KAJIAN ARSIP STATIS PERGURUAN TINGGI
PUSAT PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN SISTEM KEARSIPAN
DEPUTI BIDANG INFORMASI DAN PENGEMBANGAN SISTEM KEARSIPAN
ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA
JAKARTA, 2013
KAJIAN PENYERAHAN ARSIP STATIS BUMN/BUMD KE LEMBAGA KEARSIPAN
ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA
LAPORAN
KAJIAN ARSIP STATIS PERGURUAN TINGGI
Tim Kajian: Stella Sigrid Juliet, S.S Drs. Bambang P.W., M, Si Oloan E.H.P. Marpaung, S.AP
Hendro Subekti, S.Sos Harry Bawono, S.Sos Achmad Syarif Rachmaji, S.IP
PUSAT PENGKAJIAN DAN PENGEMBANGAN SISTEM KEARSIPAN
DEPUTI BIDANG INFORMASI DAN PENGEMBANGAN SISTEM KEARSIPAN
ARSIP NASIONAL REPUBLIK INDONESIA
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi i
ABSTRAK
Arsip perguruan tinggi merupakan lembaga kearsipan yang diamanahkan oleh
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan yang berkewajiban menjalankan
pengelolaan kearsipan di perguruan tinggi bagi tersedianya informasi yang terekam dalam
arsip civitas akademika sebagai aset universitas dan memori kolektif bangsa. Pengelolaan
arsip perguruan tinggi yang baik merupakan instrumen bagi terselamatkannya memori
kolektif bangsa di lingkungan civitas akademika.
Namun pada implementasinya, pengelolaan arsip perguruan tinggi ini masih menemui
berbagai kendala, baik dari segi kebijakan, kelembagaan, sistem kearsipan, sumber daya
manusia, sarana dan prasarana, dan sistem pengelolaan arsip statis perguruan tinggi itu
sendiri. Padahal, arsip yang tercipta dari kegiatan administrasi umum, proses belajar
mengajar, penelitian, pengabdian masyarakat, dan aktivitas civitas akademika itu juga
digunakan sebagai bentuk akuntabilitas kinerja perguruan tinggi dan bahan
pertanggungjawaban nasional yang perlu diselamatkan bagi kepentingan bangsa dan negara.
Kajian tentang Arsip Perguruan Tinggi ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana
pengelolaan arsip perguruan tinggi di 7 (tujuh) perguruan tinggi negeri di Indonesia telah
dilakukan, memahami kendala yang dihadapi dalam mengelola arsip perguruan tinggi,
sekaligus menemukan upaya untuk mengatasi kendala itu dengan harapan bahwa Arsip
Perguruan Tinggi ini mampu berjalan secara optimal sebagaimana diamanahkan dalam
Undang-Undang Nomor 43 tahun 2009 tentang Kearsipan. Judul : Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi
Tebal : (VI + 53 halaman)
Referensi : Buku, Peraturan Perundang-undangan, Website
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi ii
KATA PENGANTAR
Pengelolaan arsip perguruan tinggi yang baik merupakan instrumen bagi
terselamatkannya memori kolektif bangsa di lingkungan civitas akademika, serta digunakan
sebagai bentuk akuntabilitas kinerja perguruan tinggi dan bahan pertanggungjawaban nasional
yang perlu diselamatkan bagi kepentingan bangsa dan negara. Berkaitan dengan hal tersebut,
maka untuk mempertinggi mutu penyelenggaraan kearsipan nasional, Pusat Pengkajian dan
Pengembangan Sistem Kearsipan, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) pada Tahun
Anggaran 2013 melaksanakan kegiatan pengkajian di bidang kearsipan tentang Arsip
Perguruan Tinggi.
Kami menyadari kajian ini masih terdapat kekurangan, namun diharapkan kajian ini dapat
digunakan sebagai bentuk evaluasi atas implementasi Arsip Perguruan Tinggi agar mampu
berjalan sebagaimana diamanahkan dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang
Kearsipan.
Tak lupa, pada kesempatan ini kami mengucapkan terimakasih kepada Pimpinan ANRI,
Universitas Andalas, Universitas Negeri Padang, Universitas Gadjah Mada, Universitas
Sebelas Maret Surakarta, Universitas Hasanuddin, Universitas Jenderal Soedirman,
Universitas Udayana, anggota tim, narasumber, informan, dan semua pihak yang telah
membantu pengkajian ini sehingga dapat selesai dengan baik. Semoga Tuhan Yang Maha Esa
membalas semua amal baik yang telah diberikan, Amin.
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi iii
DAFTAR ISI
ABSTRAKSI ……….. i
KATA PENGANTAR ……… ii
DAFTAR ISI ……….. iii
BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang ………... 1
B. Permasalahan……….. 2
C. Pertanyaan Kajian……… 2
D. Tujuan Kajian……….. 2
E. Manfaat Kajian………. 3
F. Pembatasan Kajian………... 3
BAB II KERANGKA KONSEPTUAL A. Tinjauan Pustaka... 4
1. Beberapa Penelitian Pembentukan Arsip Perguruan Tinggi... 4
2. Konsep Terkait Penyelenggaraan Arsip Perguruan Tinggi... 5
B. Kerangka Pemikiran... 15
BAB III METODOLOGI KAJIAN A. Jenis Kajian……….. 16
B. Objek Kajian……… 16
C. Teknik Pengumpulan Data... 16
D. Prosedur Pengolahan Data... 17
E. Instrumen Kajian... 18
F. Analisis Kajian... 18
BAB IV DESKRIPSI DAN ANALISIS A. Gambaran Umum Lokus Kajian... 19
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi iv
C. Analisis Hasil Kajian ……….. 24
1. Kebijakan... 24
2. Kelembagaan... 27
3. Sistem Kearsipan... 29
4. Sumber Daya Manusia Kearsipan... 31
5. Prasarana dan Sarana Kearsipan... 34
6. Sistem Pengelolaan Arsip Statis Perguruan Tinggi... 38
BAB V PENUTUP A. Kesimpulan………... 45
B. Rekomendasi………. 45
DAFTAR REFERENSI... 47
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi v
DAFTAR BAGAN
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi vi
DAFTAR TABEL
Tabel 1 Hasil Analisis Berdasarkan Instrumen Pengukuran Kebijakan... 25
Tabel 2 Hasil Analisis Berdasarkan Instrumen Pengukuran Kelembagaan... 27
Tabel 3 Hasil Analisis Berdasarkan Instrumen Pengukuran Sistem Kearsipan... 29
Tabel 4 Hasil Analisis Berdasarkan Instrumen Pengukuran Sumber Daya Manusia
Kearsipan... 31
Tabel 5 Hasil Analisis Berdasarkan Instrumen Pengukuran Prasarana dan Sarana
Kearsipan... 34
Tabel 6 Hasil Analisis Berdasarkan Instrumen Pengukuran Pengelolaan Arsip Statis
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 1 BAB I
PENDAHULUAN
A.Latar Belakang
Peran perguruan tinggi yang sangat penting dalam penyelenggaraan pendidikan,
penelitian dan pengabdian kepada masyarakat sebagaimana termuat dalam Tri Dharma
Perguruan Tinggi memberi pengaruh terhadap khasanah arsip yang dihasilkan oleh
perguruan tinggi. Khasanah arsip itu wajib dikelola secara optimal demi terselamatkannya
memori kolektif yang dimiliki perguruan tinggi itu sendiri. Untuk itu, secara khusus,
perguruan tinggi negeri wajib membentuk Arsip Perguruan Tinggi sebagaimana telah
diamanatkan dalam Pasal 16 ayat 4 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang
Kearsipan. Arsip Perguruan Tinggi ini dibentuk untuk menyelamatkan arsip penting yang
berkaitan dengan bukti status intelektualitas serta pengembangan potensi yang melahirkan
inovasi dan karya-karya intelektual lainnya, yang berkaitan dengan fungsi perguruan
tinggi sebagai lembaga penelitian, lembaga pendidikan dan pengabdian masyarakat. Lebih
lanjut, perlu disadari bahwa penyelenggaraan kearsipan perguruan tinggi ini tidak saja
menjadi tanggung jawab perguruan tinggi semata, namun juga bagi Arsip Nasional
Republik Indonesia (ANRI) sebagai penyelenggara dan pembina kearsipan nasional,
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemdikbud), serta Kementerian
Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan&RB) yang juga
berperan dalam menaungi berdirinya Arsip Perguruan Tinggi itu sendiri.
Maraknya permasalahan mengenai ijasah palsu yang dilakukan oleh para pejabat
publik maupun masyarakat umum, plagiat karya ilmiah, hilangnya arsip hasil penelitian
yang disebabkan oleh berbagai faktor telah memicu perhatian yang besar pada arsip
perguruan tinggi ini kembali. Namun pada implementasinya, pengelolaan arsip perguruan
tinggi ini masih menemui berbagai kendala dari segi kebijakan hingga sistem pengelolaan
arsip statis perguruan tinggi itu sendiri. Padahal, arsip yang tercipta dari kegiatan
administrasi umum, proses belajar mengajar, penelitian, pengabdian masyarakat, dan
aktivitas civitas akademika itu juga digunakan sebagai bentuk akuntabilitas kinerja
perguruan tinggi dan bahan pertanggungjawaban nasional yang perlu diselamatkan bagi
kepentingan bangsa dan negara.
Berkaitan dengan hal tersebut, maka Pusat Pengkajian dan Pengembangan Sistem
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 2 mampu memberikan gambaran terkini mengenai implementasi Arsip Perguruan Tinggi
pada 7 (tujuh) perguruan tinggi negeri di Indonesia.
B.Permasalahan
Pengelolaan arsip perguruan tinggi yang baik menjadi instrumen bagi
terselamatkannya memori kolektif bangsa di lingkungan civitas akademika. Sayangnya,
pengelolaan arsip perguruan tinggi di beberapa perguruan tinggi negeri di Indonesia masih
belum dilaksanakan secara optimal dengan berbagai kendala yang dihadapi. Untuk itu,
Kajian tentang Arsip Perguruan Tinggi ini dilakukan untuk mengetahui sejauh mana
pengelolaan arsip perguruan tinggi telah dilakukan, memahami kendala yang dihadapi
dalam mengelola arsip perguruan tinggi, sekaligus menemukan upaya untuk mengatasi
kendala tersebut.
C.Pertanyaan Kajian
Untuk lebih fokus, maka pertanyaan umum diatas diuraikan dalam rumusan
grandquestion yaitu: “Bagaimana implementasi pengelolaan arsip perguruan tinggi pada 7 (tujuh) perguruan tinggi negeri di Indonesia?”
Adapun subquestions yang dibahas dalam kajian ini yaitu:
1. Bagaimana kebijakan dalam pengelolaan arsip perguruan tinggi?
2. Bagaimana kelembagaan dalam pengelolaan arsip perguruan tinggi?
3. Bagaimana sumber daya manusia dalam pengelolaan arsip perguruan tinggi?
4. Bagaimana sarana dan prasarana dalam pengelolaan arsip perguruan tinggi?
5. Bagaimana sistem pengelolaan arsip statis perguruan tinggi?
D.Tujuan Kajian
Sesuai dengan perumusan masalah dan pertanyaan kajian yang dikemukakan diatas,
maka kajian ini bertujuan untuk:
1. Mendeskripsikan kebijakan arsip perguruan tinggi;
2. Mendeskripsikan kelembagaan arsip perguruan tinggi;
3. Mendeskripsikan sumber daya manusia arsip perguruan tinggi;
4. Mendeskripsikan sarana dan prasarana arsip perguruan tinggi;
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 3 E.Manfaat Kajian
Kajian mengenai Arsip perguruan tinggi diharapkan bermanfaat bagi:
1. Perguruan Tinggi, selaku pencipta arsip dan penyelenggara kearsipan, untuk
memperoleh gambaran empiris mengenai implementasi pengelolaan arsip
perguruan tinggi yang menyangkut kebijakan, kelembagaan, sumber daya
manusia, sarana dan prasarana, serta sistem pengelolaan arsip statis perguruan
tinggi;
2. ANRI, selaku penyelenggara dan pembina kearsipan nasional, untuk memperoleh
informasi empiris mengenai implementasi pengelolaan arsip perguruan tinggi
yang menyangkut kebijakan, kelembagaan, sumber daya manusia, sarana dan
prasarana, serta sistem pengelolaan arsip perguruan tinggi sehingga dengan
kewenangan yang dimiliki ANRI dapat membantu dalam implementasi Arsip
Perguruan Tinggi secara optimal.
F. Pembatasan Kajian
Kajian ini berupaya mengetahui secara menyeluruh mengenai implementasi
pengelolaan arsip perguruan tinggi. Namun demikian, harus diakui bahwa kajian ini masih
memiliki pembatasan ruang lingkup, antara lain:
1. Kajian ini hanya melakukan studi banding pada beberapa perguruan tinggi negeri
di dalam negeri yang jumlahnya terbatas; dan
2. Kajian ini hanya mengkaji implementasi pengelolaan arsip perguruan tinggi
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 4 BAB II
KERANGKA KONSEPTUAL
A.Tinjauan Pustaka
Tinjauan pustaka yang digunakan dalam kajian ini terdiri atas penelitian terkait
pembentukan Arsip Perguruan Tinggi di beberapa perguruan tinggi negeri (mengingat
minimnya hasil penelitian maupun pengkajian mengenai Arsip Perguruan Tinggi), konsep
terkait penyelenggaraan arsip perguruan tinggi, dan kerangka konseptual mengenai sistem
penyelenggaraan perguruan tinggi.
1. Beberapa Penelitian Pembentukan Arsip Perguruan Tinggi (University Archives)
1.1 Kajian tentang Pembentukan University Archives di Universitas Diponegoro
Hasil kajian ini memperlihatkan bahwa kesiapan kebijakan kearsipan secara
kualitas belum sepenuhnya mampu menunjang keberadaan University Archives
dikarenakan kebijakan kearsipan yang ada belum mampu diterapkan secara
maksimal di lingkungan Universitas Diponegoro. Sementara itu, kesiapan
kelembagaan melalui usulan nomenklatur UPT Perpustakaan dan Arsip secara
kualitas mampu dan dapat dikembangkan untuk menjalankan dan mengemban tugas
pokok dan fungsi dari University Archives. Kesiapan sistem pengelolaan arsip secara
kualitas perlu ditingkatkan dengan memanfaatkan teknologi informasi yang mampu
memperlihatkan kesinambungan pengelolaan arsip dinamis aktif, arsip dinamis
inaktif dan arsip statis serta memadukan pengelolaan perpustakaan, khususnya
dalam menampilkan penyajian informasi berbasis kepada kebutuhan pengguna.
Kesiapan prasarana dan sarana kearsipan secara kualitas perlu disinergikan antara
peraturan ataupu pedoman-pedoman kearsipan yang dikeluarkan Ditjen Dikti
Depdiknas dengan kondisi dan karakteristik yang dimiliki, termasuk pengembangan
kualitas keberadaan dan fungsi records center. Kesiapan SDM kearsipan secara
kualitas dan kuantitas mampu memperlihatkan dan menjamin penyelenggaraan
kearsipan yang berkesinambungan dari pengelolaan arsip dinamis menuju
pengelolaan arsip statis.
1.2 Kajian tentang Pembentukan University Archives di Institut Pertanian Bogor
Hasil kajian ini memperlihatkan bahwa program pembentukan University
Archives merupakan salah satu upaya strategis untuk menyelenggarakan dan
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 5 kinerja Institut Pertanian Bogor dalam menyelenggarakan pendidikan. Pembentukan
University Archives berusaha menyesuaikan diri terhadap perubahan dan
perkembangan tatanan penyelenggaraan perguruan tinggi dengan tetap mengikuti
kaidah-kaidah kearsipan. Lebih lanjut, perlu didukung adanya sistem pengelolaan
arsip yang terpadu dan berbasis kepada kebutuhan pengguna dengan memanfaatkan
perkembangan teknologi informasi. Ketersediaan prasarana dan sarana kearsipan
merupakan syarat mutlak dalam rangka kemandirian pengelolaan yang ditopang oleh
prosedur pengelolaan arsip sesuai standar yang berlaku. Keberadaan University
Archives akan berlangsung dengan maksimal apabila didukung oleh SDM yang
memiliki kemampuan dan keahlian didalam mengelola arsip baik arsip dinamis
maupun statis.
1.3Kajian tentang Pembentukan University Archives di Universitas Pattimura
(Unpatti)
Hasil kajian ini memperlihatkan bahwa dalam implementasinya, pembentukan
University Archives baru sebatas perolehan dukungan kebijakan lain yang mendukung
proses penyelenggaraan kearsipan. Persiapan kelembagaan dalam pembentukan
University Archives belum memenuhi persyaratan dan masih perlu ditingkatkan
terutama keberadaan unit kearsipan di rektorat, fakultas, UPT, dan satuan kerja
lainnya di lingkungan Unpatti. Persiapan pengelolaan arsip dalam rangka
pembentukan University Archives secara kualitas masih perlu ditingkatkan baik
pengelolaan arsip dinamis maupun statis. Persiapan prasarana dan sarana dalam
rangka pembentukan University Archives secara kuantitas maupun kualitas untuk
mengelola arsip dinamis dan statis. Persiapan SDM Kearsipan dalam rangka
pembentukan University Archives secara kualitas dan kuantitas masih perlu
ditingkatkan guna menjamin efisiensi dan efektivitas pengelolaan arsip dinamis dan
statis.
2. Konsep Terkait Penyelenggaraan Arsip Perguruan Tinggi
Teori terkait penyelenggaraan arsip perguruan tinggi yang digunakan dalam kajian
ini antara lain:
2.1 Konsep Perguruan Tinggi
Perguruan tinggi merupakan lembaga pendidikan tinggi yang
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 6 dan teknologi, serta menyelenggarakan pengabdian masyarakat. Perguruan tinggi
diselenggarakan berdasarkan dua asas yaitu:
a. kemandirian moral untuk membangun perguruan tinggi sebagai kekuatan
moral dalam pembangunan masyarakat yang demokratis dan mampu
bersaing secara global;
b. wawasan global guna mencerdaskan kehidupan bangsa dengan
mengembangkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan teknologi,
budaya dan seni.
Sesuai amanat Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem
Pendidikan Nasional, tujuan pendidikan nasional tidak hanya mencakup
pengembangan dimensi intelektual dan produktivitas tetapi juga mencakup dimensi
kepribadian, sosial, dan lingkungan sehingga kontribusi dan peran perguruan tinggi
dapat dirasakan oleh masyarakat dan pembangunan. Hal ini diaktualisasikan dalam
Tri Dharma Perguruan Tinggi yang meliputi:
a. Pendidikan, upaya pembentukan kekuatan penalaran akademis melalui
proses pendidikan dan pengajaran;
b. Penelitian, berorientasi kepada pemenuhan kebutuhan masyarakat,
pelayanan umum dan pranata sosial; dan
c. Pengabdian masyarakat, upaya menghubungkan pemikiran-pemikiran
akademis dengan masalah kehidupan sosial bermasyarakat.
Berkenaan dengan kegiatan Tri Dharma Perguruan Tinggi tersebut, informasi
ataupun karya-karya ilmiah maupun penelitian bernilai guna tinggi yang dihasilkan
oleh perguruan tinggi merupakan bagian khasanah arsip, selain arsip-arsip yang
dihasilkan dari adanya proses administrasi dan aktivitas akademika di lingkungan
perguruan tinggi, seperti:
a. Administrasi pembantu pimpinan, meliputi administrasi akademik dan
kemahasiswaan dan administrasi umum;
b. Administrasi pelaksana, meliputi administrasi unit pelaksana
teknis/instalasi (pusat/fakultas), administrasi fakultas dan administrasi
lembaga.
2.2 Konsep Lembaga Kearsipan
Lembaga kearsipan adalah lembaga yang memiliki fungsi, tugas, dan tanggung
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 7 lembaga kearsipan sebagai instrumen dalam penyelenggaraan kearsipan nasional
telah diatur dalam Pasal 16 ayat 3 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang
kearsipan bahwa lembaga kearsipan terdiri atas ANRI, Arsip daerah provinsi, Arsip
daerah kabupaten/kota, dan Arsip perguruan tinggi.
Arsip Perguruan Tinggi merupakan lembaga kearsipan berbentuk satuan
organisasi perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta yang melaksanakan fungsi
dan tugas penyelenggaraan kearsipan di lingkungan perguruan tinggi. Sejalan
dengan otonomi penyelenggaraan pendidikan tinggi dan kedudukan perguruan tinggi
sebagai penyelenggara kearsipan sebagaimana tercantum dalam Undang-Undang
nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan maka terdapat penyesuaian terkait dengan
kewenangan, keberadaan dan nomenklatur lembaga kearsipan di lingkungan
perguruan tinggi dengan sebutan Arsip Perguruan Tinggi.
2.2 Konsep Unit Kearsipan
Penyelenggaraan kearsipan di lingkungan perguruan tinggi membutuhkan
sumber daya pendukung yang memadai sebagai fondasi yang kuat untuk mencapai
tujuan penyelenggaraan kearsipan dengan optimal. Sumber daya pendukung
penyelenggaraan kearsipan di lingkungan perguruan tinggi, meliputi: organisasi
kearsipan, sumber daya manusia, prasarana dan sarana, serta pendanaan kearsipan.
Dalam hal ini, organisasi unit kearsipan perguruan tinggi yang melaksanakan fungsi
dan tugas kearsipan dinamis dan statis di lingkungan perguruan tinggi, yaitu:
a. Unit kearsipan I
Unit kearsipan I berada pada LKPT, mempunyai tugas melaksanakan
pengelolaan arsip inaktif yang memiliki retensi sekurang-kurangnya 10
(sepuluh) tahun yang berasal dari satuan kerja di lingkungan perguruan tinggi.
Unit Kearsipan I memiliki fungsi:
a) Penerimaan arsip inaktif dari satuan kerja di lingkungan perguruan tinggi;
b) Pengolahan dan penyajian arsip inaktif menjadi informasi;
c) Penyimpanan arsip inaktif;
d) Pelaksanaan pemusnahan arsip; dan
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 8 b. Unit kearsipan II
Unit kearsipan II berada di lingkungan sekretariat rektorat, sekretariat
fakultas, dan sekretariat UPT atau dengan sebutan lain. Unit kearsipan II
mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan arsip inaktif yang memiliki
retensi di bawah 10 (sepuluh) tahun dari unit pengolah/unit kerja, dan
pembinaan kearsipan di lingkungannya. Selain itu, unit kearsipan II
melaksanakan fungsi:
a) Pengolahan dan penyajian arsip inaktif menjadi informasi;
b) Pelaksanaan pemusnahan arsip;
c) Penyiapan penyerahan arsip inaktif yang memiliki retensi
sekurang-kurangnya 10 (sepuluh) tahun kepada unit kearsipan I pada LKPT;
d) Penyiapan penyerahan arsip statis kepada LKPT; dan
e) Melakukan evaluasi penyelenggaraan kearsipan di lingkungannya.
2.3Konsep Arsip Perguruan Tinggi
Menurut Pasal 1 nomor 17 Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang
Kearsipan, Arsip Perguruan Tinggi adalah lembaga kearsipan berbentuk satuan
organisasi perguruan tinggi, baik negeri maupun swasta yang melaksanakan
fungsi dan tugas penyelenggaraan kearsipan di lingkungan perguruan tinggi.
Adapun tujuan pembentukan Arsip Perguruan Tinggi menurut William Maher
(1992, 152) adalah sebagai berikut:
a. Menilai, menyimpan, mengelola, mengolah, menyajikan, dan merawat
arsip yang bernilai guna tinggi bagi perguruan tinggi untuk kepentingan
pengguna;
b. Menyediakan fasilitas yang memadai bagi kegiatan retensi dan
preservasi arsip;
c. Menyediakan pelayanan informasi yang dapat membantu pelaksanaan
kegiatan perguruan tinggi;
d. Memberikan pelayanan penelitian dengan penyediaan bahan berupa
khasanah kearsipan yang dibutuhkan;
e. Menyebarluaskan pengetahuan dan pemahaman dari tujuan program dan
sasaran perguruan tinggi serta kemungkinan pengembangannya;
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 9 g. Menyediakan sumber informasi untuk memacu teknik pembelajaran dan
pengajaran yang lebih kreatif.
Khasanah arsip perguruan tinggi merupakan informasi yang harus dapat
diakses oleh para stakeholder perguruan tinggi dan publik, oleh sebab itu,
komponen-komponen pengontrol dan pendukung sistem pengelolaan arsip
perguruan tinggi, seperti kebijakan, kelembagaan, SDM, prasarana dan sarana,
serta sumber daya lainnya yang saling terintegrasi dan terpadu perlu ditingkatkan.
Lebih lanjut, pencipta arsip di lingkungan Perguruan Tinggi berada pada
satuan kerja dan organisasi civitas akademika. Keberadaan arsip statis satuan
kerja di lingkungan perguruan tinggi ini dapat berada pada unit kearsipan
sekretariat rektorat, fakultas, dan unit dengan sebutan nama lain. Adapun yang
dimaksud dengan arsip statis perguruan tinggi merupakan:
a. Arsip statis satuan kerja di lingkungan perguruan tinggi yang berasal dari
arsip inaktif yang memiliki retensi sekurang-kurangnya 10 (sepuluh)
tahun berada pada unit kearsipan sekretariat rektorat, fakultas, dan unit
dengan sebutan nama lain selaku unit kearsipan II perguruan tinggi;
b. Arsip statis satuan kerja di lingkungan perguruan tinggi yang berasal dari
arsip inaktif yang memiliki retensi di atas 10 (sepuluh) tahun berada
pada lembaga kearsipan daerah selaku unit kearsipan I perguruan tinggi;
dan
c. Arsip statis di lingkungan organisasi civitas akademika umumnya
tersimpan pada sekretariat organisasi.
Sementara itu, jenis Arsip Perguruan Tinggi diantaranya meliputi:
a. Arsip bukti keberadaan perguruan tinggi, yakni bukti mengenai memori
dan identitas perguruan tinggi, yang memuat ciri khas dan informasi
khusus tentang perguruan tinggi, antara lain:
a) Struktur organisasi dan tata kerja;
b) Keputusan presiden tentang Pengangkatan Rektor/ Pembantu
Rektor;
c) Keputusan Menteri Pendidikan Nasional tentang pengangkatan
Dekan/Pembantu Dekan;
d) Pedoman ketatalaksanaan;
e) Pendirian, perubahan, penyatuan lembaga-lembaga perguruan
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 10 f) Lambang, logo, simbol dan identitas perguruan tinggi maupun
lembaga.
b. Official archives yang merupakan bukti kinerja perguruan tinggi, antara
lain:
a) Semua kebijakan yang ditandatangani oleh pimpinan perguruan
tinggi yang bersifat mengatur;
b) Rencana strategis perguruan tinggi;
c) Perencanaan anggaran tahunan;
d) Neraca dan laporan keuangan tahunan;
e) Program kerja jangka pendek, menengah, dan panjang;
f) Memory of Understanding; dan
g) Keputusan rektor atau pimpinan perguruan tinggi yang bersifat
mengatur dan menetapkan.
c. Arsip mengenai lulusan pertama;
d. Arsip perseorangan/tokoh perguruan tinggi
Pencipta arsip perseorangan perguruan tinggi adalah civitas akademika
yang memiliki peran strategis dalam penyelenggaraan kehidupan
bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara di lingkungan perguruan
tinggi, antara lain:
a) Semua arsip yang berkaitan dengan perjalanan karier sebagai
mahasiswa dan atau dosen, yakni:
1) Arsip berkaitan dengan mahasiswa/dosen, diantaranya: surat
keterangan sebagai mahasiswa/dosen, surat pemberhentian
sebagai mahasiswa/dosen, surat pengangkatan guru besar, dan
sejenisnya;
2) Arsip berkaitan dengan peran serta dalam organisasi
kemahasiswaan/senat akademik, diantaranya: surat sebagai
anggota atau pengurus organisasi kemahasiswaan/senat
akademik, surat pemberhentian sebagai anggota atau pengurus
organisasi kemahasiswaan/senat akademik, dan sejenisnya.
b) Semua arsip yang berkaitan dengan prestasi akademik, seperti:
1) Piagam/sertifikat penghargaan;
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 11 3) Personal paper sebagai bukti kumpulan karya ilmiah yang
dihasilkan oleh kalangan civitas akademika perguruan tinggi,
seperti: disertasi, tesis dan skripsi; hasil penelitian; dan pidato
ilmiah.
2.4Konsep Sumber Daya Manusia Kearsipan dalam Pengelolaan Arsip
Perguruan Tinggi
Sumber daya manusia kearsipan dalam pengelolaan arsip perguruan tinggi
harus profesional dan memiliki kompetensi yang diperoleh melalui pendidikan
formal dan/atau pendidikan dan pelatihan kearsipan. Pengembangan sumber daya
manusia kearsipan di lingkungan perguruan tinggi ini terdiri atas arsiparis, tenaga
pengelola arsip, dan tenaga pendukung lainnya yang memiliki kompetensi dan
profesionalitas di bidang arsip perguruan tinggi. Dalam hal ini, Lembaga
Kearsipan Perguruan Tinggi juga harus melaksanakan pembinaan dan
pengembangan arsiparis di lingkungannya yang dapat dilakukan melalui upaya:
a. pengadaan arsiparis;
b. pengembangan kompetensi dan keprofesionalan arsiparis melalui
penyelenggaraan, pengaturan, serta pengawasan pendidikan dan
pelatihan kearsipan;
c. pengaturan peran dan kedudukan hukum arsiparis; dan
d. penyediaan jaminan kesehatan dan tunjangan profesi untuk sumber daya
manusia kearsipan.
2.5Konsep Prasarana dan Sarana Kearsipan dalam Pengelolaan Arsip
Perguruan Tinggi
Prasarana kearsipan merupakan infrastruktur kearsipan yang merupakan
komponen pendukung bagi terlaksananya proses kegiatan pengelolaan arsip
perguruan tinggi seperti gedung, ruang simpan, jaringan dan sejenisnya.
Sedangkan sarana kearsipan merupakan peralatan kearsipan yang merupakan
komponen pendukung terlaksananya proses kegiatan pengelolaan arsip perguruan
tinggi, seperti lemari, rak arsip, boks arsip, dan sejenisnya. Pencipta arsip, dalam
hal ini, Lembaga Kearsipan Perguruan Tinggi harus menyediakan prasarana dan
sarana kearsipan sesuai dengan standar kearsipan untuk pengelolaan arsip
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 12 mengembangkan prasarana dan sarana kearsipan dengan mengatur standar
kualitas dan spesifikasi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Idealnya, prasarana dan sarana kearsipan di lingkungan perguruan tinggi ini
dimanfaatkan dan dikembangkan sesuai dengan kemajuan teknologi informasi
dan komunikasi mengingat khasanah Arsip Perguruan Tinggi yang tercipta dari
berbagai bentuk dan media juga perlu diselamatkan dan dilindungi bagi bagi
kepentingan bangsa dan negara.
2.6Konsep Pengelolaan Arsip Statis Perguruan Tinggi
Pengelolaan arsip statis di lingkungan perguruan tinggi merupakan proses
pengendalian arsip perguruan tinggi secara efisien, efektif, dan sistematis
meliputi akuisisi, pengolahan, preservasi, akses dan layanan bagi publik dalam
suatu sistem kearsipan perguruan tinggi. Pengelolaan arsip statis di lingkungan
perguruan tinggi dilaksanakan oleh LKPT terhadap arsip statis yang diserahkan
oleh satuan kerja di lingkungan perguruan tinggi dan civitas akademika.
Pengelolaan arsip statis perguruan tinggi dilaksanakan melalui:
c. Akuisisi Arsip Statis Perguruan Tinggi
Untuk efektivitas akuisisi arsip statis di lingkungan perguruan tinggi, LKPT
membuat pedoman akuisisi arsip statis yang bertujuan:
a) Mengarahkan keseluruhan kegiatan sesuai dengan sasaran akuisisi arsip
statis;
b) Memberi batasan-batasan yang perlu dilakukan untuk memperoleh arsip
statis di lingkungan perguruan tinggi;
c) Mencegah terjadinya perolehan arsip yang tidak layak disimpan secara
permanen di LKPT;
d) mengatur proses serah terima antara pihak LKPT dengan pihak yang
menyerahkan arsip statis; dan
e) mengontrol keseluruhan penyelenggaraan kegiatan akuisisi arsip statis di
lingkungan perguruan tinggi.
d. Pengolahan Arsip Statis Perguruan Tinggi
Pengolahan arsip statis di LKPT menghasilkan sarana bantu penemuan
kembali arsip statis (finding aids) untuk kepentingan akses dan layanan
arsip statis kepada pengguna arsip.
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 13 a) Asas asal usul adalah asas yang mengaitkan arsip ke sumber asalnya
dengan pengertian bahwa arsip diatur tanpa melepaskan arsip dari
instansi yang menciptakannya; dan
b) Asas aturan asli adalah asas yang mengaitkan arsip dengan pengaturan
arsip.
Pengolahan arsip statis ini dilakukan dengan menata informasi dan fisik
arsip untuk menghasilkan sarana bantu penemuan arsip statis (finding aids).
Adapun jenis sarana bantu penemuan kembali arsip statis adalah guide
arsip, daftar arsip, dan inventaris arsip.
c. Preservasi Arsip Perguruan Tinggi
Arsip statis yang disimpan LKPT akan mengalami proses kerusakan jika
disimpan dalam waktu lama. Kertas sebagai salah satu media perekam arsip
merupakan bahan organik yang dapat terurai seiring dengan waktu. Di sisi
lain, arsip foto, film, rekaman suara, serta arsip elektronik lainnya memiliki
risiko kerusakan karena mengandung bahan-bahan yang tidak stabil.
Preservasi arsip statis merupakan upaya untuk mempertahankan arsip statis
dalam keadaan sebaik mungkin, sehingga arsip statis dapat bertahan dalam
jangka waktu yang lama. Prinsip preservasi arsip statis adalah sebagai
berikut:
a) Arsip statis harus selamanya dilestarikan;
b) Semua aspek dari format asli, nilai kesejarahan, teks, gambar, dan
keadaan fisik akan dilestarikan jika memungkinkan;
c) Preservasi preventif dilakukan untuk mencegah kerusakan dan
mengurangi semua efek pada arsip statis;
d) Preservasi kuratif dilakukan jika diidentifikasi adanya kerusakan
dan kebutuhan akan adanya prioritas. Semua tindakan dilakukan
secara profesional; dan
e) Arsip statis yang asli dapat diakses namun untuk arsip yang
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 14 d. Akses dan Layanan Arsip Perguruan Tinggi
Akses dan layanan arsip statis harus memperhatikan prinsip-prinsip sebagai
berikut:
a) Berdasarkan hukum dan ketentuan peraturan perundang-undangan
arsip statis sudah dapat dibuka (principle of legal authorization);
b) Ketersediaan sarana bantu penemuan kembali arsip statis (finding
aids), baik manual maupun elektronik;
c) Kondisi fisik dan informasi arsip statis yang akan diakses dan
diberikan kepada pengguna arsip statis dalam keadaan baik;
d) Akses dan layanan arsip statis harus mempertimbangkan keamanan
dan pelestarian, atau terhindar dari risiko kerusakan, kehilangan, dan
vandalisme pengguna arsip statis;
e) Akses arsip statis dilaksanakan secara wajar, dengan pelayanan
paling mendasar, tanpa biaya, kecuali dinyatakan lain/diatur dengan
PNBP (Pendapatan Negara Bukan Pajak);
f) Ketersedian akses arsip statis dilakukan melalui prosedur yang jelas
(transparan) kepada semua pengguna arsip statis tanpa membedakan
(diskriminasi) apapun kebangsaannya, latar belakang, usia,
kualifikasi atau kepentingan penelitiannya; dan
g) Prosedur akses harus sederhana mungkin untuk menjamin
perlindungan arsip statis dan penghilangan, pengubahan,
pemindahan atau perusakan.
Hal penting lainnya yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan akses dan
layanan arsip statis di lingkungan perguruan tinggi adalah pengguna arsip
statis baik internal maupun eksternal, kontrol penggunaan arsip statis,
layanan arsip statis baik administratif, penelitian, pendidikan, maupun
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 15 B. Kerangka Pemikiran
Kajian ini berupaya mendeskripsikan implementasi pengelolaan arsip perguruan
tinggi dengan memperhatikan variabel kebijakan, kelembagaan, sumber daya manusia,
prasarana dan sarana sebagai faktor yang memengaruhi implementasi pengelolaan arsip
perguruan tinggi sebagaimana digambarkan pada bagan sebagai berikut:
Bagan 1. Kerangka Pemikiran Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi
KEBIJAKAN KELEMBAGAAN PRASARANA & SARANA
IMPLEMENTASI
PENGELOLAAN
ARSIP
PERGURUAN
TINGGI
SISTEM PENGELOLAAN ARSIP STATIS SDM
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 16 BAB III
METODOLOGI KEARSIPAN
A.Jenis Kajian
Jenis kajian didasarkan pada manfaat, tujuan, dimensi waktu, dan pengumpulan data
(Prasetyo dan Jannah, 2008:37). Manfaat yang diperoleh yaitu kajian terapan dimana hasil
kajian dapat segera dirasakan manfaatnya oleh berbagai stakeholders (pemangku
kepentingan). Tujuan yang diharapkan yaitu kajian deskriptif yang dilakukan untuk
memberikan gambaran yang lebih detail mengenai implementasi arsip perguruan tinggi di
7 (tujuh) perguruan tinggi negeri di Indonesia. Dimensi waktu yang dilakukan yaitu kajian
cross sectional yang dilakukan dalam waktu tertentu. Pengumpulan data yang dilakukan
melalui kajian kualitatif menggunakan observasi, telaah dokumen, dan wawancara
(interview) yang berisi beberapa pertanyaan dengan struktur baku kepada informan untuk
mendapatkan data kualitatif.
B.Objek Kajian
Lokasi kajian dilakukan di 7 (tujuh) perguruan tinggi negeri di Indonesia, dengan
objek kajian yaitu implementasi pengelolaan arsip perguruan tinggi. Adapun lokasi kajian
yang dimaksud yaitu:
1. Universitas Andalas, Sumatera Barat;
2. Universitas Negeri Padang, Sumatera Barat;
3. Universitas Gadjah Mada, DI Yogyakarta;
4. Universitas Sebelas Maret Surakarta, Jawa Tengah;
5. Universitas Jenderal Soedirman, Jawa Tengah;
6. Universitas Hassanudin, Sulawesi Selatan
7. Universitas Udayana, Bali.
C.Teknik Pengumpulan Data
1. Studi Lapangan
Teknik pengumpulan data secara langsung pada objek penelitian. Dalam hal ini dibagi
menjadi dua teknik pengumpulan data, yaitu:
a. Wawancara (Interview)
Penggunaan metode wawancara bertujuan untuk memperoleh data utama yang
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 17 dokumen. Wawancara terstruktur dilakukan dengan menggunakan pedoman
wawancara yang ditentukan oleh pewawancara.
b. Pengamatan (observasi)
Untuk melengkapi data yang tidak diperoleh melalui wawancara, maka dilakukan
pengamatan langsung secara partisipan terhadap aktivitas atau kegiatan yang
berkaitan dengan penyelenggaraan implementasi arsip perguruan tinggi. Melalui
pengamatan langsung, diharapkan perolehan data dan fakta yang objektif untuk
mendukung hasil penelitian.
2. Studi Dokumen
Teknik pengumpulan data yang diperoleh dengan memelajari arsip perguruan tinggi,
literatur, dan bahan-bahan tertulis yang berhubungan dengan permasalahan kajian.
D.Prosedur Pengolahan Data
Prosedur pengolahan data yang digunakan dalam kajian ini dilakukan melalui:
1. Data Wawancara
Data wawancara diolah dengan membuat catatan hasil wawancara yaitu jawaban
atas pertanyaan terbuka yang mengacu kepada pedoman wawancara yang
kemudian ditulis secara rinci dan dibuat catatan. Catatan hasil wawancara
kemudian dianalisis dan dibuat kesimpulan sementara. Kesimpulan sementara yang
diperoleh dari masing-masing informan setelah cukup lengkap dibuatkan kompilasi
data dari keseluruhan data yang ada, kemudian dibuatlah kesimpulan akhir.
2. Data Observasi
Selama mengadakan pengamatan langsung, peneliti membuat catatan yang
dilakukan secara sistematis berurutan. Untuk selanjutnya dianalisa dan
dibandingkan dengan teori yang terkait.
3. Data Telaah dokumen
Berdasarkan data yang diambil dari dokumen resmi seperti kebijakan dan prosedur
operasional standar (SOP) yang dianalisis untuk membandingkan dengan keadaan
yang ada di lapangan.
Semua data yang diperoleh dari wawancara, observasi, maupun studi pustaka diolah
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 18 E.Instrumen Kajian
Instrumen yang digunakan dalam kajian ini yaitu:
1. Hasil wawancara dengan memerhatikan aspek kebijakan, kelembagaan, sistem
kearsipan, sumber daya manusia kearsipan, sarana dan prasarana, serta sistem
pengelolaan arsip statis perguruan tinggi;
2. Hasil pengamatan langsung terkait dengan aspek kebijakan, kelembagaan, sistem
kearsipan, sumber daya manusia kearsipan, sarana dan prasarana, serta sistem
pengelolaan arsip statis perguruan tinggi.
F. Analisis Kajian
Analisis kajian dilakukan dengan memerhatikan hal-hal sebagai berikut:
1. Proses analisis data yang dilakukan secara bersamaan dengan proses
pengumpulan data;
2. Mereduksi informasi atau data yang terkumpul kedalam aspek kebijakan,
kelembagaan, sistem kearsipan, sumber daya manusia kearsipan, sarana dan
prasarana, serta sistem pengelolaan arsip perguruan tinggi;
3. Reduksi data tercatat, yaitu memilih, mengubah data kedalam bentuk lain,
menajamkan, menggolongkan, membuang yang tidak perlu, mengorganisasikan
data kedalam kategori tertentu untuk dilakukan pembahasan lebih lanjut;
4. Interpretasi, mengidentifikasi pola-pola, kecenderungan, dan penjelasan untuk
menarik suatu kesimpulan; dan
5. Penyajian data dalam bentuk matriks/tabel data kualitatif, menyusun telaahan
data menjadi informasi yang memungkinkan penarikan kesimpulan yang akurat
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 19 BAB IV
DESKRIPSI DAN ANALISIS
A.Gambaran Umum Lokus Kajian
Sebelum memasuki hasil analisis implementasi pengelolaan arsip perguruan tinggi,
maka terlebih dahulu disampaikan gambaran umum 7 (tujuh) perguruan tinggi negeri yang
diteliti dalam kajian ini sebagai berikut:
1. Universitas Andalas (Unand)
Universitas Andalas adalah salah satu perguruan tinggi negeri di Kota Padang,
Sumatera Barat, Indonesia. Universitas ini merupakan universitas tertua di luar Pulau
Jawa yang didirikan pada tanggal 23 Desember 1955 oleh Wakil Presiden Mohammad
Hatta. Pada saat itu, Universitas Andalas merupakan universitas keempat yang
diresmikan oleh Pemerintah Indonesia.
Saat terjadinya gempa bumi pada tahun 2009, identifikasi kerusakan yang
terjadi di lingkungan kampus Universitas Andalas memperlihatkan bahwa hampir
semua gedung mengalami kerusakan bervariasi. Kerusakan paling berat terjadi di
Fakultas Teknik Universitas Andalas. Sebagai respons cepat atas gempa tersebut,
maka dibentuk Tim Emergency Response and Recovery untuk membantu masyarakat
yang terkena musibah gempa. Selain itu, dibentuk pula 2 posko gempa, yaitu di
Kampus Limau Manis untuk koordinasi dan penghimpunan mahasiswa untuk jadi
relawan dan Posko Kampus Universitas Andalas di Jalan Perintis Kemerdekaan untuk
relawan dan penghimpunan berbagai sumbangan. Mengingat Universitas Andalas
berada dalam kawasan yang rawan terhadap bencana alam, idealnya, Universitas
Andalas perlu memperhatikan faktor pelindungan dan penyelamatan khasanah arsip
perguruan tinggi yang dimilikinya yang digunakan sebagai bentuk akuntabilitas
kinerja perguruan tinggi dan bahan pertanggungjawaban nasional yang perlu
diselamatkan bagi kepentingan bangsa dan negara.
2. Universitas Negeri Padang (UNP),
Universitas Negeri Padang (UNP) adalah hasil konversi IKIP Padang menjadi
universitas, yang pada mulanya bernama Perguruan Tinggi Pendidikan Guru (PTPG).
Semenjak didirikan pada tanggal 1 September 1954, UNP telah mengalami banyak
perubahan. Dalam sejarah perkembangannya, perubahan yang terjadi meliputi bukan
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 20 dikembangkannya, sesuai dengan kebijakan untuk memenuhi tuntutan perkembangan
pendidikan di tanah air. Perubahan ini dapat diklasifikasikan dalam lima periode,
yaitu periode PTPG Batusangkar, periode FKIP Universitas Andalas Bukittinggi di
Batusangkar, periode FKIP Universitas Andalas Padang, periode IKIP Jakarta Cabang
Padang, periode IKIP Padang dan periode UNP.
Adapun, visi UNP adalah menjadi universitas unggul, dinamis dan bermutu
tinggi, berbasis pendidikan tenaga kependidikan, berlandaskan nilai-nilai ketaqwaan.
Sementara, misi UNP adalah menyelenggarakan tri dharma perguruan tinggi di
bidang kependidikan dan nonkependidikan yang berkualitas dan demokratis melalui
pengoptimalan sumber daya secara mandiri dan/atau kerjasama antar lembaga,
berlandaskan nilai-nilai ketaqwaan, yang meliputi program pendidikan akademik dan
pendidikan profesional; penelitian inovatif dan tepat guna; pengabdian kepada
masyarakat yang relevan; hubungan dan kerjasama antar universitas dengan
perguruan tinggi lain, lembaga pemerintah dan non-pemerintah, baik daerah, nasional,
maupun internasional. Sama halnya dengan Universitas Andalas yang berada dalam
kawasan yang rawan terhadap bencana alam, idealnya, UNP juga perlu
memperhatikan faktor pelindungan dan penyelamatan khasanah arsip perguruan tinggi
yang dimilikinya yang digunakan sebagai bentuk akuntabilitas kinerja perguruan
tinggi dan bahan pertanggungjawaban nasional yang perlu diselamatkan bagi
kepentingan bangsa dan negara.
3. Universitas Gadjah Mada (UGM)
Universitas Gadjah Mada memiliki Arsip Universitas Gadjah Mada yang
didirikan dengan SK Rektor No.259/P/SK/HT/2004 dan diresmikan tanggal 11
September 2004 oleh rektor UGM, Prof.Dr.Sofian Effendi bersama Kepala ANRI
periode tahun 2009, Drs. Djoko Utomo, MA. Adapun visi yang dimiliki Arsip
universitas Gadjah Mada yakni menjadi pusat pengembangan dan layanan informasi
kearsipan dalam menunjang universitas riset kelas dunia dan bertata kelola baik.
Sementara itu, misi yang dimiliki Arsip Universitas Gadjah Mada adalah sebagai
berikut:
a. Menyelamatkan arsip universitas sebagai sumber informasi dan memori
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 21 b. Melaksanakan pengelolaan arsip statis (Archives Management),
pengelolaan arsip inaktif dan pengembangan Records Center, serta
pengembangan teknologi informasi kearsipan; dan
c. Melaksanakan dan mengoptimalkan layanan internal dan eksternal
informasi kearsipan.
Berdasarkan Keputusan Rektor Universitas Gadjah Mada Nomor 256/P/SK/HT/2004,
kedudukan dan rincian tugas arsip Universitas adalah sebagai berikut:
a. Arsip Universitas dipimpin oleh Kepala, berada dibawah dan bertanggung
jawab kepada Rektor;
b. Dalam pelaksanaan tugas, Kepala dibantu oleh seorang Sekretaris;
c. Sekretaris bertanggung jawab kepada Kepala.
Dalam hal ini, Arsip Universitas Gadjah Mada terdiri atas Bidang Layanan dan
Bidang Database.
4. Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS)
Universitas Sebelas Maret Surakarta (UNS) terletak di Surakarta, Jawa
Tengah. UNS merupakan universitas negeri yang didirikan pada 11 Maret 1976.
Awalnya merupakan gabungan dari 5 (lima) perguruan tinggi di Surakarta, Institut
Pelatihan dan Pendidikan Guru Surakarta, Sekolah Menengah Olahraga Surakarta,
Akademi Administrasi Bisnis Surakarta, Universitas Gabungan Surakarta, dan
Fakultas Obat-obatan Departemen Pertahanan dan Keamanan Pengembangan Tinggi
Nasional Surakarta. UNS memiliki 9 fakultas, yaitu Fakultas Sastra dan Seni Rupa,
Fakultas Kedokteran, Fakultas Ekonomi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan
Alam, Fakultas Pertanian, Fakultas Teknik, dan Fakultas Hukum.
Selain itu, UNS juga didukung oleh lembaga penelitian dan pengembangan,
yakni Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat, Lembaga
Pengembangan Pendidikan. Disamping itu, terdapat juga Unit Pelaksana Teknis
(UPT) yang terdiri atas UPT Perpustakaan, Komputer, Pelayanan dan Pengembangan
Bahasa, Mata Kuliah Umum, UNS Press dan Laboratorium MIPA Pusat.
5. Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed)
Sesuai dengan amanat yang tersurat dalam Pembukaan UUD 1945 dan
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 22 formal dan informal Banyumas menggagas perlunya didirikan perguruan
tinggi/universitas di wilayah Banyumas. Sebagai tindak lanjut gagasan ini dibentuklah
Yayasan Pembina Universitas Jenderal Soedirman dengan Akte Notaris No. 32
tanggal 20 September 1961. Selanjutnya, atas desakan masyarakat, dinas instansi, dan
TNI, Yayasan Pembina Universitas Jenderal Soedirman berusaha mewujudkan
berdirinya universitas. Dengan Surat Keputusan Presiden RI No. 195 tertanggal 23
September 1963, berdirilah Universitas Jenderal Soedirman secara resmi didirikan,
dan diresmikan oleh Menteri PTIP Prof. Dr. Tojib Hadiwidjaja bertempat di rumah
Dinas Residen Banyumas.
Pada awalnya Universitas Jenderal Soedirman memiliki tiga fakultas, yaitu
Fakultas Pertanian (pelimpahan dari Universitas Diponegoro Semarang), Fakultas
Biologi, dan Fakultas Ekonomi. Dalam perkembangannya, Unsoed membuka
beberapa fakultas lagi, yaitu: Fakultas Peternakan, Fakultas Hukum, Fakultas Ilmu
Sosial dan Politik, Fakultas Kedokteran dan Ilmu-ilmu Kesehatan, dan Fakultas Sains
dan Teknik.
Saat ini, Universitas Jenderal Soedirman telah memiliki 11 program diploma
tiga, 34 program studi S1, 3 program profesi, yang tersebar dalam delapan fakultas.
Di samping itu Universitas Jenderal Soedirman juga telah membuka sembilan (9)
program pascasarjana jenjang strata 2 yaitu Program Magister Manajemen, Magister
Ekonomi Manajemen, Magister Ekonomi Pembangunan, Magister Ilmu Hukum,
Magister Administrasi Publik, Magister Ilmu Lingkungan, Magister Ilmu Tanaman,
Magister Sumber Daya Ternak, dan Magister Biologi. Unsoed akan membuka
program doktoral (S3) Biologi dan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
6. Universitas Hasanuddin (Unhas)
Mengawali berdirinya Universitas Hasanuddin secara resmi pada tahun 1956,
di kota Makassar pada tahun 1947 telah berdiri Fakultas Ekonomi yang merupakan
cabang Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Jakarta berdasarkan keputusan
Letnan Jenderal Gubernur Pemerintah Hindia Belanda Nomor 127 tanggal 23 Juli
1947. Karena ketidakpastian yang berlarut-larut dan kekacauan di Makassar dan
sekitarnya, maka fakultas yang dipimpin oleh Drs L.A. Enthoven (Direktur) ini
dibekukan dan baru dibuka kembali sebagai cabang Fakultas Ekonomi UI pada 7
Oktober 1953 di bawah pimpinan Prof. Drs. G.H.M. Riekerk. Fakultas Ekonomi
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 23 Drs. Wolhoff dan sekretarisnya Drs. Muhammad Baga pada tanggal 1 September
1956 sampai diresmikannya Universitas Hasanuddin pada tanggal 10 September
1956.
Visi yang dimiliki Universitas Hasanuddin yaitu menjadi Pusat Unggulan
Dalam Pengembangan Insani, Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Seni dan Budaya
Berbasis Benua Maritim Indonesia yang diwujudkan melalui misi yang dimiliki yaitu:
1. Menyediakan lingkungan belajar berkualitas untuk mengembangkan
kapasitas pembelajar yang inovatif dan proaktif;
2. Melestarikan, mengembangkan, menemukan dan menciptakan ilmu
pengetahuan, teknologi, seni dan budaya;
3. Menerapkan dan menyebarluaskan ilmu pengetahuan, teknologi, seni dan
budaya bagi kemaslahatan Benua Maritim Indonesia
7. Universitas Udayana
Universitas Udayana sejak Oktober 2008 telah membentuk Pusat Arsiparis
Universitas Udayana. Pada tanggal 25 Mei 2012 Pusat Arsiparis berubah nama
menjadi Pusat Arsip sesuai dengan SK Rektor No. 249/UN.14/HK.00.01/2012. Badan
ini dibentuk dilatarbelakangi oleh adanya fenomena arsip di lingkungan Universitas
Udayana yang masih belum terorganisir dengan baik sesuai dengan peraturan
perundang-undangan yang berlaku. Dalam perkembangannya, Pemerintah
mengeluarkan Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2009 tentang Kearsipan dimana
dalam Pasal 27 mewajibkan agar Perguruan Tinggi Negeri di Indonesia membentuk
lembaga yang khusus menangani arsip Perguruan Tinggi yang bersangkutan.
Pusat Arsip ini dimaksudkan untuk dapat melaksanakan kegiatan akuisisi,
menata, mengorganisir, mengolah, melestarikan dan memperlancar pengelolaan
kearsipan hingga tahap penyusutan arsip di lingkungan Universitas Udayana.
Disamping itu, mengupayakan adanya panduan/pedoman pelaksanaan tugas pokok di
lingkungan Universitas Udayana berdasarkan kebijakan/standar/norma sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku baik yang dikeluarkan oleh Kemdiknas
maupun ANRI serta instansi lainnya.
Adapun, visi yang dimiliki Pusat Arsip Universitas Udayana yakni menjadikan
arsip sebagai salah satu sumber data dan informasi yang valid dalam mewujudkan
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 24 Mandiri dan Berbudaya. Sementara itu, misi yang dimiliki Pusat Arsip Universitas
Udayana yaitu:
a. Mengelola arsip secara profesional sebagai sumber data dan informasi yang
akurat tentang Universitas Udayana;
b. Mengkaji, merawat dan melestarikan arsip Universitas Udayana sebagai
sejarah perkembangan Universitas Udayana dari masa ke masa;
c. Mengembangkan sistem Teknologi Informasi Kearsipan melalui sistem
digital dengan mengadakan kerjasama antar unit di lingkungan Universitas
Udayana dan pihak luar; dan
d. Mendorong sumber daya manusia di lingkungan Universitas Udayana agar
senantiasa memiliki kesadaran akan arti pentingnya suatu arsip.
B.Deskripsi Kajian
Pengelolaan University Archives terdiri dari kebijakan, kelembagaan, sumber daya
manusia, sarana dan prasana, serta sistem pengelolaan arsip statis perguruan tinggi yang
sangat signifikan dalam mewujudkan visi yang dimiliki universitas. Untuk itu, kajian ini
mencoba memerhatikan implementasi pengelolaan arsip perguruan tinggi dalam rangka
menyelesaikan permasalahan yang dihadapi dan mencarikan solusi/pemecahan masalah.
C.Analisis Hasil Kajian
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi lapangan di 7 (tujuh) perguruan tinggi
negeri maka didapatkan hasil analisis kajian berdasarkan unsur kebijakan, kelembagaan,
sistem kearsipan, sumber daya manusia kearsipan, sarana dan prasarana, dan sistem
pengelolaan arsip perguruan tinggi sebagai berikut:
1. Kebijakan
Berdasarkan instrumen pengukuran kebijakan, didapatkan hasil analisis kajian sebagai
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 25 Tabel 1. Hasil Analisis Berdasarkan Instrumen Pengukuran Kebijakan
No. Nama
Pengelolaan Arsip Perguruan
Tinggi
Kebijakan mengenai arsip
perguruan tinggi telah
ditindaklanjuti secara formal.
2. Universitas
Negeri Padang
Belum memiliki NSPK
Pengelolaan Arsip Perguruan
Tinggi, kegiatan yang terkait
pengelolaan arsip perguruan
tinggi masih bersifat
desentralisasi (dikelola oleh
masing-masing subunit kerja)
Kebijakan mengenai arsip
perguruan tinggi belum
ditindaklanjuti secara formal,
meskipun demikian pihak
pimpinan mendukung
terbentuknya arsip perguruan
tinggi
3. Universitas
Gajah Mada
Sudah memiliki NSPK
Pengelolaan Arsip Perguruan
Tinggi, diantaranya:
-Pedoman Pelaksanaan
Akuisisi Arsip, Panduan
Pengelolaan Arsip Statis
Tekstual, Panduan Umum
Digitalisasi Arsip, Panduan
Ringkas Pengelolaan Arsip
Foto, Panduan Tata Kelola
Arsip Inaktif, Panduan Akses
dan Layanan Kearsipan,
Panduan Layanan Sistem
Informasi Kearsipan Statis
(SiKS), Panduan Ringkas
Pengelolaan Arsip Rekaman
Suara; dan sebagainya.
Kebijakan mengenai arsip
perguruan tinggi telah
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 26 4. Universitas
Sebelas Maret
Surakarta
Sudah memiliki NSPK
Pengelolaan Arsip Perguruan
Tinggi, diantaranya:
-Pedoman Klasifikasi Arsip,
JRA, dan TND;
-SOP Penataan Berkas Aktif,
Penyusutan Arsip,
Penataan Arsip Inaktif,
Pengolahan Arsip Statis,
Pengolahan Arsip Kaset,
Video, Kearsitekturan dan
Foto, Pemeliharaan dan
Perawatan Arsip;
-dan sebagainya
Kebijakan mengenai arsip
perguruan tinggi telah
ditindaklanjuti secara formal
5. Universitas
Hasanuddin
Baru memiliki NSPK
pengelolaan arsip dinamis
dan beberapa pedoman yang
dikeluarkan oleh Kemdikbud.
Kebijakan mengenai arsip
perguruan tinggi belum
ditindaklanjuti secara formal,
meskipun demikian pihak
pimpinan mendukung
terbentuknya arsip perguruan
tinggi.
6. Universitas
Jenderal
Soedirman
Sudah memiliki NSPK
Pengelolaan Arsip Perguruan
Tinggi, diantaranya:
-Pedoman Pola Klasifikasi
Arsip Substantif dan
Fasilitatif;
-Pedoman Jadwal Retensi
Arsip; dan sebagainya.
Kebijakan mengenai arsip
perguruan tinggi telah
ditindaklanjuti secara formal
7. Universitas
Udayana
Sudah memiliki NSPK
Pengelolaan Arsip Perguruan
Tinggi, diantaranya:
-Pedoman Umum
Kebijakan mengenai arsip
perguruan tinggi telah
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 27 Pengelolaan Arsip Inaktif,
Penyusutan Arsip;
-SOP Layanan Informasi dan
Arsip, Pengelolaan,
Perawatan dan Pelestarian
Arsip Inaktif; dan
sebagainya.
Hasil analisis berdasarkan instrumen pengukuran kebijakan menunjukkan
bahwa telah tersedia berbagai NSPK pengelolaan arsip perguruan tinggi, seperti
pedoman dan SOP (Standard Operating Procedures) yang berlaku di masing-masing
perguruan tinggi. Kendati beberapa diantaranya masih belum dalam bentuk produk
hukum, namun hal itu menunjukkan bahwa NSPK pengelolaan arsip perguruan tinggi
itu telah menjadi acuan atau petunjuk yang mendukung bagi terselenggaranya kegiatan
pengelolaan arsip perguruan tinggi. Sementara itu, beberapa perguruan tinggi negeri
yang belum memiliki NSPK pengelolaan arsip perguruan tinggi masih mengikuti
pedoman yang dikeluarkan oleh Kemdikbud, seperti Peraturan Mendiknas RI No.42
Tahun 2006 tentang Tata Persuratan di lingkungan Departemen Pendidikan Nasional
dan Keputusan Mendikbud Nomor 0623 Tahun 1983 tentang Pedoman Klasifikasi
Arsip. Meskipun demikian, dukungan pihak pimpinan terhadap terbentuknya arsip
perguruan tinggi telah diberikan sepenuhnya, kendati kebijakan mengenai arsip
perguruan tinggi belum ditindaklanjuti secara formal.
2. Kelembagaan
Berdasarkan instrumen pengukuran kelembagaan, didapatkan hasil analisis kajian
sebagai berikut:
Tabel 2. Hasil Analisis Berdasarkan Instrumen Pengukuran Kelembagaan
No. Nama
Perguruan
Tinggi Negeri
Instrumen Pengukuran Kelembagaan
Nomenklatur Terkini
Arsip Perguruan Tinggi
Struktur Organisasi
Terkini Arsip
Perguruan Tinggi
1. Universitas
Andalas
Belum ada Masih melekat pada Bagian
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 28 2. Universitas
Negeri Padang
Belum ada Masih melekat pada Bagian
Tata Usaha masing-masing
subunit kerja
3. Universitas
Gajah Mada
Arsip Universitas
Gadjah Mada
Telah terbentuk Arsip
Perguruan Tinggi yang
bertanggungjawab langsung
Masih melekat pada Biro
Administrasi Umum dan
Keuangan
7. Universitas
Udayana
Pusat Arsip Masih melekat pada Bidang
Umum dan Keuangan
Hasil analisis berdasarkan instrumen pengukuran kelembagaan menunjukkan
bahwa lembaga formal arsip perguruan tinggi pada Universitas Andalas, Universitas
Negeri Padang, Universitas Sebelas Maret Surakarta, Universitas Hasanuddin, dan
Universitas Jenderal Soedirman masih belum terbentuk karena berbagai kendala seperti
faktor kebijakan maupun pendanaan. Kendati demikian, perguruan tinggi negeri seperti
Universitas Sebelas Maret Surakarta dan Universitas Jenderal Soedirman telah
mengupayakan rancangan Keputusan Rektor tentang Usulan Pembentukan Unit
Pelaksanaan Teknis (UPT) Pusat Arsip/Kearsipan. Hingga saat ini, hanya Universitas
Gadjah Mada yang telah membentuk Arsip Universitas Gadjah Mada yang
bertanggungjawab langsung terhadap Rektor, sedangkan Universitas Udayana kendati
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 29 Dalam hal ini, nomenklatur arsip perguruan tinggi yang dimiliki oleh Universitas
Gadjah Mada dan Universitas Udayana saat ini belum memiliki keseragaman. Hal
penting inilah yang perlu diperhatikan yaitu struktur organisasi arsip perguruan tinggi
terkini pada 6 (enam) perguruan tinggi tersebut tidak berdiri sendiri dan
bertanggungjawab langsung kepada Rektor sebagaimana yang dimiliki Arsip
Universitas Gadjah Mada, namun masih melekat pada Biro atau Bagian yang dijabat
oleh pejabat setingkat eselonering III. Idealnya, Arsip Perguruan Tinggi ini berdiri
sesuai dengan yang telah diamanahkan dalam Undang-Undang Nomor 43 tahun 2009
tentang Kearsipan pasal 27 ayat 1 yaitu arsip perguruan tinggi merupakan lembaga
kearsipan perguruan tinggi.
3. Sistem Kearsipan
Berdasarkan instrumen pengukuran sistem kearsipan, didapatkan hasil analisis kajian
sebagai berikut:
Tabel 3. Hasil Analisis Berdasarkan Instrumen Pengukuran Sistem Kearsipan
No. Nama
Perguruan
Tinggi Negeri
Instrumen Pengukuran Sistem Kearsipan
Pelaksanaan SOP dalam
Telah menerapkan SOP
Pengelolaan Arsip Perguruan
Tinggi, walaupun belum
maksimal
Telah melaksanakan akuisisi,
pengolahan, preservasi,
akses dan layanan arsip statis
perguruan tinggi
2. Universitas
Negeri Padang
Penerapan SOP pengelolaan
arsip perguruan tinggi masih
bersifat desentralisasi
Baru melaksanakan kegiatan
akuisisi, namun belum
melaksanakan kegiatan
pengolahan, preservasi,
akses dan layanan arsip statis
perguruan tinggi
3. Universitas
Gajah Mada
Telah menerapkan SOP
Pengelolaan Arsip Perguruan
Tinggi di lingkungan
perguruan tinggi secara
Telah melaksanakan
kegiatan akuisisi,
pengolahan, preservasi,
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 30 optimal perguruan tinggi secara
optimal
4. Universitas
Sebelas Maret
Surakarta
Telah menerapkan SOP
Pengelolaan Arsip Perguruan
Tinggi di lingkungan
perguruan tinggi, walaupun
SOP yang dimiliki belum
dituangkan dalam bentuk
produk hukum
Telah melaksanakan
kegiatan akuisisi,
pengolahan, akses dan
layanan arsip statis
perguruan tinggi, namun
belum optimal dalam
pengelolaan arsip dinamis
Belum melaksanakan
pengelolaan arsip statis,
namun telah melaksanakan
pengelolaan arsip dinamis
(hingga penyusutan arsip)
6. Universitas
Jenderal
Soedirman
Telah menerapkan SOP
Pengelolaan Arsip Perguruan
Tinggi, kendati belum
maksimal
Baru mulai melaksanakan
kegiatan akuisisi,
pengolahan, preservasi,
akses dan layanan arsip statis
perguruan tinggi
7. Universitas
Udayana
Telah menerapkan SOP
Pengelolaan Arsip Perguruan
Tinggi dalam bentuk produk
hukum
Telah melaksanakan akuisisi,
pengolahan, preservasi,
akses dan layanan arsip statis
perguruan tinggi
Hasil analisis berdasarkan instrumen pengukuran sistem kearsipan
menunjukkan bahwa 6 (enam) perguruan tinggi negeri tersebut telah memiliki SOP
Pengelolaan Arsip Perguruan Tinggi, kendati beberapa diantaranya belum dalam
bentuk produk hukum. Hingga saat ini, hanya Universitas Jenderal Soedirman yang
belum memiliki SOP Pengelolaan Arsip Perguruan Tinggi di lingkungannya. Lebih
lanjut, penerapan pengelolaan Arsip Perguruan Tinggi tersebut sudah dilaksanakan,
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 31 Mengenai pelaksanaan pengelolaan arsip statis perguruan tinggi yang meliputi
kegiatan akuisisi arsip, pengolahan, preservasi, dan layanan arsip statis perguruan
tinggi telah dilaksanakan oleh Universitas Andalas, Universitas Gadjah Mada,
Universitas Jenderal Soedirman dan Universitas Udayana. Dalam hal ini, Universitas
Jenderal Soedirman telah mulai melaksanakan kegiatan pengelolaan arsip statis
perguruan tinggi, kendati belum memiliki SOP Pengelolaan Arsip Perguruan Tinggi.
Sedangkan, Universitas Sebelas Maret Surakarta telah melaksanakan kegiatan
akuisisi, pengolahan, akses dan layanan arsip statis perguruan tinggi, namun belum
optimal dalam melaksanakan kegiatan preservasi arsip. Selanjutnya, Universitas
Negeri Padang baru melaksanakan kegiatan akuisisi, namun belum melaksanakan
kegiatan pengolahan, preservasi, dan layanan arsip statis perguruan tinggi. Hal serupa
juga didapatkan di Universitas Hasanuddin yang belum melaksanakan kegiatan
pengelolaan arsip statis, namun telah melaksanakan pengelolaan arsip dinamis
(hingga tahap penyusutan arsip).
4. Sumber Daya Manusia Kearsipan
Berdasarkan instrumen pengukuran Sumber Daya Manusia (SDM) Kearsipan,
didapatkan hasil analisis kajian sebagai berikut:
Tabel 4. Hasil Analisis Berdasarkan Instrumen Pengukuran SDM Kearsipan
No. Nama
Perguruan
Tinggi Negeri
Instrumen Pengukuran SDM Kearsipan
Kuantitas Kualitas
1. Universitas
Andalas
Arsiparis yang dimiliki saat
ini berjumlah kurang lebih 22
orang (terdiri atas 15 orang
arsiparis terampil, 1 orang
arsiparis ahli, dan 6 tenaga
pengelola arsip)
a).Latar belakang pendidikan
arsiparis terdiri atas
SLTA, D3 dan S1;
b) Belum ada pelatihan dan
pendidikan kearsipan
bagi SDM Kearsipan,
namun mengikutsertakan
SDM yang dimiliki pada
pelatihan dan pendidikan
kearsipan yang
Kajian tentang Arsip Statis Perguruan Tinggi 32 instansi lain.
2. Universitas
Negeri Padang
Arsiparis yang dimiliki saat
ini berjumlah kurang lebih 43
orang (terdiri atas 13 orang
arsiparis terampil, 3 orang
arsiparis ahli, dan 17 orang
tenaga pengelola arsip)
a).Latar belakang pendidikan
arsiparis terdiri atas
SLTA, D3, dan S1;
pelatihan dan pendidikan
kearsipan yang
diselenggarakan instansi
lain.
3. Universitas
Gajah Mada
Arsiparis yang dimiliki saat
ini berjumlah kurang lebih 20
orang (7 orang arsiparis
b)Adanya pelatihan dan
pendidikan kearsipan bagi
SDM Kearsipan.
4. Universitas
Sebelas Maret
Surakarta
Arsiparis yang dimiliki saat
ini berjumlah kurang lebih 35
orang (terdiri atas 33 orang
arsiparis terampil dan 2 orang
arsiparis ahli)
a).Latar belakang pendidikan
arsiparis terdiri atas:
- SLTA/SMK,
- D3 Kearsipan,
-S1 Administrasi Negara,
ekonomi;
b)Adanya pelatihan dan
pendidikan kearsipan
bagi SDM Kearsipan.
5. Universitas
Hasanuddin
Arsiparis yang dimiliki saat
ini berjumlah kurang lebih 15
orang (terdiri atas 2 orang
b)Adanya pelatihan dan