BAB 2 DATA DAN ANALISA. Data-data yang diperoleh dalam bab ini didapat melalui beberapa metode seperti yang dijabarkan sebagai berikut :

Teks penuh

(1)

3 BAB 2

DATA DAN ANALISA

2.1 Sumber Data

Data-data yang diperoleh dalam bab ini didapat melalui beberapa metode seperti yang dijabarkan sebagai berikut :

• Data Sumatif : Berasal dari survey dan artikel internet .

Data Formatif : Berasal dari literatur seperti buku, internet dan wawancara langsung dengan narasumber.

2.2 Data umum

2.2.1 Definisi Badak Jawa

Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) adalah salah satu spesies terlangka di dunia dengan perkiraan jumlah populasi tak lebih dari 50 ekor di Taman Nasional Ujung Kulon, Badak Jawa juga termasuk lima spesies badak paling langka yang ada di dunia dan masuk dalam Daftar Merah badan konservasi dunia IUCN, yaitu dalam kategori sangat terancam atau critically endangered. Sejak tahun 1962, WWF telah memulai penelitian terhadap populasi Badak Jawa di Ujung Kulon dengan dukungan ahli Profesor Rudolph Schenkel. Saat ini penelitian tentang Badak Jawa masih terus dilakukan dan diarahkan untuk memperoleh informasi penting tentang pola perilaku, distribusi, migrasi, populasi, sex ratio, dan keragaman genetik. Selain dari penelitian dan dukungan terhadap patroli anti perburuan Badak Jawa , WWF-Indonesia di Taman Nasional Ujung Kulon juga memfokuskan kegiatannya pada upaya manajemen habitat dengan harapan habitat yang terjaga akan dapat mempertahankan populasi yang tersisa. Upaya-upaya ini termasuk menurunkan ancaman kegiatan illegal seperti perambahan

(2)

4

dan perburuan, mengurangi tumbuhnya spesies tumbuhan pengganggu seperti Arenga spp dan berbagai jenis lainnya, mengurangi risiko kompetisi lahan antara badak dengan banteng (Bos javanicus), serta mengurangi risiko penyebaran penyakit, serta meningkatkan ketersediaan tumbuhan pakan badak.

2.2.2 Ciri-ciri Fisik Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus)

• Umumnya memiliki warna tubuh abu-abu kehitam-hitaman.

• Hanya memiliki satu cula, dengan panjang sekitar 25 cm namun ada kemungkinan tidak tumbuh atau sangat kecil sekali pada betina.

• Berat badan seekor Badak Jawa dapat mencapai 900 - 2300 kg dengan panjang tubuh sekitar 2 - 4 m.

• Tingginya bisa mencapai hampir 1,7 m.

• Kulitnya memiliki semacam lipatan sehingga tampak seperti memakai tameng baja.

• Memiliki rupa mirip dengan badak India namun tubuh dan kepalanya lebih kecil dengan jumlah lipatan lebih sedikit.

• Bibir atas lebih menonjol sehingga bisa digunakan untuk meraih makanan dan memasukannya ke dalam mulut.

• Badak termasuk jenis pemalu dan soliter (penyendiri).

2.2.3 Populasi dan Distribusi Badak Jawa

Badak Jawa pernah hidup di hampir semua gunung-gunung di Jawa Barat, diantaranya berada hingga diatas ketinggian 3000 meter diatas permukaan laut. Pada tahun 1960-an, diperkirakan sekitar 20 s/d 30 ekor badak saja tersisa di TN Ujung Kulon. Populasinya meningkat hingga dua kali lipat pada tahun 1967 hingga 1978 setelah upaya perlindungan dilakukan dengan ketat, sebagian dilakukan dengan dukungan dari WWF-Indonesia. Sejak akhir tahun 1970-an, jumlah populasi Badak Jawa tampaknya stabil. WWF-Indonesia memperkirakan populasi Badak Jawa di Ujung Kulon berada dalam kisaran 29 - 47 individu dengan nilai rata-rata 32 ekor (data tahun 2009-2010) yang kemudian dilanjutkan oleh Balai Taman Nasional Ujung Kulon (BTNUK) di tahun 2011 dengan, informasi perkiraan populasi Badak Jawa pada bulan

(3)

5

Feb-Nov 2011, jumlah populasi perkiraan 35 individu, hasil dari kamera jebak yang telah teridentifikasi terdiri dari 22 individu Jantan, 13 Individu Betina dan 4 individu anak Badak terdiri dari 3 Jantan dan 1 Betina.

2.2.4 Ancaman

Sudah tidak ditemukan kasus perburuan liar badak Jawa sejak tahun 1990-an karena penegakan hukum yang efektif oleh otoritas taman nasional yang diiringi dengan inisiatif-inisiatif seperti Rhino Monitoring and Protection Unit (RMPU) serta patroli pantai. Ancaman terbesar bagi populasi badak Jawa adalah: Berkurangnya keragaman genetis.

Populasi badak Jawa yang sedikit menyebabkan rendahnya keragaman genetis.Hal ini dapat memperlemah kemampuan spesies ini dalam menghadapi wabah penyakit atau bencana alam (erupsi gunungberapi dan gempa).

2.2.5 Degradasi dan hilangnya habitat

Ancaman lain bagi populasi badak Jawa adalah meningkatnya kebutuhan lahan sebagai akibat langsung pertumbuhan populasi manusia.Pembukaan hutan untuk pertanian dan penebangan kayu komersial mulai bermunculan di sekitar dan di dalam kawasan lindung tempat spesies ini hidup.

2.2.6 Sumber Data WWF untuk perlindungan Badak Jawa

WWF dan mitra kerjanya membantu petugas Balai TamanNasional memonitor badak melalui kamera trap dan analisis DNA dari sampel kotoran. Sejak pertama kali

(4)

6

dimulai pada 2001, empat belas kelahiran badak berhasil di dokumentasikan oleh kamera dan video jebak yang dioperasikan WWF bersama dengan Balai Taman Nasional Ujung Kulon.Sejak Februari 2011, pengelolaan kamera dan video jebak secara penuh dilakukan oleh Balai Taman Nasional, sementara WWF memfokuskan kegiatanya pada observasi perilaku, pola makan, serta penelitian mengenai resiko dan ancaman wabah penyakit. Observasi terhadap pola prilaku badak dapat memberikan informasi mengenai interaksi badak dengan lingkungan sekitarnya, data-data fisiologi (misalnya tingkat respirasi) yang mengindikasikan tingkat stress dan kondisi tiap individu badak.Saat ini WWF bekerja dengan Departemen Kehutanan, Balai Taman Nasional dan masyarakat lokal untuk mengkaji kemungkinan pembuatan habitat kedua dan translokasi badak yang telah diseleksi terlebih dahulu berdasarkan kondisi kesehatan dan fertilitas-nya untuk menginisiasi populasi baru sambiltetap melindungi populasi aslinya di Taman Nasional Ujung Kulon.

2.3 Data Penyelenggara

2.3.1 WWF INDONESIA (WORD WILD FOUNDATION)

Gambar 1: Logo WWF

2.3.1.1 Sejarah WWF INDONESIA

Pada April 1998, WWF Internasional kantor Program Indonesia berubah menjadi WWF-Indonesia, yang secara hukum diakui sebagai organisasi Indonesia dengan status yayasan. Sejalan dengan perubahan ini, WWF-Indonesia, sebagai Organisasi Nasional

(5)

7

menjadi bagian dari WWF Global Network. Diseluruh dunia terdiri dari 27 Organisasi Nasional, 6 Organisasi Asosiasi, dan 22 kantor program.

Sebagai Organisasi Nasional, WWF-Indonesia kemudian melakukan desentralisasi menjadi 3 kantor bioregion, yakni kantor Sundaland, Walacea dan Sahul untuk melaksanakan proyek pelestarian di wilayah Global 200 Ecoregions.

WWF sangat peduli dengan populasi Badak Jawa yang sudah mengkhawatirkan , maka dari itu WWF sebagai organisasi yang peduli terhadap hal-hal seperti itu mengadakan kampanye untuk mampertahankan dan meningkatkan populasi Badak Jawa.

2.3.1.2 Tentang WWF INDONESIA

Mengenal WWF-Indonesia dan karyanya di sepanjang kepulauan Indonesia, merupakan salah satu negara dengan wilayah pesisir dan keanekaragaman hayati terkaya di dunia.Ironisnya mayoritas penduduk Indonesia hidup dalam kemiskinan, kota-kotanya merupakan tempat paling tercemar di dunia. Setiap tahun, hijaunya hutan berubah menjadi merah menyala karena terbakar, dan ketika musim penghujan tiba, bencana banjir serta longsor membawa petaka bagi banyak orang.Tujuan utama WWF-Indonesia adalah untuk menghentikan dan memperbaiki kerusakan lingkungan yang terjadi serta membangun masa depan, dimana manusia hidup selaras dengan alam.

Visi WWF-Indonesia adalah "Pelestarian keanekaragaman hayati Indonesia untuk kesejahteraan generasi sekarang dan di masa mendatang". Misi kami adalah melestarikan keanekaragaman hayati dan mengurangi dampak yang disebabkan manusia melalui upaya:

• Mempromosikan etika pelestarian yang kuat, kesadaran serta aksi di kalangan masyarakat Indonesia.

• Memfasilitasi upaya multi pihak untuk melindungi keanekaragaman hayati dan proses ekologis dalam skala ekoregional.

• Melakukan advokasi kebijakan, hukum dan penegakan hukum yang mendukung upaya pelestarian.

(6)

8

• Mempromosikan pelestarian bagi kesejahteraan masyarakat, melalui pemanfaatan sumber daya alam secara berkelanjutan.

Kami menyadari, masalah lingkungan tidak dapat diselesaikan hanya oleh WWF-Indonesia saja.Saat ini, kami memprioritaskan kerja kami di pusat keanekaragaman hayati penting yang dikenal sebagai Global 200 Ecoregions. Global 200 Ecoregions merupakan peringkat yang diberikan WWF bagi habitat di wilayah darat, perairan tawar serta laut yang memiliki keanekaragaman hayati yang penting, 19 diantaranya terdapat dalam wilayah politik Indonesia.

Program pelestarian di Indonesia terdapat pada 25 situs yang tersebar di 17 provinsi, di bidang kelautan, ekosistem air tawar dan hutan. Upaya yang kami lakukan adalah menyelamatkan keanekaragaman spesies dengan mempromosikan pelestarian yang memberikan keuntungan sosial dan ekonomi secara berkelanjutan bagi komunitas lokal.Untuk memulihkan kerusakan ekosistem dan mengurangi beragam ancaman seperti yang ditimbulkan oleh perubahan iklim dan bahan kimia beracun.Pendekatan kami melakukan adalah menjalin kerjasama dengan berbagai pihak.

Sejumlah prakondisi perlu dilakukan agar upaya pelestarian berjalan secara efektif.Termasuk didalamnya memperkuat masyarakat, mendorong pemerintah dan perusahaan bertanggung jawab, serta mewujudkan kebijakan dan praktek yang mendukung pelestarian.Sayangnya, hingga saat ini ketiga hal tersebut belum terwujud di Indonesia. Untuk itu kami mempromosikan:

• Kebijakan pelestarian yang kuat pada setiap tingkatan pemerintah, dari lokal, regional, nasional dan internasional yang dilakukan melalui kegiatan advokasi (10 langkah memerangi penebangan liar, perdagangan satwa ilegal, dll). Kami juga bekerja pada tingkat perusahaan multi nasional, mengingat tanpa panduan kebijakan lingkungan dan sosial yang baik, kegiatan yang dilakukan perusahaan dapat memberikan dampak negatif pada upaya pelestarian. Melalui keterlibatan perusahaan secara langsung, kami mendorong mereka untuk memperkuat kebijakan dan menerapkan praktek pelestarian dengan baik.

• Memperkuat komunitas, mendorong agar komunitas lokal dapat melindungi sendiri sumber daya alamnya, serta berperan aktif dalam menentukan

(7)

9

pengelolaan sumber daya. Kami mendukung hak mereka, untuk mendapatkan keuntungan dari pemanfaatan sumber daya secara berkelanjutan, dilindungi dan diakui. Hal tersebut merupakan kunci agar upaya pelestarian di Indonesia berjalan dengan baik. Menghadapi situasi ini, kelompok pengorganisasian masyarakat WWF-Indonesia bekerja secara kreatif untuk memerangi masalah kemiskinan. Pada tingkat nasional, kami melakukan kampanye publik, agar masyarakat dapat memahami isu-isu pelestarian dan pengelolaanya. Kami membuka pintu lebar-lebar bagi partisipasi aktif masyarakat untuk mewujudkan dunia yang lebih baik.

2.3.1.3 Kampanye WWF INDONESIA tentang Badak Jawa

Gambar 2: Poster Run Rhino Run

WWF-Indonesia padaTanggal 24 Juni lalu Ujung Kulon menjadi tuan rumah bagi para pecinta lari. Sekitar 200-an orang berlari demi pelestarian badak Jawa dalam kegiatan lari lintas alam “Run Rhino Run: Fun Nature Tracking 10K” di kawasan Ujung Kulon. Lima puluh pelari diantaranya terpilih melalui kompetisi online sebagai bagian dari rangkaian perayaan 50 tahun kerja konservasi WWF di Indonesia, yang awalnya dimulai di Ujung Kulon.

Selain bagian perayaan 50 Tahun WWF di Indonesia, “Run Rhino Run” adalah salah satu agenda yang sejalan dengan pencanangan Tahun Badak Internasional oleh

(8)

10

Presiden Dr. H. Susilo Bambang Yudhoyono 5 Juni 2012.Indonesia merupakan negara yang sangat penting bagi konservasi badak di dunia karena memiliki dua spesies badak yaitu badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) dan badak Sumatra (Dicerorhinus sumatrensis).Keduanya menyandang status kritis terancam punah menurut badan konservasi dunia IUCN.

Target Audience 1. Demografi

• Pria dan wanita • Semua usia

• Tingkat sosial semua kalangan 2. Geografi : Masyarakat Ujung Kulon

2.4 Data Kompetitor

2.4.1 Yayasan Badak Indonesia (YABI)

(9)

11

Yayasan Badak Indonesia (YABI) adalah satu-satunya organisasi nirlaba di Indonesia yang bergerak dalam usaha melestarikan dan menyelamatkan badak Indonesia yaitu badak Jawa (Rhinoceros sondaicus,) dan badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis).

YABI dibentuk pada tanggal 28 Desember 2006 berdasarkan Akte Notaris No. 34 dan disahkan oleh Departemen Hukum dan HAM pada tanggal 20 Maret 2007. YABI merupakan gabungan dari 3 organisasi konservasi badak di Indonesia yang sudah ada sebelumnya, yaitu Yayasan Mitra Rhino (YMR), Yayasan Suaka Rhino Sumatera (YSRS), dan Program Konservasi Badak Indonesia (PKBI). YMR berdiri pada tahun 1990 dan telah melaksanakan berbagai kegiatan pelestarian badak. YMR bersama-sama dengan PHKA (dahulu PHPA) menerbitkan buku pedoman Strategi Konservasi Badak Indonesia yang didanai oleh Bank International Indonesia (BII) pada tahun 1993.

YMR bersama-sama dengan Pemerintah Indonesia c.q Ditjen PHKA Departemen Kehutanan, International Rhino Foundation (IRF), dan Asian Rhino Specialist Group (AsRSG) melaksanakan kegiatan proyek pelestarian badak yang didanai oleh UNDP yaitu RAS G32 – Conservation Strategy for Rhinoceros in South East Asia (Indonesia dan Malaysia) 1994 - 1998. Setelah proyek tersebut berakhir, YMR bersama-sama dengan Ditjen PKA Dephutbun, IRF, dan AsRSG melanjutkan proyek tersebut dengan membentuk Program Konservasi Badak Indonesia atau PKBI. Memorandum of Understanding ditandatangani di Jakarta pada tanggal 14 Januari 1998 kemudian diperpanjang pada tanggal 2 Oktober 2003 dan berakhir Desember 2008. PKBI seperti halnya proyek RAS G32 bertujuan membentuk unit-unit anti perburuan badak atau Rhino Protection Unit (RPU) di beberapa taman nasional dimana badak Sumatera dan Jawa hidup.

Yayasan Suaka Rhino Sumatera (YSRS) dibentuk pada tahun 1997 atas kerjasama Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam (PHPA) Departemen

(10)

12

Kehutanan, International Rhino Foundation, Taman Safari Indonesia (TSI) dan Yayasan Mitra Rhino. YSRS mengelola Suaka Rhino Sumatera (SRS) didalam kawasan Taman Nasional Way Kambas, Lampung. Atas kesepakatan Pembina dan Pengurus Yayasan Mitra Rhino, Yayasan Suaka Rhino Sumatera, Ditjen PHKA dan IRF selaku lembaga donor utama kedua yayasan tersebut, dan untuk lebih efisien dan efektif dalam pengelolaan konservasi badak di Indonesia, maka dipandang perlu untuk mendirikan satu-satunya organisasi atau yayasan yang mengelola kegiatan konservasi badak di Indonesia, yaitu Yayasan Badak Indonesia atau YABI.

Yayasan Mitra Rhino dan Yayasan Suaka Rhino Sumatera melalui Rapat Gabungan Badan Penyantun dan Badan Pengurus masing-masing yayasan tanggal 24 Agustus 2007 di Jakarta memutuskan untuk membubarkan dan menggabungkan kedua yaitu Yayasan Mitra Rhino danYayasan Suaka Rhino Sumatera dengan Yayasan Badak Indonesia. Program Konservasi Badak Indonesia mendapatkan persetujuan untuk bergabung dengan Yayasan Badak Indonesia dari pihak-pihak penandatangan MoU atau signatories, yaitu Ditjen PHKA Departemen Kehutanan melalui surat Direktur Jenderal PHKA Nomor S.63/IV-KKH/2007 tgl. 18 Januari 2007. Persetujuan secara lisan telah diberikan oleh Badan Pembina Yayasan Mitra Rhino dan International Rhino Foundation. Pada tanggal 12 Januari 2008 bertempat di Hotel Salak The Heritage, Bogor, Jawa Barat, telah dilaksanakan Acara Serah Terima Yayasan Mitra Rhino, Yayasan Suaka Rhino Sumatera, dan Program Konservasi Badak Indonesia kepada Yayasan Badak Indonesia (YABI). Penyerahan kedua yayasan dan program beserta aset-asetnya tersebut menjadikan YABI sebagai satu-satunya yayasan nirlaba di Indonesia yang berdedikasi melestarikan badak asli Indonesia, yaitu badak Jawa dan Sumatera.

Visi :

• Visi Yayasan Badak Indonesia adalah terwujudnya kehidupan populasi badak Jawa dan badak Sumatera yang lestari dalam habitat yang aman secara berkelanjutan.

(11)

13 Misi :

• Misi Yayasan Badak Indonesia adalah ikut melestarikan badak Jawa dan badak Sumatera melalui upaya perlindungan dan pemantauan terhadap populasi dan habitat, peningkatan pengembangbiakan, riset dan pengembangan, penyadartahuan dan peningkatan kepedulian masyarakat terhadap keberadaan dan perlunya usaha-usaha konservasi badak Jawa dan badak Sumatera, menjalin kerjasama dan penggalangan dana untuk keberlanjutan program dan kegiatan konservasi badak.

2.4.2 Acara Seminar YABI dengan Kelompok Studi Satwa Liar UGM

Gambar 4: Seminar Yayasan Badak Indonesia

Dicanangkannya tahun 2012 sebagai Tahun Badak, membuat para penggerak konservasi untuk ikut andil dalam upaya pelestarian badak. Tidak terkecuali KSSL (Kelompok Studi Satwa Liar) FKH UGM yang bekerja

(12)

14

sama dengan YABI (Yayasan Badak Indonesia) dan Denial Denim, sebuah clothing line kreatif yang juga peka akan isu konservasi melaksanakan seminar bersama belum lama ini di FKH UGM. Menurut “The Red Data Book” yang dikeluarkan IUCN (International Union for Conservation of Nature), Badak Sumatera dan Badak Jawa ada dalam kategori critically endangered dan mendapat prioritas pertama untuk diselamatkan dari ancaman kepunahan. Seminar ini merupakan awalan dari serangkaian acara-acara yang akan dilangsungkan dalam setahun ini untuk meramaikan tahun Badak 2012. Acara lain, diantaranya penggalangan dana, kampanye atau penyadartahuan konservasi badak pada masyarakat umum, dan kegiatan-kegiatan keilmuan yang melibatkan YABI maupun Kementrian Kehutanan melalui Direktorat Konservasi Keanekaragaman Hayati.

Acara seminar ini mendatangkan 4 pembicara yang membahas tentang pelestarian badak dan hal-hal terkait mengenai badak. Indonesia sendiri memiliki 2 spesies badak, Badak Jawa (Rhinoceros sondaicus) yang bercula satu dan Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis) yang bercula dua.

Dr. Ir. Novianto Bambang W., M.S.i selaku Direktur Keanekaragaman Hayati, Ditjen PHKA mengungkapkan “Strategi dan Aksi Konservasi Badak di Indonesia” yang meliputi proteksi, manajemen habitat, manajemen populasi, hubungan Badak-masyarakat, dan riset.

Sementara pada sesi kedua, diisi dengan penyampaian materi dan diikuti diskusi secara panel. Panelis terdiri dari para penggerak konservasi badak di berbagai bidang. Yaitu; YABI (Yayasan Badak Indonesia) yang diwakili Dr. Waladi Isnan; Fakultas Kehutanan, yang diwakili Dr. Ir. M. Imron M.Sc; dan Denial Denim, yang diwakili Dion Agasi.

Dalam lokasi yang sama, YABI menyampakaian tentang apa yang terjadi di lapangan terkait Badak Jawa dan Sumatera. Status populasi Badak jawa yang begitu kritis. Di tahun 2011 diperkirakan hanya hidup 35 ekor dan

(13)

15

semuanya hanya ada di Taman Nasional Ujung Kulon, tanpa satupun yang hidup di kebun binatang. Sementara badak Sumatera populasinya diperkirakan kurang dari 300 ekor saja.

Pihak Fakultas Kehutanan juga menambahkan bahwa rusaknya habitat Badak di Ujung Kulon dan suksesi vegetasi pasca-letusan Krakatau juga turut menjadi andil dalam makin berkurangnya jumlah populasi badak. Selain itu, adanya persaingan habitat dengan banteng juga perlu dipertimbangkan.

2.5 Data Pembanding

2.5.1 PROGRAM ”SAHABAT HARIMAU”

Gambar 5: Logo Program “Sahabat Harimau”

Harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae) merupakan satwa endemik Indonesia yang populasinya saat ini tersebar dalam populasi-populasi kecil di dalam dan di luar kawasan konservasi di Sumatera. Diperkirakan populasi yang tersisa di habitat alaminya hanya 300 - 400 ekor dan jumlahnya akan terus berkurang apabila kerusakan hutan sumatera terus berlanjut.

Harimau Sumatera adalah harimau terakhir Indonesia - setelah harimau Bali pada dekade 40-an dan harimau Jawa pada dekade 80-an dinyatakan punah.

(14)

16

Kepedulian terhadap masa depan ‘raja hutan’ di habitat alaminya mendorong WWF-Indonesia terus melakukan upaya terpadu untuk melindungi harimau Sumatera.

2.5.2 Mengapa (Harimau Sumatera)?

Harimau Sumatera sebagai pemangsa puncak dalam rantai makanan memiliki peranan penting menjaga keseimbangan ekosistem. Satwa ini membutuhkan habitat yang khas sebagai tempat hidupnya adanya tutupan hutan yang luas untuk tempat berteduh, beristirahat, berlindung dari terik matahari dan hujan, ketersediaan air yang memadai untuk minum, mandi dan berenang serta ketersediaan mangsa (pakan) yang cukup. Sebagai penjaga keseimbangan ekosistem hutan, ia berperan melindungi kelestarian dan menyelamatkan hidupan liar lainnya yang pada akhirnya kesejahteraan manusia pun ikut terjaga.

2.5.2.1 Tahukah Anda?

• Harimau sumatera adalah perenang yang handal karena memiliki selaput diantara jari-jarinya; berkebalikan dengan kucing peliharaan yang tidak menyukai air.

• Motif belangnya yang berwarna oranye dan hitam merupakan kekuatannya untuk kamuflase.

• Motif belangnya juga berfungsi sebagai pembeda setiap individu harimau dengan individu lainnya, sama halnya dengan pola sidik jari manusia.

(15)

17 2.5.3 SAHABAT Harimau

WWF-Indonesia menyadari pentingnya partisipasi masyarakat dalam upaya-upaya penyelamatan harimau sumatera. Oleh karena itu, WWF-Indonesia meluncurkan inisiatif program “SAHABAT harimau” sebagai jawaban sekaligus tantangan untuk meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap kelangsungan generasi harimau sumatera di masa depan.

2.5.4 Bantu kami menyelamatkan harimau Sumatera.

Anda dapat membantu tim riset harimau WWF-Indonesia di lapangan dan tim peneliti kami untuk memonitor populasi dan mengamati perilaku serta mencegah gangguan yang mungkin mengancam harimau sumatera dengan bergabung dalam Program “SAHABAT harimau”. WWF-Indonesia meluncurkan paket donasi untuk setiap individu yang ingin membantu dan berpartisipasi aktif dalam konservasi harimau sumatera. Kontribusi Anda dalam Upaya Penyelamatan harimau Sumatera Anda dapat membantu tim WWF Indonesia yang bekerja di lapangan untuk menyelamatkan harimau Sumatera dengan donasi minimal Rp 100.000,00 (Seratus Ribu Rupiah) setiap bulannya atau Rp 750.000,00 (Tujuh Ratus Lima Puluh Ribu Rupiah) untuk donasi satu kali. Namun Anda dapat menambah jumlah donasi sesuai dengan yang Anda inginkan. Donasi Anda sangat berarti bagi kelestarian harimau Sumatera dan habitatnya dan tentu saja untuk kesejahteraan generasi sekarang dan akan datang.

Donasi dapat dilakukan via online, auto debit kartu kredit VISA/MASTER/AMEX, atau auto debit rekening tabungan Mandiri.

2.5.5 Paket Sahabat Harimau

Anda akan mendapatkan paket istimewa ini jika Anda bergabung menjadi Sahabat Harimau

(16)

18

Gambar 6: Paket Istimewa program “Sahabat Harimau”

Untuk informasi lebih lanjut, silakan kirim email ke: supporter-service@wwf.or.id

atau hubungi Contact Center kami di nomor 021-5761076

WWF-Indonesia bekerjasama dengan PT. Karyaputra Suryagemilang (KPSG) dalam aktifitas Telefundraising dan di bawah ini adalah nomor telepon resmi outbond call program Telefundraising:

Phone :+62 21-2996 3500 Handphone : 0856 9341 3419 Fax : +62 21-527 3252 Jakarta - 12540 Ph: +62 21-782 9461 | Fax: +62 21-782 9462 | 2.6 Data Khusus

2.6.1 PROGRAM “SAHABAT BADAK”

Program yang terlaksana bersamaan dengan kampanye “Selamatkan Badak Jawa”, melalui program ini membuka pintu bagi semua individu yang ingin mendukung upaya pelestarian Badak Jawa secara tidak langsung dengan berdonasi rutin. Dukungan finansial secara rutin dari masyarakat Indonesia diperlukan untuk memastikan kelangsungan program pelestarianhabitat Badak Jawa yang sudah berjalan dan akan terus berjalan.

(17)

19

Donasi dapat diberikan melalui metode autodebit kartu kredit VISA/MASTER/AMEX, atau autodebit tabungan Mandiri/BCA, atau transfer ke nomor rekening atas nama Yayasan Sahabat Badak.

2.6.2 SAHABAT BADAK GOLD AND SILVER CARD

Melalui membercard Sahabat Badak, para donatur dapat menjadi member resmi dengan perbedaan donasi setiap bulan-nya. Untuk Gold Membercard donatur dikenakan Rp 100.000,- /bulan, Untuk Silver Membercard donatur dikenakan Rp 50.000,-/bulan, dengan paket keuntungan yang berbeda. Bentuk dukungan lain selain donasi bulanan adalah dengan berdonasi mulai dari Rp 750.000,- untuk satu kali donasi.

Dengan menjadi “Sahabat Badak”, donatur bisa mendapatkan keuntungan-keuntungan yang diberikan pada masing-masing membercard, untuk Gold membercard donatur akan mendapatkan merchandise berupa T-shirt, Bag, Pin, Stiker dan akses bebas masuk pada event-event tertentu tentang program “Sahabat Badak, dan untuk Silver membercard donatur akan mendapatkan merchandise berupa mug, topi, gantungan kunci, dan akses bebas masuk pada event-event tertentu tentang program “Sahabat Badak”. Donatur juga akan dibagikan newsletter dengan isi informasi-informasi terbaru seputar habitat Badak Jawa dan perkembanganya, khususnya yang berada di Taman Nasional Ujung Kulon, selain newsletter para donatur tetap akan diberikan sertifikat Sahabat Badak, sebagai sebuah bentuk penghargaan karena telah berdonasi.

(18)

20 2.6.2.1 A. Protection Gold Card

• Fee : Rp.100.000,-/bulan

• Free T-shirt

• Free Paper Bag

• Free Pin

• Free Stiker

• Sertfikat Program Sahabat Badak

• Free newsletter/bulan

• Free akses disetiap event tentang program sahabat badak

B. Monitoring Silver Card

• Fee : Rp.50.000,-/bulan

• Free Mug

• Free Paper Bag

• Free Topi

• Free Gantungan Kunci

• Sertifikat Program Sahabat Badak

• Free Newsletter

• Discount disetiap event tentang program sahabat badak

C. Partisipan

• Fee : Rp.750.000,-/satu kali

• Free Tshirt

• Free Paper Bag

• Free Pin

• Free Stiker

• Free Mug

• Free Topi

(19)

Figur

Gambar 2:  Poster Run Rhino Run

Gambar 2:

Poster Run Rhino Run p.7
Gambar 3: Logo Yayasan Badak Indonesia

Gambar 3:

Logo Yayasan Badak Indonesia p.8
Gambar 4: Seminar Yayasan Badak Indonesia

Gambar 4:

Seminar Yayasan Badak Indonesia p.11
Gambar 6: Paket Istimewa program “Sahabat Harimau”

Gambar 6:

Paket Istimewa program “Sahabat Harimau” p.16

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :