• Tidak ada hasil yang ditemukan

UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2017

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2017"

Copied!
81
0
0

Teks penuh

(1)

TINJAUAN HUKUM ADMINISTRASI NEGARA TERHADAP PROSEDUR PEMUNGUTAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR BERDASARKAN PERATURAN GUBERNUR

SUMATERA UTARA NO. 37 TAHUN 2015 TENTANG PELAKSANAAN PEMUNGUTAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR DAN BEA BALIK NAMA

KENDARAAN BERMOTOR DI PROVINSI SUMATERA UTARA (Studi Kasus pada Samsat Medan Selatan)

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Mencapai Gelar Sarjana Hukum

Oleh :

Arief Wicaksana Putra Batubara

DEPARTEMEN HUKUM ADMINISTRASI NEGARA NIM : 120200052

F A K U L T A S H U K U M UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN 2017

(2)

TINJAUAN HUKUM ADMINISTRASI NEGARA TERHADAP PROSEDUR PEMUNGUTAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR BERDASARKAN PERATURAN GUBERNUR

SUMATERA UTARA NO. 37 TAHUN 2015 TENTANG PELAKSANAAN PEMUNGUTAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR DAN BEA BALIK NAMA

KENDARAAN BERMOTOR DI PROVINSI SUMATERA UTARA (Studi Kasus pada Samsat Medan Selatan)

SKRIPSI

Disusun dan Diajukan Untuk Melengkapi Tugas-Tugas dan Memenuhi Syarat-Syarat Untuk Mencapai Gelar Sarjana Hukum

Oleh :

Arief Wicaksana Putra Batubara

DEPARTEMEN HUKUM ADMINISTRASI NEGARA NIM : 120200052

Disetujui Oleh

Ketua Departemen Hukum Administrasi Negara

Dr. Agusmidah, SH, M.Hum NIP.197608162002122002

Dosen Pembimbing I Dosen Pembimbing II

Suria Ningsih,SH.,M.Hum Amsali Sembiring,SH.,M.Hum NIP. 196002141987032002 NIP.197003171998031001

F A K U L T A S H U K U M UNIVERSITAS SUMATERA UTARA

MEDAN

(3)

ABSTRAK

TINJAUAN HUKUM ADMINISTRASI NEGARA TERHADAP PROSEDUR PEMUNGUTAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR BERDASARKAN PERATURAN GUBERNUR

SUMATERA UTARA NO. 37 TAHUN 2015 TENTANG PELAKSANAAN PEMUNGUTAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR DAN BEA BALIK NAMA

KENDARAAN BERMOTOR DI PROVINSI SUMATERA UTARA (Studi Kasus pada Samsat Medan Selatan)

*) Arief Wicaksana Putra Batubara

**) Suria Ningsih,SH.,M.Hum

***) Amsali Sembiring,SH.,M.Hum

Penulisan skripsi ini dilatar belakangi oleh katertarikan penulis terhadap pelaksanaan pemungutan pajak di kantor bersama Samsat Medan Selatan. Mengingat adanya peraturan baku dalam bentuk Pergub Sumut nomor 37 tahun 2015 tentang pemungutan pajak kendaraan bermotor (PKB), maka penulis juga ingin melihat kesesuaian pelaksanaan teknis pemungutan PKB dengan ketentuan Pergub Sumut nomor 37 tahun 2015. Selain itu hukum administrasi negara juga memiliki peranan dan keterkaitan penting dengan pajak kendaraan bermotor. Di dalam HAN terdapat subyek yang salah satunya adalah aparatur sipil negara sebagai pelaksana pemungutan PKB.

Sedangkan PKB itu sendiri merupakan bentuk interaksi publik dengan pemerintah dalam pelaksanaan hukum administrasi negara.

Efektivitas pelaksanaan pemungutan pajak oleh kantor bersama Samsat Medan Selatan dinilai baik dengan masuknya dalam top nominasi pelayanan publik oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan-RB).

Penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi positif pemerintah terhadap kerja keras kantor Samsat Medan Selatan dalam melaksanakan tugasnya yang telah sejalan dengan ketentuan pergub nomor 37 tahun 2015.

Peraturan gubernur diatas juga menegaskan sanksi-sanksi yang akan diterapkan dan dibebankan kepada wajib pajak apabila melakukan pelanggaran terkait dengan kendaraan bermotor. Namun, diharapkan adanya terus evaluasi kinerja dan kontrol yang baik dari pimpinan ke bawahan agar pelaksanaan pemungutan pajak dan sanksi berjalan sesuai dengan peraturan gubernur nomor 37 tahun 2015.

Kata Kunci : Pajak Kendaraan Bermotor, Hukum Administrasi Negara, SAMSAT Medan Selatan

* Mahasiswa Fakultas Hukum USU

** Dosen Pembimbing I/ Dosen Fakultas Hukum USU

*** Dosen Pembimbing II/ Dosen Fakultas Hukum USU

(4)

KATA PENGANTAR

Dengan mengucapkan puji syukur ke hadirat ALLAH SWT, karena atas rahmat dan karunia-Nya yang telah diberikan kepada penulis sehingga dengan kemampuan yang ada menyelesaikan tugas menyusun skripsi ini. Sudah merupakan kewajiban bagi setiap mahasiswa dalam menyelesaikan studi untuk mencapai gelar kesarjanaan USU untuk menyusun skripsi dalam hal ini penulis memilih judul Tinjauan Hukum Administrasi Negara Terhadap Prosedur Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor Berdasarkan Peraturan Gubernur Sumatera Utara Nomor 37 Tahun 2015 Tentang Pelaksanaan Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor di Provinsi Sumatera Utara ( Studi Kasus Samsat Medan Selatan). Penulis menyadari bahwasanya skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu dengan segala kerendahan hati penulis mengharapkan kritik dan saran yang konstruktif untuk mendekati kesempurnaan dalam skripsi ini.

Dalam kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada seluruh pihak yang secara langsung ataupun yang tidak langsung telah membantu penulis dalam menyusun skripsi ini maupun selama penulis menempuh perkuliahan, khususnya kepada :

1. Bapak Prof. Dr. Runtung Sitepu, SH,M.Hum selaku Rektor Universitas Sumatera Utara, Medan.

2. Bapak Prof. Dr, Budiman Ginting, SH, M.Hum selaku Dekan Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara,

(5)

3. Bapak Prof. Dr. Saidin, SH. M.hum selaku Wakil Dekan I Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

4. Ibu Puspa Melati Hasibuan, SH. M.Hum selaku Wakil Dekan II Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara

5. Bapak Jelly Leviza, SH. M.Hum selaku Wakil Dekan III Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara.

6. Ibu Dr. Agusmidah, SH. M.Hum selaku Ketua Departemen Hukum Administrasi Negara.

7. Ibu Suria Ningsih, SH. M.Hum selaku Dosen Pembimbing I penulis yang telah memberikan saran dan petunjuk dalam pengerjaan skripsi ini.

8. Bapak Amsali Sembiring, SH. M.hum selaku Dosen Pembimbing II penulis yang telah memberikan saran dan petunjuk dalam pengerjaan skripsi ini

9. Seluruh Pegawai Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara yang telah memberikan pelayanan administrasi yang baik selama proses akademik penulis.

10. Orangtua penulis Ayahanda H. Asnawir Batubara, SH dan Ibunda tercinta Hj. Linda Daulay yang selalu mendoakan serta memberikan semangat dan motivasi kepada penulis.

11. Abanganda Amin Benido P.B , Adi Reskido P.B , Ari Assari P.B serta kakak ipar Julia Wanda dan Fitri Meida yang tidak pernah berhenti mendoakan dan menyemangati penulis

12. Teman-teman di Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara M.Khowariz, M.faisal, M.Dio, Rizky P, M. Amrin, Alam Kurnia, Fery Rasmana yang selalu mendukung untuk menyelesaikan skripsi ini.

(6)

13. Kepada teman seperjuangan, Desi Dian Sari, Arifin, Ikbal, Hafis, Yudi , Ibrahim Saleh,Bang Rudi,Kak Imah, Driver Grab se-Kota Medan dan semua teman lainnya yang tidak bisa disebutkan satu persatu.

Penulis menyadari bahwa penyusunan skripsi ini masih jauh dari kesempurnaan sehingga penulisan skripsi ini masih memiliki banyak kekeliruan. Oleh karena itu penulis seraya meminta maaf sekaligus sangat mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi penyempurnaaan dan kemanfaatannya

Akhir kata penulis menucapkan terima kasih sedalam-dalamnya kepada semua pihak dan semoga kritik dan saran yang telah diberikan mendapatkan balasan kebaikan dari Tuhan dan semoga skripsi ini bermanfaat bagi perkembangan ilmu hukum di Negara Republik Indonesia

Medan, Oktober 2017 Penulis,

ARIEF WICAKSANA PUTRA BATUBARA.

(7)

DAFTAR ISI

ABSTRAK ... i

KATA PENGANTAR ... ii

DAFTAR ISI ... iv

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 7

E. Metode Penelitian ... 7

F. Keaslian Penelitian ... 8

G. Sistematika Penulisan ... 8

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG PAJAK KENDARAAN BERMOTOR A. Pengertian Pajak Kendaraan Bermotor ... 10

B. Dasar Hukum Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor ... 13

C. Objek Pajak, Subjek Pajak dan Wajib Pajak Kendaraan Bermotor ... 20

D. Prosedur Pemungutan Pajak Berdasarkan Pergub Sumut No. 37 Tahun 2015 ... 29 E. Tarif Pajak Kendaraan Bermotor Berdasarkan Pergub

(8)

Sumut No. 37 Tahun 2015 ... 35

BAB III TINJAUAN UMUM TENTANG HUKUM ADMINISTRASI NEGARA (HAN)

A. Pengertian Hukum Administrasi Negara (HAN) ... 41 B. Dasar Hukum dalam Hukum Administrasi Negara (HAN) ... 46 C. Badan Atau Lembaga Terkait Pelaksanaan Hukum

Administrasi Negara (HAN) ... 51

BAB IV TINJAUAN HAN TERHADAP PROSEDUR PEMUNGUTAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR BERDASARKAN PERGUB SUMATERA UTARA NO. 37 TAHUN 2015 TENTANG PELAKSANAAN PEMUNGUTAN PAJAK KENDARAAN BERMOTOR DAN BEA BALIK NAMA KENDARAAN BERMOTOR DI PROVINSI SUMATERA UTARA

A. Kaitan Hukum Administrasi Negara dengan Pelaksanaan Pemungutan Pajak Bermotor ... 57 B. Efektivitas Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor oleh

Pelaksana Teknis di SAMSAT Medan Selatan ... 58 C. Sanksi Administratif Terhadap Pemungutan Pajak

Kendaraan Bermotor Pergub No. 37 tahun 2015. ... 72

(9)

BAB V PENUTUP

A. Kesimpulah ... 75 B. Saran ……. ... 76

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

(10)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Kehidupan negara modern yang cenderung berusaha memenuhi kebutuhan rakyat, khususnya dalam masalah pelayanan kesejahteraan masyarakat, membutuhkan instrumen untuk melaksanakan tugas-tugasnya. Instrumen yang digunakan oleh negara untuk mengelola pemerintahan dalam memenuhi kebutuhan kesejahteraan masyarakat tersebut adalah administrasi negara.

Masuknya administrasi negara dalam kehidupan privat warga bertujuan untuk menjalankan fungsi bestuurzorg, yang awalnya hanya bertugas di bidang keamanan dalam negeri berubah menjadi pengelola kesejahteraan warga negara. Hal ini tentu membutuhkan satu instrumen yang memberikan dasar legalitas bagi negara untuk melaksanakannya. Instrumen ini berfungsi sebagai dasar pembenaran atas aktivitas negara yang berusaha mengatur hal-hal yang sifatnya privat tersebut. Hal tersebut tentu berbentuk suatu sistem hukum administrasi negara (HAN).

Prayudi Atmosudirdjo melihat administrasi negara pada fungsinya yang lebih luas, yakni melaksanakan dan menyelenggarakan kehendak-kehendak (strategy, policy) serta keputusan-keputusan pemerintah secara nyata (implementasi dan menyelenggarakan undang-undang menurut pasal-pasalnya) sesuai dengan peraturan-peraturan pelaksanaan yang ditetapkan. Untuk memperjelas makna administrasi negara tersebut, Prayudi Atmosudirdjo memerincinya dalam beberapa pengertian administrasi negara yang terkait dengan pelaksanaan kebijakan pemerintah sebagai berikut.

(11)

1. Sebagai aparatur negara, aparatur pemerintahan, atau sebagai institusi politik (kenegaraan).

2. Administrasi negara sebagai “fungsi” atau sebagai aktivitas melayani pemerintah, yakni sebagai kegiatan “pemerintah operasional”.

3. Administrasi negara sebagai proses teknis penyelenggaraan undang-undang.

Pajak Daerah merupakan salah satu alternatif pilihan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) untuk mendukung program-program penyelenggaraan pemerintah dalam tujuan menyejahterakan kehidupan masyarakat. Pelaksanaan pemungutan pajak daerah memberikan konsekuensi bagi Pemerintah Daerah untuk terus mengembangkan sistem pengelolaan

keuangan daerah yang transparan, partisipatif, dan akuntabel. Pemerintah Daerah berkewajiban untuk memberikan pelayanan yang terbaik kepada masyarakat. Hal ini disebabkan kejujuran, dedikasi dan profesionalitas pemerintah dalam mengelola perpajakan ikut berperan penting untuk memotivasi masyarakat membayar pajak tepat pada waktunya1

Sejalan dengan sistem perpajakan nasional, pembinaan pajak daerah dan retribusi daerah dilakukan secara terpadu dengan pajak nasional. Terutama mengenai obyek dan tarif pajak, sehingga antara Pajak Nasional dengan Pajak Daerah dan Retribusi Daerah, saling melengkapi

.

2

Pajak daerah memiliki peran penting dalam meningkatkan penerimaan disamping pajak pemerintah pusat. Pajak daerah memiliki berbagai jenis pajak mulai dari pajak

.

1 Widodo, Hermoyo. Tinjauan Terhadap Pelaksanaan Pungutan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN KB). Universitas Diponegoro: Semarang.

2 Meinida, Rizka. 2013. Prosedur Pembayaran Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) Satu Tahunan pada UPT.

Dinas Pendapatan Jawa Timur dan ADPEL (Administratur Pelaksana) Samsat Jember. Universitas Jember:

Jawa Timur.

(12)

provinsi hingga pajak kabupaten/kota3

k.Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan

. Pemungutan pajak daerah oleh pemerintah daerah provinsi maupun kabupaten/kota diatur oleh Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah . Jenis pajak daerah sebagaimana yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 dibagi menjadi 2 bagian yaitu:

1. Jenis Pajak Provinsi

a. Pajak Kendaraan Bermotor;

b. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor;

c. Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor;

d. Pajak Air Permukaan; dan e. Pajak Rokok.

2. Jenis Pajak Kabupaten/Kota a. Pajak Hotel,

b. Pajak Restoran, c. Pajak Hiburan, d. Pajak Reklame,

e. Pajak Penerangan Jalan,

f. Pajak Mineral Bukan Logam dan Batuan, g.Pajak Parkir,

h.Pajak Air Tanah,

i. Pajak Sarang Burung Walet,

j. Pajak Bumi dan Bangunan Pedesaan dan Perkotaan, dan

3 Ratnasari. 2016. Analisis Penerimaan Pajak Kendaraan Bermotor di Provinsi Sulawesi Tenggara.

(13)

Dari sekian banyak pajak daerah, salah satu jenis pajak yang sumber

pendapatannya cukup besar adalah Pajak Kendaraan Bermotor. Seperti yang telah diatur di Pasal 1 ayat (12) Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 defenisi pajak kendaraan bermotor sebagai berikut:

“Pajak Kendaraan Bermotor, yaitu pajak atas kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor. Kendaraan Bermotor adalah semua kendaraan beroda beserta gandengannya yang digunakan di semua jenis jalan darat, dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan

termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar yang dalam operasinya menggunakan roda dan motor dan tidak melekat secara permanen serta kendaraan bermotor yang dioperasikan di air.”

Oleh karena itu penelitian ini bermaksud untuk meneliti sampai sejauh mana penerimaan Pendapatan Asli Daerah dari jenis pungutan Pajak Kendaraan Bermotor mampu memberikan kontribusi pada Pendapatan Asli Daerah (PAD) Provinsi Sumatera Utara dan bagaimana pelaksanaan pemungutannya apakah sudah sejalan dengan

ketentuan yang sudah ditetapkan dalam Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara Nomor 37 Tahun 2015.

Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dipungut berdasarkan Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara Nomor 37 Tahun 2015 Tentang Pelaksanaan Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor di Provinsi Sumatera Utara. Dalam pemungutan pajak kendaraan bermotor itu sendiri pemerintah Provinsi Sumatera Utara telah mengeluarkan peraturan untuk besaran tarif yang dikenakan untuk memungut pajak kendaraan bermotor dalam Peraturan Daerah Provinsi Sumatera Utara Nomor 37 Tahun 2015 tersebut.

(14)

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan yang telah disebutkan pada bagian latar belakang diatas, dapat

dirumuskan sebagai issue sentral dalam penelitian ini, yaitu pelaksanaan Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor dan upaya – upaya yang dilakukan dalam pemungutan pajak kendaraan bermotor guna meningkatkan Pendapatan Asli Daerah Provinsi Sumatera Utara dengan studi kasus di Samsat Medan Selatan, yang kemudian di ungkapkan dalam judul penelitian

“Tinjauan Hukum Administrasi Negara Terhadap Prosedur Pemungutan Pajak

Kendaraanbermotor Berdasarkan Peraturan Gubernur Sumatera Utara No. 37 Tahun 2015 Tentang Pelaksanaan Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor Dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Di Provinsi Sumatera Utara”.

Dengan demikian dapat disampaikan perumusan masalah yang akan dibahas adalah sebagai berikut :

1. Bagaimana keterkaitan hukum administrasi Negara dengan pelaksanaan pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor?

2. Bagaimana pelaksanaan pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor yang dilakukan oleh SAMSAT Medan Selatan?

3. Hambatan - hambatan apa saja yang timbul dalam pelaksanaan pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor di SAMSAT Medan Selatan?

4. Bagaimana penerapan sanksi yang diterapkan oleh SAMSAT Medan Selatan terhadap pelanggaran pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor?

5. Upaya – upaya apa yang dilakukan untuk mengatasi hambatan–hambatan dalam pelaksanaan pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor di Sumatera Utara?

(15)

C. Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui keterkaitan hukum administrasi Negara dengan pelaksanaan pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor.

2. Untuk mengetahui pelaksanaan pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor yang dilakukan oleh SAMSAT Medan Selatan.

3. Untuk mengetahui hambatan - hambatan apa saja yang timbul dalam pelaksanaan pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor di SAMSAT Medan Selatan.

4. Untuk mengetahui penerapan sanksi yang diterapkan oleh SAMSAT Medan Selatan terhadap pelanggaran pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor.

5. Untuk memberikan usulan upaya – upaya apa yang dapat dilakukan untuk mengatasi hambatan–hambatan dalam pelaksanaan pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor di Provinsi Sumatera Utara.

D. Manfaat Penelitian

Dengan adanya penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat, sebagai berikut :

1. Akademis

Secara akademis hasil penelitian ini diharapkan berguna sebagai bahan acuan untuk menunjang perkembangan ilmu pengetahuan dan sebagai bahan masukan yang dapat mendukung bagi peneliti maupun pihak lain mengenai pemungutan pajak kendaraan bermotor di SAMSAT Medan Selatan.

(16)

2. Praktis

Dalam penelitian ini, diharapkan dapat bermanfaat sebagai bahan acuan atau masukan bagi Kantor Bersama Samsat Medan Selatan dalam menyusun strategi dalam pemungutan pajak.

E. Metode Penelitian

Data yang dikumpulkan merupakan data primer dan data sekunder yang diperoleh berdasarkan hasil observasi, wawancara dan studi pustaka. Agar menjadi sebuah karya ilmiah (skripsi) yang terpadu dan sistematis di perlukan suatu sistem analisis data yang dikenal dengan analisis Yuridis Deskriptif yaitu dengan cara menyelaraskan dan menggambarkan keadaan yang nyata mengenai pelaksanaan pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor di Samsat Medan Selatan berdasarkan Peraturan Peraturan Gubernur Sumatera Utara No. 37 Tahun 2015 Tentang Pelaksanaan Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor Dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor Di Provinsi Sumatera Utara.

Berdasarkan hasil wawancara dan studi kepustakaan yang diperoleh, maka data tersebut kemudian diolah dan dianalisis secara kualitatif untuk menghasilkan data yang bersifat deskriptif.

F. Keaslian Penelitian

Keaslian penelitian ini dapat dipertanggungjawabkan peneliti dengan baik. Proses pengambilan data dilakukan peneliti berdasarkan hasil wawancara, obsecvasi dan studi pustaka dari sumber yang telah ditentukan sebelumnya. Penulisan dilakukan atas inisiatif

(17)

penulis sendiri dengan berbagai masukan dari pihak yang membantu dalam penulisan skripsi ini. Penulisan ini belum pernah dibuat oleh mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Sumatera Utara sebelumnya. Kalaupun skripsi ini pernah ada, maka

perbedaan terletak pada pokok permasalahan serta lokasi penelitian yang berbeda pula.

G. Sistematika Penulisan

Dalam penulisan skripsi ini, penulis menggunakan sistematika penulisan sebagai berikut :

1. BAB 1 : Berisi latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metode penelitian, keaslian penelitian dan sistematika penulisan.

2. BAB 2 : Berisi tinjauan pustaka tentang pajak kendaraan bermotor yang berguna untuk mendukung penulisan skripsi, adapun tinjauan pustaka ini terdiri dari : pajak, pengertian pajak, dasar hukum pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor, Objek pajak, Subjek Pajak dan wajib pajak, Undang-Undang Dasar Negara Republik Indosnesia Tahun 1945, Prosedur dan Tarif Pemungutan Pajak Berdasarkan Peraturan Gubernur Sumut No. 37 Tahun 2015.

3. BAB 3 : Berisi tinjauan pustaka tentang hokum administrasi negara yang berguna untuk mendukung penulisan skripsi, adapun tinjauan pustaka ini terdiri dari : pengertian, dasar hukum dan lembaga atau instansi terkait dengan hokum adminsitrasi negara.

4. BAB 4 : Berisi hasil penelitian dan pembahasan.

5. BAB 5 : Penutup yang meliputi kesimpulan dan saran dari garis-garis besar pokok pembahasan.

(18)

BAB II

TINJAUAN UMUM TENTANG PAJAK KENDARAAN BERMOTOR

A. Pengertian Pajak Kendaraan Bermotor

Bagi suatu daerah, pajak merupakan salah satu sumber penerimaan dana yang sangat penting untuk membiayai program-program kerja pemerintahan dan pembangunan serta sebagai alat regulasi. Sebagai regulasi, pajak dipergunakan sebagai redistribusi pendapatan, stabilitas ekonomi, realokasi sumber –sumber ekonomi.

Menurut Rochmat Soemitro; dalam bukunya Pengantar singkat Hukum Pajak (Eresco Bandung 1992); Pajak adalah gejala masyarakat, artinya pajak hanya ada dalam masyarakat. Masyarakat adalah kumpulan manusia yang pada suatu waktu berkumpul untuk tujuan tertentu. Masyarakat terdiri dari individu. Dan individu mempunyai hidup sendiri dan kepentingan sendiri, yang dapat dibedakan dari hidup masyarakat dan

kepentingan masyarakat. Namun individu tidak mungkin hidup tanpa adanya masyarakat.

Negara adalah masyarakat yang mempunyai tujuan tertentu, kelangsungan hidup Negara berarti juga kelangsungan hidup masyarakat dan kepentingan masyarakat. Untuk

kelangsungan hidup masing-masing diperlukan biaya. Biaya hidup individu menjadi beban dari individu yang bersangkutan, sedangkan biaya hidup Negara adalah untuk kelangsungan hidup alat – alat Negara, administrasi Negara, lembaga – lembaga Negara, dan seterusnya yang harus dibiayai dari penghasilan Negara4

Sedangkan pengertian pajak menurut Adriani yang diterjemahkan oleh

Brotodihardjo dan dikutip oleh Waluyo yaitu; pajak adalah iuran kepada Negara (yang .”

(19)

dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan- peraturan, dengan tidak mendapat prestasi kembali, yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung dengan tugas Negara yang menyelenggarakan pemerintahan.

Menurut Soeparman Soemahamidjaja (Muhammad Djafar Saidi : 2007) mengemukakan bahwa pajak adalah iuran wajib, berupa uang atau barang yang dipungut oleh penguasa berdarkan norma-norma hukum, guna menutup biaya produksi barang- barang dan jasa-jasa kolektif dalam mencapai kesejahteraan umum. Sedangkan Prof.Dr.PJA. Adriani (H. Bohari, 2012:23) pajak adalah iuran pada negara yang dapat dipaksakan yang terutang oleh yang wajib membayarnya menurut peraturan-peraturan dengan tidak dapat prestasi kembali, yang langsung dapat ditunjuk, dan yang gunanya adalah untuk membiayai pengeluaran–pengeluaran umum yang berhubungan dengan tugas pemerintah.

Menurut Prof.Dr.MJH. Smeeths (H.Bohari, 2012:23) memberikan defenisi pajak adalah prestasi pemerintah yang terutang melalui norma-norma umum, dan yang dapat dipaksakan, tanpa adanya kontra prestasi yang dapat ditunjukkan dalam hal individu, maksudnya adalah membiayai pengeluaran pemerintah. Prof. Dr. Rochmat Soemitro, SH dalam Mardiasmo (revisi 2011: 1) pajak merupakan iuran rakyat kepada kas Negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat jasa timbal (kontrak-prestasi) yang langsung dapat ditunjukkan dan yang digunakan yang digunakan untuk membayar pengeluaran umum5

2. Waluyo & Illyar Wirawan.B; Perpajakan Indonesia, Jakarta : Salemba Empat, Jakarta, 2003, hal 4.

.

(20)

1. Dari defenisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa pajak memiliki unsur-unsur: Iuran dari rakyat kepada negara Yang berhak memungut pajak hanyalah negara. Iuran tersebut berupa uang (bukan barang).

2. Berdasrkan Undang-Undang pajak dipungut berdasarkan atau dengan kekuatan Undang-Undang serta aturan pelaksanaannya.

3. Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi dari negara yang secara langsung dapat ditunjuk.

Dalam pembayaran pajak tidak dapat ditunjukkan adanya kontraprestasi individual oleh pemerintah.

4. Digunakan untuk membiayai rumah tangga negara, yakni pengeluaran–pengeluaran yang bermanfaat bagi masyarakat luas.

Berdasarkan Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 pasal 1, Pajak Kendaraan Bermotor, yaitu pajak atas kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor.

Kendaraan Bermotor adalah semua kendaraan beroda beserta gandengannya yang digunakan di semua jenis jalan darat, dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya yang berfungsi untuk mengubah suatu sumber daya energi tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar yang dalam operasinya menggunakan roda dan motor dan tidak melekat secara permanen serta kendaraan bermotor yang dioperasikan di air.

B. Dasar Hukum Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor

Pemungutan Pajak kendaraan bermotor yang telah berlangsung saat ini didasarkan pada Peraturan Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Nomor 12 Tahun 2016

Tentang Penghitungan Dasar Pengenaan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama

(21)

Kendaraan Bermotor Tahun 2016. Selain itu, penerapan pajak kendaraan bermotor pada suatu daerah provinsi didasarkan pada peraturan daerah provinsi yang bersangkutan yang merupakan landasan hukum operasional dalam teknis pelaksanaan pengenaan dan

pemungutan pajak kendaraan bermotor di daerah provinsi yang bersangkutan serta keputusan gubernur yang mengatur tentang pajak kendaraan bermotor sebagai aturan pelaksanaan peraturan daerah tentang pajak kendaraan bermotor pada provinsi dimaksud.

Berlakunya Undang-Undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah sejak 1 januari 2010 membuat pemerintah provinsi harus membuat peraturan daerah yang baru tentang pajak kendaraan bermotor yang akan diberlakukan pada suatu provinsi sebagai dasar hukum pemungutan pajak kendaraan bermotor pada provinsi 39 tersebut6

1. Daerah adalah Provinsi Sumatera Utara.

.

Provinsi Sumatera Utara telah mengeluarkan peraturan dan dasar hukum terkait dengan pemungutan pajak kendaraan bermotor. Peraturan tersebut diatur dalam Peraturan Gubernur Provinsi Sumatera Utara Nomor 37 Tahun 2015 Tentang Pelaksanaan

Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor di Provinsi Sumatera Utara pada pasal 1, 2 dan 3 berikut ini yang berbunyi:

Pasal 1

2. Pemerintah Daerah adalah Kepala Daerah sebagai unsure penyelenggara Pemerintahan Daerah yang memimpin pelaksanaan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah otonom.

6 Undang-undang Nomor 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah.

(22)

3. Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Daerah dan Dewan Perwakilan Ralryat Daerah menumt asas Otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluasluasnya dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam Undang-undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945;

4. Perangkat Daerah adalah unsur pembantu Kepala Daerah dan DPRD dalam penyelenggaraan urusan pemerintahan yang menjadi kewenangan daerah.

5. Kepala Daerah adalah Gubernur Sumatera Utara, yang selanjutnya disebut Gubernur

;

6. Dinas adalah Dinas Pendapatan Provinsi Sumatera Utara.

7. Kepala Dinas adalah Kepala Dinas Pendapatan Provinsi Sumatera Utara.

8. Unit Pelaksana Teknis yang selanjutnya disingkat UPT adalah Unit Pelaksana Teknis Dinas pada Dinas Pendapatan Provinsi Sumatera Utara.

9. Kendaraan Bermotor adalah semua kendaraan beroda beserta gandengannya yang digunakan di semua jenis jalan darat, dan digerakkan oleh peralatan teknik berupa motor atau peralatan lainnya, ya-rrg berfungsi untuk mengubah suatu sumberdaya energi tertentu menjadi tenaga gerak kendaraan bermotor yang bersangkutan, termasuk alat-alat berat dan alat-alat besar yang dalam operasinya menggunakan roda dan motor dan tidak melekat secara pennanen, serta kendaraan bermotor yang dioperasikan di air.

10. Kendaraan Bermotor Angkutan Umum adalah setiap kendaraan bermotor yang dipergunakan untuk mengangkut orang atau barang dengan dipungut bayaran, dan

(23)

memiliki izin penyelenggaraan angkutan Lrmum dan izin trayek atau izin tidak dalam trayek.

11. Kendaraan Khusus adalah kendaraan bermotor yang dirancang khusus, yang memiliki fungsi dan rancang bangun tertentu.

12. Kendaraan Bermotor Alat-Alat Berat dan Alat-Alat Besar yang bergerak adalah kendaraan bermotor alat-alat berat dan alat-alat besar yang dalam operasinya menggunakan roda dan motor dan tidak melekat secara perrnanen.

13. Pajak Kendaraan Bermotor selanjutnya disingkat PKB adalah pajak yang dipungut atas kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor.

14. Tarif Progresif adalah prosentase tarif yang digunakan yang semakin besar bila jumlah objek yang dikenai pajak semakin banyak.

15. Blokir adalah keadaan atau status ketika proses registrasi tertentu tidak dapat dilakukan terhadap kendaraan bermotor, yang terkait dengan perkara pidana dan perdata yang bersifat sementara.

16. Proteksi Kepemilikan Kendaraan adalah perlindungan terhadap urutan kepemilikan kendaraan bermotor.

17. Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor yang selanjutnya disingkat BBNKB adalah pajak atas penyerahan hak milik kendaraan bermotor sebagai akibat perjanjian dua pihak atau perbuatan sepihak atau keadaan yang terjadi karena jual beli, tukar menukar, hibah, warisan, atau pemasukan ke dalam badan usaha.

18. Pemungutan adalah suatu rangkaian kegiatan mulai dari penghimpunan data objek dan subjek pajak, penentuan besarnya pajak yang terutang sampai kegiatan penagihan pqiak kepada Wajib Pajak serta pengawasan penyetorannya.

(24)

19. Tahun Pembuatan Kendaraan adalah tahun perakitan yang semata-mata digunakan sebagai dasar penghitungan peiak.

20. Pajak Terutang adalah pqjak yang harus dibayar oleh Wajib Pajak pada suatu saat dalam tahun pajak atau dalam bagran tahun pajak, menurut peraturan perundang- undangan perpajakan Daerah.

21. Nilai Jual Kendaraan Bermotor yang selanjutnya disingkat NJKB adalah nilai jual kendaraan bermotor yang diperoleh berdasarkan harga pasaran umum atas suatu kendaraan bermotor, sebagaimana tercantum dalam tabel nilai jual kendaraan bermotor yang berlaku.

22. Formulir Pendaftaran adalah formulir yang memuat data objek dan subjek pajak yang digunakan sebagai dasar pemungutan untuk PKB/BBNKB kendaraan bermotor baru, mutasi masuk, perubahan bentuk/fungsi/ warnaf mesin, lelang dan ganti kepemilikan.

23. Nota Perhitungan Pajak Kendaraan Bermotor selanjutnya disingkat NPPKB adalah nota perhitungan pajak yang menentukan besarnya jumlah pajak yang terutang.

24. Surat Ketetapan Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat SKPD adalah surat ketetapan pajak yang menentukan besarnya jumlah pajak yang terutang dan berfungsi sebagai alat bukti pembayaran, apabila sudah divalidasi.

25. Surat Pemberitahuan Pajak Daerah yang selanjutnya disebut SPTPD adalah Surat Pemberitahuan Pqiak Daerah yang digunakan oleh Wajib Pajak untukmelaporkan perhitungan dan pembayaran pajak yang terutang, menurut ketentuan peraturan perundangundangan perpajakan Daerah.

(25)

26. Surat Ketetapan P4iak Daerah Kurang Bayar yang selanjutnya disingkat SKPDKB adalah Surat Ketetapan Pajak yang menetapkan besarnya jumlah pajak yang terutang, jumlah kredit pajak, jumlah kekurangan pembayaran pokok pajak, besarnya sanksi administrative dan jumlah yang masih harus dibayar.

27. Surat Ketetapan Pajak Daerah Kurang Bayar Tambahan yang selanjutnya disingkat SKPDKBT adalah Surat Ketetapan Pajak yang menetapkan tambahan atas jumlah pajak yang telah ditetapkan.

28. Surat Ketetapan Pajak Daerah Lebih Bayar yang selanjutnya disingkat SKPDLB adalah Surat Ketetapan Pqiak yang menetapkan jumlah kelebihan pembayaran pajak karena jumlah kredit pajak lebih besar dari pada pajak yang terutang atau seharusnya tidak terutang.

29. Surat Tagihan Pajak Daerah yang selanjutnya disingkat STPD adalah surat untuk melakukan tagihan pqiak dan/atau sanksi administratif berupa denda.

30. Surat Keterangan Fiskal Antar Daerah yang selanjutnya disingkat SKFAD adalah surat yang berisi data pemenuhan kew4iiban perpqiakan Wajib Pajak untuk masa dan tahun pajak tertentu

31. Surat Tanda Setoran yang selanjutnya disingkat STS adalah formulir yang digunakan untuk menyetor pungutan PKB dan BBNKB.

32. Surat Tanda Setoran Sementara yang selanjutnya disingkat STSS adalah formulir setoran sementara yang digunakan untuk menyetor pungutan PKB dan BBNKB sebelum surat tanda setoran divalidasi oleh Pejabat Bank;

33. Badan adalah sekumpulan orang dan/atau modal yang merupakan kesatuan baik yang melakukan usaha maupun yang tidak melakukan usaha, meliputi perseroan terbatas,

(26)

perseroan komanditer, perseroan lainnya, badan usaha milik negara (BUMN) atau badan usaha milik daerah (BUMD) dengan nama dan dalam bentuk apa pun, firma, kongsi, koperasi, dana pensiun, persekutuan, perkumpulan, yayasan, organisasi massa, organisasi sosial politik, atau organisasi lainnya, lembaga dan bentuk badan lainnya, termasuk kontrak investasi kolektif dan bentuk usaha tetap.

34. Lembaga Sosial dan Lembaga Keagamaan adalah perkumpulan sosial dan/atau keagamaan yang berbadan hukum, dibentuk oleh masyarakat dan berfungsi sebagai sarana partisipasi masyarakat dalam melaksanakan usaha-usaha kesejahteraan sosial.

35. Surat Paksa adalah surat perintah membayar utang pajak dan biaya penagihan pajak.

36. Surat Keputusan Pembetulan yang selanjutnya disingkat SKP adalah keputusan untuk membetulkan kesalahan tulis, kesalahan hitung dan/atau kekeliruan dalam penerapan ketentuan peraturan perundang-undangan perpajakan Daerah, yang terdapat dalam SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, SKPDLB, atau STPD.

37. Restitusi adalah pengembalian kelebihan pembayaran PKB dan /atau BBNKB kepada Wajib Pajak.

38. Kompensasi adalah pengembalian kelebihan pembayaran PKB berupa perhitungan pembayaran pajak kendaraan untuk tahun masa pajak berikutnya.

39. Surat Keputusan Keberatan yang selanjutnya disingkat SKK adalah keputusan atas keberatan terhadap SKPD, SKPDKB, SKPDKBT, SKPDLB, SKPDN atau terhadap pemotongan atau pemungutan oleh pihak ketiga yang diajukan oleh Wajib Pajak.

40. Putusan Banding adalah Putusan Badan Penyelesaian Sengketa Pajak atas banding terhadap SKK yang diajukan oleh Wajib Pajak.

(27)

41. Bendahara Penerimaan Pembantu adalah pejabat fungsional yang ditunjuk untuk menerima, menyimpan, menyetorkan, menatausahakan dan mempertanggungjawabkan uang pendapatan Daerah.

42. Petugas Bank adalah petugas dari Bank yang dihunjuk untuk melaksanakan sebagian tugas Bendahara Penerimaan Pembantu dalam penerimaan pembayaran PKB dan BBNKB.

43. Keadaan kahar (force majeur) adalah kejadian diluar kemampuan manusia yang tidak dapat dihindarkan, sehingga kegiatan tidak dapat dilaksanakan sebagaimana mestinya, artara lain bencana alam seperti banjir, kebakaran, gempa bumi, longsor, dan kejadian-kejadian lain diluar kemampuan manusia, huru hara seperti kerusuhan sosial, perang dan kejadian lainnya yang ditimbulkan oleh manusia, narnun berada di luar kemampuan manusia untuk mengatasinya, dan perubahan kebijakan pemerintah, yang secara langsung ataupun tidak langsung yang mempengaruhi kegiatan.

Pasal 2

Peraturan Gubernur ini dimaksudkan sebagai dasar dan acuan dalam pelaksanaan penyelenggaraan pemungutan PKB dan BBNKB, sesuai ketentuan peraturan perundangundangan.

Pasal 3

Peraturan Gubernur ini bertujuan untuk :

a. memberikan pelayanan pemungutan PKB dan BBNKB yang mudah, cepat dan tepat;

dan

b. memberikan informasi yang terbuka kepada Wajib Pajak mengenai ketentuan pengaturan, prosedur dan tata cara penghihrngan PKB dan BBNKB.

(28)

C. Objek Pajak, Subjek Pajak dan Wajib Pajak Kendaraan Bermotor

Objek Pajak Kendaraan Bermotor adalah pemilikan dan atau penguasaan kendaraan bermotor, tidak termasuk kepemilikan dan atau penguasaan kendaraan bermotor alat-alat besar yang tidak dipergunakan sebagai angkutan orang dan atau barang dijalan umum.

Terkait dengan objek, subjek dan wajib pajak diatur dalam Peraturan Gubernur no. 37 tahun 2015 bab II pasal 4 sampai pasal 7 berikut ini.

Pasal 4

1. Objek PKB, meliputi kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor di Daerah, termasuk kepemilikan dan/atau penguasaan kendaraan bermotor beserta gandengannya, alat-alat berat dan alat-alat besar di jalan darat;

2. Dikecualikan dari objek PKB adalah kepemilikan dan/ atau penguasaan kendaraan bermotor, meliputi:

a. kereta api;

b. kendaraan bermotor yang semata-mata digunakan untuk keperluan pertahanan dan keamanan negara;

c. kendaraan bermotor yang tidak digunakan karena disegel, disita dan/atau dibekukan/diblokir oleh Negara atau atas permintaan sendiri untuk dibekukan/diblokir;

d. kendaraan bermotor yang dimiliki dan/atau dikuasai Kedutaan, Konsulat, Perwakilan Negara Asing dengan asas timbal balik dan lembaga-lembaga internasional yang memperoleh fasilitas pembebasan pajak dari Pemerintah;

(29)

e. kendaraan bermotor yang dimiliki dan/atau dikuasai pabrikan atau importir yang semata-mata tersedia untuk dipamerkan.

Pasal 5

1. Kendaraan bermotor yang tidak digunakan karena disegel, disita dan/atau dibekukan/diblokir oleh Negara, yang dibuktikan dengan putusan pengadilan atau instansi yang berwenang.

2. Kendaraan bermotor yang dibekukan/diblokir atas permintaan sendiri, yang dibuktikan dengan surat permohonan dari Wajib Pajak disertai penyerahan STNK, TNKB, SKPD atau dokumen lainnya yang dipersamakan dan surat keterangan dari instansi yang berwenang.

3. Dalam hal Wajib Pajak tidak mengajukan permohonan pembekuan kendaraan bermotor, maka dikenakan pajak sesuai ketentuan peraturan perundangundangan.

4. Kendaraan bermotor yang tidak digunakan karena disegel, disita dan/atau dibekukan/diblokir oleh Negara atau atas permintaan sendiri untuk dibekukan/diblokir sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), dibuktikan dengan surat keterangan dan/atau berita acara dari Kepolisian, Dinas dan PT.Jasa Raharja (Persero).

5. Penetapan PKB sebagai akibat dari berakhirnya pembekuan/blokir dilaksanakan langsung di Kantor Bersama Samsat dimana kendaraan bermotor terdaftar, dengan menunjukkan surat permohonan pencabutan blokir dari Wajib Pajak yang bersangkutan bahwa kendaraan akan dipergunakan kembali, disertai tanda bukti penerimaan surat-surat kendaraan bermotor yang diketahui oleh Kepolisian, Dinas dan PT.Jasa Raharja {Persero}.

(30)

Pasal 6

Subjek PKB adalah orang pribadi, Badan, Pemerintah, Pemerintah Daerah, Pemerintah Kabupaten Kota, Pemerintah Desa, TNI dan Polri yang memiliki dan/atau menguasai kendaraan bermotor.

Pasal 7

1. Wajib PKB adalah orang pribadi, Badan, Pemerintah, Pemerintah Daerah, Pemerintah Kabupatenf Kota, Pemerintah Desa, TNI dan Polri yang memiliki dan/atau menguasai kendaraan bermotor.

2. Yang bertanggung jawab atas pembayaran PKB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (2), yaitu :

a. Orang pribadi, adalah orang yang bersangkutan, kuasanya, ahli waris dan/atau pengampunya dengan ketentuan:

1) orang yang bersangkutan yaitu sebagai pemilik sesuai dengan hak kepemilikannya.

2) orang atau badan yang memperoleh kuasa daripemilik kendaraan bermotor 3) ahli waris; dan

4) pengarnpu.

b. Badan, diwakili oleh pengurus atau kuasanya; dan

c. Pemerintah, Pemerintah Daerah, Pemerintah KabupatenfKota', Pemerintah Desa, TNI dan Polri, oleh Pengguna Barang atau Kuasa Pengguna Barang.

3. Wajib Pajak perorangan atau Badan sebagai pemilik terakhir kendaraan bermotor yang jumlah pajaknya sebagian atau seluruhnya belum dilunasi, bertanggung jawab untuk melunasi kewajibannya.

(31)

Faktor pendukung keberhasilan pemungutan pajak dalam konteks fungsi budgeter dan fungsi reguleren ditentukan oleh 3 faktor. menurut Norman Novak yaitu:

1. Wajib Pajak 2. Otoritas pajak

3. Sistem pemungutan pajak itu sendiri7

Sistem pemungutan pajak harus sederhana. Bagaimana pajak dipungut akan sangat menentukan keberhasilan dalam pungutan pajak. Sistem yang sederhana akan

memudahkan wajib pajak dalam menghitung beban pajak yang harus dibiayai sehingga akan memberikan dapat positif bagi para wajib pajak untuk meningkatkan kesadaran

Ketiga faktor tersebut harus baik dan saling mendukung. Masyarakat harus memiliki kesadaran dan ketaatan sukarela (voluntary compliance) dalam melaksanakan pemenuhan kewajiban perpajakan sesuai dengan undang-undang dan ketentuan-ketentuan perpajakan yang berlaku, sehingga terbentuklah masyarakat Wajib Pajak. Otoritas Pajak harus melayani masyarakat Wajib Pajak sebagai mitra dalam bekerja sama untuk

menyukseskan pemungutan pajak.

Pajak juga merupakan suatu bukti bahwa eksistensi suatu negara beserta pemerintahannya diakui oleh rakyatnya. Jika rakyat patuh melaksanakan kewajiban perpajakan berarti semakin mengokohkan eksistensi pemerintahan tersebut. Dalam hidup bernegara, sudah pasti masing-masing pihak memiliki hak dan kewajiban satu sama lain.

Di satu sisi Pemerintah harus memberikan rasa aman dan ketertiban umum dan pelayanan umum kepada rakyat. Di sisi lain rakyat harus memenuhi salah satu kewajibannya yaitu membayar pajak.

7 http://fajarsumiratmuhrip.wordpress.com/2011/12/05/pengantar-perpajakan

(32)

dalam pembayaran pajak. Sebaliknya, jika sistem pemungutan pajak rumit, orang akan semakin enggan membayar pajak.

Dalam pemungutan pajak secara umum baik pajak pusat maupun pajak daerah, seringkali terdapat kendala-kendala yang melemahkan dalam pemungutan pajak.

Kendala-kendala tersebut antara lain:

1. Berbagai peraturan pelaksanaan undang-undang yang sering kali tidak konsisten dengan undang-undangnya.

Melaksanakan tax reform lebih pelik dan makan waktu dibandingkan dengan ketika merancang tax reform dalam undang-undang, apabila peraturan pelaksanaan yang

dijadikan dasar dalam melaksanakan aturan hukum pajak tidak konsisten dengan undang- undang, tentu akan mengakibatkan kendala yang fatal dalam pemungutan pajak.

2. Kurangnya pembinaan antara pajak daerah dengan pajak nasional.

Pajak daerah dan pajak nasional merupakan satu sistem perpajakan Indonesia, yang pada dasarnya merupakan beban masyarakat sehingga perlu dijaga agar kebijaksanaan perpajakan tersebut dapat memberikan beban yang adil. Sejalan dengan perpajakan nasional, maka pembinaan pajak daerah harus dilakukan secara terpadu dengan pajak nasional. Pembinaan harus dilakukan secara terus menerus, terutama mengenai objek dan tarif pajaknya supaya antara pajak pusat dan pajak daerah saling melengkapi.

3. Database yang masih jauh dari standar Internasional.

Kendala lain yang dihadapi aparatur pajak adalah database yang masih jauh dari standar internasional. Padahal database sangat menentukan untuk menguji kebenaran pembayaran pajak dengan sistem self-assessment. Persepsi masyarakat, bahwa banyak dana yang dikumpulkan oleh pemerintah digunakan secara boros atau dikorup, juga

(33)

menimbulkan kendala untuk meningkatkan kepatuhan pembayar pajak. Berbagai pungutan resmi dan tidak resmi, baik di pusat maupun di daerah, yang membebani masyarakat juga menimbulkan hambatan untuk menaikkan penerimaan pajak.

4. Lemahnya penegakan hukum (law enforcement) terhadap kepatuhan membayar pajak bagi penyelenggara negara.

Law enforcement merupakan pelaksanaan hukum oleh pejabat yang berwenang di

bidang hukum, misalnya pelaksanaan hukum oleh polisi, jaksa, hakim dan sebagainya.

Tidak kalah penting untuk disoroti pelaksanaan hukum di lingkungan birokrasi, khususnya badan pemerintahan di bidang perpajakan) dalam melakukan pemeriksaan terhadap para penyelenggara negara, ternyata belum ada gebrakannya. Seharusnya bila dilakukan tentu membantu dalam mewujudkan good governance dalam bentuk

pemerintahan yang bersih8

Penegakan hukum pajak dilakukan dalam bentuk penjatuhan sanksi terhadap pelanggar hukum pajak untuk melindungi kepentingan Negara untuk memperoleh pembiayaan dari sektor pajak mengingat hukum pajak tidak melindungi kepentingan wajib pajak tetapi bahkan melindungi sumber pendapatan Negara yang terfokus pada pemenuhan kewajiban wajib pajak untuk membayar lunas pajak yang terutang.

Penegakan hukum di bidang perpajakan dapat dikatakan masih lemah, hal ini dapat dilihat dari banyaknya wajib pajak yang tidak membayar pajak, maraknya kejahatan korupsi di bidang perpajakan dan para penegak hukum yang tidak becus dalam menegakkan hukum. Kasus korupsi Gayus pada tanggal 19 Januari 2011 merupakan salah satu contoh lemahnya penegakan hukum di Indonesia, dengan adanya kasus korupsi

.

8 http://yasminelisasih.com/2011/07/17/ kendala_pajak_daerah/

(34)

tersebut berdampak negatif bagi pemungutan pajak di Indonesia, timbul anggapan bahwa membayar pajak nantinya tidak sampai ke negara tetapi hanya akan dikorupsi oleh orang- orang yang tidak bertanggung jawab seperti Gayus.

Seperti yang dilansir dari media Kompasiana tentang pelanggaran yang dilakukan Polantas dalam melakukan penilangan kendaraan bermotor telat pajak. Kejadian ini terjadi pada tanggal 28 November 2013, ditemukan bahwa Polantas yang melakukan razia melakukan penilangan terhadap salah satu pengemudi dengan kesalahan hanya pada keterlambatan pembayaran pajak selama 3 bulan. Seperti yang diketahui bahwa

penanganan terhadap keterlambatan pembayaran pajak kendaraan bermotor hanya bisa dilakukan oleh SAMSAT terkait, bukan Polantas. Hal ini menunjukkan bahwa lemahnya sistem pemungutan pajak di Indonesia. SAMSAT dan Kepolisian setempat seharusnya sudah berkoordinasi dengan baik terkait dengan wewenang dan kewajiban masing- masing instansi9

Sampai saat ini belum terlihat bagaimana Ditjen Pajak menyikapi secara terbuka mengenai kepatuhan membayar pajak (tax compliance) para penyelenggara Negara (dalam hal dilakukaknnya pemeriksan oleh KPKPN terhadap para penyelenggara Negara dikaitkan dengan kepatuhan membayar pajak). Seharusnya Ditjen pajak dapat

memanfaatkan momentum itu dalam melakukan pemeriksaan berdasarkan kriteria menurut peraturan perundang-undangan perpajakan. Seperti itu karena tidak tertutup kemungkinan di samping ada indikasi ketidakwajaran dalam LHKPN (Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara) yang diserahkan kepada KPKPN (Komisi Pengawas

.

9 Wiryaningtyas, Woro Asih. 2009. Pelaksanaan Pemungutan Pajak Kendaraan Bermotor di Unit Pelayanan Pendapatan dan Pemberdayaan Aset Daerah (UP3AD) Kabupaten Pemalang. Universitas Diponegoro:

(35)

Kekayaan Penyelenggara Negara), juga tidak tertutup kemungkinan Laporan SPT-nya (Surat Pemberitahuan Tahunan) juga bermasalah, karena perlu diketahui daftar kekayaan dalam LKPN seharusnya sama dengan laporan dalam Lampiran SPT.

Penegakan hukum pajak sangat dipengaruhi berbagai faktor, baik yang bersifat internal maupun yang bersifat eksternal. Faktor-faktor itu dapat berupa sebagai sarana pendorong atau sarana penghambat terhadap bekerjanya system hukum sebagai suatu proses yang dikatakan oleh Lawrence M. Friedman (2001: 7-8) terdiri dari : 1) substansi hukum; 2) struktur hukum;dan 3) budaya hukum. Hal ini juga dikemukakan oleh

Soerjono Soekento (2004:8) bahwa ada lima faktor yang dapat mempengaruhi penegakan hukum. Kelima faktor tersebut adalah :

- Faktor hukumnya sendiri (dibatasi pada undang-undang saja);

- Penegak hukum, yakni pihak-pihak yang membentuk maupun menerapkan hukum;

- Faktor sarana atau fasilitas yang mendukung penegakan hukum;

- Faktor masyarakat, yakni lingkungan dimana hukum tersebut berlaku atau diterapkan;

dan

- Faktor kebudayaan, yakni sebagai hasil karya, cipta, dan rasa yang didasarkan pada karsa manusia di dalam pergaulan hidup10

Kelima faktor tersebut dirasa belum mendukung sepenuhnya dalam pemungutan pajak di Indonesia yang kemudian menjadi kendala dalam pemungutan pajak baik pajak pusat maupun pajak daerah.

5. Kurangnya atau tidak adanya kesadaran masyarakat.

.

10 Muhammad Djafar Saidi. 2007. Hukum Administrasi Negara. Hal :114-115.

(36)

Dalam pemungutan pajak dituntut kesadaran warga negara untuk memenuhi

kewajiban kenegaraan. Kurangnya atau tidak adanya kesadaran masyarakat sebagai wajib pajak untuk membayar pajak ke negara mengakibatkan timbulnya perlawanan atau terhadap pajak yang merupakan kendala dalam pemungutan pajak sehingga

mengakibatkan berkurangnya penerimaan kas negara. Hal ini sesuai dengan ketentuan hokum yang tercantum di dalam Undang-undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 Pasal 23A yang berbunyi “Pajak dan pungutan lain yang bersifat memaksa untuk

keperluan negara diatur dengan undang-undang”.

D. Prosedur Pemungutan Pajak Berdasarkan Peraturan Gubernur Sumut No. 37 Tahun 2015

Pemungutan pajak kendaraan bermotor dilaksanakan oleh instansi terkait dengan mengikuti prosedur dan ketentuan sebagaimana diatur dalam Peraturan Gubernur Sumatera Utara No 37 tahun 2015. Ketentuan yang dimaksud tertera dalam pasal 8 sampai dengan pasal 15 yang akan diuraikan sebagai berikut.

Pasal 8 tentang pendataan dan pendaftaran.

1. Untuk mendapatkan data danlatau informasi mengenai objek dan subjek PKB, dilaksanakan pendataan dan/atau pendaftaran terhadap:

a. objek pqiak dan subjek pqiak yang berdomisili di Daerah; dan

b. Wajib Pajak yang berdomisili di Daerah dan memiliki objek pajak kendaraan bermotor baru dan kendaraan bermotor yang mengalami perubahan objek dan subjek pajak, dengan menggunakan formulir pendaftaran.

(37)

2. Formulir pendaftaran yang telah diterima Wajib Pajak harus diisi dengan jelas, lengkap dan benar serta ditandatangani Wajib Pajak atau kuasanya, sesuai jangka waktu yang ditentukan, yaitu :

a. kendaraan bermotor baru dan mutasi masuk dari luar provinsi, paling lama 3O {tiga puluh} hari kalender, dengan ketentuan :

1) kendaraan bermotor baru yang berasal dari dealer/sub dealer, dihitung sejak tanggal faktur;

2) kendaraan bermotor yang berasal dari korps diplomatik/korps Konsuler, tenaga ahli asing yang diperbantukan di Indonesia dan Badan-badan Internasional, dihitung sejak tanggal kuitansi pembelian;

3) Kendaraan bermotor bukan baru (teliti ulang) sampai dengan tanggal berakhirnya masa pajak;

4) Kendaraan yang melakukan rubah bentuk/fungsi maupun pergantian mesin, sejak tanggal terjadinya perubahan.

b. kendaraan bermotor yang mengalami perubahan objek dan subjek, paling lambat 3O (tiga puluh) hari kalender sejak perubahan; dalam hal kendaraan bermotor yang masa pajaknya masih berlaku, maka penetapan PKB diperhitungkan sampai dengan tanggal berakhirnya masa PKB, meliputi:

1) kendaraan bermotor yang berasal dari lelang kendaraan bermotor milik Badan, Pemerintah, Pemerintah Daerah, Pemerintah Kabupaten/Kota, Pemerintah Desa, TNI dan Polri;

2) kendaraan bermotor yang berubah bentuk;

3) kendaraan bermotor yang berubah fungsi;

(38)

4) kendaraan bermotor yang ganti mesin;

5) kendaraan bermotor hibah;

6) kendaraan bermotor waris; dan

7) kendaraan bermotor yang berganti kepemilikan.

3. Dalam hal pengisian formulir pendaftaran oleh Wajib Pajak tidak dilakukan dan/atau tidak disampaikan dalam jangka waktu sebagaimana dimaksud pada ayat 21, maka Wajib Pajak yang bersangkutan dikenakan sanksi administratif.

4. Dalam hal keadaan kahar yang menyebabkan pelayanan pendaftaran tidak bisa dilakukan karena sesuatu hal seperti kerusakan software, hardware, jaringan komputer, sararla penunjang lainnya dan hal lain yang dapat dipertanggungiawabkan bertepatan dengan tanggal berakhirnya masa PKB, maka pendaftaran dilakukan pada hati kerja berikutnya dengan tidak dikenakan sanksi administratif berupa denda, serta dibuatkan berita acara yang ditandatangani oleh Kepala UPT dan Instansi terkait pada Kantor Bersama Samsat.

5. Tata cara penyelenggaraan pendaftaran dalam keadaan kahar sebagaimana dimaksud pada ayat (7), ditetapkan oleh Gubernur.

6. Tata cara sebagaimana dimaksud dalam ayat (5) didelegasikan kepada Kepala Dinas yang ditetapkan dengan Keputusan Kepala Dinas.

Pasal 9 tentang masa pajak dan saat terutang pajak

1. Masa pajak adalah 12 (dua belas) yang merupakan tahun pajak, pendaftaran kendaraan bermotor.

2. PKB dibayar sekaligus dimuka.

Pasal 10 dasar pengenaan, tarif, perhitungan, penetapan dan sanksi administrative

(39)

Dasar pengenaan PKB adalah hasil perkalian dariz (dua) unsur pokok : a. NJKB; dan

b. bobot, yang mencerrninkan secara relatif tingkat kerusakan jalan dan/atau pencemaran lingkungan akibat penggunaan kendaraarl bermotor.

2. Khusus untuk kendaraan bermotor yang digunakan di luar jalan umllm, termasuk alat- alat berat dan alat-alat besar, dasar pengenaan PKB adalah NJKB.

3. Dasar pengenaan PKB sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dan ayat (21, ditetapkan dengan Peraturan Gubernur yang berpedoman pada Peraturan Menteri Dalam Negeri.

4. Untuk kendaraan bermotor yang NJKB-nya belum tercantum dalam Peraturan

Menteri Dalam Negeri dan Peraturan Gubernur, maka dasar penghitungan pengenaan PKB didelegasikan kepada Kepala Dinas.

5. Dasar penghitungan pengenaan PKB sebagaimana dimaksud pada ayat {4}, ditentukan oleh salah satu atau beberapa faktor sebagai berikut :

a. harga pasaran umum, ditetapkan lO% (sepuluh persen) di bawah harga kosong (off the road) atau 21,75% (dua puluh satu koma tujuh puluh lima persen) di bawah perkiraan harga isi (on the road);

b. harga kendaraan bermotor dengan isi silinder dan/atau satuan horse power yang sama;

c. harga kendaraan bermotor dengan merek dan/atau tipe atau model sejenis yang hampir sarna;

d. harga kendaraan bermotor dengan tahun pembuatan dan produsen kendaraan bermotor yang sama;

e. harga kendaraan bermotor berdasarkan dokurnen pemberitahuan import barang;

(40)

f. NJKB dari provinsi lain; dan/atau

g. harga kendaraan bermotor berdasarkan harga yang tercantum di faktur.

Pasal 13 tentang perhitungan pajak

1. Besaran pokok PKB, dihitung dengan cara mengalikan tarif pajak dengan dasar pengenaan pajak, yang merupakan perkalian NJKB dengan bobot.

2. Penghitungan besaran pokok PKB sebagaimana dimaksud pada ayat (1), dihitung dengan cara sebagai berikut :

a. untuk kendaraan roda 2 {dua} dan 3 (tiga) sebagai berikut:

1) Kepemilikan pertama, adalah 1,75% (satu koma tujuh puluh lima persen) dari NJKB x bobot;

2) Kepemilikan kedua, adalah 2% {dua persen} dari NJKB x bobot;

3) Kepemilikan ketiga adalah 2,5% (dua koma lima persen) dari NJKB x bobot;

4) Kepemilikan keempat adalah 3% (tiga persen) dari NJKB x bobot;

5) Kepemilikan kelima dan seterusnya adalah 3,5% (tiga koma lima persen) dari NJKB x bobot;

b. untuk kendaraan roda 4 (empat) atau lebih sebagai berikut:

1) Kepemilikan pertama adatah l,75% (satu koma tujuh puluh lima persen) dari NJKB x bobot;

2) Kepemilikan kedua sebesar 2,5% (dua koma lima persen) dari NJKB x bobot;

3) Kepemilikan ketiga adalah 3% (tiga persen) dari NJKB x bobot;

4) Kepemilikan keempat adalah 3,5% (tiga koma lima persen) dari NJKB x bobot 5) Kepemilikan kelima dan seterusnya adalah 4% (empat persen) dari NJKB x

bobot

(41)

3. Penerapan tarif PKB progresif tidak berlaku bagi :

a. kendaraan bermotor bukan umum yang dimiliki oleh Badan, Pemerintah,

Pemerintah Daerah, Pemerintah Kabupaten Kota, Pemerintah Desa, TNI dan Polri;

dan

b. kendaraan bermotor umum orang dan kendaraan bermotor umum barang.

4. Penerapan tarif PKB progresif didasarkan urutan kepemilikan kendaraan bermotor berdasarkan masa pendaftaran dan/atau atas pernyataan pemilik kendaraan bermotor;

5. Pengenaan tarif PKB progresif berlaku hanya untuk kepemilikan kendaraan bermotor kelompok roda 2 (dual, roda 3 {tiga) dan roda 4 {empat) atau lebih, dengan ketentuan tidak digabungkan antar kelompok kendaraan bermotor.

6. Dalam hal kendaraan bermotor yang beralih kepemilikan dan mutasi ke luar memiliki tunggakan pajak, penerapan tarif PKB progresif mengacu pada urutan kepemilikan sebelumnya.

Pasal 14

Tunggakan PKB untuk kendaraan bermotor yang mengalami perubahan bentuk yang didaftarkan melebihi masa berlaku PKB, dihitung berdasarkan bentuk kendaraan bermotor sebelum ubah bentuk, dengan ketentuan untuk PKB satu tahun kedepan, dihitung berdasarkan bentuk kendaraan setelah ubah bentuk.

Pasal 15 penetapan pajak

1. Berdasarkan data objek dan subjek pajak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9 ayat (2), besaran PKB dihitung dalam Nota Perhitungan Pajak Kendaraan Bermotor (NPPKB) berupa Draft SKPD.

(42)

2. Nota Perhitungan Pajak Kendaraan Bermotor (NPPKB) berupa Draft SKPD menjadi dasar penerbitan SKPD

E. Tarif Pajak Kendaraan Bermotor Berdasarkan Peraturan Gubernur Sumut No. 37 Tahun 2015

Berkenaan dengan tarif yang dibebankan kepada wajib pajak diatur dalam Peraturan Gubernur Sumaterea Utara di pasal 11 dan pasal 12 seperti yang diuraikan berikut ini.

Pasal 11 tentang tarif pajak

1. Kepemilikan kendaraan bermotor pertama, sebesar 1,75% (satu koma tujuh puluh lima persen);

2. Kepemilikan kendaraan bermotor pribadi kedua dan seterusnya tarif pajaknya ditetapkan secara progressif.

3. Kepemilikan kendaraan bermotor didasarkan atas nama dan alamat yang sama, yang pengadministrasiannya dikelola secara terpusat oleh UPT Pusat Informasi Pendapatan (PIP);

4. Besarnya tarif progresif kendaraan roda 2 (dua) dan 3 {tiga) ditetapkan sebagai berikut:

a. Kepemilikan kedua sebesar 2% (dua persen);

b. Kepemilikan ketiga sebesar 2,5% (dua koma lima persen) c. Kepemilikan keempat sebesar 3% {tiga persen}

d. Kepemilikan kelima dan seterusnya sebesar 3,5% (tiga koma lima persen).

5. Besarnya tarif progresif kendaraan roda 4 {empat} atau lebih ditetapkan sebagai berikut:

(43)

b. Kepemilikan ketiga sebesar 3% {tiga persen};

c. Kepemilikan keempat sebesar 3,5%(tiga koma lima persen);

d. Kepemilikan kelima dan seterusnya sebesar 4% {empat persen}.

6. Dalam hal kendaraan bermotor sudah beralih kepemilikan dan pemilik selaku Wajib Pajak telah melapor ke Kantor Bersama Samsat tempat kendaraan bermotor terdaftar, yang dibuktikan dengan Surat Pernyataan Lapor Alih Kepemilikan dan/atau Lapor Jual yang ditandatangani oleh Wajib Pajak, maka UPT pusat Informasi Pendapatan (PIP) melakukan proteksi dan merubah urutan kepemilikan kendaraan bermotor;

untuk selanjutnya penetapan tarif PKB bagi pemilik baru disesuaikan dengan urutan kepemilikan yang terbaru.

7. Dalam hal kendaraan bermotor ditarik oleh lembaga perbankan atau non perbankanllembaga penjamin (leasing) karena Wqiib Pajak yang menjadi debitur melakukan wanprestasi yang dibuktikan dengan laporan penarikan dari lembaga perbankan atau non perbankan / lembaga penj am in (Ieasing ), maka kewajiban pembayaran PKB menjadi beban lembaga perbankan atau non perbankan/lembaga penjamin (easing) dengan tarif 1 ,75o/o (satu koma tduh lima persen).

8. Dalam hal terjadi kesalahan proteksi oleh Wajib Pajak, maka yang bersangkutan mengajukan permohonan perbaikan data kepada Kepala UPT PIP melalui Kepala UPT dilampiri surat pernyataan diatas materai secukupnya, dan untuk selanjutnya permohonan perbaikan data disampaikan kepada UPT PIP dilampiri Berita Acara dan data kendaraan bermotor.

Pasal `12

(44)

1. Tarif PKB angkutan umum termasuk kendaraan bermotor angkutan umum milik Pemerintah, Pemerintah Daerah, Pemerintah Kabupaten/Kota, Pemerintah Desa, TNI dan Polri, ditetapkan sebesar 1% {satu persen}.

2. Tarif PKB ambulans, mobil jenazah dan pemadam kebakaran milik dan/atau dikuasai Pemerintah, Pemerintah Daerah, Pemerintah Kabupaten Kota, Pemerintah Desa, TNI dan Polri termasuk milik pribadi atau lembaga sosial dan lembaga keagamaan, ditetapkan sebesar 0,5% (nol koma lima persen).

3. Tarif PKB untuk kendaraan bermotor milik pemerintah, Pemerintah Daerah, Pemerintah Kabupaten/Kota, Pemerintah Desa, TNI dan Polri serta lembaga sosial dan lembaga keagamaan, ditetapkan sebesar 0,5% (nol koma lima persen).

4. Tarif PKB untuk alat.alat berat dan alat-alat besar termasuk yang dimiliki dan/atau dikuasai oleh Pemerintah, Pemerintah Daerah, Pemerintah Kabupaten/Kota, Pemerintah Desa, TNI dan polri, ditetapkan sebesar 0,2% (nol koma dua persen).

Pasal 16 tentang sanksi admistratif pelanggaran pajak kendaraan bermotor.

1. Sanksi keterlambatan adalah sanksi yang dikenakan atas keterlambatan mendaftar dan keterlambatan membayar.

2. Keterlambatan membayar atas kendaraan yang telah didaftarkan lebih dari 30 (tiga puluh) hari dikenakan sanksi administratif berupa denda administrattf 2% {dua persen).

3. Bagi kendaraan yang melakukan pembayaran PKB tahunan (pengesahan/teliti ulang), apabila terlambat mendaftar, dikenakan denda administratif 2% {dua persen) setelah 30 (tiga puluh) hari dari berakhirnya masa pajak.

(45)

4. NPPKB dan/atau SKPD yang tidak dibayar setelah jatuh tempo pembayaran dikenakan sanksi administrasi berupa denda administratif sebesar 2% (dua persen) perbulan.

Pasal 17 tentang pembayaran dan penyetoran pajak

1. Pembayaran PKB dapat dilakukan di Kantor Bersama Samsat, Samsat Outlet, Samsat Drive Thru, Samsat Keliling, Gerai Samsat dan/atau tempat lainnya yang telah

ditentukan.

2. Pembayaran PKB wajib dilakukan paling lambat sejak 30 (tiga puluh) hari setelah pendaftaran.

3. Besaran Pajak yang harus dibayar yang tercantum dalam Nota Perhitungan Pajak Kendaraan Bermotor (NPPKB) berupa Draft SKPD dan/atau SKPD, harus dilunasi sekaligus.

4. Pembayaran dianggap sah, apabila bukti penerimaan SKPD, telah divalidasi sebagai bukti pembayaran atas pajak terutang.

5. Bagi UPT yang belum menerapkan payment point sgstem, maka pembayaran PKB diterima oleh Bendahara Penerimaan Pembantu pada UPT yang ditunjuk oleh Gubernur, selanjutnya ditatausahakan dan disetorkan ke Kas Daerah, paling lambat 1 x24jam.

6. Bagi UPT yang telah menerapkan pagment point sgstem, maka pembayaran PKB diterima oleh petugas Bank untuk selanjutnya diadministrasikan oleh Bendahara Penerimaan Pembantu yang ditunjuk oleh Gubernur pada UPT yang bersangkutan, dan disetorkan ke Kas Daerah, paling lambat 1 x24jam.

(46)

BAB III

TINJAUAN UMUM TENTANG HUKUM ADMINISTRASI NEGARA (HAN)

A. Pengertian Hukum Administrasi Negara (HAN)

Masuknya administrasi negara dalam kehidupan warga bertujuan untuk menjalankan fungsi bestuurzorg. Hal ini tentu membutuhkan satu instrumen yang memberikan dasar legalitas bagi negara untuk melaksanakannya. Instrumen ini berfungsi sebagai dasar pembenaran atas aktivitas negara yang berusaha mengatur hal-hal yang sifatnya privat tersebut. Hal tersebut tentu berbentuk suatu sistem hukum administrasi negara (HAN).

Sebelum membahas pengertian hukum administrasi negara, perlu disadari bahwa frasa HAN tersebut berasal dari dua kata, yakni “hukum” dan “administrasi negara”.

Untuk dapat memahami secara menyeluruh makna hukum administrasi negara, sangat diperlukan pemahaman di masing-masing frasa tersebut. Kemudian, keduanya disinergikan untuk mendapatkan pengertian utuh HAN. Menurut Utrech, hukum adalah Himpunan peraturan yang mengurus tata tertib suatu masyarakat dan karena itu harus ditaati oleh masyarakat itu. Sedangkan menurut J.C.T Simorangkir, S.H. dan Woerjono Sastropranoto, S.H. hukum itu ialah peraturan-peraturan yang bersifat memaksa, yang menentukan tingkah laku manusia dalam lingkungan masyarakat yang dibuat oleh badan- badan resmi yang berwajib, pelanggaran mana terhadap peraturan-peraturan tadi berakibatkan diambilnya tindakan, yaitu dengan hukum tertentu.

(47)

Sementara itu, Sjachran Basah mengungkap makna mengenai pengertian hukum.

Ia lebih memilih pendekatan fungsi. Menurutnya, dalam hukum, terdapat lima fungsi hukum dalam kaitannya dengan kehidupan masyarakat sebagai berikut.

1. Direktif: sebagai pengarah dalam membentuk masyarakat yang hendak dicapai sesuai dengan tujuan kehidupan bernegara.

2. Integratif: sebagai pembina kesatuan bangsa.

3. Stabilitatif: sebagai pemelihara (termasuk hasil-hasil pembangunan) serta penjaga keselarasan, keserasian, dan keseimbangan dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

4. Perfektif: sebagai penyempurna terhadap tindakan-tindakan administrasi negara ataupun sikap tindak warga negara dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.

5. Korektif: baik terhadap warga negara maupun administrasi negara dalam mendapatkan keadilan.

Prayudi Atmosudirdjo melihat administrasi negara pada fungsinya yang lebih luas lagi, yakni melaksanakan dan menyelenggarakan kehendak-kehendak (strategy, policy) serta keputusan-keputusan pemerintah secara nyata (implementasi dan menyelenggarakan undang-undang menurut pasal-pasalnya) sesuai dengan peraturan-peraturan pelaksanaan yang ditetapkan. Untuk memperjelas makna administrasi negara tersebut, Prayudi Atmosudirdjo memerincinya dalam beberapa pengertian administrasi negara yang terkait dengan pelaksanaan kebijakan pemerintah sebagai berikut.

1. Sebagai aparatur negara, aparatur pemerintahan, atau sebagai institusi politik (kenegaraan).

(48)

2. Administrasi negara sebagai “fungsi” atau sebagai aktivitas melayani pemerintah, yakni sebagai kegiatan “pemerintah operasional”.

3. Administrasi negara sebagai proses teknis penyelenggaraan undang-undang.

Dari pandangan di atas, sesungguhnya pengertian tentang administrasi negara dapat dilihat dalam dua segi:

1. administrasi negara sebagai organisasi,

2. administrasi yang secara khas mengejar tercapainya tujuan yang bersifat kenegaraan (publik) artinya tujuan-tujuan yang ditetapkan undang-undang secara dwigend recht (hukum yang memaksa) 11.

Penggunaan istilah hukum administrasi negara diketengahkan oleh Utrecht meskipun pada mulanya menggunakan istilah hukum tata usaha Indonesia dan kemudian hukum tata usaha negara Indonesia. Penggunaan istilah hukum administrasi negara tersebut kemudian juga disepakati oleh rapat staf dosen fakultas hukum negeri seluruh Indonesia pada Maret 1973 di Cirebon. Pemakaian tersebut dilandasi pemikiran bahwa istilah tersebut lebih luas dan sesuai dengan iklim perkembangan hukum Indonesia.

Pemakaian istilah hukum administrasi negara sebagai nama mata kuliah dalam kurikulum fakultas hukum ternyata tidak berjalan secara serta-merta. Hal itu disebabkan Surat Keputusan Mendikbud tahun 1972 (SK Mendikbud Nomor 0198/U/1972) tentang Pedoman Kurikulum Minimal Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta. Berdasarkan surat tersebut, digunakan nama mata kuliah hukum tata pemerintahan (HTP) sebagai salah satu mata kuliah wajib yang harus ada di kurikulum fakultas hukum.

(49)

Dari pemahaman uraian di atas, tampak bahwa pemakaian istilah hukum administrasi negara bukanlah sesuatu yang bersifat mutlak, absolut, ataupun final. Hal ini terbukti masih terjadi perbedaan yang mencolok antara pakar yang satu dan lainnya, terutama dalam penggunaan istilah. Perkembangan penggunaan istilah hukum administrasi negara, hukum tata usaha negara, atau apa pun istilah yang digunakan justru menunjukkan bahwa istilah tersebut berkembang sejalan dengan perkembangan dari kehidupan bernegara itu.

Menurut Utrech, hukum adalah Himpunan peraturan yang mengurus tata tertib suatu masyarakat dan karena itu harus ditaati oleh masyarakat itu. Sedangkan menurut J.C.T Simorangkir, S.H. dan Woerjono Sastropranoto, S.H. hukum itu ialah peraturan- peraturan yang bersifat memaksa, yang menentukan tingkah laku manusia dalam lingkungan masyarakat yang dibuat oleh badan-badan resmi yang berwajib, pelanggaran mana terhadap peraturan-peraturan tadi berakibatkan diambilnya tindakan, yaitu dengan hukum tertentu.

Oppenheim mengemukakan bahwa Hukum Administrasi Negara adalah suatu gabungan ketentuan-ketentuan yang mengikat badan-badan yang tinggi maupun rendah apabila badan-badan itu menggunakan wewenang yang telah diberikan kepadanya oleh Hukum Tata Negara. Hukum Administrai Negara menggambarkan negara dalam keadaan bergerak. Logemann mengetengahkan Hukum Pemerintahan/Hukum Administrasi Negara sebagai seperangkat norma-norma yang menguji hukum istimewa yang diadakan untuk memungkinkan para pejabat (Alat Tata Usaha Negara/ Alat Administrasi Negara) melakukan tugas mereka yang khusus. Hukum Administrasi Negara tidak identik/sama

Gambar

Tabel 1. Daftar Obyek Pajak Kendaraan Bermotor yang Terdaftar dan Terbayar Tahun  2012-2014

Referensi

Dokumen terkait

Dalam rangka memenuhi kewajiban tersebut maka penulis menyusun Tugas Akhir dengan judul: “ Analisis Sistem Penggajian dan Pengupahan Karyawan Pada Fakultas Ekonomi

Dalam rangka memenuhi kewajiban tersebut maka penulis menyusun tugas akhir ini dengan judul “PERANAN ANALISIS SWOT PADA FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS SUMATERA UTARA”.. Selama

Puji dan syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yesus Kristus yang telah memberikan berkat dan kuasa-Nya dalam mengiringi langkah Penulis menyelesaikan tesis ini dengan

Proposal penelitian ini disusun untuk memenuhi salah satu syarat dalam menempuh ujian akhir Program Study Sarjana Kedokteran di Universitas Sumatera Utara, tahun 2012 dengan

Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam Skripsi ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi, dan

Puji dan syukur Penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa yang telah memberikan berkat dan kuasa-Nya dalam mengiringi langkah Penulis menyelesaikan tesis ini dengan judul

LESTARI ALAM SEGAR DELI SERDANG SKRIPSI Diajukan Untuk Memenuhi Syarat Mencapai Gelar Sarjana Di Fakultas Ekonomi Universitas Islam Sumatera Utara DIAJUKAN OLEH : NAMA

Skripsi penulis ini adalah merupakan rangkaian kewajiban-kewajiban penulis di dalam perkuliahan terutama untuk mencapai ujian akhir rnernperoleh gelar Sarjana Hukum pada Fakultas Hukum