• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB VI DAMPAK KONVERSI LAHAN TERHADAP HUBUNGAN AKTOR

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB VI DAMPAK KONVERSI LAHAN TERHADAP HUBUNGAN AKTOR"

Copied!
13
0
0

Teks penuh

(1)

BAB VI

DAMPAK KONVERSI LAHAN TERHADAP HUBUNGAN AKTOR  

6.1 Perubahan Orientasi Nilai Terhadap Lahan

Orientasi nilai terhadap lahan yang dimaksud dikategorikan menjadi tiga, yaitu nilai keuntungan, nilai kepentingan umum, dan nilai sosial. Hal ini berdasarkan pada pengutamaan atau fungsi tertentu atas lahan yang disepakati dan dijalankan oleh suatu masyarakat. Tanah sebagai sumberdaya pada dasarnya diperlukan bagi semua kegiatan kehidupan dan penghidupan. Tanah bagi masyarakat memiliki nilai sosial, dimana masyarakat menggunakan tanah untuk lahan sawah dengan memanfaatkan potensi alaminya untuk menjaga kelestarian tanah tersebut. Nilai sosial ini berkaitan dengan peran ekonomis tanah yang merupakan aset dan sarana untuk memenuhi kebutuhan hidup. Hal ini diutarakan oleh Bapak AD (petani):

“lahan sawah nu digarap ku abdi teh sae kualitasna, pengairan na gampang. Biasana abdi nanam pare sareng palawija gantian. Pare dua kali nanam sareng palawija oge dua kali nanam tina sataun teh, supados kasuburan tanah na kajagi.”

“lahan sawah yang digarap oleh saya bagus kualitasnya, pengairannya lancar. Biasanya saya menanami lahan dengan padi dan palawija bergatian. Padi dua kali tanam dan palawija juga dua kali tanam dalam satu tahun, supaya kesuburan tanahnya tetap terjaga.”

Tanah yang diusahakan untuk pertanian dilakukan dengan hati-hati dengan tetap menjaga kesuburan tanah dan kelestariannya. Prinsip ini sejalan dengan prinsip nilai sosial yang dikemukakan oleh Jayadinata (1999), tanah merupakan hal yang mendasar bagi kehidupan (misalnya sebidang tanah yang dipelihara, peninggalan, pusaka, dan sebagainya), dan dinyatakan oleh penduduk dengan perilaku yang berhubungan dengan pelestarian, tradisi, kepercayaan, dan sebagainya. Tanah yang dikelola oleh petani merupakan lahan sawah irigasi teknis. Lahan sawah irigasi teknis ini pun mendapat perhatian dari pemerintah daerah berupa bantuan benih dan obat-obatan. Pengelolaan lahan sawah irigasi teknis ini pun mendapatkan bimbingan dari Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) secara rutin yang bertempat di saung tani. Bantuan dari pemerintah provinsi pun khususnya untuk renovasi irigasi dilakukan setiap dua atau tiga tahun sekali.

(2)

Seperti yang dikemukakan Bapak AD (petani):

“ti pamerintah pusat aya bantuan neng kanggo renovasi irigasi, biasana dongkap na dua atawa tilu tahun sakali.”

“dari pemerintah pusat ada bantuan untuk renovasi irigasi, biasanya dalam dua atau tiga tahun sekali.”

Seiring dengan dibutuhkannya tanah untuk pembangunan dalam rangka pengembangan wilayah, orientasi nilai tanah cenderung kepada nilai kepentingan umum. Nilai kepentingan umum menurut Chapin (1995) dalam Jayadinata (1999), yang berhubungan dengan pengaturan untuk masyarakat umum dalam perbaikan kehidupan masyarakat. Pembangunan untuk fasilitas umum secara langsung tidak memanfaatkan potensi alami dari tanah, tetapi lebih ditentukan oleh adanya hubungan-hubungan tata ruang dengan penggunaan-penggunaan lain yang telah ada.

Perubahan nilai lahan ini menyebabkan lahan yang subur tidak dapat lagi diusahakan. Petani yang mendapat bimbingan dengan mengikuti penyuluhan tidak dapat lagi mengaplikasikan ilmu yang didapatkan. Kelompok tani yang dibentuk untuk mengorganisir kegiatan petani dalam memperoleh informasi dan pembimbingan dari penyuluh sudah tidak berjalan lagi. Pembangunan Terminal Tipe A Kertawangunan adalah suatu wujud dari pemanfaatan tanah yang berkaitan dengan tata ruang. Pembangunan Terminal Tipe A Kertawangunan ini berkaitan dengan kepentingan umum. Kepentingan umum merupakan kepentingan seluruh masyarakat dengan penggunaan peran sosiologis atas tanah.

Keputusan Presiden (Keppres) Nomor 55 Tahun 1993 tentang Pengadaan Tanah Bagi Pelaksanaan Pembangunan telah memberikan definisi kepentingan umum sebagai “kepentingan masyarakat secara keseluruhan” dan kegiatannya haruslah dilakukan oleh pemerintah, kemudian dimiliki oleh pemerintah dan tidak ditujukan untuk memperoleh keuntungan (Sumardjono, 2008). Instansi pemerintah (termasuk BUMN dan BUMD) dan badan-badan lain non pemerintah yang memerlukan tanah di luar yang diatur dalam Keppres No 55/1993 harus melakukannya secara langsung dengan para pemegang hak atas tanah (tanpa bantuan Panitia Pengadaan Tanah) melalui cara jual beli, tukar-menukar, atau cara

(3)

lain yang disepakati para pihak berdasarkan musyawarah. Sesuai dengan Keppres penggunaan tanah untuk kepentingan umum yaitu pembangunan terminal tipe A di Desa Kertawangunan, pemerintah daerah yang khususnya Dinas Perhubungan dan Pemerintah Desa Kabupaten bagian Perlengkapan mengadakan pembebasan tanah dari masyarakat pemilik tanah yang akan digunakan untuk terminal melalui aparat pemerintah desa sebagai fasilitatornya.

Transaksi dalam pembebasan tanah untuk pembangunan terminal tipe A dilakukan oleh pemerintah daerah dengan pemegang hak atas tanah di Desa Kertawangunan melalui jual beli dan sewa menyewa. Transfer pemilikan tanah dengan proses jual beli terjadi pada tanah milik pribadi. Transfer pemilikan tanah dengan aparat desa yang merupakan tanah bengkok melalui sewa menyewa. Transfer pemilikan tanah dengan sewa menyewa diatur pula dalam Peraturan Desa No. 147/01-Perdes/2004 yaitu mengenai sewa menyewa tanah hak pakai Desa Kertawangunan dengan pemerintah. Pemerintah Daerah Kabupaten Kuningan melalui Dinas Perhubungan menggunakan tanah yang didapat dari masyarakat dan perangkat Desa Kertawangunan untuk pembangunan terminal tipe A. Tanah dijadikan inventaris pemerintah daerah dalam pemanfaatan ruang untuk fasilitas umum. Pembangunan Terminal Tipe A Kertawangunan ini mendapatkan izin operasional dan bantuan pembiayaan dari Departemen Perhubungan Pusat. Hal ini sebagaimana yang disampaikan oleh salah satu pegawai Dinas Perhubungan yaitu Bapak NN:

“pembangunan terminal ini mendapatkan pembiayaan dari pemerintah pusat dan telah memiliki izin operasional dari Menteri Perhubungan”

Perubahan orientasi nilai tanah dari nilai sosial menjadi nilai kepentingan umum menyebabkan ketimpangan peruntukan tanah. Kepentingan umum merupakan kepentingan masyarakat secara keseluruhan, namun kepentingan masyarakat (petani) terhadap tanah untuk memanfaatkan potensi alami tanah menjadi terpinggirkan.

   

(4)

6.2 Perubahan Hubungan Antar Aktor

Konversi lahan sawah irigasi teknis menyebabkan berubah pula hubungan antar aktor di Desa Kertawangunan. Pertama, hubungan aktor ini terkait dengan pemilik lahan dan petani. Pemilik lahan semula memiliki hubungan dengan petani yang menggarap lahannya yaitu hubungan penyewa dan pemilik-penggarap. Hubungan pemilik-penyewa yaitu hubungan antara pemilik tanah bengok dengan masyarakat yang menyewa lahan tersebut. Bagi pemilik tanah bengkok setelah tanah tersebut disewa oleh pemerintah daerah meningkatkan penghasilan sewa mereka. Tanah yang sebelumnya disewa oleh masyarakat dengan harga berkisar antara Rp 400.000,00 sampai Rp 500.000,00/100 bata per tahun. Harga sewa tersebut meningkat menjadi Rp 700.000,00/100 bata per tahun dari pemerintah daerah. Bagi petani (penyewa) setelah tanah tersebut menjadi aset pemerintah daerah, mereka tidak memiliki lahan garapan untuk disewa. Sebagaimana diungkapkan oleh Ibu IYH:

“ayeuna mah neng entos henteu aya lahan garapan deui kanggo disewa, kapungkur tiasa nyewa 100 bata. Paling ayeuna mah kana memprekan batu wae. Harga batu oge saember tanggung teh Rp 1.800,00.”

“sekarang sudah tidak ada lagi lahan untuk disewa, dulu bisa menyewa 100 bata. Sekarang yang dikerjakan adalah memecah batu saja. Harga batu untuk satu ember yang tanggung juga Rp 1.800,00.”

Dampak lain yang dirasakan adalah kehilangan kemampuan menyediakan beras secara mandiri. Petani harus membeli beras untuk mencukupi kebutuhan pangan sehari-hari. Selain itu, petani pun harus beralih mata pencahariannya. Bapak BHR (petani) menyatakan bahwa:

“saentos teu molah deui teh rugi atuh neng, biasana beas henteu kedah meser ayeuna kedah meser. Henteu aya ganti rugi kanggo abdi mah, ari kanggo anu gaduh sawah na mah aya ganti rugina. Paling ayeuna mah padamelan nu aya teh kanu meprekan batu, da kumargi di desa teh caket sareng sungai.

“sesudah tidak mengelola sawah lagi mengalami kerugian, biasanya beras tidak usah beli sekarang harus beli. Tidak ada ganti rugi untuk saya, kalau untuk pemilik sawah diberikan ganti rugi. Sekarang pekerjaan yang dilakukan yaitu sebagai buruh pemecah batu, soalnya lokasi desa berdekatan dengan sungai.”

(5)

Adapun petani yang masih bisa menggarap mereka dapat menggarap sawah dengan sistem bagi hasil maro dengan pemilik lahan yang lainnya. Seperti yang dialami oleh Ibu NN, sebelum lahan tersebut dialihfungsikan menjadi terminal dia sering menyewa lahan dari perangkat desa (tanah bengkok). Namun, setelah lahan tersebut dibangun terminal Ibu NN tidak dapat menggarap lahan lagi dengan sistem sewa. Ibu NN hanya dapat menggarap di lahan Bapak MMN dengan sistem bagi hasil maro. Hal yang paling dirasakan Ibu NN adalah hasil yang didapat dari lahan sawah dengan sistem bagi maro yang sekarang dijalankan, berbeda dengan hasil sawah dengan menggarap sendiri dari menyewa lahan. Sebagaimana diungkapkan Ibu NN:

“ayeuna abdi molah anu Bapak MMN, biasana hasilna bagi dua saentos dipotong ku pupuk sareng benih. Ari pupuk sareng benih na mah tinu gaduh lahan na. Benten neng sareng kapungkur, nuju ngagarap lahan nu disewa mah melak naon bae tiasa kumaha cek urang, hasilna oge alhamdulillah. Tina hasil sawah teh tiasa kenging ngabangun rompok, sampe sok disalinder rompok teh bau bawang. Sanajan waktos eta lahan teh sok dipelakan ku bawang.”

“sekarang saya mengelola sawah punya Bapak MMN, biasanya hasilnya bagi dua setelah dipotong dengan biaya pupuk dan benih. Pupuk dan benih biasanya diberikan oleh pemilik lahan. Beda dengan dulu, selagi saya menggarap lahan yang disewa menanam apa saja bisa gimana ingin kita, hasilnya juga alhamdulillah. Hasil dari sawah itu bisa sampai ngebangun rumah, sampai-sampai suka disindir rumahnya bau bawang. Hal ini dikarenakan dulu lahan saya sering ditanami bawang.”

Ada pula petani yang masih bisa menyewa tanah bengkok lainnya yang tidak digunakan untuk pembangunan terminal. Namun, harga sewa lahan ini semakin tinggi, harga sewa lahan mencapai Rp 800.000,00/100 bata per tahun.

Hubungan pemilik-penggarap dilakukan dengan sistem bagi hasil maro. Hubungan sistem bagi hasil ini memberikan penghasilan bagi pemilik lahan dan petani setiap kali panen (dalam setahun tiga kali panen). Keadaan ini berubah setelah lahan tidak digunakan lagi untuk lahan sawah. Perubahan ini berkaitan dengan penghasilan bagi pemilik lahan dari hasil sawah sekarang sudah berkurang, walaupun dengan penjualan lahan tersebut menambah keuangan keluarga.

(6)

Sebagaimana penuturan Bapak NN (putra dari Bapak JNL (Alm) pemilik lahan):

“ayeuna nu diraoskeun penghasilan tina sawah ngurangan, namung nambih artos tina ngical tanah. Hasil tina ngical tanah teh dianggo kangge sahari-hari.”

“sekarang yang dirasakan mengurangi penghasilan dari hasil sawahnya, namun menambah uang dari penjualan tanah. Hasil dari menjual tanah digunakan untuk keperluan sehari-hari.”

Bagi petani, tanah merupakan sumber penghidupan. Pemindahalihan pemilikan lahan yang telah dilakukan oleh pemilik tanah secara tidak langsung beralih pula penguasaan atas tanah. Konversi lahan menyebabkan hilangnya akses terhadap lahan sawah, sehingga harus beralih ke mata pencaharian lainnya. Mata pencaharian yang sekarang banyak digeluti oleh petani yakni menjadi buruh pemecah batu dan buruh bangunan. Pekerjaan sebagai pemecah batu dilakukan karena Desa Kertawangunan berdekatan dengan sungai. Bapak ADA menyatakan bahwa:

“kapungkur sateuacan dijantenkeun terminal abdi ngolah sawah 400 bata anu gaduh Bapak Lurah Parenca. Sentosna na dijantenkeun terminal henteu tiasa ngolah deui, paling ayeuna kanu buruh bagunan. Nuju molah sawah mah heunteu kedah meser beas, ayeuna mah meser beas. Kadang-kadang meser beas tinu raskin sakarung Rp 30.000,00 aya 15 kg, eta oge lamun aya artosna. Nembe tahun ayeuna aya nu miwarang molah deui.” “dulu sebelum dijadikan terminal saya menggarap sawah 400 bata punya Bapak Lurah Parenca. Sesudah dijadikan terminal tidak bisa menggarap lagi, sekarang pekerjaannya buruh bangunan. Ketika menggarap sawah beras tidak harus membeli, sekarang harus membeli. Kadangkalan membeli beras miskin sekarungnya Rp 30.000,00 seberat 15 kg, itu juga kalau ada uangnya. Baru tahun ini saja ada yang menyuruh lagi untuk menggarap.”

Hubungan antar aktor yang kedua, berkaitan dengan pemerintah desa, pemerintah daerah dan petani. Petani yang sebelumnya dapat meyewa dan menggarap tanah dari pemilik tanah, menjadi kehilangan akses untuk pemanfaatan dan penguasaan lahan tersebut. Pada kenyataannya, konversi lahan yang terjadi berdampak pada semakin menyempitnya lahan pertanian khususnya lahan sawah irigasi teknis. Semakin menyempitnya lahan pertanian khususnya lahan sawah di Desa Kertawangunan, menyebabkan pergeseran mata pencaharian atau

(7)

kesempatan kerja penduduk. Pergeseran mata pencaharian ini lebih besar kepada sektor perdagangan dan buruh, mengingat rendahnya tingkat pendidikan masyarakat desa. Sebagaimana diungkapkan oleh Bapak DJDJ Kepala Desa Kertawangunan:

“setelah mengalami konversi penduduk desa yang bermatapemcaharian sebagai petani kehilangan mata pencahariannya. Sekarang mata pencahariannya ada yang sebagai pedagang biasanya jual bubur, ada yang sebagai buruh serabutan karena kebanyakan masyarakat hanya lulusan SD.”

Hal yang serupa dikemukakan oleh Bapak DSK:

“saentosna dibangun terminal teh, anu paling karaosna ku masyarakat Dusun Parenca. Soalna seseurna nu damel di sawah eta teh masyarakat Dusun Parenca. Ayeuna masyarakat Dusun Parenca seseurna damel teh jadi buruh memprekan batu, kan didieu caket sareng sungai.”

“setelah dibangun terminal, yang paling terasa dampaknya pada masyarakat Dusun Parenca. Hal ini disebabkan yang bekerja di sawah tersebut adalah masyarakat Dusun Parenca. Sekarang masyarakat Dusun Parenca banyak yang bekerja sebagai buruh pemecah batu kali, karena lokasinya dekat dengan sungai.”

Tanah yang tadinya merupakan sumber penghidupan petani, telah menjadi aset daerah yang tidak dapat lagi digunakan oleh petani. Penguasaan akan tanah telah berada di pihak pemerintah daerah dan pemilik tanah tidak memiliki kekuasaan lagi terhadap tanah tersebut. Perubahan penguasaan lahan dari pemilik tanah kepada pemerintah daerah menyebakan masyarakat (petani) tidak memiliki akses lagi dalam pemanfaatan potensi alami tanah untuk penghidupan dan kehidupan mereka.

Tuntutan dari masyarakat untuk keberlanjutan hidupnya yaitu memperoleh pekerjaan yang baru belum terealisasi. Pemerintah daerah menjanjikan pekerjaan yang baru kepada masyarakat yang menganggur dengan pembangunan Terminal Tipe A Kertawangunan, namun sampai saat ini baru beberapa orang yang dipekerjakan di terminal tersebut. Pekerjaan yang diberikan pun yaitu sebagai satpam dan petugas kebersihan. Hal ini disebabkan oleh rendahnya tingkat pendidikan masyarakat (petani). Sebagian besar petani tingkat pendidikannya lulusan Sekolah Dasar (SD). Realisasi dari janji pemerintah daerah belum benar-benar terlaksana, tidak sesuai dengan yang diharapkan masayarakat. Hal ini

(8)

disebabkan oleh terminal yang baru dibuka pada Tahun 2008 belum berjalan efektif, sehingga masyarakat yang dipekerjakan pun baru beberapa orang. Sebagaimana yang dikatakan oleh Bapak DJDJ Kepala Desa Kertawangunan:

“setelah pembangunan terminal tipe A banyak masyarakat desa yang menganggur, terutama masyarakat yang tinggal di Dusun Parenca yang berdekatan dengan terminal. Terdapat sekitar 150 orang yang menganggur, yang sudah dipekerjakan di terminal paling hanya beberapa orang. Pekerjaan yang diberikan di terminalpun hanya sebagai satpam dan pegawai kebersihan karena tingkat pendidikan masyarakat yang rendah, sebagian besar hanya lulusan SD.”

Tindakan yang dilakukan oleh aparat pemerintah desa dalam menanggulangi penurunan kondisi ekonomi para petani yaitu memasukkan mereka pada golongan keluarga prasejahtera. Hal ini dilakukan agar mereka dapat terdata untuk penyaluran beras miskin. Kebutuhan akan pangan sehari-hari para petani dapat terbantu dengan adanya beras miskin, walaupun beras miskin tersebut memiliki kualitas yang rendah. Kebutuhan akan beras miskin semakin meningkat, dahulu beras miskin yang disalurkan untuk desa sebanyak tiga kuintal, tetapi sekarang beras miskin yang disalurkan kepada masyarakat sebanyak 1,5 ton setiap tiga bulan sekali. Para petani untuk mendapatkan beras yang lebih layak dikonsumsi, mereka membeli beras yang kualitasnya lebih bagus untuk dicampurkan dengan beras miskin. Tindakan lainnya yang dilakukan oleh Pemerintah Desa Kertawangunan untuk membantu para petani ini berkaitan dengan bidang kesehatan. Pemerintah desa memberikan pelayanan pembuatan Kartu Sehat kepada masyarakat yang kurang mampu untuk berobat. Hal ini dimaksudkan untuk lebih meringankan beban masyarakat dalam mendapatkan pelayanan kesehatan.

(9)

Tabel 7. Data Responden Mengenai Pekerjaan dan Luas Tanah (sebelum dan sesudah konversi), Harga Sewa Lahan (per 100 bata/ tahun) dan Dampak yang Dirasakan Setelah Konversi

No. Responden Pekerjaan Sebelum Konversi Pekerjaan Sesudah Konversi Luas Tanah Sebelum Konversi Luas Tanah Setelah Konversi

Harga Sewa Lahan (per 100 bata/tahun)

Dampak yang Dirasakan Setelah Konversi 1. NN Petani- Penyewa Petani dengan sistem bagi hasil maro, pemecah batu

150 bata 200 bata Rp 500.000,00 • Tanah yang dapat digarap tanah milik masyarakat dengan sistem bagi hasil (tidak bisa menyewa lagi)

• Dulu ingin punya apa saja bisa sampai bisa membangun rumah penghasilan dari menggarap lahan

• Sekarang penghasilan hanya untuk mencukupi sehari-hari

2. AD Petani,

Pekebun- Penyewa

Petani- Penyewa

200 bata 200 bata Rp 400.000,00 • Lahan sawah yang digarap sekarang harga sewanya semakin naik (Rp 800.000,00/ 100 bata per tahun)

3. BHR Petani- Penyewa

Pemecah batu

200 bata - Rp 500.000,00 • Dulu tidak usah membeli beras, sekarang harus membeli beras 4. YYN Petani- Penggarap (sistem bagi hasil maro) Pemecah batu

150 bata - - • Tidak ada lahan lagi untuk digarap

• Dulu bisa punya persediaan beras 1 kuintal sekarang tidak ada sama sekali

(10)

No. Responden Pekerjaan Sebelum Konversi Pekerjaan Sesudah Konversi Luas Tanah Sebelum Konversi Luas Tanah Setelah Konversi

Harga Sewa Lahan (per 100 bata/tahun)

Dampak yang Dirasakan Setelah Konversi 5. IYH Petani-

Penyewa

Pemecah batu

100 bata - Rp 400.000,00 • Tidak ada lagi lahan untuk digarap

• Sekarang jadi pemecah batu saja 6. ADA Petani Penggarap (sistem bagi hasil maro) Buruh bangunan

400 bata - - • Dulu tidak usah membeli beras, sekarang harus membeli beras kadang-kadang beras miskin • Menyekolahkan anak pun

kerepotan, dulu kakaknya bisa sekolah sampai SMA

7. UD Petani- penyewa Petani Penggarap (sistem bagi hasil maro)

150 bata 150 bata Rp 500.000,00 • Penghasilan dari hasil menggarap sawah turun 50 persen

• Menggarap punya orang lain tidak bisa bebas menanam apa saja, bibit dan pupuk sudah disediakan 8. MNH Petani Penggarap (sistem bagi hasil maro) Pemecah batu

400 bata - - • Sekarang beras harus beli,

kadang-kadang beli beras miskin juga karena harganya murah walaupun jelek berasnya

(11)

Hubungan aktor yang ketiga yaitu terkait dengan aktor di dalam pemerintah daerah. Ketika perumusan rancangan Rencana Tata Ruang Wilayah ada perbedaan pendapat tentang fungsi Terminal Tipe A Kertawangunan. Perbedaan pendapat tersebut terkait dengan belum efektifnya Terminal Tipe A Kertawangunan, sehingga pada waktu itu fungsi terminal tipe A akan difungsikan menjadi terminal tipe B dengan fasilitas terminal tipe A. Sebagaimana diutarakan oleh salah seorang pegawai Bappeda:

“memang terjadi perbedaan pendapat untuk fungsi terminal tipe A, apakah tetap berfungsi sebagai terminal tipe A atau fungsinya berubah menjadi terminal tipe B. Mengingat terminal tipe A belum efektif untuk di Kabupaten Kuningan sendiri. Namun, Dinas Perhubungan sendiri menginginkan terminal tersebut tetap berfungsi sebagai terminal tipe A.”

Perubahan fungsi ini meliputi perubahan operasional, manajemen dan sirkulasi kendaraan bertujuan sebagai pengoptimalan atau kesesuaian fungsi dengan tetap menggunakan standar fasilitas terminal tipe A. Pihak Dinas Perhubungan sendiri menginginkan agar fungsi terminal tersebut sebagaimana fungsi awalnya yaitu sebagai terminal tipe A. Terminal tipe A berfungsi melayani kendaraan umum untuk angkutan antar kota antar propinsi, dan atau angkutan lalu lintas batas negara, angkutan antar kota dalam propinsi, angkutan kota dan angkutan perdesaan.

6.3 Perkembangan Desa Perkotaan

  Ditetapkannya Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah dan Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang pembagian wewenang antara sistem dan organisasi pemerintah pusat dan daerah, berpengaruh terhadap perkembangan desa. Pembangunan Terminal Tipe A Kertawangunan dengan adanya pembagian wewenang pemerintah pusat dan daerah, dapat dilaksanakan. Terminal Tipe A Kertawangunan merupakan titik simpul utama pelayanan angkutan umum di Kabupaten Kuningan. Hal ini berdampak pada berkembangnya Desa Kertawangunan menjadi desa perkotaan.

Konversi lahan sawah menjadi Terminal Tipe A Kertawangunan meningkatkan laju konversi lahan di Desa Kertawangunan. Terminal Tipe A Kertawangunan belum efektif di Kabupaten Kuningan, karena baru beroperasi

(12)

pada Tahun 2008. Selain itu, trayek untuk ke propinsi lain pun masih terbatas pada trayek Kuningan-Jakarta. Trayek untuk Kuningan-Cilacap baru akan dikembangkan untuk direalisasikan. Meskipun terminal ini belum efektif, namun perkembangan terhadap pembangunan desa sangat dirasakan. Sampai saat ini, telah terbangun kios dan perumahan sebanyak 16 lokal di Desa Kertawangunan. Bapak DJDJ Kepala Desa Kertawangunan menuturkan bahwa:

“walaupun terminal belum efektif neng, untuk perkembangan desa sudah nampak. Sekarang saja sudah ada sekitar 16 lokal kios dan rumah untuk disewakan. Bahkan rencana kedepannya akan membangun pasar di Desa Kertawangunan. Selain itu, di Kecamatan Sindang Agung sudah ada pembangun perumnas selesai pada tahun ini. Setelah pembangunan perumnas ini selesai, langsung banyak yang membeli untuk ditempati, karena letaknya juga strategis dan akses ke daerah lain lebih mudah apalagi dengan adanya Terminal Tipe A Kertawangunan.”

Pembangunan Terminal Tipe A Kertawangunan membuka akses ke wilayah lain, terutama dengan akan dibangunnya jalan lingkar timur pada Tahun 2010 yang menghubungkan Kedungarum-Kertawangunan-Ancaran.

Pembangunan terminal Tipe A ini menyebabkan pula meningkatnya harga tanah yang terdapat di sekitar Terminal Tipe A Kertawangunan. Pada saat pembebasan lahan sawah, tanah dihargai dua kali lipat dari harga pasaran. Setelah terminal terbangun, harga tanah meningkat menjadi 200 persen dari harga sebelumnya. Harga tanah pada waktu pembebasan lahan sebesar Rp 1.500.000,00 per batanya, sekarang menjadi Rp 6.000.000,00 per batanya. Perkembangan harga lahan sangat cepat, walaupun kondisi terminal belum efekif.

Kondisi ini menjadi gambaran bahwa, perkembangan Desa Kertawangunan untuk pembangunan dari tahun ke tahun akan semakin meningkat. Kebutuhan akan lahan untuk pembangunan perumahan dan pertokoan pun semakin meningkat. Meningkatnya kebutuhan tanah, mengakibatkan meningkatnya harga tanah tersebut. Kondisi di Desa Kertawangunan sebagian besar lahannya merupakan lahan sawah irigasi teknis. Perkembangan desa perkotaan bagi Desa Kertawangunan akan mengorbankan lahan sawah irigasi teknis.

(13)

6.4 Ikhtisar

Konversi lahan sawah irigasi teknis menjadi Terminal Tipe A Kertawangunan berdampak pada perubahan hubungan aktor dalam pemanfaatan dan penguasaan sumberdaya agraria tanah. Perubahan hubungan aktor ini berkaitan dengan perubahan orientasi nilai terhadap lahan, ketidakterjaminan petani dan perkembangan desa perkotaan. Perubahan orientasi nilai terhadap lahan yaitu pergeseran nilai suatu lahan. Lahan di Desa Kertawangunan yang sebelumnya memiliki nilai sosial dengan pemanfaatan potensi alami tanah berubah menjadi nilai kepentingan umum untuk pembangunan terminal. Perubahan orientasi tanah ini mengakibatkan adanya ketimpangan peruntukan tanah. Tanah digunakan untuk fasilitas umum kepentingan seluruh masyarakat, tetapi di sisi lain kebutuhan masyarakat (petani) untuk pemanfaatan potensi alami tanah menjadi terpinggirkan.

Pemindahalihan kepemilikan tanah dari masyarakat kepada pemerintah desa berarti perpindahan penguasaan terhadap tanah. Perubahan penguasaan lahan dari pemilik tanah kepada pemerintah daerah menyebabkan masyarakat (petani) tidak memiliki akses lagi dalam pemanfaatan potensi alami tanah untuk penghidupan dan kehidupan mereka. Hilangnya akses ini pun mengakibatkan berubahnya mata pencaharian petani. Masyarakat yang sebelumnya bekerja sebagai petani beralih pada mata pencaharian baru yaitu sebagai buruh bangunan dan pemecah batu. Selain itu, petani tidak bisa lagi menyediakan pangan secara mandiri. Tuntutan dari masyarakat (petani) untuk keberlanjutan kehidupannya yaitu memperoleh pekerjaan yang baru, belum terealisasi. Sampai saat ini, petani yang menganggur akibat pembangunan Terminal Tipe A Kertawangunan baru beberapa orang yang dapat dipekerjakan di terminal tersebut.

Pembangunan Terminal Tipe A Kertawangunan mengakibatkan berkembangnya Desa Kertawangunan menjadi desa perkotaan. Hal ini disebabkan oleh terbukanya akses ke wilayah lain dan semakin meluasnya pembangunan di Desa Kertawangunan, walaupun kondisi terminal belum efektif. Pembangunan membutuhkan tanah sebagai ruang, sementara di Desa Kertawangunan sebagian besar merupakan lahan pertanian. Semakin meningkatnya kebutuhan akan tanah menyebabkan meningkatnya harga tanah tersebut.

Gambar

Tabel 7. Data Responden Mengenai Pekerjaan dan Luas Tanah (sebelum dan sesudah konversi), Harga Sewa Lahan (per 100 bata/

Referensi

Dokumen terkait

Peralihan fungsi lahan pertanian di Indonesia dapat terjadi karena adanya pengadaan tanah pembangunan untuk kepentingan umum dan perubahan alih fungsi lahan pertanian menjadi non

34 Tahun 2017 tentang pemanfaatan tanah desa pada Pasal 48 bahwa dalam hal tanah desa yang dilepaskan untuk pembangunan kepentingan umum, harus ditukar dalam

Sifat Kimia Tanah Pada Berbagai Tipe Penggunaan Lahan di Desa Leboni Kecamatan Pamona Puselembo Kabupaten Poso, Skripsi.. Balai

 Penyediaan shuttle car/bus wisata dari perempatan Grogol menuju kawasan wisata desa Bejiharjo Terminal wonosari menuju Desa Bejiharjo 4 Infrastruktur, Fasilitas Umum dan

81 Tahun 2011 tentang standar Pelayanan Minimal Bidang Perhubungan Daerah Propinsi, nilai capaian tersedianya terminal angkutan penumpang Tipe A pada setiap

Dalam Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2012 tentang Pengadaan tanah untuk kepentingan umum harus dilakukan dalam rangka pembangunan untuk kepentingan umum, pemberian ganti

“Dalam penentuan prioritas program penggunaan alokasi dana desa pertahun anggaran, dari kami bidang/ dinas hanya menerima usulan dari desa terkait,setiap program tahun anggaran

a. Menjamin tersedianya tanah untuk kepentingan umum yang bersifat strategis nasional ataupun bersifat lintas provinsi. Menjamin tersedianya pendanaan untuk kepentingan