• Tidak ada hasil yang ditemukan

Contoh surat penugasan klinis

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Contoh surat penugasan klinis"

Copied!
16
0
0

Teks penuh

(1)

LAPORAN TUGAS STASE MANAJEMEN KEPERAWATAN MODEL PRAKTIK KEPERAWATAN PROFESIONAL (TANGGUNG JAWAB KEPALA RUANG, PERAWAT PRIMER

DAN PERAWAT ASOSIET) DI SILOAM HOSPITAL LIPPO VILLAGE

Oleh:

MAYLANDANI LINGGIH ASMANU 1404035

PROGRAM STUDI PROFESI NERS STIKES BETHESDA YAKKUM

YOGYAKARTA TAHUN 2015

(2)

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Keperawatan adalah salah satu bentuk pelayanan profesional yang dilakukan oleh seorang perawat untuk menyelesaikan masalah kesehatan klien dengan melaksanakan asuhan keperawatan. Menurut University of South Alabama Medical Center dalam Swansburg and Swansburg (1999), menyebutkan bahwa asuhan keperawatan adalah tindakan yang diterima oleh klien yang dilakukan oleh perawat untuk membantu klien/keluarga untuk meningkatkan derajat kesehatannya.

Menurut Ratna Sitorus & Yulia (2006) model praktik keperawatan profesional (MPKP) adalah suatu sistem (struktur, proses dan nilai-nilai profesional), yang memfasilitasi perawat profesional, mengatur pemberian asuhan keperawatan, termasuk lingkungan tempat asuhan tersebut diberikan.

Asuhan keperawatan yang profesional haruslah diorganisir dengan pendekatan profesional pula. Pengelolaan asuhan keperawatan yang selanjutnya disebut sebagai metode penugasan mengalami perkembangan dari waktu ke waktu. Metode penugasan yang memungkikan dilaksanakan asuhan keperawatan secara professional adalah: Metode tim dan metode primary nurse. Siloam Hospital Lippo Village dalam melakukan praktik asuhan keperawatan secara professional dengan menggunakan model praktek MPKP metode primary nurse dan ruang Carmel sebagai salah satu ruang perawatan VIP di Siloam Hospital Lippo Village/SHLV yang mempunyai 17 kamar perawatan juga menggunakan model MPKP metode primary nurse. Melalui MPKP ini diharapkan dalam pemberian asuhan keperawatan dapat dilakukan secara profesional, sehingga menjaga konsistensi dalam pemberian asuhan keperawatan, mengurangi tumpang tindih atau kekosongan dalam pelaksanaan asuhan keperawatan, menciptakan kemandirian dalam pemberian asuhan keperawatan, memberikan pedoman dalam menentukan kebijakan dan keputusan serta menjelaskan dengan tegas ruang lingkup dan tujuan asuhan keperawatan bagi setiap anggota tim keperawatan.

(3)

Metode MPKP ini dilaksanakan di ruang rawat Carmel Siloam Hospital Lippo Village.

(4)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Model Praktek Keperawatan Profesional

1. Pengertian Model Keperawatan Profesional

Model praktik keperawatan adalah diskripsi atau gambaran dari praktik keperawatan yang nyata dan akurat berdasarkan kepada filosofi, konsep dan teori keperawatan. Era globalisasi dan perkembangan ilmu dan teknologi kesehatan menuntut perawat, sebagai suatu profesi, memberi pelayanan kesehatan yang optimal. Indonesia juga berupaya mengembangkan model praktik keperawatan profesional (MPKP). 2. Tujuan MPKP

a. Menjaga konsistensi asuhan keperawatan

b. Mengurangi konflik, tumpang tindih dan kekosongan pelaksanaan asuhan keperawatan oleh tim keperawatan.

c. Menciptakan kemandirian dalam memberikan asuhan keperawatan. d. Memberikan pedoman dalam menentukan kebijaksanaan dan

keputusan.

e. Menjelaskan dengan tegas ruang lingkup dan tujuan asuhan keperawatan bagi setiap anggota tim keperawatan.

3. Lima komponen MPKP a. Nilai professional

b. Pendekatan manajemen

c. Metode pemberian asuhan keperawatan d. Hubungan professional

e. Sistem penghargaan dan kompensasi 4. Kelebihan dari MPKP

a. Memungkinkan pelayanan keperawatan yang menyeluruh. b. Mendukung pelaksanaan proses keperawatan.

c. Memungkinkan komunikasi antar tim sehingga konflik mudah diatasi dan memberikan kepuasan pada anggota tim.

d. Bila diimplementasikan di RS dapat meningkatkan mutu asuhan keperawatan.

e. Ruang MPKP merupakan lahan praktek yang baik untuk proses belajar.

f. Ruang rawat MPKP sangat menunjang program pendidikan Nursing.

(5)

a. Komunikasi antar anggota tim terutama dalam bentuk konferensi tim, membutuhkan waktu dimana sulit melaksanakannya pada waktu-waktu sibuk.

b. Akuntabilitas pada tim. c. Konsep beban kerja tinggi. d. Pendelegasian tugas terbatas.

e. kelanjutan keperawatan klien hanya sebagian selama perawat penanggung jawab klien tugas.

6. Karakterisitik MPKP

a. Penetapan jumlah tenaga keperawatan. b. Penetapan jenis tenaga keperawatan.

c. Penetapan standar rencana asuhan keperawatan. d. Penggunaan metode modifikasi keperawatan primer. B. Macam macam Metode Penugasan dalam Metode Keperawatan

1. Metode fungsional

Yaitu pengorganisasian tugas pelayanan keperawatan yang didasarkan kepada pembagian tugas menurut jenis pekerjaan yang dilakukan. Metode ini dibagi menjadi beberapa bagian dan tenaga ditugaskan pada bagian tersebut secara umum, sebagai berikut

a. Kepala ruangan, tugasnya:

Merencanakan perkiraan, menentukan kebutuhan perawatan pasein, membuat penugasan, melakukan supervisi, menerima instruksi dokter.

b. Perawat staf, tugasnya:

1) Melakukan askep langsung pada pasien

2) Membantu supervisi askep yang diberikan oleh pembantu tenaga keperawatan

c. Perawat Pelaksana, tugasnya:

Melaksanakan askep langsung pada pasien dengan askep sedang, pasien dalam masa pemulihan kesehatan dan pasein dengan penyakit kronik dan membantu tindakan sederhana (ADL).

d. Pembantu Perawat, tugasnya:

Membantu pasien dengan melaksanakan perawatan mandiri untuk mandi, menbenahi tempat tidur, dan membagikan alat tenun bersih. e. Tenaga Admionistrasi ruangan, tugasnya :

Menjawab telpon, menyampaikan pesan, memberi informasi, mengerjakan pekerjaan administrasi ruangan, mencatat pasien masuk dan pulang, membuat permintaan lab untuk obat-obatan/persediaan yang diperlukan atas instruksi kepala ruangan. f. Kerugian metode fungsional:

1) Pasien mendapat banyak perawat.

(6)

3) Pelayanan pasien secara individu sering terabaikan. 4) Pelayanan terputus-putus

g. Kelebihan dari metode fungsional: 1) Sederhana.

2) Efisien.

3) Mudah memperoleh kepuasan kerja bagi perawat setelah selesai tugas. 4) Kekurangan tenaga ahli dapat diganti dengan tenaga yang kurang

berpengalaman untuk satu tugas yang sederhana.

5) Memudahkan kepala ruangan untuk mengawasi staff atau peserta didik yang praktek untuk ketrampilan tertentu.

h. Contoh metode fungsional

Perawat A tugas menyutik, perawat B tugasnya mengukur suhu badan klien. Seorang perawat dapat melakukan dua jenis tugas atau lebih untuk semua klien yang ada di unit tersebut. Kepala ruangan bertanggung jawab dalam pembagian tugas tersebut dan menerima laporan tentang semua klien serta menjawab semua pertanyaan tentang klien.

2. Metode penugasan pasien/metode kasus

Yaitu pengorganisasian pelayanan atau asuhan keperawatan untuk satu atau beberapa klien oleh satu orang perawat pada saat bertugas atau jaga selama periode waktu tertentu sampai klien pulang. Kepala ruangan bertanggung jawab dalam pembagian tugas dan menerima semua laporan tentang pelayanan keperawatan klien. Dalam metode ini staf perawat ditugaskan oleh kepala ruangan untuk memberi asuhan langsung kepada pasien yang ditugaskan contohnya di ruang isolasi dan ICU.

a. Kekurangan metode kasus :

1) Kemampuan tenga perawat pelaksana dan siswa perawat yang terbatas sehingga tidak mampu memberikan asuhan secara menyeluruh.

2) Membutuhkan banyak tenaga.

3) Beban kerja tinggi terutama jika jumlah klien banyak sehingga tugas rutin yang sederhana terlewatkan.

4) Pendelegasian perawatan klien hanya sebagian selama perawat penaggung jawab klien bertugas.

b. Kelebihan metode kasus:

1) Kebutuhan pasien terpenuhi. 2) Pasien merasa puas.

(7)

4) Kepuasan tugas secara keseluruhan dapat dicapai. 3. Metode penugasan tim

Yaitu pengorganisasian pelayanan keperawatan oleh sekelompok perawat. Kelompok ini dipimpin oleh perawat yang berijazah dan berpengalaman serta memiliki pengetahuan dalam bidangnya. Pembagian tugas di dalam kelompok dilakukan oleh pemimpin kelompok, selain itu pemimpin kelompok bertanggung jawab dalam mengarahkan anggota tim. Sebelum tugas dan menerima laporan kemajuan pelayanan keperawatan klien serta membantu anggota tim dalam menyelesaikan tugas apabila mengalami kesulitan. Selanjutnya pemimpin tim yang melaporkan kepada kepala ruangan tentang kemajuan pelayanan atau asuhan keperawatan klien. Metode ini menggunakan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam memberikan askep terhadap sekelompok pasien.

a. Ketenagaan dari tim ini terdiri dari : 1) Ketua tim

2) Pelakaana perawatan 3) Pembantu perawatan

4) Adapun tujuan dari perawatan tim adalah : memberikan asuhan yang lebih baik dengan menggunakan tenaga yang tersedia. b. Kelebihan metode tim:

1) Saling memberi pengalaman antar sesama tim. 2) Pasien dilayani secara komfrehesif.

3) Terciptanya kaderisasi kepemimpinan. 4) Tercipta kerja sama yang baik.

5) Memberi kepuasan anggota tim dalam hubungan interpersonal memungkinkan menyatukan anggota tim yang berbeda-beda dengan aman dan efektif.

c. Kekurangan metode tim:

1) Tim yang satu tidak mengetahui mengenai pasien yang bukan menjadi tanggung jawabnya.

2) Rapat tim memerlukan waktu sehingga pada situasi sibuk rapat tim ditiadakan atau trburu-buru sehingga dapat mengakibatkan kimunikasi dan koordinasi antar anggota tim terganggu sehingga kelanncaran tugas terhambat.

3) Perawat yang belum terampil dan belum berpengalaman selalu tergantung atau berlindung kepada anggota tim yang mampu atau ketua tim.

4) Akontabilitas dalam tim kabur. 4. Metode perawatan primer

(8)

Yaitu pemberian askep yang ditandai dengan keterikatan kuat dan terus menerus antara pasien dan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan, melakukan dan mengkoordinasikan askep selama pasien dirawat.

a. Tugas perawat primer adalah : 1) Menerima pasien.

2) Mengkaji kebutuhan.

3) Membuat tujuan, rencana, pelaksanaan dan evaluasi. 4) Mengkoordinasi pelayanan.

5) Menerima dan menyesuaikan rencana. 6) Menyiapkan penyuluhan pulang. b. Konsep dasar:

1) Ada tanggung jawab dan tanggung gugat. 2) Ada otonomi.

3) Ada keterlibatan pasien dan keluarganya. c. Ketenagaan:

1) Setiap perawat primer adalah perawat bed side.

2) Beban kasus pasien maksimal 6 pasien untuk 1 perawat. 3) Penugasan ditentukan oleh kepala bangsal.

4) Perawat profesional sebagai primer dan perawat non profesional sebagai asisten.

d. Kepala bangsal:

1) Sebagai konsultan dan pengendali mutu perawat primer. 2) Orientasi dan merencanaka karyawan baru.

3) Menyusun jadwal dinas.

4) Memberi penugasan pada perawat asisten. e. Kelebihan dari metode perawat primer:

1) Mendorong kemandirian perawat.

2) Ada keterikatan pasien dan perawat selama dirawat. 3) Berkomunikasi langsung dengan Dokter.

4) Perawatan adalah perawatan komfrehensif.

5) Model praktek keperawatan profesional dapat dilakukan atau diterapkan.

6) Memberikan kepuasan kerja bagi perawat.

7) Memberikan kepuasan bagi klien dan keluarga menerima asuhan keperawatan

f. Kelemahan dari metode perawat primer:

1) Perlu kualitas dan kuantitas tenaga perawat. 2) Hanya dapat dilakukan oleh perawat profesional. 3) Biaya relatif lebih tinggi dibandingkan metode lain. 5. Metode Modul (Distrik)

Yaitu metode gabungan antara metode penugasan tim dengan metode perawatan primer. Metode ini menugaskan sekelompok perawat merawat pasien dari datang sampai pulang.

(9)

Sama dengan gabungan antara metode tim dan metode perawat primer. Semua metode diatas dapat digunakan sesuai dengan situasi dan kondisi ruangan. Jumlah staf yang ada harus berimbang sesuai dengan yang telah dibahas pembicaraan yang sebelumnya.

B. Kepala Ruang

BAB III KEPALA RUANG A. Definisi

Kepala ruang adalah pejabat struktural di jajaran pelayanan medis yang mempunyai tugas pokok menyelenggarakan manajemen pengaturan petugas perawat, pramurukti, POS dan tenaga administrasi dan memantau pelayanan di ruang perawatan, mengelola kegiatan pelayanan perawatan, mengawasi dan mengendalikan kegiatan pelayanan keperawatan agar berjalan dengan tertib dan lancar yang berada di wilayah tanggung jawabnya.

(10)

B. Tanggung jawab

1. Menentukan standar pelaksanaan kerja. 2. Supervisi dan evaluasi tugas staf. 3. Memberi pengarahan ketua tim. C. Peran kepala ruang

1. Sebagai konsultan dan pengendalian mutu perawatan primer. 2. Orientasi dan merencanakan karyawan baru.

3. Menyusun jadwal dinas.

4. Memberi penugasan pada perawat asisten/asosiat (PA). 5. Evaluasi kerja.

6. Merencanakan/menyelenggarakan pengembangan staf. D. Uraian tugas

1. Perencanaan

a. Menunjuk perawat primer yang akan bertugas di ruangan masing-masing.

b. Mengikuti serah terima pasien di shift sebelumnya. c. Mengidentifikasi tingkat ketergantungan klien.

d. Mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan berdasarkan aktifitas dan kebutuhan klien bersama ketua tim, mengatur penugasan/penjadwalan.

e. Merencanakan strategi pelaksanaan keperawatan.

f. Visite dokter untuk mengetahui kondisi, patofisiologi, tindakan medis yang dilakukan, program pengobatan, dan mendiskusikan dengan dokter tentang tindakan yang akan dilakukan terhadap pasien. g. Mengatur dan mengendalikan asuhan keperawatan.

h. Membantu mengembangkan niat pendidikan dan latihan diri. i. Membantu membimbing terhadap peserta didik keperawatan. j. Menjaga terwujudnya visi dan misi keperawatan dan RS. 2. Pengorganisasian

a. Merumuskan metode praktik keperawatan primer. b. Merumuskan tujuan metode penugasan.

c. Membuat rincian tugas perawat primer dan anggota tim secara jelas.

d. Membuat rentang kendali kepala ruangan membawahi 2 perawat perawat dan perawat primer membawahi 2-3 perawat.

e. Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan: membuat proses dinas, mengatur tenaga yang ada setiap hari dll.

f. Mengatur dan mengendalikan logistik ruangan.

g. Mengatur dan mengendalikan situasi lahan praktek Mendelegasikan tugas saat kepala ruang tidak berada ditempat kepada perawat primer.

(11)

h. Memberikan wewenang kepada tata usaha untuk mengurus administrasi pasien.

i. Mengatur penugasan jadwal pos dan pekarnya j. Identifikasi masalah dan cara penanganan 3. Pengarahan

a. Memberi pengarahan tentang penugasan kepada perawat primer. b. Memberi pujian kepada anggota yang melaksanakan tugas dengan

baik.

c. Memberi motivasi dalam peningkatan pengetahuan, ketrampilan dan sikap.

d. Menginformasikan hal-hal yang dianggap penting dan berhubungan dengan asuhan keperawatan pasien.

e. Melibatkan bawahan yang mengalami kesulitan dalam melaksanakan tugasnya.

f. Meningkatkan kolaborasi dengan anggota tim lain. 4. Pengawasan

a. Melalui komunikasi: Mengawasi dan berkomunikasi langsung dengan ketua tim maupun pelaksanan mengenai asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien.

b. Melalui superfisi: Pengawasan langsung dan tidak langsung.

c. Evaluasi: Mengevaluasi upaya pelaksanaan dan membandingkan dengan rencana keperawatan yang telah disusun bersama ketua tim serta melakukan audit keperawatan.

(12)

BAB IV PERAWAT PRIMER A. Definisi

Menurut Kron & Gray (1987) PP merupakan perawat profesional yang harus mampu menggunakan tehnik kepemimpinan dan mampu melakukan komunikasi yang efektif untuk melakukan kontinuitas rencana keperawatan terjamin.

B. Uraian Tugas 1) Tugas Pokok

Melaksanakan asuhan keperawatan kepada pasien di ruang perawatan. 2) Uraian Tugas

a. Menerima pasien.

b. Memberikan asuhan keperawatan dasar kepada klien sesuai dengan kebutuhan klien melalui pendekatan proses keperawatan. c. Melakukan asesment Keperawatan secara mandiri.

d. Melaksanakan tindakan keperawatan sesuai kompetensi perawat. e. Melakukan evaluasi tindakan keperawatan sesuai dengan batas

kemampuan dan kerja yang dimilikinya.

f. Melakukan observasi dan monitoring kondisi pasien.

g. Melakukan penyuluhan/memberikan pendidikan pasien dan keluarga.

h. Memberikan bimbingan kepada staf keperawatan yang bertugas dalam setiap shift jaga.

i. Menciptakan hubungan kerjasama yang baik dengan teman sejawat, pasien/klien dan keluarganya.

j. Melakukan dokumentasi asuhan keperawatan.

k. Melapor kepada dokter jaga ruangan atau dokter penanggung jawab pasien jika ada hal-hal yang harus ditindak lanjuti atau perlu penanganan khusus.

l. Melaksanakan tugas jaga sesuai dengan jadwal jaga (shift pagi dan siang atau malam hari/oncall) yang telah ditentukan.

m. Melaporkan kepada kepala ruang/koordinator pelayanan jika ada kejadian-kejadian yang perlu untuk ditindaklanjuti.

n. Melakukan dan mengikuti proses serah terima pasien bangsal. o. Memegang teguh rahasia jabatan sebagai perawat.

C. Tugas tambahan

1. Mengelola pelayanan keperawatan diluar jam kerja (sebagai PP).

2. Menyiapkan dan memelihara melihara ruang perawatan dan lingkungannya.

(13)

3. Memelihara dan menyiapkan peralatan/sarana medis dan perawatan sehingga selalu siap pakai.

4. Mengikuti pertemuan berkala yang dilaksanakan di ruang perawatan. 5. Meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan keperawatan melalui

program pendidikan keperawatan berkelanjutan (pertemuan ilmiah, pelatihan keperawatan, seminar, workshop dan lain-lain).

6. Memberikan bimbingan kepada karyawan baru dan mahasiswa keperawatan.

7. Menghadiri rapat/pertemuan koordinasi yang dilakukan di ruang pelayanan keperawatan.

D. Tanggung Jawab

1. Bertanggung jawab terhadap pelaksanaan asuhan keperawatan pasien kelolaan.

2. Bertanggung jawab terhadap kelancaran pelaksanaan asuhan keperawatan yang dilakukan oleh staf keperawatan yang dibimbingnya/dalam pengawasannya.

3. Menerapkan etika profesi keperawatan sesuai Kode Etik Perawat Indonesia.

E. Wewenang

a. Meminta pengarahan kepada perawat level di atasnya.

b. Memberikan masukan terhadap kepada kepala jaga shift atau ketua tim jaga tentang proses asuhan keperawatan yang diberikan kepada pasien. F. Syarat jabatan

1. Pendidikan Formal

a. Lulus dari program S1 Keperawatan dan memiliki Surat Tanda Registrasi Perawat.

b. Lulus dari program S2 Keperawatan dan memiliki Surat Tanda Registrasi Perawat.

c. Lulus dari program S3 Keperawatan dan memiliki Surat Tanda Registrasi Perawat.

2. Pendidikan Non Formal

a. Memiliki sertifikat PPGD/BTLS yang masih berlaku. b. Memiliki sertifikat Pendidikan dan Pelatihan Hemodialisa. c. Memiliki Sertifikat Pelayanan Prima.

d. Memiliki Sertifikat Pelatihan ECG. e. Memiliki Sertifikat Pelatihan SAK.

(14)

BAB V

PERAWAT ASOSIET A. Definisi

Seorang perawat yang diberikan wewenang dan ditugaskan untuk memberikan pelayanan keperawatan langsung kepada klien.

B. Tugas Pokok

1. Memberikan perawatan secara langsung berdasarkan proses keperawatan dengan sentuhan kasih sayang.

2. Melaksanakan tindakan perawatan yang telah disususun. 3. Mengevalusai tindakan keperawatan yang telah diberikan.

4. Mencatat dan melaporkan semua tindakan perawatan dan repons klien pada catatan perawatan.

5. Melaksanakan program medik dengan penuh tanggung jawab. 6. Pemberian obat.

7. Pemeriksaan laboratorium.

8. Persiapan klien yang akan dioperasi.

9. Memperhatikan keseimbangan kebutuhan fisik, mental, dan spiritual dari klien.

10. Memelihara kebersihan klien dan lingkungan.

11. Mengurangi penderitaan klien dengan memberi rasa aman, nyaman dan ketenangan.

12. Pendekatan dengan komunkasi terapeutik.

13. Mempersiapkan klien secara fisik dan mental untuk menghadapi tindakan perawatan dan pengobatan serta diagnostik.

14. Melatih klien untuk menolong dirinya sendiri sesuai kemampuannnya. 15. Memberi pertolongan segera pada kien gawat atau terminal.

16. Membantu kepala ruangan dalam ketatalaksaaan ruangan secara administratif.

(15)

18. Sensus harian dan formulir.

19. Rujukan atau penyuluhan PKMRS.

20. Mengatur dan menyiapkan alat-alat yang ada diruangan.

21. Menciptkan dan memelihara kebersihan, keamanan, kenyamanan dan keindahan ruangan.

22. Melaksankan tugas dinas pagi/sore/malam secara bergantian.

23. Memberi penyuluhan kesehatan kepada klien sehubungan dengan penyakitnya.

24. Melaporkan segala sesuatu mengenai keadaan klien baik lisan maupun tertulis.

25. Membuat laporan harian. 26. Mengikuti timbang terima.

27. Mengikuti kegiatan ronde keperawatan.

28. Melaksanakan rencana keperawatan yang dibuat oleh perawat primer 29. Berkoordinasi dengan perawat associate yang lain dan perawat primer 30. Melakukan evaluasi formatif.

31. Pendokumentasian tindakan dan catatan perkembangan pasien.

32. Melaporkan segala perubahan yang terjadi atas pasien kepada perawat primer.

(16)

Cobell, C. (1992). The Efficacy of Primary Nursing as a Fundation for Patient Advocacy Nursing Practic ; 5 (3) : 2 – 5.

Douglas, LM. (1984). The Effective Nurse Leader and Manager, Second Edition St Luis ; The C. V Mosby comp.

Gillies, D. (1989). Nursing Management Company a System Approach, Philadelphia, WB Saunders comp.

Nursalam. (2002). Management Keperawatan. Jakarta: Salemba.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk perawat mampu memberikan asuhan keperawatan pada klien gastritis

Asuhan keperawatan akan memberikan wawasan yang luas mengenai masalah keperawatan mengenai klien stroke non hemoragik. Asuhan keperawatan akan memberikan wawasan kepada perawat dalam

Seorang keluarga klien mendatangi anda yang hari itu bertugas sebagai perawat pelaksana dan berkata “ saya kecewa dengan pelayanan disini, saya sudah bayar mahal, tapi tidak

tersedianya waktu pada perawat pelaksana yang bertugas di Ruang BedahRSUD Prof Dr.Aloei Saboe Kota Gorontalo dengan pelaksanaan pendokumentasian proses asuhan keperawatan

Dokumentasi asuhan keperawatan adalah bukti bahwa tanggung jawab hokum dan etik perawat terhadap klien sudah dipenuhi dan klien telah menerima asuhan keperawatan yang

sebagai staf medis rumah sakit sebagaimana surat Nomor : …………………….tanggal ……………………perihal : Permohonan surat penugasan klinis dan rincian kewenangan

3.1.13 Melaksanakan asuhan keperawatan pada klien terminal Provide nursing care to the client with terminal illness 3.1.14 Melaksanakan asuhan keperawatan pada.

11 Upaya pemberian pelayanan kesehatan yang dialakukan oleh tenaga profesi perawat dalam bentuk pemberian asuhan keperawatan disesuaiakan dengan kebutuhan klien atau pasien