136
III KERANGKA PEMIKIRAN
3.1 Kerangka Pemikiran Teoritis
3.1.1 Agribisnis Ubi Jalar
Agribisnis adalah semua aktivitas, mulai dari pengadaan dan penyaluran sarana produksi sampai dengan pemasaran produk-produk yang dihasilkan oleh usahatani dan nelayan serta agroindustri yang saling terkait satu sama lainnya (Hafsah 2000). Pengembangan ubi jalar sebagai komoditi potensial sumber karbohidrat alternatif harus dilakukan dengan menggunakan pendekatan sistem agribisnis. Hal ini dikarenakan keberhasilan pengembangan ubi jalar sebagai komoditi penyokong ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan masalah peningkatan produksi ubi jalar nasional.
Pengembangan ubi jalar harus dipandang sebagai pengembangan menyeluruh dari mulai pengadaan sarana produksi ubi jalar, budidaya (on-farm), pengolahan, pemasaran hingga peran serta lembaga penunjang. Kaitan antara satu subsistem dengan subsistem lainnya sangat erat dan penting, sehingga gangguan pada salah satu subsistem dapat mengakibatkan keseluruhan sistem terganggu (Hernanto 1996). Cakupan pengembangan komoditi dalam sebuah sistem agribisnis diilustrasikan pada Gambar 1.
Subsistem pertanian hulu ubi jalar masih didominasi oleh ciri-ciri pertanian tradisional. Pada umumnya petani ubi jalar masih menggunakan bibit tanaman lokal. Bibit yang umumnya berupa hasil stek diperoleh petani dari tanaman ubi jalar yang selama ini mereka budidayakan. Penanaman ubi jalar pun masih menggunakan peralatan sederhana dalam mengolah lahannya.
Tanaman ubi jalar bisa diusahakan di berbagai tempat, baik dataran rendah maupun dataran tinggi/pegunungan, serta di segala macam tanah. Meskipun ubi jalar banyak dibudidayakan, karakteristik agronomis dan stabilitas hasil dari penanaman di bawah kondisi standar pengaturan lingkungan tertentu pada berbagai kondisi agroekologi tidak terdokumentasi dengan baik. Penelitian mengenai stabilitas hasil panen ubi jalar di kawasan tropis yang terpublikasi masih terbatas (Osiru et al 2009).
137
Gambar 1. Lingkup Pengembangan Sistem dan Usaha Agribisnis
Sumber : Saragih 2004
Secara umum hasil panen ubi jalar bervariasi antar genotip satu dan lainnya. Variasi hasil antar lokasi penanaman dapat disebabkan oleh faktor cuaca dan iklim, serta durasi periode pertumbuhan. Variasi hasil produksi dapat juga dipengaruhi oleh respon genotip terhadap keadaan lingkungan sekitar tempat tumbuhnya (Osiru et al 2009). Oleh karena itu penelitian untuk menemukan varietas unggul yang memiliki produktivitas tinggi senantiasa dilakukan. Hingga saat ini Balai Penelitian Kacang-kacangan dan Umbi-umbian telah banyak melepas varietas unggul ubi jalar diantaranya; Mendut, Kalasan, Muara Takus, Cangkuang, Sewu, Sari, Boko, Sukuh, Jago dan Kidal (Balitkabi 2000).
Banyak orang meyakini bahwa pembangunan agroindustri merupakan kelanjutan dari pembangunan pertanian (Soekartawi 2005). Pada pengembangan ubi jalar, subsistem pengolahan hasil pertanian perlu dikembangkan sebagai upaya peningkatan nilai tambah ubi jalar. Selain itu, pengembangan agroindustri ubi jalar juga merupakan jawaban atas tuntutan diversifikasi produk olahan ubi jalar agar komoditi tersebut dapat diterima oleh semua masyarakat sebagai sumber karbohidrat alternatif. Saat ini ubi jalar sudah digunakan sebagai bahan baku pada beberapa industri di Indonesia. Permintaan industri terhadap ubi jalar beserta nilainya dapat dilihat pada Tabel 4.
Subsistem Pemasaran Hasil Pertanian Distribusi Promosi Informasi pasar Intelijen Pasar Kebijakan perdaganga n Struktur pasar
Subsistem Jasa dan Penunjang Pertanian
Perkreditan dan asuransi Penelitian dan pengembangan Pendidikan dan penyuluhan Transportasi dan pergudangan
Kebijakan pemerintah (mikro ekonomi, tata ruang, makro ekonomi) Subsistem Pertanian Hulu Industri perbenihan/ pembibitan tanaman/ hewan Industri agrokimia Industri agro-otomotif Subsistem Budidaya Pertanian Usaha TPH Usaha tanaman perkebunan Usaha peternakan Usaha perhutanan Usaha perikanan Subsistem Pengolahan Hasil Pertanian Industri makanan Industri minuman Industri rokok Industri barang serat alam Industri agrowisata dan estetika
138
Tabel 4. Penggunaan Ubi jalar Pada Industri Skala Besar dan Menengah di Indonesia Tahun 2005
Kategori Industri Jumlah
Perusahaan
Banyaknya (Kg)
Nilai (Rp.000) Industri Pelumatan Buah-buahan dan Saturan -
Crushed Fruits and Vegetable
34 1,384,200 1,353,387
Industri Berbagai Macam Tepung dari Padi-padian, Biji-bijian, Kacang-kacangan, Umbi-umbian dan Sejenisnya - Other Flavours
38 4,872,734 4,872,734
Industri Roti dan Sejenisnya - Bakery Products 553 4,344 4,344
Industri Makaroni, Mie, Spagheti, Bihun, Soun, dan sejenisnya - Manufacture of Macaroni, noodles, Spagetti and the like
305 205,523 236,443
Industri Kecap - Soy Sauce 84 5,143,579 1,214,002
Industri Kerupuk dan Sejenisnya 582 379,893 514,399
Industri Kue-kue Basah – Cakes 68 131,000 199,361
Industri Makanan yang Belum Termasuk Kelompok Manapun
191 11,520 11,520
Total 12,132,793 8,406,190
Sumber: Badan Pusat Statistik, 2005 (diolah)
Dari data pada Tabel 4 dapat diketahui bahwa ubi jalar digunakan pada delapan kategori industri yang ada di Indonesia. Total permintaan industri terhadap ubi jalar pada tahun 2005 adalah sebesar 12,123,793 Kg dengan nilai Rp. 8,406,190,000,00. Permintaan ubi jalar paling tinggi datang dari industri kecap yaitu sebesar 5,143,579 Kg dengan nilai Rp. 1,214,002,000,00.
Pemasaran ubi jalar dapat berupa pemasaran produk ubi jalar segar, produk ubi jalar siap santap, produk olahan siap masak, dan produk olahan setengah jadi untuk bahan baku makanan. Adapun pihak-pihak yang terlibat dalam sistem pemasaran ubi jalar adalah petani, tengkulak, pedagang pengumpul, pedagang pengecer, pedagang besar, industri pakan ternak, industri makanan, eksportir dan konsumen (Juanda & Cahyono 2004).
Subsistem jasa dan penunjang pertanian ubi jalar sama seperti komoditi pertanian pada umumnya, meliputi pemerintah (baik pusat maupun daerah), lembaga pembiayaan, pendidikan dan penyuluhan, transportasi dan pergudangan, serta penelitian dan pengembangan. Penelitian dan pengembangan ubi jalar di Indonesia ditangani oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan atau Balai Penelitian kacang-kacangan dan
139 umbi-umbian (Balitkabi), Departemen Pertanian. Sedangkan pembinaan agroindustri di Indonesia dilakukan oleh berbagai instansi, antara lain di Departemen Pertanian (Direktorat Jenderal Bina Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian), Departemen Perindustrian (Direktorat Agroindustri), dan di Kantor Menteri Negara Riset dan Teknologi juga terdapat unit yang menangani agroindustri, serta di Biro Pusat Statistik juga ada data pengumpulan agroindustri (Soekartawi 2005).
Keempat subsistem agribisnis ubi jalar tersebut harus dikembangkan secara terintegrasi agar potensi ubi jalar sebagai sumber karbohidrat alternatif dapat dikembangkan secara optimal. Penemuan dan penggunaan varietas unggul yang memiliki tingkat produktivitas dan ketahanan terhadap hama yang tinggi serta usahatani yang optimal akan meningkatkan kuantitas dan kualitas produksi ubi jalar nasional. Produksi ubi jalar tersebut kemudian akan mengalami penambahan nilai melalui proses pengolahan oleh sektor agroindustri. Lembaga pemasaran kemudian akan berperan dalam menjamin sampainya produk ubi jalar tersebut ke tangan konsumen secara efisien. Keseluruhan sistem ini, yang kemudian didukung oleh peran serta lembaga penunjang yang aktif dan kooperatif, akan menciptakan sistem agribisnis yang bersinergi dan menjanjikan keuntungan bagi pelaku-pelaku yang terlibat dalam sistem agribisnis ubi jalar tersebut.
3.1.2 Konsep Kemitraan
Kemitraan adalah suatu strategi bisnis yang dilakukan oleh dua pihak atau lebih dalam jangka waktu tertentu untuk meraih keuntungan bersama dengan prinsip saling membutuhkan dan saling membesarkan. Keberhasilan kemitraan sebagai sebuah strategi bisnis ditenrtukan oleh adanya kepatuhan diantara pihak yang bermitra dalam menjalankan etika bisnis. Pelaku-pelaku yang terlibat langsung dalam kemitraan harus memiliki dasar-dasar etika bisnis yang yang dipahami dan dianut bersama sebagai titik tolak dalam menjalankan kemitraan. Pengertian etika itu sendiri adalah ilmu tentang apa yang baik dan yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral (Hafsah 2000).
Kebijakan kemitraan diatur dalam Undang-undang No. 20 Tahun 2008 Tentang Usaha Mikro, Kecil dan Menengah. undang ini merupakan pembaruan dari Undang-undang No. 9 Tahun 1995 tentang Usaha Kecil yang kemudian dijabarkan dalam Peraturan Pemerintah RI No. 44 Tahun 1997 tentang Kemitraan. Dengan perangkat peraturan tersebut, petani dan pengusaha mendapat petunjuk lebih jelas tentang pelaksanaan kemitraan serta
140 lebih dapat memahami posisi masing-masing dalam berbagai pola hubungan kemitraan yang ada.
Undang-undang No. 20 Tahun 2008 menyebutkan bahwa kemitraan adalah kerjasama dalam keterkaitan usaha, baik langsung maupun tidak langsung, atas dasar prinsip saling memerlukan, memepercayai, memperkuat, dan menguntungkan yang melibatkan pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah dengan usaha besar. Definisi kemitraan usaha pertanian dijelaskan pada Keputusan Menteri Pertanian No. 940/Kpts/OT.210/9/97 yang menyebutkan bahwa kemitraan usaha pertanian adalah kerjasama usaha antara perusahaan mitra dengan kelompok mitra di bidang usaha pertanian.
Dalam kondisi yang ideal tujuan konkret yang ingin dicapai dalam pelaksanaan kemitraan antara lain (Hafsah 2000):
1. Meningkatkan pendapatan usaha kecil dan masyarakat. 2. Meningkatkan perolehan nilai tambah bagi pelaku kemitraan.
3. Meningkatkan pemerataan, pemberdayaan masyarakat, dan usaha kecil. 4. Meningkatkan pertumbuhan ekonomi pedesaan, wilayah, dan nasional. 5. Memperluas kesempatan kerja.
6. Meningkatkan ketahanan ekonomi nasional.
Pelaksanaan kemitraan harus mendatangkan manfaat bagi semua pihak yang bermitra. Hal ini merupakan salah satu faktor penentu berlanjut atau tidaknya kemitraan di masa yang akan datang. Dalam buku pedoman kemitraan usaha agribisnis (Deptan 2002) dijelaskan bahwa kemitraan usaha petanian merupakan salah satu instrumen kerjasama yang mengacu pada terciptanya suasana keseimbangan, keselarasan dan keterampilan yang didasari saling percaya-mempercayai antara perusahaan mitra dengan kelompok melalui perwujudan sinergi kemitraan, yaitu terwujudnya hubungan yang:
a. Saling memerlukan dalam arti perusahaan mitra memerlukan pasokan bahan baku dan kelompok mitra memerlukan penampungan hasil dan bimbingan.
b. Saling menguntungkan, yaitu baik kelompok mitra maupun perusahaan mitra memperoleh peningkatan pendapatan, dan kesinambungan usaha.
c. Saling memperkuat dalam arti baik kelompok mitra maupun perusahaan mitra sama-sama memperhatikan tanggung jawab moral dan etika bisnis, sama-sama mempunyai persamaan hak dan saling membina sehingga memperkuat kesinambungan bermitra.
141 Undang-undang No. 20 Tahun 2008 juga menentukan bahwa perjanjian kemitraan dituangkan dalam perjanjian tertulis yang sekurang-kurangnya mengatur kegiatan usaha, hak dan kewajiban masing-masing pihak, bentuk pengembangan,jangka waktu dan penyelesaian perselisihan. Meskipun bentuk dan cakupan kontrak antara petani dan peusahaan agribisnis dapat beragam. Raynolds (2000) dalam Echánove dan Steffen (2005) meringkasnya dalam beberapa karakteristik utama yaitu: kesepakatan kemitraan dilakukan sebelum proses produksi, para produsen (petani) mengikuti petunjuk pelaksanaan produksi yang ditetapkan perusahaan sebagai kompensasi atas keterjaminan pasar, perusahaan mitra biasanya menyediakan bantuan teknis dan pelayanan lainnya, dan petani bertindak sebagai penyedia lahan dan tenaga kerja.
Beberapa jenis pola kemitraan yang telah banyak dilaksanakan, dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Inti-Plasma
Merupakan hubungan kemitraan antara kelompok mitra dengan perusahaan mitra, yang di dalamnya perusahaan mitra bertindak sebagai inti dan kelompok mitra sebagai plasma. Undang-undang No. 20 Tahun 2008 mengatur bahwa Usaha Besar sebagai inti membina dan mengembangkan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah yang menjadi plasmanya dalam hal penyediaan dan penyiapan lahan, penyediaan sarana produksi, pemberian bimbingan teknis produksi dan manajemen usaha, peningkatan penguasaan teknologi, pembiayaan, pemasaran, penjaminan, pemberian informasi dan pemberian bantuan lain yang diperlukan bagi peningkatan efisiensi da produktivitas dan wawasan usaha. Pola Inti- Plasma diilustrasikan Gambar 2
Gambar 2. Pola Kemitraan Inti – Plasma
Sumber : Deptan 2002 Plasma Plasma Plasma Plasm a Plasma Perusahaan Inti
142 2. Subkontrak
Merupakan hubungan kemitraan yang di dalamnya kelompok mitra memproduksi komponen yang diperlukan perusahaan mitra sebagai bagian dari produksinya. Ciri khas dari bentuk kemitraan subkontrak ini adalah adanya kontrak bersama yng mencantumkan volume, harga dan waktu (Hafsah 2000). Undang-undang No. 20 Tahun 2008 mengatur bahwa salah satu dukungan yang dapat diberikan Usaha Besar adalah dengan pengaturan sistem pembayaran yang tidak merugikan salah satu pihak dan berupaya untuk tidak melakukan pemutusan hubungan sepihak. Pola Subkontrak diilustrasikan Gambar 3
Gambar 3. Pola Kemitraan Subkontrak
Sumber : Deptan 2002
3. Dagang Umum
Merupakan hubungan kemitraan dimana perusahaan mitra memasarkan hasil produksi kelompok mitra, atau kelompok mitra memasok kebutuhan yang diperlukan perusahaan mitra. Keuntungan dari pola kemitraan ini adalah adanya jaminan harga atas produk yang dihasilkan dan kualitas sesuai dengan yang telah ditentukan atau disepakati. Kelemahan dari pola ini adalah memerlukan permodalan yang kuat sebagai modal kerja (Hafsah 2000). Pola Dagang Umum diilustrasikan Gambar 4
Perusahaan Mitra Kelompok Mitra Kelompok Mitra Kelompok Mitra Kelompok Mitra Memproduksi Komponen Produksi Memproduksi Komponen Produksi Memproduksi Komponen Produksi Memproduksi Komponen Produksi
143
Gambar 4. Pola Kemitraan Dagang Umum
Sumber : Deptan 2002 4. Keagenan
Merupakan hubungan kemitraan yang di dalamnya kelompok mitra diberi hak khusus untuk memasarkan barang atau jasa usaha perusahaan mitra. Keuntungan yang diperoleh dari hubungan kemitraan pola keagenan dapat berbentuk komisi atau fee yang diusahakan oleh usaha besar atau menengah (Hafsah 2000). Pola Keagenan diilustrasikan Gambar 5
Gambar 5. Pola Kemitraan Keagenan
Sumber : Deptan 2002
5. Kerjasama Operasional Agribisnis (KOA)
Merupakan hubungan yang di dalamnya kelompok mitra menyediakan lahan, sarana dan tenaga, sedangkan perusahaan mitra menyediakan biaya atau modal dan/atau sarana untuk mengusahakan atau membudidayakan suatu komoditi pertanian. Pola Kerjasama Operasional Agribisnis (KOA) dapat dilihat pada Gambar 6
Perusahaan Mitra
Konsumen / Industri Kelompok
Mitra
Pemberian Hak Khusus
Memasarkan Perusahaan Mitra Konsumen / Industri Kelompok Mitra Memasarkan Produksi Kelompok Mitra Memasok
144 Gambar 6. Pola Kemitraan Kerjasama Operasional Agribisnis (KOA)
Sumber : Deptan 2002
6. Pola kemitraan lainnya, seperti bagi hasil, usaha patungan (joint venture), dan penyumberluaran (outsourcing).
Kemampuan melaksanakan kemitraan harus dibangun dengan sadar dan terencana melalui tahapan-tahapan yang sistematis (Hafsah 2000). Persiapan kemitraan ini diperlukan untuk menyiapkan kemampuan masing-masing pihak yang akan terlibat dalam kemitraan. Hal ini dikarenakan kemampuan dalam bermitra harus dibangun secara sadar dan terencana melalui tahapan-tahapan yang sistematis. Tahapan-tahapan ini juga akan membantu masing-masing pihak yang bermitra untuk lebih memahami kegiatan kemitraan yang akan dijalankan. Tahapan-tahapan tersebut adalah sebagai berikut (Deptan, 2002):
a. Identifikasi dan pendekatan kepada pelaku usaha
Dalam tahap identifikasi dikumpulkan data dan informasi yang berkaitan dengan jenis usaha atau komoditas yang akan diusahakan, potensi sumberdaya yang mendukung, tingkat kemampuan para pelaku usaha baik di bidang penguasaan IPTEK, permodalan SDM, maupun sarana-prasarana lainnya. Dalam tahap ini diharapkan masing-masing pelaku bisa saling mengenal dan dapat diidentifikasi pelaku usaha mana yang potensial untuk dijadikan mitra usaha.
b. Membentuk wadah organisasi ekonomi
Untuk memudahkan komunikasi, kelancaran informasi dan kemudahan koordinasi dalam kemitraan usaha, maka perlu adanya pengorganisasian diantara pelaku usaha kecil yang sejenis. Pengorganisasian ini dimaksudkan agar terbentuk skala ekonomi tertentu yang mempunya aspek legalitas (berbadan hukum) seperti misalnya koperasi.
Perusahaan Mitra Kelompok
Mitra
Pembagian Hasil Sesuai dengan Kesepakatan - Lahan - Tenaga - Sarana - Biaya - Modal - Teknologi
145 c. Menganalisis kebutuhan pelaku usaha
Kegiatan ini dilakukan untuk mengetahui lebih mendalam mengenai peluang-peluang usaha dan permasalahan-permasalahan mendasar dalam pengembangan usaha yang dihadapi pelaku-pelaku usaha baik pelaku usaha kecil, menengah maupun usaha besar.
d. Merumuskan program
Setelah permasalahan dan peluang-peluang usaha dianalisis, maka dapat disusun program yang dapat diaplikasikan dalam bentuk kegiatan seperti pelatihan, magang, studi banding, pemberian konsultasi serta peningkatan koordinasi dan lain-lain.
e. Kesiapan bermitra
Pelaku usaha kecil perlu menyadari bahwa kemitraan bukan belas kasihan dari pelaku usaha besar/menengah. Hal ini perlu juga disadari oleh pelaku usaha besar bahwa adanya kemitraan dengan usaha kecil juga tidak semena-mena untuk memperoleh keuntungan.
f. Temu usaha
Kegiatan ini bertujuan untuk mempertemukan pelaku-pelaku usaha yang telah siap bermitra. Harapan dari pertemuan ini adalah adanya kontrak kerjasama antara pelaku-pelaku usaha yang akan bermitra dan juga berkembangnya komoditi unggulan yang diminta pasar.
g. Adanya koordinasi
Berkembangnya suatu kemitraan tidak terlepas dari adanya dukungan iklim yang kondusif untuk berkembangnya investasi dan usaha di daerah tersebut. Dukungan fasilitas atau kemudahan perkreditan, perangkat kebijakan perijinan, tingkat suku bunga, peraturan daerah serta kemudahan-kemudahan lainnya sangat membantu proses kemitraan. Dalam mewujudkan hal tersebut sangat diperlukan koordinasi dan persamaan persepsi antar lembaga/instansi terkait mulai dari tingkat pusat sampai ke tingkat daerah. Disamping itu lemahnya pemantauan atau pengawasan terhadap perilaku usaha seringkali menyebabkan terjadinya eksploitasi yang kuat terhadap yang lemah dalam kerangka kemitraan, sehingga kemitraan semacam ini menjadi bersifat semu dan tidak bertahan lama.
146
Gambar 7. Tahapan Penyiapan Kemitraan Usaha
Sumber : Deptan 2002
3.1.3 Indikator Evaluasi Kepuasan Petani Terhadap Kemitraan
Petani yang dalam konteks penelitian ini dianggap sebagai pelanggan dari pelayanan kemitraan perusahaan mitra memang harus dipuaskan. Pelanggan yang tidak puas akan meninggalkan perusahaan dan menjadi pelanggan perusahaan lain yang dapt memberikan kepuasan yang lebih baik (Supranto 2006). Kepuasan pelanggan secara tidak langsung mencerminkan seberapa jauh perusahaan telah merespon keinginan dan harapan pasar. Dalam jangka pendek seringkali tidak terlihat hubungan antara kepuasan pelanggan dengan profitabilitas. Kepuasan pelanggan merupakan strategi yang lebih bersifat defensif sehingga kemampuan untuk mempertahankan pelanggan itulah yang pada akhirnya mempengaruhi profitabilitas dalam jangka panjang (Irawan 2003).
Pengukuran kepuasan pelanggan harus diawali oleh penentuan kebutuhan pelanggan. Kebutuhan pelanggan dapat diartikan sebagai karakteristik/atribut barang atau jasa yang
Sosialisasi Masalah dan Peluang Usaha Pengusaha Besar/ Menengah Kelompok Tani/
Koperasi/ Usaha Kecil
Forum Koordinasi Unsur Terkait
Tim Pelaksana
Aplikasi Kegiatan (Diklat, Magang, Studi banding) Identifikasi/ pendekatan Rumusan Kegiatan KEMITRAAN USAHA - saling membutuhkan - saling menguntungkan - saling memperkuat Kesiapan Bermitra
Temu Usaha/ Temu konsultasi Masalah Esensial
147 mewakili dimensi yang oleh pelanggan dipergunakan sebagai dasar pendapat mereka mengenai jenis barang atau jasa. Penentuan kebutuhan pelanggan dimaksudkan untuk membentuk suatu daftar semua dimensi mutu yang penting dalam menguraikan barang atau jasa. Pemahaman mengenai dimensi mutu dapat dijadikan dasar pengembangan ukuran untuk menilai dimensi mutu tersebut (Supranto 2006).
Meskipun ada beberapa dimensi mutu standar yang menggeneralisasi banyak jenis produk barang dan jasa, beberapa dimensi hanya akan berlaku pada jenis produk tertentu (Supranto 2006). Kualitas pelayanan dapat dinilai dengan menggunakan konsep Servqual. Berdasarkan konsep ini, kualitas pelayanan yang mempengaruhi kepuasan pelanggan diyakini mempunyai lima dimensi, yaitu (Rangkuti 2003):
1. Tangible (bukti langsung), pelayanan merupakan sesuatu yang tidak bisa dilihat, tidak bisa dicium, dan tidak bisa diraba, maka pelaggan akan menggunakan bukti langsung untuk menilai kualitas pelayanan. Dimensi tangible meliputi fasilitas fisik, perlengkapan dan saran komunikasi.
2. Reliability (keandalan), marupakan dimensi yang mengukur kemampuan perusahaan dalam memberikan pelayanan sesuai yang dijanjikan.
3. Responsiveness (ketanggapan), merupakan dimensi yang mengukur kemampuan untuk menolong pelangan dan ketersediaan untuk melayani dengan baik.
4. Assurance (jaminan), merupakan dimensi kualitas yang berhubungan dengan kemampuan dalam menanamkan rasa percaya dan keyakinan kepada para pelanggannya.
5. Emphaty (empati), yaitu kepedulian untuk memberikan perhatian dan memahami kebutuhan pelanggan.
Proses penentuan kebutuhan pelanggan (customer requirements) atau dimensi mutu (quality dimension) salah satunya dapat dilakukan dengan proses pengembangan dimensi mutu. Proses pengembangan dimensi mutu melibatkan orang yang benar-benar berhubungan dekat dengan barang/jasa yang digunakan (dibeli) oleh pelanggan (Supranto 2006). Aritonang (2005) menyatakan bahwa pengidentifikasian atribut-atribut kualitas produk yang menghasilkan kepuasan kepada pelanggan dapat dilakukan dengan melakukan wawancara secara mendalam dengan eksekutif perusahaan dan pihak-pihak yang berada pada jaringan distribusi dan pemasaran suatu produk. Hal ini dikarenakan eksekutif perusahaan dapat dianggap berada pada posisi yang baik untuk memahami tujuan dan fungsi dari suatu produk.
148 Sementara itu pihak yang berada pada rantai distribusi pemasaran merupakan pihak-pihak yang berhubungan langsung dengan pelanggan.
Wawancara dengan eksekutif perusahaan dan pihak yang berada pada jaringan distribusi dapat menghasilkan dimensi-dimensi produk yang memuaskan pelanggan. Dimensi yang didapat kemudian dapat digunakan sebagai dimensi pendahuluan untuk pengukuran kepuasan pelanggan (Aritonang 2005).
3.1.4 Pendapatan Usahatani
Usahatani adalah organisasi dari alam, kerja dan modal yang ditujukan kepada produksi di lapangan pertanian. Organisasi ini ketatalaksanaannya bediri sendiri dan sengaja diusahakan oleh seorang atau sekumpulan orang, segolongan sosial, baik yang terikat geneologis, politis maupun teritorial sebagai pengelolanya (Rivai 1980 dalam Hernanto 1996). Dari definisi tersebut dapat diketahui empat unsur pokok yang selalu ada pada usahatani yaitu tanah, tenaga kerja, modal dan pengelolaan (Hernanto 1996).
Usahatani dalam operasinya bertujuan untuk memperoleh pendapatan. Pendapatan tersebut digunakan untuk memenuhi kebutuhan keluarga serta dana untuk kegiatan diluar usahatani (Hernanto 1996). Ciri-ciri umum usahatani yang ada di Indonesia antara lain memiliki lahan sempit, modal relatif kecil, tingkat pengetahuan terbatas dan kurang dinamik sehingga berakibat pada rendahnya pendapatan usahatani (Soekartawi et al. 1986).
Pendapatan merupakan pengurangan penerimaan atas pengeluaran atau biaya (Soekartawi 2002). Dalam menganalisis pendapatan usahatani diperlukan keterangan mengenai dua unsur pokok yaitu penerimaan usahatani dan pengeluaran atau biaya usahatani. Soekartawi et al. (1986) menjelaskan bahwa penerimaan adalah besarnya output usaha baik dari produk utama maupun produk sampingan yang dihasilkan. Penerimaan usahatani meliputi jumlah penambahan inventaris, nilai penjualan hasil, nilai penggunaan rumah dan yang dikonsumsi (Hernanto 1996).
Pengeluaran atau biaya adalah semua pengorbanan sumberdaya yang terukur dalam satuan uang yang dikeluarkan untuk mencapai tujuan tertentu. Biaya usahatani terdiri dari biaya tetap dan biaya variabel atau biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan. Biaya tunai adalah biaya yang dibayar dalam bentuk uang, seperti biaya pebelian sarana produksi dan sewa tenaga kerja luar keluarga. Sedangkan biaya yang diperhitungkan adalah biaya yang
149 dipergunakan untuk menghitung berapa besarnya pendapatan petani jika bunga modal dan nilai kerja diperhitungkan.
Keberhasilan dalam mengelola usahatani dapat diukur melalui besarnya pendapatan yang diterima dari usahataninya. Suatu suaha dikatakan layak apabila usahatani tersebut dapat menutupi pengeluaran-pengeluarannya, dapat memberikan balas jasa yang sesuai (berdasarkan prinsip yang diluangkan atau oportunity cost) kepada sumberdaya usahatani yang dipakai, mampu memberikan sisa penerimaan atau pendapatan yang diperlukan bagi pencukupan kebutuhan hidup keluarga petani, beroperasi secara berkesinambungan dari waktu ke waktu dan dapat meningkatkan atau mengembangkan usaha (membesarkan skala usaha) dari waktu ke waktu (Soeharjo & Patong 1973).
Salah satu ukuran yang dapat dijadikan indikator untuk mengetahui keuntungan usahatani yang dilhat dari segi pendapatan adalah perbandingan antara penerimaan atau
Revenue (R) dengan biaya atau Cost (C). Nilai rasio antara revenue dan cost atau R/C
menunjukkan besarnya pendapatan kotor yang diterima untuk setiap rupiah yang dikeluarkan untuk produksi. Jika nilai R/C >1 maka penerimaan yang diperoleh akan lebih besar dari tiap unit biaya yang dikeluarkan untuk kegiatan usahatani tersebut. Sebaliknya, jika R/C < 1 maka penerimaan yang diperoleh akan lebih kecil dari tiap unit biayanya. Alat yang digunakan untuk menganalisis keuntungan usahatani adalah R/C atas biaya tunai usahatani dan R/C atas biaya total usahatani.
3.2 Kerangka Pemikiran Operasional
Ubi jalar merupakan tanaman pangan yang potensial dikembangkan sebagai sumber karbohidrat alternatif. Usaha pengembangan komoditi ubi jalar harus dilihat sebagai pengembangan sebuah sistem agribisnis yang terintegrasi antara subsistem satu dan lainnya. Langkah awal yang perlu dilakukan dalam upaya pengembangan ubi jalar adalah dengan diversifikasi produk olahan ubi jalar.
Pengembangan diversifikasi produk olahan ubi jalar termasuk kedalam subsistem pengolahan (agroindustri) ubi jalar. Diversifikasi produk olahan ubi jalar dianggap penting untuk memperluas penerimaan masyarakat terhadap ubi jalar sebagai bahan pangan alternatif. Industri pengolahan yang perlu dikembangkan adalah industri pengolahan tepung dan pasta ubi jalar. Pasta dan tepung ubi jalar merupakan produk olahan setengah jadi yang dapat digunakan sebagai bahan baku produk olahan ubi jalar lainnya.
150 PT. GE merupakan perusahaan pengolah ubi jalar yang menjadikan pasta dan tepung ubi jalar sebagai produk utamanya. Perusahaan yang berorientasi pasar ekspor dengan negara tujuan utama Jepang dan Korea ini memperoleh kesulitan dalam penyediaan bahan baku ubi jalar segar. Hal ini merupakan masalah yang penting karena kontinuitas bahan baku menentukan kelangsungan perusahaan di masa datang.
Kesulitan perolehan bahan baku ini disebabkan oleh tidak adanya keterikatan yang baik dengan subsistem budidaya ubi jalar. Sebagai perusahaan agroindustri yang tidak cukup memiliki luasan lahan budidaya sendiri, PT. GE melakukan kemitraan dengan para petani ubi jalar di berbagai daerah terutama di Kabupaten Kuningan. Namun pelaksanaan kemitraan antara PT. GE dengan petani mitra yang bergerak pada subsistem budidaya ubi jalar yang berlangsung selama ini tidak dapat memberi jaminan tersedianya pasokan bahan baku yang dibutuhkan perusahaan.
PT. GE kesulitan memperoleh bahan baku ubi jalar segar dikarenakan adanya perbedaan preferensi ubi jalar antara yang diminta perusahaan dengan yang disukai petani mitra. Sebagai perusahaan eksportir hasil olahan ubi jalar ke Jepang dan Korea, PT. GE membutuhkan bahan baku ubi jalar dari varietas Bogor, Jakarta (beni azuma), Naruto Kintoki (Ibaraki), Ayamurasaki (Violet) dan Kidal/Sawentar. Di lain pihak petani mitra lebih menyukai menanam ubi jalar Kuningan dengan alasan tingkat produktivitasnya yang lebih tinggi. Perbedaan produktivitas tersebut kemudian menimbulkan perbedaan pendapatan yang diperoleh petani.
Perbedaan pendapatan yang diterima petani dari hasil usahatani ubi jalar Jepang berusaha dikompensasi oleh PT.GE dengan cara memberikan harga yang relatif lebih tinggi untuk ubi jalar Jepang. Namun petani menilai selisih harga yang diberikan PT.GE belum bisa mengkompensasi perbedaan jumlah hasil panen mereka. Oleh karena itu perlu dianalisis perbedaan kedua kategori ubi jalar tersebut pada tataran usahatani serta pada tingkat harga berapa kedua kategori ubi jalar tesebut memberikan tingkat keuntungan yang relatif sama.
Situasi kemitraan antara PT.GE dengan petani mitra tersebut juga mengindikasikan adanya permasalahan pelaksanaan kemitraan selama ini. Dengan mengambil titik pandang dari sisi petani mitra, penelitian ini menganalisis kinerja atribut kepuasan petani dalam bermitra. Metode IPA yang digunakan untuk meganalisis kinerja atribut kepuasan petani mitra dapat mengidentifikasi atribut yang dianggap dapat mendatangkan kepuasan petani. Dari hasil identifikasi ini akan muncul rekomendasi kebijakan win-win solution yang dapat
151 diambil perusahaan untuk meningkatkan kualitas kemitraan. Kemitraan yang mewakili kepentingan kedua belah pihak yang bermitra ini pada gilirannya akan berdampak pada kelancaran penyediaan bahan baku perusahaan. Pemikiran operasional penelitian ini diilustrasikan pada Gambar 8.
Gambar 8. Kerangka Pemikiran Operasional
Ubi Jalar Sebagai Sumber Karbohidrat Alternatif
Harus dikembangkan dengan pendekatan sistem agribisnis Subsistem agribisnis ubi jalar harus terintegrasi satu sama lain Diversifikasi produk ubi jalar menjadi tuntutan pasar
Langkah awal dengan pengembangan industri pengolahan tepung/pasta ubi jalar
Petani Ubi Jalar
Melakukan kemitraan dengan PT. Galih Estetika Lebih memilih menanam varietas ubi jalar Kuningan dibandingkan varietas yang diminta PT. Galih Estetika Analisis Pendapatan
Usahatani Ubi Jalar Kuningan
Analisis Pendapatan Usahatani Ubi Jalar
Jepang
Analisis Perbandingan R/C Perusahaan Pengolah Tepung / Pasta Ubi Jalar PT. Galih Estetika sebagai perusahaan pengolah tepung/pasta ubi jalar berorientasi ekspor di Indonesia PT. Galih Estetika mengalami kesulitan memperoleh bahan baku ubi jalar
Hubungan Kemitraan Perlu dilakukan identifikasi dan evaluasi Rekomendasi Kebijakan Kemitraan Kinerja Atribut Kepuasan Petani dalam Bermitra Layak (R/C > 1) Tidak Layak (R/C < 1) Importance Performance Analysis (IPA)