• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERKEMBANGAN PROGRAM AKSI PEMBIBITAN KERBAU DI KABUPATEN PANDEGLANG

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "PERKEMBANGAN PROGRAM AKSI PEMBIBITAN KERBAU DI KABUPATEN PANDEGLANG"

Copied!
7
0
0

Teks penuh

(1)

PERKEMBANGAN PROGRAM AKSI PEMBIBITAN KERBAU

DI KABUPATEN PANDEGLANG

APRIYANTO

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Pandeglang Jl. Raya Labuan Km.1 Komplek Perkantoran Cikupa, Pandeglang 42213 Banten

ABSTRACT

Although Cadasari District has been designated as the source of buffalo breeding stocks for Kabupaten Pandeglang, but the quality of buffalo are still low. Therefore Local Government cq. Local Office of Anmal Production and Veterinary made a preliminary evaluation of the existing problems and proceed with the escape solution that can be applied by farmers as a member of farmers group in the scale of the candidate breeder. The next step follow-up was made complete with the necessary facilities so that the solution presented can be run properly. Facilities referred to among other competent of human resources, especially in the medical field both veterinarians and veterinary paramedics and extension workers as a companion for the improvement of the quality of food and assistance in the implementation of action programs for buffalo breeding. It is expected that the agribusiness development of buffalo ranging from breeding to production can provide significant additional income for farmers family and the executor can make a real contribution in supporting self-sufficiency in buff and beef in Year 2014.

Key Words: Buffalo, Breeding, Production, Farmers Groups

ABSTRAK

Walaupun Kecamatan Cadasari telah ditetapkan sebagai wilayah sumber bibit kerbau untuk Kabuaten Pandeglang tetapi diakui bahwa kualitas kerbau yang ada masih rendah. Oleh karena itu dibuat evaluasi awal tentang permasalahan yang ada dan dilanjutkan dengan solusi/jalan keluar yang dapat diterapkan oleh peternak dalam skala kelompok peternak. Selanjutnya dibuat langkah tindak lanjut dengan dilengkapi fasilitas yang dibutuhkan agar solusi yang dipaparkan dapat dijalankan dengan baik. Fasilitas dimaksud antara lain SDM yang kompeten terutama dalam bidang medis baik dokter hewan maupun petugas paramedis veteriner dan petugas penyuluh sebagai pendamping untuk perbaikan mutu pakan dan pendampingan dalam penerapan program aksi perbibitan kerbau. Diharapkan bahwa usaha pengembangan kerbau mulai dari bibit sampai budidaya dapat memberikan tambahan penghasilan yang cukup signifikan bagi keluarga peternak pelaksana serta dapat memberikan kontribusi nyata dalam menunjang swasembada daging kerbau dan sapi tahun 2014.

Kata Kunci: Kerbau, Pembibitan, Budidaya, Kelompok Peternak

PENDAHULUAN

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Pandeglang merupakan dinas yang dibentuk berdasarkan PERDA Kabupaten Pandeglang Nomor 6 tahun 2008. Daging kerbau adalah daging yang paling dicari di Pandeglang dan kabupaten sekitarnya terutama dalam perayaan hari-hari besar.

Visi

“Terwujudnya masyarakat Pandeglang yang sehat, cerdas dan produktif melalui

konsumsi protein hewani yang aman, sehat, utuh dan halal”.

Misi

1. Menumbuhkembangkan populasi dan produktivitas peternakan.

2. Mendorong tercapainya profesionalisme sumber daya manusia peternakan dalam pelayanan kesehatan hewan dan kesehatan

masyarakat veteriner untuk

mengembangkan peternakan yang tangguh dan mandiri.

3. Ternak kerbau adalah ternak yang populer di Kabupaten Pandeglang maka perlu

(2)

ditumbuh kembangkan untuk meningkatkan populasi dan produktivitas ternak.

4. Menjadikan daging kerbau sebagai pangan wajib di Hari Lebaran/Idul Fitri/Idul Adha.

5. Populasi semakin menurun, jumlah yang

dipotong tidak diimbangi dengan tingkat kelahiran dan kematian sampai mencapai usia potong berdasarkan bobot badan.

6. Terjadi Inbreeding dimana daya reproduksi dan bobot badan ternak kerbau menurun.

PENGEMBANGAN TERNAK KERBAU DI KABUPATEN PANDEGLANG Potensi

Eksisting kondisi pemeliharaan kerbau di Kabupaten Pandeglang adalah yang paling mudah dibandingkan dengan pemeliharaan ternak ruminansia lainnya. Hal tersebut disebabkan karena: (1) dalam pemeliharaannya tidak memerlukan teknologi tinggi, (2) bahan pakan tersedia sepanjang tahun karena lahan penghasil pakan tersedia cukup luas, (3) pemasaran hasil produksi ternak kerbau di Kabupaten Pandeglang dan sekitarnya sangat mudah dengan harga jual yang relatif stabil.

Potensi inilah yang perlu dioptimalkan pemanfaatannya melalui peningkatan SDM peternak dalam manajemen beternak kerbau. Manajemen tersebut penting dan salah satu yang paling utama di dalamnya adalah pemanfaatan pakan yang lebih berkualitas agar efisiensi produksi dapat dicapai dengan baik dan pembibitan dalam hal ini manajemen perkawinan untuk meminimalkan inbreeding.

Kelihatannya yang membuat usaha peternakan kerbau melalui budidaya di Pandeglang mudah karena dipicu oleh lancarnya pemasaran dan harga jual yang memuaskan peternak serta didukung oleh ketersediaan pakan yang melimpah.

KONDISI LOKASI PADA KELOMPOK SASARAN PROGRAM AKSI

PERBIBITAN TAHUN 2006

Kelompok Tani Ternak “Ciinjuk Maju” Desa Ciinjuk, Kecamatan Cadasari, Kabupaten Pandeglang, Provinsi Banten Desa Ciinjuk: lokasi sumber bibit ternak kerbau untuk

Pandeglang. Kondisi agroekosistemnya sesuai untuk ternak kerbau, dimana sumber pakan lokal dan air tersedia sepanjang tahun. Kecamatan Cadasari merupakan salah satu sentra padi di Kabupaten Pandeglang, jerami padi, dedak padi dan rumput sebagai pakan utama tersedia cukup. Kecamatan Cadasari yang berbatasan langsung dengan Kabupaten Serang di sebelah utara dan Kabupaten Lebak disebelah selatan, telah memiliki sarana infrastruktur yang cukup baik, sehingga lokasi cukup strategis untuk pemasaran ternak.

Lokasi strategis dalam pemasaran adalah hal yang utama karena mudah di akses oleh penjual dan pembeli dan membuat harga jual yang lebih stabil dan proses jual-beli dapat berjalan dengan lancar dan cepat.

Kondisi lokasi

Wilayah Kecamatan Cadasari sebagai wilayah sumber bibit untuk Kabupaten Pandeglang, memiliki karakteristik seperti yang dikemukakan di bawah ini.

Memiliki luas wilayah sebesar 6.332,4 ha dengan kawasan persawahan dengan luas 1.854,9 ha. Di samping itu juga memiliki kawasan lahan kering seluas 4.467,5 ha. Iklim di Cadasari juga mendukung bagi pertumbuhan kerbau yang optimal yaitu dengan memiliki curah hujan sedalam 653 mm/tahun dan rataan suhu udara 22,5oC. Oleh karen aitu tidaklah mengherankan jika kedua kawasan inilah kemudian menjadi sumber pakan utama bagi pengembangan kerbau di Kecamatan Cadasari ini.

Dengan berbagai latar belakang tersebut maka Pemerintah Daerah Pandeglang kemudian menetapkan Kecamatan Cadasari sebagai daerah dengan prioritas utama di bidang pertanian dan peternakan. Sehubungan dengan hal tersebut maka Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Pandeglang kemudian memberikan perhatian yang lebih pada daerah ini bagi pengembangan ternak kerbau dan kegiatan pendukungnya dengan sumber dana baik yang berasal dari APBD Kabupaten dan Provinsi, maupun dari APBN.

Untuk memperlihatkan keseriusan Pemda, maka kemudian didirikan UPT BPP Cadasari dengan personalia yang terdiri dari:

(3)

1. Kepala UPT BPP Cadasari : 1 orang

2. Penyuluh Pertanian : 12 Orang 3. Penyuluh Peternakan : 3 Orang

4. Dokter Hewan : 1 Orang

Pendirian UPT BPP Cadasari pada lokasi yang sama dengan pengembangan wilayah sumber bibit kerbau seperti inilah yang diharapkan kedepan akan membuat pengembangan kerbau secara terpadu dapat terbangun dengan baik.

Maka langkah yang ditenmpuh oleh Pemda Pandeglang adalah berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi sarana dan prasarana pendukung pada UPT BPP. Fasiltas yang sudah dimiliki adalah : (a) infrastruktur, air, jaringan telepon dan listrik. Hal-hal yang telah disediakan tersebut mempermudah akses transportasi dan komunikasi serta sarana pendukung bagi keberlangsungan administrasi perkantoran dan kegiatan budidaya dan pembibitan kerbau serta kemudahan akses untuk pemasaran produk. (b) Sarana dan prasarana pendukung usaha perbibitan dari Pemerintah Daerah dan (c) sarana dan prasarana yang telah dimiliki oleh kelompok tani ternak binaan UPT BPP tersebut.

POLA PEMELIHARAAN TERNAK Pola pemeliharaan yang diterapkan pada kelompok peternak terpilih adalah pola pemeliharaan ternak kerbau yang terkonsentrasi dalam suatu kawasan dengan sistem intensif. Hal tersebut dimaksudkan untuk memudahkan dalam penanganan berbagai masalah teknis yang dibutuhkan dan peternak dapat saling mempelajari hal-hal baru dengan cepat. Walaupun demikian tidak dipungkiri bahwa merubah sistem ekstensif menjadi sistem intensif bukanlah suatu hal yang mudah dan dapat diterapkan secara instan, tetapi membutuhkan proses pengenalan, pembelajaran, sosialisasi dan implikasi dalam menerapkan suatu inovasi baru dalam usaha peternakan kerbau anggota.

Perkandangan

Kandang yang digunakan adalah kandang sistem individual untuk memudahkan pemeliharaan dan peternak tidak saling mengandalkan satu sama lainnya tapi

benar-benar tergantung pada kinerja dan tanggung jawab masing-masing anggota kelompok peternak. Dalam sistem ini juga terjadi interaksi antara peternak itu sendiri yang berdampak pada percepatan perbaikan dalam pemeliharaan ternak yang dimiliki.

Walaupun sistem kandang adalah individual namun tetap berlokasi didalam satu kampung, yakni Kampung Ciinjuk. Alasan seluruh jumlah anggota kelompok dikonsentrasikan dalam Kampung Ciinjuk agar para anggota kelompok dapat mengatur jadwal pengamanan bersama untuk memaksimalkan perlindungan pada keamanan kampung secara umum dan secara khusus untuk menjaga kerbau pemeliharaan yang akhir-akhir ini diindikasikan semakin rawan terhadap pencurian kerbau.

Pakan

Sebagaimana telah disinggung sebelumnya bahwa sumber pakan utama bagi kerbau di Cadasari ini diperoleh dari kawasan persawahan dan lahan kering. Disamping itu juga ternyata anggota kelompok dan kelompok peternak juga membuat sendiri kebun rumput milik kelompok yang dsimulai pada bulan Januari Tahun 2007 pada lahan seluas 1,5 ha. Kebun rumput ditanami dengan bibit rumput Gajah dan rumput Raja sebanyak 15.900 stek dan sampai sekarang terus dimanfaatkan secara bersama oleh para peternak anggota kelompok di Ciinjuk tersebut.

Sistem pemeliharaan kebun rumput juga diatur untuk dilakukan secara bersama dengan aturan main yang dibuat dan disetujui serta disepakati bersama oleh para anggota kelompok termasuk pengurus. Selanjutnya pengurus sebagai manajer administrasi dan teknis kelompok peternak tersebut tinggal menjalankan dengan penuh tanggung jawab dan adil bagi seluruh anggota.

Hasilnya cukup baik karena sampai Tahun 2011 ini kebun rumput masih berfungsi dan dimanfaatkan dengan baik oleh semua anggota kelompok.

Sistem perkawinan kerbau

Perkawinan dilakukan melalui sistem Intensifikasi Kawin Alam (INKA), yang

(4)

dimasa mendatang perlu dilakukan introduksi perkawinan melalui Inseminasi Buatan (IB). Teknis perkawinan terus diawasi, di bawah bimbingan petugas teknis peternakan setempat agar tidak terjadi perkawinan silang dalam (inbreeding). Pencatatan dilakukan untuk menentukan silsilah keturunan dari ternak yang dihasilkan.

Pejantan yang digunakan dipilih oleh petugas dan kelompok dibawah pengarahan dan bimbingan petugas terkait. Pencatatan dilakukan sebagai cikal-bakal penerapan program rekording untuk pelaksanaan perbibitan yang dilakukan secara bertahap. Para anggota dan pengurus juga diberikan pemahaman tentang perbibitan kerbau termasuk apa yang harus dilakukan, permasalahn yang mungkin timbul didalamnya dan manfaatnya bagi kelangsunngan hidup kelompok dan dampaknya pada perbaikan penghasilan peternak pada masa yang akan datang.

Untuk terlaksananya target usaha perbibitan kerbau pada masa mendatang tersebut, maka berbagai kegiatan yang dapat mendukung terjadinya percepatan untuk terbentuknya usaha perbibitan juga dilaksanakan. Teknis perbibitan kerbau diperoleh para peternak melalui program aksi pembibitan kerbau yang terus diuapayakan oleh kelompok agar dapat diterapkan dengan sebaik-baiknya.

Para peternak juga melakukan usaha-usaha diantaranya usaha tani tanaman padi dan palawija yang merupakan mata pencaharian pokok serta pemanfaatan secara optimal produk limbah yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan usaha ternak kerbau yang dilakukan. Pengolahan jerami padi menjadi pakan dan pemanfaatan jerami-jerami lain maupun produk sisa pertanian lainnya yang potensial sebagai pakan juga dilaksanakan.

Keterkaitan dengan program lain

Ternyata Program Perbibitan Ternak Lokal terutama ternak kerbau yang dilaksanakan oleh Kelompok Ciinjuk Maju, Desa Ciinjuk, Kecamatan Cadasari sangat mendukung Program Peningkatan Beras Nasional sedang digalakan oleh Pemerintah Pusat. Dukungan nyata yang diberikan oleh para peternak adalah dukungan pemanfataan tenaga kerja kerbau

sebagai ternak pengolah sawah dan sekaligus sebagai sumber pupuk organik yang sangat baik bagi lahan persawahan dan lahan kering yang ada di Cadasari ini.

Pemanfaatan tenaga kerja dan penghasil pupuk organik berdampak pada pemahaman peternak bahwa ternak kerbau yang dimilikinya ternyata mempunyai nilai jual yang tidak hanya tergantung pada harga jual ternak yang dihasilkan saja. Ternyata tenaga kerja ternak sebagai pengolah sawah juga mempunyai harga jual khusus demikian juga pupuk organik yang dihasilkan juga dapat memberikan pemasukan yang cukup baik. Pupuk organik tersebut baru mempunyai harga jual yang layak jika telah diolah dengan inovasi baru sehingga dapat menghasilkan pupuk siap pakai yang bernilai nutirisi tinggi bagi tanaman yang membutuhkannya.

Kesemua hal tersebut secara bersamaan membuat peternak akan tetap mempertahankan usaha ternak kerbau yang dimilikinya dan kalau mungkin akan dapat meningkatkan jumlah kerbau yang dipelihara oleh masing-masing peternak maupun oleh kelompok peternak.

PERKEMBANGAN POPULASI TERNAK KERBAU PROGRAM AKSI PERBIBITAN

Kelompok Peternak Ciinjuk Maju dalam melaksanakan program aksi perbibitan didukung oleh kegiatan-kegiatan pendukung yang tidak hanya melalui APBN Pusat tetapi juga melalui APBD Kabupaten Pandeglang. Jumlah ternak kerbau dalam program aksi perbibitan tersebut sampai pada bulan April tahun 2011 seperti tercantum pada Tabel 1. Terlihat bahwa imbangan ternak jantan dewasa dan betina dewasa cukup baik.

Kegiatan pendukung yang diberikan oleh Pemda Pandeglang adalah difokuskan pada pelayanan penanganan kesehatan hewan. Pemda menyediakan tenaga medis kesehatan hewan yang terdiri dari :

1. Petugas: 2 orang Dokter Hewan dan 5 orang Paramedis Kesehatan Hewan. 2. Kegiatan pencegahan penyakit hewan

secara rutin yaitu melalui pelaksanaan vaksinasi SE, pemberian antibiotik pada saat dibutuhkan, penyediaan vitamin tambahan, serta pemberian obat cacing

(5)

secara berkala pada ternak kerbau pemeliharaan anggota kelompok.

3. Perbantuan lainnya adalah pemberian stimulan pakan konsentrat dan rehabilitasi kandang yang butuh perbaikan.

PERMASALAHAN

Sebagaimana usaha ternak lainnya, selalu usaha perbaikan harus dilakukan secara paralel dengan permsalahan yang ada dan diikuti dengan solusi terhadap permasalahan yang ada yang sebaiknya solusi tersebut langsung dapat diimplementasikan. Ada berbagai masalah yang telah diidentifikasi oleh Pemda setempat cq. Dinas-dinas terkait yang melaksanakan fungsi peternakan dan kesehatan hewan serta pemasaran produk hewani.

Pertama, kualitas kerbau yang ada diklasifikasikann sebagai tergolong rendah, karena sering terjadi inbreeding (perkawinan

sedarah). Hal tersebut terlihat secara nyata dari menurunnya tanduk kerbau yang berputar kebawah serta ditemukannya kerbau albino atau “kerbau bule” dalam kelompok-kelompok ternak (buffalo herds)yang dipelihara oleh masyarakat. Tentunya kejadian albino tersebut harus ditanggulangi atau dihilangkan melalui perkawinan out breeding yaitu menggunakan pejantan dari luar kelompok ternaknya untuk mengawini sapi betina produktif yang ada dalam kelompok tersebut. Karena inbreeding mengakibatkan pengaruh negatif berupa penurunan daya reproduksi dan produktifitas ternak kerbau, semakin tinggi tingkat inbreeding maka semakin besar pengaruh negatifnya.

Kedua, belum optimalnya usaha tani ternak yang dilakukan oleh petani, karena lemahnya permodalan untuk menyediakan fasilitas pendukung dan kualitas sumberdaya manusia yang masih butuh peningkatan pengetahuan.

Tabel 1. Populasi ternak program aksi perbibitan sampai dengan bulan April 2011

Populasi awal Nama peternak

Jantan Betina Jumlah

Status peternak dalam kelompok Januari 1 3 4 Ketua Soleman 1 2 3 Sekretaris Memed 1 1 2 Bendahara Rohani – 3 3 Anggota Toton 2 1 3 Anggota Yusuf – 3 3 Anggota Radipan – 2 2 Anggota Edi – 3 3 Anggota Sanata – – 2 Anggota Soleh – 2 2 Anggota Yadi – 2 2 Anggota Makrawi – 3 3 Anggota Muhaemin – 3 3 Anggota Engkos – 3 3 Anggota Encep – 3 3 Anggota Amin – 3 3 Anggota Dayat – 3 3 Anggota Halimi – 2 2 Anggota Juhri – 4 4 Anggota Malem 1 2 3 Anggota Jumlah 6 56 56

(6)

Kurangnya kemampuan peternak dalam menyerap ilmu dan teknologi yang sudah diberikan secara cepat adalah hal yang wajar saja. Tetapi yang perlu adalah kegiatan introduksi inovasi dan sosialisasi harus tetap dijalankan secara berkesinambungan dan berulang walaupun pada materi yang sama.

Ketiga, belum optimalnya pemanfaatan sumber daya peternakan terutama pakan dan obat-obatan. Pakan yang bersumber dari produk sisa pertanian membutuhkan beberapa perlakuan khusus untuk ditingkatkan nilai gizinya agar dapat menjadi lebih baik. Pemberian pakan tersebut akan berdampak pada pemenuhan nilai gizi kerbau yang dipelihara, dimana pada ternak betina membuat lancar fungsi reproduksinya dan pada yang jantan terjadi peningkatan bobot badan yang layak.

Keempat, tingginya tingkat pemotongan ternak kerbau yang tidak seimbang dengan tingkat kelahiran (natalitas) kerbau serta jumlah kerbau betina produktif yang mencapai usia dewasa yang terindikasi masih rendah. Disinilah peran pakan, obat-obatan dan pengetahuan peternak perlu diooptimalkan sehingga peternak tidak mengalami kerugian yang seharusnya tidak dialaminya.

Kelima, usaha di bidang peternakan masih dianggap sebagai usaha sampingan bagi petani/peternak dan bukan sebagai usaha pokok walaupun jika diukur dari penghasilan yang diberikan per tahun, usaha peternakan dapat saja sebagai pemberi kontribusi penghasilan terbatas bagi usaha rumah tangga petani. Dampaknya adalah usaha yang dilakukan juga secara sambilan artinya kurang sungguh-sungguh.

Keenam, masih minimnya lokasi sentra-sentra perbibitan ternak kerbau yang sesuai dengan kondisi agroekosistem, dan sulitnya mendapatkan ternak kerbau bibit dan bakalan dalam jumlah yang cukup dan terjamin kualitasnya untuk melaksanakan usaha perbibitan atau penggemukan secara langsung.

UPAYA PEMECAHAN MASALAH Solusi untuk jalan keluar dari permasalahan yang ada tersebut maka dapat ditempuh beberapa cara yang perlu disesuaikan dengan kondisi masyarakat dan lingkungan setempat.

1. Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan petani ternak dalam pemeliharaan dan perbibitan ternak kerbau.

2. Mengembangkan usaha perbibitan ternak kerbau berbasis sumberdaya lokal secara berkelanjutan dengan tidak menutup peluang jika bahan yang dibutuhkan berasal dari luar dengan kualitas yang minimal sama dengan mutu bahan lokal dan dengan harga yang lebih murah maka prinsip ekonomi harus diterapkan serta menggali potensi sumberdaya lainnya yang ada untuk mengembangkan usaha kelompok.

3. Mengusahakan budidaya ternak menjadi sumber penghasilan pokok bagi peternak. 4. Mengurangi perkawinan ternak kerbau

yang masih sedarah (inbreeding) dengan mendatangkan pejantan dari luar yang tidak memiliki hubungan kekerabatan dengan ternak yang ada atau melalui Inseminasi Buatan.

5. Meningkatkan fasilitasi dan bantuan modal bagi usaha yang dikelola kelompok. 6. Memanfaatkan teknologi tepatguna yang ramah lingkungan untuk meningkatkan produktivitas ternak kerbau dan kualitas pakan serta meningkatkan jumlah sentra perbibitan ternak kerbau di wilayah Kabupaten Pandeglang melalui sumber dana APBN dan APBD serta swasta.

SARAN TINDAK LANJUT

Untuk mempertahankan citra Cadasari sebagai wilayah sumber bibit kerbau di Kabupaten Pandeglang, maka teknis perbibitan perlu diperbaiki dan kerjasama yang lebih baik dengan semua stakeholders perlu terus dibina dalam rangka meningkatkan usaha peternakan rakyat yang berada di daerah pedesaan berbasis sumberdaya lokal.

Untuk itu maka perlu dilakukan pembinaan, sosialisasi dan penyuluhan yang intensif dan berkelanjutan, dalam rangka menunjang “Program Aksi Perbibitan Ternak Lokal” agar dapat tercapai sasaran yang telah ditetapkan sejak awal yaitu ikut berkontribusi dalam swasembada daging kerbau dan sapi Tahun 2014.

(7)

Disamping itu juga diperlukan pemantauan dan koordinasi sebagai bahan evaluasi untuk kelanjutan program dimasa yang akan datang dan untuk memperbaiki tatanan yang telah direncanakan untuk modifikasi penyesuaian dengan kemajuan yang telah dicapai.

DAMPAK PROGRAM TERHADAP LINGKUNGAN SETEMPAT Diharapkan bahwa penerapan program aksi perbibitan tersebut pada tingkat kelompok peternak maka minat masyarakat untuk berusaha dibidang usaha ternak kerbau akan dapat ditingkatkan sehingga dapat memicu terjadinya peningkatan populasi ternak kerbau di Kecamatan Cadasari.

Meningkatnya kesejahteraan masyarakat khususnya petani/peternak kerbau di Kecamatan Cadasari melalui usaha ternak kerbau yang terus dikembangkan peternak dan kelompok secara berkelanjutan.

Terbentuknya kelompok pembibit kerbau yang berdaya saing, mandiri dan berkelanjutan dan pada akhirnya dapat tercipta sentra/kawasan sumber bibit kerbau dengan mutu yang baik.

Terpenuhinya kebutuhan daging kerbau untuk di Kabupaten Pandeglang.

RENCANA PROGRAM KEDEPAN Jika kelompok peternak Ciinjuk ini telah berkembang baik, maka Pemda dapat mereplikasi/memberdayakan kelompok lain yang memiliki potensi serta kemauan untuk mengembangan budidaya ternak kerbau.

Melakukan pembinaan dan bimbingan teknis kepada kelompok peternak yang ada di Kabupaten Pandeglang.

Menambah populasi ternak kerbau dengan program pembibitan yang berkelanjutan (rencana tahun 2011 = 5 kelompok) agar usaha

budidaya ternak kerbau yang dilakukan oleh peternak akan merupakan usaha pokok dan bukan lagi sebagai usaha sampingan.

Menyelamatkan kerbau betina produktif yang akan dipotong oleh masyarakat, sehingga akan dapat menambah populasi sebagai kontribusi nyata dalam ikut mensukseskan swasembada daging sapi/kerbau di Pandeglang tahun 2014.

KESIMPULAN

Pemerintah Daerah Kabupaten Pandeglang menetapkan Kecamatan Cadasari sebagai wilayah sumber bibit ternak kerbau dan menetapkan Kelompok Peternak Ciinjuk Maju sebagai kelompok terpilih untuk dikembangkan sebagai kelompok pembbit kerbau pada masa mendatang.

Ada beberapa permasalahn yang membutuhkan solusi segera yang terutama adalah banyak terjadi perkawianan sesama saudara sehingga tingkat inbreeding sudah cukup besar dalam kelompok ternak serta penggunaan pakan yang berasal dari produk samping pertanian tanaman pangan yang diberikan secara langsung kepada ternak kerbau tanpa pengolahan untuk memperbaiki kandungan nutrisi di dalamnya.

Kelompok peternak perlu dibantu oleh Pemda untuk mendapatkanm pejantan kerbau dengan mutu yang baik, atau semen yang berasal dari pejantan berkualitas untuk mengawini ternak-ternak yang ada pada kelompok.

Diharapkan usaha perbibitan ini akan dapat berkontribusi secara langsung dalam peningkatan penghasilankeluarga peternak terkait serta berkontribusi baik secara langsung maupun tidak langsung dalam menunjang kesuksesan swasembada daging kerbau/sapi tahun 2012.

Gambar

Tabel 1. Populasi ternak program aksi perbibitan sampai dengan bulan April 2011  Populasi awal

Referensi

Dokumen terkait

I Pcncdpa cpek teknis: bibit yeg digunat& adalal kerbau lMpu. Keseh.rartpenyrkit direnuke lt,n% remlk yeg

Agar terdapat keseimbangan antara ekonomi berbasis sumber daya alam dan ekonomi berbasis manufaktur terutama di daerah Pandeglang khususnya wilayah Kecamatan

1) Berada dalam kawasan padat ternak sapi perah, yang berpotensi menjadi wilayah sumber bibit sapi perah. 2) Diutamakan pada wilayah yang berpotensi sebagai wilayah sumber bibit.

Berkaitan dengan upaya pembangunan pertanian khususnya Peternakan di Kabupaten Pandeglang, Dinas peternakan Kabupaten Pandeglang pada tahun 2000 melaksanakan program

Motivasi yang dimiliki para peternak di Desa Cibarani dalam memelihara ternak kerbau termasuk tinggi terkait dengan dijadikannya ternak kerbau sebagai sumber

populasi ternak kerbau di kantong bibit sapi potong lokal Kabupaten Grobogan memperlihatkan bahwa pada tahun 2008 terdapat 2.531 ekor yang tersebar di 19 kecamatan (Tabel 2)..