Sekretariat Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Cilacap

135  Download (0)

Teks penuh

(1)

i

NASKAH AKADEMIK

RANCANGAN PERATURAN DAERAH

TENTANG

PEMBANGUNAN PERDESAAN DI KABUPATEN CILACAP

Kerjasama

Sekretariat

Dewan Perwakilan Rakyat Daerah

Kabupaten Cilacap

dengan

Lembaga Penelitian dan

Pengabdian Kepada Masyarakat

(LPPM) IAIN Purwokerto

(2)

ii Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Kabupaten Cilacap

NASKAH AKADEMIK

RANCANGAN

PERATURAN DAERAH KABUPATEN CILACAP

NOMOR …… TAHUN 2016

TENTANG

PEMBANGUNAN PERDESAAN DI KABUPATEN CILACAP

DEWAN PERWAKILAN RAKYAT DAERAH KABUPATEN CILACAP PEMERINTAH KABUPATEN CILACAP

(3)

iii DAFTAR ISI

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 3

C. Tujuan Dan Manfaat Naskah Akademik ... 7

D.Metode Analisis Naskah Akademik ... 7

BAB II KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTEK EMPIRIS A. Kajian Teoritis ... 9

B. Praktek Empiris ... 15

BAB III EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN PERUNDANG UNDANGAN TERKAIT ... 23

BAB IV LANDASAN FILOSOFIS, SOSIOLOGIS DAN YURIDIS A. Landasan Filosofis ... 45

B. Landasan Sosiologis ... 46

C. Landasan Yuridis ... 47

BAB V JANGKAUAN, ARAH PENGATURAN, DAN RU-ANG LINGKUP MATERI MUATAN PERATURAN DAERAH A. Rumusan Akademik Berbagai Istilah dan Frase ... 51

B. Muatan Materi Peraturan Daerah ... 53

BAB VI PENUTUP ... 59

DAFTAR PUSTAKA

LAMPIRAN

(4)

1 BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Ide dasar Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa adalah memberi hak dan kewenangan ang relatif besar kepada Desa. Dengan kewenangan yang relatif lebih luas, asumsinya Desa memiliki keberdayaan untuk menyelesaikan hal-hal yang selama ini menjadi persoalan mendasar bagi bangsa ini seperti kemiskinan, infrastruktur yang kurang memadai, produktivitas warga, dan pelayanan publik dasar.

Kewenangan pembangunan sebelum diundangkannya Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa bertumpu pada kebijakan Pemerintah Daerah. Pemerintah Desa dalam konteks Pemerintah Daerah lebih sebagai pembantu pelaksana pembangunan yang memiliki banyak keterbatasan. Di sisi lain, Desa merupakan pusat dari berbagai persoalan warga dan bersentuhan secara langsung terhadap kehidupan sehari-hari. Namun karena kewenangan yang dimiliki terbatas, persoalan warga tersebut mengendap dan menjadi semakin komplikatif.

Salah satu kewenangan yang bertambah bagi Desa adalah pengelolaan pembangunan dan pembiayaan. Pemerintah Desa menjadi penanggungjawab anggaran negara yang dipertanggungjawabkan secara langsung. Dengan kewenangan ini, Desa bisa merumuskan pembangunan sebagai alternatif bagi upaya menanggulangi persoalan-persoalan krusial di Desa berikut pembiayaannya. Konsekuensi lain yang diterima Desa adalah keuangan yang relatif bertambah. Keuangan Desa tidak hanya mengandalkan pendapatan asli desa tetapi juga bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN) dalam bentuk Dana Desa, APBD Provinsi dalam bentuk bantuan keuangan Desa, Alokasi dari APBD Kabuaten dalam bentuk Alokasi Dana Desa (ADD), bagi hasil pajak dan retribusi, dan bantuan keuangan lainnya.

(5)

2 Persoalan kemudian adalah pengelolaan dana Desa yang bertambah tersebut tersistematisasi dalam sistem pengelolaan keuangan negara. Standar dan sistem akuntansi keuangan mengikuti pola yang sama dengan lembaga-lembaga negara lainnya. Di sini Desa dituntuk untuk bekerja secara profesional dan teknokratis sebagaimana lembaga negara lainnya yang mengelola uang negara.

Isu-isu krusial dalam Pembangunan Perdesaan dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa adalah

pertama, perencanaan dan dokumen pembangunan.

Ketersediaan dana di Desa yang relatif cukup menjadikan perencanaan pembangunan strategis. Berbeda dengan sebelumnya di mana perencanaan seringkali menciptakan frustrasi sosial warga Desa karena tidak aja kejelasan usulan-usulan mereka terakomodasi dan menjadi program pembangunan. Perencanaan pembangunan Desa bernilai strategis karena berisi proyeksi dan aspirasi warga dalam rangka meningkatkan kualitas dan kuantitas pembangunan di desa. Sejalan dengan perencanaan adalah ketersediaan dokumen perencanaan sebagai basis dan referensi penyelenggaraan pembangunan yang dijalankan. Keberadaan dokumen inilah yang menjadi panduan bagi pihak-pihak terkait baik dalam pelaksanaan, pengawasan, maupun evaluasinya. Dengan begitu pentingnya keberadaan dokumen, maka ia harus dihasilkan melalui forum-forum Desa yang memberikan peluang sebesar-besarnya kepada warga untuk berpartisipasi. Proses membangun partisipasi warga menjadi pokok krusial lain dalam kerangka pembangunan Perdesaan.

Kedua, pelaksanaan pembangunan. Secara prinsip pengelolaan pembangunan di Desa sama dengan institusi lain yang harus mendasarkan pada nilai-nilai akuntabilitas, keterbukaan, efektifitas, dan efisiensi. Namun demikian, Desa memiliki keistimewaan sebagai bentuk dari political will

(6)

3 swakelola sesungguhnya diarahkan untuk mengembangkan ptensi dan peluang-peluang ekonomis yang dimiliki Desa.

Ketiga, kerjasama antardesa sebagai bagian dari pembangunan kawasan perdesaan. Isu ini krusial mengingat tidak ada Desa tertentu yang mampu mengembangkan dirinya tanpa ada kontribusi atau bekerjasama dengan Desa atau institusi lainnya. Kerjasama antardesa enjadi keniscayaan yang harus diambil oleh Desa untuk mengembangkan atau mengoptimalisasikan potensi yang dimilikinya. Melalui kerjasama antardesa ini, sebuah Desa dapat memperoleh keuntungan yang lebih sebagai akibat dari menularnya praktik-praktik pembangunan di Desa lainnya. Terlebih apabila beberapa Desa dijadikan sebuah kawasan tertentu yang mendapat support dan fasilitasi dalam upaya pengembangannya.

Keempat, pembiayaan pembangunan Desa. Sumber

keuangan yang beragam memiliki dampak yang positif yaitu nominal yang relatif banyak. Tantangannya adalah apabila dana yang ada tersebut tidak dikelola dengan baik maka akan

menjadi “bencana” bagi Desa penggunanya. Oleh karena itu

dana yang ada di Desa harus dikelola dengan baik dan melibatkan masyarakat untuk memberikan kontribusi dan partisipasinya.

Sumber-sumber keuangan yang berbeda berdampak terhadap model pertanggungajwaban yang juga berbeda. Secara prinsip, sumber dana yang berasal dari pemerintah dan pemerintah daerah harus dikelola dan dipertanggungjawabkan secara standar dan sistem akuntansi pemerintah. Sementara dana yang bersumber dari Pendapatan Asli Daerah, pelaporannya menyesuaikan dengan Peraturan Desa dan pelaksanaan pembangunannya dilakukan secara swakelola.

Atas beberapa hal di atas, Rancangan Peraturan Daerah tentang Pembangunan Perdesaan memiliki relevansi yang kuat. Ia akan menjadi dasar bagi pengembangan pola dan teknis penyelenggaraan pembangunan Desa dan menata kembali proses-proses partisipasi warga Desa yang sempat mengalami stagnasi akibat frustasi sosial yang terbilang panjang.

B. Identifikasi Masalah

(7)

4 Pemerintah Daerah di Desa menjadi penanggungjawab kegiatan. Konsekuensi dari transformasi ini adalah bahwa Desa saat ini menjadi pengelola dan penanggung jawab kegiatan-kegiatan lokal berskala Desa. Konsekuensi yang lain Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten wajib mengalokasikan sejumlah dana kepada Desa sebagai bagian dari pelaksanaan pembangunan. Dana yang ditransfer dari Pemerintah dan Pemerintah Daerah menjadi tanggungjawab penuh Pemerintah Desa dalam pengelolaannya. Kondisi ini berbeda dengan wewenang Desa sebelumnya yang bersifat pembantuan. Tanggungjawab dan pengelolaan dana di Desa menjadi wewenangnya Pemerintah dan Pemerintah Daerah sesuai sumber pembiayaan yang diperoleh.

Konsekuensi sebagai pengelola dan penanggungjawab kegiatan dan pendanaan oleh desa berimplikasi secara langsung kepada hal-hal yang bersifat administratif maupun politis. Beberapa hal yang bersifat administratif adalah

pertama, penanggugjawab kegiatan dan pembiayaannya

diserahkan kepada Pemerintah Desa. Ini artinya Pemerintah Desa mempunyai kewajiban menyampaikan laporan dan pertanggungjawaban semua dana yang bersumber dari keuangan negara (Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah Daerah Kabupaten) sesuai dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku terkait dengan pengelolaan keuangan negara. Dalam konteks ini, Pemerintah Desa relatif belum terbiasa dengan sistem administrasi keuangan negara yang berbasis akuntansi standar pemerintahan. Ketersediaan sumberdaya manusia, perangkat teknis dan fasilitas pendukung, dan tradisi pelaporan keuangan berbasis sistem administrasi standar menadi isu-isu penting sekaligus menjadi persoalan dalam pembangunan desa pada wilayah administrasi.

(8)

5 adalah ketiadaan dukungan dokumentasi, proses administrasi yang tidak terstandar secara baku, dan wewenang – tanggungjawab yang sporadis atau tidak terdistribusi secara organik.

Ketiga, dukungan dokumentasi atas setiap kebijakan-kebijakan strategis dan teknis tidak terlaksana secara baik. Kondisi ini tentu memberikan persoalan ketika Desa akan mengembangkan pembangunan yang lebih sistematis di mana hasil evaluasi pembangunan pada periode sebelumnya penting. Namun karena tidak didukung oleh dokumentasi yang baik, proses evaluasi ini menjadi tidak berdasar. Selain itu, proses pembangunan yang sedang berjalan menjadi tidak terstandar secara baku karena ketersediaan dokumen yang dibutuhkan tidak komplit.

Secara politis, persoalan pembangunan perdesaan memiliki persoalan yang bisa diidentifikasi, yaitu pertama,

partisipasi masyarakat dalam pembangunan desa baik dari sisi perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Selama ini, Musrenbang sebagai forum perencanaan pembangunan di tingkat Desa cenderung mengalami penurunan minat. Hal ini terjadi karena pengalaman hasil-hasil Musrenbang tidak memiliki legitimasi untuk diakomodasi dalam penganggaran. Artinya warga yang secara serius telah mencoba merumuskan dalam Musrenbang seringkali tidak ada gunanya pada saat proses penganggaran tidak mengakomodasinya. Karena proses seperti ini berlangsung pada waktu yang cukup lama muncul kecederungan sikap-sikap yang mengarah kepada bentuk frustrasi sosial. Pasca UU No. 6 Tahun 2014 tentang Desa, Pemerintah Desa wajib menyelenggarakan Musrenbang untuk meyerap aspirasi warganya. Musrenbang menjadi strategis mengingat Pemerintah Desa saat ini memiliki alokasi yang relatif cukup untuk mengakomodasi aspirasi warganya dalam Musrenbang. Kecenderungan menurunnya minat warga terlibat dalam Musrenbang menjadi persoalan tersendiri.

(9)

6 semata-mata untuk menghindari adanya tumpang tindih. Namun realitas di kabupaten Cilacap, ketersediaan dana yang dikelola Desa tidak cukup apabila digunakan untuk membiayai semua kegiatan pembangunan berskala lokal desa sekalipun. Untuk itu, Desa membutuhkan partisipasi dari pemerintah lain terutama Pemerintah Daerah Kabupaten. Dengan adanya partisipasi ini, akselerasi pembangunan Desa bisa dipercepat.

Persoalan lain yang teridentifikasi adalah terkait penetapan kawasan perdesaan. Terutama dalam penetapan kawasan yang berkaitan dengan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Daerah yang secara periodik disusun atau bisa direvisi dalam 5 (lima) tahun. Sementara periodesasi Pemerintah Desa adalah 6 (enam) tahun yang proses pembentukannya melalui Pemilihan Kepala Desa tidak dilangsungkan secara serentak dalam 1 (satu) waktu.

Selain terkait RTRW kawasan perdesaan, hal lain yang penting dalam identifikasi Rancangan Peraturan Daerah tentang Pembangunan Perdesaan ini adalah kerjasama antardesa. Selama ini, skema kerjasama antardesa dilakukan melalui mekanisme pembangunan yang bersumber dari APBD Kabupaten. Pengelolaan dan penanggungjawaban berada di kabupaten sehingga Desa-Desa yang dijadikan sebagai lokasi kegiatan relatif tidak bergejolak. Namun ketika saat ini sumber pembiayaannya bersumber dari Anggaran Pendapatan Belanja Desa maka akan terjadi negosiasi yang relatif alor antar beberapa desa yang terlibat terkait misalnya besaran nilai nominalnya, tingkat kemanfaatan, dan pengelolaan kegiatannya.

Dari beberapa masalah yang teridentifikasi di atas, Rancangan Peraturan Daerah ini akan menjawab persoalan terkait :

1. Proses politik penyusunan dokumen-dokumen pembangunan perdesaan. Partisipasi warga menjadi kata kunci yang harus terformula dalam proses penyusunannya.

2. Ketersediaan dokumen-dokumen pembangunan sebagai basis dan pedoman pelaksanaan kegiatan. Dokumen ini menjadi dasar bagi pihak-pihak terkait untuk menilai dan mengevalausi pembangunan perdesaan di Desa tertentu.

(10)

7 Menetapkan metode pengelolaan keuangan desa yang dibelanjakan untuk kepentingan pembangunan perdesaan. Prinsip swakelola menjadi point penting pengelolaan kegiatan pembangunan. Namun demikian, prinsip-prinsip dasar akuntasi keuangan negara tetap dipenuhi.

C. Tujuan Dan Manfaat Naskah Akademik

Tujuan disusunnya naskah akademik ini adalah memberikan kerangka pemikiran, paradigma, landasan hukum, sampai tataran operasional peraturan daerah ini.

Adapun tujuan dibuatnya peraturan daerah tentang Pembangunan Perdesaan di Kabupaten Cilacap ini adalah :

1. Melaksanakan amanat Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang desa dan peraturan-peraturan terkait di bawahnya dalam konteks penyelenggaraan pembangunan Desa di tingkat kabupaten.

2. Merancang inovasi dan memberi ruang yang cukup pada upaya-upaya pengembangan Desa secara strategis melalui desain pembangunan yang partisipatif dan berbasis sumberdaya lokal.

3. Meningkatkan kerjasama dan kolaborasi antarpihak dalam pembangunan Desa untuk mewujudkan kemajuan dan kemandirian Desa serta berorientasi terhadap pemberdayaan masyarakat.

4. Memberi pedoman bagi pihak-pihak terkait terutama Pemerintah Daerah, pemerintahan Desa, masyarakat Desa, dan stakeholders Desa dalam memberikan kontribusi dalam pembangunan Desa.

D. Metode Analisis Naskah Akademik

Metode analisis yang digunakan dalam naskah akademik ini adalah metode sosiolegal. Artinya, kaidah-kaidah hukum, baik yang berupa perundang-undangan, maupun berbagai tradisi lokal, dijadikan sebagai bahan rumusan pasal-pasal yang dituangkan dalam rancangan peraturan perundang-undangan, dalam hal ini Peraturan Daerah Kabupaten Cilacap tentang Pembangunan Perdesaan.

(11)

8 kaidah-kaidah teoritis, akan tetapi juga berlandaskan pada kenyataan yang ada dalam kehidupan masyarakat.

Untuk itu, langkah-langkah dalam menerapkan metode analisis sosiolegal ini meliputi :

1. Identifikasi permasalahan terkait dengan pembangunan perdesaan,

2. inventarisasi bahan hukum yang terkait,

3. sistematisasi bahan hukum,

4. analisis bahan hukum, dan

5. perancangan dan penulisan.

(12)

9 BAB II KAJIAN TEORITIS DAN PRAKTIK EMPIRIK

A. Kajian Teoritis

1. Paradigma Baru Desa

Paradigma baru terhadap desa memandang keberada-an desa sebagai entitas ykeberada-ang hybrid, dimana desa merupa-kan penyelenggara pemerintahan sekaligus sebagai suatu kesatuan masyarakat hukum. Dengan kata lain, desa dapat disebut sebagai masyarakat berpemerintahan (self governing community) maupun pemerintahan berbasis masyarakat ( lo-cal self government). Sebagai kesatuan masyarakat hukum, desa mempunyai batas-batas wilayah serta mempunyai ke-wenangan untuk mengatur dan mengurus urusan pemerin-tahan dan kepentingan masyarakat setempat.

Cara pandang baru mengenai desa ini merupakan sin-tesa dari pemikiran desa yang didasarkan pada asas rekogni-si dan subsidiaritas. Konsep rekognisi awalnya muncul da-lam konteks multikultural, terutama di negara yang memili-ki keragaman budaya dan masih memilimemili-ki masyarakat adat (indigenous people). Sedangkan konsep subsidiaritas awal-nya muncul dari pemikiran Gereja Katolik Roma. S ubsidia-ritas merupakan gagasan pemikiran yang mengembangkan fungsi otoritas pusat yang tidak hanya subordinasi me-lainkan juga subsidiari atau mendukung tugas-tugas yang tidak dapat dilakukannya secara efektif di level menengah dan lokal.1

Dalam konteks multikultural ditemukan beragam pe-ngertian rekognisi. Axel Honneth secara sederhana memaha-mi rekognisi dalam dua pengertian, yakni : (a) menghormati kesamaan status dan posisi; (b) menghargai keberagaman a-tau keunikan. Tujuannya adalah untuk mencapai keadilan sosial.2

Lebih radikal lagi, Nancy Fraser melihat rekognisi da-lam konteks perjuangan politik untuk melawan ketidakadil-an. Tujuan rekognisi bukan sekedar memberikan pengaku-an, penghormatan dan afirmasi terhadap identitas kultural

1 Definisi dalam kamus bahasa Inggris Oxford,

http://www.oxforddictionaries.com/definition/english/subsidiarity. Diakses 15

Maret 2016.

2Sutoro Eko dkk.,Desa Membangun Indonesia, Forum Pengembangan

(13)

10 yang berbeda, tetapi yang lebih besar adalah keadilan sosial ekonomi. Bagi Fraser, rekognisi harus disertai dengan redis-tribusi. Kalau hanya berhenti pada rekognisi kultural hal itu mengabaikan redistribusi sosial-ekonomi sebagai obat keti-dakadilan sosial dan perjuangan politik.3

Dalam konteks desa, prinsip rekognisi mempunyai makna pengakuan dan penghormatan yang berkaitan dengan keragaman budaya, hak asal usul, produk hukum desa, tradisi, kelembagaan desa, dan sebagainya. Tetapi me-rujuk kepada Fraser, rekognisi yang dimaksud tidak hanya bermakna pengakuan keragaman budaya untuk memba-ngun keadilan budaya (cultural justice), tetapi seharusnya juga diikuti dengan redistribusi negara untuk mencapai ke-adilan ekonomi (economic justice). Redistribusi uang Negara kepada desa merupakan resolusi untuk menjawab ketidaka-dilan sosial-ekonomi karena intervensi, eksploitasi dan mar-ginalisasi yang dilakukan oleh negara.

Penerapan asas rekognisi tersebut juga disertai dengan asas subsidiaritas. Subsidiaritas menegaskan pembatasan kekuasaan otoritas sentral (pemerintah yang lebih tinggi) dan sekaligus memberi ruang pada organisasi di bawah un-tuk mengambil keputusan dan menggunakan kewenangan secara mandiri.4 Implementasinya masyarakat atau lembaga yang lebih tinggi kedudukannya harus memberi bantuan ke-pada anggota-anggotanya atau lembaga yang lebih terbatas sejauh mereka sendiri tidak dapat menyelesaikan tugas me-reka secara memuaskan. Sedangkan apa yang dapat dikerja-kan secara memuasdikerja-kan oleh satuan-satuan masyarakat yang lebih terbatas tidak boleh diambil alih oleh satuan ma-syarakat yang lebih tinggi.5

Prinsip subsidiaritas menegaskan bahwa dalam semua bentuk koeksistensi manusia, tidak ada organisasi yang ha-rus melakukan dominasi dan menggantikan organisasi yang kecil dan lemah dalam menjalankan fungsinya. Sebaliknya, tanggungjawab moral lembaga sosial yang lebih kuat dan lebih besar adalah memberikan bantuan kepada organisasi yang lebih kecil dalam pemenuhan aspirasi secara mandiri

3Ibid., hlm. 29. 4Ibid., hlm. 30.

5Frans Magnis Suseno, Etika Politik : Prinsip- Prinsip Moral Dasar

(14)

11 yang ditentukan pada level yang lebih kecil-bawah, ketim-bang dipaksa dari atas.6

Subsidiaritas berbeda secara kontras dengan prinsip

residualitas. Prinsip residualitas yang mengikuti asas desen-tralisasi memandang kewenangan desa merupakan sisa urusan pemerintah daerah yang dilimpahkan oleh Bupati. Sementara prinsip subsidiaritas justru meyakini bahwa urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat mampu dikelola sendiri oleh desa dan/atau urusan yang lebih efi-sien jika diatur dan diurus oleh desa. Berdasarkan prinsip

subsidiaritas dapat ditetapkan kewenangan yang berskala lokal, baik kewenangan dalam hal pelayanan publik maupun pengembangan aset ekonomi lokal.

2. Pembangunan Desa

Pembangunan merupakan setiap upaya yang dikerja-kan secara terencana untuk melaksanadikerja-kan perubahan yang memiliki tujuan utama untuk memperbaiki dan menaikkan taraf hidup, kesejahteraan, dan kualitas manusia.7

Persoalan muncul dari paradigma dan proses pemba-ngunan yang berlangsung selama ini di Indonesia, yang dini-lai sangat state centric dengan karakternya yang otokratis, sentralistik, top down dan sektoral. Dibalik kesuksesan yang diklaim lewat capaian pertumbuhan dan pendapatan perka-pita, sistem ini terus dikritik karena pada saat yang sama menunjukkan berbagai bukti kegagalan. Berbagai persoalan ketidakadilan, ketidakmerataan dan kesenjangan pemba-ngunan yang kurang memberikan ruang eksplorasi sumber daya lokal semakin hari semakin terlihat nyata.

Paradigma pembangunan yang state centric menjadi pangkal sebab persoalan kemiskinan dan ketidakmerataan kesejahteraan antara desa dengan kota. Desa sekian lama terpinggirkan, kedaulatan desa dalam menyelenggarakan pembangunan di wilayahnya sendiri telah dinafikkan. Pada-hal secara asal usul, sebelum Negara Kesatuan Republik In-donesia terbentuk, desa sudah ada lebih dahulu sehingga sejak lahirnya merupakan wilayah otonom, dengan sistem

6AlessandroColombo, Subsidiarity Governance: Theoretical and

EmpiricalModels, New York: Palgrave Macmillan, 2012.

7Muhammad Ali, Pendidikan untuk Pembangunan Nasional, Jakarta:

(15)

12 demokrasi asli yang telah dijalankan pada masa kerajaan se-belum era kolonial.8

Melalui proses panjang, pembangunan bangsa kini di-jalankan oleh NKRI. Kondisinya menjadi berbalik, desa men-jadi bagian dari pemerintahan pusat dengan posisi pinggir-an dpinggir-an kehilpinggir-angpinggir-an otonomi. Selpinggir-anjutnya desa menjadi obyek pembangunan semua lembaga pemerintahan di atasnya se-hingga tidak memiliki kewenangan dalam mengatur rumah tangganya sendiri. Pusat menjadi sangat kokoh, melakukan sentralisasi, mendominasi pengaturan segala macam sum-ber yang terletak di desa dan lebih dari itu, yakni mengambil alih pemilikan desa menjadi pemilikan pusat. Dengan sistem pembangunan yang demikian, desa sebagai pemasok sum-ber daya telah termarginalkan sebagai obyek pembangunan semata, dimana kesejahteraannya hanya mengandalkan te-tesan hasil pembangunan dari sektor-sektor besar yang menjadi andalan.

Belajar dari pengalaman berharga di masa lalu, kini pembangunan desa memiliki paradigma baru yang berang-kat dari spirit rekognisi dan subsidiaritas. Spirit ini diimple-mentasikan dalam gerak pembangunan desa yang society centric, yaitu mengedepankan dan berorentasi pada masya-rakat, bukan negara. Karakter pembangunan ini dicirikan melalui sifat-sifat pembangunan yang demokratis, bottom up, otonomi, kemandirian, lokalitas, partisipatif dan emansipa-toris.

Memodifikasi apa yang dikemukakan oleh Andrew Shepherd, Sutoro Eko dkk. menguraikan secara rinci ber-bagai aspek dalam paradigma baru pembangunan perdesaan yang dibandingkan secara vis a vis dengan paradigma lama sebagaimana tergambar dalam tabel 1.9

Tabel 1. Perbandingan Paradigma Pembangunan

Paradigma lama Paradigma baru

 Fokus pada pertumbuhan ekonomi;

 Redistribusi oleh negara;

 Otoritarianisme ditolerir

Fokus pada pertumbuhan yang berkualitas dan berkelanjutan;

Proses demokrasi dan keterlibatan warga marginal dalam pengambilan keputusan;

Menonjolkan nilai-nilai

8Heru Cahyono, Agus R. Rahman, dan Moch. Nurhasim, Dinamika

Demokratisasi Desa di Beberapa Daerah di Indonesia Pasca 1999, Jakarta: LIPI,

2006.

(16)

13

sebagai harga yang harus dibayar karena

pertumbuhan;

 Negara memberi subsidi pada pengusaha kecil;

 Negara menyediakan layanan sosial;

 Transfer teknologi dari negara maju;

 Peran negara: produser, penyelenggara, pengatur dan konsumen terbesar.

kebebasan, otonomi, harga diri, dll;

Negara membuat lingkungan yang memungkinkan;

Pengembangan institusi lokal untuk ketahanan social;

Penghargaan terhadap kearifan dan teknologi lokal;

pengembangan teknologi secara partisipatoris;

Penguatan institusi untuk melindungi aset komunitas miskin;

Pembangunan adalah proses multidimensi dan sering tidak nyata yang dirumuskan oleh rakyat, menyeluruh dan terpadu;

Organisasi belajar non-hirarkhis; dan

Peran negara: menciptakan kerangka legal yang kondusif, membagi kekuasaan,

mendorong tumbuhnya institusi-institusi lokal.

3. Strategi Pembangunan Desa Berbasis Kawasan

Lambatnya kemajuan pembangunan, ketidakberlan-jutan pembangunan, bahkan kegagalan pembangunan sela-in ditentukan oleh faktor-faktor sumberdaya, dana serta ka-pasitas manajemen, juga dapat disebabkan karena kesalah-an dalam memilih dkesalah-an menetapkkesalah-an model pembkesalah-angunkesalah-an se-perti apa yang diterapkan. Oleh karena itu, pembangunan daerah atau desa harus dimulai dengan menetapkan model pembangunan yang akan diterapkan.

(17)

pertum-14 buhan. Pembangunan desa diharapkan dapat mengikuti pertumbuhan pembangunan kota sehingga kesenjangan pembangunan dapat dikurangi. Pusat perkotaan akan meng-hasilkan efek berganda (multiplier effects) yang akan menye-bar kepusat-pusat kecil disekitarnya dan daerah pinggiran.10

Penerapan konsep pembangunan berbasis pertumbuh-an ypertumbuh-ang bersifat top down ini pada kenyataannya menim-bulkan beberapa dampak negatif. Model pembangunan ini dinilai telah meminggirkan desa dan gagal menciptakan ke-sejahteraan bagi desa. Seiring era otonomi desa, maka su-dah saatnya beralih kepada strategi alternatif yang dinilai lebih sesuai bagi desa. Friedman dan Douglass (1975) serta Rondinelli (1985) menyarankan suatu bentuk pendekatan pembangunan yang kemudian kerap disebut model Agropo-litan.

Model agropolitan ini pada dasarnya merupakan kon-sep pembangunan yang terkonsentrasi di wilayah perdesa-an, dengan memberikan pelayanan di kawasan perdesaan.11 Strategi pengembangan yang dilakukan adalah dengan me-nyusun suatu sistem perekonomian terpadu yang mandiri dan mempunyai tingkat ketergantungan yang sangat minim dengan metropolis terutama yang berkaitan dengan pengam-bilan keputusan. Kewenangan dalam pengampengam-bilan keputus-an terhadap permasalahkeputus-an ykeputus-ang berkaitkeputus-an dengkeputus-an daerah terutama yang menyangkut pembangunan daerah agar sepe-nuhnya diserahkan pada daerah yang bersangkutan.

Menurut Djaka Permana, kawasan agropolitan diciri-kan oleh kawasan pertanian yang tumbuh dan berkembang karena berjalannya sistem dan usaha agribisnis di pusat a-gropolitan yang diharapkan dapat melayani dan mendorong kegiatan-kegiatan pembangunan pertanian (agribisnis) di wi-layah sekitarnya.12

10Syafrizal, Ekonomi Regional, Teori dan Aplikasi, Niaga Swadaya, 2008,

hlm. 128.

11Jhon Friedmann dan Mike Douglass, “Agropolitan development: towards a new strategy for regional planning in Asia”, dalam Lo FC, Salih K, ed. Growth pole strategy and regional development policy: Asian experience and alternative approaches. Oxford, England, Pergamon, 1978, hlm.163-92.

12Ruchyat D. Djakapermana, “Pengembangan Kawasan Agropolitan

dalamRangka Pengembangan Wilayah Berbasis Rencana Tata Ruang

(18)

15 Model agropolitan menurut Rustiadi akan mengarah pada desentralisasi, pembangunan infrastruktur setara kota di wilayah perdesaan, dan menanggulangi dampak negatif pembangunan seperti migrasi desa-kota yang tidak terken-dali, polusi, kemacetan lalu lintas, pengkumuhan kota, ke-hancuran sumberdaya alam, dan pemiskinan desa.13

Dalam konsep pengembangan agropolitan, petani atau masyarakat desa tidak perlu harus pergi ke kota untuk men-dapatkan pelayanan, berupa pelayanan yang berhubungan dengan produksi dan pemasaran, kebutuhan sosial budaya serta kebutuhan sehari-hari. Pelayanan untuk proses pro-duksi diberikan pada tingkat desa, dekat pemukiman petani, berupa pelayanan informasi teknologi dan sarana produksi pertanian, kredit usaha tani dan informasi pasar. Akibatnya, biaya produksi dan biaya pemasaran menjadi rendah.

B. Kajian Empiris

Kabupaten Cilacap merupakan daerah terluas di Jawa Tengah, dengan luas wilayah 225.360,840 Ha, yang terbagi menjadi 24 Kecamatan dan 269 desa. Dengan wilayahnya yang sangat luas, Cilacap memiliki sumber daya yang besar dan cu-kup lengkap meliputi energi dan sumber daya mineral, perta-nian, peternakan, industri kerajinan, perikanan serta kehutan-an dkehutan-an perkebunkehutan-an. Selain itu, bkehutan-anyaknya perusahakehutan-an ykehutan-ang berinvestasi di Kabupaten Cilacap membuka potensi geliat eko-nomi yang lebih maju bagi kalangan ekoeko-nomi kelas bawah, seperti perdagangan, yaitu pertokoan dan layanan jasa.

1. Ketidakmerataan Pembangunan dan Kesejahteraan

Dengan potensi sumber daya yang ada dan peluang pasar yang menjanjikan, setidaknya hal ini bisa membawa tingkat kemakmuran yang tinggi bagi warga Cilacap. Namun dalam kenyataannya data menunjukan angka kemiskinan di Cilacap masih relatif tinggi, menempati urutan tiga besar di Provinsi Jawa Tengah. Situasi ini menggambarkan masih be-sarnya permasalahan pembangunan di kabupaten Cilacap baik dari sisi ekonomi, politik maupun sosial budaya.14

13Ernan Rustiadi, “Penataan Ruang Kawasan Perdesaan dan Agropolitan Sebagai StrategiPembangunan Perdesaan”, Buletin Tata Ruang, Badan Kordinasi Penataan Ruang Nasional, Edisi Juli-Agustus, 2009, hlm.27.

14Humas Cilacap, “Kemiskinan Masih Menghinggapi Cilacap”, dalam

http://www.cilacapkab.go.id/v2/?pilih=news&mod=yes&aksi=lihat&id=3587,

(19)

16 Kantong-kantong kemiskinan di kabupaten Cilacap umumnya berada di wilayah perdesaan. Pendataan oleh Pro-gram Perlindungan Sosial (PPLS) Dinas Sosial Kabupaten Cilacap tahun 2011 mengungkap di Kabupaten Cilacap ma-sih terdapat 56 Desa Miskin, dengan persentase warga mis-kin mencapai 26 persen.15 Desa-desa miskin tersebut tersebar di seluruh Kecamatan di Kabupaten Cilacap. Warga yang berkriteria miskin kebanyakan adalah petani yang berada di desa, dengan persentase mendekati 60 persen dari total warga miskin.

Kemiskinan pedesaan umumnya bersumber dari sek-tor pertanian yang utamanya disebabkan oleh ketimpangan kepemilikan lahan pertanian. Beberapa faktor lainnya anta-ra lain: terbatasnya saanta-rana dan panta-rasaanta-rana sosial ekonomi, rendahnya produktivitas dan pembentukan modal, keti-dakmerataan investasi karena pembangunan yang bias ko-ta, perbedaan kesempatan di antara anggota masyarakat, tingkat pendidikan yang rendah, pengelolaan ekonomi yang masih tradisional, budaya menabung yang belum berkem-bang di kalangan masyarakat desa, tata pemerintahan yang buruk, dan pengelolaan sumber daya alam yang berlebihan.

Dengan berbagai alasan tersebut, sudah seharusnya dilakukan reorientasi pembangunan Indonesia ke wilayah pedesaan, dimana desa menjadi titik tolak atau poros untuk melesatkan pembangunan Indonesia. Hal ini sesuai dengan asas rekognisi, dimana desa merupakan asal usul NKRI se-hingga dari desalah NKRI harus dibangun. Dalam situasi kemiskinan desa akibat intervensi, eksploitasi dan margi-nalisasi oleh negara, cukup sulit mengandalkan pembiayaan pembangunan dari warga. Maka pendanaan pembangunan dari uang negara menjadi keharusan untuk membayar keti-dakadilan sosial-ekonomi yang terjadi selama ini.

2. Kedaulatan Pembangunan Desa

Desa merupakan ruang kehidupan bagi masyarakat desa. Segala sumberdaya desa perlu dioptimalkan dan didayagunakan untuk kehidupan dan penghidupan ma-syarakat pedesaan. Namun kenyataanya desa tidak berdaya menentukan sendiri nasibnya. Masyarakat desa tidak lelua-sa mengelola sumberdaya alam yang dimilikinya, karena

15SAPA, “56 Desa di Kabupaten Cilacap Masih Miskin”, dalam

(20)

17 sadaran warga desa/pemerintahan desa masih menganggap kabupaten/provinsi yang berhak mengaturnya.

Sementara kabupaten dan provinsi melakukan politik kekuasaan feodalisme, yang memberikan berbagai peraturan daerah dan atau SK Bupati/Gubernur yang justru me-nyempitkan kekuasaan terkecil negara yakni desa. Seluruh komponen warga desa akhirnya selalu tergantung kepada kabupaten/provinsi. Investasi asing/dari luar warga desa tidak selalu melalui pemerintah desa, namun lebih cende-rung melakukan negosiasi dengan Pemkab/Pemprov, aki-batnya eksploitasi sumberdaya tidak pernah melibatkan de-sa untuk mengontrol dan mengakses sumberdaya yang di-milikinya.

Minimnya kesadaran politik dan hukum warga desa, kekuasaan feodalisme yang masih melekat di pemerintahan kabupaten/provinsi, dan ketamakan investor, menyebabkan berbagai persoalan yang harus dihadapi secara langsung o-leh warga pedesaan berupa: proses pemiskinan, ketergan-tungan kepada pihak luar (negara dan investor) atas nasib warga desa masih sangat kuat sehingga menghilangkan kre-ativisme dan solidaritas bersama untuk berdaya; rusaknya lingkungan hidup akibat eksploitasi yang berlebihan oleh pihak eksternal, sementara kontrol warga pedesaan yang le-mah mengakibatkan semakin parahnya kadar kualitas hi-dup petani dan warga pedesaan.

Agar persoalan ini bisa dientaskan, maka desa harus memiliki kedaulatan politik. Artinya, desa mempunyai kewe-nangan, hak dan prakarsa untuk mengatur dan mengurus kepentingannya sendiri sesuai kehendak dan kebutuhan masyarakat setempat. Hal ini sesuai asas rekognisi dan sub-sidiaritas. Dengan cara demikian, kemandirian desa, atau sering disebut desa membangun dapat diwujudkan.

(21)

18 Demokrasi desa dilembagakan melalui wadah musya-warah desa, yang didalamnya melibatkan unsur masyarakat desa, Badan Permusyawatan Desa (BPD) dan pemerintah de-sa. Dalam UU 32 tahun 2004 bahwa BPD berfungsi mene-tapkan peraturan desa bersama kepala desa, menampung dan menyalurkan aspirasi masyarakat. Namun fungsi ini dinilai belum memadai untuk bisa mewujudkan kedaulatan pembangunan desa yang sebenarnya. Dalam kenyataannya, keberadaan BPD banyak dirasa hanya formalitas dan pe-lengkap kelembagaan desa.

Pokok permasalahan hubungan BPD dan kepala desa dalam perumusan peraturan desa yang sering terjadi adalah kurangnya koordinasi dan solidaritas pada tahap formulasi kebijakan sehingga mengakibatkan hasil kebijakan yang be-rupa peraturan desa itu tidak dapat mencapai hasil yang optimal sesuai yang diharapkan oleh masyarakat. Ku-rangnya koordinasi tersebut membuat perumusan kebijakan kurang efektif dan efisien.

Proses perencanaan pembangunan dan pembahasan peraturan selama ini masih cenderung didominasi oleh ke-pala desa. Dalam tahap pembahasan oleh BPD, BPD selaku lembaga permusyawaratan di desa hanya menyetujui apa yang sudah dibahas dalam musrenbangdes, tidak ikut terli-bat aktif dalam pembahasan. Proses koreksi atas kesalahan, kekurangan dan atau kekeliruan dalam penyusunan renca-na pembangurenca-nan menjadi minimal.

Agar kedaulatan pembangunan desa bisa direalisasi-kan, maka BPD sebagai representasi masyarakat desa harus benar-benar didudukkan sebagai pelaku pembangunan desa yang seutuhnya. Dalam arti, BPD tidak hanya merupakan lembaga yang menyerap aspirasi masyarakat dan menetap-kan peraturan. Sebagai wujud kedaulatan pemerintahan oleh masyarakat desa, maka BPD harus menjadi unsur dari pemerintahan itu sendiri. Hal ini berarti BPD menjadi lem-baga politik yang memiliki kewenangan dalam penyelengga-raan urusan pemerintahan dan kepentingan masyarakat de-sa berde-sama dengan kepala dede-sa. Implikasinya, BPD tidak se-kedar menetapkan peraturan, namun harus hadir sejak da-lam tahap perancangan dan pembahasan bersama kepala desa.

(22)

kewe-19 nangan untuk mengawasi jalannya penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh kepala desa. Di era penguasaan desa o-leh negara, sistem pemerintahan negara telah memberikan kekuasaan yang sangat besar dan tak terkontrol terhadap kepala desa dalam sistem budaya politik desa. Hal ini mem-beri ruang yang sangat luas bagi praktek-praktek korupsi di pemerintahan desa. Adanya fungsi perencanaan dan fungsi kontrol oleh BPD diharapkan dapat meminimalkan penyim-pangan dan mendorong praktek tata kelola pemerintahan desa yang lebih baik.

3. Pembangunan Kawasan Perdesaan Cilacap

Pembangunan perdesaan bertujuan mewujudkan ka-wasan permukiman perdesaan yang produktif, berdaya sa-ing dan nyaman. Dalam praktiknya masih ditemui beberapa kendala dalam pembangunan kawasan perdesaan di Cilacap yang berasal dari internal maupun eksternal. Adanya ken-dala ini menjadi catatan dan masukan guna upaya penataan dan dukungan pengaturan yang lebih baik ke depannya se-hingga pembangunan kawasan perdesaan khususnya di Ka-bupaten Cilacap dapat lebih efektif dan berdaya guna dalam mengentaskan kemiskinan dan mendorong kesejahteraan masyarakat.

Beberapa hal yang penting untuk menjadi perhatian a-dalah; pertama, di kawasan perdesaan masih lemah keter-kaitan kegiatan ekonomi baik secara sektoral maupun spa-sial. Kondisi ini tercermin dari kurangnya keterkaitan antara sektor pertanian (primer) dengan sektor industri (pengolah-an) dan jasa penunjang, serta keterkaitan pembangunan an-tara kawasan perdesaan dan kawasan perkotaan. Kota-kota kecil dan menengah yang berfungsi melayani kawasan per-desaan disekitarnya belum berkembang sebagai pusat pasar komoditas pertanian; pusat produksi, koleksi dan distribusi barang dan jasa; pusat pengembangan usaha mikro, kecil dan menengah non pertanian; dan penyedia lapangan kerja alternatif (non pertanian).

(23)

20 Ketiga, tingginya risiko kerentanan yang dihadapi pe-tani dan pelaku usaha di perdesaan. Pepe-tani dan pelaku usa-ha di kawasan perdesaan sebagian besar sangat bergantung pada alam. Kondisi alam yang tidak bersahabat akan me-ningkatkan risiko kerugian usaha seperti gagal panen ka-rena banjir, kekeringan, maupun serangan hama penyakit. Pada kondisi demikian, pelaku industri kecil yang bergerak di bidang pengolahan produk-produk pertanian otomatis a-kan terkena dampak sulitnya memperoleh bahan baku pro-duksi. Risiko ini masih ditambah lagi dengan fluktuasi harga dan struktur pasar yang merugikan.

Keempat, rendahnya aset yang dikuasai masyarakat perdesaan. Ini terlihat dari besarnya jumlah rumah tangga petani gurem (petani dengan pemilikan lahan kurang dari 0,5 ha) yang ada di Cilacap. Sebagai gambaran berdasarkan sensus pertanian tahun 2013 jumlah petani gurem di wila-yah ini mencapai sekitar 185 ribu yang merupakan yang tertinggi di Provinsi Jawa Tengah setelah Kabupaten Grobo-gan. Hal ini ditambah lagi dengan masih rendahnya akses masyarakat perdesaan ke sumber daya ekonomi seperti la-han atau tanah, permodalan, inputproduksi, keterampilan dan teknologi informasi, serta jaringan kerjasama. Khusus untuk permodalan, salah satu penyebab rendahnya akses masyarakat perdesaan ke pasar kredit adalah minimnya po-tensi kolateral yang tercermin dari rendahnya persentase ru-mah tangga perdesaan yang memiliki sertifikat tanah. Akses masyarakat perdesaan juga masih minim dalam peman-faatan sumber daya alam. Tingkat kesejahteraan masyara-kat yang tinggal di sekitar hutan, pertambangan dan pesisir masih tergolong rendah, bahkan sebagian besar tergolong miskin.

Kelima, rendahnya tingkat pelayanan prasarana dan sarana perdesaan. Hal ini setidaknya dapat tercermin dari minimnya sarana ekonomi, pendidikan dan kesehatan. Se-bagai gambaran, saat ini area kerusakan jaringan irigasi tingkat usaha tani (JITUT) di Kabupaten Cilacap mencapai lebih dari 31 persen.16 Data Rencana Kerja Pemerintah Da-erah (RKPD) Kabupaten Cilacap Tahun 2016, masih ada ru-ang kelas yru-ang rusak sebanyak 3.230 di tahun 2014 lalu. Padahal, angka total jumlah kelas sebanyak 11.309. Demi-kian pula sarana pelayanan kesehatan perdesaan yang di-berikan puskesmas masih sangat kurang. Kabupaten

16Satelit Post Cilacap, “Ratusan Ribu Meter Panjang Irigasi Rusak Berat”,

(24)

21 lacap memiliki 38 Puskesmas yang tersebar di 24 Keca-matan. Puskesmas dengan fasilitas rawat inap hanya 14 unit. Jumlah tersebut masih kurang jika dibandingkan de-ngan penduduk yang mencapai dua juta orang.

Keenam, meningkatnya degradasi sumber daya alam dan lingkungan hidup. Sumber daya alam dan lingkungan hidup sebenarnya merupakan aset yang sangat berharga bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat apabila dikelola dan dimanfaatkan secara optimal, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitarnya. Namun demikian, potensi ini akan berkurang bila praktek-praktek pengelolaan yang di-jalankan kurang memperhatikan prinsip-prinsip pemba-ngunan berkelanjutan.

Ketujuh, lemahnya kelembagaan dan organisasi berba-sis masyarakat. Ini tercermin dari kemampuan lembaga dan organisasi dalam menyalurkan aspirasi masyarakat untuk perencanaan kegiatan pembangunan, serta dalam memper-kuat posisi tawar masyarakat dalam aktivitas ekonomi. Di samping itu juga terdapat permasalahan masih terbatasnya akses, kontrol dan partisipasi perempuan dalam kegiatan pembangunan di perdesaan yang antara lain disebabkan masih kuatnya pengaruh nilai-nilai sosial budaya yang pa-triarki, yang menempatkan perempuan dan laki-laki pada kedudukan dan peran yang berbeda, tidak adil dan tidak setara.

Kedelapan, lemahnya koordinasi lintas bidang dalam pengembangan kawasan perdesaan. Pembangunan perdesa-an secara terpadu akperdesa-an melibatkperdesa-an bperdesa-anyak aktor meliputi e-lemen pemerintah (pusat dan daerah), masyarakat, dan swasta. Di pihak pemerintah sendiri, koordinasi semakin diperlukan tidak hanya untuk menjamin keterpaduan antar sektor tetapi juga karena telah didesentralisasikannya se-bagian besar kewenangan kepada pemerintah daerah. Le-mahnya koordinasi mengakibatkan tidak efisiennya peman-faatan sumber daya pembangunan yang terbatas jumlahnya, baik karena tumpang tindihnya kegiatan maupun karena ti-dak terjalinnya sinergi antar kegiatan.

(25)

22 BAB III

EVALUASI DAN ANALISIS PERATURAN TERKAIT

Sebagai bagian dari produk peraturan perundang-undangan, peraturan daerah haruslah mendasarkan pada landasan yuridis yang kuat. Landasan yuridis yang dimaksud disini adalah landasan hukum yang menjadi dasar kewenangan pembuatan peraturan perundang-undangan. Kajian ini akan memperlihatkan harmonisasi dan singkronisasi suatu peraturan daerah dengan peraturan perundang-undangan lain yang mengatur hukum tentang suatu hal tertentu, dimana secara hierarkhis hukum yang lebih rendah bersumber dan tidak boleh bertentangan dengan hukum yang lebih atas.

Pasal 7 Undang-undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan menyatakan bahwa jenis dan hierarkhi peraturan perundang-undangan terdiri atas :

1. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

2. Ketetapan Majelis Permusyawaratan Rakyat;

3. Undang / Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang;

4. Peraturan Pemerintah; 5. Peraturan Presiden;

6. Peraturan Daerah Provinsi; dan 7. Peraturan Daerah Kabupaten/Kota

Kajian ini akan memberikan gambaran secara utuh/komprehensif mengenai Pembangunan Perdesaan yang telah diatur dalam peraturan perundang-undangan yang telah ada. Dari hasil kajian ini dapat diketahui apakah sudah cukup memadai atau belum cukup memadai pengaturan tentang Pembangunan Perdesaan dalam peraturan perundang-undangan yang telah ada, dan oleh karenanya menjadi perlu atau tidaknya kelahiran Peraturan Daerah tentang Pembangunan Perdesaan di Kabupaten Cilacap.

Secara metodis, kajian ini dilakukan dengan cara harmonisasi atau sinkronisasi ketentuan tentang Pembangunan Perdesaan yang telah ada dan diatur dalam peraturan perundang-undangan.

(26)

23 (UUD Negara RI Tahun 1945) atau yang lebih populer dengan sebutan UUD 1945 Pasca Amandemen, penyebutan desa atau yang sama pengertiannya dengan desa, secara konkrit dalam konstitusi, baru mulai ada dalamUUD 1945 (Dekrit 5 Juli 1959). Hal ini karena dalam penjelasan pasal demi pasal terhadap Pasal 18 UUD 1945, kata “desa” disebutkan secara konkrit.

Bagian Penjelasan Pasal 18 UUD 1945 menyebutkan “Dalam territoir Negara Indonesia terdapat lebih kurang 250 zelfbesturende landschappen dan volksgemeenschappen, seperti desa di Jawa dan Bali, negeri di Minangkabau, dusun dan marga di Palembang dan sebagainya. Daerah-daerah itu mempunyai susunan asli, dan oleh karenanya dapat dianggap sebagai daerah yang bersifat istimewa”. Namun, fakta sejarah menunjukkan bahwa pada saat berlakunya UUD 1945 (versi 18 Agustus 1945), Bagian Penjelasan UUD 1945 belum merupakan bagian dari UUD 1945.

Penjelasan UUD 1945 sendiri bukanlah dokumen resmi yang dihasilkan Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia ataupun Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia, melainkan karya pribadi Mr. Soepomo. Karena itu, pada saat UUD 1945 pertama kali diberlakukan, penjelasan UUD 1945 belum menjadi bagian dari UUD 1945 (versi 18 Agustus 1945). Dalam perjalanannya, ketika Indonesia kembali menerapkan UUD 1945 dengan Dekrit Presiden pada tanggal 5 Juli 1959, UUD 1945 yang dilampirkan terdiri dari Pembukaan, Batang Tubuh, dan Penjelasan. Dengan dasar inilah kemudian Penjelasan, menjadi bagian otentik dari UUD 1945.

Dari hasil penelusuran empat konstitusi yang pernah berlaku di Indonesia, Penjelasan UUD 1945 inilah yang merupakan satu-satunya dokumen konstitusi yang menyebutkan secara konkrit kata “desa” di dalamnya, sebab dalam konstitusi -konstitusi yang lain tidak terdapat kata “desa” didalamnya. Konstitusi RIS 1949, misalnya, tidak menyebutkan tentang desa, karena pengaturan tentang desa merupakan kewenangan konstitusional dari negara bagian. Memang, pada saat saat berlakunya konstitusi ini, Indonesia menganut sistem federal (Pasal 1 ayat (1) Konstitusi RIS 1949). Dalam UUD Sementara Tahun 1950, tidak terdapat penyebutan tentang desa meskipun konstitusi ini kembali mempercayakan sistem unitary atau kesatuan sebagai sistem pembagian kekuasaannya secara vertikal (Pasal 131-133 UUD Sementara Tahun 1950).

(27)

24 dimana juga tidak menyebutkan secara jelas kata desa di dalamnya. Dalam UUD Negara RI Tahun 1945 bahkan terkesan menutup kemungkinan desa menjadi organ konstitusi dan menempatkan desa sebagai organ dari pemerintahan daerah kabupaten/kota. Ini karena pasal 18 ayat (1) UUD Negara RI Tahun 1945 dengan jelas menentukan bahwa Daerah Indonesia dibagi dalam Provinsi, dan Kabupaten/Kota. Jadi tidak terbersit sedikit pun tentang desa dalam Pasal 18 UUD Negara RI Tahun 1945.

Keengganan penyebutan kata desa dalam UUD Negara RI Tahun 1945 di atas, dapat didasarkan padadua asumsi besar. Pertama, pengaturan desa terlalu detail untuk diatur dalam konstitusi. Karena itu, mungkin, pengaturan detailnya akan diatur lebih lanjut dalam peraturan perundang-undangan pelaksana. Legitimasi asumsi ini didasarkan pada prinsip bahwa konstitusi hanya mengatur hal-hal yang pokok saja. Sedangkan detailnya diserahkan pada peraturan perundang-undangan pelaksana. Kedua, pengaturan desa atau sebutan lainnya, sudah diatribusikan atau didelegasikan ke pemerintahan daerah sehingga pengaturannya menjadi kewenangan pemerintah daerah bersama DPRD. Mekanisme peraturan perundang-undangan yang sering digunakan adalah dengan menggunakan atribusian ataupun pendelegasian dari konstitusi melalui enabling provision. Penguatan terhadap asumsi ini, lebih didasarkan pada stufent theory dari Hans Kelsen, yang mengatakan bahwa grondwetdapat mendelegasikan atau mengatribusikan pengaturan suatu materi muatan pada peraturan pelaksana.

(28)

25 desa merupakan organ konstitusi yang mempunyai hak dan kewajiban konstitusional.

Dari hasil inventarisasi terhadap keberpihakan konstitusi terkait dengan pembangunan perdesaan, setidaknya ditemukan tujuh pasal utama. Ketujuh pasal tersebut adalah: Pasal 18, Pasal 18A, Pasal 18B, Pasal 23, Pasal 23E, Pasal 28C, Pasal 33 dan Pasal 34.Pemerintah daerah kabupaten dan kota, seperti pada Pasal 18 ayat (2) UUD 1945 termasuk diantaranya pemerintah desa. Sedangkan tugas pembantuan adalah penugasan dari Pemerintah kepada daerah dan/atau desa dari pemerintah provinsi kepada kabupaten/kota dan/atau desa serta dari pemerintah kabupaten/kota kepada desa untuk melaksanakan tugas tertentu.

Urusan Pemerintah Pusat sebagaimana dimaksud pada ayat (5) terdiri dari: politik luar negeri; pertahanan; keamanan; yustisi; moneter dan fiskal nasional; dan agama. Pemberian otonomi luas kepada daerah seperti pada Pasal 18 ayat (5) UUD 1945 diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat. Disamping itu melalui otonomi luas, daerah diharapkan mampu meningkatkan daya saing dengan memperhatikan prinsip demokrasi, pemerataan, keadilan, keistimewaan dan kekhususan serta potensi dan keanekaragaman daerah dalam sistem Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Hubungan dalam bidang keuangan antara Pemerintah dan pemerintahan daerah seperti pada Pasal 18A ayat (2) UUD 1945 meliputi: pemberian sumber-sumber keuangan untuk menyelenggarakan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan pemerintahan daerah; pengalokasian dana perimbangan kepada pemerintahan daerah; dan pemberian pinjaman dan/atau hibah kepada pemerintahan daerah. Sedangkan hubungan dalam bidang pelayanan umum antara Pemerintah dan pemerintahan daerah meliputi: kewenangan, tanggung jawab, dan penentuan standar pelayanan minimal; pengalokasian pendanaan pelayanan umum yang menjadi kewenangan daerah; dan fasilitasi pelaksanaan kerja sama antarpemerintahan daerah dalam penyelenggaraan pelayanan umum.

(29)

26 lainnya; dan penyerasian lingkungan dan tata ruang serta rehabilitasi lahan. Kesatuan masyarakat hukum adat dan hak tradisionalnya seperti pada Pasal 18B ayat (2) UUD 1945 harus diatur secara spesifik. Mengingat kesatuan masyarakat hukum adat memiliki tradisi yang telah berlangsung turun-temurun. Kearifan lokal yang telah terjalin sedemikian lama, seringkali dianggap oleh sebagian kalangan tidak sesuai dengan perkembangan zaman.

Masyarakat hukum adat juga cenderung tidak menerima modernisasi dan masih bertahan dengan tradisi lama, sehingga menjadi masyarakat tertinggal. Oleh karena itu, pengaturan mengenai masyarakat hukum adat harus dilakukan secara hati-hati dengan melibatkan sosiolog. Pasal 23 ayat (1) UUD 1945 berbunyi bahwa: “Anggaran pendapatan dan belanja negara sebagai wujud dari pengelolaan keuangan negara ditetapkan setiap tahun dengan undang- undang dan dilaksanakan secara terbuka dan bertanggungjawab untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat”.

Anggaran pendapatan dan belanja negara, seperti pada Pasal 23 ayat (1) UUD 1945 harus bisa dirasakan masyarakat secara langsung manfaatnya. Saat ini, sebagian besar masyarakat Indonesia tinggal di perdesaan dan sekitar 63,47 persen penduduk miskin Indonesia tinggal di perdesaan. Namun, anggaran yang turun langsung ke perdesaan hanya sekitar Rp 17,0 triliun atau sekitar seper enam puluh dari pendapatan negara dan hibah yang mencapai Rp 1.022,6 triliun.Permasalahan dalam pembangunan perdesaan adalah tahap pengawasan menjadi tugas BPK seperti pada Pasal 23E ayat (1) UUD 1945. Seringkali anggaran besar yang sudah disediakan terjadi kesalahan dalam pengelolaan, sehingga tidak sesuai dengan target dan sasaran. Oleh karena itu, selain perlunya Badan Pemeriksa Keuangan juga diperlukan peningkatan kinerja dan mekanisme Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan.Kebutuhan dasar manusia, seperti pada Pasal 28C ayat (1) UUD 1945 adalah sandang, pangan dan papan. Selain itu, juga terdapat kebutuhan akan pendidikan, kesehatan, ilmu pengetahuan dan teknologi. Termasuk didalamnya telekomunikasi dan perhubungan.

(30)

27 menjadi tempat yang layak bagi masyarakat yang tinggal dan menetap didalamnya. Masyarakat desa harus bisa menikmati potensi tersebut. Tidak ada lagi kesenjangan di antara desa-kota atau bagi masyarakat yang tinggal di desa tersebut.

Berdasarkan data Potensi Desa tahun 2015, keberadaan infrastruktur kesehatan di perdesaan jauh lebih rendah daripada di perkotaan, padahal Negara bertanggung jawab atas penyediaan fasilitas pelayanan kesehatan dan fasilitas pelayanan umum yang layak, seperti pada Pasal 34 ayat (3) UUD 1945. Jenis penyakit yang diderita oleh bersih dan pola hidup yang sehat. Oleh karena itu, ketersediaan akan kebutuhan dasar bagi masyarakat perdesaan harus menjadi urusan negara. Pembangunan yang dilakukan bukan saja terkait dengan pembangunan fisik, tetapi juga non-fisik.

Pemenuhan tenaga terampil antara lain bidang kesehatan dan pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat desa, yang mendampingi masyarakat perdesaan menjadi tugas pemerintah. Amanat dari UUD 1945 terutama Pasal 23 dan Pasal 28C belum terdapat secara eksplisit dalam peraturan perundang-undangan yang ada. Pengaturan lebih banyak mengenai hubungan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, dan aspek pemerintahan. Pengaturan mengenai desa terkait dengan pembangunan perdesaan dalam segala aspeknya, khususnya pada peraturan perundang -undangan, tercermin pada:

1. Pasal 18 Ayat (2) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Mengatur Hubungan Pemerintah Pusat dan Daerah. Isi Pasal 18 UUD 1945 :

(1) Negara Kesatuan Republik Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi dan daerah-daerah provinsi itu dibagi atas kabupaten dan kota, yang tiap-tiap provinsi, kabupaten, dan kota itu mempunyai pemerintahan daerah, yang diatur dengan undang-undang.

(2) Pemerintahan daerah provinsi, daerah kabupaten, dan kota mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan.

(31)

28 keistimewaan daerah, dan kerangka sistem otonomi. Berdasarkan konstruksi dalam UUD 1945 tersebut, maka untuk penyelenggaraan pemerintahan dalam negara kesatuan Indonesia dibagi atas daerah-daerah provinsi, dan provinsi dibagi lagi menjadi daerah-daerah kabupaten dan kota. Setiap daerah propinsi, kabupaten dan kota merupakan pemerintah daerah yang diberi kewenangan mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan yang berdasarkan pada asas otonomi luas, nyata dan bertanggung jawab.

2. Undang-Undang Nomor 25 Tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional Pasal 1

Dalam Undang-undang ini, yang dimaksud dengan:

(1). Perencanaan adalah suatu proses untuk menentukan tindakan masa depan yang tepat, melalui urutan pilihan, dengan memperhitungkan sumber daya yang tersedia.

(2). Pembangunan Nasional adalah upaya yang dilaksanakan oleh semua komponen bangsa dalam rangka mencapai tujuan bernegara.

(3). Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional adalah satu kesatuan tata cara perencanaan pembangunan untuk menghasilkan rencana-rencana pembangunan dalam jangka panjang, jangka menengah, dan tahunan yang dilaksanakan oleh unsur penyelenggara negara dan masyarakat di tingkat Pusat dan Daerah.

(4). Rencana Pembangunan Jangka Panjang, yang selanjutnya disingkat RPJP, adalah dokumen perencanaan untuk periode 20(dua puluh) tahun.

(5). Rencana Pembangunan Jangka Menengah, yang selanjutnya disingkat RPJM, adalah dokumen perencanaan untuk periode 5(lima) tahun.

3. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan

4. Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa

(32)

29 Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia”.

Berdasarkan rumusan pasal 1 angka 1, terjawablah, bahwa desa memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati. Jadi yang dimaksud penyelenggaraan urusan pemerintahan adalah “untuk

mengatur”, untuk mengurus urusan pemerintahan,

kepentingan masyarakat setempat.

Dasar yang digunakan adalah berdasarkan (1) prakarsa masyarakat, (2) berdasarkan hak asal usul atau hak tradisional. Pertanyaan siapa yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat ? Pertanyaan ini dijawab dalam rumusan pada Pasal 1 angka 3 yang menyatakan, bahwa Pemerintah Desa adalah Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dibantu perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa.

Jadi yang berwenang adalah pemerintah desa, yakni Kepala Desa dibantu perangkat desa, sebagai unsur penyelenggaran pemerintahan desa. Ini artinya disamping Kepala desa dan perangkat desa ada unsur lain penyelenggara pemerintahan desa.

Pasal 1 angka 4 UU No 6 Tahun 2014 menjawab yang dimaksudkan unsur lain, yakni Badan Permusyawaratan Desa atau yang disebut dengan nama lain adalah lembaga yang melaksanakan fungsi pemerintahan yang anggotanya merupakan wakil dari penduduk Desa berdasarkan keterwakilan wilayah dan ditetapkan secara demokratis.

(33)

30 Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dibantu perangkat Desa sebagai unsur penyelenggara Pemerintahan Desa. Jika demikian BPD kedudukannya adalah hanya lembaga yang melaksanakan fungsi pemerintahan yang anggotanya merupakan wakil dari penduduk Desa berdasarkan keterwakilan wilayah dan ditetapkan secara demokratis.

Pasal 25 bahwa Pemerintah Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 23 adalah Kepala Desa atau yang disebut dengan nama lain dan yang dibantu oleh perangkat Desa atau yang disebut dengan nama lain. Berdasarkan konstruksi hukum yang demikian, jelas Kepala Desa memiliki kedudukan yang strategis sebagai Penyelenggara Pemerintahan Desa. Namun ketika melaksanakan kewenangan desa dua lembaga tersebut mempunyai kedudukan yang sama, yakni Kepala Desa dan BPD.

Untuk memahami, perlu dipahami konstruksi hukum terhadap Kewenangan Desa sebagaimana dimaksud Pasal 18 UU no 6 Tahun 2014, Kewenangan Desa meliputi kewenangan di bidang penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan Pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan adat istiadat Desa. Pasal 19 Kewenangan Desa meliputi:

a. kewenangan berdasarkan hak asal usul;

b. kewenangan lokal berskala Desa;

c. kewenangan yang ditugaskan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota; dan

d. kewenangan lain yang ditugaskan oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi, atau Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pasal 20 : Pelaksanaan kewenangan berdasarkan hak asal usul dan kewenangan lokal berskala Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 19 huruf a dan huruf b diatur dan diurus oleh Desa.

(34)

31 huruf c dan huruf d diurus oleh Desa.

Pada teks hukum Pasal 19 perlu dipahami konstruksi hukumnya, bahwa ada kewenangan yang diurus oleh desa dan ada kewenangan yang berasal dari penugasan dari pemerintah, pemerintah daerah provinsi, dan pemerintahan kabupaten/ kota.

Pasal 22 yang menyatakan:

(1) Penugasan dari Pemerintah dan/atau Pemerintah Daerah kepada Desa meliputi penyelenggaraan Pemerintahan Desa, pelaksanaan Pembangunan Desa, pembinaan kemasyarakatan Desa, dan pemberdayaan masyarakat Desa.

(2) Penugasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) disertai biaya.

Berdasarkan Pasal 22 ada empat penugasan yang bisa datang dari pemerintah, dan atau pemerintah daerah (bisa Pemerintaha Daerah Provinsi, bisa Pemerintah daerah Kabupaten Kota) yakni;Pertama, penyelenggaraan Pemerintahan Desa, Kedua , pelaksanaan Pembangunan Desa, Ketiga, pembinaan kemasyarakatan Desa

Keempat, pemberdayaan masyarakat Desa. Keempat hal tersebut penugasaan disertai biaya.

Berkaitan dengan Keungan desa UU Nomor 6 Tahun 2014 memberikan penegasan tersendiri pada BAB VIII Keuangan Desa dan Aset Desa, mulai pasa. 71 s/d 74:

Pasal 71

(1) Keuangan Desa adalah semua hak dan kewajiban Desa yang dapat dinilai dengan uang serta segala sesuatu berupa uang dan barang yang berhubungan dengan pelaksanaan hak dan kewajiban Desa.

(2) Hak dan kewajiban sebagaimana dimaksud pada ayat (1) menimbulkan pendapatan, belanja, pembiayaan, dan pengelolaan Keuangan Desa.

Pasal 72

(1) Pendapatan Desa sebagaimana dimaksud dalam Pasal 71 ayat (2) bersumber dari:

(35)

32 b. alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara;

c. bagian dari hasil pajak daerah dan retribusi daerah Kabupaten/Kota;

d.alokasi dana Desa yang merupakan bagian dari dana perimbangan yang diterima Kabupaten/Kota;

e. bantuan keuangan dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Provinsi dan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten/Kota;

f. hibah dan sumbangan yang tidak mengikat dari pihak ketiga; dan

g. lain-lain pendapatan Desa yang sah.

(2) Alokasi anggaran sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf b bersumber dari Belanja Pusat dengan mengefektifkan program yang berbasis Desa secara merata dan berkeadilan.

(3) Bagian hasil pajak daerah dan retribusi daerah Kabupaten/Kota sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf c paling sedikit 10% (sepuluh perseratus) dari pajak dan retribusi daerah.

(4) Alokasi dana Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (1) huruf d paling sedikit 10% (sepuluh perseratus) dari dana perimbangan yang diterima Kabupaten/Kota dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah setelah dikurangi Dana Alokasi Khusus.

(5) Dalam rangka pengelolaan Keuangan Desa, Kepala Desa melimpahkan sebagian kewenangan kepada perangkat Desa yang ditunjuk.

(6) Bagi Kabupaten/Kota yang tidak memberikan alokasi dana Desa sebagaimana dimaksud pada ayat (4), Pemerintah dapat melakukan penundaan dan/atau pemotongan sebesar alokasi dana perimbangan setelah dikurangi Dana Alokasi Khusus yang seharusnya disalurkan ke Desa.

Pasal 73

(1) Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa terdiri atas bagian pendapatan, belanja, dan pembiayaan Desa.

(36)

33 Badan Permusyawaratan Desa.

(3) Sesuai dengan hasil musyawarah sebagaimana dimaksud pada ayat (2), Kepala Desa menetapkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa setiap tahun dengan Peraturan Desa.

Pasal 74

(1) Belanja Desa diprioritaskan untuk memenuhi kebutuhan pembangunan yang disepakati dalam Musyawarah Desa dan sesuai dengan prioritas Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota, Pemerintah Daerah Provinsi, dan Pemerintah.

(2) Kebutuhan pembangunan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi, tetapi tidak terbatas pada kebutuhan primer, pelayanan dasar, lingkungan, dan kegiatan pemberdayaan masyarakat Desa.

Pasal 75 UU No 6 Tahun 2014 menyatakan secara tegas (1) Kepala Desa adalah pemegang kekuasaan pengelolaan Keuangan Desa. (2) Dalam melaksanakan kekuasaan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), Kepala Desa menguasakan sebagian kekuasaannya kepada perangkat Desa. (3) Ketentuan lebih lanjut mengenai Keuangan Desa diatur dalam Peraturan Pemerintah.

5. Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah

Desa berdasarkan Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa adalah desa dan desa adat atau yang disebut dengan nama lain, selanjutnya disebut Desa, adalah kesatuan masyarakat hukum yang memiliki batas wilayah yang berwenang untuk mengatur dan mengurus urusan pemerintahan, kepentingan masyarakat setempat berdasarkan prakarsa masyarakat, hak asal usul, dan/atau hak tradisional yang diakui dan dihormati dalam sistem pemerintahan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

(37)

34 Pemerintah Pusat untuk memacu kesejahteraan masyarakat Indonesia di pedesaan.

Adapun hubungan Pemerintahan Desa dengan Pemerintah Pusat (the relation village government with central government) telah termaktub dalam Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa. Salah satu titah atau amanat dari undang-undang (wet) tersebut ialah ihwal kepastian dari anggaran pusat untuk desa (vide Pasal 72 ayat (1) huruf b juncto Pasal 113 huruf h). In casu a quo, adalah adanya dana alokasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang diderivasikan langsung ke desa.

Indonesia sendiri memiliki jumlah desa kurang lebihnya 74.000. Adapun hak per desa dari hal itu tetaplah sama, baik yang maju ataupun tertinggal. Dana tersebut sepenuhnya milik tanggung jawab daerah, sehingga hak penuh berada di tangan daerah setempat.

Sehingga masing-masing desa diperkirakan akan memperoleh kalkulasi dana sekitar Rp 1,2 miliar sampai dengan Rp1,4 miliar per tahun, yang bila dibagi rata perbulannya akan mendapat sekitar 100 juta perbulan. Tentu saja dana yang cukup besar tersebut menuntut desa untuk melakukan perubahan, penguatan secara internal secara organisasi pemerintahan desa yang lebih efektif, profesional, transparan, dan akuntabel.

Pengaturan desa seperti tersebut dalam undang-undang, merupakan upaya (middel) untuk memajukan perekonomian dan pembangunan sektor-sektor penting nan urgen di pedesaan. Atas dasar premis tersebut, sesuai amanat Undang-Undang Desa, mak dengan dukungan dana yang cukup besar, desa dituntut lebih mampu mengorganisasi diri. Tumpuan pembangunan (development) yang bergulir ke pinggiran, yaitu desa-desa, maka daya dukung desa perlu ditingkatkan.

(38)

35 menggunakan UU Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa yang menyatakan bahwa masalah-masalah desa diurus oleh kementerian yang membidangi desa.

Hubungan Fungsional dalam UU No. 23 Tahun 2014

Secara struktural Presiden merupakan pemegang kekuasaan tertinggi dalam penyelenggaraan pemerintahan ditingkat nasional, sedangkan kepala daerah (provinsi atau kabupaten/kota) merupaka penyelenggara pemerintahan diwilayah darha masing-masing, sesuai dengan prinsip otonomi seluas-uasnya. Dapat diketahui secara struktural kepala daerah kabupaten/kota tidak memiliki garis struktural dengan pemerintahan provinsi dan pemerintahan pusat karena memiliki otonomi seluas-luasnya.

Pemerintah pusat dan daerah memiliki hubungan secara fungsional yang menyangkut atas pembagian tugas dan kewenangan yang harus dijalankan oleh pemerintah pusat dan daerah dalam rangka penyelenggaraan pemerintahan yang baik “Good Goverment”. Pembagian tugas, wewenang dan kewajiban pemerintahan daerah pada yang dasarnya dilakukan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Hubungan fungsional antara pemerintahan pusat dengan pemerintahan daerah Provinsi, kabupaten/kota dan desa. Dalam hubungan pemerintah pusat antara provinsi dengan kabupaten dan kota serta hubungan desa dan pusat saat ini telah diatur dalam UU dengan memperhatikan kekhususan dengan keragaman daerah. Hubungan fungsional tersebut menyangkut tentang tugas dan kewenangan antara pemerintah pusat dan desa.

Pola hubungan pusat dan desa dari segi tugas dan kewenangan telah diatur dalam undang-undang. Dalam urusan pemerintahan hubungan pusat dan desa ternasuk dalam pola hubungan urusan pemerintahan yang bersifat konkuren, yaitu urusan pemerintahan yang dibagi antara pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kota.

Hubungan pusat dengan Desa dalam hal urusan pemerintahan dapat dilihat dalam Undang-Undang No. 23 tahun 2014 tentang Pemerintahan Daerah yakni:

Pasal 20 ayat (1)

Figur

Tabel 1. Perbandingan Paradigma Pembangunan

Tabel 1.

Perbandingan Paradigma Pembangunan p.15

Referensi

Memperbarui...