BAB 3
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan rancangan studi
potong lintang (cross sectional) untuk melihat gambaran ekspresi reseptor
estrogen β (ER# β) pada ANJ.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan di Divisi Onkologi – Bedah Kepala Leher
Departemen T.H.T.K.L FK USU / RSUP H. Adam Malik Medan. Sediaan
jaringan tumor ANJ pascaoperasi berupa blok parafin diambil dari Bagian
Patologi Anatomi RSUP H. Adam Malik Medan dan pemeriksaan
imunohistokimia dikerjakan oleh Departemen Patologi Anatomi FK USU
Medan. Penelitian dilakukan mulai Juni 2016 sampai April 2017.
3.3 Populasi dan Sampel 3.3.1 Populasi
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh penderita angiofibroma
nasofaring juvenile di Divisi Onkologi – Bedah Kepala Leher T.H.T.K.L FK
USU/RSUP H. Adam Malik Medan mulai Oktober 2010 – Juni 2016
dengan hasil pemeriksaan histopatologi jaringan pascaoperasi
menunjukkan angiofibroma nasofaring, yaitu sebanyak 22 penderita.
3.3.2 Sampel
Sampel pada penelitian ini adalah seluruh populasi.
a. Kriteria inklusi
Penderita dengan data rekam medik yang lengkap di RSUP H.
Adam Malik Medan, dengan identitas jelas dan tercatat hasil
Mempunyai blok parafin yang tersimpan di Bagian Patologi Anatomi
RSUP H. Adam Malik Medan.
b. Kriteria eksklusi
# Blok parafin rusak selama proses pewarnaan imunohistokimia
c. Kriteria drop out
# Sediaan blok parafin setelah dilakukan pewarnaan imunohistokimia
ternyata tidak terbaca.
Berdasarkan kriteria di atas yang memenuhi kriteria untuk menjadi
sampel adalah 19 orang.
3.4 Variabel Penelitian
Variabel yang diteliti yaitu : jenis kelamin, umur, intensitas pewarnaan,
jumlah sel yang mengandung ER# β dan ekspresi ER# β.
3.5 Definisi Operasional
a. Angiofibroma Nasofaring Juvenile (ANJ)
Defenisi
Tumor fibrovaskular nasofaring yang secara
histopatologi adalah jinak akan tetapi memiliki
kemampuan mendestruksi jaringan sekitarnya.
Sediaan jaringan tumor pascaoperasi
Hasil pemeriksaan histopatologi yang tercantum di
rekam medik
1 = Angiofibroma
0 = Bukan angiofibroma
b. Jenis kelamin
Cara ukur
Rentang waktu sejak penderita dilahirkan sampai
ulang tahun terakhir.
Usia pasien ANJ
Rekam medik pasien
Sakala numerik dalam satuan tahun
d. Ekspresi Reseptor Estrogen β
Protein intraselular yang berada pada bagian inti sel.
Di bawah mikroskop tampak sebagai presipitasi
berwarna coklat pada stroma dan sel endotel
pembuluh darah.
Pemeriksaan imunohistokimia
Menilai tingkat imunoreaktivitas mouse monoklonal
antibody terhadap ER#β menggunakan mikroskop
dengan pembesaran 100x pada 1000 sel yang
tersebar pada 10 lapangan pandang yang berbeda,
Ekspresi ER#β Untuk skor akhir digunakan skor
imunoreaktif. Skor imunoreaktif diperoleh dengan
mengalikan skor luas (jumlah inti sel yang
mengandung ER#β) dengan skor intensitas
pewarnaan.
(Tan & Putti 2005)
Ekspresi ER#β Negatif : 0 – 3
a. Intensitas pewarnaan ER#β :
0 : Tidak ada reaktifitas
1 +: Lemah
2+ : Sedang
3.6 Alat dan Bahan Penelitian 3.6.1 Alat penelitian
# Status penelitian
# Sistem visualisasi immunohistokimia (Envision kit), mesin
pemotong jaringan (mikrotome), silanized slide, mikroskop
cahaya (Olympus CX21).
3.6.2 Bahan penelitian
# Blok parafin angioibroma nasofaring yang tersimpan di
Bagian Patologi Anatomi RSUP H. Adam Malik Medan.
# Untuk pemeriksaan immunohistokimia Xylol, alkohol
absolut, alkohol 95%, alkohol 80%, alkohol 70%, H2O2
0,5% dalam methanol, Phosphat Buffer Saline (PBS),
antibodi ER#β (Mouse monoclonal estrogen receptor beta
antibody), Envision, Chromogen Diamino Benzidine
(CDB), Lathium Carbonat jenuh, Tris EBTA, Hematoxylin,
aqua destilata.
b. Jumlah sel tumor yang positif mengandung ER#β
(skor luas) :
0 : Tidak ada sel tumor yang positif mengandung
ER#β
1+ : Pewarnaan positif < 25% jumlah sel
2+ : Pewarnaan positif 25#50% jumlah sel
3.7 Kerangka Kerja
Kerangka kerja penelitian dapat dilihat pada gambar dibawah ini:
Gambar 3.7. Kerangka kerja
Data pasien ANJ berdasarkan rekam medik di Divisi Onkologi – Bedah Kepala Leher T.H.T.K.L FK USU /
RSUP H. Adam Malik Medan Periode Oktober 2010 – Juni 2016
3.7.1 Alur penelitian
Penelitian dimulai dengan mengidentifikasi pasien#pasien yang telah
didiagnosis angiofibroma nasofaring dan telah dilakukan operasi
berdasarkan rekam medik di Divisi Onkologi – Bedah Kepala Leher
T.H.T.K.L FK USU/RSUP H. Adam Malik Medan dari Oktober 2010 – Juni
2016. Pasien dengan rekam medik lengkap, datanya disesuaikan dengan
blok parafin yang tersimpan di Bagian Patologi Anatomi RSUP H. Adam
Malik Medan. Kemudian blok parafin yang ada dan kondisinya masih baik
dilakukan pemeriksaan ER#β dengan menggunakan imunohistokimia.
3.7.2 Pewarnaan imunohistokimia sediaan blok parafin
1. Deparafinisasi slide (Xylol 1, Xylol 2, Xylol 3) @ 5 menit
2. Rehidrasi (Alkoholabsolute, Alkohol 96%, @ 4 menit
Alkohol 80%, Alkohol 70%)
3. Cuci dengan air mengalir 5 menit
4. Masukkan slide ke dalam PT Santa Cruz ± 1 jam
Epitope Retrieval : set up Preheat 65 oC,
Running time 98 oC selama 15 menit
5. Pap Pen. Segera masukkan dalam Tris 5 menit
Buffered Saline (TBS) pH 7,4
6. Blocking dengan peroxidase block 5#10 menit
7. Cuci dengan Tris Buffered Saline (TBS) pH 7,4 5 menit
8. Blocking dengan Normal Horse Serum (NHS) 3% 15 menit
9. Cuci dalam Tris Buffered Saline (TBS) pH 7,4 5 menit
10. Inkubasi dengan Antibodi Mouse Antibodi 1 jam
Monoklonal ER β dengan pengenceran 1: 100 Xl
11. Cuci dengan Tris Buffered Saline (TBS) pH 7,4 5 menit
/Twen 20
12. Dako Real Envision Rabbit/ Mouse 30 menit
13. Cuci dengan Tris Buffered Saline (TBS) pH 7,4 5#10 menit
14. DAB + Substrat Chromogen solution dengan 5 menit
Pengenceran 20XL DAB : 1000XL substrat
(tahan 5 hari di suhu 2#8 oC setelah dicampur)
15. Cuci dengan air mengalir 10 menit
16. Counterstain dengan Hematoxylin 3 menit
17. Cuci dengan air mengalir 5 menit
18. Lithium carbonat (5% dalam aqua) 2 menit
19. Cuci dengan air mengalir 5 menit
20. Dehidrasi (Alkohol 80%, Alkohol 96%, Alkohol @ 5 menit
Absolute)
21. Clearing (Xylol1, Xylol2, Xylol3) @ 5 menit
22. Mounting + cover glass
3.7.3 Penilaian ekspresi ER#β
1. Pewarnaan imunohistokimia pada masing#masing preparat gelas
objek dinilai berdasarkan persentase sel tumor yang positif
mengandung ER#β dan intensitas pewarnaan. Perhitungan
dilakukan pada 1000 sel yang tersebar pada 10 lapangan
pandang dilakukan oleh peneliti dan ahli Patologi Anatomi.
2. Sistem penderajatan (grading) yang dipakai adalah berdasarkan:
a. Intensitas pewarnaan ER#β :
0 = negatif; 1+ = lemah; 2+ = sedang; 3+ = kuat
b. Jumlah sel tumor yang mengandung ER#β (skor luas) :
0 = negatif; 1+ = <25%; 2+= 25#50%; 3+ = >50%
3.8 Cara Pengumpulan Data
Data yang dikumpulkan adalah data penderita ANJ yang memenuhi
kriteria penerimaan sampel yaitu data rekam medik secara retrospektif di
Divisi Onkologi – Bedah Kepala Leher T.H.T.K.L FK USU/RSUP H. Adam
dari pemeriksaan langsung ekspresi ER#β ANJ dengan pemeriksaan
immunohistokimia.
3.9 Analisa Data
1. Data skala kategorik nominal dan ordinal akan disajikan sebagai
sebaran frekuensi (n, %) yaitu dalam jumlah dan persentase.
2. Data skala numerik akan dilakukan uji normalitas data dengan uji
(Shapiro#Wilk). Data dikatakan berdistribusi normal jika p>0,05
(disajikan dalam nilai mean dan standar deviasi) dan jika p<0,05
dikatakan data tidak berdistribusi normal (disajikan dalam nilai
median serta minimum dan maksimumnya).
3.10 Etika Penelitian
Pelaksanaan penelitian terlebih dahulu akan meminta persetujuan dari
Komite Etik penelitian bidang kesehatan Fakultas Kedokteran USU.
BAB 4
HASIL PENELITIAN
4.1. Gambaran Umum Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan di Divisi Onkologi Departemen THT#KL RSUP H. Adam Malik Medan, bagian Patologi Anatomi RSUP H. Adam Malik
Medan dan Departemen Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran
Universitas Sumatera Utara.
Departemen THT#KL FK USU yaitu bagian dari RSUP H. Adam Malik
Medan dan FK USU untuk melayani pasien THT#KL di RSUP H. Adam
Malik dan tempat menjalankan program pendidikan dokter spesialis THT#
KL. Tahun 2013, Departemen ini telah mendapat penilaian “A” dari
akreditasi Kolegium Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Bedah
Kepala & Leher (THT#KL) Indonesia dan tahun 2015 mendapat penilaian
GOLD dari akreditasi International Standard Operasional (ISO
9001:2015). Penelitian ini diawali di Divisi Onkologi THT#KL RSUP H.
Adam Malik yaitu bagian dari Departemen THT#KL yang khusus
menangani penyakit#penyakit tumor di bagian THT#KL. Ada empat
supervisor sebagai dokter penanggung jawab di divisi ini. Tiga diantaranya
telah mendapat gelar Fellow of the International College of Surgeon
(FICS) yaitu gelar pengakuan dari kumpulan ahli bedah internasional dan
menjadi konsultan di bagian onkologi THT#KL. Divisi Onkologi THT#KL
melayani pasien sekitar 25 pasien perhari. Berbagai kasus tumor THT dan
dalam hal ini penyakit Angiofibroma Nasofaring Juvenile ditangani secara
tim oleh supervisor tersebut. Berkaitan dengan reseptor estrogen beta,
pemeriksaan ini tidak termasuk pemeriksaan rutin dalam penanganan
kasus angiofibroma nasofaring juvenile.
Pada penelitian ini membutuhkan data rekam medis pasien dari
Instalasi Rekam Medik RSUP H. Adam Malik Medan yang telah
menggunakan Sistem Informasi Manajemen Rumah Sakit (SIMRS) yang
dengan Bagian Patologi Anatomi rumah sakit, yaitu bagian yg melakukan
pemeriksaan dan disimpan jaringan tumor pascaoperasi, baik jaringan
makroskopis ataupun bentuk blok parafin.
Proses penelitian lebih lanjut dan pemeriksaan blok parafin dilakukan
di Departemen Patologi Anatomi (PA) Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera. Selain melayani pemeriksaan jaringan tumor yang dirujuk dari
berbagai praktek dokter juga sebagai sentra penelitian yang
menggunakan pemeriksaan metode imunohistokimia di lingkungan
Fakultas Kedokteran Universitas Sumatera Utara. Departemen PA ini juga
telah berjalan program pendidikan dokter spesialis dan mendapat
akreditasi “B” dari Kolegium Patologi Anatomi Indonesia. Instalasi Patologi
Anatomi ini dilengkapi peralatan microtome untuk memotong blok parafin,
lemari pendingin untuk menjaga suhu penyimpanan reagensia antibodi
tetap stabil dan mikroskop CX21 merk Olympus yang tersambung dengan
komputer dan kamera merk Samsung. Sehingga pembacaan side jaringan
langsung tampak di layar monitor komputer.
4.2 Distribusi Frekuensi Penderita ANJ Berdasarkan Jenis Kelamin Tabel 4.2.1 Distribusi frekuensi penderita ANJ berdasarkan jenis kelamin
Jenis Kelamin n %
Seluruh penderita pada penelitian ini berjenis kelamin laki#laki. Hasil ini
menunjukkan kesamaan dengan karakteristik penderita angiofibroma
nasofaring secara umum, dimana predileksinya tinggi pada laki#laki.
Tabel 4.3.1 Distribusi frekuensi penderita ANJ berdasarkan umur
menunjukkan kesamaan dengan profil penderita angiofibroma nasofaring
juvenile pada umumnya dimana kejadiannya paling tinggi pada usia
pubertas. Hal ini terkait penyebab angiofibroma nasofaring berkaitan
dengan hormonal.
4.4 Distribusi Frekuensi Penderita ANJ Berdasarkan Intensitas Pewarnaan ER β
Tabel 4.4.1 Distribusi frekuensi penderita ANJ berdasarkan intensitas
pewarnaan ER#β
imunohistokimia. Pada penelitian ini, seluruh penderita ANJ memiliki
yang berbeda#beda. Ekspresi ER#β dengan intensitas pewarnaan 2+
(intensitas sedang) 11 penderita (57,9%), dan intensitas pewarnaan 3+
(intensitas kuat) 6 penderita (31,6%). Perbedaan intensitas pewarnaan
kuat, sedang dan lemah dinilai dengan mikroskop Olympus CX21
(pembesaran 400x) seperti pada gambar di bawah ini.
Gambar 4.4.1. Intensitas Pewarnaan ER#β 1+ (Inti sel yang mengandung
reseptor ER#β dengan intensitas lemah (tanda panah)).
Gambar 4.4.2. Intensitas Pewarnaan ER#β 2+ (Inti sel yang mengandung
reseptor ER#β dengan intensitas sedang (tanda panah)).
4.5 Distribusi Frekuensi Penderita ANJ Berdasarkan Jumlah Sel Yang Positif Mengandung ER β
Tabel 4.5.1 Distribusi frekuensi penderita ANJ berdasarkan jumlah sel
yang positif mengandung ER#β
Jumlah sel yang positif mengandung ER#β (skor luas) n %
0 atau (#)
<25% /1+
25#50% / 2+
>50% / 3+
0
1
3
15
0
5,3
15,8
78,9
TOTAL 19 100
Berdasarkan jumlah sel yang mengandung reseptor estrogen β (ER#β),
mayoritas sampel (15 penderita / 78,9%) mengekspresikan sel yang
mengandung ER#β >50% (skor 3+). Sedangkan antara 25#50% (skor 2+)
ada 3 penderita (15,8%). Hanya 1 penderita dengan ekspresi sel yang
mengandung ER#β <25% (skor 1+). Pemeriksaan jumlah sel yang
mengandung ER#β di bawah mikroskop tampak seperti gambar di bawah
ini.
Gambar 4.5.2. Jumlah sel yang mengandung ER#β 25#50% (2+)
Gambar 4.5.3. Jumlah sel yang mengandung ER#β >50% (3+)
4.6 Distribusi Frekuensi Penderita ANJ Berdasarkan Ekspresi ER β Tabel 4.6.1 Distribusi frekuensi penderita ANJ berdasarkan ekspresi ER#β
Ekspresi ER#β n %
Ekspresi ER#β Positif / Overekspresi
Ekspresi ER#β Negatif
17
2
89,5
10,5
TOTAL 19 100
Pewarnaan jaringan tumor ANJ secara imunohistokimia menggunakan
warna coklat pada inti sel yang mengandung reseptor estrogen β.
Ekspresi ER#β penderita ANJ berdasarkan skor imunoreaktif paling
banyak mengalami ekspresi positif atau overekspresi (89,5%) dan sisanya
menunjukkan ekspresi negatif (10,5%). Skor imunoreaktif secara luas
sudah diterapkan untuk melihat ekspresi ER#β pada penderita tumor
payudara dan digunakan untuk prognosis. Prognosis semakin baik bila
skor imunoreaktif semakin tinggi.
BAB 5 PEMBAHASAN
Penelitian ini merupakan penelitian yang pertama kali dilakukan di Departemen THT#KL FK USU/RSUP H. Adam Malik Medan, khususnya di
Divisi Onkologi yang bekerja sama dengan Departemen Patologi Anatomi
RSUP H. Adam Malik Medan dan Departemen Patologi Anatomi FK USU
untuk mengetahui keberadaan ER#β pada ANJ dengan metode
imunohistokimia menggunakan antibodi monoklonal.
Dalam kurun waktu bulan Oktober 2010 sampai bulan Juni 2016 terdapat 19 penderita yang memenuhi kriteria penerimaan dan cukup
representatif untuk dilakukan penilaian mengenai keberadaan ER#β pada
jaringan tumor ANJ.
Pada penelitian ini berdasarkan kategori jenis kelamin seluruh sampel
sebanyak 19 (100%) penderita ANJ berjenis kelamin laki#laki. Hasil
penelitian ini sesuai dengan penelitian Barreto et al (2013) di Brazil,
Alecio, Fabiano, Ramina (2011) di Brazil, Bleier (2009) di Pennsylvania
dan Gupta, Rajiniganth, Gupta (2008) di India yang menyebutkan semua
penderita ANJ berjenis kelamin laki#laki. Hal ini disebabkan adanya
hubungan ANJ dengan ketidak seimbangan hormonal pada jenis kelamin
laki#laki (Gupta, Rajiniganth & Gupta 2008; Bleier 2009; Alecio, Fabiano &
Ramina 2011; Barreto et al. 2013).
Lara et al. (2010) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa ANJ merupakan penyakit yang terjadi pada remaja muda. Prevalensi penyakit
ini lebih tinggi pada laki#laki seperti yang dijelaskan dalam sebuah
penelitian yang meneliti mengenai perubahan genetik pada penderita
ANJ, melaporkan adanya hubungan antara angioma dan ekspresi
reseptor androgen (Lara et al. 2010).
Persky & Manolidis (2014) menyebutkan penyakit ANJ memiliki
(antiandrogen) pada penderita ANJ sebelum operasi menunjukkan adanya
pengurangan ukuran tumor (Persky & Manolidis 2014).
Pada kategori umur, dari 19 penderita ANJ diperoleh rentang umur
penderita adalah 8 # 21 tahun dan paling banyak pada kelompok umur 14#
16 tahun (57,89%). Hasil tersebut selaras dengan penelitian Anggreani et
al. (2011) di RSCM Jakarta, yang menyebutkan dari 27 penderita,
diperoleh rentang umur penderita 9 # 23 tahun dan rerata umur 15,7 tahun
± 3,23 tahun. Dimana usia terbanyak antara 14#17 tahun. Gupta,
Rajiniganth & Gupta (2008) di India melaporkan rerata umur penderita
adalah 14,75 tahun dengan rentang umur dari 10 hingga 20 tahun dan
Bareto et al. (2013) di Brazil yang menyebutkan rerata umur penderita
adalah 16 tahun dengan rentang umur dari 10 hingga 29 tahun (Gupta,
Rajiniganth & Gupta 2008; Anggreani et al. 2011; Barreto et al. 2013). Jadi
profil penderita ANJ di RSUP H. Adam Malik Medan berdasarkan jenis
kelamin dan umur sama dengan profil penderita ANJ pada umumnya.
Nicolai, Schreiber & Bolzoni (2012) dalam artikelnya menyebutkan
pada dasarnya etiologi dari ANJ tidak diketahui secara pasti namun
diyakini berkaitan dengan ketidakseimbangan hormonal pada penderita
laki#laki remaja dimana massa tumor ANJ mengalami regresi setelah
mengalami akil balik dan Montag, Tretiakova & Richardson (2006)
menyebutkan adanya dijumpai reseptor androgen disamping reaktifitas
reseptor estrogen β pada massa tumor tersebut. Hal ini didukung dengan
penelitian Thakar et al. (2011) di India yang membuktikan adanya regresi
parsial tumor setelah pemberian flutamide 6 minggu sebelum operasi dan
respon paling tinggi ditunjukkan oleh penderita setelah pubertas
dibandingkan sebelum pubertas (Montag, Tretiakova & Richardson 2006;
Thakar et al. 2011; Nicolai, Schreiber & Bolzoni 2012).
Pada penelitian ini seluruh penderita ANJ memiliki sebaran ER#β pada
jaringan tumornya namun memiliki intensitas pewarnaan yang berbeda#
beda. Sebagian besar penderita mempunyai intensitas pewarnaan sedang
sedang. Hasil ini berbeda dengan hasil penelitian Montag et al. (2006) di
Chicago yang meneliti ekspresi ER#β pada penderita ANJ dimana 10 dari
13 kasus memiliki intensitas pewarnaan kuat, 2 kasus dengan intensitas
sedang dan 1 kasus dengan intensitas pewarnaan lemah. Juga dengan
penelitian Anggreani et. al (2011) di RS Cipto Mangunkusumo terhadap
27 kasus ANJ, dimana terbanyak adalah intensitas lemah (51,9%) diikuti
intensitas sedang (29,6%) dan intensitas kuat (18,5%) (Montag,
Tretiakova & Richardson 2006 & Anggreani et al. 2011). Perbedaan
intensitas pewarnaan ini diduga kemungkinan dipengaruhi oleh lama
penyimpanan blok parafin (Fergenbaum, Closas & Hewit 2004; Bertheau
et al. 1998).
Menurut Montag et al., perbedaan intensitas pewarnaan terhadap ER#β
dipengaruhi oleh kedekatan lapisan perisit terhadap endotel vaskular,
dimana lapisan perisit yang berdekatan secara langsung dengan endotel
menghasilkan pewarnaan yang kuat (Montag, Tretiakova & Richardson
2006). Pendapat yang berbeda dari Deyrup et.al (2004) di Amerika Serikat
menyebutkan bahwa tidak ada perbedaan intensitas pewarnaan ER#β
antara lesi jinak maupun ganas (Deyrup, Tretiakova & Montag 2006).
Utami (2006) di FKG UI meneliti ekspresi ER#β pada mukosa mulut
penderita stomatitis aftosa rekuren (SAR) tipe minor. Hasil yang diperoleh
adalah dari 26 lesi SAR minor memberikan ekspresi ER#β positif lemah
(1+) pada 6 lesi (23,1%), sedangkan sisanya sebanyak 20 lesi (76,9%)
menunjukkan hasil negatif. Bahan penelitian yang digunakan diperoleh
dari usapan dengan tekanan (scrap) pada mukosa mulut sehingga sel
yang didapat tidak sebanyak apabila dilakukan biopsi atau pemeriksaan
jaringan paska operasi sehingga dapat timbul kesulitan saat melakukan
evaluasi hasil (Utami 2006).
Berdasarkan jumlah sel yang positif mengandung ER#β sebanyak 15
kasus termasuk ke dalam kelompok dengan jumlah sel > 50% (skor luas
3+). Tiga kasus termasuk ke dalam kelompok dengan jumlah sel antara
1+). Hal ini tidak jauh berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh
Montag et al. terhadap 13 kasus ANJ, sebanyak 10 kasus memiliki jumlah
sel yang positif ER#β >50% (3+), sedangkan 2 kasus lainnya dengan
jumlah sel antara 25#50% (2+) dan sisanya 1 kasus mempunyai jumlah sel
<25% (1+) (Montag, Tretiakova & Richardson 2006). Dan penelitian
intensitas pewarnaan dan jumlah sel yang positif mengandung ER#β.
Deyrup et al (2004) dalam penelitiannya yang menilai ekspresi ER#β
pada 53 kasus tumor pembuluh darah baik jinak dan ganas. Hasil
penelitian tersebut menunjukkan ekspresi ER#β dijumpai pada sebagian
besar kasus (93%) dan termasuk ke dalam kelompok 2+ sampai 3+
(Deyrup, Tretiakova, Khramtsov & Montag 2004). Penelitian Deyrup et al.
berikutnya tentang ekspresi ER#β pada 40 kasus fibromatosis
ekstraabdomen, ekspresi ER#β dijumpai pada seluruh kasus. Sebanyak
33 kasus (83%) menunjukkan ekspresi ER#β >50% (3+), pada 5 kasus
(12%) menunjukkan ekspresi ER#β 11#50% (2+) dan 2 kasus (5%)
menunjukkan ekspresi ER#β <10% (1+) (Deyrup, Tretiakova & Montag
2006).
Pada penelitian ini, ER#β dijumpai pada jaringan tumor seluruh
penderita dengan intensitas pewarnaan dan skor luas yang berbeda#beda.
Hasil ini selaras dengan penelitian Montag et al. (2006) di Chicago
terhadap 13 kasus ANJ dan penelitian Anggreani et al. (2011) di RS Cipto
Mangunkusumo terhadap 27 kasus, dimana semua kasus menunjukkan
ekspresi ER#β pada sediaan jaringan tumor dengan intensitas pewarnaan
dan skor luas yang berbeda#beda. Adapun antibodi yang digunakan pada
penelitian Montag et al. adalah antibodi poliklonal sedangkan Anggreani et
Tretiakova & Richardson 2006 & Anggreani et al. 2011). Perbedaan
antara kedua antibodi tersebut adalah pada sensitifitas dan spesifitas
yang dimilikinya. Perbandingan sensitifitas dan spesifitas antara antibodi
poliklonal dan monoklonal menunjukkan bahwa antibodi poliklonal lebih
sensitif, karena dapat berikatan dengan banyak epitope yang berbeda
yang memiliki kemiripan sehingga hasilnya menjadi tidak spesifik.
Sedangkan antibodi monoklonal bersifat lebih spesifik, karena hanya
mampu mengenali dan berikatan dengan epitope yang spesifik sehingga
diharapkan hasil yang diperoleh menjadi lebih spesifik dan mengurangi
kejadian positif palsu (Lipman, Jackson, Trudel & Weis 2005).
Tingkat imunoreaktivitas mouse monoklonal antibody terhadap ER#β
ditentukan berdasarkan skor imunoreaktif yaitu perkalian skor intensitas
pewarnaan dan skor luas sel yang positif ER#β, diperoleh sebanyak 89,5%
penderita ANJ mengalami ekspresi positif atau overekspresi (skor
imunoreaktif 4#9) sedangkan sisanya 10,5% menunjukkan ekspresi
negatif. Pada penelitian ini, ekspresi ER#β ditetapkan berdasarkan skor
imunoreaktif yang ditentukan pada penelitian Tan & Putti (2005).
Tan & Putti (2005) menilai skor imunoreaktif antibodi terhadap
Cyclooxygenase 2 (COX#2) pada jaringan NPC. Ekspresi COX#2
ditetapkan berdasarkan penilaian semikuantitatif dengan mengalikan
intensitas pewarnaan COX#2 (0,1,2 atau 3) dengan persentase sel yang
terwarnai dengan antibodi COX#2 (0, 0%; 1,<10%, 2,10#50%; 3,>50%).
Kisaran skor dari 0 sampai 9. Dimana ekspresi COX#2 positif apabila skor
≥ 4. Selain sebagai petanda karsinogenesis, skor imunoreaktif diterapkan
dalam penggunaan COX#2 inhibitor sebagai terapi tambahan untuk
menguatkan antitumor radioterapi dan kemoterapi pada karsinoma sel
skuamous dari tumor kepala leher (Tan & Putti 2005).
Selain pada penelitian ekspresi COX#2 pada NPC, aplikasi skor
imunoreaktif diterapkan juga pada penderita karsinoma payudara.
Muhammad & Buch (2016) di India dalam sebuah artikelnya menjelaskan
estrogen), PR (reseptor progesteron) dalam menangani pasien karsinoma
payudara. Ekspresi ER dan PR dipakai sebagai salah satu alat prognostik
dan sebagai biomarker prediktif kuat. Skor imunoreaktif atau ekspresi ER
atau PR ditentukan berdasarkan Allred Score dan digunakan untuk
memprediksi efek terapi hormon (No effect, Small (20%) chance of
benefit, Moderate (50%) chance of benefit, Good (75%) chance of benefit)
pada penanganan karsinoma payudara. Jika jaringan tumor
mengekspresikan ER dan atau PR maka dapat diperkirakan pasien akan
mendapat manfaat terapi hormon seperti tamoxifen (Mohamad & Buch
2016). Dari hasil penelusuran literatur, belum ada penelitian yang menilai
skor imunoreaktif antibodi ER#β terhadap ER#β pada jaringan ANJ.
Berkurangnya ekspresi ER#β atau rasio ER#β:ER#α secara bermakna
berhubungan dengan keadaan keganasan pada kelenjar payudara,
ovarium dan prostat (Shaaban et al. 2003; Zhao, Dahlman & Gustafsson
2008). ER#β mempunyai fungsi antiproliferasi sehingga dapat mengurangi
pertumbuhan yang terjadi pada tumor, walaupun sampai saai ini
mekanisme kerjanya masih kurang dapat dimengerti (Hartman et al. 2006;
Palmieri et al 2002). Saylam et.al (2005) di Turki dalam hasil penelitiannya
menyebutkan ekspresi ER dan PR tidak berkaitan dengan angiogenesis
dan etiologi angiofibroma nasofaring (Saylam et al. 2005). Schick et al.
(2014) di Jerman membandingkan pengaruh pemberian antagonis
estrogen tamoxifen (5 lg/mL) terhadap pertumbuhan sel mesenkim
angiofibroma nasofaring yang di kultur dengan antagonis reseptor
androgen flutamide (5 lg/mL) yang merupakan inhibitor proliferasi
fibroblast. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa tamoxifen mengurangi
proliferasi sel mesenkim angiofibroma nasofaring sebesar 30.5 ± 5% yang
tidak jauh berbeda dengan flutamide (40 ± 9%) (Schick, Julia, & Wendler
2014). Dalam hal ini pada ANJ diduga telah terjadi juga peningkatan
ekspresi ER#β yang disertai dengan perubahan perilaku pada ER#β
tersebut, sehingga fungsi ER#β yang seharusnya meningkatkan proses
sebagaimana mestinya. Oleh karena itu dibutuhkan penelitian lebih lanjut
mengenai peran ER#β pada ANJ.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1 Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan penelitian mengenai dapat diambil
kesimpulan sebagai berikut :
1. Seluruh penderita (100%) angiofibroma nasofaring juvenile di
RSUP H. Adam Malik Medan berjenis kelamin laki#laki. Hasil ini
sesuai dengan profil penderita angiofibroma nasofaring juvenile
secara umum.
2. Distribusi frekuensi penderita ANJ berdasarkan umur terbanyak
adalah umur 14 – 16 tahun (57,9%). Sesuai dengan profil umur
penderita nasofaring dimana kejadiannya paling tinggi pada usia
pubertas.
3. Berdasarkan intensitas pewarnaan ER#β, distribusi frekuensi
penderita ANJ paling banyak dengan intensitas pewarnaan sedang
(2+) yaitu 57,9% 11 penderita dari 19 penderita.
4. Distribusi frekuensi penderita ANJ berdasarkan jumlah sel yang
positif mengandung ER#β paling banyak dalam kelompok dengan
jumlah sel > 50% (skor luas 3+).
5. Sebaran reseptor estrogen β dijumpai pada seluruh penderita
angiofibroma nasofaring juvenile. Namun sebanyak 89,5% dari
seluruh penderita mengalami ekspresi positif atau overekspresi.
Hasil ini menawarkan perspektif prediksi prognosis penggunaan
hormonal sebagai terapi alternatif.
6.2 Saran
Dengan mengetahui keberadaan ER#β pada jaringan tumor ANJ, maka
dapat dilakukan penelitian lebih lanjut, yaitu :
1. Penggunaan terapi hormonal sebagai terapi sebelum operasi, kasus
2. Penelitian yang menilai hubungan skor imunoreaktif ER#β terhadap
berbagai petanda angiogenesis, proliferasi maupun prediksi