PENGARUH KEWAJIBAN MORAL, KUALITAS PELAYANAN, PEMERIKSAAN PAJAK DAN SANKSI PERPAJAKAN PADA KEPATUHAN WAJIB PAJAK PRIBADI DI KPP PRATAMA JEPARA

103  Download (0)

Teks penuh

(1)

WAJIB PAJAK PRIBADI DI KPP PRATAMA

JEPARA

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat Untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1) Pada Program Sarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Dian Nuswantoro

Disusun oleh :

DICKA CHRISTHA KOES FEBRINDA B12.2012.02125

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO

SEMARANG

2016

(2)

i

PENGARUH KEWAJIBAN MORAL, KUALITAS

PELAYANAN, PEMERIKSAAN PAJAK DAN

SANKSI PERPAJAKAN PADA KEPATUHAN

WAJIB PAJAK PRIBADI DI KPP PRATAMA

JEPARA

SKRIPSI

Diajukan sebagai salah satu syarat Untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1) Pada Program Sarjana Fakultas Ekonomi dan Bisnis

Universitas Dian Nuswantoro

Disusun oleh :

DICKA CHRISTHA KOES FEBRINDA B12.2012.02125

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS DIAN NUSWANTORO

SEMARANG

2016

(3)
(4)
(5)

iv

(6)
(7)

vi

Janganlah hendaknya kamu kuatir tentang apa pun juga, tetapi nyatakanlah dalam segala hal keinginanmu kepada Allah dalam doa dan permohonan

denganucapan syukur”.( Filipi 4 : 6 )

“ JANGAN MENYERAH SEBELUM MIMPIMU TERWUJUD”

PERSEMBAHAN

Skripsi ini peneliti persembahkan kepada:

1. Orang Tua dan Kakak tersayang yang senantiasa mendoakan, selalu memberikan nasihat dan semangat

2. Sahabat-sahabat terbaik

3. Dosen Pembimbingku yang Terbaik 4. Almamater Universitas Dian Nuswantoro 5. Dirimu

(8)

vii ABSTRAK

Kepatuhan wajib pajak merupakan sikap taat, patuh, tunduk, dalam melaksanakan ketentuan tentang perpajakan. kepatuhan juga selalu menjadi faktor penting didalam meningkatan penerimaan pajak. Faktor-faktor yang mempengaruhi kepatuhan perpajakan antara lain kewajiban moral, kualitas pelayanan, pemeriksaan pajak, dan sanksi perpajakan. Tujuan dari penelitian ini digunakan untuk mengetahui pengaruh kewajiban moral, kualitas pelayanan, pemeriksaan pajak, dan sanksi perpajakan pada kepatuhan wajib pajak pribadi di KPP Pratama Jepara.

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh wajib pajak orang pribadi yang terdaftar di KPP Pratama Jepara dan tergolong sebagai wajib pajak efektif yang berjumlah 6.470 orang pada tahun 2016. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik accidential sampling yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan. Kebetulan yang dimaksud adalah siapa saja yang kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, apabila orang yang yang kebetulan ditemui cocok sebagai sumber data. Analisis yang digunakan adalah regresi linier berganda.

Hasil Penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara kewajiban moral, kualitas pelayanan, pemeriksaan pajak, Sanksi perpajakan terhadap Kepatuhan wajib pajak.

Kata kunci : kewajiban moral, kualitas pelayanan, pemeriksaan pajak dan sanksi perpajakan dan kepatuhan wajib pajak.

(9)

viii

increase of tax revenue. Factors affecting tax compliance among other moral obligations, service quality, tax audits and tax penalties. The purpose of this study is used to determine the influence of moral obligation, service quality, tax audits and tax penalties on individual taxpayer compliance at KPP Pratama Jepara.

The population in this study are all individual taxpayer registered at KPP Pratama Jepara and classified as effective taxplayer amounted to 6,470 people in 2016. The selection sampling method used in this research is accidential sampling technique that is based on chance. That is anyone who happened to meet with researcher can be used as a sample, where the person who happened to be found suitable as a data source. The analysis used is multiple linear regression.

The results showed that there is significant influence between moral obligations, service quality, tax audits, tax penalties on taxpayer compliance.

Keywords: moral obligations, service quality, tax audits and tax penalties and taxpayer compliance

(10)

ix

KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi yang berjudul“PENGARUH KEWAJIBAN MORAL, KUALITAS PELAYANAN, PEMERIKSAAN PAJAK DAN SANKSI PERPAJAKAN PADA KEPATUHAN WAJIB PAJAK DI KPP PRATAMA JEPARA”.Skripsi ini sebagai suatu syarat untuk menyelesaikan studi pada program Strata 1 (S1) Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Dian Nuswantoro Semarang.

Dalam penulisan skripsi ini, Penulis menyadari bahwa masih banyak sekali kekurangan, hal ini dikarenakan keterbatasan pengetahuan dan pengalaman. Namun skripsi ini dapat terselesaikan karena adanya bimbingan, bantuan, saran, dan kerjasama dari berbagai pihak. Untuk itu peneliti menyampaikan rasa terimakasih kepada :

1. Bapak Dr. Ir. Edi Noersasongko, M.Kom, selaku Rektor Universitas Dian Nuswantoro Semarang.

2. Bapak Dr. Agus Prayitno, selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Dian Nuswantoro Semarang.

3. Bapak Yulita Setiawanta, S.E., M.Si., Akt., CA, selaku Ketua Program Studi Akuntansi S-1 Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Dian Nuswantoro Semarang.

4. Bapak Dr. St. Dwiarso Utomo, S.E., M.Kom., Akt., CA, selaku dosen pembimbing yang penuh kesabaran dan ketelitian dalam membimbing dan

(11)

x

pengarahan dari awal perkulihan hingga terselesainya skripsi ini.

6. Semua Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Dian Nuswantoro Semarang yang telah memberikan ilmu-ilmu yang bermanfaat..

7. Kedua orang tua tersayang, Papa Koes Harjanto dan Mama Lupiyanti Lidia Reynilda yang telah memberikan kasih sayang, semangat pantang menyerah, doa yang tiada henti serta dukungan dan motivasi selama proses penyusunan skripsi ini.

8. Kakak tercinta Chrystea Rendy K.S.F, Pricillia Putri S, Edda Christy K.N dan keponakan yang lucu Clara Amira Natania yang selalu memberikan doa, dukungan, dansemangat untuk segera menyelesaikan skripsi ini.

9. Semua keluarga besar yang selalu mendoakan, member semangat dorongan motivasi agar segera menyelesaikan skripsi.

10. Untuk perempuan yang sedang di pelukan, yang selalu memberi motivasi dan semangat untuk bisa menyelesaikan skripsi ini dan tak lupa selalu memberikan dukungan serta doa.

11. Anak – anakvoxy band yang selalu memberikan dorongan, semangat dan menghibur saat penyusunan skripsi.

12. Teman - teman angkatan 2012 Akuntansi S1 yang selama ini bersama, terimakasih atas kebersamaannya selama ini.

(12)

xi

(13)

xii

PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... iii

PENGESAHAN SKRIPSI ... iv

PENGESAHAN KELULUSAN UJIAN SKRIPSI ... v

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ... vi

ABSTRAKSI ... vii

ABSTRACT ... viii

KATA PENGANTAR ... ix

DAFTAR ISI ... xii

DAFTAR TABEL ... xiv

DAFTAR GAMBAR ... xv

DAFTAR LAMPIRAN ... xvi

BAB I PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang ... 1 1.2. Rumusan Masalah ... 6 1.3. Tujuan Penelitian ... 6 1.4. Manfaat Penelitian ... 7 1.5. Sistematika Penelitian ... 8

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Landasan Teori ... 9

2.1.1 Teori yang Digunakan ... 9

2.1.2. Pengertian Pajak ... 12 2.1.3. KepatuhanWajibPajak ... 18 2.1.4. Kewajiban Moral ... 19 2.1.5. KualitasPelayanan ... 20 2.1.6. PemeriksaanPajak ... 21 2.1.7. SanksiPerpajakan ... 24 2.1.8. KeterkaitanAntarVariabel ... 25 2.2. Penelitian Terdahulu ... 27

(14)

xiii

2.3. Kerangka Konseptual ... 29

2.4. Hipotesis Penellitian ... 29

BAB III METODE PENELITIAN 3.1. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ... 33

3.1.1. Variabel Penelitian ... 33

3.1.2. Definisi Operasional ... 33

3.2. Populasi dan Sampel ... 36

3.3. Jenis dan Sumber Data ... 37

3.4. Metode Pengumpulan Data ... 37

3.5. Metode Analisis ... 38

3.5.1. Statistik Deskriptif ... 38

3.5.2. UjiValiditasdanReabilitas ... 38

3.5.3. AnalisisRegresiBerganda ... 40

3.5.4. Uji Asumsi Klasik ... 41

3.5.5. Uji Hipotesis ... 42

3.5.6. Koefisien Determinasi ... 43

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN 4.1. PengujianInstrumen ... 45 4.1.1. UjiValiditas ... 45 4.1.2. UjiReabilitas ... 47 4.2. DeskripsiSampel ... 48 4.3. GambaranUmumResponden ... 49 4.4. PersepsiResponden ... 52 4.5. PengujianAsumsiKlasik ... 60 4.6. MetodeAnalisis Data ... 63 4.7. PengujianHipotesis ... 65 4.8. AnalisisKoefisienDeterminasi ... 67 4.9. Pembahasan ... 68 BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan ... 78 5.2 Saran ... 79 DAFTAR PUSTAKA ... 81

(15)

xiv Tabel 4.1 UjiValiditas ... 45 Tabel 4.2 UjiReabilitas ... 47 Tabel 4.3 SampelPenelitian ... 48 Tabel 4.4 JenisKelaminWajibPajak ... 49 Tabel 4.5 UmurWajibPajak ... 50

Tabel 4.6 Tingkat PendidikanWajibPajak ... 51

Tabel 4.7 IdentifikasiRespondenMenurutPekerjaan ... 52

Tabel 4.8 TanggapanRespondenTerhadapKepatuhanWajibPajak ... 53

Tabel 4.9 TanggapanRespondenTerhadapKewajiban Moral ... 55

Tabel 4.10 TanggapanRespondenTerhadapKualitasPelayanan ... 56

Tabel 4.11 TanggapanRespondenTerhadapPemeriksaanPajak ... 58

Tabel 4.12 TanggapanRespondenTerhadapSanksiPerpajakan ... 59

Tabel 4.13 UjiKolmogorof Smirnov Test ... 61

Tabel 4.14 UjiGlejser ... 62

Tabel 4.15 UjiKultikolinearitas ... 63

Tabel 4.16 HasilPengolahan Data Regresi Linear Berganda ... 64

Tabel 4.17 Uji F ... 65

(16)

xv

DAFTAR GAMBAR

(17)

xvi Lampiran 1 : Kuesioner

Lampiran 2 : TabulasiKuesioner Lampiran 3 : Hasil SPSS

Lampiran 4 : SuratIzinPenelitiandari KPP PratamaJepara

(18)

1 BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Masalah

Pajak merupakan sumber penerimaan utama negara yang digunakan untuk membiayai pengeluaran pemerintah dan pembangunan. Hal ini tertuang dalam Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) dimana penerimaan pajak merupakan penerimaan dalam negeri yang terbesar. Semakin besarnya pengeluaran pemerintah dalam rangka pembiayaan negara menuntut peningkatan penerimaan negara yang salah satunya berasal dari penerimaan pajak. Tugas mulia administrasi perpajakan, terutama administrasi pajak pusat, diemban oleh Direktorat Jenderal Pajak sebagai salah satu instansi pemerintah yang secara struktural berada di bawah Kementerian Keuangan Republik Indonesia (Widjaya, 2011).

Usaha memaksimalkan penerimaan pajak tidak hanya dapat mengandalkan peran dari Ditjen Pajak maupun petugas pajak, tetapi dibutuhkan juga peran aktif dari para wajib pajak itu sendiri. Hal ini menjadikan kepatuhan wajib pajak menjadi faktor yang sangat penting dalam hal untuk mencapai keberhasilan penerimaan pajak. Oleh karena itu pajak dalam penerimaan negara harus disambut baik karena melalui pajak, kemandirian bangsa Indonesia dalam membiayai pembangunan dan pemerintahannya diharapkan dapat tercapai. Segala biaya pembangunan dan pengembangan yang dilakukan oleh negara berasal dari masyarakat sendiri, bukan berasalkan bantuan dari negara lain. Keadaan ini berdampak pada kemandirian negara yang lebih kuat sehingga negara tidak bergantung pada negara lain dalam pembiayaan pembangunan dalam negaranya (Sumadi, 2005).

(19)

Berdasarkan data yang di peroleh dari KPP Pratama Jepara pada tahun 2011 tercatat jumlah wajib pajak orang pribadi sebesar 10.853 wajib pajak di kota Jepara, tetapi hanya ada 2.111 wajib pajak yang membayarkan pajaknya. Artinya hanya ada 19 persen dari jumlah wajib pajak di Jepara. Pada tahun berikutnya yaitu tahun 2012 tercatat 14.300 wajib pajak di kota Jepara, tetapi hanya ada 2.097 wajib pajak yang membayarkan pajaknya. Artinya hanya ada 15 persen dari jumlah wajib pajak di Jepara. Sedangkan pada tahun 2013 tercatat 14.475 wajib pajak dikota Jepara, tetapi hanya ada 2.342 wajib pajak yang membayarkan pajaknya. Artinya hanya sebesar 16 persen dari jumlah wajib pajak di Jepara. Berdasarkan data tersebut, dapat menunjukkan bahwa setiap tahunnya jumlah wajib pajak di kota Jepara mengalami kenaikan, tetapi jumlah wajib pajak yang membayarkan pajaknya tidak seimbang dari jumlah wajib pajaknya. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa tingkat kepatuhan wajib pajak di kota Jepara masih sangat rendah.

Di Indonesia penelitian tentang kepatuhan wajib pajak sudah banyak dilakukan. Dalam penelitian tersebut banyak faktor yang dapat mempengaruhi tingkat kepatuhan wajib pajak, diantaranya: kewajiban moral wajib pajak, kualitas pelayanan pajak, pemeriksaan pajak dan sanksi pajak. Keempat variabel tersebut

(20)

3

telah diuji pengaruhnya dengan kepatuhan wajib pajak oleh peneliti terdahulu dan menunjukan hasil yang berpengaruh secara signifikan.

Menurut Wenzel (2005) moral wajib pajak, etika dan norma sosialnya sangat berpengaruh terhadap perilaku dari wajib pajak. Kewajiban moral yang lebih kuat dari wajib pajak akan mampu meningkatkan tingkat kepatuhanya (Ho, 2009). Wajib pajak dapat dikatakan memiliki kewajiban moral yang baik jika wajib pajak cenderung taat terhadap aturan-aturan yang telah diberikan sehingga, ini berpengaruh pada ketaatan wajib pajak dalam memenuhi kewajibannya untuk membayar pajak.

Kualitas pelayanan adalah kemampuan suatu pihak yang menawarkan manfaat kepada pihak lain pada dasarnya tidak berwujud untuk memenuhi pengharapan dan kebutuhan dari pihak lain tersebut. Kualitas pelayanan juga dinilai sebagai perbandingan antara harapan yang diinginkan oleh pelanggan dengan penilaian mereka terhadap kinerja aktual dari suatu penyediaan layanan (Cronin,1992). Menurut Purwoko (2008), kualitas pelayanan digolongkan atas tiga komponen yaitu Technical Quality, Function Quality, dan Corporate Image. Dan terdapat lima dimensi yang digunakan dalam menilai suatu kualitas pelayanan, yaitu Keandalan, Ketanggapan, Jaminan, Empati, dan Wujud Fisik. Pelayanan melalui interaksi manusia, kontak antara layanan pelanggan dengan karyawan selama pelayanan berlangsung sangat menentukan tingkat kualitas pelayanan yang disampaikan kepada pelanggan (Hidayat,2010). Hasil penelitian sebelumnya oleh Wuri (2009) mengatakan adanya kualitas pelayanan yang dilaksanakan dengan baik akan mendorong wajib pajak untuk lebih percaya dan lebih mudah dalam memenuhi kewajiban pajaknya.

(21)

Menurut Slemrod dan Yitzhaki (2002) pemeriksaan pajak adalah suatu cara pemerintah untuk menekan angka penggelapan pajak dan penghindaran pajak oleh wajib pajak. Pemeriksaan pajak dilakukan dengan cara menghimpun dan mengolah data, keterangan, atau bukti-bukti yang dilaksanakan secara objektif dan professional berdasarkan suatu standar pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan. Hasil penelitian yang dilakukan oleh Rahayu (2010) mengatakan, pemeriksaan pajak berpengaruh pada kepatuhan wajib pajak terutama pemeriksaan dalam pasal-pasal perpajakan yang berlaku.

Menurut Kantor Pemerintah Akuntan Amerika Serikat (2009) sanksi perpajakan dimaksudkan untuk membuat patuh para wajib pajak. Sanksi tersebut bertujuan untuk memberikan pelajaran bagi pelanggar pajak agar merasa jera. Hal ini menjadikan sanksi perpajakan sebagai hal yang efektif untuk mencegah ketidakpatuhan wajib pajak. Hasil penelitian sebelumnya Suryanto (2009) mengatakan sanksi perpajakan dapat mendorong wajib pajak untuk memenuhi kewajiban pajaknya sehingga hasil penelitian menunjukan sanksi perpajakan berpengaruh secara signifikan.

Penelitian tentang kepatuhan wajib pajak telah dilakukan oleh peneliti-peneliti terdahulu. Hasil pada peneliti-penelitian sebelumnya yang dilakukan oleh Layata dan Setiawan (2014) menunjukkan bahwa variabel kewajiban moral, kualitas pelayanan, pemeriksaan pajak, sanksi perpajakan berpengaruh signifikan pada kepatuhan wajib pajak. Hal ini juga sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Pranata dan Setiawan (2015) juga menunjukkan bahwa variabel sanksi perpajakan, kualitas pelayanan, dan kewajiban moral berpengaruh signifikan pada kepatuhan wajib pajak. Begitu juga dengan penelitian yang dilakukan Surliani dan Kardinal (2014), Maryati

(22)

5

(2014) yang menunjukkan variabel kualitas pelayanan, pemeriksaan pajak, dan sanksi pajak berpengaruh signifikan pada kepatuhan wajib pajak. Hal ini menunjukkan bahwa variabel kewajiban moral, kualitas pelayanan, pemeriksaan pajak, dan sanksi perpajakan merupakan hal penting yang mempengaruhi kepatuhan wajib pajak dalam kewajibannya membayar pajak.

Hasil berbeda ditunjukkan oleh penelitian Kenconowati (2015) yang menunjukkan bahwa hanya variabel pelayanan pajak yang berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak sedangkan variabel sanksi perpajakan dan kemudahan PP No. 46 tahun 2013 tidak berpengaruh signifikan tehadap kepatuhan wajib pajak. Hasil penelitian tersebut didukung oleh penelitian yang dilakukan Maryati (2014) yang juga menyatakan bahwa variabel sanksi pajak tidak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak.

Penelitian ini merupakan replikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Layata dan Setiawan, (2014) dengan judul Pengaruh Kewajiban Moral, Kualitas Pelayanan, Pemeriksaan Pajak, dan Sanksi Perpajakan Pada Kepatuhan Wajib Pajak Badan. Perbedaan antara penelitian ini dengan penelitian sebelumnya terletak pada objek penelitian, tempat penelitian, dan periode penelitian. Pada penelitian sebelumnya dilakukan dengan objek penelitian pada kepatuhan wajib pajak badan di KPP Pratama Badung Selatan yang dilakukan pada tahun 2014 sedangkan penelitian sekarang dilakukan objek penelitian pada kepatuhan wajib pajak pribadi di KPP Pratama Jepara yang dilakukan pada tahun 2016. Penelitian ini dilakukan di KPP Pratama Jepara karena berdasarkan data yang di peroleh dari KPP Pratama Jepara menunjukkan bahwa jumlah wajib pajak yang terdaftar pada tahun 2016 sebesar 6.470 sedangkan yang membayar hanya sebesar 3.052. hal ini menunjukkan antara

(23)

jumlah wajib pajak yang terdaftar dengan yang membayar jumlahnya tidak seimbang. Berdasarkan pada uraian latar belakang masalah yang terjadi di atas maka penulis tertarik untuk mengajukan sebuah penelitian dengan judul “PENGARUH KEWAJIBAN MORAL, KUALITAS PELAYANAN, PEMERIKSAAN PAJAK DAN SANKSI PERPAJAKAN PADA KEPATUHAN WAJIB PAJAK PRIBADI DI KPP PRATAMA JEPARA”

1.2 Rumusan Masalah

Permasalahan pokok dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah kewajiban moral berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak pribadi?

2. Apakah kualitas pelayanan berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak pribadi?

3. Apakah pemeriksaan pajak berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak pribadi?

4. Apakah sanksi perpajakan berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak pribadi?

1.3 Tujuan Penelitian

Berdasarkan perumusan masalah diatas, penelitian ini bertujuan sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui pengaruh kewajiban moral terhadap kepatuhan wajib pajak pribadi dalam memenuhi kewajiban perpajakannya pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jepara.

(24)

7

2. Untuk mengetahui pengaruh kualitas pelayanan terhadap kepatuhan wajib pajak pribadi dalam memenuhi kewajiban perpajakannya pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jepara.

3. Untuk mengetahui pengaruh pemeriksaan pajak terhadap kepatuhan wajib pajak pribadi dalam memenuhi kewajiban perpajakannya pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jepara.

4. Untuk mengetahui pengaruh sanksi perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak pribadi dalam memenuhi kewajiban perpajakannya pada Kantor Pelayanan Pajak Pratama Jepara.

1.4 Manfaat penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut : 1. Bagi KPP Pratama Jepara

Dapat mengetahui seberapa besar pengaruh kewajiban moral, kualitas pelayanan, pemeriksaan pajak, dan sanksi perpajakan terhadap kepatuhan wajib pajak pribadi.

2. Bagi wajib pajak

Meningkatkan kesadaran, rasa tanggung jawab, dan kedisiplinan wajib pajak untuk memenuhi kewajibannya membayar pajak.

3. Bagi peneliti mendatang

Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi bagi penelitian mendatang agar dapat dilakukan pengembangan penelitian tentang kepatuhan wajib pajak pribadi kaitannya dengan kewajiban moral, kualitas pelayanan, pemeriksaan pajak, dan sanksi perpajakan

(25)

1.5 Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan skripsi ini adalah

BAB I PENDAHULUAN

Pada bab ini dijelaskan mengenai latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian dan kegunaan penelitian serta sistematika penulisan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

Pada bab dua ini dijelaskan mengenai landasan teori yang menjelaskan dasar-dasar teori, penelitian terdahulu, kerangka pemikiran dan hubungan antar variabel dan hipotesis.

BAB III METODE PENELITIAN

Pada bab ini dijelaskan mengenai jenis penelelitian, populasi dan sanpel, sumber data, metode pengumpulan data, dan analisis data. BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

Berisi deskripsi tentang obyek penelitian, analisis data dan pembahasan. BAB V PENUTUP

(26)

9

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Landasan Teori

2.1.1 Teori yang Digunakan

1. Teori Pembelajaran Sosial (Social learning theory)

Menurut Robbins (2008), mengamati model dan mengulangi perilaku yang dilakukann oleh model bukanlah sekedar imitasi sederhana, seseorang dapat belajar lewat pengamatan dan pengalaman langsung. Pembelajaran observasi juga melibatkan proses kognitif aktif yang meliputi empat komponen yaitu: atensi, retensi, reproduksi, dan penguatan.

Atensi atau proses perhatian yaitu orang hanya akan belajar dari seseorang atau model jika mereka telah mengenal dan menaruh perhatian pada orang atau model tersebut. Pada umumnya seseorang memperhatikan pada sesuatu yang memikat, berhasil, menarik, dan populer. Perilaku yang sederhana dan dan menjolok mata lebih mudah diperhatikan dari pada yang tidak jelas. Retensi atau proses penahanan adalah proses mengingat tindakan suatu model setelah model tidak lagi mudah tersedia. Pengamatan tidak perlu melakukan pengulangan atau mempraktekkan secara fisik tetapi dapat saja secara kognitif, yaitu: membayangkan dan memvisualisasikan dalam pikirannya. Proses reproduksi adalah mengubah ide gambaran, atau ingatan menjadi tindakan. Proses penguatan adalah proses yang mana individu-individu disediakan rangsangan positif atau ganjaran supaya berperilaku sesuai dengan model, umumnya seseorang akan cenderung untuk memperagakan

(27)

perilaku yang ditirunya jika hal tersebut menghasilkan hal yang berharga atau diinginkan.

2. Teori Keseimbangan (Equity Theory)

Teori ini dipelopori oleh Zalemik (1958) dan dikembangkan oleh Adams (1963). Teori ini sering disebut teori keadilan dengan memfokuskan pada perbandingan relative antara input dan hasil dari individu lainnya. Jika tingkat rasio perbandingan seseorang menunjukan keseimbangan dengan rasio orang lain, maka ia akan merasa puas. Sebaliknya jika terdapat adanya ketidakadilan, orang akan merasa tidak puas, prinsip teori ini adalah seseorang akan merasa puas atau tidak puas tergantung apakah ia merasakan adanya keadilan (equity).

Perasaan adil atau tidak adil diperoleh dengan cara membandingkan apa yang diperoleh dirinya dengan orang lain yang memiliki situasi pekerjaan yang setara. Terdapat beberapa elemen dari teori Equity yaitu : 1. Input adalah segala sesuatu yang bekerja, yang dirasakan karyawan sebagai sumbangan terhadap pekerjaan. 2. Outcome adalah segala sesuatu yang berharga, yang dirasakan karyawan sebagai “hasil” dari pekerjaannya. 3. Comparison person adalah kepada orang lain dengan siapa karyawan membandingkan rasio input-outcome yang diperoleh. Comparison person dapat merupakan seseorang ditempat kerja yang sama atau lain, tetapi dapat pula dirinya diwaktu lampau. Menurut teori equity, seseorang akan membandingkan rasio input outcome yang diperolehnya dengan rasio input outcome yang diperoleh orang lain.

3. Teori Atribusi (Atribution Theory)

Tingkat kepatuhan pajak dapat dilihat dari perilaku wajib pajak dalam membuat penilaian terhadap pajak itu sendiri. Ketika seseorang mengamati perilaku

(28)

11

orang lain hal yang sangat mempengaruhi adalah kondisi internal maupun eksternal pada orang tersebut. Suatu tindakan merupakan suatu akibat atau efek yang terjadi karena adanya sebab. Menjelaskan penilaian terhadap tingkah laku seseorang dengan mempresepsi apakah tindakan seseorang terkendali secara internal (disposisional) atau eksternal (situasional) adalah pengertian dari teori atribusi (Robbins,2008).

Pada dasarnya, teori atribusi menyatakan bahwa bila individu-individu mengamati perilaku seseorang, mereka mencoba untuk menentukan apakah itu ditimbulkan secara internal atau eksternal (Robbins, 2008). Perilaku yang disebabkan secara internal adalah perilaku yang diyakini berada di bawah kendali pribadi individu itu sendiri atau berasal dari faktor internal seperti ciri kepribadian, kesadaran, dan kemampuan. Hal ini merupakan atribusi internal.Sedangkan, perilaku yang disebabkan secara eksternal adalah perilaku yang dipengaruhi dari luar atau dari faktor eksternal seperti peralatan atau pengaruh sosial dari orang lain, artinya individu akan terpaksa berperilaku karena situasi. Penentuan internal atau eksternal tergantung pada tiga faktor, yaitu: Konsensus, Konsistensi, Kekhususan. Saat tiga hal tersebut (Konsensus, Konsistensi, Kekhususan) dipadukan, maka seseorang dapat mempresepsi apakah tindakan tersebut terkendali secara internal (disposisional) atau eksternal (situasional) ini akan kelihatan factor mana yang lebih mendorong prilaku seseorang.

Konsensus artinya jika semua orang mempunyai kesamaan pandangan dalam merespon perilaku seseorang dalam situasi yang sama. Apabila konsensusnya tinggi, maka termasuk atribusi internal. Sebaliknya jika konsensusnya rendah, maka termasuk atribusi eksternal.

(29)

Konsistensi artinya jika setiap perilaku yang dilakukan, dibandingkan dengan perilaku sebelumnya menunjukkan pada reaksi (tinggi rendahnya konsensus yang dicapai) yang konsisten, maka akan semakin kuat dugaan perilaku konsisten dari orang tersebut jika konsensusnya samatinggi atau sama rendah dengan prilaku sebelumnya. Namun jika konsensusnya berbeda derajat tinggi rendahnya, berarti derajat konsisten perilakunya menurun. Ada saling mempengaruhi antara konsensus dan konsistensi.

Kekhususan, artinya seseorang akan mempersepsikan perilaku individu lain secara berbeda dalam situasi yang berlainan. Apabila perilaku seseorang dianggap suatu hal yang luar biasa, maka individu lain yang bertindak sebagai pengamat akan memberikan atribusi eksternal terhadap perilaku tersebut. Sebaliknya jika hal itu dianggap hal yang biasa, maka akan dinilai sebagai atribusi internal.

Alasan pemilihan teori ini adalah teori atribusi relevan untuk menjelaskan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kepatuhan wajib pajak yang digunakan dalam model penelitian ini. Kepatuhan wajib pajak dapat dikaitkan dengan sikap wajib pajak dalam membuat penilaian terhadap pajak itu sendiri. Persepsi seseorang untuk membuat penilaian mengenai orang lain sangat dipengaruhi oleh faktor internal maupun eksternal orang lain tersebut.

2.1.2 Pengertian pajak

Pajak adalah kontribusi wajib kepada negara yang terutang oleh orang pribadi atau badan yang bersifat memaksa berdasarkan Undangundang, dengan tidak mendapatkan imbalan secara langsung dan digunakan untuk keperluan negara bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat. Hal ini sebagaimana tercantum dalam

(30)

13

Undang-undang No. 28 Tahun 2007 tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (Agustinus Sonny, 2009;1)

Beberapa pendapat tentang definisi pajak :

a) Prof. Dr. Rochmat soemitro, SH. dalam Resmi (2013)

Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak mendapatkan jasa timbal balik (kontraprestasi) yang langsung dapat ditunjukkan, dan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum.

b) Adriani dalam Pengantar ilmu hukum pajak (2005)

Pajak adalah iuran kepada negara (yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh wajib pajak membayarnya menurut peraturan-peraturan, dengan tidak mendapat prestasi kembali, yang langsung dapat di tunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubungan dengan tugas negara yang menyelenggarakan pemerintahan. c) Sommerfeld dalam Muqodim (1999)

Pajak adalah suatu pengalihan sumber-sumber yang wajib dilakukan dari sektor swasta kepada sektor pemerintah berdasarkan peraturan tanpa mendapatkan suatu imbalan kembali yang langsung dan seimbang agar pemerintah dapat melaksanakan tugas-tugasnya menjalankan pemerintahan. Adapun dari definisi diatas pajak memiliki unsur-unsur :

a. Fungsi pajak

Sebagaimana telah diketahui ciri-ciri yang melekat pada pengertian pajak dari berbagai definisi diatas, terlihat adanya dua fungsi pajak berdasarkan (Waluyo dan Wirawan B. Ilyas, 2002), yaitu:

(31)

1. Fungsi penerimaan

Pajak berfungsi sebagai sumber dana yang diperuntukkan bagi pembiayaan pengeluaran-pengeluaran pemerintah. Contoh: Dimasukkannya pajak dalam APBN sebagai penerimaan dalam negeri

2. Fungsi mengatur

Pajak berfungsi sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan kebijakan di bidang sosial dan ekonomi. Sebagai contoh yaitu dikenakannya pajak yang lebih tinggi terhadap minuman keras sehingga konsumsi minuman keras dapat ditekan. Demikian pula terhadap barang mewah.

b. Subjek pajak

Menurut Resmi (2009) subjek pajak penghasilan adalah segala sesuatu yang memiliki potensi untuk memperoleh penghasilan dan menjadi sasaran untuk dikenakan pph. subjek pajak akan dikenakan PPh apabila menerima atau memperoleh penghasilan sesuai denganperaturan perundng-undangan yang berlaku. Jika subjek pajak telah memenuhi kewajiban pacak secara objektif maupun subjektif maka disebut wajib pajak.

Pasal 2 ayat (1) UU No. 17 tahun 2000 mengelompokkan subjek pajak sebagai berikut:

1. Subjek pajak orang pribadi;

Orang pribadi sebagai subjek pajak dapat bertempat tinggal atau berada di indonesia.

2. Subjek pajak warisan yang belum terbagi sebagai satu kesatuan, menggantikan yang berhak;

(32)

15

Warisan yang terbagi sebagai satu kesatuan merupakan subjek pajak pengganti atau menggantikan yang berhak yaitu ahli war

3. Subjek pajak badan;

Adalah sekumpulan orang dan atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun tidak melakukan usaha yang meliputi perseroan terbatas, perseroan komanditer, badan usaha milik negara ataudaerah dengan nama dan dalam bentuk apapun, koperasi, dana pensiun, yayasan, organisasi sosial politik, bentuk usaha tetap dan bentuk badal lainnya termasuk reksadana.

4. Subjek pajak bentuk usaha tetap (BUT);

Adalah bentuk usaha yang dipergunakan oleh orang pribadi yang bertempat tinggal di Indonesia atau berada di Indonesia tidal lebih dari 183 hari dalam jangka waktu 12bulan, atau badan yang tidak didirikan dan tidak bertempat kedudukan di Indonesia, untukmenjalankan usaha atau melakukan kegiatan di Indonesia.

c. Jenis-jenis Pajak a. Jenis-jenis Pajak

Menurut Waluyo dan Wirawan B.Ilyas (2002) pembagian pajak dibagi menjadi tiga golongan yaitu sebagai berikut :

1. Pajak menurut golongan

a) Pajak langsung adalah pajak yang pembebanannya tidak dapat dilimpahkan pihak lain, tetapi harus menjadi beban langsung wajib pajak yang bersangkutan. Sebagai contoh : Pajak Penghasilan.

(33)

b) Pajak tidak langsung adalah pajak yang pembebanannya da[at dilimpahkan kepihak lain. Sebagai contoh : Pajak Pertambahan Nilai 2. Pajak menurut sifat

Pembagian pajak menurut sifat, maksudnya pembedaan dan pembagiannya berdasarkan pada ciri-ciri prinsip :

a) Pajak subjektif adalah pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada subjeknya yang selanjutnya dicari syarat objektifnya, dalam arti memperhatikan keadaan dari wajib pajak. Contoh : Pajak Penghasilan. b) Pajak objektif adalah pajak yang berpangkal atau berdasarkan pada objeknya, tanpa memperhatikan keadaan diri wajib pajak. Contoh : Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah. 3. Pajak menurut pemungutan

a) Pajak pusat adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah pusat dan digunakan untuk membiayai rumah tangga negara. Contoh : Pajak Penghasilan, Pajak Pertambahan Nilai, Pajak Penjualan atas Barang Mewah, Pajak Bumi dan Bangunan, dan Bea Materai.

b) Pajak daerah adalah pajak yang dipungut oleh pemerintah daerah rtdan digunakan untuk membiayai rumah tangga daerah. Contoh : Pajak Reklame, dan Pajak Hiburan.

b. Sistem Pemungutan Pajak

Menurut Waluyo dan Wirawan B.Ilyas (2002) sistem pemungutan pajak dapat dibagi menjadi tiga yaitu :

(34)

17

1. Official Assessment System

Sistem ini merupakan sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pemerintah (fiscus) untuk menentukan besarnya pajak yang terutang. Ciri-ciri Official Assessment System :

a) Wewenang untuk menentukan besarnya pajak terutang berada pada

fiscus.

b) Wajib pajak bersifat pasif.

c) Utang pajak timbul setelah dikeluarkan surat ketetapan pajak oleh

fiscus.

2. SelfAssessment System

Sistem ini merupakan sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang, kepercayaan, tanggung jawab kepada wajib pajak untuk menghitung, memperhitungkan, membayar dan melaporkan sendiri besarnya pajak yang harus dibayar.

3. WithholdingSystem

Sistem ini merupakan sistem pemungutan pajak yang memberi wewenang kepada pihak ketiga untuk memotong atau memungut besarnya pajak yang terutang oleh wajib pajak.

2.1.3 Kepatuhan Wajib Pajak

Kepatuhan dalam hal perpajakan berarti suatu ketaatan untuk melakukan ketentuan-ketentuan atau aturan-aturan perpajakan yang diwajibkan dan dilaksanakan menurut perundang-undangan perpajakan. Menurut (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001) kepatuhan berarti menurut, taat pada perintah, aturan dan

(35)

sebagainya. Wajib pajak adalah orang atau badan yang menurut ketentuan perundang-undangan perpajakan ditentukan untuk melakukan kewajiban perpajakan (Lumbantoruan, 1990).

Kepatuhan wajib pajak adalah perilaku wajib pajak yang taat dan melaksanakan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan Nowak (1989). Kepatuhan wajib pajak memiliki pengertian suatu iklim kepatuhan dan kesadaran pemenuhan kewajiban perpajakan, tercemin dalam situasi dimana wajib pajak paham atau berusaha untuk memahami semua peraturan perundang-undangan perpajakan, mengisi formulir pajak dengan lengkap dan jelas, menghitung jumlah pajak yang tertuang dengan benar dan membayar pajak yang pada tepat waktu. Menurut Masruroh (2013) menjelaskan bahwa kepatuhan wajib pajak adalah wajib pajak mempunyai kesediaan untuk memenuhi kewajiban pajaknya sesuai dengan aturan yang berlaku tanpa perlu diadakannya pemeriksaan, investigasi seksama, peringatan ataupun ancaman, dalam penerapan sanksi baik hukum maupun administrasi.

Menurut Zain (2004), kepatuhan wajib pajak memiliki pengertian yaitu: ”Suatu iklim kepatuhan dan kesadaran pemenuhan kewajiban perpajakan, tercermin dalam situasi dimana:

a. Wajib pajak paham atau berusaha untuk memahami semua ketentuan peraturan perundang-undangan.

b. Mengisi formulir pajak dengan jelas dan lengkap. c. Menghitung jumlah pajak yang terutang dengan benar. d. Membayar pajak yang terutang tepat waktu.”

(36)

19

2.1.4 Kewajiban moral

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia moral adalah integritas dan martabat pribadi yang dimiliki manusia. sedangkan kewajiban adalah sesuatu hal yang harus dilakukan. Oleh karena itu kewajiban moral adalah perbuatan atau tindakan yang harus dilaksanakan oleh seseorang sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat.

Bobek dan Hatfield (2003) mengatakan kewajiban moral merupakan suatu perasaan bersalah yang dimiliki seseorang namun belum tentu dimiliki oleh orang yang lainnya. Wajib pajak memiliki kewajiban moral yang sesuai dengan nilai rasa yang berlaku di masyarakat, maka wajib pajak akan melakukan tindakan sesuai dengan peraturan yang ada seperti membayar pajak. Oleh karena itu jika masyarakat memiliki kewajiban moral yang besar maka tingkat kepatuhan penyelesaian kewajiban perpajakannya juga besar sehingga keinginan melaporkan surat pemberitahuan (SPT) juga besar.

Wanzel (2002) menyimpulkan dalam penelitiannya jika wajib pajak memiliki kewajiban moral yang baik maka wajib pajak akan cenderung berperilaku jujur dan taat terhadap aturan yang telah diberikan sehingga hal ini berdampak pada kepatuhan wajib pajak dalam pemenuhan pajaknya.

2.1.5 Kualitas pelayanan

Kualitas dalam (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001) adalah tingkat baik buruknya sesuatu , derajat atau taraf dan mutu. Sedangkan menurut Supadmi (2009) secara sederhana kualitas adalah suatu kondisi dinamis yang berhubungan dengan produk, jasa manusia, proses, dan lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan

(37)

pihak yang menginginkannya. Menurut Hadiati (2003), mendefinisikan kualitas sebagai derajat sejauh mana produk memenuhi spesifikasi-spesifikasinya. Dengan demikian, yang dikatakan kualitas adalah kondisi dinamis yang menghasilkan:

1) Produk yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan. 2) Jasa yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.

3) Suatu proses yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan. 4) Lingkungan yang memenuhi atau melebihi harapan pelanggan.

Pelayanan dalam (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 2001) adalah perihal atau cara melayani, usaha melayani kebutuhan orang lain dengan jasa, kemudahan yang diberikan sehubungan dengan jual beli jasa. Pelayanan adalah suatu proses bantuan kepada orang lain dengan cara-cara tertentu yang memerlukan kepekaan dan hubungan interpersonal agar tercipta kepuasan dan keberhasilan Boediono (2003). Kualitas pelayanan merupakan suatu sikap atau pertimbangan global atau tentang keuangan dari suatu pelayanan (Burhanudin, 2009). Menurut gap theory, kualitas pelayanan merupakan perbandingan antara harapan yang diinginkan pelanggan dengan penilaian terhadap kinerja aktual dari suatu penyediaan pelayanan. Menurut Tjiptono (2002), ada lima dimensi yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kualitas jasa pelayanan, yaitu:

1) Bukti langsung, yaitu meliputi fasilitas fisik, pegawai, perlengkapan, dan komunikasi.

2) Keandalan merupakan kemampuan parapetugas pajak dalam memberikan pelayanan yang menjanjikan dengan segera dan memuaskan.

(38)

21

3) Daya tanggap merupakan karakteristik kecocokan dalam pelayanan manusia yaitu keinginan para petugas pajak untuk membantu wajib pajak dan memberikan pelayanan dan tanggapan.

4) Jaminan, yaitu mencakup kemampuan, kesopanan, dan sifat dapat dipercaya yang dimiliki oleh petugas pajak bebas dari risiko, bahaya atau keragu-raguan.

5) Empati, yaitu meliputi kemudahan petugas dalam melakukan hubungan komunikasi yang baik dan memahami para wajib pajak.

2.1.6 Pemeriksaan pajak

Pemeriksaan menurut pasal 1 ayat (25) Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007 tentang Perubahan Ketiga atas Undang-undang Nomor 6 Tahun 1983 tentang Cara Perpajakan adalah serangkaian menghimpun dan mengolah data, keterangan dan/atau bukti yang dilaksanakan secara objektif dan professional berdasarkan suatu standar pemeriksaan untuk menguji kepatuhan pemenuhan kewajiban perpajakan dan/atau untuk tujauan lain dalam rangka melaksanakan peraturan perundang-undangan perpajakan.

Pemeriksaan Pajak menurut Mulyadi (2002) adalah Suatu Proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan tentang kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan.

Pemeriksaan pajak merupakan suatu alat yang ampuh untuk memaksa wajib pajak taatdengan kewajiban perpajakannya (Frey, 2003). Sebagai sarana untuk melaporkan jumlah pajak terutang adalah surat pemberitahuan atau lebih dikenal

(39)

dengan SPT yang juga merupakan alat pertanggungjawaban wajib pajak terhadap pelaksanaan kewajiban perpajakan sesuai dengan peraturan perpajakan (Herlina, 2011). Jumlah pajak yang dilaporkan dalam SPT menjadi objek pemeriksaan. Tujuan dilakukan pemeriksaan pajak untuk memastikan bahwa jumlah pajak yang dilaporkan sesuai dengan yang seharusnya dibayarkan dan dilaporkan sebagai pengawasan oleh DJP (Direktorat Jendral Pajak) terhadap wajib pajak maka dilakukannya pemeriksaan pajak.

2.1.6.1 Tujuan Pemeriksaan Pajak

1. Menetapkan besarnya jumlah pajak yang terhutang berdasarkan SKPKB,SKPKBT, SKPLB, SKPN, Surat Keberatan, Surat Banding, Surat Teguran dalam hal:

a. SPT tidak disampaikan tepat pada waktunya meskipun sudah mendapat teguran secara tertulis dan untuk menguji kepatuhan Wajib Pajak.

b. Penentuan besarnya jumlah angsuran pajak dalam suatu masa pajak bagi Wajib Pajak baru.

c. Wajib Pajak mengajukan keberatan / banding.

2. Tujuan pemeriksaan lainnya adalah mengumpulkan bahan-bahan yang nantinya akan dijadikan dasar untuk:

a. Menyusun norma perhitungan.

b. Mencocokan Data dan alat keterangan.

c. Mengetahui secara pasti keadaan usaha atau pekerjaan Wajib Pajak dari pihak ketiga, dimana Wajib Pajak tersebut ada hubungannya dengan pihak ketiga itu.

(40)

23

d. Hal-hal lain yang berhubungan dengan pelaksanaan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan.

2.1.6.2 Metode Pemeriksaan Pajak

Beberapa jenis metode pemeriksaan yaitu:

1. Metode Langsung adalah teknik dan prosedur pemeriksaan dengan melakukan pengujian atas kebenaran angka-angka dalam SPT, yang langsung dilakukan terhadap laporan keuangan dan buku, catatan serta dokumen pendukung.

2. Merode Tidak Langsung adalah teknik dan prosedur pemeriksaan dengan melakukan pengujian atas kebenaran angka-angka dalam SPT, dilakukan secara tidak langsung melalui suatu pendekatan penghitungan tertentu mengenai penghasilan dan biaya.

3. Metode Vertikal adalah dengan membandingkan komponen biaya atau harga pokok untuk dibandingkan dengan penjualan, hal ini untuk melihat sejauh mana pengaruh atau dampak biaya yang ada terkait dengan harga jual, metode ini juga dibandingkan dari tahun sebelumnya.

4. Metode Horisontal adalah dengan melihat sejauh mana kenaikan aktiva atau penurunan aktiva dibandingkan dengan tahun sebelumnya, hal ini berguna untuk memastikan adanya pembelian aktiva dan penjualan aktiva.

2.1.7 Sanksi perpajakan

Membayar pajak bukan hanya merupakan kewajiban tetapi juga merupakan hak wajib pajak, yaitu hak untuk ikut berperan serta menyumbangkan dana bagi pelaksanaan pembangunan nasional (Lumbantoruan 1990). Menurut (Mardiasmo, 2013) sanksi adalah tanggungan (tindakan dan hukuman) untuk memaksa orang

(41)

menepati perjanjian atau menaati ketentuan perundang-undangan. Sanksi perpajakan merupakan jaminan bahwa ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan akan dituruti atau ditaati atau dipatuhi, dengan kata lain sanksi perpajakan merupakan alat pencegah agar wajib pajak tidak melanggar norma perpajakan (Mardiasmo, 2009).

Dalam teori atribusi, sanksi pajak merupakan penyebab eksternal karena berasal dari luar wajib pajak atau akibat dari paksaan situasi (Masruroh, 2013). Pada hakikatnya, pengenaan sanksi perpajakan diberlakukan untuk menciptakan kepatuhan Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya.

Undang-undang Nomor 28 Tahun 2007 Tentang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan disebutkan bahwa ada dua macamsanksi, yaitu :

1. Sanksi administrasi yang terdiri dari : a. Sanksi admisistrasi berupa denda. b. Sanksi administrasi berupa bunga. c. Sanksi administrasi berupa kanaikan. 2. Sanksi pidana yang terdiri dari :

a. Pidana kurungan. b. Pidana penjara.

Itulah sebabnya, penting bagi Wajib pajak memahami sanksi-sanksi perpajakan sehingga mengetahui konsekuensi hukum dari apa yang dilakukan ataupun tidak dilakukan. Persepsi wajib pajak tentang pemberian sanksi akan mempengaruhi penilaian masing-masing wajib pajak untuk berprilaku patuh dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya. Dalam teori pembelajaran social, wajib pajak dapat belajar dengan mengamati wajib pajak lain dan mengalami langsung pemberian sanksi yang dikenakan aparat pajak kepada wajib pajak apabila melanggar

(42)

25

norma perpajakan. Sanksi pajak merupakan alat kontrol yang mengontrol agar wajib pajak tetap memenuhi kewajiban perpajakan dikarenakan dengan adanya kerugian yang akan didapat oleh wajib pajak apabila tidak membayar pajak yang secara otomatis akan membuat wajib pajak berpikir apabila tidak ingin mematuhi kewajiban perpajakannya. Pelaksanaan sanksi pajak yang tegas sangat diperlukan untuk mengontrol kepatuhan wajib pajak.

2.1.8 Keterkaitan Antar Variabel

2.1.8.1 Hubungan Antara Kewajiban Moral terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

Kewajiban moral adalah moral yang berasal dari masing-masing individu yang kemungkinan orang lain tidak memilikinya (Ajsen, 2002). Dalam kaitannya dengan kewajiban moral, tidak terlepas dengan integritas. Integritas berarti bahwa prilaku seseorang konsisten dengan nilai yang menyertainya dan orang tersebut bersifat jujur, etis dan dapat dipercaya.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Layata dan Setiawan (2014), menyatakan bahwa kewajiban moral berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Pranata dan Setiawan (2015) yang juga menyatakan bahwa kewajiban moral berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak.

2.1.8.2 Hubungan Antara Kualitas Pelayanan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

Kualitas pelayanan tidak hanya dianggap penting oleh perusahaan komersial saja tetapi saat ini instansi pajak juga telah merasakan betapa pentingnya kualitas pelayanan karena instansi pajak juga memiliki pelanggan yakni wajib pajak (Alabede et al, 2011). Hasil penelitian sebelumnya oleh Wuri (2009) mengatakan adanya

(43)

kualitas pelayanan yang dilaksanakan dengan baik akan mendorong wajib pajak untuk lebih percaya dan lebih mudah dalam memenuhi kewajiban pajaknya.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Layata dan Setiawan (2014), menyatakan bahwa kualitas pelayanan berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Pranata dan Setiawan (2015), Kenconowati (2015) juga menyatakan bahwa kualitas pelayanan berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak.

Selanjutnya dalam penelitian yang dilakukan oleh Surliani dan Kardinal (2014) menyatakan bahwa secara parsial dan simultan kualitas pelayanan berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak.

2.1.8.3 Hubungan Antara Pemeriksaan Pajak terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

Sistem penetapan pajak memerlukan tindakan pemeriksaan dalam peningkatan kepatuhan Wajib Pajak dalam memenuhi kewajibannya. Slemrod dan Yitzhaki (2002) pemeriksaan pajak adalah suatu cara pemerintah untuk menekan angka penggelapan pajak dan penghindaran pajakoleh wajib pajak. Pemeriksaan merupakan salah satu cara dalam meningkatkan Kepatuhan Wajib Pajak Orang pribadi dan/atau badan usaha.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Layata dan Setiawan (2014), menyatakan bahwa pemeriksaan pajak berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Selanjutnya dalam penelitian yang dilakukan Surliani dan Kardinal (2014) menyatakan bahwa secara parsial dan simultan pemeriksaan pajak berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak.

(44)

27

2.1.8.4 Hubungan Antara Sanksi Perpajakan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Menurut Mardiasmo (2013), sanksi adalah tanggungan (tindakan dan hukuman) untuk memaksa orang menepati perjanjian atau menaati ketentuan perundang-undangan. Sanksi perpajakan merupakan jaminan bahwa ketentuan peraturan perundang-undangan dalam perpajakan (norma perpajakan) akan dituruti/ditaati/dipatuhi. Dengan kata lain sanksi perpajakan merupakan alat pencegah (preventif) agar wajib pajak tidak melanggar norma perpajakan.

Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Layata dan Setiawan (2014), menyatakan bahwa sanksi perpajakan berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak. Sama halnya dengan penelitian yang dilakukan oleh Pranata dan Setiawan (2015) yang juga menyatakan bahwa sanksi perpajakan berpengaruh secara signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak.

Berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Maryati (2014) dan kenconowati (2015) mengatakan bahwa variabel sanksi perpajakan tidak berpengaruh signifikan terhadap kepatuhan wajib pajak.

2.2 Penelitian Terdahulu

Untuk mendukung penelitian yang akan dilakukan maka ada beberapa penelitian terdahulu yang relevan dengan penelitian ini. Penelitian terdahulu bertujuan untuk membandingkan dan memperkuat atas hasil analisis yang dilakukan. Ringkasan tentang penelitian terdahulu dapat dilihat pada Tabel 2.1 berikut ini.

(45)

Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu

No. Peneliti Judul Variabel Hasil

1. Sherly Layta dan Putu Ery Setiawan (2014) Pengaruh Kewajiban Moral, Kualitas Pelayanan, Pemeriksaan Pajak, dan Sanksi Perpajakan pada Kepatuhan Wajib Pajak Badan Dependen: Kepatuhan Wajib Pajak Independen: Kewajiban Moral, Kualitas Pelayanan, Pemeriksaan Pajak, dan Sanksi Perpajakan

Kewajiban Moral, Kualitas Pelayanan, Pemeriksaan Pajak, dan Sanksi Perpajakan berpengaruh positif terhadap Kepatuhan WajibPajak Badan 2. Surliani dan Kardinal (2014) Pengaruh Pemahaman, Kualitas Pelayanan, Ketegasan Sanksi Pajak, dan Pemeriksaan Perpajakan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak pada KPP Ilir Barat Dependen: Kepatuhan Wajib Pajak Independen: Pemahaman, Kualitas Pelayanan, Ketegasan Sanksi Pajak, dan Pemeriksaan Perpajakan

Pemahaman, Kualitas Pelayanan, Ketegasan Sanksi Pajak, dan Pemeriksaan Perpajakan bepengaruh secara parsial terhadap Kepatuhan Wajib Pajak 3. Eka Maryati (2014) Pengaruh Sanksi Pajak, Motivasi, dan Tingkat Pendidikan Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Dependen: Kepatuhan Wajib Pajak Independen: Sanksi Pajak, Motivasi, dan Tingkat Pendidikan

Sanksi Pajak tidak berpengaruh signifikan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak, sedangkan Motivasi, dan Tingkat Pendidikan berpengaruh signifikan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak 4. Putu Aditya Pranata dan Putu Ery Setiawan (2015) Pengaruh Sanksi Pajak, Kualitas Pelayanan, dan Kewajiban Moral pada Kepatuhan Wajib Pajak Dependen: Kepatuhan Wajib Pajak Independen: Pengaruh Sanksi Pajak, Kualitas Pelayanan, dan Kewajiban Moral Pengaruh Sanksi Pajak, Kualitas Pelayanan, dan Kewajiban Moral berpengaruh positif terhadap Kepatuhan Wajib Pajak 5. Songsong Kenconowati (2015) Pengaruh Pelayanan Pajak, Sanksi Perpajakan, dan Kemudahan PP NO. 46 Tahun 2013 Terhadap Kepatuhan Wajib Pajak di KPP Pratama Surabaya Dependen: Kepatuhan Wajib Pajak Independen: Pelayanan Pajak, Sanksi Perpajakan, dan Kemudahan PP NO. 46 Tahun 2013

Hasil dari penelitian judul ini menunjukan bahwa hanya variabel Pelayanan Pajak yang berpengaruh signifikan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

(46)

29

2.3 Kerangka Konseptuan

Dalam penelitian ini akan berusaha dijelaskan mengenai pengaruh kewajiban moral, kualitas pelayanan, pemeriksaan pajak, dan sanksi perpjakan pada kepatuhan wajib pajak pribadi. kewajiban moral, kualitas pelayanan, pemeriksaan pajak, dan sanksi perpjakan diduga akan berpengaruh terhadap kepatuhan wajib pajak. Model dalam penelitian ini dapat digambarkan dalam kerangka pemikiran sebagai berikut:

2.4Hipotesis Penelitian

Gambar 2.1 Kerangka Konseptual 2.4 Hipotesis Penelitian

Hipotesis dari perumusan masalah yang diajukan oleh peneliti dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

2.4.1Pengaruh Kewajiban Moral terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

Kewajiban moral adalah moral yang berasal dari masing-masing individu yang kemungkinan orang lain tidak memilikinya (Ajsen, 2002). Dalam kaitannya dengan kewajiban moral, tidak terlepas dengan integritas. Integritas berarti bahwa prilaku seseorang konsisten dengan nilai yang menyertainya dan orang tersebut bersifat jujur, etis dan dapat dipercaya. Integritas dapat diartikan sebagai kesehatan moral, kejujuran yang terbebas

Kewajiban Moral (X1)

Kualitas Pelayanan (X2)

Pemeriksaan Pajak (X3)

Sanksi Perpajakan (X4)

Kepatuhan Wajib Pajak (Y)

(47)

dari pengaruh atau motif korupsi, dapat dipercaya dan disukai, serta memiliki ketulusan.

Dalam teori atribusi menyatakan bahwa tingkat kepatuhan wajib pajak dapat dilihat dari perilaku wajib pajak dalam membuat penilaian terhadap pajak itu sendiri. Pada dasarnya teori atribusi menyatakan bahwa bila individu – individu mengamati perilaku seseorang, maka mereka mencoba untuk menentukan apakah itu ditimbulkan secara internal atau eksternal. Perilaku yang disebabkan secara internal adalah perilaku yang diyakini berada dibawah kendali pribadi individu itu sendiri atau berasal dari factor internal seperti cirri kepribadian, kesadaran dan kemampuan.

Menurut Wenzel (2005) moral wajib pajak, etika dan norma sosialnya sangat berpengaruh terhadap perilaku wajib pajak. Penelitian yang telah dilakukan oleh Layata dan Setiawan (2014) menunjukkan bahwa kewajiban moral berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Berdasarkan hal tersebut muncul hipotesis yang pertama sebagai berikut :

H1 : Kewajiban Moral berpengaruh terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

2.4.2Pengaruh Kualitas Pelayanan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

Kualitas pelayanan tidak hanya dianggap penting oleh perusahaan komersial saja tetapi saat ini instansi pajak juga telah merasakan betapa pentingnya kualitas pelayanan karena instansi pajak juga memiliki pelanggan yakni wajib pajak (Alabede et al, 2011).

Dalam teori atribusi dan teori pembelajaran social, teori atribusi menyatakan bahwa kualitas pelayanan merupakan penyebab eksternal karena berasal dari luar wajib pajak atau terpaksa berprilaku karena situasi,

(48)

31

sedangkan dalam teori pembelajaran sosial, wajib pajak dapat belajar mengamati dan mengalami langsung bagaimana aparat pajak memberikan pelayanan kepada seluruh wajib pajak. Pengamatan dan pengalaman langsung tersebut menjadi dasar bagib wajib pajak untuk menilai kualitas pelayanan dan memilih berperilaku patuh atau tidak. Persepsi wajib pajak mengenai kualitas pelayanan baik dari aparat pajak maupun dari fasilitas kantor KPP akan mempengaruhi penilaian masing – masing wajib pajak untuk berperilaku patuh dalam melaksanakann kewajiban pajaknya.

Hasil penelitian sebelumnya menurut Wuri (2009), mengatakan adanya kualitas pelayanan yang dilaksanakan dengan baik akan mendorong wajib pajak untuk lebih percaya dan lebih mudah dalam memenuhi kewajiban pajaknya.

Penelitian yang telah dilakukan oleh Layata dan Setiawan (2014) menunjukkan bahwa kualitas pelayanan berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Berdasarkan hal tersebut muncul hipotesis yang pertama sebagai berikut :

H2 : Kualitas Pelayanan berpengaruh terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

2.4.3Pengaruh Pemeriksaan Pajak terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

Sistem penetapan pajak memerlukan tindakan pemeriksaan dalam peningkatan kepatuhan Wajib Pajak dalam memenuhi kewajibannya. Slemrod dan Yitzhaki (2002) pemeriksaan pajak adalah suatu cara pemerintah untuk menekan angka penggelapan pajak dan penghindaran pajakoleh wajib pajak. Pemeriksaan merupakan salah satu cara dalam meningkatkan Kepatuhan Wajib Pajak Orang pribadi dan/atau badan usaha.

(49)

Dalam teori atribusi dan teori pembelajaran Sosial, teori atribusi menyatakan bahwa pemeriksaan merupakan penyebab eksternal karena berasal dari luar wajib pajak, Sedangkan dalam teori pembelajaran sosial mengamati model dan mengulangi perilaku yang dilakukann oleh model bukanlah sekedar imitasi sederhana, seseorang dapat belajar lewat pengamatan dan pengalaman langsung. Dengan hal ini pemeriksa pajak dapat melakukan pengamatan terhadap wajip pajak yang akan di periksa berdasarkan dengan pengalaman secara langsung yang pernah dilakukan sebelumnya.

Penelitian yang telah dilakukan oleh Layata dan Setiawan (2014) menunjukkan bahwa pemeriksaan pajak berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Berdasarkan hal tersebut muncul hipotesis yang pertama sebagai berikut :

H3 : Pemeriksaan Pajak berpengaruh terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

2.4.4 Pengaruh Sanksi Perpajakan terhadap Kepatuhan Wajib Pajak Menurut Mardiasmo (2013), sanksi adalah tanggungan (tindakan dan hukuman) untuk memaksa orang menepati perjanjian atau menaati ketentuan perundang-undangan. Sanksi perpajakan merupakan jaminan bahwa ketentuan peraturan perundang-undangan dalam perpajakan (norma perpajakan) akan dituruti/ditaati/dipatuhi. Dengan kata lain sanksi perpajakan merupakan alat pencegah (preventif) agar wajib pajak tidak melanggar norma perpajakan.

Dalam teori atribusi dan teori pembelajaran social, teori atribusi menyatakan bahwa sanksi perpajakan merupakan penyebab eksternal karena berasal dari luar wajib pajak atau terpaksa berperilaku karena situasi. Persepsi

(50)

33

wajib pajak tentang pelaksanaan pemberian sanksi akan mempengaruhi penilaian masing – masing wajib pajak untuk berperilaku patuh dalam melaksanakan kewajiban pajaknya. Pemberian sanksi pajak yang memberatkan wajib pajak dan pelaksanaannya yang disiplin akan membuat wajib pajak untuk memilih berperilaku patuh dalam melaksanakan kewajiban pajaknya.dalam teori pembelajaran social, wajib pajak dapat belajar mengamati wajib pajak lain dan mengalami langsung pemberian sanksi yang dikenakan aparat pajak pada wajib pajak yang melanggar norma perpajakan. Hal tersebut menjadi dasar bagi wajib pajak untuk menilai pemberian sanksi dilaksanakan dengan tegas dan memilih berperilaku patuh atau tidak.

Pada hakikatnya, pengenaan sanksi perpajakan diberlakukan untuk menciptakan kepatuhan Wajib Pajak dalam melaksanakan kewajiban perpajakannya.

Penelitian yang telah dilakukan oleh Layata dan Setiawan (2014) menunjukkan bahwa sanksi perpajakan berpengaruh positif terhadap kepatuhan wajib pajak. Berdasarkan hal tersebut muncul hipotesis yang pertama sebagai berikut :

H4 : Sanksi Perpajakan berpengaruh terhadap Kepatuhan Wajib Pajak

(51)
(52)

34

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1Variabel Penelitian dan Definisi Operasional 3.1.1 Variabel Penelitian

Penelitian ini terdiri atas empat variabel independen dan satu variabel dependen. Variabel independen dalam penelitian ini yaitu kewajiban moral, kualitas pelayanan, pemeriksaan pajak, dan sanksi perpajakan. Sedangkan variabel dependen dalam penelitian ini yaitu kepatuhan wajib pajak pribadi.

3.1.2 Definisi Operasional

3.1.2.1 Kewajiban Moral (X1)

Kewajiban moral adalah moral yang berasal dari masing-masing individu yang kemungkinan orang lain tidak memilikinya (Ajsen, 2002). Kewajiban moral dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan indikator yang digunakan oleh Mustikasari (2007) :

a. Melanggar etika. b. Perasaan bersalah. c. Prinsip hidup.

Variabel ini diukur dengan menggunakan skala likert 5 poin untuk 3 pertanyaan.

3.1.2.2 Kualitas Pelayanan (X2)

kualitas pelayanan merupakan perbandingan antara harapan yang diinginkan pelanggan dengan penilaian terhadap kinerja aktual dari suatu penyediaan

(53)

pelayanan. Kualitas pelayanan dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan indikator yang digunakan oleh Ariastanti (2015) :

a. Mudah dijangkau dan strategis.

b. Fiskus diharapkan bersikap ramah dan sopan dalam melakukan pelayanan publik.

c. Sistem informasi perpajakan merupakan sistem layanan prima kepada wajib pajak menjadi semakin nyata.

d. Fasilitas pelayanan yang memadai dan baik merupakan layanan prima kepada WP nmenjadi nyata.

e. Petugas melakukan pelayanan dengan cepat dan tepat.

f. Pelayanan professional dalam melayani segala kebutuhan wajib pajak dalam urusan perpajakan.

g. Petugas pajak cepat tanggap atas keluhan dan kesulitan wajib pajak dalamurusan perpajakan.

Variabel ini diukur dengan menggunakan skala likert 5 poin untuk 7 pertanyaan.

3.1.2.3 Pemeriksaan Pajak (X3)

pemeriksaan pajak adalah suatu cara pemerintah untuk menekan angka penggelapan pajak dan penghindaran pajakoleh wajib pajak. Pemeriksaan merupakan salah satu cara dalam meningkatkan Kepatuhan Wajib Pajak Orang pribadi dan/atau badan usaha. Pemeriksaan pajak dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan indikator yang digunakan oleh (Peraturan Dirjen Pajak Nomor PER-23/PJ/2013) :

(54)

36

b. Pemeriksa pajak dituntut untuk selalu jujur dalam memeriksa WP. c. Pemeriksa pajak tunduk kode etik yang berlaku.

d. Pemeriksa memiliki sikap independen. e. Pemeriksa pajak memiliki pendidikan setara.

Variabel ini diukur dengan menggunakan skala likert 5 poin untuk 5 pertanyaan.

3.1.2.4 Sanksi Perpajakan (X4)

Sanksi perpajakan merupakan jaminan bahwa ketentuan peraturan perundang-undangan dalam perpajakan (norma perpajakan) akan dituruti/ditaati/dipatuhi. Dengan kata lain sanksi perpajakan merupakan alat pencegah (preventif) agar wajib pajak tidak melanggar norma perpajakan. Sanksi perpajakan dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan indikator yang digunakan oleh Mutia (2014) :

a. Sanksi diperlukan untuk menciptakan kedisiplinan WP dalam membayar pajak.

b. Sanksi dilaksanakan dengan tegas kepada WP yang melanggar. c. Sanksi diberikan sesuai dengan pelanggaran yang dilakukan. d. Penerapan sanksi harus sesuai dengan ketentuan dan peraturan

yang berlaku.

Variabel ini diukur dengan menggunakan skala likert 5 poin untuk 4 pertanyaan.

(55)

3.1.2.5 Kepatuhan Wajib pajak (Y)

Kepatuhan wajib pajak adalah perilaku wajib pajak yang taat dan melaksanakan kewajiban perpajakan sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan Nowak (1989). Kepatuhan wajib pajak dalam penelitian ini diukur dengan menggunakan indikator yang digunakan oleh Ummah (2013) :

a. Melaporkan sebagai wajib pajak. b. Mengisi SPT secara lengkap. c. Membayar pajak terutang.

d. Membayar pajak sesuai dengan jumlahnya. e. Tidak pernah memiliki tunggakan.

Variabel ini diukur dengan menggunakan skala likert 5 poin untuk 5 pertanyaan.

3.2Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh wajib pajak orang pribadi yang terdaftar di KPP Pratama Jepara dan tergolong sebagai wajib pajak efektif yang berjumlah 6.470 orang pada tahun 2016. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan teknik accidential sampling

yaitu teknik penentuan sampel berdasarkan kebetulan yaitu siapa saja yang kebetulan bertemu dengan peneliti dapat digunakan sebagai sampel, apabila orang yang yang kebetulan ditemui cocok sebagai sumber data (Amirin, 2009).

Salah satu metode yang digunakan untuk menentukan jumlah sampel adalah menggunakan rumus Slovin, sebagai berikut :

(56)

38

Keterangan :

n : jumlah sampel

N : jumlah populasi

e : batas toleransi kesalahan (10%)

n = 6.470

1 + 6.470 (10%)²

= 98,47

dibulatkan menjadi 100

3.3Jenis dan Sumber Data

Dalam penelitian ini menggunakan jenis data primer berupa kuesioner yang diberikan kepada responden dan data mengenai gambaran umum instansi yang di dapat dari nara sumber. Sumber data primer kuesioner berasal dari para wajib pajak orang pribadi di KPP Pratama Jepara

3.4Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan metode survey melalui angket. Metode angket adalah metode pengumpulan data dengan menyebar daftar pertanyaan (kuesioner) yang akan dibagikan pada wajib pajak yang terdaftar di KPP Pratama Jepara.

(57)

Kuesioner akan dibagikan peneliti secara langsung kepada responden kemudian kuesioner tersebut diharapkan untuk diisi responden. Kuesioner yang telah diisi akan diminta kembali secara langsung oleh peneliti dan selanjutnya kuesioner tersebut akan dijadikan sebagai sampel penelitian. Kuesioner dari responden akan dipilih yang paling lengkap sesuai dengan yang diharapkan oleh peneliti sehingga berguna untuk kepentingan penelitian. Untuk mengukur pendapat responden digunakan skala likert yaitu skala yang berisi lima tingkat preferensi jawaban dengan pilihan sebagai berikut :

Angka 1 = Sangat Tidak Setuju (STS)

Angka 2 = Tidak Setuju (TS)

Angka 3 = Netral (N)

Angka 4 = Setuju (S)

Angka 5 = Sangat Setuju (SS)

3.5Metode Analisis

Analisis dalam penelitian ini menggunakan persamaan regresi linier berganda yaitu analisis untuk lebih dari satu variabel independen.

3.5.1 Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif digunakan untuk memberikan gambaran suatu data yang dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, maksimum dan minimum.

3.5.2 Uji Validitas dan Reliabilitas

Untuk menguji apakah konstruk (variabel yang tidak dapat diukur secara langsung, tetapi dibentuk melalui dimensi-dimensi atau indikator-indikator yang

Figur

Tabel 2.1  Penelitian Terdahulu

Tabel 2.1

Penelitian Terdahulu p.45
Gambar 2.1  Kerangka Konseptual  2.4 Hipotesis Penelitian

Gambar 2.1

Kerangka Konseptual 2.4 Hipotesis Penelitian p.46
Tabel 4.1 Uji Validitas Variabel Indikator R tabel r Hitung Ket Kepatuhan

Tabel 4.1

Uji Validitas Variabel Indikator R tabel r Hitung Ket Kepatuhan p.64
Tabel 4.3 Sampel Penelitian

Tabel 4.3

Sampel Penelitian p.67
Tabel 4.14 Uji Glejser

Tabel 4.14

Uji Glejser p.81
Tabel 4.17 Uji F

Tabel 4.17

Uji F p.84
Tabel 4.18 Koefisien Determinasi

Tabel 4.18

Koefisien Determinasi p.86

Referensi

Memperbarui...