• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dissociative Trance Disorder

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "Dissociative Trance Disorder"

Copied!
9
0
0

Teks penuh

(1)

BAB I

PENDAHULUAN

Kesurupan merupakan fenomena yang sudah ada sejak lama pada berbagai suku bangsa. Pada suku–suku tertentu ini dikaitkan dengan ritual-ritual agama tertentu. Juga digunakan sebagai hiburan di pentas kesenian, Orang awam menyebutnya “kemasukan roh” Dalam dunia medis hal ini disebut “trance”. Dalam PPDGJ III gangguan ini dimasukkan dalam kelompok “gangguan disosiasi”. Di Malang puluhan buruh pabrik rokok Bintang Bola Dunia yang berlokasi di Jalan IR Rais Nomor 47 RT 1 RW 1 Kelurahan Tanjung Rejo, Kecematan Sukun, Kota Malang. Senin (17/12), mengalami kesurupan massal. Para buruh tersebut menjerit-jerit histeris hingga akhirnya mereka diliburkan kerja sehari. Fenomena kesurupan menurut keyakinan masyarakat adalah nyata, yaitu adanya intervensi makhluk gaib atau jin dalam perilaku individu sehingga ia kehilangan kesadaran akan perilakunya. Dalam PPDGJ III atau DSM IV-TR, kesurupan di diagnosis sebagai gangguan trans-disosatif. Artinya hilangnya realitas pribadi asli seseorang akibat adanya faktor intervensi kekuatan luar. Gangguan trans dianggap sebuah faktor budaya yang diiringi dengan ritual mistik sebelumnya. Orang yang mengalami kesurupan biasanya secara tiba-tiba jatuh dan menjerit-jerit, atau melakukan perilaku aneh, dan perubahannya begitu cepat dalam hitungan detik. Individu yang mengalami kesurupan biasanya memilki daya tahan tubuh yang lemah. Tidak jarang dari penderita memiliki latar belakang masalah mental dalam dirinya yang belum terselesaikan sehingga pertahanan kesadaran begitu lemah. Faktor lain bisa disebabkan karena lemahnya daya tahan spiritual atau iman seseorang sehingga mudah untuk dirasuki. Maka saat intervensi itu masuk, individu menjadi histerik dan menjadi pribadi diluar dirinya yang sesungguhnya.

(2)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Definisi

Gangguan Trans atau kesurupan (Dissociative Trance Disorder) merupakan bagian dari gangguan disosiatif (dissociative disorders) yang bisa didefinisikan sebagai adanya kehilangan (sebagian atau seluruh) dari integrasi normal (dibawah kendali sadar) meliputi ingatan masa lalu,kesadaran identitas dan peng-inderaan-an segera (awareness of identity andimmediate sensations) serta kontrol terhadap gerak tubuh. Dalam penegakan diagnosis gangguan Disosiatif harus ada gangguanyang menyebabkan kegagalan mengkordinasikan identitas, memori persepsiataupun kesadaran, dan menyebabkan gangguan yang bermakna dalam fungsisosial, pekerjaan dan memanfaatkan waktu senggang.

“Trans” yang disebut juga “twilight state” adalah suatu keadaan yang ditandai oleh perubahan kesadaran atau hilangnya penginderaan dari identitas diri dengan atau tanpa suatu identitas alternatif.(DSM IV TR). “Trans” adalah suatu keadaan kehidupan separuh sadar (half-light) antara realitas yang nyata dan fantasi yang gelap (Cameron, 1963). “Trans” adalah suatu perubahan status kesadaran dan menunjukkan penurunan responsivitas terhadap stimulus lingkungan (Kaplan, 1994). Menurut Hinsie dan Campbel (1970), mempunyai persamaan arti dengan hipnosis, katalepsi dan keadaan ekstasi atau kekaguman dapat juga diartikan terlena. ”Trans” adalah suatu bentuk kesadaran transaksional yang dibangkitkan untuk tujuan transformasi (Hukom,1977)

Sejarah

Trans sudah dikenal sejak zaman Yunani Kuno dan digunakan sebagai suatu cara pengobatan penyakit fisik dan mental. Pada masyarakat Mesir Kuno

(3)

terdapat di Yunani yang terdapat di Delphi. Pada masyarakat modern identifikasikan sebagai hipnosis pertama kali oleh Anton Mesmer (abad 18) dikenal dengan sebutan “magnetisme” dan “Mesmerisme”. Istilah hipnosis diperkenalkan pertama kali oleh James Braid dan digunakan dalam pengobatan gangguan psikosomatik.

Etiologi

Gangguan Disosiatif belum dapat diketahui penyebab pastinya, namun biasanya terjadi akibat trauma masa lalu yang berat, namun tidak ada gangguan organik yang dialami. Gangguan ini terjadi pertama pada saat anak-anak namun tidak khas dan belum bisa teridentifikasikan, dalam perjalanan penyakitnya gangguan disosiatif ini bisa terjadi sewaktu-waktu dan trauma masa lalu pernah terjadi kembali, dan berulang-ulang sehingga terjadinyagejala gangguan disosiatif.

Dalam beberapa referensi menyebutkan bahwa trauma yang terjadi berupa :

 Kepribadian yang Labil :

 Pelecehan seksual

 Pelecehan fisik

 Kekerasan rumah tangga ( ayah dan ibu cerai )

 Lingkungan sosial yang sering memperlihatkan kekerasan

 Kemarahan

 Kecemasan

 Kelelahan fisik

 Alam bawah sadar

Identitas personal terbentuk selama masa kecil, dan selama itupun,anak-anak lebih mudah melangkah keluar dari dirinya dan mengobservasi trauma walaupun itu terjadi pada orang lain.

(4)

Mekanisme Terjadinya

1. Stres / ritualistik / meditasi 2. Fungsi Ego Melemah 3. Batas Ego terbuka

4. Kekuatan bawah sadar bangkit

Faktor yang membangkitkan

1. Musik / tetabuhan 2. Kata-kata / mantra

3. Cahaya yang menyilaukan 4. Situasi yang kacau

5. Kekaguman 6. Hipnosis

Gambaran Klinik

Gangguan-gangguan yang menunjukkan adanya kehilangan sementara penghayatan akan identitas diri dan kesadaran terhadap lingkungannya; dalam beberapa kejadian, individu tersebut berperilaku seakan-akan dikuasai oleh kepribadian lain, kekuatan gaib atau malaikat. Gangguan trans yang terjadi selama suatu keadaan skizofrenik atau psikosis akut disertai halusinasi atau waham atau kepribadian multipletidak boleh dimasukkan dalam kelompok ini.

Kriteria Diagnosis

Dalam buku pedoman penggolongan dan diagnosis gangguan jiwa (PPDGJ) III, kesurupan (trans) dimasukan dalam gangguan disosiatif, yaitu F44.3. Pedoman diagnosis bagi penderita kesurupan dan trans dalam PPDGJ III (Maslim, 2001:82) yaitu:

(5)

dikuasai oleh kepribadian lain, kekuatan ghaib, malaikat atau “kekuatan lain”.

2. Hanya gangguan trans yang involunter (diluar kemampuan individu) dan bukan merupakan aktivitas yang biasa dan bukan merupakan kegiatan keagamaan ataupu budaya yang boleh dimasukkan dalam pengertian ini.

3. Tidak ada penyebab organik (epilepsi lobus temporalis) cedera kepala, intoksikasi zat psikoaktif dan bukan bagian dari gangguan jiwa tertentu, seperti skizopren atau gangguan kepribadian multiple.

Dari panduan diagnosis di atas gangguan kesurupan karena faktor budaya atau ritual keagamaan tidak dianggap sebagai gangguan jiwa. Namun beberapa kejadian dilapangan menunjukan tidak semua kesurupan terjadi didahului proses ritual budaya atau agama tertentu

Dalam dunia psikiatri, Maramis (Maramis, 2004: 418), membagi kondisi orang kesurupan menjadi dua yaitu:

1. Munculnya keyakinan akan adanya kekuatan lain yang menguasai diri seseorang. Gejala seperti ini merupakan bagian dari terpelahnya isi pikiran yang merupakan ciri dari penderita skizofrenia. Bentuk kenyakinan ini disebut juga sebagai waham.

2. Orang yang kesurupan mengalami metamorfosis total, ia menganggap dirinya dengan orang lain atau benda tertentu. Gejala seperti ini bisa dilihat pada orang yang mengalami gangguan disosiasi. Jika pemicunya adalah konflik atau stress psikologik, keadaan ini disebut dengan reaksi disosiasi yang merupakan sub jenis dalam neorosa histerik. Disosiasi ini didasari pada kepercayaan atau kebudayaan tetentu dan disebut dengan kesurupan.

(6)

Penatalaksanaan

Farmakologi dan nonfarmakologi:

1. Pemberian injeksi anti cemas atau antipsikotik yang membuat penderita lebih tenang

2. Psikoterapi penanganan primer terhadap gangguan disosiati dini. Bentuk terapinya berupa terapi bicara, konseling atau terapi psikososial, meliputi berbicara tentang gangguan yang diderita oleh pasien jiwa.Tujuannya untuk membantu agar mengerti penyebab dari kondisi yang dialami.

3. Hypnosis menciptakan keadaan relaksasi yang dalam dan tenang dalampikiran. Saat terhipnotis, pasien dapat berkonsentrasi lebih intensif danspesifik. Karena pasien lebih terbuka terhadap sugesti saat pasien terhipnotis.Ada beberapa konsentrasi yang menyatakan bahwa bisa saja ahli hipnotisakan menanamkan memori yang salah dalam mensugesti

Penanganan gangguan disosiatif secara umum meliputi :

1. Terapi kesenian kreatif. Dalam beberapa referensi dikatakan bahwa terapi ini menggunakan proses kreatif untuk membantu pasien yang sulit mengekspresikan pikiran dan perasaan mereka. Seni kreatif dapatmembantu meningkatkan kesadaran diri. Terapi seni kreatif meliputikesenian, tari, drama dan puisi.

2. Terapi kognitif. Terapi kognitif ini bisa membantu untuk mengidentifikasikan kelakuan yang negative dan tidak sehat dan menggantikannya dengan yang positif dan sehat, dan semua

(7)

3. Terapi obat. Terapi ini sangat baik untuk dijadikan penangan awal,walaupun tidak ada obat yang spesifik dalam menangani gangguan disosiatif ini. Biasanya pasien diberikan resep berupa anti-depresan dan obat anti-cemas untuk membantu mengontrol gejala mental pada gangguandisosiatif ini. Barbiturat kerja sedang dan singkat, seperti tiopenal dan natriumamobarbitaldiberikan secara intravena dan benzodiazepine dapat bergunauntuk memulihkan ingtannya yang hilang.

BAB III

KESIMPULAN

Kondisi trans disosiatif adalah fenomena yang sangat mengagumkan dan menarik namun membingungkan. Berdasarkan penjelasan yang telah ada,

(8)

fenomena trans disosiatif masih belum diketahui penyebabnya secara pasti. Dalam PPDGJ III atau DSM IV-TR, kesurupan di diagnosis sebagai gangguan trans-disosatif. Artinya hilangnya realitas pribadi asli seseorang akibat adanya faktor intervensi kekuatan luar. Penanganannya dapat dilakukan dari segi medikamentosa hingga pendekatan psikoterapi dengan hipnosis.

Daftar Pustaka

1. Setyonegoro RK. Budaya dan Gangguan Jiwa, Jiwa 1995; XXVIII (1): 1

(9)

syarat untuk memperoleh gelar Doktor dalam Ilmu Filsafat pada Universitas Indonesia, Jakarta, 1997.

3. Suryani LK. Adnjana TAK. Kesurupan suatu fenomena masyarakat Hindu Bali. Jiwa 1996. XXIX (2) :57.

4. Maramis WF. Ilmu Kedokteran Jiwa. Surabaya, Airlangga University Press, 1980: 418

5. Ingwantoro S. Penelaahan Trans Dan Hubungannya Dengan Hipnosis Serta Manfaatnya Dalam Psikiatri. Jiwa 2000;XXXIII (2); 185-193.

6. Kaplan HI, Sadock BJ. Synopsis of Psychiatry. seventh edition, Baltimore;Williams & Wilkins 1994:651

7. Cameron N. Personality Development and Psychopathology; Boston; Mifflin Company 1963;338-372

Referensi

Dokumen terkait

According to the Anxiety Disorders Association of America , ˆSocial Anxiety Disorder (SAD), or social phobia, is characterized by an intense fear of being scrutinized and

Skripsi ini berjudul Leading Character’s Antisocial Personality Disorder in James B Stewart’s Blind Eye yang merupakan suatu pembahasan mengenai gangguan kepribadian yaitu

Skripsi ini berjudul Leading Character’s Antisocial Personality Disorder in James B Stewart’s Blind Eye yang merupakan suatu pembahasan mengenai gangguan kepribadian yaitu

The Joker, as the main character in Todd Phillips' Joker film, suffers from three types of mental disorders: Delusional Disorder, Mood Disorder, and

13 Ibid, 17.. dalam kehidupan maupun suatu peristiwa yang mengancam keselamatan kejiwaannya. Gangguan setress pasca trauma dapat didefinisikan sebagai keadaan yang melemahkan

However, in chronic insomnia it is recommended that patients receive appropriate treatment for co-existing medical and psychiatric disorders that contribute to the sleeping disorder.5-6

Ringkasan tentang gangguan perilaku pada anak, khususnya ADHD dan conduct disorder, beserta gejala, faktor risiko, dan cara

CLINICAL RESEARCH ARTICLE Prevalence and clinical correlates of dissociative subtype of posttraumatic stress disorder at an outpatient trauma clinic in South Korea Daeho Kim a,b,