KONSEP DAN KONTRIBUSI PENGEMBANGAN
BISNIS ISLAM DI INDONESIA
Concept And Contributions For Islamic Business Development In Indonesia
Makalah
Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia
Dari Program Studi Ekonomi Islam
Oleh:
RIZALDI SAEFUL ROHMAN (13423138)
RIDHO SRIDIMALTA (13423149)
PROGRAM STUDI EKONOMI ISLAM
FAKULTAS ILMU AGAMA ISLAM
UNIVERSITAS ISLAM INDONESIA
1
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI ... 1
BAB I ... 2
PENDAHULUAN ... 2
A. Latar Belakang ... 2
B. Rumusan Masalah ... 3
C. Tujuan ... 3
BAB II ... 4
PEMBAHASAN ... 4
A. Bisnis Berbasis Syariah ... 4
B. Etika Dalam Persfektif Islam ... 5
C. Prinsip Dasar Etika Islami dan Prakteknya Dalam Binis ... 10
D. Peluang dan Tantangan ... 14
E. Konsep Ideal Penerapan Bisnis Syariah ... 16
BAB III ... 19
PENUTUP ... 19
A. Kesimpulan ... 19
B. Saran ... 19
2
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Islam tidak membiarkan begitu saja seseorang bekerja sesuka hati untuk mencapai
tujuan dan keinginannya dengan menghalalkan segala cara seperti melakukan penipuan,
kecurangan, sumpah palsu, riba, menyuap dan perbuatan batil lainnya. Tetapi dalam Islam
diberikan suatu batasan atau garis pemisah antara yang boleh dan yang tidak boleh, yang
benar dan salah serta yang halal dan yang haram. Batasan atau garis pemisah inilah yang
dikenal dengan istilah etika. Prilaku dalam berbisnis atau berdagang juga tidak luput dari
adanya nilai moral atau nilai etika bisnis. Penting bagi para pelaku bisnis untuk
mengintegrasikan dimensi moral ke dalam kerangka/ ruang lingkup bisnis (Amalia, 2014).
Islam mengatur semua kegiatan manusia termasuk dalam melakukan muamalah
dengan memberikan batasan apa saja yang boleh dilakukan (Halal) dan apa saja yang tidak
diperbolehkan (Haram). Dalam bisnis Islam, bisnis yang dilakukan harus berlandaskan sesuai syaria‟ah atau Islamic law. Semua hukum dan aturan yang ada dilakukan untuk menjaga pebisnis agar mendapatkan rejeki yang halal dan di ridhai oleh Allah SWT serta terwujudnya
kesejahteraan distribusi yang merata. Maka etika atau aturan tentang bisnis Islam memiliki peran yang penting juga dalam bisnis berbasis syari‟ah (Fajrina, 2015).
Bisnis dengan basis syariah akan membawa wirausaha muslim kepada kesejahteraan
dunia dan akherat dengan selalu memenuhi standar etika perilaku bisnis, yaitu: takwa,
kebaikan, ramah dan amanah (Hasan, 2009). Ketaqwaan seorang wirausaha muslim adalah
harus tetap mengingat Allah dalam kegiatan berbisnisnya, sehingga dalam melakukan
kegiatan bisnis seorang wirausahawan akan menghindari sifat-sifat yang buruk seperti
curang, berbohong, dan menipu pembeli. Seorang yang taqwa akan selalu menjalankan bisnis
dengan keyakinan bahwa Allah selalu ada untuk membantu bisnisnya jika dia berbuat baik
dan sesuai dengan ajaran Islam. Ketaqwaannya diukur dengan dengan tingkat keimanan,
intensitas dan kualitas amal salehnya. Apabila dalam bekerja dan membelanjakan harta yang
diperoleh dengan cara yang halal dan dilandasi dengan keimanan dan semata-mata mencari
ridha Allah, maka amal saleh ini akan mendapatkan balasan dalam bentuk kekuasaan didunia,
3
Indonesia dengan potensi masyarakat muslim terbesar dunia, yang akan menjadikan
segala instrumen dengan konsep islam berkembang baik, sudah selayaknya menggiatkan
bisnis islam, karena hal tersebut akan menjadi sebuah strategi dan peluang dalam
pengembangan bisnis yang lebih baik. Walaupun demikian, pengembangan bisnis islam di
Indonesia baru berkembang dalam instrumen keuangan sajah, walaupun dalam penerapan
bisnis islam, bisnis islam tidak selalu masuk dalam bisnis keuangan sajah, melainkan dapat
masuk ke berbagai sektor bisnis yaitu sektor kuliner, fashion, pariwisata, ritel dan lain-lain.
Oleh sebab itu, penulis berpendapat bahwa perlu adanya pembuatan makalah yang
menegaskan kembali pentingnya bisnis islam di terapkan dan di giatkan di indonesia, agar
menjadikan indonesia lebih baik lagi.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana konsep dan etika bisnis islam?
2. Siapa yang berperan dalam pengembangan bisnis islam di indonesia?
3. Bagaimana peluang dan tantangan pengembangan bisnis islam di indonesia?
C. Tujuan
1. Mejelaskan konsep serta etika bisnis islam.
2. Menjelaskan peran-peran instansi/golongan dalam pengembangan bisnis islam.
4
BAB II
PEMBAHASAN
A. Bisnis Berbasis Syariah
Secara historis menurut kamus bahasa indonesia kata bisnis berasal dari bahasa Inggris yaitu “business”, dari kata dasar “busy” yang artinya "sibuk" . Sibuk mengerjakan aktivitas dan pekerjaan yang mendatangkan keuntungan. Dalam kamus bahasa indonesia
bisnis adalah usaha dagang; usaha komersial. Bisnis sendiri memiliki dua pengertian yang
berbeda, yakni : pertama, bisnis adalah sebuah kegiatan. Kedua, bisnis adalah sebuah
perusahaan (Umar, 2000). Bisnis dapat dikatakan sebuah kegiatan yang terorganisir karena
didalam bisnis ada banyak kegiatan yang dilakukan. Kegiatan dimulai dengan input berupa
mengelola barang lalu diproses setelah itu menghasilkan output berupa barang setengah jadi
atau barang jadi. Sedangkan secara etimologi, bisnis memiliki arti dimana seseorang atau
sekelompok dalam keadaan yang sibuk dan menghasilkan keuntungan ata profit bagi dirinya
atau kelompok (Wikipedia, 2015).
Al-Qur‟an menjelaskan tentang konsep bisnis dengan beberapa kata yang diantaranya
adalah kata: al Tijarah (berdagang, berniaga), al-bai‟u (menjual), dan tadayantum
(muamalah) (Zaroni, 2007). Adapun Agama islam mengenal kata syari‟ah atau hukum islam
atau Islamic Laws yang mengatur tentang ibadah dan muamalah. Syariah memiliki landasan
yang kuat dalam bentuk kebijaksanaan dan kebahagiaan manusia untuk kehidupan didunia
dan di akhirat. Menurut bahasa, syari‟ah artinya adalah jalan yang lurus atau jalan yang
menuju mata air yang mengalir yang ingin diminum (Mujibatun, 2012). Syaikh Al-Qardhawi
mendefinisikan kata syariah memiliki pengertian yang cukup luas dan komprehensif.
Didalamnya mengandung pengertian aspek ibadah, muamalah, ekonomi, dan keluarga (Sula,
2006).
Bisnis berbasis syariah adalah kegiatan bisnis yang dilakukan oleh seseorang dengan
berlandaskan syariat agama islam, dimana setiap cara memperoleh dan menggunakan harta
yang mereka dapatkan harus sesuai dengan aturan agama islam (halal dan haram). Dalam
bisnis Islam seseorang harus selalu mengingat dan menyerahkan semua hasil usaha yang
telah dilakukan kepada Allah Swt, dengan berserah diri kepada Allah dan menganggap kerja
sebagai ibadah seseorang akan selalu ikhlas dalam bekerja inilah yang dimaksud dengan
5
B. Etika Dalam Persfektif Islam
Kata etika berasal dari kata ethos dalam bahasa Yunani yang berarti kebiasaan
(custom). Dalam W e b s t e r ‟ s N e w C o l etika adalah l e g i a tthe distinguishing e m D i c t i o n a r y
character, sentiment, moral nature, or guiding beliefs of a person, group, or institution
(karakter istimewa, sentimen, tabiat moral, atau keyakinan yang membimbing seseorang,
kelompok atau institusi). Pengertian yang lebih tegas makna etika adalah the systematic study
of the nature of value concepts, good, bad, ought, right, wrong, etc. And of the general
principles which justify us in applying them to anything; also called moral philosophy (etika
merupakan studi sistematis tentang tabiat konsep nilai, baik, buruk, harus, benar, salah, dan
lain sebagainya dan prinsip-prinsip umum yang membenarkan kita untuk
mengaplikasikannya atas apa saja) (Zubair, 1995).
Etika islam sendiri didasarkan pada hak manusia atas kemerdekaan. Pada prinsipnya
kemerdekaan dalah hak manusia untuk hidup yang harus terus dijaga dan dilindungi dengan
kebaikan dan kebenaran (Fajrina, 2015). Islam juga memiliki aturan tentang etika yang harus
dilakukan oleh pelaku bisnis dalam berbisnis. Etika dipandang sama dengan akhlak yang
membahas tentang perilaku baik buruknya seseorang. Titik sentral dari etika bisnis islam
sendiri adalah untuk menjaga perilaku wirausaha muslim dengan tetap bertanggungjawab
karena percaya kepada Allah Swt (Djakfar, 2007). Etika bisnis islam bersumber pada Al-Qur‟an sebagai pedoman. Al-qur‟an adalah sumber segala ajaran bagi seluruh umat muslim yang menjelaskan tentang norma, aturan atau hukum, dan nilai-nilai yang mengatur segala
aktifitas manusia termasuk dalam kegiatan bisnis (Djakfar, 2007) .
Dalam studi islam istilah di atas senada dengan al-khuluq. Dalam al- Qur‟an kata ini
hanya ditemukan dalam bentuk tunggal (al-khuluq) dalam surat al-Qalam ayat 4 sebagai nilai
konsiderans atas pengangkatan Muhammad sebagai Rasul. (Sesungguhnya engkau
Muhammad berada di atas budi pekerti yang agung). Al-khuluq artinya innate peculiarity,
natural disposition, character, temper, nature (Wehr, 1980). Dengan demikian maka akhlak
adalah perilaku seseorang yangberkaitan dengan baik dan buruk, dan setiap manusia memiliki
dua potensi di atas. Hanya saja dalam Islam potensi baik lebih dulu menghiasi diri manusia
daripada potensi untuk berbuat kejahatan (Shihab, 1996). Dengan demikian maka etika bisnis
yang dimaksud dalam tulisan ini adalah seperangkat prinsip-prinsip etika yang membedakan
6
yang membenarkan seseorang untuk mengaplikasikannya atas apa saja dalam dunia bisnis
(Saifullah, 2011).
Adapun prinsip-prinsip etika bisnis menurut Al-Qur‟an (Amalia, 2014): pertama,
melarang bisnis yang dilakukan dengan proses kebatilan (QS. 4:29). Bisnis harus didasari
kerelaan dan keterbukaan antara kedua belah pihak dan tanpa ada pihak yang dirugikan.
Orang yang berbuat batil termasuk perbuatan aniaya, melanggar hak dan berdosa besar
(QS.4:30). Sedangkan orang yang menghindarinya akan selamat dan mendapat kemuliaan
(QS.4:31). Kedua, Bisnis tidak boleh mengandung unsur riba (QS. 2:275). Ketiga, kegiatan
bisnis juga memiliki fungsi sosial baik melalui zakat dan sedekah (QS. 9:34). Pengembangan
harta tidak akan terwujud kecuali melalui interaksi antar sesama dalam berbagai bentuknya.
Keempat, melarang pengurangan hak atas suatu barang atau komoditas yang didapat atau diproses dengan media takaran atau timbangan karena merupakan bentuk kezaliman (QS.
11:85), sehingga dalam praktek bisnis, timbangan harus disempurnakan (QS. 7:85,QS.
2:205). Kelima, menjunjung tinggi nilai-nilai keseimbangan baik ekonomi maupun sosial,
keselamatan dan kebaikan serta tidak menyetujui kerusakan dan ketidakadilan. Keenam,
pelaku bisnis dilarang berbuat zalim (curang) baik bagi dirinya sendiri maupun kepada pelaku
bisnis yang lain (QS. 7:85, QS.2:205).
Rasululah Saw memberikan petunjuk mengenai etika bisnis yang sangat banyak, di
antaranya ialah: Pertama, bahwa prinsip penting dalam bisnis adalah kejujuran. Dalam
doktrin Islam, kejujuran merupakan syarat fundamental dalam kegiatan bisnis. Rasulullah
sangat intens menganjurkan kejujuran dalam aktivitas bisnis. Dalam tataran ini, beliau bersabda: “Tidak dibenarkan seorang muslim menjual satu jualan yang mempunyai aib, kecuali ia menjelaskan aibnya” (H.R. Al-Quzwani). “Siapa yang menipu kami, maka dia bukan kelompok kami” (H.R.Muslim). Rasulullah sendiri selalu bersikap jujur dalam berbisnis. Beliau melarang para pedagang meletakkan barang busuk di sebelah bawah dan
barang bagus di bagian atas.
Kedua, kesadaran tentang pentingnya kegiatan sosial dalam bisnis. Pelaku bisnis menurut Islam, tidak hanya sekedar mengejar keuntunganyang maksimal, seperti yang
diajarkan pada ekonomi kapitalis, tetapi juga berorientasi kepada sikap ta‟awun (menolong
orang lain) sebagai implikasi sosial kegiatan bisnis. Tegasnya, berbisnis, bukan mencari
untung dalam materi semata, tetapi juga didasari kesadaran memberi kemudahan bagi orang
7
Ketiga, tidak melakukan sumpah palsu. Nabi Muhammad saw sangat intens melarang para pelaku bisnis melakukan sumpah palsu dalam melakukan transaksi bisnis Dalam sebuah
HR. Bukhari, Nabi saw bersabda, “Dengan melakukan sumpah palsu, barang-barang memang
terjual, tetapi hasilnya tidak berkah”. Dalam HR. Abu Dzar, Rasulullah saw mengancam
dengan azab yang pedih bagi orang yang bersumpah palsu dalam bisnis, dan Allah tidak akan
memperdulikannya nanti di hari kiamat (H.R. Muslim). Praktek sumpah palsu dalam kegiatan
bisnis saat ini sering dilakukan, karena dapat meyakinkan pembeli, dan pada gilirannya
meningkatkan daya beli atau pemasaran. Namun, harus disadari, bahwa meskipun
keuntungan yang diperoleh berlimpah, tetapi hasilnya tidak berkah.
Ke-empat, Seorang palaku bisnis, harus bersikap ramah dalam melakukan bisnis. Nabi Muhammad saw mengatakan, “Allah merahmati seseorang yang ramah dan toleran dalam berbisnis. ” (HR.Bukhari dan Tarmizi).
Kelima, tidak boleh berpura-pura menawar dengan harga tinggi, agar orang lain tertarik membeli dengan harga tersebut. Sabda Nabi Muhammad, “Janganlah kalian
melakukan bisnis najas (seorang pembeli tertentu, berkolusi dengan penjual untuk menaikkan
harga, bukan dengan niat untuk membeli, tetapi agar menarik orang lain untuk membeli)”.
Ke-enam, tidak boleh menjelekkan bisnis orang lain, agar orang membeli kepadanya. Nabi Muhammad Saw bersabda, “Janganlah seseorang di antara kalian menjual dengan
maksud untuk menjelekkan apa yang dijual oleh orang lain”(H.R. Muttafaq „alaih).
Ketujuh, tidak melakukan ihtikar. Ihtikar ialah menumpuk dan menyimpan barang dalam waktu tertentu, dengan tujuan agar harganya suatu saat menjadi naik dan keuntungan
besar pun diperoleh. Rasulullah melarang keras perilaku bisnis semacam itu.
Kedelapan, takaran, ukuran dan timbangan yang benar. Dalam perdagangan, timbangan yang benar dan tepat harus benar-benar diutamakan. Firman Allah: “Celakalah
bagi orang yang curang, yaitu orang yang apabila menerima takaran dari orang lain, mereka
minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi” ( QS. 83: 112).
Kesembilan, Bisnis tidak boleh menggangu kegiatan ibadah kepada Allah. Firman
Allah, “Orang yang tidak dilalaikan oleh bisnis lantaran mengingat Allah, dan dari
mendirikan shalat dan membayar zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang hari itu, hati
8
Kesepuluh, membayar upah sebelum keringat karyawan kering. Nabi Muhammad
Saw bersabda, “ B e r i k a n l a h u p a h k ekpeardian gk akr eyHadist ini raiw an gna, t nsyeab”e.l u m
mengindikasikan bahwa pembayaran upah tidak boleh ditundatunda. Pembayaran upah harus
sesuai dengan kerja yang dilakukan.
Kesebelas, tidak ada monopoli. Salah satu keburukan sistem ekonomi kapitalis ialah melegitimasi monopoli dan oligopoli. Contoh yang sederhana adalah eksploitasi
(penguasaan) individu tertentu atas hak milik sosial, seperti air, udara dan tanah dan
kandungan isinya seperti barang tambang dan mineral. Individu tersebut mengeruk
keuntungan secara pribadi, tanpa memberi kesempatan kepada orang lain. Ini dilarang dalam
Islam.
Kedua belas, tidak boleh melakukan bisnis dalam kondisi bahaya (mudharat) yang dapat merugikan dan merusak kehidupan individu dan sosial. Misalnya, larangan melakukan
bisnis senjata di saat terjadi chaos (kekacauan) politik. Tidak boleh menjual barang halal,
seperti anggur kepada produsen minuman keras, karena ia diduga keras, mengolahnya
menjadi miras. Semua bentuk bisnis tersebut dilarang Islam karena dapat merusak esensi
hubungan sosial yang justru harus dijaga dan diperhatikan secara cermat.
Ketiga belas, komoditi bisnis yang dijual adalah barang yang suci dan halal, bukan barang yang haram, seperti babi, anjing, minuman keras, ekstasi, dsb. Nabi Muhammad Saw bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan bisnis miras, bangkai, babi dan “patung -patung”(HR. Jabir).
Ke-empat belas, bisnis dilakukan dengan suka rela, tanpa paksaan. Firman Allah, “Hai orangorang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan cara yang batil, kecuali dengan jalan bisnis yang berlaku dengan suka-sama suka di antara kamu” (QS. 4: 29).
Kelima belas, segera melunasi kredit yang menjadi kewajibannya. Rasulullah memuji seorang muslim yang memiliki perhatian serius dalam pelunasan hutangnya. Sabda Nabi Saw, “Sebaikbaik kamu, adalah orang yang paling segera membayar hutangnya” (H.R. Hakim).
Keenam belas, Memberi tenggang waktu apabila pengutang belum mampu membayar. Sabda Nabi Saw, “Barang siapa yang menangguhkan orang yang kesulitan
membayar hutang atau membebaskannya, Allah akan memberinya naungan di bawah
9
Ketujuh belas, bahwa bisnis yang dilaksanakan bersih dari unsur riba. Firman Allah, “Hai orang-orang yang beriman, tinggal kanlah sisa-sisa riba jika kamu beriman (QS. Al-Baqarah: 278). Pelaku dan pemakan riba dinilai Allah sebagai orang yang kesetanan (QS. 2:
275). Oleh karena itu Allah dan Rasulnya mengumumkan perang terhadap riba. Sebelum
diangkat menjadi Nabi, Rasulullah saw sebelumnya adalah seorang pedagang. Selama 20
tahun Rasulullah berkiprah di bidang perdagangan, sehingga dikenal di Yaman, Syiria,
Basrah, Irak, Yordania dan kota-kota perdagangan di Jazirah Arab. Dalam menjalankan
bisnis, Rasulullah menerapkan prinsip-prinsip manajemen jauh sebelum Frederick W. Taylor
(1856-1915) dan Henry Fayol (1841-1925) mengangkat manajemen sebagi disiplin ilmu,
sehingga bisnisnya tetap untung dan tak pernah merugi. Dia tidak pernah membuat
pelanggannya komplain, menjaga janjinya dan menyerahkan barang-barang yang dipesan
dengan tepat waktu. Dia senantiasa menunjukkan rasa tanggung jawab yang besar dan
integritas yang tinggi pada siapapun. Prinsip-prinsip etika bisnis yang diwariskan Nabi
Muhammad saw semakin mendapat pembenaran akademis di penghujung abad ke-20 atau
awal abad ke-21. Prinsip bisnis modern seperti tujuan pelanggan dan kepuasan konsumen
(custumer satisfaction), pelayanan yang unggul (service excellence) kompetensi, efisiensi,
transparansi, persaingan yang sehat dan kompetitif, semuanya telah menjadi gambaran
pribadi dan etika bisnis Rasulullah saw. Oleh karena itu agar menjadi pebisnis yang sukses
dunia maupun akherat maka ikutilah apa yang dicontohkan oleh Nabi Muhammad saw.
Pedoman bisnis menurut Imam Ibnu Taymiyyah dalam kitab Al Hisbah antara lain
adalah pertama, sempurna dalam timbangan. Dalam al-qur‟an di jelaskan : “Kecelakaanlah
bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang
lain ia minta dipenuhi. Apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi.”(QS.83:1-3). Kedua, hindari penipuan/kecurangan. Diriwayatkan dari Hakim bin Hizam r.a. dia berkata Rasulullah saw pernah bersabda : “ Penjual dan pembeli memiliki hak khiyar (tetap melanjutkan jual beli atau membatalkannya) selama keduanya belum
berpisah. Jika keduanya berkata benar dan menjelaskan apa adanya maka jual beli mereka
diberkahi, tetapi jika keduanya menyembunyikan cacat yang ada dan berkata dusta, maka jual
beli mereka tidak diberkahi (HR. Muttafaq Alaihi). Ketiga, hindari kontrak bisnis yang tidak
sah (illegal). Kontrak yang terkait dengan riba dan judi seperti jual beli spekulatif (bay
al-gharar), membeli bayi ternak yang masih dalam kandungan (mulamasa), menawar tinggi
untuk menaikkan harga bukan berniat untuk membeli (najas). Ke-empat, kondisi
10
pernah bersabda : “Janganlah memperjualbelikan barang yang sedang dalam proses transaksi dengan orang lain dan janganlah menghadang barang dagangan sebelum sampai di pasar/
sebelum penjual mengetahui harga yang berlaku di pasar.” Kelima, hindari penimbunan (ikhtikar).
Dalam bertransaksi secara syari‟ah, ada beberapa prinsip yang harus dipegang, yakni:
saling ridha („An Taradhin), bebas manupulasi (Ghoror), aman/ tidak membahayakan
(Mudharat), tidak spekulasi (Maysir), tidak ada monopoli dan menimbun (ihtikar), bebas
riba, dan halalan thayyiban.
C. Prinsip Dasar Etika Islami dan Prakteknya Dalam Binis
Ada lima prinsip yang mendasari etika Islam yaitu :
1. Unity (Kesatuan)
Dalam kegiatan ekonomi tauhid adalah alat bagi manusia untuk menjaga perilakunya
dalam berbisnis. Dengan adanya penyerahan diri kepada Tuhan maka pelaku bisnis akan
selalu menjaga perbuatannya dari hal-hal yang dilarang oleh agama. Sebab perilaku yang
menyimpang akan membawa kemudaratan bagi individu dan orang lain. Dari hal ini
muncullah tiga asas pokok yang dipegang oleh individu muslim (Amalia, 2014) :
1. Allah adalah pemilik dunia dan seluruh isinya dan hanya Allah yang dapat
mengatur semuanya menurut apa yang Dia kehendaki. Dalam hal harta, manusia
adalah pemegang anamah dari Allah atas harta yang sepenuhnya dimiliki oleh
Allah.
2. Allah adalah pencipta seluruh makhluk hidup dan semua makhluk hanya tunduk
kepada-Nya.
3. Iman kepada hari kiamat. Keimanan akan datangnya hari kiamat akan membuat
perilaku ekonomi orang muslim berjalan sesuai dengan syariat karena hal yang
dilakukan didunia akan dipertanggung jawabkan di hari akhir nanti.
Merupakan refleksi konsep tauhid yang memadukan seluruh aspek kehidupan baik
ekonomi, sosial, politik budaya menjadi keseluruhan yang homogen, konsisten dan teratur.
Adanya dimensi vertikal (manusia dengan penciptanya) dan horizontal (sesama manusia).
Prakteknya dalam bisnis :
a. Tidak ada diskriminasi baik terhadap pekerja, penjual, pembeli, serta mitra kerja
11
b. Terpaksa atau dipaksa untuk menaati Allah SWT (QS. 6:163)
c. Meninggalkan perbuatan yang tidak beretika dan mendorong setiap individu untuk
bersikap amanah karena kekayaan yang ada merupakan amanah Allah (QS. 18:46).
4. Equilibrium (Keseimbangan)
Dalam hal ekonomi kesejajaran atau keadilan dilakukan dalam hal distribusi, produksi
dan konsumsi yang baik. Pemahaman ini berkaitan pendayagunaan dan pengembangan harta
yang dimiliki oleh seseorang. Pendayagunaan harta yang dimaksud adalah dengan membantu
masyarakat miskin yang menjadi kewajiban bagi orang-orang yang lebih beruntung dalam
segi harta. Allah Swt menyebut umat islam sebagai ummatan wasathan, artinya bahwa umat
Islam adalah umat yang mempunyai kebersamaan, kedinamisan, arah dan tujuan yang jelas
serta mempunyai aturan-aturan yang membantu mereka dalam menentukan perilaku sebagai
penengah dan pembenar (Fajrina, 2015).
Keseimbangan, kebersamaan, dan kemoderatan merupakan prinsip etis yang harus
diterapkan dalam aktivitas maupun entitas bisnis (QS. 2:195; QS. 25:67-68, 72-73;
QS.17:35;QS.54:49; QS. 25:67). Prakteknya dalam bisnis :
a. Tidak ada kecurangan dalam takaran dan timbangan
b. Penentuan harga berdasarkan mekanisme pasar yang normal.
5. Free Will ( Kebebasan Berkehendak)
Kebebasan disini adalah bebas memilih atau bertindak sesuai etika atau sebaliknya : “Dan katakanlah (Muhammad) kebenaran itu datangnya dari Tuhanmu, barang siapa yang menghendaki (beriman) hendaklah ia beriman dan barang siapa menghendaki (kafir) biarlah ia kafir” (QS. 18:29). Jadi, jika seseorang menjadi muslim maka ia harus menyerahkan kehendaknya kepada Allah. Aplikasinya dalam bisnis :
a. Konsep kebebasan dalam Islam lebih mengarah pada kerja sama, bukan
persaingan apalagi sampai mematikan usaha satu sama lain. Kalaupun ada
persaingan dalam usaha, berarti persaingan dalam berbuat kebaikan atau fastabiq
al-khairat (berlomba-lomba dalam kebajikan).
b. Menepati kontrak, baik kontrak kerja sama bisnis maupun kontrak kerja dengan
12
6. Responsibility (Tanggung Jawab)
Wirausahawan muslim haruslah memiliki sifat amanah atau terpercaya dan
bertanggung jawab. Dengan sifat amanah wirausahawan muslim akan bertanggungjawab atas
segala yang dia lakukan dalam hal muamalahnya. Bertanggungjawab dengan selalu menjaga
hak-hak manusia dan hak-hak Allah dengan tidak melupakan kewajiban sebagai manusia
sosial dan makhluk ciptaan Allah SWT (Abdullah, 2011) .
Merupakan bentuk pertanggungjawaban atas setiap tindakan. Prinsip
pertanggungjawaban menurut Sayid Quthb adalah tanggung jawab yang seimbang dalam
segala bentuk dan ruang lingkupnya, antara jiwa dan raga, antara orang dan keluarga, antara
individu dan masyarakat serta antara masyarakat satu dengan masyarakat lainnya.
Aplikasinya dalam bisnis :
a. Upah harus disesuaikan dengan UMR (upah minimum regional).
b. Economic return bagi pemberi pinajaman modal harus dihitung berdasarkan
perolehan keuntungan yang tidak dapat dipastikan jumlahnya dan tidak bisa
ditetapkan terlebih dahulu seperti dalam sisitem bunga.
c. Islam melarang semua transaksi alegotoris seperti gharar, system ijon, dan
sebagainya.
7. Benevolence (Kebenaran)
Kebenaran disini juga meliputi kebajikan dan kejujuran. Maksud dari kebenaran
adalah niat, sikap dan perilaku benar dalam melakukan berbagai proses baik itu proses
transaksi, proses memperoleh komoditas, proses pengembangan produk maupun proses
perolehan keuntungan. Aplikasinya dalam bisnis menurut Al-Ghazali (Nawatmi, 2010):
a. Memberikan zakat dan sedekah. Memberikan kelonggaran waktu pada pihak terutang
dan bila perlu mengurangi bebanutangnya.
b. Menerima pengembalian barang yang telah dibeli.
c. Membayar utang sebelum penagihan datang.
d. Adanya sikap kesukarelaan antara kedua belah pihak yang melakukan transaksi, kerja
sama atau perjanjian bisnis.
e. Adanya sikap ramah, toleran, baik dalam menjual, membeli dan menagih utang.
13
g. Memenuhi perjanjian atau transaksi bisnis.
Dalam etika bisnis Islam,tentunya setiap pelaku usaha harus memegang
prinsip-prinsip-prinsip bisnis Islami. Menurut Imam Ghazali ada beberapa prinsip bisnis Islami:
1. Jika seseorang memerlukan sesuatu, harus memberikan dengan laba yang minimal.
Jika perlu tanpa keuntungan.
2. Jika seseorang membeli barang dari orang miskin, harga sewajarnya dilebihkan.
3. Jika ada orang yang berhutang dan tidak mampu membayar, maka diperpanjang, tidak
memberatkan dan sebaiknya dibebaskan.
4. Bagi mereka yang sudah membeli, tidak puas dan ingin mengembalikannya, maka
harus diterima kembali.
5. Pengutang dianjurkan untuk membayar hutangnya lebih cepat.
6. Jika penjualan dilakukan dengan kredit, maka sebaiknya jangan memaksa
pembayaran jika pembeli belum mampu.
Adapun konsep bisnis islam dalam tiga alur ekonomi menurtu Qardawi adalah
(Fajrina, 2015) :
a) Produksi
1. Bekerja adalah hal utama dalam produksi
2. Produksi yang halal
3. Perlindungan terhadap kekayaan alam
4. Mewujudkan swadaya
5. Merealisasikan swasembada
b) Konsumsi
1. Menafkahkan harta dalam kebaikan
2. Tidak berfoya-foya
3. Sederhana
c) Distribusi
14
2. Sidiq, amanah, jujur
3. Adil dan menjauhi riba‟
4. Kasih sayang dan tidak monopoli
5. Toleransi, persaudaraan dan sedekah
D. Peluang dan Tantangan
Terminologi umum bisnis syariah Islam bisa diartikan sebagai serangkaian kegiatan
usaha berdasarkan hukum syariah. Dalam menjalankan bisnis ini, dimensi tauhid (keesaan
Tuhan) adalah prinsip dasar bisnis, segala sesuatu yang ada di dunia ini dimulai dan diakhiri
dengan Allah. Bisnis syariah memiliki beberapa karakteristik yang membedakannya dari
keseluruhan bisnis umum. Pertama, ia harus mampu untuk membedakan antara apa yang
halal dan apa yang haram. Kedua, harus mengikuti prinsip syariah dalam pelaksanaan bisnis.
Ketiga, pengusaha bisnis syariah tidak boleh lupa bahwa mereka orientasi bisnis tidak hanya didasarkan pada duniawi yang (duniawi) tetapi juga pada akhirat ( akhirat), Sehingga penting
bagi Islam pengusaha untuk melakukan zakat (Kekayaan pajak) dan sedekah (Sedekah) untuk
orang miskin dan membutuhkan (Fealy, 2008).
Aspek paling mencolok dari bisnis syariah Islam penampilan luar, bisnis tidak hanya
menjual kualitas produk tetapi juga 'spiritual' isi produk. spiritual di sini berarti bahwa produk
tersebut harus berisi konten dan nilai Islam. Itu konten spiritual sangat penting untuk
membedakan produk mereka dari produk sejenis lainnya di pasar, sebagai bisnis syariah
bergantung kebutuhan agama dan identitas agama untuk keberadaannya (Fealy, 2008).
Karakteristik ini sangat terlihat dalam usaha yang berhubungan dengan penampilan
dan gaya hidup seperti fashion, kosmetik, salon dan spa, dan hotel. Bisnis syariah harus
memastikan kepatuhan syariah, ini berarti bisnis membutuhkan bimbingan dari ulama Islam
(ulama) yang ahli di bidang yang relevan dari hukum Islam. Di Indonesia, Nasional
Dewan Syariah dalam Majelis Ulama Indonesia (MUI) memiliki memainkan peran penting
dalam sertifikasi produk dan praktek keuangan sebagai perusahaan halal atau tidak, tapi yang
paling besar juga memiliki syariah sendiri dewan penasehat untuk memastikan legalitas
semua operasi (Fealy, 2008).
Maraknya bisnis syariah merupakan fenomena baru di Indonesia
15
ekonomi Islam. Pelopor Islam ekonomi terletak pada sektor keuangan, yaitu perbankan dan
asuransi.
Bank syariah pertama di Indonesia, Bank Muamalat, didirikan pada tahun 1991
dan itu tetap satu-satunya bank syariah sampai berdirinya Bank Syariah Mandiri pada tahun
1999 (Vernados, 2012). Sejak reformasi, sektor ini telah berkembang pesat, baik dari segi
jumlah bank dan ukuran aset mereka. Pada tahun 2005, hanya ada tiga penuh bank syariah
umum. Pada tahun 2010, ini meningkat menjadi sepuluh bank syariah umum, dan jumlah
kantor tumbuh secara signifikan dari 301 pada tahun 2005 menjadi 1.113 pada tahun 2010
(Pepinsky, 2013). Pada pertengahan tahun 2007, total aset bank umum syariah yang IDR29.9
triliun dan mereka total dana IDR 25.7 triliun (juoro, 2013). Rasio syariah dana untuk dana
konvensional pada tahun 2005 hanya 1,42 persen, tetapi tumbuh secara bertahap menjadi
2,55 persen pada tahun 2010 (Pepinsky, 2013). Motivasi utama bagi umat Islam untuk
deposit mereka tabungan dengan bank Islam adalah untuk mematuhi hukum syariah, terutama
berkenaan dengan larangan bunga. Selain itu, ia menambahkan bahwa sistem
dividen-sharing pada perbankan tidak hanya kompatibel dengan hukum syariah, tetapi juga saling
menguntungkan dengan bank dan nasabahnya (juoro, 2013). Asuransi syariah Islam atau
takaful adalah hal lain yang signifikan dan berkembang pesat sektor. Asuransi syariah adalah
upaya bersama untuk saling melindungi dan memberikan bantuan timbal balik di antara
sejumlah orang melalui investasi. Dari tahun 2002 sampai 2008, ekspansi sektor ini melebihi
dari asuransi konvensional, Kementrian Keuangan menunjukkan bahwa asuransi jiwa syariah
telah tumbuh sekitar 34 persen per tahun sejak tahun 2002, dibandingkan dengan 25 persen
untuk asuransi konvensional (Fealy, 2008). Nomor ini terus tumbuh, sebagai rata-rata
kontribusi asuransi syariah di Indonesia 2007-2011 dikatakan sekitar 67,33 persen dan
pertumbuhan diperkirakan pada tahun 2013 adalah sekitar 30-40 %. Premi asuransi Total
juga telah meningkatkan cepat dalam lima tahun terakhir, seperti pada tahun 2009 total premi
hanya IDR 2,410 miliar namun pada 2012 mencapai IDR 6,450 miliar, tumbuh lebih dari
80% selama tiga tahun ini . Menurut data otoritas jasa keuangan (OJK), yang total aset
perusahaan asuransi 45 syariah adalah sekitar IDR13,239 triliun pada tahun 2013 (Republika,
2014).
Seiring dengan pertumbuhan sektor keuangan Islam, banyak lainnya bidang
perdagangan yang dilakukan atas dasar prinsip syariah memili kmulai muncul. Ini termasuk
kosmetik, industri fashion, hotel, salon dan spa, dan pariwisata. Meskipun jenis-jenis usaha
16
Meningkatnya jumlah kelas menengah Indonesia mempengaruhi mereka
pembangunan, karena jumlah masyarakat kelas menengah lebih dari dua kali lipat antara
tahun 1999 dan 2010 menurut data dari Bank Dunia. Untuk menentukan siapa yang kelas
menengah, Bank Dunia menggunakan mutlak Pendekatan yang mendefinisikan kelas
menengah berdasarkan pengeluaran mereka; individu yang mendapatkan (atau
menghabiskan) antara bagian atas dan bawah tertentu batas dianggap kelas menengah (Bank
Dunia, 2011).
E. Konsep Ideal Penerapan Bisnis Syariah
Perkembangan ekonomi syariah yang pesat di Indonesia bukanlah suatu jaminan
dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Masih banyak faktor lain yang
mempengaruhinya. Untuk mencapai kesejahteraan yang baik perlu di lakukan oleh berbagai
elemen. Sehingga penerapan ekonomi syariah yang di dalamnya terdapat pula konsep bisnis
islam di Indonesia ini yang masih perlu dianalisis kontribusinya. Analisis prospek kontribusi
ekonomi syariah di Indonesia dapat dilihat dari beberapa sudut pandang, sebagai berikut
(Wahyono, 2012):
1. Penduduk
Walaupun Indonesia bukan negara Islam, tetapi Indonesia merupakan negara dengan
penduduk Islam terbesar di dunia. Jumlah penduduk yang beragama Islam di Indonesia pada
tahun 2010 kira-kira 85,1% dari 240.271.522 penduduk (http://id.wikipedia.org). Realita ini
tentu menjadi faktor kuat untuk mendukung perkembangan dan kontribusi ekonomi syariah
di Indonesia. Dengan potensi yang besar dalam jumlah penduduk muslim yang besar,
ekonomi islam menjadi sebuah hal yang di perhatikan masyarakat. Hal tersebut dapat di lihat
dari indikasi peningkatan kesadaran penduduk Indonesia akan syariat Islam yang berdampak
pada peningkatan kesadaran pada penggunaan jasa layanan lembaga berbasis syariah.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa apabila dilihat dari sisi
penduduk Indonesia, kontribusi ekonomi syariah mempunyai prospek yang cerah untuk
meningkatkan kesejahteraan masyarakat, hal ini dikarenakan kesadaran masyarakat akan
syariat Islam dan permintaan jasa layanan lembaga keuangan syariah semakin meningkat.
17
Melihat kondisi Indonesia dengan jumlah penduduk muslim terbesar di dunia, dan
meningkatnya pertumbuhan ekonomi syariah di Indonesia, Indonesia dapan menjadi motor
penggerak ekonomi Islam dunia. Namun sayang sejauh ini, hal itu masih belum mewujud dan
beberapa negara-negara lain lebih berkembang dari segi ekonomi islam dibandingkan
Indonesia. Banyak faktor yang menyebabkan hal ini terjadi, salah satunya adalah faktor SDM
di Indonesia.
Ditambah juga bahwa sumber daya insani yang secara praksis berkecimpung di
lembaga keuangan syariah belum sepenuhnya memiliki kapasitas yang ideal. Kebanyakan
baru merupakan sumber daya manusia pada lembaga keuangan konvensional yang kemudian
sedikit dipoles dengan label syariah. Tak mengherankan jika kemudian berbagai kritik
bermunculan terhadap praktik ekonomi syariah di Indonesia, yang dinilai tidak jauh berbeda
dengan praktek serupa di lembaga keuangan konvensional.
Pertumbuhan ekonomi syariah yang pesat di Indonesia tidak diimbangi dengan SDM
yang handal. Padahal SDM yang handal dalam ekonomi syariah sangat penting dalam
implementasi ekonomi syariah di Indonesia. Siti Fajriyah dalam Asnaini (2008) mengatakan
kebutuhan SDM untuk bank syariah mencapai 40.000 orang per tahun, sementara lulusan
ekonomi syariah sangat terbatas (Kompas, Sabtu 22 Desember 2007). Peningkatan kualitas
SDM (kaitannya dengan ekonomi syariah) merupakan suatu keharusan agar implementasi
ekonomi syariah di Indonesia benar-benar sesuai dengan syariat Islam dan dapat
berkontribusi untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kurangnya SDM yang handal dalam ekonomi islam tidak hanya mengenai bisnis
dalam sektor perbankan, melainkan bisnis-bisnis yang lainnya yang membutuhkan SDM
yang dapat memberikan arahan agar dapat diterapkannya bisnis yang sesuai islam.
Pengembangan SDM bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah saja,
melainkan menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah, lembaga pendidikan,
lembaga pengguna pendidikan, dan masyarakat. Meskipun saat ini belum banyak SDM yang
handal dalam ekonomi syariah di Indonesia. Namun, upaya-upaya untuk meningktkan SDM
yang handal dalam ekonomi syariah sudah mulai digalakkan.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa meskipun saat ini belum banyak
SDM di Indonesia yang handal dalam ekonomi syariah, tetapi sudah mulai digalakkan
18
prospek kontribusi ekonomi syariah di Indonesia dilihat dari SDM-nya dapat dikatakan
menjanjikan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
3. Pemerintah
Beberapa upaya telah dilakukan oleh pemerintah kaitannya dengan pengembangan
ekonomi syariah di Indonesia, antara lain dengan penyusunan UU No 19 Tahun 2008
Tentang Surat Berharga Syariah Nasional dan UU No 21 Tahun 2008 Tentang Perbankan
Syariah.
Dalam cetak biru Pengembangan Perbankan Syariah di Indonesia yang disusun BI
misalnya, inisitaif dan target-target yang dicanangkan belum secara eksplisit menunjuk pada
upaya penyejahteraan rakyat. Meskipun dalam dalam visinya, pengembangan perbankan
syariah dimaksudkan untuk terwujudnya sistem perbankan syariah yang kompetitif, efisien,
dan memenuhi prinsip kehati-hatian serta mampu mendukung sektor riil secara nyata melalui
kegiatan pembiayaan berbasis bagi hasil dan transaksi riil dalam kerangka keadilan, tolong
menolong dan menuju kebaikan guna mencapai kemaslahatan masyarakat.
Kaitannya dengan meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui ekonomi syariah,
pemerintah memegang peranan yang sangat vital. Aidit Gazali dalam Ruslan Abdul Ghofur
Noor (2012) mengatakan bahwa pemerintah, sebagai pemegang amanah Allah, memiliki
tugas bersama dalam mewujudkan kesejahteraan dan keadilan, karena salah satu unsur
penting dalam mencipatakan kesejahteraan ialah mewujudkan pemerintahan yang adil.
Selain itu, pemerintah juga sudah mulai memperhatikan zakat untuk mengurangi
kemiskinan di Indonesia. Sebagaimana dikatakan oleh Hilmi (2012) salah satu rekomendasi
Konferensi Dewan Zakat Asia Tenggara (DZAT) ke 2 yang berlangsung di padang yaitu
mendesak dibentuknya kementerian zakat. Rekomendasi tersebut disambut DPR dengan
mendesak dibentuknya DITJEN zakat. Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono juga mengatakan “jadi zakat yang terkumpul bukan hanya untuk ibadah dalam arti memenuhi kebutuhan konsumtif, tapi bisa juga dijadikan sumber pembiayaan” (Hilmi,
2012).
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa prospek kontribusi ekonomi
syariah di Indonesia apabila dilihat dari sisi pemerintah bisa dikatakan cerah. Hal ini dapat
dilihat dari arah kebijakan pemerintah yang mulai mempertimbangkan implementasi ekonomi
19
pemerintah tentang zakat juga mulai meningkat, hal ini bisa dilihat dengan dibentuknya
Ditjen Zakat di Indonesia. Selain itu, Presiden pun juga mengungkapkan bahwa zakat bisa
digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif yang pada akhirnya akan mengurangi
kemiskinan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Indonesia sudah menerapkan konsep bisnis dan etika dalam beberapa bisnis, yang
paling terkenal dari segi keuangan islam. Penerapan konsep-konsep dan etika bisnis yang
sesuai Islam harus tetap di pegang teguh. Peluang dan tantangan indonesia lebih kepada
penerapan konsep bisnis dan etika islam secara lebih baik lagi, dan juga terhadap kepatuhan
serta aturan hukum yang harus di buat oleh pemerintah secara baik, hal tersebut sebagai
bentuk dorongan dan perlindungan dari pemerintah terhadap pembisnis islam.
Di balik hal tersebut, perlu peran dari segala pihak agar bisnis islam ini berkembang
lebih baik dan menjadikan indonesia lebih berkembang dari segi ekonomi.
B. Saran
Sarannya agar pemerintah lebih memfokuskan lagi untuk mengembangkan bisnis
20
REFERENSI
Bibliography
Abdullah, M. (2011). Wirausaha Berbasis Syariah. Antasari Press: Banjarmasin.
Amalia, F. (2014, Januari 01). Etika Bisnis Islam : Konsep dan Implementasi Pada Pelaku Usaha Kecil. Al-Iqtishad:, VI(1).
Djakfar, M. (2007). Etika Bisnis dalam Perspektif Islam. Malang: UIN-Malang Press.
Fajri a, D. N. 5 . A alisis Pe erapa Bis is Berbasis Syari’ah Pada Wirausaha Musli . Universitas Islam Negri Walisongo.
Fealy, G. (2008). Consuming Islam: Commodified Religion and Aspirational Pietism in Contemporary Indonesia. ISEAS, 15-39.
Hasan, A. (2009). Ma aje e Bis is Syari’ah Kaya di Du ia Terhor at di Akhirat . Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
juoro, u. (2013). The Development of Islamic Banking in the Post-Crisis Indonesian Economy. ISEAS, 229-250.
Mujibatun, S. (2012). Pengantar Fiqh Muamalah. Semarang: Lembaga Studi Sosial Dan Agama ( Elsa). Nawatmi, S. (2010, April). Etika Bisnis Dalam Persfektif Islam. Fokus Ekonomi, 09(1), 51.
Pepinsky, T. (2013). Development, Social Change and Islamic Finance in Contemproary Indonesia. World Development, 157-167.
Republika. (2014). Asuransi Syariah Tumbuh Landai. Diambil kembali dari
http://www.republika.co.id/berita/ekonomi/syariah-ekonomi/14/03/25/n2zl0q-2013-asuransi-syariah-tumbuh-landai)
Saifullah, M. (2011). Etika Bisnis Islami Dalam Praktek Bisnis Rasulullah. Walisongo, 19(1). Shihab, M. Q. (1996). Wawasan al-Qur’a . Bandung: Mizan.
Sula, H. K. (2006). Syariah Marketing. Bandung: Mizan.
Umar, H. (2000). Businnes An introduction. Jakarta: PT Gramedia pustaka Utama.
Vernados, A. (2012). Islamic Banking and Finance in Southeast Asia. Singapore: World Scientific Publication.
21
Wikipedia. (2015, Desember 15). Bisnis. Diambil kembali dari Wikipedia: http://id.wikipedia.org/wiki/Bisnis
Zaroni, A. N. (2007, Desember 02). Bisnis Dalam Perspektif Islam (Telaah Aspek Keagamaan dalam Kehidupan Ekonomi). Mazahib , IV, 177-179.