PEMBELAJARAN MATEMATIKA MODEL JIGSAW BERBASIS KONTEKSTUAL MATERI BANGUN DATAR KELAS VI UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIK
ARTIKEL
Oleh
MUHYIDIN, S.Pd.,M.Pd.
NIP. 19640405 198803 1 019
PEMERINTAH KABUPATEN MAGALANG
DINAS PENDIDIKAN PEMUDA DAN OLAH RAGA
SEKOLAH DASAR NEGERI SUKODADI 2
UPT KECAMATAN BANDONGAN
LEMBAR PENGESAHAN
Nama : MUHYIDIN, S.Pd.,M.Pd.
NIP : 19640405 198803 1 019
Lokasi Kerja : SD Negeri Sukodadi 2
Alamat Sekolah : Kalinongko, Sukodadi, Bandongan, Magelang, KP. 56151
Judul : “Pengembangan Perangkat Pembelajaran Matematika Model Jigsaw Berbasis Contekstual Materi Bangun
Gabungan Kelas VI Untuk Meningkatkan Kemampuan
Komunikasi Matematik”
Artikel ini telah disetujui oleh Ka UPT Disdikpora Kecamatan Bandongan untuk dapat dipublikasikan di Perpustakaan SD Negeri Sukodadi 2 Kec, Bandongan.
Mengetahui,
Kepala UPT Disdikpora Kec. Bandongan,
Drs. SUMEDI
NIP. 19590604 198012 1 005
Bandongan, 5 Maret 2014
Pengawas Pembina,
ABSTRAK
Muhyidin. 2014. Pembelajaran Matematika Model Jigsaw Berbasis Kontekstual Materi Bangun Datar Kelas VI Untuk Meningkatkan Kemampuan Komunikasi Matematik. Artikel. Program Pengembangan Diri. Pengawas Pembina: Larasati, S.Pd.MM.Pd.
Kata kunci : model jigsaw berbasis kontekstual, kemampuan komunikasi matematik.
Penelitian ini bertujuan: 1) memperoleh produk perangkat pembelajaran dengan model jigsaw berbasis kontekstual untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematik materi bangun gabungan yang valid, dan 2) menghasilkan perangkat pembelajaran model jigsaw berbasis kontekstual untuk meningkatkan kemampuan komunikasi matematik pada materi Bangun gabungan yang praktis, dan efektif.
Prosesdur pengembangan yang digunakan adalah modifikasi dari model 4-D. Subyek uji coba perangkat pembelajaran dalam penelitian ini adalah siswa kelas VI SD Negeri Losari tahun pelajaran 2012/2013 sebanyak 8 siswa dengan kemampuan akademik yang beragam. Sebagai instrument pengumpul data dalam penelitian ini adalah: (1) lembar penilaian validator terhadap perangkat pembelajaran dan instrument penelitian dan (2) lembar validasi (a) observasi kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran, (b) Observasi aktifitas siswa, (c) angket respon guru terhadap perangkat dan pelaksanaan pembelajaran, (d) angket respon siswa terhadap perangkat dan pelaksanaan pembelajaran, (e) Instrumen tes hasil belajar siswa. Analisis data yang digunakan adalah: analisis deskriptif terhadap: (1) hasil penilaian umum validator terhadap perangkat dan instrument penelitian, (2) respon guru terhadap perangkat dan pelaksanaan pembelajaran, (3) rata kemampuan guru mengelola pembelajaran, (4) rata-rata respon siswa terhadap perangkat dan pelaksanaan pembelajaran, dan (5) analisis tes hasil belajar.
ABSTRACT
Muhyidin. 2014. Learning Math Model of Jigsaw Based Contextual Content Build Flat Class VI To Improve Communication Skills Mathematics. Article. Personal Development Program. Trustees Trustees: Larasati, S.Pd.MM.Pd.
Keywords : model of jigsaw based contextual, mathematical communication skills.
This study aims to: (1) obtain the product model of jigsaw based contextual learning to improve communication skills combined mathematically valid wake materials, and (2) generating devices the model of jigsaw based contextual learning to improve the communication skills of mathematics at Wake material combined practical, and effective.
Prosesdur development used is a modification of the 4-D models. The subject of the learning trials in this study were six graders State of SDN Sukodadi 2 on 2012/2013 school year with varying academic abilities. As an instrument for collecting data in this study are: (1) the assessment form validator for learning and research instrument, and (2) validation sheet (a) observation of the teacher's ability to manage learning, (b) Observation of student activities, (c) teachers' questionnaire responses of the device and the implementation of learning, (d) students' response to the questionnaire and the implementation of learning, (e) Instrument test student learning outcomes. Analysis of the data used are: descriptive analysis of: (1) a general assessment of the device and instrument validator research, (2) the response of teachers to the device and implementation of learning, (3) the average teacher's ability to manage learning, (4) the mean average students' response to the device and implementation of learning, and (5) analysis of achievement test.
Based on the results of research and discussion can be concluded: 1) device-based contextual learning jigsaw model of a valid, practical and effective, 2) achieved mastery learning in class experiment, 3) there is influence student learning activities to student learning outcomes 4) experimental class student learning outcomes better than the control class. The average student test results .sebesar 73.79 and influence student activity 67.1%, greater than the interest of student learning.
A. PENDAHULUAN
siswa untuk memperoleh berbagai pengetahuan produk dan keterampilan. Menurut Yusuf (2003:7), Lebih dari itu, guru harus dapat mendorong siswa untuk dapat bekerja secara kelompok dalam rangka menumbuhkan daya nalar, cara berpikir logis, sistematis, kreatif, cerdas, terbuka, dan ingin tahu. Oleh sebab itu dalam kegiatan belajar mengajar perlu dikembangkan pengalaman-pengalaman belajar melalui pendekatan dan inovasi model-model pembelajaran yang sesuai. Berdasarkan kenyataan dari hasil tes yang di peroleh, bahwa untuk materi bangun datar terutama luas darah gabungan siswa mengalami kesulitan karena selama ini pembelajaran yang di gunakan hanya metode ceramah, siswa hanya menghafal rumus, sehingga siswa sulit memaghami, dan ber akibat nilai yang diperoleh tidak maksimal.
Berkaitan dengan pembelajaran matematika, menurut pengamatan pembelajaran matematika di SDN Sukodadi 2 Kecamatan Bandongan Magelang masih menggunakan pembelajaran yang diawali dengan definisi atau teorema, pemberian contoh soal, dilanjutkan dengan siswa mengerjakan soal latihan. Pada pembelajaran tersebut siswa kurang aktif dalam mengembangkan ide-ide kreatif untuk menemukan berbagai alternatif pemecahan masalah secara efektif dan efisien, sehingga menghafalkan rumus tanpa memahami maknanya serta kurang mampu menerapkannya pada pemecahan masalah sehingga hasil belajarnya kurang maksimal. Berdasarakan hasil pengalaman peneliti dan wawancara beberapa guru di SDN Sukodadi 2 diperoleh simpulan bahwa selama ini dalam mengajar cenderung menggunakan metode ceramah saja, sehingga pengetahuan yang dimiliki siswa hanya bersifat hafalan dan tidak mendorong siswa menjadi aktif dalam proses pembelajaran. Hal ini yang menyebabkan siswa menjadi jenuh dan bosan dalam mengikuti pelajaran dan akhirnya sulit dipahami oleh siswa. Peneliti berasumsi bahwa kedua hal tersebut menyebabkan keaktifan belajar matematika rendah yang berakibat kemampuan komunikasi matematika rendah.
matematika; (3) guru mengalami kesulitan untuk meningkatkan motivasi dan prestasi belajar siswa dan; (4) kegiatan belajar mengajar matematika terhambat.
Berdasarkan realita serta asumsi tersebut diperlukan upaya perbaikan dalam pembelajaran matematika di kelas agar lebih baik hasil belajarnya, hal ini dibutuhkan kreatifitas guru pada penyajian dikelas agar menarik, mudah diterima dan tidak membosankan siswa. Pengembangan dan pemanfaatan perangkat pembelajaran yang baik diharapkan bisa memotivasi siswa untuk berkreatifitas, memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, mau belajar mandiri maupun berkelompok, menemukan pembelajaran yang bermakna dan akhirnya mampu meningkatan hasil belajar.
Dari permasalahan di atas maka solusi yang dirasa tepat di laksanakan untuk mengatasi masalah pembelajaran di atas adalah model jigsaw berbasis contekstual.
B. MODEL JIGSAW
Menurut Trianto (2010;73) Jigsaw di kembangkan oleh Elliot Aroson. Langkah-langkah pembelajaran jigsaw:
a. Siswa dibagi atas beberapa kelompok (tiap kelompok anggotanya 5-6 orang)
b. Materi pelajaran diberikan diberikan kepada siswa dalam bentuk buku yang telah dibagi-bagi menjadi beberapa sub bab.
c. Setiap anggota kelompok membaca sub bab yang ditugaskan, dan bertanggung jawab untuk mempelajarinya. Anggota dari kelompok lain yang telah mempelajari sub bab yang sama bertemu dalam kelompok ahli untuk mendiskusikanya.
d. Jadi, dalam model jigsaw, siswa bekerja kelompok selama dua kali, yakni dalam kelompok mereka sendiri dan dalam “kelompok ahli”. Setelah masing-masing anngota menjelaskan bagianya masing-masig
f. Pada pertemuan dan diskusi kelomok asal, siswa-siswa dikenai tagihan berupa kuis individu.
Model Jigsaw pertama kali dikembangkan oleh Aronson (1975). Metode ini memiliki dua versi tambahan, Jigsaw II (Slavin, 1989) dan Jigsaw III ( Kagan, 1990). Dalam metode Jigsaw, siswa di tempatkan dalam kelompok-kelompok-kelompok kecil yang terdiri 5 anggota. Setiap kelompok-kelompok-kelompok di beri informasi yang membahas salah satu topik dari materi pelajaran mereka saat itu. Dari informasi yang diberikan pada setiap kelompok ini, masing-masing kelompok harus mempelajari bagian-bagian yang berbeda dari informasi tersebut. Misalnya kelompok A diminta mempelajari informasi tentang gabungan persegi panjang dan segi tiga, kelompok lain mempelajari gabungan persegi panjang dan setengah lingkaran, atau gabungan bangun yang lainya.
Setelah mempelajari informasi tersebut dalam kelompoknya masing-masing, setiap anggota yang mempelajari bagian-bagian ini berkumpul dengan anggota-anggota dari kelompok lain yang juga menerima bagian-bagian materi yang sama. Jika anggota 1 dalam kelompok A mendapat tugas mempelajari
gabunganpersepi panjang dan segitiga maka ia harus berkumpuldengan siswa kedua kelompok B dan siswa ke 3 dalam kelompok C (begitu seterusnnya) yang juga mendapat tugas mempelajari gabungan persegi panjang dan segitiga. Perkumpulan siswa yang memiliki bagian informasi yang sama ini dikenal dengan istilah “kelompok ahli” (expert group). Dalam “kelompok ahli” ini, masing-masing siswa saling berdiskusi dan mencari cara terbaik bagaimana menjelaskan bagian informasi itu kepada teman-teman satu kelompoknya yang semula. Setelah diskusi selesai, semua siswa dalam” kelompok ahli “ ini kembali ke kelompoknya yang semula, dan masing-masing dari mereka mulai menjelaskan bagian informasi tersebut kepada teman-teman satu kelompoknya.
Dalam model pembelajaran tipe jigsaw ini siswa bekerja dalam suatu kelompok (ada kelompok asal dan kelompok ahli) yang terdiri dari beberapa
lagi kedalam kelompok asal untuk melaporkan apa yang mereka pelajari dalam kelompok ahli.
C. CONTEKSTUAL TEACHING AND LEARNING (CTL)
Contekstual Teaching and Learning (CTL) yaitu suatu program yang menggabungkan pembelajaran kooperatif dengan pengajaran individual untuk memenuhi kebutuhan dari berbagai kelas yang berbeda (Sharan, 2009:28).
Pembelajaran dengan pendekatan kontekstual merupakan konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sebagai anggota keluarga dan masyarakat. Dengan konsep itu, hasil pembelajaran diharapkan lebih bermakna bagi siswa. Proses pembelajaran berlangsung alamiah dalam bentuk kegiatan siswa bekerja dan mengalami, bukan transfer pengetahuan dari guru ke siswa. Strategi pembelajaran lebih dipentingkan daripada hasil.
Landasan filosofi pembelajaran dengan pendekatan kontekstual adalah konstruktivisme, yaitu filosofi belajar yang menekankan bahwa belajar tidak hanya sekedar menghapal. Siswa harus mengkonstruksikan pengetahuan di benak siswa sendiri. Pengetahuan tidak dapat dipisah-pisahkan menjadi fakta-fakta atau proporsi yang terpisah, tetapi mencerminkan keterampilan yang dapat diterapkan. Dalam konteks itu, siswa perlu mengerti apa makna belajar, apa manfaatnya, dalam status apa mereka, dan bagaimana mencapainya. Siswa perlu menyadari bahwa yang mereka pelajari berguna bagi hidupnya nanti. Dengan demikian siswa memposisikan sebagai diri sendiri yang memerlukan suatu bekal untuk hidupnya nanti. Mereka mempelajari apa yang bermanfaat bagi dirinya dan berupaya menggapainya. Dalam upaya ini, siswa memerlukan guru sebagai pengarah dan pembimbing.
(siswa). Sesuatu yang baru (pengetahuan, keterampilan) datang dari menemukan sendiri, bukan dari apa kata guru. Pembelajaran kontektual merupakan salah satu dari sekian banyak model pembelajaran, pembelajaran kontekstual dikembangkan dengan tujuan membekali siswa dengan pengetahuan yang secara fleksibel dapat diterapkan dari satu permasalahan ke permasalahan lain dan dari satu konteks ke konteks lainnya.
Model Jigsaw berbasis kontekstual adalah model pembelajaran dengan menggabungkan Model Jigsaw dengan prinsip-prinsip yang ada dalam pembelajaran kontekstual. Dalam pembelajaran Model Jigsaw ini siswa bekerja dalam suatu kelompok (ada kelompok asal dan kelompok ahli) yang terdiri dari beberapa siswa yang heterogen. Model di jabarkan dalam langkah-langkah (sintak) pembelajaran seperti table berikut.
Sintak Pembelajaran Model Jigsaw Berbasis Kontekstual Fase Sintak Kegiatan Guru
Guru membimbing kelompok belajar pada saat mereka mengerjakan tugas-tugas
5 Evaluasi Guru mengevaluasi hasil belajar tentang materi yang dipelajari dan juga terhadap presentasi hasil kerja masing-masing kelompok
Fase Sintak Kegiatan Guru
penghargaan belajar siswa secara indifidu maupun kelompok
D. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Berdasarkan perhitungan data pengamatan terhadap kemampuan guru dalam mengelola pembelajaran pada uji coba1 dan uji coba 2 diperoleh deskripsi data seperti yang disajikan dalam tabel berikut.
Kemampuan Guru Mengelola Pembelajaran
Rata-rata 3.17 S. Baik 3.58 S. Baik
Berdasarkan perhitungan data pengamatan terhadap kemampuan guru mengelola pembelajaran setelah direvisi diperoleh deskripsi data pengelolaan pembelajaran di kelas uji coba 2 seperti yang disajikan dalam Tabel di atas bahwa rata-rata semua aspek adalah 3.58 masuk kategori “sangat baik”.
Diskripsi Aktivitas Siswa
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Aktifitas 28 2.70 3.80 3.1389 .31117
Valid N (listwise) 28
Aktivitas siswa selama kegiatan uji coba 1 dan uji coba 2 diperoleh deskripsi rata-rata aktivitas pada kelas uji coba sebesar 3.1389 termasuk pada kriteria “baik”. Dari hasil tersebut maka apat disimpulkan bahwa perangkat pembelajaran dikatakan efektif karena dapat dilaksanakan untuk meningkatkan aktivitas siswa di kelas.
Data hasil belajar dari kelas uji coba 1, kelas uji coba 2 dan kelas kontrol diambil dengan metode tes diakhir pembelajaran pada pertemuan ke lima. Selengkapnya rata-rata hasil belajar pada tabel berikut.
Deskripsi Statistik Hasil Belajar Kelas Uji coba dan Kontrol
N Minimum Maximum Mean Std. Deviation
Ujicoba 15 66.00 90.00 75.8214 6.61678
Kontrol 15 54.00 74.00 67.1429 5.99824
Valid N (listwise) 15
Berdasarkan data hasil tes komunikasi matematik siswa pada tabel diatas, menunjukkan nilai rata-rata kelas uji coba sebesar 75.82 dan kelas kontrol sebesar 67.14, kedua kelas mencapai ketuntasan belajar dibandingkan standar ketuntasan yang telah ditetapkan sekolah 60. Pada penelitian ini KKM yang digunakan untuk pengujian 60, dengan ketuntasan klasikal 65%. Berdasarkan hasil belajar dapat disimpulkan bahwa pembelajaran Model Jigsaw Berbasis Kontekstual pada luas bangun gabungan secara klasikal rata-rata hasil belajar mencapai ketuntasan.
Hipotesis yang akan diuji adalah:
X = rata-rata nilai tes kemampuan komunikasi (kelas uji coba)
0 = Kriteria Ketuntasan Minimal (60)
Hasil rata-rata nilai postes tes hasil belajar kelas uji coba = 79,89, KKM = 60, standar deviasi = 10,10, jumlah siswa = 15, dari data tersebut didapat nilai t
,
ditolak, artinya rata-rata nilai tes hasil belajar kelas eksperimen tuntas.
Pada kelas uji coba siswa yang memperoleh nilai tes hasil belajar minimal 60 ada 15 siswa, kriteria ketuntasan individual 75%, jumlah siswa 28 orang.
E. KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil-hasil pengembangan dan diskusi hasil penelitian yang dikemukakan pada bab IV, maka dapat disimpulan sebagai berikut.
1. Perangkat pembelajaran yang dihasilkan:
1) Buku Siswa, Lembar Kegiatan Siswa (LKS), Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Tes Hasi Belajar yang dikembangkan valid menurut penilaian ahli.
2) Pengelolaan guru dalam pengembangan perangkat pembelajaran model jigsaw berbasis kontekstual yang dikembangkan selama uji coba dapat terlaksana dengan baik, hasil pengamatan 3.38 kategori “sangat baik”. 3) Aktivitas siswa dalam kegiatan pembelajaran model jigsaw berbasis
kontekstuasl yang dikembangkan dilakukan dengan baik, hasil pengamatan mencapai kategori “sangat baik”.
4) Siswa yang menjadi subyek penelitian memberikan respon positif terhadap pembelajaran model jigsaw berbasis kontekstual yang dikembangkan, adalah 90.9% kategori “sangat baik”.
5) Hasil belajar untuk mengukur kemampuan siswa setelah pembelajaran model jigsaw berbasis kontekstual materi bangun gabungan menunjukkan, kelas uji coba 1 = 77,5% , uji coba 2 = 92.5% telah tuntas belajar (KKM 60).
2. Sehingga dihasilkan perangkat pembelajaran model jigsaw berbasis kontekstual yang valid, praktis dan efektif.
1) Hasil belajar untuk mengukur kemampuan siswa setelah pembelajaran model jigsaw berbasis kontekstual materi bangun gabungan menunjukkan, kelas uji coba 1 = 77,5% , uji coba 2 = 92.5%s telah tuntas belajar (KKM 60).
2 diperoleh nilai R square sebesar 0.289 = 28.9 %, yang berarti 28.9 % aktivitas berpengaruh terhadap hasil belajar.
Berdasarkan simpulan yang dikemukakan di atas, maka peneliti mengharapkan: 1. Kepada guru mitra dapat mengembangkan perangkat pembelajaran pada
materi lain karena perangkat pembelajaran merupakan tugas guru, menuju guru yang professional.
2. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan perangkat sehingga menghasilkan perangkat yang valid, praktis dan efektif, oleh karena itu, penelitian ini dapat diteruskan sampai tahap pengembangan oleh guru matematika.
3. Bagi sekolah pengembangan perangkat ini bisa menjadi acuan untuk mengembangkanperangkat pembelajaran pada mata pelajaran lain.
4. Penelitian ini merupakan penelitian baru tahap pengembangan, dapat dilanjutkan pada tahap penyebaran keefektifan di bandingkan pengembangan dengan model lain.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto. 2010. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: Rineka Cipta.
Arends, R. 1997. Classroom Intructional Management. New York: The Mc Graw –Hill Company.
BSNP, 2006. Panduan Pehyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan
Desmita. 2009. Psikilogi Perkembangan Peserta Didik. Bandung:Remaja Rosda Karya.
Deen, IS, 2006. Contextual Teaching and Learning Practices in the Family andConsumen Sciences Curiculum. Journal of Family and Consumer Sentences Education, Vol 24 no 1: Spring/Summer.
Depdiknas. 2002. Pendekatan Contestual (contextual Teaching and Learning).
Goldin, G . 2002. Representation in Mathematical Learning and Problem Solving.
Handbook of internasional Research in Mathematics Education. PF Book. Gardner, H. 2006. Jerome S. Bruner dalam Palmer, Joy (ed). Fifty Modern
Thinker on Education. Terjemahan Farid Assifa. Yogyakarta:Ircisod. Hudson, C. 2000. Adressing Acontability Via Contextual Teaching and Learning .
Journal of articel Discusie.
Hurst, C. 2004. Improving Mathematical Learning Through Contextualisation.
Journal of technology Curtin Univercity
Huda, M. 2011. Cooperatf Learning MetodeTeknik Struktur dan Model Pembelajaran. Yogyakarta: Pustaka Pelajar
Johnson, E, B. 2008, Contekstual Teaching and Learning. Jakarta: Kaifa
Learning.
Kuiper, W. and Knufer, A. 1998. The Nederland. TIMMS Studeies.
Moed, HF. 2010. Measuring Contextual Citation impact of Scietific . Journal of Informatics . Vol 30 No 30 Hal 13.
Muslich, M. 2009. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual.
Jakarta: Bumi Aksara.
Nasution. S. 2004. Didaktik Asas Mengajar. Jakarta:Bumi Aksara. Pupuh dan Sutikno, 2007. Strategi Belajar Mengajar. Bandun: Adit Rich, B. 2005. Geometri. Jakarta: Erlangga
Sharan, S. 2009. Handbook of Cooperatif learning . Yogyakarta: IMPERIUM. Sasongko. 2004, Pengembangan Perangkat Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD
pada Relasi, Fungsi, dan Grafik. Tesis Pasca UNNESA.
Sumanto, Y. 2008, Gemar MatematikaUntukSD, Jakarta: Sahabat.
Suherman, E 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: JICA-UPI.
Syaodih, N. 2010. Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: Rosda Karya.
Shodiq. 2008. Psikologi Pembelajaran Matematika SMP. Yogyakarta: P4TK. Trianto. 2007. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek. Jakarta:
Prestasi Pustaka.
Turmudi. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: JICA-UPI.
Winkel, WS. 2007. Psikologi Pengajaran. Yogyakarta: Media Abadi.