• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaruh Belanja Modal Pemerintah Pusat

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengaruh Belanja Modal Pemerintah Pusat"

Copied!
74
0
0

Teks penuh

(1)

TANGERANG SELATAN

SKRIPSI

PENGARUH BELANJA MODAL PEMERINTAH PUSAT REPUBLIK INDONESIA TERHADAP PRODUK DOMESTIK BRUTO INDONESIA

TAHUN 2005 SAMPAI DENGAN TAHUN 2011

Diajukan oleh:

HABIBIE NUGROHO WICAKSONO NPM 104060005220

Program Diploma IV Keuangan Spesialisasi Akuntansi Sekolah Tinggi Akuntansi Negara

Untuk Memenuhi Sebagian Syarat Mencapai Gelar Sarjana Sains Terapan Pada Sekolah Tinggi Akuntansi Negara

(2)

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA TANGERANG SELATAN

PERNYATAAN KEASLIAN

NAMA : HABIBIE NUGROHO WICAKSONO

NOMOR POKOK MAHASISWA : 104060005220 DIPLOMA IV KEUANGAN : AKUNTANSI SPESIALISASI

MATA KULIAH KEAHLIAN : KEUANGAN PUBLIK

JUDUL SKRIPSI : PENGARUH BELANJA MODAL

PEMERINTAH PUSAT REPUBLIK INDONESIA TERHADAP PRODUK DOMESTIK BRUTO INDONESIA TAHUN 2005 SAMPAI DENGAN TAHUN 2011 menyatakan dengan sesungguhnya bahwa skripsi ini adalah hasil tulisan saya sendiri dan tidak terdapat bagian atau keseluruhan tulisan yang saya salin atau tiru tanpa memberikan pengakuan pada penulis aslinya. Bila terbukti saya melakukan tindakan plagiarisme, saya siap dinyatakan tidak lulus dan dicabut gelar yang telah diberikan.

Tangerang, 26 November 2012

(3)

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA TANGERANG SELATAN

TANDA PERSETUJUAN SKRIPSI

NAMA : HABIBIE NUGROHO WICAKSONO

NOMOR POKOK MAHASISWA : 104060005220 DIPLOMA IV KEUANGAN : AKUNTANSI SPESIALISASI

MATA KULIAH KEAHLIAN : KEUANGAN PUBLIK

JUDUL SKRIPSI : PENGARUH BELANJA MODAL

PEMERINTAH PUSAT REPUBLIK INDONESIA TERHADAP PRODUK DOMESTIK BRUTO INDONESIA TAHUN 2005 SAMPAI DENGAN TAHUN 2011

Mengetahui  Menyetujui 

Direktur,  Dosen Pembimbing, 

       

 

(4)

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN

SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA TANGERANG SELATAN

PERNYATAAN LULUS UJIAN KOMPREHENSIF

NAMA : HABIBIE NUGROHO WICAKSONO

NOMOR POKOK MAHASISWA : 104060005220 DIPLOMA IV KEUANGAN : AKUNTANSI SPESIALISASI

MATA KULIAH KEAHLIAN :KEUANGAN PUBLIK

JUDUL SKRIPSI : PENGARUH BELANJA MODAL

PEMERINTAH PUSAT REPUBLIK INDONESIA TERHADAP PRODUK DOMESTIK BRUTO INDONESIA TAHUN 2005 SAMPAI DENGAN TAHUN 2011 Tangerang Selatan, 26 November 2012

1. Amanudin Djajadiwirja, Dipl.DF Ketua Penguji

2. Bambang Widjajarso, Ak., MBA. Anggota Penguji/Pembimbing NIP196108131982121001

(5)

KATA PENGANTAR

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah SWT, akhirnya skripsi ini bisa diselesaikan juga dalam waktu empat bulan. Skripsi ini memang sederhana, baik dari teknis penelitian maupun teknis penulisan. Namun, bagi penulis skripsi ini adalah capaian luar biasa. Berbeda dengan karya tulis tugas akhir Diploma III sebelumnya yang masih jauh dari kurang maksimal, skripsi ini penulis susun dengan ketelitian dan penuh pertimbangan. Teknis-teknis dalam penelitian begitu diperhatikan, meskipun masih jauh dari sempurna.

Proses penyusunan skripsi ini juga memotivasi penulis untuk menjadi peneliti di bidang ekonomi dan keuangan. Sebelumnya analisis regresi tampak seperti dari suatu planet di luar sana. Namun, setelah penulis “dipaksa” berkutat dengan analisis regresi dalam skripsi ini penulis menemukan fakta bahwa sebenarnya analisis regresi sangat sederhana. Mata penulis seakan terbelalak akan kesederhanaan ekonometri dibalik konsep-konsep dan asumsi yang sekilas tampak begitu sombong.

(6)

Tak lupa, penulis juga mengucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang berkontribusi dalam penelitian ini, baik yang secara langsung maupun setidaknya memberikan pengalaman hidup kepada penulis. Ucapan terima kasih ini saya sampaikan kepada:

1. Ibunda tercinta, mama Dra. Dharmaningsih Daud, dan Ayahanda Drs. Kurniyanto Sukirman, M.Pd yang telah memberikan pendidikan luar biasa kepada saya. Terima kasih sebesar-besarnya kepada beliau berdua atas pengorbanan dan cintanya yang luar biasa.

2. Istriku tercinta Nila Novrita Hanam, S.Pd. Terima kasih atas semua cintanya. Terima kasih juga atas pengorbanannya sebagai calon ibu. Hanya dengan menikah dan melihat istri anda hamil, anda akan bisa benar-benar bisa melihat sendiri betapa besar pengorbanan seorang ibu kepada anaknya, bahkan sebelum sang anak lahir.

3. Mbak Nunuk (Nugraheni Kusumaningsih, S.S.T) dan Bang Ferry (Ferry Afi Andi, S.S.T.) yang saat ini berdua sedang menjalani beasiswa kuliah dari Badan Kebijakan Fiskal di Andrew Young of Policy Studies di Georgia State University. Terima kasih atas semuanya.

4. Adikku Titto (Nugroho Mukti Isworo) yang sedang magang di KPP Pratama Semarang Barat sembari menunggu penempatan. Yang sabar ya, kadang memang lulus STAN tidak segera diangkat, harus menunggu dulu.

(7)

6. Bapak Kusmanadji, Ak. MBA. sebagai Direktur Sekolah Tinggi Akuntansi Negara. Terima kasih atas pengelolaan STAN yang semakin baik selama kepemimpinan Bapak.

7. dan Ibu Lies Sunarmintyastuti, M.M. sebagai Kepala Bidang Akademis Pendidikan Akuntan. Terima kasih Ibu sudah mau direpotkan oleh kami para mahasiswa Ibu. Terima kasih atas ilmu yang ibu berikan dan saya doakan semoga Ibu sukses di tempat kerja baru Ibu di Kementerian Pendidikan Nasional.

8. Bapak Bambang Widjajarso, Ak., MBA sebagai dosen pembimbing skripsi. Terima kasih atas kesabaran bapak dalam membimbing saya. Terima kasih juga atas motivasi yang tanpa henti Bapak pompakan kepada semua mahasiswa Bapak. Mohon maaf kalau sebagai mahasiswa saya sering merepotkan Bapak, terutama dalam penyusunan skripsi ini.

9. Bapak Amanudin Djajadiwirja, Dipl.DF sebagai ketua dosen penguji dan Bapak Dawud Arif Khan, S.E., Ak., M.Si., CPA sebagai dosen penguji. Terima kasih atas waktu yang diluangkan untuk menguji skripsi saya dan memberi masukan demi perbaikan skripsi ini. Terima kasih juga atas ilmu yang dibagikan oleh Bapak selama proses ujian komprehensif.

10. Ibu Finanda Marsalina Lubis, S.E. selaku dosen pembimbing teknis yang memberikan masukan teknis penulisan sesuai standar yang dianut oleh STAN. 11. Ibu Iin Indrawati, Ak., M.Sc. selaku dosen penilai outline yang membantu dalam

mengevaluasi outline skripsi.

(8)

Terima kasih atas didikan bapak dan ibu semuanya.

13. Mentor saya di Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Bapak Marwanto Prasetyo Soekidi, S.E., Ak., M.Si. Memang saya menjadi anggota tim Bapak hanya setahun, tapi terima kasih untuk diskusi-diskusi intens selama setahun itu, sehingga saya benar-benar memahami konsep penyusunan laporan. Sekarang, setiap laporan yang saya susun bukan asal-asalan lagi, tapi sudah benar-benar terstruktur. Dan berkat diskusi-diskusi itu, tahun lalu saya bisa menjadi juara ketiga dalam lomba karya tulis ilmiah.

14. Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) sebagai tempat saya bekerja mencari nafkah, mengamalkan, mengasah, dan memperdalam ilmu. Terima kasih atas pengalaman sebagai auditor dan konsultan yang telah diberikan kepada saya sehingga membantu membentuk pola pikir saya menjadi lebih sistematis.

15. Teman-teman saya semua, teman dari kecil di rumah sampai dengan teman yang masih berhubungan saat ini. Terima kasih untuk semuanya.

16. Para peneliti, penulis, penerbit, pembuat film dokumenter dan semua yang menjadi penyebar ilmu pengetahuan. Terima kasih.

17. Penemu dan pengelola internet di dunia, terima kasih atas kemudahan memperoleh informasi.

18. Para pemikir dan pengambil tindakan di dunia dari semua jaman. Terima kasih atas perubahan wajah dunia yang mereka bawa.

(9)

lebih banyak daripada skripsi yang saya susun. Sekali lagi, saya ucapkan terima kasih.

Akhir kata, saya ucapkan selamat membaca skripsi ini. Semoga bisa membawa manfaat. Apabila ada kekurangan dalam skripsi ini, saya benar-benar mengharapkan masukannya. Usul, ide, maupun diskusi bisa dikirimkan ke email saya di [email protected].

Semoga keselamatan, rahmat, dan berkah selalu dilimpahkan Allah SWT kepada kita semua

Tangerang Selatan, 26 November 2012

(10)

DAFTAR ISI

Pernyataan Keaslian ... i

Tanda Persetujuan Skripsi ... ii

Pernyataan Lulus Ujian Komprehensif... iii

Kata Pengantar ... iv

Daftar Isi ... ix

Daftar Tabel ... xii

Daftar Gambar ... xiii

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Penelitian ... 1

B. Ruang Lingkup Penelitian ... 3

C. Masalah Penelitian ... 3

D. Tujuan Penulisan Skripsi ... 3

E. Manfaat Penelitian ... 3

F. Sistematika Pembahasan ... 4

BAB II LANDASAN TEORI ... 5

A. Konsep Peranan Pemerintah dalam Perekonomian ... 5

B. Belanja Modal Pemerintah ... 6

C. Produk Domestik Bruto ... 7

D. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto ... 9

(11)

F. Hasil Penelitian Sebelumnya ... 14

G. Kerangka Pemikiran ... 15

H. Hipotesis Penelitian ... 16

BAB III METODOLOGI PENELITIAN ... 17

A. Gambaran Umum Objek Penelitian dan Alasan Pemilihan Objek ... 17

B. Jenis Data ... 19

C. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel ... 19

D. Pengukuran Variabel ... 20

E. Model Penelitian ... 20

F. Pengujian Hipotesis ... 21

G. Sarana yang Digunakan untuk Pengujian ... 22

H. Hasil yang Diharapkan ... 22

I. Pengujian Lain yang Diperlukan ... 22

BAB IV ANALISIS DAN PEMBAHASAN... 27

A. Pengantar... 27

B. Gambaran Umum Kondisi Belanja Modal dan Produk Domestik Bruto ... 27

C. Statistika Deskriptif ... 30

D. Uji Asumsi Klasik ... 31

E. Model Persamaan Linear ... 37

F. Pengujian Hipotesis ... 40

G. Interpretasi Data Secara Keseluruhan ... 42

BAB V SIMPULAN DAN SARAN ... 45

(12)

B. Saran ... 46 DAFTAR PUSTAKA ... 48 LAMPIRAN ... Lampiran 1:  Data Produk Domestik Bruto Indonesia dan Belanja Modal Pemerintah Pusat Republik Indonesia Tahun 2005 s.d. 2011 ...  Lampiran 2:  Hasil Lengkap Uji Hipotesis dan Persamaan Regresi Linear ... Lampiran 3:  Hasil Lengkap Uji Asumsi Klasik Heteroskedastisitas dengan

Metode Glejser ...  Lampiran 4:  Hasil Lengkap Uji Asumsi Klasik Linearitas dengan Metode

Lagrange Multiplier ...  RIWAYAT HIDUP PENULIS ...

52

52 53

55

(13)

DAFTAR TABEL

Tabel IV.1: Hasil Uji Statistika Deskriptif ... 31

Tabel IV.2: Uji Asumsi Klasik Normalitas dengan Metode Kolmogorov-Smirnov 34 Tabel IV.3: Hasil Uji Asumsi Klasik Heteroskedastisitas dengan Metode Glejser 35 Tabel IV.4: Hasil Uji Asumsi Klasik Otokorelasi dengan Metode Runs Test ... 36

Tabel IV.5: Hasil Uji Asumsi Klasik Linearitas dengan Metode Lagrange Multiplier ...  37

Tabel IV.6: Hasil Uji t dan Persamaan Linear ... 38

Tabel IV.7: Hasil Uji R2, Adjusted R2, dan Kesalahan Baku Estimasi ... 39

(14)

DAFTAR GAMBAR

Gambar II.1: Hubungan antara Belanja Modal Pemerintah dengan Produk

Domestik Bruto ... 12

Gambar IV.1: Perkembangan Belanja Modal Pemerintah Pusat Republik Indonesia ... 28

Gambar IV.2: Perkembangan Produk Domestik Bruto Indonesia ... 29

Gambar IV.3: Histogram Standardized Regression Residual ... 32

Gambar IV.4: Normal P-P Plot of Regression Standardized Residual ... 33

(15)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Penelitian

Periode 2003 s.d. 2005 adalah periode yang penuh perubahan dalam keuangan negara di Indonesia. Dimulai dari disahkannya UU Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara yang memperjelas kewenangan dalam pengelolaan keuangan negara, batasan keuangan negara dan daerah, dan mekanisme penyusunan APBN dan APBN. UU Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara memperjelas teknis pengelolaan keuangan negara beserta penatausahaannya. UU Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara turut mengawal jalannya pengelolaan keuangan negara. Milestone penting berikutnya adalah PP 24 Tahun 2005 yang kemudian diganti oleh PP 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintah melengkapi perubahan dengan laporan keuangan yang berbasis akrual.

(16)

para pembaca APBN untuk memahami ke pos pengeluaran mana saja uang negara akan disalurkan.

Transformasi yang sebelumnya terjadi pada keuangan negara kini juga merambah pada perekonomian negara. Tanggal 27 Mei 2011, Presiden Republik Indonesia, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) meresmikan Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI). MP3EI dimaksudkan untuk mewujudkan transformasi ekonomi dengan semangat not business as usual. Salah satu fokus utama dalam MP3EI adalah pembangunan infrastruktur secara besar-besaran untuk mendorong kelancaran ekonomi dan investasi yang pada akhirnya akan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Pembangunan infrastruktur ini banyak yang dananya berasal dari kerjasama pemerintah dengan sektor swasta, namun ada juga yang berasal dari belanja modal pemerintah.

Hasil penelitian sebelumnya di Indonesia bervariasi, ada yang menunjukkan bahwa belanja modal memiliki pengaruh signifikan positif, signifikan negatif, atau memiliki pengaruh tapi tidak signifikan terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB). Variasi ini tidak lepas dari obyek penelitian yang sebagian besar berasal dari pemerintah daerah, yang umumnya memiliki anggaran belanja modal yang bervariasi.

(17)

B. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini terbatas pada belanja modal Pemerintah Pusat Republik Indonesia dan Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga konstan tahun 2000 dalam kurun waktu tahun 2005 sampai dengan 2011. PDB yang dimaksud dalam penelitian ini adalah PDB atas dasar harga konstan tahun 2000 yang datanya diterbitkan oleh Badan Pusat Statistik. Belanja modal pemerintah pusat yang diteliti dalam penelitian ini adalah akun belanja modal dalam laporan keuangan pemerintah pusat yang diterbitkan oleh Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

C. Masalah Penelitian

Ada dua masalah yang berusaha disimpulkan jawabannya dalam penelitian ini, yaitu:

1. Apakah belanja modal Pemerintah Pusat Republik Indonesia berpengaruh positif terhadap produk domestik bruto di Indonesia?

2. Jika berpengaruh, apakah belanja modal Pemerintah Pusat Republik Indonesia secara signifikan mempengaruhi produk domestik bruto di Indonesia?

D. Tujuan Penulisan Skripsi

Skripsi yang ini disusun bertujuan untuk membuktikan apakah belanja modal pemerintah pusat memiliki pengaruh positif terhadap produk domestik bruto di Indonesia. Jika terbukti berpengaruh, apakah belanja modal pemerintah pusat mempengaruhi produk domestik bruto secara signifikan.

E. Manfaat Penelitian

(18)

dunia nyata dan metode pengolahan data yang ilmiah. Apabila terbukti benar, maka program pembangunan infrastruktur yang digalakkan oleh pemerintah dalam MP3EI dapat membawa harapan baru kemajuan ekonomi. Sementara, jika hasil penelitian menolak anggapan tersebut, maka penelitian ini dapat menjadi bahan masukan dalam menyikapi fokus pembangunan infrastruktur pada MP3EI.

F. Sistematika Pembahasan BAB I PENDAHULUAN

Bab ini berisi uraian latar belakang penelitian, ruang lingkup penelitian, tujuan dan manfaat penelitian, dan sistematika penelitian.

BAB II LANDASAN TEORI

Bab ini berisi teori terkait produk domestik bruto, bagaimana produk domestik bruto itu tumbuh, dan bagaimana belanja modal pemerintah dapat membantu mendorong aspek-aspek pendorong pertumbuhan produk domestik bruto. BAB III INTI PENELITIAN

Bab ini berisi mengenai metode pengumpulan data, definisi operasional penelitian, dan metode penelitian. Seluruh teknis yang dilakukan dalam penelitian dijabarkan di dalam bab ini.

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN EVALUASI

Bab ini berisi analisis terhadap data yang telah dikumpulkan menggunakan metode penelitian yang telah diuraikan pada Bab III.

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

(19)

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Konsep Peranan Pemerintah dalam Perekonomian

Teori ekonomi menekankan pada mekanisme pasar dalam produksi barang dan jasa. Ikut campur tangannya pemerintah dalam mengubah ekuilibrium permintaan dan penawaran dapat mengakibatkan inefisiensi dalam ekonomi. Namun, perlu disadari bahwa tidak semua barang dan jasa dapat diserahkan mekanisme produksinya ke sektor swasta karena ada barang-barang tertentu yang dibutuhkan masyarakat namun secara karakteristik tidak dapat diproduksi secara efisien melalui mekanisme pasar. Barang tersebut diantaranyaa adalah barang publik.

Rosen dan Gayer (2008, 52) membagi barang publik menjadi dua jenis. Pure public goods bersifat nonrival (tidak ada tambahan biaya ketika ada orang lain yang

turut mengonsumsi suatu barang) dan nonexcludable (tidak mungkin atau sangat mahal biayanya untuk menghalangi orang lain mengonsumsi suatu barang). Impure public good adalah barang yang bersifat rival dan/atau excludable sampai batasan

tertentu.

(20)

dari adanya barang publik tanpa berkontribusi atas biaya untuk mengadakan barang tersebut. Di sinilah pemerintah berperan, yaitu sebagai pembeli barang publik menggunakan uang yang dihimpun dari masyarakat. Dengan demikian, kebutuhan barang publik dapat tetap dipenuhi. 

B. Belanja Modal Pemerintah

Pemerintah RI (2010, PSAP 02-8) mendefinisikan belanja modal sebagai “pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi.” Parkin (2012, 4) mendefinisikan modal sebagai “tools, instruments, machines, buildings, and other construction that businesses use to produce goods and services.” Sloman (2006, 4) mendefinisikan modal sebagai “all inputs into production that have themselves being produced: eg. factories, machines and tools.” Mankiw (2012, 390 menyatakan “Economists use the term capital to refer to the stock of equipment and structures used for production.”

Dalam menjalankan fungsinya, pemerintah memerlukan barang modal untuk memproduksi pelayanan publik. Barang modal ini dapat berupa barang modal untuk membantu kerja instansi pemerintahan, atau barang publik untuk masyarakat. Mekanisme pasar tidak dapat menghasilkan barang publik sesuai kebutuhan. Padahal, masyarakat sangat membutuhkan barang publik. Di sinilah pemerintah berperan, yaitu mengatasi kegagalan mekanisme pasar dalam pengadaan barang publik.

(21)

belanja modal. Sementara, pada PPP, pemerintah mengeluarkan regulasi sehingga mengubah karakteristik barang publik menjadi barang privat sehingga bisa menarik minat swasta untuk bekerja sama dengan pemerintah dalam mekanisme pengadaannya. Contoh penerapan PPP ini adalah jalan tol dan pelabuhan.

Pendanaan belanja modal dari anggaran pemerintah memiliki kelebihan, yaitu pemerintah memiliki aset sepenuhnya, sehingga pemerintah dapat melayani kepentingan publik tanpa membatasi akses barang publik. Namun, pendanaan dari anggaran pemerintah memiliki kelemahan, yaitu keterbatasan dana yang dimiliki oleh pemerintah sehingga pemenuhan kebutuhan barang publik terhambat.

Belanja modal menggunakan mekanisme PPP memiliki kelebihan, yaitu pihak swasta dapat menyuntikkan modalnya untuk membangun barang publik sehingga kebutuhan barang publik dapat segera terpenuhi. Namun, pendanaan dari PPP memiliki kelemahan, yaitu tidak semua masyarakat dapat menikmati barang publik tersebut karena adanya pembatasan akses. Sebagai contoh, jalan tol tidak boleh dilalui oleh sepeda motor, sepeda, dan pejalan kaki. Masyarakat juga dilarang membuka usaha seperti tambal ban dan kios di sepanjang jalan tol, kecuali di tempat-tempat yang disediakan oleh pengelola jalan tol dengan membayar sewa yang biasanya tidak murah.

Penelitian ini akan meneliti belanja modal yang didanai dari APBN yang angkanya berasal hanya dari laporan keuangan pemerintah pusat saja. Belanja modal pemerintah diluar laporan keuangan pemerintah pusat diabaikan. 

C. Produk Domestik Bruto

(22)

yang diproduksi di dalam suatu negara selama periode waktu tertentu (Mankiw 2012, 494). Mankiw (2012, 492) menjelaskan, untuk menentukan apakah seseorang secara ekonomi baik atau buruk yang pertama kita lihat adalah besarnya pendapatan yang dia terima. Maka, wajar apabila kita menentukan seberapa baik perekonomian suatu negara dengan melihat pada berapa total pendapatan yang dihasilkan semua orang di dalam negeri.

Parkin (2012, 90) menjelaskan ada dua manfaat pengukuran produk domestik bruto, yaitu untuk membandingkan standar hidup selama selang waktu tertentu dan untuk membandingkan standar hidup antar negara. Dengan membandingkan standar hidup, kita dapat menilai apakah tahun ini lebih baik dari tahun lalu dan apakah negara kita lebih baik secara ekonomi dibandingkan dengan negara lain.

Abel, Bernanke, dan Croushore (2008, 24) memaparkan bahwa ada tiga pendekatan untuk mengukur pendapatan nasional, yaitu pendekatan produk, pendekatan pendapatan, dan pendekatan pengeluaran. Pendekatan produk mengukur aktivitas ekonomi dengan cara menjumlahkan nilai pasar seluruh barang dan jasa yang diproduksi, dengan mengeluarkan nilai pasar barang dan jasa yang dipakai dalam tahap produksi. Pendekatan ini menggunakan konsep nilai tambah. Pendekatan pendapatan mengukur aktivitas ekonomi dengan menjumlahkan seluruh pendapatan yang diperoleh produsen output, termasuk gaji yang diterima oleh pekerja dan laba yang diterima pemilik perusahaan. Pendekatan pengeluaran mengukur aktivititas ekonomi dengan menjumlahkan seluruh pengeluaran pengguna barang dan jasa final.

(23)

sama. Nilai pasar barang dan jasa yang diproduksi sama dengan jumlah yang harus dikeluarkan oleh pembeli untuk membelinya. Uang yang dikeluarkan tadi adalah uang yang diterima oleh penjual sebagai pendapatan penjual. Dengan demikian, total produksi sama dengan total pendapatan sama dengan total pengeluaran.

Untuk mengukur produk domestik bruto di sebuah negara, Mankiw (2012, 496) lebih memilih untuk menggunakan pendekatan pengeluaran, yaitu:

Y = C + I + G + NX Keterangan:

Y = produk domestik bruto C = konsumsi

I = investasi

G = belanja pemerintah NX = net exports

D. Pertumbuhan Produk Domestik Bruto

Sloman (2006, 378) menyatakan bahwa ada dua faktor utama yang berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi potensial, yaitu pertumbuhan sumber daya (sumber daya alam, pekerja, atau modal) dan peningkatan efisiensi pengggunaan sumber daya (yang berasal dari kemajuan teknologi, peningkatan kemampuan pekerja, atau peningkatan organisasi).

(24)

produk domestik bruto. Apabila tiap-tiap orang memproduksi lebih banyak barang dan jasa, maka tiap-tiap orang dapat mengonsumsi lebih banyak. Mereka mencontohkan, rata-rata warga negara Amerika Serikat di tahun 2008 dapat mengonsumsi barang dan jasa delapan kali lebih banyak daripada rata-rata warga negara Amerika di tahun 1900 karena rata-rata pekerja Amerika Serikat di tahun 2008 delapan kali lebih produktif daripada daripada rata-rata warga negara Amerika Serikat di tahun 1900.

Lebih lanjut, Parkin (2012, 145) menjelaskan tiga hal yang mempengaruhi pertumbuhan produktivitas tenaga kerja, yaitu pertumbuhan modal fisik, pertumbuhan modal sumber daya manusia, dan perkembangan teknologi. Pertumbuhan ketiga faktor tersebut akan meningkatkan efisiensi pekerja, sehingga mereka bisa memproduksi lebih banyak dalam waktu yang sama.

Sloman (2006, 370) menyatakan bahwa ada tiga unsur dalam the circular flow of income, yaitu inner flow, withdrawals, dan injections. Inner flow terdiri atas

produsen dan rumah tangga. Withdrawals terdiri atas net saving, net taxes, dan import expenditure. Injections terdiri atas investment, government expenditure, dan export

expenditure.

(25)

banyak orang dipekerjakan sehingga lebih banyak uang uang yang dibayarkan kepada rumah tangga. Uang tambahan ini akan menambah konsumsi yang berarti permintaan lebih besar atas barang-barang yang dihasilkan produsen. Produsen akan memproduksi lebih banyak lagi, sehingga akan mempekerjakan orang lebih banyak lagi dan demikian seterusnya.

E. Hubungan antara Belanja Modal Pemerintah dengan Pertumbuhan Produk Domestik Bruto

Dari pemaparan teori tentang pertumbuhan produk domestik bruto di atas, kita bisa melihat peranan belanja modal pemerintah di dalamnya. Parkin (2012, 141) menyatakan bahwa salah satu penyebab tumbuhnya produk domestik bruto adalah pertumbuhan produktivitas tenaga kerja, dimana lebih lanjut Parkin (2012, 145) menjelaskan salah satu hal yang mempengaruhi pertumbuhan produktivitas tenaga kerja yaitu pertumbuhan modal fisik. Selain modal fisik dari sektor swasta, modal fisik milik pemerintah juga bisa menumbuhkan perekonomian. Bahkan, modal fisik pemerintah dapat mendorong investasi modal fisik dari sektor swasta. Simon White (2005, 11) menyatakan “... private investment depends on a sound infrastructure ....” Lebih lanjut Simon White (2005, 10) memaparkan adanya tiga elemen kunci dalam iklim investasi, yaitu cost of investment, risks, dan barriers to competition. Salah satu penentu cost of investment yang disorot oleh White (2010, 10) adalah infrastruktur. 

Sloman (2006, 370) salah satu unsur dalam the circular flow of income, yaitu injections,yang salah satunya berupa government expenditure, dimana lebih lanjut

(26)

perekonomian (ΔY >ΔJ). Ketika pengeluaran ekstra diinjeksikan ke dalam perekonomian, injeksi ini akan merangsang pengeluaran tambahan, yang kemudian akan merangsang pengeluaran tambahan, dan seterusnya. Hindriks dan Myles (2006, 684) secara eksplisit menyebut, “This model reveals a positive role for government in enhancing growth through the provision of public input.”

Gambar II.1 Hubungan antara Belanja Modal Pemerintah dengan Produk Domestik Bruto

Diolah dari Parkin, Michael. 2012. Macroeconomics. Edisi ke-10. Upper Saddle River: Pearson Education Inc. Hal. 141 dan 145.

Infrastruktur yang baik akan mengundang investasi dari sektor swasta. Investasi ini, selain membuka lapangan kerja, juga mengolah sumber daya yang menganggur menjadi output. Investasi juga bisa meningkatkan produktivitas tenaga kerja, karena investasi yang memadai dapat mengubah skala ekonomi dalam produksi dari yang semula industri kecil yang memiliki tingkat produktivitas rendah menjadi industri besar yang lebih modern dan memiliki tingkat produktivitas tinggi.

(27)

Infrastruktur jalan yang baik akan mempercepat arus barang sehingga bisa meningkatkan jumlah sumber daya yang diproses. Infrastruktur jalan yang baik juga bisa menurunkan harga pokok penjualan. Penurunan harga pokok penjualan ini bisa menurunkan harga barang sehingga permintaan barang naik. Naiknya permintaan ini akan meningkatkan jumlah barang yang diproduksi sehingga terjadi pertumbuhan ekonomi.

Pengembangan kantor pemerintahan beserta peralatannya juga bisa menumbuhkan ekonomi. Pertambahan bangunan berarti membuka lapangan kerja dan menumbahkan ekonomi di sekitar perkantoran. Sementara, peralatan yang lebih baik seharusnya berarti administrasi yang lebih mudah dan lebih cepat. Administrasi yang lebih cepat berarti hambatan birokrasi pemerintahan untuk kepentingan swasta dapat dikurangi, yang berarti perdagangan yang lebih lancar sehingga ekonomi bisa tumbuh lebih pesat.

Belanja modal pada badan layanan umum juga bisa menumbuhkan ekonomi. Peningkatan fasilitas badan layanan umum semisal rumah sakit umum daerah, selain bisa menumbuhkan ekonomi dari permintaan barang, juga bisa memberikan perawatan yang lebih baik kepada warga negara sehingga mereka bisa sembuh lebih cepat dan bisa lebih produktif bagi perekonomian.

(28)

entrepreuner yang bisa menciptakan inovasi yang pada akhirnya bisa berujung pada penciptaan lapangan kerja.

F. Hasil Penelitian Sebelumnya

1. Hubungan antara Dana Alokasi Umum, Belanja Modal, Pendapatan Asli Daerah dan Pendapatan per Kapita.

Salah satu masalah yang diteliti oleh David Harianto dan Priyo Hari Adi (2007, 12) dalam penelitian ini adalah hubungan antara belanja modal daerah dengan pendapatan per kapita. Sebagaimana kita ketahui, pendapatan per kapita berasal dari PDB/PDBR dibagi dengan jumlah penduduk. Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah kabupaten dan Kota se Jawa – Bali dari tahun 2001 s.d. 2004. Simpulan dari penelitian ini adalah belanja modal memiliki dampak yang signifikan dan negatif terhadap pendapatan per kapita.

2. Pengaruh Pengeluaran Konsumsi dan Investasi Pemerintah terhadap Pertumbuhan Ekonomi di Indonesia.

Periode yang diteliti pada penelitian ini adalah tahun 1997 s.d. 2007, dimana pengeluaran investasi datanya berasal dari pengeluaran pembangunan pemerintah. Swaramarinda dan Indriani (2011, 104) menyimpulkan bahwa pengeluaran investasi pemerintah mempunyai dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi.

3. Pengaruh Penanaman Modal Asing, Penanaman Modal Dalam Negeri, dan Belanja Modal Terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Provinsi Jawa Tengah.

(29)

(2010, 114) menyimpulkan bahwa, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang, belanja modal berpengaruh positif tapi tidak signifikan terhadap PDRB Provinsi Jawa Tengah.

4. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Jawa Tengah.

Penelitian yang dilakukan oleh Viki Indrasari (2011, vii) ini menyimpulkan bahwa belanja modal berpengaruh positif dan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi. Penelitian ini dilakukan menggunakan data time-series dalam kurun 2004 s.d. 2009 dan data cross section 35 kabupaten/kota di Provinsi Jawa Tengah.

5. Pengaruh Pertumbuhan Investasi Publik, Pertumbuhan Investasi Swasta, dan Pertumbuhan Penduduk terhadap Pertumbuhan Ekonomi Kota Semarang Periode 1992-2006.

Penelitian yang dilakukan oleh Tjahjanto Saptomo (2008, 64) ini menyimpulkan bahwa pertumbuhan investasi publik berpengaruh secara positif dan signifikan terhadap pertumbuhan PDRB per kapita Kota Semarang.

G. Kerangka Pemikiran

Dari teori-teori yang ada, maka kita bisa membangun sebuah kerangka pemikiran. Belanja modal yang dilakukan oleh pemerintah, sebagai salah satu bentuk injections, dapat memberikan efek multiplier ke dalam perekonomian. Efek multiplier

ini dapat berasal dari investasi swasta yang lebih besar akibat infrastruktur yang lebih baik, perdagangan yang lebih lancar, maupun pembukaan lapangan kerja.

(30)

Investasi swasta yang semakin besar ini akan menambah akumulasi modal fisik yang akan meningkatkan produktivitas tenaga kerja. Peningkatan produktivitas tenaga kerja ini akan meningkatkan produk domestik bruto.

Dari lima penelitian terdahulu yang dijadikan sebagai referensi, empat diantaranya menyatakan bahwa belanja modal pemerintah berpengaruh positif terhadap pertumbuhan ekonomi, sementara hanya satu penelitian yang menyatakan bahwa belanja modal berpengaruh negatif terhadap pertumbuhan ekonomi. Dari empat penelitian yang menyatakan positif, hanya dua yang secara tegas menyatakan berpengaruh secara signifikan dan satu penelitian yang secara tegas menyatakan bahwa pengaruh tidak signifikan.

H. Hipotesis Penelitian

Berdasarkan kerangka pemikiran penelitian yang telah disusun dengan mempertimbangkan landasan teori dan penelitiaan-penelitian sebelumnya, penelitian ini membangun hipotesis:

H0 : Belanja modal pemerintah pusat tidak berpengaruh terhadap produk domestik bruto.

H1 : Belanja modal pemerintah berpengaruh positif terhadap produk domestik bruto. Jika terbukti bahwa belanja modal berpengaruh terhadap produk domestik bruto, maka dilanjutkan dengan pengujian hipotesis:

H0 : Belanja modal pemerintah pusat tidak secara signifikan berpengaruh terhadap produk domestik bruto.

(31)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Gambaran Umum Objek Penelitian dan Alasan Pemilihan Objek

Pemerintahan di Indonesia memiliki dua bentuk, yaitu pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Namun, meski otonomi daerah sudah berjalan, belanja pemerintah pusat pada 2011 mencapai dua kali lipat dibandingkan seluruh transfer pemerintah pusat ke pemerintah daerah (Kementerian Keuangan, 2012). Di tahun yang sama, belanja modal pemerintah pusat mencapai 28,71% dibandingkan seluruh transfer pemerintah pusat ke pemerintah daerah (Kementerian Keuangan, 2012). Situasi ini menggambarkan betapa besarnya pengaruh pemerintah pusat dalam pengelolaan sektor publik di bidang ekonomi di Indonesia. Tiap kebijakan fiskal yang ditempuh pemerintah pusat akan memberikan efek yang mungkin signifikan.

(32)

dengan belanja modal pemerintah pusat di tahun 2011 (Kementerian Keuangan, 2012). Peningkatan belanja modal ini didorong oleh kesadaran pemerintah akan pentingnya pembangunan infrastruktur demi pertumbuhan perekonomian. Di tahun 2011 ini juga menjadi tahun disahkannya Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) yang sarat dengan pembangunan infrastruktur.

Produk domestik bruto di Indonesia juga terus mengalami peningkatan dalam enam tahun terakhir. Gambar IV.2 menunjukkan peningkatan tersebut. Produk domestik bruto berasal dari konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, penambahan modal tetap bruto, perubahan inventori, diskrepansi statistik dan ekspor dikurangi impor.

Penelitian ini mencoba mengonfirmasi apakah anggapan pentingnya belanja modal bagi pertumbuhan ekonomi benar atau tidak. Pembuktian ini dilakukan secara ilmiah menggunakan metode regresi linear sederhana.

Alasan pemilihan Pemerintah Pusat Republik Indonesia sebagai objek penelitian adalah pemerintah pusat masih memainkan peran penting dalam perekonomian nasional sekalipun Indonesia sudah menerapkan otonomi daerah. Cukup banyak kebijakan belanja modal yang dilakukan oleh pemerintah pusat. Maka, melakukan penelitian pengaruh belanja modal pemerintah pusat terhadap produk domestik bruto akan memberikan manfaat yang cukup signifikan dalam memahami manfaat belanja modal bagi perekonomian secara keseluruhan.

(33)

Pemerintah Pusat (LKPP). Dengan keseragaman definisi akun belanja modal, diharapkan angka yang disajikan dalam LKPP merujuk pada maksud yang sama dan tidak terjadi bias.

B. Jenis Data

Jenis data yang dipakai dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu belanja modal pemerintah pusat dan produk domestik bruto. Data belanja modal pemerintah tahun 2005 s.d. 2011 tersedia dalam situs resmi Kementerian Keuangan Republik Indonesia yang dapat diunduh setiap saat. Data produk domestik bruto Indonesia tersedia dalam situs resmi Badan Pusat Statistik (BPS) dan dapat diunduh setiap saat.

C. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel 1. Belanja modal pemerintah pusat.

Pemerintah RI (2010, PSAP 02-8) mendefinisikan belanja modal sebagai “pengeluaran anggaran untuk perolehan aset tetap dan aset lainnya yang memberi manfaat lebih dari satu periode akuntansi.” Belanja, menurut Pemerintah RI (2010, PSAP 02-7), “diakui pada saat terjadinya pengeluaran dari rekening kas umum negara/daerah.” Definisi belanja modal inilah yang dipakai dalam penelitian ini untuk menentukan besaran nilai belanja modal pemerintah pusat.

2. Produk domestik bruto.

(34)

when valued at the prices of a reference base year.” D. Pengukuran Variabel

1. Belanja modal pemerintah pusat.

Belanja modal pemerintah pusat diperoleh dengan cara menggunakan angka belanja modal pemerintah pusat yang tercantum dalam laporan keuangan pemerintah pusat yang telah diaudit oleh Badan Pemeriksa Keuangan.

2. Produk domestik bruto.

Produk domestik bruto atas dasar harga konstan tahun 2000 diperoleh dengan cara menggunakan berita statistik yang dirilis oleh Badan Pusat Statistik.

E. Model Penelitian

Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis regresi linear sederhana, dimana penelitian mencoba mengonfirmasi apakah hipotesis yang disusun memang sesuai dengan data-data di dunia nyata dengan menggunakan metode regresi linear sederhana sebagai alat interpretasi data. Analisis menggunakan metode regresi linear sederhana memiliki kelebihan berupa dihasilkannya model persamaan yang bersifat linear. Persamaan ini dapat digunakan untuk memproyeksikan besaran variabel dependen akibat perubahan pada besaran variabel independen dengan besaran simpangan baku tertentu. Dengan demikian, dengan mengetahui berapa besarnya belanja modal yang dilakukan pemerintah pusat, kita dapat memprediksi berapa produk domestik bruto di akhir tahun.

Penelitian ini menggunakan model persamaan regresi linear sederhana sebagai berikut:

(35)

Keterangan:

PDB = Produk Domestik Bruto

C = Konstanta

a = Koefisien regresi M = Belanja modal

ε = Standard Error

Model regresi linear yang disusun memiliki makna bahwa tiap belanja modal naik sebesar satu triliun rupiah, produk domestik bruto akan naik sebesar a triliun rupiah. Naiknya produk domestik bruto ini karena dalam analisis regresi ini kita mengajukan hipotesis bahwa belanja modal secara signifikan berpengaruh positif terhadap produk domestik bruto. 

F. Pengujian Hipotesis 1. Uji F.

Uji F, oleh Suliyanto (2011, 44), “digunakan untuk menguji ketepatan model atau goodness of fit ... untuk menguji apakah perubahan pada variabel bebas mampu menjelaskan perubahan pada nilai variabel tergantung atau tidak.”H0 ditolak jika hasil uji menunjukkan F-hitung > F-tabel.

2. Uji t.

Uji t, oleh Suliyanto (2011,45), “digunakan untuk menguji apakah variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap variabel tergantung atau tidak.” H0ditolak apabila t-hitung > t-tabel.

3. Uji R2.

(36)

besarnya kontribusi variabel bebas terhadap variabel tergantungnya. Semakin tinggi koefisien determinasi maka semakin tinggi variabel bebas dalam menjelaskan variasi perubahan pada variabel tergantungnya,” demikian penjelasan Suliyanto (2011,39). 4. Uji Adjusted R2.

Suliyanto (2011,43) menjelaskan “R2 memiliki kelemahan, yaitu bias terhadap jumlah variabel bebas ... dimana setiap penambahan satu variabel bebas dan pengamatan ... akan meningkatkan nilai R2 meskipun nilai yang dimasukkan tidak memiliki pengaruh yang signifikan ....”

Lebih lanjut Suliyanto (2011,43) mengatakan “Koefisien determinasi yang telah disesuaikan berarti bahwa koefisien tersebut telah dikoreksi dengan memasukkan unsur jumlah variabel dan ukuran sampel yang digunakan.”

G. Sarana yang Digunakan untuk Pengujian

Sarana yang digunakan untuk pengujian statistik seluruhnya menggunakan perangkat lunak SPSS 19. Data diinput dengan perangkat lunak Microsoft Excel 2010 dalam format .xlsx dan nantinya diimpor ke dalam SPSS 19.

H. Hasil yang Diharapkan

Hasil yang diharapkan dari pengujian statistik adalah belanja modal pemerintah pusat secara signifikan berpengaruh positif terhadap produk domestik bruto.

I. Pengujian Lain yang Diperlukan

(37)

(Best Linear Unbiased Estimator).

Uji asumsi klasik multikolinearitas tidak dilakukan dalam penelitian ini. Multikolinearitas berarti terjadi korelasi linear yang mendekati sempurna antar lebih dari dua variabel bebas (Suliyanto 2011, 81). Penelitian ini hanya memiliki satu variabel bebas sehingga gejala multikolinearitas tidak mungkin terjadi.

1. Uji asumsi klasik normalitas.

Suliyanto (2011,69) menjelaskan tujuan pengujian normalitas “untuk menguji apakah nilai residual yang telah distandarisasi pada model regresi berdistribusi normal atau tidak. Nilai residual dikatakan berdistribusi normal jika nilai residual terstandarisasi tersebut sebagian besar mendekati nilai rata-ratanya.”

Pengujian asumsi klasik normalitas dalam penelitian ini akan menggunakan metode grafik dan Kolmogorov-Smirnov. Pengujian grafik diperlukan untuk memberikan gambaran umum secara visual bagaimana distribusi pada residual yang terstandarisasi, sementara pengujian dengan metode Kolmogorov-Smirnov diperlukan untuk memastikan kebenaran hasil uji grafik karena sampel yang digunakan hanya berjumlah tujuh sampel.

Uji asumsi klasik normalitas dengan metode grafik akan menggunakan dua macam grafik, yaitu Histogram Standardized Regression Residual dan Normal P-P Plot. Apabila residual terstandarisasi terlah terdistribusi normal, histogram akan

membentuk kurva seperti lonceng, sementara dengan plot akan terlihat sebaran residual yang merapat pada garis diagonal normal. (Suliyanto 2011, 69).

(38)

i i TDF (e ) = P(Xe )

i i

1

EDF (e ) = #(errors e )

n

KS = max EDFTDF

Apabila KS-hitung > KS-tabel, maka nilai residual terstandarisasi pada model regresi berdistribusi normal. Jika menggunakan SPSS, Suliyanto (2011,78) mengatakan bahwa kondisi yang sama dapat juga terindikasi bila Asymp. Sig > α. 2. Uji asumsi klasik heteroskedastisitas.

Suliyanto (2011, 95) menyatakan “Heteroskedastisitas berarti ada varian variabel pada model regresi yang tidak sama (konstan).” Gujarati (2002, 405) menjabarkan persamaan uji heteroskedastisitas menggunakan metode Glejser sebagai:

i 1 2 i i

û = β +β X +v , dimana û adalah nilai residual tidak terstandarisasi.

Menurut Suliyanto (2011, 98), gejala heteroskedastitas teridentifikasi apabila β signifikan.

Uji grafik tidak dilakukan, karena uji grafik menuntut plot menyebar secara acak. Sementara, dengan sampel yang hanya berjumlah tujuh, sangat riskan untuk melihat apakah memang pola pada grafik acak atau teratur karena ketiadaan standar. 3. Uji asumsi klasik otokorelasi.

Suliyanto (2011, 125) menyatakan “Uji otokorelasi bertujuan untuk mengetahui apakah ada korelasi antara anggota serangkaian data observasi yang diuraikan menurut waktu (time-series) atau ruang (cross section).

(39)

menggunakan metode Runs Test sebagai:

Gujarati (2002, 466) menyatakan model regresi tidak terindikasi gejala otokorelasi bila memenuhi syarat:

Prob[E(R)-1,96R  R E(R)+1,96R]0, 95

4. Uji asumsi klasik linearitas.

Suliyanto (2011, 145) menyatakan “Pengujian linearitas ini perlu dilakukan untuk mengetahui model yang dibuktikan merupakan model linear atau tidak.” Lebih lanjut, Suliyanto (2011, 163) menjelaskan secara rinci uji linearitas menggunakan metode Lagrange Multiplier sebagai berikut:

a. Membuat persamaan regresi.

b. Mencari nilai prediksinya dan diberi nama (Ŷi). c. Mencari nilai residual (Y- Ŷi).

d. Mengkuadratkan semua nilai variabel bebas.

e. Meregresikan kuadrat variabel bebas terhadap nilai residualnya. U = b0 + b1X2+ ε

f. Berdasarkan persamaan regresi nilai kuadrat variabel bebas terhadap nilai residu, cari nilai koefisien determinasi yang baru.

(40)

h. Menarik kesimpulan uji linearitas dengan kriteria jika X2-hitung <X2-tabel dengan df = (n,α) maka model dinyatakan linear.

(41)

BAB IV

ANALISIS DAN PEMBAHASAN

A. Pengantar

Bab II telah membahas mengenai teori-teori yang pada akhirnya menjadi dasar penyusunan hipotesis. Bab IV berisi analisis regresi linear sederhana atas data-data di dunia nyata. Metode analisis secara rinci telah dibahas pada Bab III. Analisis ini diperlukan agar dapat diketahui apakah secara statistik, hipotesis yang disusun memang menggambarkan situasi di dunia nyata. Apabila terdapat kesesuaian antara hipotesis dengan dunia nyata secara statisik, dapat diperoleh keyakinan bahwa secara ilmiah hipotesis memang terbukti benar.

(42)

modal badan layanan umum. Peningkatan belanja modal ini didorong oleh kesadaran pemerintah pusat akan pentingnya belanja modal demi kelangsungan pertumbuhan ekonomi. Belanja modal dapat meningkatkan kapasitas ekonomi yang pada akhirnya dapat mendorong ekonomi untuk tumbuh lebih jauh lagi.

Gambar IV.1 Perkembangan Belanja Modal Pemerintah Pusat Republik Indonesia (dalam Triliun Rupiah)

Diolah dari: Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun 2005 s.d. 2011

Produk domestik bruto di Indonesia juga terus mengalami peningkatan dalam enam tahun terakhir. Gambar IV.2 menunjukkan peningkatan tersebut. Tahun 2005 produk domestik bruto Indonesia atas dasar harga konstan 2000 sebesar 1.749,5 triliun rupiah dan di tahun 2011 sudah mencapai 2.463,2 triliun rupiah. Produk domestik bruto berasal dari konsumsi rumah tangga, konsumsi pemerintah, penambahan modal tetap bruto, perubahan inventori, diskrepansi statistik, dan ekspor dikurangi impor.

Dari tren yang ada, bisa diamati bahwa setiap tahun belanja modal selalu meningkat, dan setiap tahun produk domestik bruto juga selalu meningkat. Produk

0,0 20,0 40,0 60,0 80,0 100,0 120,0 140,0

(43)

domestik bruto memiliki kecenderungan terus meningkat setiap tahun karena terus tumbuhnya akumulasi modal dan pertumbuhan tenaga kerja. Meningkatnya produk domestik bruto berarti meningkat pula ukuran ekonomi yang dapat dikenai pajak, yang berarti peningkatan penerimaan negara. Peningkatan penerimaan negara berarti semakin banyak uang yang bisa dibelanjakan, termasuk di antaranya belanja modal. Peningkatan belanja modal berarti perbaikan infrastruktur yang memberikan insentif investasi di sektor swasta. Peningkatan investasi di sektor swasta berarti peningkatan akumulasi modal yang berarti peningkatan kapasitas produk domestik bruto, dan seterusnya.

Gambar IV.2 Perkembangan Produk Domestik Bruto Indonesia (dalam Triliun Rupiah)

Diolah dari: Berita Sratistik Badan Pusat Statistik

Dari tren yang ada, juga terlihat hubungan linear antara belanja modal pemerintah pusat dengan produk domestik bruto. Keputusan pemerintah meningkatkan belanja modal selalu diikuti dengan peningkatan produk domestik bruto. Yang kini menjadi pertanyaan, apakah memang benar dapat diyakini bahwa

0,0 500,0 1.000,0 1.500,0 2.000,0 2.500,0 3.000,0

(44)

belanja modal pemerintah pusat berpengaruh positif terhadap produk domestik bruto? Jika memang belanja modal pemerintah berpengaruh positif terhadap produk domestik bruto, apakah pengaruh ini bersifat signifikan? Jika memang belanja modal pemerintah pusat secara signifikan berpengaruh positif terhadap produk domestik bruto, seberapa besar belanja modal bisa mempengaruhi produk domestik bruto? Pertanyaan-pertanyaan ini tidak dapat dijawab dengan sekedar menganalisis grafik saja, karena pengamatan visual penuh dengan subjektifitas. Diperlukan pengujian lebih mendalam atas data-data di dunia nyata ini. Pertanyaan-pertanyaan ini akan dijawab dengan menggunakan metode analisis regresi linear sederhana yang disajikan pada Sub-bab E dan F di Bab IV ini.

C. Statistika Deskriptif

Hasil statistika deskriptif penelitian ini disajikan pada Tabel IV.1. Dari tabel tersebut, bisa diamati bahwa rata-rata produk domestik bruto sebesar 2.084,743 dengan standar deviasi 253,7833, dan rata-rata belanja modal pemerintah pusat sebesar 71,300 dengan standar deviasi 26,0295. Dengan standar deviasi produk domestik bruto mencapai 12,17% dari rata-rata, dan standar deviasi belanja modal pemerintah pusat mencapai 36,51% dari rata-rata, kita dapat menyimpulkan bahwa variasi pada kedua variabel ini cukup tinggi.

Tingginya variasi pada kedua variabel ini cukup bisa dipahami, karena sifat kedua variabel yang incremental. Terus meningkatkan besaran produk domestik bruto dan belanja modal pemerintah pusat berarti setiap tahun mean terus bergeser naik. Mean tidak akan pernah mencapai satu titik seimbang tertentu. Dengan sampel yang

(45)

apabila standar deviasi kedua variabel ini juga cukup tinggi. Dari tahun ke tahun, jangkauan data akan semakin melebar. Dengan nilai produk domestik bruto dan belanja modal yang terus meningkat setiap tahun, wajar jika kedua variabel ini tidak punya titik keseimbangan.

Tabel IV.1 Hasil Uji Statistika Deskriptif

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Produk Domestik Bruto

7 1749,5 2463,2 2084,743 253,7833

Belanja Modal 7 32,9 117,9 71,300 26,0295 Valid N (listwise) 7

Diolah dari: LKPP dan Berita Statistik BPS

Namun, tingginya variasi data pada variabel produk domestik bruto dan belanja modal belum tentu berarti bahwa distribusi data tidak normal. Diperlukan pengujian lebih lanjut yang akan dibahas pada Sub-Bab berikutnya.

D. Uji Asumsi Klasik

(46)
(47)
(48)

normal.

Analisis menggunakan grafik dan kolmogorov-smirnov sama-sama menunjukkan bahwa residual yang terstandarisasi telah berdistribusi normal. Maka, diperoleh kesimpulan bahwa residual terstandarisasi memang telah terdistribusi secara normal.

Tabel IV.2 Hasil Uji Asumsi Klasik Normalitas dengan Metode Kolmogorov-Smirnov

Standardized Residual

N 7

Normal Parametersa,b Mean ,0000000 Std. Deviation ,91287093 Most Extreme

Differences

Absolute ,181

Positive ,181

Negative -,134

Kolmogorov-Smirnov Z ,479

Asymp. Sig. (2-tailed) ,976

a. Test distribution is Normal. b. Calculated from data.

Diolah dari: LKPP dan Berita Statistik BPS 2. Uji asumsi klasik heteroskedastisitas.

(49)

IV.3. Menurut Tabel IV.3, dapat diamati bahwa hasil regresi belanja modal terhadap residual absolut menunjukkan bahwa Sig. Belanja Modal sebesar 0,648. Karena penelitian ini menggunakan nilai α = 0,05, maka diperoleh kondisi Sig. Belanja > α. Dari kondisi tersebut, dapat diketahui bahwa belanja modal pemerintah pusat tidak secara signifikan mempengaruhi residual absolut. Jadi, diperoleh kesimpulan bahwa model regresi linear yang disusun dalam penelitian ini tidak memiliki gejala heteroskedastisitas.

Tabel IV.3 Hasil Uji Asumsi Klasik Heteroskedastisitas dengan Metode Glejser

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 35,798 54,408 ,658 ,540

Belanja Modal ,351 ,723 ,212 ,486 ,648

a. Dependent Variable: ABRESID

Diolah dari: LKPP dan Berita Statistik BPS 3. Uji asumsi klasik otokorelasi.

Hasil uji asumsi otokorelasi menggunakan metode runs test disajikan pada Tabel IV.4. Berdasarkan Tabel IV.4, dapat dilihat bahwa residual tak terstandarisasi memiliki nilai Asymp. Sig sebesar 1,000. Karena penelitian ini menggunakan besaran

α = 0,05, maka penelitian ini memiliki Asymp. Sig > α. Maka, diperoleh kesimpulan

(50)

Tabel IV.4 Hasil Uji Asumsi Klasik Otokorelasi dengan Metode Runs Test

Unstandardized Residual

Test Valuea -16,54940

Cases < Test Value 3 Cases >= Test Value 4

Total Cases 7

Number of Runs 4

Z ,000

Asymp. Sig. (2-tailed) 1,000

Diolah dari: LKPP dan Berita Statistik BPS 4. Uji asumsi klasik linearitas.

(51)

Tabel IV.5 Hasil Uji Asumsi Klasik Linearitas dengan Metode Lagrange Multiplier

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

1 ,052a ,003 -,197 85,93398676

a. Predictors: (Constant), XSqr

Diolah dari: LKPP dan Berita Statistik BPS 5. Simpulan uji asumsi klasik.

Dari uji asumsi klasik, dapat dilihat bahwa model persamaan regresi linear yang disusun telah memenuhi asumsi klasik normalitas, heteroskedastisitas, otokorelasi, dan linearitas. Dengan dipenuhinya seluruh uji asumsi klasik, kita dapat menyimpulkan bahwa model persamaan regresi linear yang disusun telah memenuhi kriteria BLUE (Best Linear Unbiased Estimator). Maka, analisis regresi linear sederhana dapat dilakukan.

E. Model Persamaan Linear

Berdasarkan hasil analisis dengan metode regresi linear sederhana yang ditunjukkan pada Tabel IV.6, diperoleh model persamaan regresi linear berikut (dalam satuan triliun rupiah):

Produk Domestik Bruto = 1.423,719 + 9,271 Belanja Modal + ε

(52)

Gambar IV.5 Model Persamaan Regresi dan PDB Riil (dalam Triliun Rupiah)

Diolah dari: LKPP dan Berita Statistik BPS

Dari model persamaan linear, dapat dilihat bahwa belanja modal pemerintah pusat memiliki hubungan yang positif. Semakin besar belanja modal yang dilakukan oleh Pemerintah Pusat Republik Indonesia, semakin besar produk domestik bruto di Indonesia.

Tabel IV.6 Hasil Uji t dan Persamaan Linear

Model

a. Dependent Variable: Produk Domestik Bruto

Diolah dari: LKPP dan Berita Statistik BPS 0,0

0,0 20,0 40,0 60,0 80,0 100,0 120,0 140,0

Model Regresi PDB Riil

(53)

Dari model persamaan linear yang telah disusun, juga dapat disimpulkan bahwa untuk setiap 1 triliun rupiah yang dibelanjakan oleh pemerintah pusat untuk belanja modal akan mendorong pertumbuhan produk domestik bruto sebesar 9,271 triliun rupiah. Model persamaan regresi ini juga menunjukkan bahwa jika pemerintah pusat tidak melakukan belanja modal, setidaknya produk domestik bruto di Indonesia mencapai 1.423,719 triliun rupiah.

Model persamaan linear yang dihasilkan dari proses analisis regresi linear sederhana sangat jarang memiliki keakuratan 100%, bahkan hampir tidak pernah 100%. Penyimpangan antara model persamaan linear dengan dunia nyata ini dapat terjadi karena ada banyak faktor lain yang menentukan dinamika produk domestik bruto selain belanja modal yang dilakukan oleh pemerintah pusat. Dari Tabel IV.7, bisa dilihat bahwa kesalahan baku estimasi sebesar 86,049. Nilai ini berarti bahwa penyimpangan secara normal antara produk domestik bruto yang diprediksi oleh model persamaan linear dengan nilai produk domestik bruto riil kurang lebih di kisaran 86,049 triliun rupiah.

Tabel IV.7 Hasil Uji R2, Adjusted R2, dan Kesalahan Baku Estimasi (sumber)

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

1 ,951a ,904 ,885 86,0492

a. Predictors: (Constant), Belanja Modal Diolah dari: LKPP dan Berita Statistik BPS

(54)

pada Tabel IV.6. Efek dorongan belanja modal pemerintah pusat,yang tiap 1 triliun mendorong pertumbuhan produk domestik bruto sebesar 9,271 triliun, memiliki kesalahan baku kurang lebih di kisaran 1,350 triliun rupiah. Sementara, terhadap nilai konstanta sebesar 1.423,719 triliun rupiah, terdapat kesalahan baku kurang lebih di kisaran 101,574 triliun rupiah.

F. Pengujian Hipotesis

Pengujian hipotesis adalah inti dari analisis regresi linear sederhana. Pada akhirnya, seluruh pengujian menggunakan analisis regresi linear sederhana memiliki tujuan utama untuk membuktikan kebenaran suatu hipotesis. Apakah hipotesis yang disusun memang sesuai dengan yang terjadi di dunia nyata dibuktikan dengan menguji data-data penelitian menggunakan metode analisis regresi linear sederhana. 1. Uji F.

Tabel IV.8 menunjukkan bahwa variabel belanja modal pemerintah pusat memiliki F-hitung sebesar 47,190. Penelitian yang dilakukan dengan menggunakan df: α, (k-1), (n-k) = 0,05, (2-1), (7-2) memiliki nilai F-tabel sebesar 6,608. Hasil uji menunjukkan bahwa F-hitung > F-tabel yang berarti variasi pada belanja modal pemerintah pusat mampu menjelaskan variasi pada produk domestik bruto. Kemampuan menjelaskan variasi ini memiliki makna bahwa belanja modal memiliki pengaruh terhadap produk domestik bruto. Maka, diperoleh kesimpulan bahwa H0 pada pengujian hipotesis pertama ditolak.

Keterangan:

(55)

Tabel IV.8 Hasil Uji F

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 349413,471 1 349413,471 47,190 ,001a

Residual 37022,346 5 7404,469

Total 386435,817 6

a. Predictors: (Constant), Belanja Modal

b. Dependent Variable: Produk Domestik Bruto

Diolah dari: LKPP dan Berita Statistik BPS 2. Uji t.

Tabel IV.6 menunjukkan bahwa t-hitung sebesar 6,869. Penelitian yang dilakukan menggunakan df: α, (n-k) = 0,05, (7-2) yang berarti t-tabel sebesar 2,015. Karena t-tabel > t-hitung, dapat disimpulkan bahwa belanja modal pemerintah pusat berpengaruh secara signifikan terhadap produk domestik bruto. Maka, H0 pada pengujian hipotesis kedua ditolak.

Ukuran seberapa besar pengaruh belanja modal pemerintah pusat dalam mempengaruhi produk domestik bruto dapat dilihat dalam model persamaan regresi linear. Menurut model persamaan regresi linear, untuk setiap 1 triliun rupiah yang dibelanjakan oleh pemerintah pusat untuk belanja modal, produk domestik bruto akan tumbuh sebesar 9,271 triliun rupiah. Ini berarti belanja modal akan menumbuhkan produk domestik bruto sebesar hampir sepuluh kali lipat.

3. Uji R2.

(56)

mampu menjelaskan variasi pada produk domestik bruto. Untuk mengetahui seberapa banyak variasi produk domestik bruto yang dapat dijelaskan oleh variasi belanja modal pemerintah pusat kita akan menggunakan besaran R2.

Tabel IV.2 menunjukkan R2 sebesar 0,904. Dapat disimpulkan bahwa 90,4% variasi pada produk domestik bruto dapat dijelaskan oleh variasi pada belanja modal pemerintah pusat. Tingginya angka R2 ini mengindikasikan bahwa memang belanja modal pemerintah pusat memiliki hubungan yang sangat kuat dengan produk domestik bruto.

4. Uji Adjusted R2.

Tabel IV.2 menunjukkan hasil uji adjusted R2 sebesar 0,885. Dari angka tersebut, diperoleh kesimpulan bahwa setelah dilakukan koreksi dengan memasukkan unsur jumlah variabel dan ukuran sampel yang digunakan, 88,5% variasi pada produk domestik bruto dapat dijelaskan oleh variasi pada belanja modal. Tingginya angka Adjusted R2 ini mengindikasikan bahwa memang belanja modal pemerintah pusat memiliki hubungan yang sangat kuat dengan produk domestik bruto.

G. Interpretasi Data Secara Keseluruhan

Setelah sebelumnya data diinterpretasi secara spesifik, sub-bab ini akan membahas interpretasi data secara keseluruhan. Interpretasi secara keseluruhan ini bertujuan untuk memudahkan pembaca melihat hubungan antara kedua variabel secara lebih sederhana.

(57)

kecenderungan terus meningkat setiap tahun karena terus tumbuhnya akumulasi modal dan pertumbuhan tenaga kerja. Meningkatnya produk domestik bruto berarti meningkat pula ukuran ekonomi yang dapat dikenai pajak yang berarti peningkatan penerimaan negara. Peningkatan penerimaan negara berarti semakin banyak uang yang bisa dibelanjakan, termasuk diantaranya belanja modal. Peningkatan belanja modal berarti perbaikan infrastruktur yang memberikan insentif investasi di sektor swasta. Peningkatan investasi di sektor swasta berarti peningkatan akumulasi modal yang berarti peningkatan kapasitas produk domestik bruto, dan seterusnya. Dari situasi ini, kita bisa melihat adanya hubungan linear antara belanja modal pemerintah pusat dengan produk domestik bruto.

Untuk lebih memastikan hubungan kedua variabel, dilakukan analisis hubungan antara kedua variabel menggunakan metode regresi linear sederhana. Untuk menggunakan metode ini, data-data penelitian harus memenuhi uji asumsi klasik. Dari hasil pengujian yang telah dilakukan, model persamaan regresi linear yang disusun telah lulus uji asumi klasik normalitas, heteroskedastisitas, otokorelasi dan linearitas. Uji asumsi klasik multikolinearitas tidak dilakukan karena penelitian ini hanya memiliki satu variabel bebas. Maka, model persamaan regresi linear yang disusun telah memenuhi kriteria BLUE (Best Linear Unbiased Estimator) sehingga analisis regresi linear sederhana dapat dilakukan.

(58)

memiliki pengaruh terhadap produk domestik bruto. Model persamaan regresi linear yang disusun menunjukkan bahwa pengaruh belanja modal terhadap produk domestik bruto bersifat positif. Jadi, pada hipotesis pertama H0 ditolak, karena hasil analisis regresi linear sederhana menunjukkan bahwa H1 diterima, yaitu belanja modal pemerintah pusat berpengaruh positif terhadap produk domestik bruto.

(59)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Penelitian ini telah melakukan analisis terhadap pengaruh belanja modal pemerintah pusat dan produk domestik bruto dari tahun 2005 s.d. 2011 menggunakan analisis regresi linear sederhana. Data belanja modal pemerintah pusat diperoleh dari laporan keuangan pemerintah pusat yang diterbitkan oleh Kementerian Keuangan Pemerintah Republik Indonesia dan data produk domestik bruto diperoleh dari berita statistik yang dikeluarkan oleh Badan Pusat Statstik. Data ini telah lulus uji asumsi klasik normalitas, heteroskedastisitas, otokorelasi dan linearitas. Uji asumsi klasik multikolinearitas tidak dilakukan karena penelitian ini hanya memiliki satu variabel bebas. Maka, model persamaan regresi linear yang disusun telah memenuhi kriteria BLUE (Best Linear Unbiased Estimator) sehingga analisis regresi linear sederhana dapat dilakukan.

Dari analisis hubungan antara dua variabel menggunakan metode regresi linear sederhana, diperoleh simpulan sebagai berikut:

(60)

2. Hasil uji t menunjukkan bahwa belanja modal pemerintah pusat mempengaruhi produk domestik bruto secara signifikan.

3. R2 menunjukkan 90,4% variasi pada produk domestik bruto dapat dijelaskan oleh variasi pada belanja modal pemerintah pusat.

4. Tiap 1 triliun rupiah belanja modal pemerintah pusat dapat mendorong pertumbuhan produk domestik bruto sebesar 9,271 triliun rupiah. Ini juga menunjukkan bahwa belanja modal pemerintah pusat memberikan pengaruh positif terhadap produk domestik bruto.

B. Saran

Kecenderungan peningkatan belanja modal pemerintah pusat dalam enam tahun terakhir terbukti secara statistik memiliki pengaruh positif yang signifikan bagi pertumbuhan produk domestik bruto di Indonesia. Kita patut menyambut baik rencana pemerintah yang termuat dalam MP3EI yang akan membangun infrastruktur secara besar-besaran di Indonesia.

Namun, pemerintah saat ini memiliki keterbatasan anggaran dalam melakukan belanja modal. Untuk mengatasi keterbatasan anggaran namun tetap menghindari penggunaan hutang, pemerintah dapat menggunakan mekanisme Public Private Partnership (PPP) untuk proyek-proyek belanja modal yang dirasa perlu tapi

tidak tersedia anggaran untuk melaksanakannya. Mekanisme PPP memang memiliki keterbatasan karena tidak semua masyarakat dapat mengakses barang publik yang dihasilkan, tapi setidaknya ada kelompok masyarakat yang terlayani daripada tidak ada yang terlayani sama sekali.

(61)

efektif dan efisien dalam mendorong pertumbuhan produk domestik bruto. Ketidakmampuan ini terjadi karena memang ruang lingkup penelitian yang hanya melihat dari segi belanja modal secara keseluruhan.

Untuk pengembangan penelitian berikutnya, sebaiknya dilakukan penelitian mengenai pengaruh unsur-unsur belanja modal Pemerintah Pusat Republik Indonesia terhadap produk domestik bruto di Indonesia. Pengetahuan akan pengaruh unsur-unsur belanja modal ini akan membantu untuk mengetahui unsur-unsur belanja modal pemerintah pusat yang mana yang paling efisien dalam mendorong pertumbuhan produk domestik bruto. Pengetahuan akan efisiensi ini akan membantu pemerintah dalam memprioritaskan bentuk belanja modalnya.

(62)

DAFTAR PUSTAKA

A. Buku, Jurnal Ilmiah, dan Sumber Lainnya

Abel, Andrew B., Ben S. Bernanke, dan Dean Croushore. 2008. Macroeconomics. Edisi ke-6. Boston: Pearson Education, Inc.

Afia, Elvany Noor. 2010. Pengaruh Penanaman Modal Asing, Penanaman Modal Dalam Negeri, dan Belanja Modal Terhadap Produk Domestik Regional

Bruto (PDRB) Provinsi Jawa Tengah. Semarang: Fakultas Ekonomi

Universitas Diponegoro.

Badan Pusat Statistik. 2006. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2005. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

---. 2007. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2006. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

---. 2008. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2007. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

---. 2009. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tahun 2008. Jakarta: Badan Pusat Statistik.

---. 2010. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Jakarta: Badan Pusat Statistik. ---. 2011. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Jakarta: Badan Pusat Statistik. ---. 2012. Pertumbuhan Ekonomi Indonesia. Jakarta: Badan Pusat Statistik. Departemen Keuangan Republik Indonesia. 2006. Laporan Keuangan Pemerintah

Pusat Tahun 2005. Jakarta: Departemen Keuangan Republik Indonesia.

(63)

Departemen Keuangan Republik Indonesia.

---. 2008. Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun 2007. Jakarta: Departemen Keuangan Republik Indonesia.

---. 2009. Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun 2008. Jakarta: Departemen Keuangan Republik Indonesia.

Greene, William H. 2003. Econometric Analysis. Edisi ke-5. Upper Saddle River: Pearson Education, Inc.

Gujarati, Damodar N. 2002. Basic Econometric. Edisi ke-4. New York: McGraw-Hill, Inc.

Harianto, David dan Priyo Hari Adi. 2007. Hubungan antara Dana Alokasi Umum, Belanja Modal, Pendapatan Asli Daerah dan Pendapatan per Kapita.

Salatiga: Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga. Hindriks, Jean dan Gareth D. Myles. 2006. Intermediate Public Economics.

Cambridge: The MIT Press.

Hubbard, R. Glenn dan Anthony Patrick O’Brien. 2010. Macroeconomics. Edisi ke-3. Boston: Prentice Hall.

Hyman, David N. 2011. Public Finance: A Contemporary Application of Theory to Policy. Edisi ke-10. Mason: South-Western Cengage Learning.

Indrasari, Viki. 2011. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Ekonomi Provinsi Jawa Tengah. Semarang: Fakultas Ekonomika dan Bisnis

Universitas Diponegoro.

(64)

---. 2011. Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun 20010. Jakarta: Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

---. 2012. Laporan Keuangan Pemerintah Pusat Tahun 2011. Jakarta: Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Mankiw, N. Gregory. 2012. Economics. Edisi ke-6. Mason: South-Western, Cengage Learning.

Omey, Edward. 2010. Econometrics: an Introduction. Brussel: http://www.edwardomey.com/nonsave/BBA3Econometrics.pdf (diakses 20 Juni 2012)

Parkin, Michael. 2012. Macroeconomics. Edisi ke-10. Upper Saddle River: Pearson Education Inc.

Rosen, Harvey S. dan Ted Gayer. 2008.Public Finance. Edisi ke-8. New York: The McGraw-Hill Companies, Inc.

Saptomo, Tjahjanto. 2008. Pengaruh Pertumbuhan Investasi Publik, Pertumbuhan Investasi Swasta, dan Pertumbuhan Penduduk terhadap Pertumbuhan

Ekonomi Kota Semarang Periode 1992-2006. Semarang: Program

Pascasarjana Universitas Diponegoro.

Sloman, John. 2006. Economics. Edisi ke-6. Harlow: Pearson Education Limited Suliyanto. 2011. Ekonometrika Terapan: Teori dan Aplikasi dengan SPSS.

Yogyakarta: CV. Andi Offset.

Swaramarinda, Darma Rika dan Susi Indriani. 2011. Pengaruh Pengeluaran Konsumsi dan Investasi Pemerintah terhadap pertumbuhan Ekonomi di

(65)

White, Simon. 2005. Enhancing Private Investment for Development: Policy Guidance for Development Agencies. www.oecd.org/dataoecd/13/12/

36751869.pdf (diakses pada 21 Juni 2012) B. Peraturan Perundang-undangan

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 17 Tahun 2003 tentang Keuangan Negara.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 1 Tahun 2004 tentang Perbendaharaan Negara.

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung Jawab Keuangan Negara.

Peraturan Pemerintah Republik IndonesiaNomor 24 Tahun 2005 tentang Standar Akuntansi Pemerintah.

(66)

Lampiran 1 DATA PRODUK DOMESTIK BRUTO INDONESIA DAN BELANJA MODAL

PEMERINTAH PUSAT REPUBLIK INDONESIA TAHUN 2005 S.D. 2011 (DALAM TRILIUN RUPIAH)

Tahun Belanja Modal Produk Domestik Bruto

2005 32,9 1.749,5

2006 55,0 1.846,7

2007 64,3 1.964,0

2008 72,8 2.082,1

2009 75,9 2.177,0

2010 80,3 2.310,7

(67)

Lampiran 2 HASIL LENGKAP UJI HIPOTESIS DAN PERSAMAAN REGRESI LINEAR Variables Entered/Removedb

Model Variables Entered Variables Removed Method

1 Belanja Modal . Enter

a. All requested variables entered.

b. Dependent Variable: Produk Domestik Bruto Model Summary

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

1 ,951a ,904 ,885 86,0492

a. Predictors: (Constant), Belanja Modal ANOVAb

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 349413,471 1 349413,471 47,190 ,001a

Residual 37022,346 5 7404,469

Total 386435,817 6

a. Predictors: (Constant), Belanja Modal

(68)

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) 1423,719 101,574 14,017 ,000

Belanja Modal 9,271 1,350 ,951 6,869 ,001

(69)

Lampiran 3 HASIL LENGKAP UJI ASUMSI KLASIK HETEROSKEDASTISITAS

DENGAN METODE GLEJSER Variables Entered/Removedb

Model Variables Entered Variables Removed Method

1 Belanja Modal . Enter

a. All requested variables entered. b. Dependent Variable: ABRESID Model Summary

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

1 ,212a ,045 -,146 46,09196

a. Predictors: (Constant), Belanja Modal ANOVAb

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 500,930 1 500,930 ,236 ,648a

Residual 10622,345 5 2124,469

Total 11123,275 6

Gambar

Gambar II.1 Hubungan antara Belanja Modal Pemerintah dengan
Gambar IV.1 Perkembangan Belanja Modal Pemerintah Pusat Republik Indonesia
Gambar IV.2 Perkembangan Produk Domestik Bruto Indonesia
Tabel IV.1 Hasil Uji Statistika Deskriptif
+7

Referensi

Dokumen terkait

KPAI tidak mempunyai kedudukan sederajat dengan lembaga yang secara langsung menerima kewenangan konstitusional, tetapi KPAI dibentuk hanya untuk mendukung kinerja pemerintah

Dari tabel 4.11 dapat dianalisis pengaruh variabel bebas Jumlah Penduduk, Tenaga Kerja dan Dana Alokasi Bantuan Pembangunan terhadap Ketimpangan Pembangunan, hal

Masalah yang sering muncul pada pasien post appendiktomy adalah nyeri dan masalah nyeri tersebut harus segara diatasi agar tidak mengganggu hemodinamika dan

Pihak responden adalah yang memberikan pendapat terhadap jawaban faktor- faktor penyebab keterlambatan penyelesaian kegiatan fisik PNPM-MPd di Kabupaten Aceh Besar

Sumber data yang dipergunakan adalahdata sekunder, yaitu data yang telah jadi berupa laporan keuangan, dokumen yang berasal dari koperasi Credit Union Pancuran

Sugiyono (2009:172) menyatakan : Instrument reabilitas adalah instrument yang bila digunakan beberapa kali untuk mengukur objek yang sama, akan menghasilkan data yang

Proses pengolahan dengan cara memfilter data pemeruman untuk membersihkan data batimetri dari kesalahan pambacaan angka kedalaman pada saat pelaksanaan pengambilan

Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat dirumuskan masalah yang akan diteliti yaitu apakah ada pengaruh yang signifikan antara pemanfaatan media