• Tidak ada hasil yang ditemukan

Gambaran Umum Hutan Kemiri Rakyat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Gambaran Umum Hutan Kemiri Rakyat"

Copied!
59
0
0

Teks penuh

(1)

Gambaran Umum Hutan Kemiri Rakyat

Sejarah Pengelolaan Hutan Kemiri Rakyat

Awal mula pembangunan dan pengelolaan hutan kemiri Kabupaten Maros oleh petani sekitar hutan terjadi pada saat pemerintah Hindia Belanda (VOC) berkuasa di Indonesia yaitu pada abad XIX tepatnya sejak tahun 1826. Pengembangan dan pengelolaan hutan kemiri dilakukan oleh masyarakat suku Bugis yang bermigrasi dari kerajaan Bone dengan membawa bekal tanaman kemiri sebagai hasil hubungan baik dengan VOC. Migrasi dalam jumlah besar ini dipimpin oleh putra Raja Bone XXVII dengan tujuan utama melakukan kerjasama perdagangan dengan VOC dalam bentuk penanaman kemiri pada lahan yang telah ditentukan dan disepakati. Produksi kemiri tersebut, kemudian, diekspor ke negeri Belanda dalam rangka memenuhi kebutuhan konsumsi rempah-rempah Eropa pada saat itu.

Dengan mengajak penduduk asli, pembukaan lahan dan tanaman kemiri (mappamula dan maddare) pada mulanya dilakukan pada lahan dengan topografi berbukit sampai bergunung dengan cara membuka areal hutan dan padang ilalang atau semak belukar, sedangkan pada tanah dengan topografi datar dibuat sawah (menanaman padi) untuk kebutuhan atau konsumsi sendiri/rumah tangga. Penanaman kemiri dilakukan dengan pola tumpang sari dan perladangan berpindah dengan tanaman pokok adalah kemiri dan tanaman semusim sebagai tumpang sari seperti kacang tanah, jagung, cabe, tomat, ubi, jahe, dan pisang. Tanaman kemiri ini juga berfungsi sebagai pembatas (lakara) bagi kebun yang ditanami tanaman semusim. Pada perkembangan selanjutnya tanaman kemiri juga ditanam di sekitar lokasi yang tidak jauh dari tempat tinggal/rumah (di atas areal/ tanah datar).

Tanaman semusim ditanam selama 3-4 tahun, setelah tanaman kemiri mulai besar dan berproduksi maka pengelolan tanaman semusim dihentikan karena sudah tertutup naungan kemiri sehingga tidak mungkin lagi dilanjutkan. Selanjutnya dibuka lahan lain dengan pola penanaman yang sama. Begitu pula jika tanaman kemiri tidak produktif lagi, petani melakukan peremajaan (mallolo)

(2)

dengan pola penanaman yang sama. Pola penanaman ini telah menjamin keberlanjutan pengelolaan hutan kemiri oleh petani sampai tahun1980-an.

Perluasan penanaman kemiri dilakukan pada tahun 1920-an dengan persetujuan dan kesepakatan dengan pihak Belanda. Untuk mengatur ketertiban pengelolaan kawasan hutan kemiri, oleh Pemerintah Belanda dibuat batas kawasan hutan berupa patok batu dan jalan setapak (balatu) yang membatasi antara hutan kemiri yang dikelola oleh rakyat yang berada di bawah bukit dengan hutan alam yang berada di atas bukit. Hutan alam ini tidak boleh dikelola dan dimanfaatkan untuk kepentingan lain.

Letak dan Luas

Kawasan hutan kemiri pegunungan Bulusaraung di Kabupaten Maros secara administrasi pemerintahan terletak di Kecamatan Cenrana, Kecamatan Camba, dan Kecamatan Malawa. Ketiga kecamatan tersebut adalah pemekaran dari Distrik Camba. Luas wilayah ketiga kecamatan tersebut adalah 56,616 Ha, yang secara geografis terletak pada 4045’52’’ - 505’50’’ LS dan 119044’30’’

-119056’00’’ BT. Berdasarkan persentase luas wilayah Kecamatan terhadap keseluruhan luas Kabupaten Maros, maka persentase luas wilayah Kecamatan Cenrana terhadap keseluruhan luas Kabupaten Maros adalah 11%, Kecamatan Camba adalah 9% dan Kecamatan Malllawa sebesar 14%.

Menurut Dinas Kehutanan dan Perkebunan Maros (2009), total luas hutan kemiri dari ketiga wilayah kecamatan tersebut adalah 9.341 Ha, dengan ketinggian dari permukaan laut 300 – 1.200 meter, dimana Kecamatan Mallawa adalah yang terluas hutan kemirinya yaitu 5.056 Ha, sedangkan Kecamatan Cenrana adalah 2.070 Ha dan Kecamatan Camba seluas 2.215 Ha. Sejak diberlakukannya Tata Guna Hutan Kesepakatan (TGHK) pada tahun 1984, maka 7.934 Ha hutan kemiri rakyat berada dalam kawasan hutan negara dan 1.488 Ha berada di luar kawasan hutan negara, di mana 5.798 Ha merupakan kawasan hutan lindung dan 2.145 merupakan Hutan Produksi dan Hutan Produksi Terbatas.

Keadaan topografi secara makro bervariasi mulai dari datar/landai sampai dengan bergunung. Sebagian besar (58%) wilayah tersebut memiliki kelerengan 25 - 40% (curam), sedangkan hanya 28,1% yang memiliki kelas lereng landai sampai dengan bergelombang. Batas-batas wilayah administrasi kawasan hutan

(3)

kemiri adalah di sebelah utara dan timur berbatasan dengan Kabupaten Bone, di sebelah barat berbatasan dengan Kecamatan Bantimurung, dan di sebelah selatan berbatasan dengan Kecamatan Tompobulu.

Keadaan Iklim

Kawasan hutan kemiri di Kabupaten Maros memiliki tipe iklim C atau agak basah. Hal ini terutama didasarkan atas indikator rata-rata jumlah bulan kering dan bulan basah, dimana tercatat rata-rata tiga bulan kering, satu bulan lembab dan delapan bulan basah. Curah hujan rata-rata tahunan berkisar antara 2000 – 3000 mm/th. Jumlah curah hujan yang terjadi setiap bulannya menyebar. Pada bulan Januari merupakan bulan terbasah, sedangkan bulan September merupakan bulan kering. Pada bulan Nopember curah hujan menanjak naik hingga mencapai puncak tertinggi pada bulan Januari (Stasiun Klimatologi Kabupaten Maros, 2009).

Penduduk

Jumlah penduduk pada desa-desa di sekitar kawasan hutan kemiri sebanyak 39.058 jiwa. Sebaran penduduk pada ketiga kecamatan tersebut adalah 14.339 jiwa di Kecamatan Cenrana dengan kepadatan penduduk 79 jiwa/km2, 14.315 jiwa di Kecamatan Camba dengan kepadatan penduduk sebesar 98 jiwa/km2. Kecamatan Mallawa memiliki jumlah penduduk sebanyak 11.892 jiwa

dengan kepadatan penduduk 50 jiwa/km2. Keadaan penduduk di sekitar kawasan

hutan kemiri pada ketiga kecamatan tersebut dapat dilihat pada tabel berikut: Tabel 16. Jumlah Penduduk di Sekitar Kawasan Hutan Kemiri Rakyat Kabupaten Maros

Kecamatan Jumlah Penduduk (jiwa)

Jumlah Rumah Tangga Luas (km 2) Kepadatan (jiwa/km2) Cenrana 14.339 3.646 180,97 79 Camba 14.315 3.551 145,36 98 Mallawa 11.892 2.994 235,92 50

Sumber: (1) Kabupaten Maros dalam Angka, 2009 (2) Kecamatan Cenrana dalam Angka, 2009 (3) Kecamatan Camba dalam Angka, 2009 (4) Kecamatan Mallawa dalam Angka, 2009

(4)

Keadaan Pemukiman

Pola pemukiman penduduk pada umumnya berdekatan atau mengelompok berdasarkan atas kedekatan darah atau hubungan kekeluargaan. Pola pemukiman penduduk yang berada di sekitar jalan Poros Maros-Bone adalah linear atau berbaris mengikuti alur jalan poros dengan jumlah yang rumah cukup banyak sekitar 50-60 rumah per dusun (satuan pemukiman). Sedangkan pola pemukiman yang jauh dari jalan poros yang dekat dengan kawasan hutan pada umumnya mengelompok dengan jumlah 5-12 rumah mengikuti alur jalan pengerasan atau jalan desa.

Bangunan rumah penduduk yang berada di sepanjang jalan poros Maros-Bone sebagian besar sudah bersifat permanen (rumah batu) dan terdapat beberapa rumah kayu beratap seng dengan kelas kayu kuat kayu nomor satu (kelas sangat awet) yang pada umumnya berasal dari Pulau Kalimantan, sedangkan bangunan rumah penduduk yang pemukimannya jauh dari jalan poros atau lebih terpencil pada umumnya menggunakan kayu dari pohon yang ditanam pada lahan milik atau pohon yang tumbuh alami dari dalam kawasan hutan dengan kelas kuat yang berbeda-beda diantaranya adalah kayu kemiri, dengan beratap seng.

Sarana dan Prasarana

Sarana dan prasarana transportasi merupakan elemen yang sangat penting karena dapat memberikan kemudahan pemasaran hasil produksi pertanian ke daerah lain atau ke kota. Oleh karena itu, ketersediaan sarana dan prasarana merupakan faktor penting dalam mendukung kemajuan suatu daerah. Lokasi ibukota setiap kecamatan dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat dari ibukota kabupaten maupun ke ibukota propinsi melalui jalan poros Maros- Bone.

Tabel 17. Jarak Ibukota Kecamatan dari Ibukota Kabupaten dan Ibukota Provinsi Kecamatan Ibukota Kecamatan Jarak dari Ibukota Kabupaten (km) Jarak dari Ibukota Provinsi (km)

Cenrana Bengo 32 62

Camba Cempaniga 47 77

Mallawa Ladange 60 90

Sumber: (1) Kabupaten Maros dalam Angka, 2009 (2) Kecamatan Cenrana dalam Angka, 2009 (3) Kecamatan Camba dalam Angka, 2009 (4) Kecamatan Mallawa dalam Angka, 2009

(5)

Desa-desa yang berada disekitar wilayah hutan kemiri juga dapat diakses dengan menggunakan kendaraan roda dua dan beberapa dapat ditempuh dengan kendaraan roda empat karena jalan yang dilalui sebagian sudah diaspal dan sebagian lagi masih berupa jalan pengerasan dari batu gunung, sedangkan akses untuk mencapai kawasan hutan kemiri dapat dilakukan melalui jalan setapak yang selama ini digunakan petani.

Sarana dan prasarana kesehatan berupa Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) sudah terdapat di setiap ibukota kecamatan. Puskesmas yang berada di Kecamatan Camba merupakan Puskesmas dengan fasilitas pelayanan yang paling lengkap dibandingkan dua kecamatan lainnya, karena sudah terdapat fasilitas rawat inap.

Terdapat masing-masing satu pasar untuk setiap kecamatan, disamping itu terdapat beberapa pasar desa. Untuk Kecamatan Mallawa yang berbatasan dengan Kabupaten Bone, penduduknya lebih suka berbelanja ke pasar parigi di Bone untuk menjual hasil pertaniannya dan berbelanja keperluan sehari-hari karena pasar parigi merupakan pasar terbesar di Kecamatan Lappariaja Kabupaten Bone dimana persediaan barang konsumsi lebih lengkap. Pasar Cempaniga di Kecamatan Camba dianggap sebagai pusat pasar untuk tiga kecamatan lainnya karena sering dikunjungi penduduk dari dua kecamatan lainnya, dengan hari pasar dua kali dalam seminggu, sedangkan pasar Bengo dan pasar Mallawa walaupun periode buka pasar juga berlaku dua kali seminggu namun pengunjungnya hanya penduduk setempat.

Deskripsi Peubah-Peubah Penelitian

Karakteristik Individu Petani Sekitar Hutan Kemiri Rakyat

Karakteristik individu yang diamati sebagaimana yang tercantum dalam kerangka berpikir meliputi usia, pengalaman mengelola hutan kemiri atau lamanya responden berinteraksi dengan hutan, lamanya mengikuti pendidikan formal, lamanya mengikuti pendidikan non formal, tingkat pendapatan, jumlah tanggungan keluarga dan tingkat ketergantungan terhadap sumberdaya hutan.

Usia responden masuk dalam kategori 45-54 tahun (rataan usia 49 tahun), pengalaman mengelola hutan masuk dalam kategori cukup lama (rataan

(6)

pengalaman 28 tahun), pendapatan per bulan masuk dalam kategori sedang (Rp. 945.804,-), dan jumlah tanggungan keluar cukup besar (rataan tanggungan 4 jiwa), sedangkan tiga indikator lainnya masuk dalam kategori rendah, yaitu lamanya mengikuti pendidikan formal (rataan 8 tahun), lamanya mengikuti pendidikan non formal (rataan 0,6 jpl atau setara dengan 29 menit), dan tingkat kebergantungan terhadap hutan (rataan skor 27).

Tabel 18. Sebaran Karakteristik Individu Petani Sekitar Hutan Kemiri Rakyat

Karakteristik Individu Kategori Kecamatan Cenrana (%) Kecamatan Camba (%) Kecamatan Mallawa (%) Total (%) Usia (tahun) 21-44 35 24 39 34 45-54 28 40 33 33 55-80 37 36 28 33 Rataaan tahun 50 51 47 49 Pengalaman Mengelola Hutan (tahun) 10-22 30 66 26 37 23-30 37 22 31 30 31-55 33 12 43 33

Rataaan tahun 29(a) 22(a)(b) 31(b) 28

Lamanya Pendidikan Formal (tahun) 0-9 91 90 58 74 10-12 9 8 41 25 13-16 0 2 1 1

Rataaan tahun 6(a)(b) 9(a) 8(b)) 8

Lamanya Pendidikan Non Formal (Jpl) 0-10 91 98 100 96 11-30 7 2 0 3 21-35 2 0 0 1

Rataaan jam pelajaran 1,9 ≈ 87’(a)(b) 0,4 ≈ 16’(a) 0,1 ≈ 3’(b) 0,6 ≈ 29’

Pendapatan per

bulan (Rupiah) MenengahRendah 2274 5050 6435 5049

Tinggi 4 0 1 1

Rataaan rupiah 1.307.881(a)(b) 882.693(a) 781.838(b) 945.804

Jumlah Tanggungan Keluarga (Jiwa) Kecil 37 38 23 30 Cukup Besar 52 62 68 63 Besar 11 0 9 7

Rataaan jiwa 4(a) 4(b) 5(a)(b) 4

Ketergantungan terhadap Hutan Kemiri (Skor) Rendah 69 96 89 85 Sedang 22 4 11 13 Tinggi 9 0 0 2

Rataaan skor 39(a)(b) 22(a) 23(b) 27

Keterangan: n Cenrana = 54; n Camba = 50; n Mallawa = 100 (a)(b)(c); hasil uji beda dengan ANAVA pada α = 5%

Pendapatan per bulan; Rendah = Rp. 208.333 - Rp. 739.999, Menengah = Rp. 740.000 – Rp. 2.899.999, Tinggi = Rp. 2.900.000 – Rp. 6.295.833 Tanggungan keluarga; Kecil = 1-3 jiwa, Cukup besar = 4-6 jiwa, Besar = 7-9 jiwa Rataan Skor; Rendah = skor 0-50, Sedang = skor 51-75, Tinggi = skor 76-100

(7)

Karakteristik individu merupakan ciri khas yang melekat pada individu yang berhubungan dengan berbagai aspek kehidupan dan lingkungan individu tersebut. Karakteristik individu dapat menjadi pembeda yang khas antara satu individu dengan individu lainnya.

Usia Responden

Rentang usia responden berkisar antara 27 tahun sampai 80 tahun dengan rataan 49 tahun. Usia tersebut secara demografis merupakan usia produktif. Bila dilihat dari banyaknya responden nampak bahwa 34 % responden berusia antara 21-44 tahun, 33% responden berusia antara 45-54 tahun, dan 33% responden berusia antara 55-80 tahun.

Terlihat lebih banyak responden yang masuk pada usia produktif. Menurut Klausmeier dan Goodwin (1966), usia merupakan salah satu karakteristik penting yang berkaitan dengan efisiensi dan efektivitas belajar. Hal ini berarti individu yang berada pada usia produktif akan lebih mudah menerima perubahan, ide-ide dan inovasi, oleh karena itu dilihat dari faktor usia para petani sekitar kawasan hutan pegunungan Bulusaraung merupakan aset sumberdaya manusia (SDM) yang perlu diperhatikan untuk dikembangkan, mengingat bahwa pengelolaan hutan secara lestari membutuhkan SDM yang produktif sehingga mampu mengelola hutan dengan baik. Temuan ini sejalan dengan penelitian Yusran (2005), bahwa di kawasan sekitar hutan kawasan pegunungan Bulusaraung cukup tersedia tenaga kerja produktif yang dapat mendukung pengembangan usahatani hutan kemiri rakyat.

Tidak terdapat perbedaan nyata usia antara tiga kecamatan tersebut. Keberadaan petani berusia 45-54 tahun di tiga kecamatan tersebut terlihat lebih banyak disebabkan para generasi penerus yang berusia muda cenderung mencari kerja di bidang lain seperti menjadi tukang ojek, buruh bangunan, atau sopir. Sebagian lainnya pergi merantau menjadi TKI ke Malaysia dan Arab Saudi, atau membuka kebun terutama coklat di daerah lain yaitu Sulawesi Tengah dan/atau Sulawesi Tenggara. Hal tersebut terjadi karena terbatasnya lahan pertanian dibandingan jumlah penduduk yang semakin bertambah banyak.

(8)

Pengalaman Mengelola Hutan Kemiri

Pengalaman responden mengelola hutan kemiri berkisar dari 10 tahun sampai 55 tahun. Tabel 18 menunjukan bahwa 37% responden pengalamannya dalam mengelola hutan kemiri rakyat masuk dalam kategori 10-22 tahun, 30% responden memiliki pengalaman mengelola hutan kemiri rakyat di antara 23-30 tahun, dan sisanya (33%) memiliki pengalaman dalam mengelola hutan kemiri rakyat di antara 31-55 tahun. Dilihat dari rataan tahun pengalaman responden dalam mengelola hutan kemiri rakyat yaitu 28 tahun, dapat dikatakan, pengalaman

responden dalam mengelola hutan kemiri rakyat telah berlangsung cukup lama. Kondisi tersebut merupakan perjalanan waktu atau suatu proses yang

cukup lama dalam membentuk perilaku dan kemampuan petani dalam mengelola hutan kemiri, sebagaimana yang dinyataan oleh Sarwono (2002) bahwa pengalaman memiliki pengaruh terhadap perilaku individu. Artinya bahwa apa yang telah dialami individu akan menjadi bekal dalam membentuk dan memberikan kontribusi psikologis bagi seseorang untuk merespons berbagai stimulus yang datang padanya. Semakin berpengalaman petani sekitar hutan dalam berusahatani kemiri maka semakin tahu, cermat, dan memahami berbagai permasalahan usahatani kemiri yang dijalaninya. Pengalaman dalam mengelola hutan kemiri, dengan kata lain, berkaitan dengan pola perilaku petani terhadap hutan yang pada akhirnya akan menentukan tingkat motivasi, tingkat kemampuan dan tingkat partisipasi petani dalam pengelolaan hutan kemiri. Kondisi tersebut dapat menjadi faktor penunjang bagi peningkatan dan pengembangan kemampuan petani.

Pengalaman mengelola hutan kemiri antara petani Kecamatan Cenrana dan petani Kecamatan Camba, dan antara petani Kecamatan Camba dan petani Kecamatan Mallawa berbeda nyata, namun tidak terdapat perbedaan antara pengalaman mengelola hutan kemiri antara petani Kecamatan Cenrana dan petani Kecamatan Mallawa. Perbedaan tersebut hendaknya menjadi bahan pertimbangan dalam mengembangkan kemampuan, memacu motivasi dan meningkatan partisipasi petani dalam mengelola hutan kemiri secara lestari.

(9)

Pendidikan Formal

Lamanya mengikuti pendidikan formal responden berkisar dari 0 tahun (tidak sekolah) sampai 16 tahun. Secara umum tingkat pendidikan formal petani sekitar hutan kawasan pegunungan Bulusaraung tergolong rendah dengan rataan lamanya waktu mengikuti pendidikan formal adalah 8 tahun (setara dengan SMP kelas VII atau tidak lulus SMP). Sebagian besar responden (74%) tingkat pendidikannya rendah yaitu berada pada kisaran kategori 0-9 tahun. Rendahnya tingkat pendidikan petani dapat menjadi penyebab rendahnya kemampuan petani dalam pengelolaan hutan kemiri yang dapat menjadi penghambat bagi peningkatan produksi usahatani kemiri, karena taraf pendidikan yang rendah menimbulkan berbagai implikasi yang sifatnya mengurangi respons petani terhadap usaha untuk mengembangkan usahataninya, antara lain tidak berani mengadakan perubahan dan kurang mampu menyerap informasi.

Pendidikan merupakan salah satu faktor yang berpengaruh bagi perkembangan kualitas pribadi dan kepribadian seseorang dan juga bagi kemajuan suatu masyarakat. Kualitas dan kekuatan suatu bangsa atau masyarakat bukan ditentukan oleh akumulasi kekayaan sumberdaya alam yang melimpah, tetapi bagaimana melahirkan kekuatan produktif swadaya bangsa atau masyarakat, dengan kata lain melahirkan SDM yang mampu mengelola dan memanfaatkan sumberdaya alam tersebut dengan baik, yang dapat terwujud melalui proses pendidikan. Melalui pendidikan orang akan mampu untuk memikirkan dan berusaha untuk meningkatkan taraf hidupnya.

Rendahnya tingkat pendidikan petani mengindikasikan perlunya sosialisasi bagi masyarakat petani sekitar hutan kemiri tentang pentingnya pendidikan formal hak belajar sembilan tahun. Selain itu, perlu diadakan penambahan sarana dan prasarana pendidikan yang memadai oleh pemerintah, sehingga generasi berikutnya dapat memiliki kesempatan untuk mengikuti pendidikan yang layak. Saat ini di setiap desa terdapat satu buah SD, namun untuk sekolah lanjutan terpusat di ibukota kecamatan. Pada setiap kecamatan terdapat sebuah SMA negeri. Selain SMA negeri, di Kecamatan Camba terdapat sebuah SMA swasta dan sebuah Madrasah ‘Aliyah. Terdapat masing-masing satu SMP negeri di Kecamatan Mallawa dan Cenrana, sedangkan di Kecamatan Camba

(10)

terdapat dua SMP negeri, dan dua SMP swasta, serta sebuah Madrasah Tsanawiyah.

Terdapat perbedaan nyata antara pendidikan formal pada petani di Kecamatan Cenrana dengan petani di dua Kecamatan lainnya, sedangkan pendidikan formal antara petani di Kecamatan Camba dan petani di Kecamatan Mallawa secara statistik tidak berbeda nyata. Tingkat pendidikan formal responden di Kecamatan Camba cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan dua kecamatan lainnya, karena pada awalnya kecamatan Camba merupakan ibukota kecamatan sebelum terjadinya pemekaran atau berpisahnya kecamatan Cenrana dari kecamatan Camba, sehingga Kecamatan camba menjadi pusat pelayanan bagi masyarakat sekitar kawasan hutan kemiri, termasuk pendidikan, dimana ketersediaan sarana dan prasarana pendidikan lebih lengkap, dibandingkan dua kecamatan lainnya.

Pendidikan Non Formal

Pendidikan non formal yang pernah diikuti responden berkisar antara 0 jam pelajaran (Jpl) atau tidak pernah sampai 35 Jpl. Tabel 18 memperlihatkan rataan pendidikan non formal yang pernah diikuti responden yaitu sebesar 0,6 jpl atau setara dengan 29 menit. Hal ini berarti, pendidikan non formal responden berada dalam kategori 0-10 Jpl, dengan demikian tergolong rendah. Dilihat dari sebarannya, sebagian besar responden (96%) memiliki pendidikan non formal yang rendah. Terdapat perbedaan nyata antara pendidikan non formal pada petani di Kecamatan Cenrana dan petani di dua Kecamatan lainnya, sedangkan pendidikan non formal antara petani di Kecamatan Camba dan petani di Kecamatan Mallawa secara statistik tidak berbeda nyata. Lamanya pendidikan non formal yang pernah diikuti petani di Kecamatan Cenrana cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan dua kecamatan lainnya.

Salah satu upaya mengembangkan sumberdaya manusia dalam organisasi agar mampu melaksanakan tugas-tugasnya dengan baik adalah melalui pelatihan (Saydam,1996; Siagian, 1997; Handoko, 1997; Ndraha, 1999; Hasibuan, 2001; Mangkuprawira, 2003;). Pendapat tersebut tidak terhenti pada lingkup organisasi formal semata, namun dapat diperluas maknanya pada lingkup masyarakat petani. Pendidikan non formal dalam bentuk pelatihan, dengan demikian, menduduki

(11)

tempat penting dalam proses pengembangan kapasitas sumberdaya manusia petani. Melalui pelatihan pengetahuan, sikap dan keterampilan petani akan menjad lebih berkembang. Pelatihan pada akhirnya akan dapat mengembangan kesempatan kerja dan berusaha bagi petani.

Dari data yang terkumpul diketahui bahwa 196 responden (96%) tidak pernah mengikuti pendidikan non formal. Rendahnya pendidikan non formal atau pelatihan bukan berarti petani tidak mau mengikuti pelatihan, namun lebih disebabkan selama ini sangat kurang bahkan hampir tidak ada pendidikan non formal atau pelatihan yang berkaitan dengan pengelolaan hutan kemiri bagi petani. Kondisi ini paling tidak menginformasikan bahwa pemerintah maupun pihak lain atau non pemerintah belum atau kurang memberi perhatian pada pentingnya meningkatkan kemampuan petani dalam pengelolaan hutan kemiri.

Pelatihan yang terkait dengan budidaya dan pengelolaan kemiri pernah diadakan pada tahun 2004 oleh DAFEP (Decentralized Agricultural and Forestry Extension Project) dengan dana dari Bank Dunia dengan durasi 8 jpl, namun menurut petani alumni pelatihan bahwa hasil dari pelatihan tidak memberikan manfaat bagi mereka, karena tidak ada program lanjutan yang memberikan dorongan atau motivasi kepada petani untuk berusahatani kemiri. Hal ini mengakibatkan petani alumni pelatihan tidak tergerak untuk menerapkan pengetahuan yang diperolehnya dari pelatihan ke dalam usaha budidaya kemiri. Pelatihan lain yang pernah diadakan namun tidak terkait dengan budidaya dan pengelolaan tanaman kemiri adalah pelatihan pengendalian hama tanaman (PHT) tahun 1994 yang dilaksanakan oleh PLP (penyuluh lapangan pertanian) dari Dishutbun Pemkab Maros, pelatihan terkait dengan gerakan nasional rehabilitasi hutan dan lahan (GNRHL) tahun 2005 diselenggarakan oleh Dishutbun Pemkab Maros, pelatihan masyarakat peduli api (MPA) tahun 2007 yang diselenggarakan oleh TN. Babul dan pelatihan sistem agroforestry tahun 2008 yang dibiayai dan diselenggarakan oleh DAFEP.

Pendapatan

Pendapatan responden berkisar antara Rp. 208.233 – Rp. 6.295.833 per bulan. Sumber pendapatan berasal dari usahatani maupun non usahatani (berdagang, beternak, buruh bangunan, tukang ojek), dengan rataan pendapatan

(12)

sebesar Rp. 945.804 per bulan, di mana kontribusi kemiri terhadap pendapatan tersebut sebesar Rp. 130.997. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa pada umumnya pendapatan rumah tangga responden berada pada kategori menengah. Jika rataan pendapatan dibagi dengan rata-rata jiwa yang berada dalam satu rumah tangga di lokasi penelitian yaitu sekitar 5 orang, diperoleh pendapatan per kapita yaitu sebesar Rp. 189.161 per bulannya.

Dari data yang diperoleh, kontribusi kemiri terhadap total pendapatan rumah tangga petani relatif kecil yaitu sekitar 13,9%. Kecilnya kontribusi tersebut disebabkan masalah produktivitas, peremajaan, dan masalah pemasaran yang belum berjalan dengan baik. Sumber pendapatan yang memberikan sumbangan terbesar bagi total pendapatan rumah tangga petani sebagian besar berasal dari sektor pertanian, terutama padi, dan sektor perkebunan yaitu tanaman coklat dibandingkan dari sektor kemiri.

Beberapa petani melakukan kegiatan penyadapan nira pohon aren (enau) yang tumbuh dalam kawasan hutan untuk dibuat gula aren (gula merah) atau dijual setiap 1-2 hari sekali apabila telah tertampung sekitar 3-5 liter. Terdapat beberapa petani yang juga melakukan transaksi perdagangan ternak sebagai sumber pendapatan mereka, terutama sapi dan kuda, yang dijual sebanyak 1-3 ekor setiap tahun saat menjelang hari raya Idhul Adha. Namun demikian, pemeliharaan sapi dan kuda pada umumnya belum menggunakan sistim kandang, tetapi dilepas begitu saja, dibiarkan mencari makan sendiri, sehingga sering masuk ke dalam kawasan hutan dan juga mengganggu kebun petani yang tidak dipagari.

Terdapat perbedaan nyata tingkat pendapatan antara petani di Kecamatan Cenrana dan petani di dua Kecamatan lainnya, sedangkan tingkat pendapatan antara petani di Kecamatan Camba dan petani di Kecamatan Mallawa secara statistik tidak berbeda nyata. Tingkat pendapatan petani di Kecamatan Cenrana cenderung lebih tinggi dibandingkan dengan dua kecamatan lainnya. Perbedaan ini terjadi disebabkan Kecamatan Cenrana letaknya lebih dekat dengan jalan poros Makassar-Bone dan juga lebih dekat dengan pusat Kota Maros dibandingkan dengan dua kecamatan lainnya, sehingga masyarakat lebih memiliki akses untuk

(13)

melakukan kegiatan ekonomi lain di luar sektor pertanian, seperti menjadi supir, membuka kios dipinggir ja lan, menjadi tukang batu, tukang ojek.

Tanggungan Keluarga

Jumlah tanggungan keluarga sebagian besar responden (63%) tergolong cukup besar (4 – 6 orang). Hal ini diperkuat dengan rataan jumlah tanggungan keluarga yaitu 4 orang. Jika dilihat dari aspek ketersediaan tenaga kerja bagi keluarga, jumlah anggota keluarga memberikan keuntungan karena pada umumnya berdasarkan kebiasaan bahwa setiap keluarga petani lebih banyak menggunakan tenaga kerja keluarga dalam pengelolaan hutan kemiri, dibandingkan dengan tenaga kerja dari luar. Hal ini berarti mengurangi biaya produksi. Sebaliknya, jika diteropong dari aspek finansial keluarga, kondisi tersebut memberikan beban bagi kepala keluarga dibandingkan jika tanggungan keluarga hanya keluarga inti yaitu istri dan dua anak. Kondisi ini akan mendorong kepala rumah tangga lebih keras berusaha untuk menafkahi keluarga, yang apabila usaha mencari nafkah ini tidak disikapi dengan bijak dapat menjadi ancaman bagi eksistensi hutan.

Perbedaan nyata tanggungan keluarga hanya terjadi antara petani di Kecamatan Camba dan petani di Kecamatan Mallawa, sedangkan tanggungan keluarga antara petani di Kecamatan Cenrana dan petani di dua Kecamatan lainnya tidak berbeda nyata. Tanggungan keluarga cenderung lebih rendah pada Kecamatan Camba.

Ketergantungan Terhadap Hutan Kemiri

Pada umumnya tingkat kebergantungan respoden terhadap hutan kemiri adalah rendah, yang ditunjukkan oleh rataan skor sebesar 27, dengan sebaran 85% responden tingkat kebergantungannya terhadap hutan rendah, 13% tingkat kebergantungannya sedang, dan 2% tingkat kebergantungannya tinggi. Rendahnya tingkat ketergantungan terhadap hutan bukan berarti petani sekitar kawasan pegunungan Bulusaraung tidak membutuhkan hutan, namun lebih disebabkan pada saat ini produksi kemiri tidak lagi mampu menjadi unsur utama pemenuhan kebutuhan biaya rumah tangga petani.

(14)

Disamping itu, telah terjadi diversifikasi jenis usaha dan pekerjaan sebagai upaya pemenuhan kebutuhan rumah tangga petani antara lain menjadi tukang ojek, buruh bangunan, TKI, pedagang sayuran, pedagang ikan keliling, serta adanya komoditas pertanian lainnya yang lebih efisien dan menguntungkan seperti semangka, kacang-kacangan, dan yang paling utama adalah padi dan coklat. Pemanenan kemiri pada saat ini hanya menjadi salah satu faktor penunjang ekonomi rumah tangga bukan lagi sebagai unsur utama. Berbeda dengan tahun 1970-1980-an dimana menurut responden bahwa kemiri pada saat itu produktivitasnya tinggi sehingga mampu menjadi sumber utama pendapatan rumah tangga petani, karena mampu memberikan kontribusi yang cukup besar pada total pendapatan rumah tangga petani, sehingga pada saat itu banyak petani kemiri yang mampu menunaikan ibadah haji dengan biaya dari hasil tanaman kemiri, yang pada saat ini dikenal dengan istilah “haji kemiri”. Beberapa responden mengemukakan permasalahan produktivitas, sebagai berikut:

Rendahnya produktivitas kemiri terutama yang berada dalam kawasan hutan disebabkan tegakan yang ada sekarang ini adalah tegakan yang berumur tua (> 35 tahun) sebagai akibat tidak adanya peremajaan. Petani tidak berani melakukan peremajaan karena adanya larangan pemerintah. Larangan tersebut merupakan implikasi dari perubahan status lahan kemiri yang telah menjadi kawasan hutan. Penyebab lain adalah berasal dari tanaman kemiri itu sendiri. Menurut petani yang mencoba menanam kemiri pada lahan miliknya dengan menggunakan bibit yang berasal dari anakan alami bahwa ketika tanaman kemiri mulai memasuki usia berbuah yaitu 3-5 tahun terjadi gugur buah pada usia muda, dan kalaupun berbuah ternyata volume produksinya tidak banyak, atau produktivitas tetap tidak sebagus tegakan-tegakan kemiri masa lalu.

Pengelolaan hutan kemiri sudah melewati sejarah yang cukup panjang atau berlangsung ratusan tahun dan berlangsung sampai dengan sekarang. Bentuk kebergantungan petani terhadap hutan kemiri pada saat ini lebih termanifestasi

Kotak 1:

...dulu waktu kecil kami sering membantu orang tua memanen/memungut buah kemiri dimana hasilnya bila dikupas bisa mencapai sekitar 300 kg – 800 kg bahkan lebih, tetapi sekarang paling banyak sekitar 20-60 kg saja ...

(15)

oleh adanya ikatan atau keterkaitan psikologis antara petani sekitar hutan dan keberadaan hutan kemiri karena faktor historis dan kultural tersebut. Petani sekitar hutan kemiri, pada saat ini tetap memanfaatkan hutan kemiri dengan cara hanya memanen buah kemiri karena hanya kegiatan ini yang diperbolehkan oleh pemerintah. Berdasarkan hasil wawancara, para petani menyatakan bahwa mereka tetap membutuhkan hutan kemiri karena berdasarkan sejarah hutan kemiri adalah milik mereka dan keberadaan tanaman kemiri yang penyebarannya mirip hutan merupakan hasil budidaya yang dilakukan oleh leluhur mereka. Hutan atau tanaman kemiri yang ada sekarang ini, dengan demikian, merupakan warisan leluhur.

Perbedaan nyata tingkat ketergantungan terhadap sumberdaya hutan terjadi antara petani di Kecamatan Cenrana dan petani di dua kecamatan lainnya. Petani di Kecamatan Cenrana cenderung lebih tergantung pada sumberdaya hutan dibandingkan dengan dua kecamatan lainnya sedangkan tidak terdapat perbedaan nyata tingkat ketergantungan tehadap sumberdaya hutan antara petani Kecamatan Camba dan petani Kecamatan Mallawa. Petani di Kecamatan Cenrana lebih bergantung terhadap hutan karena luasan lahan mereka untuk berusaha tani tidak seluas petani Kecamatan Mallawa dan Camba, disamping itu lahan pertanian di Kecamatan ini lebih mengandalkan tadah hujan untuk pengairannya.

Tingkat Kekosmopolitan Petani Sekitar Hutan Kemiri Rakyat

Tingkat kekosmopolitan petani tergolong rendah, terlihat dari rendahnya semua indikator tingkat kekosmopolitan petani, yaitu kontak dengan pihak luar komunitas (11 kali dalam tiga tahun), aksesibilitas informasi pengelolaan hutan kemiri (rataan skor 3) dan keterdedahan terhadap media massa terkait dengan berita atau topik pengelolaan hutan kemiri (rataan keterdedahan 0,03 jam per minggu atau setara dengan 3 menit per minggu).

Tingkat kekosmopolitan petani adalah keterbukaan anggota-anggota masyarakat sekitar hutan pada informasi melalui hubungan mereka dengan berbagai sumber informasi yang dibutuhkan. Petani yang kosmopolit berdasarkan kajian Rogers (Hanafi, 1986) akan lebih maju dibandingkan dengan dengan petani kebanyakan.

(16)

Tabel 19. Sebaran Tingkat Kekosmopolitan Petani Sekitar Hutan Kemiri Rakyat

Tingkat Kekosmopolitan Petani

Kategori Kecamatan Cenrana

(%) Kecamatan Camba (%) Kecamatan Mallawa (%) Total (%) Kontak

(frekuensi/3 tahun) Rendah Sedang 964 8614 5049 7128

Tinggi 0 0 1 1

Rataaan frekuensi (kali)/bulan 0,05(a) 0,1(b) 0,5(a)(b) 0,3

Rataaan frekuensi (kali)/3 tahun 2(a) 4(b) 18(a)(b) 11

Aksesibilitas thd

Informasi (Skor) Rendah Sedang 1000 1000 1000 1000

Tinggi 0 0 0 0

Rataaan skor 6(a)(b) 2(a) 2(b) 3

Keterdedahan thd media massa (Jam/minggu) Rendah 96 100 100 98 Sedang 2 0 0 2 Tinggi 2 0 0 0

Rataaan jam/minggu 0,13 ≈ 8’(a)(b) 0(a) 0(b) 0,03≈ 2’

Keterangan: n Cenrana = 54; n Camba = 50; n Mallawa = 100 (a)(b); hasil uji beda dengan ANAVA pada α = 5%

Kontak; Rendah = tidak pernah, Sedang = 1 kali/bulan, Tinggi = > 2 kali/bulan Rataan Skor; Rendah = skor 0-50, Sedang = skor 51-75, Tinggi = skor 76-100 Keterdedahan thd media massa; Rendah = tidak pernah, Sedang = 1-2 jam/minggu Tinggi = 3 jam/minggu

Kontak

Kontak yang dilakukan oleh responden dengan pihak luar komunitas dalam rangka memperoleh informasi tentang pengelolaan hutan kemiri berkisar antara 0 atau tidak pernah sampai dengan 2 kali dalam sebulan, dengan rataan frekuensi total sebesar 0,3 kali dalam sebulan atau jika dikonversi ke dalam ukuran frekuensi per tiga tahun maka dapat dikatakan bahwa dalam tiga tahun kontak yang dilakukan petani dengan pihak luar komunitas sekitar 11 kali. Frekuensi ini termasuk dalam kategori rendah. Kondisi ini diperkuat sebagaimana ditunjukkan dalam Tabel 19 yaitu terlihat 71% dari 204 responden tidak pernah melakukan kontak dengan pihak luar komunitas. Kontak yang dilakukan dengan pihak luar komunitas lebih pada membicarakan usahatani non kemiri atau dengan tujuan lain. Kalaupun muncul pembicaraan tentang kemiri ketika terjadi kontak, maka tema yang dibicarakan bukan tentang usaha budidaya kemiri, namun lebih pada upaya bagaimana memperjuangkan status kepemilikan dan/atau hak kelola lahan. Usahatani tanaman kemiri secara khusus tidak lagi menarik perhatian masyarakat karena

(17)

rendahnya produktivitas. Hal ini merupakan dampak dari terbatasnya akses untuk mengelola dan meremajakan tanaman kemiri.

Terdapat perbedaan nyata frekuensi kontak antara petani di Kecamatan Mallawa dan petani di dua Kecamatan lainnya. Tidak terdapat perbedaan nyata frekuensi kontak antara petani di Kecamatan Cenrana dan petani di Kecamatan Camba. Frekuensi kontak dalam rangka memperoleh informasi tentang pengelolaan kemiri cenderung lebih banyak dilakukan oleh petani Kecamatan Mallawa, karena dimaklumi bahwa keberadaan hutan kemiri di kecamatan ini lebih luas dibandingkan dengan dua kecamatan lainnya, sehingga kebutuhan untuk memperoleh informasi pengelolaan hutan lebih relatif tinggi, namun secara kuantitatif jika dilihat dari rataan frekuensi sekitar 0,5 kali dalam sebulan atau setara dengan 18 kali dalam tiga tahun, maka unsur kontak pada Kecamatan Mallawa juga masuk dalam kategori rendah.

Aksesibilitas terhadap Informasi Pengelolaan Hutan Kemiri

Aksesibilitas petani terhadap informasi yang berkaitan dengan inovasi pengelolaan hutan kemiri pada umumnya tergolong rendah. Tingkat aksesibilitas semua responden (100%) terhadap informasi pengelolaan hutan kemiri tergolong rendah. Hal ini dipertegas dengan rendahnya rataan skor total yaitu 3. Sebagian besar petani merasakan bahwa ketersediaan informasi atau inovasi tentang prospek dan pengelolaan hutan kemiri tidak ada. Lembaga penyedia informasi kehutanan, pertanian dan perkebunan di sekitar desa atau tempat tinggal petani tidak ada, sehingga petani cenderung mengandalkan penyuluh dan tokoh masyarakat atau petani lain dalam rangka memperoleh informasi pertanian dan perkebunan. Kalaupun ada petani yang didatangi penyuluh atau kebetulan ada petani berkunjung ke kantor penyuluhan atau ke tempat tinggal penyuluh, mereka lebih suka mencari informasi tentang komoditas usahatani lain dibandingkan mencari tahu tentang informasi usahatani dan budidaya kemiri, dengan kata lain informasi tentang pengelolaan hutan kemiri tidak menjadi kebutuhan petani.

Rendahnya aksesibilitas informasi juga disebabkan tingkat pendidikan masyarakat yang relatif rendah di mana kurang tertarik pada hal-hal yang bersifat inovasi, terlebih lagi pada tanaman kemiri yang bagi mereka sudah menurun produktivitasnya, serta karena terbatasnya akses untuk mengelola hutan kemiri.

(18)

Petani lebih banyak mengandalkan kemampuan usahatani yang diperolehnya sebagai warisan turun temurun dalam memanfaatkan hutan kemiri daripada mencari informasi. Faktor lain yang berperan sebagai penyebab rendahnya aksesibilitas terhadap informasi adalah lembaga penyedia informasi usaha dan budidaya kemiri seperti kantor dinas kehutanan dan Kantor Badan Pelaksana Penyuluhan letaknya di kota Maros, sehingga sedikit sekali masyarakat yang mau mencari informasi atau berkunjung ke lembaga tersebut.

Terdapat perbedaan nyata antara aksesibilitas responden Kecamatan Cenrana dengan dua kecamatan lainnya. Sebagian responden di Kecamatan Cenrana cenderung lebih tinggi dibandingkan dua kecamatan lainnya. Hal ini disebabkan Kecamatan Cenrana lebih dekat jaraknya ke kota Maros dibandingkan dua kecamatan lainnya, sehingga memungkinkan lebih banyak petani dari kecamatan Cenrana mendatangi kota Maros seraya mencari informasi yang dibutuhkan mereka.

Keterdedahan Terhadap Media Massa

Keterdedahan petani terhadap media massa berkaitan dengan informasi pengelolaan hutan rendah (rataan skor total 0,03 jam/minggu atau setara dengan 2 menit/minggu). Hampir tidak ada petani yang berupaya mencari informasi tentang pengelolaan kemiri. Perhatian petani tidak lagi pada usahatani atau budidaya kemiri, sehingga usaha untuk memperoleh informasi dari media massa hampir tidak ada.

Para petani yang diwawancarai menyatakan bahwa mereka tidak berlangganan surat kabar atau majalah pertanian. Disamping itu, pada kenyataannya literatur cetak tentang kemiri sangat sulit dijumpai, terlebih lagi informasi melalui media elektronik bahkan tidak ada. Siaran radio RRI untuk pedesaan yang dapat ditangkap petani lebih sering menyiarkan tema usahatani sawah dan perkebunan namun bukan usahatani atau budidaya kemiri. Bila menonton TV, petani lebih cenderung mencari acara hiburan dan terkadang acara berita, karena pada kenyataannya menurut petani agenda atau acara yang ditayangkan oleh berbagai stasiun TV Nasional maupun swasta tidak pernah berkenaan dengan pengelolaan hutan.

(19)

Secara statistik terdapat perbedaan nyata keterdedahan terhadap media massa terkait dengan informasi pengelolaan hutan kemiri antara petani di Kecamatan Cenrana dan petani di dua Kecamatan lainnya. Keterdedahan terhadap media massa berkaitan dengan informasi tentang pengelolaan hutan kemiri antara petani di Kecamatan Camba dan petani di Kecamatan Mallawa tidak berbeda nyata.

Intensitas Peran Penyuluh Kehutanan

Intensitas peran penyuluh kehutanan tergolong rendah, yang ditunjukkan oleh rendahnya semua indikator intensitas peran penyuluhan kehutanan yaitu intensitas peran penyuluh kehutanan sebagai fasilitator dengan rataan skor 42, intensitas peran sebagai edukator/pendidik dengan rataan skor 43, dan intensitas peran penyuluh kehutanan sebagai advokat dengan rataan skor 29.

Tabel 20. Sebaran Intensitas Peran Penyuluh Kehutanan

Intensitas Peran Penyuluh Kehutanan Kategori Kecamatan Cenrana (%) Kecamatan Camba (%) Kecamatan Mallawa (%) Total (%) Sebagai fasilitator

(Skor) Rendah Sedang 5526 7216 7113 6717

Tinggi 19 12 16 16

Rataaan skor 47(a)(b) 38(a) 41(b) 42

Sebagai pendidik

(Skor) Rendah Sedang 5228 7612 7413 6817

Tinggi 20 12 13 15

Rataaan skor 51(a)(b) 39(a) 41(b) 43

Sebagai Advokat

(Skor) Rendah Sedang 1000 1000 937 973

Tinggi 0 0 0 0

Rataaan skor 14(a)(b) 27(a)(c) 39(b)(c) 29

Keterangan: n Cenrana = 54; n Camba = 50; n Mallawa = 100 (a)(b)(c); hasil uji beda dengan ANAVA pada α = 5%

Rataan skor; Rendah = skor 0-50, Sedang = skor 51-75, Tinggi = skor 76-100 Penyuluh kehutanan mempunyai peran yang sangat penting dan strategis dalam membimbing, mendidik, dan mengajak petani sekitar hutan kemiri agar mau dan mampu berperan serta secara aktif dalam pengelolaan dan pemeliharaan hutan kemiri. Salah satu indikator keberhasilan kegiatan penyuluhan tersebut ditentukan oleh intensitas peran yang ditampilkan oleh penyuluh kehutanan.

(20)

Pada saat ini perbandingan antara jumlah penyuluh dan desa adalah satu desa satu penyuluh, namun keberadaan penyuluh kehutanan di setiap desa pada setiap kecamatan sangat terbatas. Yang terjadi adalah setiap penyuluh tersebut bersifat poliven atau terjadi rangkap peran. Bila ditinjau dari bidang yang ditangani, penyuluh yang ada di tiga kecamatan tersebut melakukan multiperan, dalam arti penyuluh yang ada sekarang ini merangkap sebagai penyuluh pertanian, perkebunan, dan juga kehutanan, padahal spesialisasi yang mereka miliki pada umumnya adalah di bidang pertanian. Penyuluh dengan spesialisasi sarjana kehutanan di Kecamatan Mallawa hanya dua orang, di Kecamatan Camba tidak ada penyuluh dengan spesialisasi kehutanan karena dua tahun lalu telah pensiun, dan hanya satu penyuluh kehutanan di Kecamatan Mallawa yang juga hampir memasuki usia pensiun.

Intensitas Peran Penyuluh Kehutanan sebagai Fasilitator

Intensitas peran penyuluh kehutanan sebagai fasilitator, pada umumnya dipersepsikan rendah oleh responden yang ditunjukkan dengan rataan skor total sebesar 42. Terlihat (Tabel 20) bahwa sebagian besar (67%) responden mempersepsikan peran penyuluh sebagai fasilitator tergolong rendah, 17% responden mempersepsikan peran fasilitator yang dilakukan penyuluh tergolong sedang, dan 16% responden menyatakan tinggi.

Penyuluh kurang memberikan dorongan kepada petani untuk mengelola hutan kemiri dengan baik. Hal ini disebabkan karena adanya kebijakan yang membatasi akses masyarakat terhadap hutan kemiri, dan rendahnya produktivitas tanaman kemiri. Kebijakan tersebut mengakibatkan melemahnya minat dan perhatian kegiatan petani sekitar hutan dalam arti terpaksa untuk mengelola hutan kemiri. Penyuluh akhirnya kurang bersemangat dalam memfasilitasi dan membimbing petani untuk melakukan pengelolaan hutan kemiri karena usaha tersebut dirasa akan sia-sia. Kegiatan fasilitasi yang biasa dilakukan dan materi penyuluhan yang disampaikan pennyuluh penekanannya lebih pada usahatani lahan basah atau persawahan dan perkebunan.

Banyak penyuluh berdomisili di Kota Maros dan Makassar, dengan demikian jauh dari lokasi binaan. Kondisi ini juga menjadi menjadi salah satu penyebab rendahnya intensitas peran penyuluh sebagai fasilitator. Seringkali

(21)

petani merasakan penyuluh tidak ada di tempat ketika mereka membutuhkan, sehingga mereka harus menunggu kedatangan penyuluh sesuai jadwal kunjungan penyuluhan. Petani juga merasakan bahwa frekuensi kunjungan penyuluh ke lokasi binaan dirasakan masih kurang. Kegiatan penyuluh dirasakan petani lebih banyak mempersiapkan para petani dalam menerima bantuan dari pemerintah terkait dengan adanya suatu proyek.

Terdapat perbedaan nyata intensitas peran penyuluh sebagai fasilitator antara Kecamatan Cenrana dan dua kecamatan lainnya. Dari tabel terlihat ada kecenderungan bahwa intensitas penyuluh dalam berperan sebagai fasilitator di Kecamatan Cenrana lebih tinggi. Hal ini dapat dimaklumi, karena lokasi kecamatan Cenrana lebih dekat dengan jalan poros/utama dan lebih dekat dengan kota Maros dan Makassar sehingga akses ke tempat lokasi lebih cepat dan mudah bagi penyuluh untuk berkunjung.

Intensitas Peran Penyuluh Kehutanan sebagai Edukator/Pendidik

Intensitas peran penyuluh sebagai edukator atau pendidik kaitannya dengan pengelolaan hutan kemiri dipersepsikan oleh responden rendah, yang ditandai dengan rataan skor total 43. Terlihat (Tabel 20) bahwa sebagian besar (68%) responden mempersepsikan peran pendidik tergolong rendah, 17% responden mempersepsikanya sedang, dan 15% responden menyatakan tinggi.

Hal ini mengindikaskan bahwa penyuluh belum berperan sebagai pendidik yang baik pada kegiatan pengelolaan hutan kemiri. Secara statistik, terdapat perbedaan nyata intensitas peran penyuluh sebagai educator atau pendidik antara Kecamatan Cenrana dan dua kecamatan lainnya. Pada Kecamatan Cenrana intensitas peran penyuluh sebagai pendidik lebih tinggi (rataan skor 51), diikuti oleh Kecamatan Mallawa (rataan skor 41) dan Kecamatan Camba (39). Hal ini disebabkan keberadaan penyuluh di Kecamatan Cenrana yang memiliki spesialisasi di bidang kehutanan lebih banyak yaitu dua orang dibandingkan dengan dua kecamatan lainnya, sehingga tranfer informasi dan ketersediaan materi tentang usahatani kemiri lebih tersedia dibandingkan dengan dua kecamatan lainnya.

Terbatasnya kemampuan penyuluh di bidang kehutanan merupakan salah satu penyebab rendahnya peran sebagai pendidik, sebagai contoh ketika petani

(22)

menanyakan tentang bagaimana menanggulangi pohon kemiri yang terserang penyakit, penyuluh tidak mampu secara langsung memberikan jawaban. Padahal menurut Lionberger dan Gwin (1982) salah satu faktor yang mendorong keberhasilan penyuluhan terletak pada kemampuan penyuluh dalam memberikan jawaban atas pertanyaan yang diajukan oleh petani. Selain itu, di lokasi penelitan ketidaktertarikan petani dan rendahnya keinginan petani akan infomasi dan inovasi pengelolaan hutan kemiri mengakibatkan penyuluh hampir tidak penah berupaya melakukan bimbingan teknis tentang usahatani dan budidaya kemiri. Intensitas Peran Penyuluh Kehutanan sebagai Advokat

Persepsi responden terhadap peran penyuluh sebagai advokat pada umumnya rendah dengan rataan skor total sebesar 29. Peran penyuluh sebagai advokat merupakan peran dimana penyuluh memosisikan dirinya sebagai wakil petani dalam rangka membela dan membantu mengartikulasikan kebutuhan dan aspirasi petani kepada pemangku kepentingan tertentu terutama pemerintah untuk mempengaruhi pandangan, pendapat serta kebijakan pengelolaan hutan kemiri sehingga dapat lebih berpihak kepada petani. Pada Kecamatan Mallawa intensitas peran penyuluh sebagai advokat lebih tinggi (rataan skor 39), diikuti oleh Kecamatan Camba (rataan skor 27) dan Kecamatan Cenrana (14).

Keterlibatan dan interaksi penyuluh dengan masyarakat petani seringkali membuat petani sekitar hutan menaruh harapan kepada penyuluh agar dapat membantu menyelesaikan permasalahan yang sedang dihadapi tidak saja masalah usahatani tetapi juga permasalahan hak akses terhadap hutan kemiri. Petani, yang tidak mampu bersuara karena merasa telah terbentur oleh kebijakan yang ada, mengharapkan melalui penyuluh aspirasi mereka dapat tersampaikan kepada kepada pemerintah. Sementara itu sebagai pegawai negeri sipil atau tenaga yang digaji oleh pemerintah penyuluh terikat oleh aturan dan harus bersikap loyal kepada pemerintah. Kebijakan pemerintah tentang pengelolaan hutan kemiri, seiring dengan perubahan status hutan yang mengakibatkan terbatasnya akses petani terhadap hutan, menjadi bagian dari tugas penyuluh untuk mengawal dan menyosialisasikan kebijakan tersebut kepada masyarakat sekitar hutan. Dengan kata lain, sebagaimana dinyatakan oleh Van den Ban dan Hawkins (1999) bahwa penyuluh berada dalam situasi dilema karena berdiri di antara tiga kepentingan

(23)

yaitu kepentingan petani, kepentingan dirinya dan kepentingan organisasinya atau pemerintah. Kondisi kontradiksi tersebut mengakibatkan petani merasakan penyuluh belum banyak berpihak atau terpaksa tidak berpihak pada kepentingan petani.

Terdapat perbedaan nyata peran penyuluh sebagai advokat pada ketiga kecamatan tersebut. Peran penyuluh sebagai advokat lebih tinggi intensitasnya di Kecamatan Mallawa, diikuti oleh Kecamatan Camba, kemudian Kecamatan Cenrana. Petani di Kecamatan Mallawa lebih terbuka dalam menyampaikan aspirasinya kepada penyuluh. Hal ini dapat dimaklumi karena penyuluh kehutanan di Kecamatan Mallawa merupakan penyuluh senior sehingga kedekatan dan ikatan emosional dengan petani lebih tinggi dibandingkan dengan dua kecamatan lainnya, sehingga oleh petani Kecamatan Mallawa penyuluh dipersepsikan lebih memahami permasalahan yang mereka hadapi.

Dukungan Lingkungan Sosial Budaya

Dukungan lingkungan sosial budaya secara umum cenderung rendah, terlihat dari rendahnya dukungan tokoh masyarakat (rataan skor 33) dan dukungan kelompok tani (rataan skor 18), kecuali dukungan kearifan lokal yang tergolong sedang (rataan skor 57).

Tabel 21. Sebaran Dukungan Lingkungan Sosial Budaya

Dukungan Lingkungan Sosial Budaya

Kategori Kecamatan Cenrana (%) Kecamatan Camba (%) Kecamatan Mallawa (%) Total (%) Dukungan kearifan

lokal (Skor) Rendah Sedang 4619 4034 4939 4632

Tinggi 35 26 12 22

Rataaan skor 56 59 57 57

Dukungan Tokoh

Masyarakat (Skor) Rendah Sedang 7030 946 919 8614

Tinggi 0 0 0 0

Rataaan skor 36(a) 30(a) 33 33

Dukungan kelompok

tani (Skor) Rendah Sedang 937 1000 991 973

Tinggi 0 0 0 0

Rataaan skor 18(a) 24(a) 15 18

Keterangan: n Cenrana = 54; n Camba = 50; n Mallawa = 100 (a); hasil uji beda dengan ANAVA pada α = 5%

(24)

Lingkungan sosial, budaya dan alam memiliki pengaruh terhadap perilaku manusia (Soemarwoto, 1999; Rakhmat, 2002; Sarwono, 2002; Walgito, 2003; Santosa, 2004). Ndraha (1999) mengemukakan bahwa terdapat hubungan transaksi antara manusia dengan lingkungannya baik lingkungan sosial maupun lingkungan alam. Manusia hidupnya bergantung pada dan dipengaruhi oleh lingkungan, demikian pula kontribusi dan perlakuan manusia kepada lingkungan akan memberikan nilai atau manfaat kepada lingkungan tersebut yang pada akhirnya berujung untuk kepentingan manusia itu sendiri yaitu agar manusia berbahagia (engineering life) dan hidup dengan nilai setinggi mungkin (accounting life).

Dukungan Kearifan Lokal

Praktek pengelolaan hutan kemiri yang dilakukan petani sekitar hutan kemiri Kabupaten Maros dilandasi oleh kearifan lokal yang ada dan telah berlaku secara turun temurun. Pada saat ini, dukungan kearifan lokal dalam pengelolaan hutan kemiri di kabupaten Maros pada umumnya berada dalam kategori sedang, yang ditandai dengan rataan skor total sebesar 57. Terlihat (Tabel 21) bahwa sebagian besar responden (64%) memiliki persepsi yang cenderung tinggi terhadap dukungan kearifan lokal yaitu 32% responden menyatakan dukungan lingkungan sosial budaya terhadap praktek pengelolaan hutan kemiri rakyat tergolong sedang dan 22% responden menyatakan tinggi.

Secara statistik tidak terdapat perbedaan nyata dukungan kearifan lokal di antara tiga kecamatan tersebut. Hal ini berarti, kearifan lokal tersebut cukup mampu memberikan dukungan bagi pengelolaan hutan kemiri secara lestari pada tiga kecamatan tersebut, walaupun pada kenyataannya telah terjadi sedikit pergeseran atau kelunturan kekuatan, keterikatan dan penghayatan terhadap nilai kearifan lokal tersebut sebagai akibat diberlakukannya TGHK.

Praktek praktek pengelolaan hutan kemiri dalam bentuk kebun hutan sudah lama dikembangkan penduduk dalam bentuk dare’ ampiri (kebun kemiri). Tampilan kebun kemiri yang telah menyerupai hutan ini tidak hanya menjadi sumber penghasilan bagi petani, tetapi juga menjamin kelestarian lingkungan secara berkelanjutan. Mengelola hutan bagi petani sekitar hutan kemiri Kabupaten Maros memiliki cara tersendiri dan menjadi bagian dari sistem budaya mereka.

(25)

Hutan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dengan alam dirinya, sehingga untuk menjaga keseimbangan ekosistem di dalamnya terdapat aturan-aturan atau norma-norma tersendiri yang harus dipatuhi oleh semua petani. Aturan-aturan atau norma-norma tersebut merupakan kearifan lokal yang telah melembaga dan menjadi etos kerja dan menjadi sistem pengetahuan pengelolaan hutan bagi petani sekitar hutan kemiri. Mitchell et.al. (2007) mengemukakan bahwa sistem pengetahuan lokal sangat ampuh dan memiliki peran sangat besar sepanjang sejarah hidup manusia dalam menjaga keseimbangan lingkungan alam.

Petani sekitar hutan kemiri kemiri Kabupaten Maros memiliki sistem nilai, pengetahuan, teknologi dan sistem kelembagaan dalam mengelola hutan kemiri. Meskipun tradisional namun mengandung kearifan dalam mengelola dan memanfaatkan hutan kemiri. Kearifan dalam pemanfaatan hutan telah melembaga dan menjadi institusi lokal yang termanifestasi dalam praktek pengelolaan hutan kemiri yang meliputi kegiatan mappamula/makkoko, madare, makampiri dan maddepa. Di setiap kegiatan tersebut berbagai norma, nilai dan aturan yang merupakan unsur kearifan lokal dijadikan landasan sehingga menciptakan hubungan yang serasi antara petani dengan hutan kemiri, dan telah menciptakan hubungan yang harmonis di antara petani dalam pengelolaan hutan kemiri.

1. Mappamula

Mappammula/makkoko adalah kegiatan untuk mempersiapkan lahan. Kegiatan ini disertai upacara atau ritual tertentu, dipimpin oleh orang yang dituakan atau sanro (dukun) yang dilaksanakan pada akhir musim kemarau yaitu bulan September dan Oktober yang meliputi penentuan lokasi, pembukaan lahan, pembersihan lokasi, pengadaan bibit dan pengolahan tanah. Terdapat empat macam pilihan lokasi, yaitu lebba (berada di antara gunung), empe (lokasi/lahan miring atau pinggiran gunung), lappa (lokasi terbuka, datar jauh dari gunung), dan garoppo (lahan yang berbatu). Pada umumnya para petani memilih lahan lebba. Lahan lappa biasanya digunakan petani untuk bercocoktanam tanaman semusim.

Mappammula/makkoko diawali dengan menetapkan batas lahan yang akan dibuka, membersihkan tumbuhan bawah tegakan yaitu membabat semak dan alang-alang, selanjutnya menebang pohon-pohon yang besar. Kemudian

(26)

dilakukan pembakaran (mattunu) di atas areal yang telah dibersihan dengan maksud agar tanah menjadi panas sehingga benih kemiri mudah berkecambah. Kegiatan pembukaan lahan ini dikerjakan oleh pemilik lahan atau dipercayaan kepada pakkoko/paddare yaitu orang yang berkebun pada lahan milik orang lain dengan kesepakatan tertentu dengan pemiliknya. Setelah itu dilakukan pembersihan lahan dari sisa-sisa pembakaran dan penggemburan untuk persiapan penanaman (maddare).

2. Pengadaan Bibit

Pengadaan bibit dilakukan dengan dua cara yaitu pengadaan benih atau pemilihan biji, dan mengambil anakan alami kemiri. Pengadaan benih dilakukan dengan cara memilih pohon induk sebagai sumber benih dengan kriteria masih produktif setiap tahun dan berbuah lebat, usia 15-25 tahun, memiliki batang yang besar dan tajuk yang yang lebar. Buah yang berkualitas baik untuk benih dicirikan dengan isinya yang utuh tidak pecah pada saat dikupas dan berasal dari buah kemiri yang berbiji kembar dua (kabba). Petani mengidentifikasikan biji kemiri dengan jantan dan betina. Biji betina bentuknya gepeng (pipih) dan dipangkalnya ada lekukan, sedangkan yang bentuknya bulat adalah biji jantan. Menurut petani, biji betina lebih mudah dan cepat tumbuh dibandingkan dengan biji jantan. Biji betina pada umumnya dihasilkan dari buah yang berbiji kembar. Pengambilan benih/biji dilakukan pada bulan November yakni pada akhir musim berbuah atau sekitar tiga bulan sebelum penanaman, kemudian dikeringkan selama satu hari (dijemur), setelah itu disimpan sampai pada waktu penanaman.

Pengambilan anakan alami sebagai bibit dilakukan dengan memperhatikan induk pohon kemiri di atasnya yaitu pohon kemiri yang pertumbuhannya baik, batang tegak, sehat, tidk terserang hama/penyakit dan berbuah lebat. Pengambilan anakan alami dilakukan dengan sistem cabutan.

3. Maddare

Maddare adalah kegiatan penanaman kemiri, dilakukan secara langsung di lapangan dengan menggunakan biji (tanpa melalui kegiatan persemaian), dengan pertimbangan bahwa biaya lebih murah dan pelaksanaannya lebih mudah jika dibandingkan penanaman dengan menggunakan bibit. Terdapat dua cara penanaman yaitu penanaman sebelum dan setelah pembakaran. Penanaman

(27)

sebelum pembakaran dilaksanakan dengan cara menanam biji ke dalam lubang sedalam 5 – 10 cm kemudian ditutup kembali, setelah itu di atas tanah tersebut dilakukan pembakaran kayu, daun kering, ranting sisa pembersihan. Sedangkan penanaman setelah pembakaran dilakukan dengan cara menanam biji ke dalam lubang sedalam 2-3 cm atau sedikit bagian dari biji tersebut terlihat menonjol ke permukaan tanah pada lahan yang telah mengalami pembakaran dan telah bersih. Menurut petani, kemampuan berkecambah dengan penanaman sebelum pembakaran lebih tinggi dibandingan dengan setelah pembakaran. Kegiatan penanaman dilakukan pada awal musim hujan, selanjutnya sambil menunggu tanaman kemiri besar dan berbuah serta tajuk lebat menutupi lahan, dilakukan penanaman tanaman semusim seperti kacang tanah, jagung dan sayur-sayuran selama 2-3 tahun.

4. Pemeliharaan

Pemeliharaan tanaman kemiri pada umumnya dilakukan hanya pada saat panen (sekali dalam setahun), dengan melakukan penebasan atau pembersihan tanaman pengganggu untuk memudahkan memungut buah kemiri. Pemeliharaan berkala biasanya dilakukan petani pada waktu tertentu saja seperti saat berbunga atau pada saat mulai berbuah. Pemeliharaan rutin biasanya dilakukan oleh petani yang memiliki lahan relatif datar dimana biasanya di bawah tegakan kemiri dilakukan tumpang sari kacang tanah, jagung, sayur-sayuran atau cokelat.

Pemeliharaan tanaman kemiri sejak ditanam sampai dengan berbuah (usia 0-3 tahun) biasanya dilakukan oleh pakokko karena sambil menunggu tanaman kemiri mulai berbuah oleh pakokko lahan tersebut dimanfaatkan dengan menanam tanaman semusim

5. Makkampiri

Makkampiri adalah kegiatan pemanenan yang dilakukan bertepatan dengan awal musim hujan yaitu bulan Nopember atau Desember. Pemanenan dilakukan dengan cara memungut buah kemiri yang jatuh ke permukaan tanah. Hal ini dilakukan selain karena faktor ketinggian pohon juga karena buah kemiri yang jatuh ke atas tanah menurut petani memiliki kualitas yang baik. Cara pemungutan buah kemiri terdiri atas pemungutan yang dilakukan pada saat kulit luar buah kemiri terpisah dengan kulit dalam (makkacone) dan pemungutan

(28)

sebelum terpisah antara kulit luar buah kemiri dengan kulit dalamnya (makkaba). Petani lebih suka melakukan pemungutan makkacone karena mudah pelaksanaannya dan juga mudah membedakan buah kemiri yang hampa dengan yang berisi. Sedangkan pemungutan makkaba dirasakan lebih sulit karena kemiri masih kotor, dan sulit membedakan antara kemiri yang hampa dengan yang berisi. Pemanenan dilakukan secara bertahap yaitu panen raya (makkampiri), panen susulan (mabbali), dan panen akhir (makkalice). Makkampiri dilakukan oleh pemilik lahan atau orang yang dipekerjakan oleh pemilik lahan dengan memungut buah kemiri dengan kategori makkacone. Mabbali dilakukan oleh pemilik lahan atau orang lain yang dipekerjakan oleh pemilik lahan dengan memungut sisa buah kemiri yang belum jatuh pada saat makkampiri. Ketika tanaman kemiri sudah berbuah dan terlihat banyak, oleh petani pemilik lahan dengan bantuan dukun kampung (sanro), dipasang hompong (tanda larangan yang telah diberi mantera). Hompong adalah daun enau atau kain kafan/puitih (kaci) yang dipasang atau digantung pada batang kemiri dan akan dicabut setelah berakhirnya mabbali.

Pemasangan hompong dimaksudkan sebagai peringatan kepada orang lain untuk tidak melakukan pemungutan buah kemiri pada lahan tersebut tanpa seizin pemiliknya, dengan kata lain untuk menghindari pencurian. Selain itu, hompong berfungsi untuk memperjelas status pengelolaan dan penguasaan tanaman kemiri dan juga untuk menegakkan nilai alempureng (kejujuran) serta nilai siri (harga diri) dalam diri masyarakat. Masyarakat percaya apabila mencuri buah kemiri yang jatuh pada lahan yang telah dipasangi hompong maka pencuri tersebut akan tertimpa musibah seperti umur pendek atau terkena penyakit parah.

Setelah hompong dicabut oleh pemilik lahan yaitu setelah berakhirnya panen mabbali, maka diperbolehkan bagi masyarakat umum yang bukan pemilik lahan yang berminat untuk memungut dan memiliki buah kemiri tanpa harus meminta izin dari pemilik lahan atau biasa dikenal dengan makkalice.

6. Maddepa

Sebelum dijual dan/atau digunakan untuk kebutuhan sendiri, kemiri yang terkumpul dikupas/dipecah. Kegiatan ini dikenal dengan sebutan maddepa yang dilaksanakan oleh pemilik kemiri beserta anggota keluarga, atau

(29)

mengikutser-takan masyarakat yang ada di sekitarnya dengan sistim bagi hasil apabila produksi kemirinya cukup banyak. Pengupasan/pemecahan (maddepa) dapat dilakukan langsung setelah pemungutan dari lapangan atau setelah disimpan pada tempat penyimpanan (abbibireng) yang dilakukan setelah melalui proses pengeringan. Alat yang digunakan untuk mengupas terlihat sangat sederhana, terdiri dari dua bagian yaitu alat untuk menghentakan biji kemiri yang terbuat dari rotan yang dianyam (paddepa), dan tempat atau landasan untuk menghentak biji kemiri yang terbuat dari batu sungai dengan permukaan datar.

7. Mallolo

Kemiri yang sudah tua dan menurun produktivitasnya oleh petani sekitar hutan, sebelum adanya kebijakan TGHK, dilakukan upaya peremajaan atau biasa disebut dengan mallolo. Kegiatan mallolo ini pada dasarnya pengulangan dari kegiatan mappamula dan makkoko. Pada kegiatan mallolo tanaman kemiri yang sudah tua dan menurun produktivitasnya ditebang dan kayu hasil tebangan tersebut kemudian dibakar. Kegiatan mallolo biasanya dilakukan pada akhir musim kemarau atau menjelang musim hujan agar kayu dan ranting serta dedaunan hasil penebangan cepat kering sehingga mudah dibakar. Proses penanaman biji kemiri sama dengan proses maddare, yaitu biji kemiri ditanam atau ditabur sebelum dilakukan pembakaran. Setelah melalui proses pembakaran areal tersebut kemudian dibiarkan. Kurang lebih selama satu bulan dan memasuki musim hujan akan tumbuh tunas/kecambah pohon kemiri, untuk kemudian oleh petani diadakan seleksi bibit/anakan atau tunas yang baik sambil mengatur jarak tanam kemiri.

Dukungan Tokoh Masyarakat

Pada umum, dukungan tokoh masyarakat dalam pengelolaan hutan kemiri berada dalam kategori rendah, yang ditunjukkan dengan skor rataan total 33 (Tabel 21). Secara statistik, terdapat perbedaan nyata antara dukungan tokoh masyarakat pada Kecamatan Cenrana dan Kecamatan Camba, walaupun pada kenyataannya skor rataan keduanya masih berada dalam kategori rendah, yaitu 36 untuk Kecamatan Cenrana dan 30 untuk Kecamatan Camba. Dukungan tokoh masyarakat di Kecamatan Cenrana terlihat lebih tinggi karena petani di

(30)

Kecamatan Cenrana memiliki tingkat kebergantungan yang lebih tinggi terhadap hutan kemiri, termasuk tokoh masyarakatnya, dibandingkan dengan petani di dua kecamatan lainnya.

Rendahnya dukungan tokoh masyarakat dalam mendukung pengelolaan hutan kemiri, disebabkan tokoh masyarakat ikut merasakan dampak dari diberlakukannya TGHK. Tokoh masyarakat juga memiliki lahan kemiri yang akhirnya ditetapkan sebagai kawasan hutan setelah diberlakukannya TGHK, sehingga mereka tidak lagi memiliki hak untuk mengelola hutan kemiri. Sama dengan petani lainnya, mereka hanya diberikan hak untuk mengakses hutan kemiri dalam bentuk pemungutan buah. Tokoh masyarakat merasakan bahwa prosedur penetapan kawasan hutan melalui TGHK bersifat topdown tanpa konsultasi publik atau melibatkan masyarakat lokal yang notabene petani sehingga berdampak pada dimasukkan tanaman kemiri yang selama ini mereka miliki ke dalam kawasan hutan. Prosedur penetapan kawasan hutan melalui TGHK, dengan demikian, tidak memberi peluang pada masyarakat untuk menyuarakan kebutuhan, kepentingan, dan aspirasinya.

Perubahan status kebun kemiri menjadi kawasan hutan, menimbulkan dilema bagi tokoh masyarakat. Di satu sisi, tokoh masyarakat juga ikut merasakan kekhawatiran akan keamanan akses ke lokasi hutan di mana terdapat tanaman kemiri miliknya karena kebijakan yang ada setelah diterapkannya TGHK tidak memberikan ruang bagi masyarakat termasuk tokoh masyarakat untuk mengelola kebun kemirinya yang berada dalam kawasan hutan. Di sisi lain, karena tokoh masyarakat adalah figur yang dihargai dan menjadi panutan serta dituruti oleh masyarakat, terdapat kecenderungan adanya usaha kooptasi yang dilakukan oleh pemerintah terhadap tokoh masyarakat agar mau mengajak warganya untuk tidak melakukan kegiatan-kegiatan fisik pengelolaan tanaman kemiri yang berada dalam kawasan hutan, kecuali hanya kegiatan pemanenan dalam bentuk pemungutan buah kemiri, sebagaimana yang dinyatakan oleh salah satu tokoh masyarakat berinisial AS (46 tahun), sebagai berikut:

(31)

Dukungan Kelompok Tani

Dukungan kelompok tani pada anggotanya terkait dengan pengelolaan hutan kemiri termasuk dalam kategori rendah, dengan rataan skor total 18 (Tabel 21). Perbedaan nyata dukungan kelompok tani terjadi di antara Kecamatan Cenrana dan Kecamatan Camba, namun demikian keduanya tetap termasuk dalam kategori rendah dimana skor rataan dukungan kelompok tani di Kecamatan Cenrana adalah 18 dan di Kecamatan Camba 24.

Secara formal berdasarkan Surat Keputusan Bupati Maros No. 111/KPTS/ 412.61/III/2007 tentang Pengukuhan Kelompok Tani-Nelayan Kabupaten Maros Tahun 2001 terdapat 181 kelompok tani yang tersebar di tiga kecamatan tersebut, dengan rincian di Kecamatan Cenrana terdapat 79 kelompok tani, 47 kelompok tani berada di Kecamatan Camba dan 45 kelompok tani berada di Kecamatan Mallawa. Namun pada umumnya menurut petani kelompok tersebut dibentuk tidak berdasarkan inisiatif petani, melainkan bentukan atau inisiatif pemerintah dengan tujuan mendukung proyek-proyek pertanian, perkebunan, atau kehutanan yang diluncurkan pemerintah. Dalam wawancara terdapat beberapa petani yang lupa apakah mereka masih menjadi anggota kelompok atau tidak, bahkan ada di antara petani yang diwawancarai bertanya-tanya apakah kelompoknya masih ada atau sudah bubar, karena sudah lama tidak ada kegiatan kelompok.

Disamping itu, sebagian petani yang menjadi anggota kelompok tidak memahami dengan pasti tujuan kelompoknya, karena keberadaan mereka dalam kelompok sekedar ikut-ikutan dengan harapan mendapat kemudahan memperoleh bantuan pemerintah, sehingga sebagian besar petani cenderung memahami bahwa tujuan terbentuknya kelompok adalah untuk mempermudah mereka mendapatkan bantuan dari pemerintah seperti pembagian bibit dan fasilitas lainnya jika ada

Kotak 2:

...saya beberapa kali didatangi oleh aparat pemerintah untuk diberi arahan serta diminta agar saya menginformasikan dan mengajak masyarakat saya untuk tidak menggarap lahan atau melakukan pengelolaan tanaman kemiri yang berada dalam kawasan hutan. Masyarakat hanya diizinkan memanen buah kemiri. Padahal sebagian besar (85%) lahan di mana diatasnya terdapat tanaman kemiri yang tadinya dikelola oleh masyarakat. termasuk juga tanaman kemiri milik saya telah diklaim menjadi kawasan hutan...

(32)

proyek yang diluncurkan pemerintah, karena keberadaan kelompok merupakan salah satu prasyarat untuk memperoleh bantuan. Kondisi tersebut mengakibatkan kinerja kelompok tidak optimal. Petani yang menjadi anggota kelompok berharap adanya bimbingan dan pembinaan secara berkesinambungan baik dari pemerintah maupun swasta sehingga dapat terbentuk kelompok yang mandiri.

Kegitan pengelolaan kemiri bukan usaha kelompok melainkan usaha rumah tangga atau individu, kondisi ini juga yang menjadi penyebab rendahnya dukungan kelompok, karena interaksi dalam bentuk kerjasama dan berbagi terfokus pada kegiatan budidaya pertanian dan perkebunan, sedangkan pada kegiatan kehutanan khususnya pengelolaan hutan kemiri hampir tidak pernah diperhatikan oleh anggota-angota kelompok petani.

Ketersediaan Kesempatan/Peluang bagi Petani Sekitar Hutan untuk

Berpartisipasi dalam Mengelola Hutan Kemiri Rakyat

Ketersediaan kesempatan atau peluang, pada umumnya, tergolong rendah, yang dicirikan oleh rendahnya dukungan pemerintah (rataan skor 31), dukungan non pemerintah (rataan skor 4), dan bantuan permodalan/kredit (rataan skor 4), serta status kepemilikan dan luas lahan lebih banyak berada dalam kawasan hutan dan tanah negara (1,28 Ha) dari 2,1 Ha lahan yang dikelola petani. Hanya kepastian pasar yang tergolong sedang (rataan skor 64).

Kesempatan merupakan hal penting bagi setiap manusia yang hendak maju, termasuk petani. Kesempatan atau peluang tidak akan berarti bagi petani apabila petani tidak berusaha untuk memanfaatkannya atau meraihnya. Menurut Slamet (2003) masyarakat tidak dapat merubah kualitas hidupnya dan pembangunan tidak akan tercapai apabila masyarakat tidak tergerak untuk memanfaatkan kesempatan atau peluang yang tersedia.

Status Lahan

Sasaran penelitian dibatasi pada petani yang mengelola hutan kemiri. Pengertian mengelola artinya ikut memanfaatkan. Oleh karena itu penelitian ini tidak mengkaji secara parsial status kepemilikan lahan misalnya perbedaan antara kawasan hutan/tanah negara, milik sendiri, atau sewa, karena pada kenyataannya keadaan petani tidak terfragmentasi seperti itu, mereka secara simultan mengelola

Gambar

Tabel 16. Jumlah Penduduk di Sekitar Kawasan Hutan Kemiri Rakyat                  Kabupaten Maros
Tabel 17. Jarak Ibukota Kecamatan dari Ibukota Kabupaten dan Ibukota Provinsi Kecamatan Ibukota Kecamatan Jarak dari Ibukota
Tabel 18. Sebaran Karakteristik Individu Petani Sekitar Hutan Kemiri Rakyat Karakteristik       Individu   Kategori Kecamatan Cenrana (%) Kecamatan Camba (%) Kecamatan Mallawa(%) Total(%) Usia (tahun) 21-44 35 24 39 34 45-54 28 40 33 33 55-80 37 36 28 33 R
Tabel 19. Sebaran Tingkat Kekosmopolitan Petani Sekitar Hutan Kemiri Rakyat        Tingkat  Kekosmopolitan          Petani Kategori Kecamatan Cenrana(%) Kecamatan Camba(%) Kecamatan Mallawa(%) Total(%) Kontak
+7

Referensi

Dokumen terkait

Penelitian ini dilakukan pada bulan Desember 2008 sampai Maret 2009 dengan tujuan untuk mengidentifikasi kegiatan pengelolaan hutan rakyat di Kecamatan Biru-biru Kabupaten

Tujuan penelitian ini adalah untuk memetakan dan memperoleh informasi aktual terkait potensi dan sebaran luas lahan hutan rakyat di Kecamatan Sambirejo, Kabupaten Sragen

Persepsi petani tentang kredibilitas penyuluh sebagai sumber informasi mengenai pengelolaan hutan rakyat diduga berhubungan dengan karakteristik petani yang meliputi

Pola keterkaitan antara petani dalam hal jaringan pembukaan dan pengelolaan lahan diketiga desa kasus didominasi oleh modal sosial mikro yang diwujudkan dalam bentuk

Panen duku di Kecamatan Katibung sebagian besar dilakukan oleh petani dengan cara diborongkan langsung kepada ke pedagang kecil, hanya sebagian kecil petani yang melakukan

Komunikasi interpersonal yang dilakukan oleh petani dalam rangka memperoleh informasi pertanian organik antara lain dengan penyuluh pertanian (PPL) Kecamatan Sanden,

Pola keterkaitan antara petani dalam hal jaringan pembukaan dan pengelolaan lahan diketiga desa kasus didominasi oleh modal sosial mikro yang diwujudkan dalam bentuk

Hal ini bermakna bahwa untuk meningkatkan kemandirian petani dalam pengambilan keputusan usahatani di Kabupaten Bondowoso dapat dilakukan dengan meningkatkan akses informasi, dan