BADAN SAR NASIONAL
N AKUNTABILITAS KINERJA PEMERINTAH
(LAKIP)
KANTOR SAR KELAS B MERAUKE
TAHUN 2014
DAFTAR ISI
Halaman
Kata Pengantar ………. ... i
Daftar Isi ……….. ... ii
Ringkasan Eksekutif ………. ... iii
BAB I PENDAHULUAN ... 1
1. Umum ... 1
2. Kedudukan, Tugas, dan Fungsi. ... 5
BAB II PERENCANAAN KINERJA DAN PERJANJIAN KINERJA ... 10
1. Iktisar Rencana Strategis (RENSTRA)……….. ... 10
2. Penetapan Kinerja ... 14
BAB III AKUNTABILITAS KINERJA ... .15
A. Pengukuran Capaian Kinerja Tahun 2014 ... 16
B. Analisis Capaian Kinerja ... 16
C. Akuntabilitas Keuangan………... ... 40
BAB IV PENUTUP ... 42
Lampiran :
- Penetapan Kinerja - Pengukuran Kinerja
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terletak dalam jalur penghubung antara dua benua dan dua samudera yang sangat strategis dalam bidang transportasi karena wilayah Indonesia menjadi rute penerbangan dan pelayaran. Peran transportasi menjadi sangat penting diera globalisasi ekonomi. Hal ini membawa dampak semakin meningkatnya arus pergerakan baik Nasional maupun Internasional. Dengan demikian peluang terjadinya kecelakaan pelayaran maupun penerbangan semakin besar pula. Selain itu tingkat kedisiplinan masyarakat masih kurang dalam menggunakan sarana transportasi sehingga dapat meningkatkan resiko keselamatan.
Secara geologis wilayah Indonesia terletak pada pertemuan lempeng Asia dan Australia. Hal ini memberikan peluang untuk terjadinya bencana alam seperti gempa bumi dan gelombang tsunami. Selain itu banyak terdapat gunung berapi yang aktif. Sebagai Negara yang berikilim tropis Indonesia memiliki curah hujan yang sangat tinggi sepanjang tahun yang dapat menimbulkan kemungkinan bencana banjir dan tanah longsor. Maka peranan Badan SAR Nasional menjadi sangat penting dalam hal mengurangi dampak negatif dari kecelakaan penerbangan dan pelayaran maupun penanganan bancana dan musibah lainnya.
Sebagai Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Badan SAR Nasional (BASARNAS), serta sekaligus sebagai perwakilan BASARNAS dan pengendalian operasi SAR di wilayah kerjanya. Kantor SAR Kelas B
Merauke berada di bawah Kepala BASARNAS dan bertanggung jawab kepada Kepala Basarnas. Kantor SAR Kelas B Merauke secara teknis administrasi dibina oleh Sekretaris Utama BASARNAS. Sedangkan secara teknis fungsional, Kantor SAR Kelas B Merauke dibina oleh Deputi Potensi SAR dan Deputi Operasi SAR.
Kabupaten Merauke terdiri dari beragam suku yang mempunyai bahasa yang berbeda, yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Bouven Digoel dan Kabupaten Mappi disebelah utara, Laut Arafura disebelah selatan, Kabupaten Mimika dan Laut Arafura disebelah barat dan Negara Papua New Guinea disebelah timur .Kabupaten Merauke saat ini memiliki luas wilayah 45.071 Km² yang terbagi menjadi 20 Distrik, 8 Kelurahan dan 160 Kampung dengan kepadatan penduduk relatif masih Jarang. Pertumbuhan ekonomi nasional dan global serta pemekaran kabupaten menyebabkan meningkatnya arus transportasi yang melintasi wilayah Merauke dan kabupaten pemekaran.
Di wilayah kerja Kantor SAR Merauke terdapat 4 sungai besar yaitu sungai Maro, sungai Bian, sungai Kumbe dan sungai Digul. Selain itu, sebagai wilayah tropis Merauke dan kabupaten pemekaran memiliki curah hujan yang tinggi dan suhu udara rata-rata 19° - 28°C. serta hutan tropis yang lebat. Sebagian besar wilayah daratan yang merupakan wilayah tanggung jawab Kantor SAR Merauke merupakan daerah rawa-rawa. Untuk wilayah laut meliputi perairan laut Arafura dan sekitarnya .
Transportasi antar daerah di wilayah tanggung jawab Kantor SAR Merauke mengandalkan transportasi laut dan udara dikarenakan jalur transportasi darat masih belum memadai karena medan yang sulit. Di wilayah tanggung jawab Kantor SAR Merauke terdapat 11 bandar udara yang sebagian besar merupakan bandara perintis. Wilayah administratif yang masuk dalam wilayah kerja Kantor SAR Merauke
adalah Kabupaten Merauke (dataran rendah), Kabupaten Boven Digul (dataran tinggi), dan Kabupaten Mappi (dataran rendah).
Berbagai faktor di atas menuntut peningkatan pelayanan jasa SAR kepada masyarakat baik peningkatan secara kuantitas maupun secara kualitas. Dalam hal ini penanggulangan kecelakaan transportasi dituntut untuk memenuhi standar-standar penyelenggaraan SAR yang berlaku Internasional, khususnya yang ditetapkan oleh ICAO dan IMO sehingga kemampuan SAR Nasional menjadi faktor penting dalam menentukan diterimanya sistem perhubungan nasional dalam sistem perhubungan Internasional sehingga dapat mendukung kegiatan ekonomi.
Pada perkembangan pelaksanaannya, penyelenggaran SAR tidak hanya terbatas pada musibah pelayaran dan penerbangan saja, akan tetapi juga penanggulangan terhadap bencana dan musibah lainnya sehingga pelayanan SAR makin dibutuhkan oleh masyarakat.
Tolok ukur pelayanan SAR yang baik adalah kecepatan respons berupa pengerahan potensi SAR serta keberhasilan operasi berupa dapat tidaknya korban ditemukan dan ditolong. Keberhasilan pelayanan SAR ditentukan oleh tiga faktor utama, yaitu koordinasi dalam arti luas, ketrampilan penyelenggara SAR serta fasilitas SAR. Koordinasi yang baik akan ditentukan secara bersama-sama oleh komunikasi yang baik, mekanisme pengerahan tenaga dan fasilitas serta kerjasama dalam operasi. Ketrampilan ditentukan oleh pembinaan sumber daya manusia melalui pendidikan dan pelatihan, sedangkan faktor fasilitas ditentukan oleh keberadaan-keberadaan fasilitas pendukung operasi SAR.
Peningkatan pelayanan SAR yang dituntut memerlukan suatu perencanaan yang mempunyai perspektif lebih panjang, karena berbagai masalah yang dihadapi saat ini baik yang menyangkut institusi, sumber daya manusia, maupun fasilitas SAR memerlukan penanganan secara bertahap sehingga diharapkan setiap pelaksanaan operasi SAR pada setiap tempat dan waktu dapat berlangsung dengan cepat, handal dan aman.
Untuk mewujudkan pelayanan sebagaimana tersebut diatas
dipengaruhi oleh 3 (tiga) faktor utama sebagai penentu bagi keberhasilan pelaksanaan operasi SAR, ketiga faktor tersebut adalah : - Tersedianya personil (sumber daya manusia) SAR yang profesional; - Prosedur tetap operasi SAR yang mantap;
- Tersedianya fasilitas sarana dan prasarana SAR yang memadai baik dari segi kualitas maupun kuantitasnya.
Seiring dengan bergulirnya arus reformasi sejak tahun 1998, tuntutan masyarakat makin meningkat terhadap adanya penyelenggaraan pemerintahan yang baik, bersih dan bertanggung jawab serta bebas dari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN) dalam upaya mewujudkan
Good Governance. Salah satu perwujudan Good Governance adalah
hasil pelaksanaan tugas yang dapat dipertanggungjawabkan
(akuntabel).
Hasil pelaksanaan tugas yang akuntabel tersebut antara lain dapat dilihat dari Laporan Akuntabilitas yang setiap tahun disusun.
Ketetapan MPR-RI Nomor XI/MPR/1999 dan Undang-undang Nomor 28 tahun 1999 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas KKN serta Instruksi Presiden Nomor 7 Tahun 1999 tentang Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah yang menentukan bahwa setiap Instansi Pemerintah sampai tingkat Eselon II wajib membuat
Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah untuk mempertanggung jawabkan hasil pelaksanaan tugas pokok dan fungsi, kewenangan pengelolaan sumber daya dan kebijakan, berdasarkan perencanaan stratejik yang telah ditetapkan dan Permenpan nomor 29 tahun 2010 tentang Pedoman Penyusunan Penetapan Kinerja Dan Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.
Guna memenuhi ketentuan-ketentuan tersebut di atas, Kantor SAR Merauke menyusun Laporan Akuntabilitas Kinerja sebagai salah satu perwujudan tanggung jawab atas pelaksanaan tugas pokok dan fungsi Kantor SAR Kelas B Merauke Tahun Anggaran 2014.
2. Kedudukan, Tugas dan Fungsi
Kantor Search And Rescue yang selanjutnya disebut Kantor SAR merupakan Unit Pelaksana Teknis di bidang pencarian dan pertolongan yang berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Kepala Badan SAR Nasional. Secara teknis administrasi, Kantor SAR Kelas B Merauke di bina Sekretaris Utama dan secara teknis fungsional dibina oleh Deputi Operasi SAR dan Deputi Potensi SAR. Kantor SAR Kelas B Merauke dipimpin oleh seorang Kepala Kantor yang membawahi 3 (tiga) pejabat struktural, yaitu : Kepala Urusan Umum, Kepala Sub Seksi Potensi SAR, dan Kepala Sub Seksi Operasi SAR.
Dan susunan organisasi Kantor SAR kelas B Merauke, sebagai berikut :
STRUKTUR ORGANISASI KANTOR SAR KELAS B MERAUKE
1. Urusan Umum
Mempunyai tugas melakukan penyusun rencana dan program
kerja Kantor SAR, pelaksanaan ketatausahaan,
kerumahtanggaan, kepegawaian, keuangan, kehumasan, hukum, pelayanan kesehatan, dan pelaporan Kantor SAR
2. Seksi Potensi SAR
Mempunyai tugas melakukan pelaksanaan latihan SAR, Pelaksanaan pembinaan potensi SAR, kerja sama di bidang SAR serta pengelolaan sarana dan prasarana SAR.
KEPALA KANTOR SAR SUBSEKSI POTENSI SAR KELOMPOK JABATAN FUNGSIONAL SUBBAGIAN UMUM SUBSEKSI OPERASI SAR POS SAR
3. Seksi Operasi SAR
Mempunyai tugas melakukan siaga SAR secara terus menerus selama 24 ( dua puluh empat ) jam setiap hari, pelaksanaan tindak awal dan operasi SAR serta pengerahan dan pengendalian potensi SAR dalam operasi SAR.
Selain itu pada setiap Kantor SAR terdapat Pos SAR dan Awak Kapal yang keduanya bertanggungjawab kepada Kepala Kantor SAR yaitu :
1. Pos SAR
Dibentuk sesuai dengan kebutuhan berdasarkan analisis daerah potensi dan rawan musibah/bencana, bertanggung jawab kepada Kepala Kantor SAR dan dipimpin oleh Koordinator Pos SAR yang ditunjuk oleh Kepala Kantor SAR. Secara garis besar tugas dan fungsinya hampir sama dengan Kantor SAR diatasnya.
Pos SAR yang terdapat di Kantor SAR Merauke yaitu :
Pos SAR Okaba yang terletak di Distrik Okaba berjarak 90 km dari Kantor SAR Merauke dengan jumlah pengawai 8 orang dan Pos SAR Boven Digul yang terletak di Kabupaten Boven Digul berjarak 500 Km dari Kantor SAR Merauke dengan jumlah pegawai 9 Pegawai.
2. ABK Kapal SAR
ABK Kapal terdiri dari Nakhoda, yang bertanggung jawab kepada Kepala Kantor SAR dan mempunyai tugas dan fungsi :
• Mengkoordinir kesiapan pelayaran dengan Crew/ABK Rescue Boat; • Mengendalikan Rescue Boat/Kapal SAR dalam pelayaran baik
operasi maupun latihan SAR;
• Melaksanakan pelayaran sesuai perintah dan arahan atasan;
• Melakukan pengecekan dan pengawasan kesiapan Rescue Boat dan Crew;
• Mengajukan kebutuhan pemeliharaan dan perawatan Rescue Boat; • Bertanggung jawab pada seluruh kru dan kapal pada saat
pelaksanaan operasi;
• Membuat jurnal/catatan kondisi Rescue Boat;
• Membuat laporan rutin dan berkala mengenai kondisi Rescue Boat; • Melaporkan hasil kegiatan kepada Kepala Kantor SAR;
• Melakukan tugas lain sesuai perintah atasan.
Tugas pokok Kantor SAR Kelas B Merauke adalah melaksanakan siaga SAR, pelatihan SAR, pembinaan potensi SAR, tindak awal dan operasi SAR, serta pengerahan dan pengendalian potensi SAR dalam rangka operasi SAR yang meliputi usaha dan kegiatan mencari, menolong, dan menyelamatkan jiwa manusia yang hilang atau dikhawatirkan hilang atau menghadapi bahaya dalam kecelakaan pelayaran dan/atau penerbangan atau bencana dan musibah lainnya.
Dalam melaksanakan tugas pokok tersebut diatas, Kantor SAR Kelas B Merauke menyelenggarakan fungsi :
1. Penyusun rencana dan program kerja Kantor SAR; 2. Pelaksanaan siaga SAR;
3. Pelaksanaan tindak awal dan operasi SAR; 4. Pelaksanaan latihan SAR;
5. Koordinasi, pengerahan dan pengendalian potensi SAR dalam operasi SAR;
6. Pengelolaan komunikasi; 7. Pelaksanaan pelatihan SAR;
8. Pelaksanaan pembinaan potensi dan pemsyarakatan SAR; 9. Pelaksanaan kerja sama di bidang SAR;
10. Pengelolaan sarana dan prasarana SAR;dan
11. Pelaksanaan ketatausahaan, kerumahtanggaan, kepegawaian, keuangan, kehumasan, pengelolaan data dan informasi,
keprotokolan, pengelolaan bidang hukum, pelayanan kesehatan, dan pelaporan Kantor SAR.
BAB II
PERENCANAAN DAN PERJANJIAN KINERJA
1. Umum
Sesuai amanat Undang-undang Nomor 25 tahun 2004 tentang Sistem Perencanaan Pembangunan Nasional maka telah disusun Rencana Strategis (Renstra) yang merupakan rencana pembangunan jangka menengah 5 (lima) tahun terjabar dalam Rencana Kerja Kantor SAR Merauke pada setiap tahunnya. Dalam rencana strategis dan rencana kerja memuat tentang visi, misi, tujuan, sasaran, kebijakan, dan program yang menjadi pedoman pada pelaksanaan kegiatan dalam 5 (lima) tahun.
2. Ikhtisar Rencana Kerja Strategis (RENSTRA) 2010 - 2014
a. Visi
Visi Kantor SAR Kelas B Merauke dalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya adalah “Berhasilnya pelaksanaan Operasi
SAR pada setiap waktu dengan Cepat, Handal dan Aman”.
b. Misi
Untuk mencapai Visi tersebut, Kantor SAR Merauke merumuskan misi dengan mengacu kepada tiga pendekatan yaitu: Pertama, peningkatan kondisi sarana, prasarana dan peralatan SAR agar dapat berfungsi dengan cepat dan andal. Kedua, penyiapan Sumber Daya Manusia yang profesional sehingga mampu bertindak cepat dan terampil dalam setiap penanganan musibah. Ketiga, ditunjang oleh kelembagaan dan prosedur kerja yang mantap.
Bertilik tolak dari ketiga pendekatan tersebut merumuskan misi sebagai berikut :
Untuk mewujudkan visi tersebut, Badan SAR Nasional mempunyai Misi “Menyelenggarakan kegiatan operasi SAR yang efektif dan efisien melalui upaya tindak awal yang maksimal serta pengerahan potensi SAR yang didukung oleh sumber daya manusia yang professional, fasilitas SAR yang memadai dan prosedur kerja yang mantap dalam mewujudkan visi Badan SAR Nasional”.
c. Tujuan
Tujuan merupakan penjabaran atau implementasi dari pernyataan misi yang akan dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu 1 (satu) sampai 5 (lima) tahun. Kantor SAR Kelas B Merauke dapat secara tepat mengetahui apa yang harus dilaksanakan oleh
organisasi dalam memenuhi visi dan misinya dengan
diformulasikannya tujuan strategis ini dalam mempertimbangkan sumber daya dan kemampuan yang dimiliki. Lebih dari itu, perumusan tujuan strategis ini juga akan memungkinkan Kantor SAR Merauke untuk mengukur sejauh mana visi dan misi organisasi. Oleh karena itu, tujuan strategis Kantor SAR Kelas B Merauke adalah :
1. Terwujudnya profesionalisme pegawai dalam memberikan pelayanan jasa pencarian dan pertolongan (search and rescue).
2. Terwujudnya Kantor SAR Merauke sebagai yang terdepan dalam pelaksanaan operasi SAR ketika terjadi musibah / bencana.
3. Terwujudnya pemenuhan sarana dan prasarana penunjang operasi SAR yang memadai sesuai standar dan didukung oleh SDM yang profesional.
4. Terwujudnya kerjasama yang baik dengan organisasi potensi SAR
d. Rencana Strategis
Rencana strategis merupakan penjabaran atau implementasi dari pernyataan misi yang akan dicapai atau dihasilkan dalam jangka waktu 1 (satu) sampai 5 (lima) tahun. Kantor SAR Merauke dapat secara tepat mengetahui apa yang harus dilaksanakan oleh organisasi dalam memenuhi visi dan misinya dengan diformulasikannya tujuan strategis ini dalam mempertimbangkan sumber daya dan kemampuan yang dimiliki. Lebih dari itu, perumusan tujuan strategis ini juga akan memungkinkan Kantor SAR Merauke untuk mengukur sejauh mana visi dan misi organisasi yang telah dicapai mengingat tujuan stretegis dirumuskan berdasarkan visi dan misi organisasi agar dapat diukur keberhasilan di dalam mencapai tujuan dan sasaran strategis dengan memiliki indikator kinerja yang terukur dan Iktisar Renstra Kantor SAR Merauke mulai dari tahun 2010 sampai 2014 dapat dilihat pada lampiran.
No INDIKATOR KINERJA UTAMA
A Kecepatan tanggap pada operasi SAR dalam penangnanan musibah
SASARAN STRATEGIS Indikator Kinerja
Meningkatnya pelayanan operasi SAR Kantor SAR Merauke
Rata-rata response time pada penanganan musibah pelayaran Rata-rata response time pada penanganan musibah
penerbangan
Rata-rata response time pada penanganan bencana
Rata-rata response time pada penanganan musibah lain-lain Meningkatnya pelayanan siaga komunikasi
pada kegiatan operasi SAR Kantor SAR Merauke
Rata-rata waktu tindak awal pelaksanaan operasi SAR
B Keberhasilan evakuasi korban pada operasi SAR di Kantor SAR Merauke
Tercapainya keberhasilan penyelamatan korban dalam pelaksanaan operasi Kantor SAR Merauke
Prosentase jumlah korban terselamatkan dalam pelaksanaan operasi SAR Prosentase jumlah korban yang ditemukan dalam pelaksanaan operasi SAR
C Meningkatnya kesiapsiagaan dalam mengantisipasi terjadinya musibah/ bencana
Tersedianya personil dalam kegiatan Siaga Kantor SAR Merauke
Prosentase kecukupan personil siaga rescuer pada Kantor SAR Merauke
Siaga Kantor SAR Merauke Jumlah Pos SAR Merauke Siaga Pos SAR Merauke Siaga Khusus
Siaga Rescue Boat Tersedianya peralatan pada kegiatan Siaga
Kantor SAR Merauke
Prosentase kesiapan sarpras dan peralatan SAR pada Kantor SAR
Pemeliharaan dan Kesiapan Sarana SAR
Pemeliharaan dan Kesiapan Prasarana SAR (Rapling , antena dan tower rapiter)
Perawatan Peralatan Komunikasi
D Prosentase keterlibatan potensi dalam kegiatan SAR di Kantor SAR Merauke
SASARAN STRATEGIS Indikator Kinerja
Meningkatnya peran serta organisasi potensi SAR dalam pelaksanaan operasi SAR di Kantor SAR Merauke
Rata-rata prosentase keterlibatan potensi SAR dalam pelaksanaan operasi SAR
Jumlah potensi Kantor SAR Kelas B Merauke
Koordinasi Potensi SAR Daerah Kantor SAR Merauke
Jumlah keterlibatan personil potensi SAR pada pelaksanaan latihan SAR
Rapat Koordinasi SAR Kantor SAR Merauke
Rapat Koordinasi SAR Kantor SAR Merauke
Latihan SAR Daerah
3. Perjanjian Kinerja
Perjanjian Kinerja merupakan kontrak kerja dalam pelaksanaan tugas yang tertuang dalam Penetapan Kinerja. Penetapan Kinerja pada dasarnya adalah pernyataan komitmen yang mempresentasikan tekad dan janji untuk mencapai kinerja yang jelas dan terukur dalam rentang waktu satu tahun tertentu dengan mempertimbangkan sumber daya yang dikelolanya. Tujuan khusus Penetapan Kinerja adalah untuk meningkatkan akuntabilitas, transparansi, dan kinerja sebagai wujud nyata komitmen antara penerima amanah dan pemberi amanah, sebagai dasar penilaian keberhasilan/ kegagalan pencapaian tujuan dan sasaran organisasi, menciptakan tolok ukur kinerja sebagai dasar evaluasi kinerja, dan sebagai dasar pemberian reward atau penghargaan dan sanksi.
Kantor SAR Kelas B Merauke telah membuat Penetapan Kinerja tahun 2014 secara berjenjang sesuai dengan kedudukan, tugas dan fungsi yang ada. Penetapan Kinerja ini merupakan tolok ukur evaluasi akuntabilitas kinerja pada akhir Tahun 2014. Penetapan Kinerja Kantor SAR Merauke Tahun 2014 disusun dengan berdasarkan pada Rencana Kinerja Tahun 2014 yang telah ditetapkan sehingga secara substansial Penetapan Kinerja Tahun 2014 tidak ada perbedaan dengan Rencana Kinerja Tahun 2014. Adapun Penetapan Kinerja tersebut sebagaimana pada lampiran.
BAB III
AKUNTABILITAS KINERJA
1. Umum
Akuntabilitas kinerja merupakan instrumen pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan untuk mewujudkan tujuan dan sasaran dalam kerangka pemenuhan visi dan misi yang telah ditetapkan. Dalam
pengukuran akuntabilitas kinerja tersebut tentunya tetap
diperhitungkan sumber daya yang mendukung, baik SDM, fasilitas kerja, maupun anggaran yang tersedia, sehingga seluruh kegiatan dapat dilaksanakan lebih optimal.
Di dalam penilaian pencapaian kinerja Kantor SAR Merauke dilakukan pengelompokan kategori, yaitu :
Tabel 3.1. Penilaian Pencapaian Kinerja
No. Kategori Nilai Angka (%) Interprestasi
1. A 86 – 100 Sangat Baik
2. B 66 – 85 Baik
3. C 51 – 65 Cukup
4. D 0 – 50 Kurang
Secara garis besar capaian kinerja Kantor SAR Merauke dapat dikatakan sangat baik dengan kategori A dan sudah memenuhi target capaian kinerja, yaitu dengan capaian kinerja rata-rata sebesar 142,85%. Target Kinerja dimaksud dicapai melalui Indikator Kinerja Utama.
2. Prosedur Pengumpulan Data
Pengukuran Capaian Kinerja Kantor SAR Merauke Tahun 2014 dilakukan dengan cara membandingkan antara Target (rencana) dan Realisasi dari tiap-tiap indikator. Pencatatan dan pengumpulan data
diperoleh dari bagian Urusan Umum, Sub seksi Bidang Operasi, dan Sub seksi Bidang potensi pada Kantor SAR Merauke , baik data administratif maupun data teknis. Data-data tersebut kemudian dianalisa dan dievaluasi sehingga didapatkan data realisasi dari indikator yang telah ditetapkan. Adapun prosedur pengumpulan data tersebut sebagaimana pada gambar 3.1.
Gambar 3.1. Prosedur Pengumpulan Data
3. Analisis Capaian Kinerja
Pengukuran tingkat capaian kinerja Kantor SAR Merauke Tahun 2014 dilakukan dengan cara membandingkan antara target dan realisasi masing-masing indikator kinerja sasaran.
Sub Seksi Bidang Operasi Sub Seksi Bidang Potensi
Urusan Umum
Data Realisasi Tiap-tiap Indikator
Pos SAR
No Indikator Kinerja Utama Target 2014 Realisasi 2014 Capaian Kinerja 1
Kecepatan tanggap pada operasi SAR dalam penanganan musibah 52 Menit 30 detik 44,50 Menit 114,90 % 2
Keberhasilan evakuasi korban pada operasi SAR di Kantor SAR Merauke
95% 97,60% 102,70%
3
Meningkatnya kesiapsiagaan dalam mengantisipasi terjadinya musibah / bencana
90% 88,94% 98,80%
4
Prosentase keterlibatan potensi dalam kegiatan SAR di Kantor SAR Merauke
70% 178,57% 255%
Perhitungan capaian kinerja adalah dua kali target dikurang realisasi dibagi target di kali seratus persen atau realisasi dibagi target di kali seratus persen.
Jika semakin tinggi realisasi menunjukkan pencapaian kinerja yang semakin baik dan jika semakin rendah realisasi menunjukkan semakin rendah pencapaian kinerja.
Salah satu contoh perhitungan capaian kinerja diatas dari Indikator kinerja utama kecepatan tanggap pada operasi SAR dalam penanganan musibah adalah 2 kali 52,30 menit dikurang 44,50 menit di bagi 52,30 menit di kali 100 persen sama dengan 114,90 persen dari perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa pencapaian kinerja yang baik.
Dan untuk keberhasilan evakuasi korban pada operasi SAR dengan cara realisasi dibagi target dikali 100 persen, atau 97,60 persen dibagi 95 persen dikali 100 persen samadengan 102,70 persen.
Indikator Kinerja Utama tersebut akan didukung dengan 7 (tujuh) sasaran strategis dengan 21 indikator kinerja sasaran.
a. Meningkatnya pelayanan operasi SAR.
Kegiatan SAR pada dasarnya adalah usaha berupa kegiatan mencari, menolong meyelamatkan jiwa manusia yang hilang atau dikhawatirkan hilang atau menghadapi bahaya dan atau musibah baik dalam pelayaran dan atau penerbangan maupun bencana dan atau musibah lainnya. Kegiatan ini bersifat represif dan dilakukan segera pada saat musibah terjadi.
Operasi SAR adalah segala upaya dan kegiatan sampai dengan evakuasi terhadap korban sebelum penanganan berikutnya yang terdiri dari 5 tahap yaitu :
− Tahap menyadari − Tahap tidak awal − Tahap perencanaan − Tahap operasi − Tahap pengakhiran
Pelayanan operasi SAR adalah suatu upaya yang dilakukan oleh Kantor SAR Merauke untuk melaksanakan kegiatan SAR. Pengukuran keberhasilan pelayanan operasi SAR dilaksanakan oleh Kantor SAR Merauke salah satunya dapat diukur dari rata – rata
response time. Indikator kinerja pada sasaran pelayanan operasi
Tabel III.1
Capaian Kinerja Sasaran “Pelayanan Operasi SAR”
INDIKATOR KINERJA TARGET
2014
REALISASI 2014
PROSENTASE CAPAIAN
Rata-rata response time pada
penanganan musibah pelayaran 60 Menit 61 Menit 98,30 % Rata-rata response time pada
penanganan musibah penerbangan 45 Menit - -
Rata-rata response time pada
penanganan bencana 45 Menit - -
Rata-rata response time pada
penanganan musibah lain-lain 60 Menit 28 Menit 153 %
Perhitungan prosentase capaian pada tabel diatas adalah dua kali target dikurang realisasi dibagi target di kali seratus persen.
Jika semakin tinggi realisasi menunjukkan pencapaian kinerja yang semakin baik dan jika semakin rendah realisasi menunjukkan semakin rendah pencapaian kinerja.
Salah satu contoh perhitungan prosentase capaian diatas dari Indikator kinerja rata – rata respon time pada penanganan musibah pelayaran adalah 2 kali 60 menit dikurang 61 menit dibagi 60 menit dikali 100 persen sama dengan 98,30 persen. Dari perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa waktu yang diperlukan respontime pada penanganan musibah pelayaran dibutuhkan waktu yang lebih lama.
Rata – rata response time adalah ukuran seberapa cepat upaya pencarian dan pertolongan pada tindak awal musibah pelayaran, musibah penerbangan, bencana dan musibah lain – lain yang ditentukan berdasarkan diterimanya berita musibah hingga kesiapan personil untuk mobillisasi ke lokasi.
Pada penanganan musibah pelayaran rata-rata response time tahun 2014 waktu yang diperlukan Kantor SAR Kelas B Merauke sudah dapat dikategorikan baik. Hal ini dapat terlihat dari pencapaiannya. Pada musibah pelayaran sebagian besar berita yang diterima berupa
signal distress yang dipancarkan melalui Emergency Position Indicating Radio Beacon yang diterima oleh Local User Terminal.
Namun data tersebut masih harus dipastikan kebenarannya. Dan samapai saat ini Kantor SAR Kelas B Merauke belum memilki LUT namun hal ini dapat di atasi dengan bekerja sama dengan kantor pusat BASARNAS.
Sedangkan rata – rata pada penanganan musibah lain – lain sebagian besar berita yang diterima berasal dari masyarakat, pada umumnya pada kantor SAR Kelas B Merauke berita tersebut dari sumber yang telah pasti namun tetap diperlukankan pengecekan ke tempat yang dilaporkan telah terjadinya musibah lain – lain tersebut, selain itu untuk memastikan musibah apa yang terjadi sehingga dapat dijadikan acuan berapa banyak personil yang harus dibawa dan peralatan SAR apa saja yang harus dipersiapkan.
Pada penanganan musibah penerbangan tidak dapat dihitung karena pada tahun 2014 tidak ada musibah penerbangan. Response time yang dibutuhkan jika terjadi musibah penerbangan pun tidak terlalu lama disebabkan karena pada musibah penerbangan dan bencana sebagian besar berita diterima dari sumber – sumber yang dapat dipercaya (akurat), misalkan untuk musibah penerbangan berita diterima dari Air Traffic Control di Bandara, sedangkan untuk bencana biasanya berita diterima dari masyarakat, Polisi atau PEMDA setempat dan tempat kejadian musibah/bencana tersebut biasanya sudah pasti.
Secara umum prosentase capaian kinerja response time pada penanganan musibah pelayaran, dan musibah lainnya yang ditangani Kantor SAR Merauke pada tahun 2014 adalah baik.
Jika dibandingkan dengan realisasi tahun – tahun sebelumnya, maka realisasi capaian kinerjanya dapat dilihat pada tabel berikut :
INDIKATOR KINERJA Realisasi 2011 Realisasi 2012 Realisasi 2013 Realisasi 2014
Rata-rata response time
pada penanganan musibah pelayaran 1 Jam 27 Menit 1 Jam 15 Menit 2 Jam 27 Menit 61 Menit
Rata-rata response time
pada penanganan
musibah penerbangan
- - - -
Rata-rata response time
pada penanganan bencana 0 Jam Menit 0 Jam 5 Menit 0 Jam 0 Menit -
Rata-rata response time
pada penanganan musibah lain-lain 4 Jam 0 Menit 3 Jam 9 Menit 2 Jam 53 Menit 28 Menit
Perbandingan realisasi rata – rata response time pada penanganan musibah pelayaran, bencana dan musibah lain-lain dapat dilihat pada grafik berikut ini :
2. Meningkatnya kesiapsiagaan dalam mengantisipasi terjadinya musibah/ bencana
Indikator kinerja pada sasaran kesiapsiagaan dalam mengantisipasi terjadinya musibah/ bencana dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
INDIKATOR KINERJA
Rata-rata waktu tindak awal pelaksanaan operasi SAR
Waktu tindak awal pelaksanaan operasi SAR adalah untuk mengukur seberapa cepat upaya mencari kebenaran informasi musibah/ bencana yang diterima dengan alat komunikasi (dimana tahapan ini disebut preliminary communication
dapat ditindaklanjuti. Tindak awal pelaksanaan operasi SAR dilakukan apabila laporan berita terjadinya musibah/ bencana
0 50 100 150 200 250 Response time Grafik 1.1 Pelayanan Operasi SAR (response time, dalam menit)
Meningkatnya kesiapsiagaan dalam mengantisipasi terjadinya musibah/ bencana
kinerja pada sasaran kesiapsiagaan dalam mengantisipasi terjadinya musibah/ bencana dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
INDIKATOR KINERJA TARGET
2014
REALISASI 2014
PROSENTASE CAPAIAN
rata waktu tindak
awal pelaksanaan operasi 45 menit 18,43 Menit
Waktu tindak awal pelaksanaan operasi SAR adalah untuk mengukur seberapa cepat upaya mencari kebenaran informasi musibah/ bencana yang diterima dengan alat komunikasi (dimana tahapan ini
preliminary communication – extended communication
dapat ditindaklanjuti. Tindak awal pelaksanaan operasi SAR dilakukan apabila laporan berita terjadinya musibah/ bencana
Response time Pelayaran Response Time Bencana Response Time Musibah 2011 2012 2013 2014
Meningkatnya kesiapsiagaan dalam mengantisipasi terjadinya
kinerja pada sasaran kesiapsiagaan dalam mengantisipasi terjadinya musibah/ bencana dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
PROSENTASE CAPAIAN
159 %
Waktu tindak awal pelaksanaan operasi SAR adalah untuk mengukur seberapa cepat upaya mencari kebenaran informasi musibah/ bencana yang diterima dengan alat komunikasi (dimana tahapan ini
communication) untuk
dapat ditindaklanjuti. Tindak awal pelaksanaan operasi SAR dilakukan apabila laporan berita terjadinya musibah/ bencana
2011 2012 2013 2014
berasal dari sumber yang dianggap belum jelas kebenarannya, misalnya adanya
laporan dari individu/ perusahaan.
Prosentase rata pada tahun 2014
menit atau dengan prosen
INDIKATOR KINERJA
Rata-rata waktu tindak awal pelaksanaan operasi SAR
Perbandingan realisasi rata
SAR dapat dilihat pada grafik berikut :
Meningkatnya kesiapsiagaan dalam mengantisipasi terjadinya
0 5 10 15 20 25 30
berasal dari sumber yang dianggap belum jelas kebenarannya, misalnya adanya signal distress yang ditangkap oleh sat
laporan dari individu/ perusahaan.
Prosentase rata-rata waktu tindak awal pelaksanaan operasi SAR 4 terealisasi selama 18 menit dari target selama menit atau dengan prosentase capaian sasaran sebesar 159
INDIKATOR KINERJA Realisasi 2011
Realisasi 2012
Realisasi 2013
rata waktu tindak
awal pelaksanaan operasi 30 Menit 28 Menit 14 Menit
Perbandingan realisasi rata – rata waktu tindak awal pelaksanaan operasi dapat dilihat pada grafik berikut :
Grafik 2
Meningkatnya kesiapsiagaan dalam mengantisipasi terjadinya musibah/bencana
( dalam menit)
Tindak Awal Operasi SAR
2011 2012 2013 2014
berasal dari sumber yang dianggap belum jelas kebenarannya, yang ditangkap oleh satelit atau
rata waktu tindak awal pelaksanaan operasi SAR menit dari target selama 45
59 %.
Realisasi 2014
18 Menit
elaksanaan operasi
Meningkatnya kesiapsiagaan dalam mengantisipasi terjadinya
2011 2012 2013 2014
3.Meningkatnya keberhasilan penyelamatan korban dalam pelaksanaan operasi SAR
Keberhasilan operasi SAR adalah tindakan SAR yang pada dasarnya untuk menyelamatkan jiwa manusia. Dengan demikian, keberhasilan SAR adalah keberhasilan meminimalkan korban jiwa manusia pada pelaksanaan operasi SAR. Apabila pada kondisi musibah dimana tidak ada korban yang selamat, maka SAR harus berhasil mengevakuasi korban.
Dalam pelaksanaan operasi SAR memerlukan kemampuan mencari (Search) lokasi musibah dan kemampuan memberikan pertolongan (rescue) terhadap korban musibah. Operasi SAR dapat dikatakan berhasil apabila dalam penyelenggaraan operasi SAR tersebut mampu menemukan dan menyelamatkan korban seoptimal mungkin.
Banyak faktor yang mempengaruhi keberhasilan operasi SAR, antara lain sarana dan prasarana yang mendukung, Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas dan lain-lain. Indikator kinerja pada sasaran keberhasilan penyelamatan korban dalam pelaksanaan operasi SAR dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
INDIKATOR KINERJA TARGET
2014
REALISASI 2014
PROSENTASE CAPAIAN
Prosentase jumlah korban terselamatkan dalam pelaksanaan operasi SAR
90 % 73,20% 81,30%
Prosentase jumlah korban yang ditemukan dalam pelaksanaan operasi SAR
Perhitungan prosentase capaian pada tabel diatas adalah realisasi dibagi target dikali seratus persen. Jika semakin tinggi realisasi menunjukkan pencapaian kinerja yang semakin baik dan jika semakin rendah realisasi menunjukkan rendahnya capaian kinerja. Contoh perhitungan prosentase capaian diatas dari indikator kinerja prosentase jumlah korban terselamatkan dalam pelaksanaan operasi SAR adalah 73,20 persen dibagi 90 persen dikalikan 100 persen sama dengan 81,3 persen dari perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa capaian kinerja yang dicapai adalah baik.
Dalam melaksanakan operasi SAR pada Kantor SAR Merauke dapat dilihat dari prosentase jumlah korban yang terselamatkan dan ditemukan pada pelaksanaan operasi SAR. Dalam hal ini pengukuran tersebut diambil dari rata-rata prosentase jumlah korban pada musibah pelayaran, bencana dan musibah lain-lain.
Untuk prosentase jumlah korban terselamatkan dalam pelaksanaan operasi SAR diukur dari jumlah korban selamat baik dalam keadaan sehat, luka ringan dan luka berat dari jumlah total korban musibah/ bencana yang terdata pada pelaksanaan tanggap darurat. Sedangkan untuk prosentase jumlah korban yang ditemukan diukur dari jumlah korban yang selamat dan meninggal dari jumlah total korban musibah/ bencana yang dilaporkan/ terdata.
Berikut Foto Musibah Foto musibah yang ditangani Kantor SAR Kelas B Merauke Tahun Anggaran 2014 :
Koordinasi dan persiapan Pencarian Korban ditemukan dan segera di evakuasi Persiapan dan koordinasi Tim Rescuer dengan masyarakat sebelum Pencarian Korban (foto kiri). Korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada TW.1013 12.00I, Tim Rescuer segera mengevakuasi Korban (foto kanan). Operasi SAR di tutup dengan hasil 1 orang korban dengan kondisi meninggal dunia
Proses Evakuasi kapal penjaring yang hilang dengan POB 5 Orang di perairan Onggaya (08˚53’00”S-140˚21’50”E ) yang seharusnya telah kembali. SRU yang terlibat yaitu Tim Rescuer Kantor SAR Merauke dan Tim Rescuer POS SAR Okaba, dan berhasil dievakuasi 1 Orang Korban Meninggal Dunia oleh Tim Rescuer di Pesisir Kali Bian (foto kanan). Operasi SAR ditutup dengan Hasil 3 Orang Selamat dan 2 Orang Meninggal Dunia.
Berikut ini adalah tabel
dan ditemukan dalam pelaksanaan operasi SAR kantor SAR Merauke adalah sebagai berikut :
INDIKATOR KINERJA Realisasi Prosentase jumlah korban terselamatkan dalam pelaksanaan operasi SAR Prosentase jumlah korban yang ditemukan dalam pelaksanaan operasi SAR
Realisasi Jumlah Korban Terselamatkan dan Ditemukan Dalam Operasi SAR Kantor SAR Merauke
0 20 40 60 80 100 120 2011
Berikut ini adalah tabel perbandingan jumlah korban terselamatkan dan ditemukan dalam pelaksanaan operasi SAR kantor SAR
adalah sebagai berikut :
Realisasi 2011 Realisasi 2012 Realisasi 2013 Realisasi 2014 Keterangan 75 % 86 % 79 % 81,30% Meningkat 102% 100 % 89% 102,70% Grafik 3
Realisasi Jumlah Korban Terselamatkan dan Ditemukan Dalam Operasi SAR Kantor SAR Merauke
( dalam prosentase)
2012 2013 2014
Jumlah korban terselamatkan Jumlah korban yang ditemukan
jumlah korban terselamatkan dan ditemukan dalam pelaksanaan operasi SAR kantor SAR
Keterangan
Meningkat
Jumlah korban
4.Tersedianya personil dalam kegiatan Siaga Kantor SAR Kelas B Merauke
INDIKATOR KINERJA TARGET
2014 REALISASI 2014 PROSENTASE CAPAIAN Prosentase kecukupan personil siaga rescuer pada Kantor SAR
90 % 87,50 % 97,20%
Kecukupan Siaga Kantor SAR
100 % 100 % 100 %
Jumlah Pos SAR 2 2 100 %
Kecukupan Siaga Pos SAR 100 % 100 % 100 %
Kecukupan Jumlah Siaga Khusus
100 % 100 % 100 %
Kecukupan Siaga Rescue Boat
100 % 100 % 100 %
Kesiapsiagaan dalam mengantisipasi terjadinya musibah/ bencana dapat tercapai jika kecukupan personil rescuer pada Kantor SAR Kelas B Merauke sesuai dengan standar, sehingga dapat menangani pelaksanaan operasi SAR secara cepat dan maksimal. Dalam hal ini yang diukur adalah prosentase kecukupan siaga rescuer pada setiap pelaksanaan siaga rutin di Kantor SAR.
Saat ini pelaksanaan siaga rescuer pada Kantor SAR rata-rata dilaksanakan oleh 7 (tujuh) personil, sesuai dengan standar standar siaga rescuer sebanyak 8 (delapan) personil. personil dalam siaga
rescuer sangat berpengaruh terhadap kinerja Kantor SAR Merauke
khususnya response time dikarenakan apabila terjadi musibah/ bencana maka masih harus menunggu kelengkapan jumlah rescuer untuk berkumpul.
INDIKATOR KINERJA Realisasi 2012 Realisasi 2013 Realisasi 2014 Keterangan
Prosentase kecukupan personil
siaga rescuer pada Kantor SAR 75% 88% 87,50% Menuru% Kecukupan Siaga Kantor SAR
100% 100% 100% Tetap
Jumlah Pos SAR
2 2 2 Tetap
Kecukupan Siaga Pos SAR
100% 100% 100% Tetap
Kecukupan Jumlah Siaga Khusus
100% 100% 100% Tetap
Kecukupan Siaga Rescue Boat
100% 100% 100% Tetap
Prosentase kecukupan personil siaga rescuer pada Kantor SAR tahun 2014 mengalami penurunan dengan hasil terealisasi sebesar 87,50 % dari target 90 % dengan prosentase capaian sebesar 97,20%. Hal ini terjadi karena peningkatan target capaian 2013 sebesar 80% menjadi 90% di tahun 2014 sementara jumlah personil tetap sejak tahun 2013.
Untuk mewujudkan keberhasilan dalam pelaksanaan setiap operasi SAR, maka harus didukung dengan adanya kesiapsiagaan personil dan sarana SAR yang memadai. Siaga SAR adalah serangkaian
kegiatan yang dilakukan untuk memonitor, mengawasi,
mengantisipasi, dan mengkoordinasikan kegiatan SAR dalam musibah dan bencana.
Kesiapsiagaan yang dilakukan dalam mengantisipasi terjadinya musibah/ bencana dilakukan selama 24 (dua puluh empat ) jam yang meliputi siaga rescuer, siaga komunikasi, siaga Awak Buah Kapal (ABK), dan siaga kepala jaga harian (kajahar).
Apabila kesiapsiagaan tersebut dilakukan secara maksimal maka setiap terjadi musibah/ bencana akan segera cepat ditanggapi dan diadakan operasi SAR, sehingga response time akan lebih cepat
5. Tersedianya peralatan dalam kegiatan Siaga Sarana dan Prasarana Kantor SAR Kelas B Merauke
Kesiapsiagaan Peralatan Sarana dan Prasarana menjadi unsur yang sangat penting dalam mendukung Indikator Kinerja Utama.
INDIKATOR KINERJA TARGET
2014
REALISASI 2014
PROSENTASE CAPAIAN Prosentase kesiapan sarpras dan
peralatan SAR pada Kantor SAR 90% 98% 115% Pemeliharaan dan Kesiapan Sarana
SAR 30 unit 38 Unit 127%
Pemeliharaan dan Kesiapan Prasarana SAR (Rapling , antena dan tower rapiter)
4 unit 3 unit 75%
Perawatan Peralatan Komunikasi
3 paket 3 paket 100%
Perhitungan prosentase capaian pada tabel diatas adalah realisasi dibagi target di kali seratus persen.
Jika semakin tinggi realisasi menunjukkan pencapaian kinerja yang semakin baik dan jika semakin rendah realisasi menunjukkan semakin rendah pencapaian kinerja.
Contoh perhitungan prosentase capaian diatas dari Indikator kinerja prosentase kesiapan Sarpras dan peralatan SAR pada Kantor SAR Merauke adalah 98 di bagi 90 di kali 100 persen sama dengan 115
persen dari perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa pencapaian kinerja yang semakin baik
Pada pemeliharaan dan kesiapan sarana SAR prosentase capaian 127 % dan kesia
perawatan peralatan Komunikasi telah
Jika dibandingkan dengan realisasi tahun sebelumnya realisasi capaian kinerjanya dapat dilihat pada tabel berikut
INDIKATOR KINERJA
Prosentase kesiapan sarpras dan peralatan SAR pada Kantor SAR
Pemeliharaan dan Kesiapan Sarana SAR
Pemeliharaan dan Kesiapan Prasarana SAR (Rapling , antena dan tower rapiter)
Perawatan Peralatan Komunikasi
Grafik Perbandingan realisasi kesiapan sarpras & peralatan SAR
0 10 20 30 40 50 2011 2012
persen dari perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa pencapaian kinerja yang semakin baik
ada pemeliharaan dan kesiapan sarana SAR prosentase capaian dan kesiapan prasarana SAR sebesar 100%. S
peralatan Komunikasi telah memenuhi target yaitu 100%
ngkan dengan realisasi tahun sebelumnya realisasi capaian kinerjanya dapat dilihat pada tabel berikut
KINERJA Realisasi 2011 Realisasi 2012 Realisasi 2013
Prosentase kesiapan sarpras
dan peralatan SAR pada Kantor 85% 91,9% 115%
Pemeliharaan dan Kesiapan
32unit 37 unit 38 unit Kesiapan
Prasarana SAR (Rapling , antena 3 4 4
Perawatan Peralatan Komunikasi
2 2 2
Grafik Perbandingan realisasi kesiapan sarpras & peralatan SAR (dalam prosentase)
2012 2013 2014
Pemeliharaan dan Kesiapan Sarana SAR Rappling Antena
persen dari perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa
ada pemeliharaan dan kesiapan sarana SAR prosentase capaian Sementara yaitu 100%.
ngkan dengan realisasi tahun sebelumnya, maka : Realisasi 2014 100,43% 42 Unit 3 3
Grafik Perbandingan realisasi kesiapan sarpras & peralatan SAR
Pemeliharaan dan Kesiapan Sarana SAR Rappling
6. Peran serta organisasi potensi SAR daerah dalam pelaksanaan operasi SAR
Kantor SAR Kelas B Merauke sebagai lembaga yang sentral di daerah dalam melakukan kegiatan represif dituntut untuk siaga setiap saat, mampu bertindak cepat dan mampu menjangkau setiap tempat sehingga terciptanya keberhasilan operasi SAR. Dengan pertimbangan tuntutan kinerja tersebut serta sifat-sifat musibah, maka Kantor SAR Kelas B Merauke bertanggung jawab menggalang operasi yang berskala lebih besar dengan segenap potensi SAR daerah yang memungkinkan untuk dimobilisasi.
Potensi SAR daerah adalah sumber daya manusia, sarana dan prasarana yang dapat dimanfaatkan untuk menunjang kegiatan penyelenggaraan operasi SAR. Keterlibatan organisasi potensi SAR daerah pada pelaksanaan operasi SAR dikoordinasikan dan dikendalikan secara penuh oleh Kantor SAR Kelas B Merauke di lingkup wilayah kerja Papua bagian selatan, sehingga semakin banyaknya organisasi potensi SAR daerah yang terlibat dalam operasi SAR berarti semakin menunjukan keberhasilan Kantor SAR Kelas B Merauke dalam pelaksanaan koordinasi pada penanganan musibah/ bencana. Indikator kinerja pada sasaran peran serta organisasi potensi SAR daerah dalam pelaksanaan operasi SAR dapat dilihat pada tabel di bawah ini :
INDIKATOR KINERJA TARGET
2014
REALISASI 2014
PROSENTASE CAPAIAN
Rata-rata prosentase keterlibatan potensi SAR dalam pelaksanaan operasi SAR
70 % 178,57% 255 %
Jumlah potensi Kantor SAR Kelas
Berikut ini tabel per
INDIKATOR KINERJA
Rata-rata prosentase keterlibatan potensi SAR dalam pelaksanaan operasi SAR
Jumlah potensi Kantor SAR Kelas B Merauke
Berikut grafik perbandingan real operasi SAR dan jumlah potensi SAR
Organisasi potensi SAR
menunjang pelaksanaan operasi SAR hal ini dikarenakan beberapa faktor antara lain :
- Keterbatasan personil
- Belum seluruh
Kantor SAR Kelas B Merauke mengalami bencana atau musibah yang
- Wilayah tanggungjawab terlalu luas; 0 20 40 60 80 100 120 140 160 180 2011 perbandingan :
INDIKATOR KINERJA Realisasi 2011
Realisasi 2012
Realisasi 2013
rata prosentase keterlibatan
potensi SAR dalam pelaksanaan operasi 20 % 53,85 % 158%
Jumlah potensi Kantor SAR Kelas B
22 42 40
Berikut grafik perbandingan realisasi keterlibatan potensi SAR dalam dan jumlah potensi SAR
Organisasi potensi SAR daerah merupakan bagian penting untuk menunjang pelaksanaan operasi SAR hal ini dikarenakan beberapa faktor antara lain :
Keterbatasan personil Kantor SAR Kelas B Merauke;
Belum seluruh kabupaten atau kecamatan di wilayah kerja Kantor SAR Kelas B Merauke yang berpotensi besar mengalami bencana atau musibah yang memiliki Pos SAR; Wilayah tanggungjawab Kantor SAR Kelas B Merauke
uas;
2012 2013 2014
keterlibatan potensi dalam operasi (dlm persen)
Jumlah potensi SAR SAR (unit)
Realisasi 2014
178,57%
75
keterlibatan potensi SAR dalam
merupakan bagian penting untuk menunjang pelaksanaan operasi SAR hal ini dikarenakan beberapa
kabupaten atau kecamatan di wilayah kerja yang berpotensi besar
Pos SAR; Kantor SAR Kelas B Merauke yang
keterlibatan potensi dalam operasi (dlm
- Kurangnya peralatan SAR.
Dengan adanya organisasi potensi SAR daerah yang cukup maka pelaksanaan operasi SAR dapat ditangani lebih maksimal. Apabila musibah/ bencana yang terjadi di daerah yang memiliki jarak yang jauh dan sulit dijangkau oleh Kantor SAR dan Pos SAR dengan adanya organisasi potensi SAR yang terlatih maka akan membantu pelaksanaan operasi SAR.
Untuk membentuk organisasi potensi SAR yang terlatih maka diperlukan pembinaan yaitu dengan mengikutsertakan organisasi potensi SAR tersebut dalam latihan SAR, diharapkan dengan latihan
tersebut seluruh personil potensi SAR dapat membantu
melaksanakan operasi SAR.
Setiap pelaksanaan operasi SAR pasti di dalamnya melibatkan organisasi potensi SAR daerah baik pada operasi SAR maritim maupun operasi SAR di darat, di mana rata-rata prosentase keterlibatan organisasi potensi SAR daerah dalam pelaksanaan operasi SAR dihitung dari rata-rata keterlibatan organisasi potensi SAR daerah setiap kejadian musibah/ bencana dibagi dengan seluruh jumlah organisasi potensi SAR daerah yang terdata.
Keterlibatan organisasi potensi SAR daerah dalam pelaksanaan operasi SAR maritim dan di darat memiliki perbedaan. Organisasi potensi SAR maritim lebih spesifik karena harus memiliki sarana, prasarana dan personil yang mempunyai kemampuan khusus, misalnya kemampuan menyelam dan teknik pertolongan di air. Sedangkan dari segi sarana harus memiliki peralatan di air, misalnya rubber boat, rigid inflatable boat, rescue boat dan lain-lain. Sedangkan untuk pelaksanaan operasi SAR di darat hampir seluruh
organisasi potensi SAR daerah dapat dikatakan memiliki kemampuan dalam segi sarana, peralatan maupun personil.
7. Koordinasi Potensi SAR Daerah Kantor SAR Kelas B Merauke
Keberhasilan pelaksanaan operasi SAR bergantung pada
keberhasilan Kantor SAR Kelas B Merauke dalam
mengkoordinasikan organisasi potensi SAR daerah dan kemampuan organisasi potensi SAR itu sendiri. Oleh karena itu kemampuan organisasi potensi SAR secara kualitas maupun kuantitas menjadi point yang sangat penting. Salah satu tugas Kantor SAR Kelas B Merauke adalah memberikan pembinaan terhadap organisasi potensi SAR agar memiliki personil yang berkualitas SAR. Pembinaan tersebut dilakukan dengan cara menyelenggarakan pendidikan dan latihan selain itu juga melaksanakan sosialisasi, pameran, rapat koordinasi dan workshop di bidang SAR. Dengan
meningkatnya kemampuan organisasi potensi SAR, maka
diharapkan dapat mengurangi jumlah korban yang meninggal pada saat pelaksanaan pertolongan. Berikut indikator kinerja pada sasaran kemampuan organisasi potensi SAR dalam melaksanakan operasi SAR :
INDIKATOR KINERJA TARGET
2014
REALISASI 2014
PROSENTASE CAPAIAN
Jumlah keterlibatan personil potensi SAR pada pelaksanaan latihan SAR
150 168 112 %
Jumlah Pelatihan Eksternal Kantor
SAR dengan potensi 2 Pelatihan 2 Pelatihan 100 %
Rapat Koordinasi SAR Kantor
SAR Merauke 1 Lap. 1 Lap. 100 %
Dan di bawah ini perbandingkan realisasi capaian kinerjanya adalah:
INDIKATOR KINERJA Realisasi 2011 Realisasi 2012 Realisasi 2013 Reaisasi 2014
Jumlah keterlibatan personil potensi
SAR pada pelaksanaan latihan SAR 102orang 144 orang
150 orang 168 orang Jumlah Pelatihan Eksternal Kantor SAR
dengan potensi 2 Pelatihan 2 Pelatihan
2 Pelatihan 2 Pelatihan Rapat Koordinasi SAR Kantor SAR
Merauke 1Lap. 1 Lap. 1 Lap. 1 Lap.
Latihan SAR Daerah
1 Angk. 1 Angk. 1 Angk. 1 Angk.
Berhasil atau tidaknya pelaksanaan operasi SAR tergantung pada kemampuan dan peralatan SAR yang dimiliki Kantor SAR Kelas B Merauke, selain itu didukung juga oleh keberadaan organisasi potensi SAR daerah. Dalam membantu kinerja Kantor SAR Kelas B Merauke pada pelaksanaan operasi SAR, organisasi potensi SAR daerah diharapkan memiliki tenaga rescuer yang berkualitas dan kompeten. Untuk mewujudkan hal tersebut, Kantor SAR Kelas B Merauke telah melaksanakan pendidikan dan pelatihan untuk organisasi potensi SAR daerah dalam bentuk Latihan dan Rapat Koordinasi SAR Daerah. Selain itu pembinaan organisasi potensi SAR daerah masih dilaksanakan sesuai dengan permintaan dari organisasi potensi SAR tersebut dan hal ini sangat banyak dilakukan oleh Kantor SAR Kelas B Merauke yang terealisasi dalam Latihan Eksternal dengan potensi Kantor SAR Kelas B Merauke.
Berikut ini beberapa gambar latihan SAR bersama Potensi Kantor SAR Merauke yang di gelar Kantor SAR Kelas B Merauke:
Acara Pembukaan Rapat Koordinasi SAR Daerah & Latihan SAR Daerah Kantor SAR Merauke Tahun 2014 yang dihadiri dan dibuka langsung oleh Deputi Bidang Operasi BASARNAS Brigadir Jenderal TNI Tatang Zaenudin.
Rapat Koordinasi SAR Daerah pada tanggal 17 September 2014 Tempat pelaksanaan di Swiss-BelHotel International Merauke, dengan peserta 57 Instansi/Organisasi. Acara Pembukaan Rapat Koordinasi SAR Daerah & Latihan SAR Daerah Kantor SAR Merauke Tahun 2014, yang di hadiri oleh Deputi Bidang Operasi BASARNAS Brigadir Jenderal TNI Tatang Zaenudin sekaligus membuka secara resmi acara tersebut (foto atas).
b. Pelatihan Potensi SAR Pertolongan/Penyelamatan di Air
Latihan Potensi SAR Pertolongan di Air, pada tanggal 17 November 2014 s.d 20 November 2014 Tempat Pelaksanaan di Swiss-BelHotel International, Kantor SAR Merauke & Dermaga Perikanan Merauke , 41 Instansi/Organisasi. Penabuhan Kandara Oleh DIR BINGA BADAN SAR NASIONAL Mayjen TNI SUPRAYOGI menandai dibukanya Pelatihan Potensi SAR Kantor SAR Kelas B Merauke (foto kiri). Para Peserta pelatihan Potensi SAR menyimak dengan antusias materi yang diberikan oleh Instruktur (foto kanan).
Peserta bersama instruktur dan peserta sedang melakukan praktek pertolongan penyelamatan di air
Personil Kantor SAR Merauke dan Peserta Pelatihan Potensi melakukan praktek Evakuasi korban di laut
C. Akuntabilitas Keuangan
Anggaran belanja yang digunakan untuk membiayai kegiatan Kantor SAR Kelas B Merauke tertuang dalam DIPA Tahun Anggaran 2014 Nomor : DIPA – 107.01.1.414499/2014 tanggal 5 desember 2013 dengan total anggaran sebesar Rp. 19.762.661.000,- .
Berikut ini adalah Realisasi Anggaran Kantor SAR Kelas B Merauke pada Tahun Anggaran 2014 dari seluruh Program Kegiatan yang telah dilaksanakan.
KEGIATAN PAGU (Rp) REALISASI SISA (Rp) KEUANGAN (Rp) KEUANGAN (%) FISIK(%)
1 2 3 4 5 6
BELANJA PEGAWAI 5.039.720.000 4.779.626.934 94,84 100 260.093.066 BELANJA BARANG 9.888.722.000 8.829.069.289 89,28 100 1.059.652.771 BELANJA MODAL 4.834.219.000 4.566.305.000 94,46 100 267.914.000 JUMLAH 19.762.661.000 18.175.001.223 91,97 100 1.587.659.777
Sedangkan khusus untuk pelaksanaan yang menghasilkan outcome adalah sebagai berikut :
No. Indikator Kinerja Utama Pagu (Rp.) 2014 Realisasi (Rp.)
2014 %
1. Kecepatan tanggap pada operasi SAR dalam penanganan musibah
Rp.1.250.000.000 Rp.1.211.755.000 96,90%
2. Keberhasilan evakuasi korban pada operasi SAR di Kantor SAR Merauke
Rp. 900.000.000 Rp.848.855.000 94,30%
3. Meningkatnya kesiapsiagaan dalam mengantisipasi terjadinya musibah/ bencana
Rp.4.480.850.000. Rp.4.119.726.916 91,90%
4 Prosentase keterlibatan potensi dalam kegiatan SAR di Kantor SAR Merauke
BAB IV P E N U T U P
Laporan akuntabilitas kinerja Kantor SAR Kelas B Merauke tahun 2014 ini diharapkan dapat memberikan gambaran tentang berbagai capaian kinerja, laporan ini merupakan wujud transparansi dan akuntabilitas Kantor SAR Kelas B Merauke. Sangat disadari bahwa laporan ini belum secara sempurna menyajikan prinsip transparansi dan akuntabilitas seperti yang diharapkan, namun setidaknya bagi pihak yang berkepentingan dapat memperoleh gambaran tentang kinerja yang telah dilakukan oleh Kantor SAR Kelas B Merauke. Dimasa yang akan datang Kantor SAR Kelas B Merauke akan melakukan berbagai langkah untuk lebih menyempurnakan laporan ini agar terwujud transparansi dan akuntabilitas yang kita ingin wujudkan bersama.
Tugas pelayanan SAR yang diemban oleh Kantor SAR Kelas B Merauke di lingkungan Badan SAR Nasional telah dilaksanakan dengan baik pada Tahun Anggaran 2014, hal ini tidak terlepas dari dukungan dan kerja sama dengan unsur-unsur lainnya baik di lingkungan Badan SAR Nasional maupun seluruh instansi/organisasi potensi SAR. Kerja sama yang telah terjalin dengan baik ini diharapkan dapat lebih ditingkatkan lagi sehingga kinerja Kantor SAR Kelas B Merauke secara keseluruhan dapat berlangsung secara maksimal.
Kiranya LAKIP Tahun Anggaran 2014 ini dapat memenuhi kewajiban akuntabilitas dan sekaligus menjadi sumber informasi dalam pengambilan keputusan guna peningkatan kinerja. Bagi Kantor SAR Kelas B Merauke, LAKIP ini diharapkan dapat menjadi salah satu sumbangan penting dalam penyusunan dan implementasi : rencana kerja, rencana kinerja, rencana anggaran dan rencana strategis dimasa yang akan datang.