STUDI EKSPERIMENTAL ENERGI BANGKITAN
VIBRATION ENERGY RECOVERY SYSTEM (VERS) GENERASI II DAN PENGARUHNYA TERHADAP PERFORMA SUSPENSI MOBIL ISUZU PANTHER
Satria Ugahari Jurusan Teknik Mesin
Institut Teknologi Sepuluh Nopember
Jl. Arief Rahman Hakim, Kampus Sukolilo, Surabaya Jawa Timur, Indonesia
Telp. (031) 5946230, Fax. (031) 5922941, E-mail: [email protected] Abstrak
Aktivitas mobil memiliki beberapa potensi energi yang bisa dikonversi menjadi energi listrik.
Berdasarkan penelitian oleh Profesor Lei Zuo dari University of Stony Brook, hanya 16% dari energi bahan bakar yang terpakai untuk menjalankan kendaraan, sedangkan sisanya terbuang dalam bentuk energi kinetik, panas dan vibrasi. Alat yang sedang kami kembangkan menggunakan prinsip memanfaatkan kembali energi vibrasi yang terbuang saat sistem suspensi kendaraan bekerja. Pada tugas akhir ini akan dilakukan studi eksperimental karakteristik energi bangkitan VERS hasil rancang bangun pada kendaraan uji ketika melewati suatu profil jalan tertentu. Perhitungan dan pengukuran energi bangkitan dilakukan pada saat sistem suspensi pada gardan belakang diinstalasikan VERS. Kemudian dilakukan juga pengujian karakteristik generator, pengujian karakteristik VERS, serta studi performa sistem suspensi dengan membandingkan grafik respon sistem suspensi ketika diinstalasikan dengan tidak diinstalasikan VERS. Dari penelitian tugas akhir ini didapatkan voltase bangkitan VERS sebesar 10,6 volt dan arus yang dihasilkan sebesar 0,162 ampere. Dari pengolahan data tersebut didapatkan daya sebesar 1,1016 watt. Disamping itu berdasarkan pengujian dan pengolahan data, nilai koefisien redaman dari VERS adalah sebesar 1,06 kg/s. Sedangkan berdasarkan hasil pengujian karakteristik generator didapatkan hubungan bahwa dengan bertambahnya RPM maka arus dan voltase pun ikut bertambah dan pada uji karakteristik VERS didapatkan bahwa dengan amplitudo dan frekuensi yang semakin besar, maka voltase pun akan semakin besar.
Kata kunci: Energy harvesting, voltase bangkitan, sistem suspensi mobil, gear box, pengukuran
1. Pendahuluan
Hukum kekekalan energi mengatakan bahwa energi tidak dapat dibuat dan energi tidak dapat dihancurkan, energi hanya bisa diubah dari satu bentuk ke bentuk lain.
Berangkat dari hukum tersebut, dapat disimpulkan bahwa manusia tidak akan kekurangan energi sampai akhir masa.
Namun, saat ini isu yang berbanding terbalik dengan hukum tersebut yaitu kekurangan energi justru timbul ke permukaan. Isu tersebut timbul karena kekurang siapan kita dalam memanfaatkan segala bentuk energi yang beredar dalam kehidupan. Sejak revolusi industri manusia sudah menetapkan sebuah sumber energi yang sebenarnya jumlahnya sangat terbatas. Akibatnya energi
menjadi semakin mahal dari waktu ke waktu dan terasa makin menipis. Mulailah manusia mengenal suatu usaha dalam melakukan proses untuk mendapat energi dari sumber lain seperti matahari, termal, angin, gradien salinitas, atau energi kinetis. Lalu dengan suatu mekanisme yang dikembangkan sedemikian rupa dapat menangkap dan menyimpan energy tersebut untuk digunakan dalam pemenuhan kebutuhan perangkat kebutuhan manusia. Kegiatan ini disebut dengan memanen energi (energy harvesting). Sejak beberapa dekade lalu manusia mencoba untuk mengeksplorasi kemungkinan pemanenan energi ini untuk memanfaatkan energi yang terbuang
dari aktivitas sehari-hari. Aktivitas sehari- hari itu antara lain adalah aktivitas berjalan, transportasi, olah raga, hiburan, ekspedisi, dan kegiatan-kegiatan lain yang umum dilakukan manusia walau pemanenan masih dilakukan dalam skala kecil. Sumber- sumber energi yang biasa dipakai dalam memanen energi ini antara lain adalah radiasi ambien, biomekanik, piezoelektrik, piroelektrik, termoelektrik, elektrostatik, biofuelcell (gula darah atau glukosa), aktivitas metabolisme pepohonan, polimer elektroaktif, atau generator mini.
Contoh produk yang telah umum diketahui dari kegiatan memanen energi tersebut adalah senter atau alat penerangan darurat yang memiliki sumber energi dari gerakan tangan. Prinsip dari senter ini pada intinya adalah getaran (vibrasi). Energi genggaman tangan yang berulang tersebut merupakan energi yang dimanfaatkan untuk menggenerisasi cahaya senter. Contoh lain adalah pemanfaatan energi potensial tekanan akibat berat mobil sebagai sumber pencahayaan dari penanaman piezoelektrik di jembatan dan polisi tidur. Tenaga yang kita dapatkan dari berat mobil tersebut bisa dimanfaatkan sebagai energi pada lampu penerangan jalan yang dilalui oleh mobil.
Berbeda dengan kedua contoh di atas, tugas akhir ini akan membahas mengenai gerak relatif naik-turun suspensi yang akan ditangkap oleh sebuah alat terpisah dan dikonversi menjadi energi listrik. Alat pemanen energi yang akan dikembangkan ini memanfaatkan gerak naik-turun suspensi yang kemudian dikonversi menjadi gerak rotasi. Gerak rotasi ini akan dilipatgandakan melalui gear box dan dihubungkan ke generator sehingga menghasilkan listrik.
Alat ini dinamakan Vibration Energy Recovery System (VERS).
2. Dasar Teori
Sistem Massa Pegas Sederhana
Contoh sistem getaran yang paling sederhana dapat dilihat pada gambar 2.8.
Sebuah pegas yang menunjang massa dianggap mempunyai massa yang dapat diabaikan dan mempunyai konstanta kekakuan k. Sistem mempunyai satu derajat
kebebasan karena gerakannya digambarkan oleh koordinat x saja. Hukum Newton kedua adalah hukum pertama untuk menganalisis gerak sistem ini. Seperti yang ditunjukkan pada gambar , perubahan bentuk pegas pada posisi kesetimbangan statik adalah Δ dan gaya pegas, kΔ adalah sama dengan gaya gravitasi w yang bekerja pada massa m.
Gambar 1 Sistem massa pegas sederhana
Dimana, kΔ = w kΔ = m·g
Dengan memberi simpangan x dari posisi kesetimbangan statik, gaya- gaya yang bekerja pada massa m adalah k (Δ+x) dan w. Dengan mengambil gerakan ke arah bawah adalah positif, maka persamaan gerak menjadi :
Σ F = m⋅x
w- k (Δ+x) = m⋅x
k.Δ - k (Δ+x) = m⋅x
x
m⋅ + k·x = 0
dengan x diasumsikan sebagai berikut:
x = A sin ωt
t x=ωcosω
t A x=−ω2 sinω maka persamaan gerak menjadi :
t kA t A
mω2 sinω = sinω
m k
n2 = ω
atau m k
n =
ω
dengan A dan B adalah konstanta yang diberikan dari kondisi awal x(0) danx(0), sehingga persamaan menjadi :
t x
x t
x n n
n
ω ω sinω (0)cos
) 0
( +
=
Gerak Harmonik
Gerak osilasi dapat berulang secara teratur, seperti pada roda pengimbang arloji atau juga sangat tidak teratur seperti pada gempa bumi. Jika gerak tersebut berulang dalam selang waktu yang sama (τ ), maka disebut gerak periodik. Waktu pengulangan
τ disebut periode osilasi dan kebalikannya, τ
= 1
f yang disebut frekuensi
Bentuk gerak periodik yang paling sederhana adalah gerak harmonikHal ini dapat diperagakan dengan sebuah massa yang digantung pada sebuah pegas seperti terlihat pada gambar 2.7. Jika massa tersebut dipindahkan dari posisi diam dan dilepaskan, maka massa tersebut akan berosilasi naik turun. Dengan menempatkan suatu sumber cahaya pada massa yang berosilasi, maka geraknya dapat direkam pada suatu keping film peka cahaya yang bergerak pada kecepatan konstan.
Gambar 2 Rekaman Gerak Harmonik Gerakan yang terekam pada film dapat dinyatakan oleh persamaan :
πτt A
x= sin2
Dengan A adalah amplitudo atau simpangan terbesar diukur dari posisi setimbang dan,τ adalah periode. Gerak diulang pada t = τ .
Gerak harmonik sering dinyatakan sebagai proyeksi suatu titik yang bergerak melingkar dengan kecepatan konstan terhadap suatu garis lurus seperti ditunjukkan pada gambar 2.14. Dengan kecepatan sudut garis op sebesar ω, perpindahan simpangan x dapat dituliskan sebagai :
x = A sin ωt
Besaran ω diukur dalam radian per detik dan disebut frekuensi lingkaran. Karena
gerak berulang dalam 2π radian, maka didapat hubungan :
πf τ ω= 2π =2
Kecepatan dan percepatan gerak harmonik dapat diperoleh secara mudah dengan menurunkan persamaan sehingga didapat :
t A
x=ω cosω = )
sin(ω π2 ωA t+ t
A
x=−ω2 sinω = ω2Asin(ωt+π)
Gambar 3 Proyeksi gerak harmonik pada lingkaran
Dalam gerak harmonik kecepatan dan percepatan juga harmonik dengan frekuensi osilasi yang sama tetapi mendahului simpangan berturut-turut dengan π/2 dan π radian. Dari gambar 2.15, terlihat bahwa pada saat simpangan berharga maksimum dan minimum, kecepatan berharga nol dan saat simpangan berharga nol, maka kecepatan
berharga maksimum dan minimum.Sedangkan pada percepatan, ketika
simpangan berharga maksimum, maka percepatan berharga minimum dan sebaliknya ketika simpangan berharga nol maka percepatan juga berharga nol.
Gambar 4 Simpangan, kecepatan, dan percepatan gerak harmonik Getaran Bebas
Bila sistem teredam dengan satu derajat kebebasan mendapat getaran bebas seperti terlihat pada gambar di bawah ini, maka persamaan geraknya adalah :
Gambar 5 Free vibration )
(t F kx x c x
m+ + =
=0 + +cx kx x
m
Solusi umum dapat diberikan oleh : x = e st
Dengan mensubtitusikan persamaan maka diperoleh :
(ms2 +cs +k) est
2 + + =0
m s k m s c
= 0
yang dipenuhi untuk semua nilai t, apabila
Persamaan tersebut dikenal dengan persamaan karakteristik, yang mempunyai dua akar :
m k m c m
s c −
±
−
=
2 2
,
1 2 2
Maka solusi umum persamaan menjadi :
t s t
s Be
Ae
x = 1 + 2
dengan A dan B adalah konstanta- konstanta yang diperoleh dari kondisi awal x (0) dan x(0).
Getaran Paksa
Bila suatu sistem dipengaruhi oleh eksitasi harmonik, maka respon getarannya akan berlangsung pada frekuensi yang sama dengan frekuensi eksitasi. Sumber-sumber eksitasi harmonik bisa berasal dari ketidakseimbangan mesin-mesin yang berputar, gaya-gaya pada mesin torak atau gerak mesin itu sendiri. Mula-mula akan diperhatikan sistem dengan satu derajat kebebasan yang mengalami redaman dan dirangsang oleh gaya harmonik : Fo sin ωt seperti pada gambar 2.12.
Gambar 6 Forced vibration
Dari diagram benda bebasnya, persamaan gerak adalah :
t Fo kx x c x
m+ + = sinω
Solusi persamaan ini terdiri dari dua bagian, yaitu solusi homogen dan solusi partikular. Solusi homogen adalah solusi persamaan getaran bebas pada kondisi transient. Sedangkan solusi pertikular adalah solusi untuk keadaan steady state, dimana solusi partikular dapat diasumsikan :
x = A sin ( ωt -φ)
Dengan A adalah amplitudo dan φ adalah beda fase antara simpangan terhadap gaya eksitasi. Dalam gerak harmonik, fasa kecepatan dan percepatan masing-masing mendahului fasa simpangan dengan 90o dan 180o
Gambar 7 Komponen gaya pada getaran paksa
, maka suku-suku persamaan (2.21) dapat dilihat pada gambar 2.13. Dari diagram itu dapat dilihat bahwa :
(k mωFo2)2 ( )cω 2
A= − +
2
tan 1
ω φ ω
m k
c
= − −
Motion Base Analysis
Getaran pada sistem suspensi kendaraan adalah salah satu bentuk energi yang belum
termanfaatkan dengan baik.
Oleh karena itu dengan menggunakan persamaan umum getaran pada pemodelan satu derajat kebebasan (1 DoF) akan didapatkan jumlah potensi energi yang terkandung dalam gerak vibrasi kendaraan.
Gambar 8 Pemodelan single degree of freedom dari suspensi mobil (1 roda)
Berdasarkan gambar di atas, persamaan yang telah didapatkan sebelumnya pada persamaan 2.15.akan berubah menjadi persamaan baru karena mendapatkan inputan baru dari profil jalan yang dilambangkan dengan y(t). Persamaan tersebut adalah:
𝑚𝑚𝑥𝑥̈ + 𝑐𝑐𝑥𝑥̇ + 𝑘𝑘𝑥𝑥 = 𝑐𝑐𝑦𝑦̇ + 𝑘𝑘𝑦𝑦 𝑚𝑚𝑥𝑥̈ + 𝑐𝑐(𝑥𝑥̇ − 𝑦𝑦̇) + 𝑘𝑘(𝑥𝑥 – 𝑦𝑦) = 0 dimana: m = ¼ massa kendaraan
c = konstanta redaman k = konstanta pegas
Nantinya, untuk mendapatkan jumlah potensi energi yang terkandung dalam gerak vibrasi pada sistem suspensi kendaraan perlu dilakukan simulasi pada Simulink Matlab dengan mendapatkan transfer function dari persamaan terlebih dahulu.
Prinsip Flux Magnet
Ada beberapa metode untuk membangkitkan energi dari gerak berjalan manusia, salah satunya adalah dengan cara induksi elektromagnetik. Induksi Elektromagnetik merupakan penggabungan antara listrik dan magnet. Listrik dan magnet adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan, setiap ada listrik tentu ada magnet dan sebaliknya. Misalnya ada gulungan kawat tembaga dan pada gulungan tersebut kita alirkan listrik, maka akan timbul medan
magnet, sebaliknya apabila kita menggerakkan magnet dekat gulungan tersebut, akan timbul listrik dalam gulungan tersebut. Penerapan dari konsep induksi lektromagnetik salah satunya adalah generator. Alat ini mengubah energi mekanik atau kinetik menjadi energi listrik. Prinsip kerja generator ada dua macam, antara lain :
a. Kumparan berputar di dalam suatu medan magnet
b. Magnet berputar di antara beberapa kumparan
Energi kinetik pada dinamo atau generator dapat diperoleh dari putaran roda, angin, air terjun, dan sebagainya. Pada umumnya berdasarkan arus yang dihasilkan, generator dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu generator AC (arus bolak- balik) dan generator DC (arus searah).
Gambar 9 Kumparan berputar didalam suatu medan magnet pada generator (a) AC (b) DC.
(sumber : Dede Djuhana)
Prinsip kerja generator DC sama dengan generator AC. Namun, pada generator DC arah arus induksinya tidak berubah. Hal ini disebabkan cincin yang digunakan pada generator DC berupa cincin belah (komutator).
m x(t
y(t)
z(t) k c
(b) (a)
Konstanta Redaman
Pada sistem satu derajat kebebasan terdapat tiga parameter, yaitu massa m, Konstanta redaman c, dan konstanta pegas k.
Dari ketiga parameter tersebut konstanta redaman adalah yang tersulit dalam penghitungannya. Massa dapat diperoleh dengan menimbang, konstanta pegas didapat dengan cara menarik pegas dengan gaya tertentu. Nilai konstanta redaman dapat dicari dengan dua cara :
a. Persamaan Logaritmic Decreament Dengan mengetahui besarnya logaritic decreament pada sistem, maka besarnya konstanta redaman pada sistem juga dapat diketahui
Gambar 10 Sistem dengan satu derajat kebebasan berperedam
Gambar 11 Hasil eksperimen dari respon sistem teredam
Pada gambar 2. 18 dengan mengasumsikan kurva adalah representasi dari persamaan
) cos(
)
(t =Ce−ζω ω t−φ
x nt d
Dengan t sebagai waktu pada saat puncak pertama dan kedua, menunjukkan perpindahan puncak yang dimaksud sebagai
x1 dan x2, dan membentuk rasio :
− =
= −
= −−
) cos(
) cos(
) (
) (
2 1 2
1 2 1
2 1
φ ω
φ ω
ζω ζω
t Ce
t Ce
t x
t x x x
d t
d t
n n
) cos(
) cos(
2 1 2
1
φ ω
φ ω
ζω ζω
−
−
−
−
t e
t e
d t
d t n
n
dimana :
2
2πω
=
T adalah periode dari osilasi teredam lalu karena
1 ζ2
ω ωd = n − maka akan diperoleh :
=
2 1
x x
1 2
2πζ −ζ
e
Jika kedua ruas di logaritma naturalkan :
2 2 1
1 ln 2
ζ δ πζ
= −
= x x
δ dikenal dengan logarithmic decrement. Persamaan diatas dapat juga dituliskan dalam bentuk
2
)2
2
( π δ ζ δ
= +
Dari grafik Simpangan vs Waktu akan diperoleh harga x1 dan x2
2
)2
(
4π δ ζ δ
= +
, kemudian nilai tersebut dimasukkan pada persamaan logaritmic decreament, dimana :
dimana : ζ= damping ratio δ=
logaritmic decreament = ln
1 2
x x
Dari nilai damping ratio dapat dicari besarnya konstanta redaman dari system dimana
km c Cc
c
= 2 ζ =
dengan k adalah konstanta pegas (N/m) dan m adalah massa benda (kg).
b. Persamaan Gerak
Pada penelitian ini redaman sistem dapat dicari dengan menggunakan persamaan gerak berikut ini:
𝑤𝑤. 𝐿𝐿 = 𝐶𝐶𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡 .φ̇
𝐶𝐶𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡 =𝑤𝑤. 𝐿𝐿
φ̇
𝐶𝐶𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡 =𝑤𝑤. 𝐿𝐿 𝑣𝑣�𝐿𝐿 𝐶𝐶𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡 𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡 =𝑤𝑤. 𝐿𝐿2 Dimana, 𝑣𝑣
w = berat benda
𝐶𝐶𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡𝑡 = konstanta redaman sistem
(kg/s)
φ̇ = kecepatan sudut turun VERS (rad/s)
L = panjang lengan VERS
v = kecepatan turun dari alat (m/s) Redaman yang terdapat dalam Tugas Akhir kali ini berupa redaman pada sistem suspensi dan redaman dari alat yang kami rancang bangun (VERS).
3. Metodologi
Uji Karakteristik Generator
Pada tugas akhir ini eksperimental yang ingin dilakukan adalah melakukan uji karakteristik generator, pencarian koefisien redaman VERS, melakukan uji karakteristik VERS, dan pengujian mekanisme VERS pada suspension tester. Berikut merupakan skema dari eksperimental yang akan dilakukan.
Gambar 12 Model pengambilan data karakteristik generator Keterangan :
1. Power DC Supply 2. DC Motor
3. Titik Timbul 4. DC Generator 5. Multi-meter
6. Digital Tachometer
Pencarian Koefisien Redaman (c) VERS
Gambar 13
Uji Karakteristik VERS
Uji karakteristik VERS dilakukan guna mendapatkan karakteristik dari VERS ketika mendapat beragam eksitasi dan amplitude.
Dari pengujian ini akan didapatkan 9 grafik yang \nantinya akan mampu menjelaskan fenomena yang terjadi dan akan divalidasi oleh sebuah persamaan.
Pengujian Mekanisme VERS Pada Suspension Tester
Tahap pengambilan data atau pengujian dilakukan di VEDC Malang. Hal ini
garis referensi 0.5 cm dari posisi jaw
F
jaw telah menyentuh garis referensi
dilakukan untuk mendapatkan profil gelombang jalan sinusoidal.
Analisa yang dilakukan dari pengujian ini adalah berdasarkan grafik respon suspensi tanpa VERS yang dibandingkan dengan grafik respon suspensi dengan VERS untuk melihat performa suspensi.
4. Hasil Eksperimental
Dengan menjalankan penelitian sesuai skema yang telah dipaparkan pada metodologi akan didapatkan berbagai data sebagai berikut:
Dari hasil pengujian karakteristik generator, didapatkan grafik yang linear dari perbandingan antara voltase (volt), arus (ampere) dengan putaran (rpm).
Pada uji karakteristik VERS, pengambilan data dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui karakteristik Vibration Energy Recovery System (VERS).
Pengambilan data yang pertama dilakukan untuk mengetahui voltase bangkitan VERS terhadap variasi amplitudo (1 cm, 2 cm, 3 cm) terhadap 10 kali eksitasi dalam 3 frekuensi yang berbeda yaitu cepat, sedang, lambat. Dari situ didapatkan contoh grafik sebagai berikut:
Gambar. Contoh grafik perbandingan voltase bangkitan dengan frekuensi
Untuk selengkapnya pada tabel 3 dimensi di bawah akan dijelaskan hubungan antara variasi frekuensi, amplitude dengan voltase bangkitan.
0 5 10 15 20 25
0 200 RPM400 600
voltageV
0 0.5 1 1.5 2 2.5
0 200 400 600
RPM current
Dari tabel tersebut dapat disimpulkan bahwa dengan semakin besar amplitude, semakin besar frekuensi, maka voltase bangkitan pun akan semakin besar juga.
Dari Grafik yang terlihat di atas, tampak bahwa daya yang mampu dihasilkan tidak cukup besar. Hal ini dikarenakan arus yang dihasilkan sangat kecil walapun voltase yang dibangkitkan oleh alat cukup besar. Voltase maksimum yang dibangkitkan oleh alat adalah sebesar 10,6 volt dan arus yang dihasilkan sebesar 0,162 ampere, sehingga daya yang dihasilkan hanya sebesar 1,1016 watt. Hal ini sesuai dengan persamaan = 𝑣𝑣 𝑡𝑡 , yang menjelaskan bahwa walaupun voltase yang dibangkitkan besar, namun jika arusnya sangat kecil maka akan berdampak pada keluaran daya yang kecil.
5. Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengujian karakteristik generator didapatkan hubungan bahwa dengan bertambahnya RPM maka arus dan voltase pun ikut bertambah.
Berdasarkan pengujian dan pengolahan data, nilai koefisien redaman dari VERS adalah sebesar 10,6 Nm/s.
Dari pengolahan data yang telah dilakukan, didapatkan daya maksimum yang mampu dihasilkan oleh VERS adalah sebesar 1,1016 watt.
Berdasarkan hasil pengujian karakteristik VERS didapatkan hubungan antara voltase, frekuensi dan amplitude sebagai berikut:
0,75 Hz 11,4 17,2 18,8
Daftar Pustaka
1. Zuo, Lei dkk. 2010. Design And Characterization Of An Electromagnetic Energy Harvester For Vehicle Suspension. New York State University, USA.
2. Wulandari, Diah dkk. 2010. Studi Pemanfaatan Teknologi Kinetic Energy Recovery System Pada Sepeda Motor untuk Meningkatkan Akselerasi.
Seminar nasional pascasarjana X – ITS, Surabaya, Indonesia.
3. Arziti, Marcos. 2010. Harvesting Energy From Vehicle Suspension.
Tempere University of Technology.
Spanyol.
4. Stobart, R K. 2007. An availability approach to thermal energy recovery in vehicles. Proceedings of the Institution of Mechanical Engineers, Part D:
Journal of Automobile Engineering.
5. Boretti, Alberto. 2010. Comparison of Fuel Economies of High Efficiency Diesel And Hydrogen Engines Powering A Compact Car With A Flywheel Based Kinetic Energy Recovery System. School of Science and Engineering, Univeersity of Ballarat, Victoria, Australia.
6. Deutschman, Aaron D. 1975. Machine Design, Theory and Practice.
Macmillan Publishing Co., Inc.: New York, USA.
7. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (DESDM), 2006. Statistik Ekonomi Energi Indonesia 2006.
Jakarta, Indonesia.
0 0.84 20 40
1 2 3
Freq Voltage (volt) (Hz)
Amplitude (cm)
0 0.5 1 1.5
0 5 10 15
-3 2 7 12
Current (mA) / Power (mW)
Voltage (volt)
t (second)
1 cm 2 cm 3 cm
1,5 Hz 19,8 19,4 24,6
1,25 Hz 11,8 17,6 19,4