59 BAB 3
METODE PENELITIAN
Bab 3 ini menjelaskan rangkaian metode yang dipakai dalam penelitian. Ada beberapa hal yang dijelaskan yaitu: 1) jenis penelitian, 2) lokasi dan waktu penelitian, 3) partisipan, 4) pengumpulan data,5) definisi operasional, 6) metode analisa data, 7) tingkat keabsahan data (trusthworthines of data), dan 8) pertimbangan etik.
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan Action Research (AR), tujuannya untuk mengembangkan Protokol Diskusi Refleksi Kasus (DRK) di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara. Penelitian ini melibatkan partisipasi aktif dari partisipan untuk merancangkegiatan Diskusi Refleksi Kasus (DRK).
60
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
Pengumpulan data penelitian inidilaksanakan di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara. Penelitian inidilaksanakan sejak bulan April sampai Agustus 2016. Pengambilan data dan pelaksanaan kegiatan berdasarkan siklus action research yang terdiri dari beberapa tahapan yang harus dijalani. 3.3 Partisipan
Partisipan dalam penelitian ini adalah terdiri dari 18 orang perawat yang bekerja di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara. Proses pemilihan partisipan menggunakan teknik purposive sampling. Partisipan adalah perawat yang terlibat langsung dalam pengembangan Protokol Diskusi Refleksi Kasus (DRK) di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara.
Responden untuk penyebaran kuesioner dilakukan dengan teknik total samplingpada seluruh perawat yang ada di Ruang Rawat Inap RS Universitas Sumatera Utara yang berjumlah 63 orang.
3.4 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data menjelaskan tentang: 1) teknik pengumpulan data,2) alat pengumpulan data.
3.4.1 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data dilakukan dengan metode Focus Group Discussion (FGD), self report dan observasi partisipan.
(1) Focus Group Discussion (FGD)
61
tahapreconnaissance dan tahap reflection. Pelaksanaan FGD dilaksanakan selama lebih kurang 60 menit. Peneliti berperan sebagai moderator dan memberi arahan terhadap diskusi dengan memberikan pertanyaan yang telah disusun sebelumnya. FGD tahap reconnaissance bertujuan untuk mengidentifikasi masalah yang ada di RS dan untuk menggali pemahaman peserta tentang Diskusi Refleksi Kasus (DRK). FGD tahap reflection bertujuan untuk mengevaluasi faktor pendukung dan faktor penghambat pelaksanaan Diskusi Refleksi Kasus (DRK) yang dilaksanakan.
(2) Self Report
Pelaksanaan self report dilakukan dengan cara mengisi kuesioner pengetahuan perawat tentang Diskusi Refleksi Kasus (DRK) dan kuesioner tentang kepuasan perawat. Penyebaran kuesioner pengetahuan perawat terkait Diskusi Refleksi Kasus (DRK) dilakukan 2 kali, yaitu pada tahapreconnaissancedan tahap refleksi(reflection). Penyebaran kuesioner kepuasan perawat dilakukan setelah kegiatan Diskusi Refleksi Kasus (DRK) dilakukan. Responden yang terlibat dalam penyebaran kuesioner ini adalah perawat yang bekerja di Ruang Rawat Inap RS Universitas Sumatera Utara. (3) Observasi
62
3.4.2 Alat Pengumpulan Data
Alat pengumpulan data pada penelitian ini berupa: panduan pertanyaan FGD (Focus Group Discussion), self report dan format observasi.
Panduan pertanyaan pada FGD (Focus Group Discussion) dibagi menjadi 2 macam yaitu panduan FGD tahap reconnaissance dan panduan FGD tahap reflection.Pada kegiatan FGD ini, penulis menggunakan alat perekam sebagai alat bantu untuk merekam kegiatan baik secara formal maupun informal. Data yang sudah direkam, didokumentasikan dalam bentuk transkrip yang selanjutnya ditentukan tema yang sesuai.
Kuesioner yang digunakan terdiri dari 2 jenis yaitu kuesioner tentang pengetahuan perawat terkait Diskusi Refleksi Kasus (DRK) dan kuesioner kepuasan perawat. Pengembangan kuesioner dilakukan melalui kajian literatur dan dilakukan uji validitas pada 3 orang ahli manajemen keperawatan yang ada di Kota Medan. Menurut Polit & Beck (2012) kuesioner dikonsultasikan kepada 3 orang ahli untuk memeriksa validitas isi dan memberikan saran perbaikan untuk mendapat validitas yang tinggi.
63
perawat yang ada di Ruang Rawat Inap Instalasi Cardiac Center(Pusat Jantung Terpadu/PJT) Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan dan didapatkan hasil nilai crobach alpha>0,8 untuk setiap item pertanyaan.Penyebaran kuesioner dilakukan 2 kali yaitu pada tahap reconnaissance dan reflection.
Kuesioner kepuasan perawat terdiri dari 15 item pertanyaan dengan pilihan jawaban Sangat Puas (SP), Puas (P), Tidak Puas (TP), dan Sangat Tidak Puas (STP). Kuesioner dibuat sendiri oleh penulis dengan melihat konsep dari Diskusi Refleksi Kasus (DRK). Kuesioner ini menggunakan skala likert yaitu 1 (Sangat Tidak Puas), 2 (Tidak Puas), 3 (Puas) dan 4 (Sangat Puas). Kuesioner ini telah dilakukan uji validitas pad 3 orang ahli Manajemen Keperawatan di Kota Medan. Nilai content validity index (cvi) untuk kuesioner kepuasan perawat tentang DRK adalah 0,97. Kuesioner ini juga telah dilakukan uji reliabilitas dengan cara menyebarkan kuesioner pada 30 orang perawat yang ada di Ruang Rawat Inap Instalasi Cardiac Center(Pusat Jantung Terpadu/PJT) Rumah Sakit Umum Pusat Haji Adam Malik Medan dan didapatkan hasil nilai crobach alpha>0,8 untuk setiap item pertanyaan. Penyebaran kuesioner dilakukan pada tahap reflection.
64
3.4.3 Tahapan Penelitian AR
Langkah-langkah prosedur action research dalam pengembangan Protokol Diskusi Refleksi Kasus (DRK) ada 4 tahap yaitu : reconnaissance phase (studi pendahuluan), tahap planning, tahap action, dan tahap reflection.
3.4.3.1 Reconnaisance phase (Tahap persiapan)
Reconnaissance merupakan preliminary study atau studi pendahuluan yang bertujuan untuk mengidentifikasi masalah dan kebutuhan berdasarkan data yang terkumpul dari berbagai sumber dan metode pengumpulan data. Adapun kegiatan yang dilakukan pada tahap ini antara lain : study literature,focus group discussion dan self reportterkait pengetahuan perawat tentang DRK.
65
Tabel 3.1 Tahap reconnaissance Pengembangan Protokol Diskusi Refleksi Kasus (DRK) di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara
Minggu I April s/d Minggu IV Mei 2016
Minggu I Juni 2016 Minggu IIJuni 2016
1. Melakukan prolonged
engagement
2. Menyampaikan tujuan untuk melaksanakan penelitian di RS Universitas Sumatera Utara 3. Menyampaikan rangkaian
kegiatan yang akan dilakukan. 4. Menyampaikan batas waktu
penelitian
5. Mencari kelengkapan informasi tentang setting/tempat penelitian 6. Mempelajari tentang permasalahan yang ada terkait kegiatan penelitian
3. Kegiatan FGD direkam dengan bantuan alat perekam
4. Hasil dari FGD dibuat dalam bentuk transkrip dan dianalisis untuk menentukan tema-tema.
1. Melakukan penyebaran kuesioner pengetahuan perawat tentang DRK
66
3.1.1.1 Tahap Planning
Pada tahap ini peneliti melakukan perencanaan tindakan atau kegiatan yang bersifat tentatif yang dilakukan dalam rangka mencapai tujuan (Kemmis, Mc Taggart& Nixon, 2014). Kegiatan yang direncanakan pada tahap ini bersifat fleksibel dan dapat berubah sesuai dengan kondisi partisipan.Kegiatan yang dilakukan pada tahap planning adalah: 1) Peneliti mendiskusikan hasil pengumpulan data awal pada tahap reconnaissance kepada pihak manajemen RS, 2) merencanakan sosialisasi hasil pengumpulan data awal kepada para perawat 3) merencanakan pembentukan tim untuk mengembangkan Diskusi Refleksi Kasus (DRK), 4) merencanakan menyusun jadwal pelaksanaan DRK, 5) merencanakan melaksanakan kegiatan DRK.
3.4.3.3. Tahap Acting dan Observing
67
3.4.3.4 Tahap Reflecting
Pada tahap ini kegiatan yang akan dilakukan peneliti adalah: melakukan FGDuntuk menggali pemahaman perawat tentang DRK dan pengumpulan self report untuk mengukur pengetahuan perawat tentang DRK, serta kepuasan perawat setelah pengembangan ProtokolDRK serta melakukan observasi terhadap pelaksanaan DRK.
Pelaksanaan kegiatan dalam tahapaction research sangat dipengaruhi oleh situasi dan kondisi pada saat setting penelitian, sehingga sangat memungkinkan terjadinya perubahan beberapa kegiatan dari yang telah direncanakan sesuai dengan kebutuhan partisipan.
3.5 Variabel dan Definisi Operasional
Variabel yang diteliti adalah pengembangan ProtokolDiskusi Refleksi Kasus (DRK). Definisi operasional dari pengembangan Protokol Diskusi Refleksi Kasus (DRK) ini adalah pengembangan suatu metode pembelajaran dalam bentuk kelompok diskusi untuk berbagi pengalaman klinik tentang kasus penyakit pasien, masalah perawatan pasien, dan masalah dalam manajemen pelayanan.
3.6 Metode Analisa Data
Analisa data dalam penelitian ini dilakukan secara : (1) kualitatif, dan (2) Kuantitatif.
3.6.1 Analisa kualitatif
68
3.6.2 Analisa Kuantitatif
Analisa data kuantitatif dilakukan berdasarkan data pengetahuan perawat tentang Diskusi Refleksi Kasus (DRK). Analisa data dilakukan untuk melihat rata-rata (mean) apakah terdapat perbedaan terhadap pengetahuan perawat sebelum dan sesudah dilaksanakan Diskusi Refleksi Kasus (DRK).
3.7 Keabsahan Data(Trustworthiness)
Menurut Lincoln dan Guba (1994, dalam Polit &Beck, 2012) ada 5 kriteria untuk dapat mengembangkan keabsahan data kualitatif yaitu: credibility, dependability, confirmability,transferabilitydan authenticity.
69
Credibility dalam penelitian ini dilakukan dengan teknik prolonged engagement dengan cara mengadakan pertemuan dengan para partisipan sebelum mengumpulkan data, sehingga terjalin hubungan terbuka, akrab dan saling percaya antara peneliti dan partisipan. Peneliti juga melakukan diskusi dengan pembimbing setiap progress kegiatan penelitian.
Dependability mengacu pada stabilitas (reliability) data dari waktu ke waktu dan kondisi. Pertanyaan dalam dependability yaitu: apakah jika ada permintaan untuk penelitian diulang dengan partisipan yang sama dan dalam konteks yang sama akan mendapatkan hasil yang sama. Credibility tidak dapat tercapai tanpa adanya dependability, seperti validitas dalam penelitian kuantitatif tidak dapat dicapai tanpa adanya reliability(Polit & Beck, 2012). Untuk memenuhi kriteria ini peneliti melaporkan secara detail setiap proses penelitian kepada pembimbing untuk menilai proses dah hasil yang didapatkan. Peneliti menggunakan teknik thick description dengan cara mengumpulkan data yang terkait dengan penelitian baik dari jurnal-jurnal maupun hasil pengambilan data.
70
Confirmabilitymengacu pada objektifitas, yaitu potensi untuk kesesuaian antara dua atau lebih dimana terdapat persetujuan tentang relevansi dan arti data.Kriteria ini berhubungan dengan penyusunan data sehingga data yang disajikan mewakili informasi dari partisipan dan interpretasi dari data tidak diciptakan oleh yang penanya. Agar kriteria ini dapat diterima, data temuan harus merefleksikan keinginan partisipan dan kondisi dari penelitian, bukan penyimpangan, motivasi dan pandangan dari peneliti (Polit & Beck, 2012).Confirmability dilakukan dengan check expert hasil penelitian dengan pembimbing.Confirmability berarti objektivitas tentang adanya kesamaan terhadap akurasi data, relevansi dan makna.
Authenticity mengacu pada tingkatsejauh mana adil dan setia menunjukkan kenyataan. Authenticity (keaslian) muncul dalam laporan ketika laporan tersebut dapat menyampaikan perasaan partisipan. Sebuah teks mengandung keaslian jika dapat mengundang pembaca untuk menjelaskan berbagai pengalaman dan mampu membuat pembaca mengembangkan kepekaan yang tinggi terhadap isu yang digambarkan. Ketika teks mencapai keaslian, pembaca lebih mampu memahami kehidupan yang digambarkan dengan mood, perasaan, pengalaman, bahasa, dan konteks mereka hidup (Polit & Beck, 2012).
3.8 Pertimbangan Etik
71
Prinsip autonomy dilaksanakan dengan meminta persetujuan semua partisipan untuk menandatangani informed consent sebelum mengikuti Focus Group Discussion (FGD), pengisian self report dan juga segala kegiatan yang dilakukan selama proses pengembangan Protokol Diskusi Refleksi Kasus (DRK) diRuang Rawat Inap Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara. Padapenelitian ini partisipan bersifat suka rela dan tidak ada paksaan. Informed consent diberikan penulis diawal penelitian setelah penulis memberikan penjelasan tentang tujuan dan prosedur penelitian yang akan dilakukan.
Prinsip beneficience dilaksanakan sesuai dengan prosedur penelitian, dimana penelitian ini akan memberikan manfaat pada partisipan dan meminimalkan hal-hal yang merugikan partisipan (non maleficence).Selanjutnya prinsip kerahasiaan (confidentiality) dilaksanakan dengan cara penulis merahasiakan identitas partisipan, penulis hanya memberikan kode pada setiap instrumen yang akan diberikan pada partisipan.
72
Tabel 3.2 Rangkaian kegiatan Penelitian Action Research
RECONNAISSANCE :
DRK, alur DRK, struktur uraian tugas DRK, dan modul DRK
1. Menilai pengetahuan perawat terkait DRK (penyebaran kuesioner)
2. Menilai kepuasan perawat terhadap kegiatan DRK (Penyebaran kuesioner)
3. Melakukan FGD untuk menggali pengalaman perawat selama mengikuti kegiatan DRK
ACTING & OBSERVING 1. Pembentukan tim DRK
2. Menyusun SPO DRK, alur DRK, struktur uraian tugas DRK, dan modul DRK bersama tim. 3. Sosialisasi hasil perumusan SPO DRK, alur DRK,
struktur uraian tugas DRK, dan modul DRK 4. Menyusun kegiatan DRK di ruang rawat inap
(menentukan topik, jadwal, nama-nama fasilitator dan penyaji)
5. Melaksanaan DRK dan observasi DRK
6. Mengobservasi hasil tindak lanjut kegiatan DRK OUTCOME
74 BAB 4
HASIL PENELITIAN
Penelitian ini dilaksanakan selama 5 bulan, sejak Bulan April sampai dengan Agustus 2016 di Ruang Rawat Inap RS Universitas Sumatera Utara. Kegiatan action research terdiri dari tahapplanning, action, observation serta reflection. Hasil penelitian ini menjelaskan tentang pengembangan Protokol Diskusi Refleksi Kasus (DRK) yang diklasifikasikan dalam pokok bahasan sebagai berikut:
4. 1. Deskripsi lokasi penelitian
4. 2. Karakteristik demografi partisipan
4. 3. Proses Pengembangan Protokol Diskusi Refleksi Kasus (DRK) di Ruang Rawat Inap RS Universitas Sumatera Utara yang meliputi :
4. 3. 1. Tahap reconnaissance, meliputi : 4.3.1.1Setting tempat penelitian dan partisipan,
4.3.1.2 Persepsi perawat tentang Diskusi Refleksi Kasus (DRK) 4.3.1.3 Pengetahuan perawat tentang Diskusi Refleksi Kasus (DRK). 4. 3. 2. Proses action research: planning, action, observation serta reflection 4. 4. Output Action Research, yaitu :
1. Alur Diskusi Refleksi Kasus (DRK) 2. SPO Diskusi Refleksi Kasus(DRK)
75
4. Uraian Tugas Diskusi Refleksi Kasus (DRK) 5. Modul Diskusi Refleksi Kasus (DRK) 4.5 Dampak Diskusi Refleksi Kasus (DRK)
4.1 Deskripsi lokasi Penelitian
Rumah Sakit USU adalah entitas Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan/Dikti yang pengelolaannyadilaksanakan oleh Universitas Sumatera Utara. Rumah Sakit USU merupakan salah satu dari 20 RS Perguruan Tinggi Negeri dengan status yang sama yang dikembangkan di Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan/Dikti. Berlokasi di Jalan Dr Mansyur, kawasan Kampus USU Medan, Rumah Sakit UniversitasSumatera Utara berdiri tahun 2011 yang dimulai dari peletakan batu pertama yang dilakukan oleh Rektor USUsaat itu Prof dr Chairuddin P Lubis dan Gubernur Sumatera Utara saat itu Haji Syamsul Arifin pada tahun2009.
76
tersebut. Rumah Sakit USU dibangun diatas lahan milik USU dengan sertifikat hak pakai seluas 38.000 m2, berlokasi di pusat kota, Jl. Dr. T. Mansur, berseberangan dengan Kampus Universitas Sumatera Utara. Bangunan Utama berlantai 5 dengan luas total 52.200 m2, menempati sekitar 35% dari tapak lahan.
Pada tahun 2011 - 2013 berlangsung pengadaan alkes/non alkes RS USU. Kemendikbud RI telah pula mengalokasi sejumlah tenaga berstatus PNS untuk mengisi ketenagaan di RS USU. Hal ini bertujuan untuk memperluas jaringan rumah sakit yang dimanfaatkan untuk penyelenggaraan pendidikan dokter, dokterspesialis dan tenaga kesehatan lainnya. Rumah Sakit USU diharapkan dapat berperan sebagai rumah sakit pelayanan rujukan dan riset klinik di wilayah Indonesia Barat, khususnya daerah Sumatera Utara. Rumah Sakit USU dirancang untuk dapat mengakomodasi pelayanan rawat jalan disejumlah klinik spesialis/sub spesialis, pelayanan rawat inap dengan kapasitas 400 tempat tidur, Instalasi gawat darurat dengan pelayanan 24 jam, kamar bedah, ruang persalinan, perawatan intensif, pelayanan hemodialisa dan rehabilitasi medik. Berbagai peralatan radiodiagnostik/pencitraan, laboratorium klinik dan fasilitas/peralatan pelayanan lainnya dilengkapi untuk penyelenggaraan fungsi rumah sakit.
77
dan pelayanan tersebut. Seluruh pengembangan akan dilaksanakan secara bertahap. RS USU memulai dengan kegiatan pelayanan UGD 24 jam, Klinik Umum, Klinik KIA, Klinik Gigi, Layanan Klinik Spesialis Dasar (penyakit dalam, kesehatan anak, bedah, obstetri & ginekologi), Klinik Spesialis lainnya (mata, telinga hidung tenggorokan, syaraf, kulit dan kelamin, kedokteran jiwa, paru, jantung dan pembuluh darah), layanan Farmasi, Rawat Inap dengan kapasitas 100 tempat tidur dan perawatan Intensif. Serta layanan diagnostik penunjang seperti radiologi/pencitraan dan laboratorium klinik, layanan kamar bedah, ruang persalinan, hemodialisa, dan rehabilitasi medik. RS USU juga telah menjadi provider BPJS sehingga pelayanan BPJS dapat pula dilaksanakan di RS USU.
Pada tanggal 17 November 2014, Kemenkes RI telah menandatangani nota kesepahaman antara RS USU dengan FK USU dan RSUP Haji Adam Malik Medan disaksikan Dirjen Bina Upaya Kesehatan Kemenkes RI dan Rektor USU. Nota kesepahaman tersebut diharapkan para pihak sepakat menjalin kerja sama untuk pengembangan dan pengelolaan RS USU dan RSUP Haji Adam Malik sebagai bagian dari tatanan jejaring rumah sakit pendidikan. RS USU dan RSUP HAM akan saling mendukung penyelenggaraan pelayanan kesehatan secara komperehensif sesuai standar pelayanan rumah sakit dan peraturan perundang-undangan dan manajemen operasional rumah sakit dalam bentuk jejaring dan pengampuan (sisterhospital).
78
kreatif,sukses, kehangatan, keramahan, keakraban, keceriaan, dan keterjangkauan. Pada penyelenggaraan pelayanan, Rumah Sakit USU memilih motto : kualitas, aman dan bersahabat (Quality, Safety and Friendly).Rumah Sakit USU menganut dua nilai dasar; nilai pertama : Salus aegroti suprema lex, yakni : Kepulihan pasien adalah hukum tertinggi (pelayanan berorientasi kepada pasien); nilai kedua adalah Primum non nocere yakni : Pertama adalah tidak membahayakan (patient safety). Kedua nilai tersebut ditampilkan dibagian depan dari bangunan utama Rumah Sakit USU dengan harapan menjadi nilai yang dijiwai olehseluruh unsur penyelenggara Rumah Sakit USU.
STRUKTUR ORGANISASI RUMAH SAKIT UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
Gambar 4.1 Struktur Organisasi Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara (Sumber : Profil Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara, 2016)
REKTOR
PENELITIAN & KERJASAMA DIREKTUR SAPRAS MEDIK &PELAYANAN PENUNJANG DIREKTUR ADMINISTRASI UMUMSDM & KEUANGAN
80
4.2. Karakteristik Demografi Partisipan
Partisipan yang terlibat dalam penelitian pengembangan Protokol Diskusi Refleksi Kasus (DRK) di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara ini adalah para perawat yang bekerja di ruang rawat Inap Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara. Partisipan tersebut berjumlah 18 orang yang terdiri dari 1 orang kepala ruang dan 2 ketua tim dari masing-masing ruangan rawat inap yaitu Ruang Rawat Inap Kelas 1, Ruang Rawat Inap Kelas 2, Ruang Rawat Inap Kelas 3, Ruang Rawat Inap Anak, Ruang Rawat Inap Maternitas, dan Ruang Rawat Inap ICU, NICU, dan PICU. Berdasarkan data demografi partisipan diketahui bahwa seluruh partisipan berjenis kelamin perempuan, sebanyak 77,8% berusia 31-40 tahun, sebanyak 61,11% memiliki pendidikan terakhir Ners, dan seluruhnya telah bekerja selama 1-10 tahun di RS Universitas Sumatera Utara. Karakteristik demografi partisipan secara lebih rinci akan dijelaskan dalam tabel berikut ini.
Tabel 4.1 Karakteristik Demografi Partisipan (n= 18)
Karakteristik Jumlah
(orang)
Persentase (%) Jenis Kelamin
Perempuan 18 100
Usia
20-30 tahun 4 22.2
31-40 tahun 14 77.8
Pendidikan
D3 Keperawatan 6 33.3
Ners 11 61.11
S2 1 5.56
Lama bekerja
81
Untuk kuesioner pengetahuan perawat berjumlah 63 orang perawat yang bekerja di Ruang Rawat Inap RS Universitas Sumatera Utara. Berdasarkan data demografi responden diketahui bahwa mayoritas partisipan adalah 95,23% berjenis kelamin perempuan, 60% berusia 20-30 tahun, 53,9% memiliki pendidikan terakhir D3 Keperawatan, dan seluruhnya telah bekerja selama 1-10 tahun di RS Universitas Sumatera Utara. Karakteristik demografi Responden secara lebih rinci akan dijelaskan dalam tabel berikut ini :
Tabel 4.2 Karakteristik Demografi Perawat Pelaksana (n= 63)
Karakteristik Jumlah
(orang)
Persentase (%) Jenis Kelamin
Perempuan 60 95.23
Laki-laki 3 4.76
Usia
20-30 tahun 38 60
31-40 tahun 25 40
Pendidikan
D3 Keperawatan 34 53.9
Ners 26 41.1
S2 3 4.76
Lama bekerja
1-10 tahun 63 100
4.3. Proses Pengembangan Diskusi Refleksi Kasus (DRK)
82
4.3.1. Tahap reconnaissance
Tahap ini dilaksanakan peneliti selama 6 minggu mulai dari pengurusan surat izin penelitian. Peneliti membaur dengan lahan penelitian untuk mencari data awal dan masalah yang diteliti. Pendekatan dengan pihak manajemen dilakukan agar dapat menggali informasi tentang masalah yang ada di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara.
Tahap reconnaisance dilaksanakan untuk mendapatkan data tentang: (1) setting tempat penelitian dan partisipan, (2) persepsi perawat tentang Diskusi Refleksi Kasus (DRK), (3) diskusi yang dilaksanakan di ruangan, dan (4) pengetahuan perawat tentang Diskusi Refleksi Kasus (DRK).
4.3.1.1. Setting tempat penelitian dan partisipan
84
“ belum pernah dilakukan diskusi kasus secara formal, Kalaupun membahas kasus kalau ada insiden kasus-kasus di rawat inap, kalau ada sebuah kasus yang memang kompleks yang sedang kami tangani di ruangan biasa kami akan melakukan secara cepat di tempat tapi tidak secara formal”(P1, L13-L16)
Namun, ada juga ruangan yang melakukan diskusi yang sudah direncanakan sebelumnya, hal ini sesuai dengan pernyataan partisipan yang bisa dilihat pada pernyataan di bawah ini :
“ pernah satu kali waktu itu, berhubungan dengan adanya masalah terkait SDM yaitu ketenagaan kita pernah buat skali yang diinisiasi oleh komite keperawatan, Sebenarnya Pak S dalam hal ini, berperan ganda sebagai Bidang keperawatan juga, untuk backup pekerjaan bidang, Karena bidang keperawatan belum jelas keberadaannya (secara de facto dan de jure). Komite keperawatan telah membantu penyelesaian masalah ketenagaan pada saat itu. Jadi kesimpulannya menurut saya itu adalah DRK yang pertama kali kami lakukan, Kegiatan ini terdokumentasi tapi kecil saja, belum bagus seperti berita acara yang harusnya dibuat, cuman kita punya catatan tentang apa yang menjadi case, apa yang jadi kesimpulan, dan kedepannya seperti apa, semuanya tercatat
walaupun belum begitu rapi” (P3, L29-L38)
Persepsi perawat tentang DRK. Partisipan mengungkapkan bahwa DRK adalah kegiatan diskusi membahas kasus yang ditemukan di ruangan baik itu kasus manajemen ataupun kasus penyakit pasien, hal ini senada dengan pernyataan partisipan berikut ini :
“ Menurut pendapat saya, diskusi refleksi kasus itu merupakan suatu kegiatan yang dilakukan untuk mendiskusikan tentang masalah-masalah yang ditemukan di ruangan, baik tentang kasus penyakit pasien atau tentang manajemen pelayanan atau juga membahas masalah-masalah internal lainnya”(P1, L69-L72)
Partisipan lain juga menjelaskan bahwa DRK dapat melibatkan profesi kesehatan lain, hal ini senada dengan pernyataan partisipan berikut ini :
85
dengan dokter, dengan tim gizi, analis, farmasi, dll.Diskusi ini mencakup tentang pasien, bagaimana penanganan pasien, pemecahan masalah pada pasien, dan hal-hal yang menyangkut perawatan pada pasien. Seperti itu menurut saya”( P2, L75-L79)
Bentuk diskusi yang ingin diterapkan. Partisipan mengungkapkan bahwa sebaiknya ruang rawat inap melakukan DRK secara teratur dan terjadwal setiap minggu atau setiap bulan. Hal ini sesuai dengan pernyataan partisipan berikut ini :
“ pengennya memang diskusi yang terjadwal ya. Misalnya setiap minggu atau sebulan berapa kali, jadi diskusi itu tidak cuman membahas masalah di ruangan, tapi juga kegiatan belajar”(P1, L112-L114)
Partisipan juga mengungkapkan pelaksanaan DRK yang ingin dilakukan sesuai dengan Permenkes yang berlaku. Hal ini sesuai dengan pernyataan partisipan berikut :
“ Pelaksanaan DRK ini kalau merujuk dalam PMK bagaimana pelaksanaannya, ya disesuaikan saja, dan dalam SP2KP pun dijelaskan juga kan kalau aktifitas ini memang dibutuhkan perawat, misalnya dalam PMK atau kebijakan Permenkesnya dibilang minimal dilakukan sekali dalam sebulan, berarti kan itu minimal, jadi kalau kita sanggup melakukan lebih dari itu ya itu lebih baik lagi, tidak ada masalah, toh itu juga kembali ke kita. Kalau untuk siapa yng terlibat, ya tergantung tujuan kita, kalau diPermenkes kan dibilang, kelompok perawat saja atau kelompok bidan saja. Atau kalau memang dibutuhkan bisa interprofesional. Tidak ada masalah itu. Topik-topik yang didiskusikan pun kan nanti disesuaikan dengan apa yang ditemukan di lapangan”(P6, L142-L150)
Manfaat DRK. Partisipan mengungkapkan bahwa kegiatan DRK dapat memberi manfaat bagi para perawat. Manfaat dari kegiatan DRK yaitu dapat membantu dapat penyelesaian masalah, sarana komunikasi, sebagai bentuk aktualisasi diri perawat, dan untuk meningkatkan pengetahuan perawat.
86
temunya. Perawat dan tenaga kesehatan lain pun mau tak mau akan bisa berkomunikasi dengan baik dan ini suatu media juga bagi perawat untuk menunjukkan diri bahwa perawat layak disebut perawat. Wahana diskusi yang ada menjadi motivasi perawat untuk meningkatkan aktualisasi diri perawat.menurut saya sih kayak gitu ya”(P1, L153-L158)
“ perawat jadi bisa lebih mengembangkan diri. Karena kita punya media ni untuk berdiskusi, jadi salurkan lah pengetahuan untuk dibagi bersama dan membantu sesama”(P5, L188-L190)
Faktor Pendukung DRK. Partisipan mengungkapkan faktor yang mendukung terlaksananya kegiatan Diskusi Refleksi Kasus (DRK) ini adalah adanyadukungan dari komite dan bidang Keperawatan, komitmen perawat untuk menjalankan, adanya motivasi dari perawat, ada SPO dan alur yang jelas, teknologi, dan waktu yang memadai. Hal ini sesuai dengan pernyataan partisipan berikut ini.
“ …faktor pendukung DRK, yaa.. mungkin dukungan adanya komitmen bersama bisa jadi pendukung ya, jadi kalau sama-sama bersedia melaksanakan, maka kegiatan ini akan berjalan, tapi kalau motivasi melakukan masih sulit ya itu jadi masalah kita bersama untuk menyelesaikannya, ya jadi itu lah yang harus dilatih bersama..” (P4, L215-L218)
Faktor Penghambat.Partisipan mengungkapkan hambatan kegiatan Diskusi Refleksi Kasus (DRK) adalah masih kurangnya SDM keperawatan di ruangan, waktu, ruangan diskusi belum tersedia, sarana diskusi belum lengkap, Hal ini sesuai dengan pernyataan partisipan berikut ini :
87
“ hambatan lainya ya seperti ruangan yang belum ada, sarana -sarana lain yang belum lengkap…”( P4, L256-L257)
4.3.1.4. Pengetahuan perawat tentang Diskusi Refleksi Kasus (DRK)
Berdasarkan hasil kuesioner pengetahuan perawat tentang DRK yang dibagikan sebelum pelaksanaan kegiatan DRK didapatkan hasil 90,5 % perawat memiliki pengetahuan yang baik tentang Diskusi Refleksi Kasus (DRK), sedangkan 9,5% perawat menunjukkan pengetahuan yang kurang dengan nilai rata-rata 10,8.
Pada tahap reconnaissance yang sudah dilaksanakan, ditemukan beberapa permasalahan yang ada di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara terkait dengan Diskusi Refleksi Kasus (DRK). Secara garis besar ada beberapa masalah yang muncul pada tahap reconnaissance yaitu :
1. Belum ada SPO Diskusi Refleksi Kasus (DRK) di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara
2. Belum ada alur pelaksanaan Diskusi Refleksi Kasus (DRK)
3. Belum ada struktur organisasi dan uraian tugas pelaksanaan Diskusi Refleksi Kasus (DRK).
4. Belum ada modul Diskusi Refleksi Kasus (DRK)
Dari permasalahan yang ditemukan maka disusunlah tahapan planning untuk merencanakan kegiatan yang akan dilaksanakan. Kemudian dilanjutkan dengan action, observation dan reflection.
4.3.2. Tahap planning, action dan observation, serta reflection
88
observingserta reflecting. Setiap tahapan action research mencakup kegiatan yang dilakukan oleh peneliti.
4.3.2.1.Tahap Planning.
Setelah merumuskan masalah pada tahap reconnaisance maka pada tahap planning disusunlah rencana kegiatan yang akan dilaksanakan pada tahap penelitian berikutnya. Tahap planning dilaksanakan bertujuan untuk mengembangkan Diskusi Refleksi Kasus (DRK) di Ruang Rawat Inap RS Universitas Sumatera Utara. Tahap ini direncanakan beberapa kegiatan untuk mendukung tercapainya tujuan yang telah dirumuskan. Adapun beberapa kegiatan itu adalah : 1) merencanakan diskusi dengan para Kepala Ruang Rawat Inap RS USU, 2) merencanakan presentasi tentang kegiatan DRK dengan pihak manajemen RS USU, 3) merencanakan pembentukan tim untuk kegiatan DRK, 4) merencanakan bersama tim untuk membuat dan menyusun SPO, alur, struktur,uraian tugas dan modul DRK, 5) merencanakan kegiatan seminar tentang DRK dan sosialisasi SPO, alur, uraian tugas dan modul DRK.
Pada proses pengembangkan Diskusi Refleksi Kasus (DRK) di Ruang Rawat Inap RS Universitas Sumatera Utara ini, strategi yang dipakai dalam tahap planning ini adalah melakukan pendekatan kepada pihak manajerial RS agar mendukung terlaksananya program kegiatan, serta pendekatan dengan setiap kepala ruang rawat inap RS Universitas Sumatera Utara.
4.3.2.2 Tahap Acting& Observing
89
2)Pembentukan tim perumusan Protokol Diskusi Refleksi Kasus (DRK), 3) Perumusan SPO, alur, struktur dan uraian tugas serta modul DRK, 4) Kegiatan seminar dan sosialisasi Protokol Diskusi Refleksi Kasus (DRK), 5) Melakukan identifikasi kasus/topik DRK, 6) Menyusun jadwal pelaksanaan DRK, 7) Pelaksanaan DRK.
1. Pertemuan dengan pihak manajerial Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara
Pada tanggal 13 Juni 2016 diadakan pertemuan dengan Direktur Diklat, Penelitian dan Kerja Sama RS Universitas Sumatera Utara, Komite Keperawatan (Ketua, Sekretaris, bagian Sub Komite Mutu, Sub Komite Kredensial dan Sub Komite Etik) serta para Kepala Ruang Rawat Inap. Peneliti menyampaikan tujuan dari penelitian yang akan dilakukan dan rangkaian kegiatan yang akan dilakukan. Pada pertemuan tersebut Direktur Diklat dan Kerja Sama RS Universitas Sumatera Utara menyampaikan apresiasinya terhadap kegiatan penelitian yang akan dilakukan dan menyampaikan harapannya agar penelitian ini dapat bermanfaat bagi perawat yang ada di RS Universitas Sumatera Utara.
90
3. Perumusan SPO, alur, struktur dan uraian tugas serta modul DRK Pada tanggal 16 Juni 2016, peneliti dan tim mulai berdiskusi untuk merumuskan SPO, alur, struktur DRK, uraian tugas dan modul DRK. Tim melakukan penyusunan SPO DRK, alur, struktur DRK, uraian tugas dan modul DRK untuk dapat digunakan sebagai panduan dalam pelaksanaan Diskusi Refleksi Kasus (DRK) yang akan dilaksanakan nantinya di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara.Pada proses penyusunan ini, peneliti dan tim merujuk pada panduan Permenkes Nomor 836/Menkes/SK-VI/2005 tentang kegiatan Diskusi Refleksi Kasus (DRK) yang merupakan bagian dari Pengembangan Manajemen Kinerja (PMK). Peneliti dan tim juga menggunakan Modul Pelatihan Peningkatan Manajemen Kinerja Klinik (PMKK) yang diterbitkan oleh Departemen Kesehatan (2005) sebagai pedoman panduan untuk penyusunan modul DRK.
91
dilakukan. Permenkes Nomor 836/Menkes/SK-VI/2005 ini merupakan penegasan agar perawat melaksanakan DRK secara teratur dan terjadwal di ruangan masing-masing. Selanjutnya Peneliti dan tim melakukan diskusi dengan pihak manajemen RS tentang progress kegiatan DRK yang telah berjalan, 2) melakukan diskusi dengan tim tentang hasil seminar dan sosialisasi DRK yang telah dilakukan dan merencanakan kegiatan berikutnya.
Pada tanggal 28 Juni 2016 peneliti dan tim mulai merencanakan beberapa agenda kegiatan lanjutan yaitu merencanakan mengidentifikasi kasus/topik untuk kegiatan DRK, merencanakan menyusun jadwal kegiatan DRK, merencanakan pelaksanaan DRK, merencanakan kegiatan tindak lanjut hasil DRK, merencanakan observasi tindak lanjut hasil kegiatan DRK. Untuk selanjutnya melakukan kegiatan yang telah direncanakan.
5. Melakukan identifikasi kasus/topik DRK
Pada tanggal 11-13 Juli 2016, Peneliti dan timmelakukan identifikasi kasus/topik DRK yang dilakukan dengan cara membuat daftar isu/masalah yang ada di ruang rawat inap baik itu berhubungan dengan manajemen pelayanan ataupun kasus penyakit. Peneliti dan tim juga meninjau bagian Rekam Medik RS USU untuk mendapatkan gambaran tentang kasus/penyakit pada pasien yang dirawat di Ruang Rawat Inap RS USU.
92
didapatkan beberapa masalah/isu yang dapat dijadikan topik untuk pelaksaanaan DRK.
Kasus/topik yang didapatkan yaitu Ruang Kelas 1 (Ruang Cendana) tentang NCP (Nursing Care Pathway) stroke pada pasien geriatrik, Ruang Kelas 2 (Ruang Meranti) tentang dokumentasi catatan perkembangan pasien, Ruang Kelas 3 (ruang Mahoni) tentang asuhan keperawatan pada pasien DHF, Ruang Anak (Jati) tentang pemasangan infus pada anak dengan gangguan neurologi, Ruang Maternitas (Ruang Akasia) tentang alur pasien dari IGD ke poli, dan Ruang ICU, NICU dan PICU tentang penanganan pasien sepsis. Selanjutnya tim menyusun jadwal pelaksanaan DRK.
6. Menyusun jadwal pelaksanaan DRK
Pada tanggal 14 Juli 2016 tim dan peneliti menyusun jadwal pelaksanaan untuk tiap kegiatan DRK yang akan dilakukan. Tim dan peneliti bersepakat untuk melakukan DRK tentang pendokumentasian catatan perkembangan pasien yang akan dipresentasikan oleh Kepala Ruang Kelas 2 dan fasilitator dari ketua tim Perawat Ruang Kelas 2 juga.
7. Pelaksanaan DRK
93
adalah belum ada keseragaman dalam pengisian Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi/CPPT di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara. Selanjutnya DRK ini menghasilkan kesimpulan bahwa diperlukannya penyusunan SPO tentang pengisian Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi oleh perawat. Hasil DRK ini ditindaklanjuti nantinya akan ditindaklanjuti oleh Bidang/Komite Keperawatan.
Pada kegiatan DRK ini peneliti melakukan observasi terhadap kegiatan DRK. Dari hasil observasi didapatkan 75% kegiatan persiapan DRK dilakukan perawat, 86,9% pelaksanaan DRK, dan 80% untuk evaluasi kegiatan DRK dilakukan. Hasil observasi kegiatan DRK dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel Hasil observasi Kegiatan DRK
Kegiatan Persentase
Persiapan DRK 75
Pelaksanaan DRK 86,9
Evaluasi DRK 80
Selanjutnya pada tanggal 19 Juli 2016 tim dan peneliti berdiskusi dengan Komite Keperawatan untuk hasil DRK yang telah dilakukan. Diskusi ini menghasilkan kesepakatan untuk membuat dan menyusun SPO pengisian Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi/CPPT oleh perawat. Pada tanggal 22 Juli 2016tim dan peneliti melakukan sosialisasi SPO pengisian Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi/CPPT ini. SPO pengisian Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi/CPPT oleh perawat ini disosialisasikan kepada para perawat di Ruang Rawat Inap RS Universitas Sumatera Utara.
94
Perkembangan Pasien Terintegrasi/CPPT yang dilakukan oleh perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara. Observasi ini dilakukan di Ruang rawat Inap Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara, yaitu Ruang Rawat Inap Kelas 1,Ruang Rawat Inap Kelas 2, Ruang Rawat Inap Kelas 3, Ruang Rawat Inap Anak, Ruang Rawat Inap Maternitas, dan Ruang Rawat Inap ICU, NICU, dan PICU.
Hasil observasi kegiatan pengisian Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi/CPPT oleh perawat ini adalah 96,67% pengisian Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi/CPPT oleh perawat sudah seragam.
4.3.2.3 TahapReflecting
Kegiatan yang dilakukan pada tahap ini adalah mengukur pengetahuan perawat tentang Diskusi Refleksi Kasus (DRK) dengan cara membagikan kuesioner pengetahuan perawat tentang DRK yang dibagikan pada perawat yang ada di Ruang Rawat Inap. Kemudian data diolah menggunakan analisa statistik distribusi frekuensi. Berdasarkan hasil analisa data distribusi frekuensi pengetahuan perawat tentang DRK didapatkan hasil pengetahuan perawat meningkat menjadi 93,6 berada pada kategori baik dengan nilai rata-rata meningkat menjadi 13,5.
95
dari forum diskusi karena ada panggilan mendadak. Jadi hanya 8 orang yang dapat memberi pendapat.
Tujuan dari FGD yang dilakukan ini adalah : 1) menggali pengalaman perawat selama mengikuti kegiatan DRK, 2) manfaat DRK, 3) faktor-faktor pendukung, 4) faktor-faktor penghambat, 5) harapan perawat terkait kegiatan DRK.
Pengalaman mengikuti DRK. Partisipan mengungkapkan pengalamannya selama mengikuti kegiatan DRK bahwa dengan adanya kegiatan DRK, perawat dapat meningkatkan pengetahuannya tentang bagaimana cara berdiskusi yang benar, bagaimana berperan sebagai penyaji diskusi yang harus mempersiapkan bahan untuk presentasi dan mempersiapkan referensi, berperan sebagi fasilitator yang harus mampu mengkoordinir ruang diskusi agar tetap tenang. Hal ini sesuai dengan pernyataan partisipan seperti dikutip di bawah ini :
“ Pengalamannya ya, lumayan lah.. kalau penyaji kayak saya kemarin kan, harus mempresentasikan, jadi harus disiapin lah bahan-bahannya..”( P1, L301-L303)
Namun demikian, partisipan juga menyatakan jika mereka belum begitu puas dengan proses dan hasil diskusi yang dilaksanakan, mereka juga menjelaskan belum begitu faham tentang alur dan SPO dari kegiatan Diskusi Refleksi Kasus (DRK) ini. Hal ini sesuai dengan pernyataan partispan berikut ini
“ …tapi kalau semalam sih sebenarnya saya belum begitu paham, alur dan SPO dari DRK ini, kalau bisa yaaa..nanti diperjelas lagi, biar lebih jelas ” (P2, L307-L309)
96
saya satu yang bikin kita seperti itu mungkin satu karena pemilihan judul yang kurang tepat, dan yang kedua karena kendala di rumah sakit itu sendiri yang memang belum ada komite mutu yang memang untuk dokumen-dokumen ini. Tapi kalau ada yang memang benar-benar seiring waktu berjalan ya, sesuai dengan konsepnya ya, sebenarnya DRK ini ya sangat bagus sekali untuk proses, ya semuanyalah ya untuk pengetahuan perawat”(P3, L314-L322)
Manfaat DRK. Partisipan mengungkapkan manfaat yang dirasakan dari kegiatan Diskusi Refleksi Kasus (DRK) ini adalah dapat meningkatkan motivasi perawat untuk terus belajar meningkatkan pengetahuan yang terus berkembang seiring perkembangan teknologi, baik terhadap asuhan keperawatan pasien atau tentang hal lain, sebagai sarana komunikasi, selain itu sebagai salah satu wadah untuk penyelesaian masalah. Hal ini sesuai dengan pernyataan partisipan berikut ini :
“ Manfaat DRK itu kita jadi merasa harus terus belajar, karena pengetahuan itu kan semakin berkembang, DRK juga jadi sarana komunikasi, sarana penyelesaian masalah yang masalah itu bisa kita diskusikan bersama….” (Partisipan 3)
Faktor-faktor pendukung. Partisipan menyatakan faktor yang mendukung kegiatan DRK itu adalah sistem yang ada, kebijakan dari pimpinan yang sesuai dengan Permenkes, motivasi dan komitmen yang kuat dari perawat, adanya reward/penghargaan (bentuknya angka kredit/materi/pujian), ketersediaan waktu dan ruangan yang nyaman. Hal ini sesuai dengan pernyataan partisipan :
“ ….motivasi dan komitmen yang kuat bisa juga jadi faktor pendukung biar kita tetap konsisten melakukan DRK ini”(P3, L364-L365)
97
selain itu masih kurangnya motivasi perawat untuk melakukan DRK dan masih menganggap beban tambahan. Pernyataan tersebut sesuai dengan pendapat partisipan berikut ini :
“ Kalau faktor penghambatnya mungkin perawat itu masih belum begitu pintar mengatur waktu, motivasi juga masih kurang, dan DRK dianggap sebagai beban tambahan…” (P4, L403-L405)
Harapan perawat. Harapan perawat untuk kegiatan Diskusi Refleksi Kasus (DRK) ini adalah adanya reward/penghargaan, DRK ini dapat berjalan regular, DRK ini dapat menjadi wadah untuk meningkatkan pengetahuan perawat, dapat melibatkan profesi lain dan dapat dijalankan secara efektif dan efisien. Hal ini sesuai dengan pernyataan partisipan berikut ini :
“ ya, angka kredit lah yang penting untuk perawat ini, ya kan… untuk pengisian jafung, gitu lo menurutku…ya nantikan ada berkasnya, bukti perawat mengikuti kegiatan, dan itu akan bermanfaat sekali bagi kami..ya maksudnya itulah…pendokumentasian segala macam, masuklah ke dalam itu” (P2, L453-L456)
“ harapannya, bisa berjalan secara regular, bisa menjadi wadah untuk dapat meningkatkan pengetahuan perawat”(P3, L459-L460)
4.4 Output Action Research
98
Tabel 4.3Output penelitian
Indikator Sebelum Sesudah
SPO DRK Tidak ada Sudah ada
Alur DRK Tidak ada Sudah ada
Struktur DRK Tidak ada Sudah ada
Uraian tugas DRK Tidak ada Sudah ada
Modul DRK Tidak ada Sudah ada
4.5 Dampak Action Research
Pengolahan data secara kuantitatif dilakukan untuk mengetahui dampak yang bisa dinilai secara statistik. Dampak positif menunjukkan pengetahuan perawat tentang Diskusi Refleksi Kasus mengalami peningkatan setelah dilakukan sosialisasi dan kegiatan penelitian.
99
Tabel 4.4. Perbedaan Pengetahuan Perawat
Pengetahuan Pre Post
Rata-rata skor 10.8 13.5
Baik 90.5 93.6
Kurang baik 9.5 4.7
Selain itu, dampak lainnya adalah adanya kepuasan perawat terhadap pelaksanaan kegiatan Diskusi Refleksi Kasus (DRK) ini. Mayoritas perawat (72,2%) puas dengan kegiatan Diskusi Refleksi Kasus (DRK). Distribusi frekuensi kepuasan perawat terhadap pelaksanaan Diskusi Refleksi kasus dapat dilihat pada tabel berikut ini :
Tabel 4.5 Kepuasan Perawat terhadap kegiatan DRK (n=18) Kepuasan Perawat Frekuensi Persentase (%)
Sangat Puas 5 27,8
100
Gambar 4.3 Siklus action research Pengembangan Protokol Diskusi Refleksi Kasus (DRK) di RS Universitas Sumatera Utara
RECONNAISSANCE :
Belum ada Protokol Diskusi Refleksi Kasus (DRK) di Ruang Rawat Inap RS Universitas Sumatera Utara
PLANNING :
1. Pengetahuan perawat tentang DRK meningkat
2. Kegiatan FGD untuk menggali pengalaman perawat setelah pelaksaan kegiatan Diskusi Refleksi Kasus (DRK).
ACTION :
1. Pembentukan tim DRK
2. Menyusun SPO DRK, alur DRK, struktur uraian tugas DRK, dan modul DRK bersama tim. 3. Sosialisasi hasil perumusan SPO
DRK, alur DRK, struktur uraian tugas DRK, dan modul DRK 4. Menyusun kegiatan DRK di ruang
101
Tabel 4.6
Matriks Tema FGD Pengembangan Protokol Diskusi Refleksi Kasus (DRK) di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara
Tema 1 : Bentuk kegiatan Diskusi Refleksi Kasus (DRK) Sub tema : Tema 2 : Manfaat pelaksanaan Diskusi Refleksi Kasus (DRK)
Sub tema :
Tema 3 : Faktor pendukung pelaksanaan Diskusi Refleksi Kasus (DRK) Sub tema : Tema 4 : Faktor penghambat pelaksanaan Diskusi Refleksi Kasus (DRK) Sub tema :
1. Faktor Internal
Kategori :
102
2. Faktor eksternal Kategori :
1. SDM masih kurang 2. Sarana dan prasarana 3. Manajemen rumah sakit Tema 5 : Harapan perawat terkait kegiatan Diskusi Refleksi Kasus (DRK) Sub tema :
Harapan perawat terkait kegiatan Diskusi Refleksi Kasus (DRK)
Kategori :
1. Jenjang Karir Perawat 2. Pelaksanaan DRK di rumah
103 BAB 5
PEMBAHASAN
Pada bab ini membahas tentang hasil penelitian dan hasil analisis berdasarkan tujuan penelitian. Hal ini dilakukan dengan cara membandingkan dengan penelitian terdahulu, pendapat para ahli atau teori, apakah hasil penelitian memperkuat, berlawanan atau hal yang baru. Hal-hal yang dibahas adalah proses pengembangan Protokol Diskusi Refleksi Kasus (DRK), output dari pengembangan Protokol Diskusi Refleksi Kasus (DRK), dampak pelaksanaan Diskusi Refleksi Kasus (DRK), lesson learned dan keterbatasan penelitian.
5.1 Proses Pengembangan Protokol Diskusi Refleksi Kasus (DRK)
104
Penelitian pengembangan Protokol Diskusi Refleksi Kasus (DRK) ini merupakan penelitian dengan desain kualitatif action research. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Pamungkas dan Hasanbasri (2011) tentang Diskusi Refleksi Kasus (DRK) merupakan penelitian dengan desain deskriptif kualitatif (studi kasus) yang menjelaskan pelaksanaan DRK di Rumah Sakit Jogjakarta. Namun demikian, persamaannya terdapat pada konsep yang digunakan dalam penelitian ini yaitu merujuk pada Permenkes Nomor 836/Menkes/SK-VI/2005 tentang pelaksanaan DRK yang merupakan bagian dari Pengembangan Manajemen Kinerja (PMK) yang dapat diterapkan pada perawat/bidan yang ada di Rumah Sakit/Puskesmas.
Perbedaan lain antara penelitian pengembangan Protokol Diskusi Refleksi Kasus (DRK) ini dengan penelitian sebelumnya adalah dari teknik pengumpulan data. Teknik pengumpulan data yang dilakukan pada pengembangan Protokol Diskusi Refleksi Kasus (DRK) di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara ini menggunakan metode pengumpulan data dengan Focus Group Discussion (FGD), self reportdan observasi. Sedangkan penelitian sebelumnya dengan topik diskusi refleksi dan desain penelitian action researchyang dilakukan olehWalker, Cooke, Henderson & Creedy (2013)menggunakan metode pengumpulan data lewat FGD, indept interview (wawancara), self report dan field note (catatan lapangan).
105
harapan. Perbedaan tema yang didapat ini terjadi karena perbedaan partisipan penelitian. Penelitian Walker, Cooke, Henderson & Creedy (2013) dilakukan pada partisipan yaitu melibatkan perawat, siswa perawat dan supervisor Rumah sakit, sedangkan penelitian Pengembangan Protokol Diskusi Refleksi Kasus (DRK) ini hanya melibatkan perawat saja.
Kegiatan FGD (Focus Group Discussion) pada penelitian Pengembangan Protokol Diskusi Refleksi Kasus (DRK) di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara ini didapatkan 5 tema yaitu: 1) bentuk kegiatan DRK, 2) manfaat pelaksanaan DRK, 3) faktor pendukung pelaksanaan DRK, 4) faktor penghambat pelaksanaan DRK, dan 5) harapan perawat terhadap kegiatan DRK.
106
Pada hasil FGD juga didapatkan tema tentang manfaat DRK yang dilaksanakan baik itu bermanfaat bagi perawat ataupun bagi manajemen RS. Hal ini senada dengan pendapat Edwards (2014) yang menjelaskan bahwa kegiatan pembelajaran lewat diskusi refleksi memiliki manfaat bagi keperawatan salah satunya dapat memberi kontribusi inisiatif terhadap perubahan kebijakan serta meningkatkan asuhan terhadap pasien. Dari hasil FGD didapatkan manfaat yang didapatkan perawat dari kegiatan DRK ini adalah 1) meningkatkan pengetahuan perawat, 2) belajar berkomunikasi yang baik, 3) aktualisasi diri perawat, 4) motivasi belajar, 5) kepuasan perawat, 6) solusi untuk penyelesaian masalah. Manfaat pelaksanaan Diskusi Refleksi Kasus (DRK) memiliki beberapa poin yang sesuai dengan Konsep Diskusi Refleksi Kasus (DRK) yang dikembangkan oleh Depkes (2005) tentang aktualisasi diri dan motivasi belajar.
107
Kegiatan DRK juga dapat meningkatkan motivasi perawat.Moattari (2007) menjelaskan motivasi merupakan salah satu aspek emosional yang mendukung kesiapan untuk melakukan kegiatan pembelajaran, motivasi dipengaruhi oleh unsur keinginan/minat untuk belajar dan rasa tanggung jawab. Santrock (2007) menjelaskan motivasi adalah proses yang memberi semangat, arah, dan kegigihan perilaku, sehingga perilaku yang memiliki motivasi adalah perilaku yang penuh energi, terarah, dan bertahan lama. Oleh karena itu, kegiatan DRK yang dilakukan memberi manfaat bagi perawat untuk meningkatkan motivasi belajar perawat. Motivasi juga akan mendukung perawat untuk memberikan asuhan keperawatan terhadap pasien. Jones (2007) menjelaskan bahwa penting untuk memahami tentang motivasi bagi tenaga kesehatan. Tenaga kesehatan yang memiliki motivasi yang tinggi akan bekerja dan berusaha untuk memberikan kepuasan terhadap pasien yang pada akhirnya berpengaruh untuk efektifitas organisasi.
Faktor pendukung pelaksanaan DRK ini salah satunya dipengaruhi oleh iklim organisasi. Field dan Abelson (dalam Jewell dan Siegall, 1998) menjelaskan bahwa dalam sebuah organisasi terdapat iklim organisasi yang terbentuk dari persepsi pekerja terhadap kebijakan, dukungan, kejelasan organisasi, penghargaan dan tanggung jawab. Iklim organisasi selanjutnya akan mempengaruhi iklim kerja yang mempengaruhi pekerja dalam 3 hal yaitu motivasi, kinerja dan kepuasan. Menurut Swansburg (2000) iklim kerja dalam sebuah organisasi keperawatan pada dasarnya tercipta oleh adanya keterlibatan para perawat pelaksana dan manajer keperawatan di organisasi tersebut.
108
berjalan secara regular sehingga dapat dirasakan efek dari kegiatan DRK. Menurut Hall (2002 dalam Alshop 2013) karir adalah urutan yang dirasakan individu dari sikap dan perilaku yang terkaitdengan pengalaman yang berhubungan dengan pekerjaan dan kegiatan selama rentang kehidupan seseorang. Menurut Marquis & Huston (2010)karir adalah suatu jenjang yang dipilih oleh individu untuk dapat memenuhi kepuasan kerja perawat, sehingga pada akhirnya akan memberikan kontribusi terhadap bidang profesi yang dipilihnya.
Pengembangan karir perawat merupakan suatu perencanaan dan penerapan rencana karir yang dapat digunakan untuk penempatan perawat pada jenjang yang sesuai dengan keahliannya, serta menyediakan kesempatan yang lebih baik sesuai dengan kemampuan dan potensi perawat. Oleh karena itu, Kemenkes RI (2013) menjadikan Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara sebagai salah satu rumah sakit dalam implementasi jenjang karir perawat profesional untuk pengembangan profesi keperawatan dan penataan pelayanan keperawatan ke arah yang lebih baik.
109
pengalaman secara narasi untuk menilai kemampuan perawat dalam merefleksikan dirinya, wawasannya dan praktek klinis yang dilakukan.
Kegiatan Diskusi Refleksi Kasus (DRK) ini mengangkat permasalahan/isu tentang belum adanya keseragaman dalam kegiatan pendokumentasian Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi/CPPT oleh perawat di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara. Kegiatan tindak lanjut yang dilakukan adalah dengan menyusun SPO pengisian CPPT oleh perawat agar terciptanya keseragaman dalam pendokumentasian CPPT di Ruang Rawat Inap. Hal ini sesuai dengan Permenkes No. 835/MENKES/SK/VI/2005 menjelaskan bahwa DRK merupakan salah satu media strategis untuk mengidentifikasi masalah dan menetapkan alternatif penyelesaian masalah tersebut. Hal ini sesuai dengan penelitian Taylor, Holroyd, Edward, Unwin dan Rowley (2005) yang menjelaskan bahwa kegiatan diskusi refleksi dapat meningkatkan kemampuan perawat untuk dapat melakukan pekerjaan secara sistematis.
110
Depkes (1997) menjelaskan bahwasetiap tindakan yang telah dilakukan oleh seorang perawat, tindakan independen, dependent ataupun tindakan yang sifatnya interdependen dengan petugas kesehatan lain harus dicatat dalam format asuhan keperawatan dan dicantumkan nama perawat yang melaksanakannya serta ditandatangani. Setelah dilakukan kegiatan DRK tentang pendokumentasian asuhan keperawatan dan sosialisasi tentang pendokumentasian CPPT di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara. Maka didapatkan hasil perawat telah mampu melakukan pendokumentasian CPPT secara teratur dan mulai mencapai keseragaman. Menurut Brenner, Dimitroff & Nichols (2010) pada pendokumentasian asuhan keperawatan merupakan salah satu cara untuk merefleksikan interaksi yang terjadi antara perawat dan pasien.
5.2 Dampak Action Research
Dampak pengembangan Protokol Diskusi Refleksi Kasus terlihat pada perbedaan pengetahuan perawat sebelum pengembangan Protokol Diskusi Refleksi Kasus (DRK) dengan setelah pengembangan Protokol Diskusi Refleksi Kasus (DRK). Pengetahuan perawat di Ruang Rawat Inap sebelum kegiatan Diskusi Refleksi Kasus (DRK) mendapat nilai rata-rata 10,8 dan berada pada kategori baik sebesar 90,5%. Sedangkan nilai rata-rata pengetahuan perawat di Ruang Rawat Inap setelah kegiatan Diskusi Refleksi Kasus (DRK) meningkat menjadi 13,5 dan berada pada kategori baik sebesar 93,6%.
111
kegiatan pembelajaran lewat diskusi reflektif. Perbedaannya adalah penelitian Dube & Ducharme (2014) ini menggunakan desain penelitian mixed method dengan adanya kelompok kontrol dan kelompok eksperimen. Sedangkan penelitian Pengembangan Protokol Diskusi Refleksi Kasus (DRK) ini menggunakan desain action research tanpa kelompok kontrol sehingga tidak dapat dinilai perbedaan pengetahuan perawat yang terlibat dalam kegiatan penelitian dengan yang tidak terlibat.
Dampak lain dari kegiatan penelitian pengembangan Protokol Diskusi Refleksi Kasus (DRK) di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara ini adalah kepuasan perawat terhadap pelaksanaan Diskusi Refleksi Kasus (DRK). Hasil kuesioner kepuasan perawat setelah kegiatan DRK didapatkan hasil 72,2% perawat puas dengan kegiatan DRK. Pada kuesioner tersebut (pertanyaan ke 11) tentang kemampuan berfikir kritis yang dilatih dari DRK, 80% responden menyatakan puas dengan kegiatan DRK. Hal ini sesuai dengan penelitian Oyamada (2011) tentang pengembangkan program pembelajaran lewat diskusi refleksi kelompok dimana didapatkan hasil 85% perawat klinik yang mengikuti program pembelajaran lewat diskusi reflektif mengalami perubahan pada sikap dan kemampuan berfikir kritis.
112
Pengembangan Diskusi Refleksi Kasus (DRK) ini menggunakan desain action research dengan partisipan adalah perawat yang bekerja di rumah sakit.
5.3 Pelajaran yang didapat dari Penelitian Action Research (Lesson Learned)
Pelaksanaan penelitian ini banyak memberikan ilmu bagi peneliti dan perawat. Pelajaran yang diperoleh peneliti adalah peneliti belajar lebih dalam lagi tentang Diskusi Refleksi Kasus (DRK) dan tentang action research, peneliti dapat menganalisa data kualitatif dan data kuantitatif, mampu mengumpulkan dan mengorganisasikan perawat, mampu melakukan pendekatan kepada pihak manajerial rumah sakit, meningkatkan kemampuan berkomunikasi, mengenal faktor pendukung dan faktor penghambat dalam kegiatan penelitian ini. Secara garis besar peneliti banyak berinteraksi dengan lingkungan dan belajar menganalisa situasi yang ada di sekitar.
Bagi perawat, penelitian ini memberikan tambahan ilmu pengetahuan tentang konsep Diskusi Refleksi Kasus (DRK), melatih kemampuan berdiskusi yang baik, melatih perawat untuk berfikir kritis dan menganalisa masalah baik tentang pasien maupun tentang manajemen pelayanan.
5. 4. Keterbatasan Penelitian
113
ini menyebabkan sulitnya mencari waktu yang tepat, karena perawat selain disibukkan dengan kegiatan asuhan keperawatan di ruangan juga harus mengikuti rapat untuk persiapan akreditasi sesuai dengan kelompok kerja (pokja) masing-masing.
Selain itu, Peneliti sedikit sulit untuk bertemu dan berdiskusi dengan tim penyusun kegiatan Diskusi Refleksi Kasus (DRK) karena tim ini merupakan bagian dari personel Komite Keperawatan memiliki agenda yang sangat padat. Peneliti melakukan beberapa strategi alternatif dalam upaya untuk mengatasi keterbatasan dalam penelitian ini yaitu menyesuaikan waktu dengan tim. Hal lain sebagai strategi alternatif yang dilakukan peneliti adalah melaksanakan pertemuan pada jam istirahat, agar memudahkan untuk bertemu dalam satu waktu.
114 BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
Setelah dijelaskan pada bab 4 tentang hasil penelitian dan bab 5 tentang pembahasan atas hasil penelitian yang didapatkan, maka pada bab 6 ini akan menguraikan kesimpulan dan saran kepada beberapa pihak yang terkait.
6. 1. Kesimpulan
Penelitian ini dilaksanakan untuk mengembangkan Protokol Diskusi Refleksi Kasus (DRK) di Ruang Rawat Inap RS Universitas Sumatera Utara. Implementasi dengan pendekatan action research dalam pengembangan Diskusi Refleksi Kasus (DRK) ini menunjukkan bagaimana para perawat yang ada di Ruang Rawat Inap ini dapat melaksanakan Diskusi Refleksi Kasus (DRK).Output dari penelitian ini adalah adanya SPO DRK yang terdiri dari SPO Persiapan DRK, SPO Pelaksanaan DRK dan SPO Evaluasi Pelaksanaan DRK, adanya alur DRK, Struktur dan uraian tugas DRK, serta modul DRK.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan perawat tentang Diskusi Refleksi Kasus (DRK) sebelum kegiatan penelitian adalah 90,5% meningkat menjadi 93,6% dengan peningkatan nilai rata-rata dari 10,8 menjadi 13,5 serta 72,8% puas dengan kegiatan DRK. Ada 5 tema yang dihasilkan dari kegiatan FGD yaitu :1) bentuk kegiatan DRK, 2) manfaat DRK, 3) faktor pendukung DRK, 4) faktor penghambat, 5) harapan perawat terkait DRK.
115
Utara ini juga telah menciptakan keseragaman dalam pendokumentasian Catatan Perkembangan Pasien Terintegrasi (CPPT) di Ruang Rawat Inap Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara.
6. 2. Saran
Bagi rumah sakit diharapkan dengan adanya penelitian ini dapat terlaksananyakegiatan Diskusi Refleksi Kasus (DRK) secara teratur dan terjadwal yangdiharapkan dalam pelaksanaannya dapat sesuai dengan SPO dan alur yang telah dirumuskan dan dapat mengaplikasikan modul DRK yang telah disusun sebagai salah satu tambahan kegiatan untuk melengkapi log book perawat.
Bagi para pendidik keperawatan diharapkan hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar pembelajaran dan mengurangi kesenjangan teori praktik. Bagi peserta didik/mahasiswa keperawatan yang melaksanakan belajar lapangan di Ruang Rawat Inap RS Universitas Sumatera Utara diharapkan dapat menjadikan kegiatan Diskusi Refleksi Kasus (DRK) sebagai kegiatan yang dapat meningkatkan motivasi belajar dan menambah pengetahuan dan keterampilan dalam melakukan asuhan keperawatan pada pasien.