IRADIASI SINAR GAMMA DAN KARAKTERISASI MORFOLOGI SECARA IN VITRO
(INDUCED MUTATION OF PROTOCORM LIKE BODIES (PLB) OF Spathoglottis plicata Blume. ORCHID ACCESSION BENGKULU THROUGH GAMMA IRADIATION AND MORPHOLOGICAL CHARACTERIZATION OF
IN VITRO CULTURES) Abstract
Spathoglottis plicata Blume is one type of orchids with low level of genetic diversity, especially in flower color compared to the other ochids. The experiment aimed (1) to induce the genetic diversity of S. plicata accession Bengkulu using gamma irradiation to the protocorm like bodies (plbs), (2) to determine a lethal dose 50% (LD50) of plbs through gamma irradiation, and (3) to identify the genetic
variability of S. plicata mutants base on morphological characters of vegetative growth phase during in vitro culture. The experiment used Completely Randomized Design with 11 doses gamma irradiation (0, 10, 20, 30, 40, 50, 60, 70, 80, 90, and 100 Gy). The result revealed that the increase of genetic variability of orchid plbs after gamma-ray irradiation treatment with doses ranged 30-70 Gy. The LD50 of
percentage of plb survival was 47.71 Gy, seven months after gamma irradiated. The LD50 of percentage of new plb formation was 34.40 Gy. There were some color
changes of plbs produced after gamma irradiation, which were bright purple, albino and chimeric plbs. Beside, the diversity was also produced of plantlets such as variegated green leaves, curly leaves, spiral shaped leaves, variegated purple leaves and albino leaves planlets.
Keywords : Spathoglottis plicata, orchid, mutant, gamma irradiation, variegation, protocorm like bodies
Pendahuluan
Keragaman genetik anggrek Spathoglottis sp. sangat rendah dibandingkan dengan jenis anggrek lain, khususnya untuk bentuk dan warna bunga. Upaya peningkatan keragaman genetik secara konvensional menggunakan teknik persilangan sudah dilakukan oleh Balithi, namun sampai saat ini baru tiga varitas baru yang sudah dilepas oleh menteri pertanian. (Kartikaningrum et al. 2007). Ketiga varietas yang sudah dilepas tersebut masih menjadi koleksi Balithi Segunung dan tanamannya belum bisa didapat pada berbagai tempat penjualan anggrek besar di Indonesia seperti di Taman Anggrek Taman Mini Indonesia Indah maupun di Taman Anggrek Ragunan.
Upaya lain untuk meningkatkan keragaman genetik dapat menggunakan iradiasi sinar gamma (van Harten 2002). Metode mutagenesis merupakan metode cepat yang dapat menghasilkan mutan-mutan yang memiliki keunggulan tertentu. Penggunaan mutagen sinar gamma akan lebih efektif bila menggunakan materi yang tepat, misalnya kalus, planlet, biji, umbi, stek, dan bahan perbanyakan lainnya. Iradiasi pada kalus yang banyak digunakan untuk menciptakan keragaman genetik sudah banyak dilaporkan oleh beberapa peneliti diantaranya adalah iradiasi sinar gamma pada plb dan planlet anggrek Dendrobium cv. Sonia (Sheela et al. 2006). Senevere dan Wijessundara (2007) juga melaporkan keberhasilan induksi mutasi kalus tanaman Firts African Violet (Saintpaulia ionanth) dan telah berhasil mendapatkan mutan warna bunga stabil yang berbeda dibandingkan dengan tipe liarnya. Mutan stabil hasil iradiasi kalus dan tunas mikro pada beberapa jenis tanaman sudah banyak dihasilkan melalui induksi mutasi fisik menggunakan sinar gamma, seperti yang dilaporkan oleh Seneviratne et al. (2002) pada tanaman Didymocarpus humboldtianus dan pada tanaman Crysanthemum (Datta et al. 2005).
Tanaman mandul jantan serta perubahan warna dan bentuk petal dihasilkan setelah dilakukan iradiasi sinar gamma pada umbi tanaman Cyclamen menggunakan dosis 8-16 Gy (Sugiyama et al. 2008). Menurut Aly (2010), mutan Eryngium foetidum L. didapat setelah dilakukan iradiasi dengan dosis antara 0-40 Gy. Peningkatan konsentrasi senyawa fenol dihasilkan pada dosis 40 Gy, konsentrasi flavonol menurun seiring dengan bertambahnya dosis iradiasi, konsentrasi vitamin C,
thiamine, riboflavin dan asam nikotinat bertambah pada dosis iradiasi 10 Gy, demikian pula dengan konsentrasi asam folat, terjadi peningkatan pada konsentrasi 20-40 Gy.
Pendeteksian awal terjadinya mutasi antara lain dapat dilakukan menggunakan penanda morfologi seperti perubahan warna, bentuk dan ukuran dari bahan yang iradiasi (Ismachin 2007). Penanda morfologi umumnya ditujukan pada karakter kualitatif seperti karakter bentuk dan warna akar, batang, daun, bunga, buah, dan biji. Karakter kualitatif dikendalikan oleh gen sederhana (satu atau dua gen) dan sedikit dipengaruhi oleh lingkungan (Talhinhas et al. 2006). Perbedaan karakter morfologi pada organ akar, batang dan daun dapat diamati dengan membandingkannya dengan tanaman kontrol sebagai pembanding (Tjitrosoepomo 2005).
Pengamatan mutan hasil iradiasi pada karakter morfologi secara in vitro juga sering dilakukan sebagai deteksi dini terjadinya mutan. Pengamatan karakter in vitro yang diamati pada kultur ray floret Chrisanthemum yang sudah diradiasi selanjutnya di tumbuhkan pada medium in vitro antara lain adalah persentase pertumbuhan ray floret membentuk kalus dan perkembangannya membentuk embrio, semua perubahan bentuk dan warna kalus maupun planlet diamati secara visual. Perbedaan pada fase kalus umumnya akan berkembang membentuk planlet yang berbeda dengan tipe liarnya. Warna dan bentuk bunga diamati setelah semua planlet hasil iradiasi di aklimatisasi baik yang berbeda karakter vegetatif in vitro maupun tidak (Datta et al. 2005)
Percobaan ini bertujuan untuk menginduksi keragaman genetik anggrek S. plicata aksesi Bengkulu menggunakan iradiasi sinar gamma pada protocorm like bodies (plb), menentukan radiosensitivitas plb menggunakan kriteria lethal dosis 50% (LD50) dan mengidentifikasi keragaman genetik mutan anggrek S. plicata
Bahan dan metode Waktu dan Tempat
Percobaan ini dilakukan di Laboratorium Kultur Jaringan Tanaman Departemen Agronomi dan Hortikultura Fakultas Pertanian IPB, dari bulan Oktober 2008 hingga Februari 2012. Bulan Oktober 2008-Juni 2009 dilakukan produksi liniklon, bulan Juni dilakukan iradisi sinar gamma di PATIR Batan Jakarta menggunakan bahan iradiasi lini klon plb anggrek S. plicata. Bulan Juni 2010 sampai Februari 2012 dilakukan pemeliharan dan pengamatan plb yang telah diradiasi.
Metode Percobaan
Bahan iradiasi yang digunakan adalah lini klon plb anggrek S. plicata yang berumur 6 minggu setelah sub kultur yang keempat, menggunakan medium MS padat dengan penambahan air kelapa sebanyak 75 ml L-1. Setiap botol dipilih plb yang seragam pertumbuhannya sebanyak 25 plb per botol. Botol yang berisi plb selanjutnya diradiasi akut menggunakan alat Irradiator Gamma Chamber 4000A. Laju dosis saat pelaksanaan iradiasi adalah 87.6790 krad/jam dan aktivitas cobalt-60 di dalam iradiator pada bulan Juni 2010 adalah 10029.4965 ci. Perhitungan waktu penyinaran bahan iradiasi di dalam gamma chamber menggunakan rumus :
Waktu penyinaran = 𝑫𝒐𝒔𝒊𝒔 𝑷𝒆𝒓𝒍𝒂𝒌𝒖𝒂𝒏
𝒍𝒂𝒋𝒖 𝒅𝒐𝒔𝒊𝒔 𝑪𝟎−𝟔𝟎 ...(dikonversi ke menit dan detik)
Percobaan menggunakan Rancangan Acak Lengkap. Perlakuannya adalah 11 taraf dosis iradiasi sinar gamma yang terdiri dari : D0 (kontrol) tanpa diradiasi, D1 = 10 Gy (0' 41''), D2 = 20 Gy (1' 22''), D3 = 30 Gy (2' 03''), D4 = 40 Gy (2' 45''), D5 = 50 Gy (3' 59''), D6 = 60 Gy (4' 07''), D7 = 70 Gy (4' 48''), D8 = 80 Gy (5' 29''), D9 = 90 Gy (6' 10''), D10 = 100 Gy (6' 52''). Setiap dosis perlakuan diulang sebanyak 10 kali atau sebanyak 10 botol yang setara dengan 250 plb, sehingga total plb yang diradiasi adalah sebanyak 2 500 plb. Setelah diradiasi plb disub kultur ke medium MS padat dengan penambahan 75 ml L-1 air kelapa berselang seling dengan medium MS dengan penambahan BA 20 μM dan 2% arang aktif dan dikarakterisasi secara in vitro. Skema bagan alir penelitian disajikan pada Gambar 8.
Lini klon plb
S. plicata
Sub Kultur I
Sub Kultur II
Sub Kultur III
PLB dan Plantlet Mutan Data kualitatif Iradiasi sinar gamma (11 dosis) 0 Gy,10 Gy, 20 Gy, 30 Gy, 40 Gy,
50 Gy, 60 Gy, 70 Gy, 80 Gy, 90 Gy,
100 Gy Data kuantitatif Ditampilkan dalam bentuk foto Uji F 5% UJBD 5% Best Curve Fit
Analysis
Gambar 8. Skema bagan alir penelitian induksi mutasi dengan iradiasi sinar gamma pada plb anggrek S. plicata
Pengamatan dilakukan setiap minggu untuk persentase plb hidup, persentase plb mati, dan jumlah plb baru. Sub kultur dilakukan setiap 8 minggu dengan tujuan supaya plb dapat tumbuh baik pada medium yang selalu segar. Pengamatan yang dilakukan pada akhir penelitian terhadap persentase plb hidup, persentase plb mati, persentase plb baru, persentase populasi akhir, dan tinggi planlet.
Data kuantitatif hasil pengamatan dianalisis menggunakan Uji F pada taraf α 5%, bila terdapat pengaruh nyata dianjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan’s (UJBD) pada taraf α 5%. Data persentase plb hidup, persentase plb mati, persentase populasi akhir, dan persentase plb baru dianalisis menggunakan Best Curve Fit Analysis untuk mendapatkan model kurva dan nilai LD50 (Finney dan Philip 2005,
Hasil dan Pembahasan
Hasil uji F terhadap semua data kuantitatif pada 7 bulan setelah diradiasi (bsi) menunjukkan bahwa terdapat pengaruh yang berbeda nyata terhadap semua peubah kuantitatif yang diuji yaitu jumlah plb akhir, jumlah plb baru dan tinggi planlet. Pertumbuhan plb anggrek S. plicata tanpa diradiasi sinar gamma dijadikan kontrol pembanding pertumbuhan dan perkembangan plb yang diradiasi dengan sebelas taraf dosis iradiasi sinar gamma.
Persentase plb hidup pada tanaman kontrol mencapai 99.21% pada 7 bsi dengan jumlah plb akhir mencapai tiga kali lipat. Perlakuan iradiasi sinar gamma dengan dosis 10 – 100 Gy terlihat adanya pengaruh yang sangat signifikan terhadap pertumbuhan dan multiplikasi plb. Semakin tinggi dosis iradiasi sinar gamma, kemampuan hidup plb, pembentukan plb baru, jumlah populasi akhir dan tinggi tanaman semakin rendah. Semakin tinggi dosis iradiasi, pemulihan kerusakan sel akibat paparan dosis sinar gamma juga semakin lama. Jumlah plb anggrek S. plicata yang hidup terus menurun sampai bulan keenam, mulai pada 7 bsi kondisi plb sudah mulai pulih, dapat tumbuh dengan stabil dan mulai terjadi multiplikasi plb. Pertumbuhan dan multiplikasi plb anggrek S. plicata terbaik dapat diketahui dari hasil uji lanjut menggunakan UJBD pada taraf α 5% terhadap semua peubah yang berbeda nyata (Tabel 7).
Plb hanya mampu bertahan hidup sampai dengan dosis sinar gamma 70 Gy. Peningkatan dosis paparan yang lebih tinggi (80-100 Gy) semua plb tidak ada yang mampu bertahan hidup. Plb yang diradiasi sinar gamma 80-90 Gy hanya mampu bertahan hidup sampai umur 2 bulan saja, dengan persentase yang sangat rendah yaitu sekitar 2-3.4%. Plb yang diradiasi sinar gamma 100% hanya mampu bertahan hidup selama 1 bulan, dengan persentase plb hidup 4.8%, pada 7 bsi semua plb menghitam dan tidak yang mampu tumbuh kembali. Kematian plb dapat diamati mulai dari 2 minggu setelah diradiasi, terutama untuk plb yang diradiasi dengan dosis tinggi. Gejala kematian dimulai dengan menguningnya plb, selanjutnya plb menjadi coklat dan menghitam. Massa plb terlihat berwarna hitam sebagai tanda terjadi kematian sel akibat iradiasi sinar gamma. Bila kerusakan sel sangat besar maka plb tidak mampu melakukan pemulihan dan bertahan hidup, sementara untuk sel-sel
yang mampu memulihkan diri akan membelah dan berkembang menjadi plb baru. Sebagian sel-sel telah mengalami perubahan akibat iradiasi selanjutnya akan berkembang menjadi tanaman mutan. Bila hanya sebagian sel saja yang berubah maka akan terbentuk jaringan maupun organ kimera.
Tabel 7. Pengaruh sebelas dosis iradiasi sinar gamma terhadap pertumbuhan dan perkembangan plb pada 7 bsi.
Dosis (Gy) Jumlah plb awal Jumlah plb akhir Jumlah planlet akhir Tinggi Planlet (cm) plb hidup (%) plb mati (%) 0 251 699 a 449 a 7.40 a 99.21 0.79 10 254 496 b 246 b 8.90 a 98.45 1.55 20 260 179 c 55 d 6.40 a 83.97 16.03 30 254 146 c 101 c 5.60 ab 89.60 10.40 40 252 153 d 31 e 5.40 ab 53.17 46.83 50 253 73 d 31 e 4.90 ab 42.97 57.03 60 252 49 d 20 e 3.00 bc 48.41 51.59 70 251 4 e 4 f 2.60 c 1.57 98.43 80 257 0 f 0 g 0 d 0 100 90 253 0 f 0 g 0 d 0 100 100 251 0 f 0 g 0 d 0 100 Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada kolom yang
sama, tidak berbeda nyata pada UJBD pada taraf α = 0.05.
Fenomena yang berbeda untuk jumlah plb yang mampu bertahan hidup terlihat pada dosis rendah. Plb yang diradiasi dengan dosis 10 Gy terlihat mengalami gejala klorosis bahkan nekrosis pada beberapa bagian jaringan plb. Kematian plb terus meningkat sampai bulan ketiga setelah diradiasi, namun sebagian plb mampu bertahan hidup dan pada bulan keempat plb mampu bermultiplikasi membentuk plb baru sehingga pada bulan ketujuh jumlah plb yang terbentuk mencapai dua kali lipat dibandingkan dengan jumlah plb awal. Sementara plb yang dipaparkan dengan dosis yang lebih tinggi (20-30 Gy), kematian plb terus terjadi sampai bulan keenam, namun persentasenya belum mencapai 50%. Plb mulai pulih pada bulan keenam dan mulai bermultiplikasi pada bulan ketujuh.
Jumlah plb hidup setelah diradiasi dengan dosis 40-70 Gy juga menunjukkan fenomena yang sama, namun kematian plb sampai dengan bulan keenam setelah diradiasi lebih dari 50%. Pemulihan plb juga mulai terlihat mulai dari bulan keenam
setelah diradiasi. Bukti terjadinya pemulihan antara lain adalah terbentuknya plb baru dan berkembangnya plb menjadi planlet. Kurva jumlah plb hidup 1-7 bsi disajikan pada Gambar 9.
Gambar 9. Kurva jumlah plb anggrek S. plicata yang hidup pada 1-7 bsi dengan 11 taraf dosis iradiasi sinar gamma.
Pembentukan plb baru sangat penting untuk memperbanyak plb terutama plb mutan hasil iradiasi. Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pertumbuhan plb setelah diradiasi, antara lain tingkat kerusakan sel yang terjadi tidak terlalu besar, sehingga plb dapat melakukan regenerasi sel-selnya membentuk sel-sel yang baru dan terus berkembang membentuk massa sel yang selanjutnya akan berkembang menjadi plb baru (Kim et al. 2003). Selain itu media pendukung pertumbuhan plb harus sesuai dengan kebutuhan plb, sehingga mampu memenuhi kebutuhan plb untuk terus tumbuh dan berkembang (Martin et al. 2003). Media tumbuh harus mengandung nutrisi dan zat pengatur tumbuh dengan komposisi yang sesuai dengan kebutuhan bahan eksplan yang ditanam (Dewir et al. 2007). Pertumbuhan terbaik tunas krisan setelah diradiasi terjadi pada medium MS dengan penambahan 10 mg L
-1
BA (Datta et al. 2005). Multiplikasi plb anggrek S. plicata menggunakan medium
0 50 100 150 200 250 300 0 1 2 3 4 5 6 7 p lb h idu p ( % )
Bulan setelah iradiasi
0 Gy 10 Gy 20 Gy 30 Gy 40 Gy 50 Gy 60 Gy 70 Gy 80 Gy 90 Gy 100 Gy
MS dengan penambahan 75 ml L-1 air kelapa serta pada medium MS dengan penambahan 20 μM BA dengan kriteria jumlah plb akhir dan jumlah planlet akhir tertinggi, jumlah akar terbanyak dan tinggi tanaman tertinggi serta penampilan visual yang sangat prima (Romeida 2011).
Pemulihan plb terjadi pada bulan keenam dan sudah tidak ada lagi plb yang mati pada bulan ketujuh. Oleh karena itu, maka pengambilan data untuk dianalisis menggunakan Best Curve fit analysis untuk plb anggrek S. plicata sebaiknya dilakukan pada bulan keenam atau ketujuh.
Gambar 10. Kurva hubungan dosis iradiasi sinar gamma dengan (a) persentase plb hidup, (b) persentase plb mati, (c) persentase plb akhir, (d) persentase populasi akhir anggrek S. plicata pada 7 bsi.
Hasil analisis data menggunakan Best curve fit analysis terhadap pertumbuhan vegetatif plb pada bulan ketujuh setelah diradiasi, didapatkan bahwa persentase plb hidup menghasilkan model kurva Polynomial Fit (y = 98.32 + 0.36x - 0.043x2 + 0.0003x3.... ), LD30 = 35.69 Gy, LD50 = 47.71 Gy, dan LD70 = 59.58 Gy. Persentase
plb mati menghasilkan model kurva Gaussian Model (y=10.31*exp((-(89.88-x)^2)/(2*33.64^2)), LD30 = 36.94 Gy, LD50 = 49.33 Gy, dan LD70 = 60.20 Gy.
15.758x + 0.224x2 – 0.001 x3... ), LD30 = 29.95 Gy, LD50 = 34.40 Gy dan LD70
= 43.20 Gy. Persentase populasi akhir pada bulan ketujuh setelah plb diradiasi menghasilkan model kurva Quadratic Fit (y=4.058 – 11.27x + 0.073x^2), LD30 =
43.20 Gy, LD50 = 47.52 Gy, dan LD70 = 52.57 Gy. Hasil penelitian ini mendapatkan
bahwa LD50 untuk masing-masing peubah plb anggrek S. plicata berbeda-beda,
berkisar antara 34.40 Gy – 49.33 Gy (Gambar 10).
Beberapa hasil penelitian induksi mutasi dengan iradiasi sinar gamma telah menghasilkan mutan terbanyak pada dosis iradiasi sekitar LD50. Aisyah et al.
(2009), melaporkan bahwa LD50 untuk stek pucuk anyelir yang diradiasi dengan sinar
gamma berkisar antara 49-72 Gy. Mutasi fisik dengan iradiasi sinar gamma telah mampu menciptakan 106 mutan dari 5 nomor anyelir. Herison et al. 2008, mendapatkan LD50 beberapa galur jagung hasil iradiasi sinar gamma berkisar antara
97-424 Gy, tergantung dari sensitivitas galur yang diradiasi.
Induksi mutasi dengan sinar gamma pada Thai Tulip (Curcuma alismatifolia) mendapatkan LD50 pada dosis sekitar 25 Gy, pada dosis tersebut terjadi perubahan
perkembangan bunga, mutasi klorofil dan alterasi morfologi tanaman sehingga menghasilkan beberapa mutan (Abdullah et al. 2009). Lamseejan et al. (2000), melaporkan bahwa dosis iradiasi sinar gamma yang optimum menghasilkan mutan yang diinginkan pada krisan klon ungu berada pada kisaran 19.5-22 gray, dengan nilai LD50 sekitar 14 Gy.
Hasil seleksi secara in vitro pada plb yang sudah diradiasi pada sebelas taraf dosis iradiasi sinar gamma menunjukkan bahwa terdapat beberapa perbedaan morfologi pada beberapa fase pertumbuhan plb dan pada beberapa bagian plb dan planlet hasil perkembangan dari plb yang telah diradiasi. Perubahan yang teramati antara lain terbentuknya plb variegata pada dosis 40-60 Gy. Plb albino banyak ditemukan pada plb yang telah diradiasi dengan dosis 60-70 Gy.
Fenomena plb variegata maupun albino disebabkan oleh karena sel kehilangan kemampuan pembentukan klorofil pada sebagian maupun semua bagian sel yang terpapar sinar gamma. Selain itu, juga ditemukan plb yang berwarna ungu pada dosis 30 Gy. Pengaruh negatif akibat iradiasi terhadap plb juga terbentuknya kalus kompak yang tidak terkendali. Kalus kompak tersebut setelah dibelah dan disub kultur tetap tumbuh menjadi kalus kompak yang tidak terkendali, sampai dua kali
sub kultur kalus kompak tersebut belum menunjukkan perkembangannya menjadi organ tanaman (Gambar 11).
Gambar 11. Pertumbuhan dan perkembangan plb pada 7 bsi : a. plb normal (0-10 Gy), b. multiplikasi plb tinggi (20 Gy), c. Kimera plb variegata dan plb ungu (30 Gy), d. plb membentuk kalus dan pembentukan planlet kimera (50 Gy), e. planlet albino (70 Gy), f. plb berkembang menjadi kalus kompak (60 Gy), g. plb ungu dan variegata (40 Gy), h. pertumbuhan plb kimera menjadi plb normal, ungu, albino (40 Gy) (Bar 1 mm).
Hasil pengamatan pertumbuhan plb yang diradiasi dengan dosis 50 Gy dan 60 Gy juga teridentifikasi adanya kimera. Pertumbuhan dari satu plb selanjutnya berkembang membentuk dua plb yang berbeda warnanya, yang satu berwarna ungu cerah dan yang lain membentuk plb variegata. Multiplikasi plb warna ungu akan tetap ungu, sementara pertumbuhan plb yang variegata selanjutnya dapat berkembang menjadi plb normal, plb variegata dan plb albino (Gambar 11).
Perubahan yang teramati setelah plb berkembang menjadi planlet antara lain terbentuknya daun variegata, daun albino, daun melintir seperti spiral dan
daunkeriting. Variasi warna plantlet yang diperoleh antara lain planlet albino, planlet berwarna ungu termasuk batang dan daunnya serta planlet kimera (Gambar 12).
Gambar 12. Penampilan planlet hasil perkembangan plb pada 7 bsi : a-b. variegata, c. albino, d. keriting, e. kimera, f. albino, g. daun melintir, h. kimera, i. planlet ungu.
Umumnya mutan planlet yang dihasilkan sudah dapat diprediksi dengan pengamatan mulai dari pembentukan plb. Namun mutan yang berdaun keriting (40 Gy) dan daun melintir (30 Gy) baru diketahui setelah plb berkembang membentuk planlet selanjutnya terjadi multiplikasi planlet.
Kimera yang dihasilkan dalam percobaan ini diduga merupakan kimera meriklinal. Salah satu ciri dari kimera meriklinal adalah terbentuknya mutan yang tidak stabil baik melalui perbanyakan vegetatif berasal dari bagian sel kimera yang mengalami mutasi maupun melalui perbanyakan generatif. Hasil penetian ini menunjukkan adanya daun variegata yang belum stabil baik pola bentuk maupun warnanya. Boertjes dan van Harten (1988), melaporkan terjadinya mutan klorofil pada tanaman Abelia, Begonia, Ficus, Guzmania, Hoya dan Tulipa pada beberapa
jaringan daun setelag diradiasi dengan berbagai dosis sinar gamma. Ilustrasi terjadinya kimera pada jaringan apek tanaman yang terpapar iradiasi sinar gamma disajikan pada Gambar 13.
Gambar 13. Ilustrasi terjadinya kimera pada tanaman hasil mutasi (Datta dan Chakrabarty 2009).
Fenomena tanaman variegata juga telah dilaporkan oleh beberapa peneliti yang menggunakan iradiasi sinar gamma untuk induksi mutasi. Datta dan Chakrabarty (2009) mendapatkan jaringan daun krisan yang variegata klorofil akibat diradiasi sinar gamma 1.5 dan 2.0 krad pada cvs. ‘Maghi’ and ‘Lilith’. Regenerasi menggunakan jaringan vegetatif yang variegata akan mampu mendapatkan tanaman yang stabil dan tetap variegata. Selain pada jaringan daun juga dilaporkan terdapat warna bunga yang variegata dan terjadi perubahan bentuk dan warna bunga cv. Maghi setelah diradiasi dengan dosis sinar gamma 0.5-1 Gy. Aisyah et al. (2009) juga melaporkan adanya kimera pada bagian vegetatif (tunas albino) tanaman anyelir hasil iradiasi pucuk pada genotipe 24.14 setelah diradiasi dengan dosis 30 Gy.
Perubahan bentuk dan ukuran daun akibat iradiasi sinar gamma juga dilaporkan oleh Schwaiger dan Horn (1988) pada tanaman Kalanchoe, terjadi perubahan permukaan daun yang kasar menjadi licin, ukuran daun juga berkurang dan dihasilkan tanaman yang kerdil. Berkurangnya jumlah anakan daun pada Brachycome multifida (Walther dan Sauer 1986), terbentuk daun trifoliat pada mutan tanaman Zinia (Venkatachalam dan Jayabalan 1992).