P E R S E T U J U A N

Teks penuh

(1)

P E R S E T U J U A N

antara

Pemerintah Republik Indonesia

dan

Pemerintah Republik Federasi Jerman

mengenai Bantuan Keuangan

I I I

I

(2)

I

Pemerintah Republik Indonesia dan

Pemerintah Republik Federasi Jerman,

Dijiwai oleh hubungan persahabatan yang ada antara Republik Indonesia dan Republik Federasi Jerman,

berkeinginan untuk memperkokoh dan mempererat hubungan persahabatan tersebut dengan jalan bekerjasama secara bermanfaat dalam bidang bantuan pembangunan,

menyadari bahwa pemeliharaan hubungan - hubungan tersebut merupakan dasar persetujuan ini,

berkeinginan untuk membantu pembangunan ekonomi dan sosial Republik Indonesia,

telah menyetujui sebagai berikut

P A S A L 1 .

(1) Pemerintah Republik Federasi Jerman akan memungkinkan Pemerintah Republik Indonesia, untuk mengadakan pinjaman-pinjaman dari Kreditan-stalt fur Wiederaufbau sampai sejumlah 100.000.000 D.M. (seratus juta

D.M.) untuk proyek-proyek yang akan ditentukan oleh kedua Pemerintah, jika ternyata proyek-proyek itu dapat dikembangkan.

(2) Proyek-proyek sebagaimana dinyatakan dalam ayat 1 tersebut diatas dapat diganti oleh proyek-proyek lain atas persetujuan kedua belah pihak.

I

I

(3)

2

-P A S A L 2.

Penggunaan pinjaman-pinjaman ini demikian pula persyaratan-persyara-tan atas mana peminjam-peminjam diberikan akan diatur oleh ketentuan-ketentuan dalam persetujuan-persetujuan yang akan dibuat antara Peme-rintah Republik Indonesia dan Kreditanstalt fur Wiederaufbau serta akan tunduk terhadap ketentuan-ketentuan hukum yang berlaku di Repu-bl ik Federasi Jerman.

P A S A L 3.

Pemerintah Republik Indonesia akan membebaskan Kreditanstalt fur

Wiederaufbau dari semua pajak-pajak dan pungutan-pungutan umum lainnya yang berlaku di Republik Indonesia pada waktu persetujuan-persetujuan, sebagaimana disebut dalam pasal 2 dari persetujuan ini dibuat atau selama masa pelaksanaannya.

P A S A L 4.

Pemerintah Republik Indonesia akan mengizinkan penumpang-penumpang dan supplier-supplier untuk secara bebas memilih perusahaan-perusahaan pengangkutan darat, laut ataupun udara yang digunakan untuk mengangkut orang-orang atau barang-barang dalam rangka pinjaman ini dan tidak akan mengambil tindakan-tindakan untuk menolak atau mempersulit ikut sertanya secara wajar dan adil perusahaan-perusahaan pengangkutan

(4)

I

I

3

-yang berkedudukan diwilayah Jerman dalam persetujuan ini, dan memberi-kan izin-izin yang diperlumemberi-kan dalam mengikut sertamemberi-kan perusahaan-peru-sahaan itu.

P A S A L 5.

Penyediaan barang-barang dan jasa-jasa untuk proyek-proyek yang dibiayai dari pinjaman-pinjaman tersebut akan diadakan atas dasar penawaran

umum internasional, kecuali jika ditentukan lain dalam hal-hal tertentu.

P A S A L 6.

Mengenai penyediaan barang-barang sehubungan dengan pemberian pinjaman-pinjaman tersebut, Pemerintah Republik Federasi Jerman menganggap penting sekali untuk memberikan pilihan pertama kepada hasil-hasil in-dustri Land Berlin.

PAS AL 7.

Terkecuali ketentuan-ketentuan yang tercantum dalam pasal 4 mengenai pengangkutan udara, Persetujuan ini berlaku pula untuk Land Berlin dengan ketentuan bahwa Pemerintah Republik Federasi Jerman tidak mem-berikan pernyataan yang berlawanan kepada Pemerintah Republik In done-sia dalam jangka waktu tiga bulan setelah persetujuan ini mulai

(5)

4

-P A S A L 8.

Persetujuan ini mulai berlaku pada tanggal ditanda tanganinya.

Dibuat di Jakarta tanggal enam belas September seribu sembilan ratus tujuh puluh enam masing-masing rangka dua dalam bahasa Indonesia, Jerman dan Inggris, dimana ketiga naskah mempunyai kekuatan yang sama syahnya.

Dalam hal penafsiran terhadap naskah Jerman dan Indonesia berbeda, maka naskah Inggrislah yang menentukan.

Untuk Pemerintah Republik Indonesia

Signed

Untuk Pemerintah Republik Federasi Jerman

(6)

I

Abkommen zwischen

der Regierung der Republik Indonesien

und

der Regierung der Bundesrepublik Deutschland

(7)

Die Regierung der Republik Indonesien und

die Regierung der Bundesrepublik Deutschland,

im Geiste der bestehenden freundschaftlichen Beziehungen zwischen der Republik Indonesien und der Bundesrepublik Deutschland,

in dem Wunsche, diese freundschaftlichen Beziehungen durch fruchtbare Zusammenarbeit auf dem Gebiet der Entwicklungs-hilfe zu festigen und zu vertiefen,

im BewuBtsein, daB die Aufrechterhaltung dieser Beziehungen die Grundlage dieses Abkommens ist,

in der Absicht, zur wirtschaftlichen und sozialen Entwicklung der Republik Indonesien beizutragen,

sind wie folgt Ubereingekommen:

Artikel 1

(1) Die Regierung der Bundesrepublik Deutschland ermoglicht es der Regierung der Republik Indonesien, bei der Kredit-anstalt flir Wiederaufbau, Frankfurt am Main, flir von beiden Regierungen auszuwahlende Vorhaben, wenn nach

Prlifung die Forderungswtirdigkeit festgestellt worden ist, Darlehen bis zu insgesamt 100.000.000,-- DM (in Worten: Einhundert Millionen Deutsche Mark) aufzunehmen.

(2) Die gemaB Absatz 1 ausgewahlten Vorhaben konnen im

Einvernehmen zwischen den Vertragspartnern durch andere Vorhaben ersetzt werden.

(8)

I

Artikel 2

Die Verwendung dieser Darlehen sowie die Bedingungen, zu denen sie gewahrt werden, bestimmen die zwischen der Regierung der Republik Indonesien und der Kreditanstalt ftir Wiederaufbau abzuschlieBenden Vertrage, die den in der Bundesrepublik Deutschland geltenden Rechtsvorschriften unterliegen.

Artikel 3

Die Regierung der Republik Indonesien stellt die Kreditan-stalt ftir Wiederaufbau von samtlichen Steuern und sonstigen offentlichen Abgaben frei, die bei AbschluB oder

Durch-filhrung der in Artikel 2 erwa.hnten Vertrage in der Republik Indonesian erhoben werden.

Artikel 4

l

I

Die Regierung der Republik Indonesien tiberlaBt bei den sich 1

aus der Darlehensgewahrung ergebenden Transporten von Per-sonen und Giltern im See- und Luftverkehr den Passagieren und Lieferanten die freie Wahl der Verkehrsunternehmen, trifft keine MaBnahmen, welche die gleichberechtigte Be-teiligung der Verkehrsunternehmen mit Sitz in dem deutschen Geltungsbereich dieses Abkommens ausschlieBen oder erschweren, und erteilt gegebenenfalls die ftir eine Beteiligung dieser Verkehrsunternehmen erforderlichen Genehmigungen.

Artikel 5

Lieferungen und Leistungen ftir Vorhaben, die aus den Dar-lehen finanziert werden, sind international offentlich aus-zuschrei ben, soweit nicht im Einzelfall etwas Abweichendes festgelegt wird.

(9)

I

I

L

Artikel 6

Die Regierung der Bundesrepublik Deutschland legt be-sonderen Wert darauf, daB bei den sich aus der Gewahrung der Darlehen ergebenden Lieferungen die Erzeugnisse der

Industrie des Landes Berlin bevorzugt berlicksichtigt werden. Artikel

7

Mit Ausnahme der Bestimmungen des Artikels 4 hinsichtlich des Luftverkehrs gilt dieses Abkommen auch flir das Land

Berlin, sofern nicht die Regierung der Bundesrepublik Deutsch-land der Regierung der Republik Indonesien innerhalb von

drei Monaten nach Inkrafttreten des Abkommens eine gegen-teilige Erklarung abgibt.

Artikel 8

Dieses Abkommen tritt am Tage seiner Unterzeichnung in Kraft. Geschehen in Jakarta am 16. September 1976

in zwei Unterschriften, jede in deutscher, indonesischer und englischer Sprache, wobei jeder Wortlaut verbindlich ist. Bei unterschiedlicher Auslegung des deutschen und des indonesi-schen Wortlauts ist der englische Wortlaut maBgebend.

Flir die Regierung FUr die Regierung

~er Republik Indonesien der Bundesrepublik Deutschland

Signed Signed

(10)

I

I

11

A g r e e m e n t between

the Government of the Republic of Indonesia and

I

the Government of the Federal Republic of Germany

concerning Financial Assistance

(11)

The Government of the Republic of Indonesia and

the Government of the Federal Republic of Germany

in the spirit of the friendly relations existing between the Republic of Indonesia and the Federal Republic of Germany, desiring to strengthen and intensify those friendly relations by fruitful cooperation in the field of development assistance, aware that the maintenance of these relations constitutes the basis of the present Agreement,

intending to contribute to the economic and social development in the Republic of Indonesia,

have agreed as follows:

Article l

(1) The Government of the Federal Republic of Germany shall enable the Government of the Republic of Indonesia to raise with the Kreditanstalt ftir Wiederaufbau (Development Loan Corporation),

Frankfurt/Main, loans up to a total of DM 100.000.000 (one hundred million German Marks) for projects to be determined by both Governments if they have been found eligible for promotion.

(2) The projects referred to in paragraph 1 above may be replaced by other projects if the Contracting Parties so agree.

I

I

(12)

Article 2

The utilization of the loans as well as the terms and conditions on which they are granted shall be governed by the provisions of the agreements to be concluded between the Government of the Republic of Indonesia and the Kreditanstalt ftir Wiederaufbau which shall be

subject to the laws and regulations applicable in the Federal Republic of Germany.

Article 3

The Government of the Republic of Indonesia shall exempt the Kreditanstalt flir Wiederaufbau from all taxes and other public charges levied in the Republic of Indonesia at the time of the conclusion, or during the implementa-tion, of the agreements referred to in Article 2 of the present Agreement.

Article

4

The Government of the Republic of Indonesia shall allow passangers and suppliers free choice of transport enter-prises for such transportation by land, sea or air of persons and goods as results from the granting of the loans, abstain from taking any measures that might exclude or impair the fair and equal participation of transport enterprises having their place of business in the German area of application of the present Agree-ment, and grant permits for such participation as required.

Article 5

Supplies and services for projects financed from the loans shall, unless otherwise provided for in individual

(13)

(

l

Article 6

With regard to supplies resulting from the granting of

the loans, the Government of the Federal Republic of Germany attaches particular importance to preference being given to products of industries of Land Berlin.

Article

7

With the exception of those provisions of Article 4 which refer to air transport, this Agreement shall also apply to Land Berlin, provided that the Government of the Federal Republic of Germany does not make a contrary declaration to the Government of the Republic of Indonesia within three months of the date of entry into force of this Agreement.

Article 8

The present Agreement shall enter into force on the date of signature thereof.

Done at Jakarta on September 16, 1976

in duplicate in the German, Indonesian and English languages, all three texts being authentic. In case of divergent inter-pretation of the German and Indonesian texts, the English text shall prevail.

For the Government of the ~epublic of Indonesia

Signed

For the Government of the Federal Republic of Germany

Signed

(14)

DER BOTSCHAFTER Jakarta, den 16. September 1976 DER BUNDESREPUBLIK DEUTSCHLAND

DUTA BESAR

REPUBLIK FEDERASI JERMAN

Herr Minister,

ich beziehe mich auf Artikel 5 des am 16. September 1976 unterzeichneten Abkommens zwischen der Regierung der Bundes-republik Deutschland und der Regierung der Republik Indonesien Uber Kapitalhilfe, der wie folgt lautet:

"Lieferungen und Leistungen fiir Vorhaben, die aus den Dar-lehen finanziert werden, sind international offentlich

auszuschreiben, soweit nicht im Einzelfall etwas Abweichendes festgelegt wird."

Ich beehre mich, Eurer Exzellenz im Namen der Regierung der Bundesrepublik Deutschland hierzu folgendes darzulegen: Die Regierung der Bundesrepublik Deutschland befilrwortet im

Interesse der Entwicklungslander das Prinzip der Lieferungebunden-hei t bei der Kapitalhilfe. Sie hat dies wiederholt offentlich erklart und durch die Aufbindung der Projekthilfe flir Indonesien seit 1970 bekraftigt. Auch 1976 ist die deutsche Kapitalhilfe nicht an Lieferungen und Leistungen aus der Bundesrepublik Deutschland gebunden.

Die Regierung der Bundesrepublik Deutschland hat keinen Zweifel

daran gelassen, daB sie die internationale offentliche Ausschreibung der Lieferungen und Leistungen als ein weltweit gliltiges Prinzip anstrebe und mit ihrer Aufbindung 1970 einen beispielgebenden ersten Schritt in dieser Richtung habe tun wollen.

Seiner Exzellenz dem AuBenminister

der Republik Indonesien

(15)

2

-In entsprechenden Erklarungen anlaBlich bilateraler und multilateraler Kontakte hat sich die Regierung der

Bundes-republik Deutschland zu diesem Prinzip bekannt und ihrer Hoffnung Ausdruck verliehen, daB sich andere Geberlander dem deutschen Beispiel anschlieBen wUrden. Sie hat auch nie einen Zweifel daran gelassen, daB sie in dieser Frage - insbesondere im Hinblick auf das indonesische Interesse - das Vorgehen der librigen Geberlander nicht auBer acht lassen konne. Ausgehend

von diesem grundsatzlichen Standpunkt behalt sich die Regierung der Bundesrepublik Deutschland vor, von Fall zu Fall zu prlifen, welche Ausschreibungsmodalitaten dem einzelnen Projekt ange-messen sind und, soweit dies sachlich geboten erscheint, im Einzelfall eine auf die Bundesrepublik Deutschland beschrankte Ausschreibung festzulegen.

Ich bitte Sie, mir das Einverstandnis Ihrer Regierung mit den obigen Ausflihrungen bestatigen zu wollen.

Genehmigen Sie, Herr Minister, die Versicherung meiner aus-gezeichnetsten Hochachtung.

(16)

THE AMBASSADOR Jakarta, September 16, 1976

OF THE FEDERAL REPUBLIC OF GERMANY

Excellency,

I refer to Article 5 of the Agreement signed on September 16,

1976, between the Government of the Federal Republic of

Germany and the Government of the Republic of Indonesia

con-cerning Financial Assistance, which reads as follows:

"SUpplies and services for projects financed from the

loans shall, unless otherwise provided for in individual

cases, be subject to international public tender." With regard to the foregoing, I have the honour to state

the following on behalf of the Government of the Federal

Republic of Germany:

In the interest of developing countries, the Government of

the Federal Republic of Germany supports the principle of

untied supplies in connection with financial assistance. It has stated this repeatedly in public and confirmed it by

the untied project aid it has granted to Indonesia since 1970. Likewise in 1976, German financial assistance is not tied

to supplies and services from the Federal Republic of Germany.

The Government of the Federal Republic of Germany has left

no doubt that it would like to see tendering under project aid become an internationally valid principle and that, in untying its aid in 1970, it wanted to set an example by taking a first step in this direction.

His Excellency

Mr. Adam Malik

Minister for Foreign Affairs of the Republic of Indonesia

J a k a r t a

(17)

-- 2

-In statements on the occasion of bilateral and multi-lateral contacts, the Government of the Federal Republic of Germany has upheld this principle and expressed its hope that other donor countries would follow suit. It

has never left any doubt that in this matter, especially

in view of the Indonesian interest, it could not disregard

the approach of the other donor countries. Starting from

this fundamental position, the Government of the Federal Republic of Germany reserves the right to examine what tender modalities are appropriate for each individual

project and, if it seems necessary on substantive grounds, to limit tendering to the Federal Republic of Germany.

I would be grateful if Your Excellency would confirm

your Government's agreement to the foregoing.

Accept, Excellency, the assurance of my highest consideration.

Signed

(18)

I

MENTERILUAR NEGE~I

REPUBLIK INDONESIA Jakarta, 16 September 1976.

Kepada

Yang Mulia,

Saya mendapat kehormatan untuk memberitahukan bahwa saya telah me-nerima Nata Yang Mulia tertanggal hari ini, yang berbunyi sebagai berikut:

"Saya menunjuk kepada Pasal 5 dari persetujuan yang ditanda tangani

pada tanggal enam belas September seribu sembilan ratus tujuh puluh enam antara Pemerintah Republik Federasi Jerman dan Pemerintah Republik Indonesia mengenai Bantuan Keuangan yang berbunyi sebagai berikut :

11

Penyediaan barang-barang dan jasa-jasa untuk proyek-proyek yang di-biayai dari pinjaman-pinjaman tersebut akan diadakan atas dasar pe-nawaran umum internasional, kecuali jika ditentukan lain dalam hal-ha 1 tertentu11

Berhubungan dengan hal tersebut diatas, saya mendapat kehormatan atas nama

Pemerintah Republik Federasi Jerman untuk mengemukakan sebagai berikut :

Demi kepentingan negara-negara berkembang, Pemerintah Republik Fe-derasi Jerman lebih menyukai untuk memberikan bantuan keuangan yang tidak mengikat. Pemerintah Republik Federasi Jerman telah berulang kali menyatakan hal tersebut dihadapan umum dan telah menegaskan kebijaksanaan ini dengan

pemberian bantuan proyek yang tidak mengikat kepada Indonesia sejak tahun 1970.

Yang Mulia Dr. Kurt Muller

Duta Besar Republik Federasi Jerman

(19)

I

MENTERILUAR NEGERI

REPUBLIK INOONESJA

2

-Demikian pula pada tahun 1976, bantuan Jerman tidak terikat pada pemesanan

barang-barang dan jasa-jasa dari Republik Federasi Jerman.

Pemerintah Republik Federasi Jerman tidak ragu-ragu lagi untuk

ingin melihat bahwa prinsip penyediaan barang-barang dan jasa-jasa secara

pe-nawaran umum internasional diterima baik diseluruh dunia, dan dengan pemberian

bantuan secara tidak mengikat sejak tahun 1970, Pemerintah Republik Federasi

Jerman berkeinginan memberi contoh untuk merintis jalan kearah itu.

Dalam pernyataan-pernyataan yang dibuat dalam rangka hubungan-hubungan

bilate-ral dan multilateral, Pemerintah Republik Federasi Jerman telah mempertahankan

prinsip tersebut dan menyatakan harapan bahwa negara-negara donor lainnya hen

-daknya akan mengikuti jejak Jerman.

Pemerintah Republik Federasi Jerman tidak pernah ragu-ragu lagi bahwa

dalam hal ini, terutama sehubungan dengan kepentingan Indonesia-Pemerintah

Repu-blik Federasi Jerman tidak dapat mengabaikan pendekatan-pendekatan dari

negara-negara donor lainnya.

Bertitik tolak dari pertimbangan pokok ini, Pemerintah Republik Federasi

Jerman berhak untuk mempertimbangkan prosedure penawaran yang sebaiknya untuk

masing-masing proyek dan jika dianggap perlu berdasarkan alasan-alasan yang

penting, membatasi penawaran-penawaran pada Republik Federasi Jerman.

Saya akan berterima kasih bilamana Yang Mulia sudi menegaskan

per-setujuan Pemerintah Yang Mulia terhadap hal tersebut diatas".

Terimalah Yang Mulia penghargaan saya ya~g setinggi-tingginya.

(20)

I

,..

'

MINISTER FOR FOREIGN AFFAIRS

REPUBLIC OF INDONESIA

Excellency,

Jakarta, September 16, 1976.

I have the honour to acknowledge the receipt of Your Excellency's Note of today's date, which reads as follows:

11

! refer to Article 5 of the Agreement signed on the sixteenth of

September nineteen seventy six, between the Government of the Federal

Republic of Germany and the Government of the Republic of Indonesia

con-nerning Financial Assistance, which reads as follows:

11

Supplies and services for projects financed from the loans shall,

unless otherwise provided for in individual cases, subject to

international public tender.11

With regard to the foregoing, I have the honour to state the following on

behalf of the Government of the Federal Republic of Germany:

In the interest of developing countries, the Government of the Federal Republic of Germany supports the principle of united supplies in connection with financial assistance. It has stated this repeatedly in public and confirmed it by the un~ted project aid it has granted to Indonesia since 1970, Likewise in 1976, German financial assistance is not tied to supplies

and services from the Federal Republic of Germany.

The Government of the Federal Republic of Germany has left no doubt that it

would like to see tendering under project aid become an internationally

valid principle and that, in untying its aid in 1970, it wanted to set an example by taking a first step in this direction.

His Exce 11 ency

Dr. Kurt Muller Ambassador of the Federal Republic of Germany

(21)

MINISTER FOR FOREIGN AFFAIRS

REPUBLIC OF INDONESIA 2

-In statements on the occasion of bilateral and multilateral contacts, the Government of the Federal Republic of Germany has upheld this principle and expressed its hope that other donor countries would follow suit. It has never

left any doubt that in this matter, especially in view of the Indonesian

interest, it could not disregard the approach of the other donor countries.

Starting from this fundamental position, the Government of the Federal

Republic of Germany reserves the right to examine what tender modalities are

appropriate for each individual project and, if it seems necessary on

substantive grounds, to limit tendering to the Federal Republic of Germany.

I would be grateful if Your Excellency would confirm your Government's agreement to the foregoing.

I have the honour to confirm Your Excellency that I agree with the

content of the above mentioned Note.

Accept Your Excellency, the assurances of my highest consideration.

(22)

DER BOTSCHAFTER

DER BUNDESREPUBLIK DEUTSCHLAND DUTA BESAR

REPUBLIK FEDERASI JERMAN

Herr Minister,

Jakarta, den 16. September 1976

ich beziehe mich auf Artikel 1 Absatz 1 des am 16. September

1976 unterzeichneten Abkommens zwischen der Regierung der Bun-desrepublik Deutschland und der Republik Indonesien, Uber Kapi-talhilfe, der wie folgt lautet:

11(1) Die Regierung der Bundesrepublik Deutschland ermoglicht es der Regierung der Republik Indonesien, bei der Kreditanstalt ftir Wiederaufbau, Frankfurt am Main, ftir von beiden

Regierungen auszuwahlende Vorhaben, wenn nach Prtifung die Forderungswtirdigkeit festgestellt worden ist, Darlehen bis zu insgesamt 100.000.000,-- DM (in Worten: Einhundert

Millionen Deutsche Mark) aufzunehmen."

Ich beehre mich, Herr Minister, im Namen der Regierung der Bundesrepublik Deutschland hierzu folgendes darzulegen: Die Regierung der Bundesrepublik Deutschland betrachtet

hinsichtlich der zwischen ihr und der Regierung der Republik Indonesien zu vereinbarenden Vorhaben die Ergebnisse der Delegationsverhandlungen in Bonn vom 14. - 16. Juni 1976 als Grundlage. Sie wird bei den weiteren Gesprachen hiervon aus-gehen.

Ich bitte Sie, mir das Einverstandnis Ihrer Regierung mit den obigen Ausftihrungen bestatigen zu wollen.

Genehmigen Sie, Herr Minister, die Versicherung meiner aus-gezeichnetsten Hochachtung.

Seiner Exzellenz dem AuBenminister

der Republik Indonesien Herrn Adam Malik

(23)

THE AMBASSADOR Jakarta, September 16, 1976 OF THE FEDERAL REPUBLIC OF GERMANY

Excellency,

I refer to Article 1 (1) of the Agreement signed on September 16, 1976, between the Government of the Federal Republic of Germany and the Government of the Republic of Indonesia concerning Financial Assistance, which reads as follows:

11(1) The Government of the Federal Republic of Germany

shall enable the Government of the Republic of Indonesia to raise with the Kreditanstalt ftir Wiederaufbau (Development Loan Corporation), Frankfurt/Main, loans up to a total of DM

100.000.000 (one hundred million German Marks) for projects to be determined by both Governments if they have been found eligible for promotion." The Government of the Federal Republic of Germany regards the results of the inter-delegation negotiations of

June 14 to 16, 1976, in Bonn as the basis for the projects to be agreed upon between it and the Government of the

Republic of Indonesia. It will proceed on this basis in any further talks.

I would appreciate it if you would confirm your Government's agreement with the foregoing.

Accept, Excellency, the assurance of my highest consideration. His Excellency

Mr. Adam Malik

Minister for Foreign Affairs of the Republic of Indonesia J a k a r t a

)

(24)

I

MENTERI LUAR NEGERI REPUBLIK INDONESIA

Yang Mulia,

Jakarta, 16 September 1976.

Saya mendapat kehormatan untuk memberitahukan bahwa saya telah

menerima Nota Yang Mulia tertanggal hari ini, yang berbunyi sebagai berikut:

11

Saya menunjuk kepada Pasal I ayat (1) dari Persetujuan yang ditanda tangani pada tanggal enam belas September seribu sembilan ratus tujuh puluh enam antara Pemerintah Republik Federasi Jerman dan Pemerintah Republik

Indonesia mengenai Bantuan Keuangan, yang berbunyi sebagai berikut

"(l) Pemerintah Republik Federasi Jerman akan memungkinkan Pemerin-tah Republik Indonesia untuK mengadakan pinjaman-pinjaman dari Kreditanstal fur Wiederaufbau sampai sejumlah 100.000.000.D.M. (seratus juta D.M.) untuk proyek-proyek yang akan ditentukan kedua Pemerintah, jika ternyata proyek-proyek itu dapat dikem-bangkan11

·I

Pemerintah Republik Federasi Jerman memandang hasil-hasil perundingan antara delegasi pada tanggal 14 sampai 16 Juni 1976 di Bonn, sebagai dasar bagi proyek-proyek yang akan disetujui olehnya dengan Pemerintah Republik Indonesia. Dasar ini akan dipakai didalam tahap pembicaraan-pembicaraan se-lanjutnya.

Kepada

Yang Mulia Dr. Kurt Muller

Duta Besar Republik Federasi Jerman

(25)

I

MENTERILUAR NEGERI RC:PUBLIK INOONESIA

- 2

-Saya akan menghargai bila Yang Mulia sudi menegaskan persetujuan

Pemerintah Yang Mulia terhadap hal tersebut diatas11

Saya mendapat kehormatan untuk menegaskan bahwa saya menyetujui isi

daripada Nota tersebut diatas.

Terimalah Yang Mulia penghargaan saya yang setinggi-tingginya.

Signed

(26)

MINISTER FOR FOF~EIGN AFFAIRS REPUBLIC OF INDONESIA

Jakarta, September 16, 1976.

Excellency,

I have the honour to acknowledge the receipt of Your Excellency's Note of today's date, which reads as follows

I refer to Article l (l) of the Agreement signed on the sixteenth

of September nineteen seventy six, between the Government of the Federal

Republic of Germany and the Government of the Republic of Indonesia concerning Financial Assistance, which reads as follows :

11

(1) The Goverment of the Federal Republic of'Germany shall enable the Government of the Republic of Indonesia to raise with the

Kreditanstalt fur Wiederaufbau (Development Loan Corporation), Frankfurt/Main, loans up to a total of OM 100.000.000 (one hundred million German Marks) for Projects to be determined by both

Governments i f they have been found eligible for promotion.11 The Government of the Federal Republic of Germany regards the results of the inter-delegation negotiations of June 14 to 16, 1976, in Bonn as the basis for the projects to be agreed upon between it and the Government of the Republic of Indonesia. It will procceed on this basis in any further talks.

I would appreciate it if you would confirm your Government's agreement with the foregoing.

I have the honour to confirm Your Excellency that I agree with the content of the above mentioned Note.

Accept Your Excellency, the assurances of my highest consideration.

His Exce 11 ency Signed

Dr. Kurt Muller Ambassador of the Federal

Republic of Germany

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :