1
BAB I
PENDAHULUAN 1.1 Latar BelakangSumberdaya air adalah salah satu sumberdaya alam yang memiliki peran utama dalam kehidupan makhluk hidup. Makhluk hidup di bumi dapat dikatakan bergantung besar pada air guna kelangsungan hidupnya, seperti tumbuhan membutuhkan air untuk proses fotosintesis, hewan membutuhkan air untuk minum bahkan ada yang sebagian untuk habitatnya, dan tidak terkecuali manusia sangat membutuhkan air untuk tubuh dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari. Secara kuantitas, ketersediaan air di permukaan bumi tidak mengkhawatirkan. Hampir 71 % di permukaan bumi dapat dikatakan tertutupi oleh keberadaan air yang sebagian besar berupa lautan/air asin (Kodoatie, 2010). Jumlahnya yang relatif tetap, dapat dikatakan air termasuk sumberdaya yang dapat diperbaharui, hanya saja dapat berubah menurut ruang dan waktu.
Sumberdaya air menurut keberadaannya dikelompokkan menjadi tiga sumber air, yakni air permukaan, air meteorologis, dan airtanah. Ketersediaan air permukaan dan air meteorologis cenderung lebih dipengaruhi oleh musim. Kedua sumber air ini akan melimpah di musim penghujan dan berkurang di musim kemarau. Sementara, ketersediaan airtanah relatif tidak dipengaruhi oleh musim sehingga secara kapasitas ketersediaan, airtanah lebih dapat diunggulkan dibandingkan kedua sumber air lainnya.
Airtanah merupakan salah satu komponen dalam satu sistem siklus hidrologi. Bersamaan tetesan air hujan yang terserap dalam tumbuhan lalu menjadi aliran permukaan dan input tampungan air, sebagian presipitasi juga terserap ke dalam tanah yang kemudian menjadi input utama airtanah (Riyadi, dkk. 2007). Air hujan yang meresap ke dalam tanah umumnya melalui proses infiltrasi hingga masuk dalam zona jenuh air atau biasa dikenal dengan lapisan akuifer, tempat airtanah dapat ditemukan. Pergerakan airtanah relatif lambat
2
dikarenakan pergerakannya yang di dalam ruang antar butir-butir tanah lapisan tanah dan retakan-retakan batuan (Wahyudi, 2009).
Peristiwa evaporasi di musim kemarau yang terjadi pada air permukaan memengaruhi besarnya volume air permukaan, sehingga menjadikan airtanah sebagai prioritas utama sumber air pada musim kemarau. Airtanah dibandingkan sumberdaya air lainnya, memiliki kuantitas yang jauh lebih besar dibandingkan air permukaan tawar, yakni sebesar 98,89% dari total air tawar di bumi 10.665.110 km3 (di luar es di kutub, salju, dan es lainnya) (Kodoatie, dkk. 2010). Sementara, sisanya 1,11 % adalah total air permukaan di dunia yang terdiri dari danau tawar (0,85 %), rawa/payau (0,11 %), sungai (0,02 %), air biologi (0,01 %), dan air udara (0,12 %) (Rincian pada Tabel 1.1). Kuantitas yang besar sangat membantu untuk pemenuhan kebutuhan tetapi kebutuhan air tidak hanya secara fisik saja, untuk keperluan konsumsi seperti air minum, manusia juga mempertimbangkan kualitasnya (Davie, 2008).
Tabel 1.1 Jumlah Air Tawar di Dunia
No. Tempat Volume
(10³ km³) Persentase Volume (%) Total % 1 Airtanah Tawar 10530 98.73 98.89 2 Airtanah Dangkal 16.5 0.15
3 Danau Air Tawar 91 0.85
1.11
4 Rawa/Payau 11.47 0.11
5 Sungai 2.12 0.02
6 Air Biologi 1.12 0.01
7 Air di Udara 12.9 0.12
Total Air Tawar 10665.11 100 100
Sumber: Kodoatie, R.J., 2010
Airtanah secara kualitas juga dinilai lebih baik dibandingkan kualitas air permukaan. Keberadaannya yang di bawah tanah membuat kecil kemungkinan tercemar langsung oleh lingkungan dan aktivitas manusia (Miswadi, 2005). Akan tetapi, masa waktu tinggal yang lama dengan adanya batuan di sekitarnya, tidak dapat dihindari menjadikan airtanah terus-menerus mengalami kontak dengan batuan disekitarnya. Kondisi ini lama-kelamaan dapat memengaruhi kandungan
3
airtanah dengan mengandung konsentrasi senyawa kimia yang cukup tinggi, seperti unsur kalsium, kalium, natrium, magnesium, klorida, sulfat, bikarbonat, dan unsur mayor lainnya (Purnama, 2010). Kandungan senyawa kimia airtanah di setiap wilayah dapat berbeda-beda. Hal ini tidak lain karena adanya pengaruh relief dan jenis batuan yang dilalui air saat mengisi ruang zona jenuh.
Karakteristik relief yang khas akibat bekerjanya struktur kulit bumi dan proses geomorfologi di setiap batuan yang menyusunnya dapat membentuk bentukan muka bumi yang khas atau tidak lain sering disebut sebagai bentuklahan. Bentuklahan termasuk dalam unit satuan terkecil susunan geomorfologi. Kenampakan-kenampakan yang terbentang di muka bumi sebagai fenomena hasil proses geomorfologi sudah dapat dikatakan sebagai satuan bentuklahan. Proses geomorfologi yang berbeda akibat material penyusun yang berbeda, akan membentuk satuan bentuklahan yang berbeda pula dengan karakteristik yang khas di setiap bentuklahan, termasuk dsitribusi agihan airtanah di masing-masing bentuklahan (Santosa, 2010). Karakteristik bentuklahan yang khas secara tidak disadari juga memengaruhi karakteristik airtanah yang ada sehingga pada masing-masing bentuklahan juga memiliki perbedaan kualitas airtanah yang signifikan (Santosa, 2010). Seperti halnya bentuklahan di Kabupaten Cilacap, dengan beragamnya bentuklahan yang terdapat di Kabupaten tersebut, besar kemungkinan distribusi dan variasi kualitas airtanah di masing-masing bentuklahan sangat spesifik.
Kabupaten Cilacap merupakan salah satu kabupaten di Jawa Tengah yang terletak di bagian barat dan selatan Provinsi Jawa Tengah. Kabupaten dengan kategori terluas ini, memiliki luasan wilayah seluas 225.360,840 Hektar (termasuk Pulau Nusakambangan seluas 12.080 Hektar). Kabupaten Cilacap memiliki kondisi topografi yang beragam. Bagian barat laut dan utara, Kabupaten Cilacap didominasi oleh kawasan pegunungan dengan ketinggian yang mencapai lebih dari 100 meter di atas permukaan air laut (dpal). Selanjutnya ke arah tenggara, timur, dan selatan, topografi Cilacap berupa dataran miring landai hingga dataran rendah dengan elevasi kurang dari 100 meter dpal (Perda Cilacap, 2008). Ketidakseragaman topografi ini tentunya juga membuat adanya persebaran
4
bentuklahan di Kabupaten Cilacap dengan hasil deliniasi ditemukan 4 bentuklahan, antara lain bentuklahan marin, fluvial, struktural, dan denudasional yang tentunya memiliki karakteristik yang khas dalam proses perkembangannya, termasuk kondisi kualitas airtanahnya.
1.2 Rumusan Masalah
Kenampakan bentuklahan dapat dibedakan dengan mendasarkan pada karakteristik yang memengaruhinya, seperti relief dan litologinya. Litologi yang mencakup material penyusun/batuan dari suatu daerah secara tidak sadar turut memengaruhi adanya perbedaan kualitas airtanah dari setiap bentuklahan. Adanya kontak antara airtanah yang relatif sering dengan batuan penyusun membuat airtanah banyak mengandung senyawa kimiawi yang dapat memengaruhi kualitasnya, baik secara fisik maupun kimia.
Analisis kualitas airtanah sangat diperlukan untuk kepentingan manusia. Hal ini dikarenakan standar dari kegunaan airtanah tersebut sangat memengaruhi fungsi peruntukkan airtanah untuk suatu kepentingan dan penggunaan, misal untuk air minum, air bersih, air irigasi, dan air perikanan. Oleh karena itu, pengujian kualitas airtanah sangat penting dilakukan bersamaan analisis berdasarkan baku mutu air.
Kabupaten Cilacap memiliki topografi yang beragam, terdiri dari datar, landai dan pegunungan. Topografi datar hingga landai umumnya berada pada bagian selatan, tenggara, dan timur Kabupaten Cilacap dengan kenampakan daerah pesisir dan pengaruh sungai. Topografi landai hingga bergelombang cenderung di wilayah bagian tengah Kabupaten Cilacap, dan topografi pegunungan berada di bagian barat laut dan utara Kabupaten Cilacap (Perda Cilacap, 2008). Ketidakseragaman topografi tersebut, tentunya membuat adanya ketidakseragaman bentuklahan yang tersebar di Kabupaten Cilacap dengan karakteristik yang unik, aspek kualitas airtanah salah satunya. Airtanah yang memiliki peranan besar dalam pemenuhan kebutuhan manusia dinilai sangat perlu diuji kualitasnya, mengingat manusia tidak hanya mempertimbangkan kuantitas, melainkan juga mempertimbangkan kualitas dalam pemanfaatannya. Oleh karena
5
itu, dengan pertimbangan rumusan masalah tersebut dirumuskan beberapa pertanyaan penelitian sebagai berikut.
1. Bagaimana kualitas airtanah baik secara fisik maupun kimia di setiap bentuklahan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah?
2. Bagaimana tipe kimia airtanah antara bentuklahan yang satu dengan yang lainnya di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah?
3. Bagaimana kelayakan kualitas airtanah di Kabupaten Cilacap untuk penggunaan dan pemanfaatannya oleh masyarakat?
Berdasarkan latar belakang dan rumusan penelitian di atas, maka penelitian yang akan dilakukan ini berjudul “Kajian Kualitas Airtanah Berdasarkan Bentuklahan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah”.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian yang akan dicapai dari penelitian ini, antara lain:
1. Menguji dan menganalisis kualitas airtanah fisik dan kimia (unsur dominan) di setiap bentuklahan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah. 2. Membandingkan tipe kimia airtanah di setiap bentuklahan
Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
3. Mengevaluasi kelayakan kualitas airtanah di Kabupaten Cilacap sesuai peruntukkannya berdasarkan baku mutu air peraturan pemerintah dan peraturan menteri kesehatan.
1.4 Manfaat Penelitian
Manfaat yang didapat dari penelitian ini, antara lain:
1. Mengembangkan ilmu geografi dalam bidang hidrologi airtanah. 2. Memperoleh informasi dan pengetahuan baru mengenai kualitas
airtanah, khususnya unsur dominan (mayor) yang tersebar di masing-masing bentuklahan Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
3. Menemukan keterkaitan kualitas airtanah dengan persebaran bentuklahan.
6
4. Memberikan informasi kepada masyarakat Kabupaten Cilacap dalam penggunaan dan pemanfaatan airtanah yang tepat sesuai dengan baku mutu air Provinsi Jawa Tengah.
1.5 Telaah Pustaka 1.5.1 Siklus Hidrologi
Siklus hidrologi adalah suatu proses hidrologi yang memuat parameter-parameter air dari satu set masukan (input) hingga menjadi satu set keluaran (output) dalam satu sistem. Serangkaian proses ini saling berkaitan satu sama lainnya dengan proses yang runtut. Bermula dari matahari yang sebagai sumber energi memicu terjadinya proses penguapan pada pepohonan (transpirasi), muka tanah, dan permukaan air (evaporasi) (Asdak, 2010). Kemudian uap-uap ini akan terkumpul di udara menjadi awan (kondensasi). Sekumpulan awan dapat menjadi air hujan saat uap-uap yang terkumpul di udara sudah mencapai kondisi jenuh, proses turunnya air ke permukaan ini (air hujan) dikenal sebagai proses transpirasi.
Gambar 1.1 Siklus Hidrologi
(Sumber: https://surososipil.files.wordpress.com/2008)
Air hujan yang jatuh di permukaan bumi, Harto (1993) membaginya dalam dua jenis, yakni air yang mengalir di permukaan menjadi air limpasan
(overland flow) dan air yang menjadi input sungai, danau, waduk, dan laut.
7
masuk dalam cekungan-cekungan tanah yang lama-kelamaan air akan hilang. Hal ini terjadi karena adanya proses terserapnya air oleh tanah atau yang dikenal dengan proses infiltrasi. Air yang terserap tanah ini dapat dibedakan menjadi 2 aliran yang ditentukan oleh struktur geologinya, antara lain aliran mendatar/aliran antara dan aliran airtanah.
1.5.2 Airtanah
Airtanah merupakan air yang berada di bawah permukaan tanah, yang dapat ditemukan pada lapisan tanah yang bersifat porus dan mampu melakukan air (Effendi, 2003). Menurut Purnama (2010) airtanah adalah air di bawah permukaan tanah yang berada pada zona jenuh air dengan tekanan hidrostatis yang sama atau lebih besar dari tekanan udara. Airtanah adalah air di dalam tanah yang bersumber dari hasil resapan air hujan (Warlina, 1999). Kemampuan air yang meresap dalam tanah di setiap permukaan dapat berbeda-beda. Hal ini tergantung tingkat kelulusan air (permeabilitas) yang dimiliki tanah/jenis batuan yang menyusun permukaan tersebut (Warlina, 1999).
Penggunaan airtanah sebagai sumberdaya air utama memiliki keuntungan dibandingkan sumber air lainnya, antara lain: (Purnama, 2010)
1. Segi kualitas, airtanah jauh lebih baik dibandingkan air permukaan dan air meteorologis, selain itu ketersediaannya tidak terpengaruh oleh musim.
2. Adanya perubahan waktu tidak berpengaruh besar pada perubahan kualitas airtanah.
3. Perolehan airtanah lebih mudah dan tidak mudah mengalami evaporasi sehingga memiliki cadangan yang besar di musim kemarau.
4. Persebaran air tanah sangat luas sehingga menghemat biaya distribusi. 5. Letaknya yang berada di bawah permukaan tanah sehingga lahan di
atasnya dapat dimanfaatkan untuk keperluan dan kebutuhan manusia seperti permukiman, pertanian, dan industri.
8
Air yang dapat terserap ke dalam tanah ditampung pada lapisan batuan yang dapat menyimpan airtanah, lapisan ini sering dikenal sebagai lapisan akuifer. Lapisan akuifer memiliki sifat dapat menyimpan/menahan dan melalukan air. Terdapat beberapa formasi geologi yang dapat berperan sebagai akuifer (Purnama, 2010), antara lain:
1. Endapan Aluvial, sebagian besar airtanah terdapat pada formasi ini yang tidak lain tersusun atas material lepas seperti pasir, kerikil, dan batu pasir yang poros. Akuifer endapan aluvial berdasarkan cara terbentuknya dibagi menjadi 4 kategori, yaitu daerah aliran air (water
courses), lembah yang tertimbun (abandoned or buried valleys), daerah
dataran (extensive plain), dan lembah antar gunung (intermountain
valleys). Daerah aliran air tersusun atas endapan aluvial yang terletak di
dataran banjir sungai. Material lepas membuat kuantitas infiltrasi mensuplai airtanah menjadi tinggi, terlebih apabila muka airtanah sungai lebih tinggi dibandingkan airtanah, kandungan airtanah di daerah ini akan cukup besar (Todd, 1980). Lembah yang tertimbun mulanya merupakan bagian dari badan sungai yang kini menjadi lembah bekas sungai akibat adanya perubahan lintasan sungai. Bagian ini juga memiliki potensi airtanah yang cukup besar. Daerah dataran adalah daerah dengan material sedimen yang masih belum mampat
(unconsolidated) dengan masukan airtanah yang berasal dari perkolasi
air hujan. Lembah antar gunung berpotensi airtanah tinggi karena keterdapatan material batuan lepas dari proses erosi di sekitar pegunungan, seperti material kerikil dan pasir dalam jumlah yang sangat banyak (Purnama, 2010).
2. Batu Gamping, memiliki variasi densitas, porositas, dan permeabilitas batuan yang dipengaruhi oleh derajat kemampatan dan perkembangan rekahan. Rekahan yang sebagai kontrol proses karstifikasi dapat membentuk jaringan sungai bawah tanah. Semakin tua umur batuan gamping, rekahan dan rongga-rongga yang terbentuk akibat proses
9
pelarutan semakin banyak sehingga batu gamping dapat berfungsi sebagai akuifer yang produktif (Todd, 1980).
3. Batuan Volkanik, seperti pada basalt yang memiliki pori-pori batuan hasil dari pengembangan bukaan gelembung-gelembung gas oleh lava dingin sehingga dapat membentuk akuifer dengan tingkat kelulusan/kemampuan melakukan air yang tinggi (Purnama, 2010). 4. Batu Pasir dan konglomerat, terbentuk dari sedimen lepas butir
mineral dan pecahan batuan berukuran pasir yang mengalami proses pemadatan, konsolidasi, dan sementasi yang akhirnya mengeras. Lingkungan pembentukan batu pasir cenderung terletak di daerah banjir, delta, sepanjang garis pantai, dan aeolian (Kodoatie, 2010). Batu pasir dapat membentuk akuifer apabila terdapat retakan pada batuan sehingga porositas dan hasil air dapat bertambah banyak (Purnama, 2010).
5. Batuan Beku dan Metamorf, umumnya merupakan akuifer yang jelek karena jenis batuan yang kedap air (impermeable) dan pejal relatif tidak lulus air. Akan tetapi, apabila kedua batuan sudah mengalami pelapukan baik secara kimiawi (dekomposisi) maupun mekanis (menjadi rekahan), batuan dapat bertindak sebagai akuifer meskipun hanya dijumpai sedikit air, namun demikian dapat digunakan untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga (Purnama, 2010).
Lapisan akuifer menurut Todd (1980) dapat dikatakan sebagai waduk di bawah airtanah dengan distribusi dan luasan wilayah yang luas. Imbuhan airtanah dapat berasal dari proses natural infiltrasi air hujan atau aliran permukaan yang masuk ke dalam tanah karena pengaruh gravitasi. Berdasarkan struktur batuan yang menyusunnya, Todd (1980) mengelompokkan tipe akuifer sebagai berikut:
1. Akuifer bebas (unconfined aquifer), atau sering disebut dengan akuifer tidak tertekan umumnya ditemukan pada kedalaman dangkal kurang dari 40 meter. Bagian bawah akuifer dibatasi oleh lapisan kedap air dan bagian muka airnya dibatasi oleh muka airtanah yang disebut water
10
table atau muka freatik. Tinggi dan kemiringan permukaan airtanah
(gradien hidrolik) ditentukan oleh luas daerah imbuhan airtanah
(recharge), luas daerah pemanfaatan air tanah (discharge), laju
pemompaan sumur dangkal, dan permeabilitas akuifer (Purnama, 2010).
2. Akuifer tertekan (confined aquifer), atau juga dikenal akuifer artesian merupakan akuifer yang terletak di antara dua lapisan kedap air (bagian atas dan bawahnya) sehingga memiliki tekanan lebih besar dari tekanan atmosfer (Riyadi, dkk., 2007). Muka air akuifer tertekan disebut sebagai muka piezometrik. Apabila sumur yang dibuat mencapai lapisan akuifer ini, airtanah dapat memancar keluar ke permukaan tanah sehingga disebut air artesis (Todd, 1980).
Gambar 1.2 Akuifer Bebas dan Akuifer Tertekan (Sumber: https://3.bp.blogspot.com/skema.lapisan.airtanah)
3. Akuifer bocor (leaky aquifer), atau disebut juga akuifer semi tertekan (semiconfined aquifer) sering dijumpai pada daerah lembah aluvial, pembentukan basin, dan dataran yang memiliki lapisan atas atau bawahnya bersifat akuitard atau setengah kedap air. Pemompaan pada akuifer bocor untuk mendapatkan air dapat melalui dua jalan, aliran horizontal dalam akuifer dan aliran vertikal di dalam lapisan akuitard (Purnama, 2010).
11
4. Akuifer ideal (idealized aquifer), umumnya akuifer ini tidak mungkin dijumpai di alam. Akan tetapi, untuk kepentingan perhitungan simpanan (storage) dan aliran airtanah, akuifer diasumsikan sebagai akuifer ideal, yakni akuifer yang memiliki material homogen dan permeabilitas sama ke segala arah/isotropis (Purnama, 2010).
Ketersediaan airtanah di setiap daerah dapat dikatakan tidak selalu sama. Adanya perbedaan karakteristik fisik daerah yang berbeda-beda menjadi penyebab terdapat daerah yang berpotensi airtanah tinggi, tetapi ada juga daerah yang memiliki potensi airtanah rendah. Faktor-faktor penyebab tersebut diantaranya kemiringan lereng, tinggi rendahnya curah hujan, banyak sedikitnya vegetasi, serta derajat porositas dan permeabilitas batuan (Purnama, 2010).
Banyak faktor yang memengaruhi dinamika proses pembentukan airtanah dan karakteristik airtanah, menurut Hem (1970), Todd (1980), dan Fetter (1988) dalam Santosa dan Adji (2014) faktor-faktor tersebut dirumuskan antara lain:
1. Genesis, merupakan faktor utama yang menunjukkan asal usul proses geomorfologi yang berpengaruh pada pembentukan bentuklahan di suatu wilayah dengan sifat yang khas.
2. Lingkungan pengendapan tempat batuan dasar mengalami proses pengendapan, yakni sebagai penentu pembentukan stratigrafi akuifer yang berasal dari struktur dan ukuran batuan hasil proses sedimentasi. Proses pengendapan yang terjadi seperti pada lingkungan sungai, waduk, danau, lembah, dan laut dangkal dapat berpengaruh besar pada sistem akuifer dan hidrogeokimia airtanah bebas yang bervariasi.
3. Komposisi mineral penyusun akuifer, yang menentukan proses hidrogeokimia airtanah, besar dan kecilnya kandungan kimia dalam airtanah.
4. Proses dan pola pergerakan airtanah, pergerakan airtanah di dalam akuifer yang mengalir mulai dari daerah imbuh di hulu hingga daerah
12
pelepasan di bagian hilir dapat memengaruhi sifat hidrogeokimia airtanah dengan mineral batuan yang banyak terlarut bersama airtanah. 5. Lamanya airtanah berada atau terjebak dalam lapisan batuan penyusun
akuifer, dapat menyebabkan lamanya airtanah kontak dengan batuan sehingga terjadi kemungkinan-kemungkinan proses pelarutan mineral batuan atau pertukaran ion-ion terlarut yang berpengaruh pada karakteristik airtanah, khususnya kualitas airtanah.
Menurut Santosa (2010), karakteristik yang khas di setiap bentuklahan secara tidak langsung juga dapat membawa pengaruh pada karakteristik airtanah. Proses geomorfologi yang berbeda dengan material penyusun yang berbeda, akan membentuk satuan bentuklahan yang berbeda pula. Oleh karena itu, satuan bentuklahan yang berbeda dapat dikorelasikan akan memiliki karakteristik airtanah yang berbeda pula, khususnya kualitas airtanah, baik kualitas fisik maupun kimia.
Air tanah memiliki karakteristik pergerakan air yang sangat lambat dibandingkan pergerakan air permukaan, yakni hanya berkecepatan berkisar 10-10 – 10-3 m/detik. Gerakan air di dalam lapisan tanah diatur oleh 3 proses fisik, antara lain pemasukan, transmisi, dan penyimpanan. Proses pemasukan menurut Indarto (2010), masukan airtanah umumnya berasal dari air permukaan yang masuk ke dalam penyimpanan airtanah (groundwater
storage) dengan cara pengisian secara alami oleh proses presipitasi, atau
proses masuknya air melalui media tanah (infiltrasi). Transmisi adalah proses lanjutan pergerakan air secara horizontal dan vertikal (perkolasi) setelah melewati proses pergerakan pada zona akar (infiltrasi). Penyimpanan air dapat terjadi pada setiap profil tanah yang ditunjukkan dengan adanya kadar air dalam tanah atau keadaan lembap pada tanah. Waktu tinggal/simpan airtanah di akuifer cukup lama dapat mencapai puluhan hingga ratusan tahun. Kondisi ini membuat airtanah tidak mudah untuk pulih kembali apabila terdapat zat atau sesuatu yang mencemarinya (Kodoatie,dkk. 2010).
13 1.5.3 Bentuklahan (Landform)
Indonesia merupakan Negara dengan berbagai kenampakan alam yang unik dan khas. Iklim tropis menjadi salah satu faktornya. Beriklim tropis membuat Indonesia memiliki curah hujan yang tinggi. Hal ini tidak lain memicu dan mempercepat terjadinya proses eksogen seperti erosi, pelapukan, dan gerak massa batuan di setiap wilayah Indonesia. Selain itu, Indonesia juga tersusun atas lempeng yang aktif, antara lain Lempeng Pasifik, Australia, dan Eurasia. Kondisi ini memicu terjadinya proses endogen yang menyebabkan kenampakan permukaan di Indonesia menjadi sangat kompleks dengan karakkteristik yang unik dan khas.
Bentuklahan (landform) adalah bentukan alam di permukaan bumi dengan keadaan, ciri, dan sifat yang khas akibat adanya proses geomorfik tertentu pada material penyusun menurut skala ruang dan waktu tertentu (Suharini, dkk. 2014). Menurut Sunardi (1985), bentuklahan adalah kenampakan di permukaan bumi yang terbentuk akibat adanya proses-proses geomorfologis yang bekerja di permukaan bumi, meliputi tenaga geomorfologis yang mampu mengubah secara fisis maupun khemis bentukan di permukaan bumi. Keterdapatan bentukan alam tersebut tidak lain karena adanya faktor-faktor penentu yang membentuknya dan memengaruhinya, yang meliputi keadaan dan sifat topografi, litologi, geologi, stratigrafi, dan proses alam (Santosa dan Muta’ali, 2014), sehingga berdasarkan pengertian di atas, dapat dirumuskan faktor-faktor penentu bentuklahan (Lf), yakni:
Lf = f (T, P, S, M, K)……….(1.1) Keterangan: T : topografi P : proses alam S : struktur geologi M : material batuan
14
Karakteristik dan faktor penentu ini maka dapat dijadikan dasar sebagai pengelompokkan bentuklahan yang sesuai dengan kesamaan, asal mula terjadinya, dan proses perkembangannya (Sunardi, 1985).
Menurut Sunardi (1985), adanya variasi klasifikasi bentuklahan pada dasarnya memiliki tujuan yang sama, yakni sama-sama berusaha menyederhanakan bentukan di permukaan bumi yang sangat variatif dan kompleks menjadi satuan-satuan dengan sifat dan karakterisitk yang sama. Persamaan sifat dan karakteristik di sini yang dimaksud Sunardi (1985) dicerminkan dalam bentuk 3 sifat dan karakterisitk, antara lain:
1. Struktur Geomorfologis, menggambarkan asalmula dan genesa terbentuknya kenampakan bentuklahan tersebut dengan informasi yang meliputi morfologi, morfogenetik, dan bahkan sampai pada informasi morfokronologik.
2. Proses Geomorfologis, menggambarkan informasi mengenai cara atau proses pembentukan bentuklahan tersebut yang terdiri dari informasi morfografik, morfogenetik, dan morfokronologi.
3. Kesan Topografik, memberikan informasi yang morfometrik dengan gambaran bentuk/konfigurasi permukaan bentuklahan tersebut.
Struktur geologi yang berbeda di setiap daerah menjadi ciri penting dalam susunan batuan dan pembentukan relief. Bentuklahan di daerah volkanik akan berbeda susunan batuannya dengan daerah yang batuannya tersusun atas batuan sedimen maupun metamorf. Begitu pula dengan batuan penyusun di bentuklahan fluvial yang terdiri atas batuan endapan, berbeda material penyusunnya dengan daerah yang terdiri atas batuan kapur. Bentuklahan fluvial yang tersusun atas batuan sedimen akan cenderung memiliki relief yang datar, sementara batuan beku lebih banyak ditemukan pada relief curam, terjal, dan batuan metamorf dapat ditemukan di daerah transisi antara kedua relief tersebut (Suharini, dkk. 2014).
Menurut Suharini, dkk. (2014) secara garis besar bentuklahan asal proses terjadinya dikelompokkan dalam 8 bentuklahan, antara lain bentuklahan asal volkanik, struktural, fluvial, denudasional, marin, solusional,
15
eolin, dan glasial. Sementara, Verstappen dalam Sunardi (1985) mengklasifikasikan bentuklahan menjadi 10 kenampakan yang didasarkan pada asalmula atau genesa dari terbentuknya bentuklahan, dengan penggolongan 2 kelas bentuklahan atas dasar struktur geologis dan proses endogen, sedangkan 8 kelas bentuklahan lainnya mendasarkan pada proses eksogen dan proses-proses yang berpengaruh terhadap pembentukan bentuklahan tersebut. Lebih jelasnya, 10 kelas bentuklahan dirincikan sebagai berikut:
1. Bentuklahan Asal Volkanik
Fenomena dan kenampakan dari bentuklahan volkanik dipengaruhi oleh aktivitas gunungapi. Umumnya pada bentuklahan ini tersusun atas batuan beku yang berasal dari intrusi magma dan akumulasi material piroklastik. Bentukan lahan dari proses ini secara sederhana dibagi menjadi dua bentukan: bentukan eksplosif yang terdiri dari krater letusan hingga kerucut gunungapi dan bentukan effusif yang tergantung pada tingkat keasaman lava yang mengalir ke luar.
2. Bentuklahan Asal Struktural
Bentuklahan ini dipengaruhi oleh proses tektonik seperti patahan, pengangkatan, dan pelipatan. Bentuklahan struktural dalam berbagai hal erat kaitannya dengan pelapisan sedimen yang memiliki tingkat ketahanan yang berbeda terhadap erosi sehingga dapat ditemukan bentuklahan gabungan antara struktural dan denudasi, seperti perbukitan struktural terdenudasi.
3. Bentuklahan Asal Fluvial
Bentuklahan fluvial cenderung di topografi datar dengan material penyusun berupa sedimen. Bentuklahan ini terbentuk karena adanya pengaruh sungai yang berhubungan dengan daerah-daerah penimbunan seperti dataran aluvial, dataran banjir, dan lembah-lembah sungai besar.
16 4. Bentuklahan Asal Denudasional
Bentuklahan Denudasional adalah bentuklahan yang terbentuk pada daerah yang sangat luas dengan kondisi berbatuan lunak dan iklim yang basah sehingga erat kaitannya dengan terjadinya proses pelapukan dan erosi. Bentuklahan ini memiliki waktu proses yang lama dan tidak dapat dirasakan secara langsung.
5. Bentuklahan Asal Marin
Bentuklahan marin adalah bentuklahan yang terbentuk karena adanya pengaruh angin laut, tenaga gelombang laut, dan pasang surut laut. Bentukan-bentukan lahan marin dapat berhubungan dan berpengaruh dengan bentuk-bentuk fluvial, seperti bentukan lahan fluviomarin yang berada pada pertemuan muara sungai dengan laut.
6. Bentuklahan Asal Solusional
Bentuklahan yang juga biasa disebut sebagai bentuklahan Karst terjadi karena adanya proses pelarutan pada batuan yang menyusunnya. Material penyusun di bentuklahan asal ini sangat khas yakni bersifat mudah larut, seperti batuan gamping dan kapur.
7. Bentuklahan Asal Eolin
Bentuklahan ini di Indonesia cenderung terbentuk di daerah laut karena besarnya tenaga angin di daerah tersebut. Akumulasi besarnya angin ditentukan oleh ukuran butir dari materialnya untuk dapat membentuk kenampakan seperti bentangan pasir dan berbagai bentuk gumuk pasir seperti barchans, parabolic, traversal, dan longitudinal. 8. Bentuklahan Asal Glasial
Bentukan glasial yang berupa hamparan es hanya terdapat pada daerah bertemperatur di bawah -4oC yang pada saat ini ditandai dengan lembah-lembah gletser. Bentuklahan ini di Indonesia hanya dapat ditemukan di puncak-puncak Pegunungan Jaya Wijaya, Irian Jaya. 9. Bentuklahan Asal Organis
Bentuklahan yang terjadi karena dipengaruhi oleh aktivitas makhluk hidup, seperti rumah semut.
17 10. Bentuklahan Asal Antropogenik
Bentuklahan yang merupakan hasil dari aktivitas/ rekayasa manusia, seperti wilayah perkotaan, pulau buatan, dan pantai reklamasi.
1.5.4 Kualitas Airtanah
Airtanah lebih banyak dimanfaatkan oleh penduduk sebagai pemenuhan kebutuhan dalam kehidupannya. Karena selain kualitasnya yang lebih baik dibandingkan air di permukaan, air tanah juga memiliki agihan dan luasan yang lebih luas dibandingkan air permukaan. Selain itu, keberadaan airtanah yang terletak di bawah permukaan juga dapat memberikan keuntungan karena lahan di atas permukaan airtanah dapat dimanfaatkan untuk aktivitas manusia, seperti kegiatan pertanian, permukiman, dan industri (Sudarmadji, 2006).
Permintaan akan kebutuhan air oleh manusia tidak hanya mengandalkan secara kuantitas saja, melainkan juga mempertimbangkan kualitasnya, termasuk pertimbangan masyarakat untuk memanfaatkan airtanah. Kualitas air menurut Effendi (2003) diartikan sebagai sifat, makhluk hidup, zat, dan komponen lain yang terkandung dalam air.
Pengujian kualitas air dapat dilakukan dengan mendasarkan pada beberapa parameter, antara lain :
1. Parameter Fisika
Parameter yang digunakan untuk menguji kualitas air dalam parameter ini terdiri dari suhu, kekeruhan, rasa dan bau, warna, dan Daya Hantar Listrik (DHL).
a. Suhu/temperatur
Suhu secara umum dinyatakan dalam satuan Fahrenheit (F) atau derajat Celcius (ºC). Pengukuran suhu di lapangan bisa dilakukan dengan menggunakan alat Electrical Conductance meter (EC meter), thermistor dan reversing thermometer (Effendi, 2003). Suhu airtanah dapat semakin tinggi apabila keberadaan airtanah juga semakin dalam (Karmono, dkk.,1978).
18 b. Kekeruhan
Tingkat kekeruhan dapat diukur dengan alat turbidimeter. Kekeruhan berbanding lurus dengan padatan tersuspensi. Apabila angka padatan tersuspensi dalam air tinggi, maka tingkat kekeruhan juga akan tinggi sehingga cahaya yang masuk dalam air akan rendah (Asdak, 2010).
c. Warna
Warna perairan pada umumnya digolongkan menjadi warna sesungguhnya dan warna tampak. Warna yang terjadi di tubuh perairan antara lain disebabkan adanya plankton, bahan-bahan organik, humus, dan unsur-unsur logam. Warna kekuningan atau keruh kemudian setelah lama ada endapan kemerahan yang tampak pada air bisa dikarenakan adanya kandungan besi di dalam air, sedangkan kandungan ion mangan dapat menyebabkan air tampak berwarna kecoklatan atau kehitaman (Effendi, 2003).
d. Rasa dan Bau
Meskipun sifat fisik dari rasa dan bau beragam, ukuran rasa dan bau tidak dapat diskalakan. Untuk penilaian kualitas air, sifat bau langsung dinyatakan saja seperti bau anyir, bau tanah atau lumpur. Adanya bau pada air dapat disebabkan oleh terdapatnya kandungan gas-gas tertentu seperti ammonia (NH4) dalam jumlah yang besar
atau bisa juga karena konsentrasi unsur kimia dalam air yang terlalu tinggi seperti unsur besi (Fe). Sementara, adanya rasa pada air, seperti asin atau payau bisa dikarenakan adanya unsur-unsur garam, atau konsentrasi unsur kimia seperti unsur Natrium Clorida (NaCl) dan Magnesium (Mg) secara berlebihan (Karmono, dkk.,1978).
e. Daya Hantar Listrik (DHL)
Daya Hantar Listrik (DHL) atau konduktivitas merupakan gambaran numerik dari kemampuan air untuk menghantarkan aliran listrik (Effendi, 2003). Tinggi rendahnya nilai DHL
19
ditentukan dari besar kecilnya konsentrasi ion-ion yang terlarut dalam air, sehingga semakin banyak ion terlarut maka kemampuan air untuk meneruskan listrik semakin tinggi. Pengukuran Daya Hantar Listrik dapat dilakukan secara langsung di lapangan dengan menggunakan alat EC meter (Karmono, dkk.,1978). Menurut Mandel (1981) dalam Irawan dan Puradimaja (2013), nilai DHL untuk berbagai jenis air digolongkan sebagai berikut:
Tabel 1.2 Nilai DHL untuk Berbagai Jenis Air
Nilai DHL Tipe Air
0,5 - 5,0 µS Air destilasi (aquades) 5,0 - 30 µS Air hujan
30 - 2.000 µS Air tanah segar 45.000 - 55.000 µS Air laut
≥ 100.000 µS Air garam (Brine) Sumber: Irawan dan Puradimaja (2013) 2. Parameter Kimia
Parameter ini terdiri dari pH, oksigen terlarut, Biochemical Oxygen
Demand (BOD), dan kadar logam.
a. Derajat Keasaman (pH)
Sifat ini berperan untuk menentukan tingkat keasaman atau kebasaan dari air yang dikaji. Pengukuran pH di lapangan umumnya menggunakan alat sederhana, yakni pH stick dengan angka indeks yang biasa digunakan berkisar antara 0 sampai 14. Angka indeks kurang dari 7 berarti kondisi pH perairan asam, angka indeks 7 menunjukkan netral, dan angka indeks lebih dari 7 menunjukkan pH air tergolong basa (Asdak, 2010), atau pengukuran dengan instrument seperti EC meter yang selain dapat mengukur pH juga dapat mengukur DHL dan suhu air.
b. Oksigen terlarut
Jumlah oksigen terlarut di perairan dipengaruhi oleh suhu, tekanan atmosfer, salinitas, dan turbulensi air. Jumlah oksigen terlarut
20
dalam air akan semakin kecil apabila suhu dan ketinggian semakin besar, sedangkan tekanan atmosfer pada kondisi rendah (Effendi, 2003).
c. Biochemical Oxygen Demand (BOD)
Biochemical Oxygen Demand atau biasa disingkat BOD adalah
jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk penghancuran senyawa organik maupun anorganik dalam kurun waktu tertentu. Oleh karena itu, semakin banyak kandungan organik dalam air, maka konsentrasi BOD akan semakin tinggi, sedangkan jumlah oksigen terlarut semakin rendah (Effendi, 2003). d. Unsur-unsur Kimia
Airtanah umumnya mengandung unsur-unsur kimia, baik karena adanya pengaruh faktor alami maupun non alami. Unsur kimia dari faktor alami dapat berasal dari adanya interaksi airtanah melarutkan batuan penyimpan airtanah atau dapat pula berasal dari sumber masukan airtanah yang sudah mengandung unsur-unsur kimia seperti air hujan. Selain itu, faktor alami yang lain adalah keadaan lingkungan terbentuknya akuifer seperti akuifer di lingkungan pantai akan berbeda dengan akuifer di lingkungan pegunungan. Sementara, masuknya unsur-unsur kimia ke dalam airtanah karena faktor non alami dapat disebabkan adanya pengaruh dari aktivitas manusia, seperti kegiatan rumah tangga dan industri yang sering kali menghasilkan limbah cair sehingga dapat memengaruhi kualitas airtanah (Sudadi, 2003). Unsur-unsur kimia yang larut dalam perairan dikategorikan ada yang dijumpai dalam jumlah banyak (ion mayor), jumlah sedikit (ion minor), dan jumlah sangat sedikit (ion renik). Ion mayor atau ion utama meliputi unsur natrium (Na+), kalium (K+), kalsium (Ca2+), magnesium (Mg2+), klorida (Cl-), Bikarbonat (HCO3-), dan Sulfat (SO42-). Ion minor
terdiri dari besi (Fe), mangan (Mn), nitrat (NO32-), nitrit (NO2-),
21
alumunium (Al), tembaga (Cu), perak (Ag), arsen (As), seng (Zn), brom (Br), boron (B), kobalt (Co), dan lain-lain (Effendi, 2003). 1.5.5 Baku Mutu Air
Menurut Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 82 Tahun 2001 tentang pengelolaan kualitas air dan pengendalian pencemaran air, baku mutu air didefinisikan sebagai ukuran batas atau kadar makhluk hidup, zat, energi, atau komponen yang ada atau harus ada dan atau unsur pencemar yang ditoleransi keberadaan dan kandungannya di dalam air. Berdasarkan definisi tersebut, maka sangatlah penting peranan baku mutu air sebagai pembanding hasil uji kualitas air yang kemudian dikelaskan sesuai peruntukannya. Agar diketahui batasan penggunaannya, PP Nomor 82 Tahun 2001 menetapkan klasifikasi mutu air dalam 4 kelas, antara lain:
1. “Kelas satu, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk air baku air minum, dan atau peruntukan lain yang memper-syaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut;
2. Kelas dua, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk prasarana/sarana rekreasi air, pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut;
3. Kelas tiga, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk pembudidayaan ikan air tawar, peternakan, air untuk mengairi pertanaman, dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut;
4. Kelas empat, air yang peruntukannya dapat digunakan untuk mengairi pertanaman dan atau peruntukan lain yang mempersyaratkan mutu air yang sama dengan kegunaan tersebut.”
Sementara, menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia (Permenkes RI) Nomor 492 Tahun 2010 tentang persyaratan kualitas air minum, air minum yang dikonsumsi oleh masyarakat harus memenuhi syarat kesehatan agar terhindar dari gangguan kesehatan. Air minum yang memenuhi
22
syarat konsumsi disini dimaksudkan dengan air yang melalui proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum. Standar persyaratan kesehatan tersebut meliputi persyaratan fisika, mikrobiologis, kimiawi, dan radioaktif.
1.6 Penelitian Sebelumnya
Penelitian sebelumnya yang sudah dilakukan oleh pendahulu membantu peneliti sebagai bahan acuan dan pembanding. Begitu banyak penelitian yang dilakukan dengan mengkaji airtanah sebagai objek penelitian, baik menyangkut ketersediaannya maupun kualitasnya, terlebih isu kualitas air yang saat ini sedang sangat diperhatikan dunia sehingga banyak penelitian yang mencenderungkan airtanah sebagai objek dan alternatif sebagai sumber air baku kebutuhan manusia mengingat keberadaan airtanah yang tidak langsung kontak dengan permukaan. Sejumlah penelitian mengaitkan faktor-faktor tertentu, fenomena tertentu, aktivitas tertentu sebagai variabel kontrol kualitas airtanah. Penelitian-penelitian tersebut di antaranya disajikan dalam Tabel 1.3 sebagai berikut.
23
Tabel 1.3 Penelitian Sebelumnya Terkait Kualitas Airtanah
Peneliti
(tahun) Judul Lokasi Penelitian Tujuan Metode Hasil Penelitian
Yudho Qarana P (2011)
Kajian Kualitas Airtanah Bebas untuk Air Minum di Sub DAS Kayangan Kabupaten Kulon Progo
Sub DAS Kayangan Mengetahui kualitas airtanah bebas pada berbagai satuan bentuklahan, Mengetahui tipe kimia airtanah bebas,
menganalisis kualitas airtanah bebas berdasarkan baku mutu air
Metode Deskriptif Eksploratif, Analisis laboratorium, grafis, dan spasial
Kualitas airtanah di daerah kajian umumnya masih termasuk kategori baik dengan persebaran sifat fisik dan kimia yang bervariasi di setiap bentuklahan akibat pengaruh asal airtanah diambil, litologi, dan formasi batuan. Kondisi airtanah di satuan bentuklahan fluvial lebih baik dibandingkan satuan bentuklahan struktural dan denudasional.
Yoga Brahmantyo (2012)
Kualitas Airtanah Sub DAS Code Kota Yogyakarta Pasca Erupsi Merapi Tahun 2010
Sub DAS Code Mengkaji Kualitas Airtanah di SubDAS Code Yogyakarta daerah perkotaan pasca erupsi Gunungapi Merapi tahun 2010, Menentukan Interaksi antara Sungai Code dengan akuifer yang berada disekitarnya dari segi kualitas airtanahnya pascaerupsi Bunungapi Merapi tahun 2010
Purposive Sampling (pengambilan sampel air sungai), Systematic
Sampling (pengambilan sampel airtanah)
Kualitas airtanah di SubDAS Code tergolong kelas II dengan sebelah barat Sungai Code memiliki kandungan senyawa kimia yang lebih tinggi dibandingkan sungai Code sebelah timur. Ketinggian muka airtanah yang lebih tinggi dibandingkan air sungai maka airtanah menyuplai air sungai sehingga kualitas airtanah tidak terpengaruh oleh air sungai.
Aspian Noor (2013)
Kajian Kualitas Airtanah Untuk Air Minum Pada Unit Permukiman di DAS Celeng, Kabupaten Bantul
DAS Celeng, Kabupaten Bantul
Mengetahui Kualitas Airtanah pada tiap unit permukiman di DAS Celeng
Pengambilan Sampel : Startified Random Sampling
Kondisi airtanah bebas di daerah tersebut telah tercemar oleh nitrat dan bakteri E-Coli sehingga tidak layak untuk air minum. Kualitas airtanah di daerah perumahan lebih baik
24 Peneliti
(tahun) Judul Lokasi Penelitian Tujuan Metode Hasil Penelitian
Reza Fauziah Wahyuni (2013) Analisis Kualitas Airtanah Bebas di Kecamatan Tanggulangin Sebagai Dampak Semburan Lumpur Lapindo Sidoarjo Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo
Mengetahui kondisi airtanah bebas di Kecamatan
Tanggulangin, Sidoarjo
Metode Stratified berdasarkan nilai DHL yang diukur
Kualitas airtanah dtinjau dari nilai BOD, COD, Fenol, dan H2S di Kecamatan Tanggulangin tidak layak untuk dijadikan air minum. Kondisi ini dikarenakan jarak sumur yang terlalu dekat dengan septitank, adanya kolam penampungan lumpur Lapindo, dan pola permukiman yang padat.
Dwi Nila Wahyuningsih (2016) Kajian Kualitas Airtanah Berdasarkan Bentuklahan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah
Kabupaten Cilacap Menguji dan menganalisis kualitas airtanah fisik dan kimia dominan di setiap bentuklahan, membandingkan tipe kimia airtanah di setiap bentuklahan, dan mengevaluasi kelayakan kualitas airtanah di Kabupaten Cilacap berdasarkan baku mutu air PP No.82 Tahun 2001 dan Permenkes No.492 Tahun 2010.
Metode Purposive Sampling, Pengolahan data dengan diagram stiff, klasifikasi Stuyfzand, dan baku mutu air. Analisis deskriptif, spasial, grafis.
Penelitian ini menghasilkan perbedaan yang signifikan pada kualitas fisik airtanah terlihat pada nilai Daya Hantar Listrik (DHL). Pengaruh material penyusun batuan menjadi kunci kevariasian nilai DHL dan kandungan unsur kimia dominan di setiap
bentuklahan. Berdasarkan baku mutu air Permenkes No. 492 Th. 2010, sampel 5, 9, 11, 12, 13, dan 20 tidak layak untuk peruntukan penggunaan air minum, sedangkan menurut PP No. 82 Tahun 2001, hanya sampel 13 yang tidak layak peruntukan tingkat I dan II.
Sumber: Qarana (2011), Brahmantyo (2012), Noor (2013), Wahyuni (2013) Lanjutan Tabel 1.3 Penelitian Sebelumnya Terkait Kualitas Airtanah
25 1.7 Kerangka Pemikiran
Ketersediaan air tanah yang relatif lebih besar, airtanah memiliki kekurangan pada lamanya air tinggal pada zona jenuh air tanah dan lamanya perjalanan air untuk mencapai tampungan air tanah, sehingga air tanah mengalami kontak dengan lingkungan sekitar dalam kurun waktu yang relatif lama. Kondisi ini tidak menutup kemungkinan akan ada unsur-unsur kimia yang ikut terbawa dan terjadinya reaksi kimia dengan batuan sekitar. Reaksi kimia yang terjadi memicu adanya pertukaran ion yang menyebabkan airtanah dapat mengandung senyawa kimia dari segi kualitas.
Batuan/material penyusun di setiap wilayah dapat berbeda-beda. Adanya perbedaan tersebut, besar kemungkinan disebabkan oleh proses pembentukan yang terjadi di atas permukaan bumi yang berbeda, begitu pula dengan bentuk topografinya. Bersamaan ketiga komponen tersebut maka dapat diidentifikasi bentuklahan asal proses yang kemungkinan besar secara tidak langsung juga berpengaruh pada kualitas airtanah, baik kualitas fisik maupun kimia di masing-masing bentukan-bentukan lahan. Untuk mengetahui kebenaran tersebut, maka perlu dilakukannya pengujian kualitas secara fisik di lapangan seperti kondisi suhu, rasa, warna, bau, dan Daya Hantar Listrik (DHL), dan secara kimiawi di laboratorium menyangkut pH dan unsur dominan (mayor) dari sampel airtanah yang diuji.
Tidak sembarang airtanah dapat langsung digunakan dan dimanfaatkan manusia untuk memenuhi kebutuhan sumber airnya. Terdapat batasan tertentu untuk setiap kandungan senyawa kimia yang diperbolehkan untuk dikonsumsi, mengingat kandungan kimia yang berlebih berdampak tidak baik untuk tubuh. Baku mutu air ini sangat penting digunakan sebagai pembanding hasil uji kualitas airtanah agar peruntukan airtanah sesuai dengan kualitasnya, seperti untuk air minum dan sumber air bersih berdasarkan baku mutu air Permenkes No. 492 Th. 2010 dan peruntukan air baku air minum berdasarkan baku mutu air PP No. 82 Th. 2001.
26
Gambar 1.3 Bagan Kerangka Pemikiran Penelitian Kajian Kualitas Airtanah Berdasarkan Bentuklahan di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah
(Sumber: Hasil analisis)
Keterangan: Proses Airtanah memiliki masa waktu
tinggal yang lama
Berpengaruh pada Kualitas Airtanah
Pengujian kualitas airtanah di masing-masing bentuklahan
Kondisi Fisik: Suhu, rasa, warna, bau, DHL.
Baku Mutu Air PP No. 82 Th. 2001 Kelas I dan Permenkes No.
492 Th. 2010 Terjadi reaksi kimia antara
airtanah dengan batuan sekitar
Topografi, material penyusun, dan proses pembentukan
(bentuklahan) di setiap wilayah dapat berbeda
Senyawa Kimia: pH dan Unsur Mayor (dominan)
Tipe Kimia airtanah di setiap bentuklahan