• Tidak ada hasil yang ditemukan

TUGAS INDIVIDU HUKUM HUMANITER DAN KEJAH

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "TUGAS INDIVIDU HUKUM HUMANITER DAN KEJAH"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

TUGAS INDIVIDU HUKUM HUMANITER DAN KEJAHATAN INTERNASIONAL

TEORI JUST WAR

ANNISA AMALIA SYUKUR

B111 16 509

FAKULTAS HUKUM

UNIVERSITAS HASANUDDIN

(2)

KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat, Inayah, Taufk dan Hinayahnya sehingga saya dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya yang sangat sederhana. Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan, petunjuk maupun pedoman bagi pembaca dalam administrasi pendidikan dalam profesi keguruan.

Harapan saya semoga makalah ini membantu menambah pengetahuan dan pengalaman bagi para pembaca, sehingga saya dapat memperbaiki bentuk maupun isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.

Makalah ini saya akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang saya miliki sangat kurang. Oleh kerena itu saya harapkan kepada para pembaca untuk memberikan masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

(3)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Just war adalah konsep normatif yang cenderung mengarah pada upaya untuk mencegah agar jangan sampai terjadi sebuah peperangan, Walaupun sesungguhnya konsep ini menjelaskan tentang bagaimana negara harus bertindak dalam melancarkan aksi perang. Just war pada prinsipnya merupakan justifkasi dilakukannya sebuah peperangan terhadap negara lain dengan aturan-aturan yang baku, yang setidaknya berupaya untuk mengurangi kerugian-kerugian akibat perang.

Just war terdiri dari tiga buah kriteria. Pertama adalah jus ad bellum atau keadilan alasan atau pernyataan untuk melancarkan perang. Kedua adalah jus in bello atau keadilan dalam berperang (membatasi kerusakan dan kehancuran akibat perang). Yang perlu diingat adalah, jus in bello bukanlah kriteria untuk mencegah terjadinya perang. Ketiga adalah jus post bellum atau keadilan seusai perang dilakukan.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana penjelasan tentang teori just war? 2. Bagaimana contoh kasus just war?

C. Tujuan

Adapun tujuan dibuatnya makalah ini ialah :

(4)

2. Mengetahui secara jelas dari teori just war atau perang dengan cara yang adil

BAB II

PEMBAHASAN

Just war adalah konsep normatif yang cenderung mengarah pada upaya untuk mencegah agar jangan sampai terjadi sebuah peperangan, Walaupun sesungguhnya konsep ini menjelaskan tentang bagaimana negara harus bertindak dalam melancarkan aksi perang. Just war pada prinsipnya merupakan justifkasi dilakukannya sebuah peperangan terhadap negara lain dengan aturan-aturan yang baku, yang setidaknya berupaya untuk mengurangi kerugian-kerugian akibat perang.

Just war terdiri dari tiga buah kriteria. Pertama adalah jus ad bellum atau keadilan alasan atau pernyataan untuk melancarkan perang. Kedua adalah jus in bello atau keadilan dalam berperang (membatasi kerusakan dan kehancuran akibat perang). Yang perlu diingat adalah, jus in bello bukanlah kriteria untuk mencegah terjadinya perang. Ketiga adalah jus post bellum atau keadilan seusai perang dilakukan.

(5)

bersenjata yang dikerahkan sesungguhnya hanya untuk mempertahankan diri dari serangan pihak lawan.

Kedua, legitimate authority. Maksudnya adalah pengambilan keputusan untuk melakukan peperangan mutlak dihasilkan dari sebuah kekuasaan yang sah dalam negara. Ini berarti perang yang dilakukan atau dilancarkan adalah atas nama kepentingan negara, bukan atas dasar kepentingan individu atau pun kelompok-kelompok tertentu semata. Ketiga, proportionality. Penggunaan kekuatan bersenjata adalah jalan pilihan ketika memang ada sebuah tindakan provokasi yang berarti dari pihak lain.

Keempat, probability of succsess. Dalam poin ini menitikberatkan, bahwasannya harus terdapat keyakinan yang menjamin sebuah kesuksesan dengan jalan perang yang diambil. Jangan sampai terjadi hal yang sia-sia ketika negara sudah mengorbankan harta, jiwa, raga dan hal-hal lainnya dengan massif. Kelima, niat dalam melancarkan peperangan harus berada dalam ranah just cause, artinya alasan semisal untuk mendapat keuntungan-keuntungan material tidak dapat dibenarkan.

(6)

Ketiga, tidak ada senjata jahat atau alat jahat yang berada dalam dirinya sendiri yang diperbolehkan untuk digunakan, sebagai contoh adalah weapon mass Destruction (WMD) atau pun melakukan pemerkosaan masal. Keempat, pasukan bersenjata tidak dibenarkan untuk melanggar aturan-aturan tersebut, tetapi dimaksudkan sebagai respon terhadap pihak lawan yang melanggar. Kelima, membedakan antara dua golongan yakni, combatant atau pejuang atau pasukan bersenjata dengan non-combatant (sipil).

Kriteria jus in bello menegaskan bahwa golongan sipil bukanlah objek dari sebuah peperangan yang terjadi. Untuk itu, dalam melakukan serangan maka harus membedakan dua target serangan. Pertama, counterforce target. Penyerangan berfokus pada pusat-pusat militer yang antara lain adalah formasi tentara, tank, pesawat tempur, kapal perang dan instalasi-instalasi militer lain yang dapat melemahkan kekuatan militer lawan.

Kedua, countervalue target. Disini penyerangan berfokus pada sarana dan prasarana yang berdekatan dengan sebuah kota yang dapat mendukung kapabilitas perang secara umum seperti pabrik, rel kereta, bandara sipil dan pembangkit listrik. pada countervalue target meskipun bukan masyarakat atau sipil yang menjadi target, namun sangat berpeluang besar untuk menciderai atau melukai sipil bahkan bukan suatu hal yang tidak mungkin peluang jatuhnya korban jiwa dari pihak sipil pun tak terelakkan.

(7)

dideklarasikan oleh sebuah otoritas kekuasaan yang sah, maka ketika perang berakhir otoritas kekuasaan yang sah pun harus mendeklarasikan kembali perang yang telah usai. Ketiga, dalam hal penyusunan penyelesaian dengan ketetapan dalam persyaratan, harus dilakukan dengan proporsional. Keempat, peradilan internasional terhadap kejahatan perang harus diadakan dengan terbuka dan diskriminasi perlakuan antara combatant dan non-combatant tetap diberlakukan saat vonis hukuman dijatuhkan terhadap yang terbukti bersalah.

CONTOH KASUS

Terorisme antara Amerika Serikat dengan Afganistan

Pada 11 September 2001, menjadi hari yang tidak pernah akan terlupakan oleh masyarakat New York. Sekitar pukul 09.00 waktu setempat (pukul 20.00 WIB), sebuah pesawat jumbo jet menabrak menara World Trade Center (WTC) di New York. Belum hilang kejutan di saat denyut kehidupan bisnis kota ini baru saja dimulai, sekitar 18 menit kemudian pesawat kedua menabrak gedung kembarnya (sebelah Selatan) dengan ledakan yang lebih dahsyat. Hanya dalam selang waktu satu sampai dua jam kedua bangunan tertinggi di dunia yang menjadi monumen kota New York dan pusat fnansial dunia itu runtuh (HotCopy, 2001).

(8)

George W. Bush menyebut kejadian 11 September 2001 sebagai serangan teroris. Konggres Amerika Serikat telah memberikan lisensi membunuh para teroris kepada pemerintah George W. Bush sebagai reaksi terhadap tragedi WTC. Sasaran utamanya adalah Osama bin Laden dan Afganistan, tempat Osama bin Laden bermukim sebagai tamu kehormatan pemerintah Taliban. Pemerintah negeri adikuasa ini sangat geram dan mengerahkan kekuatan besar hanya untuk memburu satu orang tertuduh saja yang dianggap sebagai penyebab malapetaka pada 11 September 2001 (HotCopy, 2001).

Gerakan Taliban, atau Taliban adalah gerakan nasionalis Islam Sunni pendukung Pashtun yang secara efektif menguasai hampir seluruh wilayah Afganistan sejak 1996 sampai 2001. Kelompok Taliban dibentuk pada September 1994, mendapat dukungan dari Amerika Serikat dan Pakistan. Dewan Keamanan PBB mengecam tindakan kelompok ini karena kejahatannya terhadap warga negara Iran dan Afghanistan. Taliban melakukan berbagai aksi pelanggaran HAM di Afghanistan

(9)

Pemerintahan Taliban digulingkan oleh Amerika Serikat karena dituduh melindungi pemimpin Al Qaeda Osama Bin Laden yang juga dituduh Washington mendalangi serangan terhadap menara kembar WTC, New York pada tanggal 11 September 2001 bekerja sama dengan kubu Aliansi Utara. Invasi ini dimulai pada bulan Oktober sampai dengan bulan November 2001 dengan secara mengejutkan sehingga pihak Taliban langsung keluar dari ibukota Afganistan, Kabul sehingga pihak Amerika relatif cepat dan mudah menguasainya. Akan tetapi beberapa tahun setelahnya American Free Press mengungkapkan hal sebaliknya, yaitu keterlibatan CIA dan agen intelijen Israel, Mossad dalam peristiwa serangan 11 September 2001 hanyalah skenario untuk mengakuisisi negara-negara arab, dalam hal ini Irak dan Afghanistan

(10)

dilakukan oleh organisasi bernama Al-Qaeda yang dipimpin oleh Osama Bin Laden, dan berada dibawah rejim Taliban di Afghanistan. Alasan Pemerintah Amerika Serikat mengesahkan dekrit tersebut adalah bahwa operasi militer merupakan tindakan yang efektif dalam mencegah serangan militer, selain itu penahanan warga negara asing tertentu merupakan hal yang perlu, untuk kemudian mengadili mereka atas pelanggaran terhadap hukum perang dan hukum lain oleh pengadilan militer Amerika Serikat.

Kebijakan presiden George W. Bush terhadap teroris dan penyerangan di Afghanistan mendapat dukungan dari kedua partai Republik dan Demokrat, bahkan kongres dari partai Republik dan Demokrat dengan suara bulat mendukung oprasi militer di Afghanistan. Selain itu rakyat Amerika Serikat juga mendukung kebijakan George W. Bush perang terhadap teroris. George W. Bush membuat kebijakan dalam menggalang kekuatan untuk menghancurkan negara yang tidak tunduk kepada kebijakan Amerika Serikat. Kebijakan Amerika Serikat di Afghansitan tidak hanya perang melawan teror dan teroris namun juga memburu Osama bin Laden serta yang tidak kalah pentingnya adalah menghancurkan pemerintahan Taliban.

(11)

Amerika Serikat benar-benar marah, dan melihat sosok Osama bin Laden lebih berbahaya dibandingkan dengan Rusia yang pernah menjadi musuhnya, sehingga harus mengerahkan kekuatan koalisi global melawan ekstermis Islam yang dituduh berada dibalik serangan gedung World Trade Center (WTC).

Afghanistan secara geopolitik dikelilingi oleh negara lain yang sekaligus berfungsi sebagai benteng penghalang masuk ke Afghanistan, misalnya Pakistan, Iran, Uzbekistan, Tajikistan, Turkmenistan, India dan Cina (HotCopy, 2001). Bahkan Pakistan dan India yang semula diembargo akan mendapat kebebasan apabila bersedia membantu pihak Amerika Serikat untuk menangkap Osama bin Laden. Jendral Perves Musharaf, penguasa Pakistan yang berbatasan langsung dengan Afghanistan dengan tegas menyatakan bersedia untuk membantu pihak Amerika Serikat, termasuk kemungkinan untuk menjadikan Pakistan sebagai base camp tentara Amerika Serikat (Mahajan, 2005).

(12)

keuletan, akurasi dan keberuntungan untuk melibas Osama bin Laden dan pemerintah Taliban.

Skenario utama yang dipakai Amerika Serikat adalah memanfaatkan pihak-pihak lain untuk keberhasilan serangan ini agar dapat menaikkan kembali gengsi Amerika sebagai negara adikuasa nomor satu di dunia. Skenario tersebut antara lain adalah pertama, mendukung Aliansi Utara dari Uzbekistan dan Tajikistan. Kekuatan anti-Taliban ini masih menguasai sekitar 10% wilayah Utara Afganistan. Kedua, menyerang dari Pakistan, suatu celah masuk yang sudah lama dikenal dan sangat efektif. Untuk itu kalau mau bekerja sama menghajar Taliban, Pakistan mendapat kompensasi khusus penghapusan embargo dan keringanan hutang padahal Taliban adalah produk kesalahan dari Pakistan dan Amerika juga. Ketiga, mencoba masuk dari Iran yang selama ini kurang diperhatikan Taliban dalam sistem pertahanannya. Walaupun medannya sulit, tetapi unsur kejutan membuat jalur ini perlu diperhitungkan (HotCopy, 2001).

Pada perang melawan teroris ini, Pemerintah Amerika Serikat memang melakukan tindakan dengan serangan bersenjata terhadap Afghanistan, dengan tujuan untuk melakukan “self defense” atau bela diri. Akan tetapi, tindakan bela diri yang dimaksud Amerika Serikat adalah tindakan bela diri dari serangan teroris, bukan tindakan bela diri terhadap serangan angkatan bersenjata suatu negara, atau suatu kelompok yang terorganisir. Hanya saja serangan yang dilakukan Amerika Serikat terhadap Afghanistan, berdasarkan pendapat Oppenheim dan hukum perang11 merupakan perang, sehingga hukum humaniter harus diberlakukan (Mark, 2003).

(13)

menyerang Al-Qaeda dan pemerintah Taliban. Kehadiran militer Amerika Serikat secara permanen tersebut di Afghanistan saja jumlahnya sekitar 5.000 pasukan yang ditempatkan di bekas pangkalan udara Rusia di Bagram dan sekitar 3.000- 4.000 personil lainnya di Kandahar, ditambah lagi di beberapa pangkalan lebih kecil lainnya (Mahajan, 2005). Pada awalnya pemerintah Taliban berhasil dikalahkan, namun seiring dengan berjalannya waktu kekuatan dari Taliban bertambah kuat.

Pemerintah Taliban nampaknya agak susah untuk dikalahkan oleh pihak Amerika Serikat. Adapun pertimbangan mengapa sampai detik ini Amerika Serikat tidak menggunakan senjata nuklir tentu bukan alasan kemanusiaan dan perlindungan terhadap lingkungan sekitarnya terkait jejak bom nuklir yang bisa merusak alam sekitarnya, tetapi ini berdasarkan kemungkinan kecil mencapai kemenangan meskipun menggunakan senjata nuklir melawan Taliban. Kenyataan ini menjelaskan bahwa arsitek perang Amerika dan NATO melawan Taliban juga tidak melihat ada kemenangan walaupun bom nuklir dijatuhkan di Afghanistan.

(14)

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

(15)

sebagai aktor dengan legitimasi memerintahkan dan melaksanakan perang. Kriteria melakukan sebuah just war, pertama kali diringkas oleh seorang ahli flsafat Belanda Hugo Grotius pada abad ke-17 dan bersumber pada ahli-ahli agama Katolik tua, terdiri atas tujuh elemen: (1) bahwa ada penyebab yang dibenarkan;

(2) bahwa ada otoritas yang benar (penguasa yang sah) yang memprakarsai perang tersebut;

(3) maksud yang benar dari pihak-pihak yang menggunakan kekuatan;

(4) bahwa pilihan menggunakan kekuatan adalah proporsional; (5) bahwa penggunaan kekuatan merupakan pilihan terakhir; (6) bahwa perang ditempuh dengan kedamaian sebagai tujuan akhirnya (bukan karena semata-mata ingin berperang);

(7) bahwa ada harapan yang masuk akal bahwa upaya perang tersebut akan berhasil.

DAFTAR PUSTAKA

1. https://www.academia.edu/4035509/

(16)

2. https://ferysetiawan09.wordpress.com/2015/06/09/just-war-concept/

Referensi

Dokumen terkait

Mengupayakan terwujudnya partisipasi masyarakat dan warga sekolah yang produktif dalam emajuan sekolahC. Mengupayakan tercapainya prestasi dalam bidang akademik dan non

authority from the central government to intensities field organization, local administrative unite, semi- autonomous and parastatal organizations, local governments, or

Maka penelitian yang akan dilakukan adalah merancang pengukuran kinerja di UKM Majalengka dibidang industri makanan dengan menggunakan metode balanced scorecard dengan

Hal ini diperkirakan bahwa semakin lama reaksi dan semakin besar konsentrasi metanol mengakibatkan reaksi tumbukan antar partikel Na-bisulfit dengan metil ester akan

 Menyedari pelbagai peranan wanita dalam keluarga, masyarakat, ekonomi dan politik negara, kerajaan mengakui bahawa strategi- strategi yang khusus perlu dibentuk bagi

Setelah beberapa kali tes alat psikologi yang berbeda, dan menunjukkan kecenderungan yang berbeda, baru saya menyadari bahwa tipe kecenderungan saya bekerja,

H G X D E D K Z D W L Q G D N D Q P R U D O VHVHRUDQJ VXGDK OHELK UDVLRQDO ZDODXSXQ PDVLK NHNDQDNNDQDNDQ 0RWLYDVL GDODP WLQGDNDQ PRUDO DGDODK XQWXN PHQFDSDL

Pada sel bahan bakar PEM, ruang alir harus didesain untuk mengurangi penurunan tekanan ketika memberikan perpindahan massa yang cukup dan seimbang melalui lapisan