Makalah Studi Al-Qur’an
Dirasah An-Nusus
Dosen Pengampu :
Mochammad Andre Agustianto, Lc, MH.
Disusun oleh :
1. Putri Aprilia
(G94217198)
2. Tania Rizky Annisa Ramadhani
(G94217209)
EKONOMI SYARIAH
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS ISLAM
KATA PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kepada Allah SWT atas segala rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan Makalah yang berjudul “Dirasah An-Nusus”. Tidak lupa kami ucapkan terimakasih atas bantuan dari pihak-pihak yang ikut berkontribusi dalam penyusunan makalah ini.
Terlapas dari semua itu, kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena itu, dengan tangan terbuka kami menerima segala saran dan kritik dari pembaca agar kami dapat memperbaiki makalah ini. Akhir kata kami berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat untuk para pembaca.
Surabaya, Desember 2017
Penulis
KATA PENGANTAR...2
2.1.1 Pengertian ‘Am dan Berbagai Karakternya...5
2.1.2 Macam-macam ‘Am………...6
2.1.3 Perbedaan antara al-‘Am al-Murad bihil khusus dengan al-‘Am al Makhsus...6
2.1.4 Pengertian Khas dan Mukhasis………...6
2.2 Mutlaq – Muqayyad……..………...6
2.2.1 Pengertian Mutlaq...6
2.2.2 Pengertian Muqayyad……….7
2.2.3 Macam-Macam Mutlak dan Muqayyad dan Status Hukum Masing-Masing……….7
2.2.4 Pandangan Ulama Tentang Mutlaq dan Muqayyad………8
1.1 Latar Belakang
Alquran merupakan pedoman hidup bagi umat muslim juga sebagai mukjizat Nabi Muhammad Saw. Suatu keharusan bagi kita untuk memahami makna-makna yang ada dalam Alquran untuk kemudian diamalkan dalam kehidupan sehari-hari sebagaimana perintah Allah SWT. Masing-masing ayat atau bahkan antar kata dalam Alquran memiliki arti yang hampir sama tapi beda tingkatan artinya. Seuatu ayat dalam Alquran bisa saja merujuk pada makna yang khusus maupun makna yang umum (berlaku untuk semua orang). Oleh karena itu, sangat penting untuk memahami Alquran dengan lebih dalam.
1.2 Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian ‘Am dan Khas?
2. Sebutkan dan jelaskan macam-macam bentuk ‘Am dan Khas! 3. Apa itu Mutlaq dan Muqayyad?
4. Apa saja macam-macam Mutlaq dan Muqayyad?
5. Bagaimana pendapat ulama mengenai Mutlaq dan Muqayyad? 6. Apa yang dimaksud dengan Mantuq dan Mafhum?
7. Apa jenis-jenis dari Mantuq dan Mafhum? 8. Bagaimana Kehujjahan Mafhum?
1.3 Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian ‘Am dan Khas, Mutlaq dan Muqayyad, serta Mantuq dan Mafhum.
2. Dapat menyebutkan jenis-jenis ‘Am dan Khas, Mutlaq dan Muqayyad, serta Mantuq dan Mafhum.
3. Agar dapat lebih memahami makna Alquran.
BAB II
2.1 ‘Am dan Khas
2.1.1 Pengertian ‘Am dan Berbagai Karakternya
‘Am adalah lafal yang menghabiskan atau mencakup segala apa yang pantas baginya tanpa ada pembatasan.1 Lafal ini adalah lafal umum yang menghabiskan setiap orang yang melempar pedangnya, tanpa membatasi pada satu atau beberapa orang tertentu.
Lafal umum merupakan sifat yang ada pada lafal, karena ia adalah petunjuk lafal atas mencakupnya kepada semua satuannya. Suatu lafal jika menunjukkan jumlah terbatas dari satuan-satuannya maka lafal tersebut bukanlah lafal umum, melainkan lafal mutlaq.
Perbedaan lafal umum dan lafal mutlaq, adalah lafal umum itu menunjukkan kepada satuan-satuan atau satuan yang banyak, tidak semuanya, sedangkan lafal mutlaq tidak sekaligus mencakup kecuali satuan yang banyak dari satuan-satuannya.
Setidaknya ada tiga bentuk sighah (bentuk lafal) umum menurut jumhur ulama’,2
1. Sighah ‘am untuk menguatkan ma’na khusus.
2. Sighah ‘am untuk mencakup semua satuan-satuanya sekaligus, dan berfungsi menguatkan makna umum.
3. Sighah yang disandarkan pada sesuatu yang bermakna mencakup semua, atau disandarkan pada sesuatu yang berma’na mengumpulkan, atau meringkas sesuatu yang paling sedikit memuat sifat dan bilangan. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dipaparkan oleh Al-Ghazali dalam al-Mustafa Fi Ilm al-Usui.3
2.1.2 Macam-macam ‘Am
Lafadz ‘Am terbagi menjadi tiga macam4 :
1. ‘Am yang tetap dalam keumumannya (al-‘am al baqi ‘ala ‘umummih). Qadi Jalaluddin al-Balqini mengatakan, ‘am seperti ini jarang ditemukan , sebab tidak satupun lafaz ‘am kecuali di dalamnya terdapat takhsis, tetapi Zakarsyi dalam al-Burhan mengemukakan ‘am demikian banyak terdapat dalam Al-qur’an.
2. ‘Am yang dimaksud khusus (al-‘am al-murad bihi al-khusus).
1 Achmad Zuhdi dkk, Studi Al-Qur’an, (Surabaya: 2017), cet. 7, Hlm. 422. 2Ibid, Hlm. 423.
3Ibid.
3. ‘Am yang dikhususkan (al-‘am al-makhsus). ‘Am macam ini banyak dikemukakan dalam Al-Qur’an.
2.1.3 Perbedaan antara al-‘Am al-Murad bihil khusus dengan al-‘Am al-Makhsus
Perbedaan antara al-‘Am al-Muradbihi al-khusus dengan al-‘Am al-Makhsus
dapat dilihat dari beberapa segi, antara lain:
1. Tidak dimaksudkan untuk mencakup semua satuan individu yang dicakupnya sejak semula, baik dari segi cakupa makna lafaz maupun dari hukumnya.
2. Majaz secara pasti, karena ia telah beralih dari makna aslinya dan dipergunakan untuk sebagian satuan-satuannya saja.
2.1.4 Pengertian Khas dan Mukhasis
Khas adalah lawan kata dari ‘Am, karena ia tidak menghabiskan semua apa yang pantas baginya. Takhsis adalah mengeluarkan sebagian apa yang dicakup oleh lafaz ‘am. Mukhassis (yang mengkhusus-kan) adakalanya muttasil yang antara ‘am
dengan mukhassis tidak terpisahkan oleh sesuatu hal, dan adakalanya munfasil
kebalikan dari muttasil. 5
2.2 Mutlaq – Muqayyad
2.2.1 Pengertian Mutlaq
Secara bahasa kata mutlaq berarti bebas tanpa ikatan atau syarat tertentu. Mutlak juga bisa diartikan sebagai lafal-lafal yang menunjukkan kepada pengertian dengan tidak ada ikatan (batasan) yang tersendiri berupa perkataan. Lafaz yang menunjukkan suatu hakikat tanpa sesuatu qayid (pembatas). Jadi ia hanya menunjuk satu individu tidak selalu dari hakikat tersebut atau pernyataannya menunjuk pada satu atau beberapa objek yang tersebar tanpa adanya ikatan bebas menurut lafaznya, yang dalam penerapan lafaznya tidak terkualifikasi.6 Sedangkan secara terminologi menurut Abd al-Wahab Khallaf,
ديق ياب اظفل ديقم ريغ درف ىلع لد ام
lafaz yang menunjukkan satu satuan tanpa dibatasi secara harfiah dengan suatu kekuatan.
2.2.2 Pengertian Muqayyad
5Achmad Zuhdi dkk, Studi Al-Qur’an, (Surabaya : 2017), cet.7, Hlm.433.
Muqayyad adalah lafaz yang menunjukkan suatu hakikat dengan qayyid (batasan), contohnya kata “raqabah” (budak) yang dibatasi dengan “iman” dalam Q.S. an-Nisa’:92. Secara bahasa, kata Muqayyad berarti terikat. Selain itu juga dapat diartikan sebagai suatu lafaz yang menunjukkan atas pengertian yang mempunyai batasan tertentu berupa perkataan. Sedangkan menurut istilah, Muqayyad berarti lafal yang menunjukkan suatu satuan dalam jenisnya yang dikaitkan dengan sifat tertentu. Seperti yang dikemukakan al-Khudari Bayk, Muqayyad ialah lafal yang ditunjukkan kepada suatu objek (afrad) atau beberapa objek tertentu yang dibatasi oleh lafal tertentu. Jadi dapat disimpulkan Muqayyad adalah lafal nash yang maknanya telah tertentu karena dibatasi dengan sifat tertentu sehingga maknanya lebih spesifik dan pasti.7
2.2.3 Macam-Macam Mutlak dan Muqayyad dan Status Hukum Masing-Masing
Mutlak dan Muqayyad mempunyai bentuk-bentuk ‘aqliyah, dan sebagian realitas bentuknya yaitu8:
1. Sebab dan hukumnya sama, seperti “puasa” untuk kafarah sumpah. Lafaz itu dalam qira’ah mutawatir yang terdapat dalam Q.S. al-Maidah : 89 diungkapkan secara mutlak dan ia muqayyad atau dibatasi dengan “tatabu’ (berturut-turut). Dalam hal seperti ini, pengertian lafaz yang mutlak dibawa kepada yang muqayyad, karena “sebab” yang satu tidak akan menghendaki dua hal yang bertentangan. Dalam pada itu golongan yang memandang qira’ah tidak mutawatir, sekalipun mashhur, tidak dapat dijadikan hujjah, tidak sependapat dengan golongan pertama. Maka dalam kasus ini dipandang tidak ada muqayyad, sehingga lafaz mutlak diterapkan.
2. Sebab sama namun hukum berbeda, seperti kata “tangan” dalam wudu dan tayamum. Membasuh tangan dalam berwudhu dibatasi sampai dengan siku. Seperti dalam Q.S. al-Ma’idah: 6. Sedangkan menyapu tangan dalam tayamum itu tidak dibatasi, mutlak seperti yang tercantum dalam Q.S. al-Maidah: 6. Dalam hal ini ada yang berpendapat, lafaz mutlak tidak dibawa kepada yang muqayyad karena berlainan hukumnya.
3. Sebab berbeda tetapi hukumnya sama, dalam hal ini terdapat dua bentuk. Yang pertama yaitu taqyid atau batasannya hanya satu. Contohnya pada pembebasan budak dalam hal kafarah. Budak yang dibebaskan disyaratkan harus budak “bariman” dalam kafarah pembunuhan tak sengaja. Kedua, taqyidnya berbeda-beda. Misalnya pada “puasa kafarah”, ia ditaqyidkan dengan berturut-turut dalam kafarah pembunuhan.
7Ibid, Hlm.445-446.
4. Sebab berbeda dan hukum pun berlainan, seperti “tangan” dalam berwudhu dan dalam pencurian. Dalam berwudhu, ia dibatasi sampai dengan siku, sedangkan dalam kasus pencurian dimutlakkan, tidak dibatasi. Sehingga pada keadaan ini mutlak tidak boleh dibawa ke muqayyad karena “sebab” dan “hukum” nya berlainan serta tidak ada kontradiksi sedikitpun.
2.2.4 Pandangan Ulama Tentang Mutlaq dan Muqayyad
Bagi Madzab Hanafi yang mutlaq diamalkan sesuai dengan kemutlaqannya dan demikian pula muqayyadnya. Akan tetapi dari kalangan jumhur ulama’ fuqaha’ seperti Shafi’I, Maliki, dan Hambali berpendapat bahwa jika ketentuan hukum antara mutlaq dan muqayyad adalah sama, tetapi sebab yang melatar belakangi berbeda, maka mutlaq dibawa ke muqayyad.9
2.3 Mantuq dan Mafhum
2.3.1 Pengertian Mantuq
Pengertian mantuq menurut bahasa adalah sesuatu yang diucapkan, sedangkan menurut istilah adalah suatu makna yang ditunjukkan oleh lafal menurut ucapannya, yakni penunjukan makna berdasarkan materi huruf-huruf yang diucapkan.10
Mantuq adalah lafal yang hukumnya memuat apa yang diucapkan (makna tersurat), Sedangkan mafhum adalah lafal yang hukumnya terkandung dalam arti di balik mantuq (makna tersirat).
2.3.2 Macam-macam Mantuq
Pada dasarnya mantuq itu ada yang berupa nas, zahir dan mu’awwal:11
a. Nas, yaitu lafal yang bentuknya telah dapat menunjukkan makna secara tegas dan tidak mengandung kemungkinan makna lain. Seperti firman Allah SWT Q.S Al-Baqarah ayat 196 :
ةَلِماَك ٌةَرَشَع َكْلِت ۗ ْمُتْعَجَر اَذِإ ٍةَعْبَسَو ّجَحْلا يِف ٍماّيَأ ِةَث َلَث ُماَيِصَف ْدِجَي ْمَل ْنَمَف
Maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari lagi apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh hari yang sempurna.
Penyifatan “sepuluh” dengan “sempurna” telah mematahkan kemungkinan sepuluh ini diartikan lain secara majaz.
9Achmad Zuhdi dkk, Studi Al-Qur’an, (Surabaya : 2017), cet.7, Hlm. 456-457. 10Ibid,. hlm. 458.
b. Zahir, yaitu suatu perkataan yang menunjukkan suat makna yang segera dipahami ketika ia diucapkan tetapi disertai kemungkinan makna lain yang lemah. Seperti firman Allah Q.S Al-Baqarah ayat 222 :
َن ْرُهْطَي ٰىّتَح ّنُهوُبَرْقَت َلَو
Lafal (رهط) digunakan untuk makna : 1) berhenti dari haid 2) berwudlu dan mandi wajib. Makna yang kedua lebih jelas sehingga itulah makna yang kuat.
c. Mu’awwal adalah lafal yang diartikan dengan makna marjuh karena ada suatu dalil yang menghalangi dimaksudkannya makna yang rajin. Seperti firman Allah Q.S Al-Isra’ ayat 24 :
اًريِغَص يِناَيّبَر اَمَك اَمُهْمَحْرا ّبَر ْلُقَو ِةَمْحّرلا َنِم ّلّذلا َحاَنَج اَمُهَل ْضِفْخاَو
Lafal (لذلا حانج) diartikan sebagai “tanduk, tawadhu’ dan bergaul secara baik terhadap kedua orang tua” bukan diartikan sebagai “sayap kehinaan” karena mustahil manusia memiiki sayap.
2.3.3 Pengertian Mafhum
Mafhum secara bahasa ialah sesuatu yang dipahami dari suatu teks, sedangkan menurut istilah adalah pengertian tersirat dari suatu lafal atau pengertian kebalikan dari pengertian lafal yang diucapkan.
Menurut kitab Mabadi al-Awwaliyah, mantuq adalah sesuatu yang ditunjukkan oleh suatu lafadz dalam tempat pengucapan, sedangkan mafhum adalah sesuatu yang ditunjukkan oleh suatu lafadz tidak dalam pengucapan.
Jadi mantuq adalah pengertian yang ditunjukkan oleh lafadz di tempat pembicaraan dan mafhum ialah pengertian yang ditunjukkan oleh suatu lafadz tidak dalam tempat pembicaraan, tetapi dari pemahaman terdapat ucapan tersebut.
2.3.4 Pembagian Mafhum
Mafhum dibedakan menjadi dua bagian, yakni:12
a. Mafhum Muwafaqah, yaitu apabila hukum yang dipahamkan sama dengan hukum yang ditunjukkan oleh bunyi lafadz. Mafhum ini dibagi menjadi dua:
1. Fathwal Khitab, yaitu apabila yang dipahamkan lebih utama hukumnya daripada yang diucapkan.
2. Lahn al-Khitab, yaitu apabila yang tidak diucapkan sama hukumnya dengan diucapkan.
b. Mafhum Mukhalafah, yaitu pengertian yang dipahami berbeda dengan ucapan, baik dalam menetapkan maupun meniadakan. Macam-macam mafhum mukhalafah: 1. Mafhum Sifat, yaitu menghubungkan hukum sesuatu kepada salah satu sifatnya. 2. Mafhum Sharat, yaitu petunjuk lafadz yang memberi faedah adanya hukum yang
dihubungkan dengan syarat supaya dapat berlaku hukum yang sebaliknya. 3. Mafhun Ghayah (batas maksimal), yaitu lafal yang menunjukkan hukum sampai
kepada batasan.
4. Mafhum Hasr (pembatasan)
5. Mafhum Had, yaitu menentukan hukum dengan disebutkan suatu adad diantara adat-adatnya.
6. Mafhum Laqab, yaitu menggantungkan hukum kepada isim alam dan isim fiil. 2.3.5 Syarat-syarat Mafhum Mukhalafah
A Hanafie mengemukakan syarat-syarat mafhum dalam bukunya Ushul Fiqh sebagai berikut:13
a. Tidak berlawanan dengan dalil yang lebih kuat.
b. Lafal yang disebutkan bukan suatu hal yang biasanya terjadi.
c. Lafal yang disebutkan bukan dimaksudkan untuk menguatkan suatu keadaan. d. Lafal yang disebutkan harus berdiri sendiri, tidak mengikuti kepada yang lain. 2.3.6 Kehujjahan Mafhum
Para ulama setuju bahwa mafhum laqab tidak dapat dijadikan hujjah untuk menetapkan hukum, karena penyebutan isim ‘alam atau isim jenis itu sekedar untuk penyebutan danya hukum padanya bukan untuk membatasi atau mengkhususkan berlakunya hukum padanya saja.
Menurut pendapat yang paling sahih, mafhum-mafhum tersbut boleh dijadikan hujjah (dalil,argumentasi) dengan beberapa syarat antara lain: 14
a. Apa yang disebutkan bukan dalam kerangka “kebiasaan” yang umum. b. Apa yang disebutkan tidak untuk menjelaskan realita.
BAB III PENUTUP
3.1 Kesimpulan
perbedaan pendapat antar ulama yang disertai dengan dalil-dalilnya. Akan tetapi, yang digunakan sebagai pedoman adalah yang paling shahih.
3.2 Saran
Dari penjelasan diatas, kami menyadari bahwa banyak kekurangan dalam makalah ini. Sehingga kami mengharapkan saran dan kritik yang mebangun demi perbaikan makalah ini dan semoga dapat bermanfaat untuk para pembaca serta kita sebagai umat muslim agar lebih menghayati dan mengamalkan isi kandungan Alquran dalam kehidupan sehari-hari.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qattan, Manna’ Khalil. 2015. Studi Ilmu-Ilmu Qur’an. Cet. 18. Bogor: Pustaka Litera Antarnusa.