• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB I PENDAHULUAN - BAB I,II,III

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "BAB I PENDAHULUAN - BAB I,II,III"

Copied!
46
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang Permasalahan

Revolusi digital telah menggeser masyarakat dunia dan masyarakat industri kemasyarakat informasi. Hal ini berdampak terhadap aktivitas dan cara pandang masyarakat, kehidupan sosial, perdagangan ekonomi, penelitian dan pendidikan. Fenomena ini menggeser pola kehidupan yang mau dan tidak mau berubah sejalan dengan kemajuan teknologi, informasi dan telekomunikasi

Kondisi ini menuntut persaingan pengetahuan dan ketrampilan akan terjadi agar tidak digilas oleh arus globalisasi. Untuk memenuhi tuntutan yang dimaksud dengan berbagai upaya sistem pendidikan nasional di negara kita di tekankan pada sumber daya manusia.

Dalam upaya menciptakan sumber daya manusia tersebut tidak lepas dari peranan sekolah, guru, siswa maupun masyarakat yang saling terkait mengkait terlibat dalam pembentukan sikap, watak, perilaku, sebagai elemen dinamis dari kebudayaan bahkan turut menciptakan prestasi belajar siswa.

(2)

perkembangannya dapat dipengaruhi oleh banyak hal diantaranya minat, bakat, motivasi, intelegensi, lingkungan sekolah, lingkungan masyarakat serta lingkungan keluarga.

Rachman ( 2003 : viii) Ketika mengomentari capaian tujuan pendidikan nasional menegaskan bahwa perlu melibatkan tiga unsur utama pendidikan yakni orang tua sekolah dan masyarakat dalam mengembangkan potensi siswa. Selanjutnya Arief menandaskan bahwa hubungan ketiganya harus dikembangkan dan dikemas dalam bentuk pelatihan yang bisa dijalankan, antara lain pelatihan belajar efektif, pelatihan orang tua efektif dan pelatihan sekolah. Dengan pelatihan – pelatihan tersebut kegiatan pendidikan menjadi milik dan tanggungjawab bersama dan selanjutnya akan terjalin komunikasi yang baik.

(3)

Selanjutnya kualitas belajar anak didik ditentukan pula oleh lingkungan tempat tinggalnya . Lingkungan tempat tinggal anak membentuk kepribadian anak karena ditingkat itulah ia akan berinteraksi dan bersosialisasi dengan teman sebayanya. Dengan sosialisasi tersebut, seorang anak akan menyelaraskan wataknya, cara berpikir dan sikap hidup seperti yang dikehendaki oleh masyarakat sekelilingnya. Apabilah seorang anak terbiasa bergaul dengan anak – anak sebaya dilingkungan pasar, sudah barang tentu jiwa anak pun akan menyerupai kepribadian masyarakat dilingkungan pasar. Demikianpun sebaliknya, jika seoarang anak sejak lahir bergaul dengan anak – anak yang baik, maka cermin kepribadiannya akan menjadi baik pula. Untuk itu perlu diciptakan suasana lingkungan yang mendukung kegiatan belajar anak didik, yang dalam hal ini peranan guru dan orang tua sangat menetukan.

(4)

internet misalnya yang makin mendukung peningkatan prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Matematika.

Berdasarkan pengalaman dan pengamatan baik sejak dari sekolah sampai mengikuti praktek PPL II maupun ketika mengajar di lokasi KKS ,prestasi belajar siswa pada mata pelajaran Matematika sangat rendah. Rendahnya prestasi belajar siswa tersebut dapat dilihat di UAN dan UAS dua tahun terakhir

Berdasarkan hasil temuan penulis dimana hasil Ujian Akhir Nasional Tahun Pelajaran 2001/2002 Rayon Bolaang Mongondow menunjukkan bahwa rata – rata NEM Program IPA 4,47 dengan Mata Pelajaran Matematika 2,44 dan daftar rata – rata NEM UANAS SMU Negeri/Swasta Program IPA 4,57 dengan mata pelajaran Matematika 3,02 (Sumber : Laporan Pelaksanaan UAS, SD dan UANAS SLTP, SMU, SMK, Rayon Bolaang Mongondow T.P 2001/2002 Dinas Pendidikan Bolaang Mongondow Tahun 2002). Sedangkan pada Tahun Pelajaran 2002/2003 dari 11 SMU Negeri dan 11 SMU Swasta, menunjukkan bahwa Data sensus nilai UAN untuk SMU Kategori IPA (Fisika, Biologi, Kimia dan Matematika) rata – rata 2,125 dengan Mata Pelajaran Matematika rata – rata 1,81 Sementara rata - rata NEM dari 11 SMU Negeri 6,83 dengan Mata Pelajaran Matematika rata – rata 5,06 dan 11 SMU Swasta rata – rata NEM 7,004 dengan Mata Pelajaran Matematika Rata – rata 4,43. (Sumber : Laporan Pelaksanaan UAS SD dan UANAS SLTP, SMU, SMK Rayon Bolaang Mongondow T.P 2002/2003. Dinas Pendidikan Bolaang Mongondow Tahun 2003).

(5)

antar lain : guru, siswa, fasilitas dan situasi sosial sekolah, tempat tinggal siwa dan sebaginya. Faktor guru misalnya, kurang memperhatikan kondisi siswa dengan kondisi sekolah dan temapat tinggal yang kurang kondusif.

Kondusifnya lingkungan sosial anak baik lingkungan sekolah maupun lingkungan tempat tinggal, dapat diasumsikan dapat berpengaruh pada hasil belajar siswa termasuk didalamnya hasil belajar matematika. Sebaliknya bagi anak yang kurang kondusif lingkungan sosialnya akan berpengaruh pada menurunnya hasil belajarnya.

Kedua asumsi ini menjadikan penulis untuk meneliti : Hubungan lingkungan sosial dengan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika. dan selanjutnya diformulasikan dalam satu judul “ Hubungan antara lingkungan sosial dengan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika.

1.2. Identifikasi Masalah

(6)

penguasaan terhadap matematika padahal berbagai pendekatan kreativitas mengajar guru sudah dilakukan termasuk pengembangan kurikulum setiap saat ?.

Maka penulis mengidentifikasikan masalah lingkungan sosial yang dapat mempengaruhi hasil belajar anak. Dalam hal ini lingkungan sosial yang dimaksud lebih difokuskan pada lingkungan keluarga yaitu :

(1). Status sosial ekonomi keluarga, (2) Tingkat pendidikan keluarga (3). Peranan dan fungsi orang tua terhadap pendidikan anak. (4) Kebiasaan teman sebaya.

1.3. Rumusan Masalah

Bedasarkan identifikasi masalah diatas penulis merumuskan permasalahan sebagai berikut :

Apakah terdapat hubungan antara lingkungan sosial dengan hasil belajar siswa ?

1.4. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah sebagai berikut :

1. Memberikan gambaran lingkungan sosial dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika.

(7)

1.5. Manfaat Penelitian

1. Penelitian ini diharapkan menjadi bahan masukan dan referensi bagi tim perencanaan dan penyusunan kurikulum yang akan datang didalam mengembangkan kurikulum yang mapan ditingkat SMU.

2. Untuk orang tua siswa dan guru khususnya guru mata pelajaran Matematika, penelitian ini diharapkan menjadi bahan pengetahuan bahwa sesungguhnya lingkungan sosial mempunyai hubungan terhadap peningkatan kualitas belajar siswa.

3. Dengan hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah kepekaan dan kepedulian sosial penulis terhadap masalah – masalah pendidikan.

(8)

BAB II

LANDASAN TEORI 2.1. Prestasi Belajar Matematika

2.1.1 Pengertian Matematika

Berbicara tentang matematika pasti memunculkan berbagai macam definisi. Ini menunjukkan bahwa sampai saat ini belum ada suatu kesepakatn para ahli tentang arti matematika namun demikian bukan berarti bahwa matematika itu belum jelas apa artinya. Hanya saja pengertian atau batasan tersebut tergntung siapa dan dari mana ia memandang matematika tersebut. C.F. Gauss dalam Purcell dan Varberg (1999 : 369 ) menyatakan bahwa matematika adalah ratu dari ilmu dan ilmu hitung (aritmetika) adalah ratu dari matematika. Ia sering berkenan merendahkan diri menyumbang kepada astronomi dan ilmu alam lainya, tetapi dalam semua hubungan ia berhak mendapat peringkat pertama.

Tinggih dalam Suherman dkk (2003 : 16) menyatakan matematika berarti ilmu pengetahuan yang diperoleh dengan bernalar.

Hudojo (2003 : 40) Matematika tidak hanya berhubungan dengan bilangan – bilangan serta operasi – operasinya, melainkan juga unsur ruang sebagai sasarannya.

Selanjutnya Soejadi (2000 : 11) secara lengkap menyatakan :

a. Matematika adalah cabang ilmu pengetahuan eksak dan terorganisir secara sistematik;

b. Matematika adalah pengetahuan tentang bilangan Kalkulasi

c. Matematika adalah pengetahuan tentang pembenaran logik dan berhubungan dengan bilangan

d. Matematika adalah pengetahuan tentang fakta – fakta kuantitatif dan masalah tentang ruang dan bentuk.

(9)

Berdasarkan pendapat diatas maka disimpulkan bahwa matematika adalah. Suatu cabang ilmu pengetahuan yang diperoleh berdasarkan hasil penalaran manusia yang memuat berbagai bilangan – bilangan dan sistem operasi – operasinya serta memiliki struktur logik dan tata aturan yang ketat. Dengan demikian matematika pada dasarnya menekankan pada penalaran (rasio) memiliki keteraturan yang ketat.

2.1.2 Obyek yang dipelajari dengan Matematika

Salah satu ciri atau karakteristik matematika adalah obyeknya abstrak. Menurut Begle ( Dalam NakiI, 1999 : 18) objek matematika terdiri dari Fakta, Konsep, Skill (keterampilan) dan prinsip dimana menurut Gagne (dalam Nakii, 18) Skill/ketrampilan meliputi operasi dan prosedur.

a. Fakta

Fakta dalam matematika merupakan suatu konvensi atau kesepakatan yang digunakan baik dalam bentuk maupun simbol atau lambang. Depdikbud (Dalam NakiI, 1999 : 19) mengemukakan bahwa : “ Fakta adalah konvensi – konvensi sembarang dalam matematika, disajikan dalam bentuk kata – kata (istilah) maupun simbol – simbol atau lambang”.

b. Konsep

(10)

benda – benda konkrit atau peristiwa – peristiwa untuk dikelompokkan menjadi satu kelas.

c. Skil ( Ketrampilan)

Skil atau ketrampilan dalam matematika adalah operasi – operasi dan prosedur – prosedur yang digunakan untuk dapat menyelesaikan masalah matematika. Operasi menurut Begle (Dalam NakiI; 1999 : 21) adalah suatu fungsi yang mengaitkan matematika yang satu dengan objek matematika lainnya. Beberapa skill dapat dikategorikan sebagai kumpulan hukum atau instruksi atau urutan dari prosedur khusus yang disebut algoritma. Dengan demikian skill sebagaimana menurut Pandoyo (dalam NakiI ; 1999 : 21) merupakan yang paling kompleks dari akativitas – aktivitas terarah karena memerlukan manipulasi dan koordinasi bahan – bahan pelajaran yang telah dipelajari sebelumnya. Bertolak dari beberapa pandangan diatas maka dapat dikatakan bahwa skill dapat mengasah nalar karena menuntut kemampuan untuk memadukan berbagai pengetahuan yang saling berkaitan.

d. Prinsip

(11)

kompleks karena memuat hubungan beberapa objek (Fakta, konsep, operasi dan prinsip) tersebut.

2.1.3 Pengertian Belajar

Kata Belajar atau learning merupakan suatu istilah yang mempunyai ruang lingkup yang luas. Secara umum pengertian belajar dapat dirumuskan sebagai suatu proses rekayasa kecerdasan yang mengarah pada perubahan tingkah laku berdasarkan hasil dari pengalaman dan latihan. Perubahan tingkah laku dalam belajar adalah akibat dari interaksi biasanya berlangsung secara sengaja.

Slameto (2002 : 1) menyatakan belajar sebagai “suatu usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku secara sadar dari hasil interaksinya dengan lingkungan”

Selanjutnya Hamalik (1983 : 21) berpandangan, belajar adalah “ Suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan dalam diri seseorang yang dinyatakan dalam cara – cara bertingkah laku yang baru berkat pengalaman dan latihan.tingkah laku yang baru itu mulanya dari yang tidak tahu menjadi tahu, timbulnya pengertian – pengertian baru, perubahan dalam sikap, kebiasaan – kebiasaan, ketrampilan, kesanggupan, menghargai, perkembangan sifat – sifat sosial, emosional dari pertumbuhan jasmani”.

(12)

keterampilan, kecakapan dan kemampuan, daya kreasi, daya penerimaannya dan lain – lain”.

Memperhatikan pendapat para ahli tersebut diatas maka dapat disimpulkan 1. Belajar mengandung beberapa kesimpulan antara lain :pertama belajar merupakan suatu kegiatan yang berkenaan dengan perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku yang dilakukan adalah perubahan tingkah laku yang dapat diamati dan dapat diukur dan bersifat spesifik. Jadi berdasarkan pandangan ini seorang dapat dikatakan telah belajar bila terjadi perubahan tingkah laku pada dirinya, perubahan dapat dilihat berdasarkan pengamatan tertentu. Perubahan tingkah laku tersebut berkenaan dengan :

a. Penguasaan/penambahan pengetahuan yang telah ada sebelumnya. (Aspek Kognitif),

b. Pengusaan/penyempurnaan keterampilan yang telah dikuasai sebelumnya. (Aspek Psikomotor),

c. Mengembangkan sikap dan minat belajar yang telah dimiliki sebelumnya. (Aspek afektif) ;

2. Belajar merupakan hasil pengalaman dan latihan.

Terkait dengan teori belajar, Pada prinsipnya menurut Suherman dkk, (2003 : 27) Teori belejar biasa disebut juga psikologi belajar adalah teori yang mempelajari perkembangan intelektual (mental) siswa dimana didalamya terdiri atas dua hal, yaitu :

(13)

b. Uraian tentang kegiatan intelektual anak mengenai hal – hal yang dipikirkan pada usia tertentu.

Sebagaimana kita ketahui bahwa ada berbagai golongan atau aliran yang tekait dengan teori belajar salah satunya adalah teori belajar behaviorisme . Teori ini menekankan pada perubahan tingkah laku. Dimana sesorang seseorang telah dianggap belajar bila ia mampu menunjukkan perubahan tingkah laku.

Menurut salah seorang penganut paham psikologi behavior Thorndike, dalam Siroj (2000 :2), menyatakan bahwa belajar merupakan peristiwa terbentuknya asosiasi-asosiasi antara peristiwa-peristiwa yang disebut stimulus (S) dengan respon (R) yang diberikan atas stimulus tersebut dalam pandangannya bahwa semua tingkah laku manusia baik pikiran maupun tindakan dapat dianalisis dalam bagian-bagian dari dua struktur yang sederhana, yaitu stimulus dan respon. Dengan demikian, menurut pandangan ini dasar terjadinya belajar adalah pembentukan asosiasi antara stimulus dan respon. Menurut Suherman, Turmudi dkk (2003 :28) Teori belejar Stimulus Respon (S-R) Thorndike ini disebut juga Koneksionisme.

(14)

Maksudnya adalah pengetahuan yang terbentuk melalui ikatan stimulus—respon akan semakin kuat bila diberi penguatan.

Skinner membagi penguatan ini menjadi dua, yaitu penguatan positif dan penguatan negatif. Penguatan positif sebagai stimulus, apabila representasinya mengiringi suatu tingkah laku yang cenderung dapat meningkatkan terjadinya pengulangan tingkah laku itu. Sedangkan penguatan negatif adalah stimulus yang dihilangkan/dihapuskan karena cenderung menguatkan tingkah laku.

Dengan demikian penguatan positif sebagai sebuah upaya untuk mendorong dan meningkatkan perubahan tingkah laku yang yang dibangun berdasarkan pengalaman dan latihan sebagaimana tersebut diatas. Pengalaman yang dimaksud disini adalah pengalaman atas hasil dan upaya secara terpadu dan telah diprogramkan secara terencana dalam pelaksanaannya dibawah bimbingan guru, pengalaman itu sendiri pada dasarnya berkat interaksi antara Individu dan lingkungannya. Sedangkan latihan adalah prosedur yang ditempuh, yaitu suatu proses pengulangan yang dilakukan secara sistematis dan berencana guna mencapai tujuan tertentu.

(15)

Model serupa juga datang dari Gagne dan Ausubel. Menurut Gagne dalam Hudojo (2003 :83 – 84) tingkatan urutan itu adalah dari konsep – konsep dan prinsip – prinsip menuju pemecahan masalah. Pemecahan masalah ini lanjut Gagne dipandang sebagai tahap belajar tingkat tinggi. Hal tersebut dapat dijelaskan dari pendapat Gagne (Siroj, 2000:2), bahwa setiap jenis belajar tersebut terjadi dalam empat tahap secara berurutan. Tahap pertama pemahaman, setelah seseorang yang belajar diberi stimulus, maka ia berusaha untuk memahami karakteristiknya (merespon) kemudian diberi kode (secara mental). Hasil ini selanjutnya digunakan untuk menguasai stimulus yang diberikan yaitu pada tahap kedua (tahap penguasaan). Pengetahuan yang diperoleh dari tahap dua selanjutnya disimpan atau diingat, yaitu pada tahap ketiga (tahap pengingatan). Terakhir adalah tahap keempat, yaitu pengungkapan kembali pengetahuan yang telah disimpan pada tahap ketiga.

Sedangkan Ausubel memandang bahwa mulai dari konsep – konsep yang paling inklusif yang kemudian memecahkan proses belajar kedalam konsep – konsep belajar yang kurang inklusif.

Ausubel juga terkenal dengan teori belajar bermaknanya dan pentinganya pengulangan sebelum belajar dimulai (Suherman, 2003 ).

(16)

2.1.4 Hasil Belajar Matematika dan Pengukurannya

Aktivitas apapun yang kita lakukan pasti menginginkan pencapaian hasil yang maksimal. Demikian halnya kegiatan belajar tentu sasarannya adalah untuk mendapatkan hasil sesuai dengan rancangan usaha pencapaian tujuan pembelajaran yang dikehendaki oleh pengelola pembelajaran dan sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Terdapat berbagai pendapat tentang hasil belajar yang dikemukakan para ahli diantaranya Hasibuan dan Mujiono ( 1994 : 26 ) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah sebuah kegiatan belajar mengajar yang menghendaki tercapainya tujuan pelajaran dimana hasil belajar siswa ditandai dengan skala nilai”. Menurut Purwanto ( 1990 ; 86) hasil belajar adalah prestasi yang dicapai, dilaksanakan dan dikerjakan. Sementara Sudjana (2002 : 22) mengemukakan bahwa hasil belajar adalah kemampuan – kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Dalam kaitannya degan hal ini Kingsley (Sudjana : 2002 : 22) membagi tiga macam hasil belajar yakni (a) keterampilan dan kebiasaan, (b) pengetahuan dan pengertian, (c ) sikap dan cita – cita. Sedangkan Gagne (Sudjana : 2002 : 22) membagi lima kategori hasil belajar, yakni (a) informasi verbal, (b) ketrampilan intelektual, (c) Strategi kognitif, (d) sikap, dan (e) ketrampilan motoris.

Sejalan dengan lima kategori hasil belajar menurut Gagne diatas Hasibuan dan Mujiono (1986 ; 5) mengemukakan 5 macam kemampuan yang diharapkan dapat dicapai siswa melalui kegiatan belajar mengajar yaitu :

(17)

b. Strategi kognitif mengatur cara belajar dan berfikir seseorang dalam arti seluas-luasnya termasuk kemampuan memecahkan masalah.

c. Informasi verbal pengetahuan dalam arti informasi dan fakta. d. Ketrampilan motorik yang diperoleh melalui latihan.

e. Sikap dan nilai, atau berhubungan dengan arah intensitas emosional yang dimiliki seseorang sebagaimana dapat disimpulkan dari kecenderungan bertingkah laku terhadap orang, barang dan kejadian.

Dari berbagai pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar adalah suatu hasil yang diperoleh melalui suatu kegiatan belajar, semakin banyak usahanya dalam melakukan perbuatan belajar semakin baik pula hasil yang diperolehnya. Hasil belajar yang diperoleh dapat diklasifikasi berdasarkan tingkat kemampuannya.

Pada umumnya di Indonesia, hasil belajar (tingkat kemampuan) dinyatakan dalam klasifikasi yang dikembangkan oleh Bloom ( Taksonomi Bloom). Suherman (2003 :223 - 225) Bloom telah menyediakan rujukan yang dapat digunakan oleh guru (Matematika) untuk memformulasikan tujuan – tujuan pembelajaran, memilih metode mengajar dan mendesain tes serta aktivitas belajar siswa. Taksonomi yang dimaksud terdiri atas.

(18)

ketrampilan dan prinsip – prinsip. Misalnya : Siswa mampu menyebutkan definisi sampling, sampel dan populasi dalam statistik.

2. Pemahaman (Comprehension), selanjutnya disebut C2 adalah tingkatan paling rendah dalam aspek kognisi yang berhubungan dengan penguasaan atau mengerti tentang sesuatu. Dalam tingkatan diperlukan kemampuan memahami idea – idea matematika yang pada gilirannya mampu menggunakan beberapa kaidah yang relevan tanpa perlu menghubungkannya dengan ide – ide lain dengan segala implikasinya. Misalnya : Siswa mampu menyajikan data dalam dalam bentuk diagram.

3. Aplikasi/Penerapan (Aplication), selanjutnya disebut C3 adalah kemampuan kognisi yang menekankan pada kemampuan mendemonstrasikan pemahaman yang berkenaan dengan sebuah abstraksi matematika melalui penggunaanya secara tepat. Untuk menunjukkan kemampuan tersebut, seorang siswa harus dapat memilih dan menggunakan apa yang mereka telah miliki secara tepat sesuai dengan situasai yang ada dihadapannya. Misalnya : Siswa mampu menggunakan rumus – rumus rataan untuk menyajikan data ukuran menjadi data statistik

(19)

pengertian akan arti materi – materi matematika, sementara penerapan (C3) lebih menekankan pada penguasaan dan pemanfatan informasi – informasi yang sesuai, berkaitan, dan bermanfaat. Analisis (C4) berkaitan dengan pemilihan materi kedalam bagian – bagian, menemukan hubungan antara bagian dan mengamati pengorganisasaian bagian – bagian. Misalnya. Siswa mampu menuliskan hubungan antara mean, modus, median dan kuartil. 5. Sintesis (Syinthesis), selanjutnya disebut C5 adalah kemampuan untuk

mengkombinasikan elemen – elemen untuk membentuk sebuah struktur yang unik atau sistem. Dalam matematika sintesis melibatkan pengkombinasian dan pengorganisasaian konsep – konsep dan prinsip – prinsip matematika untuk mengkreasikannya menjadi struktur matematika yang lain dan berbeda dari yang sebelumnya. Salah satu contohnya adalah memformulasikan teorema -teorema matematika dan mengembangkan struktur – struktur matematika. Misalnya ketika diberikan suatu masalah matematika, siswa mampu menghasilkan penyelesaian dengan dua cara atau lebih yang berbeda..

(20)

bukti atau struktur internal, seperti akurasi, logika, dan konsistensi, dan (ii) penilaian pada bukti atau struktur eksternal, seperti teorema – teorema matematika dan sistemnya.

Menilik uraian bebagai pendapat diatas maka hasil belajar adalah wujud prestasi siswa yang yang mencerminkan tingkat kemampuan siswa terkait dengan pengetahuan, pemahaman , penerapan (Aplikasi), Analiasa, sisnteses dan evaluasi berdasarkan hasil pengukuran kemampuan berdasarkan tujuan instruksional pengajaran yang telah ditetapkan. Dengan demikian dibutuhkan alat pengukuran/penialain yang digunakan benar – benar mampu mengungkapkan hasil dan proses belajar siswa sebagaimana apa adanya, yang mamapu menampilkan sedetail dan seobjektif mungkin. Hal ini menurut Sudjana (2002 : 12) sangat tergantung pada alat penilaian disamping pada cara pelaksanaannya.

(21)

terkandung dalam konsep kemampuan, minat, sikap dan berbagai bidang kajian harus jelas apa yang diukurnya. Dengan demikian setiap konsep harus dikembangkan indikator – indikatornya. Cara lain untuk menetapkan validitas bangun pengertian adalah menghubungkan (korelasi) alat penilaian yang dibuat dengan alat penialain yang sudah baku seandainya telah ada yang baku. Bila menunjukkan koefisien korelasi yang tinggi maka alat penilaian tersebut memenuhi validitasnya. Ketiga Validitas Ramalan (Predictive validity), dimana yang diutamakan bukan isi tes, melainkan kriterianya, apakah alat penialaian tersebut dapat digunakan untuk meramalkan suatu ciri, perilaku tertentu, atau kriteria tertentu yang diinginkan. Ketiga validitas diatas idealnya dapat digunakan dalam menyusun alat penilaian, minimal validitas isis dan validitas bangun pengertian. Validitas isi dan validditas bangun pengertian mutlak diperlukan dan bisa diupayakan tanpa memerlukan pengujian secara statistik. Keempat Validitas Kesamaan (concurrent validity), yaitu membuat tes yang memiliki suatu persamaan dengan tes sejenis yang telah ada atau yang dibakukan. Kesamaan tes terlingkupnya abilitas yang diukurnya, sasaran atau objek yang diukurnya, serta waktu yang diperlukan. Validitas kesamaan suatu tes adalah melalui indeks korelasi berdasarkan perhitungan korelasi. Apabilah menunjukkan indeks korelasi yang cukup tinggi, yakni mendekati angka satu ( korelasi sempurna), berarti tes yang disusun tersebut memiliki validitas kesamaan.

(22)

hasil pengukuran saat ini menunjukkan kesaman hasil pada saat yang berlainan waktunya terhadap siswa yang sama. Terdapat beberapa jenis reliabilitas yaitu : 1). Reliabilitas tes ulang

Tes ulang (retest) adalah penggunaan alat penilaian terhadap subjek yang sama, dilakukan dua kali dalam waktu yang berlainan. Hasil penilaian yang pertama kemudian dikorelasikan dengan hasil penilaian yang kedua untuk memperoleh koefisien korelasi (r). Koefisien korelasi ini disebut koefisisen reliabilitas yang hasilnya akan bergerak dari -1,0 sampai + 1,0. Koefisien reliabilitas yang mendekati angka 1,0 merupakan indeks reliabilitas tinggi. Artinya hasil pengukuran yang relatif sama dengan hasil pengukuran yang kedua. Dengan kata lain alat tersebut memiliki tingkat keajegan atau ketetapan (reliabel). 2) Reliabilitas pecahan setara

Mengukur reliabilitas bentuk pecahan setara tidak dilakuakn dengan pengulangan pada subjek yang sama , tetapi menggunakan hasil dari bentuk tes yang sebandingatau setara yang diberikan kepada subjek yang sama pada waktu yang sama pula.

3). Reliabilitas belah dua

(23)

hanya berlaku separuh sehingga koefisien korelasi yang diperoleh tidak untuk seluruh soal, tetapi hanya untuk separuhnya, sehingga koefisien korelasi belah dua perlu diubah kedalam koefisien korelasi seluruh soal dengan menggunakan rumus ramalan sepearmen Brown :

 rxx = Koefisien relibilitas keseluruhan

R 12 21 = korelasi (r) dari belah dua

Asumsi yang digunakan dalam prosedur belah dua adalah kedua bagian tes itu paralel sekalipun sering keliru atau tidak benar. Hal ini berakibat pada pengubahan koefisien reliabilitas, prosedr belah dua cenderung menggunakan koefisien reliabilitas yang lebih tinggi dari pada tes ulang dan pecahan setara. 4) Kesamaan Rasional

Merupakan prosedur menghitung reliabilitas tanpa melakukan korelasi dari dua pengukuran atau pecahan setara dan belah dua. Prosedur ini dilakukan dengan menghubungkan setiap butir dalam satu tes dengan butir – butir lainnya dalam tes itu sendiri secara keseluruhan. Salah satu cara yang sering digunakan adalah menggunakan rumus Kuder – Richardson atau K-R. 20. dan K-R.21

rxx = reliabilitas tes secara keseluruhan K = jumlah butir soal dalam tes

(24)

X = skor rata – rata (mean score)

2.2. Lingkungan Sosial

2.2.1 Pengertian Lingkungan Sosial

Lingkungan sosial pada dasarnya mempunyai pengaruh yang lebih besar terutama terhadap pertumbuhan rohani pribadi anak. Terkait dengan pendidikan, menurut Mansur Fakih (2002 : xx), Usaha pendidikan dan pelatihan sesungguhnya secara struktural adalah bagian dari sistem sosial.

Pada dasarnya setiap individu tidak bisa berlepas diri dari lingkungan sosialnya. Karena itulah Cjung dalam Zaini, (2002:5) memetakan individu menjadi dua yaitu Ekstrovert dan Introvert . sesorang yang bersifat ekstrofer cenderung menyenangi cara belajar dengan melakukan interaksi dengan lingkungannya, bicara dengan orang lain atau mencari pengalaman. Adapaun introvert lebih menyenangi cara berpikir sendiri tanpa ada gangguan dari lingkungannya. Pada dasarnya setiap manusia mempunyai untuk menjadi salah satu dari kedua sifat tersebut, meskipun tidak ada yang mutlak. Dalam arti seoarang introvert bukan sama sekali tidak mempunyai ciri – ciri ekstrovert atau sebaliknya.

Menurut Kastama (1988;38) lingkungan sosial adalah kehidupan manusia interaksi dengan sesamanya.

(25)

mempengaruhi manusia bahkan anak – anak dalam belajar sehingga berakibat terhadap prestasi hasil belajar yang dicapai.

Sedangkan Purwanto ( 1987 ; 60) memberikan batasan bahwa lingkungan sosial adalah semua orang atau manusia lain yang mempengaruhi kita. Pengaruh lingkungan sosial ini ada yang kita terima secara langsung dan adapula yang tidak langsung. Pengaruh secara langsung misalnya : dalam pergaulan sehari – hari dengan orang lain, dengan keluarga kita, dengan teman – teman kita, kawan sekolah, kawan sepekerjaan, dan sebagainya. Sedangkan secara tidak langsung dapat diterimah melalui radio, televisi, dengan membaca buku – buku, majalah surat kabar dan lain – lain.

(26)

2.2.2 Aspek – aspek Lingkungan Sosial yang Mempengaruhi Siswa Dalam Belajar

a. Lingkungan Keluarga 1. Suasana Rumah

Sebagaimana kita ketahui waktu anak diluar sekolah lebih banyak dibandingkan didalam sekolah. Hal ini menunjukkan proses belajarnya lebih banyak diluar sekolah terutama dirumah. Proses belajar tersebut dapat berjalan dengan baik bila suasana rumah aman dan tentram, sehingga siswa dapat memusatkan perhatian pada pelajaran.

2. Hubungan orang tua dengan anak

Peranan orang tua dalam penyelenggaaraan pendidikan anaknya sangat dibutuhkan, karena anak sejak lahir hingga dewasa hidup bersama – sama dengan orang tuanya. Orang tua menjadi pendidik utama dan pertama dalam lingkungan keluarga. Hubungan yang kurang harmonis akan menimbulkan frustasi dan kekacauan dalam diri anak. Anak akan merasa tertekan batinnya sehingga kegiatan belajarnya terganggu, demikian pula dengan orang tua yang otoriter akan menimbulkan tekanan batin pada anaknya.

3. Status sosial ekonomi

Kemamapuan ekonomi orang tua memegang peranan penting terhadap aktivitas belajara siswa. Berkurangnya biaya akan mempengaruhi aktivitas belajar siswa.

(27)

sekolah dan mengecil arus arah memasuki sekolah yang lebih tinggi, sedang dan rendah merupakan salah satu faktor yang menentukan keberhasilan anak disekolah.

Untuk melihat status sosial keluarga terhadap tingkat pendidikan anak, ada seoarang ahli pendidikan dari jerman dalam hal ini Trestel, telah membandingkan prestasi anak – anak kelas pertama dari berbagai sekolah yang status sosial ekonominya rendah. Dalam Penelitian ini disampaikan bahwa prestasi anak-anak dari keluarga yang status sosial ekonominya rendah, lebih tinggi nilainya dari pada anak berasal dan' status sosial ekonomi yang cukup atau tinggi. Tetapi keunggulan ini bergeser kebawah setelah berselang setahun kernudian, sebab anak yang berasal dari status sosial ekonomi untuk ekonomi rendah kalau sudah dewasa la membantu orang tuanya dalam mencari nafkah demi penghidupan keluarganya bersama anak-anaknya yang masih bayi (W.A. Berungan, 1978:184).

Dari uraian di atas jelas memberikan gambaran kepada kita bahwa status sosial ekonomi rendah, sangat mempengaruhi tingkat pendidikan anak, selain rendahnya status sosial ekonomi keluarganya juga faktor kemudahan anak untuk memperoleh uang, baik diperoleh sendiri atau bersama-sama orang tuanya untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

4. Tingkat Pendidikan Keluarga

(28)

Dilihat dari orang tua, pendidikan itu juga sangat penting diselenggarakan, tanpa ada yang memaksa dengan sendirinya setiap orang yang mempunyai anak akan pasti mendidiknya. Sebab pendidikan merupakan tanggung jawab orang tua. Selanjutnya Siti Rahayu ( 1983 : 75 ) mengemukakan bahwa : betapa besar tanggung jawab keluarga atas masa depan anaknya, juga tingkat pendidikan anak dimana banyak penelitian telah mengungkapkan bahwa tingkat pendidikan orang tua banyak berpengaruh dalam pembentukan jenis dan cara mengasuh anak dalam pendidikan.

Berdasarkan pendapat diatas jelas bahwa tingkat pendidikan orang tua yang berbeda, tentunya berakibat pada cara mendidik cenderung berbeda pula. Dimana tingkat pendidikan merupakan pemberian bantuan terhadap perkembangan anak seutuhnya, dalam arti supaya dapat mengembangkan potensi semaksimal mungkin agar anak menjadi dewasa dan bertangung jawab.

b. Lingkungan Masyarakat.

(29)

kelompok sebaya dengan setiap anak-anak mengadakan kegiatan dalam sekolah dan keluarga ".

Dengan demikian positif atau negatif perkembangan aktivitas belajar anak tergantung dominasi jenis kegiatan yang dilakukan dalam pergaulan dengan kelompok sebaya dan lingkungan masyarakat.

c. Lingkungan Sekolah

Lingkungan sekolah adalah salah satu aspek yang turut mempengaruhi aktivitas belajar siswa, sebab lingkungan sekolah sangat menentukan pembentukan sikap dan aktivitas belajar anak, artinya melalui bangku sekolah anak akan memperoleh pengetahuan dan ketrampilan sesuai taraf intelegensi serta kemampuan belajarnya. Proses belajar disekolah sangat dipengaruhi oleh faktor :

Hubungan guru dengan guru

Guru merupakan faktor penentu dalam keberahasilan pendidikan.. Hubungan antara guru dengan guru amat sangat menentukan. Hal ini dikarenakan selain tugasnya sebagai pengajar guru juga berperan sebagai pendidik. Hubungan yang tidak sehat antar guru dan guru akan berdampak terhadap suasana sekolah yang tidak kondusif yang dengan sendirinya berdampak terhadap aktivitas belajar siswa.

Hubungan guru dengan siswa

(30)

pintar dalam mengajukan bahan pelajaran melainkan memperhatikan faktor – faktor yang dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa sehingga dapat memperoleh prestasi yang optimal termasuk didalamnya menjaga pola relasi yang baik antara guru dan siswa.

Hubungan tenaga administrasi dengan siswa

Dalam aktivitasnya dilingkungan sekolah para siswa biasanya sering diperhadapkan dengan kepentingan administrasi. Pelayanan kepentingan administrasi yang dibutuhkan siswa melibatkan hubungan tenaga administrasi dengan siswa tersebut tercipta. Sikap para tenaga administrasi dalam pelyanannya terhadap kebutuhan siswa juga menentukan perkembangan aktivitas belajarnya. d. Lingkungan Kelas dalam PBM

Kelas merupakan lingkungan terkecil dalam Sekolah Kelancaran proses belajar mengajar ditentukan juga oleh Lingkungan kelas, yang termasuk didalamnya adalah (1) Pengelolaan kelas, (2) Menegitas PBM, (3) Suasana Kelas. 1. Pengelolaan Kelas

(31)

2. Menegitas PBM yang Kondusif

Manajemen Proses belajar mengajar yang kondusif bisa ditempuh dengan cara memperhatikan beberapa hal yaitu :

- Metode mengajar guru

Berhasil tidaknya tujuan pengajaran, banyak ditentukan oleh penggunaan metode yang tepat, seperti yang dikemukakan oleh Simanjuntak (1982:260 bahwa berhasil tidaknya tujuan yang ingin dicapai tergantung pada penggunaaan metode yang tepat. Karena pentingnya metode yang tepat dalam proses belajar mengajar sehingga apabilah guru tidak memiliki kemampuan akan menajdi penghambat aktivitas belajar siswa dalam proses belajar mengajar.

- Penggunaan alat – alat untuk belajar

Aktivitas belajar siswa tidak dapat berjalan dengan baik dan lancar tanpa didukung oleh alat – alat belajar yang lengkap. Proses belajar akan terganggu jika alat belajar tidak ada, semakin lengkap alat –alat pelajarannya semakin mudah siswa dapat melakuakan aktivitas belajar, begitupula sebaliknya. Dengan kurangnya alat – alat pelajaran ini akan menimbulkan frustasi dalam belajar siswa 3. Suasana Kelas

(32)

suasana pengajaran juga merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi aktifitas belajar siswa didalam kelas.

2.3. Kerangka Berpikir

Setiap aktivitas manusia tidak bisa berlepas dari segala sesuatu yang ada disekitarnya. Lingkungan sekitar pada dasarnya memiliki peranan penting dalam perkembangan anak khusunya anak usia sekolah terkait dengan aktivitas belajarnya.

Kajian tentang belajar sebagai suatu proses aktif dalam memperoleh pengalaman/pengetahuan baru yang pada tujuan akhir menyebabkan perubahan tingkah laku. Usaha yang dilakukan oleh seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku tersebut secara sadar melibatkan interaksinya dengan lingkungan.

Matematika dengan segudang pengertiannya pada dasarnya sebagai aktivitas manusia. Aktifitas manusia mendorong lahir dan meningkatnya prestasi. Peningkatan prestasi dimotori dengan pengembangan berbagai Kemampuan (Ranah Kognitif, Afektif, Psikomotorik) . Pengembangan berbagai ranah tersebut disadari banyak bersentuhan dengan lingkungannya.

(33)

2.4. Hipotesis

(34)

X Y

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

Obyek, Waktu dan Tempat Penelitian

Adapun yang menjadi objek dalam penelitian ini adalah hubungan antara lingkungan sosial dan hasil belajar siswa. Waktu penelitian selama satu bulan yaitu dari bulan Desember 2005 - Januari 2006 Sedangkan tempat penelitian SMA Negeri 1 Bolaang.

Metode dan rancangan

Penelitian ini termasuk penelitian korelasional karena mencari hubungan atau korelasi antara variabel. Penelitian korelasi menurut Hadjar memiliki kelebihan yaitu kemampuan untuk menyelidiki hubungan antara beberapa variabel yaitu variabel bebas (Independent) dengan simbol X yaitu lingkungan sosial dan variabel terikat (dependent) dengan simbol Y yaitu hasil belajar.

Untuk rancangan penelitian digambarkan sebagai berikut :

Keterangan :

(35)

Definisi Operasi Variabel

Bertolak dari latar belakang permasalahan sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya, maka lingkungan sosial ditetapkan sebagai variabel bebas ( x ) dengan indikator – indikator sebagai berikut :

1. Status Sosial Ekonomi Keluarga - Biaya hidup

- Pemenuhan biaya Sekolah

- Keterlibatan anak dalam mencari nafkah - Suasana Rumah

- Tingkat pendidikan Keluarga

- Keterlibatan Keluarga Pada Organisasi Masyarakat 2. Peranan dan Fungsi Orang Tua terhadap Pendidikan

- Memberikan pengertian akan pentingnya belajar Matematika - Dorongan terhadap peningkatan prestasi belajar

- Penyediaan fasilitas belajar

- Aktif memantau kegiatan belajar di Sekolah - Aktif membantu kegiatan belajar di rumah 3. Kebiasaan Teman sebaya

- Belajar bersama

(36)

- Kebiasaan belajar menghadapi ujian - Kebiasaan memanfaatan waktu lowong

Adapun hasil belajar Matematika ditetapkan sebagai variabel terikat ( y ) dengan menyimak kemampuan siswa setelah pembelajaran matematika pada kurun waktu tertentu yang dijaring melalui tes hasil belajar matematika.

Populasi dan Sampel Populasi

Meunurut sudjana (1989: 5) populasi adalah totalitas semua nilai yang mungkin hasil menghitung ataupun pengukuran kualitatif maupun kuantitatif dari pada karakteristik tertentu mengenai sekumpulan objek yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat – sifatnya.

Yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah seluruh karakteristik yang menyangkut pengaruh lingkungan sosial dengan hasil belajar siswa pada mata pelajaran Matematika. Sedangkan sebagai anggota Populasi adalah seluruh kelas XI SMA Negeri 1 Bolaang dengan jumlah 135 orang

Sampel dan teknik sampling

Sampel merupakan bagian dari populasi yang dianggap representatif atau mewakili populasi.

(37)

random sampling, dengan teknik tersebut telah terambil orang yang mewakili setiap kelas yang ada.

Teknik pengumpulan data

Berdasarkan judul penelitian ini maka alat yang akan digunakan untuk mengumpul data terdiri atas :

a. Untuk variabel X (Lingkungan Sosial) menggunakan kuisioner atau angket dalam bentuk skala lima yang dimodifikasi dari skala lickert.

Kuisioner (angket) ini terdiri dari pernyataan – pernyataan dengan disertai jawaban – jawaban dalam bentuk skala lima dengan lima alternatif jawaban berdasarkan frekuensi : a. Selalu, b. Sering , c. Jarang, d. Jarang sekali, e. Tidak pernah.

b. Untuk Hasil belajar (Y) menggunakan tes.

Penggunaan tes mengacu pada tes Objektif Pilihan ganda dengan lima alternatif jawaban a, b, c, d dan e

Validitas dan reabilitas instrumen a. Angket

(38)

menunjukkan pada suatu pengertian bahwa suatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data.

Pengujian validitas angket lebih dititik beratkan pada uji kesejajaran skor antara item dengan skor total dari item. Penilaian validitas angket dilakukan dengan analisis rasional, dimana yang menjadi tolak ukur penilain bukanlah ukuran skor atau ukuran statistik, melainkan suatu yang lebih bersifat kualitatif. Dalam analisis ini yang dijadikan tolak ukur adalah indikator-indikator yang ada.

Sedangkan pengujian reliabilitas angket digunakan rumus Alpha yakni :

)

Dimana: r11 = Realibilitas angket k = Banyaknya soal

Untuk mencari harga  digunakan rumus sebagai berikut :

(39)

Sebelum tes diedarkan kepada anggota sampel terlebih dahulu tes tersebut diuji kesahihan dan keterandalannya.. Pengujian validitas soal dimaksudkan untuk melihat apakah soal yang digunakan dalam tes benar-benar dapat mengukur yang hendak diukur atau dengan kata lain bahwa validitas menyatakan ukuran yang menunjukkan kevalidan suatu instrumen. Pengujian validitas soal ini dilakukan secara empiris dengan menggunakan rumus kolerasi Point Biserial sebagai berikut :

rpbis = koefisien korelasi point biserial

Mp = Mean skor dari subjek – subjek yang menjawab betul item yang dicari korelasinya dengan tes.

Mt = Mean skor total (skor rata – rata dari seluruh pengikut tes) St = Standar deviasi skor total.

P = proporsi subjek yang menjawab betul item tersebut. Q = 1 – p.

(Arikunto, 1999 :268)

Sedangkan untuk menguji realibilitas soal tes, digunakan rumus KR – 20 dengan rumus sebagai berikut :

(40)

K = banyaknya butir pertanyaan Vt = Varians total

p = Proporsi subjek yang menjawab betul pada sesuatu butir (Proporsi subjek yang mendapat skor 1)

q = Proporsi subjek yang menjawab salah pada sesuatu butir (Proporsi subjek yang mendapat skor 0)

(Arikunto, 1999 : 180)

Pengujian reliabilitas soal tes ini dimaksudkan untuk mendeteksi apakah tes yang digunakan untuk menjaring data benar-benar dapat meyakinkan sebagai instrumen pengumpul data.

Sebagai pedoman interpretasi mengenai besar koefisien reliabilitas dengan memperhatikan koefisien korelasi perolehan, digunakan klasifikasi Guilford dalam Subino (1987 :115) sebagai berikut :

Kurang dari 0,20 : tidak ada korelasi 0,20-0,40 : korelasi rendah 0,40-0,70 : korelasi sedang 0,70-0,80 : korelasi tinggi 0,90-1,00 : korelasi tinggi sekali

1,00 : korelasi sempurna

(41)

Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif, dimana data yang dijaring diolah dengan menggunakan statistik, sehingga memungkinkan dilakukan pengujian hipotesis penelitian, yang dilakukan dengan tehknik-tekhnik sebagai berikut :

Pengujian normalitas Data

Pengujian ini dilakukan, baik data untuk variabel x maupun data untuk variabel y. Hal ini dimaksudkan untuk menguji apakah data hasil pengukuruan berdistribusi normal atau tidak, agar analisis-analisis selanjutnya dapat dilakukan.

Pengujian menggunakan teknik Statistik Chi- Kuadrat (Sudjana, 1992 : 446) dengan langkah – langkah sebagai berikut sebagai berikut :

a. Dicari nilai rata – rata yang terkumpul

b. Mencari Standar Deviasi

)

c. Tentukan rentangan data dengan rumus R = DTB – DTK

(Sudjana 1996:91)

d. Menentukan kelas interval K = 1 + (3,3) Log n

(42)

K R P

f. Membuat Daftar Distribusi frekuensi g. Daftar Frekuensi teoritik

h. Menhghitung harga Chi Kuadrat

1

O1 = Frekuensi pengamatan

E1 = Frekuensi Teoritik

Pengujian hipotesis

Jika hasil pengujian sebelumnya ternyata data terdistribusi normal, maka dengan analisis yang menggunakan analisis korelasi, dengan langkah-langkah

Hasil persamaan ini dikuadratkan untuk mencari indeks determinasi (r2) b. Uji keberartian koefisien korelasi

(43)

H0 : 0 : Tidak ada korelasi

Al-Mandari, Syafinuddin. 2004. Rumahku Sekolahku, Jakarta : Pustaka Zahra Arikunto, Suharsimi,1999, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktis, Jakarta

(44)

Amsyari, Fuad. 1997 Prinsip – Prinsip Masalah Perencanaan Lingkungan, Jakarta : Gramedia

Beilharz ,Peter. 2002. Teori – Teori Sosial, Yogyakarta : Pustaka Pelajar Dekdikbud RI, 1982. Analisis Pendidikan. Tahun Kedua. No. 3

Gordon, Thomas.1976 Menjadi Orang Tua Efektif, Jakarta : Gramedia Hamalik Oemar 1983. Metode Belajar dan Kesulitan – Kesulitan Belajar,

Bandung : Tarsito

Hudojo, Herman 2003. Pengembangan kurikulum Pembelajaran Matematika, Malang; IMSTEP.

Kastama, Etmo 1988 Kependidikan dan Lingkungan Hidup, Jakarta : Gunung Mulia

Mahmud M. Dimyati, 1989. Psikologi Pendidikan, Jakarta : Depdikbud

NakiI, Karim. Drs, M.Pd. 1999. Kesalahan Mahasiswa Menyelesaikan soal – soal Kalkulus II Pada Jurusan Pendidikan FP. MIPA Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan Surabaya. Surabaya : Program Pasca Sarjana IKIP Surabaya

Purwanto M. Ngalim, 1987 Ilmu Pendidikan dan Praktis, Bandung :Remaja Rosdakarya

Purcell, Edwin J,Varberg Dale. 1999. Kalkulus dan Geometri analitis. Jakarta Erlangga

(45)

Slameto, 1999. Evakluasi Pendidikan, Jakarta : PT. Bina Aksara

--- Belajar dan Faktor – faktor yang mempengaruhi Jakarta : Bina Aksara

Sudjana, 1996. Metode Statistika, Bandung : Tarsito

1996 Teknik Analisis Regresi dan Korelasi, Bandung : Tarsito Sudjana, Nana. Dr, 2002. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung :

PT Remaja Rosdakarya

Suharsono, 2003 Mencerdaskan Anak . Jakarta : Inisiasi Press

Suherman, Erman H.dkk . 2003. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung, IMSTEP

Soejadi, R. 2000. Kiat Pendidikan Matematika Di Indonesia. Jakarta ; Dirjen Dikti Depdiknas.

Wirawan Sarwono, Sarlito, 1983 Teori – Teori Psikologi Sosial, Jakarta : Rajawali

(46)

Referensi

Dokumen terkait

Menurut hasil penelitian Djoemadi (2014)disimpulkan bahwa karakteristik pemimpin tidak berpengaruh signifikan terhadap kinerja karyawan, penghargaan tidak berpengaruh

Menimbang, bahwa berdasarkan pemeriksaan setempat, Majelis Hakim berpendapat gambar lokasi tanah dalam surat ukur ketiga Sertipikat Hak Milik milik Penggugat tidak

Menurut ketentuan pasal 17 Peraturan Menteri Tenaga Kerja Nomor Per- 150/Men/1989 pengusaha dapat mengakhiri kesepakatan kerja untuk waktu tertentu dengan minta izin

Dana pinjaman ini berasal dari zakat dan infaq beberapa pihak yang digulirkan oleh pengelola kepada masyarakat, atas dasar ini penulis menduga bahwa model

Keterangan : Untuk baja karbon ST41 termasuk baja karbon rendah, karena unsure karbonya 0.1%, didalam baja karbon rendah, setelah proses laku panas karburising

Kawasan peruntukan hutan rakyat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 25 huruf b terdapat di Distrik Kaimana, Distrik Buruway, Distrik Teluk Arguni, Distrik Arguni Bawah, Distrik

 Disampaikan kepada seluruh jemaat bahwa Minggu, 10 September 2017 akan menggunakan Tata Ibadah dari Majelis Sinode GPIB dalam rangka HUT ke – 58 Pelkat PA.. Hutomo H.S

Hipotesis dalam penelitian ini adalah: Jika diterapkan pembelajaran menanggapi cerita pengalaman melalui metode tebak kata maka hasil belajar pada mata