BOKS
PROFIL UMKM PESERTA JATENG FAIR 2008
PROFIL UMKM PESERTA JATENG FAIR 2008
PROFIL UMKM PESERTA JATENG FAIR 2008
PROFIL UMKM PESERTA JATENG FAIR 2008
LATAR BELAKANG SURVEI
Dalam rangka memberikan bantuan teknis berupa penyediaan informasi untuk mengembangkan UMKM berbasis penelitian, Kantor Bank Indonesia Semarang melakukan Survei Database UMKM dengan responden peserta Jateng Fair 2008 yang bertempat di PRPP (Pusat Promosi dan Pameran Pembangunan) pada tanggal 25 Juli – 18 Agustus 2008 bekerjasama dengan Fakultas Ekonomi Universitas Semarang. Survei ini dilakukan atas dasar permasalahan pada tingkat hulu yang dihadapi oleh pelaku UMKM yang melakukan ekspor, yaitu banyaknya UMKM (91%) yang melakukan kegiatan ekspornya melalui pihak ketiga eksportir/pedagang perantara, hanya 8,8% yang berhubungan langsung dengan pembeli/importir di luar negeri. Selain itu terdapat permasalahan pembiayaan UMKM oleh perbankan yang disebabkan oleh kurangnya informasi UMKM yang potensial untuk dibiayai perbankan.
Berdasar latar belakang permasalahan tersebut, dan untuk semakin meningkatkan peranan UMKM, muncul kebutuhan akan adanya suatu profil database produk UMKM, yang diperlukan oleh pelaku UMKM, pembeli/importir, maupun pihak perbankan. Survei ini dilaksanakan selama diselenggarakannya Jateng Fair 2008 dengan responden yang terdiri dari 29 peserta kabupaten dan 6 peserta kota. Masing-masing kabupaten/kota menaungi rerata 3 UMKM binaan, sehingga total responden sebanyak 105 pelaku. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung dan wawancara langsung di lapangan dengan berpedoman pada instrumen penelitian berupa kuesioner.
KARAKTERISTIK UMKM PESERTA JATENG FAIR Sektor Usaha
dilakukan adalah sebagian besar (45,38%) pada peran promosi yaitu melalui fasilitasi pameran dan bantuan untuk akses pemasaran produk/jasa.
Aspek Pasar
Mayoritas responden berproduksi karena adanya permintaan dari pasar (by demand) dengan jenis produknya sebagian besar (42,86%) berupa kerajinan yang berasal dari kayu, batu, kaleng, alumunium, dan shuttle kock .Wilayah pemasaran produk UMKM sebagian besar (70,48%) di propinsi Jawa Tengah, sedangkan untuk pemasaran ke luar negeri hanya 2,52 % yang mampu mengaksesnya. UMKM yang telah melakukan pemasaran ke luar negeri tersebut, 60% UMKM memakai jasa eksportir untuk mengirim produk ke luar negeri. Kondisi rerata penjualan yang dilakukan UMKM tiap harinya adalah Rp.5.000.000,00 dengan sistem penjualan yang dilakukan sebagian besar responden (43,81%) melalui kombinasi penjualan langsung ke konsumen akhir atau retail dan melalui pedagang perantara. Sistem pembayaran penjualan sebagian besar (63,81%) adalah tunai.
Aspek Produksi
Dari 69 perusahaan UMKM yang bergerak di sektor industri pengolahan dan industri serta industri makanan dan minuman, sebagian besar (56,52%) kapasitas produksinya lebih besar dibandingkan dengan kapasitas yang telah dipergunakan. Pemasok bahan baku sebagian besar (59,42%) dipasok dari perusahaan yang ada di propinsi Propinsi Jawa Tengah. Adapun sistem pembayaran bahan baku yang dilakukan sebagian besar responden (76,81%) adalah tunai.
Aspek Hukum dan Manajemen
Dari sisi hukum, sebagian besar responden (45,71%) hanya memiliki satu macam perijinan, dalam arti belum semuanya perijinan dimiliki. Berkaitan dengan pengalaman berwirausaha, sebagian besar (61,90%) pelaku UMKM telah memiliki pengalaman bekerja sebelumnya sebagai wirausaha dalam jenis usaha yang lain maupun sebagai karyawan. Adapun tingkat pendidikan pemilik sebagian besar (48,6%) berpendidikan SMA/SMK atau yang setara. Jumlah tenaga kerja tetap yang dimiliki oleh setiap UMKM paling sedikit satu orang dan yang paling banyak adalah 120 orang, dengan tingkat pendidikan sangat bervariasi mulai dari SD/MI sampai dengan Sarjana. Aspek Keuangan
piutang dagang sebesar Rp.30.990.816,00, piutang lainnya sebesar Rp.18.833.333,00. Sedangkan rerata utang yang mereka miliki adalah sebesar Rp.24.999.130,00, dan utang lancar lainnya sebesar Rp. 52.000.000,00.
Sebagian besar (61%) sumber dana UMKM berasal dari modal sendiri, dan hanya sebagian kecil (39%) yang berasal dari modal pinjaman. Berkaitan dengan modal pinjaman tersebut, sebagian kecil (11%), diberi agunan proyek itu sendiri, dan sebagian besar (53%) diberi agunan berupa jaminan tambahan diluar proyek yang memerlukan pendanaan. Pinjaman yang diperoleh UMKM paling lama berjangka 10 tahun dan yang terpendek adalah 10 bulan. dengan masa tenggang yang diperoleh paling sedikit 6 bulan dan paling lama 1 tahun, suku bunga pinjaman paling murah 0,12% perbulan, dan paling mahal adalah 3% perbulan. Sebagian besar (44%) agunan berupa tanah dan bangunan, dengan nilai aset paling besar sebesar Rp.3.500.000.000,00 dan yang terendah sebesar Rp.40.000.000,00. Nilai aset bergerak yang dijadikan agunan mempunyai nilai yang paling tinggi yaitu sebesar Rp.250.000.000,00 dan nilai aset bergerak terendah yang dijadikan agunan adalah sebesar Rp.5.000.000,00.
Rencana Pengembangan UMKM
Berkaitan dengan rencana pengembangan usaha, sebagian besar UMKM (90%) memiliki rencana pengembangan usaha untuk membuka pasar dan ekspansi pasar terutama pasar luar negeri. Namun, karena akses pada sumber pembiayaan yang terbatas, maka sebagian besar responden (54%) akan membiayai kebutuhan investasinya dengan modal sendiri, sedangkan modal kerja untuk rencana pengembangannya sebagian besar (57,34%) juga masih akan dibiayai dengan modal sendiri. Hal ini menunjukkan bahwa UMKM peserta Jateng Fair 2008 merencanakan pengembangan untuk investasi dan modal kerja dengan modal sendiri, hanya sebagian kecil yang berkeinginan dibiayai dari pihak perbankan.
KESIMPULAN/REKOMENDASI
Berdasarkan hasil survei tersebut dapat direkomendasikan beberapa hal sbb : 1. Perlunya pengembangan ekonomi kreatif sebagai salah satu alternatif seiring
dengan menurunnya kompetisi sektor industri dan tehnologi informasi bagi negara maju karena perkembangannya telah beralih ke negara berkembang seperti China, dan India.
a. Terkait dengan masih kurangnya kemampuan UMKM dalam berhubungan langsung dengan importir/buyer LN, maka hal ini memberi peluang bagi dinas/instansi untuk melakukan pembinaan terkait dengan peningkatan penguasaan bahasa asing, teknik bernegosiasi, teknik memasarkan produk melalui internet, teknik penggunaan jasa perbankan dalam transaksi internasional, dan cara memanfaatkan jejaring internasional.
b. Dengan adanya UMKM yang hanya memiliki satu macam perijinan, dalam arti belum semuanya perijinan dimiliki, maka hal ini perlu adanya pembinaan dari instansi terkait akan arti pentingnya perijinan, terlebih mengingat kepemilikan perijinan badan usaha ini merupakan hal yang penting karena seringkali hal ini menjadi syarat utama untuk mengakses pihak perbankan maupun pasar.
c. Perlunya untuk membantu pemasaran produk agar tidak terjadi kekosongan pada kapasitas yang dimiliki dengan media yang sesuai. Misalkan: bagi perusahaan yang berupaya untuk berorientasi eksport maka sebaiknya dapat menggunakan media pameran dengan audiens buyer dari LN. Mengingat karakteristik Jateng Fair lebih berorientasi pada hiburan masyarakat dan tidak terlalu berorientasi untuk mempertemukan pelaku UMKM dengan jejaring bisnis, eksportir maupun pembeli dari luar negeri maka pelaku yang dilibatkan sebaiknya yang berorientasi ke pasar dalam negeri.
3. Bagi perbankan dapat direkomendasikan beberapa hal sbb:
a. Peluang bagi perbankan masih terbuka luas untuk mendorong peningkatan penggunaan jasa perbankan bagi pelaku UMKM terkait dengan kebutuhan responden untuk optimalisasi kapasitas produksi Kondisi ini dapat mengindikasikan bahwa UMKM kesulitan dalam mengakses perbankan karena keterbatasan sumber daya padahal sebagian besar UMKM memiliki keinginan untuk mengembangkan usaha.
b. Diperlukannya komitmen bersama dalam upaya untuk menyederhanakan persyaratan, prosedur dan jaminan pengajuan kredit bagi UMKM untuk selanjutnya disosialisasikan kepada pengusaha UMKM melalui dinas terkait maupun perbankan.