Makalah Pembanding
“KEKUASAAN DAN MORAL”
Dibina Oleh:
Bapak Suwarno Winarno, selaku dosen Mata Kuliah Filsafat Moral
OFF B Disusun oleh:
1. Rahman Mukhti (120711434963)
2. Iklima Amal Bhakti (120711434965)
JURUSAN HUKUM DAN KEWARGANEGARAAN
FAKULTAS ILMU SOSIAL
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Sejarah panjang kehidupan bernegara tak pernah lepas dari aspek kekuasaan. Kekuasaan menjadi sebuah simbol berdaulat dalam manifestasi perbuatan negara. Maka, tidak mengherankan jika kekuasan menjadi sebuah perdebatan panjang.
Dalam perjalanananya, kekuasaan berlaku tidak sesuai dengan kekuasaan semestinya. Hal itu seiring dengan munculnya kritik terhadap model-model kekuasaan yang lahir. Secara simultan, melahirkan bagaimanakah konsepsi kekuasaan itu mesti diimplementasikan dalam membangun negara.
Moral merupakan suatu fenomena manusia yang universal, menjadi ciri yang membedakan antara manusia dan binatang. Pada binatang tidak ada kesadaran tentang baik atau buruk, yang boleh dan yang dilarang, yang harus dan yang tidak pantas dilakukan baik keharusan alamiah maupun keharusan moral. Keharusan alamiah terjadi dengan sendirinya sesuai dengan hukum alam. Sedangkan keharusan moral bahwa hukum yang mewajibkan manusia melakukan atau tidak melakukan sesuatu.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apakah pengertian kekuasaan dan moral? 2. Bagaimanakah sejarah kekuasaan berjalan? 3. Bagaimanakah hubungan kekuasaan-moral?
BAB II PEMBAHASAN
"Moralitas" (dari kata sifat Latin moralis) mempunyai arti yang pada dasarnya sama dengan "Moral" hanya ada nada lebih abstrak. Kita berbicara tentang "moralitas suatu perbuatan" artinya, segi moral suatu perbuatan atau baik buruknya. Moralitas adalah sifat moral atau keseluruhan asas dan nilai yang berkenan dengan baik dan buruk.
Moralitas juga merupakan suatu fenomena manusiawi yang universal. Moralitas bukan saja merupakan suatu dimensi nyata dalam hidup setiap manusia, baik pada tahap perorangan maupun pada tahap sosial, kita harus mengatakan juga, moralitas hanya terdapat pada manusia dan tidak terdapat pada makhluk lain. Dikatakan dalam buku Dasar-Dasar Ilmu Politik bahwa kekuasaan adalah kemampuan seseorang atau suatu kelompok untuk mempengaruhi perilaku seseorang atau kelompok lain, sesuai dengan keinginan para pelaku. Juga dapat dikatakan kekuasaan dimaknai sebagai kemampuan untuk memaksakan kehendak pada orang lain, agar orang-orang tersebut mau mematuhi apa yang menjadi keinginan kita. Tetapi ada pula buku yang mengatakan bahwa kekuasaan tidak selalu dipandang seperti pada umumnya. Dalam bukunya Etika Jawa, Franz Magnis-Suseno SJ menuliskan bahwa seperti segala kekuatan yang menyatakan diri dalam alam, kekuasaan adalah ungkapan energi Ilahi yang tanpa bentuk, yang selalu kreatif meresapi seluruh dunia.
dalam pandangan dunia Jawa bersifat konkret, karena kekuasaan politik yang ada adalah suatu bentuk ungkapan kasekten (kekuatan yang sakti). Orang yang memiliki kasektѐn tidak dapat dikalahkan ataupun dilukai, karena orang itu sakti. Kekuasaan itu eksis dalam dirinya sendiri, tidak bergantung pada pembawa empiris. Bagi orang Jawa, kekuasaan adalah sesuatu yang bersifat homogen.
Dari penjelasan di atas yang mengatakan kekuasaan itu bagaikan fluidum yang memenuhi ruang di alam semesta ini dapat disimpulkan bahwa jumlah kekuasaan tersebut konstan/tetap. Karena yang dapat berubah hanyalah pembagian kekuasaan dalam dunia. Konsentrasi kekuasaan di suatu tempat sama artinya dengan pengurangan kekuasaan di tempat lain.
Hakikat sebuah kekuasaan yang bisa diidentikan dengan kekuatan dari seorang penguasa atau pemimpin, tandanya tercermin pada saat seorang Raja yang sedang berkuasa, misalkan kita mengambil contoh pada saat jaman kerajaan masih berjaya adalah timbulnya ketenangan dan kesejahteraan bagi rakyat di wilayahnya. Tidak ada gangguan, ancaman maupun hal-hal yang mengganggu ketenteraman rakyatnya, semua kegundahan yang ada seakan telah telah dihapus oleh sang Raja.
Kekuasaan Raja juga tampak dalam kehidupan alam. Apabila semua elemen dalam kerajaan tersebut tentram, maka alam pun akan memberikan timbal balik yang sesuai, seperti tanah yang subur, keberhasilan panen, dan lain sebagainya. Sampai akhirnya setiap penduduk mendapatkan sandang, pangan dan papan yang layak, dan semua orang merasa terpuaskan, sehingga keadaan demikian dapat disebut sebagai keadaan yang adil dan makmur.
Kekuasaan pun mampu berbuah petaka jika alam tidak lagi mampu memberika segala kebutuhan yang dulunya mampu memberikan kesejahteraan bagi rakyat. Raja dianggap gagal dalam hirarkinya. Hal tersebut juga masih berlaku pada saat ini, hanya mengganti istilah Raja dengan presiden atau pendeta dan semacamnya. Permasalahan yang ditimbulkan juga lebih kompleks dan tidak berpusat pada sandang pangan, dan papan melainkan ekonomi, bisnis, sumber daya alam, dan lebih dari yang kita butuhkan.
tidak menentukannya, namun hanya sebagai tempat yang menampung kekuasaan tersebut. Orang yang menampungnya tidak bertanggung jawab atas perebutan dan penggunaan, karena kekuasaan berdaulat hanya pada dirinya sendiri.
Paham Barat menyatakan adanya tendensi dalam memandang kekuasaan sebagai sesuatu yang selalu instrumental, sehingga dapat dikatakan sebagai sesuatu yang netral dalam arti moral, namun pemahaman itu berbeda dengan dunia Jawa yang menyatakan bahwa kekuasaan adalah lebih dari kemampuan untuk memaksakan kehendaknya kepada orang lain saja.
Franz dalam bukunya menjelaskan bahwa kekuasaan seorang pemimpin tidak membutuhkan suatu legitimasi, namun di dalam bukunya, Drs. Moedjanto menegaskan bahwa kekuasaan membutuhkan suatu legitimasi, agar mengesahkan kedudukannya sebagai Raja. Kekuasaan melegitimasi dirinya sendiri, jadi tidak diperlukan adanya legitimasi. Dimana terdapat kekuasaan yang asli, pemakaiannya pun sah dengan sendirinya. Namun istilah “pemakaian” juga patut diperhatikan, karena kekuasaan itu sebenarnya tidak dipakai, namun ada dan datang dengan sendirinya, dan yang harus dilakukannya hanyalah menampung dan membiarkan kekuasaan tersebut mengalir dengan sendirinya. Hal itu menyebabkan timbulnya pemikiran bahwa usaha untuk mendapatkan kekuasaan selalu sah apabila berhasil mendapat kekuasaan tersebut. Jadi merebut suatu kekuasaan adalah hanyalah masalah kemauan dan kesanggupan untuk dapat memusatkan kekuatan kosmis yang ada pada dirinya.
Bicara soal legitimasi, kekuasaan yang harus mendapatkan legitimasi ini sejatinya adalah legitimasi moral. Bagaimana moral masih sah dalam hal mengakomodasi suatu kekuasaan yang ada. Jika terdapat legitimasi hukum maupun legitimasi demokratis, maka kedua legitimasi tersebut harus tetap berlandaskan legitimasi moral yang juga dapat diartikan sebagai pengamalan Pancasila sila pertama. Karena sebuah kekuasaan yang besar tanpa didampingi moralitas yang tinggi akan berakhir sebagai tirani.
Mengapa manusia punya kekuasaan?
kekuatan untuk merengkuh kekuasaan. Juga halnya di masa modern ini, kekuasaan tidak lepas dari kedudukan, kekayaan, atau kepercayaan.
Bicara soal hubungan tentang kekuasaan dan moral, keduanya tidak ada hubungan. Menurut Machiavelli, moral dan kekuasaan politik harus dipisahkan. Karena tujuan menghalalkan cara sudah terlihat jelas bahwa penguasa menggunakan cara-cara yang tidak baik (tindakan amoral) dalam mempertahankan dan merebut kekuasaan. Pemimpin dapat menggunakan cara apapun selama ia mampu menjelaskan dengan alasan yang tepat bahwa tujuannya adalah untuk kebaikan umum.
Tujuan menghalalkan segala cara demi mendapatkan kekuasaan, menurut Machiavelli dalam Dicourse, semua tujuan penguasa adalah untuk kebaikan umum (common good). Penguasa tidak harus membahas apakah tindakannya tersebut sudah sesuai dengan moral dan agama atau adakah batas- batas etis yang boleh dilanggarnya. Tidak dapat kejahatan dalam politik, hanya kesalahan kecil semata. Penguasa hanya memiliki satu-satunya batasan adalah ia harus menggunakan tujuannya untuk kebenaran dan ia memiliki dasar yang masuk akal dalam mengatakan bahwa cara- cara yang dipilih akan kondusif bagi tujuan yang diingnkannya.
Dalam pemikiran klasik dan kristen, mengenai cara yang jahat dan tujuan yang baik tidaklah masuk akal. Tindakan yang meyimpang dari hukum alam dan hukum ketuhanan secara moral dianggap salah dan tidak ada tujannya.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Esensi dari sebuah kekuasaan adalah hak mengadakan sanksi. Cara untuk menyelenggarakan kekuasaan yang berbeda-beda. Kekuasaan juga merupakan bentuk dari paksaan dan pengaruh yang diberikan oelh seorang pelaku kepada massa yang ia anggap sebagai pengikut. Ada yang menjadikan kekuasaan itu ada karena kekuatan, adapula yang melibatkan kedudukan, kekayaan, dan kepercayaan sebagi sumber kekuasaan itu sendiri.
Berangkat dari hal tersebut kekuasaan juga bentuk yang berdiri sendiri dan sudah melekat pada masing-masing individu, semacam hak alami. Kekuasaan berperan dalam pengadaan suatu tatanan, maka ada yang mengatakan memerlukan sebuah legitimasi atau tidak sama sekali.
Moralitas merupakan pembenaran sikap yang dimiliki seseorang dalam langkah-langkah yang ia jalankan. Moralitas itu universal, utuh, dan mampu mengakomodasi semua lapisan. Dirinya juga berperan sebagai bentuk yang perlu ada dalam sebuah kekuasaan. Moralitas bertransformasi sebagai nilai yang ada pada kekuasaan tersebut.
sendiri dan terpisah. Adapun hubungan yang ada di antara keduanya adalah sebagai perihal yang memang layak dihubungkan misalkan identitas pribadi dari seorang penguasa atau pemimpin.
Dikatakan bahwa moralitas pada sebuah kekuasaan merupakan strategi, tetapi ada yang berpendapat bahwa
hubungan moralitas dan kekuasaan tidak sekadar hubungan strategi, namun kewajiban yang sudah semestinya dilakukan oleh penguasa. Ajaran moral tidak harus mengarah pada asumsi teologis tertentu, namun bersifat universal, yakni kemanusiaan.
DAFTAR PUSTAKA
Hard Books:
Bertens, K. 2000. Etika. PT. Gramedia Putaka Utama: Jakarta. Kaelan. 2001. Pendidikan Pancasila. Paradigma: Yogyakarta.
Prof. Budiardjo, Miriam.2007. Dasar-Dasar Ilmu Politik. PT. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
Google Books:
Hadiwardoyo, Al. Purwa. 1990. Moral dan Masalahnya. Penerbit Kanisius: Yogyakarta.
Anshoriy Ch, M. Nasruddin. Neo Patriotisme: Etika Kekuasaan Dalam Kebudayaan Jawa
Magnis-Suseno, Franz. Etika Jawa: Sebuah Analisa Falsafi tentang Kebijaksanaan Hidup Jawa, hlm IX