Hal yang sama bahkan lebih berbahaya dilakukan oleh kaum Khawarij di mana dengan berlandaskan nash yang berbunyi:

Teks penuh

(1)
(2)

i

KATA PENGANTAR

Sesungguhnya segala puji dan puja hanya bagi Allah. Kami memuji hanya kepada-Nya, bergantung hanya kepada-Nya, dan memohon ampunan juga hanya kepada-Nya. Dan kami berlindung kepada Allah dari kejelekan hati kami, serta amalan-amalan kami sendiri. Sebab, barangsiapa yang telah diberi hidayah oleh Allah, niscaya tidak ada seorang pun yang dapat menyesatkannya. Dan sebaliknya, barangsiapa yang telah disesatkan oleh Allah, niscaya tiada satu dzat pun yang dapat memberinya hidayah (petunjuk ke jalan yang benar).

Kami bersaksi kepada Allah, bahwa tiada Ilah selain Dia, dan kami tiada akan mempersekutukan Dia dengan makhluk-Nya. Juga kami bersaksi, bahwa Nabi Muhammad itu adalah hamba dan juga utusan-Nya.

Tidak semua orang yang memiliki ilmu dan pengetahuan mempunyai pemahaman mendalam tentang ilmu yang dimiliki. Bahkan ada kemungkinan orang yang belajar kepadanya, mengambil ilmu darinya, lalu menelaah secara optimal, memiliki pemahaman yang lebih luas dan lebih mendalam dari pada dirinya.

Betapa pemahaman mempunyai kedudukan sangat

penting (urgen). Rasulullah saw menginginkan umat ini agar tak

hanya menjadi pengumpul ilmu atau menjadi seorang „ālim. Akan tetapi, bagaimana ilmu itu mengubah diri seseorang menjadi sosok yang punya pemahaman mendalam.

Karena itu, ketika mendo‟akan Ibn Abbas ra, Rasulullah saw bersabda:

(3)

ii

ََّلْيِوْأ تلا

Ya Allah, jadikanlah dia seorang yang memiliki pemahaman mendalam pada urusan agama, dan ajarkanlah takwil padanya.1

Sebab, ilmu tanpa pemahaman mendalam seringkali mendatangkan musibah, fitnah dan malapetaka. Dahulu, pada masa Rasul saw, ada seorang Muslim yang kepalanya sedang terluka. Lalu, ia diberi tahu oleh orang-orang yang berada di sekitarnya bahwa kewajiban mandi wajib untuk menghilangkan hadas besar tetap berlaku baginya sekalipun sedang terluka.

Mereka mengutip ayat yang berbunyi:

     

Dan, jika kamu junub, mandilah. (QS. al-Māidah [5]: 6)

Ternyata, ketika mengikuti saran mereka, luka yang diderita bertambah parah dan akhirnya ia meninggal. Tatkala hal itu diketahui Rasulullah saw, beliau kaget seraya bersabda, “Mereka telah membunuhnya dan semoga Allah membunuh mereka pula. Mengapa mereka tidak bertanya jika tidak tahu? Obat bodoh adalah bertanya.” (HR. Abu Daud).

Hal yang sama bahkan lebih berbahaya dilakukan oleh

kaum Khawarij di mana dengan berlandaskan nash yang

berbunyi:      

Menetapkan hukum itu hanyalah hak Allah. (QS. al-An‟ām [6]: 57)

lalu mereka berani mengafirkan para sahabat lantaran dianggap tidak mengindahkan ayat di atas.

1

Ramli Abdul Wahid, Ulumul Qur’an I (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2002), cet. IV, 111.

(4)

iii

dangkal terhadap nash agama. Sungguh, sangat mengkhawatirkan

jika ada orang berani memberi fatwa tentang masalah urgen dan menetapkan hukum dalam hal yang belum ia kuasai. Apalagi jika itu disertai sikap menganggap diri paling benar (takabur), sementara orang lain dianggap salah dan bodoh.

Rasulullah saw bersabda:

َُّرْ بِكْلَا

َّ

َُّرَطَب

َّ

َّّقَْلْا

َّ

َُّطْمَغَو

َّ

َِّسا نلا

(Tandanya) takabur adalah menolak kebenaran dan merendah-kan manusia. (HR. Muslim)

Seorang yang benar-benar „ālim tidak akan dikuasai oleh

tipuan dan tidak akan diperbudak oleh kesombongan (takabur/

membanggakan diri), sebab ia tahu persis dan yakin sekali bahwa dunia keilmuan adalah ibarat lautan yang amat luas tidak terbatas, dan tak ada seorangpun yang akan mencapai dasarnya. Maka Maha Benar Allah yang telah berfirman:

      

Dan tidaklah kamu sekalian diberi ilmu kecuali hanya sedikit. (QS. al-Isrā [17]: 85)      

Di atas tiap-tiap orang yang mempunyai ilmu (َِّلاَع), ada pula yang lebih „alīm (). (QS. Yūsuf [12]: 76)

Dan seorang „ālim tahu bahwa kafilah-kafilah ilmu dan para „ulamā merupakan serentetan mata rantai yang sangat panjang, selalu terikat dengan masa yang telah lampau dan berhubungan erat dengan masa sekarang, bahkan terus menyambung dengan masa yang akan datang. Oleh karena itu, ia hanyalah merupakan salah satu dari sekian rangkaian tersebut.

(5)

iv

menganggap sepi usaha-usaha yang dilakukan oleh orang-orang yang tampil setelah dirinya.

Islam tidak membenarkan sikap gegabah dalam memberikan fatwa, dalam menjelaskan persoalan penting agama, serta memutuskan perkara sebelum berdialog, meminta pendapat, dan bertanya kepada ahlinya.

Allah SwT berfirman:        

Sebab itu, bertanyalah kamu kepada orang-orang yang ahli, jika kamu tidak tahu. (QS. an-Nahl [16]: 43)

Bila demikian, berarti keberadaan referensi Tafsir,

khususnya Tafsir Pendidikan mutlak diperlukan. Namun,

mengingat minimnya buku referensi Tafsir Pendidikan tersebut,

penulis berikhtiar ikut berpartisipasi menghadirkan buku Tafsir

Pendidikan (Tafsīr Tarbawy), khususnya untuk memenuhi kebutuhan bahan ajar Tafsir Pendidikan di Sekolah Tinggi Ilmu Tarbiyah (STIT) Ya‟mal Tangerang.

Mudah-mudahan buku ini bisa menjadi pedoman pembaca pada umumnya, dan khususnya Mahasiswa STIT Ya‟mal Tangerang dalam mengkaji Tafsir_insya Allah, serta menjadi nilai ibadah bagi penulisnya. Āmīn.

Tangerang, 24 September 2015 Penulis,

Maddais, S.Pd.I., MA

(6)

v DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR__ i DAFTAR ISI__ v

BAB I : Pokok-pokok Kandungan al-Qur‟an __ 1 a. QS. al-Fātiḥah [1]: 1-7 __ 1

BAB II : Tentang Allah SwT __ 5 a. QS. al-Hasyr [59]: 22-24 __5 b. QS. al-Rūm [30]: 22-25 __6 BAB III : Tentang Rasul __ 7

a. QS. al-Nisā‟[4]: 115, 170 __ 7 b. QS. Āli „Imrān [3]: 106-108 __ 8 BAB IV : Manusia: Asal Kejadian __ 9

a. QS. al-Mu‟minūn [23]: 12-17 __ 9 b. QS. al-A‟rāf [7]: 189 __ 13 c. QS. al-Sajdah [32]: 7-9 __ 13 BAB V : Manusia: Aspek Sikap __ 15

a. QS. al-A‟rāf [7]: 175-176 __ 15 b. QS. al-Tīn [95]: 4-6 __ 16 §. Teori Evolusi Darwin? __ 19 BAB VI : Alam __ 21

a. QS. al-Baqarah [2]: 29 __ 21 b. QS. al-A‟rāf [7]: 54 __ 21 c. QS. Ibrāhīm [14]: 32-34 __ 22 d. QS. al-Mulk [67]: 1-4 __ 22 BAB VII : Akhirat __ 25

a. QS. Qāf [50]: 19-23 __ 25 b. QS. al-A‟lā [87]: 14-17 __ 25 c. QS. al-Ḥadīd [57]: 20 __ 26

(7)

vi b. QS. Ṣād [38]: 26 __ 27 c. QS. al-Qaṣaṣ [28]: 50 __ 28 d. QS. Āli „Imrān [3]: 190-191 __ 28 BAB IX : Ilmu Pengetahuan __ 31

a. QS. al-Mujādalah [58]: 11 __ 31 b. QS. al-Zumar [39]: 9 __ 31 c. QS. al-Taubah [9]: 122 __ 32 d. QS. al-„Alaq [96]: 3-7 __ 32 BAB X : Amar Ma‟rūf Nahi Munkar __ 33

a. QS. al-Naḥl [16]: 125 __ 33

b. QS. Āli „Imrān [3]: 104, 110, 114 __ 33 ۩. Ujian dari Dalam __ 34

BAB XI : Pembinaan Generasi Muda __ 41 a. QS. al-Nisā‟ [4]: 9, 95 __ 41 b. QS. al-Taḥrīm [66]: 6 __ 42 c. QS. al-Taghābun [64]: 14-15 __ 42

BAB XII : Kerukunan Hidup Antar Umat Beragama __ 43 a. QS. al-Mumtaḥanah [60]: 8-9 __ 43

b. QS. Āli „Imrān [3]: 118 __ 44 c. QS. al-Māidah [5]: 5 __ 44 d. QS. al-Kāfirūn [109]: 1-6 __ 45 ۩. Islam Hormati Keberagamaan __ 45 BAB XIII : Pembinaan Masyarakat __ 47

a. QS. al-Ḥujurāt [49]: 9-13 __ 47 b. QS. al-Naḥl [16]: 91-92 __ 49

BAB XIV : Disiplin dan Menegakkan Keadilan __ 51 a. QS. Fuṣṣilat [41]: 9-13 __ 51 b. QS. Hūd [11]: 112-113 __ 52 c. QS. al-Naḥl [16]: 90 __ 52 d. QS. al-Nisā‟ [4]: 58 __ 53 e. QS. Luqmān [31]: 32 __ 53 DAFTAR PUSTAKA

(8)

1

1

. POKOK-POKOK KANDUNGAN AL-QUR‟AN

۞ QS. al-Fātiḥah [1]: 1-7                                        

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang (1). Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam (2). Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang (3). Pemilik hari pembalasan (4). Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan (5). Tunjukilah kami ke jalan yang lurus (6). (yaitu) jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang di murkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat (7). (QS. al-Fātiḥah [1]: 1-7)

Surah al-Fātiḥah disebut juga Sab'un al-Matsani (tujuh yang diulang-ulang); Fātiḥah al-Kitab; Ummu al-Kitab; Hal ini berdasar kepada hadis Nabi saw sebagai berikut:

1. Ubay bin Ka'b r.a. berkata: Nabi saw bersabda: Allah ta'ala berfirman:

ََ اااَق

َ

َهالل

َ

ََ اااَعَات

"َ:

ََ اااْبَا

َ

ََمَدآ

َ

َه اااْلَزْانَا

َ

ََ ْ اااَس

َ

َ تَيَآ

َ:

َ ثَ اااَث

َ

َِ

َ

َ ثَ اااَثَو

َ

ََ اااااااَل

َ

ََ اااااااِحاَوَو

َ ةَ

َِ اااااااْيَاب

َ

َ اااااااَنْايَابَو

َ

اااااااَّمَ َف

َ

َِ اااااااَّلا

َ

َِ

َ

َه اااااااْمَْلْ َف

  

(9)

2 

َ.

 

َ.

   َ

َ:

َِ اااااااااااَّلاَو

َ

َِ اااااااااااْيَاب

َ

ََ اااااااَنْايَابَو

َ

     

َ.

ََ اااااااْنِم

َ

َهةَد اااااااَ ِعلْا

َ

ََّ اااااااَلَعَو

َ

َه ْ اااااااَعلْا

َ.

اااااااَّمَاَو

َ

َِ اااااااَّلا

َ

ََ ااااااااَل

َ

  

َ.

         

َ(

هاور

َ

ىا اااااااااااطلا

َ

فى

َ

ومجعم

َ

طسولاا

َ

ع

َ

َىبا

َ

ب

َ

بعك

)

َ

Hai anak Adam, Aku telah menurunkan tujuh ayat: tiga di antaranya untuk-Ku, dan tiga untukmu dan satu antara Aku dengan engkau. Adapun yang

untuk-Ku, yaitu:

َ.

َِ ْيِحََّّالا

َ

َِ ْمََّّالَا

َ.

ََْ ِمَل اَعلْا

َ

َىبَر

َ

َِللِِ

َ

َه اْمَْلَْا

َِ ااِل َم

َ

َِمْ ااَاي

َ

َِ ْيى االا

(Segala puja dan puji bagi Allah

Tuhan yang memelihara alam semesta. Maha pemurah lagi pengasih. Yang memiliki hari pembalasan). Adapun yang di antara Aku denganmu

yaitu:

َهْ ِعَعااْسَن

َ

ََكَّيَِا

َََو

َه ااه ْعَان

َ

ََكَّيَِا

(Hanya kepada-Mu aku

menyembah dan hanya kepada-Mu aku minta pertolongan). Darimu manusia (hamba) beribadah dan atas Aku yang menolong. Dan adapun bagimu

(hamba)

َ

َْ ِهْي

ََلَع

َ

ََ ْمَعْانَا

َ

ََ ْيِذَّلا

َ

ََطاََِّص

َ.

ََ ْيِقَعْسهمْلا

َ

ََطاََّىصلا

َ

ََنِ ْىِا

َِْ ااَغ

َ

َِبْ ااهضْغَمْلا

َ

َْ ِهْيااَلَع

َ

ََلاَو

َ

ََْ ىل ااَّضلا

َ

(Pimpinlah kami ke

jalan yang lurus, jalan orang-orang yang telah Engkau anugerahi nikmat kepada mereka, bukan jalan orang-orang yang dimurkai atas mereka, dan

bukan jalan orang-orang yang sesat. (HR.

(10)

3

2. Abu Hurairah r.a. berkata: Nabi saw bersabda: Allah ta'ala berfirman:

َه ْمَسَق

َ

ََةَ َّصلا

َ

َِ ْيَاب

َ

ََْ َابَو

َ

ِ اْ َع

َ

ِْ ََاْصِن

َ

ِ اْ َعِلَو

َ

اَمَ

ََ ََاَس

َ

اََِ اَف

َ

ََ َق

َ

َه ْ َعلْا

    

َ

ََ َق

َ

َهالل

َ:

َِىَ َِم

َ

ِ اْ َع

َ

اََِ اَف

َ

ََ اَق

َ:

 

َ

ََ اَق

َ

َهالل

َ:

اْثَا

َ

ََّ اَلَع

َ

ِ اْ َع

َ

اََِ اَف

َ

ََ اَق

َ

َه ْ َعْلا

َ:

  

َ

ََ اَق

َ:

َِىَ اََّمَ

َ

ِ اْ َع

َ

اََِاَو

َ

ََ اَق

     

َ

ََ َق

َ:

اَذى

َ

َِ ْيَاب

َ

ََْ َابَو

َ

ِ اْ َع

َ

ِ اْ َعِلَو

َ

اَمَ

َ ََااَس

َ

اََِ اااَف

َ

ََ اااَق

  

َ

ََ ِإ

َ

ِهَِّااِخآ

َ

ََ اااَق

َ:

اَذاااى

َ

ِ ااااْ َعِل

َ

ِ ااااْ َعِلَو

َ

ااااَم

َ

ََ ََااااَس

َ

(

هاور

َ

ااااما

َ

لااااسمو

ََو

اااابأ

َ

دواد

َ

ذااااامترلاو

َ

ئ سنلاو

َ

باو

َ

ح

َ

باو

َ

ةج م

َ

ع

َ

با

َ

ةَّيَّى

)

َ

Aku telah membagi shalat menjadi dua bagian di antara Aku dan hamba-Ku dan Aku beri hamba-Ku

apa yang ia minta. Bila ia mengucapkan

َ

َِللِِ

َ

َه اْمَْلَْا

َىبَر

َ

ََْ ِمَل اَعلْا

, berfirman Allah: Hamba-Ku telah

men-syukuri-Ku dan bila mengucapkan

َِ ْيِحََّّااالا

َ

َِ ْمََّّااالَا

berfirmanlah Allah: "Hamba-Ku yang telah

memuji-Ku" dan bila ia mengucapkan

َِ ْيى ااالا

َ

َِمْ اااَاي

َ

َِ اااِل َم

berfirman Allah: "Hamba-Ku telah

mengagungkan-Ku". Bila ia mengucapkan

َهْ ِعَعاااْسَن

َ

ََكَّيَِاَو

َ

َه اااه ْعَان

َ

ََكَّيَِا

berfirmanlah Allah: "Inilah persoalan antara Aku dan hamba-Ku dan Aku beri hamba-Ku apa yang ia

(11)

4

berfirman Allah: Inilah yang hanya untuk hamba-Ku

dan Aku beri hamba-Ku apa yang ia minta (HR.

Ahmad, Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasā'i, Ibn Hibban, dan Ibn Majah).

(12)

5

2

. TENTANG ALLAH SWT a. QS. al-Hasyr [59]: 22-24                                                           

Dialah Allah tidak ada tuhan selain Dia. Yang Mengetahui yang gaib dan yang nyata, Dialah Yang

Maha Pengasih, Maha Penyayang (22). Dialah Allah,

tidak ada tuhan selain Dia. Maharaja, Yang Mahasuci, Yang Mahasejahtera, Yang menjaga Keamanan, Pemelihara Keselamatan, Yang Mahaperkasa, Yang Mahakuasa, Yang memiliki Segala Keagungan. Maha

suci Allah dari apa yang mereka persekutukan (23).

Dialah Allah Yang Menciptakan, Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa, Dia memiliki nama-nama yang indah. Apa yang di langit dan di bumi bertasbih kepada-Nya. Dan Dialah Yang Mahaperkasa, Maha

(13)

6 b. QS. al-Rūm [30]: 22-25

                                                                          

Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah penciptaan langit dan bumi, perbedaan bahasamu dan warna kulitmu. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang

yang mengetahui (22). Dan di antara tanda-tanda

(kebesaran)-Nya ialah tidurmu pada waktu malam dan siang hari dan usahamu mencari sebagian dari karunia-Nya. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang mendengarkan

(23). Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya, Dia

memperlihatkan kilat kepadamu untuk (menimbulkan) ketakutan dan harapan, dan Dia menurunkan air (hujan) dari langit, lalu dengan air itu dihidupkannya bumi setelah mati (kering). Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang

mengerti (24). Dan di antara tanda-tanda

(kebesaran)-Nya ialah berdirinya langit dan bumi dengan kehendak-Nya. Kemudian apabila Dia memanggil kamu sekali panggil dari bumi, seketika itu kamu keluar (dari

(14)

7

3

. TENTANG RASUL a. QS. al-Nisā’ [4]: 115, 170                       

Dan barangsiapa menentang Rasul (Muhammad saw) setelah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan dia dalam kesesatan yang telah dilakukannya itu dan akan Kami masukkan dia ke dalam neraka Jahanam,

dan itu seburuk-buruk tempat kembali. (QS. al-Nisā‟ [4]:

115)                          

Wahai manusia! Sungguh, telah datang Rasul (Muhammad saw) kepadamu dengan (membawa) kebenaran dari Tuhanmu, maka berimanlah (kepada nya), itu lebih baik bagimu. Dan jika kamu kafir, (itu tidak merugikan Allah sedikit pun) karena sesungguh-nya milik Allah-lah apa yang di langit dan di bumi.

Allah Maha Mengetahui, Mahabijaksana. (QS. al-Nisā‟

(15)

8 b. QS. Āli-‘Imrān [3]: 106-108                                           

Pada hari itu ada wajah yang putih berseri, dan ada pula wajah yang hitam muram. Adapun orang-orang yang berwajah hitam muram (kepada mereka dikata-kan), “Mengapa kamu kafir setelah beriman? Karena

itu rasakanlah azab disebabkan kekafiranmu itu.” (106).

Dan adapun orang-orang yang berwajah putih berseri, mereka berada dalam rahmat Allah (surga); mereka

kekal di dalamnya (107). Itulah ayat-ayat Allah yang

Kami bacakan kepada kamu dengan benar, dan Allah tidaklah berkehendak menzalimi (siapa pun) di seluruh

(16)

9

4

. MANUSIA: Asal Kejadian

a. QS. al-Mu’minūn [23]: 12-17                                                               

Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari

saripati (berasal) dari tanah (12). Kemudian Kami

menjadikannya air mani (yang disimpan) dalam tempat

yang kokoh (rahim) (13). Kemudian, air mani itu Kami

jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang (ber-bentuk) lain. Mahasuci Allah, Pencipta yang paling

baik (14). Kemudian setelah itu, sesungguhnya kamu

pasti mati (15). Kemudian, sesungguhnya kamu akan

dibangkitkan (dari kuburmu) pada hari kiamat (16).

Dan sungguh, Kami telah menciptakan tujuh (lapis) langit di atas kamu, dan Kami tidaklah lengah terhadap

(17)

10

Pada ayat-ayat tersebut di atas, betapa Allah SwT memberikan pendidikan kepada manusia, walaupun Dia

mampu menciptakan manusia dalam waktu sekejap (

َه ْ هكَيَافَْ هك

),

tetapi tetap dilakukannya secara bertahap, dimulai dari

    

َ

َََّ

ََخا

ََء

َ

َ ق

ََخَْل

Setiap fase membutuhkan waktu selama kurang lebih 40 hari, seperti dikemukakan dalam hadis riwayat Imam Bukhari dan Muslim, Rasulullah saw bersabda:

ََق

ََ

َََر

َهسَْ

َه

َ

َِالل

َ

ََصََّل

َهاللَ

َََعََل

َْيَِوَ

ََوََس

ََّلََ

َِإَ:

ََّ

َََأ

ََحََ

َهك

َْ َ

َْهي

ََمَه

َ

ََخَْل

ََقَهو

َ

َِْفَ

ََبَْط

َِ َ

َهأَِىمَِو

َََأَْرَ

َبَِع

ََْ

َََايَْ

َ م

َهنَ

َْط

ََََ ة

ََّهثَ

َََي

َهك

َْ َه

َََعَ

َلََق

َ ةَ

َِمَْث

ََلَ

ََََِل

ََ

ََّهثَ

َََي

َهك

َْ َه

ََهم

َْض

ََغَ ة

َ

َِمَْث

ََلَ

ََََِل

ََ

ََّهثَ

َََايَْا

ََع

َهث

َ

َهالل

ََِإََل

َْيَِوَ

ََمََل

َ ك

ََوَ

َهايَْؤََم

َهَََََّك

َِلََم

َ ت

ََوَ

َهايََق

َه

َََلَهو

َهأَ:

َْكَهع

َْب

َ

ََعََم

ََلَهوَ

ََوَِرَْز

ََقَهوَ

ََوََأ

ََجََل

َهوَ

ََوََش

َِق

َ يَ

ََأَْو

َ

ََسَِع

َْيَ

ََّهثَ

ََهايَْان

ََََهخ

ََِفَْي

َِوَ

َ َّلاَْ

و

َهح

ََفَ

َِإََّ

َ

َََّّلا

َهج

ََلَ

َِمَْن

َهك

َْ َََل

ََايَْع

ََمَهل

ََِب

ََعََم

َِل

َََأ

َْىَِل

َ

ََْلاََّن

َِةَ

ََح

ََّ

ََلاَ

َََي

َهك

َْ ََ

َََابَْاي

ََنَهوَ

ََوََابَْاي

ََانََه

َِإَ

ََّلا

َََِ

ََرَ عا

َ

ََافََي

َْسَِ

َهقَ

ََعََلَْي

َِوَ

َْلا

َِكََع

َهب

َََافََاي

َْعََم

َهلَ

َِبََع

ََمَِل

َََأ

َْىَِل

َ

ََّنلا

َِر

َََافََي

َْ

َهخ

َهلَ

ََّنلا

ََر

ََوَ.

َِإََّ

َ

َََّّلا

َهج

ََلَ

ََايَْع

ََمَهل

ََِب

ََعََم

َِل

َََأ

َْىَِل

َ

ََّنلا

َِر

َ

ََح

ََّ

ََمَ

ََيَ

َهك

َْ ََ

َََابَْاي

ََنَهوَ

ََوََابَْاي

ََانََه

َِإَ

ََّلا

َََِ

ََرَ عا

َ

ََافََي

َْسَِ

َهقَ

ََعََلَْي

َِوَ

َْلا

َِكََع

َهب

َََافََاي

َْعََم

َهلَ

َِبََع

ََمَِل

َََأ

َْىَِل

َ

ََْلاََّن

َِةَ

ََافََيَْ

َهخ

ََلَ

ََْلاََّن

ََة

َ(

َهاور

لسموَير خ لا

)

َ

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya kalian di kumpulkan pada saat penciptaan kalian dalam perut ibunya selama 40 hari masih berupa setetes air mani, kemudian menjadi segumpal darah yang kental selama itu pula (40 hari), kemudian menjadi segumpal daging selama itu pula (40 hari), kemudian diutus kepada Malaikat dan diperintahkan kepadanya untuk

(18)

menulis-11

kan 4 macam, dan dikatakan kepadanya: Tuliskanlah amal perbuatannya, rizkinya, usia/ajalnya, celaka ataukah bahagia. Kemudian ditiupkan ruh padanya. Sesungguhnya di antara kalian ada yang suka meng-amalkan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dia dan antara surga itu, kecuali sehasta, maka karena takdir telah mendahuluinya (dari zaman azali bahwa dia seorang yang celaka), sebelum meninggal ia melakukan amalan ahli neraka, maka masuklah ia ke dalam neraka. Dan jika seseorang mengamalkan amalan ahli neraka sehingga tidak ada jarak antara dia dengan neraka, kecuali sehasta, maka karena takdir telah mendahuluinya (dari zaman azali bahwa dia seorang yang bahagia), sebelum meninggal ia melaku-kan amalan ahli surga, maka masuklah ia ke dalam

surga.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Beberapa pelajaran menarik dari hadis tersebut di atas, antara lain:

1) Allah SwT menciptakan manusia dalam setiap rahim ibu nya melalui suatu proses dan tahapan yang jelas.

2) Pada usia 4 bulan atau 120 hari, Allah SwT meniupkan ruh/ nyawa pada setiap jabang bayi.

3) Pada usia 120 hari pula, Allah SwT memerintahkan Malaikat-Nya untuk mencatatkan beberapa hal pokok pada diri manusia, seperti usia, rizki, termasuk kecelakaan atau kebahagiaannya.

4) Yang perlu disadari, bahwa semua catatan yang diberikan kepada setiap manusia, seperti usia/ajal, amal, celaka dan bahagia adalah bersifat ghaib. Artinya hanya Allah SwT yang mengetahuinya, sedangkan manusia tidak.

(19)

12 Allah SwT berfirman:                                

Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang Hari Kiamat; dan Dia-lah Yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusaha-kannya besok. Dan tiada seorangpun yang dapat mengetahui di bumi mana dia akan mati. Sesungguh

nya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. (QS.

Luqman [31]: 34)                  

Tidak ada yang dipanjangkan umurnya atau dipendek-kan kecuali telah ada dalam ketentuan. Itu sesungguh

(20)

13 b. QS. al-A’rāf [7]: 189                                 

Dialah yang menciptakan kamu dari jiwa yang satu (Adam) dan daripadanya Dia menciptakan pasangan nya, agar dia merasa senang kepadanya. Maka setelah dicampurinya, (istrinya) mengandung kandungan yang ringan, dan teruslah dia merasa ringan (beberapa waktu). Kemudian ketika dia merasa berat, keduanya (suami istri) bermohon kepada Allah, Tuhan mereka (seraya berkata), “Jika Engkau memberi kami anak

yang saleh, tentulah kami akan selalu bersyukur.” (QS.

al-A‟rāf [7]: 189) c. QS. al-Sajdah [32]: 7-9                                        Yang memperindah segala sesuatu yang Dia ciptakan

dan yang memulai penciptaan manusia dari tanah (7).

Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati

air yang hina (air mani) (8). Kemudian Dia

(21)

14

dalam (tubuh)nya dan Dia menjadikan pendengaran, penglihatan dan hati bagimu, (tetapi) sedikit sekali

kamu bersyukur (9). (QS. al-Sajdah [32]: 7-9)

Setelah bentuk fisik ditiupkan ruh Ilahiyah tersebut,

terbentuklah suatu jenis makhluk yang mempunyai

kekhususan-kekhususan dan keistimewaan yang tidak dimiliki oleh makhluk lain.

Tubuh manusia memiliki jenis materi yang meliputi empat komponen, yaitu: tanah, air, udara, dan api. Dan ini

sangatlah imbang (balance) dalam memengaruhi sifat-sifat

manusia.

Dari berbagai anggota tubuh yang ada pada diri manusia mempunyai tugas masing-masing yang berbeda antara yang satu dengan yang lainnya. Allah dalam memberikan keseimbangan dalam tubuh manusia memungkin-kan manusia untuk mengoptimalmemungkin-kan dalam pembentumemungkin-kan kesempurnaan fisik manusia. Hal ini sebagaimana ditegaskan

oleh Allah dalam surat at-Tīn, yang artinya: ”Sesungguhnya

Kami telah ciptakan manusia dalam bentuk yang terbaik

(sempurna)”. (QS. at-Tīn [95]: 4)

Kesempurnaan bentuk tubuh manusia itu, diharapkan

bisa menjalankan aktivitas sehari-hari sebagai khalifah di

dunia yaitu untuk melakukan perbaikan-perbaikan (iṣlah) di

(22)

15

5

. MANUSIA: Aspek Sikap

a. QS. al-A’rāf [7]: 175-176                                                 

Dan bacakanlah (Muhammad saw) kepada mereka, berita orang yang telah Kami berikan ayat-ayat Kami kepadanya, kemudian dia melepaskan diri dari ayat-ayat itu, lalu dia diikuti oleh setan (sampai dia tergoda),

maka jadilah dia termasuk orang yang sesat (175). Dan

sekiranya Kami menghendaki niscaya Kami tinggikan (derajat)nya dengan (ayat-ayat) itu, tetapi dia cenderung kepada dunia dan mengikuti keinginannya (yang rendah), maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menghalaunya dijulurkan lidahnya dan jika kamu membiarkannya ia menjulurkan lidahnya (juga). Demikianlah perumpamaan orang-orang yang men-dustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah

kisah-kisah itu agar mereka berpikir (176). (QS. al-A‟rāf [7]:

(23)

16 b. QS. al-Tīn [95]: 4-6

                     

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam

bentuk yang sebaik-baiknya (4). Kemudian Kami

kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya

(5). Kecuali orang-orang yang beriman dan

mengerja-kan kebajimengerja-kan, maka mereka amengerja-kan mendapat pahala

yang tidak ada putus-putusnya (6). (QS. al-Tīn [95]: 4-6)

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna di antara makhluk-makhluk ciptaan Allah yang lain. Struktur

manusia terdiri dari unsur jasmaniah (fisiologis) dan rohaniah

(psikologis). Hal ini oleh Allah disebutkan dalam al-Qur‟an

Surat at-Tīn [95] ayat 4 yang artinya:

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk/rupa (sempurna). (QS. at-Tīn [95]: 4)

Dalam struktur jasmaniah dan rohaniah tersebut, Allah memberikan seperangkat kemampuan dasar yang memiliki

kecenderungan berkembang, dalam psikologi disebut

potensialitas, yang menurut aliran psikologi behaviorisme

disebut dengan prepotence reflexs (kemampuan dasar yang

secara otomatis dapat berkembang).

Keinginan manusia yang ingin selalu meningkatkan

martabatnya merupakan indikasi yang jelas bahwa manusia

merupakan makhluk yang dinamis.

Kesempurnaan fisik manusia itu ditopang oleh Allah dengan ruh atau jiwa yang merupakan inti hakikat manusia. Dengan jiwa inilah manusia mempunyai ikatan tanggung

(24)

17

jawab terhadap prilaku dan perbuatan manusia itu sendiri. Sebagaimana disebutkan dalam al-Qur‟an bahwa ruhlah yang telah melakukan perjanjian dengan Allah ketika dalam rahim ibu. Firman Allah SwT:                                                     

Ketika Tuhanmu menjadikan keturunan anak Adam daripada tulang punggung mereka, Dia mempersaksi-kan dengan diri mereka sendiri. Allah berfirman: Bukankah aku Tuhan kamu? Sahutnya: Ya, kami menjadi saksi, supaya kamu jangan mengatakan pada hari qiamat: Sesungguhnya kami lengah terhadap perihal ini. Atau kamu katakan: Hanya bapak-bapak kami dahulu yang mempersekutukan, dan kami keturunan kemudian mereka. Adakah Engkau akan membinasakan kami karena perbuatan orang-orang yang berbuat bathil? Demikianlah Kami terangkan

ayat-ayat itu; mudah-mudahan mereka itu kembali. (QS.

al-A‟rāf [7]: 172-174)

Hal ini-lah yang mengindikasikan bahwa manusia dilahirkan dalam keadaan suci dan sesuai dengan kekuasaan Allah. Tetapi manusia banyak yang melakukan kekeliruan-kekeliruan dengan melupakan hakikat dirinya sebagaimana yang telah ia janjikan dengan Allah.

(25)

18 Firman Allah SwT:                 

Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun (bodoh), dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati,

agar kamu bersyukur. (QS. Nahl [16]: 78)

Rasulullah saw bersabda:

َم

َ

َْ ِم

َ

َ دْ هلْ َم

َ

ََّلاِإ

َ

َه َلْ هاي

َ

لَع

َ

َِةََّْطَِْلا

َ

َههاَ َابَََف

َ

َِوِناَدى َههاي

َ

َْوَأ

َ

َِوِناََّىصَنهاي

َ

َْوَأَ

َِوِن َسىجَهيُ

َ

َِفىَو

َ

َِةَياَوِر

َ

َْوَأَ

َِوِن َكَِّْشهي

َ

(

هاور

َ

ر خ لا

َ

لسمو

َ

ع

َ

بأ

َ

ةَّيَّى

)

ََ

َ

Seseorang tidak dilahirkan melainkan dalam keadaan fithrah. Maka kedua orang tuanya (amat berperan) menjadikannya Yahudi, Nashrani, atau Majusi, dalam

riwayat lain Musyrik. (H.R. Bukhari dan Muslim dari Abu

Hurairah)

Hadis tersebut menegaskan bahwa pada dasarnya manusia dilahirkan dalam keadaan suci bagaikan kertas yang

putih bersih (tabularasa). Dan lingkungan, baik lingkungan

internal maupun eksternal pada akhirnya akan memberikan

corak dan warna yang memengaruhi kehidupannya kemudian. Hal ini menggambarkan bahwa seakan-akan tidak dapat dielakan bahwa kesan yang timbul seakan-akan anak tersebut dalam keadaan Islam atau suci bila orang tuanya atau lingkungannya tidak merubahnya menjadi Yahudi dan lain-lainnya.

(26)

19

Jadi lingkungan yang kondusif untuk menciptakan

suasana ke-Islam-an sangatlah diperlukan. Karenanya

diperlukan sekali perangkat-perangkat yang bisa memberikan

kontribusi banyak bagi tujuan tersebut.

§ Bagaimana dengan Teori Evolusi Darwin?

Teori evolusi lebih menekankan pada pemahaman manusia dari analisis fisiknya semata.

Artinya, teori evolusi manusia bertentangan dengan ajaran al-Qur‟an. Dalam al-Qur‟an dijelaskan bahwa manusia

diciptakan awalnya sempurna (fī ahsani taqwīm).1 Manusia

tidak hanya berpotensi fisik jasmaniah semata. Justru yang menghidupkan jasmani adalah potensi ruhaniah. Potensi fisik jasmani bersifat tidak abadi dan mengenal masa rusak dan hancur. Hal ini berbeda dengan ruh yang bersifat abadi. Teori evolusi tidak berbicara tentang adanya ruh pada jasmani manusia.

Adapun manusia pertama dan Nabi pertama, adalah

Nabi Adam as dan isterinya Siti Hawa r.ha. Status kenabiannya

adalah Nabi untuk keluarga atau anak isterinya, sebagai masyarakat kecil dan masyarakat pertama di dunia. Al-Qur‟an tidak menjelaskan tentang adanya masyarakat sebelum Nabi

Adam as dan Siti Hawa r.ha sebagai masyarakat manusia yang

rendah martabatnya. Al-Qur‟an menjelaskan tentang adanya manusia yang menjadi binatang pada periode sesudah Nabi

Adam as dan Siti Hawa r.ha.

Al-Qur‟an menjelaskan terjadinya kerendahan martabat

manusia yang menjelma menjadi manusia binatang, terjadi

pada masa Nabi Musa as dan Nabi Isa as. Pada masa Nabi Musa as terjadi kutukan Allah SwT terhadap kaum penentang Nabi Musa as. Kaum penentang ini menjadi manusia kera

yang memalukan (qiradah khasi’in).

1

Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. (QS. al-Tīn [95]: 4)

(27)

20 Firman Allah SwT:             

Dan sungguh, kamu telah mengetahui orang-orang yang melakukan pelanggaran di antara kamu pada hari Sabtu, lalu Kami katakan kepada mereka (Yahudi),

“Jadilah kamu kera yang hina!” (QS. al-Baqarah [2]: 65)

Jadi, “manusia kera” terjadi bukan sebelum Nabi Adam as, melainkan pada masa Nabi Musa as. Kemudian, disusul untuk kedua kalinya pada masa Nabi Isa as. Kelompok penentang ajaran Nabi Isa as, dikutuk Allah menjadi manusia babi. Secara konkret al-Qur‟an menjelaskan proses terjadinya manusia kafir berubah menjadi binatang pada periode kedua Nabi, yakni pada masa Nabi Musa as dan Nabi Isa as.

Dalam bahasa al-Qur‟an dijelaskan dengan istilah

tsumma, rodadnāhu asfala sāfilīn (kemudian, runtuhlah

martabat manusia).2 Maksud istilah „kemudian‟ (tsumma),

menunjuk waktu terjadinya, pada masa sesudah Nabi Adam as

dan Siti Hawa r.ha. Berubahlah kaum penentang ajaran Nabi

Musa as dan Nabi Isa as menjadi manusia binatang. Jadi, sekali lagi bukan pada masa sebelum Nabi Adam as dan Siti

Hawa r.ha.

2

Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya (QS. al-Tīn [95]: 5).

(28)

21

6

. ALAM a. QS. al-Baqarah [2]: 29                      

Dialah (Allah) yang menciptakan segala apa yang ada di bumi untukmu kemudian Dia menuju ke langit, lalu Dia menyempurnakannya menjadi tujuh langit. Dan

Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. al-Baqarah

[2]: 29) b. QS. al-A’rāf [7]: 54                                    

Sungguh, Tuhanmu (adalah) Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia ber-semayam di atas „Arasy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. (Dia ciptakan) matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan

(29)

22 c. QS. Ibrāhīm [14]: 32-34

                                                         

Allah-lah yang telah menciptakan langit dan bumi dan menurunkan air (hujan) dari langit, kemudian dengan (air hujan) itu Dia mengeluarkan berbagai buah-buahan sebagai rezeki untukmu; dan Dia telah menundukkan kapal bagimu agar berlayar di lautan dengan kehendak-Nya, dan Dia telah menundukkan sungai-sungai

bagimu (32). Dan Dia telah menundukkan matahari dan

bulan bagimu yang terus-menerus beredar (dalam orbitnya); dan telah menundukkan malam dan siang

bagimu (33). Dan Dia telah memberikan kepadamu

segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak akan mampu meng-hitungnya. Sungguh, manusia itu sangat zalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah) (34). (QS. Ibrāhīm [14]: 32-34) d. QS. al-Mulk [67]: 1-4

                       

(30)

23                               

Mahasuci Allah yang menguasai (segala) kerajaan, dan

Dia Mahakuasa atas segala sesuatu (1). Yang

mencipta-kan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang terbaik amalnya. Dan Dia Maha

Perkasa, Maha Pengampun (2). Yang menciptakan

tujuh langit berlapis-lapis. Tidak akan kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pengasih. Maka lihatlah sekali lagi, adakah kamu

lihat sesuatu yang cacat? (3). Kemudian ulangi

pandangan (mu) sekali lagi (dan) sekali lagi, niscaya

pandanganmu akan kembali kepadamu tanpa

menemu-kan cacat dan ia (pandanganmu) dalam keadaan letih (4). (QS. al-Mulk [67]: 1-4)

(31)
(32)

25

7

. AKHIRAT a. QS. Qāf [50]: 19-23                                               

Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang dahulu hendak kamu hindari

(19). Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari yang di

ancamkan (20). Setiap orang akan datang bersama

(malaikat) penggiring dan (malaikat) saksi (21).

Sungguh, kamu dahulu lalai tentang (peristiwa) ini, maka Kami singkapkan tutup (yang menutupi) matamu, sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat

tajam (22). Dan (malaikat) yang menyertainya berkata,

“Inilah (catatan perbuatan) yang ada padaku.” (23).

(QS. Qāf [50]: 19-23) b. QS. al-A’lā [87]: 14-17                   

Sungguh beruntung orang yang menyucikan diri

(dengan beriman) (14). Dan mengingat nama Tuhan

(33)

26

kafir) memilih kehidupan dunia (16). Padahal

kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih kekal (17).

(QS. al-A‟lā [87]: 14-17) c. QS. al-Ḥadīd [57]: 20

                                          

Ketahuilah, sesungguhnya kehidupan dunia itu hanya-lah permainan dan sendagurauan, perhiasan dan saling berbangga di antara kamu serta berlomba dalam kekayaan dan anak keturunan, seperti hujan yang tanam-tanaman nya mengagumkan para petani; kemudian (tanaman) itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak

lain hanyalah kesenangan yang palsu. (QS. al-Ḥadīd

(34)

27

8

. AKAL dan NAFSU

a. QS. al-Kahfi [18]: 28

                                

Dan bersabarlah engkau (Muhammad saw) bersama orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) meng-harapkan perhiasan kehidupan dunia; dan janganlah engkau mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalai-kan dari mengingat Kami, serta menuruti keinginannya

dan keadaannya sudah melewati batas. (QS. al-Kahfi

[18]: 28) b. QS. Ṣād [38]: 26                                

(Allah SwT berfirman), “Wahai Daud! Sesungguhnya engkau Kami jadikan khalifah (penguasa) di bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu, karena akan menyesatkan engkau dari jalan

(35)

28

Allah. Sungguh, orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka

melupakan hari perhitungan.” (QS. Ṣād [38]: 26)

c. QS. al-Qaṣaṣ [28]: 50                           Maka jika mereka tidak menjawab (tantanganmu), maka ketahuilah bahwa mereka hanyalah mengikuti keinginan mereka. Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti keinginannya tanpa mendapat petunjuk dari Allah sedikit pun? Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang

zalim. (QS. al-Qaṣaṣ [28]: 50) d. QS. Āli ‘Imrān [3]: 190-191                                  

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda

(kebesaran Allah) bagi orang yang berakal (190).

(36)

29

berdiri, duduk atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Mahasuci

Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (191).

(37)

30

Studium General:

Implementasi Pendidikan Islam di Era Modern

Narasumber: Prof. Dr. H. E. Syibli Syarjaya, LML, MM (Guru Besar IAIN Sultan Maulana Hasanuddin Serang Banten)

Moderator: Maddais, S.Pd.I., MA (Dosen Tetap STIT Ya‟mal Tangerang)

(38)

31

9

. ILMU PENGETAHUAN a. QS. al-Mujādalah [58]: 11                                 

Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepadamu: Berlapang-lapanglah kamu dalam majelis, maka hendaklah kamu berlapang-lapang, niscaya Allah melapangkan untukmu. Dan apabila dikatakan: Bangunlah (berdirilah) kamu, maka hendaklah kamu berdiri, niscaya Allah meninggikan orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang berilmu beberapa derajat. Allah Maha amat Mengetahui

apa-apa yang kamu kerjakan. (QS. al-Mujādalah [58]: 11)

b. QS. al-Zumar [39]: 9                           

(Apakah kamu orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, karena takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakan-lah, “Apakah sama orang-orang yang mengetahui

(39)

32

dengan orang-orang yang tidak mengetahui?” Sebenar-nya haSebenar-nya orang yang berakal sehat yang dapat

menerima pelajaran. (QS. al-Zumar [39]: 9)

c. QS. al-Taubah [9]: 122                        

Dan tidak sepatutnya orang-orang mukmin itu semua-nya pergi (ke medan perang). Mengapa sebagian dari setiap golongan di antara mereka tidak pergi untuk memperdalam pengetahuan agama mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka

telah kembali, agar mereka dapat menjaga dirinya. (QS.

al-Taubah [9]: 122) d. QS. al-‘Alaq [96]: 3-7                       

Bacalah, dan Tuhanmu-lah Yang Mahamulia (3). Yang

mengajar (manusia) dengan pena (4). Dia mengajarkan

manusia apa yang tidak diketahuinya (5). Sekali-sekali

tidak! Sungguh, manusia itu benar-benar melampaui

batas (6). apabila melihat dirinya serba cukup (7). (QS.

Figur

Memperbarui...

Referensi

Memperbarui...

Related subjects :