• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERAN DAN FUNGSI FILSAFAT ILMU DALAM PER

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "PERAN DAN FUNGSI FILSAFAT ILMU DALAM PER"

Copied!
18
0
0

Teks penuh

(1)

PERAN DAN FUNGSI FILSAFAT ILM U DALAM PERKEM BANGAN ILM U PENGETAHUAN BERLANDASKAN NILAI KE-ISLAM AN DAN KONTRIBUSINYA DALAM KRISIS

M ASYARAKAT M ODERN

A. PENDAHULUAN

Salah sat u ciri yang membedakan Agama Islam dengan yang lainnya adalah

penekanannya t erhadap masalah ilmu (sains). Al-Quran dan Al-Sunnah mengajak kaum muslim unt uk mencari dan mendapat kan ilmu dan kearifan, sert a menempat kan orang-orang yang berpenget ahuan pada derajat yang t inggi.

Suat u kenyat aan yang t ampak jelas dalam dunia modern yang t elah maju ini, ialah adanya kont radiksi-kont radiksi yang mengganggu kebahagiaan orang dalam hidup. Kemajuan indust ri t elah dapat menghasilkan alat -alat yang memudahkan hidup, memberikan kesenangan dalam hidup, sehingga kebut uhan-kebut uhan jasmani t idak sukar lagi unt uk memenuhinya. Seharusnya kondisi dan hasil kemajuan it u membaw a kebahagiaan yang lebih banyak kepada manusia dalam hidupnya. Akan t et api suat u kenyat aan yang menyedihkan ialah bahw a kebahagiaan it u t ernyat a semakin jauh, hidup semakin sukar dan kesukaran-kesukaran met erial bergant i dengan kesukaran ment al. Beban jiw a semakin berat , kegelisahan dan ket egangan sert a t ekanan perasaan lebih sering t erasa dan lebih menekan sehingga mengurangi kebahagiaan.

(2)

Krisis dan kemerosot an moral yang t erjadi pada masyarakat modern dit anggapi oleh Herman Soewardi adalah sebagai berikut :

“ …Filosof dan ilmuw an Barat m ulai mengakui bahw a arah yang keliru. Arah yang dit empuh t elah m emberikan kenikm at an, nam un kenikmat an yang diiringi dengan kehancuran. ..Kehancuran it u dapat berubah lebih besar daripada kenikm at annya. M ereka menget ahui ilmu yang selama ini diyakini kebenarannya adalah salah, t et api t idak t ahu menunjukkan mana yang benarnya. Akhirnya upaya mereka menjadi st agnan t idak t ahu apa yang harus dilakukan. M ereka sangat percaya kepada empirisme dan positivisme, Namun t et ap t idak mampu menunjukkan kebenaran

inilah yang disebut dengan skeptisisme. Hal ini karena yang benar it u sat u,

sedangkan yang t idak benar it u banyaknya t idak t erhingga. Unt uk sampai kepada yang benar, maka harus menget ahui kesalahan dari ilmu it u t erlebih dahulu. Bersyukurlah manusia kepada Tuhan YM E, yang mencipt akan it u semua. Ia t elah memberit ahukan kepada manusia melalui Nabi M uhammad S.a.w . mana yang benar

dan mana yang salah. Kebenaran adalah perint ah-Nya unt uk dijalani oleh umat

manusia. Kesalahan adalah merupakan larangan-Nya unt uk dihindari oleh umat manusia. Dalam masyarakat beragama (Islam), ilmu adalah bagian yang t ak t erpisahkan dari nilai-nilai ket uhanan karena sumber ilm u yang hakiki adalah dari

Tuhan. Cara unt uk mengalihkan ilmu yang keliru it u maka manusia t idak hanya

mengandalkan diri pada akal saja, akan t et api melet akkan akal di baw ah ket ent

uan-ket ent uan (nash-nash) dari Allah. Dengan kat a lain suat u ilmu harus dipandu dengan

normat if dari Allah SWT at au naqliah memandu aqliah. 1

Namun, perlu juga diingat bahw a ikat an agama yang t erlalu kaku dan t erst rukt ur kadang kala dapat menghambat perkembangan ilmu. Karena it u, perlu kejelian dan kecerdasan memperhat ikan sisi kebebasan dalam ilmu dan sist em nilai dalam agama agar keduanya t idak saling bert olak belakang. Di sinilah perlu rumusan yang jelas t ent ang ilmu secara filosofis dan akademik sert a agama agar ilmu dan t eknologi t idak menjadi bagian yang lepas dari nilai-nilai agama dan kemanusiaan sert a lingkungan.

B. Identifikasi M asalah

Berdasarkan uraian yang t elah dipaparkan di at as, maka t ulisan dalam makalah ini mengkaji ant ara filsafat ilmu dan Islamisasi ilmu penget ahuan sert a apa fungsi filsafat ilmu dalam Islamisasi ilmu penget ahuan. Unt uk Permasalahan dibat asi adalah sebagai berikut :

1. Bagaimanakah peran filsafat ilm u dalam ilmu penget ahuan Berlandaskan Islam?

2. Bagamanakah kedudukan dan fungsi filsafat ilmu dalam ilmu penget ahuan dan

kont ribusinya t erhadap masyarakat modern?

1

(3)

C. ANALISIS PEM BAHASAN

1. PERAN FILSAFAT ILM U DALAM ILM U PENGETAHUAN BERLANDASKAN ISLAM

a. Konsep Islam tentang Ilm u

Pencarian ilm u m erupakan konsep pent ing dan merupakan hal pokok dlam ajaran Islam. Hal ini dpat diilust rasikan dalam Hadist , “ M encari ilmu it u w ajib bagi set iap m uslim”

melahirkan berbabagai pembahasan.2 Selanjut nya Al-Ghazali membahas ilmu yang

t ermasuk w ajib kifayah. Art inya, sesuat u yang w ajib at as keseluruhan masyarakat yang

selama kew ajiban unt uk memenuhi kebut uhan sosial it u masih ada, t api set elah kew ajiban it u dilaksanakan oleh sejumah individu, maka yang lainnya t erbebas dari kew ajiban it u. 3

Al-Gazhali mengklasifikasikan “ Ilmu” ke dalam ilmu agama dan ilmu non agama. 4 Ilmu agama adalah ilmu yang diajarkan melalui ajaran-ajaran nabi dan w ahyu. Sedangkan di

luar it u disebut dengan ilmu non agama. Ilmu agama dibagi dalam Ilmu t er puji (M ahmud)

dan ilmu tercela (madzmum). Ilmu agama yang terpuji di bagi 4 (em pat ) kelompok yait u , Ushul (dasar-dasar), Furu’ (masalah sekunder at au cabang), St st udi pengant ar, St udi-st udi pelengkap. Ilmu Agama yang tercela yait u, t ampaknya diarahkan kepada syariah akan t et api sebenarnya menyimpang dari ajaran-ajaran agama. Ilmu non agama dibagi ke dalam 3

kat egori yait u, ilmu non agama yang terpuji (mahmud) yait u ilmu-ilm u yang pent ing dalam

kehidupan sehari-hari, ilmu non agama yang dibolehkan (mubah), cont ohnya, ilmu sejarah

dan ilmu non agama tercela (madzmum), misalnya ilm u sihir.

b. Pengertian filsafat Ilmu dan Objek filsafat Ilmu

Ahmad Tafsir, menyat akan pengert ian filsafat berhubungan erat dengan Bahasa

Yunani, (Griek) yait u philosophia. Namun demikian pendapat lainnya ada juga yang

mengat akan filsafat berasal dari bahasa Arab “ falsafah” at au “ filsafah” . 5 Kat a Philosophia merupakan kat a majemuk yang memiliki art i, “ Philo” yaitu cint a dalam art i yang luas, yait u ingin dan karena it u berusaha mencapai yang diinginkan it u. Kat a Sophia berarti

2

M ahdi Ghulsyani, (diterjemahkan oleh Agus Effendi), Filsafat-Sains M enurut Al-Quran, M izan, Bandung, 1994, hlm. 40.

Harun Nasut ion dalam Amsal Bakht iar, Filsafat ilmu, RadjaGrafindo, Jakarta, 2004. Harun Nasut ion menyat akan ist ilah filsafat berasal dari Bahasa Arab, karena orang Arab t erlebih dahulu dat ang dan

mempengaruhi bahasa Indonesia daripada orang dan Bahasa Inggris, hlm. 4-5. Lihat juga Sut ardjo A.

(4)

kebijaksanaan, pandai, pengert ian yang mendalam. Dengan kat a lain Filsafat diart ikan pandai, cint a pada kebijakan.6

The Liang Gie mendefinisikan filsafat ilmu, adalah segenap pemikiran reflekt if t erhadap persoalan-persoalan mengenai segala hal yang menyangkut baik landasan ilmu

maupun hubungan ilm u dengan segala segi dari kehidupan manusia.7

Filsafat Ilmu merupakan cabang dari ilmu filsaf at at au bagian dari epistemologi (filsafat pengetahuan) yang secara spesifik mengkaji hakikat ilmu (penget ahuan ilmiah). Ilmu merupakan cabang ilmu penget ahuan yang mem punyai ciri-ciri t ert ent u. M eskipun secara met odologis ilmu t idak membedakan ant ara ilmu-ilmu alam dengan sosial namun permasalah-permasalahan t eknis yang khas, maka filsafat ilmu it u sering dibagi menjadi filsafat ilm u alam dan filsafat ilmu sosial. Filsafat ilmu merupakan t elaah secara filsafat yang ingin menjaw ab beberapa pert anyaan mengenai hakekat ilmu sepert i :

1) Obyek mana yang dit elaah ilmu? Ujud hakiki obyek? Hubungan obyek dengan

t angkapan manusia (berfikir, merasa, mengindera (yang membuahkan penget ahuan);

2) Bagaimana proses yang memungkinkan dit imba penget ahuan yang berupa ilmu?

Bagainama prosedurnya. ? hal-hal apa yang harus diperhat ikan agar kit a mendapat penget ahuan yang benar, Apa yang disebut kebenaran it u sendiri? Apa krit erianya? Cara dan t ehnik sarana yang m embant u kit a mendapat penget ahuan yang berupa ilmu;

3) Unt uk apa penget ahuan yang berupa ilmu it u dipergunakan? Bagaimana kait an

ant ara cara penggunaan t ersebut dengan kaidah-kaidah moral? Bagaimana penent uan obyek yang dit elaah berdasarkan pilihan-pilihan m oral? Bagaimana kait an ant ara t ehnik prosedural yang merupakan operasinal met ode ilmiah

dengan norma-norma moral/ profesional.8

Objek penelit ian filsafat luas sekali meliput i objek materia dan penelit ian yang mendalam disebut dengan objek forma. Secara garis besar filsafat memiliki 3 (t iga) cabang besar, yait u, t eori penget ahuan, t eori hakikat dan t eori nilai. Dengan demikian filsafat Ilmu merupakan cabang ilmu filsafat yang mengkaji ilm u dari sisi filsafat unt uk memberi jawaban

t erhadap sejumlah pert anyaan yang m encakup : 9

6

Ahm ad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Thales sampai Capra, Rosda, Bandung, 2007, hlm. 9. Bandingkan dengan Ahmad Hanafi, Pengantar Filsafat Islam , Bulan Bint ang Jakart a 1990) hlm. 3.

7

The Liang Gie, Pengantar Filsafat Ilmu, Libert y, Yogyakart a, 2007, hlm. 27-29. 8

Jujun S. Suriasumant ri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengant ar Populer, Pust aka Sinar Harapan, Jakart a, 2005, 33-34.

9

(5)

1) Teori penget ahuan mem bicarakan cara mem peroleh penget ahuan disebut dengan, epist emologi;

2) Teori hakikat membicarakan penget ahuan it u sendiri disebut , ont ologi;

3) Teori nilai membicarakan guna penget ahuan, disebut dengan aksiologi.

Perbincangan mengenai filsafat ilmu baik secara kualit at if maupun kuant it at if

berkembang pesat dan mendalam sejak t ahun 1960-an sam pai akhir abad 20. 10 Francis

Bacon dengan met ode induksi yang dit ampilkannya pada abad ke sembilan belas dapat dikat akan sebagai pelet ak dasar filsafat ilmu dalam hasanah bidang filsafat secara umum. Sebagian ahli filsafat berpandangan bahw a perhat ian yang besar t erhadap peran dan fungsi filsafat ilmu mulai mengedepan t at kala ilmu penget ahuan dan t eknologi mengalam i kemajuan yang sangat pesat . Dalam hal ini ada semacam kekhaw at iran di kalangan ilmuw an, dan filosof, t ermasuk juga kalangan Agamaw an, bahw a kemajuan ilmu

penget ahuan dapat mengancam eksist ensi umat manusia bahkan agama it u sendiri.11

Berdasarkan uraian di at as maka dipahami “ filsafat ilmu” merupakan bagian dari filsafat penget ahuan yang secara spesifik m engkaji hakekat ilmu. Ilmu merupakan cabang penget ahuan yang mempunyai ciri-ciri t ert ent u. M eskipun secara met odologis ilmu t idak membedakan ant ara ilmu alam dengan ilmu-ilm u sosial, namun karena permasalahan-permasalahan t eknis yang bersifat khas, maka f ilsafat ilmu dibagi menjadi f ilsafat ilmu-ilmu alam dan filsafat ilmu-ilmu sosial. Pembagian ini lebih merupakan pembat asan masing-masing bidang yang dit elaah, yakni ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu sosial, dan t idak mencirikan cabang filsafat yang ot onom. Ilmu memang berbeda dengan penget ahuan-penget ahuan secara f ilsafat , namun t idak t erdapat perbedaan yang prinsipil ant ara ilmu-ilmu alam dan ilmu-ilmu-ilmu-ilmu sosial, di mana keduanya mempunyai ciri-ciri yang sam a.

Jika dianalisis secara ont ologi maka perkem bangan ilmu dalam hubungan penemuan-penemuan penget ahuan baru sert a adanya perubahan pandangan t ent ang ilmu penget ahuan mempunyai peran pent ing dalam membent uk peradaban dan kebudayaan manusia. Namun semakin maju penget ahuan, semakin meningkat keinginan manusia, sam pai memaksa, merajalela, dan bahkan membabi but a. Akibat nya ilmu penget ahuan dan

10

Noeng M uhajir, Filsafat ilmu Kualitatif dan Kuantitatif untuk Pengembangan Ilmu dan Penelit ian,

Rake Sarasin, Yogyakart a, 2006, hlm. 1. Lihat juga The Liang Gie, Op. cit., hlm., 65. 11

(6)

hasilnya t idak m anusiaw i lagi, bahkan cenderung memperbudak manusia sendiri yang t elah merencanakan dan m enghasilkannya.

Kecenderungan yang merugikan bahkan m enimbulkan dampak buruk dan mengancam keamanan dan kehidupan manusia, dew asa ini dalam bidang persenjat aan yang pada akhirnya banyak menimbulkan korban jiw a, kemajuan dalam memakai sert a menghabiskan banyak kekayaan bumi yang t idak dapat diperbaharui kembali, kemajuan dalam bidang kedokt eran yang t elah mengubah bat as-bat as paling pribadi dalam hidup manusia dan perkembangan ekonomi yang mengakibat kan melebarnya jurang kaya dan miskin. Ilmu penget ahuan dan t eknologi pada akhirnya baik langsung maupun t idak langsung berkait an dengan st rukt ur sosial dan polit ik yang berhubungan erat dengan jut aan manusia yang kelaparan, kemiskinan, dan berbagai macam ket impangan yang just ru menjadi pandangan yang mencolok di t engah keyakinan m anusia akan keam puhan ilmu penget ahuan dan t eknologi unt uk m enghapus penderit aan manusia.

Kesadaran akan hal ini t ersebut muncul dalam lingkungan ilmuw an yang prihat in akan perkembangan t eknik, indust ri, dan persenjat aan yang membahayakan masa depan kehidupan umat manusia dan bum i. Unt uk it ulah maka epist im ologi ilmu bert ugas menjaw ab pert anyaan mengenai bagaimana proses penget ahuan yang masih berserakan dan t idak t erat ur it u menjadi suat u ilmu, bagaim ana prosedur dan mekanismenya, hal-hal apa yang harus diperhat ikan agar mendapat kan penget ahuan yang benar, apa yang disebut kebenaran it u sendiri, bagaimana kret eria sebuah kebenaran, bagaimana cara, t eknik, sarana yang dapat membant u dalam mendapat kan penget ahuan yang berupa ilmu.

(7)

pembuat an bom yang pada aw alnya unt uk memudahkan kerja manusia, namun kemudian dipergunakan unt uk hal-hal yang bersifat negat if, menimbulkan malapet aka bagi manusia it u sendiri. Di sinilah ilmu harus dilet akkan secara proposional dan memihak pada nilai-nilai kebaikan dan kemanusiaan. Sebab, jika ilm u t idak berpihak kepada nilai-nilai, m aka yang t erjadi adalah bencana dan malapet aka. Set iap ilmu penget ahuan akan menghasilkan t eknologi yang kemudian akan dit erapkan pada masyarakat . Proses ilmu penget ahuan menjadi sebuah t eknologi yang benar-benar dapat dimanfaat kan oleh masyarakat t ent u t idak t erlepas dari ilmuw annya. Seorang ilmuw an akan dihadapkan pada kepent ingan-kepent ingan pr ibadi at aukah ingan-kepent ingan masyarakat akan membaw a pada persoalan et ika keilmuan sert a m asalah bebas nilai. Unt uk it ulah t anggungjaw ab seorang ilmuw an haruslah dit unt ut dan dit empat kan pada posisi yang t epat , t anggung jaw ab akademis, dan t anggung jaw ab moral.

Penekanan mencari hakikat “ nilai” dari suat u ilmu dilakukan dengan aksiologi. Berasal dari perkat aan axios (Yunani) yang berart i nilai dan logos yang berart i t eori. Jadi aksiologi adalah t eori t ent ang nilai. Nilai yang dimaksud adalah suat u yang dimiliki manusia unt uk melakukan berbagai pert im bangan t ent ang apa yang dinilai. Teori t ent ang nilai dalam filsafat mengacu pada permasalahan et ika dan est et ika.

Et ika menilai perbuat an manusia. Obyek formal et ika adalah norma-norma kesusilaan manusia. Dengan kat a lain “ et ika” mempelajari t ingkah laku manusia dit injau dari segi baik dan t idak baik di dalam suat u kondisi yang normat if, yait u suat u kondisi yang melibat kan norma-norma. Est et ika berkait an dengan nilai t ent ang pengalaman keindahan yang dimiliki oleh manusia t erhadap lingkungan dan fenom ena disekelilingnya. Nilai it u objekt if at aukah subjekt if adalah sangat t ergant ung dari hasil pandangan yang muncul dari filsafat . Nilai akan menjadi subjekt if, apabilah subjek sangat berperan dalam segala hal, kesadaran manusia menjadi t olak ukur segalanya; at au eksist ensinya, maknanya dan falidit asnya t ergant ung pada reaksi subjek yang melakukan penilaian t anpa mempert im bangkan apakah ini bersifat psikis at au fisis.

(8)

muncul karena adanya pandangan dalam filsafat t ent ang objekt ivisme. Objekt ivisme ini beranggapan pada t olak ukur suat u gagasan berada pada objeknya, sesuat u yang memiliki kadar secara realit as benar-benar ada. Kemudian bagaimana dengan nilai dalam ilmu penget ahuan.

Seorang ilmuw an haruslah bebas dalam menent ukan t opik penelit iannya, bebas dalam melakukan eksprimen-eksprimen. Kebebasan inilah yang nant inya akan dapat mengukur kualit as kemampuannya. Ket ika seorang ilmuw a bekerja, dia hanya t ert uju pada proses kerja ilmiahnya dan t ujuan agar penelit iannya berhasil dengan baik. Nilai objekt if hanya menjadi t ujuan ut amanya, dia t idak m au t erikat dengan nilai-nilai subjekt if, sepert i nilai-nilai dalam masyarakat , nilai agama, nilai adat , dan sebagainya. Bagi seorang ilmuw an kegiat an ilmiahnya dengan kebenaran ilmiah adalah yang sangat pent ing. Unt uk it ulah net ralit as ilmu t erlet ak pada epist em ologinya saja, art inya t anpa berpihak kepada siapapun, selain kepada kebenaran yang nyat a. Sedangkan secara ont ologis dan aksiologis, ilmuw an harus mapu menilai mana yang baik dan yang buruk, yang pada hakekat nya m engharuskan seorang ilmuw an mempunyai landasan moral yang kuat . Tanpa ini seorang ilmuw an akan lebih merupakan seorang momok yang menakut kan.

Et ika keilmuan merupakan et ika normat if yang m erumuskan prinsip-prinsip et is yang dapat dipert anggung jaw abkan secara rasional dan dapat dit erapkan dalam ilmu penget ahuan. Tujuan et ika keilmuan adalah agar seorang ilmuw an dapat menerapkan prinsip-prinsip moral, yait u yang baik dan menghindarkan dari yang buruk kedalam prilaku keilmuannya, sehingga ia dapat menjadi ilmuw an yang dapat mempert anggung jaw abkan prilaku ilmiahnya. Et ika normat if menet apkan kaidah-kaidah yang mendasari pemberian penilaian t erhadap perbuat an-perbuat an apa yang seharusnya dikerjakan dan apa yang seharusnya t erjadi sert a menet apkan apa yang bert ent angan dengan yang seharusnya t erjadi. Pokok persoalan dalam et ika keilmuan selalu mengacu kepada “ elemen-elemen” kaidah moral, yait u hat i nurani, kebebasan dan t anggung jaw ab, nilai dan norma yang bersifat ut ilit arist ik (kegunaan). Hat i nurani disini adalah penghayat an t ent ang yang baik dan yang buruk dan dihubungkan dengan prilaku manusia.

(9)

dan sebagainya. Paling ut ama dalam nilai moral adalah yang t erkait dengan t anggung jaw ab seseorang. Norma moral menent ukan apakah seseorang berlaku baik at aukah buruk dari sudut et is. Bagi seorang ilmuw an, nilai dan norm a moral yang dimilikinya akan menjadi penent u, apakah ia sudah menjadi ilmuw an yang baik at au belum.

Penerapan ilmu penget ahuan yang t elah dihasilkan oleh para ilmuw an, apakah berupa t eknologi, at aupun t eori-t eori emansipasi masyarakat , mest ilah memperhat ikan nilai-nilai kemanusiaan, nilai agama, nilai adat , dan sebagainya. Ini berart i ilm u penget ahuan t ersebut sudah t idak bebas nilai. Karena ilmu sudah berada di t engah-t engah masyarakat luas dan masyarakat akan mengujinya. Oleh karena it u, t anggung jaw ab lain yang berkait an dengan t eknologi di masyarakat , yait u mencipt akan hal yang posit if. Namun, t idak semua t eknologi at au ilmu penget ahuan selalu memiliki dampak posit if. Di bidang et ika, t anggung jaw ab seorang ilmuw an, bukan lagi m emberi inf ormasi namun harus memberi cont oh. Dia harus bersifat objekt if , t erbuka, menerima krit ik, menerima pendapat orang lain, kukuh dalam pendirian yang dianggap benar, dan berani mengakui kesalahan. Semua sifat ini, merupakan implikasi et is dari proses penemuan kebenaran secarah ilmiah. Di t engah sit uasi di m ana nilai mengalami kegoncangan, maka seorang ilmuw an harus t ampil kedepan. Penget ahuan yang dimilikinya merupakan kekuat an yang akan memberinya keberanian. Hal yang sam a harus dilakukan pada masyarakat yang sedang membangun, seorang ilmuw an harus bersikap sebagai seorang pendidik dengan mem berikan cont oh yang baik.

Kemudian bagaimana solusi bagi ilmu yang t erikat dengan nilai-nilai? ilmu penget ahuan harus t erbuka pada kont eksnya, dan agamalah yang menjadi kont eksnya it u. Agam a mengarahkan ilmu penget ahuan pada t ujuan hakikinya, yakni memaham i realit as alam, dan memahami eksist ensi Allah, agar manusia menjadi sadar akan hakekat pencipt aan dirinya. Solusinya yang diberikan al-Qur’an t erhadap ilmu penget ahuan yang t erikat dengan nilai adalah dengan cara mengem balikan ilmu penget ahuan pada jalur semest inya, sehingga ia m enjadi berkah dan rahmat kepada manusia dan alam bukan sebaliknya membaw a mudharat .

(10)

kem anusiaanlah yang menggenggam ilmu penget ahuan unt uk kepent ingan dirinya dalam rangka penghambaan diri kepada sang Pencipt a.

Tujuan ilmu penget ahuan, ada beberapa perbedaan pendapat ant ara f ilosof dengan para ulama. Sebagian berpendapat bahw a penget ahuan sendiri m erupakan t ujuan pokok bagi orang yang menekuninya, dan mereka ungkapkan t ent ang hal ini dengan ungkapan, ilmu penget ahuan unt uk ilmu penget ahuan, seni unt uk seni, sast ra unt uk sast ra, dan lain sebagainya. M enurut mereka ilmu penget ahuan hanyalah sebagai objek kajian unt uk mengembangkan ilmu penget ahuan sendiri. Sebagian yang lain cenderung berpendapat bahw a t ujuan ilmu penget ahuan merupakan upaya para penelit i at au ilmuw an menjadikan ilmu penget ahuan sebagai alat unt uk menambahkan kesenangan manusia dalam kehidupan yang sangat t erbat as dimuka bumi ini. M enurut pendapat yang kedua ini, ilmu penget ahuan it u unt uk meringankan beban hidup manusia at au unt uk m embuat manusia senang, karena dari lmu penget ahuan it ulah yang nant inya akan melahirkan t eknologi. Teknologi jejas sangat dibut uhkan oleh manusia unt uk mengat asi berbagai masalah, dan lain sebagainya. Sedangkan pendapat yang lainnya cenderung menjadikan ilmu penget ahuan sebagai alat unt uk meningkat kan kebudayaan dan kemajuan bagi umat manusia secara keseluruan.

Demikian sedikit pengert ian t ent ang filsafat ilmu dan apa saja yang dipersoalkan dalam filsafat ilmu sert a apa t ujuan filsafat ilmu it u. Dari beberapa hal di at as, nant inya akan penulis jadikan bahan unt uk menempat kan dimana let ak at au kedudukan filsafat ilmu dalam Islamisasi ilmu penget ahuan. Selama ini kit a m asih sering mendengar adanya dikhot omi ant ara ilmu agama dengan ilmu penget ahuan , padahal kalau kit a kembali pada landasan dasarnya ilmu penget ahuan yait u filsafat ilmu maka kit a t idak akan menemukan yang namanya dikhot omi ant ara keduanya. Just ru dengan m endudukkan keduanya dengan posisi yang sam a maka akan t ercipt a dunia yang seimbang.

c. Reformasi Islam Terhadap Ilmu Pengetahuan

(11)

seluruh dunia Islam t idak t erlepas dari masalah-masalah keagamaan yang dit imbulakn oleh

perubahan-perubahan mendasar yang dibaw a ilm u penget ahuan dan t eknologi modern.12

Reformasi Islami t erhadap ilmu penget ahuan pada dasarnya adalah suat u respon t erhadap krisis masyarakat modern yang disebabkan karena pendidikan Barat yang bert umpu pada suat u pandangan dunia yang lebih bersifat mat erialist is, sekularist ik, relevist is; yang menganggap bahw a pendidikan bukan unt uk m embuat manusia bijak yakni mengenali dan mengakui posisi masing-masing dalam t ert ib realit as t api memandang realit as sebagai sesuat u yang bermakna secara mat erial bagi manusia, dan karena it u hubungan manusia dengan t ert ib realit as bersifat eksploit at if bukan harm onis. Ini adalah salah sat u penyebab pent ing munculnya krisis masyarakat modern.

Reformasi ilmu penget ahuan berlandaskan nilai Islam unt uk selanjut nya disebut Islamisasi mencoba mencari akar-akar krisis t ersebut . Akar-akar krisis it u diant aranya dapat dit emukan di dalam ilm u penget ahuan, yakni konsepsi at au asumsi t ent ang realit as yang dualist is, sekularist ik, evolusionerist is, dan karena it u pada dasarnya bersifat realit if it as dan nihilist is. Islamisasi ilmu penget ahuan adalah suat u upaya pembebasan penget ahuan dari asumsi-asumsi at au penafsiran-penafsiran Barat t erhadap realit as, dan kemudian menggant ikannya dengan pandangan nilai-nilai Islam yang berdasarkan Al-Quran dan Hadist .

Selain it u Islamisasi ilmu penget ahuan juga muncul sebagai reaksi adanya konsep dikot omi ant ara agam a dan ilmu penget ahuan yang dimasukkan masyarakat Barat dan budaya masyarakat modern. M asyarakat yang disebut t erakhir ini misalnya memandang sifat , met ode, set rukt ur sains dan agama jauh berbeda, kalau t idak mau dikat akan kont radikt if (bagaimana seharusnya). Sedangkan sains meneropongnya dari segi objekt ifnya (bagaimana adanya). Agama melihat problemat ika dan solusinya melalui pet unjuk Tuhan, sedangkan sains melalui eksprimen dan rasio manusia. Karena ajaran agama diyakini sebagai pet unjuk Tuhan, kebenaran dinilai mut lak, sedangkan kebenaran sains relat if. Agama banyak berbicara yang gaib sedangkan sains hanya berbicara mengenai hal yang empiris.

Dalam perspekt if sejarah, sains dan t eknologi modern yang t elah menunjukkan keberhasilannya dew asa ini mulai berkembang di Eropa dalam rangka gerakan renaissance.

12

(12)

Gerakan ini berhasil menyingkirkan peran agama dan m endobrak dominasi gereja Roma dalam kehidupan sosial dan int elekt ual masyarakat Eropa sebagai akibat dari sikap gereja yang memusuhi ilmu penget ahuan. Dengan kat a lain ilmu penget ahuan di Eropa dan Barat mengalami perkembangan set elah memisahkan diri dari pengaruh agama. Set elah it u berkembanglah pendapat -pendapat yang merendahkan agama dan meninggikan sains. Dalam perkembangannya, sains dan t eknologi modern dipisahkan dari agama, karena kemajuaannya yang begit u pesat di Eropa dan Amerika sebagaimana yang di saksikan sam pai sekarang. Sains dan t eknologi yang demikian it u selanjut nya digunakan unt uk mengabdi kepada kepent ingan m anusia semat a-mat a, yait u unt uk t ujuan memuaskan haw a nafsunya menguras isi alam unt uk t ujuan mem uaska nafsu konsomt if dan mat erealist ik, menjajah dan menindas bangsa-bangsa yang lemah, melanggengkan kekuasaan dan t ujuan lainnya.

Penyimpangan dari t ujuan penggunaan ilmu penget ahuan it ulah yang direspon melalui konsep Islamisasi ilmu penget ahuan, yait u upaya menempat kan sains dan t eknologi dalam bingkai Islam, dengan t ujuan agar perumusan dan pemanfaat an sains dan t eknologi it u dit unjukkan unt uk mempert inggi harkat dan mart abat manusia. M elaksanakan fungsi kekhalifahannya dimuka bumi sert a t ujuan-t ujuan luhur lainnya. Inilah yang menjadi salah sat u misi ilm u penget ahuan berlandaskan nilai-nilai ke-Islaman.

d. Strategi ilm u pengetahuan berlandaskan Nilai ke-Islaman

(13)

dit erima dan didukung oleh sebagian umat . M ereka mengkrit ik pengembangan sains dan t eknologi modern yang dipisahkan dari ajaran agama, sepert i dikemukakan oleh M uhammad Naquib al-Attas (1980/ 1981: 47-56) Ism ail Razi al-Faruqi (1982: 3-8), dengan t ujuan agar ilmu penget ahuan dapat membaw a kepada kesejaht eraan bagi umat manusia. M enurut para ilm uw an dan cendikiaw an m uslim t ersebut , pengembangan ipt ek perlu dikembalikan pada kerangka dan perspekt if ajaran Islam. Al-Faruqi menyerukan perlunya dilaksanakan islamisasi sains. Dan sejak it u gerakan islamisasi ilmu penget ahuan digulirkan, dan kajian mengenai islam dalam hubungannya dengan pengembangan ipt ek sebagaimana diuraikan di baw ah ini mulai digali dan diperkenalkan. 13

Pada masa ini, dunia Islam t elah memainkan peran pent ing baik dalam bidang ilmu penget ahuan agama maupun penget ahuan umum. Dalam hubungan ini Harun Nasution mengat akan bahw a cendikiaw an-cendikiaw an Islam bukan hanya ilmu penget ahuan dan filsafat yang mereka pelajari dari buku-buku Yunani, t et api menambahkan kedalam hasil-hasil penyelidikan yang mereka lakukan sendiri dalam lapangan ilmu penget ahuan dan hasil-hasil pikiran mereka dalam ilmu filsafat . Para ilmuw an t ersebut memiliki penget ahuan yang bersifat int egrat ed, yakni bahw a ilmu penget ahuan umum yang m ereka kembangkan t idak t erlepas dari ilmu agama at au t idak t erlepas dari nilai-nilai Islam. Konsep ajaran Islam t ent ang pengembangan ilmu penget ahuan yang demikian it u didasarkan kepada beberapa prinsip sebagai berikut :

Pertama, ilmu penget ahuan dalam Islam dikembangkan dalam kerangka t auhid at au t eologi. Yait u t eologi yang bukan sem at a-mat a meyakini adanya Tuhan dalam hat i, mengucapkannya dengan lisan dan mengamalkannya dengan t ingkah laku, melainkan t eologi yang menyangkut akt ivit as m ent al berupa kesadaran manusia yang paling dalam prihal hubungan m anusia dengan Tuhan, lingkungan dan sesamanya. Lebih t egasnya adalah t eologi yang memunculkan kesadaran, yakni suat u mat ra yang paling dalam diri manusia yang menformat pandangan dunianya, yang kem udian menurunkan pola sikap dan t indakan

13

(14)

yang selaras dengan pandangan dunia it u. Karena it u t eologi pada ujungnya akan m em punyai im plikasi yang sangat sosiologis, sekaligus ant ropologis.

Kedua, ilmu penget ahuan dalam Islam hendaknya dikembangkan dalam rangka bert akw a dan beribadah kepada Allah Sw t . hal ini pent ing dit egaskan, karena dorongan al-Qur’an unt uk mempelajari fenomena alam dan sosial t ampak kurang diperhat ikan, sebagai akibat dan dakw ah Islam yang semula lebih t ert uju unt uk memper oleh keselamat an di akhirat . Hal ini mest i diimbangi dengan perint ah mengabdi kapada Allah dalam art i yang luas, t ermasuk mengembangkan ipt ek.

Ketiga, Ilmu penget ahuan harus dikembnagkan oleh orang-orang Islam yang memilki keseim bangan ant ara kecerdasan akal, kecerdasan em osional dan sepirit ual yang dibarengi dengan kesungguhan unt uk beribadah kepada Allah dalam art i yang seluas-luasnya. Hal ini sesuai dengan apa yang t erjadi dalam sejarah di abad klasik, di mana paraa ilmuw an yang mengembangka ilmu penget ahuan adalah pribadi-pribadi yang senant iasa t aat beribadah kepada Allah Sw t .

Keempat, Ilmu penget ahuan harus dikembangkan dalam kerangka yang int egral, yakni bahw a ant ara ilmu agama dan ilmu umum w alaupun bent uk formalnya berbeda-beda, namun hakekat nya sama, yait u sama-sama sebagai t anda kekuasaan Allah. Dengan pandangan yang demikian it u, maka t idak ada lagi perasaan yang lebih unggul ant ara sat u dan lainnya. M enerapkan ke-empat macam st rat egi pengem bangan ilmu penget ahuan t ersebut , akan diperoleh manfaat mengat asi krisis kehidupan pada masyarakat modern.

2. KEDUDUKAN DAN FUNGSI FILSAFAT ILM U DALAM ILM U PENGETAHUAN DAN KONTRIBUSINYA TERHADAP M ASYARAKAT M ODERN

a. Kedudukan Filsafat Ilm u dalam Islam isasi Ilmu Pengetahuan

(15)

Kajian yang dibahas dalam filsafat ilmu adalah meliput i hakekat (esensi) penget ahuan, art inya filsafat ilmu lebih menaruh perhat ian t erhadap masalah-masalah mendasar ilm u penget ahuan sepert i ont ologi ilmu, epist im ologi ilmu dan aksiologi ilmu. Dari ket iga landasan t ersebut jika dikait kan dengan reformasi ilm u penget ahuan berlandaskan nilai ke-Islaman maka let ak filsafat ilmu t erlet ak pada ont ologi dan epist imologinya. Ont ologi t it ik t olaknya pada penelaahan ilmu penget ahuan yang didasarkan at as sikap dan pendirian filosof is yang dimiliki seorang ilmuw an. Dengan demikian landasan ont ologi ilmu penget ahuan sangat t ergant ung pada cara pandang ilmuw an t erhadap realit as. M anakala realit as yang dimaksud adalah mat eri, maka lebih t erarah pada ilm-ilmu empiris. M anakala realit as yang dimaksud adalah spirit at au roh, maka lebih t erarah pada ilmu-ilm u humanoria. Adapun epist imologi t it ik t olaknya pada penelaahan ilmu penget ahuan yang berdasarkan at as cara dan prosedur dalam memperoleh kebenaran.

b. Fungsi Filsafat Ilmu dalam Islamisasi Ilmu Pengetahuan

Fungsi filsafat sebagai pemberi nilai t erhadap per kembangan ilmu. Hal ini dijelaskan oleh aksiologi ilmu yang bert it ik t olak pada pengenbangan ilm u penget ahuan yang merupakan sikap et is yang harus di kem bangkan oleh seorang ilm uwan, t erut am a dalam kait annya dengan nilai-nilai yang diyakini kebenarannya, sehingga suat u akt ivit as ilmiah senant iasa dikait kan dengan kepercayaan, idiologi yang di anut oleh masyarakat at au bangsa t empat ilmu it u di kembangkan.

Pertama, filsafat ilmu sebagai sarana pengujian penalaran ilmiah, sehingga orang menjadi krit is t erhadap kegiat an ilmiah. Art inya, seorang ilmuw an m usliam harus mem ilki sikap krit is t erhadap bidang ilmunya sendiri, sehingga dapat menghindarkan diri dari sikap arogansi, menganggap bahw a hanya pendapat nya yang paling benar. Adapun kait annya dengan Islamisasi ilmu penget ahuan fungsi filsafat ilmu adalah sebagai sikap krit is t erhadap keilmuw an yang dim iliki oleh ilm uwan muslim.

(16)

berfikir, bukan merupakan hakekat ilmu. Dalam Islamisasi ilmu penget ahuan yang paling pokok adalah t erdapat pada bagaimana cara unt uk mempert mukan ant ara nilai-nilai agama dengan kemajuan ilmmu penget ahuan. Agar keduanya bisa saling mengisi kekurangan dan kelebihannya.

Filsafat ilmu diperlukan kehadirannya dit engah perkembangan Islamisasi ilmu penget ahuan yang dit andai semakin menajam nya spisialisasi ilmu penget ahuan. Sebab dengan mempelajari filsafat ilmu, maka para ilmuw an muslim akan menyadari ket erbat asan dirinya dan t idak t erperangkap kedalam sikap arogansi int elekt ual. Hal yang di perlukan adalah sikap ket erbukaan diri dikalangan ilmuw an muslim, sehingga mereka dapat saling menyapa dan m engarahkan seluruh pot ensi keilmuan yang dimilikinya unt uk kepent ingan umat manusia.

Unt uk it ulah diperlukan keseimbangan ant ara berfikir dengan berzikir sebagaimana yang diut arakan oleh Andi Hakim Nasution. M anusia harus dapat mengendalikan penget ahuan yang dit emukannya agar dapat dimanfaat kan mengelola bum i dan ant ariksa dengan sebaik-baiknya. Unt uk it ulah sebagai orang yang bert akwa kit a perlu mempert emukan pikir dan zikir secara berimbang, karena t erlalu banyak berzikir t anpa berpikir pun dapat mengekang perkembangan ilmu penget ahuan yang akibat nya hanya suat u kerugian saja bagi kit a sendiri. Tem pat mempert emukan pikir dan zikir ini ialah di dalam filsafat sains yang t idak mengabaikan sepenuhnya t ujuan dit urunkannya manusia di bumi.14

Ilmu penget ahuan dalam perkembangannya t elah menjadi suat u sist em yang kompleks, Kemajuan ilmu penget ahuan dan islam isasi ilmu penget ahuan harus

dikembalikan pada t ujuan sem ula yait u filsafat ilmunya sebagai sarana unt uk

memakmurkan umat m anusia di muka bumi bukan malah sebaliknya mengancam eksist ensi manusia. Di sinilah pent ingnya korelasi ant ara let ak filsafat ilmu dengan Islamisasi ilmu penget ahuan. Keduanya harus sejalan. Karena pada dasarnya Islamisasi ipt ek adalah sebagai landasan t eorit is saling mengisi, agar t idak t erjadi dikot omi ant ara keduanya dan melalui filsafat ilmu keduanya dapat bersinergis.

E. KESIM PULAN DAN SARAN

14

(17)

Berdasarkan hasil pembahasan yang t elah diuraikan di at as maka dapat lah dit arik kesimpulan-kesimpulan dan sara-saran adalah sebagai berikut :

1. SARAN

a. Filsafat ilmu memberi spirit bagi perkembangan dan kemajuan ilmu

penget ahuan dan memberikan nilai-nilai moral yang t erkandung pada set iap ilmu, baik pada t at anan ont ologis, epist imologis, maupun aksiologis. Peran filsafat ilmu dalam perkem bangan Ilm u yang ber landaskan nilai-nilai ke-Islaman t erlet ak pada t eori f ilsafat ilmu secara aksiologi. Agama Islam merupakan pemberi nilai t erhadap perkembangan ilmu penget ahuan pada masyarakat modern.

b. Kedudukan dan fungsi filsafat ilm u bagi ilm u penget ahuan mem berikan

w aw asan yang lebih luas bagi ilmuan unt uk t idak bersikap arogansi dan skept is dalam sebuah disiplin ilm u karena arogansi adalah pert anda bahw a t idak kreat if dan cepat merasa puas. Kont ribusi filsafat ilmu berlandaskan nilai dan prinsip Agama Islam t erhadap IPTEK merupakan landasan t eorit is saling mengisi, agar t idak t erjadi dikot om i dan saling bersinergis.

2. Saran-saran

a. Diharapkan perkembangan ilmu yang pesat di zaman m odern t idak luput dari

nilai-nilai agama dan dapat dijadikan arah dalam menent ukan perkembangan ilmu selanjut nya.

b. Tanpa adanya bimbingan agama t erhadap ilmu dikhaw at irkan kehebat an ilmu

(18)

DAFTAR PUSTAKA

Ahmad Hanaf i, Pengantar Filsafat Islam, Bulan Bint ang, Jakart a 1990.

Ahm ad Tafsir, Filsafat Umum: Akal dan Hati Sejak Tha les sampai Capra, Rosda, Bandung, 2007.

Amsal Bakht iar, Filsafat ilmu, RadjaGrafindo, Jakarta, 2004.

Herm an Soew ardi, Roda berputar, Dunia Bergulir: Kognisi Baru tentang Timbul Tenggelamnya Sivilisasi, Bakt i M andiri, Bandung, 2004.

Jujun S. Suriasumant ri, Filsafat Ilmu Sebuah Pengantar Populer, Pust aka Sinar Harapan, Jakart a, 2005.

M ahdi Ghulsyani, (dit erjem ahkan oleh Agus Effendi), Filsafat-Sains M enurut Al-Quran, M izan, Bandung, 1994.

Noeng M uhajir, Filsafat ilmu Kualitatif dan Kuantitatif untuk Pengembangan Ilmu dan Penelitian, Rake Sarasin, Yogyakart a, 2006.

Percikan Iman “ M ajalah” No. 4 Tahun II April 2001.

Sut ardjo A. Wiramihardja, Pengant ar Filsafat: Sistematika dan Sejarah Filsafat Logika dan Filsafat ilmu (Epistemologi) M etafisika dan Filsafat M anusia Aksiologi, Refika Adit ama, Bandung, 2009.

Referensi

Dokumen terkait

M enemukan penget ahuan baru t ent ang penilaian at au pencit raan bagi Universit as M uham madiyah Surakart a dan Progam St udi Pendidikan Biologi dari m ahasisw a angkat an

Dari dat a t abel diat as, pert am bahan jum lah penduduk dalam suat u daerah sem akin m eningkat set iap t ahunnya sehingga berpengaruh t erhadap kebut uhan perum ahan.. Akibat

mahasisw a akan dikat akan berkualit as apabila mahasisw a t ersebut mem punyai w aw asan yang luas dan m endalam sert a t anggap t erhadap perkem bangan ilmu

( 2) Pr ogr am Pendidikan Akadem ik adalah pr ogr am pendidikan yang diar ahkan t er ut am a pada penguasaan ilm u penget ahuan, t eknologi, dan seni.. ( 5) Pr ogr am Sar j

adalah dengan m em buat suat u variabel point er bert ipe char yang akan m enunj uk ke1. alam at t em pat m enyim pan

Hasil analisis korelasi Pear son ant ara pendidikan, pendapat an rumah t angga, luas lahan garapan, dan penget ahuan pet ani t en- t ang GAP dengan perilaku pet ani dalam pro-

Hasil analisis korelasi Pear son ant ara pendidikan, pendapat an rumah t angga, luas lahan garapan, dan penget ahuan pet ani t en- t ang GAP dengan perilaku pet ani dalam pro-

perkembangan ilmu dalam Islam sangat berbeda dengan yang berkembang