WELLNESS AND HEALTHY MAGAZINE
Volume 3, Nomor2, August 2021, p.
ISSN 2655-9951 (print), ISSN 2656
Pemberian Asi Ekslusif Dengan Kejadian 59 bulan
Istiana1*);Hellen Febriyanti2
1*)Mahasiswa Prodi Sarjana Terapan Fakultas Kesehatan Universitas Aisyah Pringsewu
2Fakultas Kesehatan Universitas Aisyah Pringsewu
ARTICLE INFO
Kata Kunci:
Stunting
Exclusive Breastfeeding Toddler
*) corresponding author
Istiana
Mahasiswa Prodi Sarjana Terapan Fakultas Kesehatan Universitas Aisyah Pringsewu Email: [email protected]
DOI: 10.30604/well.160322021
PENDAHULUAN
Stunting atau sering disebut dengan kerdil atau pendek adalah kegagalan tumbuh baik secara fisik maupun kognitif dan merupakan kekurangan gizi kronis atau malnutrisi berulang yang efeknya dapat merusak bisa bertahan seumur hidup
Prevalensi Stunting berdasarkan hasil Riset Kesehatan dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan angka 30,8% atau sekitar 7 juta balita menderita
dari tahun 2013 yaitu sebanyak 37,2%, tetapi hal ini jauh dari target yang diinginkan Indonesia sebanyak 14% di tahun 2024(Kementerian Kesehatan RI, 2018)
WELLNESS AND HEALTHY MAGAZINE
, p. 125 – 129 2656-0062 (online)
Pemberian Asi Ekslusif Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 7
Mahasiswa Prodi Sarjana Terapan Fakultas Kesehatan Universitas Aisyah Pringsewu Fakultas Kesehatan Universitas Aisyah Pringsewu
A B S T R A C T
Mahasiswa Prodi Sarjana Terapan Fakultas
Stunting prevalence in 2018 was 30.8%, decreased by 6.4% from 2013 which was 37.2%, but this is far from the target of 14% in 2024. Stunting in the short term can result in failure to grow, stunting motoric development, cognitive, and not optimal physical size of the body as well as disruption of metabolism. In the long term result in decreased intellectual capac ity. The purpose of this study was to determine the relationship between exclusive breastfeeding and the incidence of stunting in children aged 7 months in Neglasari Village, Tanjung Agung Health Center, South Lampung Regency in 2021. The design of this
cass control. With a population of all toddlers aged 7
in Neglasari village, the working area of Tanjung Agung Health Center, South Lampung Regency as many as 297 people. The sample is 47 with a ratio of 1:1. Test analysis using Chi test. The results showed that the significance value between exclusive breastfeeding and the incidence of stunting showed a p value of 0.004 < 0.005. Conclusion: There is a significant relationship between exclusive breastfeeding and the incidence o stunting in toddlers aged 7-59 months in Neglasari Village, Tanjung Agung Health Center, South Lampung Regency in 2021.
Advice given to health workers to be able to intervene in reducing stunting, especially counseling about the importance of Exclusive Breastfeeding.
This is an open access article under the CC–BY
Stunting atau sering disebut dengan kerdil atau pendek adalah kegagalan tumbuh baik secara fisik maupun kognitif dan merupakan kekurangan gizi kronis atau malnutrisi berulang yang efeknya dapat merusak bisa bertahan seumur hidup (Stanescu et al., 1974).
berdasarkan hasil Riset Kesehatan dasar (Riskesdas) 2018 menunjukkan angka 30,8% atau sekitar 7 juta balita menderita Stunting, turun sebanyak dari tahun 2013 yaitu sebanyak 37,2%, tetapi hal ini jauh dari target yang diinginkan Indonesia
(Kementerian Kesehatan RI, 2018).
WELLNESS AND HEALTHY MAGAZINE
Pada Balita Usia 7-
Stunting prevalence in 2018 was 30.8%, decreased by 6.4% from target of 14% in 2024. Stunting in the short term can result in failure to grow, stunting motoric development, cognitive, and not optimal physical size of the body as well as disruption of metabolism. In the long ity. The purpose of this study was to determine the relationship between exclusive breastfeeding and the incidence of stunting in children aged 7 -59 months in Neglasari Village, Tanjung Agung Health Center, South Lampung Regency in 2021. The design of this study was cass control. With a population of all toddlers aged 7 -59 months Tanjung Agung Health Center, South Lampung Regency as many as 297 people. The sample is 47 with a ratio of 1:1. Test analysis using Chi Square test. The results showed that the significance value between exclusive breastfeeding and the incidence of stunting showed a p - value of 0.004 < 0.005. Conclusion: There is a significant relationship between exclusive breastfeeding and the incidence o f 59 months in Neglasari Village, Tanjung Agung Health Center, South Lampung Regency in 2021.
Advice given to health workers to be able to intervene in reducing stunting, especially counseling about the importance of Exclusive BY-SA license.
Stunting atau sering disebut dengan kerdil atau pendek adalah kegagalan tumbuh baik secara fisik maupun kognitif dan merupakan kekurangan gizi kronis atau malnutrisi berulang
berdasarkan hasil Riset Kesehatan dasar (Riskesdas) 2018 , turun sebanyak 6,4%
dari tahun 2013 yaitu sebanyak 37,2%, tetapi hal ini jauh dari target yang diinginkan Indonesia
Provinsi Lampung terpilih menjadi Kabupaten/Kota prioritas Intervensi dalam penurunan Stunting, yaitu Kabupaten Lampung Selatan, Kabupaten Lampung Timur, dan Kabupaten Lampung Tengah. Beradasarkan dara Riskesdas 2018 untuk di Propinsi Lampung prevalensi Stunting pada tahun 2013 sebanyak 42,6% mengalami penurunan yang sangat signifikan di tahun 2018 sebanyak 27,28%, dan untuk Lampung Selatan di tahun 2013 mendapat peringkat ketiga tertinggi untuk prevalensi Stunting yaitu 43,01%, dan peringkat kedua sebanyak 43,17 di Kabupaten Lampung Tengah, sedangkan peringkat pertama ada di Lampung Timur sebanyak 52,6% (TNP2K, 2017).
Stunting disebabkan oleh Faktor Multi Dimensi. Intervensi paling menentukan pada 1.000 HPK (1000 Hari Pertama Kehidupan) salah satu diantaranya praktek pengasuhan yang tidak baik yaitu 60% dari anak usia 0-6 bulan tidak mendapatkan ASI eksklusif (Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, 2017).
Dampak buruk yang dapat ditimbulkan oleh Stunting dalam jangka pendek adalah terganggunya perkembangan otak, kecerdasan, gangguan metabolisme dalam tubuh dan gangguan pertumbuhan fisik. Sedangkan dampak dalam jangka panjang adalah menurunnya kemampuan kognitif dan prestasi belajar, menurunnya kekebalan tubuh serta resiko tinggi terkena Penyakit Tidak Menular (PTM) seperti obesitas, diabetes, penyakit jantung, stroke, kanker dan disabilitas pada usia lansia yang akhirnya akanan menurunkan kualitas sumber daya manusia Indonesia(Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi, 2017).
Di Indonesia proporsi pemberian ASI saja dalam 24 jam terakhir pada bayi umur 0-5 bulan sudah mencapai 74,5% dari target Persentase bayi usia kurang dari 6 bulan mendapat ASI eksklusif sebesar 60%. Sedangkan proporsi pernah disusui dan masih di susui pada anak umur 0-23 bulan Propinsi Lampung mencapai 93,3% pernah disusui diatas capaian nasional hanya 93% dan 81,8% masih disusui diatas capaian nasional hanya 78,8%. Untuk Kabupaten Lampung Selatan 2019 bahwa cakupan Asi Ekslusif berada diangka >75%, sedangkan target capain ASI ekslusif di tahun 2024 minimal mencapai 60%. Walaupundemikian data tersebut menunjukkan angka yang baik karena sudah melebihi target nasional, tetapi hal tersebut masih dijadikan dasar tantangan dan masalah kesehatan masyarakat khususnya pada bayi dalam penurunan Stunting terintegrasi. Ada beberapa alasan bayi belum mendapatkan atau tidak pernah di beri ASI karena asi tidak keluar 56,7%,rawat pisah 8,4%, anak tidak bisa menyusui 6,6%, alasan medis 5,7%, anak terpisah dari ibunya 5,4%, repot 2,2%, ibu meninggal 1,5% dan lainnya 4,5%(Kementerian Kesehatan RI, 2018).
Berdasarkan data dari Profil Puskesmas Tanjung Agung tahun 2019 prevalensi Stuntingperingkat pertama ada di desa Neglasari sebanyak 20,52%, peringkat ke 2 ada di desa Tanjung Agung sebanyak 15,41%, dan peringkat ke 3 ada di desa Trans Tanjungan sebanyak 5,69% dan data Pemantauan Wilayah Setempat (PWS) bulan Agustus 2020 Puskesmas Tanjung Agung bahwa capaian Asi ekslusif batu 38,79% sedangkan untuk desa neglasari baru mencapai 32,53%. Oleh karena itu peneliti tertarik melakukan penelitian dengan judul “Hubungan Pemberian Asi Ekslusif Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 7 -59 Bulan Di Desa Neglasari Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Agung Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2021”.
METODE
Desain penelitian yang digunakan adalah cass control, penelitian ini dilakukan pada bulan maret 2021 di Desa Neglasari Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung Agung Kecamatan Katibung Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2021.
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh orang tua balita usia 07-59 bulanyang ada di desa NeglasariWilayah KerjaPuskesmas Tanjung Agung Kabupaten Lampung Selatansebanyak 297 orang, dengan jumlah sampel sebanyak 47 dengan perbandingan 1:1, dengan teknik pengambilan sampel simple random sampling.
Dengan kriteria inklusi yaitu bersedia menjadi responden, anak tidak menderita penyakit infeksi, dan tidak ada kelainan pada organ tubuhnya.
Variabel bebasnya adalah Asi Eksklusif, sedangkan variabel terikat adalah stunting alat ukur yang digunakan adalah data skunder yaitu data dari e-PPBGM (Pencatatan dan Pelaporan Gizi Berbasis Masyarakat) dan KMS (Kartu Menuju Sehat)Analisis yang digunakan adalah univariate dan bivariate menggunakan uji chi square dengan menggunakan program SPSS
HASIL DAN PEMBAHASAN
Dari hasil penelitian diketahui bahwa status gizi anak balita di desa Neglasari wilayah kerja Puskesmas Tanjung Agung Kabupaten Lampung Selatan tahun 2021 didapatkan bahwa ASI Eksklusif sebanyak 15 balita atau 31,9% pada kelompok kasus dan 29 balita atau 61,7%
pada kelompok control dengan jumlah semua responden sebanyak 94 responden, dari hasil analisis menunjukkan hasil tabulasi silang pemberian ASI Eksklusif dengan kejadian stunting pada balita usia 7-59 bulan dengan menggunakan chi quare diperoleh nilai p value 0,004< α 0,05, dapat dilihat pada tabel 1.
Tabel 1.
Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 7-59 Bulan di Desa Neglasari Wilayah Kerja Puskesmas Tanjung AgungKabupaten Lampung Selatan tahun 2021
Pemberian ASI Status Gizi Total p - valus
Stunting (kasus) Tidak Stunting (Kontrol) Frekuen
si
Persentase (%)
Frekuensi Persentase (%)
Frekuen si
Persentase (%) Tidak ASI
Ekslusif
32 68.1 18 38.3 50 53.2 0.004
ASI Eksklusif 15 31.9 29 61.7 44 46.8
Total Status Gizi 47 100 47 100 94 100
Berdasarkan hasil uji statistic chi square menunjukkan bahwa nilai p-value 0.004 < α 0.05 dimana p< α artinya bahwa ada hubungan yang signifikan antara pemberian ASI Ekslusif dengan kejadian stunting pada balita usia 7-59 bulan di desa Neglasari wilayah kerja Puskesmas Tanjung Agung Kabupaten lampung Selatan Tahun 2021.
Stunting adalah kegagalan pertumbuhan dan perkembangan yang dialami anak karena kurang nutrisi, terkena infeksi yang berulang, dan kurang mendapat stimulasi psikososial(Kemendikbud, 2019). Setelah anak berusia 2 tahun Stunting baru nampak, yang diakibatkan oleh kekurangan gizi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal anak
Dalam kerangka konseptual yang dikeluarkan oleh WHO tentang Stunted Growth and Development, penyebab mengapa anak bisa sampai kekurangan gizi kronis sehingga gagal tumbuh dan berkembang bisa bersifat multifaktor salah satunya yaitu faktor menyusui seperti praktik menyusui yang tidak tepat yaitu ketika bayi lahir tidak melakukan Inisiasi Menyusii Dini (IMD), pemberian ASI Eksklusif selama 6 bulan pertama tidak dilakukan dan pemberhentian proses menyusui sebelum usia 2 tahun(Kemendikbud, 2019).
Faktor yang berkontribusi pada kegagalan pemberian ASI Eksklusif antara lain Suplai ASI yang tidak adekuat, Kerentanan dan rasa kurang percaya diri ibu, Perilaku menyusui ibu, Kurangnya komitmen dan keinginan untuk menyusui, Pilihan ibu, Penggunaan dot yang dirasa lebih nyaman, Pengaruh dari ayah atau anggota keluarga yang lain, Penghindaran rasa malu untuk menyusui ditempat umum, Kemudahan untuk memompa dan menyimpan ASI Kurangnya dukungan informasi dan emosi (Febriyanti, 2018).
Penelitian sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan di Puskesmas Tampang Tumbang Anjir Kabupaten Gunung Mas Provinsi Kalimantan Tengah yang berjudul
“Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian Stunting pada Balita Usia 24-36 Bulan”
dengan Hasil penelitian menunjukkan bahwa balita yang diberikan ASI eksklusif dengan Stunting 8,97% dan balita yang tidak diberikan ASI eksklusif dengan Stunting 41%. Dengan Hasil uji statistik menunjukkan p< 0,000 dan nilai OR 29,558. Dengan kesimpulan bahwa Ada hubungan yang bermakna antara pemberian ASI eksklusif dan kejadian Stunting pada usia 24- 36 bulan (Mawaddah, 2020).
Menurut peneliti semua zat gizi yang dibutuhkan oleh bayi untuk kebutuhan perkembangan dan pertumbuhan bayi yaitu ada di Air Susuyang dihasilkan oleh ibu. ASI eksklusif adalah bayi yang mendapatkan ASI selama 6 bulan penuh tanpa makanan tambahan lain termasuk air putih, dimana keberhasilan ASI Eksklusif ini di tidak lepas dari factor dari pendidikan ibu, pekerjaan ibu karena ASI adalah Air Susu Ibu yang sesuai dengan kebutuhan bayi dan balita berdasarkan usianya untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan, sehingga dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan usianya. Bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif dengan cukup berarti akan menyebabkan asupan gizi kurang baik dan dapat menyebabkan kekurangan gizi. mendapatkan gizi yang cukup.
SIMPULAN DAN SARAN
Ada hubungan yang signifikan antara pemberian ASI Eksklusif dengan kejadian stunting pada balita usia 7-59 bulan di Desa Neglasari wilayah kerja Puskesmas Tanjung Agung Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2021 dengan nilai p-value 0,004 < 0,005.
Diharapkan untuk untuk peneliti selanjutnya agar bisa meneliti lebih lanjut karakteristik lainnya yang berhubungan dengan ASI Eksklusif dan stunting.
DAFTAR PUSTAKA
Febriyanti, H. (2018). Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Pemberian Asi Eksklusif Pada Tenaga Kesehatan Yang Memiliki Bayi Di Wilayah Kabupaten Pringsewu Tahun 2017.
Midwifery Journal: Jurnal Kebidanan UM. Mataram, 3(1), 38.
https://doi.org/10.31764/mj.v3i1.125
Kemendikbud. (2019). Modul Pendidikan Keluarga pada 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK). Discussion Paper, 12. Retrieved from https://www.who.int/nutrition/global- target-2025/discussion-paper-extension-targets-2030.pdf?ua=1
Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi. (2017). Buku saku desa dalam penanganan stunting. In Buku Saku Desa Dalam Penanganan Stunting.
Kementerian Kesehatan RI. (2018). Laporan Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) Indonesia tahun 2018. In Riset Kesehatan Dasar 2018.
Mawaddah, S. (2020). Hubungan Pemberian Asi Eksklusif Dengan Kejadian Stunting Pada Balita Usia 24-60 Bulan. Jurnal Kesehatan Kusuma Husada, 35–41.
https://doi.org/10.34035/jk.v12i1.545
Stanescu, D. C., Veriter, C., de Plaen, J. F., Frans, A., Van Ypersele de Strihou, C., & Brasseur, L. (1974). Lung function in chronic uraemia before and after removal of excess of fluid by haemodialysis. Clinical Science and Molecular Medicine, 47(2), 143–151.
https://doi.org/10.1042/cs0470143
TNP2K. (2017). 100 Kabupaten/Kota Prioritas untuk Intervensi Anak Kerdil (Stunting). In TNP2K (Ed.), buku (cetakan pe, Vol. 1). Jakarta Pusat.