• Tidak ada hasil yang ditemukan

2. LANDASAN TEORI. 6 Universitas Kristen Petra

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "2. LANDASAN TEORI. 6 Universitas Kristen Petra"

Copied!
19
0
0

Teks penuh

(1)

2. LANDASAN TEORI

2.1 Definisi Inovasi

Inovasi adalah suatu proses untuk mengubah kesempatan menjadi ide yang dapat dipasarkan. Inovasi juga adalah suatu kombinasi visi untuk menciptakan suatu gagasan yang baik dan keteguhan serta dedikasi untuk mempertahankan konsep melalui implementasi. Dengan inovasi wirausahawan menciptakan baik sumber daya produksi baru maupun mengelola sumber daya yang ada dengan peningkatan nilai potensi untuk menciptakan modal (Machfoedz dan Machfoedz,2004).

Inovasi merupakan jenis perubahan secara khusus. Inovasi adalah gagasan baru yang di terapkan untuk memprakarsai atau memperbaiki produk, proses atau jasa. Jadi semua inovasi menyangkut pada perubahan, tapi tidak semua perubahan harus mencakup gagasan baru atau mendorong ke perbaikan yang mencolok (Robbins,2007).

Dalam inovasi, banyak tantangan yang di hadapi organisasi yang sama dalam proses yang kreatif yang hadir, dan manajemen memainkan peranan penting. Kreatifitas juga merupakan sebuah proses untuk memunculkan ide di mana Inovasi adalah hasilnya, tapi kreativitas dan inovasi saling terkait (Gupta,2007).

2.2 Tahap Inovasi

Menurut Sherwood (2002) inovasi adalah suatu proses yang memerlukan empat tahap yaitu:

a. Pengajuan gagasan- mempunyai ide lebih dulu.

Pengajuan gagasan adalah bagian tengah sasaran suatu inovasi.

b. Evaluasi – memilih gagasan-gagasan yang akan ditindaklanjuti

Evaluasi adalah suatu proses yang digunakan untuk memilih gagasan untuk dikembangkan lebih jauh atau kemungkinan lainnya ditolak.

Evaluasi terjadi didalam tiga cara yang berbeda yaitu :

(2)

 Secara formal, misalnya dalam konteks masalah bisnis dan persetujuan proyek.

 Secara informal, digunakan dalam kelmpok-kelompok kecil, dalam pertemuan dan diskusi.

 Secara pribadi di kepala sendiri

c. Pengembangan – memperbaiki gagasan tersebut dari konsep menjadi realitas yang menghasilkan sesuatu.

Pengembangan adalah proses yang mengakibatkan suatu gagasan terbukti sebagai realitas praktis.

d. Implementasi- mengupayakan gagsan tersebut sungguh-sungguh terjadi.

Implementasi adalah segala kegiatan yang mengakibatkan gagasan yang telah terbukti kebenarannyatersebut benar-benar membuahkan hasil.

2.2.1 Peran inovasi

Menurut Sherwood (2002), inovasi dapat memiliki peran yang penting dalam berbagai bidang, termasuk:

a. Pengembangan produk baru

Cepat atau lambat setiap produk dan jasa akan mencapai tanggal kadarluarsanya (maturity), barang kali pesaing telah memperkenalkan produk yang serupa dengan ciri-ciri lebih baik. Penemuan, pengembangan dan keberhasilan memperkenalkan produk dan jasa baru terus-menerus tanpa diragukan lagi merupakan keharusan setiap bisnis.

Tujuan utama dalm memperkenalkan produk baru dan jasa ialah untuk menghasilkan pendapatan yang baru dan menguntungkan.

b. Desain proses baru

Proses tidak merujuk pada apa yang dikerjakan, melainkan bagaimana mengerjakannya.

c. Stuktur organisasi baru

(3)

Melakukan sesuatu yang baru secara structural dalam organisasi dapat menyiratkan perubahan peran dan tanggung jawab orang, hak dan kewajiban setiap orang.

d. Bentuk-bentuk hubungan baru

Inovasi hubungan seluruhnya adalah masalah desain interaksi yang baru antara orang-orang yang terlepas dari struktur organisasi.

Umumnya hubungan ini mempunyai dua jenis, yaitu : melintas batas- batas antar organisasi dan dalam organisasi itu sendiri.

e. Strategy bisnis terobosan baru

Strategi seluruhnya terkait dengan upaya memperoleh keunggulan bersaing dan bahwa keunggulan bersaing tersebut berasal dari kemampuan melakukan sesuatu yang berbeda dari pesaing.

2.2.2 Peluang Inovasi

Menurut Peter F Druker (1985) inovasi dapat bersumber dari adanya peluang-peluang (dalam Stamm, 2008, p.382.) sebagai berikut;

a. Penelitian dan Pengembangan

Inovasi dapat dihasilkan melalui suatu penelitian dan pengembangan (research and development). Perusahaan-perusahaan yang telah maju atau besar umumnya mempunyai satu divisi khusus untuk melakukan penelitian dan pengembangan bagi bagi produk-produk barunya. Penelitian dan pengembangan ini merupakan suatu inovasi yang sistematis dengan menggunakan metode-metode ilmiah. Perusahaan ini berprinsip harus melakukan inovasi terus-menerus bagi kelangsungan hidupnya.

b. Keberhasilan/kegagalan

Keberhasilan/kegagalan baik dari perusahaanan sendiri maupun dari perusahaan lain dapat dijadikan sumber ide bagi suatu inovasi.

Keberhasilan peluncuran suatu produk merupakan ide untuk melakukan inovasi bagi produk yang lainnya. Produk inovasi tersebut dapat sama tetapi dengan perbedaan spesifikasinya. Misalnya, munculnya kendaraan

(4)

memproduksi kendaraan diesel Kijang baru dengan bahan bakar solar.

(http://www.drive.com.au/editorial/articledetail.aspx?ArticleID=42875&vf

=1). Peluncuran suatu produk juga dapat menjadi sumber inovasi bagi produk suplemen lainnya. Inovasi dapat bersumber dari memperhatikan kebutuhan, keinginan dan daya beli masyarakat. Misalnya, semua masyarakat mempunyai kebutuhan akan perumahan. Namun keinginan dari individu masyarakat tersebut berbeda-beda sesuai dengan selera dan keadaan ekonomi mereka. Selanjutnya permintaan akan perumahan dipengaruhi oleh daya beli masyarakat. Seorang yang butuh perumahan mungkin menginginkan rumah besar dengan harga lebih mahal. Namun karena kemampuan daya belinya tidak memadai maka ia harus membeli rumah yang kecil yang terjangkau oleh daya belinya. Seorang pemimpin perusahaan dalam hal ini harus membuat perumahan dengan tipe-tipe yang sesuai dengan keinginan dan daya beli mereka.

c. Persaingan

Persaingan adalah sumber inovasi yang sangat besar andilnya dalam peluncuran produk-produk baru. Dengan adanya persaingan perusahaan akan terdorong untuk melakukan inovasi. Sebagai contoh, persaingan dalam produk pasta gigi dari beberapa merek menyebabkan perusahaan meningkatkan penelitian dan pengembangan akan produknya untuk menciptkan produk-produk baru dengan spesifikasi dan keunggulannya masing-masing.

d. Demografi

Perubahan demografi dapat merupakan sumber inovasi untuk menyesuaikan produk-produk yang ada atau membuat produksi sama sekali baru. Perubahan demografi meliputi; usia, seks, jumlah keluarga, siklus kehidupan keluarga, pendapatan, kedudukan, pendidikan, agama, ras, kebangsaan.

e. Perubahan Selera

Konsumen dapat diasumsikan mudah tertarik dengan sesuatu hal baru atau berbeda dari apa yang biasa dilihatnya sehari-hari. Konsumen mempunyai keinginan untuk tampil beda dengan yang lainnya sesuai

(5)

dengan seleranya masing-masing. Perubahan harus cermat memperhatikan selera para konsumen dan perubahannya untuk segera melakukan inovasi bagi produknya.

f. Ipteks baru

Munculnya ilmu pengetahuan dan teknologi baru untuk memudahkan memproduksi suatu barang atau jasa dapat merupakan sumber inovasi. Contoh dengan adanya komputer maka produksi dalam industry percetakan dan grafika mengalami revolusi. Percetakan dapat menampilkan gambar seperti foto dengan lebih mudah dan cepat. Revolusi ini mengakibatkan perubahan dalm perwajahan kemasan (packaging) suatu barang

2.2.3 Tipe-tipe inovasi

Konsep inovasi mempunyai sejarah panjang dan pengertian berbeda-beda, terutama didasarkan pada persaingan antar perusahaan-perusahan dan strategi berbeda-beda yang bisa di manfaatkan untuk bersaing. Sejumlah upaya yang dilakukan untuk melakukan riset terhadap proses inovasi meliputi jenis inovasi, lingkungan yang mendukung, sumber daya yang diperlukan, dan tantangan yang dibuat untuk sebuag organisasi telah terjadi.

Menurut Abernathy, Clark, dan Tidd (1993) menyebutkan tipe-tipe dari inovasi (dalam Stamm, 2008, p.32) adalah:

a. Architectural innovation : inovasi seperti ini terletak pada produk dasar, proses dan terkait dengan pemasaran yang digunakan sebagai pedoman untuk perkembangan selanjutnya.

b. Market niche innovation : inovasi seperti ini membuka peluang pasar baru melalui penggunaan teknologi yang sudah ada untuk mencapai keunggulan kompetitif yang berbeda dengan produk pesaing.

c. Regular innovation : inovasi seperti ini melibatkan perubahan yang membangun pada produksi yang sesuai dengan pasar dan pelanggan yang ada.

(6)

d. Innovation revolusioner : inovasi yang belum pernah ada sebelumnya , namun diterapkan pada pasar dan pelanggan yang ada (Stamm,2008).

Sebuah kategori umum inovasi adalah untuk membedakan antara inovasi (hal-hal yang ditawarkan perusahan) dengan proses inovasi (cara-cara dimana produk dibuat dan dikirimkan) (Stamm,2008) . Pengambaran level dan kategori dari inovasi dapat dilihat pada gambar 2.1. berikut:

Sumber : Tidd, dkk dikutip dalam Stamm (2008)

2.3 Inovasi Internal

Inovasi internal merupakan inovasi yang melibatkan seluruh aspek yang ada di perusahaan. Setiap aspek organisasi yang sejalan dengan budaya perusahaan dapat mendukung tujuan perusahaan. Sistem yang ada di perusahaan, proses, gaya kepemimpinan dan budaya semua menegakkan satu sama lain (Stamm,2008).

Menurut White Burton (2007) ada empat elemen yang perlu di perhatikan dalam penerapan strategi inovasi internal, yaitu:

a. Kepemimpinan

(7)

Dalam menerapkan inovasi internal di perusahaan, salah satu yang memegang peranan penting adalah kepemimpinan organisasi atau perusahaan. Dimana sebuah organisasi perusahaan yang telah dibentuk suatu tim yang memiliki pemimpin kunci dan berperan memberikan petunjuk serta memiliki peranan yang penting dalam mencapai keberhasilan perusahaan. Hal ini menyebabkan adanya ketergantungan dengan pemimpin karena perusahaan-perusahaan ini bersaing di lingkungan yang maju dan berkembang pesat. Sehingga perlu dingat, bahwa pemimpin perlu ada di setiap tingkatan organisasi perusahaan.

Para pemimpin perusahaan-perusahaan yang inovatif telah bisa memberikan kepastian bahwa adanya unsur kerja sama diantara para karyawan.

b. Keterlibatan

Keterlibatan merupakan hal yang kedua harus diperhatikan dalam pelaksanaan inovasi internal di perusahaan. Hal yang terpenting dalam suatu keterlibatan adalah bagaimana suatu organisasi bisa mendapatkan pandangan dan arahan yang sama dalam sebuah organisasi yang dinamis ini. Para pemimpin organisasi berusaha untuk menciptakan lingkungan yang kondusif untuk internal perusahaan berguna bagi setiap karyawan dan pekerja untuk bisa percaya bahwa mereka adalah sebuah sistem dalam organisasi yang akan memungkinkan inovasi bisa terjadi dengan mereka secara aktif terlibat dalam kegiatan perusahaan. Bila sebaliknya karyawan tidak percaya, maka akan bisa menimbulkan masalah dalam menerapkan inovasi dalam lingkungan internal.

c. Pengetahuan

Hal yang ketiga yang perlu diperhatikan dalam melakukan strategi inovasi internal adalah pengetahuan. Dimana pengetahuan akan akan memberikan bantuan yang besar. Bila mana perusahaan memiliki pengetahuan yang cukup mengenai produk dan kompetensi pasar, maka perusahaan akan bisa melakukan inovasi internal.

d. Keterpaduan

(8)

Hal yang terakhir dalam melakukan inovasi internal di perusahaan yaitu adanya keterpaduan. Perusahaan harus memiliki sistem yang jelas serta mudah dimengerti untuk bisa memfasilitasi suatu proses strategi inovasi.

Tapi untuk melaksanakan inovasi internal tidak hanya menggunakan sistem melainkan di perlukannya kesalarasan antara sistem-sistem yang ada di perusahaan. Hal ini dapat mendukung pada saat melakukan strategi inovasi di perusahaan.

Dari keempat elemen yang disebutkan diatas menunjukkan dalam melakukan inovasi internal diperlukan penerapan elemen-elemen tersebut dengan baik. Keempat elemen ini saling mendukung satu sama lainnya dalam melakukan inovasi internal di perusahaan. Dari elemen-elemen yang disebutkan elemen yang memiliki peran penting adalah kepemimpinan.

2.4 Inovasi External

Inovasi external merupakan inovasi yang dilakukan perusahaan dengan menjalin kerja sama dengan pihak lain atau perusahaan lain. Dalam inovasi external perusahaan menjajaki ide-ide inovatif perusahaan-perusahaan lain dan menciptakan produk baru dan inovasi sejalan dengan mitra korporatnya (White and Burton 2007). Adanya beberapa hal yang memiliki pengaruh dalam melakukan strategi inovasi eksternal di perusahaan yaitu sebagai berikut:

a. Aliansi

Aliansi disini merupakan rekan kerja sama antar perusahaan yang biasanya menyangkut aspek strategik maupun non strategik. Aliansi strategik adalah kerja sama antar perusahaan yang relatif awet dengan melibatkan sumber daya, struktur dan tata kelola perusahaan untuk pencapaian tujuan perusahaan. Aliansi taktis yaitu kerja sama antar perusahaan tanpa melibatkan hal-hal yang bersifat strategik. Ada juga sebutan aliansi informal yang merupakan kerja sama antara dua perusahaan yang setuju untuk saling memberikan dukungan untuk kegiatan-kegiatan berbagai hal.

Perusahaan-perusahaan yang menggunakan aliansi informal ini tidak adanya perjanjian yang formal untuk saling mendukung dan membantu satu sama lain.

(9)

b. Merger

Salah satu strategi inovasi eksternal adalah dengan melakukan merger yaitu proses pengabungan perusahaan menjadi satu. Perusahaan yang melakukan merger akan mengambil atau membeli semua asset perusahaan yang diajak merger, dengan begitu perusahaan setidaknya memiliki paling tidak 50% saham atas kegitan merger tersebut. Perusahaan yang dimerger berhenti beroperasi atau sistem operasinya digabung menjadi satu dan berubah menjadi sistem yang baru serta pemegang sahamnya akan menerima sejumlah uang atau saham di perusahaan yang baru sesuai dengan ketentuan yang berlaku di perusahaan yang baru.

c. Akuisisi

Akuisisi adalah pengambil alihan perusahaan. Jadi sebuah perusahaan membeli sebagian besar saham atau asset perusahaan tersebut dan perusahaan yang di beli tetap ada tetapi berganti kepemilikan biasanya.

2.5 Inovasi produk

Perusahaan sebagian besar menginginkan untuk menjadi lebih inovatif dalam membuat produk. Hal ini sangat berhubungan sekali dengan pengembangan akan produk baru yang dimulai dari pemunculan ide sampai dengan komersialisasi. Inovasi produk merupakan gabungan dari kreativitas dan komersialisasi (Stamm,2008).

Semua orang akan memuaskan keinginan dan kebutuhannya melalui produk. Produk adalah setiap tawaran yang dapat memuaskan kebutuhan dan keinginan (Kotler,2002).

Kreativitas adalah prasyarat untuk inovasi produk dan transformasi organisasi, karena tanpa kreativitas, inovasi tidak berarti, dan transformasi tersebut akan kurang lebih sama dengan sebelumnya. Tanpa inovasi, ide-ide dan kreatifitas tidak pernah diterapkan. Kreativitas menciptakan solusi untuk masalah dan inovasi melibatkan pelaksanan. Dalam inovasi produk, banyak tantangan yang di hadapi organisasi yang sama dalam proses yang kreatif yang hadir, dan manajemen memainkan peranan penting. Kreatifitas juga merupakan sebuah

(10)

proses di mana inovasi adalah hasilnya, tapi kreativitas dan inovasi saling terkait.

(Gupta, 2007).

Menurut Kotler (2002) wujud produk yang dapat di klasifikasikan ke dalam dua kelompok utama, yaitu:

a. Barang

Barang merupakan produk yang berwujud fisik ,sehingga dapat dilihat ,diraba atau disentuh, dirasa, dipegang, disimpan, dipindahkan, dan perlakukan fisik lainnya.

b. Jasa

Jasa merupakan aktivitas, manfaat dan kepuasan yang ditawarkan untuk dijual (dikonsumsi pihak lain). Kotler (2002) juga mendefinisikan jasa sebagai berikut: Jasa adalah setap tindakan atau kegiatan yang data ditawarkan oleh suatu pihak ke pihak lain, yang pada dasarnya tidak berwujud dan tidak mengakibatkan kepemilikan apapun. Produknya dapat dikaitkan atau tidak di kaitkan dengan suatu produk fisik.

2.5.1 Kategori inovasi produk

Inovasi produk dapat meliputi beberapa kategori (Stamm,2008). yaitu;

a. Produk baru yang menciptakan pasar baru secara keseluruhan (new to the world products)

b. Produk baru yang memungkinkan perusahaan untuk masuk dan membangun pasar untuk pertamakalinya (new product lines)

c. Produk baru yang melengkapi kini produk yang telah ada (addition to existing product lines)

d. Produk baru yang menyajikan perbaikan kinerja atau nilai yang dirasakan oleh pelanggan lebih besar yang menggantikan produk yang ada (improvements in revision to existing products)

e. Produk yang sudah ada namun ditargetkan ke pasar atau segmen yang baru (repositionings)

f. Produksi baru yang menyajikan produk yang sama tetapi dengan harga yang lebih rendah (cost reductions)

(11)

2.6 Tahapan-tahapan Pengembangan Produk

Menurut Stamm, (2008) ada beberapa langkah yang harus ditempuh dan diikuti untuk bisa melakukan pengembangan produk yaitu sebagai berikut:

1. Analisa Awal

Pada tahap analisa awal ini dilakukan pengidentifikasian target kebutuhan pasar, pengevaluasian konsep-konsep produk dan pemilihan saru atau lebih konsep yang akan digunakan dalam pengembangan produk.

2. Mendefinisikan

Pada tahap ini akan di bahas lebih lanjut mengenai definisi arsitektur atau konstruksi produk dan menguraikan produk menjadi subsistem-subsistem serta komponen-komponen. Gambaran perakitan akhir untuk sistem produksi biasanya di jelaskan dalam proses ini. Output yang dihasilakan dalam proses ini biasanya mencakup tata letak bentuk produk, spesifikasi bentuk produk secara fungsional dari subsistem produk serta diagram aliran proses pendahuluan untuk proses perakitan akhir.

3. Desain

Pada proses ini di lakukan pembahasan mengenai spesifikasi lengkap dari bentuk, material, dan toleransi-toleransi dari keseluruhan komponen produk. Output dari proses ini adalah pencatatan pengendalian untuk produk, seperti gambar tentang bentuk dari tiap komponen produk.

4. Operasi

Proses produksi awal dimana produk di buat dengan menggunakan sistem yang sesungguhnya.

2.7 Proses pengembangan produk baru

Sebuah studi yang berpengaruh bukan hanya untuk proses pengembangan produk tetapi juga untuk produk baru secara umum di lakukan oleh Hamilton (1982) (dalam Stamm 2008, p 40) sebagai berikut:

1. Pemunculan ide

Tahap ini di mulainya dengan munculnya ide-ide baru. Pada tahap ini

(12)

menampung ide-ide tersebut. Seseorang yang ditunjuk oleh pimpinan puncak tersebut bertanggung jawab terhadap ide-ide produk yang ditampung dengan tujuan pengembangan lebih lanjut. Banyak sumber ide untuk konsep layanan baru dan sumber ide dapat diperoleh dari pendapat para konsumen.

2. Penyaringan dan evaluasi

Tahap penyaringan ide terdiri atas sejumlah aktivitas yang dirancang untuk mengevaluasi suatu konsep produk baru. Konsekuensinya, akan ada banyak informasi yang diperoleh dalam tahap penyaringan dapat membantu pihak manajemen untuk: (1) mengambarkan tingkat permintaan potensial, (2) menentukan peluang keberhasilan produk,.

Kegiatan-kegiatan penyaringan dapat meliputi studi potensi pasar (market potential studies), pengujian konsep (concept test), dan model scoring (scoring model). Dalam penyaringan ide, perusahaan harus menghindari dua jenis kesalahan. Yang pertama adalah menolak ide yang sesungguhnya bagus, dan yang kedua adalah menerima dan meneruskan ide yang buruk ke tahap pengembangan dan komersialisasi. Dalam hal ini, kita dapat membedakan tiga jenis kegagalan produk. Pertama, kegagalan produk yang absolute, yaitu kegagalan yang dapat menimbulkan kerugian, dimana penjualan tidak dapat menutupi biaya variabel. Kedua, kegagalan produk yang bersifat parsial, di mana ini menimbulkan kerugian tetapi penjualannya dapat menutupi biaya variabel dan sebagian biaya tetap.

Sedangkan yang ketiga, kerugian produk relative adalah jenis kegagalan produk yang memberikan laba yang lebih kecil daripada sasaran tingkat pengembalian yang diharapkan perusahaan. Tujuan penyaringan ide adalah untuk menolak ide-ide buruk sedini mungkin. Jika manajemen beranggapan bahwa mereka tlah melakukan banyak investasi dalam produk tersebut, sehingga produk itu harus diluncurkan untuk mengembalikan investasi yang telah dikeluarkan. Padahal seseungguhnya ide awalnya bukanlah ide bagus, Karena itu situasi ini dapat menimbulkan kerugian besar bagi perusahaan.

3. Analisa bisnis

(13)

analisa bisnis adalah untuk mendapatkan gambaran sekomprehensif mungkin tentang dampak finansial yang dapat diperoleh dari memperkenalkan suatu produk baru. Sejumlah ukuran( seperti biaya, laba, Return On Investment, dan arus kas) digunakan, demikian pula metode- metode seperti analisis payback period, break even analysis dan risk analysis. Analisis bisnis membutuhkan informasi rinci mengenai biaya manufaktur, biaya pemasaran, tingkat penjualan yang diperkirakan, dan tingkat kemungkinan kanibalisasi produk. Evaluasi finansial untuk produk baru lebih kompleks di bandingkan produk yang sudah mapan. Hal ini terjadi karena sejumlah faktor, di antaranya rentang waktu, kemungkinan kanibalisasi, dari kebutuhan akan investasi. Dalam hal rentang waktu misalnya penjualan dan biaya untuk produk baru seringkali sangat bervariasi sepanjang waktu. Jarang sekali ada produk baru yang langsung diadopsi konsumen. Konsekuensinya, biaya pemasaran pada tahun pertama akan sangat besar dibandingkan tahun-tahun berikutnya, oleh Karena adanya tuntutan kebutuhan untuk menciptakan awareness dan insentif untuk distribusi produk serta product trial. Selain itu, jika produk baru mengkanibalisasi penjualan produk yang sudah ada atau memanfaatkan fasilitas produksi dan atau pemasaran yang sama dengan produk saat ini, maka hanya penjualan dan biaya incremental saja dari produk baru bersangkutan saja yang boleh diperhitungkan dalam mengevaluasi kontribusi laba produk baru tersebut.

4. Pengembangan

Ide-ide yang menarik harus disempurnakan dengan konsep produk yang dapat diuji. Ada perbedaan ide produk, konsep produk, dan citra produk.

Yang dinamakan ide produk adalah produk yang mungkin ditawarkan dipasaran oleh perusahaan ke pasar. Konsep produk merupakan versi yang lebih rinci dari suatu ide yang dinyatakan dalam istilah yang dimengerti konsumen. Sedangkan citra produk ialah gambaran khusus yang diperoleh konsumen mengenai produk yang masih potensial ataupun yang sudah aktual. Pengembang produk merupakan upaya teknis yang mengubah

(14)

5. Testing/ pengujian

Pada proses ini perusahaan memberikan penilaian yang lebih rinci mengenai peluang sukses produk baru, menguji produk untuk hasil yang maksimal, mengidentifikasi penyesuaian-penyesuaian akhir yang dibutuhkan untuk produk dan menetapkan elemen-elemen penting dalam program pemasaran yang akan digunakan untuk memperkenalkan produk di pasaran.

6. Komersialisasi

Tahap komersialisasi menyangkut pelaksanaan strategi peluncuran (launching strategy) produk baru ke pasar, seperti penentuan timing introduksi produk baru. Timing peluncuran produk baru merupakan aspek krusial, baik dari sudut pandang permintaan pelanggan maupun kompetisi.

Dalam hal permintaan pelanggan, misalnya ada tingkat musiman (seasonality) tertentu dalam kategori produk spesifik. Sementara itu, dalam perspektif kompetisi, apabila diferensiasi produk relatif rendah, maka keputusan untuk secepat mungkin untuk memasuki pasar merupakan pilihan yang strategis. Pemimpin pasar cenderung memperoleh keunggulan dalam hal consumer awareness dan pangsa pasar dalam kasus tersebut (Stamm,2008).

2.8 Perusahaan Keluarga

2.8.1 Definisi Perusahaan Keluarga

Menurut John L.Ward dan Craig E. Aronoff (2002) (dalam Susanto, Wijanarko dan Mertosono ,2007, p 58) , suatu perusahaan dinamakan perusahaan keluarga apabila terdiri dari dua atau lebih anggota keluarga yang mengawasi keuangan perusahaan. Sedangkan menurut Robert G. Donnelley (2002) ( dalam Susanto, Wijanarko dan Mertosono ,2007, p 58). Suatu organisasi dinamakan perusahaan keluarga apabila paling sedikit ada keterlibatan dua generasi dalam keluarga itu dan mereka mempengaruhi kebijakan perusahaan. Dengan demikian tidak heran jika nilai-nilai perusahaan keluarga identik dengan nilai-nilai keluarga pemiliknya, baik dilihat dari tradisi informal organisasi maupun dari publikasi formal perusahaan.

(15)

Menurut Susanto, Wijanarko dan Mertosono (2007), ada dua jenis perusahaan keluarga yang dapat di jelaskan disini:

1. Family Owned Enterprise (FOE) adalah perusahaan yang di miliki oleh keluarga tetapi di kelola oleh eksekutif professional yang berasal dari luar liingkaran keluarga.

2. Family Business Enterprise (FBE) adalah perusahaan yang dimiliki dan di kelola oleh anggota keluarga sendiri. Perusahaan keluarga yang dicirikan terutama dengan kepemilikan dan kerterlibatan yang signifikan dari keluarga dalam manajemen. Dengan sendirinya anggota keluarga akan mengantisipasi bahwa kepemimpinan dan pengawasan dilakukan oleh keluarga dan akan diturunkan pada generasi penerus. Pengambilan keputusan dan kebijakan, penyusunan strategi dan kegiatan bisnis sehari- hari dilakukan oleh keluarga. Kepemilikan dari keluarga terjadi kalau suatu keluarga memiliki semua porsi pengawasan perusahaan dan berperan aktif dalam menetapkan strategi dan menjalankan bisnis setiap hari.

2.8.2 Karakteristik Perusahaan Keluarga

Berikut ini beberapa karakteristik lain dari perusahaan keluarga (Susanto, Wijanarko dan Mertosono, 2007), yaitu :

a. Keterlibatan anggota keluarga

Jika sejak kecil anak-anak sudah di magangkan, maka keterlibatannya tinggi, sehingga komitmen terhadap bisnis juga tinggi.

b. Lingkungan pembelajaran yang saling berbagi

Bisnis selalu menjadi topik pembicaraan dalam pertemuan keluarga, sehingga jiwa bisnis mereka sudah meresap dan mendarah daging, dan kurva pembelajaran menjadi lebih cepat bagi mereka.

c. Tingginya saling keterandalan

Setiap anggota keluarga yang bekerja dalam satu peusahaan dapat saling mengandalkan karena adanya rasa saling percaya.

d. Kekuatan emosi

(16)

Anggota keluarga lebih memiliki komitmen jangka panjang terhadap bisnisnya, dan cenderung loyal terhadap visi, misi dan nilai-nilai pendiri.

e. Kurang formal

Perusahaan keluarga ini dikelola oleh anggota keluarga sendiri tanpa menggunakan pekerja yang professional dan semua pekerjaan dikerjakan oleh anggota keluarga.

f. Kepemimpinan ganda

Intervensi pihak keluarga terhadap kepemimpinan perusahaan tetap tinggi meskipun sudah ada eksekutif dan professional, yang dapat membingungkan anak buah.

2.8.3 Kekuatan Perusahaan Keluarga

Menurut Ward (dalam Susanto, Wijanarko dan Mertosono 2007, p 61) perusahaan keluarga memiliki beberapa keuntungan di bandingkan dengan jenis perusahaan lainnya. Adapun beberapa kekuatan perusahaan keluarga adalah sebagai berikut:

1. Tingginya tingkat kemandirian (Independence of action)

Artinya hanya sedikit atau bahkan tidak ada tekanan dari bursa saham (stock market) serta resiko yang kecil terhadap pengambilalihan perusahaan, juga terdapat financial benefit-keuangan adalah milik keluarga yang tidak dapat dibagi dengan pemegang saham atau perusahan lain.

2. Budaya perusahaan

Kultur budaya merupakan suatu kebanggaan tersendiri yang menunjukkan adanya stabilitas, identitas, motivasi, komitmen yang kuat serta kontinuitas dalam kepemimpinan. Perusahaan keluarga yang mampu bertahan dan mempunyai knowledge of business yang bagus tentu mempunyai jiwa kewirausahaan (entrepreneurship) yang luar biasa.

3. Reinvestasi profit sesuai kesepakatan

Adanya kemauan untuk menginvestasikan kembali profit sesuai kesepakatan bersama untuk mengembangkan perusahaan.

(17)

4. Manfaat-manfaat secara finansial berupa kemungkinan memperoleh sukses yang besar

5. Pelatihan dan pengetahuan bisnis

Anggota keluarga sudah dari awal memperoleh latihan dari keluarga tentang pengelolaan perusahaannya.

6. Birokrasi yang kecil

Birokrasi yang kecil dan flexible dengan mengedepankan cooperate governance dan sistem akuntabilitas, serta jelasnya sistem tanggung jawab.

2.8.4 Kelemahan Perusahaan Keluarga

Perusahaan keluarga juga memiliki beberapa kerugian/ kelemahan (Susanto, Wijanarko dan Mertosono 2007) seperti :

a. Perusahaan keluarga adalah organisasi yang membingungkan

Besarnya pengaruh anggota keluarga akan mempengaruhi anggota keluarga lainnya seperti peran istri/suami organisasi, bila istri/suami duduk dalam organisasi, tidak menjadi masalah, tetapi bilamana istri/suami diluar organisasi ikut mengatur, maka akan terjadi organisasi yang membingungkan (confusing organization).

b. Dominasi keluarga dalam perusahaan

Adanya dominasi keluarga dalam perusahaan, dimana alasan- alasan keluarga mengalahkan logika bisnis (family reason over business logic); sistem penghargaan yang tidak adil, dan kesulitan menarik manajemen professional.

c. Sindrom anak manja (spoiled child syndrome)

Dalam perusahaan keluarga toleransi terhadap anggota keluarga yang tidak kompeten, misalnya terhadap cucu kesayangan atau yang berkaitan dengan crown prince atau princess sebagai calon pengganti.

d. Terjadinya milking the business

Satu hal yang mungkin menyimpang terjadi didalam perusahaan keluarga adalah milking the business, yaitu anggota keluarga yang sangat

(18)

keperluan lain atau pribadi. Isu-isu keuangan lain yang merupakan kerugian sebagai perusahaan keluarga adalah akses yang terbatas di pasar modal, adanya ketidakseimbangan antara kontribusi dan kompensasi.

Menurut Ward (dalam Susanto, Wijanarko dan Mertosono 2007, p 75) menambahkan beberapa kerugian lain dari bisnis bersama anggota keluarga yaitu:

a. Potensi munculnya konflik

b. Munculnya kekecewaan ketika tujuan pribadi tidak tercapai c. Terlalu banyak masalah finansial

d. Hilangnya privacy sebagai akibat publisitas di masyarakat e. Rentan terhadap kritik dari luar keluarga

Ada beberapa dimensi dalam perusahaan menjadi sebuah kekuatan atau justru menjadi kelemahan bergantung kepada :

a. Seberapa jauh batasan-batasan antar bisnis dan keluarga di kelola b. Efektifitas masing-masing sistem

c. Seberapa jauh adaptibilitas dan pembelajaran dihalangi atau di dorong

(19)

2.9 Kerangka Berpikir

Gambar 2.2 Kerangka Berpikir Sumber : Stamm, (2008, p.109) Pengembangan produk furniture pada perusahaan keluarga PT Multi Modern

Nusantara

Tahapan Pengembangan Produk Baru:

1. Pemunculan ide

Ide yang bersifat baru dan fresh 2. Penyaringan dan evaluasi Pemilihan ide-ide potensial 3. Analisa bisnis

Analisis market dan lingkungan bisnis 4. Pengembangan

Pengembangan ide menjadi produk 5. Testing/ pengujian

Pengujian atas produk baru 6. Komersialisasi

Memasarkan produk pada market

Referensi

Dokumen terkait

Menurut Veronika Whardana (2009, p. 3), “display merupakan fasilitas untuk memamerkan sebuah produk atau tampilan yang dipamerkan dalam toko untuk membuat suatu ruangan

Sengketa pajak dapat berupa sengketa pajak formal maupun sengketa pajak material, yang dimaksud dengan sengketa pajak formal yaitu sengketa yang timbul apabila Wajib Pajak

Selain itu, value relevance digunakan untuk mengkaji apakah laporan keuangan yang dihasilkan oleh perusahaan menghasilkan informasi akuntansi berkualitas tinggi yang

Suatu proyek konstruksi yang berskala besar dituntut adanya manajemen yang baik agar menghasilkan hasil yang sesuai dengan yang diharapkan, di mana proyek merupakan suatu

2.6.1 Metode Persentase Penyelesaian (Percentage-of-Completion Method) Berdasarkan sifat usahanya, pengakuan pendapatan pada usaha jasa konstruksi dilakukan

Berdasarkan studi yang dilakukan menyatakan bahwa value relevance informasi akuntansi yang tinggi dapat diindikasikan dengan adanya hubungan yang erat antara EPS dan BVPS

untuk kayu masif dan 16% untuk produk-produk kayu yang dilem; serta batas bawah kadar air setimbang tahunan rerata adalah 6%. b) Nilai tahanan acuan berlaku untuk kondisi

Sejalan dengan itu, maka struktur dari Corporate Governance menjelaskan distribusi hak-hak dan tanggung jawab dari masing - masing pihak yang terlibat dalam sebuah bisnis, yaitu