• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III LAPORAN PRODUKSI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2021

Membagikan "BAB III LAPORAN PRODUKSI"

Copied!
321
0
0

Teks penuh

(1)

BAB III

LAPORAN PRODUKSI

3.1.Proses Kerja Produser

Penulis sebagai produser bertanggung jawab terhadap seluruh produksi. Dalam hal proses kerja, penulis akan memilih suatu konsep/ide cerita yang diberikan oleh penulis naskah, untuk membahas cerita yang kuat, Pemeran yang kuat, konflikyang jelas dan pesan yang mudah dicerna harus dibahas sebelum film diputuskan untuk di produksi. Penulis juga harus mampumengupayakan anggaran dana untuk produksi, dari praproduksi, produksi hingga pascaproduksi, karena dalam pembuatan program drama televisi tentunya harus mempunyai dana yang cukup banyak untuk memenuhi kebutuhan pembuatan film. Penulis merancang semua anggaranbudget dan mengurus semua perizinan lokasi baik untuk lokasi shooting maupun perizinan lainnya.

Menurut Morissan (2008:314) mendefinisikan bahwa: Produser adalah orang yang bertanggung jawab mengubah ide/gagasan kreatif kedalam konsep yang praktis dan dapat dijual. Produser harus memastikan adanya dukungan keuangan bagi terlaksananya produksi program tv serta mampu mengelola keseluruhan proses produksi termaksuk melaksanakan penjadwalan.

Dalam drama televisi “KATARSIS” penulis menyimpulkan, produksi film yang baik, bukan hanya diawali dengan pembahasan berapa besar budget yang harus dikeluarkan, melainkan dengan pembahasan seberapa kuat cerita yang dapat dijual. Penulis memilih menjadi seorang produser karena penulis ingin belajar dari proses produksi hingga akhir, walaupun kinerja penulis bisa dikatakan belum maksimal. Tetapi, semua ini akan menjadi pengalaman untuk penulis.

(2)

2

3.1.1. Praproduksi

Dalam produksi drama televisi penulis akan lebih terlibat pada saat pra produksi, Karena Penulis akan melakukan beberapa pekerjaan diantaranya mengadakan suatu rapat/meeting bersama crew untuk membahas tugas dari masing-masing jobdesk, penulis akan berdiskusi dengan sutradara dan penulis naskah untuk mengembangkan kembali konsep/ide cerita yang akan dituangkan dalam produksi drama televisi “KATARSIS” Seperti yang dikatakan Morissan (2008:309) “Tahapan praproduksi atau perencanaan adalah semua kegiatan mulai dari pembentukan crew, pembahasan ide, Sampai dengan pelaksanaan pengambilan gambar (Shooting)”.

Dalam tahap pra produksi penulis melakukan penyusunan keseluruhan anggaran dana tujuannya untuk mengontrol semua kebutuhan yang dikeluarkan pada saat produksi, membuat perencanaan jadwal produksi, mempersiapkan perizinan hunting lokasi yang akan digunakan untuk shooting sesuai dengan visi sutradara, hunting peralatan yang akan digunakan pada saat produksi dan tidak lupa penulis membantu sutradara dalam mencari pemeran melalui casting talent sesuai dengan karakter yang dibutuhkan dalam drama “KATARSIS” . Penulis sebagai produser akan memperhitungkan semua biaya produksi, mulai dari kebutuhan artistik, Aktor/Aktris dan lain-lainnya. Adapun Tugas penulis selama proses praproduksi sebelum memasuki tahap produksi, antara lain :

(3)

3

a. Menyusun Tim Produksi

Dalam produksi, penulis adalah orang yang bertanggung jawab menyusun dan menentukancrew untuk proses pembuatan produksi dan dibutuhkan kerjasama bagi para crew untuk mencapai hasil yang diinginkan.Crew yang sudah ditentukan oleh penulis akan terlibat langsung dari proses pra produksi sampai pasca produksi. Untuk menjalankan tugas akhir karya drama televisi “KATARSIS” dengan delapan orang crew, antara lain :

1. Vanessa Claudia : Produser 2. Dicka Novan Trya : Sutradara 3. Wirantya Kestriati : Penulis Naskah 4. Bobby Dwi Rizky : Penata Kamera 5. Denny Anjar Anwar : Penata Suara 6. Dhio Okta Fauzi : Artistik 7. Muhammad Ihitifazhuddin : Editor

(4)

4

b. Meeting Crew

Tujuan penulis mengadakan Meeting Crew adalah untuk membahas beberapa hal, yaitu untuk mengembangkan kembali script/scenario yang tujuannya agar produksi dapat berjalan dengan lancar dan tidak ada kendala, pula untuk menentukan talent yang dianggap cocok dengan karakter yang diharapkan sesuai dalam naskah,

Meeting Crew dilaksanakan untuk menentukan lokasi yang tepat untuk diadakannya shooting sesuai dengan gambaran yang diharapkan oleh sutradara. Berkaitan dengan artistik dan sewa peralatan shooting juga dibahas dalam meeting crew, hal ini dilakukan untuk mempermudah proses budgeting sehingga kemampuan crew untuk mengeluarkan anggaran dana dapat sesuai dengan kualitas alat yang digunakan secara maksimal.

c. Pembuatan Shooting Schedule

Diaturnya jadwal shooting/shooting schedule dibuat oleh penulis dengan tujuan untuk menentukan persiapan shooting yang akan penulis rencanakan selama tiga hari yang dimulai pada tanggal 23 Mei 2017 sampai 25 Mei 2017. Fungsi dari adanya shooting schedule yaitu untuk mempermudah penulis menentukan adanya persiapan shooting agar permasalahan mengenai alat, konsumsi, kesiapan talent, serta waktu pengambilan gambar dan scene dapat berjalan sesuai dengan yang diharapkan oleh semua crew yang bertugas.

(5)

5

d. Membuat Budgeting (Anggaran Biaya)

Setelah membuat Shooting Schedule, langkah selanjutnya penulis membuat perincian biaya yang dimulai dari praproduksi berjumlah Rp. 2.000.000/orang dengan total keseluruhan sebesar Rp. 16.000.000, yaitu mengenai biaya kebutuhan artistik, sewa alat dan sewa lokasi. Pada tahap produksi, biaya yang penulis keluarkan yaitu lebih kepada kebutuhan akomodasi untuk talent dan alat. Selanjutnya pada pasca produksi, biaya yang penulis keluarkan yaitu mengenai kebutuhan yang berkaitan dengan proses editing.

e. Melengkapi Perizinan

Penulis mengajukan surat izin lokasi shootingdi dua tempat, yaitu berlokasi di kantor Kemang dan Gudang Sarinah serta penulis mengajukan perizinan keamanan di lokasi tempat penulis mengajukan perizinan lokasi shooting. Jika saat produksi berjalan tidak ada izin pengambilan gambar di lokasi yang ditentukan, maka akan berakibat terhambatnya waktu produksi, untuk itu sebelum melakukan shooting, penulis dancrew melakukan survey lokasi agar tidak menjadi kendala selama produksi berlangsung.

f. Casting Talent

Penulis akan ikut serta mencari aktor / aktris yang dianggap cocok dengan karakter yang akan diperankan dalam drama televisi yang berjudul “KATARSIS” melalui casting talent, namun peran terbesar dalam pemilihan peran tetap ada pada Sutradara. Tugas penulis hanya mengawasi dan memberi saran mengenai talent yang akan dipilih, membuat jadwal shooting

(6)

6

Aktor/Aktris dan mengurus fee yang sudah disepakati bersama sesuai dengan budget produksi.

g. Peralatan dan perlengkapan

Penulis tidak lupa mempersiapkan peralatan dan perlengkapan kebutuhan produksi, seperti kamera Sony pxw f5 untuk pengambilan gambar, penata suara yang membutuhkan Sennheiser MKH 60, Zoom h4n, Zoom h1n dan Wireless Clip On BOYA WM8, penata Cahaya yang membutuhkan kinoflo, redhead dan LED daylight portable dan kebutuhan artistik seperti Costum, Makeup, dan property.

3.1.2. Produksi

Setelah melakukan praproduksi, tahap selanjutnya adalah tahap produksi dimana penulis sudah memberikan kepercayaan kepada sutradara karena dalam produksi sutradaralah yang menduduki posisi tertinggi dalam memimpin crew yang bertugas dan mengarahkan semua adegan serta acting yang diperankan oleh Aktor/Aktris.

Peran penulis di produksi hanyalah mengawasi produksi yang sedang berlangsung, Penulis harus mengatur/mengevaluasi masalah-masalah yang timbul pada waktu shooting, tujuan tahap mengevaluasi kerja produksi ini adalah kesalahan atau kendala di produksi tidak terjadi lagi pada saat produksi.

Menurut Morissan (2008:310) mengatakan bahwa:

Tahap produksi adalah seluruh kegiatan setelah pengambilan gambar (Shooting) baik di studio maupun diluar studio. Proses ini disebut juga dengan taping. Perlu dilakukan pemeriksaan ulang setelah kegiatan pengambilan gambar selesai dilakukan. Jika terdapat kesalahan maka pengambilan gambar dapat diulang kembali.

(7)

7

Penulis harus tegas dalam mengatur pengeluaran anggaran seefisien mungkin demi kebutuhan shooting di lapangan. Berikut ini penjelasan penulis apa saja yang harus diperhatikan produser saat produksi berlangsung, yaitu :

A. Control produksi

Selama proses produksi berlangsung, penulis secara langsung memantau jalannya proses produksi, sehingga diusahakan tidak terjadi kesalahan dalam pemeriksaan ulang pengambilan gambar/taping. Berikut ini yang penulis lakukan saat produksi diantara lain adalah :

a. Control crew

Penulis selaku produser dalam hal ini secara langsung memantau seluruh crew yang bertugas agar mereka bekerja sesuai jobdesk mereka masing-masing dan mengerti kewajiban yang harus mereka kerjakan selama proses produksi berlangsung.

b. Schedule

Dalam proses produksi diharapkan adanya kesesuaian antara jadwal yang penulis buat dengan ketepatan jadwal produksi dilapangan sehingga dapat memperlancar proses produksi sesuai dengan yang crew harapkan.

c. Tempat Lokasi

Mengenai tempat lokasi, penulis ingin memastikan bahwa tempat yang akan dijadikan lokasi shooting tidak bermasalah serta sesuai dengan yang ada pada naskah, dilihat dari sisi anggaran pun penulis ingin memastikan adanya kecukupan anggaran yang ada dengan lokasi shooting yang ingin dituju.

(8)

8

d. Alat

Sebelum proses produksi berlangsung, penulis memastikan kembali apakah alat yang akan digunakan tidak ada kerusakan sehingga tidak menghambat proses kerja produksi.

e. Talent

Mengenai kesiapan talent, penulis ingin memastikan apakah talent dalam keadaan sehat dan siap untuk memerankan suatu adegan yang sudah di atur dalam naskah.

B. Transportasi dan Akomodasi

Penulis mengenai kendaraan yang akan digunakan yaitu melalui jasa sewa transportasi yang ada pada rental kendaraan serta dengan meminjam kendaraan pribadi crew yang bertugas. hal ini dilakukan untuk mempermudah berjalannya proses produksi agar sesuai dengan shooting schedule yang telah direncanakan, seperti kebutuhan talent dan lain sebagainya yang berkaitan dengan proses produksi.

3.1.3. Pascaproduksi

Pada pascaproduksi, dalam tahap editing, Penyunting gambar dan sutradara saling bekerja sama untuk memilih suatu gambar yang ingin di pakai dalam proses pengeditan. Dimana penyunting gambar bertanggung jawab penuh dalam mengatur gambar seperti hal tingkat warna, kecerahan, dan tingkat kontras, sedangkan sutradara hanya memberikan solusi kepada editor. Sedangkan penulis sebagai produser akan tetap mengawasi editor dan sutradara bila sewaktu-waktu

(9)

9

ada masalah dalam proses editing. ketika hasil editing selesai, penulis wajib untuk melakukan review karya tersebut.

Apabila dalam review ternyata masih ditemukan ketidakpuasan terhadap harapan penulis, maka penulis wajib untuk memberikan evaluasi terhadap hasil review tersebut, seperti meminta editor untuk merevisi kembali hasil editing, melakukan konsultasi kepada editor untuk mencari solusi terbaik.

Pada tahap pascaproduksi menurut Irwanto dkk. (2014:139) “Produser mengontrol proses jalannya editing serta melakukan evaluasi terhadap seluruh kinerja redaksi selama membuat edisi tersebut”.

3.1.4. Peran dan Tanggung Jawab produser

Penulis memiliki tanggung jawab dengan adanya produksi drama televisi, penulis harus memahami prosesnya pra produksi hingga pasca produksi. Mulai dengan mendapatkan ide cerita, menetapkan pemain, menyiapkan anggaran produksi, membuat jadwal, mengawasi pelaksanaan produksi hingga selesai.

Timbulnyasuatu ide yang dikembangkan akan menciptakan sebuah cerita, kemudian dari cerita tersebut akan menjadi pertimbangan untuk menentukan tim produksi, kemudian menentukan para tokoh yang akan memainkan peran dalam cerita dilanjutkan dengan reading-rehearsal pemain, mengumpulkan biaya produksi, hunting lokasi, mengajukan perizinan lokasi, menyewa alat-alat syuting, menyediakan konsumsi dan perlengkapan artistik.

(10)

10

Tanggung jawab penulis dalam produksi drama televisi “KATARSIS” antara lain: membantu mencari ide cerita untuk produksi, menyusun rancangan produksi , membantu mencari pemeran dan memberikan masukan pada saat casting berlangsung, mencari lokasi dan mengurus perizinan, menyediakan prasarana penunjang shooting, mengumpulkan dana biaya dari setiap tim untuk biaya produksi, membuat Jadwal shooting dan mengawasi pelaksanaan produksi melalui laporan yang diterima dari semua departemen.

3.1.5.Proses Penciptaan Karya

Dalam drama televisi “KATARSIS”, penulis melakukan beberapa hal sebelum memasuki tahap produksi, berikut ini ada tiga konsep yang penulis lakukan, yaitu :

a. Konsep Kreatif

Penulis mendapatkan ide dengan terinspirasi dari kejadian nyata yang telah terjadi secara umum di masyarakat yang menguak tentang politik di Indonesia dan negara lain yang memiliki tingkat korupsi yang besar. Ide tersebut kemudian dikembangkan menjadiberbeda dan kreatif, yakni bukan hanya kisah emosional saja yang dituangkan dalam drama televisi “KATARSIS” tapi ada juga kisah keluarga, sisi kebahagiaan dan kesedihan si tokoh.

b. Konsep Produksi

Konsepdari produksi drama televisi ini membutuhkan beberapa orang crew untuk membantu berjalannya proses produksi, pencarian lokasishooting oleh penulis dan crew harus sesuai sebagaimana tertulis

(11)

11

dalam naskah, maka penulis disamping melakukan pencarian lokasi pula mengurus perizinan di lokasi tersebut dengan dibantu oleh crew.Produksi direncanakan berjalan selama tiga hari, dimulai hari selasa sampai kamis dan dilaksanakan di Gudang Sarinah, Kantor Kemang, Padang Ilalang, dan Rumah teman. Penulis juga mengontrol berjalannya produksi, mengontrol jadwal yang sudah ditentukan, mengkordinasikan setiap hal apapun yang terjadi ketika di lapangan dan menyiapkan semua kebutuhan Crew dan Talent seperti kebutuhan konsumsi.

c. Konsep Teknis

Sebelum melakukan produksi, penulis bersama crew mengembangkan kembali naskah, kemudian para crew mengajukan peralatan kepada penulis untuk dipakai pada saat produksi drama televisi “KATARSIS” seperti kameramen yang membutuhkan sebuah kamera Sony Pxw F5 untuk pengambilan gambar, penata suara yang membutuhkan Sennheiser MKH 60, Zoom h4n, Zoom h1n dan Wireless Clip On BOYA WM8, penata cahaya yang membutuhkan kinoflo, redhead dan LED daylight portable. Penulis ingin semua crew membuat laporan produksinya dengan baik, agar memudahkan punyunting gambar atau editor untuk menyusun gambar yang sudah direkam. Penulis ingin pada tahap editing benar-benar tersusun rapih dan tidak asal menggabungkan gambar. Dalam usaha meminimalisir biaya, penulis mencari tempat penyewaan alat yang praktis maksudnya menggunakan sistem penyewaan paketan yang lebih murah dengan lama waktu shooting 3 hari, kemudian penulis bekerja sama dengan sutradara berusaha menentukan lokasi yang dapat dijangkau

(12)

12

dengan mudah, agar lebih menarik pun drama televisi ini dibuat dengan harmonisasi yang baik antar gambar dan suara serta desain editnya, drama televisi “KATARSIS” ini pun ditujukan kepada para khalayak remaja dan dewasa dan bisa ditonton oleh perempuan dan laki-laki, kelas atas dan menengah keatas.

3.1.6.Kendala Produksi dan Solusinya.

Dalam Pembuatan Drama tentunya akan ada banyak hal kendala, mulai dari praproduksi, produksi hingga pascaproduksi. Kendala tersebut diantara lain adalah:

1) Kendala dan solusinya saat produksi

a. Pemeran utama mengalami cedera pada bagian kaki di saat shooting hari pertama, mengakibatkan shooting di hari kedua dan ketiga menjadi lambat dan tidak sesuai dengan shooting schedule yang sudah dibuat penulis. Solusinya penulis bersama crew menggunakan standman untuk beberapa scene pada peran utama agar bisa mengejar waktu.

2) Kendala dan solusi saat pascaproduksi

a. Pada Proses editing ada beberapa stok shoot atau gambar yang kurang. Solusinya beberapa crew saling bekerjasama untuk mengambil gambar yang masih kurang .

(13)

Produksi Company : Must A Fire Director : Dicka Novan Trya Project Title : KATARSIS

Producer :Vanessa Claudia Cameraman : Bobby Dwi Rizky

Tabel III.1

No Tahap Aktifitas Target Perminggu

Maret April Mei Juni Juli

1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4

1 Penemuan Ide

AKADEMI BINA SARANA INFORMATIKA “ WORKING SCHEDULE “

(14)

14

Pengembangan Gagasan Pembagian JobDesk

Penulisan Naskah / Skenario Pengumpulan Budget

Bimbingan Dosen Hunting Lokasi Casting Pemain Perincian Peralatan & Perlengkapan Produksi Sewa dan Belanja Peralatan Pembuatan Design Produksi

2 Shooting

Daily Production Rep Evaluasi Produksi Pra Pro d u ks i Pro d u ks i

(15)

15 3 Editing Rought Cut Spesial Effect Ilustrasi Musik Final Editing Pa sc a Pro d u ks i

(16)

AKADEMI KOMUNIKASI BINA SARANA INFORMATIKA

“SHOOTING SCHADULE “

Production Company : Must A Fire Produser :Vanessa Claudia Project Title : Katarsis Director : Dicka Novan T Durasi : 20 Menit Unit Manager :

Tabel III.2

NO HARI, TANGGAL WAKTU KEGIATAN

1 Selasa, 23 Mei 2017 07.00-08.00 Sampai di lokasi 1 ( Gudang Sarinah )

2 08.00-09.45 Crew dan cast prepare, Sarapan / Makan pagi

3 09.45-10.45 Pengecekan alat dan Set alat

4 11.00-12.00 Produksi pengambilan scene 22 (Lembaga Pemasyarakatan)

5 12.00-12.30 Istirahat makan siang dan sholat 6 12.30-13.00 Produksi Pengambilan scene 23

Establish

7 13.00-14.00 Produksi pengambilan gambar scene 24 ( Dalam Mobil )

8 14.00-14.20 Produksi pengambilan scene 25 9 14.20-15.30 Produksi pengambilan scene 26

(Dalam mobil)

10 15.30-16.30 Produksi pengambilan scene 18 establish (Pelataran Gedung)

11 16.30-17.30 Produksi pengambilan scene 19 ( Pelataran Gedung )

12 18.30-22.00 Produksi pengambilan gambar scene 24 (Gudang)

13 22.00-23.30 Makan malam dan Packing alat 14 Rabu, 24 Mei 2017 13.00-14.00 Sampai di lokasi 1 (Padang ilalang) 15 14.00-14.56 Pengecekan alat dan set alat

16 15.00-15.30 Pengambilan gambar establish taman scene 5

17 15.30-17.30 Produksi pengambilan scene 7 ( Taman )

18 17.30-18.00 Sampai di lokasi ke-2 ( Rumah Sofyan

(17)

17

19 18.00-18.30 Set Alat

20 18.30-19.30 Pengambilan gambar scene 1 ( Tanah Lapang)

21 19.30-20.00 Istirahat makan malam

22 20.00-21.30 Produksi pengambilan scene 2 ( Pelataran rumah sofyan )

23 21.30-22.20 Sampai di lokasi Kantor khan 24 22.20-23.30 Produksi pengambilan scene 17

(Ruang khan) 25 23.30-24.00 Packing alat

26 Kamis, 25 Mei 2017 06.00-07.00 Sampai di lokasi padang ilalang 27 07.00-08.00 Mengecek perlengkapan alat + set alat 28 08.00-09.00 Produksi pengambilan gambar

scene 6 (Taman)

29 09.00-11.00 Produksipengambilan gambar scene 7 (Taman, Dibalik Tembok) 30 11.00-12.00 Produksi pengambilan gambar

scene 8 (Taman,Bangunan) 31 12.00-12.30 Istirahat

32 12.30-13.00 Produksi pengambilan gambar establish scene 12

33 13.00-13.50 Produksi pengambilan scene 13 (Padang ilalang)

34 13.56-15.00 Produksi pengambilan scene 14 (Padang ilalang)

35 15.00-16.00 Sampai di lokasi rumah Jerry 36 16.00-17.30 Produksi pengambilan scene 9

(Ruang Tamu)

37 17.30-18.00 Produksi pengambilan scene 10 (Halaman Rumah)

38 18.00-18.30 Istirahat (Sholat dan Makan malam)

39 18.30-19.30 Produksi pengambilan scene 6 (Ruang Tamu-Depan Tv)

40 19.30-20.00 Produksi pengambilan scene 21 (Ruang Tamu)

41 20.15-21.00 Produksi pengambilan scene 3 (Kamar Jerry)

42 21.00-22.00 Produksi pengambilan scene 4 (Ruang Makan)

43 22.00-22.20 Produksi pengambilan establish scene 15 (Rumah Jerry)

44 22.30-23.00 Produksi Pengambilan scene 16 (Kamar Jerry)

45 23.00-23.30 Produksi pengambilan scene 27 (Kamar penulis)

(18)

AKADEMI KOMUNIKASI BINA SARANA INFORMATIKA “ BREAKDOWN BUDGETING “

Production Company : Must A Fire Produser : Vanessa Claudia

Project Title : KATARSIS Sutradara : Dicka Novan Triya

Durasi : 20 Menit Penulis Naskah : Wirantya Kestriati

Tabel III.3

NO ITEM UNIT RATES AMOUNT NOTES

Pra Produksi

1 Kertas A4 1 Rp 35.000,- Beli

2 Print Rp 100.000,- Beli

3 Transportasi Alat 1 Rp 100.000,- Sewa

4 GR Rp 175,500,- Beli

(19)

19

Rp 410.500,- Produksi (Teknik) 5 Kamera Sony pxw fs5

, lens adapter dan Tripod

3 Rp 500.000 x3 hari

Rp 1.500.000,- Sewa

Boom mic set senheiser mkh 416 1 Rp 75.000,- x3 hari Rp 225.000,- Sewa 6 LED 15” Bi color ( hualin hl-30DL) + Battery 2 pcs 3 Rp 150.000,- x3 hari Rp 450.000,- Sewa

7 Kinolfo 4 feet 4 bank 1 Rp 75.000,- x3 hari Rp 225.000,- Sewa 8 Spider steady 1 Rp 25.000,- x3 hari Rp 75.000,- Sewa 9 Fest Arm 1 Rp 267.000,-x3hari Rp 800.000,- Sewa 10 Canon 16-35 L f2.8 1 Rp 72.000,- x3 hari Rp 216.000,- Sewa 11 Canon 100L f2.8 1 Rp 72.000,- x 3 hari Rp 216.000,- Sewa 12 Canon 70-200L f2.8 1 Rp 100.000,- x 3 hari Rp 300.000,- Sewa 13 Zoom H4n 1 Rp 100.000,- x 3 hari Rp 300.000,- Sewa

14 Slider ifootage shark 1 Rp 106.000,- x 3 hari

Rp 318.000,- Sewa

15 Drone 1 Rp 350.000,- x 2 hari

(20)

20

16 Action Cam 1 - - Milik Sendiri

17 Glade Cam 1 - - Milik Sendiri

18 Mini Jib 1 - - Milik Sendiri

19 Wireless clip on 1 - - Milik Sendiri

20 Yongnuo 1 - - Milik Sendiri

21 Lokasi Gudang Sarinah

- Rp 500.000,- Rp. 500.000 Sewa 22 Lokasi Rumah Dhio - Rp 100.000,- Rp 100.000,- Sewa 23 Lokasi Kantor

Kemang

- Rp 82.000,- x 2 hari

Rp 164.000,- Sewa

24 Lokasi Taman - Rp 120.000,- Rp. 120.000,- Sewa 25 Talent Hitman ( Erza ) 1 Rp 50.000,- Rp 50.000,-

26 Talent Hitman ( Edo ) 1 Rp 75.000,- Rp.75.000 27 Talent Khan 1 Rp 250.000,- Rp 250.000 28 Talent Hitman ( Candra ) 1 Rp 300.000,- Rp. 300.000,- 29 Talent Jerry 1 Rp 600.000,- Rp. 600.000,- 30 Talent Sofyan 1 Rp 400.000,- Rp 400.000,- 31 Talent Cewek sexy 1 Rp 100.000,- Rp 100.000,- 32 Talent Tony 1 Rp 300.000,- Rp 300.000,- 33 Talent ibu jerry 1 Rp 50.000,- Rp. 50.000,- 34 Talent Jerry Kecil 1 Rp 50.000,- Rp 50.000,- 35 Talent Fatimah 1 Rp 50.000,- Rp. 50.000,- 36 Talent Polisi 4 Rp 125.000,- x

4Orang

(21)

21

37 Talent 1,2 dan 4 3 Rp 400.000,- Rp 400.000,- TOTAL : Rp 9.334.000,- Produksi (Artistik)

38 Beli Solatif Hitam 1 pcs RP. 37.500,- Rp 37.500,- Beli 39 Keperluan Make Up 1pcs Rp 100.000,- Rp 100.000,- Beli 40 Susu Kental Manis 4 pcs Rp 8.000,- Rp. 8.000,- Beli 41 Motor Trail 2 Rp 400.000,- x

2hari

Rp. 800.000,- Sewa

42 Mobil 1 Rp 165.000,- Rp. 165.000,- Sewa

43 Cukur Kumis 1 pcs Rp 4000,- Rp. 4.000,- Beli 44 Transportasi Wadrobe Rp 30.000,- Rp. 30.000,- -

45 Jas 1 pcs Rp. 20.000,- Rp 20.000,- Sewa

46 Laundry Jas 25 Kg Rp. 175.000,- Rp. 175.000,- - 47 Rompi 2 pcs Rp. 50.000,- Rp. 50.000,- Beli 48 Lakban Hitam 2 pcs Rp 24.000,- Rp 24.000,- Beli 49 Lakban Bening 1 pcs Rp 13.000,- Rp 13.000,- Beli 50 Double Tipe 1 pcs Rp 8.000,- Rp 8.000,- Beli

51 Kator 1 pcs Rp 7.000,- Rp 7.000,- Beli

52 Sterofoam 2 pcs Rp 12.000,- Rp 12.000,- Beli 53 Pilok Samurai 1 pcs Rp 28.000,- Rp 28.000,- Beli 54 Tali Tis 10 pcs Rp 4.000,- Rp 4.000,- Beli 55 Lem Korea 1 pcs Rp 7.500,- Rp 7.500,- Beli

56 Poster 4 pcs Rp 8.000,- Rp 8.000,- Beli

57 Bingkai SR 1 pcs Rp 14.000,- Rp 14.000,- Beli 59 Gunting Jaiko 1 pcs Rp 6.000,- Rp 6.000,- Beli 60 Buku Gambar A4 1 pcs Rp 5.000,- Rp 5.000,- Beli

(22)

22

61 Krayon Fc Isi 12 pcs Rp 22.000,- Rp 22.000,- Beli 62 Kayu Reng 5 Batang Rp 70.000,- Rp 70.000,- Beli 63 Sterofoam 3 pcs Rp 7.500,- Rp 22.500,- Beli 64 Lakban Bening 1 pcs Rp13.000,- Rp 13.000,- Beli 65 Poster A3 1 pcs Rp 50.000,- Rp 50.000,- Beli 66 Sticker 1 pcs Rp 15.000,- Rp 15.000,- Beli 67 Cuting Polisi 1 pcs Rp 20.000,- Rp 20.000,- Beli 68 Bensin motor trail 1 Liter Rp 20.000,- Rp 20.000,- Beli 69 Pistol 5 pcs Rp 260.000,- Rp 260.000,- Beli 70 Kantong Jenazah 1 pcs Rp 110.000,- Rp 110.000,- Beli

71 Pistol - Rp 30.000,- Rp 30.000,- Ongkir

72 Cukur Jenggot 2 pcs Rp 10.000,- Rp 10.000,- Beli

73 Roti 1 pcs Rp 9.500,- Rp 9.500,- Beli

74 Print photo 2 pcs Rp 4.000,- Rp 4.000,- Beli 75 Transportasi 1 Rp 50.000,- Rp 50.000,- Gojek 76 Transportasi 1 Rp 60.000,- Rp 60.000,- Gojek 78 Transportasi 1 Rp 11.000,- Rp 11.000,- Gojek 76 Cetak photo 1 pcs Rp 6.000,- Rp 6.000,- Beli

78 Tissu 1 pcs Rp 15.000,- Rp 15.000,- Beli

79 Handsaplast 2 pcs Rp 7.600,- Rp 7.600,- Beli 80 Beradin 1 pcs Rp 26.000,- Rp 26.000,- Beli 81 Tisu Basah 2 pcs Rp 21.000,- Rp 21.000,- Beli 82 Lencana polisi 4 pcs Rp 80.000,- Rp 80.000,- Beli 83 Kaos tbc 1 pcs Rp 50.000,- Rp 50.000,- Beli

84 Kapas 4 pcs Rp 54.000,- Rp 54.000,- Beli

85 Doubletip Hijau 1 pcs Rp 13.000,- Rp 13.000,- Beli 86 Doubletip trim 1 pcs Rp 25.000,- Rp 25.000,- Beli

(23)

23

87 Paku 4cm 1 pcs Rp 4.000,- Rp 4.000,- Beli

88 Paku Triplek 1 pcs Rp 5.000,- Rp 5.000,- Beli

89 Salib 1 pcs Rp 25.000,- Rp 25.000,- Beli

90 Pewarna makanan 2 pcs Rp 10.000,- Rp 10.000,- Beli

91 Sagu 1 kg Rp 10.000,- Rp 10.000,- Beli

92 Pisau Lipet 1 pcs Rp 85.000,- Rp 85.000,- Beli

92 Busi 4 pcs Rp 68.000,- Rp 68.000,- Beli

93 Oli Janset 1 liter Rp 30.000,- Rp 50.000,- Beli 94 Bensin Janset 6 liter Rp 50.000,- Rp 50.000,- Beli 95 Bensin Cary 7 liter Rp 50.000,- Rp 50.000 Beli 96 Kantong Jenazah - Rp 30.000,- Rp 30.000,- Ongkir 97 Bensin Talent - Rp 34.500,- Rp 34.500,- Beli 98 Kabel Perleng 30 Meter Rp 180.000,- Rp 180.000,- Beli 99 Kepala colokan Steker 1 pcs Rp 20.000,- Rp 20.000,- Beli 100 Stop kontak 1 pcs Rp 15.000,- Rp 15.000,- Beli

101 Jas 3 pcs Rp 82.900,- Rp 82.900,- Sewa

TOTAL : Rp 3.320.000,- Produksi (Logistic)

102 Nasi Padang 26 Bungkus Rp 10.000,- Rp. 260.000,- Beli 103 Burger King Paketan Rp 138.000,- Rp 138.000,- Beli

104 Up Normal 4 Rp 83.000,- Rp 83.000,- Beli

105 Rokok dan kopi 10 Rp 130.000,- Rp 130.000,- Beli 106 Es The Manis 4 Rp 15.000,- Rp 15.000,- Beli 107 Aqua Gelas 3 dus Rp 50.000,- Rp 50.000,- Beli 108 Vit Gelas 2 Dus Rp 35.000,- Rp 35.000,- Beli 109 Kopi Hitam dan Kopi 5 Rp 24.000,- Rp 24.000,- Beli

(24)

24

susu

110 Rokok Surya 1 Rp 19.500,- Rp 19.500,- Beli 111 Minuman berasa Teh

botol

Rp 30.000,- Rp 30.000,- Beli 112 Nasi Goreng 17 Bungkus Rp 13.000,- Rp. 221.000,- Beli 113 Nasi Padang 18 Bungkus Rp 11.000,- Rp 200.000,- Beli 114 Aqua Gelas 1 Dus Rp 16.000,- Rp 16.000,- Beli

115 Kopi 8 Rp 11.500,- Rp 11.500,- Beli

116 Rokok Avolation 1 Rp 22.000,- Rp 22.000,- Beli 117 Rokok Mild 1 Rp 14.000,- Rp 14.000,- Beli 118 Rokok Filter 1 Rp 16.000,- Rp 16.000,- Beli

119 Gorengan Rp 15.000,- Rp 15.000,- Beli

120 Rokok Filter 1 Rp 20.000,- Rp 20.000,- Beli 121 Pecel Ayam 18 Bungkus Rp 16.000,- Rp. 288.000,- Beli

122 Rokok 2 Rp 35.000,- Rp 35.000,- Beli

123 Transportasi Rp 52.000,- Rp 52.000,- Beli TOTAL :

Rp 1.695.000,- Pasca Produksi

124 Kosumsi Editing 1 Orang Rp 269.000,- Rp 269.000,- -

125 DVD RW 2 Rp 6.500,- Rp 13.000,- Beli

126 Tempat DVD 2 Rp 4.000,- Rp 8.000,- Beli

127 Cetak Cover 2 Rp 10.000,- Rp 10.000,- Beli 128 Cetak Softcover 3 Rangkap Rp 20.000,- Rp 60.000,- Beli

129 Poster 1 Rp 100.000,- Rp 100.000,- Beli

130 Print Dispro 20 Lembar Rp 20.000,- Rp 20.000,- Beli 131 Kertas A4 80gr Rp 50.000,- Rp 50.000,- Beli

(25)

25

132 Tinta Print 1 Rp 100.000,- Rp 100.000,- Beli

132 Print - Rp 175.000,- Rp 175.000,- Beli

133 Fotocopy 2 Rangkap Rp 135.000,- Rp 135.000,- Beli 134 Kertas Pembatas 90 Lembar Rp 50.000,- Rp 50.000,- Beli

TOTAL : Rp 990.000,-

TOTAL KESELURUHAN: Rp. 15.749.500,-

NB : Biaya Iuaran Anggota @8 Orang X Rp. 2.000.000,- = Rp. 16.000.000,-

TAHAP JUMLAH PRA PRODUKSI Rp 410.500,- PRODUKSI TEKNIK Rp 9.334.000,- PRODUKSI ARTISTIK Rp 3.320.000,- PRODUKSI UNIT Rp 1.695.000,- PASCA PRODUKSI Rp 990.000,- GRAND TOTAL Rp 15.749.500 SISA UANG Rp 250.500,-

(26)

69 AKADEMI KOMUNIKASI

BINA SARANA INFORMATIKA “ CALL SHEET “

Production Company : Must A Fire Produser : Vanessa Claudia

Project Title : Katarsis Sutradara : Dicka Novan Trya

Durasi : 20 Menit Penulis Naskah : Wirantya Kestriati

Tabel III.4 CREW

NO NAMA JABATAN TELPON

1 Vanessa Claudia Produser 08128706122 2 Dicka Novan Trya Sutradara 085716788071 3 Wirantya Kestriati Penulis Naskah 082220038687 4 Ghausya Samara Penata Cahaya 085647748530 5 Bobby Dwi Rizki Penata Kamera 0896244446875 6 Muhammad

Ihtifazhuddin

Penyunting Gambar 085697645377 7 Dhio okta Penata Artistik 085780555858 8 Denny Anjar Audioman 087773324133

TALENT

NO NAMA PERAN SEBAGAI TELPON

1 Mohammad M Mardiansyah

Jerry 089604164401 2 Revie A Van Sofyan 082111811539 3 Wijaya Kasta

Utama

Tony 081296544904 4 Matrojih Khan 082298235771 5 Murdin Ahmad 085780251467 6 Wilia Novianty.M Fatimah 085920546084 7 Vanessa Claudia Dahlia 08128706122 8 Ibrahim Umar

Wungunbelen

(27)

70 9 Zulyadaen Hitman 2 089673650723

10 Jabbar Siddiq Hitman 3 085817782311 11 Erza Okta Hitman 4 089664045900 12 Ayatullah Khomeni Hitan 5 081284140494 13 Chandra Yoga

Swara

Hitman 6 081281856620 14 Kevin Kashinky Gandhi 08572005671 15 Wirantya Kestriati Istri Gandhi 085714921446 16 Zahra Nur Dini

Adilah

Anak Gandhi -

17 Al-Ghifari Polisi 081280151850 18 Muhammad Fahmi Polisi 087888354712 19 Rizal Isnanto Polisi 085275491054 20 Ahmad Arfan Poilisi 081234567687 21 Tania Hutapea

Hutagalung

Wanita Sexy 085892212648 22 Dicka Novan Trya Penulis 085716788071 23 Isanty Maina Ibu Jerry 081385262744 24 Haris Ramly Jerry Kecil -

(28)

71 AKADEMI KOMUNIKASI

BINA SARANA INFORMATIKA “ EQUIPMENT LIST“

Production Company : Must A Fire Produser : Vanessa Claudia

Project Title : Katarsis Sutradara : Dicka Novan Trya

Durasi : 20 Menit Penulis Naskah : Wirantya Kestriati

Tabel III.5

NO NAMA SERI JUMLAH KETERANGAN

1 Kamera Sony pxw fs5 1 Sewa 2 Action cam Xiomi yi 1 Milik sendiri 3 Tripod Sony pxw fs 5 1 Sewa

4 Gladecam Hd 2000 1 Milik sendiri

5 Mini jib Costume 1 Milik sendiri

6 Drone Phantom 4 1 Sewa

4 Audio Boom mic set senheiser mkh 416 +

Zoom H4N

1 Set Sewa

6 Lighting Kinoflo 4 feet 4 bank 1 Sewa 7 Slider ifootage shark 1 Sewa 8 Lensa Canon 16-35 L f2.8,

Canon 100L f2.8, dan Canon 70-200L

f2.8

4 Sewa

9 Vest Arm Glidecam X-10 1 Sewa 10 Spider Steady S40 Aluminium

Handheld 1 Sewa 11 LED 15” Bi color+Battery 2 pcs Hualin hl-30DL 1 Sewa

(29)

72 12 Wireless clip

on

Boya BY WM8 1 Milik sendiri

13 Yongnuo YN600 Pro LED Light 5500k

1 Milik Sendiri

AKADEMI KOMUNIKASI BINA SARANA INFORMATIKA “DAILY PRODUCTION REPORT“

Production Company : Must A Fire Produser : Vanessa Claudia

Project Title : Katarsis Sutradara : Dicka Novan Trya

Durasi : 20 Menit Penulis Naskah : Wirantya Kestriati

Lokasi : Gudang Sarinah Tanggal : Selasa, 23 Mei 2017

Tabel III.6

KETERANGAN TERJADWAL TERLAKSANA

8” Crew Call 06.00 07.00

Makan Pagi 08.00 09.00

Makan Siang 12.00 12.30

Makan Malam 22.00 22.00

PORSI CATERING DIPESAN/DIBELI REALISASI

Makan Pagi Dibeli -

Makan Siang Dibeli 26 Bungkus

(30)

73 Lokasi : Padang Ilalang

Tanggal : Rabu, 24 Mei 2017

KETERANGAN TERJADWAL TERLAKSANA

5” Crew Call 13.00 14.00

Makan Malam 19.30 19.40

PORSI CATERING DIPESAN/DIBELI REALISASI

Makan Malam Dibeli 18 Bungkus

Lokasi : Rumah Jerry Tanggal : 25 Mei 2017

KETERANGAN TERJADWAL TERLAKSANA

8” Crew Call 06.00 07.00

Makan Siang 12.00 12.30

Makan Malam 18.00 18.15

PORSI CATERING DIPESAN/DIBELI REALISASI

Makan Siang Dibeli -

(31)

69 3.2 Proses Kerja Sutradara

Dalam proses pembuatan program drama film televisi “KATARSIS” ini penulis bertugas sebagai sutradara.

Menurut Naratama (2013:16) :

Sutradara Televisi adalah seseorang yang menyutradarai program acara televisi yang terlibat dalam proses kreatif dari pra hingga pascaproduksi, baik untuk drama maupun nondrama dengan lokasi di studio (indoor) maupun alam (outdoor), dan menggunakan sistem produksi single dan/atau multi-camera. Penulis bertugas mengembangkan sebuah ide cerita dari seorang penulis naskah kedalam bentuk karya audio visual. Setelah itu penulis naskah memberikan ide cerita kepada penulis, kemudian penulis membedah skenario ke dalam: director’s treatment, shot list, storyboard, floor plan, breakdown sheet, dan proses kreatif pendukung lainnya seperti: casting talent, reading dan rehearsal. Director treatment yaitu konsep kreatif sutradara tentang arahan gaya pengambilan gambar. Shot list, yaitu uraian arah pengambilan gambar dari tiap adegan.

Storyboard yaitu rangkaian gambar menyerupai komik yang memuat informasi tentang ruang dan tata letak pemeran (blocking) yang nantinya akan direkam menjadi sebuah drama televisi. Setelah itu penulis membuat sketsa sebuah ruang yang tampak dari atas berisi uraian bloking kamera, lighting, pemain, set property dan lain sebagainya yang disebut dengan floor plan. Bagus atau jeleknya hasil sebuah drama film televisi ini adalah tanggung jawab seorang penulis, disini penulis merupakan seorang yang memegang jabatan tertinggi dilapangan dan bertanggung jawab atas segala aspek kreatif.

(32)

70 Dalam proses pembuatan drama film televisi “KATARSIS” ini, penulis selalu berdiskusi dengan crew ketika akan mengambil keputusan, tujuannya adalah supaya penulis tidak dianggap egois, karena bagaimanapun sebuah drama televisi ini tercipta atas campur tangan semua crew.

Sutradara atau Director adalah karyawan dalam sebuah produksi drama televisi/film yang memegang tanggung jawab tertinggi terhadap aspek kreatif, baik yang bersifat penafsiran maupun teknik pada pembuatan drama/film. Disamping mengatur dalam permainan dalam acting berdialog, ia juga menetapkan posisi kamera, suara, prinsip penata cahaya, segala “bumbu” yang mempunyai efek dalam penciptaan dan pencintraan film secara utuh. Dan biasanya seorang sutradara itu terlibat dari praproduksi-produksi-pascaproduksi. Naratama dalam Mabruri KN (2013:31).

Hal yang paling penting yang harus di miliki penulis disini adalah mempunyai jiwa kepemimpinan karena penulis merupakan panutan dari segala proses pembuatan karya film, semua crew dalam proses pembuatan drama televisi “KATARSIS” ini bergantung kepada penulis. Selain itu penulis juga harus menguasai isi skenario secara menyeluruh agar drama televisi “KATARSIS” yang dibuat benar-benar matang dan sesuai harapan semua crew.

Dalam sebuah produksi drama film televisi “KATARSIS” ini tentunya penulis bersama crew mengharapkan semua proses berjalan lancar, dan tidak ada hambatan baik dari segi cuaca, kesehatan pemain, dan juga kesehatan crew. Namun pada kenyataanya kadang-kadang penulis tidak bisa menahan cuaca yang tiba-tiba berubah, atau pemain yang tidak bisa bermain karena sakit mendadak, sedangkan pengambilan scene harus dilakukan pada hari itu, atau misalnya tentang izin lokasi yang tiba-tiba dibatalkan secara sepihak karena adanya sesuatu.

(33)

71 Peran penulis harus bisa mengatasi segala kemungkinan tersebut, penulis harus berfikir cermat dan cepat untuk mencari opsi lain agar proses shooting tetap berjalan dan tidak tertunda. Semua hal seperti ini akan bisa diatasi oleh penulis, jika penulis memahami keseluruhan isi skenario.

Hal yang perlu diperhatikan bagi semua crew yaitu tentang penguasaan konsep, karena sewaktu-waktu dapat berubah dikarenakan adanya penambahan atau pengurangan isi cerita. Hal itu harus seringkali dilakukan dan diputuskan dalam waktu singkat. Misalnya saja tiba-tiba izin lokasi secara sepihak dibatalkan oleh pemilik lokasi sehingga harus pindah ke lokasi baru. Pemain yang sudah dikontrak tiba-tiba mengalami kecelakaan dan tidak bisa melanjutkan shoting. Dengan menguasai skenario yang menyeluruh itu, sutradara akan selalu siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi dilokasi/lapangan. Hal ini diungkapkan oleh Saroengallo (2008:34).

3.2.1. Praproduksi

Menurut Morissan (2008:309) “Tahapan praproduksi atau perencanaan adalah semua kegiatan mulai dari pembentukan crew, pembahasan ide (gagasan) awal sampai dengan pelaksanaan pengambilan gambar (shooting)”.

Sebelum penulis memproduksi drama televisi “KATARSIS”, hal yang penulis lakukan adalah melakukan kegiatan praproduksi yaitu mencari ide-ide kreatif untuk membuat program drama “KATARSIS”. Pada saat kegiatan praproduksi, penulis harus sering berkomunikasi dengan produser dan juga penulis naskah. Proses praproduksi disini adalah segala bentuk persiapan yang penulis bersama crew lakukan.

Dalam tahap praproduksi penulis melakukan pengkajian terhadap ide cerita dan naskah yang diberikan oleh penulis naskah, selain itu penulis bersama crew juga melakukan casting untuk mencari calon pemeran yang sesuai dengan tokoh yang ada dalam naskah. Selain itu dalam proses praproduksi juga penulis bersama crew

(34)

72 membahas mengenai masalah teknik dan juga jadwal produksi. Tahap ini kami lakukan berdasarkan apa yang dikatakan naratama.

Menurut Naratama (2006:97) “Pada tahap ini konsep acara harus dikaji secara matang baik dari segi kreatif, lokasi, casting pemain, masalah teknik hingga ke urusan jadwal produksi”.

Beberapa tahapan praproduksi untuk seorang sutradara Menurut Sarumpaet dkk (2008:63-65)

1. Interprestasi skenario/Script converence

a. Sutradara melakukan analisa skenario yang menyangkut isi cerita, struktur dramatika, penyajian informasi, dan semua hal yang berhubungan dengan estetika dan tujuan artistik di dalam film tersebut.

b. Analisa yang dilakukan sutradara didiskusikan kepada semua kepala departemen (tim inti), kemudian merumuskan konsep penyutradaraan untuk konsep film tersebut.

2. Pemilihan Kru Produksi

Sutradara dan Produser memilih dan menentukan kru yang akan terlibat didalam produksi film sesuai dengan apa yang dikuasai.

3. Casting

Sutradara menentukan terhadap pemain utama dan pemain pendukung. Proses tersebut biasanya dibantu oleh asisten sutradara dan casting director. Penulis melakukan casting dengan cara memilih beberapa talent yang mempunyai ilmu bela diri sesuai dengan konsep cerita yang ada. Hal ini dilakukan agar dalam produksi dapat

(35)

73 mengurangi hal-hal yang tidak di inginkan, contohnya cedera saat proses syuting. Untuk pemeran pendukung, penulis melakukan casting dengan teknik penyesuain karakter yang dibutuhkan.

4. Latihan/rehearsel

a. Kepada pemain utama sutradara menyampaikan visi dan misinya terhadap penokohan yang ada di dalam skenario. Lalu mendiskusikannya dengan tujuan untuk membangun kesamaan persepsi karakter tokoh antar sutradara dan pemain utama. Agar hasil dalam produksi dapat maksimal, penulis melakukan simulasi untuk scene perkelahian.

b. Sutradara melakukuan pembacaan skenario (reading) bersama seluruh pemain untuk membaca bagian dari dialog dan action masing-masing pemain.

c. Sutradara melakukan latihan pemeranan dengan pemain utama.

d. Sutradara melakukan evaluasi terhadap hasil latihan pemeranan yang direkam sebelumnya.

5. Hunting

a. Sutradara melakukan pengarahan kepada team hunting lokasi bersama dengan penata fotografi/vidiografi, penata artistik, asisten sutradara dan manajer produksi. b. Sutradara menentukan lokasi berdasarkan hunting tersebut, setelah berdiskusi

yang melibatkan penata fotografi/vidiografi, penata artistik dan penata suara. c. Sutradara memastikan lokasi berdasarkan semua aspek teknik.

6. Perencanaan shot dan blocking/planing coverage dan staging.

a. Sutradra melalui diskusi dengan penata fotografi/vidiografi merumuskan dan menyusun director’s treatment shot pada scene yang ada dalam skenario.

(36)

74 b. Sutradara membuat ilustrasi staging pemain dan peletakan kamera kedalam

bentuk floorplan setelah berdiskusi dengan pengarah fotografi.

c. Sutradara bersama pengarah fotografi membuat storyboard dibantu oleh story board artist.

7. Final Praproduksi

Sutradra melakukan diskusi/evaluasi bersama dengan kru produksi dan pemain utama untuk persiapan shooting menyangkut teknik penyutradaraan dan juga artistik.

Penulis menyimpulkan bahwa proses praproduksi sangatlah penting untuk sebuah pembuatan suatu karya, dan untuk kelancaran ketika sedang produksi hingga pascaproduksi, karena disinilah segala sesuatu dipersiapkan untuk menuangkan sebuah tulisan menjadi bentuk audio visual. Ketika proses ini bukan hanya seorang produser saja yang aktif namun penulis sebagai sutradara juga ikut andil dalam praproduksi, yang mana sutradara dan asistennya membreakdown sebuah sekenario yang sudah final draft dari penulis untuk mempermudah pekerjaan dari segi teknis dan non teknis.

Selain itu proses praproduksi juga banyak sekali tahapan-tahapan yang harus dilakukan oleh penulis bersama crew dalam proses praproduksi semua tahapan-tahapan harus dilakukan dengan sungguh-sungguh agar ketika proses shooting sudah tidak terlalu banyak perdebatan antar sesama crew produksi. Selain itu jika semua tahapan praproduksi ini dilakukan maka besar kemungkinan hasil akhir dari produksi film ini akan sesuai dengan keinginan dan memakan waktu shooting yang efektif.

3.2.2. Produksi

Setelah melakukan proses praproduksi yang sangat panjang akhirnya penulis beserta crew melakukan produksi, Menurut Nugroho (2014:108) “Yang dimaksud

(37)

75 dengan produksi ialah pelaksanaan pengubahan bentuk naskah menjadi bentuk auditif dan visual sesuai dengan kaidah-kaidah yang berlaku bagi pertelevisian.” Dalam pelaksanaan produksi drama televisi “KATARSIS” memerlukan waktu tiga hari. Yang dimana dalam waktu 3 hari tersebut digunakan untuk pengambilan shoot yang berlokasi di indoor maupun outdoor.

Pada tahap produksi, penulis menduduki posisi tertinggi dalam memimpin pembuatan drama televisi tentang bagaimana gambar yang harus tampak oleh penonton. Tanggung jawabnya meliputi aspek-aspek kreatif, baik interpretatif maupun teknis dari sebuah produksi drama televisi. Selain mengatur laku di depan kamera dan mengarahkan akting serta dialog, penulis juga mengontrol posisi kamera beserta gerak kamera, suara, pencahayaan, di samping hal-hal lain yang menyumbang kepada hasil akhir sebuah film.

Menurut Widagdo (2007:37) Mengarahkan acting adalah bagian yang tak terpisahkan dalam pembuatan film, terutama bagi sang sutradara. Sutradara harus menguasai dan memahami segala hal tentang film yang sedang digarapnya dengan benar, termasuk hal kecil yang sangat vital, yaitu property dan make up. Selain visual, suara (sound) juga harus dijaga kualitasnya. Biasanya, gambaran imajinasi hasil akhir film sudah matang dalam benak sutradara.

Selain mengembangkan naskah dan mengarahkan acting pemain, penulis juga harus memperhatikan hal-hal lain yang perlu dilakukan ketika sedang produksi drama televisi “KATARSIS”.

Hal-hal yang dilakukan oleh seorang sutradara ketika produksi menurut Sarumpaet dkk. (2008:65-66)

(38)

76 1. Berdasarkan breakdown shooting, sutradara menjelaskan adegannya kepada asisten

sutradara dan kru utama lainnya perihal urutan shot yang akan diambil (take).

2. Mengkoordinasikan kepada asisten sutradara untuk melakukan latihan blocking pemain yang disesuaikan dengan blocking kamera.

3. Sutradara memberikan pengarahan kepada pemain apabila dirasakan kurang memuaskan dalam aktingnya.

4. Sutradara mengambil keputusan yang cepat dan tepat dalam wilayah kreatif apabila ada persoalan dilapangan.

5. Melihat hasil rush copy hasil shooting hari pertama.

Penulis menyimpulkan bahwa produksi drama televisi “KATARSIS” ini adalah sebuah proses perubahan dari suatu bentuk tulisan naskah menjadi karya audio-visual, selain itu penulis juga harus memperhatikan hal-hal yang perlu dilakukan ketika produksi, hal ini bertujuan agar proses produksi dilapangan berjalan dengan lancar. Sebuah produksi drama televisi harus dipersiapkan secara matang, supaya waktu yang digunakan ketika shooting efektif.

Ketika produksi berjalan penulis harus pandai mengarahkan pemain ketika beradegan, seorang pemain harus beradegan sesuai dengan apa yang di inginkan oleh penulis sesuai dengan skenario, oleh sebab itu penulis dituntut untuk menguasai dan memahami maksud dan isi skenario.

3.2.3. Pascaproduksi

Menurut Morissan (2008:310) “Tahapan pasca produksi adalah semua kegiatan setelah pengambilan gambar sampai materi itu dinyatakan selesai dan kemudian siap disiarkan atau diputar hasil produksi (evaluasi gambar)”.

(39)

77 Proses pascaproduksi adalah rangkaian selanjutnya dari proses produksi drama televisi “KATARSIS”, disinilah penulis bersama crew memulai untuk mengevaluasi hasil saat produksi. Ada beberapa tahapan di pascaproduksi ini, salah satunya adalah mengcapture, menyeleksi gambar, dan tahap selanjutnya adalah menyunting potongan gambar hingga menjadi potongan gambar yang utuh. Di proses editing ini dibagi menjadi dua yaitu offline dan online.

Offline editing yaitu merangkai alur konsep tersebut menjadi sesuatu yang tersusun rapih namun masih kasar atau belum menggunakan efek-efek tertentu, sedangkan online editing adalah penyuntingan gambar dengan menambahkan efek-efek gambar agar bernuansa lebih bagus. Pada saat mengerjakan kedua tahapan ini seorang penyunting gambar didampingi oleh penulis sebagai sutradara untuk menyusun gambar tersebut hingga menjadi sebuah drama televisi. Pada saat tahapan ini seorang produser dan penulis naskah juga dibutuhkan kehadirannya.

Menurut Widagdo (2007:38) “bila ada catatan khusus dari laboratorium atau editor, sutradara mengevaluasi hasil shooting/materi editing. Melihat dan mendiskusikan dengan editor hasil rough cut dan fine cut.Melakukan evaluasi tahap akhir dan berdiskusi dengan penata musik perihal ilustrasi musik yang telah dibuat konsepnya terlebih dahulu pada saat pra produksi. Melakukan evaluasi terhadap preview hasil mixing, berdasarkan konsep suara yang telah ditentukan pada saat pra produksi. Sutradara melakukan supervisi/koreksi warna gambar di laboratorium/studio berdasarkan konsep warna yang telah ditentukan pada saat pra produksi, setelah berdiskusi dengan produser dan penata fotografi.

Ketika produksi telah selesai, bukan berati penulis tugasnya juga selesai, Selain berperan ketika produksi penulis juga berperan penting ketika pasca produksi, ada beberapa hal yang harus dilakukan oleh penulis ketika pasca produksi.

Menurut Sarumpaet dkk (2008:66) hal-hal yang perlu dilakukan oleh seorang sutradara pada saat pasca produksi adalah :

(40)

78 1. Bila ada catatan khusus dari laboratorium atau penyunting gambar, sutradara

mengevaluasi hasil shooting / materi editing.

2. Melihat dan mendiskusikan dengan penyunting gambar hasil rough cut dan fine cut. 3. Melakukan evaluasi tahap akhir dan berdiskusi dengan penata musik perihal ilustrasi

musik yang telah dibuat konsepnya terlebih dahulu pada saat praproduksi.

4. Melakukan evaluasi terhadap preview hasil mixing, berdasarkan konsep suara yang telah ditentukan pada saat praproduksi.

5. Sutradara melakukan supervisi/koreksi warna gambar dilaboratorium/studio berdasarkan konsep warna yang telah ditentukan pada saat praproduksi, setelah berdiskusi dengan produser dan penata fotografi.

Penulis menyimpulkan bahwa seorang sutradara juga berperan penting dalam tahap editing, bisa diibaratkan penyunting gambar adalah mobil, sutradara adalah supirnya jadi apa yang dikerjakan penyunting gambar adalah berdasarkan arahan dari sutradara. Penulis mengarahkan penyunting gambar ketika editing sesuai dengan apa yang direncanakan ketika praproduksi, penulis mendampingi penyunting gambar semata-mata supaya apa yang di lakukan oleh penyunting gambar tidak keluar dari apa yang telah di konsep sebelumnya oleh penulis beserta crew.

3.2.4.Peran dan Tanggung Jawab Sutradara

Menurut Naratama (2006:4) Sutradara televisi adalah sutradara yang all in alias harus bisa menguasai berbagai persoalan luar dalam, baik teknins maupun non teknis.” Sutradara televisi adalah sebutan bagi seorang yang mempunyai profesi menyutradarai program acara televisi baik drama maupun nondrama, dalam produksi single maupun Multi Camera.

Dari kutipan diatas penulis menyimpulkan bahwa dalam proses pembuatan drama televisi “KATARSIS”, penulis harus bisa dalam segala hal yang berkaitan dengan

(41)

79 proses pembuatan film, hal ini dikarenakan jabatan penulis adalah jabatan tertinggi dilapangan, jadi penulis harus bisa menangani segala masalah yang ada, baik ketika praproduksi, produksi hingga pasca produksi.

Pemahaman tentang peran dan tanggung jawab seorang sutradara sangat kompleks, kajian menurut Naratama (2013:28-46) adalah sebagai berikut :

1. Sutradara sebagai Pemimpin

Dalam memimpin sebuah produksi yang terdiri dari berbagai macam latar belakang kru, kadang kala Anda harus bersikap rendah hati dan menghargai orang-orang yang bekerja sama dengan kita. Apabila anda berlaku benar maka bersikaplah dengan benar, namun apabila anda melakukan kesalahan, jangan ragu untuk meminta maaf kepada tim agar mereka menyadari bahwa Anda adalah manusia biasa.

2. Sutradara sebagai Seniman

Sebagai kreator yang bertanggung jawab terhadap karya akhir, seorang sutradara dituntut untuk menjadi seorang seniman yang mempunyai cita rasa tinggi tentang suatu nilai kesenian dan kebudayaan.Pemahaman atas estetika dasar terhadap seni rupa sebagai kebutuhan utama, selain wawasan dan pengetahuan secara umum. Kecintaan akan suatu budaya adalah faktor yang akan menyentuh setiap sendi-sendi imajinasi seni visual, baik dalam bentuk dramatik maupun nondramatik.

3. Sutradara sebagai Pengamat Program dan Pemasaran Televisi

Sutradara tidak hanya dituntut untuk berkreasi, tetapi juga dituntut untuk menjadi pengamat yang mengerti kondisi dan kebutuhan stasiun televisi, sponsor, dan

(42)

80 penonton.Disinilah seorang sutradara harus kreatif mencari kesinambungan antara idealisme dan kebutuhan komersial. Ada tiga bekal agar dapat berperan menjadi sutradara sebagai pengamat pemasaran televisi, yaitu pengetahuan tentang broadcast televisi dan periklanan, kemampuan menganalisis penonton, dan wawasan tentang budaya penonton.

4. Sutradara sebagai Penasihat Teknik

Dalam pelaksanaan produksi terdapat persoalan-persoalan teknis yang berhubungan antara satu dengan yang lainnya, sutradara sebagai penanggung jawab akhir karya visual harus dapat mengambil keputusan dengan menganalisis persoalan terlebih dahulu. Kemampuan teknik sutradara harus didukung dengan pengetahuan dan wawasan broadcast yang memadai, mulai dari unsur video, unsur audio, unsur tata cahaya, hingga unsur peralatan editing untuk pasca produksi.

Penulis menyimpulkan bahwa seorang sutradara televisi harus bisa dalam segala hal dari segi teknis dan non teknis, serta dapat mengatasi persoalan yang ada dilapangan ketika sedang produksi, karena bagaimanapun seorang sutradara adalah seorang pemimpin dilapangan.

Penulis mempunyai jabatan tertinggi dilapangan pada saat proses pembuatan drama televisi “KATARSIS”, sebagai pimpinan tertinggi penulis dituntut harus bisa berkomuikasi dengan baik kepada semua crew dan talent, sehingga akan tercipta suasana yang harmonis dilapangan ketika saat produksi berjalan. Komunikasi yang baik dan lancar secara tidak langsung mempengaruhi gairah para crew dan pemain untuk

(43)

81 lebih menggali kreatifitas dan mengeluarkan secara maksimal kemampuan yang mereka punya.

Jika penulis berhasil memancing kreatifitas terhadap semua divisi dan pemain maka disinilah keberhasilan seorang penulis dalam memimpin dilapangan. Penulis juga bisa disebut sukses jika kegiatan produksi dilapangan berlangsung sesuai apa yang direncanakan ditahap praproduksi.

Dalam drama televisi “KATARSIS” penulis mempunyai tanggung jawab besar dari hasil film yang telah diproduksi, baik dari segi audio dan visual. Dan sebagai pimpinan tertinggi saat produksi kreatif penulis harus juga bisa berkomunikasi dengan baik kepada semua crew dan pemainnya. Agar terciptanya keharmonisan dalam sebuah produksi dan tidak menutup kemungkinan akan merangsang suatu kreatifitas dalam bekerja.

Selain itu penulis juga harus mempunyai jiwa kepemimpinan atau leadership agar bisa menciptakan hasil karya yang dinginkan. Sutradara juga harus memposisikan dirinya sebagai seniman, agar dia selalu berpikir untuk melakukan hal-kal kreatif dalam memproduksi film. Apabila hal ini dapat terlaksana, maka disitulah keberhasilan seorang penulis dilapangan.

3.2.5. Proses Penciptaan Karya

Dalam proses penciptaan karya drama televisi “KATARSIS”, penulis sebagai Sutradara melakukan beberapa tahapan sebelum melakukan produksi, diantaranya:

(44)

82 1) Casting

Sebelum melakukan produksi penulis dan crew melakukan pencarian pemain utama atau yang disebut dengan casting, tujuannya adalah menemukan pemain yang sesuai dengan isi cerita yang telah dibuat oleh penulis naskah.

Menurut Zoebazary (2010:44) Casting adalah proses pemilihan pemain sesuai dengan karakter dan peran yang diperlukan oleh cerita. Pekerjaan ini menjadi tanggung jawab dari casting departement, tetapi biasanya sutradara terlibat penuh dalam proses ini. Rencana casting biasanya telah diumumkan sebelumnya kepada publik atau agen sehingga para aktor dapat mempelajari sekenario lalu mempersiapkan adegan yang akan ditampilkan untuk dinilai. Sutradara menentukan terhadap pemain utama dan pemain pendukung. Proses tersebut biasanya dibantu oleh asisten sutradara dan casting director.

Dalam hal pencarian pemain utama atau casting yang dilakukan oleh penulis, ada beberapa metode yang digunakan, Hal ini berdasarkan apa yang diungkapkan oleh Rahmawati dkk (2011:91-92) :

a) Casting by Ability

Berdasarkan yang terpandai dan terbaik dipilih untuk peran yang penting/utama dan kesulitan yang tinggi. Dan yang memiliki ilmu bela diri untuk beberapa peran.

b) Casting to Emotional Temperament

Memilih seorang pemain berdasarkan hasil observasi hidup pribadinya. Karena mempunyai banyak kesamaan atau kecocokan dengan peran yang dipegangnya (kesamaan emosi, temperament, kebiasaan, dan sebagainya). c) Casting to Type

(45)

83 Pemilihan pemain berdasarkan kecocokan fisik si pemain (tinggi badan, berat badan, bentuk tubuh dan sebagainya).

d) Anti Type Casting

Pemilihan yang bertentangan dengan watak atau fisik, ini menentang keumuman jenis perwatakan manusia secara konvensional sering disebut education casting.

e) Therapeutic Casting

Menentukan seorang pemain atau pelaku yang bertentangan dengan watak aslinya dengan maksud dan tujuan untuk menyembuhkan atau mengurangi ketidakseimbangan jiwanya.

Dalam pembuatan drama televisi “KATARSIS” penulis melakukan casting berdasarkan casting to type atau Pemilihan pemain berdasarkan kecocokan fisik si pemain (tinggi badan, berat badan, bentuk tubuh dan sebagainya). Alasan penulis melakukan casting berdasarkan fisik karena film yang penulis buat bergenre romance sehingga penulis menganggap bahwa pemain yang mempunyai fisik bagus akan menjadi daya tarik tersendiri di film ini.

2) Shot

Dalam konsep pengambilan gambar di film ini penulis menggunakan teknik longshot untuk mengambil adegan dari jarak jauh, seperti ketika tokoh utama berkelahi dengan para musuhnya. Penulis juga mengambil close up untuk mengambil ekspresi tokoh. Dengan sentuhan slider penulis akan memberikan shot yang cantik sebagai bumbu di film ini agar terlihat lebih menarik gambarnya.

(46)

84 Pengambilan long take juga dilakukan untuk membuat gambar lebih menarik dan berbeda.

3) Directing

Dalam Proses penyutradaraan di film ini penulis membebaskan pemain untuk beradegan, selama itu tidak terlalu jauh keluar dari alur cerita.

4) Analisa mise en scene

Pada adegan di scene pertama, menampilkan adegan perkelahian didalam mobil antara aktor utama dengan para musuhnya. Kelanjutan dari scene tersebut akan digunakan lagi dalam scene akhir.

Sedangkan untuk memperkenalkan siapa tokoh utama ditunjukan di scene 2 hingga ketika tokoh utama sedang menjalani aktivitas sehari-harinya.

Karakter Jerry adalah seorang anak tunggal dari salah satu pemimpin sebuah instansi kepemrintahan yang mempunyai sifat pendiam, tenang namun dapat diandalkan untuk memecahkan berbagai macam masalah.

Secara keseluruhan dari film ini kostum yang digunakan oleh pemainnya adalah kostum ditahun 2017, tata artistik nya juga menggambarkan karakter tokoh masing-masing.

b. Konsep Produksi

Dalam proses pembuatan drama televisi “KATARSIS”, terlebih dahulu penulis sebagai sutradara melakukan briefing singkat mengenai hal-hal apa saja yang harus diperhatikan ketika shooting, dalam hal ini penulis sebagai sutradara menjelaskan catatan mengenai scene manakah yang perlu diambil terlebih dahulu kepada crew dan khususnya kepada penata kamera.

(47)

85 Penulis berperan mengarahkan akting dalam pembuatan drama televisi. Pada scene-scene yang membutuhkan emosi yang cukup dalam, penulis lebih menekankan kepada psikologis pemain agar lebih mendalami. Secara umum penulis harus menguasai dan memahami segala hal tentang drama televisi yang digarapnya dengan benar, termasuk hal kecil yang sangat vital, yaitu property dan make up. Tata rias sangat berpengaruh terhadap tampilan pemain pada saat pengambilan gambar. Selain visual, penulis juga menentukan adegan mana yang menggunakan original sound dan adegan mana yang akan diilustrasikan dengan special sound effect.

Penulis juga mewaspadai kendala dan hambatan yang mungkin terjadi, seperti memiliki alternatif rencana sebagai strategi jika plan A tidak berjalan dengan menyediakan plan B dan seterusnya agar produksi tidak berhenti hanya karena beberapa kendala kecil saja. Penulis harus yakin dengan kemampuannya mengatasi keadaan di lapangan.

Sementara itu ketika proses shooting berjalan penulis juga membawa storyboard dan shooting list untuk acuan pengambilan gambar oleh penata kamera, hal ini dilakukan agar gambar yang diambil sesuai dengan apa yang telah dibuat oleh penulis dalam shooting list dan stroyboard, penggunaan storyboard dan shooting list disini juga berfungsi agar waktu shooting lebih efisien.

c. Konsep Teknis

Sebagai sutradara penulis harus memperhatikan dengan detail, apa saja yang menjadi kebutuhan dalam memproduksi drama televisi “KATARSIS”, mulai dari alat

(48)

86 yang digunakan, serta segala property yang digunakan dalam drama televisi “KATARSIS”

Dalam produksi drama televisi “KATARSIS” adalah menggunakan singlecam dengan menggunakan kamera SONY PXW FS-5 untuk pengambilan gambarnya. Alasannya adalah karena kamera Sony PXW FS-5 mempunyai ukuran yang tidak terlelu besar sehingga mempermudahkan dalam pengambilan gambar yang menggunakan handheld. Serta kamera tersebut sudah mempunyai sensor full frame sehingga tampilan visual yang akan didapat lebih maksimal. Sedangkan untuk pengambilan suara penulis menggunakan Sennheiser MKH 60, Zoom h4n, Zoom h1n dan Wireless Clip On BOYA WM8 karena menurut penulis suara yang dihasilkan dari alat ini lumayan bagus, dan cocok untuk digunakan ketika mengambil gambar di outdoor. Dan juga penulis mempunyai konsep suara dengan menggabungkan tiga ouput suara menjadi satu agar menampilkan efek suara 3 dimensi. Kemudian untuk cahaya penulis menggunakan kinoflo, redhead dan LED daylight portable karena cahaya yang dihasilkan lumayan terang. Untuk mempercantik visual penulis menggunakan slider, Jimmy Jib, Glidecam HD 2000 untuk pengambilan gambarnya.

3.2.6. Kendala Produksi dan Solusinya.

Dalam tahap produksi drama televisi “KATARSIS” penulis menemukan beberapa kendala serta solusi yang sudah didiskusikan bersama crew.

Kendala : Ide cerita yang berubah-ubah membuat lambatnya penyelesaian lembar kerja.

(49)

87 Solusi : Semua Tim bekerja sama membantu penulis dalam menyelesaikan naskah.

Kendala : Pencarian pemain yang sangat sulit karena tidak jelasnya lokasi casting dan membutuhkan talent yang banyak.

Solusi : Menentukan tempat casting di tempat tinggal kami dan melalui hasil video via handphone.

Kendala : Jadwal shooting dihari pertama mundur beberapa jam dikarenakan keterlambatan beberapa talent.

Solusi : Menunggu talent datang semua.

Kendala : Perubahan lokasi shooting secara tiba-tiba.

(50)

69 3.2.7. Lembar Kerja Sutradara

CASTING LIST

Production Company : Must A Fire Produser : Vanessa Claudia Project Title : Katarsis Penulis Naskah : Wiratya Kestriati

Durasi : 20 Menit Sutradara : Dicka Novan T

Tabel III.7

No Tokoh Karakter Talent

1 Nama di Naskah Sifat Fisik Calon Pemeran Contact Person

2 Jerry Pendiam, idealis, pemikir dan disiplin. Tinggi 170cm, 55-60kg, badan proposional, putih, berambut pendek. Mohammad M Mardiansyah 089604164401

(51)

70 penyabar. cm, Berat badan

55-60kg,

proporsional, sawo matang, berambut pendek.

Harling

4 Tony Baik, kurang tegas, pendiam. Tinggi 160-168 cm, berat badan 70-80 kg, berbadan gemuk, sawo matang, berambut pendek. Wijaya Kasta Utama 08137592519

5 Khan Licik, tamak, keras. Tinggi 160-168 cm, berat badan 70-80 kg,

(52)

71 berbadan gemuk,

sawo matang, berambut pendek. 6 Ahmad Baik, tegas, bijaksan,

humoris. Tinggi 160-168 cm, berat badan 70-80 kg, berbadan agak gemuk, sawo matang, berambut pendek. Murdin 085780251467

7 Fatimah Keibuan, agak cerewet, baik. Tinggi 155-160 cm, berat badan 45-55 kg, kurus, sawo matang, berjilbab. Wilia Novianty Mala 085920546084

(53)

72 8 Dahlia Pendiam, pemalu. Tinggi 150-160

cm, berat badan 45-55 kg, kurus, putih, berjilbab.

Vanessa Claudia 08128706122

9 Hitman 1 Bengis, keras. Tinggi 168-175 cm, berat badan 60-80 kg, berbadan tegap, berkulit gelap, berambut pendek. Ibrahim Umar Wungunbelen 081287430543

10 Hitman 2 Bengis, keras. Tinggi 165-170 cm, berat badan 50-70 kg, proporsional, berkuliat gelap,

(54)

73 berambut pendek.

11 Hitman 3 Bengis, keras. Tinggi 168-175 cm, berat badan 80-90 cm, berbadan gemuk, sawo matang, berambut cepak. Jabbar Siddiq 085817782311

12 Hitman 4 Bengis, keras. Tinggi 168-175 cm, berat badan 60-80 kg, agak gemuk, sawo matang, berambut pendek. Erza Okta 089664045900

13 Hitman 5 Bengis, keras. Tinggi 168-175 cm, berat badan

Ayatullah Khomeni

(55)

74 60-80 kg,

berbadan tegap, putih, berambut pendek.

14 Hitman 6 Bengis, keras. Tinggi 168-175 cm, berat badan 60-80 kg, agak kurus, sawo matang, berambut pendek. Chandra Yoga Swara 081281856620

15 Gandhi Tegas, Disiplin. Tinggi 168-175 cm, berat badan 70-90 kg,

berbadan gemuk, sawo matang,

(56)

75 berambut agak

panjang, berjenggot. 16 Istri Gandhi Keibuan, baik. Tinggi

160-168cm,berat badan 45-55 cm, putih, rambut sebahu.

Wirantya Kestriati 085714921446

17 Anak Gandhi Pendiam. Tinggi 130-140 cm, berat badan 20-30 kg, putih, berambut panjang.

Zahra Nur Dini Adilah

-

19 4 Polisi Tegas, disiplin. Tinggi 168-180 cm, berat badan 60-80 kg, sawo matang, berambut Al-Ghifari, Muhammad Fahmi Zulfikar, Rizal Isnanto, Ahmad -

(57)

76 pendek. Arfan

20 4 figuran silat Tinggi 165-170 cm, berat badan 50-80 kg, sawo matang, berambut pendek. Syadwiki Nurzaidhabi, Iyad Amanullah, Idham Amrul Husein, Al Fathih Haikal Ferdiansyah. -

21 Wanita seksi Tinggi 160-168

cm, berat badan 45-55 kg. Berbadan proporsional, putih, berambut sebahu. Tania Hutapea Hutagalung 085892212648

(58)

77 disiplin. cm, beratbadan

50-70 kg, sawo matang, berambut panjang.

22 Ibu Jerry Tinggi 160-168

cm, berat badan 45-60 kg, putih, berambut panjang.

Isanty Maina 081385262744

23 Jerry Kecil Tinggi 130-150

cm, berat badan 30-40 kg, putih, berambut pendek. Haris Ramli Alhifari -

Gambar

Tabel III.1
Tabel III.2
Tabel III.4
Tabel III.5
+5

Referensi

Dokumen terkait

Ketepatan untuk melakukan suntik kembali adalah waktu dimana akseptor KB datang kembali untuk melakukan suntik ulang sesuai dengan jenis kontrasepsi suntik yang

Pengertian HTI adalah kawasan hutan tanaman pada wilayah hutan produksi yang sengaja dibangun oleh kelompok industri untuk peningkatan potensi dan kualitas hutan produksi

Penulis bertugas untuk melakukan riset, mengembangkan konsep, dan mengeksekusikan desain sesuai dengan brief yang sudah diberikan oleh Project Manager dengan bimbingan

Tanggal 16 Maret 2022 kembali penulis melakukan observasi, bersama dengan Majelis Jemaat bidang Kesaksian dan Pelayanan melakukan kunjungan kasih Triwulan ke

Sebelum melakukan perubahan pada sistem produksi perlu ditetapkan dahulu tujuan untuk melakukan rekayasa ulang, setelah itu akan dilakukan penggambaran proses produksi yang

Pupuk Kujang telah mengembangkan industry peralatan pabrik untuk fabrikasi peralatan pabrik bagi keperluan industri pupuk juga industri kimia lainnya di

Pada proses pra produksi program film dokumenter “Creativithink” produser mengalami kesulitan mengatur jadwal dengan crew yang terlibat dalam tim ini, karena

Peralatan Penelitian Peralatan yang digunakan untuk melakukan penelitian yaitu peralatan tulis yang berfungsi untuk mencatat semua hasil penelitian seperti pena, kertas dan kamera yang