• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengertian dan Contoh Kata Ulang Lengkap

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2018

Membagikan "Pengertian dan Contoh Kata Ulang Lengkap"

Copied!
33
0
0

Teks penuh

(1)

Pengertian dan Contoh Kata Ulang Lengkap

Pengertian dan Contoh Kata Ulang Lengkap - Kata-kata yang

mengalami prosese pengulangan atau reduplikasi disebut juga dengan kata ulang. Proses pengulangan yang terjadi pun bermacam-macam, misalnya pengulangaan kata secara utuh, pengulangan bunyi kata, penguangan sebagian kata, pengulangan kata semu dan pengulangan kata berimbuhan.

Kata ulang pun dapat dikelompokan berdasarkan bentuk dan fungsi atau makna perulangan. Berikut ini adalah jenis-jenis kata ulang. Kata Ulang Berdasarkan Bentuk

1. Dwipurwa (kata ulang sebagian)

Kata ulang sebagian adalah proses pengulangan yang terjadi pada sebagian kata biasanya terjadi pada bagian awal kata.

Contoh:

Tetangga, Tetua, Lelaki, Sesaji, Leluhur, Dedaunan, Pepohonan, Rerumputan, Bebatuan, Tetangga, Leluasa, Pegunungan

Contoh kalimat:

Tetua adat menyuruh semua orang untuk menjaga pepohonan di dalam hutan.

Rerumputan di pegunungan itu mati karena kemarau panjang yang terjadi.

2. Dwilingga (Kata ulang utuh atau penuh)

(2)

Contoh:

Anak-anak, Ibu-ibu, bapak-bapak, rumah-rumah, macam-macam, tinggi-tinggi, kata-kata, sama-sama, dan lain-lain.

Contoh kalimat:

Anak-anak bermain dengan riang gembira bersama orang tuanya. Pepohonan yang ada di hutan itu tinggi-tinggi dan besar-besar semua.

3. Kata ulang berubah bunyi

Reduplikasi bentuk ini terjadi pengulangan bunyi pada unsur pertama maupun unsur kedua dalam kalimat.

Contoh:

Gerak-gerik, sayur-mayur, warna-warni, teka-teki, sayur-mayur, utak-atik, serba-serbi, gotong-royong, lauk-pauk, dan lain-lain.

Contoh kalimat:

Gerak-gerik pria misterius itu harus diwaspadai.

Makanlah makanan sehat seperti sayur-mayur dan lauk-pauk.

4. Kata ulang berimbuhan

(3)

Contoh:

Tarik-menarik, bermain-main, bersenang-senang, melihat-lihat,

berandai-andai, bersiap-siap, rumah-rumahan, batu-batuan, bermaaf-maafan, tukar-menukar, sapa-menyapa, pukul-memukul, dan lain-lain.

Contoh kalimat:

Setelah terjadi tarik-menarik kedua kelompok remaja itu bermaaf-maafan.

Budi melihat-lihat rumah-rumahan yang terbuat dari lilin. 5. Kata ulang semu

Reduplikasi pada kata ulang semu terjadi pada kata dasar yang

sebenarnya bukan hasil reduplikasi itu sendiri. Perbedaan dengan kata ulang utuh adalah kata yang direduplikasi tidak akan memiliki makna jika dipisah.

Contoh: Laba-laba, kura-kura, undur-undur, orong-orong, empek-empek, kupu-kupu, ubur-ubur, pura-pura, cumi-cumi, ubun-ubun, dan lain-lain.

Contoh:

Budi sangat takut akan laba-laba, dan kura-kura. Kupu-kupu terbang dengan sangat cantik

Kata Ulang Berdasarkan Fungsi atau Makna

1. Kata ulang bermakna mirip atau agak

Contoh: Kekanak-kanakan, kemerah-merahan, kebapak-bapakan, kekeluargaan, kuda-kudaan, mobil-mobilan, dan lain-lain.

Contoh kalimat:

(4)

2. Kata ulang bermakna jamak

Contoh: Ibu-ibu, bapak-bapak, buku-buku, rumah-rumah, motor-motor, hewan-hewan, barang-barang, murid-murid, dokter-dokter, sapi-sapi, dan lain-lain.

Contoh kalimat:

Murid-murid harus mengerjakan tugas-tugas yang diberikan oleh guru-guru mereka.

Motor-motor yang terparkir di lapangan itu kebanyakan milik bapak-bapak daripada ibu-ibu.

3. Kata ulang bermakna macam-macam

Contoh: Sayur-mayur, pepohonan, buah-buahan, tumbuhan-tumbuhan, batu-batuan, dan lain-lain.

Contoh kalimat:

Ibu membeli sayur mayor di pasar minggu setiap hari.

Di taman itu banyak terdapat tumbuhan-tumbuhan yang cantik dan harum.

4. Kata ulang bermakna saling.

(5)

Contoh kalimat:

Perampok dan polisi itu tembak-menembak di depan Bank kemarin sore.

Kedua pasangan itu pandang-memandang selama berjam-jam tanpa bicara sepatah kata pun.

5. Kata ulang bermakna intensitas

Contoh: Kuat-kuat, mondar-mandir, jalan-jalan, makan-makan, bolak-balik, berjam-jam, dan lain-lain.

Contoh kalimat:

Andi memegang tangan ayahnya kuat-kuat ketika menyebrang jalan. Aku melihat orang itu mondar-mandir di depanku sejak dari tadi.

6. Kata ulang bermakna kolektif atau bilangan

Contoh: Satu-satu, dua-dua, tiga-tiga, empat-empat, dan seterusnya.

Contoh kalimat:

Ibu membagikan permen kepada anak jalanan itu satu-satu.

Pembagian keuntungan itu dibagi secara adil yaitu lima puluh-lima puluh.

(6)

Contoh: Hidup-hidup, mentah-mentah, merah-merah, panjang-panjang, dan lain-lain.

Contoh kalimat:

Presiden memerintahkan untuk menangkap pelaku terorisme itu hidup-hidup.

Buah rambutan itu merah-merah dan pasti rasanya manis.

8. Kata ulang bermakna tindakan yang dilakukan berkali-kali

Contoh: Sering-sering, berkali-kali, terus-menerus, dan lain-lain.

Contoh kalimat:

Budi memukul kucing itu berkali-kali hingga tak bisa berdiri. Andi mengejeknya terus-menerus tanpa henti.

9. Kata ulang bermakna kegiatan

Contoh: Masak-memasak, jahit-menjahit, tukar-menukar, dan lain-lain.

Contoh kalimat:

Ibu-ibu PKK mengadakan lomba masak-memasak untuk memperingati hari kemerdekaan.

Sebelum ada uang orang-orang mengadakan tukar menukar barang untuk memenuhi kebutuhan hidup.

(7)

Akronim ialah kata singkatan yang terbentuk dengan menggabungkan huruf awal suku kata atau gabungan kombinasi huruf awal dan suku kata daripada rangkai kata, dan ditulis serta dilafazkan sebagai kata yang wajar.

Contohnya:

Bernama - Berita Nasional Malaysia Gapena - Gabungan Penulis Nasional Mara - Majlis Manah Rakyat

ubahsuai - ubah sesuai

kugiran - kumpulan gitar rancak

Kata akronim boleh ditulis dengan tiga cara.

1) Akronim yang terbentuk daripada gabungan beberapa huruf awal rangkai kata yang disingkatkan, keseluruhannya ditulis dengan huruf besar, jika kata nama khas.

Contohnya:

LUTH - Lembaga Urusan dan Tabung Haji ABIM - Angkatan Belia Islam Malaysia

2) Akronim yang terbentuk daripada gabungan huruf awal dan/atau suku kata ditulis dengan huruf kecil keseluruhannya, jika bukan kata nama khas.

Contohnya:

tabika - taman bimbingan kanak-kanak purata - pukul rata

jentolak - jentera tolak

3) Akronim yang terbentuk daripada gabungan huruf awal dan/atau suku kata itu menjadi kata nama khas, kata itu ditulis bermula dengan huruf besar.

(8)

Pernas - Perbadanan Nasional

Intan - Institut Tadbiran Awam Negara Petronas - Petroleum Nasional

Proton - Perusahaan Otomobil Nasional diksi (pilihan kata)

A. Pengertian Diksi atau Pilihan kata

Jika kita menulis atau berbicara, kita selalu menggunakan kata. Kata tersebut dibentuk menjadi kelompok kata, klausa, kalimat, paragraph dan akhirnya sebuah wacana.

Di dalam sebuah karangan, diksi bisa diartikan sebagai pilihan kata pengarang untuk menggambarkan sebuah cerita. Diksi bukan hanya berarti pilih memilih kata melainkan digunakan untuk menyatakan gagasan atau menceritakan peristiwa tetapi juga meliputi persoalan gaya bahasa, ungkapan-ungkapan dan sebagainya.

Agar dapat menghasilkan cerita yang menarik melalui pilihan kata maka diksi yang baik harus memenuhi syarat, seperti :

• Ketepatan dalam pemilihan kata dalam menyampaikan suatu gagasan.

• Seorang pengarang harus mempunyai kemampuan untuk

membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa bagi pembacanya. • Menguasai berbagai macam kosakata dan mampu memanfaatkan kata-kata tersebut menjadi sebuah kalimat yang jelas, efektif dan mudah dimengerti.

Contoh Paragraf :

1). Hari ini Aku pergi ke pantai bersama dengan teman-temanku. Udara disana sangat sejuk. Kami bermain bola air sampai tak terasa hari sudah sore. Kamipun pulang tak lama kemudian.

2). Liburan kali ini Aku dan teman-teman berencana untuk pergi ke pantai. Kami sangat senang ketika hari itu tiba. Begitu sampai disana kami sudah disambut oleh semilir angin yang tak henti-hentinya

(9)

Kedua paragraf diatas punya makna yang sama. Tapi dalam pemilihan diksi pada contoh paragraph kedua menjadi enak dibaca, tidak

membosankan bagi pembacanya.

B. Syarat-Syarat Pemilihan Kata 1. Makna Denotatif dan Konotatif

Makna denotatif adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit. Makna wajar ini adalah makna yang sesuai dengan apa adanya.

Denotatif adalah suatu pengertian yang terkandung sebuah kata secara objektif. Sering juga makna denotatif disebut makna konseptual. Kata makan misalnya, bermakna memasukkan sesuatu kedalam mulut, dikunyah, dan ditelan. Makna kata makan seperti ini adalah makna denotatif.

Makna konotatif adalah makna asosiatif, makna yang timbul sebagai akibat dari sikap sosial, sikap pribadi, dan kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual. Kata makan dalam makna konotatif dapat berarti untung atau pukul.

Makna konotatif berbeda dari zaman ke zaman. Ia tidak tetap. Kata kamar kecil mengacu kepada kamar yang kecil (denotatif) tetapi kamar kecil berarti juga jamban (konotatif). Dalam hal ini, kita kadang-kadang lupa apakah suatu makna kata adalah makna denotatif atau konotatif. 2. Makna Umum dan Khusus

Kata umum dibedakan dari kata khusus berdasarkan ruang-lingkupnya.

Makin luas ruang-lingkup suatu kata, maka makin umum sifatnya.

Makin umum suatu kata, maka semakin terbuka kemungkinan terjadinya salah paham dalam pemaknaannya.

Makin sempit ruang-lingkupnya, makin khusus sifatnya sehingga

makin sedikit kemungkinan terjadinya salah paham dalam

pemaknaannya, dan makin mendekatkan penulis pada pilihan kata secara tepat.

Misalnya:

(10)

tergolong jenis ikan demikian juga gurame, lele, sepat, tuna, dan

baronang pasti merupakan jenis ikan. Dalam hal ini kata acuannya lebih luas disebut kata umum, seperti ikan, sedangkan kata yang acuannya lebih khusus disebut kata khusus, seperti gurame, lele, tawes, dan ikan mas.

3. Kata abstrak dan kata konkret.

Kata yang acuannya semakin mudah diserap panca-indra disebut kata konkret, seperti meja, rumah, mobil, air, cantik, hangat, wangi, suara. Jika acuan sebuah kata tidak mudah diserap panca-indra, kata itu disebut kata abstrak, seperti gagasan dan perdamaian. Kata abstrak digunakan untuk mengungkapkan gagasan rumit. Kata abstrak mampu membedakan secara halus gagasan yang sifat teknis dan khusus. Akan tetapi, jika kata abstrak terlalu diobral atau dihambur-hamburkan dalam suatu karangan. Karangan tersebut dapat menjadi samar dan tidak cermat.

4. Sinonim

Sinonim adalah dua kata atau lebih yang pada asasnya mempunyai makna yang sama, tetapi bentuknya berlainan. Kesinoniman kata tidaklah mutlak, hanya ada kesamaan atau kemiripan. Kita ambil

contoh cermat dan cerdik kedua kata itu bersinonim, tetapi kedua kata tersebut tidak persis sama benar.

Kesinoniman kata masih berhubungan dengan masalah makna denotatif dan makna konotatif suatu kata.

5. Kata Ilmiah dan kata popular

Kata ilmiah merupakan kata-kata logis dari bahasa asing yang bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kata-kata ilmiah biasa

digunakan oleh kaum terpelajar, terutama dalam tulisan-tulisan ilmiah, pertemuan-pertemuan resmi, serta diskusi-diskusi khusus.

Yang membedakan antara kata ilmiah dengan kata populer adalah bila kata populer digunakan dalam komunikasi sehari-hari. Dari pernyataan diatas dapat disimpulkan, kata-kata ilmiah digunakan pada tulisan-tulisan yang berbau pendidikan. Yang juga terdapat pada penulisan artikel, karya tulis ilmiah, laporan ilmiah, skripsi, tesis maupun desertasi.

Agar dapat memahami perbedaan antara kata ilmiah dan kata populer, berikut daftarnya:

(11)

Final Akhir

Diskriminasi perbedaan perlakuan Prediksi Ramalan

Kontradiksi Pertentangan Format Ukuran

Anarki Kekacauan

Biodata biograf singkat Bibliograf daftar pustaka

C. Pembentukan Kata

Ada dua cara pembentukan kata, yaitu dari dalam dan dari luar bahasa Indonesia. Dari dalam bahasa Indonesia terbentuk kosakata baru

dengan dasar kata yang sudah ada, sedangkan dari luar terbentuk kata baru melalui unsur serapan.

1. Kesalahan Pembentukan dan Pemilihan Kata

Pada bagian berikut akan diperlihatkan kesalahan pembentukan kata, yang sering kita temukan, baik dalam bahasa lisan maupun bahasa tulis misalnya:.

1. Penanggalan awalan meng-2. Penanggalan awalan ber-3. Peluluhan bunyi /c/

4. Penyengauan kata dasar

5. Bunyi /s/, /k/, /p/, dan /t/ yang tidak luluh 6. Awalan ke- yang keliru pemakaian akhiran –ir 7. Padanan yang tidak serasi

8. Pemakaian kata depan di, ke, dari, bagi, pada,, daripada dan terhadap

9. Penggunaan kesimpulan, keputusan, penalaran, dan pemukiman 10. Penggunaan kata yang hemat

11. Analogi

(12)

2. Defnisi

Defnisi adalah suatu pernyataan yang menerangkan pengertian suatu hal atau konsep istilah tertentu. Dalam membuat defnisi hal yang perlu di perhatikan adalah tidak boleh mengulang kata atau istilah yang kita defnisikan.

Contoh defnisi :

Majas personifkasi adalah kiasan yang menggambarkan binatang, tumbuhan, dan benda-benda mati seakan hidup selayaknya manusia, seolah punya maksud, sifat, perasaan dan kegiatan seperti manusia. Defnisi terdiri dari :

1. Defnisi nominalis

Defnisi nominalis adalah menjelaskan sebuah kata dengan kata lain yang lebih umum di mengerti. Umumnya di gunakan pada permulaan suatu pembicaraan atau diskusi.

Defnisi nominalis ada enam macam, yaitu defnisi sinonim, defnisi simbolik, defnisi etimologik, defnisi semantik, defnisi stipulatif, dan defnisi denotatif.

2. Defnisi realis

Defnisi realis adalah penjelasan tentang isi yang terkandung dalam sebuah istilah, bukan hanya menjelaskan tentang istilah. Defnisi realis ada tiga macam, yaitu :

- Defnisi esensial, yaitu penjelasan dengan cara menguraikan

perbedaan antara penjelasan dengan cara menunjukkan bagian-bagian suatu benda (defnisi analitik) dengan penjelasan dengan cara

menunjukkan isi dari suatu term yang terdiri atas genus dan diferensia (defnisi konotatif).

- Defnisi diskriptif

yaitu penjelasan dengan cara menunjukkan sifat-sifat khusus yang menyertai hal tersebut dengan penjelasan dengan cara menyatakan bagaimana sesuatu hal terjadi.

3. Defnisi praktis

(13)

- Defnisi operasional, yaitu penjelasan dengan cara menegaskan langkah-langkah pengujian serta menunjukkan bagaimana hasil yang dapat di amati.

- Defnisi fungsional, yaitu penjelasan sesuatu hal dengan cara menunjukkan kegunaan dan tujuannya.

- Defnisi persuasif, yaitu penjelasan dengan cara merumuskan suatu pernyataan yang dapat mempengaruhi orang lain, bersifat membujuk orang lain.

3. Kata Serapan

Kata serapan adalah kata yang di adopsi dari bahasa asing yang sudah sesuai dengan EYD. Kata serapan merupakan bagian perkembangan bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia telah banyak menyerap terutama dalam unsur kosa kata. Bahasa asing yang masuk dan memberi

pengaruh terhadap kosa kata bahasa Indonesia antara lain dari bahasa Sansekerta, bahasa Belanda, bahasa Arab, bahasa Inggris dan ada juga dari bahasa Tionghoa. Analogi dan Anomali kata serapan dalam bahasa Indonesia. Penyerapan kata ke dalam bahasa Indonesia terdapat 2 unsur, yaitu:

- Keteraturan bahasa (analogi) : dikatakan analogi apabila kata

tersebut memiliki bunyi yang sesuai antara ejaan dengan pelafalannya. - Penyimpangan atau ketidakteraturan bahasa (anomali) : dikatakan anomali apabila kata tersebut tidak sesuai antara ejaan dan

pelafalannya.

4. Analogi

Karena analogi adalah keteraturan bahasa, tentu saja lebih banyak berkaitan dengan kaidah-kaidah bahasa, bisa dalam bentuk sistem fonologi, sistem ejaan atau struktur bahasa. Ada beberapa contoh kata yang sudah sesuai dengan sistem fonologi, baik melalui proses

(14)

Menurut taraf integrasinya unsur pinjaman ke dalam bahasa asing dapat dibagi dua golongan. Pertama unsur pinjaman yang belum sepenuhnya terserap ke dalam bahasa Indonesia. Unsur seperti ini di pakai dalam konteks bahasa Indonesia, tetapi penulisan dan

pengucapannya masih mengikuti cara asing. Kedua unsur pinjaman yang pengucapan dan tulisannya telah di sesuaikan dengan kaidah bahasa Indonesia.

5. Anomali

Indonesia Aslinya bank bank (Inggris) Intern intern (Inggris) qur’an qur’an (Arab) jum’at jum’at (Arab)

Kata-kata di atas merupakan beberapa contoh kata serapan dengan unsur anomali. Bila kita amati, maka akan dapat di simpulkan bahwa lafal yang kita keluarkan dari mulut dengan ejaan yang tertera, tidak sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia. Hal yang tidak sesuai adalah : bank=(nk), jum’at=(’).

Kata-kata asing yang diserap ke dalam bahasa Indonesia secara utuh tanpa mengalami perubahan penulisan memiliki kemungkinan untuk di baca bagaimana aslinya, sehingga timbul anomali dalam fonologi. Contoh :

Indonesia Aslinya Expose Expose Export Export exodus Exodus

Kata kadang-kadang tidak hanya terdiri dari satu morfem, ada juga yang terdiri dari dua morfem atau lebih. Sehingga penyerapannya dilakukan secara utuh. Misalnya :

(15)

Federalisme federalism (Inggris) Bilingual bilingual (Inggris)

Dedikasi dedication (Inggris) Edukasi education (Inggris)

Diksi dapat diartikan sebagai pilihan kata pengarang untuk

menggambarkan cerita mereka. Diksi bukan hanya berarti pilih-memilih kata. Istilah ini bukan saja digunakan untuk menyatakan gagasan atau menceritakan peristiwa tetapi juga meliputi persoalan gaya bahasa, ungkapan-ungkapan dan sebagainya. Gaya bahasa sebagai bagian dari diksi yang bertalian dengan ungkapan-unkapan individu atau

karakteristik, atau memiliki nilai artistik yang tinggi.

Sebelum menentukan pilihan kata, penulis harus memperhatikan dua hal pokok, yakni: masalah makna dan relasi makna.

1.Makna sebuah kata / sebuah kalimat mrpkan makna yang tidak selalu berdiri sendiri. Adapun makna menurut (Chaer, 1994: 60) terbagi atas beberapa kelompok yaitu :

a). Makna Leksikal dan makna Gramatikal

Makna Leksikal adalah makna yang sesuai dengan referennya, sesuai dengan hasil observasi alat indera / makna yg sungguh-sungguh nyata dlm kehidupan kita. Contoh: Kata tikus, makna leksikalnya adalah binatang yang menyebabkan timbulnya penyakit (Tikus itu mati diterkam kucing).

Makna Gramatikal adalah untuk menyatakan makna-makna atau nuansa-nuansa makna gramatikal, untuk menyatakan makna jamak bahasa Indonesia, menggunakan proses reduplikasi seperti kata: buku yg bermakna “sebuah buku,” menjadi buku-buku yang bermakna “‘ banyak buku.”

b). Makna Referensial dan Nonreferensial

(16)

c). Makna Denotatif dan Konotatif

Makna denotatif adalah makna asli, makna asal atau makna sebenarnya yang dimiliki sebuah leksem. Contoh: Kata kurus, bermakna denotatif keadaan tubuhnya yang lebih kecil & ukuran badannya normal.

Makna konotatif adalah: makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa orang / kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Contoh: Kata kurus pada contoh di atas bermakna konotatif netral, artinya tidak memiliki nilai rasa yang mengenakkan, tetapi kata ramping bersinonim dengan kata kurus itu memiliki konotatif positif, nilai yang mengenakkan. Orang akan senang bila dikatakan ramping.

d). Makna Konseptual dan Makna Asosiatif

Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Contoh: Kata kuda memiliki makna konseptual “sejenis binatang berkaki empat yg bisa dikendarai”. Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem / kata

berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan suatu yang berada diluar bahasa . Contoh: Kata melati berasosiasi dg suatu yg suci / kesucian. Kata merah berasosiasi berani / paham komunis. e). Makna Kata dan Makna Istilah

Makna kata, walaupun secara sinkronis tidak berubah, tetapi karena berbagai faktor dalam kehidupan dapat menjadi bersifat umum. Makna kata itu baru menjadi jelas kalau sudah digunakan dalam suatu kalimat. Contoh: Kata tahanan, bermakna orang yang ditahan,tapi bisa juga hasil perbuatan menahan. Kata air, bermakna air yang berada di sumur, di gelas, di bak mandi atau air hujan.

Makna istilah memiliki makna yang tetap dan pasti. Ketetapan dan kepastian makna istilah itu karena istilah itu hanya digunakan dalam bidang kegiatan atau keilmuan tertentu. Contoh: Kata tahanan di atas masih bersifat umum, istilah di bidang hukum, kata tahanan itu sudah pasti orang yang ditahan sehubungan suatu perkara.

f). Makna Idiomatikal dan Peribahasa

Yang dimaksud dengan idiom adalah satuan-satuan bahasa (ada berupa baik kata, frase, maupun kalimat) maknanya tidak dapat diramalkan dari makna leksikal, baik unsur-unsurnya maupun makna gramatikal satuan-satuan tersebut. Contoh: Kata ketakutan, kesedihan,

(17)

Makna pribahasa bersifat memperbandingkan atau mengumpamakan, maka lazim juga disebut dengan nama perumpamaan. Contoh: Bagai, bak, laksana dan umpama lazim digunakan dalam peribahasa

g). Makna Kias dan Lugas

Makna kias adalah kata, frase dan kalimat yang tidak merujuk pada arti sebenarnya.

Contoh: Putri malam bermakna bulan , Raja siang bermakna matahari

//

KETEPATAN PILIHAN KATA

KETEPATAN PILIHAN KATA

2.1 Makna Denotatif dan Konotatif

Makna denotatif (makan konseptual) adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit.

Makna konotatif (makna asosiatif) adalah makna yang timbul sebagai akibat dari sikap sosial, sikap pribadi, dan kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual.

Makna-makna konotatif sifatnya lebih profesional dan operasional daripada makna denotatif. Makna denotatif adalah makna yang umum. Dengan kata lain, makna konotatif adalah makna yang dikaitkan

dengan suatu kondisi dan situasi tertentu.

Makna denotatif ialah arti harfah suatu kata tanpa ada satu makna yang menyertainya, sedangkan makna konotatif adalah makna kata yang mempunyai tautan pikiran, peranan, dan lain-lain yang

menimbulkan nilai rasa tertentu. Dengan kata lain makna denotatif adalah makna yang bersifat umum, sedangkan makna konotatif lebih bersifat pribadi dan khusus.

Perhatikan kalimat dibawah ini

Sejak dua tahun yang lalu ia membanting tulang untuk memperoleh kepercayaan masyarakat.

Kata membanting tulang (yang mengambil suatu denotatif kata

(18)

Sinonim adalah dua kata atau lebih yang pada asasnya mempunyai makna yang sama, tetapi bentuknya berlainan. Kesinoniman kata tidaklah mutlak, hanya ada kesamaan atau kemiripan.

Sinonim ini dipergunakan untuk mengalih-alihkan pemakaian kata pada empat tertentu sehingga kalimat itu tidak membosankan. Dalam

pemakaiannya bentuk-bentuk kata yang bersinonim akan menghidupkan Bahasa seseorang dan mengonkretkan bahasa seseorang segingga kejelasan komunikasi (lewat bahasa itu) akan terwujud. Dalam hal ini pemakai bahasa dapat memilih bentuk kata mana yang paling tepat untuk dipergunakan sesuai dengan kebutuhan dan situai yang dihadapinya.

Kita ambil contoh kata cerdas dan kata cerdik. Kedua kata itu bersinonim, tetapi kedua kata tersebut tidak persis sama benar.

Kesinoniman kata masih berhubungan dengan masalah makna denotatif dan makna konotatif suatu kata.

2.2.3 Makna Kata-Kata yang Mirip Dalam Ejaannya

Bila penulis sendiri tidak mampu membedakan kata-kata yang mirip ejaannya itu, makna akan membawa akibat yang tidak diinginkan, yaitu salah paham. Kata-kata yang mirip dalam tulisannya itu misalnya: bahwa-bawah-bawa, interferensi-inferensi, karton-kartun, preposisi-proposisi, korporasi-koperasi, dan lain sebagainya.

2.2.4 Hindari Kata-Kata Ciptaan Sendiri

Bahasa selalu tumbuh dan berkembang sesuai dengan perkembangan dalam masyarakat. Perkembangan bahasa pertama-tama tampak dari pertambahan jumlah kata baru. Namun hal itu tidak berarti bahwa setiap orang boleh menciptakan kata baru seenaknya. Kata baru biasanya muncul untuk pertama kali karena dipakai oleh orang-orang terkenal atau pengarang terkenal. Bila anggota masyarakat lainnya menerima kata itu, maka kata itu lama-kelamaan akan menjadi milik masyarakat. Neologisme atau kata baru atau penggunaan sebuah kata lama dengan makna dan fungsi yang baru termasuk dalam kelompok ini.

2.2.5 Penggunaan Istilah Asing dan Akhirannya

Waspadalah terhadap penggunaan akhiran asing, terutama kata-kata asing yang mengandung akhiran asing tersebut. Perhatikan

penggunaan: favorable-favorit, idiom-idiomatik, progress-progresif, kultur-kultural, dan sebagainya.

Kata-kata atau istilah-istilah asing boleh dipakai (mungkin kita pilih) dengan pertimbangan sebagai berikut:

(19)

kritik -kecaman profesional -bayaran asimilasi -persenyawaan aposisi -gelaran

dianalisis -diolah

b. Lebih singkat jika dibandingkan dengan terjemahannya, misalnya: eksekusi -pelaksanaan hukuman mati

imunisasi -pengebalan terhadap penyakit inovasi -perubahan secara baru

kontrasepsi -alat pencegah kehamilan mutasi -perpindahan tugas kepagawaian c. Bersifat internasional, misalnya:

matematika -ilmu pasti oksigen -zat asam hidrogen -zat air valensi -martabat fsiologi -ilmu faal predikat -sebutan

2.2.6 Pemakaian Kata Idiom

Karangan yang cermat dalam diksinya sebaiknya bersifat idiomatik. Perhatikan bentuk-bentuk contoh dibawah ini!

Betul Salah

Bergantung kepada atau pada tergantung dari Tergantung dari pada

Bergantung dari

Berbeda dengan berbeda dari/dari pada Disebabkan oleh disebabkan karena

(20)

Terdiri atas terdiri/terdiri dari Sesuai dengan sesuai

Bertemu dengan bertemu/bertemu sama 2.2.7 Makna Umum dan Khusus

Kata-kata umum (Generik) ialah kata-kata yang luas ruang lingkupnya, sedangkan kata-kata khusus ialah kata-kata yang sempit ruang

lingkupnya. Makin umum, makin kabur gambarannya dalam angan-angan. Sebaliknya, makin khusus, mikin jelas dan tepat. Karena itu, untuk mengefektifkan penuturan lebih tepat dipakai kata-kata khusus dari pada kat-kata umum.

Umum khusus

Melihat memandang (gunung sawah, laut) Menonton (wayang)

Menengok (orang sakit) Menatap (gambar) Menoleh (kiri-kanan) Meninjau (daerah)

Menyaksikan (pertandingan sepak bola) 2.2.8 Kata Konkret dan Abstrak

Kata-kata konkret adalah kata-kata yang menunjuk kepada objek yang dilihat, didengar, disarakan, diraba, atau dibau; sedangkan kata-kata abstrak ialah kata-kata yang menunjuk kepada sifat, konsep, atau gagasan. Kata-kata konkret lebih mudah dipahami dari pada kata-kata abstrak. Karena itu, dalam karangan sebaiknya dipakai kata konkret sebanyak-banyaknya agar isi karangan itu menjadi labih jelas.

(21)

Kata-kata konkrit dapat lebih efektif jika dipakai dalam karangan narasi atau deskripsi sebab, dalam merangsang panca indra. Kata-kata

abstrak sering dipakai untuk mengungkapkan gagasan atau ide-ide yang rumit.

2.2.9 Pemakaian Kata Indria

Suatu jenis pengkhususan dalam memilih kata-kata yang tepat adalah penggunaan istilah-istilah yang menyatakan pegalaman-pengalaman yang diserap oleh panca indra, yaitu serapan indria penglihatan, pendengaran, peraba, perasa, dan penciuman.

Tetapi sering kali terjadi hubungan antara indria dengan indria yang lain dirasakan begitu rapatnya, sehingga kata yang sebenarnya dikenakan kepada suatu indria dikenakan pula pada indria lainnya. Gejala semacam ini disebut sinestesia.

Contoh : wajahnya manis sekali. Suaranya manis kedengarannya

Kata-kata yang lazim dipakai untuk menyatakan penserapan itu adalah Peraba : dingin, panas, lembab, basah, kering, dan kasar

Perasa : pedas, pahit, asam, dan manis Pencium : basi, busuk, anyer dan tenggek

Pendengaran : dengung, derung, ringkik, lengking, dan kicau Penglihatan : kabur, mengkilat, kemerah-merahan, dan seri Karena kata-kata indria melukiskan suatu sifat yang khas dari penserapan panca indria, maka pemakaiannya harus tepat. 2.2.10 Perubahan Makna

Perubahan-perubahan yang penting adalah

1.Perluasan Arti

Kata yang dimaksud dengan perluasan arti adalah suatu proses

perubahan makna yang dialami sebuah kata yang tadinya mengandung suatau makna yang khusus, tetapi kemudia meluas sehingga meliputi sebuah kelas makna yang lebih umum.

(22)

2.Penyempitan Arti

Penyempitan arti sebuah kata adalah sebuah proses yang dialami sebuah kata dimana makna yang lama lebih luas cakupannya dari makna yang baru

contoh: kata sarjana dulu dipakai untuk menyebut sebuah cendekiawan. Sekarang dipakai untuk gelar universiter. 3.Ameliorasi

Amilorasi adalah suatu proses perubahan makna, dimana arti yang baru dirasakan lebih tinggi atau lebih baik nilainya dari arti yang lama.

Contoh : kata wanita dirasakan nilainya lebih tinggi dari kata perempuan, istri dan bini, pria dan laki-laki.

4.Peyorasi

peyorasi adalah suatu proses perubahan makna bebagai kebalikan dari amiliorasi

5.Metafora

Metafora adalah perubahan makna karena perbedaan sifat dua objek contoh: matahari (sang surya), putri malam (untuk bulan), pulau (empu laut), semuanya dibentuk berdasarkan metafora. Salah satu sub tipe dari metafora adalah sinestesia yaitu perubahan makna berdasarkan pergeseran istilah antara dua indria misalnya, dari peraba ke

penciuman. 6.Metonimi

Metonimi sebagai suatu proses perubahan makna terjadi karena hubungan yang erat antara kata-kata yang terlibat dalam suatu

lingkungan makna yang sama, dan dapat diklasifkasi menurut tempat atau waktu, hubungan isi dan kulit, dan antara sebab dan akibat.

Contoh :kata kota tadinya berati susunan batu yang dibuat mengelilingi sebuah tempat pemukiman sebagai pertahanan dari luar. Sekarang tempat pemukiman itu disebut kota, walaupun sudah tidak ada susunan batunya lagi.

2.2.11 Kelangsungan Pilihan Kata

Suatu cara lain untuk menjaga ketepatat pilihan kata adalah kelangsungan. Yang dimaksud dengan kelangsungan pilihan kata

adalah tehnik memilih kata yang sedemikian rupa sehingga maksud dan pikiran seseorang dapat disampaikan secara tepat dan efektif.

(23)

Dalam karangan sebaiknya dipaki kata-kata yang lugas, yaitu kata-kata yang bersahaja, apa adanya, tidak berupa frase yang panjang.

Perhatikanlah contoh berikut dan bandingkan!

> sepanjang pengetahuan saya Struktur Bahasa Tengger belum pernah diadakan penelitian.

> setahu saya Struktur Bahasa Tengger belum pernah diteliti. Jadi dalam karangan sedapat-dapatnya dipakai kalimat lugas dan ringkas namun tetap tidak mengubah maknanya. PENGERTIAN DIKSI

Diksi bisa diartikan sebagai pilihan kata pengarang untuk

menggambarkan sebuah cerita. Diksi bukan hanya berarti pilih memilih kata melainkan digunakan untuk menyatakan gagasan atau

menceritakan peristiwa tetapi juga meliputi persoalan gaya bahasa, ungkapan-ungkapan dan sebagainya. Gaya bahasa sebagai bagian dari diksi yang bertalian dengan ungkapan-unkapan individu atau

karakteristik, atau memiliki nilai artistik yang tinggi.

Diksi dalam arti aslinya dan pertama, merujuk pada pemilihan kata dan gaya ekspresi oleh penulis atau pembicara. Arti kedua “diksi” yang lebih umum digambarkan dengan enunsiasi kata seni berbicara jelas sehingga setiap kata dapat didengar dan dipahami hingga kompleksitas dan ekstrimitas terjauhnya. Arti kedua ini membicarakan pengucapan dan intonasi daripada pemilihan kata dan gaya.

• Plilihan kata atau diksi mencakup pengertian kata – kata mana yang harus dipakai untuk mencapai suatu gagasan, bagaimana membentuk pengelompokan kata – kata yang tepat atau menggunakan ungkapan – ungkapan, dan gaya mana yang paling baik digunakan dalam suatu situasi.

• Pilihan kata atau diksi adalah kemampuan membedakan secara tepat nuansa – nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.

• Pilihan kata yang tepat dan sesuai hanya dimungkinkan oleh

(24)

Diksi memiliki beberapa bagian; pendaftaran – kata formal atau informal dalam konteks sosial – adalah yang utama. Analisis diksi secara literal menemukan bagaimana satu kalimat menghasilkan intonasi dan karakterisasi, contohnya penggunaan kata-kata yang berhubungan dengan gerakan fsik menggambarkan karakter aktif, sementara penggunaan kata-kata yang berhubungan dengan pikiran menggambarkan karakter yang introspektif. Diksi juga memiliki dampak terhadap pemilihan kata dan sintaks.

Selain itu juga Diksi, digambarkan dengan kata – seni berbicara jelas sehingga setiap kata dapat didengar dan dipahami hingga kompleksitas dan ekstrimitas terjauhnya. Arti kedua ini membicarakan pengucapan dan intonasi, daripada pemilihan kata dan gaya. Atau kemampuan membedakan secara tepat nuansa – nuansa makna dari gagasan yang ingin disampaikan, dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai (cocok) dengan situasi dan nilai rasa yang dimiliki kelompok masyarakat pendengar.

Jika dilihat dari kemampuan pengguna bahasa, ada beberapa hal yang mempengaruhi pilihan kata, diantaranya :

Tepat memilih kata untuk mengungkapkan gagasan atau hal yang ‘diamanatkan’

Kemampuan untuk membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa

pembacanya.

menguasai sejumlah kosa kata (perbendaharaan kata) yang dimiliki masyarakat bahasanya, serta mampu menggerakkan dan

mendayagunakan kekayaannya itu menjadi jaring-jaring kalimat yang jelas dan efektif.

KESESUAIAN DIKSI

(25)

kadang-kadang masih ada perbedaan tambahan berupa perbedaan tata bahasa,pola kalimat, panjang atau kompleknya suatu alinea, dari

beberapa segi lain. Perbedaan antara ketepatan dan kesesuaian dipersoalkan adalah apakah kita dapat mengungkapkan pikiran kita dengan cara yang sama dalam sebuah kesempatan dan lingkungan yang kita masuki.

Syarat-Syarat Kesesuaian Diksi

Syarat-syarat kesesuaian diksi adalah sebagai berikut:

Hindarilah sejauh mungkin bahasa aatau unsur substandard dalam situasi yang formal.

Gunakanlah kata-kata ilmiah dalam situasi yang khusus saja. Dalam situasi yang umum hendaknya penulis dan pembicara mempergunakan kata-kata popular.

Hindarilah jargon dalam tulisan untuk pembaca umum.

Penulis atau pembicara sejauh mungkin menghindari pemakaian kata-kata slang

Dalam penulisan jangan mempergunakan kata percakapan. Hindarilah ungkapan-ungkapan usang (idiom yang mati). Jauhkan kata-kata atau bahasa yang artfsial.

Hal-hal tersebut akan diuraikan lebih lanjut dalam bagian-bagian di bawah ini :

1. Bahasa Standar dan Sub Standar

Bahasa standar adalah semacam bahasa yang dapat dibatasi sebagai tutur dari mereka yang mengenyam kehidupan ekonomis atau

menduduki status sosial yang cukup dalam suatu masyarakat. Kelas ini meliputi pejabat-pejabat pemerintah, ahli bahasa, ahli hukum, dokter, pedagang, guru, penulis, penerbit, seniman, insinyur, dan lain

sebagainya.

Bahasa non stsndar adalah bahasa dari mereka yang tidak memperoleh pendidikan yang tinggi. Pada dasarnya, bahasa ini dipakai untuk

(26)

berhumor. Bahasa non stadar juga berlaku untuk suatu wilayah yang luas dalam wilayah bahasa standar. Bahasa standar lebih efektif dari pada bahasa non standar. Bahasa non standar biasanya cukup untuk digunakan dalam kebutuhan-kebutuhan umum.

2. Kata Ilmiah dan Kata Populer

Pilihan kata dalam hubungan dengan kesempatan yang dihadapi seseorang dapat dibagi atas beberapa macam kategori salah satunya adalah kata-kata ilmiah melawan kata-kata populer. Bagian terbesar dari kosa kata sebuah bahasa terdiri dari kata-kata yang umum yang dipakai oleh semua lapisan masyarakat, baik yang terpelajar maupun orang atau rakyat jelata. Maka kata ini dinamakan kata-kata populer. Kata-kata ini juga dipakai dalam pertemuan-pertemuan resmi, dalam diskusi-diskusi yang khusus, dan dalam diskusi-diskusi ilmiah.

Contoh:

Kata populer kata ilmiah Sesuai Harmonis

Pecahan Fraksi Aneh Eksentrik Bukti Argumen

Kesimpulan konklusi

3. Jargon

Kata jargon mengandung beberapa pengertian. Jargon adalah suatu bahasa,dialek, atau struktur yang dianggap kurang sopan atau aneh tetapi istilah itu dipakai juga untuk mengacu semacam bahasa atau dialek hybrid yang timbul dari percampuran bahasa-bahasa, dan sekaligus dianggap sebagai bahasa perhubungan atau lingua franca. Jargon diartikan sebagai kata-kata teknis atau rahasia dalam suatu bidang ilmu tertentu, dalam bidang seni, perdagangan, kumpulan rahasia, atau kelompok-kelompok khusus lainnya. Oleh karena jargon merupakan bahasa yang khusus sekali, maka tidak akan banyak artinya bila dipakai untuk suatu sasaran yang umum. Sebab itu, hendaknya dihindari sejauh mungkin unsur jargon dalam sebuah tulisan umum.

(27)

kata percakapan adalah kata-kata yang biasa dipakai dalam percakapan atau pergaulan orang-orang yang terdidik. Pengertian percakapan ini disini sama sekali tidak boleh disejajarkan dengan bahasa yang tidak benar, tidak terpelehara atau tidak disenangi.

Bahasa percakapan yang dimaksud disini lebih luas dari pengertian kat-kat populer, kat-kata-kat-kata percakapan mencakup pula sebagian kat-kata-kat-kata ilmiah yang biasa dipakai oleh golongan terpelajar.

5. Kata Slang

Kata slang adalah kata-kata non standar yang disusun secara khas; bertenaga dan jenaka yang dipakai dalam percakapan. Kadang kala kata slang yang dihasilkan dari salah ucap yang disengaja. Kata-kata slang sebenarnya bukan hanya terdapat pada golongan terpelajar, tetapi juga pada semua lapisan masyarakat.

6. Idiom

Idiom adalah pola struktural yang menyimpang dari kaidah-kaidah bahasa yang umum, biasanya berbentuk frase, sedangkan artinya tidak bisa diterangkan secara logis, dengan bertumpu pada makna kata-kata yang membentuknya, misalnya: seorang asing yang sudah mengetahui makna kata makan dan tangan, tidak akan memahami makna perasa makan tangan. Siapa yang berfkir bahwa makan tangan sama artinya dengan kena tinju atau beruntung besar ? dan selanjutnya idiom-idiom yang menggunakan kata makan seperti: makan garam, makan hati, dan senagainya.

7. Bahasa Artifsial

Yang dimaksud dengan artifsial adalah bahasa yang disusun secara seni.

Fakta dan pernyataan-pernyataan yang sederhana dapat diungkapkan dengan sederhana dan langsung tak perlu disembunyikan.

Artifsial : Ia mendengar kepak sayap kalelawar dan guyuran sisa hujan dari dedaunan,

karena angin kepada kemuning.

Ia mendengar resah kuda serta langkah pedati ketika langit bersih kembali menampakkan

(28)

Biasa :Ia mendengar bunyi sayap kelelawar dan sisa hujan yang ditiup angin di daun.

Ia mendengar derap kuda dan pedati ketika langit mulai terang. Fungsi dari diksi antara lain :

Membuat pembaca atau pendengar mengerti secara benar dan tidak salah paham terhadap apa yang disampaikan oleh pembicara atau penulis.

Untuk mencapai target komunikasi yang efektif.

Melambangkan gagasan yang di ekspresikan secara verbal.

Membentuk gaya ekspresi gagasan yang tepat (sangat resmi, resmi, tidak resmi) sehingga menyenangkan pendengar atau pembaca.

Diksi terdiri dari delapan elemen yaitu : fonem, silabel, konjungsi, hubungan, kata benda, kata kerja, infeksi, dan uterans.

Macam macam hubungan makna : 1. Sinonim

Merupakan kata-kata yang memiliki persamaan / kemiripan makna. Sinonim sebagai ungkapan (bisa berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan makna ungkapan lain. Contoh: Kata buruk dan jelek, mati dan wafat.

2. Antonim.

Merupakan ungkapan (berupa kata, frase, atau kalimat) yang

maknanya dianggap kebalikan dari makna /ungkapan lain. Contoh: Kata bagus berantonim dengan kata buruk; kata besar berantonim dengan kata kecil.

3. Polisemi.

(29)

susu, kepala meja,dan kepala kereta api, bagian dari suatu yang

berbentuk bulat seperti kepala, kepala paku dan kepala jarum dan Iain-lain.

4. Hiponim.

Adalah suatu kata yang yang maknanya telah tercakup oleh kata yang lain, sebagai ungkapan (berupa kata, frase atau kalimat) yang

maknanya dianggap merupakan bagian dari makna suatu ungkapan. Contoh : kata tongkol adalah hiponim terhadap kata ikan, sebab makna tongkol termasuk makna ikan.

5. Hipernim.

Merupakan suatu kata yang mencakup makna kata lain.

6. Homonim.

Merupakan kata-kata yang memiliki kesamaan ejaan dan bunyi namun berbeda arti.

7. Homofon.

Merupakan kata-kata yang memiliki bunyi sama tetapi ejaan dan artinya berbeda.

8. Homograf.

Merupakan kata-kata yang memiliki tulisan yang sama tetapi bunyi dan artinya berbeda.

Sebelum menentukan pilihan kata, penulis harus memperhatikan dua hal pokok, yakni: masalah makna dan relasi makna :

(30)

Makna Leksikal : makna yang sesuai dengan referennya, sesuai dengan hasil observasi alat indera / makna yg sungguh-sungguh nyata dlm kehidupan kita. Contoh: Kata tikus, makna leksikalnya adalah binatang yang menyebabkan timbulnya penyakit (Tikus itu mati diterkam kucing).

Makna Gramatikal : untuk menyatakan makna-makna atau nuansa-nuansa makna gramatikal, untuk menyatakan makna jamak bahasa Indonesia, menggunakan proses reduplikasi seperti kata: buku yg bermakna “sebuah buku,” menjadi buku-buku yang bermakna “banyak buku”.

Makna Referensial dan Nonreferensial : Makna referensial &

nonreferensial perbedaannya adalah berdasarkan ada tidaknya referen dari kata-kata itu. Maka kata-kata itu mempunyai referen, yaitu

sesuatu di luar bahasa yang diacu oleh kata itu. Kata bermakna referensial, kalau mempunyai referen, sedangkan kata bermakna nonreferensial kalau tidak memiliki referen. Contoh: Kata meja dan kursi (bermakna referen). Kata karena dan tetapi (bermakna

nonreferensial).

Makna Denotatif dan Konotatif :Makna denotatif adalah makna asli, makna asal atau makna sebenarnya yang dimiliki sebuah leksem. Contoh: Kata kurus, bermakna denotatif keadaan tubuhnya yang lebih kecil & ukuran badannya normal. Makna konotatif adalah: makna lain yang ditambahkan pada makna denotatif tadi yang berhubungan dengan nilai rasa orang / kelompok orang yang menggunakan kata tersebut. Contoh: Kata kurus pada contoh di atas bermakna konotatif netral, artinya tidak memiliki nilai rasa yang mengenakkan, tetapi kata ramping bersinonim dengan kata kurus itu memiliki konotatif positif, nilai yang mengenakkan. Orang akan senang bila dikatakan ramping. Makna Konseptual dan Makna Asosiatif : Makna konseptual adalah makna yang dimiliki oleh sebuah leksem terlepas dari konteks atau asosiasi apapun. Contoh: Kata kuda memiliki makna konseptual

“sejenis binatang berkaki empat yg bisa dikendarai”. Makna asosiatif adalah makna yang dimiliki sebuah leksem / kata berkenaan dengan adanya hubungan kata itu dengan suatu yang berada diluar bahasa . Contoh: Kata melati berasosiasi dg suatu yg suci / kesucian. Kata merah berasosiasi berani / paham komunis.

Makna Kata dan Makna Istilah : Makna kata, walaupun secara

sinkronis tidak berubah, tetapi karena berbagai faktor dalam kehidupan dapat menjadi bersifat umum. Makna kata itu baru menjadi jelas kalau sudah digunakan dalam suatu kalimat. Contoh: Kata tahanan,

(31)

digunakan dalam bidang kegiatan atau keilmuan tertentu. Contoh: Kata tahanan di atas masih bersifat umum, istilah di bidang hukum, kata tahanan itu sudah pasti orang yang ditahan sehubungan suatu perkara. Makna Idiomatikal dan Peribahasa : Yang dimaksud dengan idiom adalah satuan-satuan bahasa (ada berupa baik kata, frase, maupun kalimat) maknanya tidak dapat diramalkan dari makna leksikal, baik unsur-unsurnya maupun makna gramatikal satuan-satuan tersebut. Contoh: Kata ketakutan, kesedihan, keberanian, dan kebimbangan memiliki makna hal yg disebut makna dasar, Kata rumah kayu

bermakna, rumah yang terbuat dari kayu. Makna pribahasa bersifat memperbandingkan atau mengumpamakan, maka lazim juga disebut dengan nama perumpamaan. Contoh: Bagai, bak, laksana dan umpama lazim digunakan dalam peribahasa .

Makna Kias dan Lugas : Makna kias adalah kata, frase dan kalimat yang tidak merujuk pada arti sebenarnya. Contoh: Putri malam

bermakna bulan , Raja siang bermakna matahari.

Agar dapat menghasilkan cerita yang menarik melalui pilihan kata maka diksi yang baik harus memenuhi syarat, seperti :

Ketepatan dalam pemilihan kata dalam menyampaikan suatu gagasan.

Seorang pengarang harus mempunyai kemampuan untuk membedakan secara tepat nuansa-nuansa makna sesuai dengan gagasan yang ingin disampaikan dan kemampuan untuk menemukan bentuk yang sesuai dengan situasi dan nilai rasa bagi pembacanya. Menguasai berbagai macam kosakata dan mampu memanfaatkan kata-kata tersebut menjadi sebuah kalimat yang jelas, efektif dan mudah dimengerti.

Contoh Paragraf :

1). Hari ini Aku pergi ke pantai bersama dengan kawanku. Udara disana sangat sejuk. Kami bermain bola air sampai tak terasa hari sudah sore. Kamipun pulang tak lama kemudian.

(32)

kami sudah disambut oleh semilir angin yang tak henti-hentinya

bertiup. Ombak yang berkejar-kejaran juga seolah tak mau kalah untuk menyambut kedatangan kami. Kami menghabiskan waktu sepanjang hari disana, kami pulang.

1. Makna Denotatif dan Konotatif

Makna denotatif adalah makna dalam alam wajar secara eksplisit. Makna wajar ini adalah makna yang sesuai dengan apa adanya. Denotatif adalah

suatu pengertian yang terkandung sebuah kata secara objektif. Sering juga makna denotatif disebut makna konseptual. Kata makan misalnya, bermakna memasukkan sesuatu kedalam mulut, dikunyah, dan ditelan. Makna kata makan seperti ini adalah makna denotatif.

Makna konotatif adalah makna asosiatif, makna yang timbul sebagai akibat dari sikap sosial, sikap pribadi, dan kriteria tambahan yang dikenakan pada sebuah makna konseptual. Kata makan dalam makna konotatif dapat berarti untung atau pukul.

2. Makna Umum dan Khusus

Kata umum dibedakan dari kata khusus berdasarkan ruang-lingkupnya. -Makin luas ruang-lingkup suatu kata, maka makin umum sifatnya. Makin umum suatu kata, maka semakin terbuka kemungkinan terjadinya salah paham dalam pemaknaannya.

-Makin sempit ruang-lingkupnya, makin khusus sifatnya sehingga makin sedikit kemungkinan terjadinya salah paham dalam pemaknaannya, dan makin mendekatkan penulis pada pilihan kata secara tepat.

Misalnya:

Kata ikan memiliki acuan yang lebih luas daripada kata mujair atau tawes. Ikan tidak hanya mujair atau tidak seperti gurame, lele, sepat, tuna, baronang, nila, ikan koki dan ikan mas. Dalam hal ini kata

acuannya lebih luas disebut kata umum, seperti ikan, sedangkan kata yang acuannya lebih khusus disebut kata khusus, seperti gurame, lele, tawes, dan ikan mas.

(33)

Kata yang acuannya semakin mudah diserap panca-indra disebut kata konkret, seperti meja, rumah, mobil, air, cantik, hangat, wangi, suara. Jika acuan sebuah kata tidak mudah diserap panca-indra, kata itu disebut kata abstrak, seperti gagasan dan perdamaian. Kata abstrak digunakan untuk mengungkapkan gagasan rumit. Kata abstrak mampu membedakan secara halus gagasan yang sifat teknis dan khusus. Akan tetapi, jika kata abstrak terlalu diobral atau dihambur-hamburkan dalam suatu karangan. Karangan tersebut dapat menjadi samar dan tidak cermat.

4. Sinonim

Sinonim adalah dua kata atau lebih yang pada asasnya mempunyai makna yang sama, tetapi bentuknya berlainan. Kesinoniman kata tidaklah mutlak, hanya ada kesamaan atau kemiripan. Kita ambil

contoh cermat dan cerdik kedua kata itu bersinonim, tetapi kedua kata tersebut tidak persis sama benar.

Kesinoniman kata masih berhubungan dengan masalah makna denotatif dan makna konotatif suatu kata.

5. Kata Ilmiah dan kata popular

Kata ilmiah merupakan kata-kata logis dari bahasa asing yang bisa diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Kata-kata ilmiah biasa

digunakan oleh kaum terpelajar, terutama dalam tulisan-tulisan ilmiah, pertemuan-pertemuan resmi, serta diskusi-diskusi khusus.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mengetahui makna idiom sebuah kata (frase atau kalimat) tidak ada jalan lain selain mencarinya di dalam kamus. Hasil penelitian peribahasa adalah kalimat atau kelompok

Indonesia, kanyouku dikenal sebagai idiom. 296) dalam bukunya menyatakan pengertian idiom yaitu “...satuan ujaran yang maknanya tidak dapat “diramalkan” dari makna

Sedangkan menurut Abdul Chaer (1984:7), idiom adalah satuan bahasa (entah berupa kata, frasa, maupun kalimat) yang maknanya tidak dapat “ditarik” dari kaidah umum gramatikal

Tuturan adalah bahasa entah berupa kata, frase, maupun kalimat yang maknanya tidak dapat ditarik dari kaidah- kaidah umum gramatika yang berlaku atau yang diramalkan dalam

Sinonim adalah sebagai ungkapan (bisa berupa kata, frase, atau kalimat) yang maknanya kurang lebih sama dengan.. makna

Berdasarkan latar belakang yang menunjukan adanya perbedaan antar makna leksikal dan idiomatikal dari Idiom dan makna konotasi yang terdapat di dalam kata Herzen dan Augen

Seperti yang telah dijelaskan dibagian jenis-jenis makna, bahwa makna idiomatikal adalah makna sebuah satuan bahasa (kata, frasa dan kalimat) yang “menyimpang”

Gusriani 2022 menyatakan, “Idiom adalah satuan-satuan bahasa bisa berupa kata, frasa, maupun kalimat yang maknanya tidak dapat “ditarik” dari kaidah umum gramatikal yang berlaku dalam