• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB II TINJAUAN PUSTAKA"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

i DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

PERNYATAAN KEASLIAN TULISAN ... ii

LEMBAR PERSETUJUAN... iii

HALAMAN PENGESAHAN ... iv

KATA PENGANTAR ... v

RINGKASAN PENELITIAN ... vii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xi

DAFTAR TABEL ... xii

DAFTAR LAMPIRAN ... xiii

DAFTAR SINGKATAN ... xiv

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Penelitian ... 1

1.2 Rumusan Masalah Penelitian ... 4

1.3 Tujuan Penelitian ... 5

1.4 Manfaat Penelitian ... 5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Perilaku Seksual Remaja ... 6

2.1.1 Definisi Remaja ... 6

2.1.2 Tahapan Remaja ... 7

2.1.3 Perkembangan Fisik Remaja ... 8

2.1.4 Perkembangan Psikologis Remaja ... 9

2.1.5 Perilaku seksual ... 11

2.1.6 Faktor yang Memengaruhi Perilaku Seksual ... 11

2.1.7 Perilaku Seksual Sehat Remaja ... 15

2.1.8 Aktivitas Seksual yang Digolongkan ke dalam Perilaku Seksual Tidak Sehat... 16

2.1.9 Dampak Perilaku Seksual Pranikah Remaja ... 18

2.2 Religiusitas ... 19

2.2.1 Definisi Religiusitas ... 19

2.2.2 Fungsi Religi ... 20

2.2.3 Dimensi Religiusitas ... 21

2.2.4 Faktor-faktor yang Memengaruhi Religiusitas ... 22

2.3 Hubungan Tingkat Religiusitas Orangtua Terhadap Perilaku Seksual Remaja... 23

BAB III KERANGKA KONSEP 3.1 Kerangka Konsep ... 25

3.2 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 26

3.2.1 Variabel Penelitian ... 26

3.2.2 Definisi Operasional... 26

(2)

ii BAB IV METODE PENELITIAN

4.1 Jenis Penelitian ... 28

4.2 Kerangka Kerja ... 29

4.3 Tempat dan Waktu Penelitian ... 30

4.4 Populasi, Teknik Sampling Penelitian dan Sampel ... 30

4.4.1 Populasi Penelitian ... 30

4.4.2 Teknik Sampling ... 30

4.4.3 Sampel ... 31

4.5 Jenis dan Cara Pengumpulan Data ... 33

4.5.1 Jenis Data yang dikumpulkan ... 33

4.5.2 Cara Pengumpulan Data ... 33

4.5.3 Instrumen Pengumpul Data ... 35

4.5.4 Uji Validitas dan Reliabilitas ... 37

4.5.5 Etika Penelitian ... 39

4.6 Pengolahan dan Analisis Data ... 40

4.6.1 Pengolahan Data... 40

4.6.2 Analisis Data ... 41

BAB V HASIL DAN PEMBAHASAN 5.1 Hasil Penelitian ... 42

5.1.1 Kondisi Lokasi Penelitian ... 42

5.1.2 Karakteristik Sampel Penelitian ... 43

5.1.3 Hasil Analis Data ... 44

5.2 Pembahasan ... 46

5.2.1 Gambaran Tingkat Religiusitas Orangtua Remaja Kelas 3 SMP di Denpasar ... 46

5.2.2 Gambaran Perilaku Seksual Remaja Kelas 3 SMP di Denpasar .... 48

5.2.3 Hubungan Tingkat Religiusitas Orangtua Terhadap Perilaku Seksual Remaja Kelas 3 SMP di Denpasar ... 50

5.3 Keterbatasan Penelitian ... 52 BAB VI PENUTUP 6.1 Kesimpulan ... 53 6.2 Saran ... 53 DAFTAR PUSTAKA Lampiran

(3)

iii

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 3.1 Kerangka Konsep Penelitian ... 25 Gambar 4.1 Kerangka Kerja Penelitian ... 29

(4)

iv

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 3.1 Definisi Operasional Penelitian ... 26

Tabel 4.1 Perhitungan Jumlah Sampel ... 32

Tabel 4.2 Blue Print Kuesioner Tingkat Religiusitas ... 35

Tabel 4.3 Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen ... 37

Tabel 5.1 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Responden Orangtua dan Remaja Kelas 3 SMP di Denpasar Tahun 2017 ... 43

Tabel 5.2 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Usia Pubertas Responden Remaja Kelas 3 SMP di Denpasar Tahun 2017 ... 43

Tabel 5.3 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Jenis Kelamin Responden Remaja Kelas 3 SMP di Denpasar Tahun 2017 ... 43

Tabel 5.4 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Agama Orangtua Responden Remaja Kelas 3 SMP di Denpasar Tahun 2017 ... 44

Tabel 5.5 Gambaran Tingkat Religiusitas Orangtua Remaja Kelas 3 SMP di Denpasar Tahun 2017 ... 44

Tabel 5.6 Gambaran Tingkat Religiusitas Orangtua Remaja Kelas 3 SMP di Denpasar Tahun 2017 Ditinjau Berdasarkan Pengetahuan Agama .... 44

Tabel 5.7 Gambaran Perilaku Seksual Remaja Kelas 3 SMP di Denpasar Tahun 2017 ... 45

Tabel 5.8 Gambaran Perilaku Seksual Remaja Kelas 3 SMP di Denpasar Tahun 2017 Ditinjau Berdasarkan Jenis Kelamin ... 45

Tabel 5.9 Hubungan Tingkat Religiusitas Orangtua Terhadap Perilaku Seksual Remaja Kelas 3 SMP di Denpasar Tahun 2017 ... 45

(5)

v

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran 1 : Jadwal Kegiatan Penelitian Lampiran 2 : Penjelasan Penelitian

Lampiran 3 : Lembar Persetujuan Menjadi Responden Lampiran 4 : Kuisioner Penelitian

Lampiran 5 : Master Tabel Responden Penelitian Lampiran 6 : Hasil Uji Validitas dan Reliabilitas Lampiran 7 : Hasil Uji Statistik Data Penelitian Lampiran 8 : Surat Ijin Melakukan Studi Pendahuluan

Lampiran 9 : Surat Rekomendasi Badan Penanaman Modal dan Perizinan Lampiran 10 : Surat Rekomendasi Ijin Penelitian Badan Kesatuan Bangsa dan

Politik

Lampiran 11 : Surat Keterangan Lulus Etik (Ethical Clearance) Lampiran 12 : Surat Rekomendasi Melaksanakan Penelitian Lampiran 13 : Anggaran Penelitian

Lampiran 14 : Dokumentasi Penelitian Lampiran 15 : Lembar Konsultasi

(6)

vi

DAFTAR SINGKATAN

AIDS : Acquired Immune Deficiency Syndrome

BK : Bimbingan Konseling

BKKBN : Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional

BP : Budi Pekerti

FK UNUD : Fakultas Kedokteran Universitas Udayana

HIV : Human Immunodeficiency Virus

IMS : Infeksi Menular Seksual

KIR : Karya Ilmiah Remaja

KISARA : Kita Sayang Remaja

KPAI : Komisi Perlindungan Anak Indonesia PGRI : Persatuan Guru Republik Indonesia

PKBI : Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia

PMR : Palang Merah Remaja

SMP : Sekolah Menengah Pertama

TP 45 : Taman Pendidikan 45

(7)

vii ABSTRAK

Perilaku seksual remaja merupakan segala perilaku mulai dari kissing, necking petting, anal, hingga intercourse yang dilakukan oleh remaja. Religiusitas orangtua dapat memengaruhi sikap dan tindakan orangtua dalam mengasuh, mendidik dan membentuk perilaku remaja. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui adanya hubungan antara tingkat religiusitas orangtua dengan perilaku seksual remaja kelas 3 SMP di Denpasar. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif korelasional dan menggunakan desain penelitian cross-sectional. Sampel yang digunakan dalam penelitian ini berjumlah 200 orang yang dipilih melalui teknik simple random sampling dan proportionate stratified random sampling. Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari instrumen data demografi, instrumen tingkat religiusitas orangtua, dan instrumen perilaku seksual remaja. Berdasarkan hasil analisis uji Spearman Rank didapatkan nilai p value= 0,000 (p<0,05) sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara religiusitas orangtua dengan perilaku seksual remaja kelas 3 SMP di Denpasar. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar penyusunan program sosialisasi khususnya mengenai pencegahan perilaku seksual negatif pada remaja.

(8)

viii ABSTRACT

Adolescence sexual behavior is begun from kissing, necking, petting, anal to intercourse by the adolescent. Parent’s religiousity will affect their attitudes and actions in nurturing, educating and shaping the adolescent’s behavior. The purpose of this study is to determine relationship between level of religiosity with the sexual behavior of 3rd grade students in junior high school in Denpasar. Type of this research is correlational descriptive research and using cross-sectional research design. The sample that used in this research are 200 people that selected through simple random sampling technique and stratified random sampling technique. Data collection in this study used questionnaires that consists of demographic data instrument, parent's religiosity level instrument, and adolescent sexual behavior instrument. Based on Spearman Rank test, it obtained p value= 0,000 (p <0.05). In conclusion, there is a significant relationship between parent’s religiosity and sexual behavior of 3rd grade students of junior high school in Denpasar. Results of this study can be used as reference for socialization programs that regarding to prevention of negative adolescent sexual behavior.

(9)

ix BAB 1 PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang

Remaja dapat didefinisikan sebagai masa peralihan dari masa kanak-kanak ke dewasa. World Health Organization (WHO) (2015) mendefinisikan remaja adalah seseorang yang berusia dari umur 12 sampai 19 tahun. Remaja juga diartikan sebagai tahapan perkembangan seseorang yang berada di antara fase anak dan dewasa yang ditandai dengan perubahan fisik, perilaku, kognitif, biologis, dan emosi (Efendi & Mekhfudli, 2009).

Pada masa remaja terjadi pertumbuhan dan perkembangan yang pesat baik secara fisik, psikologis maupun intelektual (Departemen Kesehatan Republik Indonesia, 2015). Sifat khas remaja mempunyai rasa keingintahuan yang besar, menyukai petualangan dan tantangan serta cenderung berani menanggung resiko atas perbuatannya tanpa didahului oleh pertimbangan yang matang. Sifat khas remaja tersebut dapat membuat remaja mengabaikan nilai-nilai sosial yang berlaku dalam masyarakat sehingga menyebabkan perilaku kenakalan pada remaja (Sumiati & Dinarti, 2009).

Data Klaster Kasus Perlindungan Anak Indonesia tahun 2011-2016, ditemukan perilaku kenakalan remaja di Indonesia yang tergolong cukup besar. Hal tersebut terlihat dari persentase sebesar 34,8% atau sejumlah 7.698 remaja berhadapan dengan hukum (Komisi Perlindungan Anak Indonesia, 2016). Perilaku kenakalan remaja tidak hanya dilihat dari pelanggaran terhadap hukum saja, tetapi dapat mencakup pelanggaran status dan pelanggaran terhadap norma. Pelanggaran status seperti lari dari rumah, membolos dari sekolah, minum minuman keras dibawah umur, balapan liar dan lain sebagainya. Sedangkan perilaku kenakalan remaja yang menyimpang terhadap norma antara lain seperti aborsi oleh remaja wanita yang disebabkan oleh adanya seks pranikah dikalangan remaja (Serpianing & Retno, 2012).

Perilaku seksual pranikah remaja adalah segala tingkah laku yang didorong oleh hasrat seksual, terhadap lawan jenis, mulai dari tingkah laku kissing, necking, petting, dan intercourse yang dilakukan oleh remaja diluar hubungan pernikahan (Cynthia, 2011). Studi yang dilakukan oleh Rahyani, Utarini, Wilopo dan Hamiki

(10)

x

(2012) menemukan bahwa usia remaja mulai berhubungan seks pranikah bervariasi di tiap-tiap negara, berkisar dari 12-17,5 tahun dan rata-rata dimulai sejak usia 15 tahun. Studi yang dilakukan sebelumnya oleh Utomo dan Mc Donald (2009), tentang perilaku seks pranikah remaja di Indonesia, memperoleh hasil sekitar 25%-51% remaja telah berhubungan seks pranikah. Hasil survey yang dilakukan oleh Badan Koordinasi Keluarga Berancana Nasional tahun 2008 menyebutkan bahwa 63% remaja telah melakukan hubungan seks pranikah merupakan remaja yang berasal dari lingkungan perkotaan (Rahmad, 2013). Hal ini didukung oleh studi yang dilakukan Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) (Mujiasih, 2014), menyebutkan bahwa kehamilan tidak diinginkan remaja di Indonesia yang tertinggi terdapat di Mataram, Yogyakarta dan Denpasar.

Perilaku seksual pranikah pada remaja sebagian besar diantaranya dilakukan dengan teman akrab atau pacar (Setiawan & Nurhidayah, 2013). Berdasarkan Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI (2015), proporsi terbesar berpacaran pertama kali dilakukan oleh remaja yakni pada usia 15-17 tahun. Sekitar 33,3% remaja perempuan dan 34,5% remaja laki-laki yang berusia 15-19 tahun mulai berpacaran pada saat mereka belum berusia 15 tahun. Sedangkan berdasarkan survei kesehatan reproduksi yang dilaksanakan oleh BKKBN, usia awal mulai pacaran kini semakin muda yaitu 12 tahun. Hal itu menunjukkan bahwa remaja yang duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP) sudah mulai mengenal dan menjalani hubungan pacaran (KISARA, 2016). Berdasarkan penelitian cross sectional analitik yang dilakukan oleh KISARA PKBI Bali tahun 2016 pada 1200 remaja usia 12-19 tahun di kota Denpasar, ditemukan bahwa sekitar 73,33% remaja sudah pernah berpacaran (880 dari 1200 remaja), sehingga hanya 26,67% remaja di kota Denpasar yang mengaku belum pernah pacaran. Dari 880 responden yang pernah pacaran 88,07% pernah bergandengan tangan, 67,95% pernah berpelukan, 58,30% pernah mencium pipi, 35,57% pernah berciuman bibir, dan 19,20% pernah meraba badan.

Perilaku seksual pranikah yang dilakukan oleh remaja dapat menimbulkan dampak negatif pada remaja itu sendiri diantaranya perasaan bersalah, depresi, marah, kehamilan diluar nikah, penyakit menular seksual, HIV/AIDS, dan pengguguran kandungan atau aborsi (Sarwono, 2012). Berdasarkan Data Klaster Kasus

(11)

xi

Perlindungan Anak Indonesia tahun 2012-2015, diperoleh peningkatan kasus aborsi yang dilakukan remaja, pada tahun 2015 terdapat 19 kasus dan pada tahun 2016 sampai bulan November tercatat 23 kasus (KPAI, 2016). Sedangkan berdasarkan data statistik Kemenkes RI tentang HIV/AIDS tahun 2016 di Indonesia, kasus HIV/AIDS pada remaja usia 15-19 tahun mencapai 2.208 kasus. Sekitar 68% dari kasus HIV/AIDS yang terjadi di Indonesia menular dari hubungan seksual (Spiritia, 2016). Hal tersebut diperkuat dengan studi pendahuluan yang dilakukan pada Dinas Kesehatan Provinsi Bali, mengenai kasus HIV AIDS tahun 2016, tercatat 308 kasus merupakan kalangan remaja usia 15-19 tahun. Kasus terbanyak berada di Denpasar dengan jumlah 137 atau senilai 44,48%. Data tersebut dapat menjadi salah satu acuan bahwa masih tingginya perilaku seksual remaja di Bali khususnya di Denpasar.

Terdapat beberapa faktor yang dapat menjadi penyebab timbulnya perilaku seksual pranikah dikalangan remaja seperti media, pengetahuan remaja, status berpacaran, pengaruh teman sebaya dan yang paling dominan adalah peran orangtua (Safitri, 2015). Hal ini didukung dengan penelitian yang dilakukan oleh Suci, Wahyuningsih dan Haryani (2015), dimana dalam penelitiannya didapatkan bahwa salah satu penyebab penyimpangan perilaku seksual pranikah remaja yaitu kurangnya dukungan orangtua.

Peran orangtua memberikan dasar pendidikan agama, menciptakan suasana rumah yang hangat dan menyenangkan, serta memberikan pemahaman akan norma baik dan buruk yang ada dalam masyarakat (Suci, Wahyuningsih & Haryani, 2015). Orangtua berperan dalam membimbing dan mengarahkan anaknya untuk berperilaku sesuai dengan kitab suci dan ajaran agama melalui religiusitas yang ditanamkan (Susilo, 2006). Orangtua yang kurang religius cenderung lebih rendah dalam pemantauannya terhadap anak, sehingga anaknya cenderung mudah bergaul dengan rekan-rekan yang memiliki perilaku negatif, salah satunya perilaku seksual beresiko (Manlove, Logan, Moore & Ikramullah, 2008). Dalam penelitian Landor et al (2011) menyatakan religiusitas orangtua secara tidak langsung juga dapat memengaruhi perilaku seksual remaja dimana orangtua yang religius memungkinkan perilaku anak yang juga religius. Remaja yang religius cenderung membuatnya bergaul dengan teman-teman yang dianggapnya baik sehingga

(12)

xii

kemungkinan resiko perilaku seksual negatif remaja juga berkurang. Hal ini didukung oleh penelitian Krisnha (2008) yang menyatakan religiusitas orangtua yang rendah dapat berpengaruh pada rendahnya religiusitas remaja. Hal ini membuat remaja dengan mudah melakukan perilaku yang menyimpang tanpa memikirkan norma agama.

Penelitian oleh Khairunnisa (2013) menyatakan ada hubungan antara religiusitas dan kontrol diri dengan perilaku seksual pranikah pada remaja di Madrasah Aliyah Negeri 1 Samarinda. Perilaku yang diatur oleh tuntutan agama akan mengarahkan seseorang dalam mengendalikan dirinya. Religiusitas memiliki peran yang sangat kuat terhadap kehidupan seseorang. Penelitian oleh Aini (2011) terdapat hubungan negatif yang signifikan antara pemahaman tingkat agama (religiusitas) dengan perilaku seks bebas pada remaja. Hal tersebut diartikan bahwa semakin tinggi pemahaman tingkat agama (religiusitas) maka perilaku seks bebas semakin rendah, begitu juga sebaliknya. Penelitian lain oleh Azinar (2013), menyatakan bahwa ada hubungan yang signifikan antara tingkat religiusitas dengan perilaku seksual pranikah beresiko kehamilan tidak diinginkan. Semakin tinggi religiusitas maka akan semakin rendah intensitas perilaku seksual pranikah remaja.

Penelitian mengenai perilaku seksual remaja, khususnya remaja anak sekolah telah banyak dilakukan, akan tetapi belum ada penelitian mengenai hubungan religiusitas orangtua terhadap perilaku seksual remaja. Melihat dari fenomena yang terjadi berdasarkan data diatas peneliti tertarik untuk meneliti hubungan religiusitas orangtua terhadap perilaku seksual remaja.

1.2 Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, maka didapatkan rumusan masalah sebagai berikut:

“Adakah hubungan antara religiusitas orangtua dengan perilaku seksual remaja kelas 3 SMP di Denpasar?”

1.3 Tujuan Penelitian 1.3.1 Tujuan Umum

(13)

xiii

Untuk mengetahui hubungan antara religiusitas orangtua dengan perilaku seksual remaja kelas 3 SMP di Denpasar.

1.3.2 Tujuan Khusus

a. Mengidentifikasi tingkat religiusitas orangtua murid kelas 3 SMP di Denpasar. b. Mengidentifikasi perilaku seksual remaja kelas 3 SMP di Denpasar.

c. Menganalisis hubungan antara religiusitas orangtua dengan perilaku seksual remaja kelas 3 SMP di Denpasar.

1.4 Manfaat Penelitian 1.4.1 Manfaat Teoritis

Manfaat teoritis dari penelitian ini adalah dapat menambah keilmuan di bidang keperawatan komunitas khususnya kelompok remaja mengenai perilaku seksual remaja kelas 3 SMP di Denpasar.

1.4.2 Manfaat Praktis

Manfaat praktis yang diperoleh dari penelitian ini antara lain:

a. Sebagai pertimbangan bagi pihak-pihak atau instansi yang terkait dalam memberi solusi atas fenomena seksual remaja kelas 3 SMP di Denpasar. b. Sebagai bahan masukan untuk orangtua dan informasi tambahan mengenai

hubungan religiusitas orangtua terhadap perilaku seksual pada remaja kelas 3 SMP di Denpasar.

c. Sebagai dasar bagi peneliti selanjutnya untuk meneliti perilaku seksual remaja kelas 3 SMP di Denpasar.

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan religiusitas dengan sikap terhadap seks bebas pada remaja di SMA Negeri 4 Binjai T.A 2011/2012.Penelitian

Hubungan Antara Perilaku Asertif dan Resiliensi Dalam Menghadapai Tekanan dari Pacar Untuk Melakuakan Seks Bebas pada Remaja. Perkembangan teknologi di era globalisasi ini

Sikap remaja tentang perilaku seks bebas di SMK Kesehatan Bhakti Kencana Subang tahun 2020 yaitu remaja yang memiliki sikap negatif tentang perilaku seks bebas lebih

Penelitian yang relevan adalah penelitian yang dilakukan oleh Febby Litta (2009) yang berjudul “Hubungan antara Persepsi tentang Seks dengan Perilaku Seksual Siswa

antara konformitas negatif dengan perilaku seks bebas remaja pada siswa kelas XI.. di SMK Kristen Salatiga dengan r = 0,738 dengan koefisian signifikan 0,000

Berdasarkan hasil analisis data pada penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara sikap terhadap religiusitas dengan sikap

Dengan empat orang informan utama dan satu orang informan pendamping.Hasil: Persepsi perilaku seks bebas pada remaja, remaja memiliki presepsi negatif terhadap perilaku

Informasi sangat berpengaruh dalam mengetahui bagaimana perilaku remaja terhadap seks bebas, dan berkaitan dengan penelitian yang akan dilakukan.Bagaimana sikap remaja dalam