Biodiversity and Climate Change Project

144  Download (0)

Teks penuh

(1)

Final Report

Analisis Kelayakan Usaha untuk Rencana Bisnis Masyarakat

(

Report on business models related to the development of community-based

non timber forest product enterprises

)

(2)

Kata Pengantar

Laporan ini disusun sebagai dokumen verifikasi untuk Tujuan Spesifik/Output-5 (Working Package 5): “Sumber-sumber pendapatan alternatif untuk masyarakat yang hidup di dalam dan sekitar kawasan-kawasan yang dilindungi teridentifikasi dan dikembangkan”, dan sebagai laporan capaian Kegiatan Utama 5.2: “Dukungan untuk Kelompok Masyarakat dengan Upaya Menciptakan Pendapatan bagi Pemberdayaan Masyarakat”, Sub–Kegiatan 5.2.2 “Model unit bisnis terkait dengan pengembangan usaha pemanfaatan kayu dan produk-produk hasil hutan berbasis masyarakat”.

Laporan ini merupakan integrasi dari beberapa kegiatan lapangan dengan pendekatan studi, survey, dan proses-proses produksi serta pemasaran oleh Kelompok Tani Hutan (KTH) di 5 (lima) desa pilot project Bioclime yang secara administrasi berada di Desa Napalicin (Kabupaten Musi Rawas Utara), Desa Karang Panggung (Kabupaten Musi Rawas), Desa Muara Sungsang (Kabupaten Banyuasin), Desa Kepayang dan Pangkalan Bulian (Kabupaten Musi Banyuasin) Provinsi Sumatera Selatan. Tim pelaksana kegiatan adalah Tim Project Bioclime bekerjasama dengan Universitas Sriwijaya.

Dokumen laporan ini berisi tentang analisis kelayakan usaha untuk mendukung rencana pengembagan usaha masyarakat (business plan) dengan pendekatan kajian pustaka dan kajian empiris hasil survey lapangan, mencakup analisa aspek pemasaran, teknis dan produksi, keuangan, sosial ekonomi, dan dampak lingkungannya. Hasil analisisnya selanjutnya menjadi referensi untuk rencana pengembangan usaha (business plan) terkait dengan program pemberdayaan masyarakat dan KPH di wilayah Provinsi Sumatera Selatan.

Pendapat, pandangan dan rekomendasi yang disampaikan pada laporan ini adalah pendapat, pandangan dan rekomendasi dari penulis dan tidak mencerminkan pendapat resmi dari BMUB dan/atau GIZ.

(3)

DAFTAR ISI

3.2. Hasil Valuasi dan Pemetaan Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) ... 6

3.3. Hasil Studi Rantai Nilai Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK) ... 12

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN …………... 14

4.1. Analisis Kelayakan Usaha ... 14

UNIT BISNIS NILAM ... 14

4.1.1. Aspek Pemasaran Nilam (Kajian Pustaka) ... 14

4.1.2. Aspek Teknis dan Produksi Nilam (Kajian Pustaka)... 17

4.1.3. Aspek Keuangan Usaha Nilam (Kajian Pustaka)... 21

(a) Biaya Investasi ... 21

(b) Sumber Modal ... 21

(c) Analisis Kelayakan Finansial ... 22

(d) Proyeksi Arus Kas ... 22

(e) Proyeksi Rugi Laba ... 23

(f) NPV, IRR dan B/C ... 23

4.1.4. Aspek Sosial Ekonomi dari Usaha Nilam (Kajian Pustaka)... 24

4.1.5. Aspek Dampak Lingkungan dari Usaha Nilam (Kajian Pustaka)... 24

4.1.6. Kajian Empiris Hasil Survey: Aspek Pemasaran Nilam ... 25

4.1.7. Kajian Empiris Hasil Survey: Aspek Teknis dan Produksi Nilam ... 28

4.1.8. Kajian Empiris Hasil Survey: Aspek Keuangan Usaha Nilam ... 30

4.1.9. Kajian Empiris Hasil Survey: Aspek Sosial Ekonomi dari Usaha Nilam ... 31

4.1.10. Kajian Empiris Hasil Survey: Aspek Dampak Lingkungan Nilam ... 32

UNIT BISNIS KOPI ... 33

4.1.1. Aspek Pemasaran Kopi (Kajian Pustaka) ... 33

4.1.2. Aspek Teknis dan Produksi Kopi (Kajian Pustaka)... 39

4.1.3. Aspek Keuangan Usaha Kopi (Kajian Pustaka)... 43

(a) Biaya Investasi ... 43

(b) Sumber Modal ... 43

(c) Analisis Kelayakan Finansial ... 44

(d) Proyeksi Arus Kas ... 44

(e) Proyeksi Rugi Laba ... 44

(4)

4.1.4. Kajian Empiris Hasil Survey: Aspek Pemasaran Kopi ... 45

4.1.5. Kajian Empiris Hasil Survey: Aspek Teknis dan Produksi Kopi ... 47

4.1.6. Kajian Empiris Hasil Survey: Aspek Keuangan Usaha Kopi ... 49

4.1.7. Kajian Empiris Hasil Survey: Aspek Sosial Ekonomi dari Usaha Kopi ... 49

4.1.8. Kajian Empiris Hasil Survey: Aspek Dampak Lingkungan Usaha Kopi ... 50

UNIT BISNIS NATA DE COCO ... 51

4.1.1. Aspek Pemasaran Nata De Coco (Kajian Pustaka) ... 51

4.1.2. Aspek Produksi Nata De Coco (Kajian Pustaka)... 53

4.1.3. Aspek Keuangan Usaha Nata De Coco (Kajian Pustaka) ... 59

(a) Asumsi dan Parameter Perhitungan ... 59

(b) Sumber Modal ... 59

(c) Biaya Investasi untuk Usaha Skala Rumah Tangga ... 59

(d) Biaya Investasi untuk Usaha Skala Pabrik ... 60

(e) Biaya Operasional untuk Usaha Skala Rumah Tangga ... 60

(f) Biaya Operasional untuk Usaha Skala Pabrik ... 60

(g) Analisis Kelayakan Finansial untuk Usaha Skala Rumah Tangga ... 61

(h) Analisis Kelayakan Finansial untuk Usaha Skala Pabrik ... 62

(i) Break Even Point (BEP) ... 62

4.1.4. Aspek Sosial Ekonomi dan Dampak Lingkungan Usaha Nata De ... 64

4.1.5. Kajian Empiris Hasil Survey: Aspek Produksi dan Pemasaran Nata De Coco ... 65

4.1.6. Alternatif Produk Hilir Berbasis Kelapa di Desa Muara Sungsang: Asap Cair ... 66

(a) Pembuatan Asap Cair ... 67

(b) Produksi dan Analisis Finansial Produk Asap Cair ... 68

(c) Pemurnian Asap Cair ... 68

(d) Analisa Kelayakan Finansial Produk Asap Cair ... 69

(e) Kebutuhan Bahan Baku dan Bahan Pembantu ... 69

(f) Pemilihan Jenis Teknologi ... 69

(g) Pembuatan dan Pengaktivasian Arang Tempurung Kelapa ... 69

(h) Penampungan Asap Cair ... 70

(i) Penentuan Jumlah Tenaga Kerja ... 70

(j) Kebutuhan Utilitas ... 70

(k) Analisa Kelayakan Finansial ... 70

UNIT BISNIS ROTAN ... 72

4.1.1. Aspek Pemasaran Rotan (Kajian Pustaka) ... 72

4.1.2. Aspek Produksi Rotan (Kajian Pustaka)... 72

4.1.3. Aspek Keuangan Usaha Rotan (Kajian Pustaka)... 73

(a) Asumsi dan Parameter Perhitungan ... 73

(b) Biaya Investasi dan Biaya Operasional Kebutuhan Biaya Investasi . 74 (c) Kriteria Kelayakan Proyek ... 75

4.1.4. Aspek Sosial Ekonomi dan Dampak Lingkungan Usaha Rotan ... 76

4.1.5. Kajian Empiris Hasil Survey: Usaha Rotan di Desa Pangkalan Bulian ... 76

(a) Profil Usaha Rotan di Desa Pangkalan Bulian ... 76

(b) Analisa Produk Rotan ... 77

(5)

(d) Analisa Manajemen Usaha Rotan ... 80

(e) Analisa Keuangan Usaha Rotan ... 80

(f) Kondisi Eksisting Usaha Rotan di Desa Pangkalan Bulian ... 81

UNIT BISNIS UBI KAYU (UBI RACUN) ... 83

4.1.1. Kajian Empiris Hasil Survey: Usaha Ubi Kayu di Desa Kepayang ... 83

(a) Profil Usaha Budidaya Ubi Kayu di Desa Kepayang ... 83

(b) Analisa Produk Ubi Kayu ... 83

(c) Analisa Pemasaran Ubi Kayu ... 84

(d) Analisa Manajemen Budidaya Ubi Kayu ... 84

(e) Analisa Keuangan Usaha Budidaya Ubi Kayu ... 85

(f) Kronologi Gagal Panen Ubi Kayu (Ubi Racun) di Desa Kepayang ... 85

4.1.2. Usaha Produk Perikanan (Alternatif #1) ... 86

4.1.3. Pengelolaan Hutan Desa Kepayang (Alternatif #2) ... 86

4.2. Business Plan Unit Usaha Masyarakat ... 86

4.2.1. Contoh Business Plan Usaha Nilam ... 87

4.2.2. Contoh Business Plan Usaha Kopi Bubuk Selangit ... 88

V. KESIMPULAN DAN REKOMENDASI ... 89

5.1. Kesimpulan ... 89

5.2. Rekomendasi ... 92

DAFTAR PUSTAKA ... 94

(6)

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel 1. Rantai nilai produk HHBK prioritas pada 5 desa pilot project Bioclime …… 13

Tabel 2. Dosis penggunaan pupuk untuk tanaman nilam …………... 19

Tabel 3. Biaya investasi perkebunan nilam dan industri minyak nilam kelompok (20 orang petani) dengan pembagian pembebanan biaya investasi per petani (per Ha) …………...…………... 22

Tabel 4. Sumber modal berbasis dua pilihan skim kredit …………... 22

Tabel 5. Hasil perhitungan kelayakan finansial usahatani nilam dan industri minyak nilam kelompok …………...…………... 23

Tabel 6. Biaya investasi usaha minyak nilam …………... 30

Tabel 7. Biaya produksi minyak nilam per bulan …………... 31

Tabel 8. Pelaku pemasaran kopi bubuk per kabupaten di Provinsi Sumatera Selatan, 2014 …………...…………... 35

Tabel 9. Perkiraan produktivitas biji kopi kering 14% (kg/ha) …………... 42

Tabel 10. Biaya investasi perkebunan kopi per ha …………... 43

Tabel 11. Hasil perhitungan kelayakan finansial usahatani kopi organik …………... 45

Tabel 12. Biaya produksi kopi bubu di pada kelompok tunas harapan di Desa Karang Panggung …………...…………... 49

Tabel 13. Jenis dan biaya investasi untuk usaha nata de coco skala rumah tangga untuk kapasitas 100 butir kelapa per periode produksi ………... 59

Tabel 14. Jenis dan biaya operasional untuk usaha nata de coco skala rumah tangga untuk kapasitas 100 butir kelapa per periode produksi ………... 60

Tabel 15. Jenis dan biaya operasional untuk usaha nata de coco skala pabrik …... 61

Tabel 16. Hasil perhtungan analisa kelayakan nata de coco skala rumah tangga ... 61

Tabel 17. Hasil perhitungan kelayakan finansial usaha nata de coco ………... 62

Tabel 18. Ringkasan biaya produksi karbon aktif dan asap cair tempurung kelapa .... 71

Tabel 19. Rincian biaya investasi untuk usaha rotan …………... 75

Tabel 20. Analisis kelayakan proyek …………...…………... 75

Tabel 21. Analisa bahan baku produksi rotan di Desa Pangkalan Bulian ………... 77

Tabel 22. Jenis dan jumlah peralatan yang digunakan untuk usaha rotan di Desa Pangkalan Bulian …………...…………... 77

(7)

DAFTAR GAMBAR

Halaman Gambar 1. Kerangka pendekatan studi …………... 3 Gambar 2. Saluran pemasaran produksi nilam …………... 16 Gambar 3. Saluran Pemasaran Minyak Nilam di Desa Napalicin …………... 26 Gambar 4. Rantai Pemasaran dan Margin Harga Kopi di Kabupaten Muara

(8)

1. PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dari hasil survey sosial ekonomi yang dilakukan di wilayah-wilayah binaan GIZ di Provinsi Sumatera Selatan diperoleh informasi terkait potensi sumberdaya yang ada di wilayah tersebut yang dapat dijadikan sumber mata pencarian yang dapat meningkatkan pendapatan masyarakat. Dari baseline data yang diperoleh dari hasil survey pada wilayah pelaksanaan kegiatan proyek di empat kabupaten terpilih yaitu Kabupaten Banyuasin, Musi Banyuasin, Musi Rawas, dan Musi Rawas Utara didapat gambaran potensi sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat yang tinggal di dalam dan di sekitar kawasan yang dilindungi diidentifikasi dan dikembangkan tersebut.

Pada Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) dengan lokasi terpilih pada Desa Napal Licin, komoditi nilam menjadi pilihan untuk dikembangkan. Kabupaten Musi Rawas dengan lokasi terpilih pada Desa Karang Panggung, ditetapkan komoditi kopi yang menjadi potensi sumber pendapatan alternatif. Berbeda halnya dengan Musirawas dan Muratara, pada wilayah ke tiga yaitu Kabupaten Banyuasin, jenis produk agroindustri nata de coco menjadi pilihan khususnya di Desa Muara Sungsang. Pada Kabupaten Musi Banyuasin, dengan desa terpilih yaitu Desa Kepayang dan Desa Pangkalan Bulian, terpilih komoditi kemenyan dan pakis pada Desa Kepayang, dan komoditi rotan dan madu sialang pada Desa Pangkalan Bulian.

Untuk menjadikan komoditi-komoditi terpilih tersebut menjadi sumber pendapatan alternatif bagi masyarakat, diperlukan informasi yang akurat terkait kondisi dan potensi pengembangan komoditi tersebut, yang selanjutnya menjadi dasar dalam penyusunan business plan dari masing-asing komoditi yang akan dikembangkan. Hal ini perlu dilakukan karena pengembangan komoditi-komoditi tersebut sebagai alternatif pendapatan masyarakat diharapkan dapat diusahakan secara maksimal dan memberikan tambahan pendapatan yang berkelanjutan. Untuk itu, agar usaha tersebut menjadi ladang bisnis yang menguntungkan, maka sebelum usaha tersebut dimulai perlu dibuat business plan atau minimal tahu apa itu business plan.

(9)

calon investor untuk mendapatkan bantuan dana, terlebih jika pengembangan usaha yang akan dilakukan belum didukung dengan ketersediaan dana untuk memulainya.

Pembuatan business plan dimulai dengan menyiapkan beberapa persyaratan yang diperlukan. Cara yang sederhana dalam membuat business plan adalah menyiapkan persyaratan yang disebut dengan 5W+1H, yaitu produk apa yang ingin dibuat, mengapa produk itu dibuat, siapa pasar atau pembelinya, kapan produk itu harus dibuat, dimana produk itu dibuat atau dimana produk akan dilakukan dan terakhir adalah bagaimana membuat produk tersebut. Pada wilayah sasaran yang akan dikembangkan potensi pendapatan alternatifnya ini, tidak diperlukan lagi tahap mencari ide untuk memilih produk apa yang akan dikembangkan, karena jenis komoditi/produk yang dikembangkan telah ditentukan berdasarkan hasil baseline data yang telah tersedia dari pelaksanaan survey sebelumnya. Jika sudah berada pada kondisi ini, maka persiapan pembuatan business plan dapat dilanjutkan pada tahap perumusan konsep ide usaha dan study kelayakan usaha. Ini wajib dilakukan untuk melihat apakah prospek dari bisnis produk tersebut nantinya akan layak jika dikembangkan. Kelayakan dari usaha yang harus dibuat meliputi kelayakan pasar, kelayakan teknis atau operasional, kelayakan manajemen organisasi dan yang terakhir adalah kelayakan keuangan. Hal-hal tersebut harus dipersiapkan dulu sebelum membuat business plan, setelah semuanya siap, baru boleh melanjutkan ke pembuatan business plannya. Untuk tahap persiapan tersebut, diperlukan dukungan data yang akurat terkait aspek-aspek kelayakan yang diperlukan, dan untuk mendapatkannya, secara ideal harus diperoleh melalui dukungan data primer di lapangan, yang dapat diperoleh melalui pelaksanaan survey di lapangan dan wawancara kepada pihak-pihak yang terlibat, di masing-masing kabupaten dan desa terpilih dengan masing-masing data terkait komoditi yang terpilih untuk dikembangkan. 1.2. Tujuan

Tujuan dari studi ini adalah:

(1) Melakukan analisis kelayakan usaha untuk tiap jenis komoditi unggulan yang direkomendasikan oleh Kelompok Tani sebagai unit bisnis masyarakat;

(10)

2. METODOLOGI

2.1. Kerangka Pendekatan

Pelaksanaan studi ini merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari sebuah proses menyeluruh untuk pemberdayaan masyarakat di sekitar wilayah hutan, khususnya wilayah KPH dan merupakan bagian dari Pilot Project Bioclime. Penyusunan rencana pengembangan usaha (business plan), akses pembiayaan terhadap keuangan mikro (financial access to microfinance), dan pengembangan kemitraan (partnerships) dengan KPH merupakan bagian akhir proses pemberdayaan tersebut (Gambar 1).

(11)

2.2. Lokasi Studi

Lokasi survey dalam rangka pengumpulan data primer dilakukan di 4 kabupaten yang dipilih secara purposive karena merupakan wilayah kerja KPH dan wilayah binaan Bioclime, yaitu Kabupaten Muratara (Desa Napal Licin), Kabupaten Musi Rawas (Desa Karang Panggung), Kabupaten Musi Banyuasin (Desa Kepayang dan Desa Pangkalan Bulian), dan Kabupaten Banyuasin (Desa Muara Sungsang),

2.3. Pemilihan Sampel dan Pengumpulan Data

Data yang diperlukan untuk analisis ini meliputi data primer dan data sekunder. Data primer dikumpulkan melalui wawancara responden dengan tuntunan kuesioner yang telah dipersiapkan, sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi dan organisasi di tingkat wilayah yang terkait dengan jenis usaha yang disusun business plannya.

Jenis data yang dikumpulkan melalui responden meliputi profil responden, kondisi dan potensi komoditi terpilih yang diusahakan, kondisi dan potensi pasar, kondisi dan potensi faktor-faktor pendukung, serta faktor-faktor kekuatan, kelemahan, peluang dan ancaman dari komoditi yang diusahakan.

2.4. Analisis Kelayakan Usaha

Untuk mengkaji kelayakan usaha dan memformulasikan rekomendasi business plan yang baik diperlukan data dasar yang akurat tentang kondisi dan potensi dari komoditi/bisnis yang akan diusahakan. Untuk itu sebelum business plan disusun, diperlukan pengumpulan data primer dan sekunder di lapangan terkait kondisi usaha yang akan dijalankan di wilayah sasaran. Untuk itu digunakan metode survey sebagai metode awal, yang dilanjutkan dengan analisis kelayakan usaha, dan rekomendasi untuk business plan mengikuti tahapan pembuatan yang ideal.

Analisis kelayakan dan bussiness plan yang dikaji meliputi komoditi perioritas di tiap desa pilot project Bioclime sebagai berikut: (1) Komoditi nilam; (2) Komoditi kopi; (3) Produk nata de coco; (4) Komoditi rotan; dan (5) Komoditi ubi kayu untuk tapioka.

(12)

(1) Analisa Pemasaran (Marketing Analysis)

Pada bagian ini dijelaskan secara detail tentang siapa yang menjadi konsumen barang atau jasa yang diusahakan. Secara lengkap ditulis tentang analisa kuantitatif dan kualitatif, karakteristik konsumen, tingkat persaingan, strategi harga serta strategi promosi. Pada bagian ini juga dijelaskan tentang bagaimana produk dibuat, kemasan dan harga dari produk atau jasa. Harga disini bisa dilihat dari harga jual dan harga beli. Hal ini juga termasuk tahap promosi penjualan meliputi strategi promosi, slogan, dan dana untuk promosi.

Bagian analisa pemasaran meliputi profil konsumen, potensi pasar serta prospek pertumbuhannya, market share saat ini, analisa kuantitatif dan kualitatif, strategi produk, harga serta pelayanan, penentuan target pasar.

(2) Analisa Produk (Product Analysis)

Pada bagian ini dijelaskan bagaimana detail dari produk atau jasa yang diusahakan. Analisa produk ini menjelaskan secara detail bagaimana produk tersebut dibuat dan pencarian bahan baku. Bagian ini meliputi analisa produk, definisi produk, perbandingan (keunggulan dan kelemahan pesaing), dan beberapa pertimbangan (bahan baku, tahap produksi).

(3) Analisa Manajemen (Management Analysis)

Pada bagian ini dijabarkan bagaimana struktur manajemen dari bisnis tersebut. Mulai dari struktur organisasi dan detail manajemen. Detail manajemen ini adalah tentang jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan, sistem penggajian, kekuatan manajemen sampai kelemahan dari menajemen yang dimiliki sekarang. Bagian ini meliputi analisa manajemen, struktur organisasi, jumlah tenaga kerja dan keahlihannya, sistem penggajian/pengupahan, kekuatan dan kelemahan manajemen. (4) Analisa Keuangan (Financial Analysis)

(13)

3. TINJAUAN PUSTAKA

3.1. Studi Terdahulu

Studi terdahulu yang dimaksud dalam laporan ini adalah sejumlah studi yang pernah dilakukan oleh Proyek Bioclime yang terkait dengan pengembangan ekonomi masyarakat berbasis hasil hutan bukan kayu (HHBK) pada berbagai lokasi pengelolaan hutan berbasis masyarakat (community-based forest management) di Provinsi Sumatera Selatan. Dari berbagai studi tersebut, pada laporan ini secara khusus akan diulas hasil Valuasi dan Pemetaan HHBK, Kelayakan Pengembangan HHBK, dan Peluang Pemasaran HHBK.

3.2. Hasil Valuasi dan Pemetaan HHBK

Valuasi dan pemetaan HHBK dilakukan dengan pendekatan CLAPS (Community livelihood appraisals and product scanning). Kajian ini bertujuan untuk mengidentifikasi potensi hasil hutan bukan kayu (HHBK) di wilayah KPH yang menjadi mata pencaharian masyarakat, mengkaji situasi HHBK saat ini, dan menilai kesiapan masyarakat untuk mengelola usaha berbasis HHKB. Kajian ini dilaksanakan pada 6 wilayah KPHP, yaitu KPHK Meranti, KPHP Lalan, KPHP Rawas, KPHP Lakitan, KPHL Banyuasin, dan KPHP Benakat Bukit Cogong (BBC).

Kajian ini dilaksanakan pada bulan Maret hingga Agustus 2015 yang meliputi pelatihan metode CLAPS, pengumpulan data di lapangan bersama masyarakat, dan analisis data dan pelaporan. Kajian ini mengikutsertakan staff dari KPHP, LSM mitra Bioclime, staff Dinas Kehutanan, dan masyarakat setempat. Data yang dikumpulkan meliputi aset masyarakat (sumberdaya alam, sumberdaya manusia, sumberdaya finansial, fasilitas fisik dan modal sosial), HHBK yang berada di area hutan dan non hutan. Data yang diperoleh kemudian dianalisis dengan penilaian (scoring) HHBK prioritas, penyusunan matriks pemanfaatan dan pengelolaan HHBK priorias yang sudah dilakukan, dan pemetaan HHBK prioritas. Analisis data menghasilkan 3 hal, yaitu hasil penilaian penghidupan masyarakat, HHBK prioritas, dan produk prioritas pada setiap KPHP.

3.2.1. Hasil Valuasi dan Pemetaan HHBK di KPHP Meranti

(14)

tambang (minyak bumi) yang tidak dimiliki desa-desa lainnya. Namun, SDM di desa ini relatif rendah pendidikannya (mayoritas berpendidikan sekolah dasar). Mata pencaharian sebagian besar penduduk bersifat ekstraktif (memanen madu alam, mengambil minyak secara tradisional) dan sebagian lagi melakukan budidaya (karet). Modal sosial belum tergali dengan baik di desa ini sehingga pembangunan terkesan berjalan lambat. Sumber finansial utama berasal dari penjualan karet. Tidak ada lembaga keuangan yang mendukung permodalan masyarakat kecuali yang berasal dari pembeli karet (disebut dengan istilah “toke”). Desa ini belum memiliki fasilitas fisik yang memadai, kecuali berupa bangunan layanan publik seperti kantor desa, sekolah, rumah dinas bidan desa dan toilet umum. Prasarana transportasi desa dapat dikatakan buruk dan tidak didukung oleh sarana transportasi (kendaraan umum) yang reguler.

Hasil hutan bukan kayu (HHBK) yang teridentifikasi di Desa Pangkalan Bulian meliputi 9 komoditi yang dapat dikelompokkan dalam HHBK penghasil bahan makanan, bahan kerajinan, obat-obatan, dan bahan mentah industri. Termasuk dalam kelompok HHBK bahan makanan adalah durian, baik yang dihasilkan dari pohon durian yang berada di dalam maupun di luar hutan. HHBK yang menjadi bahan kerajinan meliputi rotan, cikai, rumbai, pandan dan bambu. Sedangkan yang termasuk obat-obatan adalah madu dan pasak bumi. HHBK untuk bahan mentah industri adalah karet, baik yang ditanam di dalam maupun di luar areal hutan. Baik HHBK maupun produk yang dihasilkan diperuntukkan bagi konsumsi, penggunaan sendiri dan dijual untuk memperoleh uang tunai.

Berdasarkan pendekatan CLAPS, maka HHBK prioritas di Desa Pangkalan Bulian adalah rotan & madu sialang untuk area hutan, karet dan durian untuk area non hutan. Rotan mempunyai nilai tertinggi untuk semua indikator. Untuk area non hutan durian terpilih menjadi HHBK prioritas dengan nilai tertinggi untuk kesesuain tanah dan biofisik, tingkat ketahanan terhadap kekeringan, ketersediaan saprodi, sumber benih dan cara panen.

(15)

perkebunan karet masyarakat. Durian dikonsumsi masyarakat secara langsung dan diproses menjadi dodol durian (lempok), untuk kebutuhan sendiri maupun dijual. Kempat HHBK prioritas tersebut diusahakan masih secara konvensional dan penggunaan input luar masih terbatas.

Dari rotan dihasilkan berbagai produk kerajinan yang variatif, diantaranya kunju, ambung, lekar, sangke, pemukul kasur, dan bakul/sumpit. Produk-produk ini dibuat secara tradisional, tetapi kualitasnya cukup baik. Harga produk kerajinan rotan dari desa ini berkisar antara Rp 100.000 – Rp 150.000 per unit. Di Desa Pangkalan Bulian ada 30 orang pengrajin rotan.

Panen madu sialang dilakukan secara tradisional satu kali dalam setahun oleh sekitar 10 orang penduduk. Madu yang diperoleh berkisar antara 4.000 – 6.000 kg yang berasal dari 20-30 pohon yang dipanen. Madu dijual ke pengumpul lokal dan pengumpul dari Jambi dalam bentuk curah dengan harga Rp 30.000–60.000 per kg untuk yang berkualitas baik.

Produksi karet berupa getah karet (bokar) merupakan hasil utama dari Pangkalan Bulian. Produksi getah karet sekitar 30 ton per tahun dengan harga di tingkat penampung lokal pada saat survey Rp 4.500 per kg, dimana harga ini tergolong rendah.

Durian dihasilkan dalam bentuk buah segar dan produk olahan tradisional seperti tempoyak, lempok dan gula durian dengan kualitas baik. Produk olahan ini diproduksi secara musiman bersamaan dengan musim panen durian sekali dalam setahun. Produk olahan ini mempunyai umur simpan (shelf life) 1-12 bulan tergantung proses produksi dan pengemasannya. Harga produk olahan ini bervariasi untuk tempoyak Rp 50.000/kg dan lempok Rp 150.000/kg dengan pasar di sekitar desa.

3.2.2. Hasil Valuasi dan Pemetaan HHBK di KPHP Lalan

Kajian di KPHP Lalan dilakukan di Desa Kepayang. Mata pencaharian utama penduduk Desa Kepayang adalah bekerja di perkebunan sawit (70% dari penduduk, >50% perempuan) dan berkebun karet. Kualitas kesehatan penduduk tergolong rendah karena sanitasi yang buruk, tidak ada drainase, tidak ada sumber air bersih, air sungai tercemar limbah pabrik sawit, dan paparan asap dari kebakaran hutan.

(16)

tanah yang sulit dilalui pada musim hujan, tidak ada sarana transportasi reguler kecuali tranportasi sungai (ketek, speadboat, kelotok). Tidak ada sambungan listrik dari PLN kecuali sambungan perorangan yang tergolong mahal (Rp 300.000/rumah/bulan). Sarana komunikasi sudah dapat diakses oleh penduduk desa (Indosat dan Telkomsel).

Uang beredar bersumber dari usaha sawit, karet, dan burung walet. Masyarakat tidak memiliki akses terhadap bank karena tidak ada layanan perbankan di desa ini. Ada 2 pasar di dekat desa yang beraktifitas pada saat hari gajian perusahan sawit yang dikenal dengan pasar gajian dimana pada hari tersebut peredaran uang cukup besar.

Selain pemerintahan desa, Desa Kepayang sudah memiliki lembaga-lembaga desa lainnya seperti LPM, lembaga adat, PKK, Posyandu, karang taruna, dan Lembaga Pengelola Hutan Desa (LPHD). Selain itu ada pula lembaga bentukan dari pihak luar seperti KBR (Kebun Bibit Rakyat), KMPA (Kelompok Masyarakat Peduli Api). Disamping KPH Lalan, ada pula lembaga dari luar yang bekerja di desa tersebut seperti HaKI (Hutan Kita Institute), GIZ Bioclime, dan program PNPM.

Pada saat survey CLAPS dilakukan, HHBK prioritas dari Desa Kepayang adalah kemenyan, durian daun dan pandan besar. Pandan besar memiliki score tertinggi dalam penilaian HHBK prioritas karena tersedia banyak, terdistribusi luas, dan mudah berkembang biak. HHBK prioritas non hutan adalah pisang, karet, nenas dan ubi kayu. Nenas memiliki skor tertinggi karena tingkat kesesuaian yang tinggi, tahan pada musim kering, sumber benih berlimpah, biaya pemeliharaan rendah, cara panen mudah dan didukung oleh pengetahuan & keterampilan masyarakat yang cukup tinggi.

Sejak peristiwa kebakaran hutan dan lahan gambut pada akhir tahun 2015 di Desa Kepayang, seluruh HHBK yang telah diidentifikasi habis terbakar. Berdasarkan pertimbangan atas ketersediaan lahan dan peluang pasar Ubi Racun yang pada saat itu sedang “booming”, maka produk prioritas dari Desa Kepayang yang terpilih untuk dikembangkan adalah Ubi Kayu (Ubi Racun, Singkong) untuk bahan baku tepung singkong/tapioka. Tapioka adalah olahan dari singkong yang banyak digunakan untuk bahan baku pembuatan berbagai produk makanan.

3.2.3. Hasil Valuasi dan Pemetaan HHBK di KPHP Rawas

(17)

secara tradisional dan membuat kerajinan. Kualitas kesehatan penduduk masih rendah, fasilitas MCK terbatas, dan pelayanan kesehatan minim.

Pertanian di Desa Napalicin didukung oleh kesuburan tanah yang tinggi dan sumber air yang cukup. HHBK dari hutan yang dimiliki desa ini belum dimanfaatkan secara maksimal dan masih banyak pencari kayu illegal. Selain itu desa ini juga memiliki potensi wisata berupa gua batu, air terjun, dan batu ampar.

Desa Napalicin terhubung dengan daerah lain terutama melalui transportasi air seperti ketek, perahu dan rakit. Desa ini sudah memiliki Pustu dan Posyandu untuk melayani kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat. Penduduk desa sudah menikmati listrik dari PLTD desa. Penduduk juga memiliki akses terhadap alsin pertanian seperti traktor dan penggilingan padi. Teknologi tradisional sudah diterapkan seperti kincir air, perontok padi, dan penyulingan nilam. Namun, desa ini belum memiliki pasar, suplai air dan sarana sanitasi.

Selain bersumber dari pertanian, pendapatan masyarakat juga berasal dari pekerjaan buruh tani (pengolahan lahan dan panen). Kepemilikan tabungan serta layanan simpan pinjam belum tersedia di desa.

Kelembagaan yang ada di Desa Napalicin selain pemerintahan desa adalah BPD, kelompok tani, karang taruna dan lain-lain. Desa ini juga telah memiliki aturan terkait pemanfaatan sumberdaya alam, misalnya aturan pengambilan bambu.

HHBK prioritas kategori hasil hutan dari Desa Napalicin adalah bambu dan rotan. Sedangkan HHBK non-hutan berupa karet, nilam, dan jengkol. Baik HHBK hutan maupun non-hutan ini terpilih karena memenuhi kriteria kelimpahan, kemudahan panen, dekat dari desa, dapat berkembang biak dengan mudah, dan berkaitan dengan pengelolaan hutan.

Produk prioritas yang terpilih dari Desa Napalicin adalah minyak nilam yang diproses dari tanaman nilam. Ranting dan daun nilam dapat disuling menjadi minyak nilam dengan teknologi yang sederhana. Hasilnya berupa minyak atsiri yang dapat dipasarkan secara nasional dan global dengan harga jual yang relatif tinggi.

3.2.4. Hasil Valuasi dan Pemetaan HHBK di KPHP Lakitan

(18)

perkebunan berikut barang dan jasa lingkungan di dalamnya (fauna, HHBK, karet, kopi, sumber air, dll.). Desa in berpenduduk 1,288 jiwa yang sebagian besar berpendidikan setingkat SD, memiliki mata pencaharian mayoritas sebagai petani dan buruh tani. Mayoritas warga desa karang panggung beraktivitas dibidang kehutanan, khsususnya pemanfaatan lahan hutan yang dimanfaatkan untuk pertanian, perkebunan dan kehutanan. Setiap kepala keluarga rata-rata memiliki lahan masing-masing sebesar 3 Ha. Sarana fisik yang terdapat di desa ini cukup lengkap, meliputi jalan, puskesmas, air bersih, listrik, dan sarana komunikasi. Organisasi yang ada di desa adalah kelompok tani, perangkat desa, pengaji dan karang taruna dibawah koordinasi kepala desa.

Sumber uang berasal dari upah dan penjualan hasil pertanian dan perkebunan. Penduduk desa ini sudah terakses kepada pelayanan jasa keuangan, baik menabung maupun meminjam uang.

Dari hasil skoring, HHBK prioritas desa Karang Panggung adalah Durian, Risi, Pakis dan jengkol untuk area hutan, sedangkan kopi, durian dan jahe merah untuk area di luar hutan. Durian mempunyai nilai tertinggi untuk indikator kelimpahan, tingkat kesulitan panen, kemampuan berkembang biak, hubungan dengan pengelolaan hutan. Untuk area non hutan kopi terpilih menjadi HHBK prioritas dengan nilai tertinggi untuk indikator kelimpahan, kesesuaian tanah dan biofisik, dan tingkat ketahanan terhadap kekeringan (tumbuh sepanjang tahun). Selain itu, masyarakat memiliki pengetahuan budidaya dan pemeliharaannya, saprodi termasuk benih tersedia, cara panen mudah dan biaya pengelolaan dapat dijangkau oleh masyarakat.

Dari kopi, Kelompok Tani dapat mengolahnya lebih lanjut menjadi produk kopi bubuk. Usaha produksi bubuk kopi dapat dijadikan produk prioritas karena telah mendapat dukungan dari KPH Lakitan dan OPD terkait di Kabupaten Musi Rawas, yakni Dinas Perindustrian, Dinas Koperasi dan Kantor Camat Selangit. Untuk dikembangkan menjadi icon daerah.

3.2.5. Hasil Valuasi dan Pemetaan HHBK di KPHL Banyuasin

Kajian di KPHL Banyuasin dilaksanakan di Desa Muara Sungsang. Penduduk Muara Sungsang rata-rata berpendidikan SD, sebagian besar bermatapencaharian sebagai petani dan nelayan tradisional. Sebagian masyarakat memiliki keterampilan membuat atap dari daun nipah yang banyak tumbuh di sekitar. Desa Muara Sungsang memiliki hutan mangrove yang melimpah tetapi belum dimanfaatkan.

(19)

pembangkit/generator setempat, tetapi sudah memungkinkan masyarakat untuk menggunakan perangkat elektronik.

Sumber pendapatan masyarakat desa Muara Sungsang berasal dari upah buruh (pembersihan lahan, tani, buruh panen). Desa ini belum memiliki lembaga keuangan formal.

Desa Muara Sungsang sudah memiliki lembaga pemerintahan desa. Selain itu terdapat pula kelompok Tani, Karang Taruna, dan lain-lain. Desa ini juga sudah memiliki aturan dan sangsi bagi yang mengambil hasil hutan secara berlebihan.

HHBK prioritas dari Desa Muara Sungsang berdasarkan skor yang diperoleh untuk area hutan adalah udang dan bandeng. Sedangkan untuk area non hutan adalah jagung dan kelapa. Udang bernilai tinggi untuk indikator tingkat kesulitan panen, jarak dari kampung, kemampuan berkembang biak, dan hubungan dengan pengelolaan hutan. Sedangkan jagung terpilih karena bernilai tertinggi untuk indikator kelimpahan, kesesuaian lingkungan biofisik, tingkat ketahanan terhadap kekeringan, pengetahuan budidaya dan pemeliharaan, ketersediaan saprodi, sumber benih dan cara panen.

Produk prioritas dari Desa Muara Sungsang yang terpilih adalah produk olahan dari kelapa kelapa, yakni sari kelapa (nata de coco), sabut, arang tempurung, lidi, termasuk santan, minyak, virgin coconut oil (VCO). Untuk dikembangkan menjadi usaha produktif, produksi nata de coco menjadi pilihan bagi masyarakat Muara Sungsang. 3.3. Hasil Studi Rantai Nilai Hasil Hutan Bukan Kayu (HHBK).

Studi Rantai Nilai HHBK ditujukan untuk memetakan rantai nilai produk prioritas yang terpilih dari masing-masing desa pilot project Bioclime. Rantai nilai adalah alur dari pelaku yang melakukan aktivitas (fungsi) terkait pemberian nilai tambah atas suatu produk, mulai dari produk primer, prosesing, pemasaran, hingga produk akhir sampai kepada konsumen. Analisis rantai nilai mencakup 2 langkah utama. Pertama, memahami pasar aktual dari produk agar dapat menempatkan pelaku pada posisi dan perannya. Kedua, memetakan nilai dengan mengidentifikasi 6 aspek berikut:

1) Konsumen dan kriteria produk (jenis, kualitas/gred, volume, periode). 2) Pelaku dan peran.

3) Kegiatan. 4) Alur produk. 5) Logistik.

6) Isu eksternal (aturan, kebijakan).

(20)

Tabel 1 Rantai nilai produk HHBK prioritas pada 5 desa pilot project Bioclime

No Produk Desa/ Konsumen Pelaku Usaha Kegiatan Alur Produk Logistik Eksternal Isu

(21)

4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Analisis Kelayakan Usaha

Analisis kelayakan usaha diperlukan sebelum usaha tersebut dijalankan untuk memberikan rekomendasi dan pertimbangan terhadap usaha yang akan dilaksanakan, apakah layak atau tidak untuk diusahakan, melalui ukuran kriteria-kriteria kelayakan yang dianjurkan dalam perhitungan analisa kelayakan finansial. Selain itu, melalui kajian kelayakan, dapat membantu pelaku usaha untuk mempersiapkan rencana-rencana apa saja yang harus dikerjakan. Hasil kajian kelayakan terhadap komoditi-komoditi yang direncanakan untuk dikembangkan oleh masyarakat di wilayah kajian, disajikan secara berurutan yang ditinjau dari berbagai aspek yang diperlukan.

UNIT BISNIS NILAM

4.1.1. Aspek Pemasaran Nilam (Kajian Pustaka)

Nilam merupakan komoditi yang diolah menjadi bahan baku minyak wangi dan jenis kosmetika lainnya. Hasil tanaman nilam adalah minyak yang didapat dengan cara menyuling batang dan daunnya, belum ada senyawa sintetis yang mampu menggantikan peran minyak nilam dalam industri parfum dan kosmetika. Sebagai bahan baku minyak wewangian pasaran minyak nilam sebagian besar adalah ke luar negeri. Di pasar intemasional minyak nilam dikenal dengan nama "Patchouli oil", namun dalam dunia perdagangan dikenal dua macam nilam yaitu "Folia patchouly naturalis" (sebagai insectisida) dan "depurata" (sebagai minyak atsiri). Minyak nilam merupakan produk yang terbesar untuk minyak atsiri dan pemakaiannya di dunia menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat. Dapat dikatakan bahwa hingga saat ini belum ada produk apapun baik alami maupun sintetis yang dapat menggantikan minyak nilam dalam posisinya sebagai fixative.

(22)

gilirannya diharapkan dapat mengurangi gejolak sosial.

Indonesia merupakan produsen minyak nilam terbesar di dunia, namun Indonesia tidak banyak memiliki industri yang menggunakan minyak nilam karena kurangnya modal dan teknologi yang terbatas, sehingga produksi minyak nilam menjadi penting untuk diekspor ke negara-negara maju yang memiliki kekuatan industri dan teknologi seperti Amerika Serikat dan Perancis. Permintaan dunia terhadap minyak nilam juga sangat tinggi seperti Singapura, Amerika Serikat , Spanyol dan Perancis. Mengingat negara-negara tersebut memiliki teknologi industri yang sangat baik dan mempunyai modal yang banyak. Singapura menduduki peringkat pertama tujuan ekspor minyak nilam Indonesia sebesar 31,17%, kemudian Amerika Serikat sebesar 17,92%, Spanyol sebesar 16,4%, dan Perancis sebesar 8,85% (Balittro, 2012).

Negara-negara tersebut mengimpor minyak nilam, karena minyak nilam sangat baik digunakan untuk industri parfum dan kosmetika. Minyak nilam adalah satu-satunya minyak atsiri yang memiliki Pachouli Alcohol berguna untuk memfiksasi parfum agar wanginya lebih tahan lama. Sistem penjualan minyak nilam Indonesia sangat bergantung pada harga minyak nilam di pasaran dunia. Hal ini juga didukung oleh penelitian Sari (2009) menyebutkan bahwa harga ekspor minyak nilam Indonesia mengikuti perkembangan harga internasional. Zakiah (2000) menyebutkan bahwa harga minyak nilam di pasaran dunia ini sangat responsif terhadap volume ekspor minyak nilam. Hal ini dikarenakan harga internasional minyak nilam menganut pada harga di negara Perancis. Perancis lebih selektif dalam mengimpor minyak nilam, berbeda dengan Singapura dan Amerika Serikat yang yang selama ini lebih mengimpor minyak nilam kasar. Perancis hanya mengimpor minyak nilam dengan mutu yang tinggi dan bebas dari kandungan besi.

Perancis menjadi patokan harga pasaran minyak nilam dunia, karena harga yang dibuat oleh Perancis memiliki nilai yang tinggi dan dengan mutu minyak nilam yang baik. Hal ini menunjukan bahwa perkembangan harga minyak nilam di pasaran dunia sangat ditentukan oleh mutu minyak nilam dan volume ekpor minyak nilam dari negara eksportir utama. Selain itu harga minyak nilam dunia menunjukan kecenderungan meningkat. Hal inimenunjukan bahwa semakin tinggi permintaan minyak nilam di pasaran dunia akan menyebabkan harga minyak nilam di pasar dunia juga meningkat.

(23)

sebagai pasar ekspor, maka harga minyak atsiri nilam tidak dapat bergerak lebih dari Rp 2 juta/kg. Sekalipun belum ada data akurat namun secara kasar pangsa pasar minyak nilam Indonesia mengambil porsi sekitar 90% dari ekspor minyak nilam dunia. Kebutuhan minyak nilam akan terus bertambah selaras dengan kenaikkan konsumsi dunia atas produk komestik, parfum, sabun wangi bahkan telah berkembang untuk produk tembakau dan minyak rambut.

Di pasaran minyak atsiri dunia, mutu minyak nilam Indonesia sudah sangat dipercaya oleh para konsumen di luar negeri. Hal itu terlihat bahwa porsi minyak nilam Indonesia di pasaran dunia mencapai 88-90% dari pasaran minyak nilam dunia. Saat ini diperkirakan kebutuhan minyak nilam dunia berkisar antara 1.100 - 1.200 ton/tahun. Sedangkan pasokan minyak nilam saat ini kurang lebih 900 ton/tahun sehingga ada peluang pasar sebesar 200 ton/tahun.

Selain pasar ekspor, minyak nilam juga mempunyai pesar lingkup nasional, meskipun jumlahnya relatif lebih kecil jika dibandingkan dengan pasar ekspornya. Berkembangnya produk kosmetik, parfum dan peralatan kecantikan dalam negeri akan memacu pertumbuhan pemakaian minyak nilam dalam negeri seperti Mustika Ratu, Ratu Ayu, Viva Cosmetics, dll.

Pola pemasaran minyak nilam di wilayah-wilayah produsen nilam umumnya melibatkan pedagang pengumpul atau KUD sebagai lembaga pemasaran yang menampung hasil produksi petani, karena petani masih sulit menembus pasar nilam secara langsung sehingga memerlukan pedagang perantara (pedagang pengumpul). Sistem pemasaran minyak nilam selama ini adalah melalui pedagang pengumpul di tingkat petani dan pedagang pengumpul di tingkat kecamatan kemudian ke eksportir. Harga minyak nilam di pasaran cenderung berfluktuasi mengikuti harga pasaran internasional dengan kisaran harga beli tertinggi minyak atsiri nilam Indonesia oleh Singapura Rp 2 juta/kg, sedangkan harga beli terendah Rp 200 ribu/kg.

Kegiatan distribusi pemasaran nilam umumnya melalui saluran pemasaran yang melibatkan lembaga pemasaran petani, pedagang pengumpul dan eksportir sebagai berikut:

Gambar 2. Saluran pemasaran produksi nilam

Petani Nilam  Pedagang Pengumpul  Lokal

Pedagang Besar /  Pengusaha Pemilik Kilang 

(24)

Pada tingkat petani, produk nilam yang dijual umumnya dalam bentuk :

Daun basah, yang dinilai dengan harga pada kisaran Rp.2.000 - Rp.5.000,-

Daun kering nilam dihargai Rp 10.000–Rp 15.000 per kilogram (kg). Daun kering inilah yang nantinya disuling hingga menghasilkan minyak nilam. Biasanya dari daun basah akan susut 70% menjadi daun kering.

Untuk batangnya, dijual dengan harga Rp 7.000–Rp 10.000 per kg.

Jika disuling menjadi minyak, maka harga pasaran di tingkat pedagang pengumpul berkisar Rp.220.000 sampai dengan Rp.240.000 per liter.

Namun perkembangan saat ini, kebanyakan petani nilam lebih memilih menjadi penyulingnya saja karena harga minyak lebih mahal daripada bahan bakunya. Jika langsung bisa menembus pasar ekpor, 1 kg minyak nilam harganya Rp 700.000–Rp 800.000. Lantaran itu, permintaan bahan baku seperti daun kering dan batang nilam sangat tinggi di pasaran. Persoalannya, sekarang jumlah petani nilam sangat sedikit. Dengan demikian, potensi pengusahaan komoditi nilam ke depan cukup menjanjikan.

Harga jual pada masing-masing tingkatan tersebut berbeda satu sama lain namun harga pada masing-masing tingkatan ditentukan oleh harga pada tingkatan ke-3 yaitu harga penjualan ekspor. Para pengumpul/lokal biasanya memperoleh informasi harga dengan mengadakan penawaran kepada beberapa eksportir dan menjual kepada penawaran yang tertinggi. Pola pemasaran yang terbuka ini akan menguntungkan para pemasok lokal namun belum tentu menguntungkan bagi petani karena informasi harga ekspor ke petani tidak sampai kepada mereka.

4.1.2. Aspek Teknis dan Produksi Nilam (Kajian Pustaka)

Produksi nilam dalam bentuk daun basah, kering maupun minyak nilam, dihasilkan dari teknis pelaksanaan produksi usahatani nilam, yang dimulai dari pengolahan tanah sampai dengan pemanenan dan pengolahan hasil.

Secara teknis, tanaman nilam dapat tumbuh subur pada tanah yang subur, gembur dan banyak mengandung bahan organik. Jenis tanah yang baik dapat ditumbuhi adalah regosol, latosol dan aluvial. Tekstur tanahnya adalah tanah lempung berpasir, atau lempung berdebu dan keasaman tanah antara pH = 6 - 7 dan mempunyai daya resapan tanah yang baik dan tidak menyebabkan genangan air pada musim hujan.

(25)

Tanah : Gembur banyak mengandung bahan organik , tidak tergenang dan pH tanah antara 6–7

Temperatur : 18-27oC

Ketinggian : 100-400 m

Curah Hujan : 2300-3000 mm/year

Kelembaban : 60-70%

Pengolahan lahan dapat dimulai 1–2 bulan sebelum tanam dengan pencangkulan tanah sedalam 30 cm. Tujuan pencangkulan selain untuk mendapatkan kondisi tanah yang gembur dan remah, sekaligus pembersihan tumbuhan penganggu (gulma). Setelah tanah dicangkul kemudian dibuat bedengan-bedengan untuk ditanami nilam. Ukuran bedengan tinggi 20–30 cm, lebar 1-1,5 meter dan panjang disesuaikan dengan kondisi lapangan. Jarak antara bedengan satu dengan lainnya berkisar antara 40-50 cm untuk memudahahkan perawatan. Tanah bedengan tersebut dibiarkan seminggu kemudian dicangkul untuk meremahkan tanah yang sekaligus dapat dilakukan pemberian pupuk organik (pupuk kandang) yang sudah dimatangkan. Kebutuhan pupuk sebanyak 10–20 ton per hektar tergantung dari tingkat kesuburan tanah. Setelah diberi pupuk kandang kemudian didiamkan selama 2 minggu. Menjelang waktu tanam dibuat lubang tanam ukuran 15 cm panjang x 15 cm tinggi x 15 cm lebar. Jarak antara lubang satu dengan lainnya antara 40 cm x 50 cm atau 50 cm x 50 cm.

Untuk memperoleh bibit yang baik, dapat diambil dari cabang yang muda dan sudah berkayu dengan ruas pendek. Panjang stek antara 20-30 cm dan mempunyai 3-4 mata ruas. Potongan stek disemaikan pada lahan persemaian yang subur dan gembur dan dekat sumber air. Apabila perlu diberikan sedikit pelindung dari anyaman daun nipah atau daun kelapa. Tanah persemaian adalah campuran tanah dan pasir dengan perbandingan 2 : 1. Tanah persemaian diberi pupuk kandang atau pupuk kompos secara merata. Penanaman stek pada bedeng persemaian dengan jarak 10 cm x 10 cm dengan posisi miring 450. Sebelum stek tumbuh perlu dilakukan penyiangan dan penyiraman. Setelah 2–3 minggu akan nampak tunas muda yang tumbuh. Untuk mempercepat pertumbuhan akar sebelum ditanam stek dicelup dalam cairan hormon perangsang tumbuhnya akar. Pada umur 4–5 minggu tunas dan akar akan tumbuh secara merata dan siap dipindahkan ke kebun.

(26)

agar jaringan akar cukup kuat. Untuk dapat memberikan hasil panen secara terus menerus maka perlu ada jadwal penanaman per kelompok petani. Apabila diasumsikan untuk memenuhi kapasitas penyulingan dengan kapasitas 100 kg per sekali masak maka apabila dalam satu hari direncanakan 2 kali pemasakan maka akan dibutuhkan 200 kg daun kering dan lahan yang siap panen perhari 400 kg daun kering yang ekivalen dengan 0,125 hektar lahan. Apabila dalam satu bulan dilakukan 25 hari kerja maka akan diperlukan 3.125 hektar lahan siap panen.

Setelah 3 minggu perlu dilakukan pengecekan apakah stek tumbuh dengan baik dan pada stek yang kurang baik pertumbuhan tunasnya diperlukan penyisipan dengan mengambil stek berasal dari persemaian yang sama agar pertumbuhan merata. Pada masa pertumbuhan tanaman nilam membutuhkan air untuk kelembaban tanah terutama pada musim kemarau. Penyiraman dapat dilakukan dengan mengalirkan air pada parit-parit antara bedengan atau dengan menggunakan sprinkle shower. Pemberian air diatur sesuai dengan umur tanaman nilam, dengan jumlah akan terus berkurang.

Untuk kegiatan pemupukan, umumnya digunakan 2 jenis pupuk yaitu pupuk organik dan pupuk buatan. Pupuk organik diperoleh daril limbah kotoran hewan, pupuk hijau. Untuk melangsungkan pertumbuhan daun perlu diberikan pupuk daun yakni pada saat tanaman berumur 1 bulan, 3 bulan dan setelah panen. Merek pupuk yang banyak dipakai seperti Bayfolan, Gandasil D, PPC, Silozin dll yang ada dijual di depot-depot KUD. Pemberian pupuk berdasarkan pada umur tanaman tersaji pada Tabel 2.

Penyakit yang umumnya menyerang tanaman nilam adalah penyakit layu dan budog. Timbulnya penyakit layu umumnya berasal dari tanah bekas tanaman nilam yang terkena penyakit layu dan budog yang terkontaminasi oleh patogen penyakit layu dan budog. Jenis hama yang sering menyerang adalah walang sangit, yang ditanggulangi dengan racun kontak atau jaringan. Tindakan preventif dapat dilakukan dengan perbaikan kultur tehnis.

Tabel 2 Dosis penggunaan pupuk untuk tanaman nilam

Umur Tanaman Pupuk Urea Pupuk ZA Pupuk TSP Pupuk KCl

1 - 2 Bulan 50 – 70 50 - 75 50 – 75 25 - 50

3 - 5 25 -50 25 - 50 - 12,5 - 25

5 - 8 25 25 - 12,50

Pasca Panen 8 -12 12 - 16 16 – 20

(27)

Seluruh bagian tanaman nilam pada dasarnya mengandung minyak nilam namun dengan kadar yang berbeda. Kadar terbesar ada pada daunnya namun dalam proses penyulingan daun dan batang disuling secara bersama-sama. Pemanenan dilakukan pada umur 7-9 bulan setelah tanam dan panen berikutnya dapat dilakukan 3-4 bulan sekali hingga umur produktif 3 tahun setelah itu tanaman diremajakan. Pemanenan dilakukan pada sore hari atau pagi hari dan menghindarkan pemanenan pada siang hari karena akan mengurangi kandungan minyak yang diperoleh. Dahan dipanen dengan gunting dan menyisakan 1 cabang tetap tumbuh untuk meransang tumbuhnya tunas baru.

Produksi total usahatani nilam per tahun diperoleh dari semua hasil panen nilam basah pada tahun tersebut, sedangkan bentuk produksi yang dijual umumnya tergantung pada musim. Apabila kemarau petani menjual nilam kering sedangkan pada musim hujan yang dijual adalah nilam basah. Produksi nilam umumnya meningkat setiap tahunnya sampai dengan umur produktifnya. Produksi pada tahun ketiga lebih besar dibanding pada tahun pertama dan kedua. Hal ini disebabkan karena morfologi tanaman nilam adalah semak/berumpun, sehingga setelah dilakukan panen pertama maka pertumbuhannya akan terpicu dan lebih banyak cabangnya, sehingga produksi per pohon bisa lebih banyak lagi untuk panen selanjutnya. Selain itu, pemberian pupuk juga dapat mempengaruhi produksi tanaman nilam. Pada tanaman yang tumbuh baik akan dihasilkan daun basah 5-20 ton/ha/tahun, setara dengan 1-4 ton daun kering. Bila kadar minyak 2,45-4%, maka ini berarti produksi minyaknya 25-160 kg/tahun (Balittro, 1990).

Untuk kegiatan penyulingan minyak nilam (Destilasi), diperlukan investasi peralatan penyulingan terdiri atas :

Ketel uap

Pasu penguapan dan tungku pemanasan dengan bahan baku kayu atau batu bara

Pipa pendingin dan bak air pendingan

Gelas penampung

Proses yang dilakukan dalam penyulingan minyak nilam adalah: daun nilam kering dimasukkan dalam pasu penguap, airnya diperoleh dari ketel penguap. Uap mengalir kedalam daun nilam dan membawa minyak nilam dan pada proses pendinginan di pipa pendingin campuran air dan minyak mengembun kemudian ditampung pasu. Dalam pasu campuran air dan minyak dipisahkan dengan alat pemisah atau secara sederhana disendok. Hasil minyak disimpan dalam drum yang dilapisi seng (zinc coated).

(28)

4.1.3. Aspek Keuangan Usaha Nilam (Kajian Pustaka) (a) Biaya Investasi

Aspek keuangan untuk budidaya dan industri minyak nilam (yang merupakan satu kesatuan usaha), hanya saja untuk industri minyak nilamnya diusahakan secara kelompok, sehingga asumsi yang digunakan adalah sebagai berikut:

- Usaha ini dibuat per kelompok karena jika diusahakan sendiri, sulit untuk memenuhi kapasitas mesin penyuling dan biaya investasi juga sangat besar, sehingga diasumsikan bahwa setiap pengusaha kecil telah memiliki satu hektar lahan;

- Kapasitas unit pengelolaan minyak nilam adalah 100 kg daun nilam kering per batch (8 jam). Jika dalam satu hari unit pengolahan ini bekerja sama sampai 2 batch, ini berarti akan menampung daun nilam kering 200 kg. Bila produksi rata-rata per hektar lahan budi daya nilam mencapai 15.000 kg daun nilam basah per tahun atau 3.000 daun nilam kering, maka dalam 3 bulan harus dipanen sebesar 750 kg daun nilam kering. Pekerjaan ini membutuhkan 10 hari kerja. Dalam 3 bulan satu unit penyulingan akan mengolah sekitar 20 ha lahan budidaya nilam;

- Unit pengolahan minyak nilam ini dimiliki bersama oleh petani (kelompok) 20 ha; - Biaya investasi dan operasi unit pengolahan di bebankan kepada setiap satu hektar

lahan;

- Skim kredit yang digunakan di bedakan atas skim kredit KKPA dengan tingkat suku bunga 16% per tahun dan skim umum dengan tingkat suku bunga 32% per tahun; - Graceperiod selama satu tahun, tidak termasuk masa konstruksi selama satu

triwulan.

Biaya investasi dalam analisis ini dibedakan atas biaya pra-operasi (pra-survey, survey, kesesuaian lahan, dan sertifikasi lahan), investasi tanaman (pembukaan lahan, penanaman nilam dan pemeliharaan tanaman belum menghasilkan), dan investasi non tanaman (unit pengolahan minyak nilam), oleh karena proyek yang akan di kembangkan ini akan memanfaatkan pendekatan Proyek Kemitraan Terpadu (PKT), maka perhitungan management fee sebesar 5% di kalkulasikan dalam analisis biaya investasi. Rincian biaya investasi ini diuraikan pada Tabel 3 berikut ini.

(b) Sumber Modal

(29)

kredit umum dengan tingkat suku bunga 32% per tahun. Masa tenggang (grace period) selama satu tahun, tidak termasuk masa konstruksi selama satu triwulan, diperlukan selama tanaman belum menghasilkan (TBM). Bunga selama tenggang (IDC) di kapitalisasikan sebagai pokok pinjaman dengan tingkat suku bunga ang sama dengan pokok pinjaman, kecuali skim KKPA yakni 14% per tahun.

Tabel 3 Biaya investasi tanaman nilam dan industri minyak nilam kelompok (20 orang petani) dengan pembagian pembebanan biaya investasi per petani (per Ha) No Jenis Biaya Investasi Jumlah Biaya/petani/Ha

(Rp) 1 Biaya Pra Operasi

- Pra survey

- Survey kesesuaian lahan - Sertifikasi tanah

5.000 8.000 300.000 2 Biaya Investasi Tanaman :

- Pembukaan lahan

- Penanaman dan Pemeliharaan TBM

670.000 2.907.900 3 Biaya Investasi non Tanaman

- Pengadaan unit pengolahan minyak nilam (pembebanan per orang)

1.501.250

4 Management fee 491.955

Jumlah investasi per orang per hektar 10.331.055

Tabel 4 Sumber modal berbasis dua pilihan skim kredit

No Jenis kredit Nilai (Rp)

1 Skim KKPA

Pokok pinjaman 10.331.055

IDC 1.663.101

Total 11.994.156

2 Skim kredit umum

Pokok pinjaman 10.331.055

IDC 4.203.392

Total 14.534.446

(c) Analisa Kelayakan Finansial

Analisa kelayakan finansial merupakan suatu pendekatan yang umum di pakai untuk melihat suatu proyek dapat dilaksanakan. Pendekatan yang umum di gunakan untuk melihat kelayakan proyek dari segi finansial adalah dengan menggunakan kriteria investasi yang meliputi arus kas, proyeksi rugi laba, Net Present Value (NPV), Internal Rate of Return (IRR), dan Benefif Cost Rate B/C).

(d) Proyeksi Arus Kas

(30)

dapat diketahui bahwa sejak tahun pertama tanaman menghasilkan tidak terdapat saldo kas yang defisit, kecuali pada tahun ke-4, ke-7 dan ke-10 karena pada tahun tersebut dilakukan penanaman ulang. Kendatipun demikian, secara keseluruhan saldo kas kumulatif selalu surplus, dan kredit dapat di lunasi selama 3 tahun setelah berproduksi. (e) Proyeksi Rugi Laba

Proyeksi rugi laba di hitung dari selisih penerimaan yang bersumber dari proyeksi hasil penjualan minyak nilam dengan biaya yang dikeluarkan (termasuk penyusutan) amortisasi dan bunga bank) per tahun. Berdasarkan data proyeksi rugi laba dapat di ketahui bahwa selama tanaman menghasilkan proyek ini tidak mengalami rugi.

(f) NPV, IRR dan B/C

Net Present Value (PV)di hitung berdasarkan selisih antara nilai sekarang atas penerimaan benefit yang telah didiskonto) yang akan di terima dikurangi dengan nilai sekarang atas biaya pengeluaran (cost yang telah didiskonto) yang akan dikeluarkan selama umur proyek. Nilai NPV dari proyek ini untuk skim KKPA adalah 29,83 juta. Sedangkan jika memanfaatkan skim kredit umum, nilai NPV lebih kecil, yakni Rp. 23,46 juta.

Internal Caset of Return (IRR)adalah tingkat bunga/ discounted factor rate yang mempersamakan nilai sekarang (present value) penerimaan dengan nilai sekarang jumlah biaya yang dikeluarkan selama umur proyek. Hasil perhitungan nilai IRR untuk proyek ini adalah 69,37% untuk skim KKPA dan 52,11% untuk skim kredit umum.

Tabel 5   Hasil perhitungan kelayakan finansial usahatani nilam dan industri minyak nilam kelompok

No Jenis Kriteria Kelayakan Nilai Kriteria

1 B/C ratio :

(31)

Berdasarkan hasil perhitungan NPV, dan B/C di atas dapat disimpulkan bahwa budidaya dan pengolahan minyak nilam pola kemitraan (PKT) baik dengan memanfaatkan skim KKPA maupun skim kredit umum layak untuk dilaksanakan.

4.1.4. Aspek Sosial Ekonomi dari Usaha Nilam (Kajian Pustaka)

Proyek Kemitraan Terpadu budidaya dan industri minyak nilam ini akan membutuhkan tenaga kerja setidaknya :

- 87 HOK untuk pekerjaan pembukaan lahan, - 77 HOK untuk pekerjaan penanaman nilam, dan

- masing-masing 161 HOK untuk pekerjaan pemeliharaan tanaman belum menghasilkan dan pemeliharaan tanaman menghasilkan per hektar budidaya tanaman nilam.

- Disamping itu, untuk industri minyak nilam membutuhkan tenaga kerja sedikitnya 4 orang dengan kapasitas unit pengolahan minyak nilam 100 kg daun nilam kering per batch.

Keberadaan Proyek Kemitraan Terpadu budidaya dan industri minyak nilam di harapkan akan merangsang masyarakat untuk menciptakan bidang usaha lainnya sebagai pengaruh ganda (multiplier effect).

Dari sudut pengembangan wilayah keberadaan proyek akan menjadi salah satu pusat kegiatan perekonomian subsektor perkebunan yang tentunya akan memberikan dampak positif bagi pengembangan kegiatan pembangunan wilayah. Keberhasilan usaha budidaya dan industri minyak nilam akan meningkat pendapatan daerah. Pajak yang diperoleh dari hasil usaha setiap tahunnya merupakan kontribusi yang cukup besar bagi usaha menunjang pembangunan daerah umumnya. Minyak nilam merupakan komoditas untuk ekspor, sehingga dengan demikian akan memberikan kontribusi bagi penghematan devisa negara.

4.1.5. Aspek Dampak Lingkungan dari Usaha Nilam

(32)

karena skala usaha proyek ini hanya 200 ha untuk satu unit penyulingan minyak nilam. Kegiatan industri minyak nilam dapat menyebabkan turunnya kualitas air di sekitar lokasi proyek pabrik yang akan menerima limbah cair kegiatan industri ini. Oleh karena jumlah limbah cair yang dibuang relatif kecil, maka besarnya dampak masih tergolong tidak penting. Kendatipun dampak kegiatan budidaya dan pengolahan min yak nilam ini berdampak tidak penting terhadap komponen lingkungan fisik, namun untuk menghindari terjadi akumulasi dampak (bahkan jika di kembangkan dalam skala besar) perlu diupayakan pengelolaan lingkungannya seperti sistem pembukaan lahan yang baik, pemupukan yang tepat, pengembalian limbah padat hasil penyulingan ke tanaman (pupuk) dan pengelolaan limbah cair dari unit penyulingan yang tidak langsung ke badan air.

Dampak kegiatan budidaya dan penyulingan minyak nilam terhadap komponen flora hanya terjadi sebagai akibat dari kegiatan pembukaan lahan. Hilangnya ekosistem flora, terutama pada lahan hutan primer/sekunder sebagai akibat pembukaan lahan berskala besar, oleh karena proyek ini berskala kecil (200 ha), maka dampak terhadap komponen flora tergolong tidak penting.

Berdasarkan skala usaha yang dikembangkan dan prakiraan dampak yang mungkin terjadi, sebagaimana diuraikan diatas, pengembangan budidaya dan industri minyak nilam pola PKT untuk usaha kecil dan menengah tidak perlu mempersyarakatkan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL).

4.1.6. Kajian Empiris Hasil Survey: Aspek Pemasaran Nilam

Komoditi nilam merupakan jenis komoditi yang terpilih berdasarkan hasil baseline survey yang dilakukan di Desa Napal Licin untuk dikembangkan sebagai sebagai salah satu usaha penggerak ekonomi masyarakat di wilayah ini. Dari analisis terhadap hasil survey lapangan menunjukkan bahwa pemasaran nilam di Desa Napal Licin Kabupaten Musi Rawas Utara (Muratara) dilakukan dalam bentuk produk minyak nilam.

(33)

banyak, bahkan belum memenuhi kapasitas produksi mesin penyuling.

Minyak nilam yang dihasilkan Kelompok Tani Citra Lestari di Desa Napal Licin ini mayoritas dijual ke pedagang pengumpul yang berada di Kabupaten Sarolangun Provinsi Jambi dan pedagang pengumpul yang berada di Provinsi Bengkulu. Hal ini dikarenakan, Desa Napal Licin memang berlokasi berbatasan dengan Provinsi Jambi dan Bengkulu. Mengingat produksi bahan baku nilam masih relatif rendah dikarenakan luas lahan pengusahaannya juga masih terbatas, maka volume produksi pada setiap bulan periode penjualan rerata 25 Kg minyak nilam murni, dengan harga penjualan rerata Rp.500.000,-/Kg. Saluran pemasaran yang dilalui beserta harga jual yang diperoleh oleh petani nilam di desa ini ditampilkan pada bagan berikut ini.

Gambar 3. Saluran Pemasaran Minyak Nilam di Desa Napal Licin

Pemasaran minyak nilam tersebut dilakukan petani dengan cara membawa langsung ke pedagang pengumpul setiap dua bulan dikarenakan volume penjualan minyak nilam dari petani di desa ini masih rendah, dengan demikian biaya transportasi dan pengemasan ditanggung oleh petani. Rerata biaya pemasaran yang harus dikeluarkan petani setiap kali penjualan adalah sebesar Rp.1.500.000,-. Biaya ini tergolong besar mengingat volume penjulan masih rendah, dikarenakan biaya transport tersebut sama besarnya untuk pengangkutan volume minyak nilam sampai dengan 500 Kg. Dengan demikian jika volume produksi minyak nilam bisa ditingkatkan maka biaya pengangkutan dalam pemasaran yang ditanggung per Kg minyak nilam akan semakin rendah. Pada kondisi sekarang, penjualan baru dilakukan oleh kelompok ini pada volume penjualan 50 Kg, yang didapat dalam waktu 2 bulan, maka biaya pemasaran yang harus ditanggung petani adalah sebesar Rp.30.000/kg, sedangkan bila volumenya ditingkatkan pada batas volume pengangkutan, maka biaya pemasaran yang harus dikeluarkan oleh petani setiap kali penjualan adalah sebesar Rp. 3.000/Kg. Selain itu, jika volume yang dihasilkan petani besar >200 Kg per penjualan, maka pedagang pengumpul bersedia untuk mengambil sendiri ke lokasi usaha petani di desa.

Petani/Home

Volume Penjualan 25 Kg/bln Hj : Rp.500.000/Kg

(34)

Dari aspek persaingan, sampai dengan saat ini, petani di desa ini belum memiliki pesaing dalam memproduksi minyak nilam. bahkan terkendala kekurangan bahan baku. Kapasitas 2 mesin penyuling yang seyogyanya mampu beroperasi setiap hari dengan kapasitas 80 Kg daun kering setiap hari, hanya terpenuhinya separohnya (40 Kg daun per hari), dan jumlah inipun tidak rutin, tergantung banyaknya daun nilam yang disetor anggota kelompok. Setiap kali penyulingan, kelompok tani ini hanya mampu menghasilkan 0,8 Kg minyak nilam (dari 40 kg daun kering menghasilkan 0,8 Kg minyak nilam). Kendala ini sebenarnya bisa diatasi melalui kerjasama dengan desa lain yang mengusahakan nilam namun hanya berproduksi dalam bentuk daun dikarenakan tidak ada mesin penyuling (Desa Pulau Kidak Kecamatan Ulu Rawas), namun hal ini belum bisa dilakukan dikarenakan petani di desa ini belum bisa menentukan besarnya biaya bagi hasil (biaya penyulingan) yang harus dikenakan kepada petani lain, mengingat mesin penyuling yang mereka miliki merupakan mesin bantuan dari Bioclime dengan tenaga kerja internal anggota, yang mereka lakukan secara bergantian, dan bahan bakar penyulingan diperoleh dengan mencari kayu bakar sendiri.

Dari hasil analisis aspek pemasaran nilam di lokasi ini menunjukkan bahwa pada aspek pemasaran, pengusahaan minyak nilam di desa ini tergolong layak, dikarenakan petani tidak bermasalah dengan pasar (tersedia pedagang pengumpul yang bisa mereka pilih), harga jual meskipun masih rendah namun sudah memberikan keuntungan pada petani, dan tingkat persainganpun rendah. Namun demikian untuk pengembangan ke depan, maka pada aspek pemasaran, rekomendasi perbaikan yang harus dilakukan adalah :

1. Perluasan areal pengusahaan nilam dengan melibatkan lebih banyak anggota kelompok baru untuk meningkatkan produksi daun, disertai dengan pengusahaan kebun bibit.

2. Kerjasama dengan desa lain yang berdekatan untuk memenuhi kapasitas produksi mesin penyuling dan memperkecil biaya pemasaran

3. Kerjasama dengan Dinas Pertanian Tanaman Pangan dan Hortikultura serta Dinas Perindustrian untuk pembinaan dan bantuan pengembangan melalui program kerja SKPD tersebut

(35)

4.1.7. Kajian Empiris Hasil Survey: Aspek Teknis dan Produksi Nilam

Dari hasil survey lapangan menunjukkan bahwa Desa Napal Licin secara teknis memang memiliki persayaratan tumbuh untuk pengusahaan nilam. Secara teknis, kondisi tanah di desa ini tergolong subur dan gembur, dengan jenis tanah mayoritas regosol dan yang mememang disarankan untuk jenis tanah penanaman nilam. Tekstur tanahnya adalah tanah lempung berpasir dengan keasaman tanah antara pH = 6 - 7 dan mempunyai daya resapan tanah yang baik dan tidak tergenang pada saat musim hujan.

Dari aspek agroklimat, kondisi wilayah ini juga cenderung cocok untuk pertumbuhan tanaman nilam. Desa Napal Licin termasuk desa yang memiliki sinar matahari cukup banyak namun beriklim sub tropis dengan temperatur berkisar 18-200C, sehingga sangat cocok dengan syarat iklim untuk pertumbuhan nilam. Dari syarat curah hujan dan kelembabanudara yang dibutuhkan tanaman nilam, desa ini juga memenuhi persyaratan, dimana curah hujan di wilayah ini berkisar 2000 -3000 mm/tahun, dengan kelembaban udara 50 - 70%.

Dari aspek teknis budidaya, diperoleh data bahwa budidaya nilam dan penyulingan nilam yang dilakukan petani memang belum memenuhi teknis budidaya dan penyulingan yang ideal. Bibit nilam yang digunakan petani masih diperoleh dari bibit lokal yang mereka usahakan sendiri dari kebun yang mereka usahakan, penggunaan pupuk juga belum optimal dikarenakan belum sesuai anjuran, bahkan ada beberapa petani yang tidak menggunakan pupuk, sebagian besar memanfaatkan pupuk organik yang diolah seadanya saja. Hal ini dikarenakan karena pengetahuan dan keterampilan mereka masih terbatas dan minimnya pembinaan dan tidak ada pendampingan dari pemerintah daerah. Pengetahuan teknis yang pernah mereka dapatkan berasal dari Tim Bioclime dan belajar secara otodidak. Pada teknis penyulingan juga belum dilakukan secara ideal dan efisien. Kapasitas mesin penyuling belum terpenuhi karena bahan baku terbatas, sehingga proses penyulingan belum terjadi secara efisien.

(36)

pembinaan dan pengembangan, maka kendala teknis tersebut dapat diatasi.

Pada aspek produksi hasil, Kelompok Tani Citra Lestari Desa Napal Licin telah menghasilkan produksi minyak nilam melalui kegiatan penyulingan dengan menggunakan peralatan penyulingan bantuan dari Bioclime, berupa :

1. Oven destilasi 2. Boller

3. Ketel

4. Pipa Destilasi 5. Jerigen 6. Kincir air

Peralatan dan pelaksanaan penyulingan tersebut dilakukan pada bangunan khusus untuk kegiatan penyulingan yang dibangun kelompok tani secara swadaya. Proses yang dilakukan kelompok tani dalam penyulingan minyak nilam meliputi:

- Daun nilam kering dimasukkan dalam oven destilasi (kelompok tani memliki 2 oven dengan kapasitas masing-masing 40 Kg daun kering)

- Uap dari proses ovenisasi daun nilam selanjutnya dialirkan melalui pipa destilasi untuk melalui proses pendinginan di pipa pendingin

- Campuran air dan minyak mengembun kemudian ditampung dalam wadah untuk dipisahkan dengan alat pemisah (disendok)

- Hasil minyak disimpan dalam jerigen

(37)

Dari hasil analisis aspek teknis dan produksi direkomendasikan bahwa usaha minyak nilam ini secara teknis layak untuk dilanjutkan di Desa Napal Licin, namun untuk pengembangan ke depan disarankan untuk melakukan perbaikan pada aspek teknis meliputi :

- Maksimalisasi kapasitas mesin penguap melalui perbanyakan penanaman nilam melalui menambah jumlah anggota petani nilam

- Peningkatan produksi daun melalui penerapan teknis budidaya nilam yang benar - Perbaikan kemasan minyak nilam yang lebih bersih dan seragam

- Kerjasama bahan baku dengan petani lain yang berada di luar Desa Napal Licin. 4.1.8. Kajian Empiris Hasil Survey: Aspek Keuangan Usaha Nilam

Dari hasil survey lapangan teridentifikasi bahwa usaha minyak nilam ini dilakukan secara kelompok namun dengan jumlah anggota kelompok aktif yang masih sedikit (<10 orang). Penanaman nilam juga belum dilakukan secara monokultur melainkan menjadi tanaman sela diantara tanaman perkebunan, dan sebagian lagi ditanaman di pekarangan, sehingga luasan rerata hanya < 0,5 Ha per petani, dengan produksi yang belum maksimal. Bibit yang digunakan juga berasal dari tanaman itu sendiri, serta perawatan belum dilakukan secara ideal. Hal ini menyebabkan analisis perhitungan dilakukan pada kegiatan penyulingan minyak nilam saja. Realita investasi untuk kegiatan penyulingan minyak nilam ini menggunakan peralatan bantuan dari Bioclime sehingga kelompok tani belum mengeluarkan biaya investasi secara riil, namun jika diasumsikan peralatan tersebut dibeli sendiri, maka biaya investasi yang dikeluarkan petani seperti yang disajikan pada Tabel 6 berikut ini.

Tabel 6   Biaya investasi usaha minyak nilam

No Jenis Biaya Investasi Volume (Unit Jumlah Biaya (Rp)

1 Oven destilasi 2 8.000.000

2 Boller 1 2.000.000

3 Ketel 1 1.500.000

4 Pipa destilasi 1 1.400.000

5 Jerigen 1 500.000

6 Kincir air 1 3.200.000

7 Bangunan produksi 1 10.000.000

Jumlah 26.600.000

(38)

pembuatan bangunan produksi sederhana yang berada di lahan ketua kelompok serta pembuatan kincir air. Adapun peralatan lain yang total nilainya berjumlah Rp.13.400.000 merupakan bantuan dari Bioclime berupa seperangkat peralatan penyulingan.

Dalam operasional produksinya dimana dengan keterbatasan bahan baku, maka kapasitas produksi hanya mampu menghasilkan 25 Kg minyak nilam per bulan (under capacity). Asumsi lain yang digunakan dalam perhitungan ini adalah biaya bahan bakar tidak dikeluarkan karena menggunakan kayu bakar yang dicari sendiri di sekitar kebun. Rincian biaya operasional (biaya tetap dan biaya variabel) yang harus dikeluarkan oleh kelompok ini setiap bulan tersaji pada Tabel 7 berikut ini.

Tabel 7   Biaya produksi minyak nilam per bulan

No Uraian Jumlah Biaya (Rp/Bulan)

Biaya Tetap 356.000

1 Biaya penyusutan peralatan penyulingan 276.000

2 Biaya penyusutan bangunan 80.000

Biaya Variabel 1.240.000

1 Biaya bahan baku 240.000

2 Upah tenaga kerja 1.000.000

Total biaya produksi 1.596.000

Penerimaan 12.500.000

Biaya pemasaran 1.500.000

Pendapatan 9.404.000 B/C 3,04

Dari hasil perhitungan analisis finansial pada setiap kali proses produksi menunjukkan bahwa setiap bulan, kelompok ini rerata mendapatkan pendapatan sebanyak Rp.9.404.000,-. Pendapatan tersebut harus dibagi kepada rerata kepada 8 orang anggota yang menyetor bahan baku daun nilam kepada kelompok untuk disuling menjadi minyak nilam, sehingga jika dirata-ratakan, masing-masing petani mendapat tambahan pendapatan sebesar Rp.1.175.500,- per bulan.

4.1.9. Kajian Empiris Hasil Survey: Aspek Sosial Ekonomi dari Usaha Nilam

(39)

usaha. Rerata manfaat ekonomi masih berupa :

- Tambahan pendapatan rerata Rp.1.000.000/bulan per anggota usaha minyak nilam

- Penyediaan lapangan kerja untuk penyulingan sebanyak 4 orang

- Pemanfaatan lahan pekarangan dan lahan kosong menjadi lahan produktif - Optimalisasi penggunaan lahan tanaman tahunan melalui pola polykultur dengan

menjadikan nilam sebagai tanaman sela diantara tanaman karet

Untuk pengembangan ke depan, diharapkan keberadaan usaha kelompok nilam ini dapat diperluas dan dimaksimalkan sehingga dapat dirasakan oleh masayarakat lain. Dari sudut pengembangan desa keberadaan usaha ini akan menjadi salah satu pusat kegiatan perekonomian subsektor pertanian dan industri yang tentunya akan memberikan dampak positif bagi pengembangan kegiatan pembangunan di Desa Napal Licin. Keberhasilan usaha budidaya dan industri minyak nilam akan meningkat pendapatan desa, sekaligus memberikan kontribusi pada pendapatan daerah dan negara, mengingat minyak nilam merupakan komoditas untuk ekspor.

4.1.10. Aspek Dampak Lingkungan Nilam

Mengingat skala usaha ini masih tergolong kecil dengan kapasitas industri masih tergolong industri rumah tangga, maka dari hasil survey lapangan belum terlihat adanya dampak lingkungan yang bersifat negatif dari aktifitas ini. Pada aktifitas budidaya, pembukaan lahan tidak dilakukan dengan cara yang dilarang seperti membakar, dikarenakan rerata masih diusahakan di lahan yang sudah ada (sebagai tanaman sela dan lahan pekarangan) sehingga pembukaan lahan hanya memerlukan kegiatan penyiangan dan pembersihan saja.

Pada kegiatan industri minyak nilam juga belum terlihat adanya dampak negatif yang dapat menyebabkan turunnya kualitas air di sekitar lokasi penyuingan, oleh karena jumlah limbah cair yang dibuang relatif kecil, maka besarnya dampak masih tergolong tidak penting. Kendatipun demikian, jika dilakukan pengembangan ke depan, maka kemungkinan adanya limbah dari produsi minyak nilam ini harus juga menjadi bagian dari perhatian kelompok. Pengelolaan limbah tersebut ke depan dapat dikelola agar menjadi manfaat yaitu melalui, pengembalian limbah padat hasil penyulingan ke tanaman (pupuk) dan pengelolaan limbah cair dari unit penyulingan yang tidak langsung ke badan air.

Figur

Gambar 1.  Kerangka pendekatan studi

Gambar 1.

Kerangka pendekatan studi p.10
Tabel 1 Rantai nilai produk HHBK prioritas pada 5 desa pilot project Bioclime

Tabel 1

Rantai nilai produk HHBK prioritas pada 5 desa pilot project Bioclime p.20
Gambar 2. Saluran pemasaran produksi nilam

Gambar 2.

Saluran pemasaran produksi nilam p.23
Tabel 3  Biaya investasi tanaman nilam dan industri minyak nilam kelompok (20 orang petani) dengan pembagian pembebanan biaya investasi per petani (per Ha)

Tabel 3

Biaya investasi tanaman nilam dan industri minyak nilam kelompok (20 orang petani) dengan pembagian pembebanan biaya investasi per petani (per Ha) p.29
Gambar 3.   Saluran Pemasaran Minyak Nilam di Desa Napal Licin

Gambar 3.

Saluran Pemasaran Minyak Nilam di Desa Napal Licin p.33
Tabel 9 Biaya produksi minyak nilam per bulan

Tabel 9

Biaya produksi minyak nilam per bulan p.107
Tabel 6: Gaji dan Upah Kerja

Tabel 6:

Gaji dan Upah Kerja p.113
Tabel 9 Biaya produksi Kopi Selangit per bulan

Tabel 9

Biaya produksi Kopi Selangit per bulan p.114
Tabel 8 Biaya investasi usaha Kopi

Tabel 8

Biaya investasi usaha Kopi p.114
Gambar 1. Komoditas Nilam yang dibudidayakan di Desa Napal Licin

Gambar 1.

Komoditas Nilam yang dibudidayakan di Desa Napal Licin p.116
Gambar 2. Kincir Air di Desa Napal Licin yang digunakan untuk mengalirkan air dari atas bukit

Gambar 2.

Kincir Air di Desa Napal Licin yang digunakan untuk mengalirkan air dari atas bukit p.116
Gambar 3. Alat dan Proses Penyulingan Minyak Nilam di Unit Usaha Masyarakat Penyulingan Nilam Desa Napal Licin

Gambar 3.

Alat dan Proses Penyulingan Minyak Nilam di Unit Usaha Masyarakat Penyulingan Nilam Desa Napal Licin p.117
Gambar 5. Suasana FGD  di Desa Napal Licin

Gambar 5.

Suasana FGD di Desa Napal Licin p.118
Gambar 4. Hasil Penyulingan Nilam di Desa Napal Licin

Gambar 4.

Hasil Penyulingan Nilam di Desa Napal Licin p.118
Gambar 1.

Gambar 1.

p.127
Gambar 2.

Gambar 2.

p.128
Gambar 2. Balai Desa Pangkalan Bulian

Gambar 2.

Balai Desa Pangkalan Bulian p.129
Gambar 3. Kondisi Bangunan Bengkel Rotan di Desa Pangkalan Bulian

Gambar 3.

Kondisi Bangunan Bengkel Rotan di Desa Pangkalan Bulian p.130
Gambar 4.

Gambar 4.

p.131
Gambar 5. Bantuan Peralatan Bengkel Rotan di Desa Pangkalan Bulian

Gambar 5.

Bantuan Peralatan Bengkel Rotan di Desa Pangkalan Bulian p.132
Gambar 6. Contoh produk jadi dari Bengkel Rotan di Desa Pangkalan Bulian

Gambar 6.

Contoh produk jadi dari Bengkel Rotan di Desa Pangkalan Bulian p.133
  Gambar 7. Suasana FGD di Desa Pangkalan Bulian
Gambar 7. Suasana FGD di Desa Pangkalan Bulian p.134
Gambar 8. Foto kegiatan pelatihan pembuatan furnitur berbahan dasar rotan

Gambar 8.

Foto kegiatan pelatihan pembuatan furnitur berbahan dasar rotan p.135
Gambar 1.

Gambar 1.

p.137
Gambar 3. Penanda batas kawasan hutan di Desa Kepayang

Gambar 3.

Penanda batas kawasan hutan di Desa Kepayang p.138
Gambar 4. Potensi flora dan fauna di wilayah Desa Kepayang

Gambar 4.

Potensi flora dan fauna di wilayah Desa Kepayang p.139
Gambar 5. Kondisi Infrastruktur di Desa Kepayang

Gambar 5.

Kondisi Infrastruktur di Desa Kepayang p.140
Gambar 6.

Gambar 6.

p.141
Gambar 7. Lahan pertanian di Desa Kepayang

Gambar 7.

Lahan pertanian di Desa Kepayang p.142
Gambar 8. Bantuan fasilitas dari BIOCLIME di Desa Kepayang

Gambar 8.

Bantuan fasilitas dari BIOCLIME di Desa Kepayang p.143

Referensi

Memperbarui...