Kaidah Ushuliyyah (Manthuq dan Mafhum, Dzahir dan Mu’awwal, Nasakh, Muradif dan Musytarak)
Oleh : Wahyudi Arianja NIM : 2281131513
IAIN SYEKH NURJATI
CIREBON
Pengertian Mantuq Dan Mafhum
Mantuq adalah sesuatu yang ditunjuki lafal dan ucapan lafal itu sendiri. Mafhum, sesuatu yang ditunjuk oleh lafal, tetapi bukan dari ucapan lafal itu sendiri.
Jadi mantuq adalah pengertian yang ditunjukkan oleh lafal di tempat pembicaraan dan mafhum ialah pengertian yang ditunjukkan oleh lafal tidak di tempat pembicaraan, tetapi dari pemahaman terdapat ucapan tersebut.
Pengertian Mantuq Dan Mafhum
Seperti firman Allah:
"Maka jangan kamu katakan kepada dua orang ibu bapakmu perkataan yang keji" (QS. Al Isra ': 23).
Dalam ayat tersebut terdapat pengertian mantuq yaitu ucapan lafal itu sendiri (yang nyata = uffin) jangan kamu katakan perkataan yang keji kepada dua orang ibu bapakmu.
Sedangkan mafhum yang tidak disebutkan yaitu memukul dan menyiksanya (juga dilarang), karena lafal-lafal yang mengandung kepada arti, diambil dari segi pembicaraan yang nyata dinamakan mantuq dan tidak nyata disebut dengan mafhum.
Pengertian Dzahir dan Mu’awwal
Dzahir adalah lafal yang menunjukkan makna secara langsung tanpa memerlukan penyerta lain untuk memahami maksud lafal itu dan memungkinkan adanya takhsis maupun takwil serta nasakh di masa Rasulullah SAW.
Sedangkan muawwal adalah lafal yang dikeluarkan dari makna dhohirnya pada makna lain yang menghendakinya berdasarkan bukti yang menunjukkan demikian, serta memungkin- kan adanya rajih.
Definisi Nasakh
Nasakh dalam istilah para ahli ilmu ushul fiqhi adalah:
Pembatalan pemberlakuan hukum syar'i dengan dalil yang datang belakangan dari hukum yang sebelumnya, yang menunjukkan pembatalannya baik secara terang-terangan atau secara kandungannya saja, baik pembatalan secara umum atau untuk pembatalan sebagian saja karena suatu kemaslahatan yang menghendakinya, atau nasakh ialah : menyatakan dalil susulan yang mengandung penghapusan pemberlakuan dalil yang terdahulu.
Definisi Nasakh
Misalnya, firman Allah SWT.
"Diwajibkan atas kamu, apabila seorang di antara kamu kedatangan tanda-tanda) maut, jika ia meninggalkan harta yang banyak, berwasiat untuk ibu bapak dan karib kerabamya secara makruf" (Q.S.2 Al-Baqarah: 180).
Dan firman Allah SWT. dalam ayat pembagian warisan
"Allah mensyari'atkan bagimu tentang ( pembagian pusaka untuk ) anak-anakmu, yaitu bahagian dua orang anak perempuan...". (Q.S. 4 An Nisa': 11)
Kedua firman tersebut menunjukkan bahwa Allah menentukan bahagian harta peninggalan setiap pemilik harta kekayaan di antara para pewarisnya sesuai dengan sesuatu yang dituntut oleh hikmahnya, dan pembahagian tersebut tidak kembali sebagai hak orang yang mewariskannya sendiri.
Hukum yang kedua ini bertentangan dengan hukum yang pertama. Oleh karena inilah, maka hukum yang kedua ini menasakh hukum yang pertama, menurut pendapat Jumhur.
Pengertian Muradif Dan Musytarak
Muradif ialah lafalnya banyak sedang artinya sama.
Seperti lafal asad dan allaits (artinya singa), hintah dan qarmhu (artinya gandum).
Musytarak, ialah suatu lafal yang mempunyai dua arti yang sebenamya dan arti-arti tersebut berbeda-beda. Seperti lafal jaun yang artinya putih atau hitam. Apabila arti yang sebenarnya hanya satu dan yang lain arti majaz, maka tidak dikatakan musytarak.
Contoh Musytarak
Artinya: "Isteri-isteri yang diceraikan, hendaklah berdiam diri (beridah) tiga kali suci". (QS. Al-Baqarah: 228)
Lafal Qur'un mempunyai dua arti, yaitu datang bulan (haid) dan suci. Mana yang dikehendaki ayat tersebut dari kedua arti ini. Yang dikehendaki ialah datang bulan menurut satu pendapat.
Sebagaimana yang telah diterangkan di atas, bahwa arti qur'un semula ialah waktu yang tertentu. Waktu yang tertentu hanya terdapat dalam hal-hal yang bergiliran, yang datang kepada keadaan yang asal (pokok). Maka yang bergiliran di sini tidak lain hanya datang bulan, sebab suci adalah keadaan yang asal.