2.1 Pemeriksaan Intern
Dalam proses yang ruang lingkupnya lebih besar, pimpinan tidak mungkin melaksanakan semua kegiatan operasi secara langsung, sehingga keamanan harta kekayaan perusahaan tidak dapat diawasi secara langsung.Untuk mengawasi jalannya operasi secara efektif, manajemen bergantung kepada laporan-laporan dan analisis-analisis yang benar, keadaan semacam ini memaksa pimpinan melimpahkan sebagian wewenang kepada bawahannya, tetapi tanggung jawab tetap ada pada pimpinan, dengan demikian perlu adanya pengawasan agar kegiatan dalam perusahaan dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan.
Adanya pendelegasian wewenang kepada bawahan, prosedur pembukuan yang baik dan mengklasifikasikan data akuntansi yang tepat, dapat membantu manajemen dalam melakukan pengawasan akuntansi yang cukup memadai terhadap harta milik perusahaan, utang-utang dan biaya.
Pimpinan perusahaan memerlukan suatu alat untuk meyakinkan dirinya agar perusahaan yang dipimpinnya dapat berjalan dengan lancar, cepat, aman, dan efisien. Jika demikian halnya maka dengan sendirinya tujuan yang direncanakan semula bisa dicapai dengan baik apabila dalam suatu perusahaan menggunakan suatu informasi yang dapat memberikan data yang dapat diandalkan.
Untuk mencapai tujuan yang telah ditetapkan, pimpinan memerlukan alat khusus untuk mengawasi dan mengevaluasi secara rutin ruang lingkup operasi perusahaan yang semakin kompleks.
Alat yang dimaksud adalah pemeriksaan intern yang dilakukan oleh bagian independen dalam organisasi. Kebutuhan dalam pemeriksaan intern akan sangat terasa apabila sistem pengendalian intern yang ada sangat lemah.
2.1.1 Pengertian Pemeriksaan Intern
Pengertian pemeriksaan intern menurut Mulyadi (2002:211) adalah:
“Audit intern merupakan kegiatan penilaian yang bebas, yang terdapat dalam organisasi, yang dilakukan dengan cara memeriksa akuntansi, keuangan, dan kegiatan lain, untuk memberikan jasa bagi manajemen dalam melaksanakan tanggung jawab mereka.”
Adapun definisi pemeriksaan intern menurut Sukrisno Agoes (2004:221): “Internal audit adalah pemeriksaan yang dilakukan oleh bagian internal perusahaan, baik terhadap laporan keuangan dan catatan akuntansi perusahaan, maupun ketaatan terhadap kebijakan manajemen puncak yang telah ditentukan dan ketaatan terhadap peraturan pemerintah dan ketentuan-ketentuan dari ikatan profesi yang berlaku.”
Peraturan pemerintah yang dimaksud di atas misalnya peraturan di bidang perpajakan, pasar modal, lingkungan hidup, perbankan, perindustrian dan lain-lain.
Definisi pemeriksaan intern menurut Sawyer (2003:6) adalah:
“Audit internal is a systematic, objective appraisal by auditor internal of the operation and control within organizations to determine whether:
a. Financial and operating information is accurate and reliable; b. Risk to the enterprise are identified and minimized;
c. External regulation and acceptable internal policies and procedures are followed;
d. Satisfactory operating criteria are met;
e. Resources are used effectively achieved all for the purposed of sitting members of the organizations in the effective discharge of the responbilities.”
Dari definisi pemeriksaan intern di atas, dapat diartikan bahwa audit internal adalah suatu fungsi penilaian yang objektif dan sistematis dalam menilai pengendalian dan kegiatan operasi dalam suatu organisasi yang dilakukan oleh auditor internal untuk meyakinkan bahwa:
a. Informasi keuangan dan operasi harus akurat dan dapat diandalkan; b. Risiko bisnis dapat diidentifikasi dan diminimalisasi;
d. Tercapainya kriteria kegiatan operasional organisasi;
e. Meyakinkan bahwa sumber daya telah digunakan secara efektif serta penempatan para anggota organisasi berjalan secara efektif sesuai dengan tanggung jawab.
Dan pengertian pemeriksaan intern menurut IIA dalam bukunya berjudul The Professional Practices Framework (2004:xxvii) adalah sebagai berikut:
“Internal auditing is an independent, objective assurance and consulting activity design to add value and improve an organizations operation.It help an organization accomplish its objectives by bringing a systematic, disciplined approach to evaluate and improve the effectiveness of risk management, control and governance process.”
Dari pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa pemeriksaan intern dalam suatu perusahaan mengandung pengertian sebagai berikut:
1. Mempunyai sifat penilaian yang tidak memihak dan objektif, karena merupakan bagian yang terlepas dari kegiatan operasi perusahaan.
2. Memeriksa dan mengevaluasi seluruh kegiatan perusahaan, baik finansial maupun non finansial.
3. Menentukan apakah kebijakan dan prosedur yang telah ditetapkan tersebut dapat dijalankan seperti yang telah ditentukan untuk mencapai tujuan perusahaan.
Dengan kata lain, pemeriksaan internal merupakan suatu aktivitas independen yang memberikan jaminan keyakinan serta konsultasi yang dirancang untuk memberikan nilai tambah serta meningkatkan kegiatan operasi perusahaan.
Dari istilah-istilah yang terdapat pada definisi di atas dapat dijabarkan sebagai berikut:
1) The term “Independent“
Mempunyai arti bahwa audit internal tersebut bebas dari pembatasan luas dan keefektivan penilaian pelaporan temuan dan simpulan.
Menyatakan keyakinan penilaian audit internal dalam satu simpulan hasil audit.
3) The term “Established “
Menyatakan pengakuan perusahaan atas peranan yang dijalankan oleh auditor internal.
4) The term “Examined and value“
Menyatakan tindakan audit internal sebagai pemeriksa untuk menemukan fakta serta memberikan pendapat atas hasil auditnya.
5) The term “Service“
Menyatakan bahwa pelayanan terhadap manajemen merupakan hasil akhir dari pekerjaan auditor internal.
6) The term “Its activities“
Menyatakan luasnya ruang lingkup dari pekerjaan pemeriksaan intern yang meliputi seluruh aktivitas organisasi.
7) The term “To the organization“
Menyatakan bahwa ruang lingkup pelayanan pemeriksaan intern berhubungan dengan seluruh personalia, dewan komisaris dan para pemegang saham. 8) The term “assurance“
Menyatakan bahwa penanggung jawab fungsi pemeriksaan intern harus mengembangkan dan memelihara program jaminan, dan peningkatan kualitas yang mencakup seluruh aspek dan fungsi pemeriksaan intern dan secara terus menerus memonitor efektivitasnya.
9) The term “consulting“
Menyatakan bahwa tujuan penugasan harus konsisten dengan nilai yang telah disetujui dan sasaran organisasi.
10) The term “add value“
Menyatakan bahwa nilai dibangun dengan memberikan kesempatan untuk mencapai tujuan organisasi, mengidentufikasi perubahan operasional, dan membentuk risiko kesalahan diantara assurance dan consulting service.
11) The term “improve“
Menyatakan suatu aktivitas penilaian dan pemeriksaan untuk mencapai keefektivan tujuan.
12) The term “improve the effectiveness“
Menyatakan suatu aktivitas penilaian dan perbaikan untuk mencapai efektivitas.
13) The term “risk management“
Menyatakan bahwa fungsi pemeriksaan intern harus membantu organisasi dengan cara mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko signifikan dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan pengelolaan risiko, pengendalian dan governance dengan menggunakan pendekatan yang sistematis, teratur, dan menyeluruh.
14) The term “control”
Menyatakan fungsi pemeriksaan intern harus membantu organisasi dalam memelihara pengendalian internal yang efektif dengan cara mengevaluasi kecukupan efisiensi, dan efektivitas pengendalian tersebut, serta mendorong peningkatan pengendalian internal secara berkesinambungan.
15) The term “governance process“
Menyatakan fungsi pemeriksaan intern harus menilai dan memberikan rekomendasi yang sesuai untuk meningkatkan proses governance dalam mencapai tujuan.
2.1.2 Tujuan dan Ruang Lingkup Pemeriksaan Intern
Adapun tujuan pemeriksaan intern menurut Sawyer (2003:65) yang dikemukakan adalah sebagai berikut:
“The objective of internal auditing is to assist members of the organization in the effective discharge of their responbilities.To this end, internal auditing furnishes them with analyses, appraisal, recommendations, counsels, and information concerning the activities reviewed.The audit objective includes promoting effective control at a reasonable cost.“
Dari definisi di atas dapat disimpulkan, bahwa tujuan dari pemeriksaan intern adalah untuk mengetahui efektivitas anggota dalam organisasi terhadap tanggung jawab mereka.Pemeriksaan intern melakukan analisis, penilaian, memberikan rekomendasi, mencari informasi yang berhubungan dengan aktivitas yang sedang diperiksa.Tujuan dari audit ini juga mencakup peningkatan pengendalian yang efektif terhadap suatu biaya yang dianggap pantas atau dapat diterima.
Dan dari pernyataan yang dikemukakan tentang tujuan pemeriksaan intern yang dialihbahasakan oleh Hiro Tugiman (1997:99) dapat diartikan sebagai berikut:
“Tujuan pelaksanaan audit internal adalah membantu para anggota organisasi agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya secara efektif.Untuk hal tersebut, auditor internal akan memberikan berbagai analisis, penilaian, rekomendasi, petunjuk, dan informasi sehubungan dengan kegiatan pemeriksaan.Tujuan pemeriksaan intern mencakup pula usaha mengembangkan pengendalian yang efektif dengan wajar.”
Adapun Konsorsium Organisasi Profesi Auditor Internal (2004:8) menyatakan bahwa:
“Tujuan kewenangan dan tanggung jawab fungsi auditor internal harus dinyatakan secara formal dalam charter audit internal, konsisten dengan Standar Profesi Audit Internal dan mendapat persetujuan dari pimpinan dan Dewan Pengawas Organisasi.”
Dengan kata lain tujuan pemeriksaan intern adalah memberikan pelayanan kepada organisasi untuk membantu semua anggota organisasi tersebut. Bantuan yang diberikan sebagai tujuan akhir agar semua organisasi dapat melakukan semua tanggung jawab yang diberikan dan dibebankan kepadanya secara efektif. Pemeriksaan intern membantu manajemen dalam hal mencari kemungkinan yang paling baik dalam penggunaan sumber modal secara efisien dan efektif, termasuk efektivitas pengendalian dalam biaya wajar.Semua bantuan pemeriksaan intern tersebut diberikan melalui analisis-analisis, penilaian, saran-saran, bimbingan dan informasi tentang aktivitas yang diperiksa.
Kegiatan pemeriksaan intern yang dijalankan pada dasarnya haruslah mencakup kegiatan:
Verification (pembuktian)
Merupakan pemeriksaan dokumen, catatan dan laporan untuk menentukan tingkat penyesuaiannya dengan keadaan yang sebenarnya.Pada umumnya, kegiatan diverifikasi ini meliputi catatan, laporan aktiva dan keuangan.
Compliance (kepatuhan)
Kegiatan ini berkaitan dengan tingkat ditaatinya kebijakan, peraturan, prosedur dan praktik-praktik usaha yang baik.
Evaluation (penilaian)
Evaluasi terdiri dari dua fungsi penilaian, pertama adalah fungsi penilaian berbagai tingkat manajemen yang memberikan umpan balik bagi manajemen puncak mengenai efektivitas manajer bawahan.Kedua, adalah fungsi untuk mereview dan menetapkan struktur pengendalian pencegahan di dalam suatu organisasi yang memberikan umpan balik bagi eksekutif akuntansi mengenai keefektivan struktur tersebut.
Ruang lingkup kegiatan pemeriksaan intern mencakup bidang yang sangat luas dan kompleks meliputi seluruh tingkatan manajemen baik yang sifatnya administratif maupun operasional. Hal tersebut sesuai dengan komitmen bahwa fungsi pemeriksaan intern adalah membantu manajemen dalam mengawasi jalannya roda organisasi. Namun demikian, pemeriksaan intern bukan bertindak sebagai mata-mata tetapi merupakan mitra yang siap membantu dalam memecahkan setiap permasalahan yang dihadapi.
Ruang lingkup pemeriksaan intern menurut Hiro Tugiman (1997:99-100) sebagai berikut:
“Ruang lingkup pemeriksaan intern menilai keefektivan sistem pengendalian internal serta pengevaluasian terhadap kelengkapan dan keefektivan sistem pengendalian internal yang dimiliki organisasi, serta kualitas pelaksanaan tanggung jawab yang diberikan.Pemeriksaan internal harus:
a. Me-review keandalan (reliabilitas dan integritas) informasi finansial dan operasional serta cara yang dipergunakan untuk mengidentifikasi, mengukur, mengklasifikasikan dan melaporkan informasi tersebut. b. Me-review berbagai sistem yang telah ditetapkan untuk memastikan
kesesuaian dengan berbagai kebijakan, prosedur, hukum, dan peraturan yang dapat berakibat penting terhadap kegiatan organisasi serta harus menentukan apakah organisasi telah mencapai kesesuaian dengan hal-hal tersebut.
c. Me-review berbagai cara yang dipergunakan untuk melindungi harta, dan bila dipandang perlu, memverifikasi keberadaan harta-harta tersebut.
d. Menilai keekonomisan dan keefisienan penggunaan berbagai sumber daya.
e. Me-review berbagai operasi atau program untuk menilai apakah hasilnya konsisten dengan tujuan dan sarana yang telah ditetapkan dan apakah kegiatan tersebut dilaksanakan sesuai dengan yang direncanakan.” Ruang lingkup pemeriksaan intern menurut Russell dalam bukunya yang berjudul The Quality Audit Handbook (2000:13) adalah sebagai berikut:
“The scope of the internal audit should encompass the examination and evaluation of the adequacy and effectiveness of the organizations system of internal control and the quality of performance in carrying out assigned responsibilities.”
Russell mengemukakan bahwa ruang lingkup dari audit internal harus meliputi pemeriksaan dan evaluasi yang cukup serta efektivitas sistem pengendalian internal perusahaan dan kualitas kinerja sesuai dengan tanggung jawabnya.
Dan ruang lingkup pemeriksaan intern menurut IIA dalam The Professional Practices Framework (2004:157) adalah sebagai berikut:
“Internal auditors should consider the following suggestions when evaluating an organization’s governance activities related to information security.”
Auditor internal harus memperhatikan saran atau usul ketika mengevaluasi kinerja perusahaan berkaitan dengan keamanan informasi.
Sedangkan ruang lingkup pemeriksaan intern menurut Sawyer (2003:363) adalah sebagai berikut:
“The internal audit activity should evaluate and contribute to the improvement of risk management, control and governance processes using a systematic and disciplined approach.”
Ruang lingkup pemeriksaan intern harus meliputi pengujian dan pengevaluasian terhadap kememadaian dan efektivitas sistem pengendalian intern perusahaan dan kualitas kinerja berkaitan dengan tanggung jawab anggota organisasi yang bersangkutan.
Jadi secara terperinci, ruang lingkup pemeriksaan intern adalah melakukan penilaian atas pengendalian internal, penilaian atas pencatatan laporan perusahaan, serta penilaian atas hasil seluruh kegiatan perusahaan.Pemeriksa internal juga harus memberikan keyakinan bahwa catatan laporan dan pelaksanaan kegiatan bagi perusahaan telah dilaksanakan dengan baik. Tujuan dan ruang lingkup pemeriksaan intern sangat luas tergantung pada besar kecilnya organisasi dan permintaan dari manajemen organisasi yang bersangkutan.
Dan lingkup penugasan pemeriksaan intern menurut Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal (2004:13) sebagai berikut:
“Fungsi pemeriksaan intern melakukan evaluasi dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan pengelolaan risiko, pengendalian. Dan governance dengan menggunakan pendekatan yang sistematis, teratur, dan menyeluruh yang meliputi:
a. Pengelolaan Risiko
Fungsi pemeriksaan intern harus membantu organisasi dengan cara mengidentifikasi dan mengevaluasi risiko signifikan dan memberikan kontribusi terhadap peningkatan pengelolaan risiko dan sistem pengendalian intern.
b. Pengendalian
Fungsi pemeriksaan intern harus membantu organisasi dalam memelihara pengendalian internal yang efektif dengan cara mengevaluasi kecukupan, efisiensi, dan efektivitas pengendalian tersebut, serta mendorong peningkatan pengendalian intern secara berkesinambungan.
c. Proses Governance
Fungsi pemeriksaan intern harus menilai dan memberikan rekomendasi yang sesuai untuk meningkatkan proses governance dalam mencapai tujuan-tujuan sebagai berikut:
i) Mengembangkan etika dan nilai-nilai yang memadai di dalam organisasi.
ii) Memastikan pengelolaan kinerja organisasi yang efektif dan akuntabilitas.
iii) Secara efektif mengkomunikasikan risiko dan pengendalian kepada unit-unit yang tepat di dalam organisasi.
iv) Secara efektif mengkoordinasikan kegiatan dari, dan mengkomunikasikan informasi diantara pimpinan, dewan pengawas, auditor internal dan eksternal serta manajemen.”
2.1.3 Wewenang dan Tanggung Jawab Pemeriksaan Intern
Dalam menjalankan fungsinya, seorang auditor internal dituntut untuk mempunyai berbagai kecakapan teknis dan teoritis yang memadai, disertai dukungan yang tegas dari manajemen, sehingga dengan adanya dukungan tersebut diharapkan dapat diperoleh suatu umpan balik dari manajemen.
Dengan kata lain, dengan adanya dukungan dan otorisasi dari manajemen, saran dan temuan-temuan akan diperhatikan dan diadakan tindak lanjut, karena audit yang dilakukan adalah untuk dan atas nama manajemen.
Menurut Ikatan Akuntan Indonesia dalam Standar Profesional Akuntan Publik (2001,322:1) tanggung jawab auditor internal adalah sebagai berikut:
“Auditor internal bertanggung jawab untuk menyediakan jasa analisis dan evaluasi, memberikan keyakinan dan rekomendasi dan informasi lain kepada manajemen entitas dan dewan komisaris, atau pihak lain yang setara wewenang dan tanggung jawabnya. Untuk memenuhi tanggung jawabnya tersebut, auditor internal mempertahankan objektivitasnya yang berkaitan dengan aktivitas yang diauditnya.”
Jadi jelas bahwa tanggung jawab auditor internal adalah memberikan informasi dan saran-saran kepada manajemen dan mengkoordinasikan aktivitasnya dengan bagian lainnya agar tujuan audit tercapai dan tujuan perusahaan dapat tercapai.
The Professional Practices Framework yang disusun oleh IIA (2004:71) mengemukakan bahwa:
“Internal auditors should refrain from assessing specific operations for which they were previously responsible.Objectivity is presumed to be impaired if an auditor provides assurance service for an activity for which the auditor had responsibility within the previous year.”
Menurut Arens dalam bukunya Auditing and assurance Service (2006:136): “The auditor has a responsibility to plan and perform the audit to obtain reasonable assurance about whether the financial statements are free of material misstatement, whether caused by error or fraud.”
Arens mengemukakan bahwa auditor memiliki tanggung jawab untuk merencanakan dan menunjukan hasil pemeriksaannya untuk memperoleh keyakinan yang memadai mengenai apakah laporan keuangan tersebut bebas dari kesalahan material dan apakah disebabkan oleh kesalahan atau kecurangan.
Dan menurut Mulyadi (2002:54) dalam bukunya Auditing mengemukakan bahwa:
“Dalam melaksanakan tanggung jawabnya sebagai professional, setiap anggota harus senantiasa menggunakan pertimbangan moral dan professional dalam semua kegiatan yang dilakukannya”.
2.1.4 Independensi dan Kompetensi Pemeriksaan Intern
Independensi bagi auditor internal sangat penting untuk efektivitas pemeriksaan. Untuk mencapai efektivitasnya auditor internal harus bertindak objektif dan seefektif mungkin. Hal ini sangat bergantung pada kedudukan pemeriksaan intern, terhadap bagian yang diperiksanya, independensi dan status pemeriksaan intern dalam organisasi untuk mencapai audit yang efektif harus didukung sikap yang tidak memihak dari auditor internal.
Menurut Arens (2006:83) membagi independensi menjadi dua macam, yaitu: 1) “Independence in fact ; independensi dalam kenyataan akan terjadi
apabila pada kenyataannya auditor mampu mempertahankan sikap yang tidak memihak sepanjang pelaksanaan auditnya.
2) Independence in appearance ; independensi dalam penampilan merupakan hasil interpretasi pihak lain mengenai independensi itu sendiri.”
Jadi, independensi adalah suatu hal yang sangat penting untuk mencapai keefektivan pemeriksaan intern. Independensi para internal auditor adalah mampu membebaskan diri dari berbagai kepentingan yang dapat mengganggu objektivitas dan integritas auditor serta mampu membebaskan diri dari berbagai hal yang menimbulkan kesan bahwa auditor tidak independen.
The Professional Practices Framework yang disusun oleh IIA (2004:7) mengemukakan bahwa:
“The internal auditor activity should be independent, and internal auditors should be objective in performing their work.”
Dari definisi di atas dapat disimpulkan bahwa seorang auditor internal haruslah independen dan objektif dalam melaksanakan tugas mereka.
Menurut Hiro Tugiman dalam Standar Profesional Audit Internal (1997:20) adalah sebagai berikut:
“Para auditor internal dianggap mandiri apabila dapat melaksanakan pekerjaannya secara bebas dan objektif. Kemandirian para pemeriksa internal dapat memberikan penilaian yang tidak memihak dan tanpa prasangka, hal mana sangat diperlukan atau penting bagi pemeriksaan sebagaimana mestinya.”
Berdasarkan definisinya, hal-hal tersebut dapat diperoleh melalui status organisasi dan sikap objektif dari internal auditor sebagai berikut:
Status Organisasi
Status organisasi dari bagian pemeriksaan intern haruslah memberikan keleluasaan untuk memenuhi tanggung jawab audit yang diberikan kepada bagian tersebut.Oleh karena itu, perlu adanya jaminan yang memungkinkan diperolehnya cakupan daerah audit yang memadai untuk mencapai tujuan penerapan tanggung jawab.
Objektivitas adalah sikap mental yang tidak memihak pada pihak-pihak tertentu dan mengemukakan pendapat seperti apa adanya.Oleh karena itu, internal auditor haruslah ditempatkan pada suatu situasi dan kondisi yang memungkinkan untuk melaksanakan tugasnya secara memadai.
Kompetensi auditor internal adalah pengetahuan dan keahlian yang diperlukan untuk melaksanakan tugas dari audit intern. Auditor internal haruslah memiliki pengetahuan, kecakapan, dan berbagai disiplin ilmu yang dibutuhkan untuk melaksanakan tanggung jawab auditnya. Kriteria keahlian dan pelatihan teknis yang diperlukan oleh seorang auditor internal harus terpenuhi untuk mendapatkan kualitas hasil audit yang diinginkan. Oleh karena itu, auditor internal haruslah ditempatkan pada suatu situasi dan kondisi yang memungkinkan untuk melaksanakan tugasnya dengan baik.
Menurut Standar Profesional Akuntan Publik (2001:322.3) mengemukakan bahwa pada waktu menentukan kompetensi auditor intern, auditor harus memperoleh atau memuktahirkan informasi dari audit tahun sebelumnya mengenai faktor-faktor berikut ini:
a) “Tingkat pendidikan dan pengalaman profesi audit intern b) Ijazah profesi dan pendidikan profesional berkelanjutan c) Kebijakan, program, dan prosedur audit
d) Praktik yang bersangkutan dengan penugasan auditor intern e) Supervisi dan review terhadap aktivitas auditor intern
f) Mutu dokumentasi dalam kertas kerja, laporan dan rekomendasi g) Penilaian atas kinerja auditor intern.”
Menurut IIA dalam The Profesional Practices Framewok (2004:xxxi): “Internal auditors apply the knowledge, skills, and experience needed, in the performance of internal auditing service.”
Auditor internal mempergunakan pengetahuan, keahlian dan pengalaman mereka yang dibutuhkan dalam memberikan jasa pemeriksaan internal.
Dan menurut Mulyadi (2002:57):
“Setiap anggota harus melaksanakan jasa profesionalnya dengan kehati-hatian, kompetensi dan ketekunan serta mempunyai kewajiban untuk
mempertahankan pengetahuan dan ketrampilan professional pada tingkat yang diperlukan untuk memastikan bahwa klien atau pemberi kerja memperoleh manfaat dari jasa professional yang kompeten berdasarkan perkembangan praktik, legislasi dan tekhnik yang paling mutakhir.”
Kompetensi diperoleh melalui pendidikan dan pengalaman. Anggota seyogyanya tidak menggambarkan dirinya memiliki keandalan atau pengalaman yang tidak mereka miliki. Dalam semua penugasan dan dalam semua tanggung jawabnya, setiap anggota harus melakukan upaya untuk mencapai tingkatan kompetensi yang akan meyakinkan bahwa kualitas jasa yang diberikan memenuhi tingkatan profesionalisme tinggi seperti yang disyaratkan oleh Mulyadi (2002:58) dalam Prinsip Etika Kompetensi Profesional dapat dibagi menjadi dua fase yang terpisah:
a) “Pencapaian Kompetensi Profesional
Pencapaian kompetensi profesional pada awalnya memerlukan standar pendidikan umum yang tinggi, diikuti oleh pendidikan dan pengalaman kerja. Hal ini harus menjadi pola pengembangan yang normal untuk anggota.
b) Pemeliharaan Kompetensi Profesional
Kompetensi harus dipelihara dan dijaga melalui komitmen untuk belajar dan melakukan peningkatan profesional secara berkesinambungan selama kehidupan profesional anggota.
Pemeliharaan kompetensi profesional memerlukan kesadaran untuk terus mengikuti perkembangan profesi akuntansi, termasuk diantaranya pernyataan-pernyataan akuntansi, auditing dan peraturan lainnya, baik nasional maupun internasional yang relevan.Anggota harus menerapkan suatu program yang dirancang untuk memastikan terdapatnya kendali mutu atas pelaksanaan jasa profesional yang konsisten dengan standar nasional dan internasional.”
Dengan demikian, kompetensi auditor internal harus menerapkan pengetahuan, kecakapan dan pengalaman yang diperlukan dalam melaksanakan jasa auditing internal.
Program audit merupakan rangkaian yang sistematis dari prosedur-prosedur audit untuk mencapai tujuan audit untuk melaksanakan audit dengan hasil yang baik diperlukan program audit yang lengkap, rinci dan terarah.
Program audit merupakan alat untuk perencanaan, pengarahan, dan pengendalian pekerjaan audit intern untuk mencapai tujuan.
Dengan demikian program audit merupakan acuan dan langkah kerja yang harus dijadikan pedoman selama pelaksanaan audit, sehingga hasil audit akan tercapai sesuai dengan tujuan bagi pemakai laporan hasil auditing.
Definisi audit program menurut Arens (2006:164):
“The list of audit procedures for an audit area or an entire audit is called an audit program.”
Dari definisi yang dikemukakan Arens di atas dapat disimpulkan bahwa program audit merupakan suatu daftar prosedur audit untuk seluruh audit unsur tertentu yang dapat digunakan oleh auditor internal untuk melaksanakan tugas auditnya.
Adapun definisi program audit yang dikemukakan oleh Louwers (2005:76) dalam Auditing and Assurance Service adalah:
“An audit program is a specification (list) of procedures designed to produce evidence directed toward achieving a particular objective.”
Program audit adalah daftar dari prosedur yang dirancang untuk menghasilkan bukti untuk memberikan petunjuk tentang perolehan yang obyektif.
Sedangkan menurut Russell (2000:139) definisi program audit adalah:
“An audit program is the organizational structure, commitment, and documented methods used to plan and performs audits.A well managed audit program:
Plans and performs the audit
Strives to standardize and improve its performance Produces audit results that are meaningful
Verifies compliance
Russell mendefinisikan bahwa program audit adalah suatu struktur organisasi, komitmen, dan metode dokumentasi yang digunakan untuk merencanakan dan melaksanakan pemeriksaan. Program audit yg baik adalah:
Perencanaan dan pelaksanaan audit
Berusaha atau menuju standar dan perbaikan pelaksanaan Menghasilkan pemeriksaan yang memiliki arti
Pelaksanaan yang teruji
Memperhatikan atau memelihara perbaikan yg berkesinambungan dari perusahaan.
Prosedur dalam suatu garis besar program audit adalah langkah pengumpulan bukti yang direncanakan auditor untuk digunakan. Program ini memiliki bentuk dan perincian yang bervariasi dari satu audit, ke audit lain dan spesifikasi dari setiap program harus dibuat secara tertulis. Program audit biasanya disiapkan untuk masing-masing saldo akun atau siklus transaksi yang penting. Program ini akan:
Memberikan dasar bagi pengkoordinasian dan penyeliaan pekerjaan audit serta pengendalian penggunaan waktu dalam melaksanakan audit.
Membantu memandu asisten dalam melakukan pekerjaan.
Memberikan bukti bahwa perencanaan dan catatan yang memadai mengenai pekerjaan yang dilaksanakan selama audit telah dilakukan.
Program pemeriksaan yang lengkap menurut Hiro Tugiman dalam Standar Profesional Auditor Internal (1997:53-78) mempunyai kerangka sebagai berikut:
1) Perencanaan pemeriksaan
Perencanaan pemeriksaan internal haruslah didokumentasikan. 2) Pengujian dan pengevaluasian informasi
Pemeriksa internal haruslah mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi, dan membuktikan kebenaran informasi untuk mendukung hasil pemeriksaan.
3) Penyampaian hasil pemeriksaan
Pemeriksa internal harus melaporkan hasil pemeriksaan yang dilakukannya.
Pemeriksa internal harus terus menerus meninjau dan melakukan tindak lanjut (follow up) untuk memastikan bahwa terhadap temuan pemeriksaan yang dilaporkan telah dilakukan tindakan yang tepat. Suatu audit diarahkan untuk menemukan salah saji yang material dalam laporan keuangan, apapun penyebabnya. Suatu audit memberikan keyakinan yang memadai bahwa laporan keuangan telah bebas dari kesalahan yang material. Auditor tidak pernah yakin seratus persen apakah laporan keuangan tersebut akurat.
Adapun tujuan program audit menurut Mulyadi (2002:211) adalah :
“Program audit bertujuan untuk menyajikan analisis, penilaian, rekomendasi dan komentar-komentar penting terhadap kegiatan manajemen, auditor intern menyediakan jasa tersebut.”
Untuk mencapai tujuan tersebut, menurut Mulyadi (2002:211) auditor intern perlu melaksanakan kegiatan-kegiatan berikut ini:
1. “Pemeriksaan dan penilaian terhadap efektivitas pengendalian intern dan mendorong penggunaan pengendalian intern yang efektif dengan biaya yang minimum.
2. Menentukan sampai seberapa jauh pelaksanaan kebijakan manajemen puncak dipatuhi.
3. Menentukan sampai seberapa jauh kekayaan perusahaan dipertanggungjawabkan dan dilindungi dari segala macam kerugian. 4. Menentukan keandalan informasi yang dihasilkan oleh berbagai bagian
dalam perusahaan.
5. Memberikan rekomendasi perbaikan kegiatan-kegiatan perusahaan.”
Sedangkan tujuan program audit menurut Sukrisno Agoes (2004:222) adalah: “Program audit bertujuan untuk membantu semua pimpinan perusahaan (manajemen) dalam melaksanakan tanggung jawabnya dengan memberikan analisa, penilaian, saran dan komentar mengenai kegiatan yang diperiksanya.”
Untuk mencapai tujuan tersebut menurut Sukrisno Agoes (2004:222), internal auditor harus melakukan kegiatan-kegiatan berikut:
1. “Menelaah dan menilai kebaikan, memadai tidaknya dan penerapan dari sistem pengendalian manajemen, pengendalian intern dan pengendalian
operasional lainnya serta mengembangkan pengendalian yang efektif dengan biaya yang tidak terlalu mahal.
2. Memastikan ketaatan terhadap kebijakan, rencana dan prosedur-prosedur yang telah ditetapkan oleh manajemen.
3. Memastikan seberapa jauh harta perusahaan dipertanggungjawabkan dan dilindungi dari kemungkinan terjadinya segala bentuk pencurian, kecurangan dan penyalahgunaan.
4. Memastikan bahwa pengelolaan data yang dikembangkan dalam organisasi dapat dipercaya.
5. Menilai mutu pekerjaan setiap bagian dalam melaksanakan tugas yang diberikan oleh manajemen.
6. Menyarankan perbaikan-perbaikan operasional.”
Program audit yang telah disusun perlu didukung oleh manajemen agar mendapatkan kepastian tentang hasil auditing, dimana dilakukan tindak lanjut oleh manajemen sesuai dengan kebutuhan.
2.1.6 Laporan Pemeriksaan Intern
Laporan pemeriksaan intern merupakan sebuah refleksi dan pandangan profesional seorang pemeriksa. Pelaporan yang efektif dihasilkan oleh kualitas yang baik dari kerja sebelumnya. Namun pemeriksaan yang baik akan sia-sia hanya karena cara pelaporan yang tidak memadai.
Laporan pemeriksaan intern dibuat setelah selesai melakukan audit laporan yang ditujukan kepada manajemen. Pada dasarnya pemeriksaan intern dirancang untuk memperkuat sistem pengendalian internal, untuk menentukan ditaatinya prosedur atau kebijakan yang telah digariskan oleh manajemen dan meyakinkan bahwa pengendalian internal yang telah ditetapkan cukup baik, ekonomis dan efektif. Oleh karena itu, auditor internal haruslah melaporkan kepada manajemen apabila terdapat penyimpangan-penyimpangan yang berarti dan mengusulkan cara-cara perbaikannya, apabila disetujui oleh manajemen, auditor internal akan mengawasi perbaikan tersebut.
Laporan audit dianggap baik jika memenuhi persyaratan yang dikemukakan oleh Gil Courtemanche, yang dialih bahasakan oleh Hiro Tugiman (1997:191)
sebagai berikut, bahwa laporan audit dianggap baik apabila memenuhi empat kriteria dasar yaitu:
a) “Objektivitas
Suatu laporan audit objektif membicarakan pokok persoalan dalam auditing, bukan perincian prosedural atau hal-hal yang diperlukan dalam proses audit.
b) Berwibawa
Laporan yang berwibawa adalah laporan audit harus dapat dipercaya dan mendorong pembacanya untuk setuju dengan substansi yang terdapat dalam laporan tersebut. Meskipun para pembaca belum tentu akan menerima temuan, simpulan dan rekomendasi auditor internal, namun mereka cenderung untuk tidak menolak. Hal tersebut dikarenakan mereka percaya pada laporan yang dibuat oleh auditor internal.
c) Keseimbangan
Laporan audit yang seimbang adalah laporan yang memberikan gambaran tentang organisasi dan aktivitas yang ditinjau secara wajar dan realitas.
d) Cara penulisan yang profesional
Laporan yang ditulis secara profesional adalah laporan yang ditulis dengan memperhatikan sejumlah unsur yaitu: struktur, kejelasan, keringkasan, nama laporan, dan pengeditan.”
Laporan pemeriksaan intern menurut Konsorsium Organisasi Profesi Audit Internal (2004:16-17) adalah:
“Auditor internal mengkomunikasikan hasil penugasannya secara tepat waktu.
a. Kriteria Komunikasi
Komunikasi harus mencakup sasaran dan lingkup penugasan, simpulan, rekomendasi, dan rencana tindakannya.
a) Komunikasi akhir penugasan bila memungkinkan memuat opini keseluruhan dan simpulan auditor internal.
b) Auditor internal dianjurkan untuk memberikan apresiasi dalam komunikasi hasil penugasan terhadap kinerja yang memuaskan dari kegiatan yang di-review.
c) Bilamana hasil penugasan disampaikan kepada pihak di luar organisasi, maka pihak berwenang harus menetapkan pembatasan dalam distribusi dan penggunaannya.
b. Kualitas Komunikasi
Komunikasi yang disampaikan baik tertulis maupun lisan harus akurat, objektif, ringkas, konstruktif, lengkap, dan tepat waktu.Dan jika terjadi
kesalahan, penanggung jawab audit internal harus mengkomunikasikan informasi yang telah dikoreksi kepada semua pihak yang telah menerima komunikasi sebelumnya.
c. Pengungkapan atas ketidakpatuhan terhadap standar-standar
Dalam hal ini terdapat ketidakpatuhan terhadap standar yang mempengaruhi penugasan tertentu, komunikasi hasil-hasil penugasan harus mengungkap:
a) Standar yang tidak dipatuhi b) Alasan ketidakpatuhan
c) Dampak dari ketidakpatuhan terhadap penugasan d. Diseminasi hasil-hasil penugasan
Penanggung jawab fungsi audit internal harus mengkomunikasikan hasil penugasan kepada pihak-pihak yang berhak.”
Menurut Sukrisno Agoes (2004:238-240) mengenai laporan pemeriksaan intern adalah:
“Laporan internal auditor pada umumnya berisi audit findings dan recommendation.
Finding dan recommendations adalah dua bagian yang paling penting dalam suatu laporan internal auditor.
Finding menjelaskan apa yang terjadi sedangkan rekomendasi menjelaskan apa yang harus dilakukan (untuk mengatasi kelemahan atau masalah yang dikemukakan dalam findings).
Pengembangan temuan pemeriksaan (audit findings)
Hasil pemeriksaan internal auditor disimpulkan dan didokumentasikan dalam suatu List of Audit Findings.Kesimpulan bisa menyatakan bahwa tidak ada masalah atau kelemahan yang ditemukan atau bisa juga menyimpulkan hal-hal yang memerlukan perhatian manajemen.Finding (temuan) bisa positif atau negatif:
a) Temuan positif bisa menyebutkan bahwa tidak ada masalah yang ditemukan bisa juga menyebutkan kebaikan pengendalian intern yang terdapat pada salah satu bagian yang perlu diterapkan pada bagian lain. b) Temuan negatif memberitahukan kepada manajemen masalah-masalah
yang ditemukan, yang memerlukan tindakan perbaikan dari manajemen untuk mencegah kerugian-kerugian yang timbul akibat masalah tersebut.
Findings yang disusun dengan baik harus mencakup: CRITERIA:
ukuran atau standar yang harus diikuti atau kondisi yang seharusnya ada.
STATEMENT OF CONDITIONS:
EFFECT:
bagaimana kenyataan atau kondisi yang terjadi di perusahaan (efek yang negatif berupa penyimpangan, efek yang positif berupa hasil yang lebih baik dari standar yang sudah ditentukan).
CAUSE:
apa penyebab terjadinya kondisi tersebut di perusahaan dan bagaimana terjadinya.
Pengembangan rekomendasi dari temuan-temuan (recommendations) Ada beberapa prinsip yang harus diikuti agar bisa bisa diperoleh rekomendasi yang efektif:
Rekomendasi harus komprehensif Rekomendasi harus spesifik
Rekomendasi harus disusun dengan baik Rekomendasi harus mudah dijalankan Rekomendasi harus beralasan
Ada enam hal penting yang harus dipenuhi untuk menyusun rekomendasi dengan baik:
1. Clear, simple, understandable and economical 2. Complete
3. Brief and concise 4. Coherent
5. Forceful 6. Variety.”
Audit intern belum menerbitkan suatu standar pelaporan bagi internal auditor. Standar Profesional Akuntan Publik lebih banyak memberikan petunjuk kepada Akuntan Publik. Karena itu, dalam menyusun laporannya internal auditor banyak mengacu pada Standards of Reporting yang dikeluarkan oleh The Institute of Internal Auditors (IIA).
2.1.7 Kriteria Pemeriksaan Intern
Kriteria pemeriksaan intern menurut Hiro Tugiman (1997:20-79) adalah sebagai berikut:
1. “Independensi
Para auditor internal dianggap mandiri apabila dapat melaksanakannya pekerjaannya secara bebas dan objektif.Kemandirian para pemeriksa internal dapat memberikan penilaian yang tidak memihak dan tanpa
prasangka, hal mana sangat diperlukan atau penting bagi pemeriksaan sebagaimana mestinya. Hal ini dapat diperoleh melalui:
a. Status Organisasi
Status organisasi pada pemeriksaan intern haruslah memberikan keleluasaan untuk memenuhi atau menyelesaikan tanggung jawab pemeriksaan yang diberikan.
b. Objektivitas
Para pemeriksa internal atau auditor internal haruslah melakukan pemeriksaan secara objektif. Objektivitas adalah sikap mental bebas yang harus dimiliki oleh pemeriksa internal dalam melaksanakan pemeriksaan.
2. Kemampuan Profesional
Kemampuan profesional merupakan tanggung jawab bagian audit internal dan setiap auditor internal. Pimpinan audit internal dalam setiap pemeriksaan haruslah menugaskan orang-orang yang secara bersama atau keseluruhan memiliki pengetahuan, kemampuan, dan berbagai disiplin ilmu yang diperlukan untuk melaksanakan pemeriksaan secara tepat dan pantas.
3. Lingkup Pekerjaan
Lingkup pekerjaan pemeriksaan internal harus meliputi pengujian dan evaluasi terhadap kecukupan dan keefektivan sistem pengendalian internal yang dimiliki oleh organisasi dan kualitas pelaksanaan tanggung jawab.
4. Pelaksanaan Kegiatan Pemeriksaan
Kegiatan pemeriksaan harus meliputi perencanaan pemeriksaan, pengujian dan pengevaluasian informasi, pemberitahuan hasil dan menindak lanjuti (follow up). Auditor internal bertanggung jawab untuk merencanakan dan melaksanakan tugas pemeriksaan, yang harus disetujui dan ditinjau atau direview oleh pengawas.
5. Manajemen Bagian Audit Internal
Pimpinan audit internal harus bertanggung jawab dan mengelola bagian audit internal secara tepat, sehingga:
a. Pekerjaan pemeriksaan memenuhi tujuan umum dan tanggung jawab yang disetujui oleh manajemen senior dan diterima oleh dewan,
b. Sumber daya bagian audit internal dipergunakan secara efisien dan efektif,
c. Pelaksanaan pekerjaan pemeriksaan dilakukan sesuai dengan standar profesi.”
Standar pelaksanaan mengakui setiap bagian yang sangat penting dalam semua audit: perencanaan, pemeriksaan dan evaluasi bukti, serta pengkomunikasian hasil. Standar ini menetapkan sasaran pelaksanaan dan bukan pedoman-pedoman spesifik. Standar 440, tindak lanjut, bersifat unik dalam auditing internal. Standar ini mengharuskan auditor internal untuk terlibat dalam menilai tindakan yang diambil berdasarkan temuan audit yang dilaporkan dan setiap rekomendasi yang tercantum dalam laporan itu.
Menurut Arens (2006:4) adalah sebagai berikut :
“Auditing is the accumulation and evaluation of evidence about information to determine and report on the degree of correspondence between the information and established criteria.Auditing should be done by a competent, independent person.”
Dari definisi di atas dapat diartikan bahwa untuk melaksanakan audit diperlukan informasi yang dapat diverifikasi dan sejumlah kriteria yang dapat digunakan sebagai pedoman pengevaluasian informasi tersebut. Informasi memiliki berbagai bentuk sedangkan kriteria untuk mengevaluasi informasi cukup beragam dan audit dilakukan oleh orang yang berkompeten dan independen.
Menurut Mulyadi (2002:9):
“Auditing adalah suatu proses sistematik untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara objektif mengenai pernyataan-pernyataan tentang kegiatan dan kejadian ekonomi, dengan tujuan untuk menetapkan tingkat kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan serta penyampaian hasil-hasilnya kepada pemakai yang berkepentingan.”
Dan pelaksanaan pemeriksaan intern menurut The Institute of Internal Auditor harus sesuai dengan program pemeriksaan yang lengkap yang dapat diuraikan sebagai berikut:
1. “Perencanaan Pemeriksaan
Pelaksanaan audit intern harus didokumentasikan dan meliputi hal-hal berikut ini:
Tujuan audit adalah pernyataan paling luas yang dihasilkan oleh auditor internal dan menyebutkan berbagai hal yang ingin dicapai dalam pelaksanaan audit.Berbagai tujuan dari prosedur audit secara bersama-sama akan menyatakan lingkup pekerjaan auditor internal.
b) Memperoleh Informasi Dasar (background information) tentang kegiatan yang akan diaudit, yang meliputi:
Pernyataan tentang tugas, sasaran dan rencana Informasi organisasional
Informasi anggaran, hasil-hasil kegiatan, dan data keuangan tentang kegiatan yang akan diperiksa.
Kertas kerja audit yang sebelumnya Hasil dari auditor lainnya
File-file pembanding untuk menentukan persoalan-persoalan auditor penting yang potensial
Literatur-literatur tekhnis dan yang dikeluarkan oleh pihak berwenang yang sesuai dengan kegiatan yang akan diaudit.
Selain itu berbagai keperluan pelaksanaan audit lainnya, seperti jangka waktu pelaksanaan audit, luas, periode yang akan diaudit, dan perkiraan saat selesainya audit haruslah ditentukan.
c) Penentuan berbagai tenaga yang diperlukan untuk melaksanakan audit Dalam menentukan tenaga pelaksana audit, harus diperhatikan jumlah dan tingkat pengalamannya dan harus dipertimbangkan pula pengetahuan, kecakapan dan disiplin ilmu dari staf auditor.
d) Pemberitahuan kepada para pihak yang dipandang perlu.
e) Melaksanakan survei secara tepat untuk lebih mengenali kegiatan yang diperlukan, risiko-risiko dan pengawasan-pengawasan untuk mengidentifikasi area yang ditekankan dalam audit, serta untuk memperoleh berbagai ulasan dan sasaran dari pihak yang akan diaudit. f) Penulisan Program Audit
Untuk memperoleh hasil yang memuaskan dari pelaksanaan audit intern, pemeriksa perlu membuat program audit yang sistematis dan terarah. Program audit merupakan suatu rencana pekerjaan secara tertulis dan terpadu yang harus dilaksanakan dalam langkah-langkah audit.
Program tersebut tidak akan berarti bila tidak mendapat dukungan manajemen, jadi bila program audit telah selesai disusun, kemudian diserahkan kepada manajemen untuk dimintai persetujuannya.Atas dasar program audit yang telah disetujui tersebut, maka audit dapat dilaksanakan.
g) Menentukan bagaimana, kapan dan kepada siapa hasil-hasil audit akan disampaikan.
Rencana kerja audit haruslah disetujui secara tertulis oleh pimpinan auditor internal atau orang yang ditunjuk sebelum awal pelaksanaan pekerjaan audit.
2. Pengujian dan Pengevaluasian Informasi
Pemeriksaan intern harus mengumpulkan, menganalisis, menginterpretasi dan membuktikan kebenaran informasi untuk mendukung hasil audit. Proses pengujian dan pengevaluasian informasi adalah sebagai berikut:
1) Berbagai informasi tentang seluruh hal yang berhubungan dengan tujuan audit dan lingkup kerja harus dikumpulkan.
2) Informasi harus mencukupi, kompeten, relevan dan berguna untuk membuat dasar yang logis bagi temuan audit dan rekomendasi.
3) Prosedur audit, termasuk tekhnik pengujian dan penarikan contoh yang dipergunakan, harus terlebih dahulu diseleksi bila memungkinkan dan diperluas atau diubah bila keadaan menghendaki demikian.
4) Proses pengumpulan, analisis, penafsiran dan pembuktian kebenaran informasi haruslah diawasi untuk memberikan kepastian bahwa sikap objektif auditor terus dijaga dan sasaran audit dapat dicapai.
5) Kertas kerja audit adalah dokumen audit yang harus dimuat oleh auditor dan ditinjau atau direview oleh manajemen bagian audit intern. 3. Penyampaian Hasil Audit
Tahap akhir audit yang dilakukan oleh auditor adalah membuat laporan hasil kegiatan audit.Laporan ini sangat berarti bagi manajemen karena menyangkut penilaian terhadap seluruh aktivitas kegiatan.
Dari laporan tersebut manajemen dapat mengukur samapai sejauh mana sistem pengendalian intern yang telah ditetapkan, dijalankan dan diikuti sebagaimana mestinya.Di samping itu, laporan berguna untuk menilai hasil kerja bagian audit intern.
Penyusunan laporan harus dilakukan sedemikian rupa sehingga:
a) Laporan dapat digunakan oleh manajemen untuk pengambilan keputusan,
b) Laporan berisi kesimpulan dari temuan-temuan hasil kegiatan audit, c) Laporan berisi saran untuk manajemen dan bagian yang diaudit, d) Laporan dapat dimengerti oleh si penerima,
e) Laporan dapat digunakan sebagai tolok ukur bagi si pemeriksa.
Bentuk laporan dari hasil kegiatan audit ini, bermacam-macam tergantung dari kebutuhan pemakai, dapat berbentuk narrative (uraian), tabulasi, grafik dan kombinasi semuanya.
Adapun hal-hal yang harus diperhatikan agar suatu laporan dikatakan baik adalah:
a) Laporan tertulis yang ditanda tangani haruslah dikeluarkan setelah pengujian terhadap audit (audit examination) selesai dilakukan.
b) Auditor internal harus terlebih dahulu mendiskusikan berbagai kesimpulan dan rekomendasi dengan tingkatan manajemen yang tepat, sebelum mengeluarkan laporan akhir.
c) Suatu laporan harus objektif, jelas, singkat, konstruktif dan tepat waktu. d) Laporan harus mengemukakan tentang maksud, lingkup dan hasil
pelaksanaan audit, dan bila dipandang perlu laporan harus pula berisikan pernyataan tentang pendapat auditor.
e) Laporan dapat mencantumkan berbagai rekomendasi bagi berbagai perkembangan yang mungkin dicapai, pengakuan terhadap kegiatan yang dilaksanakan secara meluas dan tindakan korektif.
f) Pandangan dari pihak yang diaudit tentang berbagai kesimpulan atau rekomendasi dapat pula dicantumkan dalam laporan audit.
g) Pimpinan audit intern atau staf yang ditunjuk harus mereview dan menyetujui laporan audit akhir sebelum laporan tersebut dikeluarkan, dan menentukan kepada siapa laporan tersebut akan disampaikan. 4) Tindak lanjut hasil pemeriksaan
Pemeriksa internal harus terus menerus meninjau dan melakukan tindak lanjut (follow up) untuk memastikan bahwa terhadap temuan pemeriksaan yang dilaporkan telah dilakukan tindakan yang tepat.
a) Tindak lanjut oleh pemeriksa internal didefinisikan sebagai suatu proses untuk menentukan kecukupan, keefektivan, dan ketepatan waktu dari berbagai tindakan yang dilakukan oleh manajemen terhadap berbagai temuan pemeriksaan yang dilaporkan.
b) Tanggung jawab untuk melakukan tindak lanjut harus didefinisikan dalam ketentuan yang memuat tujuan, kewenangan, dan tanggung jawab bagian audit internal.
c) Manajemen bertanggung jawab menentukan tindakan yang perlu dilakukan sebagai tanggapan terhadap temuan pemeriksaan yang dilaporkan.
d) Manajemen senior dapat menetapkan untuk menerima risiko akibat tidak dilakukannya tindakan korektif terhadap keadaan yang dilaporkan berdasarkan pertimbangan biaya atau pertimbangan lainnya.
e) Sifat, ketepatan waktu, dan luas tindak lanjut ditentukan oleh pimpinan audit internal.
f) Banyak faktor yang diharuskan dipertimbangkan dalam menentukan berbagai prosedur tindak lanjut yang tepat.
g) Beberapa temuan tertentu yang dilaporkan mungkin sangat penting dan segera memerlukan tindakan manajemen.
h) Terdapat pula berbagai keadaan di mana pimpinan audit internal menilai bahwa tindakan yang dilakukan terhadap temuan pemeriksaan memperbaiki berbagai kondisi yang mendasari dilakukannya tindakan tersebut.
i) Pimpinan audit internal bertanggung jawab membuat jadwal kegiatan tindak lanjut sebagai bagian dari pembuatan jadwal pekerjaan pemeriksaan.
j) Penjadwalan tindak lanjut harus didasarkan pada risiko dan kerugian yang terkait, juga tingkat kesulitan dan perlunya ketepatan waktu dalam penerapan tindakan korektif.
k) Pimpinan audit internal harus menetapkan berbagai prosedur
l) Banyak tekhnik yang dipergunakan untuk menyelesaikan tindak lanjut secara efektif.”
2.2 Pengertian Efektivitas
Efektivitas mempunyai pengertian memilih tujuan-tujuan yang tepat dari seperangkat alternatif. Jadi yang ditekankan disini adalah cara seseorang dalam menentukan suatu pilihan dari beberapa pilihan agar tugas yang dilakukan dapat sesuai dengan kebutuhan, sehingga tidak terjadi pelaksanaan tugas yang bertele-tele dan penggunaan waktu yang banyak.Akibatnya pekerjaan-pekerjaan yang setiap hari selalu bertambah menjadi tertunda, karena belum selesai pekerjaan yang satu sudah datang lagi pekerjaan yang lain.
Menurut Rob Reider (2002:21):
”Effectiveness (or results of operation) is the organization achieving results or benefits based on stated goals and objectives or some other measurable criteria.”
Efektivitas atau hasil dari operasi adalah hasil atau keuntungan yang diperoleh organisasi berdasarkan pencapaian tujuan dan objektivitas dari beberapa kriteria.
Menurut Arens et all (2006:770):
“Effectiveness refers to the accomplishment of objectives, where is efficiency refers to the resources used to achieve those objectives.”
Dari pendapat Arens dapat disimpulkan bahwa efektivitas pengendalian internal adalah merupakan suatu bagian dari audit operasional yang tujuannya untuk membantu perusahaan untuk menjalankan kegiatan usahanya agar lebih efektif dan efisien. Dengan kata lain, efektivitas mengacu pada pencapaian tujuan perusahaan. Sedangkan, efisiensi lebih menitikberatkan pada kemampuan organisasi dalam
menggunakan sumber-sumber daya yang ada untuk mencapai tujuan yang diharapkan.
2.3 Sistem Pengendalian Intern
Dalam perusahaan yang hanya mempunyai beberapa karyawan saja, pimpinan yang seringkali juga merupakan pemilik perusahaan tersebut, dapat mengikuti dan mengawasi secara langsung kegiatan semua karyawan. Namun sejalan dengan semakin luas dan kompleksnya perusahaan, manajemen perusahaan dihadapkan pada keterbatasan kemampuan untuk mengawasi dan mengendalikan operasi perusahaan. Keadaan ini menyebabkan manajemen melimpahkan sebagian tanggung jawab dan wewenang yang dimilikinya.
Dilain pihak, manajemen dituntut bekerja secara efisien untuk mencapai tujuan perusahan, manajemen membutuhkan alat bantu yaitu beberapa kebijakan dan prosedur yang disebut pengendalian. Pengendalian itu umumnya adalah sistem pengendalian intern yang memadai dan dapat diandalkan.
Adanya pengendalian intern ini yang merupakan tanggung jawab dari manajemen. Suatu pengendalian intern yang baik akan dapat menekan terjadinya kesalahan dan penyelewengan. Jika kesalahan dan penyelewengan terjadi, maka hal ini akan dapat ditetapkan dan diatasi dengan cepat.
Pemahaman atas pengendalian intern merupakan suatu prosedur pokok untuk dilaksanakannya pemeriksaan intern.
2.3.1 Pengertian Sistem Pengendalian Intern
Suatu pengendalian intern terdiri dari kebijakan-kebijakan manajemen tentang suatu kepastian yang wajar bahwa tujuan organisasi dapat tercapai.
Menurut COSO (Committee of Sponsoring Organization of The Tread Way Committee), yang didukung oleh AICPA, IIA, AAA, IMA, dan para eksekutif perusahaan, pengendalian intern didefinisikan sebagai berikut:
“Internal control is a process, affected by an entity’s board of directors, management, and other personnel, designed to provide reasonable assurance regarding the achievement of objectives in the following categories:
1. Reliability of financial reporting
2. Effectiveness and efficiency of operations
3. Compliance with applicable laws and regulations.
AICPA dalam SAS 78 dan Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) dalam Standar Profesional Akuntan Publik atau SPAP, (2001:319.2), “mengadop” laporan COSO di atas dan SPAP mengalihbahasakan definisi pengendalian intern sebagai berikut:
“Pengendalian intern adalah suatu proses yang dijalankan oleh dewan komisaris, manajemen, dan personel lain entitas, yang didesain untuk memberikan keyakinan yang memadai tentang pencapaian 3 golongan tujuan berikut ini:
(a) keandalan pelaporan keuangan, (b) efektivitas dan efisiensi operasi, dan
(c) kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.”
Menurut COSO study, pengendalian intern adalah suatu proses dari aktivitas operasional organisasi dan merupakan bagian integral dari proses manajemen seperti perencanaan, pelaksanaan dan pengendalian.Pengendalian internal meliputi:
1) Berbagai kegiatan (a process)
2) Dipengaruhi oleh manusia (is affected by people) 3) Diharapkan dapat mencapai tujuan (objectives).
Dari beberapa definisi di atas, nampak bahwa pengendalian intern merupakan pengendalian kegiatan (operasional) perusahaan yang dilakukan pimpinan perusahaan untuk mencapai tujuan secara efisien, yang terdiri dari kebijakan-kebijakan dan prosedur-prosedur yang ditetapkan untuk mencapai tujuan tertentu dari operasi perusahaan.
Berdasarkan dari definisi pengendalian internal di atas, dikemukakan bahwa tujuan pengendalian intern adalah untuk memberikan keyakinan yang memadai tentang pencapaian 3 golongan tujuan sebagai berikut:
1) Keandalan pelaporan keuangan 2) Efektivitas dan efisiensi operasi
3) Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.
Sedangkan sesuai dengan Standars for The Professional Practice of Internal Auditing (standard 300), Scope of Work, 5 tujuan utama pengendalian intern adalah untuk meyakinkan:
1. “Keandalan dan integritas informasi
2. Ketaatan dengan kebijakan, rencana, prosedur, hukum dan peraturan 3. Mengamankan aktiva
4. Pemakaian sumber daya yang ekonomis dan efisien
5. Pencapaian tujuan dan sasaran operasi atau program yang ditetapkan.”
Jadi berdasarkan uraian di atas, informasi dalam bentuk apapun harus dapat diandalkan, tidak menyesatkan dan dapat diuji kebenarannya. Kebijaksanaan pimpinan yang telah ditetapkan dengan surat keputusan, juga merupakan alat pengendalian yang penting di dalam perusahaan yang harus ditaati dan dijalankan oleh setiap karyawan. Dengan digunakannya berbagai metode dan prosedur untuk mengendalikan biaya yaitu dengan menyusun budget, biaya standar akan menjadi alat yang efektif untuk mengendalikan biaya dengan tujuan akhir menciptakan efisiensi serta tujuan sistem pengendalian intern berfungsi sebagai kerangka atau pedoman bagi pelaksanaan tiap fungsi dan aktivitas yang dijalankan.
2.3.3 Komponen Pengendalian Intern
Setiap perusahaan memiliki karakteristik atau sifat-sifat khusus yang berbeda karena perbedaan karakteristik tersebut maka pengendalian intern yang baik pada suatu perusahaan belum tentu baik bagi perusahaan lainnya. Oleh sebab itu, untuk mendesain suatu sistem pengendalian intern yang baik perlu diperhatikan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi tujuan perusahaan secara komprehensif.
Pengendalian intern yang baik harus memenuhi beberapa kriteria atau unsur-unsur. Pengendalian intern terdiri dari lima komponen yang saling terkait berikut ini:
1) Lingkungan Pengendalian (Control Environment) 2) Penaksiran Risiko (Risk Assessment)
3) Aktivitas Pengendalian (Control Activities)
4) Informasi dan Komunikasi (Information and Communication) 5) Pemantauan (Monitoring)
Kelima komponen sistem pengendalian intern tersebut dapat dijelaskan sebagai berikut:
2.3.3.1 Lingkungan Pengendalian (Control Environment) Menurut SPAP (2001:319.2):
“Lingkungan pengendalian yaitu menetapkan corak suatu organisasi, mempengaruhi kesadaran pengendalian orang-orangnya. Lingkungan pengendalian merupakan dasar untuk semua komponen pengendalian intern, meyediakan disiplin dan struktur.”
Adapun pengertian lingkungan pengendalian menurut Arens (2006:275): “The control environment consist of the actions, policies and procedures that reflect the overall attitudes of top management, directors, and owners of an entity about internal control and its importance to the entity.”
Lingkungan pengendalian terdiri dari kebijakan,tindakan dan prosedur yang mencerminkan keseluruhan tingkah laku dari manajemen puncak, direktur dan pemilik entitas mengenai pengendalian internal dan kepentingan entitas.
Dan menurut Mulyadi (2002:183):
“Lingkungan pengendalian merupakan suatu lingkungan untuk menciptakan suasana pengendalian dalam suatu organisasi dan mempengaruhi kesadaran personel organisasi tentang pengendalian.” Berbagai faktor yang membentuk lingkungan pengendalian dalam suatu perusahaan antara lain adalah:
Efektivitas pengendalian intern bersumber dari orang yang mendesain dan melaksanakannya. Oleh karena itu, tanggung jawab manajemen adalah menjungjung tinggi nilai integritas dan etika, karena merupakan dasar dari pengendalian yang dilakukan oleh manajemen dalam mengurangi dan meredam tindakan penyelewengan yang dilakukan oleh individu-individu dalam perusahaan.
2. Commitment to competence
Kompeten adalah pengetahuan dan kemampuan yang diperlukan untuk menyelesaikan tugas-tugas yang menjelaskan pekerjaan setiap individu. Komitmen terhadap kompetensi termasuk pertimbangan manajemen terhadap tingkat kompetensi untuk pekerjaan tertentu dan bagaimana tingkatan kompetensi tersebut diterjemahkan kedalam kemampuan dan pengetahuan yang dibutuhkan.
3. Board of directors or audit committee
Untuk menciptakan independensi auditor internal, maka perusahaan harus membentuk dewan komisaris dan komite audit yang berwenang untuk menunjuk auditor internal. Dewan Komisaris adalah wakil pemegang saham dalam perusahaan berbadan hukum perseroan terbatas. Dewan ini berfungsi mengawasi penelolaan perusahaan yang dilaksanakan oleh manajemen (direksi). Dengan demikian, dewan komisaris yang aktif menjalankan fungsinya dapat mencegah konsentrasi pengendalian yang terlalu banyak di tangan manajemen (direksi).
Komite audit anggotanya terdiri dari pihak luar perusahaan. Pembentukan komite audit ini ditujukan untuk memperkuat independensi auditor internal yang oleh masyarakat dipercaya untuk menilai kewajaran pertanggungjawaban keuangan yang dilakukan oleh manajemen.
4. Management philosophy and operating style
Filosofi adalah seperangkat keyakinan dasar (basic beliefs), yang menjadi parameter bagi perusahaan dan karyawannya. Filosofi merupakan apa yang
seharusnya dikerjakan dan apa yang seharusnya tidak dikerjakan oleh perusahaan. Gaya operasi mencerminkan ide manager tentang bagaimana operasi suatu perusahaan seharusnya dilaksanakan.
5. Organizational Structure
Organisasi dibentuk untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu. Struktur organisasi memberikan rerangka untuk perencanaan, pelaksanaan, pengendalian dan pemantauan aktivitas perusahaan. Maka dengan memahami struktur organisasi perusahaan, seorang auditor internal dapat mempelajari dan mengetahui bagaimana pengendalian dilaksanakan.
6. Assignment of authority and responbility
Pembagian wewenang dan pembebanan tanggung jawab merupakan perluasan lebih lanjut pengembangan struktur organisasi. Dengan pembagian wewenang yang jelas, organisasi akan dapat mengalokasikan berbagai sumber daya yang dimilikinya untuk mencapai tujuan perusahaan. Di samping itu, pembagian wewenang yang jelas akan memudahkan pertanggungjawaban konsumsi sumber daya perusahaan dalam pencapaian tujuan perusahaan.
7. Human Resources policies and practices
Aspek paling penting dalam sistem pengendalian intern adalah manusia. Apabila para pegawai memiliki kompetensi dan dapat dipercaya, maka pengendalian lainnya dapat diabaikan dan laporan keuangan yang dapat diandalkan masih tetap dapat dihasilkan.
2.3.3.2 Penaksiran risiko (Risk Assessment) Menurut SPAP (2001:319.2):
“Penaksiran risiko adalah identifikasi entitas dan analisis terhadap risiko yang relevan untuk mencapai tujuannya, membentuk suatu dasar untuk menentukan bagaimana risiko harus dikelola.”