• Tidak ada hasil yang ditemukan

Daftar Isi. KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... iii RINGKASAN EKSEKUTIF... iv

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Daftar Isi. KATA PENGANTAR... ii DAFTAR ISI... iii RINGKASAN EKSEKUTIF... iv"

Copied!
135
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

Daftar Isi

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iii

RINGKASAN EKSEKUTIF ... iv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang ... 1

B. Kedudukan, Tugas Pokok, dan Fungsi ... 3

C. Struktur Organisasi ... 4

D. Aspek Strategis ... 5

E. Sistematika Penyajian ... 5

BAB II PERENCANAAN KINERJA ... 8

A. Rencana Strategis 2012 - 2017 ... 8

B. Perjanjian Kinerja ... 9

BAB III AKUNTABILITAS KINERJA ... 11

A. Capaian Kinerja Organisasi ... 11

B. Realisasi Anggaran ... 43

BAB IV PENUTUP ... 46

A. Simpulan ... 46

B. Saran ... 46 LAMPIRAN

Lampiran I – Indikator Kinerja Utama (IKU).

Lampiran II – Perjanjian Kinerja Tahun 2014

Lampiran III – Matriks Pengukuran Kinerja Badan Investasi dan Promosi Tahun Anggaran 2014.

Lampiran IV – Jadwal Kerja Badan Investasi dan Promosi Aceh Tahun 2014. Lampiran V – Dokumentasi Foto dan Berita Kegiatan Tahun 2014.

Lampiran VI – Rekam Jejak P2K-APBA.

(4)

Ringkasan Eksekutif

Badan Investasi dan Promosi mempunyai kedudukan dan peran strategis dalam melaksanakan prioritas ketujuh RPJMN 2010-2014 yaitu perbaikan iklim investasi dan usaha. Untuk itu, seluruh program kerja Badan Investasi dan Promosi didasarkan pada tujuan, sasaran strategis dan target kinerja yang telah ditetapkan pada Rencana Strategis (Renstra) Badan Investasi dan Promosi tahun 2012-2017 secara konsisten, terus menerus dan berkesinambungan sebagai terjemahan dari Rencana Pembangunan Jangka Menengah Aceh (RPJMA) Tahun 2012-2017.

Secara keseluruhan, tingkat pencapaian kinerja Badan Investasi dan Promosi pada tahun 2014 adalah sebesar 93,84%.

Secara umum dapat disimpulkan bahwa telah terjadi peningkatan realisasi investasi di Aceh selama tahun 2014. Realisasi PMA dan PMDN adalah sebesar Rp 6,226 triliun, atau mengalami peningkatan sebesar 22,31 persen dibandingkan dengan tahun 2013 yang hanya sebesar Rp 5,091 triliun. Ini melampaui target yang dicanangkan dalam Renstra Badan Investasi dan Promosi Aceh 2012-2017.

Data tahun 2014 menunjukkan bahwa terjadi serapan tenaga kerja Indonesia sebanyak 19.912 orang pada 197 proyek/perusahaan, baik PMA maupun PMDN, yang tersebar pada hampir seluruh kabupatenupaten/kota di Aceh.

Untuk investasi baru di tahun 2014, sebanyak 58 perusahaan/proyek mulai membuka usaha di Aceh dengan komitmen investasi sebesar Rp 23.472.861.900.000,- atau menurun 7,79% dari rencana investasi tahun 2013 sebesar Rp 25.455.911.680.000,-.

Rincian capaian kinerja masing-masing indikator kinerja utama (IKU) dapat diilustrasikan dalam tabel berikut.

(5)

Tabel Pengukuran Kinerja Badan Investasi dan Promosi Aceh Tahun 2014

Untuk anggaran, pagu untuk Badan Investasi dan Promosi pada tahun 2014 adalah sebesar Rp 21.949.722.043,- (dua puluh satu miliar sembilan ratus empat puluh

sembilan juta tujuh ratus dua puluh dua ribu empat puluh tiga rupiah). Sedangkan

realisasinya per 31 Desember 2014 adalah Rp 20.597.137.390,- (dua puluh miliar lima

ratus sembilan puluh tujuh juta seratus tiga puluh tujuh ribu tiga ratus sembilan puluh rupiah) atau 93,84% dari pagu anggaran. Kinerja ini dinilai oleh Tim Pengendali dan

Percepatan Kegiatan (P2K) APBA sebagai prestasi yang sangat bagus (kategori biru).

Sasaran Strategis

16.1 Jumlah nilai realisasi investasi (PMDN/PMA)

2,300,000,000,000

Rupiah 6,226,851,054,556 Rupiah 270.73 %

16.2 Rasio daya serap tenaga kerja

1:140 Rasio 1:101 Rasio 72.14 %

16.3 Persentase kenaikan nilai rencana investasi

15 % 287.41 % 1916.04 %

16.4 Jumlah Perusahaan yang Mendapat Persetujuan (Izin) Penanaman Modal

72 Prsh 58 Prsh 80.56 %

Indikator Kinerja Target Realisasi

Persentase Tingkat Capaian

Target (%)

Meningkatnya Investasi Dalam Negeri dan Investasi Asing

(6)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Penanaman modal atau investasi adalah salah-satu penggerak utama pertumbuhan ekonomi suatu negara. Tantangannya adalah bagaimana meningkatkan minat calon-calon penanam modal (investor) dalam negeri dan luar negeri (asing) untuk menanamkan modalnya di suatu daerah. Upaya ini dipengaruhi oleh berbagai faktor, yaitu kepastian hukum, stabilitas politik dan keamanan, dan kebijakan pemerintah. Faktor-faktor ini dalam lima tahun ke depan masih memerlukan perhatian khusus dalam rangka meningkatkan investasi di Aceh. Perhatian ini perlu direncanakan, dilaksanakan, dipantau, dan dievaluasi setiap tahun.

Kepastian hukum sangat dibutuhkan dalam upaya menarik minat calon-calon penanam modal (investor). Ini ditandai oleh keselarasan regulasi bidang penanaman modal, baik di tingkat nasional maupun daerah. Sebaliknya, produk-produk hukum yang tumpang-tindih atau saling bertentangan akan membingungkan dan menyulitkan calon-calon penanam modal (investor) dalam menjalankan dan mengembangkan usahanya. Karena itu, pembenahan legislasi bidang penanaman modal perlu terus dilakukan.

Faktor lain yang tidak kalah penting adalah stabilitas politik dan keamanan. Dari pelaksanaan tugas di bidang penanaman modal pada tahun-tahun sebelumnya dapat disimpulkan bahwa salah-satu penyebab tidak kondusifnya iklim investasi di Aceh adalah karena masih belum adanya pemahaman yang sama dari masyarakat akan arti pentingnya investasi bagi pemulihan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Ini ditandai oleh adanya gangguan-gangguan dari sebagian masyarakat; harga tanah yang tidak rasional; serta penolakan lainnya yang menyebabkan calon-calon penanam modal (investor) tidak dapat melakukan kegiatan investasi atau perluasan usaha di Provinsi Aceh. Karena faktor ini tidak dapat langsung dikendalikan oleh

(7)

dengan Kepolisian, Pemerintah Kabupaten/Kota, Pemerintah di tingkat Desa/Kampung hingga dengan masyarakat luas secara berkesinambungan. Bahkan, peran masyarakat melalui partai politik nasional dan lokal di Aceh menjadi begitu penting pasca MoU Helsinki yang diimplementasikan melalui Undang-Undang No, 11 Tahun 2006 tentang Pemerintahan Aceh.

Hal ketiga yang menjadi faktor utama bagi kegiatan penanaman modal adalah kebijakan pemerintah. Prinsip dasarnya adalah bahwa kegiatan penanaman modal akan semakin besar kualitas dan kuantitasnya jika pemerintah mempermudah perizinan dan pelayanan lain di bidang penanaman modal. Karena itu, upaya perbaikan regulasi untuk meningkatkan minat calon-calon penanam modal (investor) baru terus dilakukan berdasarkan masukan dari dunia usaha dan belajar dari pengalaman negara lain.

Sebagaimana telah dilakukan dalam lima tahun terakhir, berbagai investasi di Aceh perlu didorong untuk terus berkembang, baik investasi berfasilitas, investasi non-fasilitas, investasi rumah tangga, maupun investasi pemerintah. Investasi pihak swasta perlu ditumbuhkembangkan karena investasi dari pemerintah sangat terbatas dan hanya pada sektor non-profit yang tidak diminati oleh pihak swasta, seperti penyediaan sarana dan prasarana umum (infrastruktur). Selain itu, peningkatan kualitas dan kuantitas tenaga kerja lokal untuk mengisi pasar tenaga kerja lokal juga dilakukan secara beriringan agar kegiatan penanaman modal di Aceh dapat betul-betul dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Dengan lahirnya Undang-undang Pemerintahan Aceh No. 11 Tahun 2006 dan terbentuknya pemerintahan yang lebih otonom, maka Pemerintah Aceh melalui Badan Investasi dan Promosi Aceh dapat bertugas lebih mandiri untuk melaksanakan penyusunan perencanaan Penanaman Modal secara makro; mengidentifikasi potensi unggulan daerah; melakukan kegiatan promosi potensi daerah; menyusun regulasi perizinan penanaman modal; sekaligus melakukan pengendalian dan pengawasan serta kerjasama dalam bidang penanaman modal.

Untuk tercapainya peningkatan investasi di Provinsi Aceh, perlu dibuat suatu acuan dalam pelaksanaan tugas Badan Investasi dan Promosi Aceh, sehingga potensi daerah dapat dijadikan sebagai sumber peningkatan pendapatan daerah dan

(8)

pendapatan untuk kesejahteraan masyarakat. Acuan yang digunakan adalah dalam bentuk Rencana Strategis (Renstra) yang menggambarkan Visi, Misi, Tujuan, Sasaran, Strategi, Kebijakan, Program dan Kegiatan Badan Investasi dan Promosi Aceh.

Rencana Strategis Badan Investasi dan Promosi Aceh kemudian diwujudkan dengan berbagai program dan kegiatan setiap tahun selama lima tahun. Tahun 2014 adalah tahun kedua pelaksanaan Rencana Strategis 2012-2017 Badan Investasi dan Promosi yang perlu dilaporkan akuntabilitasnya melalui suatu Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah (LAKIP).

B. Kedudukan, Tugas Pokok, dan Fungsi

Berdasarkan Qanun No. 5 Tahun 2007 Bagian Keenam tentang Susunan Organisasi dan Tata Kerja Dinas, Lembaga Teknis Daerah, dan Lembaga Daerah Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam; Badan Investasi dan Promosi Aceh mempunyai

tugas umum Pemerintahan dan Pembangunan di bidang pengembangan investasi dan

promosi berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang berlaku.

Untuk melaksanakan tugas di atas, Badan Investasi dan Promosi Aceh memiliki fungsi:

1. Pelaksanaan urusan ketatausahaan Badan;

2. Penyusunan program kerja tahunan, jangka menengah dan jangka panjang; 3. Penyusunan dan perumusan kebijakan teknis di bidang investasi dan promosi; 4. Peningkatan keterpaduan penyusunan rencana dan program antar instansi terkait

di daerah di bidang investasi dan promosi;

5. Pemberian rekomendasi, perizinan, pendaftaran perusahaan dan pelaksanaan pelayanan umum lintas kabupatenupaten/kota di bidang investasi dan promosi; 6. Pembinaan dan pengembangan investasi dan promosi;

7. Pemantauan dan pengawasan operasional pelaksanaan investasi;

8. Promosi, informasi dan pameran bagi upaya pengembangan investasi; dan 9. Pembinaan Unit Pelaksana Teknis badan (UPTB).

(9)

Untuk menyelenggarakan fungsi dimaksud, Badan Investasi dan Promosi Aceh mempunyai kewenangan:

1. Menyediakan dukungan pengembangan kawasan investasi;

2. Merencanakan dan mengendalikan pembangunan secara makro di bidang investasi dan promosi;

3. Melaksanakan pelatihan bidang investasi;

4. Melakukan kerjasama dalam bidang investasi dengan Kabupaten/Kota; 5. Melaksanakan pembinaan sumber daya manusia di bidang pengelolaan pasar;

6. Melaksanakan promosi dan menyelenggarakan pameran, kerjasama luar negeri bagi keperluan investasi serta mengkoordinasikan pelaksanaan kegiatan investasi dan promosi; dan

7. Menyediakan dukungan fasilitas pengembangan kawasan investasi serta

merencanakan kawasan investasi.

C. Struktur Organisasi

Semua tugas, fungsi, dan kewenangan yang disebutukan di atas dikelola melalui struktur organisasi berikut:

1. Kepala Badan; 2. Sekretariat;

3. Bidang Program dan Pelaporan; 4. Bidang Promosi;

5. Bidang Perizinan;

6. Bidang Pengembangan Investasi;

Selain struktur formal di atas, Badan Investasi dan Promosi Aceh juga membentuk Pusat Data dan Informasi (PUSDATIN) Investasi Aceh yang berfungsi sebagai pengumpul, penyimpan, pengolah, dan penyebar data dan informasi yang diterbitkan oleh Perangkat Daerah Provinsi bidang Penanaman Modal (PDPPM) di Aceh ini.

(10)

D. Aspek Strategis

Peraturan Presiden Nomor 5 Tahun 2010 tentang Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010-2014 telah menetapkan 11 prioritas nasional yaitu

1. Reformasi birokrasi dan tata kelola; 2. Pendidikan;

3. Kesehatan;

4. Penanggulangan kemiskinan; 5. Ketahanan pangan;

6. Infrastruktur;

7. Iklim investasi dan usaha; 8. Energi;

9. Lingkungan hidup dan penanganan bencana;

10. Daerah tertinggal, terdepan, terluar, dan paska konflik; serta 11. Kebudayaan, kreativitas, dan inovasi teknologi.

Mengacu pada poin ketujuh di atas dapat dilihat bahwa peran strategis Badan Investasi dan Promosi Aceh yang dalam bidang penanaman modal untuk mewujudkan iklim investasi dan usaha sebagai prioritas yang direncanakan dalam jangka waktu lima tahun (jangka menengah).

E. Sistematika Penyajian

Pada dasarnya laporan akuntabilitas ini memberikan penjelasan mengenai pencapaian kinerja Badan Investasi dan Promosi Aceh selama Tahun 2014. Capaian kinerja (performance results) tersebut diperbandingkan dengan Penetapan Kinerja (performance agreement) Tahun 2014 sebagai tolok ukur keberhasilan Tahunan organisasi. Analisis atas capaian kinerja terhadap rencana kinerja ini akan memungkinkan diidentifikasikannya sejumlah celah kinerja (performance gap) bagi

(11)

Sistematika penyajian LAKIP Badan Investasi dan Promosi Aceh Tahun 2014 berpedoman pada Peraturan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Nomor 29 Tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja dan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah dengan mengambil contoh praktis pada LAKIP Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara tahun 2011.

Adapun sistematika penyajian laporan ini adalah sebagai berikut :

● Bab I – Pendahuluan, menyajikan penjelasan umum organisasi, dengan

penekanan kepada aspek strategis organisasi serta permasalahan utama (strategic issued) yang sedang dihadapi organisasi.

● Bab II – Perencanaan Kinerja, menguraikan ringkasan/ikhtisar perjanjian

kinerja tahun 2014.

● Bab III – Akuntabilitas Kinerja.

A. Capaian Kinerja Organisasi

Pada sub bab ini disajikan capaian kinerja organisasi untuk setiap pernyataan kinerja sasaran strategis Organisasi sesuai dengan hasil pengukuran kinerja organisasi. Untuk setiap pernyataan kinerja sasaran strategis tersebut dilakukan analisis capaian kinerja sebagai berikut:

1. Membandingkan antara target dan realisasi kinerja tahun ini;

2. Membandingkan antara realisasi kinerja serta capaian kinerja tahun ini dengan tahun lalu dan beberapa tahun terakhir;

3. Membandingkan realisasi kinerja sampai dengan tahun ini dengan target jangka menengah yang terdapat dalam dokumen perencanaan strategis organisasi;

4. Membandingkan realisasi kinerja tahun ini dengan standar nasional (BKPM);

5. Analisis penyebab keberhasilan/kegagalan atau peningkatan/penurunan kinerja serta alternative solusi yang telah dilakukan;

6. Analisis atas efisiensi penggunaan sumber daya;

7. Analisis program/kegiatan yang menunjang keberhasilan ataupun kegagalan pencapaian pernyataan kinerja).

(12)

B. Realisasi Anggaran

Pada sub bab ini diuraikan realisasi anggaran sesuai dengan dokumen perjanjian kinerja guna mewujudkan kinerja organisasi.

● Bab IV Penutup, menguraikan simpulan umum atas capaian kinerja

organisasi serta langkah di masa mendatang yang akan dilakukan organisasi untuk meningkatkan kinerjanya.

● Lampiran.

1. Perjanjian Kinerja.

(13)

BAB II

PERENCANAAN KINERJA

A. Rencana Strategis Tahun 2012-2017

Rencana Strategis (Renstra) Badan Investasi dan Promosi Aceh merupakan perencanaan jangka menengah yang berisi tentang gambaran sasaran atau kondisi hasil yang akan dicapai dalam kurun waktu lima tahun beserta strategi yang akan dilakukan untuk mencapai sasaran sesuai dengan tugas, fungsi dan peran yang diamanahkan kepadanya.

Penyusunan Renstra 2012-2017 Badan Investasi dan Promosi Aceh mengacu pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah (RPJM) Aceh tahun 2012-2017, khususnya terkait dengan prioritas pembangunan bidang penanaman modal. Karena RPJMA 2012-2017 baru ditetapkan pada Desember 2013, beberapa penyesuaian dilakukan terhadap Renstra tersebut. Secara ringkas, subtansi Renstra 2012-2017 Badan Investasi dan Promosi Aceh dapat diilustrasikan sebagai berikut:

1. Visi

Visi Badan Investasi dan Promosi Aceh adalah “Aceh Menjadi Salah-Satu Daerah Investasi Utama Tahun 2017”.

2. Misi

Dalam rangka mewujudkan visinya, Badan Investasi dan Promosi Aceh menetapkan tiga misi, yaitu:

a. Meningkatkan Percepatan Reformasi Birokrasi Bidang Penanaman Modal;

(14)

c. Melaksanakan Integrasi Perencanaan dan Pengendalian Penanaman Modal dengan Pemerintah, Pemerintah Aceh, Pemerintah Kabupaten/Kota, Swasta, Perbankan dan Masyarakat.

Berdasarkan visi dan misi yang telah ditetapkan, Badan Investasi dan Promosi Aceh menetapkan tiga (3) tujuan yang akan dicapai oleh organisasi dalam jangka waktu sampai tahun 2017, yaitu :

1. Meningkatkan efektifitas promosi dan kualitas pelayanan penanaman modal. 2. Meningkatkan iklim investasi dan realisasi investasi.

3. Meningkatkan kualitas perencanaan bidang penanaman modal.

Setelah tujuan ditetapkan, kemudian ditentukan pula sasaran yang akan ditempuh agar tujuan dimaksud dapat tercapai. Adapun sasaran jangka menengah dari Badan Investasi dan Promosi Aceh adalah :

1. Meningkatnya jumlah penanam modal. 2. Meningkatnya realisasi investasi.

3. Tercapainya perencanaan bidang penanaman modal yang komprehensif.

B. Perjanjian Kinerja

Di antara sasaran dan indikator kinerja di atas, terdapat sasaran yang strategis dan Indikator Kinerja Utama (IKU) yang menjadi bagian dari Perjanjian Kinerja Kepala Badan Investasi dan Promosi Aceh kepada Gubernur Aceh. IKU ini adalah ukuran keberhasilan organisasi dalam mencapai sasaran strategis organisasi. Penetapan IKU telah mengacu pada Renstra Badan Investasi dan Promosi Aceh serta RPJMA tahun 2012-2017.

Adapun Sasaran Strategis dan IKU Badan Investasi dan Promosi Aceh adalah sebagai berikut:

(15)

No. Sasaran Strategis Indikator Kinerja Utama

1 Meningkatnya jumlah

penanaman modal.

 Jumlah nilai realisasi investasi.

 Persentase kenaikan nilai realisasi investasi.

 Rasio daya serap tenaga kerja.

2 Meningkatnya realisasi

investasi.

 Jumlah perusahaan yang mendapat

persetujuan (izin) penanaman modal.

 Jumlah nilai rencana investasi.

 Persentase kenaikan nilai rencana investasi.

Tabel 2.1. Indikator Kinerja Utama (IKU) Badan Investasi dan Promosi.

Untuk Tahun Anggaran 2014, Kepala Badan Investasi dan Promosi Aceh telah menandatangani Perjanjian Kinerja sebagaimana dimuat dalam Lampiran I mengikuti Rencana Strategis 2012-2017. Isinya adalah sebagaimana ditunjukkan tabel 2.2. di bawah ini.

Sasaran 1: Meningkatnya jumlah penanaman modal.

Jumlah Perusahaan yang mendapat persetujuan

(izin) penanaman modal 72 Perusahaan

Rasio daya serap tenaga kerja 1:140

Jumlah nilai realisasi investasi. 2.300.000.000.000 rupiah

Sasaran 2: Meningkatnya realisasi investasi.

Jumlah nilai rencana investasi. 7.302.500.000.000 rupiah

Persentasi kenaikan nilai rencana investasi. 15 %

(16)

BAB III

AKUNTABILITAS KINERJA

A. Capaian Kinerja Organisasi

Pengukuran tingkat capaian kinerja Badan Investasi dan Promosi Aceh tahun 2014 dilakukan dengan cara:

1. Membandingkan antara target dengan realisasinya.

2. Membandingkan antara realisasi kinerja serta capaian kinerja tahun ini dengan tahun lalu dan beberapa tahun terakhir.

3. Membandingkan realisasi kinerja sampai dengan tahun ini dengan target jangka menengah yang terdapat dalam dokumen perencanaan strategis organisasi.

4. Membandingkan realisasi kinerja tahun ini dengan standar nasional dari BKPM.;

Adapun capaian realisasi Perjanjian Kinerja tahun 2014 Badan Investasi dan Promosi Aceh adalah sebagaimana tertuang dalam Tabel 3.1. Secara kumulatif, realisasi PMA dan PMDN pada tahun 2014 sebesar Rp 6,226 triliun, atau mengalami peningkatan sebesar 22,31 persen dibandingkan dengan tahun 2013 yang hanya sebesar Rp 5,091 triliun. Ini melampaui target yang dicanangkan dalam Renstra Badan Investasi dan Promosi Aceh 2012-2017.

Sasaran Indikator Sasaran Target Realisasi

Persentase Tingkat Capaian

Target (%) 1. Jumlah Perusahaan yang

mendapat persetujuan (izin) penanaman modal.

72 Perusahaan 58 Perusahaan 80.56

2. Rasio daya serap tenaga kerja. 1:140 1:101 72.14

3. Jumlah nilai realisasi investasi. 2.300.000.000.000 rupiah

6.226.851.054.556 rupiah

270.73 1. Jumlah nilai rencana investasi. 7.302.500.000.000

rupiah

23.472.861.900.000 rupiah

321.44

2. Persentasi kenaikan nilai rencana investasi. 15% -7.79% -51.93 Sasaran 2: Meningkatnya realisasi investasi. Sasaran 1: Meningkatnya jumlah penanaman modal.

(17)

Gambar 3.1 menunjukkan perkembangan yang terjadi pada tahun 2014 dibandingkan dengan empat tahun sebelumnya serta posisi relatif pencapaian target lima tahunan Rencana Strategis 2012-2017 pada tahun kedua ini.

Gambar 3.1. Perkembangan Realisasi Investasi Aceh hingga Tahun 2014

Peningkatan realisasi investasi pada tahun 2014 menunjukkan bahwa iklim investasi semakin membaik. Kepatuhan perusahaan dalam menyampaikan Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM) juga semakin meningkat. Seiring dengan itu, permasalahan penanaman modal terus diupayakan penyelesaiannya melalui forum taskforce yang melibatkan pemerintah pusat, provinsi maupun Kabupaten/Kota.

Realisasi investasi yang terus mengalami peningkatan ini diharapkan dapat membuka lapangan kerja seluas-luasnya untuk mengatasi pengangguran dan mendorong peningkatan pertumbuhan ekonomi Aceh. Data tahun 2014

(18)

orang pada 197 proyek/perusahaan, baik PMA maupun PMDN, yang tersebar pada hampir seluruh kabupatenupaten/kota di Aceh.

Rasio tenaga kerja mengalami penurunan karena tahun 2014 banyak perusahaan jasa yang menyampaikan laporannya, untuk perusahaan sektor jasa dan sektor perdagangan penggunaan tenaga kerja relatif lebih kecil, sementara sektor perkebunan banyak menyerap tenaga kerja.

Untuk investasi baru di tahun 2014, sebanyak 58 perusahaan/proyek mulai

membuka usaha di Aceh dengan komitmen investasi sebesar

Rp 23.472.861.900.000,- atau menurun (7.79)% dari tahun 2013 dimana total

nilai rencana investasi PMA dan PMDN Rp 25.455.911.680.000,-. Yang

selanjutnya perlu dilakukan adalah melakukan pembinaan dan pendampingan agar mereka mendapat izin-izin turunan di daerah sehingga semakin cepat melakukan realisasi investasi.

Jika dilihat catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI dalam hal realisasi investasi, maka dapat diketahui bahwa pada Triwulan IV-2014, untuk PMDN, Aceh berada pada peringkat ke-8 dengan realisasi Rp 1.900,6 (Rp juta) dari 52 proyek. Sedangkan untuk PMA, Aceh berada pada peringkat ke-30 dengan realisasi USD 12,8 (USD ribu) dari 38 proyek.

BKPM juga menyebutkan bahwa secara keseluruhan, pada tahun 2014 Aceh berada pada peringkat ke-9 untuk PMDN dengan realisasi Rp 5.110,3 (Rp juta) dari 75 proyek. Sedangkan untuk PMA, Aceh berada pada peringkat ke-29 dengan realisasi USD 31,1 (USD ribu) dari 49 proyek. Jadi, total realisasi Investasi Aceh Tahun 2014 adalah sebesar Rp 5.436.850.000 dan ini berarti mencapai target yang telah ditetapkan BKPM untuk Aceh, yaitu Rp 5,4 Triliun. Perbedaan pencatatan realisasi antara BKPM dan Badan Investasi dan Promosi disebabkan oleh teknik pencatatan yang berbeda. BKPM mencatat secara elektronik dengan aplikasi web SPIPISE (Sistem Pelayanan Informasi dan Perizinan Investasi secara Elektronik), sementara Badan Investasi dan Promosi

(19)

Dalam database SPIPISE hanya tersedia perusahaan yang memiliki perizinan penanaman modal. Sedangkan perusahaan yang tidak memiliki perizinan penanaman modal juga diwajibkan untuk melapor secara manual Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM), tetapi dokumen perizinan daerah harus disampaikan kepada Pusdatin BKPM, lalu Pusdatin memasukkan dalam database SPIPISE. Untuk memasukkan database perizinan ke dalam SPIPISE membutuhkan waktu relatif lama, terjadi jeda sekitar satu triwulan, bahkan hingga satu tahun. Karena itu, urgensi penerapan SPIPISE oleh PTSP Kabupaten/ Kota sangat diperlukan. Saat ini baru PTSP provinsi (BP2T) dan beberapa Kabupaten/ Kota saja yang menerapkan SPIPISE perizinan oleh PTSP, padahal amanah RPJMN 2010-2014 diharapkan PTSP Kabupaten/Kota segera menerapkan SPIPISE perizinan.

Di sisi lain, sebagian perusahaan yang berkantor pusat di Jakarta mengirim langsung LKPM kepada BKPM, tetapi tidak ditembuskan kepada Badan Investasi dan Promosi Aceh. Sebagian lagi perusahaan hanya menyampaikan LKPM kepada provinsi dan Kabupaten/ Kota, tetapi tidak menyampaikan ke BKPM.

Patut diketahui bahwa Badan Investasi dan Promosi Aceh selalu melakukan konsolidasi data realisasi tiap triwulan, sehingga selisih pencatatan semakin mengecil.

Beberapa fakta menarik lain yang terjadi pada tahun 2014 adalah sebagai berikut.

 Ada 197 proyek/ perusahaan yang melakukan realisasi investasi di Aceh,

dan sebanyak 146 proyek atau 74 % di antaranya adalah PMDN.

 Kabupaten Aceh Tengah adalah lokasi favorit investor asing dengan total

PMA sebanyak 7 proyek/perusahaan.

 Kabupaten Aceh Tengah adalah lokasi favorit investor dalam negeri

(20)

 PMDN dengan realisasi investasi total tertinggi, yaitu Rp 1.2 Triliun adalah PT. PLN (persero) UIP I (PLTA Peusangan) dengan lokasi proyek di Kabupaten Aceh Tengah

 PMA dengan realisasi investasi total tertinggi, yaitu USD 7,6 juta, adalah

PT. Kamadhenu Ventures Indonesia dengan lokasi proyek di Kabupaten Aceh Tengah

 Bidang usaha Listrik, gas dan air memiliki realisasi investasi tertinggi

dengan total nilai Rp 2,27 Triliun (PMDN Rp 2,25 Triliun dan PMA Rp 14,72 Miliar).

Tantangan ke depan adalah bagaimana meningkatkan realisasi investasi asing dan domestik dengan menyederhanakan prosedur perizinan dan memperkuat kelembagaan penanaman modal dan PTSP. Demikian pula pengembangan agroindustri, infrastruktur pelabuhan dan jalan tembus, serta pengembangan pariwisata menjadi prioritas penanganan yang memerlukan dukungan segenap lapisan masyarakat. Selain itu, diperlukan peningkatan peran pemerintah provinsi dan Kabupaten/Kota agar dapat mendukung program prioritas pemerintah pusat melalui sektor listrik, infrastruktur, dan kemaritiman.

Di bawah ini disajikan uraian lengkap pelaksanaan 7 (tujuh) program utama oleh Badan Investasi dan Promosi Aceh dalam rangka meningkatkan pembangunan Aceh melalui bidang Penanaman Modal. Pada beberapa kegiatan disajikan:

1. Analisis penyebab keberhasilan/kegagalan atau peningkatan/penurunan kinerja serta alternatif solusi yang telah dilakukan;

2. Analisis atas efisiensi penggunaan sumber daya. dan

3. Analisis program/kegiatan yang menunjang keberhasilan ataupun kegagalan pencapaian pernyataan kinerja).

(21)

1. Program Pelayanan Administrasi Perkantoran

Secara umum, kebutuhan administrasi kantor pada tahun anggaran 2014 telah terpenuhi dan membuat tugas-tugas bidang penanaman modal dapat dilaksanakan dengan baik.

a. Kegiatan Penyediaan Jasa Surat Menyurat Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi pengiriman surat-surat dinas, belanja perangko, materai dan benda-benda pos lainnya serta pengiriman paket dinas. Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp 51.800.000,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp 48.278.070,- atau 93,20%. Hasil yang dapat dicapai adalah 100% kebutuhan perangko, materai dan pengiriman barang cetakan dalam dan luar negeri dapat dipenuhi.

b. Kegiatan Penyediaan Jasa Komunikasi Sumber Daya Air dan Listrik Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi pembayaran jasa rekening telepon 7 saluran, biaya air PDAM dan biaya rekening listrik kantor. Jangka waktu 12 bln Listrik; 12 blnTelepon; 12 bln Jasa Air. Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp 401.800.000,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp 312.192.797 atau 77,70%. Hasil yang dapat dicapai adalah 100% kebutuhan pembayaran listrik, telepon, dan air dapat dipenuhi.

c. Kegiatan Penyediaan Jasa Kebersihan Kantor Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi pembayaran honorarium pegawai honorer/tidak tetap dan pembelian peralatan kebersihan dan bahan kebersihan kantor. Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp 23.035.000,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp 23.034.000,- atau 99,99%. Hasil yang dapat dicapai adalah 1

(22)

(satu) unit gedung Badan Investasi dan Promosi dengan luasan lantai/lahan yang dikelola adalah Lt 1 = 1135m2; Lt 2 = 1135m2; dan halaman = 385m2 yang masuk pemeliharaan atau 100% dari yang direncanakan.

d. Kegiatan Penyediaan Alat Tulis Kantor Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi belanja alat tulis kantor. Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp 72.420.750,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp 72.418.000,- atau 99,99%. Hasil yang dapat dicapai adalah 100% kebutuhan alat tulis kantor dapat terpenuhi.

e. Kegiatan Penyediaan Barang Cetakan & Penggandaan Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi pencetakan dokumen-dokumen dinas dan foto copy surat-surat dan blangko kedinasan. Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp 102.400.000,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp 100.867.000,- atau 98,50%. Hasil yang dapat dicapai adalah 100% barang cetakan dan penggandaan dapat dipenuhi.

f. Kegiatan Penyediaan Komponen Instalasi Listrik/Penerangan

Bangunan Kantor Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi pembelian alat-alat listrik dan elektronik (lampu pijar battery kering). Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp 21.246.000,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp 21.245.000,- atau 99,99%. Hasil yang dapat dicapai adalah 100% alat-alat listrik dan elektronik yang dibutuhkan dapat tersedia.

(23)

Kegiatan ini meliputi honorarium tim pengadaan/pemeriksaan barang dan jasa, biaya dekorasi dan spanduk untuk keperluan hari-hari besar dan biaya publikasi media cetak. Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp 1.528.510.000,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp 1.527.680.000,- atau 99,95%. Hasil yang dapat dicapai adalah tersedia Mesin Hitung Uang 1 Unit, UPS 1 Unit, Laptop 2 Unit, Komputer 1 Unit, Sofa 1 Unit, Kursi 3 Unit, AC 6 Unit, AC Portable 3 Unit, Printer 8 Unit, Meja 15 Unit, Mesin Fax 1 Unit, LED TV 1 Unit atau 100% dari yang direncanakan.

h. Kegiatan Penyediaan Bahan Bacaan dan Peraturan Perundang-Undangan

Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi belanja surat kabar/majalah (Serambi Indonesia;Kompas; Waspada;Majalah Tempo) buku-buku sebagai sumber informasi dan peraturan yang ada. Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp 25.000.000,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp 24.510.000,- atau 98,04%. Hasil yang dapat dicapai adalah 100% kebutuhan koran, majalah, buku perundang-undangan dapat dipenuhi dengan baik.

i. Kegiatan Penyediaan Makanan dan Minuman Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi penyediaan makanan dan minuman keperluan rapat dan untuk tamu. Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp 100.700.000,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp 58.862.000,- atau 58,45%. Hasil yang dapat dicapai adalah pelayanan makan minum rapat dan tamu dapat dilaksanakan dengan baik sesuai kebutuhan atau 100% dari yang direncanakan.

j. Kegiatan Rapat-Rapat Koordinasi & Konsultasi ke Luar Daerah Pelaksanaan :

(24)

Kegiatan ini meliputi rapat-rapat koordinasi & konsultasi ke luar daerah. Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp 204.450.000,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp 202.801.300,- atau 99,19%. Dari target 24 orang keikutsertaan rapat koordinasi dan konsultasi di luar daerah, hasil yang dapat dihadiri dari target 24 orang dapat dilaksanakan dengan baik sesuai kebutuhan atau 100% dari yang direncanakan.

k. Kegiatan Peningkatan Pelayanan Administrasi Perkantoran Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi peningkatan pelayanan administrasi perkantoran. Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp 430.300.000,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp 428.700.000,- atau 99,63%. Hasil yang dapat dicapai adalah Ketersedianya pegawai kontrak dapat dilaksanakan dengan baik sesuai kebutuhan atau 100% dari yang direncanakan.

2. Program Peningkatan Sarana dan Prasarana Aparatur

Secara umum, kebutuhan sarana dan prasarana aparatur pada tahun 2014 telah terpenuhi dan membuat tugas-tugas bidang penanaman modal dapat dilaksanakan dengan baik.

a. Kegiatan Pemeliharaan Rutin/Berkala Kendaraan Dinas/Operasional Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi pembelian suku cadang mobil dinas, pembelian suku cadang roda-2, pembelian bahan bakar dan pelumas mobil dan kendaraan roda-2, belanja Surat Tanda Kendaraan Bermotor (STNK) mobil dan kendaraan roda-2. Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp 187.660.000,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp 179.365.607,- atau 95,58%. Hasil yang dapat dicapai adalah 6 unit roda empat dan 4 unit

(25)

roda dua dapat dirawat dan dioperasikan dengan baik atau 100% dari yang direncanakan.

b. Kegiatan Pemeliharaan Rutin/Berkala Perlengkapan Gedung Kantor Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi jasa service peralatan dan perlengkapan kantor. Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp 193.000.000,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp 192.854.000,- atau 99,92%. Hasil yang dapat dicapai adalah beberapa item perlengkapan kantor, yaitu AC 25 unit; komputer 20 unit; mesin genset 1 unit; mesin fotocopy 2 unit dapat dirawat dan digunakan sesuai fungsinya. Capaian realisasi kegiatan ini adalah 100% dari yang direncanakan.

c. Kegiatan Pemeliharaan Rutin/Berkala Taman, Tempat Parkir dan Halaman Kantor

Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi pemeliharaan taman, tempat parkir dan halaman kantor. Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp 50.000.000,- dan direalisasikan sebesar Rp 50.000.000,- atau 100%. Hasil yang dapat dicapai adalah terpeliharanya taman, tempat parkir, dan halaman kantor dengan baik atau 100% dari yang direncanakan.

d. Kegiatan Rehabilitasi Sedang/Berat Rumah Gedung Kantor Pelaksanaan :

Kegiatan ini terdiri dari 4 paket pekerjaan rehabilitasi terhadap gedung kantor, terutama pada bagian-bagian yang telah rusak atau tidak dapat digunakan sebagaimana fungsinya. Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp 690.200.000,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp 679.246.000,- atau 98,41%. Hasil yang dapat dicapai adalah rehab/penataan interior ruang sekretaris, ruang perizinan, ruang promosi,

(26)

dan pembuatan mushalla Badan Investasi dan Promosi dapat dirawat agar berfungsi dengan baik atau 100% dari yang direncanakan.

3. Program Peningkatan Disiplin Aparatur

Kegiatan ini meliputi tertib dan disiplin pakaian aparatur, hasil yang dapat dicapai adalah meningkatnya tertib dan disiplin pakaian aparatur dengan baik atau 100% dari yang direncanakan.

a. Kegiatan Pengadaan Pakaian Dinas Beserta Perlengkapannya Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi Pakaian dinas harian, linmas, pakaian satpam, dan pakaian tenaga kontrak. Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp 85.000.000,- dan direalisasikan sebesar Rp 85.000.000,- atau 100%. Hasil yang dapat dicapai adalah Tersedianya pakaian dinas harian, linmas, pakaian satpam, dan pakaian tenaga kontrak sebanyak 162 stel dengan baik atau 100% dari yang direncanakan.

b. Kegiatan Pengadaan Pakaian KORPRI Pelaksanaan :

Kegiatan ini meliputi pengadaan pakaian dinas KORPRI. Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp 29.000.000,- dan direalisasikan sebesar Rp 29.000.000,- atau 100%. Hasil yang dapat dicapai adalah Tersedianya pakaian dinas KORPRI sebanyak 58 stel dengan baik atau 100% dari yang direncanakan.

c. Kegiatan Pengadaan Pakaian Khusus Hari-Hari Tertentu Pelaksanaan :

(27)

Kegiatan ini meliputi pengadaan pakaian batik motif Aceh. Dana yang dianggarkan adalah sebesar Rp 29.000.000,- dan direalisasikan sebesar Rp 29.000.000,- atau 100%. Hasil yang dapat dicapai adalah Tersedianya pakaian batik motif Aceh sebanyak 58 stel dengan baik atau 100% dari yang direncanakan.

4. Program Peningkatan Promosi dan Kerjasama Investasi

Program ini dapat dikatakan berhasil dalam meningkatkan realisasi investasi PMA dan PMDN pada tahun 2014 sebanyak Rp 6.226.851.054.556,- dimana pada tahun 2013 realisasi investasi Rp 5.091.120.831.697,- sehingga tingkat pertumbuhan PMA dan PMDN pada tahun 2014 sebanyak 22,31 %. Nilai realisasi investasi tersebut didapat dari kegiatan pemantauan ke perusahaan-perusahaan di Kabupaten/Kota se-Aceh melalui Laporan Kegiatan Penanaman Modal (LKPM).

Minat investasi pada tahun 2014 sebanyak PMA 66 perusahaan/proyek, PMDN 18 perusahaan/proyek, dimana 39 PMDN dan 19 PMA telah mendapat persetujuan Izin Persetujuan (IP) pada tahun 2014.

Selain itu, program ini dapat dikatakan berhasil dalam meningkatkan realisasi investasi sebesar 6,226 triliun di akhir tahun 2014 karena telah melampaui ketetapan target investasi.

Di lain pihak, kegiatan promosi perlu diperbaiki kualitasnya dengan strategi membuat buku detailed planed yang menawarkan langsung proyek-proyek investasi baik infrastruktur maupun pengolahan komoditas unggulan. Keikutsertaan pada forum bisnis juga berubah dari sekedar peserta suatu event menjadi sebagai pembicara.

(28)

a. Kegiatan Pengawasan dan Evaluasi Kinerja dan Aparatur Badan Penanaman Modal Daerah

Kegiatan ini meliputi penguatan kelembagaan IPMK dan PTSP, evaluasi kinerja aparatur Penanaman Modal, menghadiri undangan rapat dan pembinaan bidang Penanaman Modal pada Kabupaten/Kota, dan mendampingi tamu BKPM/Instansi terkait & investor.

Pelaksanaan:

 Koordinasi dengan aparatur di daerah sebanyak 6 kali dari 1 kali yang

direncakan, dalam rangka Pegawasan dan evaluasi kinerja dan aparatur Badan Penanaman Modal pada Kabupaten/Kota.

 Cetak buku Analisis Jabatan & Angka Beban Kerja sebanyak 35 buku

dari 70 buku yang direncanakan.

 Cetak Buku Agenda Kerja Badan Investasi dan Promosi Aceh Tahun

2014 sebanyak 35 buah dari 200 buku yang direncanakan.

Dana yang dianggarkan untuk Kegiatan Pengawasan dan Evaluasi Kinerja dan Aparatur Badan Penanaman Modal Daerah adalah Rp 456.958.600,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp 441.356.977,-. Kegiatan ini dapat direalisasikan 96,59% dari yang direncanakan.

b. Kegiatan Peningkatan Kegiatan Pemantauan, Pembinaan dan Pengawasan Pelaksanaan Penanaman Modal

Pelaksanaan :

Yang dilaksanakan dalam kegiatan ini adalah:

 Pemantauan realisasi pelaksanaan penanaman modal baik PMDN

maupun PMA dari sumber dana APBA untuk dalam daerah, realisasi 8 kali dan luar daerah realisasi 3 kali. Dan untuk menghadiri rapat, BIMTEK, dan konsultasi luar daerah realisasi 9 kali.

(29)

maupun PMA dari sumber dana dekonsentrasi (APBN) untuk dalam daerah realisasi 34 kali, dan pemantauan dalam daerah realisasi 3 kali. Dan untuk menghadiri rapat, konsultasi, dan konsolidasi luar daerah realisasi 5 kali.

 Pengawasan kepada perusahaan yang memiliki permasalahan

penanaman modal, target 1 kali pengawasan, terlaksana 2 kali, capaian 200%.

 Bimbingan Teknis Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal yang

diikuti oleh Instansi Teknis dan Perusahaan. Dengan peserta 40 orang dari 40 orang yang ditargetkan (capaian 100%).

 Rapat Koordinasi Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal

ditargetkan sebanyak 1 kali, realisasi 1 kali (100%)

 Rapat Koordinasi dengan instansi teknis dan kabupaten/ kota

ditargetkan 3 kali, realisasi 3 kali, capaian 100%

 Rapat konsinyering realisasi pelaksanaan penanaman modal (APBN)

ditargetan 2 kali, realisasi 2 kali (100%)

 Rapat fasilitasi penyelesaian permasalahan penanaman modal

(Taskforce) target 2 kali, realisasi 2 kali (100%)

 Publikasi informasi terkait Laporan kegiatan Penanaman Modal

(LKPM). Kegiatan ini meliputi iklan pengumuman di media cetak

tentang kewajiban perusahaan untuk menyampaikan LKPM

sebagaimana amanah dari Perka BKPM No. 3 Tahun 2012 tentang Pedoman dan Tatacara Pengendalian Pelaksanaan Penanaman Modal. Dari target 2 kali, dapat diaksanakan sebanyak 3 kali (capaian 150%).

Dari hasil pemantauan data realisasi LKPM yang disampaikan tahun 2014, jumlah realisasi perusahaan/ proyek mencapai 197 proyek, dengan PMDN 146 proyek dan PMA 51 proyek, dengan total realisasi investasi PMA dan PMDN sebesar Rp 6.226.851.054.556. Hasil ini menunjukkan bahwa kegiatan pemantauan mengalami perbaikan yang sangat signifikan. Pembinaan dan pemantauan yang dilakukan serta pelaporan LKPM

(30)

melalui email telah meningkatkan kepatuhan perusahaan untuk menyampaikan LKPM.

Jumlah serapan tenaga kerja tahun 2014 sebanyak 20.038 orang dengan penggunaan Tenaga Kerja Indonesia (TKI) 19. 922 orang dan Tenaga Kerja Asing (TKA) 116 orang.

Dari jumlah perusahaan dan tenaga kerja dapat diketahui bahwa rasio penyerapan tenaga kerja adalah 1:102.

Dana yang dianggarkan untuk Kegiatan Peningkatan Pemantauan, Pembinaan dan Pengawasan Pelaksanaan Penanaman Modal yang bersumber dari APBA adalah sebesar Rp 511.240.000,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp 478.789.123,- atau 93,65%.

Permasalahan :

● Banyak perusahaan yang belum patuh melaporkan LKPM secara tepat

waktu dan berkesinambungan, alamat perusahaan sering berubah tapi tidak dilaporkan, dokumen perusahaan tidak tersedia di lokasi proyek, sehingga menyulitkan perolehan data dan informasi di lokasi, serta wakil perusahaan yang dihubungi masih belum semua mengetahui perkembangan realisasi investasi perusahaannya.

● Perusahaan masih sedikit yang menyampaikan LKPM melalui

SPIPISE, padahal sebagian sudah mendapatkan kode akses.

● Instansi penanaman modal Kabupaten/Kota belum melakukan

koordinasi secara optimal dengan perusahan yang berada dilokasi masing-masing. Masih sedikit dari Instansi penanaman modal Kabupaten/Kota yang melaksanakan kegiatan pembinaan dan pengendalian pelaksanaan penanaman modal.

(31)

menindaklanjuti hasil rapat taskforce. Tim Taskforce belum melakukan kunjungan lapangan.

● Tenaga evaluasi LKPM masih kurang, baik dari segi jumlah maupun

kompetensinya. Demikian pula kendaraan operasional yang mampu beroperasi di segala medan belum tersedia.

● Kapasitas tim pemantauan masih belum memadai.

● Hasil kajian belum disosialisasikan dan menyebutkan bahwa masih

terdapat kendala status tanah dalam dari sebagian dalam kawasan industri Lhokseumawe.

Solusi :

 Perlu adanya tambahan tenaga evaluasi LKPM untuk melakukan

verifikasi atas LKPM yang diterima dengan mengoptimalkan SDM yang ada di kantor.

 Perlu sistem elektronik input data LKPM yang mudah dipakai petugas

untuk mempercepat dan memperkecil kesalahan database.

 Perlu adanya kendaraan yang bisa masuk ke lokasi proyek terutama

untuk proyek perkebunan dan pertambangan.

 Menegur perusahaan yang tidak menyampaikan LKPM melalui Surat

Teguran dan perlu adanya sanksi sesuai ketentuan.

 Perlu dilakukan komunikasi dan koordinasi dengan kantor pusat, dan

setiap perusahaan yang berinvestasi di Aceh agar membuka kantor di Aceh.

 Perlu diberi pembinaan kepada perusahaan agar menyampaikan

kewajibannya untuk mengirimkan LKPM secara berkesinambungan dan benar sesuai ketentuan.

 Kuantitas dan kualitas tim verifikasi dan evaluasi laporan kegiatan

(32)

 Perlu digalakkan investasi yang padat karya (lebih banyak menggunakan tenaga kerja), sehingga lebih banyak lapangan kerja baru yang tersedia untuk menurunkan tingkat pengangguran.

 Kualitas pemantauan perlu ditingkatkan dengan pembinaan kepada

aparatur tenaga pemantauan realisasi penanaman modal provinsi dan Kabupaten/Kota.

 Diharapkan perusahaan dapat melaporkan permasalahan yang dihadapi

dan realisasi importasi mesin, sehingga menjadi bahan dasar dalam melakukan pengawasan.

 Pembinaan kepada perusahaan harus terus dilakukan, dan diharapkan

perusahaan dapat mengisi sendiri LKPM melalui SPIPISE.

 Rapat koordinasi harus dihadiri oleh pengambil kebijakan, baik dari

instansi terkait maupun dari perusahaan agar pengambilan kebijakan dapat segera diambil untuk menjadi solusi bagi masalah yang sedang dihadapi.

 Perlu peningkatan kerjasama, konsolidasi dengan pemerintah pusat

dan daerah mengenai data dan informasi realisasi investasi yang disampaikan perusahaan.

 Perlu meningkatkan sosialisasi Kebijakan dan Strategi Pengendalian

Pelaksanaan Realisasi Penanaman Modal bagi PDKPM dan instansi teknis Kabupaten/Kota.

 Diharapkan instansi teknis provinsi dan Kabupaten/Kota dapat

menindaklanjuti secara optimal permasalahan perusahaan seperti masalah lahan, regulasi teknis, dll.

 Tim Taskforce perlu turun ke lapangan untuk mengetahui persis

permasalahan yang dihadapi perusahaan dan masyarakat setempat.

 Publikasi tentang LKPM dapat dilakukan setiap triwulan dengan

dengan memasukkan jumlah perusahaan yang belum menyampaikan LKPM dan yang tidak aktif.

(33)

 Diharapkan hasil kajian dapat disosialisasikan kepada pihak-pihak terkait. Pemerintah Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara dapat menyelesaikan status lahan yang belum siap pakai.

c. Kegiatan Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia Guna Peningkatan Pelayanan Investasi

Kegiatan ini meliputi honorarium non PNS, belanja barang dan jasa, makan minum dan perjalanan dinas dalam/luar daerah dalam rangka bimbingan ketentuan/kebijakan penanaman modal.

Pelaksanaan :

Yang dilaksanakan dalam kegiatan ini adalah:

a. Mengikutsertakan 58 orang aparatur bidang penanaman modal dalam kegiatan bimbingan ketentuan/kebijakan penanaman modal dari 50 orang direncanakan atau 116% dari yang direncanakan.

b. Mengikutsertakan 38 orang aparatur bidang penanaman modal dalam kegiatan kursus-kursus singkat untuk mendukung tugas di bidang penanaman modal dari 30 orang direncanakan atau mencapai 126,67%.

c. Keikutsertaan aparatur dalam training/seminar di luar negeri. Kerjasama dengan Pemerintah China dalam "Human Resource

development Cooperation Program"" dengan mengirimkan staf senior Badan Investasi dan Promosi Aceh ke China untuk mengikuti beberapa seminar:

- Seminar Course on Tourism Industry Cooperation for China and BIMP-EAGA in 2014.

- The 2014 Seminar on Agricultural Management for Officials of ASEAN Countries 2014.

(34)

Dana yang dianggarkan untuk Kegiatan Peningkatan Kualitas Sumberdaya Manusia guna Peningkatan Pelayanan Investasi adalah sebesar Rp 270.610.000,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp 266.678.400,- atau 98,55%. Kegiatan ini dapat direalisasikan 121% dari yang direncanakan.

d. Kegiatan Peningkatan Promosi, Kerjasama Investasi dan Pengembangan Potensi Unggulan Daerah

Pelaksanaan :

Yang dilaksanakan dalam kegiatan ini adalah:

Proyek-proyek investasi yang ditawarkan adalah sebegai berikut :

AGRO INDUSTRI:

1. Food Crops & Horticultura

1. Pabrik Pengolahan Padi (daerah potensial: Pidie, Aceh Utara, Aceh Besar, Bireuen, Aceh Timur).

2. Industri Pengolahan Pakan Ternak dari Jagung dan kedelai (daerah potensial: Aceh Selatan & Aceh Tenggara, Pidie, Pidie Jaya, Aceh Utara, Aceh Tamiang, Aceh Barat dan Aceh Tenggara).

2. Fruits & Vegetable : Pengembangan pertanian hortikultura organik

(daerah potensial: Bener Meriah).

3. Perkebunan :

1. Industri pengolahan sawit dan berbagai turunan hasil sawit (daerah potensial: Aceh Tamiang, Aceh Singkil dan Nagan Raya).

2. Industri Pengolahan Karet (daerah potensial: Aceh Timur, Aceh Tamiang & Aceh Barat).

(35)

3. Industri Pengolahan dan Pengemasan Kakao (daerah potensial: Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Tamiang, Aceh Tenggara, dan Aceh Barat Daya).

4. Industri Pengolahan Kopi (daerah potensial: Bener Meriah, Aceh Tengah, dan Gayo Lues).

5. Industri Pengolahan Kelapa (daerah potensial: Aceh Besar, Bireuen & Aceh Utara).

6. Industri Pengolahani Nilam (daerah potensial: Aceh Jaya, Gayo Lues, Aceh Selatan, dan Aceh Barat).

4. Peternakan :

1. Aceh Beef Industri (daerah potensial: Aceh Besar, Pidie, Bener Meriah, Nagan Raya dan Aceh Tengah).

5. Perikanan :

1. International Fishing Port Lampulo, Banda Aceh. 2. Pelabuhan Ikan Idi, Aceh Timur

6. Infrastruktur dan Energi :

1. Layanan Roll-on/Roll-off Cargo Ferry Service, Langsa dan Krueng Geukeh.

2. Geothermal Power Plant (Pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi) di Bener Meriah.

3. Hydro Power Plant (Pembangkit Listrik Tenaga Air) - Pembangunan infrastruktur 'Jambo Aye Multipurpose Reservoir,' Aceh Utara.

7. Pariwisata

1. Kawasan pariwisata "Krueng Aceh River Walk," Banda Aceh.

2. Kawasan pariwisata "Ulee Lheu Beach and Recreation," Banda Aceh

3. Sabang Free Port & Free Trade Zone Project (Layanan Kawasan Perdagangan dan Pelabuhan Bebas Sabang)

(36)

Kegiatan-Kegiatan Promosi Investasi:

1. Aceh Investment Promotion (AIP) dilaksanakan di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh pada 20 Mei 2014 yang dihadiri oleh 330 orang dari SKPA, DPRA, sektor swasta, Kadin, asosiasi, duta besar, konsulat dan kamar dagang negara-negara sahabat.

Kegiatan ini bertujuan untuk memperkenalkan profil investasi Aceh kepada calon investor, membangun komitmen bersama guna meningkatkan image positif tentang kondisi dan situasi terkini Aceh dan menginput hambatan dan permasalahan yang dihadapi dunia usaha untuk segera dicarikan solusinya.

2. Indonesia-Malaysia-Thailand Growth Triangle (IMT-GT)

merupakan kerjasama untuk meningkatkan kesejahteraan dan pertumbuhan ekonomi terutama di daerah perbatasan di kawasan anggota IMT-GT. Diselenggarakan di Hermes Palace Hotel, Banda Aceh pada 11-14 September 2014. Kegiatan ini dihadiri oleh 300 orang, mulai dari menteri dan gubernur/wakil gubernur dari tiga negara, konjen negara sahabat, SKPA, perbankan, dan pengusaha dari tiga negara tersebut. Kegiatan yang dilaksanakan yaitu: Joint Buisness Council (JBC), Senior Official Meeting (SOM), 11th Chief Minister and Governors' Forum (CMGF) dan 20th Ministerial Meeting (MM).

3. Aceh Expo dilaksanakan pada 21-25 Juni 2014. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan informasi potensi investasi Aceh dan masyarakat dapat berdialog dan bertukar pikiran mengenai iklim investasi terkini dan tantangan yang dihadapi.

4. Gelar Potensi Investasi Daerah (GPID) di Makasar pada 10-15 Juni 2014. Kegiatan ini meliputi seminar dan forum bekerjasama dengan

(37)

BKPM. Pertemuan: Seminar Nasional Investasi. Pameran Investasi daerah dan One on One Meeting:

a. Uni European - Trade and Cooperation, membahas potensi

terkait sektor infrastruktur, energi terbaharukan,

pengembangan agro industri untuk memperkuat ketahanan pangan.

b. PT. Pacific Energy Co. Ltd (Korea), Investasi Agroindustri, pengolahan kopi dan beras di Kab Aceh tengah, dll.

c. Jeil Teknos Co. Ltd (Korea), Pembangunan industri kapal/spare part (mencari lahan seluas150.000 m2)

5. Trade Expo yang dilaksanakan oleh BKPM dan beberapa Kementrian lainnya mulai tanggal 8 s/d 12 Oktober 2014 di Jakarta merupakan pameran dagang internasional terbesar di Indonesia yang bertujuan mempromosikan potensi maupun berbagai produk dan jasa buatan dalam negeri yang berkualitas internasional dan telah diakui di mancanegara. Kegiatan ini meliputi Gelar Potensi Investasi Daerah, Seminar pertemuan konsultasi, field visit ke Jababeka Industrial Estate di Cikarang, dan one on one meeting dengan Solartech Co. Ltd dari Korea Selatan untuk membahas potensial solar power.

6. Pekan Raya Jakarta (6 Juni s.d 6 Juli 2014) Kegiatan ini bertujuan memberikan informasi potensi budaya Aceh melalui UKM dari Kabupaten/Kota.

7. Pameran Penang Fair merupakan salah satu kegiatan tahunan promosi luar negeri. Kegiatan ini bertujuan memberikan informasi potensi budaya Aceh melalui UKM dari Kabupaten/Kota dan diharapkan dapat membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi di daerah melalui hasil pengrajin tradisional yang dipamerkan dalam kegiatan ini. Selain itu, juga untuk mengetahui sejauh mana tingkat informasi luar mengenai bagaimana ketertarikan masyarakat mancanegara mengenai produk komoditi unggulan Aceh.

(38)

Kegiatan Kerjasama G to G:

1. Kerjasama dengan Pemerintah Malaysia

Kerjasama investasi di bidang Agro Industri antara Pemerintah Aceh dan Kementrian Pertanian dan Industri Asas Tani Malaysia. Ada 4 (empat) proyek utama: Ekspor hasil hortikultura & budidaya di Aceh Tengah dan Bener Meriah ke Malaysia, pembangunan pabrik pakan ternak di Aceh, ekspor hasil perikanan dari Aceh ke Malaysia dan Agro-Bazar Produk Malaysia di Banda Aceh.

2. Kerjasama Pemerintah Aceh dengan Pemerintah Penang (Invest Penang) dengan fokus utama Pengembangan konektivitas di Andaman cluster.

Kegiatan:

Pembahasan Plan Aceh-Penang dalam pertemuan Senior Official Aceh Cooperation 2014-2016 dan Match-Making antara pengusaha Aceh dan Pengusaha Penang yang berada di bawah Penang Development Cooperation (PDC).

3. Kerjasama dengan Pemerintah Thailand

Pembukaan jalur udara Phuket-Sabang untuk mempercepat pertumbuhan industri pariwisata di Sabang dan Aceh secara keseluruhan.

Kegiatan:

1. Kunjungan kerja ke Thailand dan pertemuan dengan Deputy Permanent Secretary of Ministry of Interior (27 Oktober 2014) dan Gubernur Phuket (28 Oktober 2014).

2. Draft MoU terkait framework kerjasama antara Pemerintah Aceh dan Gubernur Phuket serta usulan penandatanganan MoU pada Maret 2015.

(39)

4. Kerjasama dengan Pemerintah Abu Dhabi

Pertemuan dengan Manajemen Mubadala Development (BUMN Abu Dhabi) pada Juni 2014 untuk membahas pengelolaan minyak dan gas Blok Andaman dan kemungkinan investasi di bidang agro industry.

5. Kerjasama dengan Pemerintah Turki

Rencana kerjasama dengan Turki difokuskan pada pengembangan kota di kedua wilayah (Twin Sister Province).

6. Kerjasama dengan Pemerintah Jerman

Kerjasama Pembangunan Rumah Sakit Nordwest-Krankeunhaus Frankurt. Pertemuan pada Juni 2014 membahas tawaran kerjasama telemedicine, semacam pelayanan 'second opinion' dari para pakar di Rumah Sakit Nordwest Krakenhaus.

Kerjasama B to B :

 Aceh Beef Project Tujuan: Membangun sistem supply kebutuhan

daging sapi yang efisien untuk masyarakat Aceh dan menjadikan Aceh sebagai penghasil daging sapi halal utama di Asia Tenggara Pembibitan dan penggemukan sapi dan dagingnya diberi label halal untuk diekspor ke Asia Tengara, merupakan kerjasama antara

investor dari Australia, Central Meat Export, Livestock

Improvement Company dengan perusahaan daerah. Pilot project di Aceh Besar

 Kerjasama dengan Dubai Port World Pemerintah Aceh melalui

Badan Pegusahaan Kawasan Sabang (BPKS) berencana melakukan kerjasama dengan Dubai Port World (DPW) untuk mengelola pelabuhan Sabang.

(40)

 Kegiatan: Pada September 2014, tim Pemerintah Aceh termasuk Badan Investasi dan Promosi Aceh melakukan lawatan kerja ke Terminal Peti Kemas, salah satu pusat operasional DPW yang bermitra dengan PT Pelindo III dan PT Peti Kemas Surabaya. Pertemuan antara DPW dengan BPKS dan dinas terkait dilaksanakan di Banda Aceh pada 9 Desember 2014 dikoordinir oleh Badan Investasi dan Promosi Aceh guna membahas pengembangan kawasan Sabang sebagai internasional Hubport dan transhipment. Dubai Port mempelajari peluang investasi di Sabang.

Sebagai hasil akhir: DPW telah mengkonfirmasi pada 15 Januari 2015 bahwa DPW memutuskan tidak akan menjadi marine operator di Sabang dengan alasan proyek parameter kawasan maritim Sabang masih belum layak dimasukkan ke dalam business development strategy DPW.

 Pengadaan Rangka Baliho 8 Kabupaten/Kota: Kabupaten Nagan Raya, Kabupaten Aceh Jaya, Kota Sabang, Kota Langsa, Kabupaten Aceh Tengah, Kabupaten Bener Meriah, Kabupaten Aceh Tamiang dan Kabupaten Aceh Tenggara. Kegiatan ini meliputi pembuatan baliho untuk memberikan informasi mengenai potensi Aceh.

 Pembuatan Multimedia Display Elektronik Investasi Sektor Sarana infrastruktur dan energi - Ketersediaan Sarana Infrastruktur dan Energi di Aceh dan Sektor Pariwisata dengan total 300 keping CD.

 Cetak buku profil Aceh (Aceh Investment Profile) dan

 Penyusunan 3 judul buku Detail Plan Profil Investasi (Kelapa Sawit, Kopi dan Peternakan)

(41)

 Cetak leaflet We Welcome You to Invest in Amazing Aceh dalam bahasa Indonesia dan Inggris 500 lembar.

 Cetak tabloid Info Investasi 37.500 eksemplar.

 Pembuatan Multimedia Display Elektronik Investasi Aceh 750 Keping/Buah.

 Pengadaan display elektronik investasi Aceh (LED TV 6 x 4 m) di Banda Aceh.

Dana yang dianggarkan untuk Kegiatan Peningkatan Promosi, Kerjasama Investasi dan Pengembangan Potensi Unggulan Daerah adalah sebesar Rp 8.740.520.458,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp 8.072.367.270,- atau 92,35%. Kegiatan ini dapat direalisasikan 100% dari yang direncanakan.

Permasalahan :

 Kabupaten/Kota belum fokus menyediakan lahan untuk kegiatan

investasi. Perencanaan kegiatan promosi investasi perlu diperbaiki, tidak saja untuk kebutuhan operasional dan barang/jasa tapi untuk memenuhi outcome program ini.

 Waktu yang terbatas untuk membahas rencana peluang investasi

dengan calon investor di one on one meeting.

 Belum semua pengrajin dari 23 Kabupaten/Kota yang potensial dapat

berpartisipasi dalam PRJ untuk mempromosikan produk unggulan.

 Kerjasama dengan Pemerintah Malaysia.

 Regulasi lokal tentang upah buruh dan lain-lainnya terkait aktivitas di Pelabuhan Krueng Geukeh masih belum ditetapkan sehingga membuat cost pengiriman produk lebih mahal dibandingkan daerah di luar Aceh seperti Pelabuhan Belawan.

(42)

Klang masih belum maksimal.

 Kesiapan yang belum matang dari sektor swasta di Aceh terhadap bidang-bidang yang akan dikerjasamakan serta belum adanya inisiatif baik.

 Infrastruktur pendukung kegiatan ekspor-impor masih belum

memadai.

 Untuk Aceh Beef Project, perlu restrukturisasi BUMD sebagai mitra

lokal. Sabang masih belum siap untuk dijadikan sebagai international hub port dan shipping line. Beberapa faktor diantaranya adalah belum adanya industri real yang beropearsi atau aktif dalam skala besar terutama agro industri dan infrastruktur pelabuhan yang masih belum lengkap.

 Proses penetapan pihak ketiga Detail Plan Profil Investasi dilakukan

melalui lelang sehingga kualifikasi kandidat tidak bisa dinilai kelayakannya.

Solusi :

d. Untuk proyek hydropower, perlu koordinasi intensif dengan instansi terkait, seperti Badan Pertanahan Nasional (BPN), Perusahaan Listrik Negara (PLN), dan berbagai SKPA sektoral, untuk mendapatkan informasi lahan dan kecukupan energi listrik untuk industri.

e. Pemerintah Aceh perlu belajar dan meniru kebijakan positif yang telah dipraktikkan oleh negara/daerah lain. Dalam hal pemberian insentif nonfiskal, banyak tanah yang berstatus milik pemerintah daerah yang dapat dimanfaatkan oleh para investor. Namun, saat ini, peraturan kerja sama lahan, yaitu Peraturan Pemerintah No.6 Tahun 2006 tentang Pengelolaan Barang Milik Negara/Daerah dan Permendagri No.22 Tahun 2009 tentang Petunjuk Teknis Tatacara Kerjasama Daerah, dipandang belum proinvestasi.

(43)

dengan masyarakat.

g. Mempercepat realisasi inisiasi baru IMT-GT, konektivitas Andaman (Phuket-Sabang) dengan koordinasi dan komunikasi yang intensif antar Phuket-Aceh.

h. Perlu ada slot booth untuk 23 Kabupaten/Kota di PRJ

i. Diperlukan pembinaan dan pembudiyaan secara berkelanjutan terhadap petani lokal Perlu koordinasi yang berkesinambungan antar SKPA mengenai kerjasama investasi yang telah berjalan dan yang masih dalam perencanaan. Badan Investasi dan Promosi Aceh perlu menjemput bola ke dinas-dinas terkait proyek investasi sehingga tercipta kesamaan visi dan tujuan dalam kegiatan promosi investasi dan implementasinya

j. Perlu dikaji penggunaan pihak ketiga untuk membantu kegiatan promosi terutama untuk memberi masukan terhadap suatu potensi unggulan dan mengkomunikasikannya kepada calon-calon investor potensial.

5. Program Peningkatan Iklim Investasi dan Realisasi Investasi

Program ini dimaksudkan untuk meningkatkan informasi prosedur regulasi dan perizinan investasi kepada masyarakat, serta meningkatnya realisasi investasi. Rata-rata total capain kegiatan tahun 2014 adalah 100%. Sehingga untuk tahun kedua RPJMA 2012-2017 ini, pencapaian outcome program adalah 72% dari target 72%.

Total nilai rencana investasi tahun 2014 yang dicatat adalah sebesar Rp

23.472.861.900.000,- atau menurun (7.79)% dari tahun 2013 dimana total nilai rencana investasi PMA dan PMDN Rp 25.455.911.680.000,-.

a. Kegiatan Penyederhanaan Prosedur Perizinan dan Peningkatan Pelayanan Penanaman Modal

(44)

Pelaksanaan:

1 Pemberian Izin Prinsip Penanaman Modal untuk Perusahaan PMDN

dikeluarkan oleh Badan Pelayanan Perizinan Terpadu (BP2T) Aceh dan untuk perusahaan PMA dikeluarkan oleh BKPM Pusat. Pada tahun

2014, izin yang telah diterbitkan adalah sebanyak 58

proyek/perusahaan, dengan rincian PMDN 39 proyek/perusahaan, dan PMA 19 proyek/perusahaan.

2 Total nilai rencana investasi tahun 2014 adalah sebesar Rp.

23,472,861,900,000,- dengan rincian PMDN sebanyak 39

proyek/perusahaan dan nilai rencana sebesar Rp. 1,424,179,800,000,-

Jumlah TKI yang direncanakan adalah sebanyak 909 orang.

Sedangkan untuk perusahaan PMA, telah diterbitkan izin sebanyak 19 proyek/perusahaan dengan nilai rencana investasi sebesar Rp 22,051,682,100,000.00,- (US$ 2,100,160,200.00) dan jumlah TKI 2509 orang dan TKA 1 orang.

3 Penyusunan buku regulasi bidang penanaman modal 4 judul dari 4

judul yang direncanakan.

4 Cetak buku regulasi bidang penanaman modal. 1.250 buku dari 1.250

buku yang direncanakan.

5 Kegiatan Sosialisasi regulasi penanaman modal direncakan adalah

sebanayak 4 kali namun dapat direalisasikan 1 atau 25% dari target yang telah direncanakan.

6 Peserta sosialisasi regulasi adalah sebesar 60 dan dapat direalisasikan

55 atau 91,66% dari target yang direncanakan.

Dana yang dianggarkan untuk Kegiatan Penyederhanaan Prosedur Perizinan dan Peningkatan Pelayanan Penanaman Modal adalah sebesar Rp 517.650.000,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp 511.259.750,- atau

(45)

Permasalahan:

 Perizinan PMDN yang dikeluarkan oleh Badan Pelayanan Perzinan

Terpadu (BP2T) dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kabupaten/Kota tidak dilaporkan secara rutin. Yang dilaporkan rekapitulasi saja tanpa disertai salinan lengkap dokumen perizinan penanaman modal.

 SDM, anggaran dan sarana transportasi masih kurang dari cukup

untuk melakukan tinjauan ke Kabupaten/Kota.

Solusi:

 Perlu penggabungan Badan Investasi dan Promosi Aceh dan Badan

Pelayanan Perzinan Terpadu (BP2T) sesuai kebijakan Pemerintah untuk mempercepat dan mempermudah pemberian izin dan pengendalian LKPM. Melakukan koordinasi lebih baik lagi dengan BP2T dan PTSP Kabupaten/Kota. Aplikasi SPIPISE agar dilakukan perbaikan dan update secara berkala.

 Melakukan koordinasi yang lebih sering lagi kepada BP2T dan

BKPM agar semua izin dan dokumen yang diterbitkan dapat dilaporkan kepada Badan Investasi dan Promosi Aceh sesuai dengan amanat Perka BKPM No 5 Tahun 2013 tentang Pedoman dan Tatacara Pelayanan Perizinan dan Non Perizinan Penanaman Modal, dan direvisi dengan Peraturan Kepala BKPM RI Nomor 12 Tahun 2013 Tentang Perubahan atas Peraturan Kepala BKPM RI Nomor 5 Tahun 2013. Menghubungi semua perusahaan baru yang sudah mendapat IP untuk dibantu dalam pengurusan perizinan lanjutan agar secepat mungkin dapat realisasi di Aceh.

(46)

6. Program Penyiapan Potensi Sumberdaya, Sarana dan Prasarana Daerah

Program ini dimaksudkan untuk meningkatkan ketersediaan data potensi sumberdaya, sarana dan prasarana daerah. Realisasi kegiatan mencapai 100% dari target yang direncanakan.

a. Kegiatan Kajian Potensi Sumber Daya yang terkait Investasi Pelaksanaan :

 Kegiatan ini meliputi kajian pengembangan investasi yang

dilaksanakan oleh pihak ketiga, yaitu CV. Jasa Konsultan Aceh dengan judul “Master Plan Pengembangan Kawasan Industri Lhokseumawe”

 Hasil kajian ini menjadi bahan baru bagi kegiatan promosi investasi,

khususnya sektor pariwisata.

Dana yang dianggarkan untuk Kegiatan Kajian Potensi Sumber Daya yang terkait Investasi adalah sebesar Rp 283.904.000,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp 283.904.000,- atau 100% dari target yang direncanakan. Hasil kajian dicetak sebanyak 30 buku atau 15% dari yang direncanakan sebanyak 200 buku dan disimpan pula dalam media digital sebanyak 50 keping atau 25% dari yang direncanakan sebanyak 200 buku.

7. Program Perencanaan Pembangunan Ekonomi

Program Perencanaan Pembangunan Ekonomi Bidang Penanaman Modal pada tahun kedua RPJMA 2012-2017 ini mencapai target yang direncanakan, yaitu 72%. Ini ditunjukkan oleh keberhasilan di setiap indikator kinerja yang hampir semuanya mencapai 100%.

(47)

Yang dilakukan dalam kegiatan ini adalah:

1. Dokumen perencanaan investasi dan laporan adalah sebanyak 200 buku

dan dapat direalisasikan sebanyak 510 buku atau 255% dari target yang direncanakan.

2. Koordinasi perencanaan penanaman modal adalah 2 kali dan dapat

direalisasikan 1 kali atau 50% dari target yang direncanakan.

3. Koordinasi pada peserta perencanaan penanaman modal adalah sebesar 73

orang dan dapat terealisasikan sebesar 60 orang atau 82.19% dari target yang direncanakan.

4. Sosisalisasi rencana bidang penanaman modal adalah sebesar 1 kali dan

dapat terealisasikan 1 kali atau 100% dari target yang direncanakan.

5. Sosialisasi jumlah peserta dalam rencana bidang penanaman modal adalah

sebanyak 58 orang dan dapat terealisasikan sebanyak 50 orang atau 86.20% dari target yang direncanakan.

6. Operasionalisasi Pusat Data dan Informasi (PUSDATIN) Investasi Aceh

menjadi salah-satu kegiatan utama tahun 2014. PUSDATIN dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan calon investor sekaligus sebagai pelaksanaan amanah UU Kebebasan Informasi Publik. Dimana pengunjung website Badan Investasi dan Promosi Aceh tahun 2014 sebanyak 29.836 pengunjung meningkat 87,87% dari tahun 2013 sebanyak 15.881 pengunjung, serta pemanfaatan LED TV oleh dinas/instansi, universitas dan Kabupaten/Kota pada tahun 2014 sebanyak 19 kali . Anggaran yang ada digunakan untuk honorarium tim Pusdatin 12 bulan dan tenaga kontrak Pusdatin 2 orang selama 12 bulan. Ini mencapai 100% dari yang ditargetkan.

Dana yang dianggarkan untuk Kegiatan Perencanaan Pengembangan Penanaman Modal Daerah adalah sebesar Rp 1.177.460.000,- dan dapat direalisasikan sebesar Rp 1.086.264.417,- atau 92,25%. Secara umum, 100% rencana dapat direalisasikan.

Gambar

Tabel Pengukuran Kinerja Badan Investasi dan Promosi Aceh Tahun 2014
Tabel 2.1. Indikator Kinerja Utama (IKU) Badan Investasi dan Promosi.
Tabel 3.1 Capaian Realisasi Perjanjian Kinerja tahun 2014
Gambar  3.1  menunjukkan  perkembangan  yang  terjadi  pada  tahun  2014  dibandingkan  dengan  empat  tahun  sebelumnya  serta  posisi  relatif  pencapaian  target lima tahunan Rencana Strategis 2012-2017 pada tahun kedua ini
+7

Referensi

Garis besar

Dokumen terkait

Renstra disusun berdasarkan Visi Universitas Tidar i yaitu “Universitas Berbasis Riset dalam Mengembangkan Ipteks dan Wirausaha, Misi : (1) Melaksanakan tri dharma

Pengadilan Negeri Bireuen Kelas II sebagai lembaga peradilan yang melaksanakan fungsi kekuasaan kehakiman (yudikatif) dalam wilayah hukum Kabupaten Bireuen, mempunyai tugas

Nilai AKIP diperoleh dari hasil penilaian Inspektorat Jenderal yang disampaikan melalui Nota Dinas Inspektur Wilayah I Nomor 23176/PW/06/2021/41 tentang Laporan

Dalam pengusahaan ekowisata, KPHL Model Solok perlu mendorong pemerintah daerah untuk mewujudkan paket wisata yang yang terintegrasi antara objek wisata daerah dan

a) Membuat Surat Keputusan Direktur untuk menambah tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Bagian Umum sebagai pengelola aset PDAM. b) Menelusuri kembali selisih data aset

138 Audit Dalam Rangka PKKN 7 INVESTIGASI 5 Kami rekomendasikan kepada Kepala Kejaksaan Negeri Kaur untuk memproses penyimpangan Kegiatan Pekerjaan Pengadaan 1 (satu) Unit

BPKP pada hakekatnya bertujuan memberikan nilai tambah (value added) melalui dua peran yaitu aktivitas assurance dan consulting. Menyelenggarakan pengawasan intern

Penyusunan Laporan Akuntabilitas Kinerja Direktorat Fasilitas Pelayanan Kesehatan Tahun 2016 disusun sebagai tindak lanjut dari TAP MPR RI Nomor XI/MPR/1998 tentang