakannya kekuasaan tersebut dalam perdagangan

manusia,khusunya perempuan dan anak-anak.

8. Perbudakan Seksual

Tindakan pemaksaan terhadapa perempuan dalam

(13)

seksual paksa seperti nikah paksa,pemerkosaan serta

penyekapan.

9. Perdagangan Perempuan

Pemindahan perempuan dari suatu tempat ketempat lain/

daerah lain baik dalam negri maupun antar negara dengan

cara pemaksaan,ancama,penculikan atau karena faktor

terlilit hutang yang bertujuan untuk mengeksploitasi

perempuan tesebut secara seksual maupun tenaga

kerjanya. Salah satu bentuknya adalah prostitusi.

10. Kawin Paksa

Tindakan pemaksaan atau tanpa izin dari pihak tekait

untuk melakukan kawin. Tindakan ini termasuk dr tipe

perbudakan.

11. Pelecehan Seksual

Tindakan seksual yang tidak diinginkan yang berupa

tindakan fisik atau mengambil keuntungan dengan

mengucapkan yang bernuansa seksual maupun

menunjukan materi- materi yang bersifat ponografi dan

(14)

12. Sterilisasi Paksa

Tindakan penghilangan fungsi reproduksi pada

perempuan dengan paksaan tanpa persetujuan dari pihak

terkait yang bersifat permanen.

13. Penganiayaan

Tindakan kekerasan terhdap perempuan yang membuat

seorang perempuan kehilangan kepercayaan dan

integritas serta mengalami kemunduran pencapaian

haknya sebagai manusia.

14. Pemerkosaan

Suatu tindakan yang bukan hanya tindakan seksualitas

yang tidak diinginkan,tapi juga tindakan memasukan

suatu benda dan atau/ memasukan bagian tubuh lain yang

sebenarnya bukan alat seksual.10

Selain tindak pelanggaran HAM diatas,tindakan pelanggaran HAM yang

sering terjadi pada perempuan salah satunya adalah kekerasan. Berikut kategori

kekerasan terhadap perempuan:

10KOMNAS Perempuan.2006. “Kekerasan Terhadap Perempuan Sebagai Pelanggaran HAM”.

(15)

1. Kekerasan dalam Ranah Domestik

Kekerasan ini banyak terjadi dalam hubungan relasi

personal, dimana pelaku dikenal dekat oleh sang korban. Seperti

kasus kekerasan oleh suami terhadap istri atau orang tua terhadapn

anaknya.

2. Kekerasan dalam Ranah Publik/ Komunitas

Kekerasan yang dimana terjadi di depan public atau

umum,seperti di lingkungan kerja, yang memutuskan hubungan

kerja sewenang-wenang atau pelecehan seksual di lingkungan

tersebut atau di lingkungan umum.

3. Kekerasan oleh Negara

Kekerasan yang dilakukan oleh negara,dapat berupa sebuah

peraturan yang dapat mendiskriminasi kaum perempuan,terutama

bagi korban kekerasan.11

Beberapa bentuk kekerasan terhadap perempuan,sebagai berikut:

1. Kekerasan fisik

2. Kekerasan psikis

3. Kekerasan seksual

11KOMNAS Perempuan.2006. “Kekerasan Terhadap Perempuan Sebagai Pelanggaran HAM”.

(16)

4. Penelantaran

5. Kekerasan tunggal

6. Kekerasan berlapis

Contoh kasus pelanggaran HAM terhadap perempuan terutama adalah

kasus Marsinah. Kasus ini berawal dari unjuk rasa dan pemogokan yang

dilakukan buruh PT. CCPS pada tanggal 3-4 mei 1993. Aksi ini berbuntut dengan

di PHKnya 13 buruh. Marsinah menuntut dicabutnya PHK yang menimpa kawan

kawanya tersebut.

Pada 5 mei 1993 Marsinah Menghilang, dan akhirnya pada 9 Mei 1993,

Marsinah ditemukan tewas dengan kondisi yang mengenaskan di hutan Wilangan

Nganjuk. Perkembangan pengusutan kasus ini menghasilkan keterlibatan 6

anggota TNI Angkatan Darat dari kesatuan Danintel Kodam, Kopassus, 20 Polri

serta 1 orang kejaksaan. Namun perlakuan kodim tidak berhenti pada PHK 13

orang dan matinya Marsinah, karena pada tanggal 7 Mei 1993 masih ada 8 orang

buruh PT. CPS di PHK oleh kodim di markas kodim.12 Kasus ini telah melanggar

HAM dalam menyampaikan pendapat, melanggar pasal 28D Undang- Undang

Dasar 1945 dan pasal 28 I Undang- Undang Dasar 1945.

Atau dapat kita lihat di sekitar kita,masih sering terjadi diskriminasi

terhadap perempuan,baik dalam bangku politik,profesi maupun kedudukan.

Kadang perempuan masih dianggap sebelah mata oleh pihak laki- laki. Banyak

perempuan yang tidak dapat menyampaikan pendapatnya dimuka umum. Atau

perempuan masih mengalami kekerasan terutama dalam rumah tangga atau

12Academia. “Pelanggaran HAM”. Diakses dari : https://www.academia.edu/31673756/Pelanggaran_HAM.

(17)

KDRT. Karena sering dianggap lemah,maka perempuan di perlakukan

semena-mena oleh pihak laki- laki.

2.4 DAMPAK DARI PELANGGARAN HAM

Setiap tindakan yang kita perbuat pasti memiliki faktor tertentu dan

dampaknya. Begitu juga pelanggaran terhadap HAM,memiliki dampak tertentu

terhadap korban pelanggaran HAM tersebut.

 Hubungan antara korban dan pelaku menjadi terganggu

 Ada kemungkinan pihak korban akan melakukan perlawanan atau baik

secara langsung maupun tidak langsung.

 Kerugian dalam berbagai bentuknya baik secara riil ataupun materiil akan

diderita pihak yang menjadi korban pelanggaran.

Atau beberapa dampak dari pelanggaran HAM terhadap perempua dalam

bentuk kekerasan sebagai berikut:

1. Dampak fisik

Dampak fisik mengacu pada bagain tubuh yang bersifat permanen

(cacat) maupun tidak (lebam,luka,dll)

2. Dampak psikologis

Akibat kekerasan yang menyerang jiwa mereka yang dapat

menyebabkan trauma,kehilangan rasa kepercayaan atau merasa

tidak berdaya.

(18)

Dapat menimbulkan gangguan fungsi reproduksi secara permanen

maupun tidak permanen.

4. Dampak ekonomi

Akibat kekerasan yang dilakukan terhadap korban, korban

kesulitah atau terhambat dalam memenuhi perekonomiannya.

5. Dampak sosial

Terganggunya posisi sosial,relasi sosial dan modalitas sosial

korban.

6. Dampak sipil dan politik

Akibat dari kekerasan yang ada,dapat menghalangi pemenuhan hak

sipil dan politik korban.

7. Dampak hukum

Pemenuhan hak korban sesuai dengan hukum dan peraturan yang

berlaku.13

Pada dasarnya tindakan pelanggaran HAM dapat menimbulkan kerugian

baik bagi pelaku maupun korban. Pelaku mungki hanya terkena dampak

hukum yang berakhir ke penjara,namun korban lebih banyak menerima

dampaknya dari berbagai aspek yang ada.

2.5 PENANGGULANGAN KASUS HAM

Berikut beberapa cara penanggulangan kasus HAM dari pemerintah:

13KOMNAS Perempuan.2006. “Kekerasan Terhadap Perempuan Sebagai Pelanggaran HAM”.

(19)

1. Litigasi

Upaya pemenuhan hak- hak korban yang ditempuh dengan jalur peradilan.

2. Non Litigasi

Upaya pemenuhan hak- hak korban yang ditempuh dengan jalur diluar

peradilan.

3. Arbitrasi

Cara untuk mencapai sebuah kompromi melalui pihak ketiga, sebab

pihak-pihak yang bertingkai tidak menyelesaikan masalahnya sendiri.

4. Mediasi

Salah satu metode untuk menyelesaikan masalah antara pihak yang

berselisih,tanpa jalur persidangan

5. Negosiasi

Menyepakati suatu solusi yang dapat mebguntungkan kedua belah pihak.

6. Advokasi

Bentuk upaya persuasi yang mencakup kegiatan penyadaran, rasionalisasi,

argumentasi, serta rekomendasi tindak lanjut mengenai suatu hal atau

kejadian.

7. Pemulihan

Upaya memperdayakan kembali secara utuh perempuan korban kekerasan

atau pelanggaran HAM secara medis,hukum dan psikosial.

8. Layanan Psikologis

Layanan berupa pendampingan dan konseling,yang dapat membuat korban

nyaman untuk menceritakan masalahnya.

(20)

Layanan yang berkaitan dengan hukum yang berlaku dan tata cara

peradilan yang ada di Indonesia

10. Layanan Medik

Laying yang berupa perawatan fisik atau pengobatan pada fisik yang

terluka akibat kekerasan atau pelanggaran HAM

11. Layanan Terpadu

Layanan yang diberikan kepada korban kekerasan atau pelanggaran HAM

yang biasanya berupa layanan psikologis,hukum,dan medik.

Selain itu,pemerintah juga memiliki cara untuk menegakkan HAM di Indonesia

baik untuk kaum perempuan maupun laki-laki,berikut upayanya:

1. Mekanisme Nasional

Dengan menerbitkan Undang – Undang RI No. 39 tahun 1999 mengenai

Hak Asasi Manusia,serta Undang – Undang No. 26 tahun 2000 mengenai

Pengadilan Hak Asasi Manusia.

2. KOMNAS HAM

Lembaga mandiri yang memiliki kedudukan yang setingkat dengan

lembaga negara lain yang berfungsi melaksanakan

pengkajian,penelitian,penyuluhan,pemantauan dan mediasi Hak Asasi

Manusia.14

(21)

3. KOMNAS Perempuan

Berdasarkan PerPres No. 65 tahun 2005,lembaga ini dibntuk bertujuan

untuk pencegahan dan penanggulangan kekerasan pada perempuan,serta

penghapusan segala tindak kekerasan terhadap peempuan.

4. Klaim

Pernyataan seseorang atau suatu negara berhak menuntut atas kerugian

yang telah diterimanya.

5. Pelaporan

Upaya pelaporan atau pengaduan kepada pihak atau lembaga yang

memiliki otoritas atau kapasitas tersebut.

6. Monitoring

Pengamatan secara dekat terhadap situasi di masyarakat apakah

pelaksanaan HAM sudah terealisasikan secara baik dan benar atau

belum.15

Selain cara diatas,pemerintah juga mulai memperhatikan dalam persoalan

HAM bagi perempuan, telah diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia

Nomor 7 Tahun 1984 tentang Pengesahan Konvensi mengenai Penghapusan

Segala Bentuk Diskriminasi Terhadap Perempuan. Selain itu dalam

Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah

15 KOMNAS Perempuan.2006. “Kekerasan Terhadap Perempuan Sebagai Pelanggaran HAM”.

(22)

Tangga dan Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun 2006 tentang Penyelenggaraan

dan Kerjasama Pemulihan Korban Kekerasan Dalam Rumah Tangga.

2.6 TINDAK PIDANA DALAM KASUS PELANGGARAN HAM

Kasus pelanggaran HAM di Indonesia dapat dirasakan baik oleh

perempuan maupun laki- laki. Tindak pidana HAM telah diatur dalam UU No. 26

Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM. Disebutkan pada pasal 7 dan

penjabarannya terdapat pada pasal 8 dan 9, yang digolongkan menjadi dua bagian

yaitu kejahatan genosida dan kejahatan kemanusiaan.

Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan dengan

maksud untuk menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian

kelompok bangsa, ras, kelompok etnis, kelompok agama, dengan cara:

1. Membunuh anggota kelompok

2. Mengakibatkan penderitaan fisik atau mental yang berat terhadap

anggota-anggota kelompok

3. Menciptakan kondisi kehidupan kelompok yang akan mengakibatkan

kemusnahan secara fisik baik seluruh atau sebagiannya

4. Memaksakan tindakan-tindakan yang bertujuan mencegah kelahiran di dalam

kelompok

(23)

Kejaharan kemanusiaan adalah salah satu perbuatan yang dilakukan

sebagian dari serangan yang meluas atau sistematik yang diketahuinya bahwa

serangan tersebut ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil, berupa:

1. Pembunuhan

2. Pemusnahan

3. Perbudakan

4. Pengusiran atau pemindahan penduduk secara paksa

5. Perampasan kemerdekaan atau perampasan kebebasan fisik lain secara

sewenang- wenang yang melanggar (asas-asas) ketentuan pokok hukum

internasional

6. Penyiksaan

7. Perkosaan, perbudakan seksual, pelacuran secara paksa, pemaksaan

kehamilan, pemandulan, atau sterilisasi secara paksa atau bentuk-bentuk

kekerasan seksual lain yang setara

8. Penganiayaan terhadap kelompok tertentu atau perkumpulan yang

didasari persamaan paham politik, ras kebangsaan, etnis, budaya, agama,

jenis kelamin atau alasan lain yang diakui secara universal sebagai hal

yang dilarang menurut hukum internasional

9. Penghilangan orang secara paksa

(24)

Dalam UU No. 26 Tahun 2000 tentang Pengadilan HAM, permasalahan

mengenai pertanggungjawaban pidana diatur dalam pasal 36 sampai dengan pasal

40, yaitu:

1. Pasal 36 berbunyi, setiap orang yang melakukan perbuatan sebagaimana

dimaksud dalam pasal 8 huruf a, b, c, d, atau e dipidana dengan pidana mati atau

pidana penjara seumur hidup atau pidana penjara paling lama 25 tahun dan paling

singkat 10 tahun.

2. Pasal 37 berbunyi, setiap orang yang melakukan perbuatan sebagaimana

dimaksud dalam pasal 9 huruf a, b, d, e atau j dipidana dengan pidana mati atau

pidana seumur hidup atau pidana penjara paling lama 25 tahun dan paling singkat

10 tahun.

3. Pasal 38 berbunyi, setiap orang yang melakukan perbuatan sebagaimana

dimaksud dalam pasal 9 huruf c, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15

tahun dan paling singkat 5 tahun.

4. Pasal 39 berbunyi, setiap orang yang melakukan perbuatan sebagaimana

dimaksud dalam pasal 9 huruf f, dipidana dengan pidana penjara paling lama 15

tahun dan paling singkat 5 tahun.

5. Pasal 40 berbunyi, setiap orang yang melakukan perbuatan sebagaimana

dimaksud dalam pasal 9 huruf g, h, atau I dipidana dengan pidana penjara paling

lama 20 tahun dan paling singkat 10 tahun.

Kasus HAM yang paling terkenal di Indonesia maupun dunia salah

(25)

pernah menangani kasus-kasus pelanggaran HAM. Munir lahir di Malang pada 8

Desember 1965. ia meninggal pada 7 September 2004 di dalam pesawat Garuda

Indonesia ketika Munir sedang melakukan perjalanan menuju Amsterdam,

Belanda. Spekulasi mulai bermunculan, banyak berita yang mengabarkan bahwa

Munir meninggal di dalam pesawat karena serangan jantung, dibunuh, bahkan

diracuni. Namun, sebagian orang percaya bahwa Munir meninggal karena diracun

menggunakan Arsenikum di makanan atau minumannya saat ia merada di dalam

pesawat.Kasus ini sampai sekarang masih belum ada titik temu, bahkan kasus ini

telah diajukan ke Amnesty Internasional dan tengah diproses.

Kemudian pada tahun 2005, Pollycarpus Budihari Priyanto selaku Pilot

pesawat yang ditumpangi munir dijatuhi hukuman 14 tahun penjara karena

terbukti bahwa ia merupakan tersangka dari kasus pembunuhan Munir, karena

dengan sengaja Pollycarpus menaruh Arsenik di makanan Munir sehingga ia

meninggal di pesawat.16

Pembahasan:

Dalam kasus ini telah melanggar :

1. Pasal 28A

Setiap orang berhak untuk hidup serta berhak mempertahankan hidup dan

kehidupannya.

2. Pasal 28D

16 Jatikom. “Kasus pelanggaran HAM”. Diakses dari:

(26)

(1) Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan, dan

kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama di hadapan hukum.

3. Pasal 28I

(1) Hak untuk hidup, hak untuk tidak disiksa, hak kemer-dekaan

pikiran dan hati nurani, hak beragama, hak untuk tidak diperbudak, hak

untuk diakui sebagai pribadi di hadapan hukum, dan hak untuk tidak

dituntut atas dasar hukum yang berlaku surut adalah hak asasi manusia

yang tidak dapat dikurangi dalam keadaan apa pun.

4. Pasal 28J

(1) Setiap orang wajib menghormati hak asasi manusia orang

lain dalam tertib kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

(2) Dalam menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang

wajib tunduk kepada pembatasan yang ditetapkan dengan undang-undang

dengan maksud semata-mata untuk menjamin pengakuan serta

penghormatan atas hak dan kebebasan orang lain dan untuk memenuhi

tuntutan yang adil sesuai dengan pertimbangan moral, nilai-nilai agama,

keamanan, dan ketertiban umum dalam suatu masyarakat demokratis

5. Pasal 338 KUHP

“Barang siapa dengan sengaja merampas nyawa orang

lain,diancam karena pembunuhan dengan pidana penjara paling lama

(27)

Kasus- kasus HAM di Indonesia sudah jelas tindakan atau ganjarannya

tertera pada KUHP , UUD 1945 maupun UU. Seperti kasus Marsinah,kasus

tersebut telah melanggar Pasal 28 A,D,I, J Undang-Undang dasar 1945. Juga UU

No. 7 tahun 1984 mengenai pengahapusan segala bentuk diskriminasi terhadap

perempuan. Dalam kasus Marsinah pelaku dapat terjerat dalam Pasal 338 KUHP

dengan hukuman penjara paling lama lima belas tahun. Dan juga Pasal 351 ayat 3

dengan kurungan penjara paling lama tujuh tahun. Pasal 354 ayat 2 dengan

hukuman penjara paling lama sepuluh tahun.17

Jika dalam kasus kekerasan dalam rumah tangga atau KDRT telah diatur

dalam UU No. 23 Tahun 2004 tentang Penghapusan Kekerasan Dalam Rumah

Tangga. Yang biasanya korbannya adalah perempua dan anak- anak.

Pelaku kekerasan dapat dijerat ancaman pidana terhadap kekerasan fisik

dalam lingkup rumah tangga ini adalah penjara pidana penjara paling lama 5

(lima) tahun atau denda paling banyak Rp15 juta ( Pasal 44 ayat [1] UU KDRT).

Dan khusus bagi KDRT yang dilakukan oleh suami terhadap istri yang

tidak menimbulkan penyakit atau halangan untuk menjalankan pekerjaan jabatan

atau mata pencaharian atau kegiatan sehari-hari, ancaman pidananya

adalah pidana penjara paling lama 4 (empat) bulan atau denda paling banyak Rp5

juta ( Pasal 44 ayat [4] UU KDRT).

(28)

BAB III

PENUTUP

3.1 KESIMPULA DAN SARAN

KESIMPULAN:

Kasus pelanggaran HAM di Indonesia masih banyak dan masih belum

terperhatikan secara menyeluruh. Terutama kasus pelanggaran HAM terhadap

perempuan. Kasus pelanggaran yang sering dialami adalah KDRT dan pelecehan

seksual di muka umum. Namun jika dilihat kembali,belum ada peraturan khusus

untuk perlindungan perempuan yang secara tegas. Hanya kasus KDRT yang

memiliki peraturan yang tegas terhadap tindakannya.

SARAN:

Pemerintah harus membuat peraturan yang lebih tegas lagi mengenai

hak-hak dan perlindungan bagi perempuan. Selain itu,berikan penyuluhan kepada

setiap perempuan mengenai apa saja hak mereka dan tindakan apa yang harus di

lakukan jika hak mereka di langgar. Pada intinya lebih banyak lagi memberi

pengertian HAM kepada masyarakat di Indonesia,agar kasus pelanggaran HAM

(29)

DAFTAR PUSTAKA

 Effendi, Masyhur . 1994.“Dimensi dan Dinamika Hak Asasi Manusia dalam Hukum Nasional dan Internasional”. Jakarta: Ghalia Indonesia.

 Tong,Rosemarie Putnam. 1998. “Feminist Thought : Pengantar Paling Komprehensif

kepada Aliran Utama Pemikiran Feminis”. Yogyakarta: Jalasutra.

 KOMNAS Perempuan. 2006. “Kekerasan Terhadap Perempuan Sebagai Pelanggaran

Referensi

Dokumen terkait

Selain itu dalam penelitian Anwer et al (2012) dengan pemberian ekstrak protein spirulina sebanyak 50 mg/kg berat badan tikus dan 50 µg/kg berat badan tikus

meningkatkan ekspor, di mana harga barang ekspor di luar negeri akan lebih murah, sedangkan harga barang impor dari luar negeri akan lebih mahal sehingga impor atas

Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) mata pelajaran akuntansi yang disusun oleh guru akuntansi di di SMK Negeri 1 dan SMK Negeri 6 Surakarta sudah sesuai dengan komponen

Sedangkan Urusan Pemerintahan Wajib yang tidak berkaitan dengan Pelayanan Dasar meliputi: tenaga kerja; koperasi dan usaha kecil dan menengah;

Sistem Bursa Usaha Santri dan Alumni memilikitiga entitas luar yang berhubungan dengan sistem yaitu pengguna umum, anggota dan administrator.Rancangan kerja sistem

Intisari--- Bengkel bubut adalah salah satu unit usaha jasa yang bergerak dalam bidang otomotif dan berkembang dengan baik. Sebagian besar pengusaha bengkel bubut masih

peneliti tertarik untuk melakukan penelitian yang berjudul : “ Meningkatkan Kemampuan naturalis anak melalui pemanfaatan lingkungan alam sekitar “. B.

Berdasakan hasil penelitian yang dilakukan terhadap 30 orang responden di instalasi rawat inap RSI Ibnu Sina Bukittinggi didapatkan hasil ada hubungan