BAB III
GAMBARAN UMUM KABUPATEN MAJALENGKA
3.1 Tinjauan Kebijakan Pengembangan Pariwisata
3.1.1 Tinjauan Kebijakan Pengembangan Pariwisata Provinsi Jawa Barat
Langkah-langkah kebijakan yang ditempuh untuk pengembangan Sub Sektor Pariwisata seperti yang tercantum dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Propinsi Jawa Barat adalah sebagai berikut :
a. Membangun dan menggali serta memanfaatkan potensi pariwisata, sehingga kegiatan pariwisata tersebut dapat digunakan sebagai salah satu kegiatan ekonomi yang dapat memberikan perluasan lapangan kerja dan peningkatan pendapatan daerah/masyarakat.
b. Melestarikan, menata dan memelihara obyek-obyek dan daya tarik wisata yang meliputi obyek wisata alam, obyek wisata budaya serta obyek wisata lainnya yang dapat dimanfaatkan untuk memperluas pengalaman dan ilmu pengetahuan serta rekreasi.
c. Meningkatkan peran serta masyarakat dalam kegiatan kepariwisataan melalui usaha penyuluhan dan pembinaan agar masyarakat sadar wisata dan sekaligus meningkatkan kualitas kegiatan pariwisata Jawa Barat.
d. Kegiatan pariwisata diarahkan untuk mendorong pembangunan daerah, sehingga dengan kegiatan pariwisata ini dapat merangsang pembangunan sektor-sektor lainnya.
Dalam Rencana Induk Pengembangan Pariwisata Daerah (RIPPDA) Provinsi Jawa Barat, Kabupaten Majalengka termasuk kedalam Wilayah Pengembangan Wisata Cirebon bersama-sama dengan Kabupaten Cirebon, Kota Cirebon, Kabupaten Kuningan, dan Kabupaten Indramayu. Kawasan wisata budaya pesisir di jalur utara ini mencakup Kabupaten dan Kota Cirebon, sebagian Kabupaten Indramayu, dan sebagian Kabupaten Majalengka dan Kabupaten Kuningan bagian utara dengan karakteristik kawasan pesisir dan kegiatan perikanan-pertanian. Kawasan ini memiliki
lokasi yang strategis bagi pengembangan pariwisata. Selain merupakan salah satu pintu gerbang Jawa Barat dari arah timur Pulau Jawa, kawasan ini juga terletak di jalur pantai utara (pantura) yang sangat padat dilalui pelaku perjalanan pada saat-saat tertentu, terutama menjelang hari lebaran. Lokasi kawasan yang strategis ini sangat berpotensi dalam menarik wisatawan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur, terlebih ditunjang dengan kemudahan aksesibilitas darat, yaitu pengembangan jalan tol di Cirebon dan peningkatan pelayanan kereta api dari Jakarta, Jawa Tengah dan Jawa Timur. Keberadaan jalan tol di Plumbon dan Palimanan juga semakin mempermudah aksesibilitas di antara kota/kabupaten, termasuk rencana pembangunan jalan tol yang akan menghubungkan Jakarta, Bandung, dengan Dawuan. Belum lagi rencana pembangunan bandar udara internasional di Kertajati, Majalengka yang tentunya akan menyediakan infrastruktur yang sesuai standar.
Daya tarik wisata kawasan ini didominasi oleh daya tarik wisata budaya terutama yang terkait dengan budaya pesisir dan sejarah penyebaran agama Islam di Jawa Barat, serta daya tarik alam pertanian pegunungan di Majalengka dan Kuningan. Daya tarik wisata budaya sejarah Islam yang menjadi unggulan antara lain Makam Sunan Gunung Jati di Kabupaten Cirebon; Keraton Kasepuhan, Kacirebonan, dan Kanoman, serta Taman Air Gua Sunyaragi di Kota Cirebon. Selain sejarah penyebaran agama Islam, terdapat gedung bersejarah tempat berlangsungnya Perjanjian Linggajati antara Pemerintah Indonesia dengan Belanda.
Daya tarik wisata alam serta budaya bercocok tanam masyarakatnya yang khas masyarakat pegunungan tradisional Priangan merupakan daya tarik kawasan di bagian tengah selatan, yaitu di Majalengka dan Kuningan. Sumber daya alam lain yang menjadi daya tarik wisata adalah pemandian air panas Sangkanurip Alami dan Gunung Ciremai di Kabupaten Kuningan, serta Air TerjunMuara Jaya dan wisata agro Lemah Sugih di Kabupaten Majalengka Keberadaan fasilitas penunjang wisata di kawasan ini memang masih terkonsentrasi di Kota Cirebon, meskipun saat ini fasilitas akomodasi sudah mulai banyak tersedia di Kabupaten Kuningan, terutama fasilitas akomodasi yang memanfaatkan air panas alami sebagai daya tariknya. Pasar
wisatawan di kawasan ini pada umumnya adalah wisatawan lokal dan regional Jabar timur. Kegiatan wisata di kawasan ini cenderung terjadi intra kawasan. Promosi dan pemasaran belum difokuskan pada pasar wisatawan internasional, namun sementara masih terbatas pada pasar wisnus lokal dan regional untuk kegiatan rekreasi dan ziarah. Dalam pengembangan pariwisata di kawasan ini, konsep pembangunan pariwisata yang berbudaya harus menjadi acuan. Dengan konsep ini, pariwisata diharapkan dapat menunjukkan jati diri masyarakat Jawa Barat yang berbudaya dan agamis.
3.1.2 Tinjauan Kebijakan Pengembangan Pariwisata Kabupaten Majalengka A. Kebijakan RTRW kabupaten Majalengka Tahun 2005-2015
Berdasarkan wilayah pengembangan yang tertuang dalam RTRW Kabupaten Majalengka, kegiatan pariwisata ini akan lebih menonjol di daerah selatan (wilayah pengembangan selatan) dengan fungsi utama kegiatan sosial ekonomi berbasis pertanian dan pengembangan kawasan pariwisata. WP Selatan meliputi Kecamatan Argapura, Banjaran, Maja, Talaga, Cikijing, Cingambul, Bantarujeg dan Lemahsugih, dengan pusatnya di Kecamatan Talaga.
Pengembangan kegiatan pariwisata di daerah selatan ini akan mengembangkan kegiatan yang sudah ada juga mengembangkan objek-objek yang belum dimanfaatkan secara optimal dan membentuk kegiatan baru. Objek wisata yang potensial untuk dikembangkan di wialyah Kabupaten Majalengka didominasi oleh wisata alam tetapi dalam perkembanganannya dimungkinkan diadakannya pengembangan kegiatan wisata buatan. Adapun pengembangan objek wisata yang berada di dalam kawasan lindung, pengembangan objek wisata ini dapat dikembangkan tetapi pengembangannya pun sangat terbatas. Pengembangan pariwisata di kawasan lindung mengacu pada kaidah-kaidah pengembangan di kawasan lindung khususnya pada sektor pariwisata.
Pengembangan objek wisata ini selain merupakan pemanfaatan aset daerah, juga sebagai sumber pemasukan pendapatan daerah. Implikasi kebijakan ini adalah perlunya pendekatan kelayakan ekonomi dari sisi pemerintah daerah dalam
pengembangan objek-obek tertentu sehingga meningkatkan pendapatan daerah. Pengembangan sektor pariwisata juga diarahkan untuk membangkitkan kegiatan ikutan (multiplier effect). Kegiatan bangkitan ini antara lain rumah makan, penginapan, kegiatan industri rumahan dalam bentuk kerajinan, trnsportasi dan komunikasi.
Dalam RTRW Kabupaten Majalengka, kawasan wisata merupakan kawasan yang diidentifikasi sebagai kawasan tertentu potensial tumbuh. Pengembangan kawasan tertentu potensial tumbuh ini tidak terepas dari permasalahan dan potensi yang terdapat di wilayah yang bersangkutan. Kawasan tertentu potensial tumbuh, adalah kawasan di Bagian Selatan Kabupaten Majalengka sepanjang Lemahsugih-Bantarujeg-Talaga-Cikijing. Sesuai karakterstiknya program pengembangan terhadap pariwisata, yaitu :
Penataan kawasan wisata potensial
Promosi pariwisata dan pemasaran obyek-obyek wisata Pembangunan serta peningkatan infrastruktur pariwisata Pengembangan SDM pelaku bidang kepariwisataan
Berdasarkan pertimbangan dalam penentuan indikasi program, maka perlu dibuat suatu prioritas, baik yang menyangkut lokasi maupun sektoral sesuai dengan tujuan dan kebijakan pembangunan daerah. Prioritas pembangunan, selain pada peningkatan pertumbuhan di bidang ekonomi yang dititikberatkan pada pembangunan industri, perdagangan dan pariwisata secara luas, juga untuk menjaga agar tidak terjadi ketimpangan pertumbuhan antar wilayah yang ada di Kabupaten Majalengka. Pembangunan bidang lainnya dapat dilaksanakan secara menyeluruh dan terpadu disesuaikan dengan potensi dan permasalahan spesifik wilayah-wilayah yang ada di Kabupaten Majalengka.
Perwujudan pemanfaatan ruang kawasan budidaya adalah Proses pengaturan dan atau pengelolaan Kawasan Budidaya berdasarkan tujuan dan kriteria tertentu
untuk mencapai hasil yang diinginkan. Perwujudan pemanfaatan ruang kawasan budidaya, khususnya kawasan wisata di Kabupaten Majalengka, yaitu :
a. Pengembangan pemasaran dan promosi kawasan wisata di Kabupaten Majalengka dalam rangka memperluas pangsa pasar wisata.
b. Membangkitan usaha wisata, sebagai industri pariwisata (mempermudah upaya investor untuk investasi pada sektor pariwisata).
c. Pengembangan pemasaran dan promosi kawasan wisata di Kabupaten Majalengka dalam rangka memperluas pangsa pasar wisata melalui kegiatan- pameran, pengadaan sarana promosi, event kepariwisataan (pentas seni, lomba-lomba wisata) untuk menarik wisatawan berkunjung ke Kabupaten Majalengka. d. Pengembangan infrastuktur yang mendukung terhadap pengembangan
pariwisata di Kabupaten Majalengka.
e. Menciptakan kemudahan jangkauan terhadap obyek wisata.
f. Pengembangan obyek wisata melalui kegiatan penataan-penataan kawasan obyek wisata di Kabupaten Majalengka.
B. Kebijakan Masterplan Pariwisata kabupaten Majalengka Tahun 2008 1. Rencana Pengembangan Obyek dan Daya Tarik Wisata
Rencana pengembangan obyek dan daya tarik wisata ini dibagi 3 (Tiga) yaitu obyek dan daya tarik wisata alam, obyek dan daya tarik wisata budaya, dan objek dan daya tarik wisata minat khusus. Dalam pengembangan obyek dan daya tarik wisata alam ada dua pertimbangan yang harus diperhatikan yaitu :
1. Pada dasarnya pengembangan obyek dan daya tarik wisata bergantung pada Sumber Daya (potensi) yang dimiliki/keaslian lingkungan alam.
2. Pembangunan prasarana pariwisata akan membawa kerusakan, tetapi kerusakan ini akan menimbulkan akibat yang dapat mendukung kelangsungan hidup kepariwisataan di obyek dan daya tarik wisata yang dikembangkan.
Untuk lebih jelasnya rencana pengembangan obyek dan daya tarik wisata Kabupaten Majalengka disajikan pada Tabel 3.1 berikut.
Tabel 3.1
Rencana Pengembangan Obyek dan Daya Tarik Wisata Di SKW Talaga Kabupaten Majalengka
No Obyek Dan Daya Tarik Wisata
Rencana Pengembangan
Penanggung
Jawab Keterangan
1 Air TerjunMuara Jaya Dikembangkan Pemerintah Air Terjun
2 Situ Sangiang Dikembangkan Pemerintah
Hutan Lindung, situ, makam Sangiang 3 Museum Talaga Manggung Dikembangkan Pemerintah/
Lembaga
Peningglan Sejarah 4 Panorama Lemah Putih dan
Taman Dinosaurus Dikembangkan Pemerintah
Agro wisata, Golf,
peristirahatan. Sumber : RIPPDA Kabupaten Majalengka, Tahun 2008
2. Rencana Pembentukan Satuan Kawasan Wisata
Dengan memperhatikan kondisi Kabupaten Majalengka secara geografis yang memanjang ke arah utara dan selatan, dan juga memperhatikan jarak tempuh antar obyek wisata yang ada, berdasarkan hasil survey maka Satuan Kawasan Wisata yang dapat dibentuk sebanyak 3 (tiga) Satuan Kawasan Wisata (SKW), seperti disajikan pada Tabel 3.2.
Tabel 3.2
Satuan Kawasan Wisata Kabupaten Majalengka SKW Wilayah
Kecamatan
Objek dan Daya Tarik Wisata Inti Objek dan Daya Tarik Wisata Penyangga Wisata Wisata Luar Talaga Leumahsugih, Bantarujeg, Talaga, Cingambul, Cikijing, Malausma, Maja, Argapura, dan Banjaran. Air TerjunMuara Jaya Air TerjunSawer Air Terjun Cibali Air Terjun Cilutung Situ Sangiang Situ Resmi Situ Batu Air TerjunMu ara Jaya Air TerjunSawer Situ Resmi Pendakian Gunung Cermai Air TerjunCilutu ng Kebun Teh Cipasung Situ Sangiang Air TerjunCilutu ng Situ Batu Air Terjun Cibali Panorama Lemahput Makam Buyut Israh Panorama Cikebo
SKW Wilayah Kecamatan
Objek dan Daya Tarik Wisata Inti Objek dan Daya Tarik Wisata Penyangga Wisata Wisata Luar Kebun Teh Cipasung Gunung Ciremai Panorama Cikebo Museum Talaga Manggung Makam Eyang Natakusuma Makam Buyut Israh Panorama Lemah Putih ih. Makam Eyang Natakusuma Museum Talaga Manggung Rajagaluh Sumberjaya, Leuwimunding, Palasah, Sindangwangi, Rajagaluh, Sindang, Sukahaji Panyingkiran, Kasokandel, Cigasong, dan Majalengka Air TerjunTonjong Situ Janawi Talaga Herang Situ Cipanten Situ Cikuda Gunung Tilu Rumah adat Penjalin Hutan Lindung Prabu Siliwangi Wisata Agro Batu Luhur Kolam Renang Tirta Indah Kolam Renang Sangraja Hutan Lindung Patilasan Prabu Siliwangi Wisata Agro Batu Luhur Kolam Renang Tirta Indah Kolam Renang Sangraja Kolam Renang Tirta Indah Situ Cipanten Situ Cikuda Gunung Tilu Rumah adat Penjalin Air TerjunTonjo ng Situ Janawi Talaga Herang Kadipaten Jatitujuh, Kertajati, Ligung, Dawuan, Jatiwangi, dan Kadipaten. Sumur Sindu Sumur Dalem Sirkuit Gagaraji Bendungan Rentang Makam Buyut Kyai Arsitem Situ Cijawura Situ Anggarahan Sirkuit Gagaraji Sumur Sindu Sumur Dalem Bendungan Rentang Situ Cijawura Situ Anggarahan Makam Buyut Kyai Arsitem
3. Rencana Pengembangan Pemasaran Dan Promosi
Upaya yang dilakukan dalam usaha pemasaran terhadap wisatawan nusantara adalah melalui publikasi dan informasi mengenai objek dan daya tarik wisata di kabupaten Majalengka. Publikasi dan pelayanan informasi tersebut, harus mudah didapat oleh para wisatawan/pengunjung contohnya melalui pusat-pusat informasi maupun publikasi di tempat-tempat umum seperti terminal, shooping center, dan tempat lainnya yang dianggap strategis.
Upaya pemasaran yang perlu dilakukan adalah dengan mengoptimalkan pemasaran dan promosi terpadu dengan Pemerintah Daerah Jawa Barat, dunia usaha maupun dengan kabupaten/kota Cirebon dan Bandung sebagai pintu gerbang wisatawan. Kegiatan-kegiatan promosi yang perlu diperhatikan :
a. Optimalisasi usaha Advertensi yang menjangkau banyak orang melalui mass media, seperti surat kabar, majalah,TV, dan radio.
b. Optimalisasi desain alat bantu (Sales Suport), peningkatan pemasaran berupa brosur, booklet, leaflet, folder, peta dan audio visual berupa film dan informasi lainnya.
c. Optimalisasi informasi kepariwisataan melalui web site internet baik yang dimiliki Pemerintah Daerah maupun Bappeda Kabupaten Majalengka.
d. Optimalisasi kegiatan Public Relation (Hubungan masyarakat ) melalui kegiatan pers, mengundang Travel Writer, Tour operator dan mengikuti event-event baik di dalam maupun di luar negeri.
Kepariwisataan nasional memiliki potensi besar yang apabila pemanfaatannya dilakukan secara optimal dan dikelola dengan profesional akan mampu menopang keberhasilan pembangunan nasional. Oleh karena itu pembangunan obyek dan daya tarik wisata tetap harus dilakukan dengan tetap memperhatikan:
a. Kemampuan untuk mendorong dan meningkatkan perkembangan kehidupan ekonomi dan sosial budaya;
b. Nilai-nilai agama, adat istiadat serta pandangan dan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat;
c. Kelestarian budaya dan mutu lingkungan hidup; d. Kelangsungan usaha pariwisata itu sendiri.
Dalam penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan, pengembangan kepariwisataan memiliki makna:
a. Makna politis, sebagai upaya memupuk rasa cinta tanah air dan bangsa guna menggalang persatuan dan kesatuan;
b. Makna ekonomis, sebagai upaya untuk memperkuat perekonomian negara;
c. Makna sosial budaya, sebagai upaya untuk mempertinggi kesadaran dan kesediaan untuk mempertahankan kebudayaan dan kepribadian bangsa. Oleh karena itu, sifat pengembangan kepariwisataan nasional, adalah:
a. Terbuka, dalam menyesuaikan diri terhadap perkembangan kemajuan zaman tetapi tetap berkepribadian Indonesia;
b. Pragmatis, dikembangkan sesuai dengan kemampuan Negara dan bangsa Indonesia;
c. Menganut prinsip “Ambeg Paramarta”, yaitu mendahulukan kepentingan nasional yang lebih tinggi;
d. Multi disiplin, multi upaya dan multi dimensi;
e. Selektif, hanya memilih yang tepat dan sesuai dengan kepentingan nasional;
f. Berwawasan internasional, tetapi tetap berkebudayaan nasional.
Dalam pengembangan kepariwisataan, ada asas-asas yang harus diperhatikan, yaitu:
a. Asas manfaat, bahwa pengembangan kepariwisataan harus dapat memberikan manfaat sebesar-besarnya baik secara langsung maupun tidak langsung;
b. Asas usaha bersama dan kekeluargaan, artinya penyelenggaraan kepariwisataan harus diarahkan dalam rangka pencapaian cita-cita dan aspirasi bangsa dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat untuk kepentingan bersama dan dijiwai semangat kekeluargaan;
c. Asas adil dan merata, pengembangan kepariwisataan nasional harus menghasilkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat di pelosok tanah air; d. Asas perikehidupan dan keseimbangan, kepariwisataan nasional harus
dapat mewujudkan perikehidupan yang seimbang materiil dan spiritual baik dalam hubungan antara sesama manusia dengan lingkungan dan antara manusia dengan Tuhannya;
e. Asas kepercayaan pada diri sendiri, kepariwisataan nasional harus mampu meningkatkan dan menumbuhkan kepercayaan kepada diri sendiri, sehingga secara keseluruhan dapat meningkatkan jati diri bangsa Indonesia.
Dalam setiap perencanaan dan pelaksanaan kegiatan pariwisata yang bersifat lintas sektoral dan menyangkut kepentingan masyarakat secara keseluruhan, penyelenggaraan kepariwisataan harus terpadu antara pemerintah, badan usaha, dan masyarakat. Peran masyarakat dalam arti seluas-luasnya di alam penyelenggaraan kepariwisataan ini memegang peranan penting demi terwujudnya pemerataan pendapatan dan kesempatan berusaha. Untuk mencapai maksud tersebut, pemerintah melakukan pembinaan terhadap kegiatan kepariwisataan, yaitu dalam bentuk pengaturan, pemberian bimbingan dan pengawasan. Seperti sebagian pendapat bahwa modal utama bidang kepariwisataan sesungguhnya ada dua macam yaitu :
Budaya dengan nilai luhurnya.
Untuk memaksimalkan manfaat ke dua modal utama tersebut dalam bidang kepariwisataan, telah banyak kegiatan yang bersifat kajian, terapan dan pengembangan, namun nampaknya masih perlu pendalaman dan sosialisasi yang lebih efektif. Berdasarkan wilayah pengembangan yang tertuang dalam RTRW Kabupaten Majalengka, kegiatan pariwisata ini akan lebih menonjol di daerah selatan (wilayah pengembangan selatan) dengan fungsi utama kegiatan sosial ekonomi berbasis pertanian dan pengembangan kawasan pariwisata. WP Selatan meliputi Kecamatan Argapura, Banjaran, Maja, Talaga, Cikijing, Cingambul, Bantarujeg dan Lemahsugih, dengan pusatnya di Kecamatan Talaga.
Pengembangan kegiatan pariwisata di daerah selatan ini akan mengembangkan kegiatan yang sudah ada juga mengembangkan objek-objek yang belum dimanfaatkan secara optimal dan membentuk kegiatan baru. Objek wisata yang potensial untuk dikembangkan di wialyah Kabupaten Majalengka didominasi oleh wisata alam tetapi dalam perkembanganannya dimungkinkan diadakannya pengembangan kegiatan wisata buatan. Adapun pengembangan objek wisata yang berada di dalam kawasan lindung, pengembangan objek wisata ini dapat dikembangkan tetapi pengembangannya pun sangat terbatas. Pengembangan pariwisata di kawasan lindung mengacu pada kaidah-kaidah pengembangan di kawasan lindung khususnya pada sektor pariwisata.
Pengembangan objek wisata ini selain merupakan pemanfaatan aset daerah, juga sebagai sumber pemasukan pendapatan daerah. Implikasi kebijakan ini adalah perlunya pendekatan kelayakan ekonomi dari sisi pemerintah daerah dalam pengembangan objek-obek tertentu sehingga meningkatkan pendapatan daerah. Pengembangan sektor pariwisata juga diarahkan untuk membangkitkan kegiatan lain. Kegiatan bangkitan ini antara lain rumah makan, penginapan, kegiatan industri rumahan dalam bentuk kerajinan, trnsportasi dan komunikasi.
Dalam RTRW Kabupaten Majalengka, kawasan wisata merupakan kawasan yang diidentifikasi sebagai kawasan tertentu potensial tumbuh. Pengembangan kawasan tertentu potensial tumbuh ini tidak terepas dari permasalahan dan potensi yang terdapat di wilayah yang bersangkutan. Kawasan tertentu potensial tumbuh, adalah kawasan di Bagian Selatan Kabupaten Majalengka sepanjang Lemahsugih-Bantarujeg-Talaga-Cikijing. Sesuai karakterstiknya program pengembangan terhadap pariwisata, yaitu :
Penataan kawasan wisata potensial
Promosi pariwisata dan pemasaran obyek-obyek wisata Pembangunan serta peningkatan infrastruktur pariwisata Pengembangan SDM pelaku bidang kepariwisataan
Perwujudan pemanfaatan ruang kawasan budidaya adalah Proses pengaturan dan atau pengelolaan Kawasan Budidaya berdasarkan tujuan dan kriteria tertentu untuk mencapai hasil yang diinginkan. Perwujudan pemanfaatan ruang kawasan budidaya, khususnya kawasan wisata di Kabupaten Majalengka, yaitu :
g. Pengembangan pemasaran dan promosi kawasan wisata di Satuan Kawasan Wisata Talaga Kabupaten Majalengka dalam rangka memperluas pangsa pasar wisata.
h. Membangkitan usaha wisata, sebagai industri pariwisata (mempermudah upaya investor untuk investasi pada sektor pariwisata).
i. Pengembangan pemasaran dan promosi kawasan wisata di Kabupaten Majalengka dalam rangka memperluas pangsa pasar wisata melalui kegiatan- pameran, pengadaan sarana promosi, event kepariwisataan (pentas seni, lomba-lomba wisata) untuk menarik wisatawan berkunjung ke Satuan Kawasan Wisata Talaga Kabupaten Majalengka.
j. Pengembangan infrastuktur yang mendukung terhadap pengembangan pariwisata di Satuan Kawasan Wisata Talaga Kabupaten Majalengka.
k. Menciptakan kemudahan jangkauan terhadap obyek wisata.
l. Pengembangan obyek wisata melalui kegiatan penataan-penataan kawasan obyek wisata di Satuan Kawasan Wisata Talaga Kabupaten Majalengka
3.2 Gambaran Umum Satuan Kawasan Wisata Talaga Kabupaten Majalengka
3.2.1 Letak Geografis
Kabupaten Majalengka berada di wilayah administrasi Provinsi Jawa Barat dengan luas wilayah 120.424 hektar yang terdiri atas 26 kecamatan, 13 kelurahan dan 321 desa. Secara geografis terletak pada koordinat 60 32’16,39” Lintang Selatan sampai dengan 70 4’ 24,75” Lintang Selatan dan 1080 2’ 30,87” Bujur Timur sampai dengan 1080 24’ 32,84” Bujur Timur. Jarak dari Ibukota Kecamatan ke Ibukota Kabupaten berkisar antara 0 - 37 Kilometer, Kecamatan Lemahsugih merupakan daerah terjauh dari Ibukota Kabupaten. Jarak dari Ibu Kota Kabupaten ke Ibu Kota Propinsi Jawa Barat adalah ± 91 Kilometer dan jarak ke Ibu Kota Kabupaten ke Ibukota Negara adalah ± 200 Kilometer
Sedangkan untuk Satuan Kawasan Wisata Talaga Kabupaten Majalengka yang terdiri dari 9 Kecamatan yaitu Kecamatan Leumahsugih, Bantarujeg, Talaga, Cingambul, Cikijing, Malausma, Maja, Argapura, dan Banjaran. Dilihat dari batas wilayah administrasi, Kabupaten Majalengka berbatasan dengan :
Sebelah Utara : Kecamatan Majalengka, Kecamatan Cigasong dan Kecamatan Sindang
Sebelah Selatan : Kabupaten Ciamis dan Kabupaten Tasikmalaya Sebelah Barat : Kabupaten Sumedang
Sebelah Timur : Kabupaten Kuningan
3.2.2 Kondisi Fisik
Kemiringan lahan di Kabupaten Majalengka diklasifikasikan ke dalam 3 (tiga) kelas yaitu landai / dataran rendah (0 – 15 persen), berbukit bergelombang (15 – 40 persen) dan perbukitan terjal (>40 persen). Berdasarkan klasifikasi kelas kemiringan lahan, 13,21 persen dari luas wilayah Kabupaten Majalengka berada pada kemiringan lahan di atas 40 persen, 18,53 persen, berada dalam kelas kemiringan lahan 15 - 40 persen, dan 68,26 persen berada pada kelas kemiringan lahan 0 - 15 persen. Kondisi
bentang alamnya sebagian besar melandai ke daerah Utara, menyebabkan aliran sungai dan mata air mengalir ke arah utara sehingga pada wilayah bagian Utara Kabupaten Majalengka terdapat banyak persawahan. Perbukitan dengan lereng yang curam terdapat di sekitar lereng Gunung Ciremai dan lereng Gunung Cakrabuana. Kondisi topografis ini selain sangat berpengaruh pada pemanfaatan ruang dan potensi pengembangan wilayah, juga mengakibatkan terdapatnya daerah rawan terhadap longsor dan gerakan tanah khususnya daerah yang mempunyai kelerengan curam.
Berdasarkan ketinggian, secara umum wilayah Kabupaten Majalengka diklasifikasikan dalam 3 (tiga) klasifikasi utama yaitu dataran rendah (0 - 100 mdpl), dataran sedang (100 - 500 mdpl) dan dataran tinggi (> 500 mdpl). Dataran rendah sebesar 42,21 persen dari luas wilayah, berada di Wilayah Utara Kabupaten Majalengka, dataran sedang sebesar 20,82 persen dari luas wilayah, umumnya berada di Wilayah Tengah, dan dataran tinggi sebesar 36,97 persen dari luas wilayah, mendominasi Wilayah Selatan Kabupaten Majalengka, termasuk di dalamnya wilayah yang berada pada ketinggian di atas 2.000 mdpl yaitu terletak di sekitar kawasan kaki Gunung Ciremai.
Tabel 3.3
Ketinggian Tanah Di SKW Talaga Kabupaten Majalengka
No Nama Kecamatan Luas (Ha) Ketinggian (Meter Dpl) 0-25 25-100 100-500 500-1000 >1000 1. Argapura 6.929 - - - 2.078 4.851 2. Banjaran 3.480 - - - 2.490 990 3. Bantarujeg 12.111 - - 3.633 7.751 727 4. Malausma*) 5. Cikijing 3.476 - - - 3.168 308 6. Cingambul 3.722 - - - 3.122 600 7. Lemahsugih 10.368 - - 3.950 4.068 2.350 8. Maja 5.344 - - 1.656 3.688 - 9. Talaga 4.092 - - 190 3.532 370 Jumlah 49.522 - - 9.429 29.897 10.196
Sumber : RTRW Kabupaten Majalengka, Tahun 2005-2015
3.2.3 Penggunaan Lahan
Berdasarkan data sekunder, peta penggunaan lahan Kabupaten Majalengka sampai dengan Tahun 2004 dominasi penggunaan lahan terbesar adalah lahan
pertanian lahan basah, yaitu seluas 41.142 Ha pada kawasan budidaya dan seluas ± 12.996 Ha yang berada pada kawasan lindung, atau total luas ± 54.138 Ha. Apabila dibagi kedalam 2 kelompok besar lahan, yaitu kawasan lindung dan budidaya, maka luas kawasan lindung di Kabupaten Majalengka seluas ± 34.445 Ha 28,43 %) dan lahan budidaya seluas ± 86.697 Ha (71,57 %).
Tabel : 3.4
PENGGUNAAN LAHAN KABUPATEN MAJALENGKA TAHUN 2004
NO PENGGUNAAN TANAH KAWASAN LINDUNG (Ha)
KAWASAN BUDIDAYA (Ha) JUMLAH KAWASAN BUDIDAYA JUMLAH WTU I WTU II 0-25% 25-40% 0-25% 25-40% 1 Permukiman 45 45 45 1a Kampung 1.327 718 2.045 2.045 1b Perumahan 2 Industri 24 24 24 3 Perusahaan 4 Jasa 12 12 12 5 Non Pertanian 5a Sawah 12.996 41.142 41.142 54.138 5b Tegalan 5.580 6.748 6.748 12.327 5c Kebun/ Kebun Campuarn 6.494 3.133 1.566 3.525 1.175 9.399 15.892
5d Perkebunan 3.435 3.435 3.435 5e Hutan 9.187 5.529 9.896 15.425 24.612 5f tambak 5g Kolam 575 575 575 6 Perairan
6a Danau/ Waduk/ Situ 189 189
6b Rawa
7 Pengg. Tanah Lain 7.517 7.517 7.517 7a Lap. Olah Raga
199 132 331 331 JUMLAH 34.445 86.697
NO PENGGUNAAN TANAH KAWASAN LINDUNG (Ha)
KAWASAN BUDIDAYA (Ha) JUMLAH KAWASAN BUDIDAYA JUMLAH WTU I WTU II 0-25% 25-40% 0-25% 25-40% 1 Permukiman 45 45 45 1a Kampung 1.327 718 2.045 2.045 1b Perumahan 2 Industri 24 24 24 3 Perusahaan 4 Jasa 12 12 12 5 Non Pertanian 5a Sawah 12.996 41.142 41.142 54.138 5b Tegalan 5.580 6.748 6.748 12.327 5c Kebun/ Kebun Campuarn 6.494 3.133 1.566 3.525 1.175 9.399 15.892
5d Perkebunan 3.435 3.435 3.435 5e Hutan 9.187 5.529 9.896 15.425 24.612 5f tambak 5g Kolam 575 575 575 6 Perairan
6a Danau/ Waduk/ Situ 189 189
6b Rawa
7 Pengg. Tanah Lain 7.517 7.517 7.517 7a Lap. Olah Raga 199 132 331 331
62.168 9.083 4.375 11.071 121.142 % 28,43 51,32 7,50 3,61 9,14 71,57 Sumber : Buku Potensi Wilayah, BPN Kabupaten Majalengka 2004
Gambar 3.2
Gambar 3.3 Peta Penggunaan Lahan
3.2.4 Kondisi Kependudukan
Penduduk Kabupaten Majalengka pada tahun 2007 berjumlah 1.188.189 jiwa, dengan komposisi 588.321 jiwa berkelamin laki laki dan 599.868 jiwa berkelamin perempuan dengan tingkat kepadatan penduduk mencapai 987 jiwa/Km2. Sedangkan jumlah penduduk untuk SKW Talaga yaitu berjumlah 391.100 jiwa. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3.5 Jumlah Penduduk per Kecamatan Kabupaten Majalengka Tahun 2007.
Tabel 3.5
Jumlah Penduduk Di SKW Talaga Kabupaten Majalengka Tahun 2007
No Kecamatan Jenis Kelamin Jumlah
Laki-laki Perempuan 1 Lemahsugih 28 225 28 916 57 141 2 3 Bantarujeg Malausma 42 923 44 208 87 131 4 Cikijing 30 013 30 209 60 222 5 Cingambul 18 045 18 381 36 426 6 Talaga 21 788 22 200 43 988 7 Banjaran 12 151 12 298 24 449 8 Argapura 17 210 17 576 34 786 9 Maja 23 192 23 762 46 954 Jumlah 193.547 197.550 391.100
Sumber : Majalengka Dalam Angka, Tahun 2007
3.2.5 Kondisi Transportasi
Pada sub bab ini akan dibahas mengenai kondisi transportasi di Kabupaten Majalengka yang meliputi kondisi jaringan jalan, terminal, dan bandara.
A. Jaringan Jalan
Jaringan sistem transportasi regional pada Wilayah Kabupaten Majalengka hanya berupa jaringan transportasi jalan raya dengan jalan arteri primer pada zona Dawuan-Jatiwangi. Kabupaten Majalengka, tepatnya Kota Kadipaten, dilalui oleh Jalan Negara yang menghubungkan Ibukota Provinsi Jawa Barat dan Jawa Tengah
melalui Kota Cirebon. Data nomor ruas jalan di Kabupaten Majalengka disajikan pada Tabel 3.6.
Tabel 3.6
Ruas Jalan Di SKW Talaga Kabupaten Majalengka
No Pangkal Ruas Ujung Ruas No Pangkal Ruas Ujung Ruas
1 Maniis Campaga 31 Sukasari Palasari
2 Rawa Maniis 32 Cihaur Haurgeulis
3 Cingambul Cikondang 33 Cicalung Sindang
4 Cikondang Kondangmekar 34 Banjaran Anggrawati
5 Cingambul Nagarakembang 35 Paniis-Haurseah
Sp. Paniis
6 Bantarujeg Malausma 36 Lebaklarang Anggrawati
7 Cimuncang Malausma 37 Anggrawati Kulur
8 Cigaleuh Werasari 38 Asromo Mekarwangi
9 Tembong Jaga 39 Maja Pasanggrahan
10 Padarek Kalapadua 40 Salagedang Nanggewer
11 Haurgeulis Cikidang 41 Salagedang Sindang
12 Salawangi Lampuyang 42 Cikeusik Sindang
13 Cikidang Gununglarang 43 Pajajar Payung
14 Malausma Babakan 44 Talaga Sukamantri
15 Malausma Walahir 45 Talaga Sangiang
16 Lemahsugih Cipasung 46 Talagakulon Sangiang
17 Cipasung Malausma 47 Cibodas Candana
18 Cipasung Haurendeng 48 Wates Sangiang
19 Margajaya Lemahsugih 49 Banjaran Sarangpeuteuy
20 Sadawangi Kepuh 50 Sindangpala Sangiang
21 Lemahsugih Cibulan 51 Cikijing Cikondang-Cisoka
22 Beusi Beber 52 Cidulang Citaman
23 Leuweunghapit Kodasari 53 Kasturi Kancana
24 Kertasari Karanganyar 54 Cipulus Gunungmanik
25 Leuweunghapit Kedungkencana 55 Banjarsari Argasari
26 Cipaku Pilangsari 56 Maja Garawastu
27 Mekarjaya Sanyere 57 Tegalsari Cibunut
28 Kertajati Kertasari 58 Argalingga Argamukti
29 Maodin Sukajaya 59 Sadasari Haurseah
30 Maja Sukahaji 60 Argamukti Sangiang
Melihat ruas-ruas jalan yang terdapat di Kabupaten Majalengka maka daerah-daerah di Kabupaten Majalengka hampir seluruhnya sudah dapat dijangkau oleh kendaraan bermotor. Selain dari ruas jalan arteri yang menghubungkan Kota Kadipaten – Kecamatan Dawuan – Kecamatan Jatiwangi – Kecamatan Palasah- Kecamatan Sumberjaya yang merupakan bagian dari ruas jalan Bandung-Cirebon, ruas jalan penting lainnya yang berperan dalam perhubungan Wilayah Pengembangan di Kabupaten Majalengka adalah ruas jalan kolektor yaitu :
1. Ruas jalan Kota Majalengka – Kota Kadipaten – Kecamatan Kertajati – Kecamatan Jatitujuh menuju Indramayu
2. Ruas jalan Kota Majalengka – Kecamatan Cigasong – Kecamatan Maja – Kecamatan Talaga – Kecamatan Cikijing menuju Kuningan
3. Ruas Cigasong – Kecamatan Jatiwangi
Untuk ruas-ruas jalan lainnya diluar jalan arteri dan jalan kolektor adalah ruas jalan lokal yang menyebar di seluruh bagian wilayah Kabupaten Majalengka. Ruas-ruas jalan lokal ini menghubungkan jalan arteri dan jalan kolektor dengan daerah sekitarnya.
Secara hirarki jalan, fungsi jalan Kabupaten Majalengka dibedakan menjadi beberapa bagian, yaitu:
1. Arteri Primer yang berfungsi menghubungkan kota-kota atau jalur regional. Termasuk kedalam kategori ini adalah jalan yang menghubungkan Kadipaten – Sumberjaya dengan panjang jalan 25,9 Km dan termasuk jalan negara.
2. Kolektor Primer yang merupakan penghubung antara pusat antar kota/kabupaten. Termasuk kedalam kategori ini adalah jalan yang menghubungkan Kabupaten Majalengka dengan Kabupaten Kuningan (Majalengka – Maja – Talaga - Cikijing) dengan panjang jalan 55,33 Km berkondisi baik.
3. Kolektor Sekunder yang berfungsi sebagai penghubung antar bagian wilayah kota di Kabupaten Majalengka. Termasuk kedalam kategori ini adalah Talaga – Bantarujeg –Lemahsugih.
4. Lokal Primer, merupakan jalan penghubung antar Kecamatan dalam Kabupaten Majalengka, status jalan ini milik Kabupaten dan umumnya dalam kondisi sedang.
5. Lokal Sekunder, merupakan jalan penghubung dalam lingkungan permukiman/perdesaan dengan status milik Kabupaten dan umumnya dalam kondisi rusak.
Jika dilihat dari jarak pusat Kecamatan ke pusat Kabupaten Majalengka dan kelas jalan, maka umumnya kondisi jalan dalam kondisi baik dengan jarak terjauh Kecamatan Lemahsugih (36 Km). Selain itu dengan adanya rencana pembangunan jalan tol Cisumdawu yang melewati Kabupaten Majalengka, maka hal ini akan memberikan kemudahan bagi para wisatawan untuk berkunjung ke Kabupaten Majalengka. Tabel berikut menggambarkan aksesibilitas pusat Kecamatan ke pusat kabupaten di Kabupaten Majalengka.
Tabel 3.7
Jarak Pusat Kecamatan Ke Pusat Kota Majalengka, Kelas dan Kondisi Jalan No Kecamatan Jarak
Kelas Dan Kondisi Jalan
Kelas I Kelas III Kelas IIIA Kelas IV Km Kondisi Km Kondisi Km Kondisi Km Kondisi
1 Argapura 13 1 Baik 12 Baik
2 Banjaran 7 7 Baik
3 4
Bantarujeg
Malausma 15 3 Baik 12 Baik
5 Cikijing 23 23 Baik
6 Cingambul 28 28 Baik
7 Lemahsugih 26 26 Sedang
8 Maja 23 8 Baik 15 Baik
9 Talaga 20 5 Baik 15 Baik
Sumber : RTRW Kabupaten Majalengka,Tahun 2005-2015
B. Terminal
Terminal merupakan tempat peralihan/perpindahan penumpang orang dan barang dari sistem transportasi yang satu ke sistem transportasi yang lainnya sebagai tuntutan wajar untuk efisiensi dalam sistem transportasi. Terminal selain sebagai
bagian integral dari suatu sistem lalu lintas dan angkutan jalan raya juga berupa bagian dari tata ruang kota yang membantu efisiensi pemanfaatan jalan.
Selain itu dengan adanya terminal, maka akan memudahkan penduduk untuk melakukan perjalanan baik ke dalam maupun keluar Kabupaten Majalengka. Pada saat ini Kabupaten Majalengka memiliki terminal antar wilayah yang terdapat di Kecamatan Kadipaten dengan klasifikasi terminal C.
Tabel 3.8
Terminal Di Kabupaten Majalengka
No Terminal/ Sub Terminal Jenis Terminal Luas (M2) Penumpang Barang 1 Bantarujeg X - 1000 2 Cikijing X - 4132 3 Talaga X - 6180 4 Maja X - 3153
Sumber : RTRW Kabupaten Majalengka Tahun 2005-2015
3.3 Gambaran Umum Kepariwisataan Satuan Kawasan Talaga Kabupaten Majalengka
3.3.1 Karakteristik Objek dan Daya Tarik Wisata SKW Talaga
Berdasarkan Undang-undang No.9 Tahun 1990 objek daya tarik wisata dapat dikelompokan menjadi 3 bagian yaitu objek dan daya tarik wisata alam, objek dan daya tarik wisata budaya;dan objek dan daya tarik wisata minat khusus.
Kabupaten Majalengka termasuk ke dalam kawasan wisata budaya pesisir Cirebon yang memiliki sejumlah obyek dan daya tarik wisata yang yang pada umumnya masih dalam tahap pengembangan dan masih memerlukan banyak pembenahan untuk menempatkan kabupaten ini sebagai salah satu daerah tujuan wisata di Jawa Barat. Obyek dan daya tarik wisata yang terdapat di SKW Talaga
Kabupaten Majalengka berupa objek daya tarik wisata alam, objek daya tarik wisata budaya, maupun objek daya tarik wisata minat khusus.
Tabel 3.9
Satuan Kawasan Wisata Kabupaten Majalengka SKW Wilayah
Kecamatan
Objek dan Daya Tarik Wisata
Inti Objek dan Daya Tarik Wisata Penyangga Wisata Wisata Luar Talaga Leumahsugih, Bantarujeg, Talaga, Cingambul, Cikijing, Malausma, Maja, Argapura, dan Banjaran. Air TerjunMuara Jaya Air TerjunSawer Air Terjun Cibali Air Terjun Cilutung Situ Sangiang Situ Resmi Situ Batu Kebun Teh Cipasung Gunung Ciremai Panorama Cikebo Museum Talaga Manggung Makam Eyang Natakusuma Makam Buyut Israh Panorama Lemah Putih Air TerjunMuara Jaya Air TerjunSawer Situ Resmi Pendakian Gunung Cermai Air TerjunCilutu ng Kebun Teh Cipasung Situ Sangiang Air TerjunCilutu ng Situ Batu Air Terjun Cibali Panorama Lemahputih. Makam Buyut Israh Makam Eyang Natakusuma Museum Talaga Manggung Panorama Cikebo
Sumber : RIPPDA Kabupaten Majalengka, Tahun 2008
A. Objek Daya Tarik Wisata Alam SKW Talaga
Objek dan daya tarik wisata alam merupakan usaha pemanfaatan sumber daya alam dan tata lingkungannya untuk dijadikan sasaran wisata. Adapun kriteria yang termasuk dalam objek daya tarik wisata alam antara lain :
Pengelolaan dan pemanfaatan taman nasional Pembangunan dan pengelolaan taman wisata,
Pembangunan dan pengelolaan taman hutan raya
Adapun Objek Daya Tarik Wisata yang termasuk dalam kriteria wisata alam di Satuan Kawasan Talaga Kabupaten Majalengka yang memiliki berbagai jenis obyek wisata alam, diantaranya yaitu situ dan talaga, curug, panorama alam, serta pendakian gunung. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat di bawah ini.
Tabel 3.10
Objek dan Daya Tarik Wisata Alam di Kabupaten Majalengka
NO NAMA OBJEK WISATA ALAM LOKASI (Kecamatan)
1 Air TerjunMuara Jaya Argapura
2 Air TerjunSawer Argapura
3 Air Terjun Cibali Cingambul
4 Air Terjun Cilutung Talaga
5 Situ Sangiang (Makam Sunan Parung) Banjaran
6 Situ Resmi Argapura
7 Kebun Teh Cipasung Lemahsugih
8 Pendakian Gunung Ceremai Argapura
Sumber : Dinas Pariwisata Kabupaten Majalengka, Tahun 2008
Kabupaten Majalengka memiliki berbagai air terjun/curug yang cukup potensial untuk dikembangkan dengan segala potensi dan masalah yang dihadapinya. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat uraian dibawah ini.
Air TerjunMuara Jaya
Seperti namanya, curug (air terjun, Bahasa Sunda), hanya sepasang air terjun yang tumpahan airnya mengalir deras membelah di puncak bukit. Tumpahan air itu menyajikan panorama indah pada birunya langit, sejuknya udara, dan hijaunya pepohonan yang menyelimuti suasana wisata yang berada di Kecamatan Argapura. Selain itu terdapat pula lapangan sebagai areal untuk camping bagi para pengunjung, tempat ini dapat dijadikan alternatif bagi pengunjung yang memiliki hobi berpetualang. Selain menjanjikan ketenangan dan ketenteraman, juga kedamaian menjadi perpaduan yang kompak untuk menunjang daya tarik tersendiri, tetapi pada saat ini area camping tersebut belum begitu berkembang.
Air TerjunMuara Jaya berada di Desa Argamukti, Kecamatan Argapura yang didirikan pada tahun 1999. Dimana jarak yang harus ditempuh untuk menuju Air Terjunini yaitu +14 km dari pusat kota Majalengka. Luas Air TerjunMuara Jaya sebesar +2 Ha. Jarak dari tempat parkir menuju Air Terjuntersebut yaitu +300 m berupa jalan setapak yang telah menggunakan paping blok. Objek Wisata Air TerjunMuara Jaya menawarkan keindahan alam dengan panorama air terjun setinggi 73 m yang terdiri dari tiga umpak. Udara yang sejuk dengan hamparan sayur mayur dan pohon kesemek menjadi daya tarik bagi peminat wisata alam. Kawasan ini merupakan jalur alternatif pendakian ke puncak Gunung Ceremai, disamping itu dilokasi ini pada setiap tahunnya digelar upacara pareresan yang dilakukan setelah panen raya. Objek wisata ini banyak diminati oleh pengunjung, dengan rata-rata jumlah pengunjung pada hari libur sebanyak +200 pengunjung, dan pada hari biasa +20 pengunjung dengan harga tiket masuk sebesar Rp. 4.000/orang. Sedangkan Jumlah pengunjung pada tahun 2007 berjumlah 15.782 pengunjung dan pada tahun 2005 berjumlah 32.300 pengunjung, dari tahun 2005 – tahun 2007 mengalami penurunan tingkat kunjungan.
Fasilitas yang terdapat di Air TerjunMuara Jaya yaitu tempat parkir, tempat bermain anak-anak, bale pertemuan, toilet, warung, shelter, mushola, camping ground, dan loket (karcis). Jalan menuju objek wisata, dari pasar Maja sudah cukup baik dengan konstruksi aspal, kondisinya sudah lebar sehingga dapat dilewati oleh kendaraan mobil dua arah dengan lancar tetapi disebagian wilayah terdapat jalan yang masih rusak tidak adanya sarana transportasi berupa angkutan umum yang menuju ke Air Terjuntersebut, melainkan hanya mobil bak terbuka dan ojek.
Air TerjunSawer
Air TerjunSawer terletak di Desa Argalingga, Kecamatan Argapura. Dimana jarak yang harus ditempuh untuk menuju Air Terjunini yaitu +12 km dari pusat kota Majalengka. Luas Air TerjunSawer sebesar +2.986 m2. Objek wisata ini sangat berpotensi untuk dikembangkan menjadi objek dan daya tarik wisata alam karena memiliki keindahan curug. Kendala dan permasalahan yang di hadapai objek wisata ini kurangnya akses menuju tempat wisata ini dan kondisi jalan yang sangat curam untuk menuju lokasi tersebut sehingga pengunjung mengalami kesulitan untuk mencapai wisata tersebut. Tidak hanya itu objek dan daya tarik wisata ini tidak ada restribusi dan tidak adanya pengelola dari pihak swasta maupun pemerintah setempat, sehingga kurang terawat dan kurangnya minat pengunjung bahkan tidak adanya pengunjung.
Air Terjun Cibali
Objek dan daya tarik wisata ini terletek di Desa Cikondang Kecamatan Cingambul yang memiliki jarak +24 km dari pusat kota Majalengka. Objek wisata ini pada umumnya sering di kunjungi oleh para pelajar yang datang pada waktu libur. Objek wisata Air Terjun Cibali ini belum dikelola, dan sangat baik apabila dikelola oleh pihak swasta atau pemerintah sehingga akan menambah penerimaa pendapatan daerah. Untuk akses menuju lokasi tersebut kurang baik dan angkutan umum yang menuju ke tempat wisata ini belum ada. Sedangkan fasilitas di objek wisata ini belum dibangun.
Air Terjun Cilutung
Terletak di Desa Talaga Kulon Kecamatan Talaga dengan jarak tempuh +16 Km dari pusat Kota Majalengka. Objek Wisata ini memiliki potensi yang sangat baik untuk di kembangkan, namun lokasi ini belum tersentuh oleh pemerintah Kabupaten Majalengka. Akses menuju lokasi tersebut sudah cukup baik tetapi belum adanya angkutan umum untuk menuju lokasi tersebut. Objek wisata ini perlu adanya penanganan atau perhatian khusus untuk menangani potensi pariwisata yang ada di Desa Talaga Kulon, sehingga Air Terjun Cilutung dapat di kembangkan menjadi objek wisata yang dapat menarik minat pengunjung.
Situ Sangiang (Makam Sunan Parung)
Situ Sangiang terletak di Desa Sangiang, Kecamatan Banjaran yang didirikan pada tahun 1998, dimana jarak yang harus di tempuh untuk menuju obyek wisata ini yaitu +15 km dari pusat kota Majalengka. Luas keseluruhan objek wisata ini yaitu +107 Ha, sedangkan untuk luas Situ Sangiang yaitu +19,7 Ha. Objek wisata ini dikelola oleh TNGC (Taman Nasional Gunung Ceremai) dan KOMPEPAR (kelompok penggerak pariwisata).
Objek wisata Situ Sangiang memiiki panorama yang indah dengan hamparan situ/danau, dalam Situ Sangiang hidup ikan mas dan ikan lele yang menurut masyarakat setempat dipercaya sebagai penjelmaan prajurit Talaga Manggung. Selain situ di tempat ini terdapat makam kramat Sunan Parung yang menjadi tujuan utama para pengunjung untuk berziarah. Sambil menikmati keindahan panorama Situ Sangiang, pengunjung dapat berkeliling menggunakan jalan setapak melihat pepohonan yang berumur ratusan tahun dan satwa liar seperti kera dan lutung.
Akses menuju objek wisata ini cukup baik, jalan menuju objek wisata, dari arah wates sudah cukup baik dengan konstruksi aspal, kondisinya lebar cukup untuk mobil
dua arah tetapi seterusnya kondisi jalan yang rusak dan tidak adanya angkutan umum yang menuju kesana, melainkan hanya mobil bak terbuka atau ojek dan kurangnya pasokan air bersih. Rata-rata pengunjung ke objek ini yaitu +800 – 1000 pengunjung/bulan (80% wisata ziarah dan 20% wisata ke situ). Pada tahun 2007 jumlah pengunjung yaitu 8.387 pengunjung sedangkan pada tahun 2005 jumlah kunjungan ke objek wisata ini yaitu 20.600 pengunjung, dengan harga tiket masuk Rp.3000/orang. Sedangkan untuk fasilitas yang terdapat disana yaitu loket karcis, toilet, parkir, dan tempat istirahat.
Situ Resmi
Situ Resmi terletak di Desa Sukasari, kecamatan Argapura. dengan jarak tempuh +9 km dari pusat Kota Majalengka. Situ ini memiliki luas sebesar +1 Ha. Objek wisata ini tidak dikelola oleh pihak swasta ataupun pemerintah sehingga tidak terawat. Pengunjung Situ Resmi sudah kurang peminatnya meskipun ada hanya masyarakat setempat yang
berkunjung ke objek wisata tersebut. Untuk akses menuju lokasi ini kurang baik dan angkutan umum menuju lokasi ini hanya menggunakan ojek sedangkan fasilitas di objek wisata ini belum ada.
Kebun Teh Cipasung
Terletak di Desa Cipasung Kecamatan Lemahsugih yang memiliki luas +58 Ha, dengan jarak +32 Km dari pusat Kota Majalengka. Kebun Teh KNPI memiliki
keindahan alam yang menarik di bandingkan objek wisata yang lainnya yang ada di Kabupaten Majalengka maupun di luar Kabupaten Majalengka. hal ini terlihat dari jumlah pengunjung pada tahun 2005 berjumlah 5.000 orang. Akses menuju lokasi wisata tersebut kurang baik dan belum adanya angkutan umum yang menuju lokasi tersebut. Fasilitas yang dimiliki objek wisata ini kurang seperti tidak adanya lahan parkir, kios pedagang, dan fasilitas lainnya. Pengunjung yang datang kelokasi objek wisata ini pada hari libur bisa di katakan cukup banyak yang mencapai 50-100 orang per harinya. Sedangkan untuk tiket ke lokasi wisata ini yaitu Rp.3.500,-/orang. Kebun Teh Cipasung ini dikelola oleh Koperasi Buana Mukti.
Pendakian Gunung Ceremai
Pendakian Gunung Ceremai terletak di Desa Argamukti, Kecamatan Argapura. Yang menjadi daya tarik ini adalah puncak Gunung Ceremai, pendakian dan keindahan alamnya. Akses untuk mencapai lokasi ini kurang baik dan tidak dapat di tempuh oleh angkutan umum, dengan harga tiket untuk pendakian ini yaitu Rp. 6.500,-/orang. Peran pemerintah setempat untuk lokasi ini kurang dan hanya di kelola oleh TNGC (Taman Nasional Gunung Ceremai). Rata rata jumlah pendaki untuk tiap bulannya mencapai 100 orang sedangkan untuk hari besar seperti tahun baru dan 17 Agustus jumlah pengunjung atau pendaki Gunung Ceremai mencapai 500 – 800 orang. Kendala atau permasalahan yang di hadapi oleh objek wisata ini kurangnya aksesibilitas untuk mencapai lokasi tersebut sehinnga pengunjung atau pendaki
Gunung Ceremai mengalami kesulitan, dan adanya pengunjung nakal yang dapat merusak lingkungan atau alam sekitar.
B. Objek Daya Tarik Wisata Minat Khusus
Objek dan daya tarik wisata budaya merupakan usaha pemanfaatan seni budaya bangsa untuk dijadikan sasaran wisata. Kriteria wisata budaya ini dapat dibedakan menjadi beberapa kriteria antara lain;
Pengelolaan peninggalan sejarah, antara lain candi, keraton, dan prasasti; Pengelolaan dan/atau pembangunan museum
Pembangunan dan atau pengelolaan pusat-pusat kesenian dan budaya, antara lain sanggar tari, sanggar seni pentas, dan sanggar seni lukis;
Pembangunan dan pengelolaan taman rekreasi; Pembangunan dan pengelolaan tempat hiburan;
Pembangunan dan pengelolaan taman satwa, antara lain Taman Buaya Blanakan;
Pengelolaan monumen
Secara terinci kita dapat mengelompokannya dalam beberapa bagian diantaranya objek wisata :
Panorama Lemahputih
Panorama Lemahputih terdiri dari dua objek wisata yang berdampingan yaitu Buana Marga (Taman Dinasaurus) dan Buana Puri (tempat hiburan, kolam renang, lapangan
golf, cafe) yang terletak di Desa Lemahputih, Kecamatan Lemahsugih, yang memiliki jarak +27 km dari pusat kota Majalengka dengan luas mencapai +20 Ha yang di kelola oleh perseorangan yaitu Bapak H. Girri.
Objek wisata ini merupakan perpaduan antara jenis wisata alam dan buatan. Untuk mencapai lokasi wisata tersebut dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umun, baik kendaraan roda dua maupun roda empat. Setiap wisatawan yang bermaksud mengunjungi objek wisata ini dengan menggunakan kendaraan umum dapat menggunakan kendaraan jurusan Talaga – Bantarujeg, Bantarujeg - Lemahsugih dengan kondisi jaringan jalan cukup baik. Rata-rata pengunjung untuk setiap harinya bisa mencapai 50 orang, untuk hari libur mencapai lebih dari 100 orang, sedangkan untuk event-event tertentu bisa mencapai limaratus orang atau lebih. Untuk pendapatan dari objek dan daya tarik wisata ini pada tahun 2003 dapat menghasilkan sampai 4 – 6 juta/hari.
Daya tarik obyek wisata ini adalah pemandangan alam yang indah menghijau dan luas serta yang menjadi ciri khas dari obyek ini adalah patung dinosaurus. Fasilitas yang terdapat di objek wisata ini yaitu kolam renang, maianan anak yang terhitung representatif, sirkuit motor cross, lapangan golf, cafetaria dan panggung hiburan. Pengunjung dapat melanjutkan perjalanan menuju kebun teh Cipasung yang terhampar luas dengan fasilitas olahraga outbond yang dapat memberikan pengalaman yang berbeda dalam perjalanan wisata. Tetapi pada saat ini sudah tidak dikelola lagi oleh pemiliknya bahkan objek wisata ini akan dijual atau dilelang kepada pihak lain atau pemerintah. Sehingga objek dan daya tariik wisata ini sudah tidak terawat lagi.
C. Objek Daya Tarik Wisata Minat Khusus . Museum Talaga Manggung
Museum Talaga Manggung berada di Desa Talaga Wetan, Kecamatan Talaga. Dimana jarak yang harus ditempuh untuk menuju ke museum ini yaitu +15 km dari pusat kota Majalengka. Akses menuju lokasi tersebut sudah baik, dimana tidak hanya bisa di tempuh oleh kendaraan pribadi melainkan dapat di tempuh oleh angkutan umum
seperti Maja – Cikijing, Cikijing – Bandung dan sebagainya. Banyaknya peninggalan sejarah dari Kerajaan Talaga Manggung seperti kereta kencana, peralatan perang, dan alat kesenian, yang menjadi daya tarik tersendiri, dan adanya adat memandikan perkakas yang rutin dilaksananakan setahun sekali. Pengunjung yang datang kelokasi wisata budaya ini pada umumnya pelajar. Untuk tiket masuk pada lokasi wisata budaya ini tidak ada ketentuan biaya yang harus di keluarkan hanya sebatas sumbangan sukarela. Serta masih kurangnya fasilitas penunjang yang ada di Museum Talaga Manggung.
Selain Museum Telaga Manggung, di Kabupaten Majalengka terdapat dua tempat bersejarah lainnya seperti Monumen Perjuangan Kawunghilir (Ceper, Baki tempat sirih, peti kayu besar, dan senjata) yang berada di Desa Cigasong dan Tugu Peringatan Riwayat Bangun Rangin yang berada di Kecamatan Jatitujuh.
3.4
3.3.2 Profil Wisatawan
Profil wisatawan akan memaparkan kajian tentang asal wisatawan pengunjung objek wisata, objek/ daya tarik wisata yang diminati oleh para wisatawan, serta proyeksi mengenai karakteristik wisatawan di Kabupaten Majalengka. Data kunjungan wisatawan mencakup kelompok wisatawan nusantara dan wisatawan mancanegara. Wisatawan yang berkunjung ke objek wisata di Kabupaten Majalengka dominan merupakan wisatawan nusantara yang berasal dari daerah Kabupaten Majalengka sendiri serta dari daerah lain seperti Indramayu, dan Cirebon.
Umumnya para wisatawan yang pernah datang akan mempunyai keinginan untuk berkunjung lagi. Hal ini disebabkan selain karena keindahan alam juga keaneka ragaman dari objek wisata yang ada di Kabupaten Majalengka. Pada tahun 2005-2007 perkembangan jumlah kunjungan Wisatawan mengalami penurunan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini.
Tabel 3.11
Perkembangan Jumlah Wisatawan di Kabupaten Majalengka Tahun 2005 – Tahun 2007
No Uraian
Jumlah Kunjungan Wisatawan (Orang)
2005 2006 2007
Wisnus Wisman Wisnus Wisman Wisnus Wisman
1 Curug Muara Jaya 29.977 - 30.508 - 35.215 -
2 Curug Sawer * * * * * *
3 Air Terjun Cibali * * * * * *
4 Air Terjun Cilutung * * * * * *
5 Situ Sangiang 22.352 - 23.245 - 28.182 -
6 Situ Resmi * * * * * *
7 Kebun Teh Cipasung 4.225 - 4.988 - 6.972 -
8 Pendakian Gunung Ciremai 5.125 - 5.664 - 7.011 - 9 Panorama Lemah Putih 7.452 - 7.856 - 7.256 -
10 Taman Buana Puri 6.224 - 6.451 - 6.125 -
11 Museum Talaga Manggung 4.052 - 4.108 - 5.257 -
Sumber : - Dinas Perindustrian, Perdagangan, dan Pariwisata Kabupaten Majalengka, Tahun 2007
3.3.3 Komponen Pendukung Pariwisata A. Akomodasi
Akomodasi merupakan rumah sementara bagi para wisatawan, adapun akomodasi yang terdapat di Kecamatan Majalengka meliputi penginapan, pondok wisata. Penyediaan penginapan/hotel dan rumah makan di kawasan wisata termasuk sarana penunjang dalam pengelolaan pariwisata, selain itu dapat memberikan kontribusi dalam peningkatan pendapatan daerah khususnya dibidang pariwisata. Untuk sarana penginapan di Kabupaten Majalengka berupa Hotel Melati dengan jumlah 9 unit, sedangkan untuk rumah makan berjumlah 15 unit. Untuk sarana penginapan dan rumah makan yang ada dalam menunjang kegiatan kepariwisataan di Kabupaten Majalengka dapat di lihat pada tabel di bawah ini. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel III.
Data Hotel Melati Di Kabupaten Majalengka Tahun 2007 No.
Nama dan Alamat Lengkap (No. Telp./Fax.) Hotel
Melati
Nama pemilik/ pengelola No. Dan
Tanggal
Hotel Melati Jumlah Kunjungan Jumlah Tenaga Kerja Tarif, Lama Tinggal dan Tingkat Hunian Kamar Fasilitas Melati (1,2,3) Jumlah Kamar Jumlah
T.Tidur Wisman Wisnus Total Pria Wanita Total
1. Tidar Jaya
Jl. Kartini Majalengka
Ira Rahayu Melati
2 21 35 0 3306 3306 9 2 11 Rp.30.000-s/d Rp.90.000 No.155 Th.2005 2 hari,10% 2. Sederhana Baru Jl. KH Abdul Halim
Ny. Findy Melati
2 15 30 0 1276 1276 2 1 3
Rp.30.000-s/d Rp.90.000 1 hari,10% 3. Hotel Putra Jaya
Jl. KH Abdul Halim Hj. Nonoh Noroniah Melati 2 20 35 0 4697 4697 8 4 12 Rp.30.000-s/d Rp.150.000 Swiming pool, Ac No.24 Th.2006 2 hari,30% 4. Nusa Indah Jl. Raya Kadipaten
Hj.Eli Wartem Melati
2 41 50 0 4557 4557 12 0 12 Rp.30.000-s/d Rp.75.000 No.155 Th.2005 1 hari,30% 5. Familie
Jl. Raya Pasar Balong Kadipaten
Ir.Apet Urip Melati
2 30 35 0 429 429 5 1 6 Rp.25.000-s/d Rp.30.000 No.214 Th.2005 1 hari,30% 6. Libra Jl. Brawijaya Kadipaten
Adhi Atman Buana Melati
2 16 20 0 467 467 5 2 7 Rp.40.000-s/d Rp.100.000 No.3 Th.2005 1 hari,30% 7. Saputra
Jl. Raya Pasar Balonng Kadipaten O. Nurbukat Melati 2 14 20 0 402 402 2 2 4 Rp.20.000-s/d Rp.25.000 No.214 Th.2005 1 hari,30% 8. Penginapan Enggal Jl. Raya Kadipaten
Mulya Gunawan Melati
2 9 18 0 591 591 4 2 6 Rp.20.000-s/d Rp.30.000 1 hari,30% 9. Sindang Mulya Jl. Raya Kadipaten
Hj. Ika Mustika Melati
2 18 18 0 534 534 1 3 4
Rp.20.000-s/d Rp.40.000 1 hari,30%
Jumlah - 16.259
No Nama dan Alamat Pengelola/ Pemilik
Jumlah Jumlah Tenaga Kerja
Jumlah Hidangan Yang
Disajikan Penyajian
Meja Kursi Pria Wanita Sunda Daerah
Lain Asing Prasmanan Permintaan
1 RM. Sindangheula Jl. Talaga - Majalengka H. Ano 8 48 1 8 √ - - √ √ 2 RM. Nuraeni Jl. Suma - Majalengka Nuraeni 4 24 - 6 √ - - √ - 4 RM. Heroy Jl. Tonjong – Majalengka Euis 4 24 - 5 √ - - √ √ 5 RM. Ibu Djaenal Jl. Raya Cikijing – Majalengka Hj. Djaenal 4 24 - 5 √ - - √ √ 6 RM. Anda Jl. Raya Cihaur – Maja N. N 6 36 - 4 √ - - √ √ 7 RM. Panyileukan Jl. Raya Cirebon – Maja - 6 36 - 6 √ - - √ √ 8 RM. Raos Jl. Raya Maja - 6 36 2 4 √ √ - √ √ 9 RM. Saputra Jl. Raya Barat Kadipaten - 6 36 - 4 √ - - √ √ 10 RM. Mina Jl. Raya Barat Kadipaten - 6 36 - 4 √ - - √ √ 11 RM. Mega Minang Jl. Raya Barat kadipaten - 6 30 - 3 √ - - √ √ 12 RM. Chandra - 6 36 2 4 √ - - √ √
No Nama dan Alamat
Pemilik
Meja Kursi Pria Wanita Sunda Daerah
Lain Asing Prasmanan Permintaan
Jl. Raya S. Sukani – Jatiwangi 13 RM. Ulum Jl. Raya Sindangwangi - - - - 14 RM. Santani Jl. Raya SIndangwangi - - - - 15 RM. Ibu Usman Jatiwangi - - - - Jumlah - 86 537 11 68 0 0 0 0 0
tempat. Dalam menuju objek wisata yang berada di Kabupaten Majalengka, jaringan jalan merupakan hal yang sangat penting. Jaringan sistem transportasi regional pada wilayah Kabupaten Majalengka hanya berupa jaringan transportasi jalan raya dengan jalan arteri primer pada zona Dawuan-Jatiwangi. Kabupaten Majalengka, tepatnya Kota Kadipaten, dilalui oleh Jalan Negara yang menghubungkan Ibukota Provinsi Jawa Barat dan Jawa tengah melalui Kota Cirebon.
Sebagian besar objek wisata Kabupaten majalengka telah terhubung oleh jaringan jalan meskipun kondisi jalan di beberapa ruas jalan menuju objek wisata masih ada yang kurang baik. Sarana transportasi merupakan sarana penghubung ke seluruh zona kegiatan kota. Selain itu dengan adanya sistem transportasi yang baik akan sangat menunjang peningkatan pengembangan kota. Fasilitas transportasi yang ada di Kabuapten Majalengka adalah 1 terminal antar wilayah yang berada di Kecamatan Kadipaten dengan klasifikasi terminal tipe C, dan 7 terminal lokal serta Lanud TNI AU-Sukani serta adanya rencana pembangunan Bandar Udara Internasional Jawa Barat diKertajati.
Tabel 3.14
Jaringan Trayek Angkutan Umum
Di Satuan Kawasan Wisata Talaga Kabupaten Majalengka Tahun 2007 No Kode Trayek Lintasan Trayek
Jumlah Kendaraan
(Unit)
1 14.1386 Terminal Cigasong – Tajur – Maja 31
2 14.1408 Maja – Malongpong – Cipicung 28
3 14.1383 Maja – Padahanten – Sukahaji 55
4 14.1404 Talaga – Bantarujeg – Sadawangi – Kepuh 4
5 14.1405 Talaga – Bantarujeg – Lemahsugih 45
6 14.1378 Cikijing – Maniis – Jahim 1
7 14.0943 Cikijing – Talaga - Maja 70
8 14.1385 Cikijing – Majalengka – Kadipaten 112
9 14.1410 Talaga – Bantarujeg – Kalapadua 2
Majalengka yaitu 1.197 unit kendaraan, dengan rincian sebagai berikut : 1) Angkutan Kota : 227 Unit
2) Angkutan Pedesaan : 290 Unit 3) Perkotaan : 568 Unit 4) Mini Bus/Micro : 112 Unit
C. Fasilitas lainnya Listrik
Sistem prasarana kelistrikan yang ada di Kabupaten Majalengka belum sepenuhnya dapat melayani kebutuhan yang ada. Adapun kebutuhan listrik di Kabupaten Majalengka diperoleh dari jaringan listrik interkoneksi Jawa-Bali dengan tegangan sebesar 500 KV. Penyediaan energi listrik untuk kegiatan wisata, ditinjau dari segi kuantitas pelayanan sangat beragam. Kegiatan wisata hiburan umum pada dasarnya membutuhkan energi listrik yang besar karena berkaitan dengan pemakaian barang elektronik yang dipakai sebagai alat hiburan, sedangkan objek wisata sejenis wisata agro relatif rendah pemakaian listriknya karena intensitas kebutuhan dan pemakaian barang yang membutuhkan energi listrik relatif rendah. Secara garis besar penyediaan listrik di SKW Talaga Kabupaten Majalengka telah memasuki seluruh kecamatan dan pedesaan yang berada di Kabupaten Majalengka.
Telekomunikasi
Jaringan telepon merupakan prasarana pelayanan untuk memenuhi kebutuhan alat komunikasi antar penduduk. Di lingkungan objek wisata, jaringan telepon ini menjadi salah satu kebutuhan pokok terutama untuk objek wisata yang mempunyai skala pelayanan regional maupun nasional.
Secara garis besar pelayanan telekomunikasi di SKW Talaga Kabupaten Majalengka telah dapat menjangkau seluruh kecamatan, akan tetapi ada beberapa objek wisata yang dirasakan oleh pengunjung kesulitan untuk menemukan telekomunikasi umum. Sedangkan untuk akomodasi wisata, penyediaannya beragam antara penyediaan sambungan tiap unit kamar sampai akomodasi yang tidak mempunyai sambungan
Di Kabupaten Majalengka telah dikembangkan berbagai sarana komunikasi berupa telepon umum (wartel) dan Disamping pengembangan telekomunikasi jenis baru, jumlah jenis telekomunikasi yang sudah ada terus berkembang salah satunya adalah internet yang sudah mulai berkembang di Kabupaten Majalengka.
Air bersih
Penyediaan air bersih di kawasan wisata termasuk prasarana dasar yang harus dipenuhi dengan baik. Pengadaan air bersih di kawasan wisata di Kabupaten Majalengka pada umumnya diusahakan sendiri-sendiri melalui sumber mata air.
Untuk kawasan wisata di pegunungan, penyediaan air bersih dapat melalui sumber individu, baik dari air permukaan atau mata air, selain itu penyediaan air bersih dengan sistem jaringan juga sangat diperlukan agar pemenuhan kebutuhan air bersih di kawasan wisata dapat dipenuhi dengan baik.
Pada saat ini sumber mata air yang dipergunakan untuk keperluan air bersih masyarakat diantaranya:
Mata air Situ Cipadung dengan dengan debit air 650 liter/detik yang digunakan oleh PDAM untuk melayani Kecamatan Sukahaji, Majalengka, Cigasong, dan Panyingkiran.
Mata air Situ Janawi, Situ Cipeundeuy, Cisadane, dan Talaga Herang, digunakan sebagai sumber air bersih yang melayani Kecamatan Rajagaluh dan Leuwimunding.