• Tidak ada hasil yang ditemukan

Chapter II Insidensi Hepatitis B pada Pasien HIV AIDS di Klinik VCT Pusyansus RSUP. Haji Adam Malik Medan dari Januari tahun 2010 Dsember tahun 2012

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Chapter II Insidensi Hepatitis B pada Pasien HIV AIDS di Klinik VCT Pusyansus RSUP. Haji Adam Malik Medan dari Januari tahun 2010 Dsember tahun 2012"

Copied!
24
0
0

Teks penuh

(1)

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1. HIV/AIDS

2.1.1. Definisi HIV/AIDS

Acquired immune deficiency syndrome (AIDS) merupakan tahap akhir dari

infeksi yang disebabkan oleh Human Immunodeficiency Virus (HIV). Retrovirus

yang menyerang sel CD4 yang menyebabkan kerusakan parah pada sistem kekebalan

tubuh. Human Immunodeficiency Virus (HIV) termasuk golongan retrovirus

diidentifikasi pada tahun 1983 oleh Montagnier di Prancis (Goldsmith) sebagai

patogen yang bertanggungjawab atas Acquired Immunodeficiency Syndrome (AIDS).

AIDS ditandai dengan perubahan populasi limfosit T-sel yang memainkan peran

kunci dalam sistem pertahanan kekebalan tubuh. Pada individu yang terinfeksi, virus

menyebabkan penipisan T-sel, yang disebut "sel T-helper", yang meyebabkan pasien

rentan terhadap infeksi oportunistik, dan keganasan tertentu (P. Feorino).

(2)

2.1.2. Etiologi

Penyebab AIDS adalah virus yang tergolong Retrovirus yang disebut Human

Immunodeficiency Virus (HIV). Virus ini pertama kali diisolasi oleh Montagnier dan

kawan-kawan di Prancis pada tahun 1983 dengan nama Lymphadenopathy

Associated Virus (LAV), sedangkan Gallo di Amerika Serikat pada tahun 1984

mengisolasi (HIV) III. Kemudian atas kesepakatan internasional pada tahun 1986

nama virus dirubah menjadi HIV( E. L. Palmer).

Human Immunodeficiency Virus adalah golongan virus RNA. Dalam bentuknya

yang asli merupakan partikel yang inert, tidak dapat berkembang atau melukai

sampai ia masuk ke sel target. Sel target virus ini terutama sel Lymfosit T, karena ia

mempunyai reseptor untuk virus HIV yang disebut CD-4. Didalam sel Lymfosit T,

virus dapat berkembang dan seperti retrovirus yang lain, dapat tetap hidup lama

dalam sel dengan keadaan inaktif. Walaupun demikian virus dalam tubuh pengidap

HIV selalu dianggap infectious yang setiap saat dapat aktif dan dapat ditularkan

selama hidup penderita tersebut.

Secara morfologis HIV terdiri atas 2 bagian besar yaitu bagian inti (core) dan

bagian selubung (envelop). Bagian inti berbentuk silindris tersusun atas dua untaian

RNA (Ribonucleic Acid). Enzim reverce transcriptase dan beberapa jenis protein.

Bagian selubung terdiri atas lipid dan glikoprotein (gp 41 dan gp 120). Gp 120

berhubungan dengan reseptor Lymfosit (T4) yang rentan. Karena bagian luar virus

(lemak) tidak tahan panas, bahan kimia, maka HIV termasuk virus sensitif terhadap

pengaruh lingkungan seperti air mendidih, sinar matahari dan mudah dimatikan

dengan berbagai disinfektan seperti eter, aseton, alkohol, jodium hipoklorit dan

sebagainya, tetapi telatif resisten terhadap radiasi dan sinar utraviolet. Virus HIV

hidup dalam darah, savila, semen, air mata dan mudah mati diluar tubuh. HIV dapat

juga ditemukan dalam sel monosit, makrotag dan sel glia jaringan otak (W. R.

(3)

2.1.3. Cara Penularan

Secara umum ada 5 faktor yang perlu diperhatikan pada penularan suatu

penyakit yaitu sumber infeksi, vehikulum yang membawa agent, host yang rentan,

tempat keluar kuman dan tempat masuk kuman (port’d entrée).

Virus HIV sampai saat ini terbukti hanya menyerang sel Lymfosit T dan sel otak

sebagai organ sasarannya. Virus HIV sangat lemah dan mudah mati diluar tubuh.

Sebagai vehikulum yang dapat membawa virus HIV keluar tubuh dan menularkan

kepada orang lain adalah berbagai cairan tubuh. Cairan tubuh yang terbukti

menularkan diantaranya semen, cairan vagina atau serviks dan darah penderita.

Banyak cara yang diduga menjadi cara penularan virus HIV, namun hingga kini

cara penularan HIV yang diketahui adalah melalui :

a) Transmisi Seksual

Penularan melalui hubungan seksual baik Homoseksual maupun Heteroseksual

merupakan penularan infeksi HIV yang paling sering terjadi. Penularan ini

berhubungan dengan semen dan cairan vagina atau serik. Infeksi dapat ditularkan

dari setiap pengidap infeksi HIV kepada pasangan seksnya. Resiko penularan HIV

tergantung pada pemilihan pasangan seks, jumlah pasangan seksdan jenis hubungan

seks. Pada penelitian Darrow (1985) ditemukan resiko seropositive untuk zat anti

terhadap HIV cenderung naik pada hubungan seksual yang dilakukan pada

pasangan tidak tetap. Orang yang sering berhubungan seksual dengan berganti

pasangan merupakan kelompok manusia yang berisiko tinggi terinfeksi virus HIV.

i. Homoseksual

Didunia barat, Amerika Serikat dan Eropa tingkat hubungan homoseksual

menderita AIDS, berumur antara 20-40 tahun dari semua golongan sosial. Cara

hubungan seksual anogenital merupakan perilaku seksual dengan resiko tinggi bagi

penularan HIV, khususnya bagi pasangan seksual yang pasif menerima ejakulasi

semen dari seseorang pengidap HIV. Hal ini disebabkan oleh mukosa rektum yang

sangat tipis dan mudah sekali mengalami perdarahan pada saat berhubungan secara

anogenital.

ii. Heteroseksual

(4)

heteroseksual dan penderita terbanyak adalah kelompok umur seksual aktif baik pria

maupun wanita yang mempunyai banyak pasangan dan berganti-ganti.

b) Transmisi Non Seksual i. Transmisi Parenteral

Yaitu akibat penggunaan jarum suntik dan alat tusuk lainnya (alat tindik) yang

telah terkontaminasi, misalnya pada penyalahgunaan narkotik suntik yang

menggunakan jarum suntik yang tercemar secara bersama-sama. Disamping dapat

juga terjadi melaui jarum suntik yang telah dipakai oleh petugas kesehatan tanpa

disterilkan terlebih dahulu. Resiko tertular cara transmisi parental ini kurang dari 1%.

Transmisi melalui transfusi atau produk darah terjadi di negara-negara barat

sebelum tahun 1985. Sesudah tahun 1985 transmisi melalui jalur ini di negara barat

sangat jarang, karena darah donor telah diperiksa sebelum ditransfusikan. Resiko

tertular infeksi/HIV lewat trasfusi darah adalah lebih dari 90%.

ii. Transmisi Maternal

Penularan dari ibu yang HIV positif ke anak mempunyai resiko sebesar 50%.

Penularan dapat terjadi sewaktu hamil, melahirkan dan waktu menyusui. Penularan

melalui air susu ibu termasuk penularan dengan resiko rendah. (Sudikno, Bona &

Siswanto)

2.1.4. Patogenesis

Sistem kekebalan mempertahankan tubuh terhadap infeksi. Sistem ini terdiri dari

banyak jenis sel. Dari sel–sel tersebut sel T–helper sangat krusial karena

mengkoordinasi semua sistem kekebalan lainnya. Sel T–helper memiliki protein pada

permukaannya yang disebut CD4.HIV masuk kedalam darah dan mendekati sel

T–helper dengan melekatkan dirinya pada protein CD4. Saat menginfeksi, RNA virus

masuk ke tubuh penderita, kemudian RNA berubah menjadi DNA (deoxyribonucleic

acid) dengan suatu enzim yang disebut reverse transcriptase. Viral DNA tersebut

menjadi bagian dari DNA manusia, yang akan menghasilkan virus-virus lainnya,

benda tersebut mulai menghasilkan virus–virus HI.

Enzim lainnya, protease, mengatur viral kimia untuk membentuk virus–virus yang

(5)

darah, dan berhasil menulari lebih banyak sel. Ini adalah sebuah proses yang sedikit

demi sedikit dimana akhirnya merusak sistem kekebalan tubuh dan menjadikan tubuh

mudah diserang oleh infeksi dan penyakit–penyakit yang lain.Dibutuhkan waktu

untuk menularkan virus tersebut dari orang ke orang. Respons tubuh secara alamiah

terhadap suatu infeksi adalah untuk melawan sel–sel yang terinfeksi dan mengantikan

sel–sel yang telah hilang. Respons tersebut mendorong virus untuk menghasilkan

kembali dirinya.

Jumlah normal dari sel–sel CD4+T pada seseorang yang sehat adalah 800–1200

sel/ml kubik darah. Ketika seorang pengidap HIV yang sel–sel CD4+ T–nya terhitung

dibawah 200, dia menjadi semakin mudah diserang oleh infeksi–infeksi oportunistik.

Infeksi–infeksi oportunistik adalah infeksi–infeksi yang timbul ketika sistem

kekebalan tertekan. Pada seseorang dengan sistem kekebalan yang sehat

infeksi–infeksi tersebut tidak biasanya mengancam hidup mereka tetapi bagi seorang

pengidap HIV hal tersebut dapat menjadi fatal. Tanpa perawatan, viral load, yang

menunjukkan jumlah relatif virus bebas didalam plasma darah, akan meningkat

mencapai titik dimana tubuh tidak akan mampu melawannya.

Perkembangan dari HIV dapat dibagi dalam 4 fase yaitu infeksi utama

(Seroconversion), ketika kebanyakan pengidap HIV tidak menyadari dengan segera

bahwa mereka telah terinfeksi. Kemudian, fase asymptomatic, dimana tidak ada gejala

yang nampak, tetapi virus tersebut tetap aktif. Seterusnya, fase symptomatic, dimana

seseorang mulai merasa kurang sehat dan mengalami infeksi–infeksi oportunistik yang

bukan HIV tertentu melainkan disebabkan oleh bakteri dan virus–virus yang berada di

sekitar kita dalam segala keseharian kita. AIDS, yang berarti kumpulan penyakit yang

disebabkan oleh virus HIV, adalah fase akhir dan biasanya bercirikan suatu jumlah

CD4 kurang dari 200 (Departemen Kesehatan RI Jakarta 1989).

2.1.5. Gejala Klinis

Gejala-gejala dari infeksi akut HIV tidak spesifik, meliputi kelelahan, ruam kulit,

nyeri kepala, mual dan berkeringat di malam hari. AIDS ditandai dengan supresi

yang nyata pada sitem imun dan perkembangan infeksi oportunistik berat yang

(6)

Gejala yang lebih serius pada orang dewasa seringkali didahului oleh gejala

prodormal (diare dan penurunan berat badan) meliputi kelelahan, malaise, demam,

napas pendek, diare kronis, bercak putih pada lidah (kandidiasis oral) dan

limfadenopati. Gejala-gejala penyakit pada saluran pencernaan, dari esophagus

sampai kolon merupakan penyebab utama kelemahan. Tanpa pengobatan interval

antara infeksi primer oleh HIV dan timbulnya penyakit klinis pertama kali pada

orang dewasa biasanya panjang, rata-rata sekitar 10 tahun (Jawet, 2005).

WHO menetapkan empat stadium klinik pada pasien yang terinfeksi HIV/AIDS,

sebagai berikut :

Table 2.1. Stadium Klinik WHO: HIV/AIDS (2011)

Stadium klinis 1

 Asimtomatik

 Limfadenopati generalisata persisten

Stadium klinis 2

 Hepatosplenomegali persisten yang tidak dapat dijelaskana

 Erupsi pruritik papular

 Infeksi virus wart luas

Angular cheilitis

 Moluskum kontagiosum luas

 Ulserasi oral berulang

 Pembesaran kelenjar parotis persisten yang tidak dapat dijelaskan

 Eritema ginggival lineal

 Herpes zoster

 Infeksi saluran napas atas kronik atau berulang (otitis media, otorrhoea, sinusitis, tonsillitis )

 Infeksi kuku oleh fungus

Stadium klinis 3

(7)

adekuat terhadap terapi standara

 Diare persisten yang tidak dapat dijelaskan (14 hari atau lebih ) a

 Demam persisten yang tidak dapat dijelaskan (lebih dari 37.5o C

intermiten atau konstan, > 1 bulan) a

 Kandidosis oral persisten (di luar saat 6- 8 minggu pertama kehidupan)

Oral hairy leukoplakia

 Periodontitis/ginggivitis ulseratif nekrotikans akut

 TB kelenjar

 TB Paru

 Pneumonia bakterial yang berat dan berulang

 Pneumonistis interstitial limfoid simtomatik

 Penyakit paru-berhubungan dengan HIV yang kronik termasuk bronkiektasis

 Anemia yang tidak dapat dijelaskan (<8g/dl ), neutropenia (<500/mm3)

atau trombositopenia (<50 000/ mm3)

Stadium klinis 4b

Malnutrisi, wasting dan stunting berat yang tidak dapat dijelaskan dan tidak berespons terhadap terapi standara

 Pneumonia pneumosistis

 Infeksi bakterial berat yang berulang (misalnya empiema, piomiositis, infeksi tulang dan sendi, meningitis, kecuali pneumonia)

 Infeksi herpes simplex kronik (orolabial atau kutaneus > 1 bulan atau viseralis di lokasi manapun)

 TB ekstrapulmonar

 Sarkoma Kaposi

 Kandidiasis esofagus (atau trakea, bronkus, atau paru)

 Toksoplasmosis susunan saraf pusat (di luar masa neonatus)

 Ensefalopati HIV

 Infeksi sitomegalovirus (CMV), retinitis atau infeksi CMV pada organ lain, dengan onset umur > 1bulan

 Kriptokokosis ekstrapulmonar termasuk meningitis

 Mikosis endemik diseminata (histoplasmosis, coccidiomycosis)

(8)

 Isosporiasis kronik

 Infeksi mikobakteria non-tuberkulosis diseminata

 Kardiomiopati atau nefropati yang dihubungkan dengan HIV yang simtomatik

 Limfoma sel B non-Hodgkin atau limfoma serebral

Progressive multifocal leukoencephalopathy

2.1.6. Diagnosis

Diagnosis ditujukan kepada dua hal, yaitu keadaan terinfeksi HIV dan AIDS.

Diagnosis laboratorium dapat dilakukan dengan dua metode:

1.Langsung: yaitu isolasi virus dari sampel, umumnya dilakukan dengan

menggunakan mikroskop elektron dan mendeteksi antigen virus. Salah satu cara

deteksi antigen virus ialah Polymerase Chain Reaction (PCR).

2.Tidak Langsung: dengan melihat respon zat anti bodi spesifik, misalnya dengan

ELISA, immunoflurescent assay (IFA), atau radioimmunoprecipitation assay

(RIPA) (Tjokronegoro & Hendra, 2003).

Diagnosis HIV, yang lazim dipakai:

1.ELISA: sensitivitas tinggi, 98,1%-100%. Biasanya memberikan hasil positif 2-3

bulan sesudah infeksi. Dahulu, hasil positif dikonfirmasi dengan pemeriksaan

Western blot. Tetapi sekarang menggunakan tes berulang dengan tingkat spesifisitas.

2.PCR (polymerase chain reaction): Penggunaan PCR antara lain untuk tes HIV

pada bayi, menetapkan status infeksi individu yang seronegatif pada kelompok risiko

tinggi, tes pada kelompok risiko tinggi sebelum terjadi serokonversi, tes konfirmasi

untuk HIV-2 (sebab ELISA sensitivitasnya rendah untuk HIV-2) (Tjokronegoro &

Hendra 2003).

Tiap negara memiliki strategi tes HIV yang berbeda. Di Indonesia, skrining dan

surveilans menggunakan strategi tes yang sama. Tes ELISA dan Western blot telah

digunakan di waktu yang lalu, sekarang di Indonesia menggunakan Dipstik, ELISA 1,

dan ELISA 2 untuk skrining dan surveilans (Utomo & Irwanto, 1998).

(9)

sensitivitas dan spesifisitas tiap jenis reagensia. Untuk diagnosis klien yang

asimtomatik harus menggunakan strategi III dengan persyaratan reagensia sebagai

berikut:

1) Sensitivitas reagen pertama > 99%

2) Spesifisitas reagen kedua > 98%

3) Spesifisitas reagen ketiga > 99%

4) Preparasi antigen atau prinsip tes dari reagen pertama, kedua, dan ketiga tidak

sama. Reagensia yang dipakai pada pemeriksaan kedua atau ketiga mempunyai

prinsip pemeriksaan (misalnya EIA, dot blot, immunokromatografi atau

aglutinasi) atau jenis antigen (misalnya lisat virus, rekombinan DNA atau

peptida sintetik) yang berbeda daripada reagensia yang dipakai pada

pemeriksaan pertama.

5) Prosentase hasil kombinasi dua reagensia pertama yang tidak sama (discordant)

kurang dari 5%.

6) Pemilihan jenis reagensia (EIA atau simple/rapid) harus didasarkan pada:

a. Waktu yang diperlukan untuk mendapatkan hasil

b.Jumlah spesimen yang diperiksa dalam satu kali pengerjaan

c. Sarana dan prasarana yang tersedia

Untuk tujuan surveilans, reagen pertama harus memiliki sensitivitas >99%, spesifisitas

reagen kedua >98%.

Keuntungan diagnosis dini:

1.Intervensi pengobatan fase infeksi asimtomatik dapat diperpanjangkan.

2.Menghambat perjalanan penyakit kearah AIDS.

3.Pencegahan infeksi oportunistik

4.Kounseling dan pendidikan untuk kesehatan umum penderita.

5.Penyembuhan (bila mungkin) hanya dapat terjadi bila pengoabatan pada fase

dini (Tjokronegoro & Hendra, 2003).

(10)

Obat–obatan Antiretroviral (ARV) bukanlah suatu pengobatan untuk HIV/AIDS

tetapi cukup memperpanjang hidup dari mereka yang mengidap HIV. Pada tempat

yang kurang baik pengaturannya permulaan dari pengobatan ARV biasanya secara

medis direkomendasikan ketika jumlah sel CD4 dari orangyang mengidap HIV/AIDS

adalah 200 atau lebih rendah. Untuk lebih efektif, maka suatu kombinasi dari tiga atau

lebih ARV dikonsumsi, secara umum ini adalah mengenai terapi Antiretroviral yang

sangat aktif (HAART). Kombinasi dari ARV berikut ini dapat mengunakan:

1.Nucleoside Analogue Reverse Transcriptase Inhibitors (NRTI'), mentargetkan

pencegahan proteinreverse transcriptase HIV dalam mencegah perpindahan dari

viral RNA menjadi viral DNA (contohnya AZT, ddl, ddC & 3TC).

2.Non–nucleoside Reverse Transcriptase Inhibitors (NNRTI's) memperlambat

reproduksi dari HIV dengan bercampur dengan reverse transcriptase, suatu enzim

viral yang penting. Enzim tersebut sangat esensial untuk HIV dalam memasukan

materi turunan kedalam sel–sel. Obat–obatan NNRTI termasuk: Nevirapine,

delavirdine (Rescripta), efavirenza (Sustiva).

3.Protease Inhibitors (PI) mengtargetkan protein protease HIV dan menahannya

sehingga suatu virus baru tidak dapat berkumpul pada sel tuan rumah dan dilepaskan.

2.2. Memulai terapi ARV dengan salah satu panduan di bawah ini AZT + 3TC + NVP (Zidovudine + Lamivudine +

Nevirapine)

ATAU

AZT + 3TC + EFV (Zidovudine + Lamivudine + Efavirenz)

ATAU

TDF + 3TC (atau FTC) + NVP

(Tenofovir + Lamivudine (atau Emtricitabine) + Nevirapine)

ATAU

TDF + 3TC (atau FTC) + EFV (Tenofovir + Lamivudine (atau Emtricitabine) + Efavirenz)

(11)

2.3. Paduan Lini Pertama yang direkomendasikan pada orang dewasa yang belum pernah mendapat terapi ARV (treatment-naïve)

Populasi Target Pilihan yang direkomendasikan sebagian besar pasien Gunakan FDC jika

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia 2011

2.1.8. Pencegahan

Pencegahan perpindahan dari ibu ke anak (PMTCT): seorang wanita yang

mengidap HIV(+) dapat menularkan HIV kepada bayinya selama masa kehamilan,

persalinan dan masa menyusui. Jika tanpa pencegahan, kemungkinan bayi dari

seorang wanita yang mengidap HIV(+) akan terinfeksi kira–kira 25%–35%. Dua

(12)

Obat–obatan tersebut adalah:

1. Ziduvidine (AZT) dapat diberikan sebagai suatu rangkaian panjang dari 14–28

minggu selama masa kehamilan. Studi menunjukkan bahwa hal ini menurunkan

angka penularan mendekati 67%. Suatu rangkaian pendek dimulai pada

kehamilan terlambat sekitar 36 minggu menjadi 50% penurunan. Suatu

rangkaian pendek dimulai pada masa persalinan sekitas 38%. Beberapa studi

telah menyelidiki pengunaan dari Ziduvidine (AZT) dalam kombinasi dengan

Lamivudine (3TC).

2. Nevirapine: diberikan dalam dosis tunggal kepada ibu dalam masa persalinan

dan satu dosis tunggal kepada bayi pada sekitar 2–3 hari. Diperkirakan bahwa

dosis tersebut dapat menurunkan penularan HIV sekitar 47%. Nevirapine hanya

digunakan pada ibu dengan membawa satu tablet kerumah ketika masa

persalinan tiba, sementara bayi tersebut harus diberikan satu dosis dalam 3 hari.

Post–exposure prophylaxis (PEP) adalah sebuah program dari beberapa obat antiviral,

yang dikonsumsi beberapa kali setiap harinya, paling kurang 30 hari, untuk mencegah

seseorang menjadi terinfeksi dengan HIV sesudah terinfeksi, baik melalui serangan seksual

maupun terinfeksi occupational.Dihubungankan dengan permulaan pengunaan dari PEP,

maka suatu pengujian HIV harus dijalani untuk menetapkan status orang yang

bersangkutan. Informasi dan bimbingan perlu diberikan untuk memungkinkan orang

tersebut mengerti obat–obatan, keperluan untuk mentaati, kebutuhan untuk mempraktekan

hubungan seks yang aman dan memperbaharui pengujian HIV. Antiretrovirals

direkomendasikan untuk PEP termasuk AZT dan 3TC yang digunakan dalam kombinasi.

CDC telah memperingatkan mengenai pengunaan dari Nevirapine sebagai bagian dari PEP

yang berhutang pada bahaya akan kerusakan pada hati. Sesudah terkena infeksi yang

potensial ke HIV, pengobatan PEP perlu dimulai sekurangnya selama 72 jam, sekalipun

terdapat bukti untuk mengusulkan bahwa lebih awal seseorang memulai pengobatan, maka

keuntungannya pun akan menjadi lebih besar. PEP tidak merekomendasikan proses

terinfeksi secara biasa ke HIV/AIDS sebagaimana hal ini tidak efektif 100%; hal tersebut

dapat memberikan efek samping yang hebat dan mendorong perilaku seksual yang tidak

(13)

2.2. Hepatitis B 2.2.1. Definisi

Menurut World Health Organization (2012) Hepatitis B adalah infeksi hati yang

berpotensi mengancam nyawa yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Ini adalah

masalah kesehatan global utama dan jenis yang paling serius dari hepatitis virus. Hal

ini dapat menyebabkan penyakit hati kronis dan menempatkan orang pada risiko

tinggi kematian akibat sirosis hati dan kanker hati.

2.2. Skema virus Hepatitis B

Di seluruh dunia, diperkirakan dua miliar orang telah terinfeksi virus hepatitis B

dan lebih dari 240 juta memiliki infeksi (jangka panjang) hati kronis. Sekitar 600 000

orang meninggal setiap tahun karena konsekuensi akut atau kronis hepatitis B.

Vaksin hepatitis B telah tersedia sejak 1982. Vaksin hepatitis B adalah 95%

efektif dalam mencegah infeksi dan vaksin pertama melawan kanker manusia.

2.2.2. Klasifikasi a) Genom

Genom HBV adalah terbuat dari DNA melingkar, tetapi tidak biasa karenaDNA

tidak sepenuhnya beruntai ganda. Salah satu ujung untai panjang penuh ini terkait

dengan polimerase DNA virus. Genom 3020-3320 nukleotida panjang (untuk untai

panjang penuh) dan 1700-2800 nukleotida panjang (untuk jangka pendek-untai

(14)

ditemukan dalam inti segera setelah infeksi sel. Sebagian DNA beruntai ganda yang

diberikan penuh beruntai ganda dengan selesainya untai sense (+) dan penghapusan

sebuah molekul protein dari (-) akal dan urutan untai pendek RNA dari untai sense

(+). Basis non-coding dihapus dari ujung (-) untai sense dan ujung-ujungnya

bergabung. Ada empat gen yang dikode oleh genom dikenal, yang disebut C, X, P,

dan S. protein inti adalah dikodekan oleh gen C (HBcAg), dan kodon start adalah

didahului dengan hulu di-frame Agustus kodon mulai dari mana protein pra-inti

diproduksi. HBeAg dihasilkan oleh proses proteolitik dari protein pra-inti.

Polimerase DNA dikodekan oleh gen P. Gene S adalah gen yang mengkode antigen

permukaan (HBsAg). Gen HBsAg satu frame membaca panjang terbuka tetapi berisi

tiga dalam bingkai "mulai" (ATG) kodon gen yang membagi menjadi tiga bagian,

pra-S1, pra-S2, dan S. Karena kodon mulai beberapa, polipeptida dari tiga ukuran

yang berbeda yang disebut besar, menengah, dan kecil (pra-S1-S2 + pra + S, pra-S2

+ S, atau S) yang dihasilkan. Fungsi dari protein dikodekan oleh gen X adalah tidak

sepenuhnya dipahami(Chu SJ, Keeffe EB, Han SH, et al 2003).

b) Replikasi

Siklus hidup dari virus hepatitis B adalah kompleks. Hepatitis B adalah salah satu

dari beberapa yang dikenal non-retroviral virus yang menggunakan reverse transkripsi

sebagai bagian dari proses replikasi. Virus keuntungan masuk ke sel dengan mengikat ke

reseptor yang tidak diketahui pada permukaan sel dan masuk dengan endositosis. Karena

virus mengalikan melalui RNA dibuat oleh enzim inang, DNA genom virus harus

ditransfer ke inti sel dengan protein inang yang disebut pendamping. DNA beruntai virus

sebagian ganda ini kemudian dibuat sepenuhnya double stranded dan diubah menjadi

DNA sirkular kovalen tertutup (cccDNA) yang berfungsi sebagai template untuk

transkripsi mRNA virus empat. MRNA terbesar, (yang lebih panjang dari genom virus),

digunakan untuk membuat salinan baru dari genom dan untuk membuat protein inti

kapsid dan DNA polimerase virus. Keempat transkrip virus mengalami pengolahan

tambahan dan pergi untuk membentuk virion progeni yang dilepaskan dari sel atau

kembali ke inti dan didaur ulang untuk menghasilkan salinan bahkan lebih. MRNA

panjang kemudian diangkut kembali ke sitoplasma mana protein virion P mensintesis

(15)

c) Serotipe

Virus ini dibagi menjadi empat serotipe utama (adr, adw, ayr, ayw) epitop antigenik

berdasarkan disajikan pada protein amplop, dan menjadi delapan genotipe (AH) menurut

variasi urutan nukleotida keseluruhan genom. Genotipe memiliki distribusi geografis

yang berbeda dan digunakan dalam melacak evolusi dan penularan virus. Perbedaan

antara genotipe mempengaruhi keparahan penyakit, kursus dan kemungkinan komplikasi,

dan respon terhadap pengobatan dan kemungkinan vaksinasi.

2.2.3. Etiologi

HBV adalah diselimuti, noncytopathic, hepatotrophic, dan DNA virus yang

sangat menular yang termasuk dalam golongan hepadnaviruses(Lee WM 1997). Luar

amplop virus berisi 3 antigen permukaan terkait (HBsAg), yang paling melimpah

yang merupakan protein S. Perkembangan imunitas seluler dan humoral terhadap

HBsAg adalah pelindung. Di dalam amplop adalah nukleokapsid virus, atau inti,

yang berisi sebagian beruntai ganda melingkar DNA (HBcAg). Peptida HBcAg yang

diturunkan menginduksi respon imun seluler inang krusial melawan HBV. HBeAg

berfungsi sebagai penanda untuk replikasi aktif, tapi fungsinya tidak diketahui.

Protein X (HBX) mungkin memainkan peran dalam perkembangan karsinoma

hepatoseluler. DNA polimerase memiliki fungsi reverse transcriptase untuk sintesis

kedua untai negatif dan positif dari HBV DNA(Ganem D, Prince AM 2004).

2.2.4. Gejala Klinis

Akut infeksi virus hepatitis b dikaitkan dengan akut virus hepatitis. Penyakit

yang dimulai dengan umum sakit, kehilangan nafsu makan, mual, muntah, tubuh

sakit, demam ringan, urine gelap, dan kemudian akan pengembangan penyakit

kuning. Telah dicatat bahwa kulit gatal telah indikasi sebagai gejala mungkin semua

jenis virus hepatitis. Penyakit berlangsung selama beberapa minggu dan kemudian

secara bertahap meningkatkan di orang-orang yang paling terpengaruh.

Beberapa pasien mungkin lebih parah penyakit hati (fulminant hepatic

kegagalan), dan mungkin mati sebagai akibat dari itu. Infeksi mungkin sepenuhnya

(16)

asimtomatik atau mungkin dikaitkan dengan peradangan kronis hati (hepatitis kronis),

menuju sirosis selama beberapa tahun. Jenis infeksi secara dramatis meningkatkan

insiden dunia akibat Hepatoma (kanker hati).

Operator kronis didorong untuk menghindari mengkonsumsi alkohol dan

meningkatkan risiko untuk kanker hati sirosis dan virus hepatitis b telah dikaitkan

dengan perkembangan membran glomerulonefritis (MGN).

2.2.5. Cara Penularan

Infeksi hepattis B kornik sedikitnya diderita oleh 300 juta orang di seluruh dunia.

Di Eropa dan Amerika 15-25% penderita hepatitis B kronik akan meninggal karena

proses hati dan kanaker primer. Penelitian yang dilakukan di Taiwan pada 3.654 pria

Cina yagn HBsAg positif bahkan mendapatkan angka yang lebih besar, yaitu antara

40-50%.

Penyakit hepatits B ini dapat menular bahkan bahaya tingkat penularannya 100

kali lebih cepat dibanding dengan virus HIV. Ada dua golongan cara penularan

infeksi VHB, yaitu penularan horinzontal dan penularan vertikal. Cara penularan

horinzontal terjadi dari seorang pengidap infeksi VHB kepada individu yang masih

rentan di sekelilinginya. Penularan horinzontal dapat terjadi melalui kulit atau

melalui selaput lendir, sedangkan penularan vertikal terjadi dari seorang pengidap

yang hamil kepada bayi yang dilahirkannya(Bond WW, Favero MS, Petersen Nj, et al

1981).

a) Penularan melalui kulit

Penularan ini terjadi jika bahan yang mengandung partikel virus hepatitis B

(HBsAg) masuk ke dalam kulit. Contohnya, kasus penularan terjadi akibat transfusi

darah yang mengandung HBsAg positif, hemodialisis (cuci darah) pada penderita

gagal ginjal kronik, seta melalui alat suntik yang tidak steril, sperti penggunaan

jarum suntik bekas, jarum akupuntur yang tidak steril, alat tato, alat cukur dan yang

saat ini merupakan cara penularan terbanyak adalah melalui penyuntikan narkoba

secara bergantian.

Virus hepatitis B tidak bisa menembus pori-pori kulit, dapat masuk melalui kulit

(17)

b) Penularan melalui selaput lendir

Penularan dapat terjadi melalui mulut (per oral) yaitu jika bahan yang

mengandung virus mengenai selaput lendir mulut yang terluka, misalnya karena

peradangan mulut atau sesudah mencabut gigi dan bisa juga melalui ciuman. Selain

itu, penularan virus hepatits B dapat melalui selaput lendir alat kelamin (seksual)

akibat berhubungan seksual dengan pasangan yang mengandung HBsAg positif yang

bersifat infeksius, baik dengan pasangan heteroseksual maupun homoseksual(Lee

WM 1997).

c) Penularan vertika (penularan perinatal)

Penularan perinatal merupakan VHB dari ibu yang menderita hepatits B akut

atau pengidap hepatits B kronis kepada bayinya pada saat dalam kandungan (masa

kehamilan) atau sewaktu persalinan. Jika infeksi hepatits akut terjadi pada masa

kehamilan trisemester partama dan kedua, umumnya penularan jarang terjadi. Namun,

jika hepatits akut terjadi pada masa kehamilan trisemester ketiga maka penularan

lebih sering terjadi. Penularan dari ibu pengidap hepatits B kronis kepada bayinya

mengidap hepatits B kronis, bayi yang terinfeksi tersebut mungkin menderita

hepatitis akut atau lebih sering terjadi adalah akan berkembang menjadi infeksi yang

menetap dan menjadi kronik( Ghendom 1987).

2.2.6. Diagnosis

Diagnosis penyakit Hepatits B surface antigen (HBsAg) merupakan petanda

infeksi VHB yang dapat dideteksi 2 minggu-2 bulan sebelum ada gejala klinik.

Umumnya HBsAg ini bertahan selama 2-3 bulan dan sifatnya menular. Bila HBsAg

positif menandakan adanya infeksi VH"B aktif, akut atau kronik. Adanya HBsAg

dalam darah diikuti dengan peningkatan aktifitas SGPT kemudian SGOT. Penurunan

aktifitas enzim ini diikuti dengan penurunan titer HBsAG. Selain HBsAg juga dapat

dijumpai DNA polimerase.

Akhir-akhir ini dikembangkan pemeriksaan HBsAg secara kuantitatif yang

dipergunakan untuk monitoring pasien dengan hepatitis kronik dlam pengobatan

maupun tanpa pengobatan. Pemeriksaan ini berguna untuk mendeteksi carrier ini

(18)

reaction (PCR).

Infeksi dengan virus hepatits B umunya akan menimbulkan HBsAg dan anti-HBe,

HBeAg terdeteksi setelah timbul HBsAg. Titer HBsAg meningkatkan tajam pada saat

infeksi akut yang menunjukkan replikasi virus. Serokonversi HBeAg menjadi anti-HBe

merupakan petanda infeksi teratasi dan menunjukkan daya infeksi yang berkurang.

HBeAg dapat dijumpai bersamaan dengan HBsAg dan biasanya disertai dengan DNA

VHB dan DNA polimerase.(Mast EE, Weinbaum CM, Fiore AE, et al 2006).

Anti HBc

Pasca infeksi virus hepatits B didapatkan antiHBe merupakan antibodi terhadap

pada sel hati. Dekenal dua macam antiHBe yaitu HBe lgM dan anti HBc total. Waktu

antara hilangnya HBsAg dengan terbentuknya antiHBs disebut window period

(perode jendela). Window period ini bisa terjadi beberapa minggu, bulan atau tahun

dan pada keadaan ini anti-HBe lgM positif. Untuk mengetahui adanya infeksi virus

hepatits B bila HBsAg dan anti-HBs negatif, perlu dilakukan pemeriksaan anti HBc

lgM untuk memetikan apakah individu tersebut telah terpapar VHB.

Pada pasien tidak mempunyai informasi bahwa dia terpapar VHB dapt diketahui

dengan memriksa anti-HBc total, bila positif berarti terdapat dua kemungkinan yaitu

penderita dalam keadaan infeksi aktif atau imun/sembuh.

Anti HBs

Anti HBs adalah antibodi golongan lgG terhadap HBsAg yang timbul setelah

terpapar virus hepatits B yang bersifat protektif. Antibiotik yang timbul terhadap

determinata dari VHB adalah subtipe d, y, w1-w4, r dan q. Pada pasien yang

mendapatkan vaksinasi hepatits perlu pemeriksaan anti HBs untuk mengetahui

keberhasilan vaksinasi (kekebalan). Pada vaksinasi bila kadar anti-HBs <20mIU/ml

dianggap non reaktif sedangkan kadar anti-Hbs >10mIU/ml dianggap reaktif (Mast EE,

Weinbaum CM, Fiore AE, et al 2006).

2.2.5.1. Pemeriksaan

Berbagai ragam bentuk perjalanan klinis infeksi hepatits yaitu bisa berupa

hepatits akut, sembuh atau berlanjut menjadi hepatits B carries inaktif, hepatits B

kronis inaktif, atau berlanjut menjadi kanker hati atau sirosis hati. Untuk memestikan

(19)

diperlukan beberapa pemeriksaan berikut:

a) Anamnesis dan pemeriksaan fisik

Hepatitis B secara awam lazim disebut sebagai penyakit kuning, tidak selalu

menampakkan warna kunig di matanya (konjungtiva). Pada penyakit hepatits B, mata

kuning dijumpai pada sepertiga kasus. Untuk lebih mengarah pada diagnosis hepatits B,

perlu digali mengenai riwayat transfusi darah, hemodialisis, apakah ibu dan anak pernah

menderita hepatits B dan juga mempertanyakan kebiasaan-kebiasaan seperti hubungan

seks bebas dan pemakaian suntik narkoba sebelumnya. Didukungkan dengan

pemeriksaan fisik yang teliti untuk melihat kemungkinan tanda klinis seperti mata kuning,

penemuan adanya pembesaran hati, pembengkakkan perut dan kaki(Mast EE, Weinbaum

CM, Fiore AE, et al 2006).

b) Pemeriksaan fungsi hati

Organ hati mengemban berbagai macam tugas, seperti fungsi sintesis, ekskresi,

detoksifikasi dan penyimpan cadangan energi. Gangguan organ hati mungkin disebabkan

oleh penyakit apapun termasuk infeksi hepatitis B dengan sendirinya akan mempengaruh

fungsi hati(Mast EE, Weinbaum CM, Fiore AE, et al 2006).

c) Pemeriksaan Serologi

Tidak semua pemeriksaan serologi mutlak diterapkan pada seseorang yang

dicurigai menderita hepatitis B. Manfaat pemeriksaan ini adalah untuk mendiagnosis

adanya infeksi VHB dan memastikan sejauh mana infeksi VHB berada pada keadaan

infeksi akut, kronis atau telah sembuh. Berikut jenis pemeriksaan serologi pada

infeksi VHB.

Pemeriksaan HBsAg, pemeriksaan ini memastikan apakah seseorang menderita

hepatits B atau tidak. Hasil pemeriksaan hepatits B positif memestikan bahwa

seseorang menderita infeksi VHB. Pemeriksaan HBsAg positif yang menetap lebih

dari enam bulan disebut sebagai VHB kronis.

Anti HBs, meningkatnya kadar anti HBs memperlihatkan bahwa seseorang

memiliki kekebalan alami atau pernah mendapatkan vaksinasi hepatits B.

Pemeriksaan ini sebaiknya dilalukan bersama-sama dengan HBsAg ketika seseorang

(20)

negatif dan tidak ada kadar HBs (atau titer kurang dari 10 UI/ml), memberikan arti

bahwa orang tersebut tidak sedang menderita infeksi VHB dan tidak memiliki

perlindungan terhadap VHB sehingga ia perlu mendapatkan vaksin hepatitis B.

Namun, bila seseorang telah memiliki kadar anti HBs tinggi lebih dari 100 UI/ml, ia

tidak perlu mendapatkan aksinasi hepatitis B(Mast EE, Weinbaum CM, Fiore AE, et

al 2006).

d) Pemeriksaan DNA virus

Pemeriksaan DNA HBV dilakukan dengan metoda molekuler yaitu metode PCR.

Hasil pemeriksaan dapat dilaporkan secara kuantitatif maupun kualitatif.

Dikenal dua macam cara pencegahan yaitu dengan hepatitis B immune globin

(HBIG) dan hepatitis B vaksin. Penggunaan HBig adalah untuk mencegah infeksi

VHB secara aktif dan mendapatkan imunitas dalam jangka waktu yang lama.

Hubungi dokter anda untuk pencegahan infeksi VHB.

2.2.7. Patogenesis

Virus tidak langsung membunuh hepatosit. Respon kekebalan host terhadap

antigen virus diduga menjadi penyebab cedera hati pada infeksi HBV. (Ganem D,

Prince AM 2004) Respon imun seluler, daripada respon imun humoral, tampaknya

terutama terlibat dalam patogenesis penyakit. (Guidotti LG, Rochford R, Chung J, et

al 1999) Induksi respon T-limfosit antigen-spesifik diperkirakan terjadi ketika tuan

rumah limfosit T disajikan dengan epitop virus dengan sel antigen-presenting dalam

organ limfoid. Sel-sel T antigen-spesifik matang dan berkembang dan kemudian

bermigrasi ke hati. Pada infeksi HBV akut, sebagian HBV DNA dibersihkan dari

hepatosit melalui efek noncytocidal produk sampingan inflamasi CD8 + T limfosit,

dirangsang oleh CD4 + limfosit T, terutama interferon-gamma dan tumor necrosis

factor-alfa. Ini menyebabkan downregulation replikasi virus, dan lisis langsung

memicu hepatosit yang terinfeksi oleh sel T HBV-spesifik CD8 + sitotoksik.

(Guidotti LG, Ishikawa, Hobbs MV et al 1996) Sebaliknya, orang dengan infeksi

HBV kronis menampilkan lemah, jarang, dan respons sel-T yang difokuskan secara

sempit HBV-spesifik, dan sebagian besar sel mononuklear dalam hati kronis

(21)

Disebabkan adanya HBV di situs ekstrahepatik, serta kehadiran DNA sirkular

kovalen tertutup (cccDNA) dalam hepatosit, pemberantasan virus merupakan tujuan

realistis berdasarkan obat yang tersedia saat ini. DNA sirkular kovalen tertutup

berfungsi sebagai cetakan untuk transkripsi pregenomic RNA, langkah awal yang

penting dalam replikasi HBV(Chisari FV, Ferrari C, 1995). Keberadaan rombongan

cccDNA dalam hepatosit dianggap sebagai penanda persistensi virus, Malangnya

terapi saat ini belum efektif dalam memberantas cccDNA dan hanya mampu

menurunkan tingkat(Tuttleman JS, Pourcel C, Summer J 1986). Persistensi bahkan

tingkat rendah cccDNA dalam inti hepatosit telah terbukti berkorelasi dengan

peningkatan viral load setelah penghentian terapi. Selain itu, integrasi HBV DNA ke

inti hepatosit selama proses replikasi bisa menjelaskan peningkatan risiko karsinoma

hepatoseluler(Zoulim F, 2005).

2.2.8. Pengobatan

Akut infeksi hepatitis B biasanya tidak memerlukan pengobatan karena orang

dewasa yang paling jelas infeksi tersebut secara spontan. Pengobatan antivirus awal

hanya mungkin diperlukan dalam kurang dari 1% dari pasien, infeksi yang

mengambil kursus sangat agresif (hepatitis fulminan) atau yang

immunocompromised. Di sisi lain, pengobatan infeksi kronis mungkin diperlukan

untuk mengurangi risiko sirosis dan kanker hati. Individu yang terinfeksi kronis

dengan serum alanine aminotransferase meningkat terus menerus, penanda kerusakan

hati, dan DNA HBV tingkat adalah kandidat untuk terapi.

Meskipun tidak ada obat yang tersedia dapat menghapus infeksi, mereka dapat

menghentikan virus dari replikasi, sehingga meminimalkan kerusakan hati. Saat ini,

ada tujuh obat berlisensi untuk pengobatan infeksi hepatitis B di Amerika Serikat. Ini

termasuk obat antivirus lamivudine (Epivir), adefovir (Hepsera), tenofovir

(tenofovir), telbivudine (Tyzeka) dan entecavir (Baraclude) dan dua modulator sistem

kekebalan interferon alfa-2a dan pegylated interferon alfa-2a (Pegasys). Penggunaan

interferon, yang membutuhkan suntikan harian atau tiga kali seminggu, telah

digantikan oleh long-acting pegylated interferon yang disuntikkan hanya sekali

(22)

Bayi lahir dari ibu yang diketahui membawa hepatitis B dapat diobati dengan

antibodi terhadap virus hepatitis B (hepatitis B immune globulin atau HBIG). Ketika

diberikan dengan vaksin dalam waktu dua belas jam setelah kelahiran, risiko tertular

hepatitis B adalah berkurang 90%. Perawatan ini memungkinkan seorang ibu untuk

menyusui anaknya aman. Pada bulan Juli 2005, peneliti dari A STAR * dan National

University of Singapore mengidentifikasi hubungan antara protein pengikat DNA

milik kelas protein heterogen ribonucleoprotein K nuklir (hnRNP K) dan replikasi

HBV pada pasien. Mengontrol tingkat hnRNP K dapat bertindak sebagai pengobatan

yang mungkin untuk HBV.

2.2.9. Pencegahan

Beberapa vaksin telah dikembangkan untuk pencegahan infeksi virus hepatitis B.

Ini bergantung pada penggunaan salah satu protein amplop virus (antigen permukaan

hepatitis B atau HBsAg). Vaksin ini awalnya dibuat dari plasma yang diperoleh dari

pasien yang mengalami infeksi virus hepatitis B lama. Namun, saat ini, ini lebih

sering dibuat dengan menggunakan teknologi DNA rekombinan, meskipun vaksin

plasma yang diturunkan terus digunakan, dua jenis vaksin yang sama efektif dan

aman.

Setelah vaksinasi, hepatitis B surface antigen dapat dideteksi dalam serum

selama beberapa hari, ini dikenal sebagai antigenaemia vaksin. Vaksin ini diberikan

baik dalam dua-, tiga, atau empat jadwal dosis ke bayi dan orang dewasa, yang

memberikan perlindungan bagi 85-90% dari individu. Perlindungan telah diamati 12

tahun terakhir pada individu yang menunjukkan respon awal yang memadai untuk

program utama vaksinasi, dan kekebalan yang diprediksi bertahan setidaknya 25

tahun.

Berbeda dengan hepatitis A, hepatitis B umumnya tidak menyebar melalui air

dan makanan. Sebaliknya, ditularkan melalui cairan tubuh. Pencegahan demikian

menghindari penularan tersebut dan kontak seksual tanpa pelindung.

(23)

Koinfeksi dengan virus hepatitis B umum terjadi, dengan 70-90% penderita

HIV di Amerika Serikat juga terinfeksi oleh virus hepatitis B. 90% penderita HIV

yang menggunakan jarum suntik tidak steril juga terpapar oleh hepatitis B (anti-HBc

positif) dan 60% memiliki riwayat infeksi dengan adanya antibodi permukaan

hepatitis B (anti-HBs) (Rodriguez- Mendez ML 2000).

Sindrom klinis pada infeksi hepatitis virus akut umumnya tidak spesifik dan disertai

gejala gastrointestinal, seperti malaise, anoreksia, mual dan muntah. Selain itu juga

didapatkan gejala-gejala flu, faringitis, batuk, sakit kepala, mialgia dan lain-lain.

Orang yang terinfeksi HIV juga memiliki gejala-gejala seperti fatigue, malaise,

dannausea, sehingga terkadang infeksi campuran oleh virus hepatitis tidak

nampak(CDC 2005). Koinfeksi HIV oleh virus hepatitis tidak mempengaruhi penyakit

oleh HIV tersebut maupun perkembangannya menjadi AIDS, tetapi HIV mempengaruhi

hepatitis B dengan meningkatnya progresifitas menjadi sirosis hati serta gagal hati(Levin

J 2005).Akan tetapi, sebuah studi terbaru yang dilakukan di Virginia menunjukkan bahwa

progresifitas terjadinya fibrosis pada pasien koinfeksi dan monoinfeksi adalah sama

berdasarkan pemeriksaan biopsi hati(Bradford D 2008).

Virus hepatitis B (HBV) dan human immunodeficiency virus (HIV) adalah virus

yang ditularkan melalui darah yaitu melalui hubungan seksual dan penggunaan narkoba

suntikan. Karena mode ini bersama penularan, proporsi tinggi orang dewasa berisiko

terinfeksi HIV juga berisiko untuk infeksi HBV. Orang HIV-positif yang terinfeksi virus

Hepatitis B (HBV) berada pada peningkatan resiko untuk mengembangkan infeksi HBV

kronis dan harus diuji. Selain itu, orang-orang yang koinfeksi dengan HIV dan HBV

dapat memiliki komplikasi medis yang serius, termasuk peningkatan risiko morbiditas

dan mortalitas terkait hati. Untuk mencegah infeksi HBV pada orang yang terinfeksi HIV,

Komite Penasehat Praktek Imunisasi merekomendasikan yang universal Hepatitis B

vaksinasi pasien rentan dengan HIV / AIDS.

(24)

Hepatitis B dan HIV mempunyai beberapa kemiripan karakter, di antaranya adalah

merupakan blood-borne disease, membutuhkan pengobatan seumur hidup, mudah terjadi

resisten terutama jika digunakan monoterapi dan menggunakan obat yang sama yaitu

Tenofovir, lamivudine dan emtricitabine. Entecavir, obat anti hepatits B mempunyai efek

anti retroviral pada HIV juga akan tetapi tidak digunakan dalam pengobatan HIV.

Perlu diwaspadai timbulnya flare pada pasien ko-infeksi HIV- Hep B jika

pengobatan HIV yang menggunakan TDF/3TC dihentikan karena alasan apapun.Mulai

ART pada semua individu dengan ko-infeksi HIV/HBV yang memerlukan terapi untuk

infeksi HBV-nya (hepatitis kronik aktif), tanpa memandang jumlah CD4 atau stadium

klinisnya. Perhimpunan Peneliti Hati Indonesia (PPHI) merekomendasikan memulai

terapi hepatitis B pada infeksi hepatitis B kronik aktif jika terdapat peningkatan

SGOT/SGPT lebih dari 2 kali selama 6 bulan dengan HBeAg positif atau HBV DNA

positif. Adanya rekomendasi tersebut mendorong untuk dilakukan diagnosis HBV pada

HIV dan terapi yang efektif untuk ko-infeksi HIV/HBV. Gunakan paduan antiretroviral

yang mengandung aktivitas terhadap HBV dan HIV, yaitu TDF + 3TC atau FTC untuk

peningkatan respon VL HBV dan penurunan perkembangan HBV yang resistensi obat.

Pada pengobatan ARV untuk koinfeksi hepatitis B perlu diwaspadai munculnya

hepatic flare dari hepatitis B. Penampilan flare khas sebagai kenaikan tidak terduga dari

SGPT/SGOT dan munculnya gejala klinis hepatitis (lemah, mual, nyeri abdomen, dan

ikterus) dalam 6-12 minggu pemberian ART. Flares sulit dibedakan dari reaksi toksik

pada hati yang dipicu oleh ARV atau obat hepatotoksik lainnya seperti kotrimoksasol,

OAT, atau sindrom pulih imun hepatitis B. Obat anti Hepatitis B harus diteruskan selama

gejala klinis yang diduga flares terjadi. Bila tidak dapat membedakan antara kekambuhan

hepatitis B yang berat dengan gejala toksisitas ARV derajat 4, maka terapi ARV perlu

dihentikan hingga pasien dapat distabilkan. Penghentian TDF, 3TC, atau FTC juga dapat

Gambar

Gambar 2.1. Struktur sel HIV/ AIDS
Table 2.1. Stadium Klinik WHO: HIV/AIDS (2011)

Referensi

Dokumen terkait

Dengan demikian, karakteristik pengetahuan pekerja diarahkan pada ketiga hal tersebut yakni memberikan pengetahuan dan wawasan terkait dunia tempat mereka hidup,

Konstrain integritas adalah syarat yang dispesifikasikan pada skema basis data dan membatasi data yang dapat disimpan dalam basis data.. Jika basis data memenuhi semua

Penelitian di Korea pada tahun 2014 mengenai efek propofol dosis subhipnotik 0,3 mg/kgBB terhadap insidensi dan keparahan batuk terhadap 60 subjek penelitian yang menjalani

Pada penelitian ini kecenderungan ke arah yang demikian terlihat dengan semakin memanjangnya APTT pada kelompok yang tidak mengalami perbaikan, sedangkan pada kelompok

Serat Optik Sebuah Penghantar, edisi ke 3.. Fibers

Data-data dalam poliklinik Universitas Sam Ratulangi (UNSRAT) menggunakan kertas dan pulpen dengan disimpan pada meja petugas rekam medik, hal ini bisa menyebabkan

roaming wireless kemudian akan melakukan observasi untuk mengetahui Coverage Access Point pada wifi gedung A sampai gedung CXY, lalu setelah itu akan

Melalui langkah-langkah yang khusus ini, objektif, bahan bantu mengajar, dan aktiviti khusus yang bersesuaian dengan masalah yang dihadapi oleh murid hendaklah